Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Intermezo... » Cacat – cacat Dalam Pernikahan dan Pernikahan Orang Kafir

Cacat – cacat Dalam Pernikahan dan Pernikahan Orang Kafir


Cacat-cacat dalam pernikahan ada dua macam:
1.      Cacat-cacat yang menghalangi jima’, di mana pada pria : dzakarnya terputus, terputus kedua testisnya dan impotent. Sedangkan pada wanita: rataq (tersumbuat lubang vagina dengan daging), qarn (vagina tersumbat tulang yang menyerupai tanduk) dan a’fal (……………………).
2.      Cacat-cacat yang tidak menghalangi senggama namun ia membuat orang menjauh atau ia tidak menular pada laki-laki atau wanita sepeti penyakit shapak, gila, kusta, basur (wasir) nasur (luka yang tidak bisa seembuh), luka yang berair di dalam kemaluan dan yang serupa itu.
·         Wanita yang mendapatkan suaminya terputus dzakarnya atau tersisa baginya bagian dzakar yang tidak bisa menjima’ dengannya maka dia berhak untuk fasakh. Dan bila dia sudah mengetahui dan ridla dengannya sebelum akad atau ridla dengannya setelah dukhul (bermesraan dengan khalwat) maka gugur haknya dalam fasakh.
·         Setiap cacat yang membuat pasangan seseorang menjauh darinya seperti penyakit sopak, bisu, cacat-cacat di kemaluan, luka-luka yang berair, gila, kusta, kencing terus di luar kontrol, di kebiri, TBC, bau mulut terus menerus, bau badan yang menyengat dan yang semacam itu maka masing – masing dari suami isteri memiliki hak fasakh bila dia mau dan barang siapa dia ridla dengan hal itu dan dia melakukan akad nikah maka dia tidak memiliki khyar (pilihan untuk fasakh ) dan bila cacat itu terjadi setelah akad maka pasangannya memiliki hak khiyar.
·         Bila fasakh terjadi karena sebab salah satu dari cacat-cacat yang lalu dan yang serupoa dengannya maka bila fasakh ini terjadi sebelum dukhul (hubungan badan) maka tidak ada mahar bagi si wanita, dan bila fasakh ini stelah dukhul maka dia berhak mendapatkan mahar yang sudah disebutkan di saat akad dan si suami meminta ganti dari orang yang mengecohnya dan tidak sah pernikahan khuntsa musykil (waria) yang belum jelas apa dia laki-laki atau wanita sebelum ada kejelasan statusnya.
·         Bila ternyata si suami mandul maka isteri punya hak khiyar karena wanita punya hak dalam anak. Impotent yaitu orang yang tidak mampu menjimai. Wanita yang mendapatkan suaminya impotent maka si suami diberi tangguh satu tahun dari sejak pengaduannya, bila dalam waktu ini dia bisa menjimai (maka pernikahan diteruskan). Dan bila tidak bisa maka si wanita memiliki hak fasakh, namun bila dia rela punya suami yang impoten sebelum dukhul atau sesudahnya maka gugur hak khiyarnya.

Pernikahan Orang-orang Kafir
·         Pernikahan orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan yang lainnya statusnya adalah pernikahan seperti kaum muslimin dalam apa yang wajib dengannya berupa mahar, nafaqah, jatuhnya thalaq dan yang lainnya dan haram atas mereka dari wanita apa yang haram atas kita.
·         Orang-orang kafir di akui di atas pernikahan-pernikahan mereka yang rusak dengan dua syarat:
1.      Mereka meyakini sahnya pernikahan itu didalam agama mereka.
2.      Mereka tidak mengadukan kepada kita, dan bila mereka mengadukan kepada kita maka kita putuskan terhadap mereka dengan apa yang telah Allah turunkan kepada kita.
·         Sifat akad nikah orang-orang kafir:
Bila datang orang kafir kepada kita sebelum akad nikah di antara mereka akan kita lakukan akad nikah menurut akad nikah dengan ijab, qabul, wali dan dua saksi laki – laki yang adil. Dan bila datang kepada kita setelah akad nikah di antara mereka maka bila si wanita itu kosong dari penghalang-penghalang pernikahan maka kita akui di atasnya, dan bila si wanita ada penghalang pernikahan maka kita pisahkan kepada mereka berdua.
·         Mahar wanita kafir: bila ia sudah disebutkan baginya dan dia sudah mengambilnya maka mahar itu sudah sah miliknya baik mahar itu shahih maupun rusak seperti khamr dan babi, namun bila dia belum menerimanya maka bila mahar itu shahih maka dia mengambilnya dan bila dia itu rusak atau belum disebutkan baginya maka ia berhak mendapatkan mahar mitsl (standar wanita semacam dia) yang shahih.
·         Bila suami isteri masuk Islam secara bersama-sama atau masuk Islam suami wanita kitabiyyah (Yahudi dan Nasrani) maka keduanya tetap di atas nikahnya.
·         Bila masuk Islam suami wanita non kitabiyyah sebelum dukhul maka nikahnya batal.
·         Bila wanita kafir masuk Islam sebelum suaminya yang kafir dukhul padanya maka nikahnya batal karena muslimah tidak halal bagi pria kafir.
·         Status hukum bila salah satu suami isteri yang kafir masuk islam :
Bila salah satu suami isteri yang kafir masuk islam setelah dukhul maka pernikahan itu mauquf (digantungkan): bila laki-laki masuk islam, maka bila si wanita masuk Islam sebelum habis masa ‘iddahnya maka dia itu isterinya dan bila si wanita masuk Islam dan masa ‘iddahnya sudah habis sedang si laki-laki belum masuk Islam juga maka si wanita boleh menikah dengan orang lain dan bila dia mau maka dia menunggu si laki-laki itu kemudian bila si laki-laki tersebut masuk Islam maka dia itu isterinya tanpa perlu memperbaharui akad dan nikah, namun dia jangan memperkenankan si laki-laki itu meggaulinya sampai masuk Islam.
·         Status hukum pernikahan bila salah seorang suami isteri murtad:
Bila suami isteri atau salah satunya murtad dari islam, bila itu terjadi sebelum dukhul maka pernikahannya batal, dan bila setelah dukhul maka urusan di gantungkan kepada selesainya masa ‘iddah, bila yang murtad itu taubat di dalam masa ‘iddah itu maka mereka tetap di atas nikahnya, namun bila tidak taubat maka pernikahan lepas begitu saja setelah habis masa ‘iddah sejak waktu murtad.
·         Bila suami masuk Islam, bila isterinya itu kitabiyyah maka pernikahannya tetap berlangsung namun bila bukan kitabiyyah maka bila si wanita itu masuk Islam (maka ia isterinya tanpa akad baru) dan bila tidak masuk Islam maka ia meninggalkannya.
·         Bila orang kafir masuk Islam sedang dia memiliki lebih dari empat isteri, dan mereka semua masuk Islam atau mereka itu kitabiyyah, maka dia memilih empat saja dan meninggalkan yang lainnya.
·         Bila orang kafir masuk Islam sedang disisinya dua isteri yang bersaudari maka ia memilih salah satunya, dan bila dia memadu antara wanita dengan saudari bapaknya atau saudari ibunya maka ia memilih salah satunya. Dan setiap orang yang masuk Islam maka berlaku padanya hukum-hukum Islam di dalam nikah dan yang lainnya.
Allah ta’ala berfirman:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran: 85).

[ashabulkahfi.com/thoriquna.wordpress.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: