Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Takutlah Kepada Allah

Takutlah Kepada Allah


TAKUTLAH KEPADA ALLAH

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Rasa takut Adalah fitrah manusia yang di ciptakan dalam keadaan lemah dan jahil, Jika ketakutan itu berlebihan maka akan menyebabkan kebinasaan bagi manusia itu sendiri, dan apabila menimpa seorang Mujahid Muwahid maka akan menjadi salah satu petaka dan penghalang baginya untuk terus berda’wah dan berjihad di jalan Allah.

Allah Jalla wa ‘ala berfirman:

“….Sesungguhnya manusia (orang 2 Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (Ali Imran : 173)

Dalam pertempuran antara Hizbullah dengan Hizbusyaiton, antara aAulia Rahman dengan Aulia Thoghut propaganda merupakan salah satu hal penting. Allah SWT mengisahkan betapa orang-orang Quraisyyang begitu siap dalam menghadapi pertempuran baik dari jumlah dan peralatan di tambah berbagai propaganda yang terus di lakukan untuk berusaha melemahkan dan maeniupkan ketakutan terhadap kaum muslimin.

Perjalanan Jihad ini terkadang di hinggapi rasa kekhawatiran dan ketakutansehingga kita berputus asa dan tidak bisa berpikir jernih,tipu daya yang dilancarkan para Thaghut dan Ansharnya di tempatkan dalam setiap aksi pemberantsan Teroris (baca Mujahid), dengan persenjataan lengkap mereka menangkap dan membunuh para Mujahid, yang di tengkapapun di proses dan di jerat dengan undang–undang mereka dengan pasal yang berlapis dan di jatuhi hukuman berat. Ke”hebatan” Thoghut mungkin bisa menimbulkan rasa takut diantara Muwahid dan Mujahid sehingga ketakutan dan kekhawatiran mereka itu menyebabkan mereka melupakan Hak-hak kaum Muslimin, mereka takut untuk meonlong para Mathlubin (DPO) mereka khawatir untuk mengurus keluarga Mujahid mereka akan di tuduh membantu dan mendukung Teroris, maereka takut kalau terjun di kancah Jihad akan terbunuh atau tertawan.(Wallahul Musata’an).ketakutan seperti inilah yang akan mebawa seorang Muwahid terpuruk dan menjadi tnada tanya besar tentang keImananya.

Karana Ibnu Abas ra , Rasulullah SAW bersabda “Sekuat kuat iman adalh benci karna Allah, Mencintai karna Allah, Memusuhi karna Allah, Loyal karna Allah”. Inilah Iman ya Akhy fillah. Inilah buah Tauhid Yaitu knsep Al Wal’ wal Baro’.Sebahagian dari kita begitu nyata Baro’ terhadap Thoghut tapi di sisi lain Wara’ kita tehadap sesama Mukmin dikalah kan oleh rasa takut ! rasa takut yang tak berdasar.

Lawanlah rasa takut kita, kalahkan dengan keIklasan kita dalam berpegang kepada Tauhid dan berJihad di jala-Nya.Lihatlah kisah Nabiyullah Musa As ketika menjadi DPO fir’aun beliau berlari sendirian ketakutan,lalu dengan izin Allah Ta’ala di pertemukan dengan Nabi Syu’aib AS dan diterima sebagai tamu yang Mulia sebagai hamba Allah sebagai seorang mukmin.

Allah Azza Wajalla berfirman:

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. ( Al Anfal : 74 )

Lalu ketakutan macam apakah yang kita rasakan sampai kita melupakan ayat ini, untuk membantu para Mujahidin yang jadi DPO. Atau mungkin kengganan atau tidak maunya kita menolong Mathlubin karna fatwa atau perintah dari Syaikh atau Amir kita?! Hati hati ya Ikhwan Mujahid Muwahid..

Rasulullah SAW bersabda :

“ Tidak ada ketaatan kepada suatu mahlukpun dalam hal bermaksiat kepada Allah”.

Jika Syaikh atau Amir kita melarang kita untuk menolong atau menyediakan tampat bagi Mujahid yang DPO lalu kita turuti,waspadalah berarti kita mengambil Arbab selain Allah. Dalam ayat yang lain Allah Jlla Wa’la beerfirman :

“…(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan…” . (AL Anfal 72 ).

Ketahuilah tidak sedikit keluarga Mujahid Muwahid yang di tinggal Syahid Suami/Ayah mereka, ditinggal suami/ayah mereka karna dia Mathlub dan suami/ayah mereka di sijn. Keluarga Muwahid Mujahid ini sangat kekurangan sementara di antara kita muwahid masih ada yang asyik dengan dunia dan hartanya tanpa pernah terbesit untuk menolong atau enggan karna takut untuk menolong keluarga Mujahid. Mereka sibuk dengan kebutuhan mereka yang terkadang itu merupakan suatu hal yang Tabdzir, ketakutanlah yang selalu di hembuskan oleh syetan hingga mereka enggan membantu keluarga Mujahid.

Firman Allah Azza Wajala :

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui”. (Al Baqarah : 268)

Syetan terus meniupkan ketakutan  kita akan kemiskinan yang akan menimpa apabila kita berinfaq

Allah SWT berfirman :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Al Baqarah : 261)

Dan FirmanNya :

“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.( Ali Imran :133-134)

Ketahuilah Shodaqoh itu tidak akanmengurangi harta kita sedikit pun , Shodaqoh itu adlah sebagai petunjuk bagi kita. Jika kita takut membantu keluarga Mujahid, maka ketahuilah tipu daya mereka ( Thoghut) itu sangat lemah . sebagaimna firman Allah SWT :

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.( Ali Imran : 54)

Jika yang kita takutkan hanya karana takut di cap sebagai Teroris, maka ketahuiilah bahwa sesungguhnya menolong sesama muslim itu lebih utama karana persodaraan sesama muslim.sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. ( Al Hujuraat : 10 )

dan FirmanNya :

“Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”. (At-Taubah: 71)

Jika yang menghalangi kita untuk menolong keluatga Mujahid hanya karna mereka berbeda Jama’ah dengan kita atau berbeda Tanzdhim maka bertobatlah karana di dala hati kita masih ada sifat jahiliyyah ( Ashobiyah ) . Rasulullah bersabda:

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lainya itu seperti satu bangunan yang kokoh , satu sama lain saling menguatkan “. ( HR. Bukhari Muslim )

Bukan karana atas nama Jama’ah atau Tanzdhim ya ikhwah, tapi karna Allah yang mempersodarakan  kita dengan mereka di atas Iman.

Apa yang menghalangi kiat untuk berJihad di jalan Allah, apa karna ketakutan dan kekhawatiran, apakah belum adanya perintah Amir atau kita lebih cinta kepada kehidupan dunia??ke engganan kita berJihad tidak akan meninda atau memperpanjang umur kita, serta tidak akan menyelamatkan kita dari musibah.Allah Jalla Wa’ala berfirman :

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar”. (Ali Imran : 168 )  

Ya cegahlah kematian itu ya ikhwah, Cegahlah kematian itu dengan kalain meninggalkan Jihad dan hanya duduk-duduk saja. Apakah kita merasa cukup dengan amalan kita saat ini padahal Allah Azza Wajalla berfirman :

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”.( Ali Imran : 142)

Bukankah Jihad hari ini hukumnya Fardu ‘ain lalu apa yang menahan tangan-tangan kita unutk memenggal orang2 kafir dan musyrikin, serata para Thaghut dan Ansharnya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

“Sebaik baik manusia adalah orang yang selalu memegang tali kekang kudanya. Dan apabila dia mendengar hiruk pikuk ( seruan Jihad ) atau suara musuh maka dia menerjang maju. Dia berperang membunuh atau terbunuh “. ( HR. Ahmad )

Itulah sebaik baik manusia bila ia mendengar suara musuh ( propagandanya) dia tidak berdiam diri dalam rumah atauMa’hadnya, tidak bersembunyi di balik Hijab istrinya.Tapi di terjang dan menghampiri musuh tersebut tanpa rasa takut,karna dia yakin dengan Dien ini dan yakin dengan Janji Allah pahala bagi orang yang berjihad.

Ketahuilah, apakah kalian masih ragu ?? bahwa pahala yang berJihad itu tidak ada yang menandingi..Abu Hurairah RA pernah bertanya pada Rasulullah SAW tentang pahala yang dapat menyamai pahala orang yang berJihad lalu jawab Rasul : “ Kamu tidak akan sanggup mealkukanya”.dan Rasulullah saw bersabda:
“Sesungghunya orang mati syahid akan memperoleh tujuh hal di sisi Allah :

1.Diampuni dosa2nya pada saat pertama kali tertetes darahnya.
2.Melihat tempat tinggalnya di surga.
3.Diberi perlindungan dari siksa kubur.
4.aman dari ketakutan besar pada hari kiamat.
5.Diletakkan di atas kepalanya mahkota keagungan, yg satu permata yakut dari mahkota tersebut lebih baik daripada dunia dan seisinya.
6.Dikawinkan dgn 72orang istri dari bidadari.
7.Dan dapat memberi syafa’at kepada 70 orang karib kerabatnya.”(HR.Tarmidzi)

Ketahuilah , orang yang terbunuh di jalan Allah itu tidak mati, Allah Jalla Wa’ala berfirman :

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(Al Imran  : 169-170)

Maka buanglah dan lawanlah rasa takut yang terkadang datang pada diri kita . takutlah kepada Allah, takutlah dimana nanti kita akan di minta pertanggung jawaban atas ilmu yang kita miliki, atas harta yang kita peroleh, seta atas sodara sodara kita yang terzholomi.Jika kita hanya mampu berjihad dengan harta maka infaqkanlahharta kita di jalan Allahdan bantulah keluarga kjahid sesungguhnya kita telah berjihad dan memperoleh pahala orang yang berjihad.Rasul SAW bersabda : “Barangsiapa menyiapkan bekal orang yang berJihad maka dia telah berjihad, Barang siapa yang mengurus keluarga orang yang berJihad dengan baik maka dia telah berjihad”.(HR. Bukhari)

Sesungguhnya makar dan propaganda orang orang kafir musyrik tidak akan dapat melemahkan dan tidak akan membuat takut para Muwahid Mujahid tetapi justru akan menambah kuat keImanan mereka. Karna mereka hendak menakuti nakuti kita tetapi takutlah kita kepad Allah Jalla Wa’ala.Ketahuilah seutama utama ilmu adalah takut pada Allah.

Maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu. Dia lah yang memberikan kekuatan keapadamu dengan memberikan pertolonganNyadan dengan dukungan orang-orang Mukmin.Dan keapdaNya lah kita mengadu atas segala kelemahan yang kita miliki. Dan kepadaNya lah kita kembali.

Wallahu Ta’ala ‘Alam Bishohwab..

12 Jumadits Tsanie 1432 H

Bumi Hijrah

Al Fakir

Fatih Abdurahman Al Hasan


2 Komentar

  1. bujan mengatakan:

    Apakah kita pantas untuk di udzur?

    Assalamu’alaikum…
    Saudara-saudaraku, ada sebuah pertanyaan yang sangat mengganjal dihati ini, yaitu : “Apakah kita pantas untuk mendapatkan udzur karena belum mengobarkan jihad di Indonesia?”.
    Karena bagi yang mau jujur, maka akan melihat bahwa jumlah kita di Indonesia sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memulai jihad. Coba kita perhatikan mujahidin di Checnya, jumlah mereka lebih sedikit dari kita, namun mereka bisa memulai jihad bahkan dengan lawan yang lebih kuat.
    Lalu perhatikan pula Pattani dan Moro, mereka adalah kaum minoritas di negerinya, tapi ternyata mereka mampu untuk mengobarkan jihad melawan kuffar. Kemudian kita tidak usah jauh-jauh, inilah negeri kita sendiri, Indonesia. Perhatikan di sekeliling kita. Inilah GAM di Aceh, RMS di Maluku, dan OPM di Papua. Mereka mampu melakukan perlawanan, padahal mereka semua adalah kelompok-kelompok yang memperjuangkan kesesatan dan kekafiran.
    Lalu dimana orang-orang yang mengaku mujahidin ?
    Jika kita berkeliling ke beberapa daerah, kebanyakan para ustadz dan ikhwah –kecuali yang dirahmati Allah– mengatakan: “KITA BELUM MAMPU”.
    Jika memang seperti ini keadaannya, maka tidak ada masalah. Karena Allah tidak membebani hamba-Nya melainkan sesuai kemampuannya. Namun pertanyaannya sekarang : “BENARKAH KITA MEMANG BELUM MAMPU?”. Padahal jumlah kita sudah cukup banyak.
    Kalau kita perhatikan, mujahidin di Indonesia terlalu menyebar luas. Masing-masing berjuang di daerah sendiri. Padahal jika saja kita mau mencari suatu daerah yang kita semua berkumpul disana, maka kita akan kuat—Wallahu a’lam—.
    Pernah ada yang mengatakan : “Kita akan sangat mudah untuk dihabisi jika berkumpul di suatu tempat”.
    Perkataan ini sekilas benar. Namun tidakkah kita melihat GAM, RMS, dan OPM ? Mereka bisa eksis, padahal mereka hanya berjuang di satu tempat.
    Ada seorang ustadz yang cukup dikenal di Indonesia berkata : “Mujahidin di Indonesia terlalu banyak pertimbangan dan perencanaan. Terlalu sering membuat acara bedah buku dan seminar. Padahal jika saja dana-dana yang dipergunakan untuk membuat acara tersebut digunakan untuk membeli senjata tentu akan lebih berguna. Tidak perlu menunggu kekuatan harus seimbang dengan musuh, karena dari dahulu umat Islam selalu lemah dari segi kekuatan. Dan juga senjata itu akan datang dengan sendiri, baik dengan bantuan dari luar atau dari ghanimah”. Demikian kata ustadz tersebut.
    Perkataan ustadz ini ada benarnya. Sepertinya kita terlalu banyak pertimbangan dan perencanaan. Atau istilah kasarnya “TERLALU BERTELE-TELE”. Apakah kita tidak lagi yakin bahwa Allah akan menolong kita ? Sekali lagi INGAT !! Jumlah kita sudah lebih dari cukup. Perhatikanlah GAM. Mereka sanggup tinggal bertahun-tahun didalam hutan meninggalkan keluarga untuk memperjuangkan ideologi sesat mereka.
    Dan perlu untuk diketahui, bahwa pasukan tempur GAM itu kebanyakan masih berusia belasan tahun. Bukankah seharusnya mujahidin yang lebih pantas untuk seperti itu ? Ataukah kita berfikir baru akan berjihad jika sudah mempunyai kekuatan seperti mujahidin di Iraq dan Afghanistan ? Sungguh sangat mengenaskan kondisi mujahidin di Indonesia. Bahkan ada sebagian jamaah yang mencukupkan diri dengan I’dad MAIN SEPAK BOLA SETIAP MINGGU, kemudian menjadi komentator terhadap hasil-hasil jihad yang saat ini sedang bergejolak di berbagai negeri Islam..—inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-.
    Bahkan—Demi Allah—, yang sangat membuat hati ini menjadi sedih adalah ada sebagian ikhwah yang menjadikan rekaman-rekaman jihad dari Iraq dan berbagai negeri lainnya hanya sebagai hiburan. Jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya maka mereka berkata : “wah, CD yang ini tidak seru. Terlalu banyak bicaranya. Tidak ada aksinya”. Sungguh hati ini pedih dibuatnya.
    Ada lagi jamaah yang berpendapat : “Kita baru berjihad jika Tauhid sudah masuk kerumah masyarakat sebagaimana film Doraemon masuk kerumah masyarakat”.
    Maka benarlah Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah ketika beliau berkata : “Sungguh mencari-cari alasan untuk tidak berangkat berjihad dengan alasan yang bermacam-macam itu akan mengotori jiwa”.
    Ada seorang ikhwah kita yang dulunya bekerja memasok senjata untuk GAM—Alhamdulillah sekarang dia sudah bertaubat—, dia mengatakan bahwa senjata itu sangat mudah dibeli di Thailand. Dan untuk memasok ke Indonesia juga sangat mudah. Lalu mau beralasan apa lagi kita dihadapan Allah kelak? Jumlah sudah lebih dari cukup. Persenjataan mudah untuk didapatkan. Lalu mengapa jihad belum juga berkobar?
    Mungkin ada baiknya jika kita merenungi kembali perkataan ulama kita, Syaikh Yusuf al-‘Uyairi rahimahullah. Beliau berkata :
    “jika engkau benar-benar mempunyai keinginan untuk berjihad, maka jangan sekali-kali engkau berhenti dengan keinginan saja, karena ini tidak cukup untuk engkau jadikan alasan dihadapan Allah untuk tidak berjihad, selama engkau mampu untuk keluar atau mampu untuk hanya sekedar melakukan usaha yang ada peluang berhasilnya. Maka berusahalah dan tempuhlah jalan menuju jihad. Dan ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang telah sampai ke bumi jihad itu bukanlah orang-orang yang mempunyai keajaiban, akan tetapi mereka telah berusaha kemudian Allah memberikan kemudahan kepada mereka sehingga Allah palingkan pendengaran dan penglihatan orang dari mereka sehingga mereka dapat sampai ke medan jihad”.
    Beliau juga berkata :
    “Akan tetapi umat Islam seluruhnya berpaling dari jihad dan beralasan bahwasanya jalan menuju medan jihad telah tertutup. Padahal Allah telah menolak alasan-alasan kita dan telah menjadikan pahala orang yang mati atau terbunuh dalam perjalanan jihad maka ia syahid. Namun kita ini masih saja mencari-cari alasan-alasan lain untuk mengulur-ulur waktu dan untuk tidak berjihad, semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang Allah firmankan dalam ayat yang berbunyi :
    “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:”Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu”. (At Taubah: 46)

    Selain itu kita juga berharap supaya Allah tidak jadikan termasuk orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
    “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah : “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta”. (At Taubah: 42)
    Akan tetapi yakinlah wahai saudaraku, demi Allah jika engkau jujur terhadap Allah dalam mencari jalan jihad niscaya Allah akan mengabulkan ketulusanmu, dan Dia telah menjamin akan menyampaikan dirimu ke medan jihad, karena Dia telah berfirman :
    “Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami niscaya Kami tunjuki dia kepada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik”.(Al-‘Ankabut : 69). Selesai.
    Dan sebagai penutup, tidak ada yang lebih indah dari apa yang dikatakan oleh syaikh kita yang tercinta, Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah ketika beliau berkata :
    “Saudaraku dalam tauhid… Waspadalah terhadap jebakan dan pintu masuk syetan. Waspadalah, jangan sampai syetan menjadi penghalang antara dirimu dan jihad di jalan Allah dengan meletakkan penghalang serta sebab-sebab yang akan menjadikan dirimu duduk dan absen dari jihad, walaupun amalan-amalan tersebut adalah ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Sebab syetan yang terlaknat dan keras kepala ini tidak akan pernah berhenti untuk menghalangi hamba dari perkara yang bisa menjadikan tuhannya ridho.
    Semoga Allah merahmati Ibnul Qoyyim, ketika beliau mengingatkan urusan penting ini, beliau mengatakan –yang kurang lebih maknanya—:
    “Syetan tak pernah berhenti dan tak gampang putus asa mengintai orang mukmin dan menduduki jalan yang dilaluinya menuju Allah, ia memasang beberapa perangkap dan tali jebakan untuknya, ia tidak akan menggunakan perangkap yang lebih mudah kecuali sudah tidak berhasil dengan perangkap yang lebih sulit. Mula-mula ia pasang jebakan kesyirikan dan kekufuran; kalau orang mukmin itu selamat dari perangkap ini, ia pasang jerat perbuatan bid‘ah; jika orang mukmin itu berhasil melewatinya, ia telah siapkan jaring dosa-dosa besar; jika orang mukmin itu masih juga berhasil melangkahinya, ia siapkan jerat dosa-dosa kecil; kalau masih juga selamat, ia akan sibukkan dia dengan perkara-perkara halal (mubah); jika sudah tidak mampu lagi menjeratnya, syetan mengintai dan menyamarkan penghalang itu menjadi berupa ibadah-ibadah mafdhuulah (non prioritas), lalu syetan pun menyibukkannya dengan ibadah tersebut, memperindah dalam pandangan matanya, menghias-hias serta memperlihatkan keutamaan dan keuntungan yang terdapat dalam ibadah tersebut untuk memalingkannya dari ibadah yang lebih afdhol (utama), yang lebih besar hasil dan keuntungannya. Karena, ketika syetan tidak berhasil merugikan seorang mukmin dari pokok pahala, ia akan berusaha keras untuk –paling tidak— mengurangi kesempurnaan, keutamaan dan tingkatan-tingkatan tinggi yang bisa dicapainya, maka syetanpun menyibukkannya dengan perbuatan yang diridhoi Allah dengan memalingkannya dari perbuatan yang lebih diridhoi Allah, seperti menyibukkannya dengan aktifitas menuntut ilmu yang hukumnya fardhu kifayah dengan memalingkannya dari jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, atau menghiasi amalan jihad berupa dakwah padahal pintu berjihad dengan pedang terbuka di hadapan para petempurnya”.
    Wallahu a’lam bish shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: