Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Salafy Indo:”Ikut Pemilu Bukan Berarti Pro Demokrasi”

Salafy Indo:”Ikut Pemilu Bukan Berarti Pro Demokrasi”


lintastanzhim.wordpress.com–Salah satu aktivis komunitas Muslim yang menyatakan pihaknya sebagai pengikut Salaf atau Salafy merespon berita mengenai Salafy Mesir yang memilih berdemonstrasi dan ikut berpartisipasi dalam Pemilu.

Salah satu aktivis komunitas ini yang bernama Abu Salma menulis di situs pribadinya, abusalma.net, bahwa masalah mengikuti Pemilu bukanlah hal yang baru dalam komunitas ini, karena beberapa ulama yang dijadikan rujukan oleh mereka telah membolehkan.

”Masalah mengikuti pemilu bukanlah suatu hal yang baru, sebab beberapa masyaikh senior memperbolehkannya dengan memandang sisi maslahat dan madharatnya. Ini adalah pendapat yang dikemukana oleh Syaikh al-Albani dan Syaikh Ibnu Utsaimin bahkan termasuk Syaikh bin Baz. Hanya saja mereka menjelaskan menurut kondisi yang berlainan sesuai dengan kondisi penanya dan pertanyaan. Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Masyaikh Yordania, semisal Syaikh Ali dan Syaikh Masyhur tentang pemilu di Iraq. Yang mana pertimbangan maslahat dan madharat sangat krusial di dalam hal ini. Hal yang serupa juga difatwakan oleh Syaikh Ubaid al-Jabiri yg memperbolehkan secara bersyarat.”

Karena memang sudah ada fatwa yang membolehkan Pemilu oleh para ulama rujukan komunitas ini, maka aktivis ini berkesimpulan bahwa sejatinya tidak ada perubahan pendapat dalam komunitas Salafy, “Jadi, pernyataan Salafi akhirnya memperbolehkan Pemilu adalah kurang tepat.”

Ikut Pemilu Bukan Berarti Setuju Demokrasi

Disamping menyebutkan bahwa sebagian dari para ulama yang menjadi rujukan komunitas ini membolehkan pemilu, aktivis ini juga menyatakana bahwa berpartisipasi dalam Pemilu bukan berarti setuju dengan demokrasi, ia menulis, ”Memperbolehkan tashwit (memberikan suara di dalam Pemilu) tidak otomatis melegalkan demokrasi. Sebab demokrasi adalah bukan bagian dari Islam. Namun, ketika keadaan tidak memungkinkan kita untuk melepaskan dari demokrasi, maka kita berupaya menentang demokrasi dengan segala kemampuan yg ada. Tatkala kita tidak dapat melepaskan diri dari demokrasi, dan Pemilu adalah cara satu-satunya di dalam menentukan pemimpin, maka ini adalah ranah ijtihadiyah para ulama yang mumpuni di dalamnya, untuk melihat faktor madharat dan maslahat.”

Tak Setuju Demonstrasi, Menyikapinya dengan Bijak

Mengenai demonstrasi yang dilakukan oleh beberapa tokoh Salafi Mesir, semisal Syeikh Muhammad Hassan, aktivis ini menanggapinya,”Beberapa masyaikh salafiyin Mesir yang turut serta di dalam demo, maka pendapat yang kita pegang adalah, tetap tidak dibenarkan. Walaupun mereka melakukan menurut ijtihad mereka, dengan kondisi dan situasi yang menyebabkan mereka mengambil sikap seperti itu, namun kita tetap memandang ini sebagai suatu kekeliruan. Semoga Alloh mengampuni kita semua.”

Namun, ia menyebutkan bahwa hendaknya hal seperti ini direspon dengan bijak, “Sungguh bijak ucapan Syaikh Ali al-Halabi tatkala beliau menjelaskan perihal Syaikh Muhammad Hassan yang turut serta di dalam demo, beliau mengatakan, ‘Tidaklah sama kaki yang memijak di tempat dingin dengan kaki yang memijak di tempat yang panas. Maksud beliau adalah, bisa jadi kita saat ini berkata demikian dan demikian, namun kita tidak mengetahui secara persis keadaan yang terjadi di Mesir dan dihadapi oleh masyaikh semisal Syaikh Muh. Hassan dll.”

Namun, aktivis ini menegaskan di akhir tulisannya, ”Ala kulli haal, kami tetap berkeyakinan bahwa masuk ke dalam politik praktis demokrasi bukanlah cara yang benar, walaupun ditinjau dari sisi kondisi dan situasi, tiap negeri berbeda-beda keadaannya. Wallohu a’lam.”* (Hidayatullah.com/lintastanzhim.wordpress.com)

==================================

Catatan Redaksi:

Subhanallah, lihat wahai muwahhidin kini mereka (salafi Imitasi) para pendusta telah ditelanjangi oleh Allah apa yang menjadi keyakinan mereka (salafi Yahudiyah). Sudah tidak ada yang samar lagi dan semua sudah seterang matahari disiang bolong. Mereka para salafiyyun Al-Maz’uum alias salafi yahudiyyah wal Qadhiyaniyyah telah menyatakan secara meyakinkan bahwa demokrasi bukanlah urusan tauhid tapi tidak lebih dari urusan fiqih belaka oleh karenanya pintu ijtihad berlaku didalamnya. Mereka telah menelan kembali ludahnya yang terlanjur tumpah. Salafiyyun yang sebelumnya dikebiri oleh para thagut kini demokrasipun mengkebirinya jua. Aduh hai….kalian (Salafi=Ghullatul Murji’ah) telah murtad dan kemurtadan kalian atas ilmu oleh karena itu tidak ada ‘udzur untuk kalian, jika saja pelaku syirik dan kufur Akbar dari kalangan awam tidak di’udzur lalu apa gerangan dengan kallian wahai para pendusta…..Kalian adalah jongos fir’aun dan kalian telah mengabdi untuknya. Tertumpahnya darah kaum muslimin (muwahhid dan mujahid) lantaran fatwa dan tinta kalian yang tidak pernah kering untuk menyerang komunitas yang kalian sebut TERORIS dan PENJAHAT yang harus dimusnahkan. Wallahi… KALIAN tidak lebih dari apa yang dikatakan dalam satu riwayat “Mereka itulah yang dilaknat atas 70 lisan para nabi”. Syukran wa barakallahu fiikum lil muwahhidin ajma’in.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: