Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » FIQIH » HUKUM ORANG YANG BERSIKAP DIAM TERHADAP PEMERINTAHNYA YANG KAFIR

HUKUM ORANG YANG BERSIKAP DIAM TERHADAP PEMERINTAHNYA YANG KAFIR


HUKUM ORANG YANG BERSIKAP DIAM TERHADAP PEMERINTAHNYA YANG KAFIR

(Catatan Syaikh Abdul Qodir Bin Abdul Aziz terhadap kitab Haddul Islam Wa Haqiqotul Iman karangan Ustadz Abdul Majid Asy-Syadzili)

Dari hal. 311-317 dalam kitabnya, dia menyebutkan kisah pengkhianatan Bani Nadlir, Bani Quroidloh dan orang-orang kafir Mekah terhadap perjanjian mereka dengan nabi saw. Maka nabipun memerangi mereka dan memberlakukan hukum pengkhianatan kepada orang yang diam dikalangan mereka, karena mereka adalah sebuah kelompok yang mumtani’in bi syaukah (mempertahankan diri dengan kekuatan). Ia juga menyebutkan bahwa orang yang ikut memerangi secara tidak langsung hukumnya sama dengan orang yang memerangi secara langsung. Inilah kesimpulan dari tulisannya. Ini semua tidak diragukan lagi kebenarannya.

Akan tetapi yang rancu adalah pada catatannya terhadap kejadian-kejadian tersebut, berikut ini teks perkataanya:”Dari kaidah ini maka jelaslah bahwa kaidah yang menyatakan bahwa; “seseorang itu tidak dihukum atas dosa yang dilakukan orang lain ketika orang tersebut sendiri dan berada dalam kekuasaan,” kaidah ini harus dibatasi dengan batas-batas yang menuntut pengusiran (orang-orang yang menghianati perjanjian-pent.) yaitu ketika negara (daerah) tempat mereka mempertahankan diri itu ada penguasa yang memerintah daerah tersebut. Sehingga hukum orang yang memerangi secara tidak langsung sama dengan orang yang memerangi secara langsung, orang yang setuju dan orang yang diam hukumnya sama dengan orang yang berkhianat dan memerangi. Dan yang ikut langsung dalam perang dan penghianatan itu tidak semua orang.” Hal. 317 dalam bukunya yang berjudul “Haddul Islam”. Kekacauan dalam perkataannya ini ada pada dua permasalahan:

Masalah pertama: ia memeberlakukan hukum secara umum terhadap hukumul mu’ahidin (hukum orang-orang yang mengadakan perjanjian) terhadap semua wilayah yang penduduknya mempunyai pertahanan kekuasaan. Karena hukum yang ia sebutkan itu adalah khusus untuk ahlul ‘ahdi (orang-orang yang mempunyai ikatan perjanjian) dari kalangan orang-orang kafir asli (bukan orang yang kekafirannya karena murtad). Orang-orang kafir asli ini jika sebagian mereka berkhianat sedangkan yang lainnya tidak mengingkarinya maka berlaku atas mereka hukum orang yang diam sama dengan hukum orang yang berhianat. As-Suyuthi berkata – dalam kaidah-kaidah fikih nya – : “Kaidah yang kedelapan belas; [orang yang diam tidak ditetapkan padanya perkataan apapun] ini adalah perkataan Asy-Syafi’i – sampai ia mengatakan – dan keluar dari kaidah ini beberapa keadaan: di antaranya adalah jika sebagian ahludz dzimmah (orang kafir yang mendapat jaminan umat islam dengan membayar jizyah dan tunduk pada peraturan hukum islam yang diberlakukan pada mereka –pent.)  namun sebagian yang lain tidak mengingkarinya baik dengan perkataan atau perbuatan, akan tetapi mereka diam, maka jaminan untuk mereka pun juga batal.” (Al-Asybah wan Nadzo’ir Fi Qowa’idi  wan Furu’i Fiqhisy Syafi’iyah, karangan as-Suyuthi hal. 266-267 cetakan Darul Kitab Al-‘Arobi 1407 H.) Memberlakukan secara umum kepada selain keadaan seperti ini tidaklah benar. Karena sesungguhnya nabi membunuh semua laki-laki yang secara hukum bisa berperang pada Bani Quroidloh, namun di sisi lain terdapat larangan dalam syari’at untuk membunuh pendeta, orang tua dan para petani yang merupakan orang-orang yang tidak ikut berperang, meskipun secara hukum mereka itu termasuk orang-orang yang bisa berperang, mereka mempunyai kekuatan sehingga mereka orang yang mampu untuk berperang, sebagaimana hal itu terdapat dalam fikih jihad.

Masalah kedua: ia menyatakan hukum secara umum dalam perkataannya: “Hukum … hukum … hukum … “ ia tidak memperjelas yang ia maksud dengan hukum, apakah yang dia maksud itu hukum perang atau hukum iman dan kafir? Kejadian-kejadian yang ia sebutkan adalah penyamaan dalam hukum-hukum yang berkaitan dengan peperangan, adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan iman dan kafir membunyai sebab-sebab yang lain. Ketidak jelasan penulis dalam menjelaskan maksud hukum dalam perkataannya di atas mengakibatkan sebagian orang mengkafirkan orang-orang Islam secara umum yang diam di negara yang diperintah oleh orang-orang murtad dan mempertahankan diri dengan kekuatan dengan hukum selain hukum Alloh. Karena penulis memberlakukan hukum orang yang memerangi terhadap orang yang diam di negara yang berkekuatan. Seharusnya ia memperinci masalah ini karena masalah ini adalah masalah penting dan termasuk kejadian insidental yang terjadi pada zaman ini. Dan karena banyaknya perdebatan dalam masalah ini saya akan memaparkannya dengan singkat dari dua sisi: dari sisi hukum-hukum yang berkaitan dengan iman dan kafir dan dari sisi hukum-hukum yang berkaitan dengan hukum perang. Yang saya maksud dengan orang-orang yang diam dinegara ini adalah mayoritas penduduknya. Adapun orang yang kelihatan setuju atau rela atau membantu pemerintah kafir tersebut terhadap kekafirannya, pembahasannya nanti insya Alloh ketika mengkritisi buku Ar-Risalah Al-Limaniyah Fil Muwalah sebagaimana yang saya janjikan sebelumnya. Adapun orang-orang yang diam tidak membantu pemerintah kafir tersebut dan juga tidak mengingkarinya, dan mereka itu adalah mayoritas orang yang diam di negara-negara tersebut, hukum mereka adalah sebagai berikut:

Pertama dari sisi hukum yang berkaitan dengan iman dan kafir.

Orang yang bersikap diam di dalam negera-negara tersebut, keadaan mereka tidak lepas dari tiga: orang yang dzohirnya kafir, orang yang dzohirnya Islam dan orang yang tidak menampakkan seseuatupun yang menunjukkan keislaman atau kekafiran.

1 – orang yang dzohirnya kafir yang terdiri dari kafir asli atau murtad

Orang semacam ini secara hukum dianggap kafir, seperti orang nasrani, yahudi, komunis, atheis dan orang murtad lantaran meninggalkan sholat atau mencela agama atau beribadah kepada orang-orang yang telah mati dengan do’a, istighotsah, nadzar, menyembelih binatang atau penyebab-penyebab kekafiran lainnya.

2- Orang yang dzohirnya Islam.

Orang semacam ini secara hukum dianggap muslim, dan orang semacamlah yang disebut dengan muslim masturul hal (orang Islam yang keadaannya tertutupi). Yaitu orang yang terdapat padanya tanda-tanda keisalaman dan dia tidak diketahui padanya ada pembatal keimanan. Hal itu karena tanda-tanda keislaman itu adalah merupakan penyebab yang dijadikan oleh Sang Pembuat syari’at (Alloh) untuk menghukumi Islam terhadap orang yang terdapat padanya tanda-tanda tersebut. Maka orang tersebut ditetapkan sebagai orang Islam secara hukum. Kecuali kalau tanda-tanda dzohir yang ada padanya itu dibatalkan dengan tanda dzohir yang lebih kuat, seperti melakukan pembatal Islam. Maka keadaan dzohir yang lebih kuat itulah yang dijadikan pegangan. Maka selama tidak diketahui melakukan pembatal Islam, maka ia tetap dihukumi sebagai orang Islam. Rosululloh saw., bersabda:

من صلّى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم

Barang siapa yang sholat sebagaimana kami sholat, menghadap ke kiblat kami dan memakan sembelihan kami maka ia muslim.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori no. 391. Ibnu Hajar dalam syarahnya mengatakan: “Di dalam hadis ini menunjukkan bahwa masalah manusia itu dianggap yang nampak padanya. Maka barangsiapa yang menampakkan syi’ar-syi’ar agama diberlakukan padanya hukum-hukum yang berlaku pada pemeluk agama tersebut selama ia tidak menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan hal tersebut.” (Fathul Bari I/497)

Ada dua kelompok yangh salah dalam menghukumi muslim masturul hal ini :

  1. satu kelompok mengkafirkan muslim masturul hal ini, karena ia diam terhadap pemerintah yang kafir. Karena menganggap diam itu sebagai bentuk kerelaan dia. Kelompok ini ada pendahulunya dari sebagian kelompok khowarij. – Yaitu Al-‘Aufiyah dan Al-Baihasiyah – yang mengatakan jika pemimpin kafir maka kafirlah rakyat yang menyaksikan kekafirannya dan yang tidak menyaksikannya. (Lihat Maqolatul Islamiyyin karangan Abu Hasan Al-Asy’ari I/192 dan 194. Ini adalah pendapat yang rusak. Dan di atas telah dijelaskan bahwa orang yang diam itu tidak dinisbahkan kepadanya perkataan apapun. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan sabda Nabi saw., yang berbunyi:

من رأي منكم منكراً فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya dan ini adalah selemah-lemah iman.” Hadits ini diriwayatkan Muslim.

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang diam dengan lisannya kadang ia mengingkari dengan hatinya. Dan dengan demikian ia tetap masih beriman. Dalam masalah ini juga rosululloh saw., bersabda:

إنه يُستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتُنكرون، فمن كَرِه فقد بريء، ومن أنكر فقد سَلِمَ، ولكن من رضي وتابع) قالوا: يارسول الله ألا نقاتلهم؟ قال (لا، ما صَلّوا)

“Sesungguhnya kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang kalian mengetahui mereka namun kalian mengingkarinya. Maka barang siapa yang membencinya ia telah bebas dan dan barang siapa yang mengingkarinya ia telah selamat, akan tetapi orang yang rela dan mengikuti.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah tidak kita perangi mereka?” Beliau menjawab:”Tidak, selama mereka masih sholat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim

An-Nawawi mengatakan dalam syarahnya: “Adapun riwayat yang berbunyi “barangsiapa yang membenci ia bebas” artinya sudah jelas yaitu barangsiapa yang membenci kemungkaran itu maka ia bebas dari dosa dan hukumannya. Dan ini adalah berkenaan dengan orang yang tidak mampu mengingkarinya dengan tangan dan lisannya maka hendaknya ia membencinya dengan hatinya supaya ia terbebas.” (Shohih Muslim Bisyarhin Nawawi XII/243). Selama orang yang diam itu masih mengandung kemungkinan maka tidak boleh mengkafirkannya, akan tetapi ia dianggap dalam keadaan kemungkinan yang baik, selama ia adalah muslim masturul hal. Dan telah belalu penjelasan dalam pembahasan qo’idatut takfir bahwasanya tidak boleh mengkafirkan dengan berlandaskan sesuatu yang mengan dung kemungkinan, dan di antaranya adalah sikap diam yang tersebut di sini.

  1. Kelompok kedua yang salah dalam permasalahan ini adalah kelompok yang tawaqquf (diam) tidak menghukumi Islam  terhadap orang Islam yang masturul hal di dalam negara-negara tersebut dan kelompok ini menyaratkan tabayun (mencari kejelasan) terhadap keadaanya dan menguji aqidahnya untuk menentukan keislamannya. Dan ini sesuai dengan pendapat sekelompok khowarij – yaitu Al-Akhnasiyah – dalam tawaqquf dan tabayyun. (Lihat Maqolatul Islamiyyin karangan Abul Hasan Al-Asy’ari I/180. tawaqquf terhadap orang yang masturul hal semacam ini bid’ah. Dalil yang menunjukkan bahwa hal itu bid’ah adalah nas-nas yang menunjukkan penetapan hukum Islam terhadap orang yang menampakkan tanda-tanda keislaman, yang kebanyakan nas tersebut berbicara tentang orang-orang yang berada di darul harbi atau ketika dalam peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang yang menampakkan tanda-tanda keislaman itu di darul harbi atau ketikan perang, tidak mengharuskan untuk bersikap tawaqquf untuk menganggap Islam secara hukum orang yang menampakkan tanda-tanda keislaman tersebut. Dan seandainya dia mata dalam keadaan seperti itu di pasti diperlakukan sebagaimana orang Islam. Dalam hal ini tidak ada perselisihan di kalangan ulama’, sebagai mana juga para ulama’ tidak berselisih pendapat bahwa orang Islam itu terjaga darah, harta dan keturunannya dengan keislamannya, sama saja apakah dia berada di darul islam atau darul kufri. (Lihat Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir IX/335. Dan di antara nasnya adalah hadits Usamah Bin Zaid yang berbunyi:

أقتلته بعدما قال لا إله إلا الله

“Pakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illalloh?” Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.

Dan hadits Ibnu Umar tentang Kholid yang membunuh tawanan Bani Jadzi’ah setelah mereka mengucapkan:

صبأنا صبأنا

Artinya menurut mereka adalah “Kami telah Islam.” Dan pengingkaran nabi terhadap Kholid. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori.

Dan nas-nas lain yang senada dengan ini.

Al-Hafidz Ibnu Rojab mengatakan: “Dan sudah maklum sacara jelas bahwa Nabi menerima siapa saja yang datang kepadanya dan ingin masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja, dan dengan begitu orang tersebut menjadi terjaga darahnya dan ia menjadi seorang muslim. Dan beliau mengingkari Usamah bin Zaid yang yang membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illalloh ketika Usamah telah mengangkat pedangnya. Dan beliau sangat keras pengingkarannya ketika itu. Dan nabi tidak pernah menyaratkan kepada orang yang datang kepada beliau untuk masuk Islam dengan syarat apapun, kemudian orang tersebut diwajibkan untuk sholat dan zakat.” (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam hal.72 cetakan darul Fikri).

Orang-orang yang bersikap tawaqquf dan tabayyun terhadap keislaman mereka ini memiliki beberapa syubhat:

  • Diantaranya adalah bahwasanya untuk mengganggap seseorang itu Islam secara hukum tidaklah cukup dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Akan tetapi harus tabayyun (dipastikan) bahwa ia melaksanakan syari’at. Dan yang benar bahwa melaksanakan syari’at ini merupakan keharusan bagi syahnya keislaman seseorang. Maka barangsiapa yang mengikrarkan dua kalimat syahadat namun ia tidak sholat maka ia bukan orang Islam. Akan tetapi yang benar dan yang ditunjukkan dalan nas-nas bahwa seseorang itu dianggap Islam secara hukum hanya dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat, dan tidak tawaqquf dalam menganggapnya Islam sampai datang waktu sholat untuk dilihat apakah ia sholat atau tidak? Apabila telah tiba waktu sholat ia diharuskan untuk sholat, jika dia tidak sholat maka ia dianggap murtad dan disuruh untuk bertaubat. Ibnu Taimiyah berkata: “Orang-orang badui dan yang lainnya jika mereka masuk Islam pada zaman Nabi saw., mereka diwajibkan untuk melaksanakan amalan-amalan dzohir yang berupa sholat, zakat, puasa dan haji. Dan tidak ada seorangpun yang dibiarkan hanya mengucapkan dua kalimat syahadat. Akan tetapi orang yang melakukan kemaksiatan ia dihukum sesuai dengan perbuatannya.” (Majmu’ Fatawa VII/258) Akan tetapi ia diharuskan sholat pada waktunya, dan dia dihukum jika meninggalkannya, karena mengiukrarkan dua kalimat syahadat itu mencakup ikrar untuk melaksanakan hukum-hukumnya. Dan ini lah perbedaan antara perkataan salaf yang mengatakan bahwa ikrar itu mencakup pembenaran hati dan kesiapan untuk melaksanakan syari’at, dan antara perkataan orang masa sekarang (mu’ashirin) yang mengatakan bahwa ikrar iti tidak terkandung di dalamnya kesediaan untuk melaksanakan syari’at, namun mereka berpendapat bahwa tabayyun (mencarai kepastian) bahwa ia melaksanakan syari’at itu merupakan syarat dalam menentukan Islamnya seseorang. Dan nas-nas yang kami sebutkan diatas, juga perkataan Ibnu rojab menjelaskan benarnya pendapat salaflah dan pendapat mu’ashirin itu salah. Ibnu Rojab juga mengatakan: “Barangsiapa yang mengikrarkan dua kalimat syahadat, maka secara hukum ia menjadi orang Islam, dan jika ia masuk islam dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat tersebut ia harus melaksanakan amalan-amalan Islam.” (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam hal. 21)dalam menerangkan bahwa ikrar dengan dua kalimat syahadat itu mencakup ikrar untuk melaksanakan syari’at, Ibnu Taimiyah berkata: “Yang dimaksud dengan ikrar adalah mengikuti (syari’at Islam-pent.) dan bukan sekedar pembenaran, sebagaimana firman Alloh:

«وإذ أخذ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنـُن به ولتنصرنه، قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري؟ قالوا أقررنا، قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين»

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi:”Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman :”Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu” Mereka menjawab:”Kami mengakui”. Allah berfirman:”Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. 3:81)

Jadi mitsaq (perjanjian) yang diambil adalah agar mereka mau beriman dan membelanya, dan sungguh merekapun telah diperintahkan untuk yang demikian ini, dan ikrar ini bukanlah pembenaran, karena Alloh tidak memberikan kabar kepada mereka, akan tetapi Alloh mewajibkan mereka jika dating seorang rosul kepada mereka hendaknya mereka beriman kepadanya dan membelanya. Inilah ikrar mereka – sampai beliau mengatakan – dan kata ikrar sudah pasti mengandung pengertian iltizam (mengikuti) dan tash-diq (membenarkan).” (Majmu’ Fatawa VII/396-397 dan senada dengan ini pada VII/530-531).

  • Dan di antara syubhat orang-orang yang berpendapat tawaqquf dan tabayyun ini adalah: mereka mengatakan bahwa keadaan telah berubah. Manusia pada hari ini pada hari ini mereka mengucapkan syahadat akan tetapi mereka tidak mengerti artinya. Oleh karena itu mereka harus diuji pemehaman mereka terhadap makna syahadat dan konsekuensinya yang mencakup an-nafyi (peniadaan/pengingkaran) dan al-itsbat (penetapan). Yaitu mengingkari thoghut dan beriman kepada Alloh. Syarat semacam ini tidak ada dalilnya, bahkan menyelisihi apa yang lakukan oleh nabi dan para sahabatnya, karena mereka tidaklah bersikap tawaqquf dalam menetapkan keislaman orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat. Mereka tidak menguji pemahaman orang tersebut terhadap makna dan maksud dua kalimat tersebut. Dan rosululloh saw., bersabda:

كل شرط ليس في كتاب الله فهو باطل

Setiap syarat yang tidak terdapat dalam kitabulloh adalah batil.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori.

Dan beliau juga bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ

“Setiap amalan yang bukan dari ajaran kami maka tertolak.” Hadits ini diriwayathan oleh Muslim.

Sesungguhnya orang-orang yang menetapkan syarat ini, pendapat mereka bertentangan dengan hadits Dzatu Anwath, di dalam disebutkan bahwa mereka meminta kepada nabi saw., agar beliau membikin dzatu anwath, mereka tidak mengetahui jika perbuatan tersebut bertentangan dengan makna dua kalimat syahadat. Yang benar dalam masalah ini bahwa mengetahui makna syahadat sebagai mana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Utsman bin Affan, begitu juga ikhlas, yakin dan syarat-syarat syah syahadat laa ilaaha illalloh yang lainnya yang terdapat dalam buku-buku aqidah, syarat-syarat ini merupakan syarat syahnya Islam yang sebenarnya yang akan bermanfaat bagi seseorang di akherat. Dan ini telah saya singgung ketika membahas ilmu yang hukum mempelajarinya fardlu ’ain, dalam pasal II bab III dalam kitab ini (Al-Jami’-pent.). Syarat-syarat syah syahadat laa ilaaha illalloh dapat dikaji dalam kitab Ma’arijul Qobul cet. Darus Salafiyah II/377-386, juga dalam kitab Fat-hul Majid dalam penjelasan bab berdakwah kepada syahadat laa ilaaha illallooh, hal. 88, cet. Darul Fikri 1399 H. Adapun hukum yang berlaku di dunia seseorang dianggap sebagai orang Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu jika  barang siapa melanggar agamanya setelah mengucapkan syahadat, ia divonis sesuai dengan ketentuan syar’ii, seperti kafir atau fasiq, dengan syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah: “Tidak seorangpun dibiarkan hanya mengucapkan kalimat, namun orang yang berbuat maksiyat dihukum sesuai dengan kemaksiatannya.” (Majmu’ Fatawa VII/258). Yang dimaksud dengan kalimat adalah dua kalimat syahadat. Syaikh Sulaiman bin Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Adapun orang yang mengucapkan laa ilaaha illallooh tanpa mengetahui maknanya dan tidak pula mengamalkannya, atau ia mengaku sebagai orang yang bertauhid sedangkan dia tidak mengetahui tauhid bahkan mungkin dia memurnikan ibadahnya seperti do’a, takut, menyembelih, nadzar, taubat, inabah (kembali, taubat) dan ibadah-ibadah yang lainnya kepada selain Alloh, maka sesungguhnya tauhid itu tidak cukup dengan seperti ini, akan tetapi ia dalam keadaan seperti ini merupakan orang musyrik.” (Taisirul ‘Azizil Hamid hal. 140, cet. Al-Maktab Al-Islami 1409 H. Perhatikanlah perkataan beliau “maka sesungguhnya tauhid itu tidak cukup dengan seperti ini…” dan beliau tidak mengatakan “sesungguhnya menganggap seseorang sebagai orang islam tidak cukup dengan seperti ini…” Seseorang dianggap Islam dengan tanda-tanda keislaman, adapun Islam yang sebenarnya, maka dengan syarat-syarat syah syahadat yang lain syahadat itu bermanfaat baginya diakherat, dan jika tidak terpenuhi syarat-syarat-syarat tersebut maka tidak bermanfaat pula syahadat tersebut. Dan kita tidak wajib mengetes apakah orang tersebut telah memenuhi syarat-syarat tersebut, akan tetapi orang tersebut dianggap sebagai orang islam lalu dihukum sesuai dengan pelanggarannya. Dan sering kali orang terjerumus dalam kesalahan karena tidak membedakan antara hukum Islam secara dzohir yang menjadi landasan hukum-hukum dunia seperti terjaganya darah dan harta, syahnya pernikahan dan warisan dan antara Islam yang sebenarnya yang menjadi landasan hukum-hukum akherat seperti pahala dan siksa di sisi Alloh. Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya kebanyakan orang yang berbicara tentang masalah-masalah iman dan kafir, – untuk memvonis kafir ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu) – mereka tidak memperhatikan persoalan ini, dan mereka tidak membedakan antara hukum dzohir dan hukum batin, padahal perbedaan ini telah ditetapkan dalam nas-nas yang mutawatir (sangat banyak) dan ijma’, bahkan ia merupakan ajaran islam yang fital.” (Majmu’ Fatawa VII/472. Dan Syaikh Hafidz Hakami berkata: “Lalu ketahuilah wahai saudaraku – semoga Alloh memberi petunjuk kepada kami dan kepadamu – sesungguhnya pelaksanaan agama yang dapat menyelamatkan dari kehinaan di dunia dan adzab di akherat, yang dengannya seseorang akan mendapatkan keberuntungan syurga dan dijauhkan dari api neraka, sesungguhnya adalah pelaksanaan yang sesuai dengan hakekat semua yang disebutkan dalam hadits Jibril juga ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna dengannya. Dan jika ia yidak melaksanakannya sesuai dengan hakekatnya namun dia tidak menampakkan perbuatan yang membatalkan Islam, maka diperlakukan padanya hukum-hukum yang diperlakukan pada kaum muslimin di dunia sedangkan hatinya diserahkan kepada Alloh. Alloh berfirman:

فإن تابــوا وأقامــوا الصــلاة وآتــوا الزكـاة فخلّوا سبيلهــم

Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. (QS. 9:5)

dalam ayat yang lain disebutkan:

فإخوانكم في الدين

“maka mereka adalah saudara-saudara kalian seagama.”

Dan ayat-ayat yang lain.” (Ma’arijul Qobul II/37)

Dengan demikian maka tidak diberlakukan sikap tawaqquf dan tabayyun terhadap orang muslim yang masturul hal. Dan tidak menghgantungkan islamnya seseorang dengan permasalahan-permasalahan agama yang ia pelajari – akan tetapi ia dianggap sebagai orang Islam kemujian ia wajib untuk belajar agama sebagaimana yang kami jelaskan dalam menerangkan ilmu yang hukum mempelajarinya fardlu ‘ain pada bab II dalam kitab ini – dan belajar ini bukanlah syarat untuk menganggap seseorang sebagai orang islam. Ibnu Hajar berkata: “Al-Ghozali berkata; ada sekelompok yang berlebihan, mereka mengkafirkan urang-orang awam dari kalangan umat islam. Mereka mengira bahwa orang yang tidak mengetahui masalah-masalah aqidah beserta dalil-dalilnya serta menjabarkannya maka ia kafir. Dengan demikian mereka mempersempit rahmat Alloh yang luas, mereka memperuntukkan syurga khusus untuk sekelompok kecil dari kalangan mutkallimin (Ahlul kalam). Semacam ini juga dikatakan oleh Abul Mudzoffar bin As-Sam’ani dan beliau memberikan sanggahan secara panjang lebar terhadap orang yang berpendapat dengan pendapat diatas. Dan beliau menukil dari kebanyakan para imam ahli fatwa , bahwasanya mereka berkata: Tidak boleh membebani orang-orang awwam untuk meyakini pokok-pokok ajaran Islam beserta dalil-dalilnya. Karena hal itu sangat susah bahkan lebih susah dari pada belajar fikih yang furu’ (cabang). – sampai Ibnu Hajar mengatakan – : Al-Qurthubi mengatakan: Inilah pendapat para imam yang ahli berfatwa dan imam-imam salaf sebelum mereka. Sebagian mereka berdalil dengan pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang fith-roh dasar dan juga berdalil dengan riwayat-riwayat mutawatir (sangat banyak) dari nabi dan para sahabat bahwa mereka menganggap orang-orang arab kolot yang sebelumnya menyembah berhala sebagai orang islam dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat dan melaksanakan hukum-hukum Islam dengan tanpa mewajibkan mereka untuk belajar dalil-dalil.” (Fathul Bari XIII/349-352).

  • Dan di antara syubhat orang yang berpendapat tawaqquf dan tabayyun adalah: adanya hadits yang menyebutkan bahwa nabi melakukan tabayyun, sebagaimana hadits tentang seorang budak wanita dan sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Mumtahanah. Ini semua benar, akan tetapi dalil-dalil tersebut tidak menunjukkan secara umum, seandainya ini menjadi sebuah kaidah dasar (yang berlaku untuk umum-pent.) pasti Nabi dan para imam setelah beliau memberlakukannya terhadap semua orang yang masuk Islam. Yang benar adalah, tabayyun yang disebutkan dalam dalam dalil-dalil tersebut adalah pada kondisi-kondisi tertentu dan akan kami singgung pada bagian selanjutnya. Tabayyun tersebut adalah syar’ii, sedangkan tabayyun terhadap orang Islam yang masturul hal ini adalah tabayyun bid’ii (bid’ah).
  • Dan di antara syubhat orang-orang yang berpendapat tawaqquf dan tabayyun adalah: adanya syarat-syarat tertentu untuk menghukumi (menganggap) seseorang sebagai orang islam. Seperti harus berada dalam sebuah jama’ah islam dan berbai’at kepada pemimpin jama’ah tersebut, sama saja apakan jama’ah tersebut suatu jama’ah tertentu atau jama’ah secara umum. Hal ini (bergabung dengan jama’ah Islam dan berbai’at kepada pemimpinnya) kadang merupakan suatu kewajiban, sebagaimana yang saya sebutkan dalam kitabku yang berjudul “Al-‘Umdah”, akan tetapi hal ini bukanlah syarat syah Islam baik Islam secara hukum maupun Islam secara hakekat, di antara dalilnya adalah:

Sesungguhnya orang yang masuk Islam di darul harbi (negara musuh) kemudian dia tidak berhijrah – baik karena tidak mampu atau karena dia mampu untuk idzh-harud din di negeri tersebut – maka orang tersebut adalah orang Islam meskipun dia tidak berada di sebuah jama’ah Islam dan tidak pula berbai’at kepada pemimpinnya. Dan Alloh telah menyebut orang yang seperti ini sebagai orang yang beriman – dan yang dimaksud adalah orang beriman secara hukum – sebagaimana firman Alloh:

وإن كان من قوم ٍ عدو لكم وهو مؤمن

Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min. (QS. 4:92)

dan juga firman Alloh:

ولولا رجال مؤمنون ونساء مؤمنات لم تعلموهم

Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’min yang tiada kamu ketahui, “ (QS. 48:25)

dan di antara dalilnya yang lain adalah: bahwa orang Islam yang keluar dari jama’atul muslimin (khilafah-pent.) dan imamnya, ia tidak tidak berbai’at kepadanya atau dia membai’atnya kemudian dia membatalkan bai’atnya dan membangkan dari mentaatinya. Orang semacam ini meskipun ia membangkang, ia masih muslim sebagaimana firman Alloh:

وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا فأصلحوا بينهما، فإن بغت إحداهما على الأخرى فقاتلوا التي تبغي

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu (QS. 49:9)

dalam ayat ini Alloh menamakannya sebagai orang beriman meskipun dia berbuat aniaya. Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud jahiliyah dalam sabda nabi Muhammad saw., yang berbunyi:

من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية

“Barangsiapa yang mati sedangkan dia tidak berbai’at maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Yang dimaksud adalah mati dalam keadaan bermaksiyat, dan bukan kafir. Karena orang yang berbuat aniaya juga muslim. Imam Al-Bukhori memasukkan masalah ini dalam kitabul Iman dalam kitab Shohihul Bukhori pada bab “Kemaksiyatan-kemaksiyatan termasuk masalah jahiliyah, orang yang melakukannya tidak kafir kecuali ia berbuat syirik”, dan beliau menyebutkan di sana hadits Abu Dzar secara marfu’ :

إنك امرؤ فيك جاهلية

“Kamu adalah orang yang padamu ada kejahiliyahan.”

Dan di antara dalilnya yang lain adalah hadits Hudzaifah Ibnul Yaman, ia mengatakan: “Jika kaum mereka (kaum muslimin-pent.) tidak mempunyai jama’ah dan imam bagaimana?” Rosululloh menjawab:

فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يأتيك الموت وأنت على ذلك

“Jauhilah kelompok-kelompok tersebut semuanya walaupun engkau samapai menggigit akar pohon sampai kamu mati dan kamu dalam keadaan seperti itu.”  Hadits ini muttafaq ‘alaih.

Dalam hadits ini rosululloh mjenjelaskan bahwa Islam itu tetap syah meskipun jama’atul muslimin itu tidak ada – yang sesuai dengan arti politik secara syar’ii – dan tidak ada imamnya. Dan Rosululloh tidak mengatakan kepada Hudzaifah bahwa Islam itu tidak syah dalam keadaan seperti itu. Sedangkan menunda keterangan ketika dibutuhkan.

Dan banyak orang yang masuk Islam pada masa hidup Rosululloh sedangkan mereka belum pernah melihat beliau, belum berbai’at kepada beliau dan tidak pula tinggal di daarul Islam Madinah. Dan di antara mereka yang mati pada zaman nabi saw., adalah seperti An-Najasyi, raja Habasyah (Ethiopiya-pent.)- semoga Alloh meridloinya – dan di antara mereka ada yang masih hidup setelah wafat beliau dan mereka itu yang disebut sebagai Tabi’in Hadl-romi dan keadaan semacam ini tidak menjadikan cacat keislaman mereka masing-masing.

Inilah yang berkaitan dengan sanggahan-sanggahan terhadap syubhat-syubhat orang-orang yang berpendapat tawaqquf dalam menghukumi (menganggap) Islam orang muslim yang masturul Hal.

Akibatnya, sebagian orang yang berpendapat tauwaqquf terhadap muslim yang masturul hal , mereka tidak mau sholat di belakangnya. Dan ini adalah merupakan bid’ah yang lain ;llagi Ibnu Taimiyah berkata: “Dipebolehkan untuk sholat di belakang muslim yang masturul (tidak diketahui keadaannya) atas kesepakatan para imam empat madzhab dan juga seluruh imam kaum muslimin, maka barang siapa yang mengatakan; Saya tidak mau sholat jama’ah atau sholat jum’at kecuali di belakang orang yang saya ketahui aqidah dalam hatinya, orang semacam ini adalah ahlul bid’ah yang bertentangan dengan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, imam empat madzhab dan ulama’-ulama’ yang lain. Wallohu A’lam “ (Majmu’ Fatawa IV/54). Dan beliau juga mengatakan: “Seseorang boleh sholat lima waktu, sholat jum’at dan yang lainnya di belakang orang yang belim diketahui apakah ia berbuat bid’ah atau kefasikan sesuai dengan kesepakatan imam empat madzhab dan imam-imam kaum muslimin yang lainnya. Dan bukan merupakan syarat untuk mengikuti seorang imam, makmum harus mengetahui keyakinan imannya dan juga ia tidak harus mengetes imam tersebut, dengan mengatakan: apa yang kamu yakini? Akan tetapi ia boleh sholat dibelakang orang yang masturul hal.” (Majmu’ Fatawa XXIII/351). Adapun jika ia tahu bahwa imam sholatnya melakukan kefasikan dan bid’ah, maka hukumnya adalah sebagimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah: “Kaum muslimin sepeninggal nabi mereka senantiasa sholat di belakang muslim yang masturul hal, akan tetapi jika imam tersebut diketahui berbuat bid’ah atau dosa, dan memungkinkan untuk sholat di belakang yang diketahui ia berbuat bid’ah atau kefasikan, padahal ia mampu untuk sholat di belakang orang selain dia, maka kebanyakan ulama’ menganggap syah sholat makmum tersebut. Dan ini adalah madzhab Asy-Syafi’ii, Abu Hanifah, salah satu dari dua pendapat madzhab Maliki dan madzhab Ahmad. Adapun tidak memungkinkan kecuali harus sholat di belakang orang mubtadi’ (pelaku bid’ah) atau orang yang fajir (pelaku dosa) dan tidak ada sholat jum’at yang lainnya, maka ia boleh sholat di belakang mubtadi’ atau fajir menurut pendapat Ahlus Sunnah Wal Jama’ah secara umum. Dan inilah madzhab Asy-Syafi’ii, Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal dan imam Ahlus Sunnah yang lainnya, dan tidak ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini. Sebagian orang jika tersebar perbuatan dosa ia suka untuk tidak sholat kecuali di belakang orang yang ia ketahui, hal ini hanya sekedar anjuran, sebagaimana yang dinukil dari Ahmad bahwasanya mengatakan hal itu kepada orang yang bertanya kepadanya. Dan Ahmad tidak mengatakan tidak syah sholat kecuali di belakang orang yang ia ketahui keadaannya.” (Majmu’ Fatawa III/280). Syaikhul Islam memaparkan masalah ini dalam Majmu’ Fatawa XXIII/340-359. dan pen-syarah buku aqidah thohawiyah menukil sebagian besar dari perkataan Ibnu taimiyah tersebut ketikan menjejaskan perkataan Ath-Thohawi yang berbunyi: “Dan kami berpendapat tetap sholat di belakang setiap orang yang baik maupun fajir dari kalangan umat Islam, dan juga menyolatkan siapa saja yang mati di antara mereka.” (Syarhul ‘Aqidahtith Thohawiyah, hal. 421-426, cet. 1403 H.).

Sampai mekipun orang muslim yang masturul hal tersebut pada hakekatnya adalah orang kafir – seperti orang-orang kominis, sekuler, dan orang-orang yang memerangi Alloh dan rosulNya – namun napak padanya tanda-tanda orang Islam, seperti sholat, maka orang tersebut dianggap sebagai orang Islam k padanya tanda-tanda orang Islam, seperti sholat, maka orang tersebut dianggap sebagai orang Islam landaskan tanda-tanda yang nampak pada dirinya. Dan boleh sholat di belakangnya sedangkan ia tidak tahu pada hakekatnya imamnya adalah nyata-nyata kafir. Sholatnya syah. Ibnu Qudamah berkata: “Jika seseorang sholat dibelakang orang yang ia ragukan keislamannya atau apakah imamnya itu huntsa (banci), maka sholatnya syah selama ia tidak tahu dengan jelas kekafirannya atau orang tersebut jenis kelaminnya sulit dibedakan (hun-tsa musy-kil). Karena pada dzohirnya orang yang sholat itu adalah orang islam, apalagi seorang imam. Dan yang dzohir ia bukanlan orang banci, apa lagi ia mengimami laki-laki. Namun jika setelah sholat ia tahu ternyata ia kafir atau hun-tsa, maka ia harus mengulang sebagaimana yang telah kami terangkan. Dan jika imamnya adalah orang yang kadang Ismam dan kadang murtad, maka tidak boleh sholat di belakangnya sampai ia tahu agama yang di anut oleh imam.” (Al-Mughni Ma’asy Syar-hil Kabir II/34). Jika sholat di belakang orang yang diragukan kekafirannya saja syah, maka sholat di belakang orang yang tidak diketahui kekafirannya lebih syah lagi.

Inilah penjelasan yang berkaitan dengan muslim masturul hal sedangkan dia menampakkan tanda-tanda keislaman dan tidak diketahui ia melakukan perbuatan yang menjadi pembatal keislaman. Ia dianggap sebagai orang Islam.

Materi tambahan : Tanda-tanda Islam yang syah secara hukum.

Maksudnya adalah tanda-tanda yang apabila nampak pada seseorang, maka orang tersebut secara hukum dianggap orang Islam. Tanda-tanda ini haruslam merupakan cirri khas Islam yang tidak terdapat pada agama-agama lain. Maka sedekah, berbuat baik kepada orang tua, menolongh orang yang membutuhkan pertolongan, meskipun semua itu merupakan bagian dari cabang iman, namun bukan merupakan ciri khas seorang muslim, akan tetapi amalan itu dikerjakan baik oleh orang islam maupun orang kafir. Yang menunjukkan hal ini adalah hadits Hakim bin Hizam, bahwasanya ia berkata kepada rosululloh saw.,: “Bagaimana dengan amalan-amalan yang aku kerjakan untuk bertahannuts pada masa jahiliyah seperti sedekan atau membebaskan budak atau silaturrohmi, apakan ada pahalanya?” Maka rosululloh menjawab:

أسلمت على ما أسلفت من خير

“Kamu telah mengislamkan amalan baikmu.” Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.

Tahannuts adalah ibadah. Maka tanda-tanda yang digunakan untuk menentukan keislaman seseorang secara hukum haruslah cari khas Islam. Ibnu Taimiyah berkata: “Setiap hukum yang berkaitan dengan nama-nama yang digunakan dalam agama, seperti islam, iman kafir, nifaq, murtad, yahudi dan nasrani, ditetapkan terhadap orang yang memiliki ciri yang mengharuskan untuk itu.” Majmu’ Fatawa XXXV/227. Pensyarah Aqidah Thohawiyah berkata: “Di sini ada beberapa permasalahan yang dibicarakan oleh para fuqoha’ (ahli fikih), seperti orang yang mengerjakan sholat dan belum mengucapkan dua kalimat syahadat. Atau mengerjakan cirri-ciri khas islam lainnya namun ia belum mengucapkan dua kalimat syahadat. Apakan dia menjadi muslim atau tidak? Yang benar ia menjadi muslim dengan perbuatan-perbuatan yang menjadi cirri khas Islam.” Syarhul ‘Aqidah Ath-Thohawiyah, terbitan Al-Maktab Al-Islami 1403, hal. 75. Sedangkan tanda-tanda untuk menganggap seseorang itu beragama Islam secara hukum ada dua macam: pertama adalah tanda-tanda yang dengannya cukup untuk menganggap seseorang itu muslim dan yang kedua adalah qoro’in (keadaan-keadaan yang terdapat pada seseorang-pent.) yang tidak cukup dengannya untuk menentukan seseorang itu muslim, kecuali setelah tabayyun. Berikut ini keterangan singkatnya:

Adapun tanda-tanda yang dengannya cukup untuk menghukumi seseorang sebagai orang Islam di antaranya adalah:

1- Tanda-Tanda Keislaman Yang Sah

[a]- Mengucapkan dua kalimat Syahadat, Berdasarkan hadits

أمرت أن أقــاتل الناس حتى يشهـدوا أن لا إله إلا اللـه وأن محمداً رسول الله

” Aku diutus untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilaah (tuhan) kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh.” HAdits ini muttafaq ‘alaih.

Dan juga berdasarkan hadits Usamah Bin Zaid, Rosululloh bersabda kepadanya:

أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Apakah kau bunuh padahal dia telah mengucapkan laa ilaaha illalloh?” Hadits ini Muttafaq ‘alaih.

Dan banyak hadits-hadits lainnya yang terdapat perincian dalamnya, kaji dalam kitab Nailul Author VIII/12 dan Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir X/100-102.

[b]- Orang yang mengatakan “saya seorang muslim. Sebagaimana hadits Furoot bin Hayyaan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud (Nailul Author VIII/154). Atau orang yang mengatakan “aku berserah diri kepada Alloh” sebagaimana dalam hadits Al-Miqdad bin Al-Aswad

أَر‍َأَيْتَ إِنْ لَقِيْتُ رَجُلًا مِنَ الْكُفَّارِ فَاقْتَتَلْنَا

“Apa pendapatmu kalau saya bertemu dengan orang kafir “ Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.

Dan juga orang yang mengatakan perkataan yang menunjukkan ia mau masuk Islam, sebagaimana Kholid Ibnul Walid membunuh tawanan bani Jadzi’ah setelah mereka mengucapkan: صَبَأْنَا   (NAilul Author VIII/9)

[c]-Sholat, baik sendirian maupun berjama’ah. Berdasarkan hadits  Anas

مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَأَكَلَ ذَبِيْحَتَنَا فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ

“ Barangsiapa yang sholat sebagaimana sholat kita, menghadap ke arah kiblat kita dan memakan smbelihan kita, maka dia adalah seorang muslim,” HAdits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori.

Al-Qurthubi menukil dari Ishaq bin Rohawaih bahwa hal ini merupakan ijma’ (TAfsir Al-Qurthubi VIII/207) lihat pula (Al-Mughni MA’asy Syarhil Kabir X/102-103).

[d]-Adzan, yang ia kumandangkan atau yang ia ulang-ulang, karena di dalamnya terdapat dua kalimat syahadat. (Fathul Bari II/90). Dalam hal ini terdapat dalam Hadits Anas yang berperang dan menahan penyerangan terhadap terdengan mengumandangkan adzan . Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori. Kaji NAilul Author VIII/69)

[e]- Haji. Dalam masalah ini ada perselisihan, karena orang-orang musyrik pada masa jahiliah juga melakukan haji. Namun yang benar bahwa haji itu merupakan tanda, karena nabi saw., telah melarang mereka untuk melakukan haji pada tahun 9 H. Beliau mengumumkan pada mereka bahwa setelah tahun ini tidak ada orang musyrik yang menunaikan haji. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori, maka haji menjadi cirri khas Islam. Lihat (Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir X/103).

[f]- Kesaksian orang islam lainnya bahwa ia seorang muslim. Sebagaimana kesaksian nabi terhadap najasyi ketika beliau menyolatkan jenazah untuknya, sedangkan para sahabat belum tahu keislaman najasyi ketika itu, dan hadits tentang hal ini muttafaq ‘alaih. Juga sebagaimana kesaksian Ibnu Mas’ud atas Islamnya Suhail Bin Baidlo’ dalam kisah tawanan Badar, dan hadits dalim hal ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia menyatakan hasan (Nailul Author VII/148).

[g]- Mengikuti hukum kedua orang tua yang muslim atau salah satunya. Hukum semacam ini berlaku untuk anak-anak sebelum baligh.

Qarinah (keadaan yang menyertai seseorang) yang tidak bisa dijadikan landasan menghukumi Islam seseorang kecuali setelah, memastikannya. Di antaranya adalah:

[a]- Mengucapkan salam. Barang siapa yang mengucapkan “Assalamu’alaikum”, maka ini adalah salah satu qorinah atas islamnya seseorang akan tetapi tidak pasti, karena kadang salam ini juga diucapkan oleh orang kafir sebagai kebiasaan atau karena takut, atau basa basi, sehingga harus dipastikan sebelum dihukumi. Masalah ini disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya V/339 dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari VIII/259. ketikan menafsirkan ayat:

إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي َسِبيلِ اللهِ فَتَبَيَّنُوا وَلاَ تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلاَمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا

“Apabila kamu pergi berperang dijalan Alloh, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: “ kamu bukan seorang mukmin “ (QS. An-Nisa’: 94).

Dan juga dalam hadits Ibnu Abbas Muttafaq ‘Alaih bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang mengucapkan salam lalu beberapa orang Islam membunuhnya. Namun salam ini tidaklah menunjukkan kepastian karena selain orang Islampun juga mengucapkannya, sebagaimana dalam hadits Anas,

إذا سلّم عليكم أهل الكتاب فقولوا: وعلكيم

“Jika Ajlul Kitab mengucapkan salam kepada kalian maka jawablah; wa’alaikum.” Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.

[b]- Ciri dzohir yang berupa pakaian, jenggot, rambut, surban dan lainnya. Muhammad ibnul Hasan Asy-Syaibani mengatakan dalam kitab As-Sairul Kabir: “Jika kaum muslimin memasuki daerah orang musyrik dengan kekuatan, maka tidak apa-apa membunuh setiap laki-laki yang mereka jumpai kecuali jika mereka berjumpa dengan seorang yang mengenakan cirri orang Islam atau cirri ahludz dzimmah, maka ketika itu mereka harus memastikan orang tersebut sampai jelas keadaannya.” Imam as-Sarkhosi, pensyarah kitab tersebut mengatakan: “Karena menghukumi berdasarkan mode adalah prinsip yang tidak menunjukkan hakekat sesuatu, Alloh berfirman:

سيماهم في وجوههم

“Tanda-tanda mereka terdapat pada wajah-wajah mereka.” (QS. Al-FAth: 29)

dan juga firman Alloh:

تعرفهم بسيماهم

“Kamu mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-Baqoroh; 273) dan juga firman Alloh :

يُعرف المجرمون بسيماهم

“Orang-orang mujrim itu diketahui dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Ar-Rohman: 41)

dan apabila terjadi kesalahan membunuh tidak mungkin untuk dikembalikan lagi sedangkan keterlambatan dalam membunuh tidak merugikan kaum muslimin. Oleh karena itu hendaknya memastikan keadaan orang tersebut sampai jelas status orang tersebut. Hal itu karena tanda-tanda itu tidaklah lebih lemah dari pada berita yang dibawa orang fasik, sedangkan kita telah diperintahkan untuk memastikan kabar yang ia bawa, maka terlebih lagi dalam masalah ini. “ (As-Sairul Kabir IV/1444).

Dan masih ada lagi masalah-masalah lain yang bisa digunakan untuk menentukan orang itu Islam secara hukum, seperti membaca qur’an, melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan kawajiban-kewajiban syar’ii yang lain, serta jihad fii sabiilillah. Pada setiap masalah ini ada perinciannya. Dan bisa juga mebagi tanda-tanda yang menyertai seseorang ini dengan metode lebih dari satu. Dan masalah ini telah saya paparkan dalam kitabku yang berjudul Al-Hujjah Fii Ahkamil Millah.

Inilah hal-hal yang berkaitan dengan orang yang masturul hal (keadaannya tidak diketahui) – dan mereka adalah bagian kedua dari orang yang bersikap diam di negara-negara kaum muslimin yang diperintah oleh penguasa murtad dengan tidak menggunakan syari’at Islam – yaitu orang yang secara dzohir kelihatan Islam dan tidak diketahui dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislaman. Dan orang semacam ini disebut masturul hal karena ia belum diuji hakekat dirinya dan ‘adalah bathinah nya. Dan telah saya jelaskan arti al-’adalah al-bathinah dalam bab kelima ketika membahas syarat-syarat mufti. Dan apakah wajib mencari tahu ‘adalah bathinah seseorang? Jawabannya adalah: Wajib mencari tahu ‘adalah bathiniyah seseorang pada perkara-perkara yang mensyaratkan ‘adalah bathiniyah seperti untuk menentukan kepercayaan hakim terhadap saksi dan kepemimpinan secara umum, seperti kholifah dan hakim. Dalam masalah ini lihat Al-Asybah wan Nadzo’ir karangan As-Suyuthi hal. 612-616 dan 750, terbitan Darul Kitab Al-‘Arobi 1407 H. dan cara untuk mengetahui al-‘adalah al-bathiniyah adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah: “Untuk mengetahui keadaan manusia kadang dengan kesaksian orang lain dan kadang dengan al-jarh wat ta’dil dan kadang dengan ujian.” MAjmu’ FAtawa XV/330.

Ini lah bagian kedua dari orang-orang yang bersikap diam, kemudian keta akan membicarakan bagian ketiga, yaitu orang yang tidak menampakkan tanda-tanda apapun.

2- Orang yang tidak menampakkan tanda-tanda yang menunjukkan islam atau kafir.

Orang semacam ini disebut dengan majhulul hal (orang yang tidak diketahui keadaannya). Dan orang semacam ini tidak disebut sebagai al-muslim majhulul hal (orang Islam yang tidak diketahui keadaannya), sebagaimana yang kami katakana pada bagian kedua Al-Muslim masturul hal. Karena kalau kita katakan muslim, maka kita menganggapnya sebagai orang Islam sehingga ia bukan lagi orang yang tidak diketahui keadaannya.

Sedangkan hukum orang yang majhulul hal yang berada di negara-negara ini adalah tawaqquf (tidak dianggap sebagai orang islam atau orang kafir) dan tidak diikut sertakan dengan hukum asal apapun (istish-hab). Orang semacam ini tidak diteliti keadaannya kecuali jika dibutuhkan untuk mengetahui status orang tersebut, maka ketika itu dicari kejelasan tentang dirinya. Dan dia tidak dihukumi kecuali sesuai dengan yang nampak pada dzohirnya. Dan ketika betul-betul tidak mampu untuk mengetahui statusnya secara dzohir ia statusnya disamakan dengan status negaranya dengan tetap mempertimbangkan keadaan penduduknya.

Singkatnya orang yang majhulul hal di negara-negara ini: tawaqquf (tidak ditentukan status hukumnya) dan dicari kejelasan keadaan dirinya jika dibutuhkan.

Berikut ini penjelasan singkat ungkapan pertama:

  1. Tawaqquf  terhadap status hukumnya; hal ini karena Sang Pembuat syari’at menetapkan status Islam atau kafir dengan sebab-sebab dzohir, padahal orang tersebut tidak menampakkan sesuatu yang bisa digunakan untuk menentukan statsus dirinya. Sedangkan Alloh berfirman:

ولاتقف ماليس لك به علم

“Dan janganlah kamu mengatakan apa-apa yang kamu tidak mengetahui ilmunya.” (Al-Isro’: 36)

  1. Tidak disamakan dengan hukum asal apapun(istish-hab). Karena istish-hab itu adalah dalil yang paling lemagh dan tidak bisa digunakan untuk menentukan hukum ketika tidak bisa menentukan status hukum. Untuk menentukan status dzohir orang yang majhulul hal yang masih hidup masih memungkinkan dengan cara tabayyun, maka tidak istsh-hab tidak bisa digunakan. Lebih deteilnya permasalahan ini adalah sebagai berikut: sesungguhnya hukum asal yang digunakan untuk menentukan status hukum orang yang majhulul hal pada perkataan para fuqoha’ adalah status hukum negara tempat tinggalnya dengan tetap mempertimbangkan agama yang dianut penduduknya. Orang majhulul hal yang hidup di dalam darul Islam, ia dianggap sebagai orang Islam, namun demikian orang yang ditemukan di daerah pemukiman ahludz dzimmah yang berada di darul Islam, ia dianggap sebagai orang kafir karena kemungkinan besar dia dari kalangan ahludz dzimmah tersebut. Dan majhulkul hal yang berada di dalam darul kufir dianggap sebagai orang kafir, namun demikian orang yang ditemukan di darul kufri yang dihuni oleh sebagian kaum muslimin ia dianggap sebagai orang islam karena hukum Islam lebih dimenangkan. Pada dasarnya, hukum asala yang digunakan untuk menentukan status majhulul hal adalah status negara tempat tinggalnya dengan tetap mempertimbangkan agama yang dianut penduduknya. (Lihat Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir VI/375 dan Ahkamu Ahlidz Dzimmah karangan Ibnul Qoyyim II/518-519, terbitan Darul ‘Ilmi Lilmalayin 1983). Namun demikian tidak seorang ulama’pun yang menggunakan istish-hab kecuali ketika benar-benar tidak bisa menggunakan tanda-tanda dzohir yang bisa digunakan untuk menentukan status hukumnya. Sehingga mereka tidak menentukan status hukum dengan menggunakan istish-hab kecuali orang yang ditemukan atau mayit yang tidak diketahui dan tidak ada tanda-tanda apapun padanya. Ibnu Qudamah mengatakan: “Di Darul Islam, orang yang ditemukan di sana dianggap sebagai orang Islam dan juga mayit yang tidak diketahui agamanya, ia dianggap sebagai orang Islam dalam masalah disholatkan, penguburan dan dikawanni dengan kafar yang diwakafkan untuk mengkafani mayit kaum muslimin.” (Al-Mughni MA’asy Syarhil Kabir XII/215). Inilah beberapa keadaan yang ketika itu tidak mampu untuk mengetahui tanda dzohirnya sehingga menggunakan istish-hab. Ibnu Rojab juga menyebutkan hal yang semacam ini, beliau mengatakan: “Jika didapatkan mayit yang tidak diketahui agamanya di darul Islam, jika tidak terdapat padanya tanda-tanda islam atau kafir atau ada tanda-tanda islam dan kafir yang saling bertentangan maka ia disholatkan dan hal ini dikatakan oleh Ahmad. Dan jika terdapat tanda kekafiran padanya maka diantara sahabat kita (madzhab hambali) ada yang berpendapat ia disholatkan, namun yang dikatakan (oleh Ahmad atau madzhab hambali) ia tidak disholatkan dan ia dikubur. Perselisihan ini kembali kepada bertolak belakangnya antara hukum asal (status negara-pent.) dengan dzohirnya. Karena pada asalnya orang yang tinggal di darul Islam itu dianggap Islam sedangkan yang nampak dari orang tersebut kafir. Dan jika mayit itu ditemukan di darul kufri dan padanya terdapat tanda-tanda Islam, maka ia disholatkan dan jika tidak terdapat maka tidak disholatkan. Hal itu dinyatakan Ahmad yang diriwayatkan oleh Ali bin Sa’id. Pendapat ini lebih menguatkan yang dzohir dari pada hukum asalnya sebagaimana ia juga memperkuatnya pada keadaan pertama.” (Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah karangan Ibnu Rojab hal. 345, terbitan Darul Ma’rifah) dengan demikian anda melihat bahwa yang dzohir itu selalu dikuatkan dari pada hukum asal, dan hukum asal tidak digunakan kecuali tidak memungkinkan untuk menentukan dzohirnya. Adapun agama yang bisa digunakan untuk petunjuk dalam menentukan agama orang yang mati di antaranya adalah khitan dan tanda-tanda dzohir. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Muflih Al-Hambali: “Ahmad mengatakan tentang orang yang terbunuh di darul harbi (negara musuh) [khitan dan baju digunakan untuk petunjuk dalam menentukan statusnya] dengan demikian maka tanda-tanda dzohir itu menentukan hukum pada keadaan-keadaan tersebut dalam menentukan status islam atau kafir.” (Al-Furu’ VI/168) Bukankah anda meliahan beliau lebih mendahulukan tanda-tanda dzohir dari pada hukum asal. Padahal tanda-tanda dzohir itu merupakan keadaan yang menyertai seseorang yang membutuhkan tabayyun dan bukan tanda yang berdiri sendiri. Begitu pula khita, ia bukan ciri khas orang Islam, karen orang arab dulu pada masa jahiliyah juga khitan, begitu pula orang yahudi sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Heruklius, dalam hadits itu dia mengatakan:

فمن يختتن من هذه الأمة؟ قالوا: ليس يختتن إلا اليهود ــ إلى قوله ــ وسأله عن العرب، فقال: هم يختتنون

“Siapakah di kalangan umat ini yang khitan? Mereka mengatakan: tidak ada yang khitan kecuali yahudi – sampai ia mengatakan – ia ditanya tentang orang Arab, maka ia menjawab; mereka khitan.” Hadits ini Muttafaq ‘alaih.

Para ulama’ tidak menggunakan hukum asal negara kecuali ketika tidak bisa menentikan tanda dzohirnya yang digunakan untuk menentukan status seseorang. Sebagaimana orang yang ditemukan dan mayit yang tidak terdapat padanya tanda apapun. Jika terdapat tanda padanya meskipun hanya sekedar qorinah

Inilah bagian kedua dari orang-orang yang bersikap diam. Setelah itu kita berbicara bagian yang ketiga yaitu orang yang tidak menampakkan sesuatu apapun.

Para ulama’ berpendapat tidak menggunakan istish-hab (mengkiyaskan hukum asal) dengan hukum negaranya kecuali ketika tidak mampu menentukan tanda dzohirnya, untuk menentukan hukum orang temuan atau mayit yang tidak ada tanda-tanda apapun padanya. Maka jika terdapat suatu tanda – meskipun hanya qorinah (keadaan yang menyertainya) seperti khitan dan ciri – maka ia dianggap sebagaimana tanda-tanda yang nampak tersebut karena lebih menguatkan hukum dzohir dari pada hukum asal. Ibnu Taimuyah berkata: “Dzohir itu lebih di kuatkan dari pada istish-hab (hukum asal), dan permasalahan-permasalahan syar’ii secara umum menggunakan kaidah ini – sampai beliau mengatakan – sesungguhnya berpegang kepada istish-habul hal (hukum asal) yang tidak ada adalah dalil yang paling lemah secara mutlak, dan ia adalah dalil yang paling rendah unruk dijadikan landasan penguat.” (Majmu’ Fatawa XXIII/51-16) Ibnu Taimiyah juga mengatakan: “Umat Islam telah sepakat dan ini merupakan ajaran Islam yang pasti diketahui, bahwasanya seseorang tidak boleh berkeyakinan dan berfatwa berlandaskan istish-hab (hukum asal) dan tidak adanya, kecuali setelah mencari dalil-dalil yang khusus jika ia orang yang mampu untuk itu. Sesungguhnya semua kewajiban dan larang Alloh danrosulNya bertentangan dengan istish-hab ini, maka dalil ini tidak dapat dipercaya kecuali setelah melihat kepada dalil-dalil syar’ii bagi orang yang mampu untuk itu.” (Majmu’ Fatawa XXIX/166). Dalam perkataan Syaikhul Islam ini, meskipun istish-hab ini digunakan sebagai dalil syar’i, ia tidak bisa menjadikan sesuatu itu mubah atau haram kecuali setelah mencari dalil-dalil yang lain karena ia adalah dalil yang paling lemah sehingga semua dalil yang lain lebih diutamakan dari pada istish-hab tersebut.

Kesimpulannya: orang yang majhulul hal tidak dihukumi dengan menggunakan suatu hukum asal tertentu, hal itu karena ada dua sebab:

Pertama: bahwa hukum asal (dalam hal ini hukum negeri dengan mempertimbangkan agama yang dianut penduduknya), tidak bisa digunakan untuk menentukan keislaman atau kekafiran seseorang, kecuali dalam keadaan tidak mampu menentukan tanda dzohir yang dapat dijadikan landasan hukum – sebagaimana yang terjadi pada orang temuan dan mayit yang tidak diketahui identitasnya – Selain dalam dua keadaan ini masih memungkinkan untuk menentukan tanda-tanda dzohir pada orang hidup yang majhulul hal dengan cara meminta keterangan kepadanya. Maka istish-hab tidak digunakan selama masih memungkinkan untuk menentukan tanda dzohir sebagaimana yang dikatakan Ibnu Taimiyah dan beliau menukil ijma’ dalam hal ini. Dan kami ingatkan di sini bahwasanya menggunakan istish-hab pada mayyit yang tidak diketahui identitasnya, hanyalah pada masalah-masalah yang tidak mengundang persengketaan dan bahaya terhadap seseorang, seperti menyolatkan dan menguburkannya. Adapun jika penetapan agama orang tersebut mengakibatkan persengketaan warisan, maka istish-hab tidak syah dan harus mencari bukti dan saksi. (Lihat Al-Mughni Ma’asy Syar-hil Kabir XII/214-216). Inilah di antara yang menjelaskan kelemahan dalil istih-hab bagi anda.

Kedua: sesungguhnya hukum asal yang dijadikan landasan hukum dalam keadaan-keadaan tersebut (yaitu hukum negeri dan memperhatikan agama yang dianut oleh penduduknya) banyak kemasukan campuran sehingga ciri-cirinya tidak paten. Hal ini titambah dengan sebab pertama di atas, yang menjadikan kami mempertegas bahwa istish-hab ini tidak digunakan kecuali dalam keadaan benar-benar tidak mampu menentukan tanda dzohir yang dapat dijadikan sebagai landasan hukum. Dan ini terjadi pada orang temuan dan mayit yang tidak diketahui identitasnya sebagaimana dijelaskan di atas. Adapun capur adauk yang masuk kedalamnya adalah sebagai berikut; hukum negara (yang diperintah orang-orang kafir dengan menggunakan hukum kafir) adalah negara kafir. Inilah hukum negara yang sedang kita bicarakan – dan akan kami singgung sedikit santi dalam pembahasan ahkamud diyar, insya-Alloh – adapun penduduknya adalah campur adauk antara orang Islam dan yang bukan Islam. Negara-negara tersebut sebelumnya adalah negara Islam yang orang Islamnya dapat dibedakan dengan orang yang selain Islam. Namun bersamaan dengan berlakunya undang-undang positif ini orang Islam bercampur dengan orang bukan Islam dengan tanpa pembeda, karena dua sebab:

Pertama; ahlul kitab tidak menggunakan tanda-tanda yang membedakan mereka dengan kaum muslimin – dalam berpakaian, rambut, kendaraan, nama dan julukan – karena ‘aqdudz dzimmah (jaminan penguasa Islam yang diberikan kepada orang kafir) menjadi batal dengan berkuasanya undang-undang positif yang menyamakan semua penduduk dalam hak dan kewajiban berdasarkan nasionalise, dan membuang identitas keagamaan. Mengenakan tanda-tanda tersebut merupakan alat yang membedakan orang di negara Islam, sebagaimana yang dikatakan Ibnul Qoyyim: “Sesungguhnya syarat-syarat yang diwajibkan kepada ahludz dzimmah terdapat di dalamnya pembedaan mereka dengan kaum muslimin dalam berpakaian, rambut, kendaraan dan lain-lain, supaya kesamaan mereka tidak mengakibatkan orang kafir diberlakukan sebagaimana orang Islam. Maka kemunghkinan ini dicegah dengan mengharuskan mereka membedakan diri dengan kaum muslimin.” (A’lamul Muwaqqi’iin III/157).

Kedua; orang-orang murtad dibiarkan saja, karena murtad bukanlah tindak kejahatan dalam ketentuan hukum positif. Adapun di negara Islam keadaannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah: “Sesungguhnya orang murtad tidak dibiarkan dalam kemurtadannya di negara Islam.” (Al-Mughi MA’asy Syarhil Kabir XII/214) Perkataan ini telah dijelaskan dalam pembahasan kaidah takfir, yaitu bahwa orang yang murtad di negara Islam itu disuruh bertaubat, jika ia tidak mau maka ia dibunuh. Dengan demikian maka orang murtad itu tidak akan tetap menampakkan kemurtadannya di negara Islam. Adapun pada saat sekarang kami memastikan adanya banyak orang murtad di negara-negara ini, seperti orang yang meninggalkan sholat, orang yang menghina Islam dan penganutnya, orang-orang yang mencela agama dari kalangan orang yang berpaham komunis, sekuler, penyembah kuburan dan lain-lain.

Maka ketika ada tanda yang membedakan di darul Islam, orang yang majhulul hal – yang tidak terdapat tanda apapun yang membedakan padanya – kebanyakan orang Islam, karena orang murtad tidak dibiarkan di negara Islam, dan karena orang kafir dzimmi mengenakan tanda. Oleh karena itu Nabi saw., bersabda:

تقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف

“Ucapkanlah salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal!”  Hadits ini Muttafaq ‘Alaih.

Inilah perintah beliau, yang di sisi lain beliau melarang untuk duluan menyelami kepada ahlul kitab. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang majhulul hal di negara Islam dianggap sebagai orang Islam. Adapaun di negara-negara tersebut pada hari ini, selain bercampurnya orang muslim dengan orang kafir, tidak ada hukum asal yang paten yang dapat digunukan landasan menghukumi orang yang majhululhal, sehingga menghukumi orang yang majhulul hal sebagai orang islam atau orang kafir termasuk bagian dari perkiraan dan sangkaan.

Oleh karena itu semua, kami berpendapat bahwa orang yang majhululhal tidaklah dihukumi dengan hukum asal tertentu dalam menentukan ia islam atau kafir kecuali dalam batasan-batasan yang sangat sempit. Yaitu orang temuan dan mayit yang tidak diketahui identitasnya dan tidak terdapat tanda-tanda apapun padanya.

Kemudian kmi lanjutkan penjelasan kalimat yang kami sebutkan dalam hukum majhulul hal. Kami telah jelaskan maksud perkataan kami yang berbunyi : “Kita tawaquf, tidak menghukumi orang tersebut dan ia tidak dihukumi dengan hukum asal tertentu (istish-hsbul hal).

  1. “Identitasnya tidak ditelitui kecuali jika dibutuhkan untuk mengetahui keadaannya.” Orang yang tidak diketahui identitasnya tidak diteliti keadaannya, karena hal ini tidak dilakukan orang-orang Islam. Mereka tidak selalu ingin tahu setiap orang yang ia tidak ketahui identitasnya dengan meneliti keadaannya. Hal ini termasuk dalam pengertian hadits yang bebunyi:

من حُسن إسلام المرء تركه مالا يعنيه

“Termasuk bagusnya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak menjadi kepentingannya.”An-Nawawi berkata: “Hadits ini Hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan yang lainnya.

Adapun adapun orang yang selalu ingin tahu keadaan mereka, ini adalah kelakuan orang-orang Khowarij, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang mereka dalan kutubul firoq (buku-buku yang membahas tentang kelompok-kelompok dalam Islam).

Adapun perkataan kami yang berbunyi: “Kecuali jika dibutuhkan…”ini lah yang biasa dilakukan, yaitu: tabayyun jika diperlukan. Dan inilah yang terdapat dalilnmya. Dan yang dimaksud dengan tabayyun disini adalah, mencari tahu agama orang yang majhulul hal. Dan di antara keadaan-keadaan yang diperlukan untuk tabayyun adalah sebagai berikut:

  • Pembebasan budak. Karena Alloh memerintahkan untuk membebaskan budak yang beriman di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, Alloh berfirman:

فتحرير رقبة مؤمنة

“Maka bebaskanlah budak yang beriman.” (An-Nisa’: 92)

adapun membebaskan budak kafir tidak ada pahalanya dalam beberapa keadaan. Sebagaimana secara umum hukumnya makruh karena bisa jadi ia akan bergabung dengan negara kafir setelah ia merdeka lalu ia akan tetap kafir. Adapun jika ia tinggal di kalangan kaum muslimin maka hal itu terdapat unsure tawaran Islam kepadanya. Maka dengan demikian pembebasan budak termasuk keadaan yang membutuhkan untuk mengetahui agama budak yang akan dimerdekakan. Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata: “Aku mengatakan kepada Rosululloh; wahai rosululloh aku telah memukul budak perempuanku dengan keras? Maka rosululloh menganggap besar masalah itu. Maka aku bertanya kepada beliau; apakah aku merdekakan saja budak itu? Beliu bersabda:

ائتني بها

“Datangkan kepadaku budak itu!” Mu’awiyah berkata; lalu kubawa badak perempuan itu. Rosululloh bersabda kepadanya:

أين الله

“Di mana Alloh?” ia menjawab; Di langit. Beliau bersabda:

من أنا

“Siapa aku?” ia menjawab; Engkau adalah utusan Alloh. Beliau bersabda:

اعتقها فإنها مؤمنة

“Bebaskan dia, sesungguhnya ia seorang yang beriman.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim. Ibnu Taimiyah menukil perkataan Abu ‘Utsman Ash-Shobuni yang berbunyi: “Imam kita Abu Abdillah Asy-Syafi’ii dalam kitabnya ‘Al-Mabsuth’ berhujjah dalam masalah membabaskan budak yang beriman pada masalah kafaroh. Dan bahwasanya budak kafir itu tidak syah untuk dijadikan kafaroh, berdasarkan hadits dari Mu’awiyah bin Al-Hakam. Disebutkan dalam hadits tersebut bahwa ia ingin membebaskab budak hitam perempuan sebagai kafaroh. Dan dia bertanya kepada rosululloh untuk membebaskannya. Maka Rosululloh mengetesnya, apakah dia beriman atau tidak.” (Majmu’ul Fatawa V/192). Hadits tentang budak perempuan ini dijadikan dalil atas dilakukannya tabayyun ketika dibutuhkan, dan barangsiapa menyatakan sebagaimana yang dinyatakan budak wanita itu, ia dianggap sebagai orang Islam. Ada dua kelompok yang salah dalam berdalil dengan menggunakan hadits tersebut; Satu kelompok menggunakan dalil untuk tabayyun kepada manusia secara umum, dan seseorang itu tidak dianggap sebagai orang Islam kecuali setelah dites.pendapat ini salah, karena tabayyun yang disebutkan dalam hadits itu ada sebabnya. Satu kelompok lagi menggunakan hadits tersebut sebagai dalil bahwasanya iman itu adalah berupa ikrar – dan mereka itu adalah kelompok murji’ah – karena nabi menganggap budak perempuan itu sebagai orang Islam dengan ikrar pernyataannya. Sedangkan iman yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah iman secara hukum dzohir, yang sama dengan hukum Islam secara dzohir, dan bukan hakekat iman. Ibnu Taimiyah berkata: “Iman yang dijadikan landasan hukum di dunia adalah iman yang dzohir yaitu Islam. Yang dimaksud itu sama secara hukum dzohirnya. Oleh karena itu ketika al-Atsrom menceritakan kepada Ahmad tentang orang murji’ah yang berdalil dengan sabda nabi saw.,:

اعتقها فإنها مؤمنة

“Bebaskan dia, karena dia beriman!”. Ahmad mengatakan yang didalam hadits tersebut adalah hukum di dunia, secara hukum di dunia ia beriman. Dan yang dimaksud bukan ia beriman di sisi Alloh sehingga ia berhak masuk syurga tanpa masuk neraka, jika wanita itu berjumpa Alloh hanya dengan membawa ikrarnya itu.” (Majmu’ Fatawa VII/416) Dan telah saya singgung perbedaan antara iman secara hukum dzohir dan hakekat iman setelah pembahasan tingkatan-tingkatan iman, dalam catatan penting yang terdapat dalam catatan terhadap ‘Aqidah Thohawiyah.

  • Menentukan Islamnya saksi yang dilakukan oleh hakim. Hal ini termasuk keadaan yang menuntut untuk tabayyun tentang agama orang yang majhulul hal. Karena syarat syah dari kesaksian itu harus beragama Islam – dengan secara detail – jika hakim meremehkan ini, maka ia tercela dan ia harus menjamin kesalahan yang terjadi. Ibnu Qudamah berkata: “Al-Qodli berkata; Harus diketahui keislaman saksi. Dan hal itu dengan salah satu dari empat cara: pertama saksi tersebut memberitahu atas keislamannya atau ia mengucapkan kata-kata Islam, kedua pengakuan orang yang disaksikan bahwa saksi tersebut orang Islam, ketiga pengalaman hakim, keempat bukti. “ (Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir XI/419 dengan secara ringkas. Di sana beliau menyebutkan cara-cara untuk tabayyun terhadap agama orang yang majhulul hal.

Ringkasnya secara umum, setiap permasalah yang mengharuskan untuk mengetahui agama seseorang, maka wajib untuk melakukan tabayun terhadap agama orang yang majhulul hal. Seperti nikah, ijaroh (mengupah orang untuk bekerja), syirkah (kerja sama), penyaluran harta zakat, harta wakaf  yang tidak boleh diberikan kecuali kepada orang Islam, permasalahan-permasalahan yang mewajibkan untuk membayar diyat (denda yang dikenakan kepada orang Islam yang membunuh orang Islam lainnya), seperti engkau membunuh seseorang dengan tidak sengaja seperti menabraknya dengan kendaraan atau yang lainnya, sedangkan orang yang terbunuh olehmu itu tidak kamu kenal identitasnya, maka ketika wajib melakukan tabayyun tentang agama orang tersebut dan agama para walinya. Jika ternyata ia seorang muslim, maka kamu – atau kerabatmu – wajib membayar diyat kepada wali orang yang terbunuh olehmu itu yang beragama Islam. Kecuali jika mereka memaafkan maka kamu wajib membayar kafaroh. Namun jika wali orang muslim yang terbunuh itu orang kafir, maka kamu tidak wajib untuk membayar diyat akan tetapi hanya kafaroh saja, berdasarkan firman Alloh:

فإن كان من قوم ٍ عدو ٍ لكم وهو مؤمن فتحرير رقبة مؤمنة

Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mu’min. (QS. 4:92)

Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/535, Tafsir Al-Qurthu-bi V/324 dan Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir IX/340. Namun jika orang yang terbunuh itu orang nasrani atau orang murtad atau orang muh-shon (yang pernah berkeluarga) yang berzina, maka kamu tidak wajib membayar diyat maupun kafaroh, karena orang tersebut darahnya halal untuk ditumpahkan. Dan kapan saja diyat itu wajib maka orang yang terkena kewajiban wajib melaksanakannya meskipun hal itu tidak diputuskan oleh seorang qodli (hakim), sebagaimana pada masa sekarang di berbagai negara yang diperintah dengan menggunakan hukum positif. Dan orang yang membunuh tersebut bertanggung jawab dihadapan Alloh terhadap perbuatannya itu. Dalam keadaan-keadaan tersebut, untuk menentukan agama orang yang terbunuh secara tidak sengaja, tidak cukup hanya dengan berdasarkan hukum asal (istish-habul ash-li). Karena keadaan seperti ini mengakibat perselisihan dan hak, lain halnya dengan mayit yang tidak diketahui identitasnya, yang dalam menentukan agamanya berlandaskan hukum asalnya, untuk menentukan hukum mensholati dan menguburkannya karena hal itu tidak akan mencelakakan seseorang. (lihat Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir XII/215-216, di sana disebutkan bahwa menentukan hukum dengan hukum asal digunakan pada permasalahan yang tidak menimbulkan persengketaan). Perkara-perkara ini dan yang semacamnya, adalah termasuk permasalahan yang membutuhkan untuk tabayun terhadap agama orang yang tidak diketahui identitasnya. Inilah tabayyun yang dibenarkan secara syar’ii, yaitu “tabayyun agama orang yang tidak diketahui identitasnya katika dibutuhkan”. Dan kebalikannya adalah tabayyun bid’ah yang kami sebutkan sebelumnya, yaitu “tabayyun dalam menentukan keislaman seseorang secara hukum (di dunia), terhadap orang Islam yang masturul hal”.

Dan di antara permasalahan yang berkaitan dengan orang yang majhulul hal, yang banyak menjadi perdebatan pada hari ini adalah hukum memakan binatan sembelihan di negeri-negeri tersebut, ketika tidak diketahui identitas orang yang menyembelih yang mengandung kemungkinan orang yang menyembelih itu orang yang murtad, lantaran ia menyetujui/membiarkan orang-orang murtad diatas kemurtadan mereka di negara-negara yang diberlakukan hukum posotif padanya. Apakah kita bersikap tawaquf terhadap hukum memakan binatang sembelihan di negara-negara tersebut? Dan apakah orang yang mau membeli daging harus tabayyun terhadap identitas orang yang menyembelihnya, yang terkadang yang menyembelih bukan penjualnya?

Jawabannya adalah: pembahasan masalah semacam ini berdasarkan haramnya binatang yang disembelih oleh orang murtad. Hal ini benar. Dan Asy-Syaukani berpendapat bahwa binatang yang disembelih oleh orang kafir itu mubah jika ketika ia menyembelih menyebut nama Alloh, dan menurut beliau tidak ada dalil yang mengharamkannya. (As-Sailul Jarroor IV/64). Pendapat beliau ini tidak benar, adapun dalilnya adalah yang disebutkan oleh Syaikh Man-shur Al-Bahuti dalam perkataannya: “Dan binatang yang disembelih oleh orang murtad itu tidak boleh (dimakan-pent.) meskipun ia murtad dan masuk agama ahlul kitab (yahudi atau nasrani-pent.) ataupun majusi atau penyembah berhala atau zindiq. Begitu pula ad-Duruz, At-Tayaminah dan An-Nushoiriyah di Syam. Berdasarkan firman Alloh:

وطعام الذين أوتوا الكتاب حِلٌّ لكم

“Dan nakanan (sembelihan) orang-orang yang diberi kitab halal bagi kalian.” (QS. 5:5)

Mafhumnya, berarti makanan (sembelihan-pent.) orang-orang kafir selain mereka haram.” (Kasyaful Qona’ VI/205). Dengan demikian maka binatang sembelihan di negara-negara ini ada tiga bagian:

1.Apabila orang yang menyembelih diketahui ia orang muslim yang masturul hal atau seorang ahlul kitab (yahudi atau nasrani), maka binatang sebelihan tersebut halal.

2.Apabila orang yang menyembelih tersebut diketahui ia orang kafir seperti orang murtad atau penyembah berhala, maka binatang sembelihan tersebut haram sebagaimana bangkai.

3.Apabila orang yang menyembelih tidak diketahui identitasnya, maka dalam keadaan seperti ini ditanyakan: apabila di negara Islam maka para ulama’ telah berijma’ atas bolehnya membeli daging di pasar-pasar yang berada di negara Islam, tanpa bertanya kehalalannya. Meskipun hukum asalnya daging itu haram, (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam karangan Ibnu Rojab hal. 60 dan Al-Mugh-ni  Ma’asy Syarhil Kabir IV/308) namun secara dzohir kaum muslimin tidak akan membiarkan orang menjual sesuatu yang tidak halal di pasar mereka. Dan keadaan mereka difahami dalam keadaan sehat dan selamat. Maka keadaan dzohir ini lebih dikedepankan dari pada hukum asal. Berdasarkan inilah para ulama’ berijma’ atas bolehnya membeli daging di negara Islam, tanpa bertanya tentang kehalalannya. Sampai-sampai Syaikh Man-shur Al-Bahuti mengatakan dalam kitab Syarhul Iqna’: “Dan halal binatang sembelihan yang terbuang artinya, terbuang ditempat yang mayoritas penduduknya kalau menyembelih binatang, halal dagingnya untuk dimakan, meskipun tidak diketahui apakah orang yang menyembelihnya menyebut nama Alloh. Karena tidak mungkin mengetahui semua sembelihan dan juga karena menggunakan hukum secara dzohir.” (Kasyaful Qona’ VI/212). Adapun di negeri-negeri yang sedang kita bicarakan, yang mengandung kemungkinan sebagian orang yang menyembelih orang-orang murtad, maka halal dan haramnya tergantung pada kuat dan lemahnya syubhat (kesamaran) nya. Apabila di suatu tempat banyak terdapat orang yang murtad maka syubhatnya lebih kuat sehingga daging yang tidak diketahui statusnya lebih dianggap haram. Maka tidak boleh membeli daging di tempat tersebut. Dan apabila di suatu tempat sedikit orang-orang yang murtad, maka syubhatnya lebih lemah, karena sembelihan orang-orang murtad yang hukumnya seperti bangkai, bercampur dengan sembelihan-sembelihan yang mubah yang jumlahnya tidak terbatas. Dengan demikian maka boleh membeli daging di tempat semacam ini. Ibnu Taimiyah berkata: “Jika yang halal bercampur dengan yang haram pada jumlah yang tidak terbatas, seperti bercampurnya saudara perempuan dengan penduduk sebuah negeri, bercampurnya bangkai dan barang rampasan di sebuah negeri, maka hal itu tidak menjadikan haram hal-hal yang tercampur tersebut pada negeri tersebut. Seperti jika seorang saudara perempuan tercampur dengan perempuan-perempuan asing dan seperti binatang sembelihan yang bercampur dengan bangkai. Posentasai tersebut tidak menjadikan binatanmg-binatang sembelihan mereka yang tidak diketahui statusnya menjadi haram.” (Majmu’ Fatawa XXI/532) Dan beliau juga mengatakan: “Barang yang haram jika bercampur dengan yang halal itu ada dua macam;

Pertama: yang haram itu sendiri merupakan barang yang haram seperti bangkai dan saudara perempuan sepersusuan. Hal-hal ini jika bercampur dengan jumlah yang tidak terbatas, maka tidak haram. Seperti jika seseorang tahu bahwa di negeri tersebut ada saudara perempuan dia sepersusuan, namun dia tidak mengetahui orangnya. Atau di daerah tersebut ada orang yang menjual bangkai yang tidak diketahui yang mana bangkainya. Maka dalam keadaan seperti ini wanita dan daging di daerah tersebut tidak haram baginya. Namun apabila saudara perempuannya itu samar dengan seseorang wanita yang asing atau seekor binatang sembelihan itu samar dengan seekor bangkai maka semuanya sama-sama haram.” (Majmu’ Fatawa XXIX/276) Sedangkan perkataan beliau yang berbunyi: “Adapun jika samar….” maksudnya adalah apabila bercampur dengan jumlah yang terbatas atau sedikit, maka dalam keadaan seperti ini syubhatnya kuat sehingga lebih dikedepankan keharamannya. Kaidah semacam ini (Sesuatu yang mubah jika bercampur dengan sesuatu yang haram dalam suatu jumlah yang tidak terbatas – banyak – maka semuanya halal), kaidah ini diikuti oleh kebanyakan ulama’. (Lihat Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir I/51, Bada’i’ul Fawa’id, karangan Ibnul Qoyyim III/258, Al-Qowa’id karangan Ibnu Rojab Al-Hambali hal. 241, Al-Inshof karangan ‘Ala’ud Din Al-Mardawi I/87-79. dan Risalah Kasy-fusy Syubuhat ‘Anil Mutasyabihat karangan Asy-Syaukani hal. 16 yang tergabung dalam Ar-Rosa’il As-Salafiyah karangan beliau).

Maka yang wajib dilakukan oleh orang Islam di negara-negara tersebut untuk berusaha membeli daging dari orang yang penyembelihnya ia percaya agamanya. Jika tidak bisa maka hendaknya ia bertanya kepada penjualnya tentang keadaan dan agama orang yang menyembelihnya. Jika tidak bisa juga maka hendaknya ia menggunakan kaidah bercampurnya yang halal dan yang haram dalam jumlah sedikit dan dalam jumlah banyak. Dan usaha serta tabayun ini tidak bisa diganti dengan membaca basmalah ketika makan daging tersebut. Karena hadits yang berbunyi:

سمّوا عليه أنتم وكلوه

“Bacalah basmalah dan makanlah!!”

hadits ini berkenaan dengan sembelihan yang diketahui bahwa yang menyembelih orang Islam tapi ia ragu-ragu apakah ketika menyembelih ia membaca basmalah atau tidak. Dan hadits ini tidak berkenaan dengan sembelihan yang tidak diketahui agama orang yang menyembelih. Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Ada satu kaum yang bertanya kepada nabi: “Ada suatu kaum yang dating memberi daging kepada kami, kami tidak tahu apakah mereka membaca basmalah atau tidak?” beliau menjawab:

سمّوا عليه أنتم وكلوه

“Bacalah basmalah kemudian makanlah!” ‘Aisyah berkata: “Mereka itu baru masuk Islam.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori (5507). Maksudnya orang-orang yang menyembelih itu baru masuk Islam, kemungkinan mereka tidak tahu bahwa ketika menyembelih itu harus membaca basmalah. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah XXXV/240). Ini lah hukum masalah ini, dan tidak selayaknya masalah ini sembelihan yang tidak diketahui statusnya ini dan hukum memakannya, menjadi bahan permusuhan dan perselisihan antara kaum muslimin, karena masalah ini adalah masalah ijtihadiyah. Kadang seseorang melihat pada suatu keadaan syubhatnya kuat, sehingga dia tidak mau makan sembelihan di tempat tersebut, sedangkan orang lain berpendapat lain lagi. Selama permasalahan itu masih mengandung kemungkinan, maka tidak boleh saling mengingkari pada masalah yang masih mengandung kemungkinan. Namun pengingkaran itu adalah pada masalah yang jelas, seperti makan sembelihan orang yang jelas-jelas murtad, karena orang ini seperti makan bangkai, sehingga ia harus diingkari.

Semua ini adalah penjelasan tentang perkataan kami tentang hukum orang yang majhulul hal. Orang semacam ini (tidak diteliti keadaannya kecuali jika dibutuhkan untuk mengetahui hukumnya, maka ketika itu dicari kejelasan tentang dirinya).

D. Kemudian kami katakan: “Dia tidak dihukumi kecuali berlandaskan dzhirnya, dan ketika benar-benar tidak mampu untuk menetapkan tanda yang dzohir ia dihukumi sesuai dengan hukum asal negara tersebut dengan memperhatikan agama yang dianut penduduknya.” Kalimat ini telah berlalu penjelasannya, dan ini merupakan penguat dari apa yang kami katakan bahwa istish-hab itu tidak digunakan kecuali dalam keadaan benar-benar tidak mampu menetapkan tanda dzohirnya, seperti pada orang temuan dan mayyit yang tidak diketahui identitasnya, pada permasalahan yang tidak dipersengketakan. Pada selain itu orang tidak dihukumi kecuali dengan dzohirnya dalam menetapkan agama orang yang tidak diketahui identitasnya. Karena Nabi saw., menghukumi budak dengan ikrar yang ia ucapkan, dan ia tidak dihukumi dengan berlandaskan hukum asal tertentu. Begitu pula hakim, dalam mencari tahu Islamnya saksi tidak mengginakan asal hukum tertentu, sebagaimana yang kami jelaskan di atas.

Inilah pembahasan yang berkaitan dengan hukum orang yang majhulul hal, yaitu orang yang tidak menampakkan tanda-tanda Islam atau kafir. Dan orang semacam ini adalah bagian ketiga dari orang-orang yang bersikap diam di negara-negara yang dikuasai oleh orang-orang kafir dengan menggunakan undang-undang kafir. Yang mana dulunya merupakan negara Islam dan sampai sekarang masih banyak orang Islam yang tinggal di dalamnya. Perincian ini bertujuan untuk menghilangkan kerancuan dalam menghukumi secara umum yang terdapat dalam perkataan Ustadz Abdul Majid Asy-Syadzili. Khususnya beliau tidak membedakan antara hukum yang berkaitan dengan iman dan kafir dan hukum-hukum yang berkaitan dengan peperangan. Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan iman dan kafir, maka penjelasannya telah berlalu.

Kedua: dari sisi hukum-hukum yang berkaitan dengan peperangan.

Orang Islam itu ma’shum (terjaga darah dan hartanya) dengan keislamannya di mana saja ia berada, baik di darul Islam (Negara Islam) atau darul Harbi (Negara musuh). (Al-Mughni Ma’asy Syarhil Kabir IX/335). Ia tidak boleh dubunuh ketika berperang melawan orang-orang kafir – jika ia bercampur dengan orang kafir dan tidak memungkinkan untuk dibedakan – kecuali dalam keadaan darurat, ini yang disebut dengan masalah tatarrus , yaitu orang-orang kafir menjadikan orang-orang Islam sebagai perisai. Jika ia bercampur dengan orang-orang kafir dan tidak memungkinkan untuk membedakannya dengan tanda apapun, maka tidaklah berdosa membunuhnya dengan senmgaja dalam keadaan seperti ini. Keadaan darurat ini disebutkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa XXVIII/536-547. Dan beliau berdalil untuk masalah ini dengan hadits yang menyebutkan sebuah pasukan yang ditenggelamkan di al-Baida’ , mereka kelak akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya masing-masing. Adapun jika oaring Islam yang berada di Negara-negara tersebut dapat dibedakan atau ketika terjadi peperangan mereka tidak bercampur dengan orang kafir, maka ia tidak boleh dibunuh. Begitulah wallohu a’lam.

[syariftambakoso.wordpress.com/thoriquna.wordpress.com]


1 Komentar

  1. Aluka Demo mengatakan:

    makasih mas, jadi saya paham.. jangan terlalu mudah percaya tafsir ..
    jadi jika rancu apa mesti didiamkan atau bagaimana??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: