Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

AL GHURABA 9


JIHAD

Ketika aku ditahan, aku katakan kepada salah seorang interogator di lembaga keamanan intelejen: “Tidakkah anda berfikir untuk bertaubat dengan apa yang telah kamu lakukan?

Lalu dia tertawa terbahak-bahak dan berkata: Aku harus bertaubat??!!! Aku bertaubat dari berbuat apa hah??!!!

Aku jawab: Kamu bertaubat dari memerangi agama dan para dainya….?

Dia berkata: Aku ini tidak memerangi agama, tapi aku memerangi para teroris seperti anda ini, kami telah mendapatkan di rumahmu ada bom dan granat, kamu adalah teroris maka dari itu kami menahanmu dan menahan orang-orang sepertimu, kenapa kami tidak menahan fulan dan fulan…?(Dia menyebut beberapa pemimpin jama’ah murjiah yang tunduk (lemah) dan termasuk orang-orang yang memerangi para dai untuk diserahkan kepada para thaghut, mereka memerangi orang-orang islam dan berdiam diri terhadap orang-orang penyembah berhala)

Aku katakan: Alasan-alasan yang kamu gunakan untuk membenarkan perbuatanmu ini tidak benar, karena kamu telah menemuiku sebelum itu terjadi hanya karena dakwahku dan tulisan-tuisanku, lalu kalian masuk ke tengah-tengah rumahku dan merusak pintuku sebanyak tujuh kali, lalu kalian mencaci maki buku-buku itu sebelum kalian mencaci maki karena mencium bau bom dan granat.

Dia berkata: Jelas dong!! Karena dakwahmu itu menurut kami lebih berbahaya dari pada bom dan granat, karena kamu mengajarkan kepada anak-anak muda untuk berlepas diri dari kami dan mengkafirkan kami….kemudian apa? Jelas anak-anak muda itu mengerti bahwa orang-orang kafir itu halal darahnya…. Walaupun kamu tidak menyeru mereka untuk membunuh kami, mereka akan memikirkannya sendiri dan berusaha untuk membunuh kami, maka dakwahmu itu melahirkan para teroris, oleh karena itu dakwahmu itu lebih berbahaya dari pada bom dan granat….

Aku jawab: tidak semuanya seperti itu…. jika salah seorang diantara kalian masuk islam dan menjauhi dari memerangi agama maka dia menjadi saudara kami dan teman yang akan kami tebus dengan jiwa-jiwa kami, kemudian juga tidak setiap orang kafir itu dibunuh, karena disana ada Al Musta’man (Orang kafir yang mendapat jaminan) dan juga orang kafir yang tidak memerangi agama islam serta bukan militer, maka kunci apa yang kalian katakan dengan teroris itu ada ditangan kalian, kalianlah yang mendorong anak-anak muda untuk berbuat teror karena kalian memerangi agama islam, dan permusuhan kalian terhadap orang-orang islam…..

 

Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi

Penjara Suwaaqah – Urdun –

4 hari terakhir dari tahun 1420 H

——————————————————————————————

Definisi Jihad

Istilah jihad termasuk sekian pemahaman dan istilah yang dikotori dan dicoreng dari indikasi-indikasi dan tujuan-tujuannya yang syar’i, bahkan banyak ulama-ulama yang memelintir makna jihad sebagai alasan baginya ketika ditanya, “wahai ustadz, kenapa kamu tidak berjihad?”

Jihad adalah salah satu jenis ibadah tertentu yang telah disyariatkan Allah kepada umat Islam sebagaimana ibadah Sholat, Zakat, Puasa dan Ibadah-Ibadah lainya. Oleh karena itu kata jihad “menurut bahasa” tidak tepat jika kita gunakan sebagai makna jihad “menurut syara”, seperti ibadah-ibadah lainnya, misalnya sholat. Menurut bahasa, Sholat artinya do’a, tetapi jika yang dimaksudkan dengan perkataan sholat itu adalah salah satu dari jenis ibadah maka tidaklah dapat dikatakan bahwa setiap do’a itu adalah sholat. Demikian pula halnya Siyam (Puasa) menurut bahasa artinya menahan atau mengekang dari makan dan minum. Apakah setiap perbuatan menahan dari makan dan minum pada waktu tertentu dapat dikatakan Siyam (Puasa) secara Syar’i? Tentu tidak. Maka demikian pula halnya Jihad yang artinya menurut bahasa adalah mengerahkan segenap kekuatan dalam perkara apa saja. Tapi karena jihad sudah merupakan satu jenis Ibadah maka ia mempunyai makna tersendiri, makna syar’i, lalu apakah jihad itu?

Rosululloh Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam padasebuah riwayat dari Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari‘Amru bin ‘Abasah ia berkata:

“Seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh Sholallahu‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rosululloh, apakah Islam itu?”beliau bersabda, “Hatimu pasrah kepada Allah ‘azza wa jalla dan kaum muslimin selamat dari (gangguan) lidah dan tanganmu.”Ia berkata lagi, “Bagaimanakah Islam yang paling sempurna?” beliau bersabda, “Iman.”Ia berkata, “apakah iman itu?”beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rosul-Nya dan hari berbangkit setelah kematian.”Ia berkata lagi, “Iman bagaimanakah yang paling utama?”beliau bersabda, “Hijroh.”Ia bertanya, “Apakah hijroh itu?” beliau bersabda, “Engkau jauhi keburukan.”, Ia berkata, “Hijroh bagaimana yang paling utama?” beliaubersabda, “Jihad.”Ia bertanya, “Apakah jihad itu?beliau bersabda,Engkau perangi orang-orang kafir jika engkau bertemu dengan mereka.” Ia berkata, “Jihad bagaimanakah yang paling utama?” beliau bersabda, “Siapa saja yang kuda terbaiknya terluka dan darahnya tertumpah.” Rosululloh Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kemudian dua amal yang keduanya merupakan amalan terbaik kecuali kalau ada yang melakukan yang semisal; hajji mabrur dan umroh.”HR.Ahmad dan Ibnu Majah.

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad? Beliau menjawab: “Ya, mereka diwajibkanjihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji dan umrah.” – HR.Ahmad dan Ibnu Majah.

Sedangkan di dalam riwayat Bukhori disebutkan: Aisyah berkata: “Kami melihat jihad adalah sebaik-baik amalan, lantas mengapa kami (kaum wanita) tidak berjihad?”Jadi, ‘Aisyah memahami bahwa jihad adalah perang.

Itulah makna syar’i jihad, yakni perang! Karena hal itulah, para ulama sepakat, jika menemukan kata jihad yang disebutkan secara mutlak, atau berdiri sendiri, maka maknanya tidak dibawa kecuali kepada makna berjihad melawan orang kafir dengan pedang sampai mereka masuk Islam, atau memberikan jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina!dan tidak dibawa kepada makna lainnya kecuali bila ada qorinah (bukti pendukung) yang menunjukkan bahwa yang dimaksud bukan itu, contohnya seperti dalam dua hadits dibawah ini:

Rosululloh Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Mujahid adalah yang berjihad melawan nafsunya dalam rangka taat kepada Allah,dan muhajir adalah yang meninggalkan semua yang Allah larang.”

Demikian juga sabda beliau Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap orang yang meminta izin kepada beliau ikut berjihad, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” ia berkata, “Masih.” Beliau bersabda, “Berjihadlah untuk keduanya.”

Itu adalah kata jihad yang ada qorinah dan tidak berdiri sendiri..

Sehingga, jika ada kata.. “berjihadlah terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu” secara mutlak dan tidak ditunjukan bagaimana cara berjihadnya, maka cara berjihad yang dimaksud adalah dengan perang atau mengerahkan segenap kekuatan untuk berperang melawan orang-orang kafir dengan pedang atau senjata.. bukan berperang melawan orang kafir dengan cara berbakti kepada orangtua, atau berpuasa, atau menuntut ilmu, dsb..  sehingga salah jika mengatakan bahwa maksud kata diatas adalah, “berbaktilah terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu” atau tahanlah hawa nafsumu terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu” ,…. salah besar… melainkan artinya, PERANGILAH DENGAN PEDANG orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu”…

Sebagian orang bersikeras untuk mengkaburkan makna jihad ini dengan mengatakan, “Kami juga sedang berjihad ini!!” mereka bertujuan membenarkan sikap duduk mereka dari perang. Setelah anda lihat kehidupannya, ternyata adayang jadi pegawai untuk menghidupi keluarganya, yang satulagi jadi pedagang, yang lain jadi karyawan, yang ini jadi petani, yang itu mengajar di Fakultas Syariah, Kedokteran,Ekonomi, Ilmu Politik atau…dst, semuanya mengklaim dirinya sebagai mujahid (orang yang berjihad) dan berarti boleh meninggalkan perang…! Benar, mereka menganggap dirinya sebagai mujahid sementara di negerinya ia makan minum, mengajar dan bekerja.Bahkan, tanpa malu-malu ada juga yang menganggap apa yang ia lakukan sekarang lebih baik daripada perang itu sendiri!

Orang-orang berfikiran rusak dan biasa menyimpangkan makna seperti mereka mesti diberi penjelasan kembali dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta sejarah para tabi‘in yangmengikuti para pendahulunya dengan kebaikan.Seandainya benar klaim mereka, tentu Allah SWT dan Nabi-Nya Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir, tidak akan memotivasi agar melaksanakannya, tidak akan ada keterangan tentangwajibnya berperang, tidak ada pengobaran semangat kaum muslimin untuk berperang dengan menyebutkan pahala para mujahidin dan para syuhada, tidak ada ancaman keras, janji hukuman dan siksa pedih bagi orang yang tidak ikut berjihad.

Ketahuilah…

“Diwajibkan atas kalian berpuasa…”QS. Al-Baqoroh: 183

“Diwajibkan atas kalian berperang…”QS. Al-Baqoroh: 216

Lalu…

“…Apakah kalian beriman dengan sebagian isi kitab dan mengkufuri sebagian yang lain? ” QS. Al-Baqoroh: 85




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: