Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Syaikh Abu Bashir – Amalan Penyebab Kemurtadan: Berwala’ kepada orang-orang kafir, yaitu membantu orang2 kafir dalam memerangi orang2 beriman

Syaikh Abu Bashir – Amalan Penyebab Kemurtadan: Berwala’ kepada orang-orang kafir, yaitu membantu orang2 kafir dalam memerangi orang2 beriman


Diantara dalil kekafiran orang yang berwala’ (loyalitas) kepada orang2 kafir, Allah ta’ala berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Dan barangsiapa yang berwala’ kepada mereka, maka berarti ia adalah termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (Qs Al Maidah: 51)

Ayat diatas menunjukkan bahwa barangsiapa yang berwala’ kepada mereka berarti dia adalah termasuk golongan mereka, yaitu kafir seperti mereka. Mengenai firman Allah swt ”maka dia termasuk golongan mereka” maka Al Qurthubi berkata dalam tafsirnya: ”Sesungguhnya, Allah ta’ala telah menjelaskan bahwa hukumnya adalah seperti hukum mereka, yaitu seorang muslim terhalang untuk mendapatkan warisan dari orang murtad … dia wajib dimusuhi sebagaimana mereka dimusuhi, dan dia pasti akan masuk neraka sebagaimana mereka pasti akan masuk neraka, maka jadilah dia termasuk golongan mereka artinya dia telah menjadi sahabat mereka.”

Diantara sepuluh pembatal keislaman yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab adalah : membela dan membantu orang-orang musyrik untuk melawan kaum muslimin, beliau berdalil dengan firman Allah swt diatas.

Dalil kedua firman Allah swt:

“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerahkan diri (sambil berkata): “Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun.” (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.”
Maka masukilah pintu-pintu neraka jahanam, kamu kekal didalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.” (An Nahl: 28-29), baca juga Qs An Nisa: 97-99

Menurut jumhur ulama dan ahli tafsir, sesungguhnya ayat ini turun disebabkan oleh adanya suatu kaum yang telah masuk Islam, tetapi mereka lebih memilih tinggal bersama orang2 musyrik Makkah—karena kecintaan mereka kepada tanah air dan tempat tinggal mereka—dari pada berhijrah untuk bergabung dengan Nabi saw di Madinah. Maka pada waktu perang badar mereka dipaksa untuk ikut keluar memerangi kaum muslimin. Dan sebagian mereka ada yang terbunuh bersama dengan kaum musyrik Makkah yang terbunuh, sehingga mereka mati dalam kondisi kafir, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Maka masukilah pintu-pintu neraka jahanam, kamu kekal didalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.” (Qs An Nahl: 29).

Sesungguhnya, ini adalah ancaman yang tidak mungkin ditujukan kecuali kepada orang-orang kafir.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ikrimah maula Ibnu Abbas, ia berkata: “Ibnu Abbas mengabarkan kepadaku bahwa ada beberapa orang dari kaum muslimin yang pada masa Rasulullah saw, bergabung bersama orang-orang musyrik untuk memperbanyak jumlah mereka, kemudian ada sebuah anak panah yang melesat mengenai salah seorang dari mereka sehingga membunuhnya, atau ada juga yang dipenggal lehernya sehingga mati, maka Allahpun menurunkan firmannya: “(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri …” (Qs An Nahl: 28)

Dalil ketiga, Allah swt berfirman:

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, maka tawan dan bunuhlah mereka dimana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun diantara mereka menjadi pelindung, dan jangan pula menjadi penolong.” (Qs.An Nisa’: 88-89)

Maksudnya adalah, jika mereka berpaling (enggan) dari hijrah kepada kaum muslimin dan lebih senang membela dan berwala’ kepada orang-orang musyrik, maka tangkap dan bunuhlah mereka … meskipun mereka menampakkan Islam dan mengucapkan syahadat tauhid, karena perwalian dan pembelaan terhadap orang-orang musyrik yang mereka nampakkan telah mendustakan klaim mereka, bahwa mereka adalah kaum muslimin dan mukminin.

Tentang sebab turunnya ayat ini, maka Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas ra ia berkata: “Ayat ini turun mengenai suatu kaum yang berada di Makkah dan telah memeluk Islam, tetapi mereka membantu orang-orang musyrik. Maka merekapun keluar dari Makkah untuk mencari kebutuhan mereka, mereka berkata, ‘Jika kita bertemu dengan sahabat-sahabat Muhammad maka janganlah kalian takut terhadap mereka.’ Sedangkan kaum mu’minin sendiri, ketika mendengar kabar bahwa mereka telah keluar dari Makkah, berkatalah satu kelompok dari kaum mukminin, ‘kendarailah kendaraan kalian menuju orang-orang pengecut itu, lalu bunuhlah mereka, karena mereka telah membantu musuh kalian untuk menyerang kalian.’ Kemudian berkatalah sekelompok yang lain dari kaum mukminin, ‘Subhanallah—atau sebagaimana yang mereka ucapkan—apakah kalian akan membunuh suatu kaum yang telah mengatakan sebagaimana yang kalian katakan, hanya karena mereka belum berhijrah dan belum meninggalkan rumah-rumah mereka, sehingga kita menghalalkan darah dan harta mereka?’ Maka, karena hal itulah mereka terpecah menjadi dua kubu, padahal Rasul berada ditengah-tengah mereka, tetapi beliau tidak melarang salah satu dari dua kubu itu sedikitpun, maka turunlah ayat “Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik”—-Sampai disini perkataan Ibnu Katsir.

Maka jika ada yang mengatakan: “Mereka adalah munafik … dan sesungguhnya tidak ada perselisihan tentang kafirnya orang munafik?!

Maka dikatakan: “Mereka itu adalah munafik dan tempatnya di dalam neraka jahannam yang paling bawah pada hari kiamat … tetapi karena alasan apa mereka divonis sebagai orang kafir di dalam kehidupan dunia, lalu darah dan harta mereka bisa dihalalkan karenanya?”

Jawabannya adalah: “Sesungguhnya mereka di vonis sebagai orang kafir di dunia karena dukungan mereka kepada orang-orang musyrik untuk memerangi kaum muslimin dengan bukti bahwa, jika mereka tidak mendukung kaum musyrikin untuk memerangi kaum muslimin, dan mereka mau berhijrah kepada kaum muslimin, niscaya akan jelas bagi kaum muslimin wala’ (loyalitas) mereka, bahwa mereka itu merupakan bagian dari kaum muslimin meskipun di dalam batin mereka masih menyimpan kemunafikan …!!”

Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya mendukung orang-orang kafir untuk memerangi kaum muslimin adalah kufur akbar yang dzatnya berdiri sendiri. Maka barangsiapa terjerumus didalamnya, dia telah terjerumus kedalam kufur bawwah (kufur nyata) dan keluar dari agama Islam.

Adapun diantara bentuk membantu orang-orang kafir yang akan mengeluarkan pelakunya dari agama adalah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab dan anak keturunannya adalah, menyetujui mereka (orang kafir) secara zhahir, meskipun secara batin mereka menolak; padahal dia tidak berada dibawah tekanan mereka. Sesungguhnya yang menyebabkan mereka berbuat seperti itu adalah ketamakan terhadap kekuasaan atau harta benda atau rasa nasionalisme atau keluarga atau khawatir terhadap hartanya. Dalam kondisi seperti ini, maka dia telah murtad dan tidak berguna bagi mereka alasan keterpaksaan batin tersebut. Dan sesungguhnya, dia termasuk kategori orang yang mana Allah swt berfirman mengenai mereka: “Yang demikian itu adalah karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akherat. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (Qs An Nahl: 107) (dari Majmu’ at tauhid: 296)

(diambil dari buku: Jejak amal-amal kemurtadan, amal-amal yang menyebabkan pelakunya murtad, Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah ‘Abu Bashir’)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: