Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Wahai Bidadari Syurga………………….!! KU PINANG ENGKAU DENGAN KEPALA DENSUS

Wahai Bidadari Syurga………………….!! KU PINANG ENGKAU DENGAN KEPALA DENSUS


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

بِسمِ اللهِ، وَالحمدُ للهِ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلى سَيِّدِ الأَنبِيَاءِ وَالمُرسَلِينَ، مُحَمَّدٌ وَعَلى آلِهِ وَصَحبِهِ الأَحرَارِ، وَمَن تَبِعَهُم وَسَارَ عَلَى

نَهجِهِم مِنَ المُسلِمِينَ الأَبرَارِ… وَبَعد

Segala puji bagi Alloh yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya. Yang menghinakan kesyirikan dan kekafiran dengan kekuatan-Nya. Mengatur semua urusan dengan perintah-Nya. Mengulur batas waktu bagi orang-orang kafir dengan makar-Nya. Yang mempergilirkan hari-hari bagi manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya. Sholawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad , manusia termulia yang dengan pedangnya Alloh tinggikan menara Islam dan menghancurkan syirik dan kekafiran. Semoga kita termasuk bagian dari tentara-tentaranya yang siap mengorbankan harta dan nyawa untuk meneruskan perjuangannya meninggikan kalimat Allah . Hari ini, seluruh dunia –kecuali yang dirahmati Alloh — berdiri satu barisan dengan kekuatan ideologinya, politiknya, ekonominya, informasinya, teknologi dan nasionalismenya, dan dengan segala kekuatan yang dimilikinya, untuk menghadapi salah satu syiar agama kita yang hanif (lurus), yakni syiar itu adalah jihad fii Sabilillah. Sebuah syiar yang Alloh wajibkan kepada kita dengan firman-Nya:

{كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ}

Artinya : “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu kalian tidak suka; bisa jadi kalian tidak suka kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Alloh Maha tahu sedangkan kalian tidaklah mengetahui.” ( QS. Al baqoroh; 216).

Dan dengan firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّم وَبِئْسَ الْمَصِيْر}

Artinya : “Wahai Nabi, jihadlah melawan orang kafir dan munafik dan bersikap keras-lah kepada mereka, tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan sungguh itu sejelek-jelek tempat kembali.” ( QS. At Taubah; 73).

Dan firman-Nya:

{قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلاَ بِاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَلاَ يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُوْنَ}

Artinya : “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, tidak mengharamkan apa yang Alloh dan rosul-Nya haramkan dan tidak menganut agama yang benar (Islam) dari kalangan ahli kitab, sampai mereka membayar jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina.” ( QS. At Taubah; 29).

Dalam ayat terakhir yang turun tentang jihad, Alloh berfirman menegaskan kewajiban ini:

{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}

Artinya : “Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika me-reka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebas-kanlah mereka, sesungguhnya Alloh Maha-pengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. At Taubah; 5).

Orang-orang kafir berusaha menghapus syiar jihad ini dan memberikan label buruk kepadanya, dengan label terorisme dan tindak kejahatan, menjuluki para pelakunya sebagai kaum teroris, orang-orang ekstrim, fundamentalis dan radikal yang harus diberangus.

Ditambah lagi orang-orang munafik, para pencela dan penggembos jihad ikut andil membantu mereka dengan menjelek-jelekkan dan menghalang-halangi jihad dengan cara-cara syetan, ada yang mengatakan jihad dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensive), tidak ada jihad ofensive (menyerang terlebih dahulu). Ada juga yang mengatakan bahwa jihad disyariatkan hanya untuk membebaskan negeri terjajah. Ada juga yang mengatakan bahwa jihad menjadi wajib kalau sudah ada perintah dari penguasa –padahal penguasa itu menjadi antek yahudi dan salibis—, Ada juga yang “berijtihad” dengan alasan taktik dan siasat dakwah lalu menunda, menihilkan dan mencela jihad dan mujahidin, Ada pula yang mengatakan bahwa jihad yang terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. Sekali waktu ada yang mengatakan pula bahwa jihad sudah tidak relevan lagi untuk zaman kita sekarang ini, zaman perdamaian dan undang-undang HAM internasional, serta ada pula yang mendiskreditkan mujahidin dan amal jihadnya dengan ghibah, fitnah dan tuduhan-tuduhan keji lainnya. Na`udzubillah min dzalik, kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan-kesesatan ini.

Jadi, ibadah jihad itu pada hari ini dianggap sebagai kekuatan menakutkan yang menggoncang singgasana kaum yahudi dan kaum salibis. Dan ia adalah dianggap momok yang mengancam dunia, beserta kebudayaan dan keamanannya. Juga Jihad fii Sabiililah dikhawatirkan akan dapat mengancam dan membongkar boroknya orang-orang munafiq dan murtaddin yang kerjanya menjilat kepada tuannya thoghut murtad dengan cara melemahkan dan menjauhkan kaum muslimin dari ibadah ini, mereka semua sangat takut kalau kaum muslimin sampai berpegang teguh dengan ibadah jihad ini. Demikianlah sebutan jihad yang tengah digambarkan dan diopinikan oleh kaum salibis dan antek-anteknya para thoghut dan murtaddin. Oleh karena dunia menggambarkan jihad dengan gambaran semacam ini, maka jangan sekali-kali ada seorang muslim yang menyangka bahwa ia akan dapat komitmen dengan ibadah jihad ini dengan mudah dan gampang, sekali-kali tidak, akan tetapi ia akan menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian serta cemoohan ketika berusaha merealisasikan ibadah Jihad fii Sabiililah. Dan jangan sampai ada seorang muslimpun yang mempunyai anggapan bahwa musuhnya pada hari ini akan menaburi jalannya menuju jihad dengan bunga dan wewangian, lalu mengatakan kepadanya: Silahkan, silahkan, supaya kamu mendapatkan ridlo Alloh dan syurga. Sesungguhnya orang yang mengira bahwa musuhnya akan memperlakukannya seperti ini, dia adalah orang yang bodoh yang tidak memahami tabiat musuhnya yang Alloh telah tegaskan dalam Al Qur’an,

وَلاَ يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوْا

Artinya : “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai memurtadkan kalian dari agama kalian jika mereka sanggup.” ( QS. Al Baqoroh; 217).

Maka mereka berusaha siang dan malam untuk menghalangi orang-orang beriman dari agama mereka dan dari jihad mereka.

Demikian pula yang terjadi di negeri ini, negeri yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin, bahkan yang membangun dan membebaskan negeri ini dari penjajahanpun adalah kaum muslimin. Namun syari’at Islam dilecehkan dan dicabut sampai ke akar-akarnya, jumlah mayoritas tetapi mereka tidak dinaungi dengan syari’at Allah, kesyirikan dan kekufuran menjadi budayanya, demokrasi dan pancasila menjadi ideologinya, bahkan pemimpinnya sudah menegaskan bahwa dia adalah seorang moderat, sekuler dan nasionalis yang tidak akan menerapkan syari’at Islam, yang mengakui bukan pemerintahan Islam dan dia juga menegaskan dalam kampanyenya “ America is my second home”. Maka wajar lalu manut dengan tuannya dan jadi jongos amerika, maka pantas kalau alergi dengan syari’at dan memusuhi Jihad fii Sabiililah, dengan mendistorsi dan memalingkannya dari makna yang sebenarnya, menyebutnya dengan terror sebagaimana mau tuannya, serta memusuhi mujahidin dan menangkapi para aktifis serta ulamanya. Ketahuilah sudah 400an lebih mujahidin yang ditangkap dan puluhan yang dibunuh oleh densus 88 La’natullahi ‘alaihim anshor thoghut negeri ini, termasuk beberapa wanita muslimah yang mereka tahan. Namun ketika orang-orang kafir yang membantai kaum muslimin dinegeri ini tidaklah mereka disebut sebagai teroris dan tidaklah mereka diperangi dan ditangkapi. Masih segar dalam ingatan kita peristiwa idul fitri berdarah di Ambon, ketika kaum muslimin sedang bergembira merayakan hari ‘ied lalu mereka diserang dan diusir dari kampungnya oleh kafir Kristen, 3 tahun lebih kaum muslimin didzholimi, tetapi salah satu otak pelakunya malah difasilitasi untuk “kabur” ke amerika sampai sekarang. Masih ingat pula dalam benak ini, peristiwa pembantaian kaum muslimin Tobelo dan Galela, yang hanya dalam sepekan 3000an lebih kaum muslimin dibantai dan dibunuh kafir Kristen, tidak ada penyelesaian yang jelas sampai sekarang, karena korbannya orang Islam. Begitu pula dengan peristiwa penyerangan dan pembunuhan kaum muslimin Poso, setahun lebih kaum muslimin mengungsi dan bertahan dibarak-barak pengungsian, tidak mampu menyerang untuk membalas penyerangan kafir Kristen Poso, lebih dari 30 kecamatan tempat desa muslim terbakar dan penduduknya terusir, setelah 2 tahun baru kaum muslimin mampu bangkit dan membalas, barulah para penguasa negeri ini “bersikap tegas” dengan membuat perjanjian damai malino dan menangkapi para teroris(baca: kaum muslimin mujahidin poso) yang dianggap merusak perjanjian perdamaian. Setelah itu kaum muslimin dan mujahidin Poso di cap sebagai teroris yang harus diberangus, dan densus 88 La’natullahi ‘alaihim memainkan aktingnya dengan baik dalam rangka mengejar target dan proposal tuan Amerika dan Australia.

BAI’AT MATI MEMBEBASKAN TAHANAN MUSLIM

Dalam Siroh disebutkan, ketika terjadi peristiwa Bai’atur Ridwan sebabnya adalah ada kabar bahwa shahabat Utsman bin ‘Affan yang diutus ke Mekkah oleh Rosulullah dibunuh oleh kaum musyrik Mekkah, maka lalu Rosulullah mengambil sumpah para shahabat untuk memerangi musyrik Mekkah, Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari 6;117 tentang peristiwa ini :

“…..Ketika sampai berita burung kepada Rasulullah , bahwa utusannya, ’Utsman bin ’Affan , telah dibunuh oleh kaum Quraisy. Mendengar berita tersebut beliau berkata, “Kita tidak akan kita meninggalkan hal ini, sampai kita perangi mereka”. Beliau bertekad untuk mengadakan peperangan, maka beliau meminta para shahabat untuk berbaiat. Maka kaum muslimin pun mengerumuni Rasulullah , ketika itu beliau ada di bawah sebuah pohon. Kemudian mereka membaiat Rasulullah untuk tidak lari dari peperangan –didalam riwayat lain dikatakan, ”berbaiat untuk siap menghadapi kematian”.

Rasulullah saat itu memegangi tangannya sendiri seraya berkata, “Ini karena Utsman”. Seluruh kaum muslimin yang ikut dalam kelompok itu membaiat beliau kecuali al-Jadd bin Qais dan Ma’qil bin Yassar memegangi dahan pohon itu supaya tidak mengenai Rasulullah . Orang yang pertama berbaiat adalah Abu Sinan al-Asadi dan Salamah bin al-Akwa’ membaiat beliau tiga kali, bersama kelompok yang awal, bersama yang tengah dan bersama kelompok yang akhir.”

Ya, hanya karena seorang saja kaum muslimin ditahan dan dibunuh, para shahabat bangkit dan mengadakan bai’at menyatakan kesediaannya untuk mati, atau untuk tidak lari dari kematian, sehingga Allah menurunkan ayat yang tetap dibaca hingga hari ini.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً

Artinya : “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-fath: 18).

Bai’at itu dinamakan dengan Baiat ar-Ridlwan. Allah memberi kabar gembira kepada mereka yang ikut serta di dalam Bai’at Ridlwan dengan syurga. Mereka pun disebut-sebut sebagai penduduk bumi yang terbaik, sebagaimana disebutkan di dalam shahih al-Bukhari :

” أَنْتُمُ اْليَوْمَ خَيْرُ أَهْلِ اْلأَرْضِ “

”Kalian hari ini menjadi umat yang terbaik di muka bumi”.

Hanya karena satu orang saja dari kaum muslimin dibunuh para shahabat berbai’at mati, ya hanya satu orang saja! Bagaimana dengan kondisi sekarang di negeri ini? 400an sudah Mujahidin ditangkap dan puluhan dibunuh oleh densus 88 La’natullahi ’alaihim, beberapa muslimah ditahan, apa yang telah kita perbuat?? Amal apa yang telah kita kerjakan??!

Dimanakah kepedulian dan solidaritas kita terhadap saudara-saudara kita yang ditangkap thoghut negeri ini? Begitupula dengan mujahidin yang diperangi dan ditangkap tentara salibis dinegeri lain? Dimana perhatian kita kepada mereka semua? Dimana andil kita???

Di manakah orang-orang yang membenarkan apa yang telah dijanjikan Allah dan Rosul Nya ? Di manakah para pemuda Islam? Dimanakah mereka yang sadar akan kewajibannya untuk membebaskan saudara-saudaranya? Di manakah orang-orang yang akan berperang membela agama mereka, kehormatan mereka, saudara-saudara mereka dan ummat mereka?

Agama kita telah diperangi, Rabb kita dan nabi kita telah dilecehkan dan dicaci maki, dan negeri kita dijajah, sementara kita berpecah-belah, lalai dan sibuk dengan urusan kita sendiri dan banyak bicara saja dengan merasa dirinya alim dan faqih lalu mengatakan kami sekarang bersiasat dalam dakwah maka lalu menunda jihad, juga kami “berdiplomasi” dengan thoghut maka dekat dengan mereka, sedang mereka yang berjihad hanya untuk ego diri dan kelompoknya saja agar cepat syahid lalu terhindar dari fitnah dunia (sebagaimana kata sejawatnya jongos thoghut nasir abas yang mengatakan mujahidin yang beramal dan syahid karena prustasi terhadap kehidupan dunia), dan tuduhan-tuduhan miring lainnya. LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. Ketahuilah Harga diri dan kehormatan diin kita telah dirampas, sementara kita menutup mata. Pahlawan-pahlawan dan tokoh-tokoh pilihan kita telah terbunuh dan ditangkap, sementara kita diam seribu bahasa. Bagaimana pertanggung jawaban kita nanti di hadapan Allah ??!

Ketahuilah! Baiat untuk siap menghadapi kematian adalah hal yang disyariatkan dalam dien ini, sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah [7:11-12], menyebutkan kisah Ikrimah bin Abi Jahl pada waktu perang Yarmuk.

“Aku telah memerangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di beberapa medan, pantaskan jika aku lari darimu pada hari ini?”. Kemudian berseru: “Siapakah yang mau berbaiat untuk siap menghadapi kematian?” Maka berbaiatlah pamannya, al-Harits bin Hisyam, Dlarar bin al-Azwar di hadapan 400 tokoh kaum muslimin beserta pasukan mereka. Lalu mereka berperang dibawah panglima Khalid , sehingga mereka terluka. Dan ada beberapa orang yang gugur, di antaranya adalah al-Azwar .

Ibnu al-Qayyim di dalam Zaad al-Ma’ad berkata:“Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam membaiat para shahabat di dalam suatu perang untuk tidak lari dari medan perang. Bahkan mungkin beliau membaiat mereka untuk siap menghadapi kematian. Beliau membaiat mereka untuk jihad sebagaimana beliau membaiat mereka untuk Islam, membaiat untuk hijrah sebelum Fathu Makkah. Beliau membaiat mereka untuk bertauhid, taat kepada Allah dan Rasul-nya. Dan beliau juga membaiat sejumlah shahabatnya untuk tidak meminta sesuatu kepada orang lain”.

Siapakah sekarang ini yang mau berbai’at mati menghadapi amerika dan sekutunya serta antek-anteknya para thoghut dan murtaddin? Siapakah yang siap mati menghadapi thoghut negeri ini dan antek-antek para kacung pendukungnya? Dan siapakah yang siap meminang bidadari syurga dengan maharnya kepala densus dan anggota polri atau sampai nyawanya lepas dan berjumpa Robbnya??!

SESUNGGUHNYA TIPU DAYA MUSUH ITU LEMAH

Allah Yang maha mulia lagi maha tinggi menenangkan wali-wali-Nya agar tidak lemah terhadap musuh- musuhnya, meskipun kekuatan mereka menjangkau awan dilangit dan memenuhi daratan dan lautan dengan tentara dan kekuatannya. Karena sesungguhnya perkara itu hanya milik Allah , sesungguhnya kekuatan itu hanya milik Allah , sesungguhnya makar itu hanya milik Allah , semua dalam kekuasaan Allah .

‏ الذين امنوا يقاتلون في سبيل الله والذين كفروا يقاتلون في سبيل الطاغوت فقاتلوا اولياء الشيطان ان كيد الشيطان كان ضعيفا

Artinya : “…Perangilah pengikut-pengikut setan Karena sesungguhnya tipudaya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).

Allahu Akbar! Yakinlah kalau kita komitmen dengan syari’at Allah dan Rosul Nya , berpegang teguh dengan Jihad fii Sabiilillah, sesungguhnya syetan itu lemah pada hari ini sebagaimana kemarin dia lemah. Tidak mungkin syetan baru yang kuat lahir. Sama saja apakah dari golongan syetan jin maupun manusia. Tidak ada yang kuat dihadapan Allah Yang maha perkasa lagi mulia. Juga tidak ada kebathilan yang kokoh di hadapan cahaya kebenaran.

Dalam salah satu peristiwa di Moro, 10 orang mujahidin dikepung di pegunungan selama 40 hari oleh tentara kafir philipina, hanya berbekal tawakkal yang kuat kepada Allah mereka mampu lolos dari kepungan tersebut, hanya 1 orang yang insya Allah syahid dan 3 orang luka-luka, sementara dari pihak sundalaw 7 orang mati dan puluhan luka-luka Alhamdulillah. Berita ini terekspos media local dan salah seorang mujahidin yang ikut dalam peristiwa ini bercerita secara langsung kepada penulis. Bahkan banyak peristiwa lainnya disana yang lebih mengagumkan kita, ketika sekelompok kecil mujahidin mampu mengalahkan pasukan kafir yang berjumlah besar dan kekuatan militernya yang canggih.

Begitupun yang terjadi di Irak dan Afghonistan sekarang ini, sudah 4000an lebih tentara kafir amerika dan sekutunya mati dan luka-luka dan sampai hari ini masih menjadi neraka bagi tentara sekutu yang canggih persenjataannya. Inilah kekuasaan dan pertolongan dari Allah kepada hamba-hamba Nya yang berjihad fii Sabiililah.

فلما فصل طالوت بالجنود قال ان الله مبتليكم بنهر فمن شرب منه فليس مني ومن لم يطعمه فانه مني الا من اغترف غرفة بيده فشربوا منه الا قليلا منهم فلما جاوزه هو والذين امنوا معه قالوا لاطاقة لنا اليوم بجالوت وجنوده قال الذين يظنون انهم ملاقوا الله كم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة باذن الله والله مع الصابرين

Artinya ; “…..orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” ( QS. Al Baqoroh;249 ).

Dalam upaya jihad Aceh beberapa waktu lalupun kita bisa lihat betapa lemah sebenarnya syetan dan kawan-kawannya. Atas hikmah dan taqdir Allah , membentuk mahjar dan mu’askar yang diupayakan oleh para mujahidin disana dapat diketahui terlebih dahulu oleh densus 88 La’natullahi’alahim,ini semua atas bantuan dan pemberitahuan para munafiq disana, yang besar mulut saja dan mencari muka ke thoghut. Sehingga belum sempat berlatih dan mengatur para mujahidin, mereka diserang oleh thoghut, namun bisa kita lihat yang tanpa persiapan saja para mujahidin mampu membunuh 3 orang thoghut dan puluhan luka-luka, bagaimana gerangan kalau para mujahidin sudah berlatih, teratur managemennya dan telah ada beberapa alumni mu’askar ini. Walaupun resiko dari sebuah upaya amal mereka banyak mujahidin yang tertangkap dan beberapa insya Allah syahid (kama nahsabuhu), tapi insya Allah ini sangat lebih baik dari pada sikap para munafiq penggembos jihad, yang bisanya menilai dan bicara saja tanpa beramal lalu mendiskreditkan amal jihad para mujahidin, atau bisanya “muhasabah” saja tanpa beramal lalu menilai negative para mujahidin yang sudah beramal.

Inilah beberapa hikmah dari peristiwa tersebut adalah :

1. Para mujahidin bisa menilai bahwa tempat tersebut belum layak dijadikan sebagai tempat qo’idah aminah, masyarakatnya belum siap jadi anshor mujahidin, banyak orang yang besar mulut saja yang awalnya siap tapi setelah Allah uji ternyata tidak siap, dan banyak para munafiqiin penggembos jihad.

2. Upaya apalagi sekarang yang akan diperbuat para mujahidin untuk melawan antek-antek salibis thoghut murtad negeri ini.

3. Insya Allah para mujahidin akan terus beramal di jalan jihad fii Sabiilillah walaupun banyak munafiqin mencela jihad mereka, biarkan saja para penggembos itu menggonggong.

Maka siapakah yang siap bergabung bersama mujahidin? Ketahuilah! Diantara para musuh jihad sekarang ini selain dari amerika dan antek-anteknya, adalah sebuah tandzim atau jama’ah -apapun namanya- yang meniadakan (ta’thilul) amaliyat jihad, musuh jihad adalah gandrung dan tamaknya seorang mujahid kepada pamoritas, senioritas, kemewahan dan kesenangan dunia yang menipu, musuh jihad adalah tanazu’ (berdebat, berbantah-bantah & berselisih) yang tak berujung pangkal lalu tidak beramal, musuh jihad adalah orang kaya yang menahan hartanya dari mujahidin yang sangat memerlukannya untuk melakukan berbagai amaliyat, musuh jihad adalah rutinitas kerja dakwah, bisnis dan perniagaan yang menipu dan melenakan dari jihad, musuh jihad adalah takut mati dan rakusnya seseorang terhadap dunia dan musuh jihad adalah para munafiqin penggembos jihad yang “pandai” bicara, muhasabah dan menganalisa untuk melemahkan kaum muslimin dari ibadah jihad. Hati-hatilah wahai kaum muslimin dari ini semua! Jadi, jangan ragu sekarang ini untuk memerangi thoghut negeri ini, jangan takut menghadapi densus La’natullahi ‘alihim karena sesungguhnya mereka itu lemah kalau kita kuat dan benar-benar berjihad fii Sabiilillah, sesungguhnya mereka mencari kehidupan sedangkan para mujahidin mencari kematian, yang terluka, terbunuh dan tertangkap dari para mujahidin jelas berbeda nilainya disisi Allah dengan pasukan kafir

فليقاتل في سبيل الله الذين يشرون الحياة الدنيا بالاخرة ومن يقاتل في سبيل الله فيقتل او يغلب فسوف نؤتيه اجرا عظيما

Artinya : “ Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan Maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (QS. An Nisaa’;74).

ولاتهنوا في ابتغاء القوم ان تكونوا تالمون فانهم يالمون كما تالمون وترجون من الله مالايرجون وكان الله عليما حكيما

Artinya ; “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. An Nisaa’;104).

Kepada para mujahid yang mempunyai tekad baja, yang mau berusaha melakukan pukulan-pukulan terhadap musuh dan merobek-robek tembok serta dinding pertahanan mereka, yang mau beramal untuk menyerang mereka hingga mereka mengerang kesakitan lalu tewas mengenaskan atau kita yang terbunuh fii Sabiilillah, jangan ragu untuk memerangi thoghut negeri ini dan para anshornya, walaupun lemah kondisi kita jangan dijadikan alasan dan udzur untuk tidak I’dad dan beramal jihad fii Sabiilillah, jangan beralasan dengan taktik dan siasat dakwah lalu meninggalkan amal ini semua dan dekat dengan thoghut, banyak cara yang bisa digunakan untuk menteror mereka, antara lain adalah Ightiyalat (menculik dan membunuh musuh saat lengah), cara ini sangat efektif sekarang ini ditengah kondisi kita yang lemah personel dan peralatan, hanya dengan 1 dan 2 orang saja mujahidin insya Allah bisa membunuh densus atau anggota polri kesatuaan apa saja, tidak perlu biaya besar dan persiapan yang tinggi dalam operasi ini, silent, serta sangat efektit dalam menjatuhkan mental mereka, karena ini pula tidak ada alasan bagi mereka yang mengaku mujahid untuk tidak beramal. Operasi ightiyalat ini bisa menjadi progam para mujahidin yang punya mental dan keberanian serta yang benar-benar mau beramal memerangi orang-orang kafir dan para thoghut serta murtaddin. Dan masalah ightiyalat, kebolehannya sama sekali tidak diperselisihkan oleh seorang pun dari salaful ummah, dalil-dalilnya berikut ini :

Dalil-Dalil Dari Quran Dan Sunnah:

Dalil Pertama:Firman Alloh :

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ

Artinya :“… maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian.”(QS. At-Taubah;5).

Dalam ayat ini ada isyarat tentang masalah ightiyalat.

Al-Qurthubiy berkata dalam tafsirnya 9/73: “Dan intailah mereka di setiap tempat pengintaian… artinya, intai mereka ketika mereka tidak sadar dirinya sedang diintai. Ini adalah dalil bolehnya melakukan ightiyalat tanpa dakwah sebelumnya.” Demikian perkataannya…

Perkataan Al-Qurthubiy , “Tanpa dakwah sebelumnya,” maksudnya tanpa dakwah kepada orang yang sebelumnya sudah mendengar dakwah Islam.

Ayat ini –dan intailah mereka di setiap tempat— mengandung dalil disyariatkannya spionase dan memata-matai musuh.( Al ‘Umdah fii I’daadil ‘uddah. Hal. 354.)

Ibnu `l-‘Arobiy berkata dalam Ahkamul Qur’an II/902: “Masalah ketujuh: Firman Alloh … dan intailah mereka pada setiap tempat pengintaian…’ Ulama madzhab kami berkata, “Dalam hal ini terdapat dalil bolehnya melakukan ightiyal kepada orang-orang musyrik tanpa dakwah sebelumnya.” Selesai perkataannya.

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya juz II/349: “Dan firman Alloh : ‘Kepunglah mereka dan intailah mereka di setiap tempat pengintaian…’ artinya, janganlah kalian hanya mencukupkan diri dengan keberadaan kalian di tengah mereka, tapi seranglah mereka dengan cara mengepung tempat-tempat pangkalan mereka dan intailah mereka di jalan-jalan yang mereka lewati sehinggga kalian persempit kelapangan mereka dan kalian desak mereka kepada kematian (dengan dibunuh) atau mereka masuk Islam.”

Syaikhul Mujahid Abdulloh ‘Azzam berkata dalam tafsir surat At-Taubahnya, “Intailah mereka pada setiap tempat pengintaian, dengan ranjau. Ini menunjukkan bolehnya meng-ightiyal orang kafir tanpa terlebih dahulu memberi peringatan. ‘Dan intailah mereka pada setiap tempat pengintaian…’ ini adalah dalil bolehnya melakukan operasi ightiyal. Jadi, ightiyalat adalah sebuah perintah, faham? Sebuah perintah…”

Dalil Kedua: Membalas Dengan Perlakuan Yang Sama (Al-Mu‘aqobah Bi `l-Mitsl).

Alloh berfirman:

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ

Artinya : “… oleh sebab itu, barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu…” (QS. Al-Baqoroh: 194).

وَالَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ الْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ وَجَزَآؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةً مِّثْلَهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَلَمِن انتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُوْلَئِكَ مَاعَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya : “Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Alloh, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosa pun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak, mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syuro: 39 – 42).

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَاعُوقِبْتُمْ بِهِ

Artinya : “…dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu…” (An-Nahl: 126).

Ayat-ayat ini berlaku umum untuk semua, kasus yang menjadi penyebab turunnya tidak bisa mengkhususkannya. Sebab, dalam sebuah kaidah syar‘iy dikatakan: “Al-‘Ibrotu bi ‘Umuumi `l-Lafdzi, laa bi khushuusi `s-Sabaab.” (Yang dijadikan patokan adalah keumuman lafadz, bukan kekhususan sebab). Sehingga dengan demikian, kaum muslimin boleh melakukan hal serupa terhadap apa saja yang dilakukan musuh terhadap mereka. Artinya, jika mereka meng-ightiyal para mujahid kita[1] maka kita pun meng-ightiyal mereka. Jika mereka mencincang kaum muslimin, kita boleh mencincang mereka. Jika mereka sengaja menjadikan wanita dan anak kecil sebagai target serangan hingga terbunuh, maka kita kaum muslimin dipersilahkan membalas dengan tindakan yang sama dengan menjadikan wanita dan anak-anak musuh sebagai target untuk dibunuh, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas.

Ibnu `l-Qoyyim berkata, “Firman Alloh : “…maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu…”, kemudian firman-Nya: “…dan balasan sebuah kejahatan adalah kejahatan yang serupa…” kemudian firman-Nya, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu…” mengandung makna bolehnya melakukan semua ini, yaitu membalas dengan balasan serupa dalam urusan nyawa, kehormatan dan harta. Para fuqoha bahkan menegaskan bolehnya membakar lahan pertanian orang-orang kafir dan membabat pepohonan mereka jika mereka memperlakukan kita seperti itu, dan ini adalah masalah yang sama. Alloh sendiri mengizinkan para shahabat menebangi pohon kurma orang-orang yahudi dikarenakan dalam hal itu ada kehinaan bagi mereka. Dan ini menunjukkan bahwa Alloh menyukai dan mensyariatkan kehinaan atas orang jahat dan dzolim. Jika membakar harta orang yang melakukan ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan) saja boleh dikarenakan ia telah mengkhianati harta ghanimah kaum muslimin, maka membakar hartanya jika ia membakar harta orang muslim yang dilindungi tentu lebih layak untuk diperbolehkan. Jika dalam harta yang menjadi hak Alloh , yang pemberiannya lebih banyak daripada penagihannya, maka dalam harta yang menjadi hak seorang hamba yang pelit tentu lebih layak.

Juga, Alloh telah mensyariatkan hukum qishosh dalam rangka menakuti-nakuti jiwa agar tidak melakukan perbuatan aniaya, padahal bisa saja Dia cukup mewajibkan membayar diyat untuk menebus kedzaliman pelaku kejahatan dengan harta. Akan tetapi apa yang Alloh syariatkan lebih sempurna dan lebih baik bagi para hamba serta lebih bisa menyembuhkan kedongkolan dalam hati orang yang dizalimi, di samping lebih menjaga nyawa dan rusaknya anggota tubuh. Jika tidak seperti ini, maka orang yang membunuh orang lain atau mematahkan salah satu anggota badannya, ia harus dibunuh atau dipotong juga anggota badannya dan masih harus membayar diyatnya. Namun hikmah, kasih sayang dan kemaslhatan menolak hal itu. Hal yang serupa juga berlaku pada tindak kezaliman terhadap harta.”

Dengan demikian, kita harus tahu bahwa jika orang muslim saja bisa diqishosh dengan hukuman serupa ketika ia berbuat jahat kepada sesama muslim. Maka tentu saja membalas tindakan orang kafir harbiy terhadap kaum muslimin dengan balasan serupa lebih boleh.

Nah, jika dengan berdalih menggulingkan Saddam Amerika boleh membunuh 1.732.000 nyawa selama masa embargo terhadap Irak dan hingga kini masih berlangsung –padahal sebenarnya urusan utamanya lebih besar dari dalihnya tersebut—, ia juga bisa membunuh ribuan orang di Afghonistan karena keberadaan kepemimpinan jihad di sana, dan masih banyak lagi di tempat lain…lantas mengapa kita tidak boleh membunuh mereka, membombardir mereka, menjadikan mereka sebagai target serangan, atau meng-ightiyal mereka sehingga kita mencapai jumlah yang seimbang dengan yang mereka telah bunuh? Kenapa kita tidak membunuh mereka sebagaimana mereka membunuhi kita karena si fulan dan si fulan?

Oleh karena itu, kita harus mengambil jatah yang sama. Sebagaimana mereka membunuh, mereka dibunuh. Sebagaimana mereka melakukan ightiyalat, mereka pun di-ightiyalat. Wallohu A‘lam.

Dalil Ketiga: Kisah Pembunuhan Ka‘ab Bin Al-Asyrof[2]

Dari Jabir bin Abdillah , bahwa Rosululloh berkata,

مَنْ لِكَعْبٍ بْنِ اْلأَشْرَف فَإِنَّهُ آذَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ

“Siapa yang mau membereskan Ka‘ab bin Al-Asyrof? Sesungguhnya dia menyakiti Alloh dan Rosul-Nya.

Maka berdirilah Muhammad bin Maslamah , ia berkata, “Wahai Rosululloh, apakah engkau suka aku membunuhnya?” Beliau menjawab, “Ya,” “Kalau begitu izinkan aku (nanti) mengucapkan sesuatu…” pintanya. “Katakan saja,” kata Rosul .

Maka Muhammad bin Maslamah datang kepada Ka‘ab bin Al-Asyrof dan berkata, “Siapa sebenarnya lelaki itu (maksud dia adalah Nabi), dia memungut zakat dari kita dan membebani kita, sesungguhnya aku datang kepadamu untuk bersekutu denganmu.”

Ka‘ab berkata, “Demi Alloh, tuliskan surat saksi untuknya.”

“Sesungguhnya kita telah mengikutinya, lalu kami tidak ingin meninggalkannya sampai kita lihat, bagaimana akhir dari ajarannya. Dan kami menginginkan engkau meminjami kami satu wasaq atau dua wasaq (makanan).”

Ka‘ab berkata, “Kalau begitu, berikan kepadaku barang sebagai gadai.”

“Barang apa yang kau mau?” tanya mereka.

“Gadaikan wanita-wanita kalian.” Kata Ka‘ab.

“Bagaimana kami akan menggadaikan wanita-wanita kami, sementara engkau adalah orang Arab paling tampan.”

“Kalau begitu, gadaikan anak-anak kalian.”

“Bagaimana kami akan menggadaikan putera-putera kami kepadamu, sementara mereka akan dicela karenanya, dan akan dikatakan: hanya demi menggadai satu atau dua wasaq (kalian rela menggadaikan anak-anak kalian)? Sungguh, ini aib bagi kalian.”

Mereka berkata, “Kami akan menjadikan senjata kami sebagai gadaimu.”

“Baiklah,” jawab Ka‘ab.

Lalu ia menjanjikan kepada mereka untuk bertemu di malam hari dengan membawa geriba, bersama Abu Na’ilah –saudara sesusuan Ka‘ab—. Maka Ka‘ab mengundang mereka untuk datang ke bentengnya, kemudian ia turun untuk menemui mereka. Isterinya berkata, “Mau ke mana engkau malam-malam begini?”

Ka‘ab menjawab, “Itu tak lain adalah Muhammad bin Maslamah dan saudaraku, Abu Na’ilah.”

Perawi selain Amru mengatakan, “Kemudian isterinya berkata lagi, “Aku mendengar suaranya seperti tetetas air.” –dalam lain riwayat: Aku mendengar suara seperti suara darah—.

Ka‘ab berkata lagi, “Itu tak lain adalah saudaraku, Muhammad bin Maslamah dan saudara sesusuanku, Abu Nailah. Orang yang mulia itu, kalau dipanggil untuk berjalan di malam hari pasti menyanggupi.”

Kemudian Muhammad bin Maslamah masuk bersama dua orang, menurut Amru kedua orang itu bernama Abu ‘Abs bin Hibr dan ‘Abbad bin Bisyr .

Amru melanjutkan kisahnya:

“Muhammad bin Maslamah berkata, “Jika dia datang, aku akan memegang kepalanya, maka jika kalian telah melihatku berhasil melumpuhkannya, penggallah lehernya.”

(Inilah cara untuk membunuh orang seperti dia, sebab dia berbadan besar dan kuat)

Ketika ia turun dari benteng sembari menyandang pedangnya, mereka berkata, “Kami mencium aroma harum dari tubuhmu.” “Ya,” jawab Ka‘ab, “…istriku adalah wanita Arab paling harum.” Muhammad bin Maslamah berkata, “Bolehkan aku mencium baunya?” “Silahkan,” kata Ka‘ab. Ia pun pura-pura menciumnya. Ia berkata, “Bolehkah kuulangi lagi?”

Maka ketika itulah, Muhammad bin Maslamah berhasil melumpuhkannya, kemudian ia berkata, “Giliran kalian, bunuhlah dia.” Mereka akhirnya berhasil membunuhnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kemudian, orang-orang yahudi datang kepada Nabi setelah terbunuhnya Ka‘ab bin Al-Asyrof. Mereka berkata, “Wahai Muhammad, teman kami terbunuh tadi malam, padahal dia adalah salah satu tokoh pemuka kami. Ia dibunuh secara diam-diam (ightiyal) tanpa dosa dan kesalahan apa pun sejauh yang kami tahu.”Rosululloh bersabda,

إِنَّهُ لَوْ فَرَّ كَمَا فَرَّ غَيْرُهُ مِمَّنْ هُوَ عَلَى مِثْلِ رَأْيِهِ مَا اغْتِيْلَ ، وَلَكِنَّهُ آذَانَا وَهَجَانَا بِالشِّعْرِ وَلَمْ يَفْعَلْ هَذَا أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلاَّ كَانَ لِلسَّيْفِ

“Sungguh, kalau dia melarikan diri sebagaimana orang seperti yang sepemikiran dengannya melarikan diri, tentu ia tidak akan dibunuh dengan cara ightiyal, akan tetapi dia menyakiti kami dan mencemooh kami dengan syair, dan tidak ada satu pun dari kalian yang melakukan perbuatan seperti ini kecuali pedang lah pilihannya.”[3]

Ka‘ab bin Al-Asyrof memang biasa memprovokasi orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin. Ia juga mencela Nabi dengan syairnya dan menggoda isteri-isteri kaum muslimin.

Ibnu Hajar berkata[4], “Di dalam Mursal Ikrimah dikisahkan, pagi harinya kaum yahudi ketakutan, lalu mereka datang kepada Nabi dan berkata, “Pemuka kami terbunuh secara diam-diam,” akhirnya Nabi menceritakan kelakuan Ka‘ab kepada mereka, di mana ia suka memprovokasi orang untuk menyakiti beliau dan kaum muslimin. Sa‘ad menambahkan, “Maka mereka menjadi takut dan tidak menjawab sedikit pun.” –hingga Ibnu Hajar berkata—: “…hadits ini berisi kebolehan membunuh orang musyrik tanpa harus mendakwahi terlebih dahulu, jika dakwah secara umum telah sampai kepadanya. Juga berisi bolehnya mengucapkan kata-kata yang diperlukan di dalam perang, meski pengucapnya tidak bermaksud makna sebenarnya. Bukhori mengeluarkan hadits ini dalam Kitabu `l-Jihad bab Berbohong dalam perang dan Bab Menyergap orang kafir harbi.”

Dalam menjelaskan hadits ini, Imam Nawawi berkata[5], “Dalam hal ini, Ka‘ab telah melanggar perjanjian (jaminan keamanan) dari Nabi . Muhammad bin Maslamah dan teman-temannya tidak memberikan jaminan keamanan kepadanya ketika itu, akan tetapi Ka‘ab menjadi merasa dekat dengan mereka hingga akhirnya mereka berhasil membunuhnya dalam status tidak memiliki ikatan dan jaminan keamanan. Mengenai perbuatan Bukhori yang meletakkan hadits ini pada bab: al-fatku fi `l-harbi (Menyergap dalam perang), maka yang dimaksud bukan menyergap dengan bertempur. Tetapi maksud Al-Fatku adalah membunuh ketika musuh lengah dan lalai, dengan cara ightiyal atau yang semisal. Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bolehnya melakukan ightiyal kepada orang kafir yang telah sampai dakwah kepadanya, tanpa harus menyerunya kembali kepada Islam.”

Imam Nawawi , dalam kesempatan lain juga berkata[6], “Al-Qodhi ‘Iyadh berkata, ‘Tidak diperbolehkan bagi siapa pun mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Ka‘ab adalah sebuah pelanggaran terhadap janji. Dahulu pernah ada orang yang mengatakan hal itu di majelis Ali bin Abi Tholib , maka ia memerintahkan agar kepala orang yang mengatakan itu dipenggal.”

Saya katakan, siapa yang menganggap aksi ightiyalat kepada orang-orang kafir yang memerangi Alloh dan Rosul-Nya sebagai sebuah pelanggaran janji, atau kata-kata senada, atau mengatakan Islam mengharamkannya, maka ia telah sesat dan mendustakan Al-Quran dan Sunnah.[7]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, setelah menyebutkan hadits Ka‘ab tadi, menjelaskan seputar lafadz “menyakiti Alloh dan Rosul-Nya ”[8], “Al-Adza (menyakiti) adalah kata benda untuk menyebut kejahatan yang sedikit dan gangguan yang ringan, lain dengan kata dhoror (yang artinya bahaya, pent.). Makanya, kata Adza dipakai untuk menyebut kata-kata (yang menyakitkan), sebab pada hakikatnya kata-kata itu tidak sampai membahayakan orang yang disakiti. Dalam hadits ini juga dinyatakan bahwa sekedar menyakiti Alloh dan Rosul-Nya saja sudah menjadikan orang kafir yang terikat perjanjian damai wajib dibunuh. Padahal sudah menjadi suatu yang maklum, bahwa mencaci Alloh dan Rosul-Nya adalah salah satu bentuk menyakiti Alloh dan Rosul-Nya . Nah, jika suatu sifat (baca: tindakan) itu dijadikan sebab munculnya suatu hukum dengan menggunakan huruf fa’, itu menunjukkan bahwa sifat (tindakan) tersebut adalah ‘illah (sebab) dari hukum tersebut, apalagi jika sifat itu cocok (munasib). Artinya, itu menunjukkan bahwa menyakiti Alloh dan Rosul-Nya adalah ‘illah dianjurkannya kaum muslimin untuk membunuh orang-orang kafir yang terikat perjanjian damai yang melakukan perbuatan tersebut. Dan ini adalah dalil yang cukup jelas tentang batalnya perjanjiannya, sebab ia telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya , sedangkan mencela itu termasuk menyakiti Alloh dan Rosul-Nya berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, bahkan itu adalah menyakiti yang paling menyakitkan.”

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang lainnya tentang disyari’atkannya ightiyalat terhadap musuh-musuh Allah dan Rosul Nya , untuk lengkapnya silahkan lihat risalah Tahriidhul mujaahidiin al abthool ‘ala ihyaa’is sunnah al ightiyal ( Mengobarkan semangat para mujahidin yang pemberani untuk menghidupkan sunnah ightiyal) karya Syekh Abu Jandal Al ‘Azdi .

Pada hari ini 28 dan 29 J. Uula 1431 kembali densus La’anahumullahu fid dunya wal akhiroh menangkap dan membunuh saudara-saudara kita para mujahidin , di depan mata kita dan disaksikan seluruh manusia mereka dihinakan sementara kita hanya berdiam diri saja tanpa pernah berbuat apa-apa.

Ya Allah ampunilah dosa-dosa dan kelemahan diri kami ini, janganlah Engkau siksa kami karena kedzholiman diri kami ini, sayangilah kami, Engkau lah Dzat yang maha pengampun dan maha penyayang. Amin.

Karena “sukses” ini, kembali thoghut negeri ini dan kacungnya densus 88 La’natullahi ‘alahim, mendapat applause dan bantuan dana 3,8 trilyun dari tuannya kafir australia. Masihkah kita ragu dengan kekafiran mereka? Masih maukah kita makan fasilitas mereka dan bangga dengan ini semua? Memang cara thoghut melemahkan mujahidin dengan fasilitas dan bantuan, semua yang mereka tangkap diberikan bantuan, tetapi ada yang terbeli dan ada yang tidak, contoh yang terbeli adalah nasir abas dan gerombolannya, yang dengan mudah menukar iman dan amal jihadnya dulu dengan menjadi kacung thoghut, dulu dia mujahid sekarang munafiq, dulu jihad sekarang thoghut, dulu dia berjuang fii sabiilillah sekarang fii sabiili thoghut, mulutnya berbisa, licik dan penjilat. Hati-hati dengan makhluk ini!! Masihkah kita ragu dengan kekafiran mereka? Masihkan ragu untuk memerangi mereka?

Siapakah sekarang ini yang mau berbai’at mati menghadapi amerika dan sekutunya serta antek-anteknya para thoghut dan murtaddin ?

Siapakah yang siap mati menghadapi thoghut negeri ini dan antek-antek para kacung pendukungnya ?

Dan siapakah yang siap meminang bidadari syurga dengan maharnya kepala densus dan anggota polri lainnya atau sampai nyawanya lepas dan berjumpa Robbnya ??!

Dimanakah kalian wahai singa-singa tauhid ??

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بِهِ بَيْنَتَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَاتُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَآئِبَ الدُّنْياَ اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَابِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَاأَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظََلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَتَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا وَلاَتَجْعَلِ الدُّنْياَ أَكْبَرَ هَمِّنَا وَمَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَتُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا. اَللَّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ اَوْلِيَآءَكَ. اَللَّهُمَّ اَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَاَبْصَارِنَا وَقُلُوْبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ .

Ya Allah, ya Rabb kami, bagi-bagikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu apa yang dapat kiranya menghalang antara kami dan ma’siat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke sorga-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu dan demi suatu keyakinan yang kiranya meringankan beban musibah dunia kami.

Ya Allah, ya Rabb kami, senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan –penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami dari menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau jadikan musibah kami mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, tidak juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami.

Ya Allah, laknatilah orang-orang kafir ahli kitab dan orang-orang musyrik yang menghalang-haalangi jalan-Mu, mendustakan Rasul-rasul-Mu, dan membunuh kekasih-kekasih-Mu

Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan serta entaskanlah kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Dan jauhkanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi dan berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami dan isteri-isteri serta anak keturunan kami, dan ampunilah kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

اللهم انصر كل من نصر الدين، اللهم انصر كل من نصر الدين، اللهم اخذل كل من خذل الدين.

Ya Allah, bela-lah siapa saja yang membela Diin ini. tolonglah siapa saja yang membela Diin ini. Ya Allah, hinakan, abaikanlah orang yang mengabaikan Diin ini.

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك, وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas Diin-Mu, Shalawat atas Nabi Muhammad dan ahli keluarga serta sahabat-sahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Bumi Allah, 13 Mei 2010 M.

29 Jumadil Uula 1431 H.

Al Faqiir ilallah :

Abu Muhaajir Al Induuniisiy

————————————————————————————————————————————————————————

[1] Sebagaimana Amerika dan antek-anteknya melakukan operasi ightiyal terhadap enam orang mujahidin di Yaman. Pimpinannya adalah, Al-Mujahid Abu Aliy Al-Haritsiy . Operasi itu dijalankan berkat saran Presiden George Bush kepada Badan Intelejent Pusat (CIA) pada bulan Romadhon, kaitannya dengan perang melawan apa yang ia sebut terorisme. Semua media informasi di penjuru dunia memberitakan saran Bush untuk meng-ightiyal para mujahidin. Demikian juga yang dilakukan negara yahudi terhadap mujahidin Palestina, negara Rusia terhadap mujahidin Cechnya, seperti yang mereka lakukan terhadap Komandan Khothob …dll. Dan kami menyarankan para pemuda Islam untuk meng-ightiyal yahudi, nashrani, dan murtaddin, sebagai bentuk pembalasan setimpal. وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيْلٍ إِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ Artinya : “Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosa pun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak, mereka itu mendapat azab yang pedih.”

[2] Pembunuhan itu terjadi malam 14 bulan Rabiul Awal tahun 3 Hijriyah. Nabi mengantar sendiri para pahlawan yang mengemban tugas ini menuju Baqi‘ Al-Ghorqod, kemudian memberangkatkannya sembari bersabda, “Berangkatlah dengan nama Alloh. Ya Alloh, tolonglah mereka.” Kemudian beliau pulang ke rumah lalu sholat dan bermunajat kepada Robbnya.

[3] HR. Bukhori (3031) dan Muslim (1801). Selengkapnya, periksa Siroh Ibnu Hisyam (III/ 74 – 84) dan Fathu `l-Bari (VII/ 392)

[4] Fathu `l-Bari (VII/ 393)

[5] Dalam Al-Minhaj Syarhu Shohih Muslim bin Hajjaj: (12/ 161)

[6] Al-Minhaj Syarhu Shohih Muslim bin Hajjaj: (12/ 160)

[7] Lihat Al-‘Umdah Fi I‘dadi `l-‘Uddah hal. 354

[8] Lihat As-Shorimu `l-Maslul: hal. 74 – 75.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: