Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Bantahan Buku “VONIS KAFIR-antara berlebih lebihan dan kurang ketegasan” Karya Mas’ud

Bantahan Buku “VONIS KAFIR-antara berlebih lebihan dan kurang ketegasan” Karya Mas’ud


Bab I

KOREKSI BUKU

VONIS KAFIR
Antara Berlebih-Lebihan dan Kurang Ketegasan

Karya : Mas’ud Izzul Mujahid, Lc

Oleh

Al Ustadz Abu Hataf, NK

==================================

 

=======================

Bab II

Koreksi dan Bantahan Syubuhat Mas’ud dan Sejenisnya

Oleh

Al Ustadz Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

 

NB: Tulisan ini keluar dan diedarkan sebagai bentuk counter buku tersebut karena sebelumnya kepada penulis sudah diundang untuk dialog ilmiah di NK tapi oleh karena sang penulisnya (Mas’ud) tidak mau (tanpa alasan syar’i, kenapa tidak mau…?)  maka tulisan koreksi inipun sengaja ditulis sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab untuk meluruskan pemahaman ummat yang dikoyak oleh buku tersebut dan buku sejenisnya. Demikian kabar yang kami dapatkan. Syukran


Bab I

Koreksi Buku

VONIS KAFIR

Antara Berlebih-Lebihan dan Kurang Ketegasan

Karya : Mas’ud Izzul Mujahid, Lc

Oleh

Al Ustadz Abu Hataf

DAFTAR ISI RISALAH

1.      Halaman 50 poin 3. “Membuat perantara dalam beribadah dan meminta pertolongan

kepada selain Alloh “ …………………………………………………………………………………………………………………  5

2.      Halaman 104, antum katakan, “Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab memberi udzur kepada seseorang yang berbuat syirik. Ia tidak boleh dikafirkan dan tidak diperangi sebelum ditegakkan hujjah padanya. Ini menunjukkan bahwa dalam syirik akbar (syirik besar) tetap ada udzur jahl (kebodohan)”. …………………….  18

3.      Halaman 108 antum mengatakan, “Disini kami perlu tegaskan, bahwa udzur jahil tidak berlaku pada perkara-perkara yang menafi’kan pokok-pokok Islam yang global seperti, mengingkari kenabian Rasul  atau mengatakan bahwa beribadah kepada selain Alloh dalam bentuk apapun tidak wajib.” ………………………….  22

4. Halaman 110 antum mengatakan, “Bahkan setelah iqomatul hujjah pun mereka tidak dikafirkan karena syubhat mereka sangat pelik” …………………………………………………………………………………………………………  23

5.      Antum katakan halaman 116,

a.      “Sebagian kaum muslimin menyakini bahwa khatha’ bukan udzur dalam syirik akbar. Ini dinisbatkan kepada aimmah dakwah, salah satu ulama’ yang berpendapat demikian adalah Syeikh Abdul ‘ula Rasyid bin Abu ‘ula” (pernyataan antum ini ana tulis dengan sedikit perubahan redaksi asli)

b.      “Sejauh penelitian kami udzur karena khatha’ berlaku dalam setiap masalah tanpa membedakan yang satu dengan yang lain, termasuk dalam perkara syirik akbar”. ……………………………………………………………  25

6.      Halaman 133 antum katakan, “Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa syirik besar juga termasuk perkara yang penegakkan hujjahnya dengan risalah (peringatan Rasul).” ……………………………………………  26

7.      Halaman 139 antum katakan, “Sedangkan pernyataan bahwa orang tua Rasulullah  hidup pada masa fatroh dan tetap diadzab walau belum diutus kepada mereka Rasul adalah pernyataan yang salah.” ……………….  27

8.      Halaman 141 antum katakan, “Namun orang kafir asli mereka tetap dihukumi sebagai orang kafir (musyrik) walaupun belum ditegakkan hujjah padanya, namun tidak boleh dihukum hingga ditegakkan hujjah kepadanya”. …………………………………………………………………………………………………………………………………………………….  25

9.      Halaman 168 antum katakan, “Menghukumi seluruh orang murtad di negara non Islam sebagai mumtani’ kurang tepat karena keadaan wilayah, aturan dan kondisi masyarakat berbeda-beda.” ………………………..  28

10.    Halaman 172 antum mengatakan ketika antum menjawab pertanyaan point 4, “Bolehkah kita memastikan orang kafir asli sebagai penduduk neraka? Antum menjawab : “Jika orang meninggal dalam keadaan kafir (Hindu, Budha, Kristen dan lain-lain) dibolehkan memastikannya sebagai penduduk neraka.” ……………….  31

11.    Halaman 173 ketika antum menjawab pertanyaan poin 5, “Saya melihat seseorang melakukan perbuatan kufur, seperti membuat undang-undang yang menyelisihi syari’at atau meminta kepada orang yang sudah meninggal, tetapi saya tidak mengkafirkannya. Apakah keimanan saya batal karena tidak mengkafirkan orang tadi?” ……………………………………………………………………………………………………………………………………………  28

12.    Halaman 186 poin (a) antum katakan, “Orang yang istihza’ menandakan bathinnya telah kafir” …………….  33

13.    Halaman 193 poin 12 antum katakan, “Pengkafiran individu (takfir mu’ayyan) adalah hak seorang ulama’ mujtahid” ………………………………………………………………………………………………………………………………………  33

Judul Asli :

Koreksi Buku

VONIS KAFIR, Antara Berlebih-Lebihan dan Kurang Ketegasan

Karya : Mas’ud Izzul Mujahid, Lc

Penulis :

Al Ustadz Abu Hataf

( Hafizahullah )

Editor dan Tata Letak :

Media Al  Busyro

Publikasi :

Forum Islam Al Busyro

(www.al-busyro.com)

© All Right Reserved

Silahkan memperbanyak tanpa merubah isi, pergunakanlah untuk kepentingan kaum Muslimin !

“Demi Kembalinya seluruh Dien hanya milik Allah Ta’ala”


بسم الله الرحمن الرحيم

Al Ustadz Mas’ud Izzul Mujahid, Lc

Di Bumi Alloh swt

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه اجمعين, وبعد :

Telah ana baca buku antum… “VONIS KAFIR” dan alhamdulillah ana banyak mendapat manfaat dari apa yang antum tulis. Ana ucapkan jazakumullah khairon jaza’, mudah-mudahan apa yang antum usahakan ini mendapatkan balasan pahala di sisi Alloh  dan bermanfaat bagi kaum muslimin. Ana mendapatkan di dalam buku antum ini pembahasan yang runtut disertai dalil-dalil yang secara umum bagus. Tentu hal ini tidak bisa ditulis kecuali oleh orang yang Alloh beri kelebihan ilmu dan kecerdasan akal seperti antum, dimana pada setiap bahasan antum datangkan dalil dari kitab, sunnah kadang juga ijma’ dan tak ketinggalan aqwal para salaf. Ana memuji Alloh  atas karunia nikmat berupa dimunculkannya di tengah-tengah kami seorang alim yang cerdas seperti antum dan mudah-mudahan Alloh  menambahkan kepada kami para da’i seperti antum. Amin…

Adalah termasuk aqidah ahlu sunnah wal jama’ah bahwa tidak ada yang maksum bagi umat ini kecuali Muhammad Rasulullah . Ibnu Abbas berkata, “Seseorang itu kadang diambil dan ditinggalkan pekerjaannya kecuali Rasulullah “ (Masail Min Fiqhil Al Jihad, Abu Abdullah Al Muhajir, hal. 183). Al Imam Abu Hanifah berkata, “Kalau saya mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan Al Quran dan hadits Rasulullah   maka tinggalkanlah pendapatku”. Al imam Malik bin Anas berkata, “Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah dan terkadang benar”. Al Imam Asy Syafi’i berkata, “Bila kalian dapatkan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah  maka peganglah hadits dan tinggalkanlah pendapatku”. Al Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Jangan kalian taklid kepadaku atau kepada Malik, Syafii, Audza-i, dan Asy Syauri, tapi ambillah dari sumber mereka mengambil”. (Sifat Shalat Nabi, Al Albani, pendahuluan edisi pertama). Ini adalah hak para sahabat nabi yang dikatakan oleh Rasul  sebaik-baik generasi pernah melakukan kesalahan misal di perang uhud, kasus Ibnu Abbas dalam hal riba yang beliau sangka bukan riba dan masih banyak contoh lain padahal mereka adalah para sahabat Rasul . Para salaf pun ada yang tercatat dengan kesalahan-kesalahan mereka misal ada diantara mereka yang menganggap bahwa Alloh  tidak dilihat seperti yang diyakini Al Imam Al Mujahid dan Abi Sholeh. Diantara mereka juga ada yang menganggap bahwa Alloh  tidak heran (lihat Juz fi ahlul ahwaa wal bida’ wal mutaawwil, Ali Khudair hal 21). Shohih Bukhari yang disebut kitab yang paling benar setelah Al Qur’an (lihat muqaddimah shohih Al Bukhari) pun tak kosong dari kritik. Adalah Al Imam Ad-Daaruquthni memiliki kritikan terhadap Shohih Al Bukhari begitu juga konon Syeikh Al Albani juga demikian. Menyebutkan contoh kesalahan-kesalahan yang diperbuat para ulama’ tentu akan menghabiskan banyak lembaran, tapi kalau ingin lebih dalam mengetahui masalah ini silahkan baca kitab Raf’ul malam min aimmatil a’lam karangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Ibarat pepatah “Tidak ada gading yang tak retak” inilah yang ingin ana katakan untuk tulisan antum terlepas apakah yang ana anggap ini benar atau salah, ana melihat ada beberapa hal pada tulisan antum yang kurang tepat kalau tidak malah dikatakan salah -wallahua’lam– apakah penyebabnya karena ana yang memang tidak bisa memahami bahasa antum atau kesalahan pengetikan atau memang demikian yang antum yakini dan maksudkan.

Untuk itulah sebenarnya ana ingin tanyakan kepada antum langsung dan antum sudah tahu apa yang terjadi antara kita. Ana tak berhasil meyakinkan antum untuk cukup berdiskusi lewat alat, maka ana menghormati apa yang menjadi jawaban antum kala itu. Akan tetapi isykal adalah isykal hati ini merasa tidak tenang, terlebih ada beberapa ikhwan yang merasakan hal yang sama. Maka ana berpendapat

لا يجوز تأخيرالبيان في وقت حا جته . Kemudian ada ikhwan yang menyarankan supaya ana menulis apa yang menjadi isykal untuk kemudian dikirim kepada antum paling tidak “maa laa yudraku kulluhu laa yutraku julluhu“, maka inilah apa yang sekarang ada di tangan antum. Apa yang antum baca ini adalah bentuk rasa cinta sesama muslim, apalagi ana tahu antum adalah “bolo dewe” sekaligus bentuk koreksi dan tabayun apakah ana yang salah memahami atau salah ketik atau memang begitu adanya. Supaya tidak berkepanjangan, baik ana mulai menyebutkan apa-apa yang menjadi isykal bagi ana :

1. Halaman 50 poin 3. “Membuat perantara dalam beribadah dan meminta pertolongan kepada selain Alloh “

Kemudian antum berkata, “Hal ini sering dilakukan oleh kaum muslimin hari ini.”

Ana katakan : meminta pertolongan kepada selain Alloh  dalam perkara yang hanya dimampui Alloh  ini adalah syirik akbar tanpa diragukan antum pun mengatakan demikian. Pada hal. 43 ketika antum berbicara tentang syirik do’a beribadah kepada selain Alloh  ini juga jelas-jelas syirik akbar. Persoalannya kenapa mereka orang-orang yang sering melakukannya hari ini antum katakan muslim? Antum katakan “sering”, berarti paling tidak lebih dari sekali melakukan syirik akbar. Sekali lagi, mengapa orang yang melakukan syirik akbar dikatakan muslim? Ini yang ana fahami dari apa yang antum tulis, menurut ana menyebut pelaku syirik sebagai muslim adalah sebuah kesalahan fatal, seharusnya mereka paling tidak disebut musyrik bukan muslim, kenapa? Karena mereka melakukan syirik. Tidak dikafirkan memang kalau ternyata belum tegak hujjah pada mereka, karena hukum kafir kaitannya dengan sampainya hujjah risalah dan juga tidak dikatakan murtad karena kemurtadan kaitannya dengan keislaman. Jadi rumusnya orang yang melakukan syirik,

  1. Dia disebut musyrik kalau belum sampai hujjah,
  2. Disebut kafir musyrik kalau sudah sampai hujjah,
  3. Disebut kafir musyrik murtad kalau sebelumnya dia seorang muwwahid, lalu melakukan syirik akbar dengan sengaja tanpa dipaksa.

Dimana masing-masing dari mereka memiliki perbedaan hukum dan kadang persamaan hukum baik di dunia dan akhirat, sehingga tidak membedakan mereka dalam asma’ dan ahkam, akan terjadi seperti yang dikatakan oleh Syeikh Abdul Lathief bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahumulloh.

وكم هلك بسبب قصورالعلم وعدم معرفة الحدود والحقائق من امة وكم وقع بذالك من غلط وريب وغمة مثال ذالك الا سلا م والشرك نقيضان لا يجتمعان  ولا يرتفعان والجهل بالحقيقتين او احدهما اوقع كثيرا من الناس بالشرك وعبادة الصالحين لعدم معرفة الحقائق وتصورها

(منهاج التأسيس ص 12 /  الحقائق ص 5)

Inilah yang akan terjadi ketika kita tidak mendudukkan seseorang pada tempat yang menjadi haknya. Jadi yang perlu diperhatikan adalah bahwa Islam dan syirik adalah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya tidak akan pernah menyatu dan bertemu tidak juga akan beriringan tapi keduanya akan selalu berlawanan dan saling membatalkan.

قال تعلى ……..

” Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”  (Yunus:32)

( قال تعلى : ………………. (الد هر : 3)

قال تعلى………

Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan“. (التغابن : 2)

Itulah al haq dan al bathil, syukur dan kufur, mukmin dan kafir masing-masing saling bertentangan.

قال الشيخ الاسلام ابن تيمية : ولهذا كان كل من لم يعبد الله فلابد ان يكون عابدا لغيره يعبد غيره فيكون مشركا وليس في بني ادم قسم ثالث بل اما موحد او مشرك … (الفتاوى ۱٤/٢۸٢, ٢۸٤)

Jadi kata Syeikh kalau tidak muwwahid berarti musyrik. Mengatakan orang Islam sebagai musyrik tentu kesalahan yang besar begitu juga sebaliknya mengatakan orang musyrik sebagai muslim adalah kesalahan yang tidak ringan karena keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling berlawanan.

Berkata Syeikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahab ketika beliau mensyarih asli din Islam dan qaidahnya serta Syeikh Abdul Lathief di dalam Al Minhaj At Ta’sis hal. 12, mereka berdua mengatakan :

من فعل الشرك فقد ترك التوحيد فانهما ضدان لايجتمعان ونقضيان ولايجتمعان ولا يرتفعان

(lihat pembahasan masalah ini di dalam kitab Haqoiq fii tauhid, Syeikh Ali Al Khudair hal. 9)

Antum pun telah mengutip pendapat Ibnu Hazm pada hal. 146 bahwa manusia atau jin hanya terbagi mukmin atau kafir, ini tentu hukum hakiki, sedang secara umum manusia terbagi menjadi 3, mukmin, munafik, dan kafir. Dalam hal ini Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

الناس كانوا ثلاثة اصناف مؤمن ,كافر مظهر للكفر ,منافق مظهر للاسلام مبطن للكفر

(الفتاوى 7/617)

Begitu juga misalnya Syeikh Sulaiman ibnu Sahman beliau membagi manusia dalam hal ini dan beliau menisbatkan bahwa ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

وعلى هذا فالناس اما مؤمن ظاهرا وباطنا واما كافر ظاهرا وباطنا أو مؤمن ظاهرا كافرا باطنا أو كافرا ظاهرا مؤمن باطنا

(lihat Kasyfu auham atau kitab Ath Thoobaqat, Ali Khudair hal. 26)

Inti dari bahasan ini adalah bahwa Islam dan syirik, iman dan kufur, haq dan bathil adalah dua hal yang berlawanan. Sehingga mengatakan orang yang berbuat syirik sebagai muslim berarti mencampur aduk keduanya.

Ada baiknya ana sampaikan dalil-dalil dari perincian pelaku syirik :

  1. Pelaku syirik yang belum sampai pada mereka hujjah risalah,

1. Ditinjau dari sisi asma’uddin (sebutan) dia disebut musyrik.

  • Dalil dari Al Quran

(sebagian dalil sudah antum sebut pada hal. 146, tapi tidak mengapa ana ulang)

قل تعل : “وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ… ” (التوبة : ٦)

Dalam ayat ini Alloh menyebut mereka musyrik padahal mereka belum mendengar kalam Alloh .

قال تعلى : ” مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ…” (التوبة : ١١٣)

Ayat ini berkenaan dengan ibunda Rasul  yang mati dalam kesyirikan. Beliau ingin berdoa untuk ibu beliau, tapi Alloh  melarang dan Alloh menyebut mereka musyrik.

قال تعلى : “وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلاَدِهِمْ شُرَكَآؤُهُمْ…” (الانعام : ١٣٧)

Alloh menyebut mereka musyrik sebelum datang pada mereka risalah.

قال تعلى : “لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ”

(البينه : ١)

Alloh  menyebut mereka musyrikin, padahal belum datang kepada mereka al bayyinah.

قال تعلى : “فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّمَّا يَعْبُدُ هَـؤُلاء مَا يَعْبُدُونَ إِلاَّ كَمَا يَعْبُدُ آبَاؤُهُم مِّن قَبْلُ…” (هود : ١٠٩)

Alloh  menyebut bapak-bapak mereka beribadah kepada selain Alloh  (ini syirik) padahal hujjah belum datang kepada mereka.

Ayat-ayat yang semisal ini banyak, misal Al Ankaabut : 70, Al A’raf : 173, Al A’raf : 71, Yusuf : 34-35, An Naml : 47, An Naml : 24, Al Baqarah : 213.

Ayat-ayat di atas sebagai dalil pertama tentang penyebutan musyrik pada pelaku syirik meskipun mereka ada pada zaman fatroh atau mereka jahl atau belum datang kepada mereka Rasul.

  • Dalil dari sunnah

عن الأسود بن سريع رضي الله عنه مرفوعا اربعة يمتحنون يوم القيامة , فذكر الاصم والاحمق والهرم ورجل مات في فترة (كتاب الحقائق في التوحيد ص 16)

Dalam hadits ini, orang yang mati dalam keadaan fatroh dia akan di imtihan (diuji). Ini juga seperti yang antum sebut, misal di hal. 133 dan antum juga menyebut pendapat Ibnu Taimiyah dalam masalah imtihan di hal. 134, sedang kita tau seandainya mereka muslim atau kafir tentu mereka tidak di imtihan tapi dihisab. Sebenarnya dalil ini lebih cocok untuk bahasan bagaimana status mereka (musyrik yang belum tegak hujjah) di akhirat? Yang insya Alloh bahasan itu akan datang. Tapi tak ada salahnya disebut disini karena ada kaitan yang erat dalam masalah yang dibincangkan. Dan juga hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, diantaranya Rasul  bersabda :

واهلي لعمر الله ما اتيت عليه من قبره عامري او قريشي من مشرك فقل ارسلني اليك محمد يبشرك بمايسؤك تجري على وجهك وبطنك في النار (مسند الامام احمد)

Atau silahkan lihat kitab Al jami’ buku ke 6 hal. 43. yang ana tulis ini apa yang terdapat di Al jami’ dan disana tertulis hadits diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam (as sunnah).

Dalam hadits ini Rasulullah  menyebut musyrik terhadap Amiry atau Quraisy yang telah mati, sedang kita tahu mayoritas mereka berbuat syirik sebelum diutus pada mereka. Dan kita tahu ketika para Rasul diutus kepada kaumnya, mereka menyebut kaumnya dengan musyriikun. Kemudian para Rasul mengajak mereka untuk meninggalkan syirik dan mengajak untuk beribadah hanya kepada Alloh  saja. Pernyataan ini berdasar kepada Al Quran, sunnah dan ijma’ (ini yang dikatakan oleh Syeikh Al Khudair dalam Al Haqoiq hal. 16). Inilah dalil dari sunnah tentang sebutan orang yang berbuat syirik meskipun jahl atau belum sampe hujjah atau hidup pada masa fatroh bahwa mereka disebut musyrik bukan muslim apalagi muwwahid. Lalu kira-kira apa pendapat antum kalau ternyata mereka sudah sampai hujjah bahkan mengaku muslim?? Akan datang penjelasannya insya Allah.

  • Dalil dari ijma’

قال الشيخ ابن سحمان : وقد تقدم ان عامة الكفار والمشركون من عمد نوح الى وقتنا هذا جهلوا وتأولوا … (كشف الشبهتين / كتاب الحقائق ص 17)

Antum perhatikan bagaimana Syeikh Sulaiman mengatakan ijma’ dari zaman nabi Nuh sampai pada masanya dengan mengatakan musyrik terhadap orang-orang yang jahil dan mentakwil. Tentu karena mereka berbuat syirik, karena tidak mungkin Syeikh mengatakan musyrik kalau mereka tidak berbuat syirik.

قال الشيخ اسحاق بن عبد الرحمان : بل إن اهل الفترة الذين لم تبلغهم الرسالة والقران وماتوا على  الجاهلية لايسمون مسلمين بالاجماع ولا يستغفرلهم وانما إختلف أهل العلم في تعذيبهم في الاخرة (الحقائق ص 17)

Ana kira persoalan ini wadzih bagi orang alim seperti antum. Bagaimana Syeikh Ishaq mengatakan ijma’ ketidak islaman orang yang mati dalam kondisi fatroh dan belum sampai padanya Risalah dan Quran.

Syeikh Abdul Lathief dan Ishaq ibnu Abdirrahman dan Ibnu Sahman menukil ijma’ dari Ibnul Qayyim bahwa orang yang hidup pada zaman fatroh dan orang yang belum sampai hujjah bahwa mereka tidak dihukumi Islam dan tidak masuk dalam sebutan muslim (Syeikh Ali Al Khudair juga mengatakan bahwa orang-orang arab sebelum diutusnya Rasul mereka disebut musyrikin arab dan ini adalah ijma’ ulama’, para ahli tafsir juga ahli bahasa dan ahli sirah [Al Haqoiq fii tauhid, hal. 18]). Sedang kesyirikan, pelakunya disebut musyrik (lihat kitab Al Haqoiq fii tauhid, Ali Al Khudair hal. 17).

Inilah ijma’ yang disebutkan para ulama’ tentang sebutan musyrik bagi orang yang melakukan syirik, meskipun dalam kejahilan atau hal-hal yang secara hukum di udzur tapi tidak di udzur secara asma’ karena harus dibedakan antara ahkamud-diin dan asma’ud-diin dikarenakan antar keduanya memiliki perbedaan dan juga persamaan. Insya Alloh akan datang penjelasan mengenai perbedaan dan persamaan keduanya.

Setelah ana sebutkan dalil-dalil dari Al Quran, sunnah dan ijma’ (dan 3 hal ini sebagai dalil yang disepakati), ana akan sebutkan aqwal ulama’ dalam masalah ini, yaitu pelaku syirik dia disebut musyrik.

قل الشيخ الاسلام ابن تيمية : إسم الشرك يثبت قبل الرسالة لأنه يشرك بربه ويعدل به

(الفتاوى 20/38 : الحقائق ص 18)

  • Nama syirik sudah ada sebelum risalah, dikarenakan dia menyekutukan Rabbnya dan menjadikan baginya tandingan, selesai.

قل الشيخ الاسلم محمد بن عبد الوهاب : كما يفعل المشركون اليوم عند قبر الزبير او عبد القادر او غيرهم… (تاريخ نجد ص 341)

  • Seperti yang dikerjakan orang-orang musyrik pada hari ini di kuburnya Zubair atau Abdul Qadir atau yang lain, selesai.

Perhatikanlah bagaimana Syeikh menyebut orang-orang yang beribadah di kuburnya Zubair dan Abdul Qadir sebagai musyrik bukan muslim. Padahal kalau antum baca buku-buku beliau, antum akan tahu bahwa yang beliau sebut musyrik adalah orang-orang yang mengaku Islam, mereka sholat, puasa dan zakat. Akan tetapi Syeikh tetap menyebut mereka musyrik karena perbuatan syirik mereka. Adapun pengkafiran mereka, Syeikh tidak lakukan karena kehati-hatian barangkali diantara mereka ada yang belum sampai hujjah, karena pengkafiran itu berkaitan dengan sampainya hujjah, sedang para ulama’ da’wah nejd sepakat bahwa masa Syeikh Abdul Wahab dan Ibnu Taimiyah adalah masa fatroh. (lihat kitab Al Haqoiq fii tauhid, hal. 22)

قل الشيخ الاسلم محمد بن عبد الوهاب : و انت ترى المشركين من أهل زماننا ولعل بعضهم يدعى أنه من اهل العلم و فيه زهد و إجتهاد وعباده… (المتمّمة ص 13)

  • Dan kamu lihat orang-orang musyrik di zaman kita dan barangkali sebagian mereka mengklaim bahwa dia adalah ahli ilmu dan padanya sifat zuhud, ijtihad dan ibadah, selesai.

Antum bisa lihat disini padahal mereka ada yang mengaku ahli ilmu, zuhud dan ibadah tapi tidak menghalangi Syeikh untuk menyebut mereka musyrikin dikarenakan perbuatan syirik mereka.

  • Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab juga berkata : “Maka macam orang-orang musyrik ini dan yang serupa dengannya dari kalangan orang-orang yang beribadah kepada para wali dan orang-orang sholih, kami menghukumi bahwa mereka itu adalah orang-orang musyrik…” (Ad duraar as saniyyah 1/522), selesai.

Jelas sekali pernyataan beliau ini, bahwa beliau menyebut orang yang berbuat syirik adalah musyrik meskipun mereka mengaku muslim dan jahil tapi mereka tidak diudzur dari sisi asma’ meskipun diudzur dari sisi ahkam kalau jahilnya mu’tabar.

  • Putra-putra Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab dan Hamd bin Nashir ketika ditanya tentang orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul tapi juga mereka berbuat syirik, mereka menjawab :

اذا كان يعمل باالكفر و الشرك لجهله او عدم من ينبهه لا نحكم بكفره حتى تقام عليه الحجة ولكن لا نحكم بانه نسلم الا ان قال ولا يقال ان لم يكن كافرا فهو مسلم… (الدرر 10/136)

Jika dia melakukan kekafiran dan syirik dikarenakan jahl atau tidak ada yang memperingatinya, kami tidak menghukumi kafir sampai ditegakkan hujjah pada mereka. Akan tetapi kami juga tidak menganggap bahwa dia muslim -sampai perkataan beliau- dan tidak dikatakan kalau dia tidak kafir berarti muslim… selesai.

  • Husain dan Abdullah, anak-anak Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab ketika ditanya tentang orang-orang yang mati sebelum sampai da’wah dan tidak mengerti Islam, itulah yang banyak menimpa pada masa beliau, mereka manjawab :

ان من مات من اهل الشرك فبل بلوغ هذه الدعوة فالذي يحكم عليه انه اذا كان معروفا بفعل الشرك ويدين به ومات على ذالك فهذا ظاهره انه مات على الكفر ,ولايدعى له ولايضحي له ولا يتصدق عنه (الدرر 10/142)

Lihatlah apa yang beliau fatwakan, mereka menghukumi kafir pada orang yang seperti ini. Perlu ana jelaskan disini bahwa kafir yang beliau maksud adalah syirik (musyrik) atau istilah lain kafir qobla da’wah. Disini perlu dibedakan antara kafir qobla da’wah dengan kafir ba’da da’wah. Kalau kafir qobla da’wah adalah kafir yang pelakunya tidak diadzab sebelum ditegakkan hujjah baik di dunia maupun di akhirat. Sedang kafir ba’da da’wah adalah kafir yang pelakunya diadzab di dunia maupun di akhirat. (lihat Al Jami’ buku ke 6 hal.14).

Tolong hal ini juga diperhatikan, karena ana lihat antum kurang jelas ketika menjelaskan masalah ini meski antum juga sudah mengisyaratkan hal ini seperti pada hal. 141. Tapi ana khawatir masalah ini banyak tidak difahami pembaca, sehingga tidak tercapai salah satu tujuan tulisan antum, yaitu memberi penerangan dan penjelasan pada permasalahan yang menjadi bahan tulisan antum.

  • Syeikh Abdul Aziz Qodhi Dir’iyyah ketika ditanya apakah orang yang beriman kepada Alloh  dan Rasul-Nya lalu melakukan sesuatu yang membuat dia kafir sementara dia jahil. Apakah dia tidak boleh dikafirkan sebelum ditegakkan hujjah??

Beliau menjawab :

اذا كان يعمل بالكفر والشرك لجهله ولعدم من ينبهه لا نحكم بكفره حتى تقوم عليه الحجة ولكن لا نحكم بانه مسلم -إلا ان قال- ولا يقال ان لم يكن كافرا فهو مسلم…

(الرسالة والمسائل النجدية 5/576)

Apa yang beliau katakan ini sama seperti apa yang dikatakan oleh putra-putra Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab dan Hamd bin Nashir dan telah ana sebutkan sebelum ini.

  • Syeikh Abdullah ibnu Abdurrahman Aba butin berkata : “Dan orang yang mengucapkan laa ilaha illallah namun dia suka melakukan syirik akbar, seperti meminta kepada mayit dan yang ghoib, memohon kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan dan supaya diselamatkan dari bencana. Taqarrub kepada mereka dengan nadzr atau sesembelihan, maka dia itu musyrik, baik mau atau tidak mau (dengan status itu)”. Selesai.

(Risalah makna kalimat tauhid yang diterbitkan bersama dengan Al Kalimah An Nafi’ah, hal. 106)

  • Beliau juga berkata ketika mengomentari hadits ‘Addiy : “Alloh  mencela mereka dan menamakan mereka sebagai musyrikin. Padahal mereka tidak mengetahui bahwa perbuatan mereka ini adalah bentuk peribadatan kepada arbab dan ruhban mereka, namun mereka tidak diudzur dengan kejahilan“. (Ad Duror : 10/393)
  • Syeikh Abdul Lathief bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahab berkata ketika menafsirkan perkataan Ibnul Qayyim yaitu tentang orang-orang yang taqlid kepada guru-guru mereka yang membuat pelakunya kafir. Diantara perkataan beliau : “Dan adapun nama syirik, maka itu tepat untuk mereka dan nama (musyrik) layak untuk mereka”. (Minhaj At ta-sis wat taqdis fi kasyfi syubuhat dawud Ibnu Jirjis hal. 99)

Syeikh Ahmed Hamud Al Kholidy berkata dalam komentarnya terhadap kitab Takfir Al Mu’ayyan, diantara ucapan beliau : “Yaitu mereka itu dinamakan orang-orang musyrik” (Al ‘Urwah Al Wutsqo hal. 18). Selesai

Ana cukupkan sampai disini penyebutan dalil-dalil tentang sebutan bagi pelaku syirik. Inti dari bahasan ini adalah bahwa orang yang melakukan syirik, maka dia disebut musyrik atau kafir qobla da’wah (yang bermakna peniadaan adzab [hukuman] baik di dunia maupun di akhirat sebelum ditegakkan hujjah kepada mereka). Tidak ada udzur sama sekali dalam masalah sebutan musyrik kecuali ikrah dan khatha’ yang muktabar.

Jadi kembali ke akar masalah, menyebut orang-orang yang melakukan syirik akbar sebagai kaum muslimin, menurut ana (berdasar kepada dalil-dalil yang sudah ana utarakan) adalah kesalahan dan hal ini yang ana kira terjadi pada tulisan antum hal. 50.

Barangkali ini sebagai tambahan dan perbandingan. Adalah Syeikh Sulaiman Nashir bin Abdullah Al-Ulwan ketika mensyarah Nawaaqidil Islam yaitu pada nawaaqid yang ke-2. Diantara ungkapan beliau : “Sebab, mayoritas manusia yang mengaku dirinya beragama Islam”. Selesai (Kupas Tuntas 10 Pembatal Keislaman hal. 43).

Kalimat ini tentu berbeda dengan yang terdapat dalam buku antum hal. 50. Disana tertulis “hari ini sering dilakukan oleh kaum muslimin”. Wallahua’lam bish-showab

Sampai disini penjelasan poin I bagi pelaku syirik akbar yang belum sampai hujjah, sekarang ke poin…

  1. Ditinjau dari sisi Ahkamud-diin

Apa maksud ahkamu ad-diin? Maksudnya hukum-hukum yang diberlakukan atas diri (dalam hal ini adalah pelaku syirik akbar yang belum sampai hujjah) baik di dunia maupun di akherat. Seperti masalah pernikahan, warisan, kecintaan, pembelaan, permusuhan, keberlepasdirian, persaksian, perwalian, sholat di belakangnya, berdoa untuknya, mencela dan melaknatnya juga masalah jizyah, halal, dan tidaknya harta dan hartanya. Statusnya di akherat, halal dan tidaknya sesembelihannya dan lain-lain dari perkara-perkara yang sifatnya pemberlakuan hukum atasnya (kitab Al Haqoid Fi Tauhid hal. 14). Maka pelaku syirik yang belum sampai hujjah, mereka tidak mendapatkan ancaman adzab dan janji pahala kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat sebelum ditegakkan hujjah pada mereka. Juga tidak berlaku padanya hukum-hukum dan hak muslim karena dia musyrik. Ini adalah konsekuensi syar’i bagi kesyirikannya.

Contoh, tidak terjaganya harta dan darahnya, akan tetapi tidak juga boleh dibunuh/diperangi sebelum dia didakwahi kepada Islam. Seperti halnya Rosul  dan para sahabat tidak memerangi satu kaum terlebih dahulu sebelum mereka diajak kepada Islam (lihat Masail Min Fiqhi Al Jihad, Abu Abdullah Al Muhajir).

Contoh lain, tidak boleh mendo’akan kebaikan dan memohonkan ampunan untuk mereka yang mati masih dalam kondisi musyrik.

  • Secara umum seperti halnya larangan Alloh  terhadap Rasul  untuk mendo’akan ibu beliau yang mana kita tahu ibu beliau meninggal di atas millah kaumnya yang musyrik (surah Al Baqarah ayat 113 dan tafsirnya)
  • Seperti juga perintah Rasul  untuk mengabarkan berita yang menakutkan (bukan disuruh untuk mendoakan kebaikan dan ampunan) kepada orang musyrik mana saja baik amiry atau quraisy yang mati dalam kemusyrikan ketika kita melewati kuburnya (hadits diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Abi A’sim dan Ath-Thobary dan Ibnu Manduh dan yang lain. Lihat Al Jami’ 6/43).

Ini jelas berbeda ketika kita melewati kuburan kaum muslimin, dimana kita disunnahkan mendo’akan kebaikan buat mereka di akhirat. Mereka tidak akan masuk jannah dan tidak juga masuk neraka sebelum mereka diuji (imtihan). Ini seperti apa yang antum katakan pada hal. 131, 133.

  • Ibnu Taimiyah berkata : “Dan bagi yang belum tegak hujjah di dunia dengan risalah seperti anak-anak, orang-orang gila dan ahlu fatroh, maka kondisi mereka seperti yang sudah ditunjukkan oleh dalil-dalil yang ada bahwa mereka akan diuji pada hari kiamat (dengan cara) didatangkan kepada mereka orang yang akan memerintahkan mereka untuk menta’atinya. Maka kalau mereka menta’atinya akan diberi ganjaran, sedang kalau mereka menyelisihi/tidak menta’atinya akan ditimpakan adzab”.

(Al Jawab As-Shohih Liman Buddila Dini Al-Masih 1/312 ; Al Jami’ 6/22)

  • Ibnu Taimiyah juga berkata : “Siapa saja yang belum sampai dakwah kepadanya di dunia (mereka) akan diuji di akhirat -sampai perkataan beliau- barang siapa belum sampai dakwah Rasul, seperti anak-anak dan orang gila dan yang mati betul-betul dalam kondisi fatroh, yang seperti ini akan diuji di akhirat seperti atsar (dalil) yang telah ada”. (Al Fatawa 14/477 ; Al Jami’ 6/22)
  • Ibnu Taimiyah berkata : “Sesungguhnya bagi siapa yang belum sampai risalah padanya di dunia, maka akan diutus kepada mereka pemberi peringatan di sebuah pelataran pada hari kiamat (untuk diuji)”. (Al Fatawa 17/308 ; Al Jami’ 6/23)

Hal ini sesuai dengan firman Alloh,

. “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan kami tidak akan meng’azab sebelum kami mengutus seorang rasul“. (الأسرا ء : 15)

Dan juga sesuai dengan yang antum tulis pada hal. 131, 133, 134, bahwa Alloh  tidak akan mengadzab hamba sebelum ditegakkan hujjah padanya imma di dunia atau di akhirat. Sampai disini pembahasan kelompok pertama dari 3 kelompok pelaku syirik akbar, yaitu kelompok pertama : yang belum sampai pada mereka hujjah (sudah selesai pembahasannya, Alhamdulillah).

Kesimpulan dari kelompok pertama ini :

I.      Secara asma’ud-diin mereka disebut musyrik bukan muslim atau muwwahid, meskipun mereka syahadat, sholat, puasa, haji dan mengaku dirinya Islam, tidak boleh disebut kafir kecuali kafir bi ma’na syirik atau kafir qobla da’wah atau boleh juga musyrik qobla da’wah bi ma’na peniadaan adzab.

II.    Secara ahkamud-diin diberlakukan hukum dzaahir sebagai orang kafir dan di akhirat mereka akan di-imtihan (diuji), untuk menentukan apakah mereka di neraka atau jannah, imtihan ini sebagai ganti belum tagakknya hujjah pada mereka di dunia, wallahua’lam bish-showab.

Mari kita bahas kelompok ke…

  1. Pelaku kesyirikan yang sudah sampai pada mereka dakwah atau hujjah

Yaitu, yang sudah sampai pada mereka Rasul (risalah) [buku antum hal. 132], mereka berakal, mendengar Islam dan Al Quran tapi bersama dengan itu mereka tetap dalam kesyirikan. Mereka ini terbagi menjadi 2 kelompok,

  • Kafir musyrik yang bukan ahlil kitab
  • Kafir musyrik dari kalangan ahlil kitab

Adapun ditinjau dari sisi asma’uddin dan ahkamuddin adalah sebagai berikut :

1. Ditinjau dari sisi Asma’uddin

Apa yang dimaksud dengan asma’uddin? Maksudnya adalah sebutan seperti muslim, kafir, mu’min, musyrik, munafiq, fasiq, pendosa, mulhid, sesat, mujtahid,  mungqolid, jahil, yahudi, nasrani, majusi dan yang lain dari asma’uddin (Al-Haqoiq hal. 14)

Adapun kelompok yang kedua ini yaitu kelompok pelaku syirik akbar yang sudah sampai pada mereka hujjah akan tetapi tetap di atas kesyrikannya. Mereka disebut musyrik kafir, disebut musyrik karena mereka berbuat syirik dan disebut kafir karena sudah sampai hujjah tapi tidak mau menerimanya dengan bertauhid, atau kalau penyebutannya dikaitkan dengan sampai tidaknya dakwah maka boleh dikatakan sebutan mereka musyrik ba’da dakwah dan kafir ba’da dakwah, disini maksudnya adalah kafir musyrik yang mendapat ancaman adzab. Adapun dalilnya :

  1. Dalil dari Al-qur’an

Tidak berlebihan sekiranya ana katakan bahwa seluruh ayat dalam Al Quran yang berbicara tentang orang-orang Quraish yang tidak mau menyambut dakwah Rasul  adalah menjadi dalil dalam masalah ini, meskipun dalam ayat-ayat itu tidak disebutkan kata musyrik atau kafir karena ayat-ayat itu pasti keluar dari lisan Rasul , sementara beliau  adalah hujjah bagi seluruh jin dan manusia. Disini akan ana sebutkan beberapa ayat saja untuk mewakilinya.

Firman Allah subhanahu wataalaa:

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir”. (الكافرون : 1)

Lihatlah bagaimana Alloh  menyebut mereka kafir. Siapa mereka? Al Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir Quraish. Sebab turunnya ayat ini adalah ajakan kafir Quraish kepada Rasulullah  untuk menyembah Rabb mereka masing-masing secara bergantian, yaitu mereka akan menyembah Alloh  satu tahun dan mereka meminta Rasulullah  menyembah sesembahan mereka 1 tahun, maka turunlah ayat ini dimana Alloh  langsung menyebut mereka kafir karena tidak mau bertauhid, bahkan malah menentang tauhid. Sedang kita tahu sesembahan mereka hubbal, latta, uzza, dan manat, sehingga sebutan mereka adalah KAFIR MUSYRIK (lihat tafsir Ibnu Katsir surah Al Kaafirun). Sebenarnya satu ayat ini sudah sangat cukup sebagai dalil dalam masalah ini, tapi tak mengapa ana tambahkan dalil-dalil lain, mudah-mudahan bermanfa’at.

Alloh  berfirman:

“Dan (Inilah) suatu permakluman daripada Allah dan rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, Maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”

(QS. At Taubah : 3)

Alloh  menyebut mereka musyrik karena mereka berbuat syirik dan Alloh  menyebut mereka kafir (di akhir ayat) karena mereka tidak mau bertauhid, padahal Rasulullah  ada di tengah mereka. Maka jadilah sebutan mereka KAFIR MUSYRIK.

Alloh  berfirman:

“Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, Karena Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At Taubah : 12)

Al Hafizh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengatakan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah berkenaan dengan para pemimpin kafir Quraish (tafsir Ibu Katsir ayat ini). Mereka disebut kafir oleh Ibnu Katsir karena mereka tidak bertauhid sementara Rasulullah  dan para da’i tauhid dari kalangan sahabat beliau  ada di tengah mereka dan kita pun tahu bahwa mereka menyembah selain Alloh , maka jadilah sebutan mereka KAFIR MUSYRIK.

Alloh  berfirman: “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.” (QS. At Taubah : 17)

Mereka disebut musyrik karena mereka berbuat syirik tentunya, lalu Alloh  menjadi saksi tentang pengakuan mereka sendiri bahwa mereka adalah kafir, maka kita harus memanggil mereka KAFIR MUSYRIK. Ana cukupkan dalil dari Al Quran sampai disini karena kalau kita sebutkan semua, barangkali sama dengan menyalin sebagian isi Al Quran ke dalam lembaran ini, itu dikarenakan banyak ayat-ayat dalam masalah ini. Wallahua’lam

  1. Dalil dari as-sunnah

Rasulullah  bersabda, “Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak seorang pun dari kalangan umat ini yang mendengar tentang (kenabianku) baik dari kalangan Yahudi atau Nashrani (atau yang lain) kemudian dia tidak beriman terhadap apa yang aku bawa kecuali dia termasuk dari penduduk neraka”. (HR. Muslim No. 386 / lihat buku antum hal. 132)

Siapapun yang mendengar kenabian Muhammad  (berarti sudah sampai hujjah), kok tidak beriman? Lalu dia mati, maka tempatnya dalah neraka. Sementara kita tahu bahwa tidak ditetapkan sebagai penghuni neraka kecuali orang-orang kafir. Maka bisa disimpulkan bahwa orang seperti yang digambarkan Rasulullah  adalah KAFIR. Kemudian sabda Rasulullah , “tidak beriman terhadap apa yang aku bawa”. Kita tahu bahwa yang dibawa Rasulullah  adalah tauhid, berarti maknanya dia tidak bertauhid. Kalau dia tidak bertauhid berarti dia berbuat syirik seperti dikatakan Ibnu Taimiyah bahwa manusia itu kalau bukan muwwahid maka dia musyrik (Al Fatawa 14/282, 284). Semisal juga dengan yang dikatakan Syaikh Abdurrahman ibnu Hassan ibnu Muhammad ibnu Abdil Wahab (Minhaju Ta’sis hal. 12 ; Al Haqoiq hal. 9). Sehingga kesimpulannya orang yang digambarkan Rasulullah  adalah KAFIR MUSYRIK, wallahua’lam bish-showab

  1. Dalil-dali ijma’

قال الشيخ ابن تيمية : ثبت في الكتاب والسنة والاجماع ان من بلغته رسالة النبي صلى الله عليه وسلم فلم يؤمن فهو كافر… (الفتاوى 12/496)

Dan bahasan kita adalah seperti yang di-ijma’ kan oleh Syeikh, maka mereka disebut KAFIR.

قال الشيخ عبد الرحمن بن عبد الوهاب : الاجماع منعقد على ان من بلغته دعوة الرسول فلم يؤمن فهو كا فر… (الدرر 10/247 )

Ini persis dengan apa yang dikatakan oleh Syeikh Islam Ibnu Taimiyah, maka bisa dilihat bahwa ijma’ menyebut KAFIR terhadap siapa saja yang telah sampai padanya hujjah tapi tidak mau mengimaninya.

  1. Perkataan para ulama’

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Para ulama’ tidak mengkafirkan orang melakukan sesuatu dari hal-hal yang diharamkan karena sebab baru masuk Islam atau hidup di pedalaman yang sangat jauh (terpencil). Karena vonis kafir tidak ada kecuali setelah sampainya hujjah”. (Al Fatawa 28/501)

Beliau juga berkata, “Kekafiran yang berkonsekuensi adzab tidak ada kecuali setelah sampainya risalah”. (Al Fatawa 2/78)

Beliau juga berkata, “Kekafiran setelah tegak hujjah berkonsekuensi adzab dan kekafiran sebelum tegak hujjah mengurangi nikmat dan tidak menambah”. (Al Fatawa 16/254)

Semua ungkapan beliau di atas tentang kekafiran orang yang terjadi setelah sampainya hujjah padanya. Sedang bahasan kita ini adalah tentang pelaku kesyirikan (dan kesyirikan adalah penyebab kekafiran yang paling besar) yang sudah sampai hujjah sehingga tidak diragukan lagi tipe yang kita bahas ini disebut dan dihukumi KAFIR.

Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab berkata, “Macam orang-orang yang musyrik itu ada yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang yang beribadah kepada para wali dan orang-orang sholeh, kami vonis mereka sebagai MUSYRIK dan kami menganggap mereka KAFIR, jika hujjah risalah telah tegak pada mereka”. (Adh-Dhuror 1/522)

Lihatlah penyebutan Syeikh kepada pelaku syirik dengan sebutan MUSYRIK dan ditambah KAFIR jika hujjah telah tegak padanya, dan lihatlah apa yang kita bahas.

Beliau juga berkata setelah menukil perkataan Ibnu Taimiyah tentang kafirnya muslim secara mua’ayyan bila menyekutukan Alloh  setelah sampainya hujjah padanya, “Dan kami tidak mengetahui perbedaan dari para ulama’ dalam masalah ini”. (Mufid Al Mushtafid fii Kufri Tarki At-Tauhid dalam aqidah muwwahidin hal. 55) (Adh-Dhuror 9/406)

Syeikh Abdurrahman ibnu Hasan ibnu Muhammad ibnu Abdil Wahab berkata, “Sesungguhnya tauhid itu menuntut adanya peniadaan SYIRIK, berlepas darinya, memusuhi para pelakunya dan pengkafiran mereka ketika hujjah telah tegak pada mereka”. (Syarhu Aslid-diin Al Islam dalam Majmu’atu Tauhid hal. 31)

Syeikh Abdullah ibnu Abdurrahman Aba Buthain berkata, “Sesungguhnya ucapan Syeikh Taqiyuddin bahwa kafir dan qatl (pembunuhan) itu tergantung sampainya hujjah. Ucapan ini menunjukkan bahwa kedua hal ini, yaitu takfir dan qatl tidak tergantung pada faham terhadap hujjah secara mutlak, akan tetapi cukup terhadap sampainya hujjah. Jadi faham terhadap hujjah adalah satu hal, sedangkan sampainya hujjah adalah hal lain”. (Al Kufru Alladzi Yu’dzaru Shohibuhu bil Jahl hal. 13)

Beliau juga berkata di tempat lain, “Dan orang yang mengucapkan laa ilaha illallah namun disamping itu dia juga melakukan syirik akbar, seperti memohon kepada mayit dan orang-orang yang ghoib, meminta kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan dan supaya diselamatkan dari bencana serta taqorrub kepada mereka dengan nadzar dan sembelihan. Maka orang seperti ini adalah MUSYRIK, mau atau tidak mau, sedang Alloh  tidak mengampuni (dosa) penyekutuan terhadap-Nya. Dan siapa yang menyekutukan Alloh , maka Alloh  haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan dengan sebab perbuatan ini, dia menjadi MUSYRIK, dan barangsiapa melakukannya maka dia KAFIR. Namun atas dasar apa yang telah dijelaskan Syeikh tidak boleh dikatakan si fulan KAFIR sampai dijelaskan padanya apa yang dibawa oleh Rasulullah , bila dia tetap ngeyel setelah datangnya penjelasan itu, maka dia dihukumi KAFIR yang halal darah dan hartanya”. (Risalah ma’na Laa illahaillah dalam kalimat An Naafi’ah hal. 106-107)

Kalau kita perhatikan penuturan para a’immah terutama pernyataan Syeikh Ibnu Abdil Wahab di atas dan Syeikh Abu Buthain ini, nampak jelas sekali –walilhamd- bahwa mereka menamakan orang yang berbuat syirik sebagai musyrik meski belum tegak hujjah. Dan apabila telah tegak pada mereka hujjah , a’immah di atas menamai mereka MUSYRIK lagi KAFIR. Ini sangat berbeda dengan yang terdapat dalam buku antum hal. 50 yang menyatakan orang yang sering melakukan kesyirikan sebagai muslimin. Wallahua’lam

Senada dengan yang dituturkan Syeikh Ali Khudair ibnu Khudair dalam kitab beliau (Al Mutamimah likalami A’immati Da’wah fii Masalati Al Jahli fii Asy Syirki Al Akbari hal. 9) mengatakan, “Sesungguhnya Syeikh (maksudnya Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab) tidak mengudzur dengan kejahilan (pelaku syirik akbar) dan menyebut siapa yang mengerjakan syirik maka dia MUSYRIK dan dari kalangan musyrikin dan kadang-kadang Syeikh memaksudkan dengan nama kufur yang bermakna syirik. Ini apabila belum tegak hujjah padanya, sedang apabila sudah tegak hujjah maka (Syeikh) menyebutnya MUSYRIK KAFIR. Dan telah menjadi heran dari ini, yaitu pembedaan antara nama sebelum hujjah dan sesudahnya. Akan tetapi ini adalah sebuah kebenaran dan merupakan madzhab ahlu sunnah seperti yang dinukil Ibnu Taimiyah (rujuk Al Fatawa 20/37-38). Selesai

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang pelaku kesyirikan yang sudah sampai hujjah ditinjau dari sisi.

2. Ditinjau dari ahkamud-diin

Di awal pembahasan ana sebutkan bahwa pelaku syirik akbar yang sudah sampai hujjah terbagi 2, yaitu :

v Kafir musyrik bukan ahlu kitab

v Kafir musyrik ahli kitab

Kedua kelompok ini memiliki persamaan hukum, akan tetapi juga memiliki perbedaan hukum dalam beberapa masalah. Untuk itu perlunya dibedakan antara keduanya, adapun contoh perbedaan hukumnya adalah :

ü  Dari hukum pernikahan, wanita kafir musyrik bukan ahli kitab haram untuk dinikahi oleh muslim, sedang wanita ahli kitab diperbolehkan.

ü  Dari hukum sesembelihan, kafir musyrik yang bukan ahli kitab haram sesembelihannya, sedang sesembelihan ahli kitab halal, wallahua’lam.

Itulah contoh perbedaan 2 kelompok di atas. Sedang secara umum mereka dihukumi,

ü  Di dunia berlaku hukum orang kafir yang sudah diatur oleh syari’at seperti halal darah dan hartanya, boleh diperangi tanpa harus didakwahi lagi. Kemudian tidak mendapatkan kecintaan dan pembelaan, justru harus dibenci dan dimusuhi, dll.

ü  Di akhirat, kita persaksikan bahwa tempatnya di neraka dan kekal abadi di dalamnya, tidak boleh dido’akan dan tidak boleh memintakan ampunan untuknya. Ini seperti larangan Alloh  terhadap Rasul  ketika mau memintakan ampunan untuk orang tuanya. Juga seperti persaksian Rasul  terhadap bapak dan paman beliau bahwa mereka di neraka.

Ana lanjutkan pembahasan tentang pelaku syirik akbar tipe yang ke :

  1. Orang-orang yang telah datang kepada mereka hujjah, lalu mereka menyambutnya sehingga mereka menjadi ahlu Islam, lalu mereka melakukan syirik akbar dengan sengaja tanpa dipaksa

1) Ditinjau dari asma’uddin

Mereka disebut MUSYRIK karena melakukan syirik. Juga disebut KAFIR karena sudah sampai kepada mereka hujjah dan disebut MURTAD karena sebelumnya mereka adalah kaum muslimin. Jadi sebutan mereka MUSYRIK KAFIR MURTAD.

Berkata Syeikh Ali Khudair ibnu Al Khudair, “Jahil (mengaku Islam) yang mengerjakan syirik dan telah sampai padanya hujjah dikarenakan kondisinya yang hidup diantara kaum muslimin, maka yang seperti ini disematkan nama dan hukum murtad seperti yang dikatakan (Syeikh) Abdul Lathief”. (Juz fii Ahli Ahwa wa Al Bida’ wa Al Mutaawwil hal. 16).

Jadi melakukan syirik disebut MUSYRIK, sudah sampai hujjah disebut KAFIR, dulunya Islam disebut MURTAD = MUSYRIK KAFIR MURTAD.

Karena bahasan kita tentang riddah, maka perlu kiranya ana jelaskan makna riddah terlebih dahulu.

–      الردة : هو الرجوع عن دين السلام إلى الكفر. او هى قظع الاسلام بالكفر

–      المرتد : هو الذى يكفر بعد إسلامه بقول أو فعل او اعتقاد او شك (الجامع  8/15)

Seperti yang kita tahu, orang dikatakan beriman kalau mendatangkan perkataan, perbuatan dan keyakinan dan dia dikeluarkan dari iman juga jika mendatangkan perkataan, perbuatan dan keyakinan yang menuntut pengkafiran.

Sebab pembatal keimanan adalah sangat banyak sekali, sampai-sampai ada yang mengatakan jumlahnya 400 sebab (buku antum halaman 93) dan yang nomor 1 dari 400 sebab itu adalah syirik akbar. Sebagaimana iman dia bertingkat-tingkat, demikian pula kufur. Dan tingkatan kekafiran yang paling atas adalah kekafiran yang disebabkan karena syirik akbar. Dan inilah yang menjadi pembahasan kita yaitu kemurtadan yang disebabkan oleh syirik akbar. Di dalam Al Quran Alloh  menyebutkan kalimat riddah pada beberapa tempat, dan ini menjadi dalil pertama.

a.     Dalil dari Al Quran

Alloh  berfirman:

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah : 217)

Yang dimaksud Alloh  dalam ayat yang mulia ini tentu adalah orang Islam, karena tidak mungkin Alloh  menyebut kata MURTAD untuk orang yang belum pernah masuk Islam. Kemudian Alloh menetapkan hukumannya di dunia dan di akhirat jika dia mati dalam kondisi kafir.

Alloh  berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,” (QS. Al Maaidah : 54)

Alloh  menggunakan kata-kata murtad bagi orang-orang yang beriman karena memang tidak ada kemurtadan kecuali setelah beriman. Dan tidak ada kekafiran kecuali setelah datangnya hujjah, akan tetapi penyebutan MUSYRIK sudah ada sejak sebelum datangnya risalah karena disebabkan penyekutuan terhadap Alloh  (Al Fatawa 20/28)

b.     Dalil dari sunnah

Pada hari selasa tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah  ”pulang kampung” sebagai pemenang. Mekkah takluk dan berhasil dikuasai kaum muslimin (fathu mekkah), termasuk yang dilakukan Rasulullah  pada saat itu adalah membagi-bagikan “hadiah” kepada orang-orang, termasuk yang mendapat “hadiah spesial” adalah 7 orang kafir musyrik dan 2 orang kafir musyrik murtad. Adapun “hadiah spesial” yang mereka dapatkan adalah vonis mati (istilah penjara MT) dari hakim agung Muhammad Rasulullah . 7 orang kafir musyri itu dibunuh karena mereka termasuk tokoh-tokoh musyrikin yang paling keras permusuhannya terhadap Islam. Adapun 2 orang yang lain divonis mati selain karena alasan di atas, juga karena mereka telah murtad. 2 orang itu adalah Abdullah bin Abi Sarj dan Muqois bin Shababah. Abdullah bin Abi Sarj dulunya pernah masuk Islam dan berhijrah, tapi belakangan dia murtad dan kembali kepada kesyirikan. Begitu juga Muqois bin Shababah, dia telah masuk Islam lalu dalam satu kasus dia menganiaya seorang anshar dan membunuhnya. Kemudian dia murtad dan bergabung kembali dengan orang-orang musyrik. Akhir riwayatnya the end di tangan Numailah bin Abdullah, sedang Abdullah bin Abi Sarj mendapat amnesty dari Rasulullah  lewat perantara Utsman bin Affan. (lihat Ar-Rahiiqu Al Makhqum edisi terjemah penerbit Rabbani Press hal. 615-616). Kisah ini mudah-mudahan difahami.

c.     Dalil dari ijma’

Yaitu ijma’ sahabat tentang orang-orang yang mengakui kenabian Musailamah dan orang-orang yang menolak untuk membayar zakat bahwa mereka disebut murtaddin. Yang menukil ijma’ ini adalah :

ü  Al Qadhi Abu Ya’la Al Hanbali

ü  Abu Bakr Al Jassas Al Hanafi

ü  Syeikh Islam Ibnu Taimiyah

ü  Syeikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahab

ü  Syeikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz

(lihat Al Jami’ 7/79-82)

d.     Perkataan para ulama’

Ø  Al Imam Al Bukhari

Beliau membuat tempat khusus dalam shahihnya untuk membahas masalah pertobatan orang-orang murtad yaitu (kitab Istitaabah Al Murtaddin wa Al Mu’adidin wa Qitaalahum). Kemudian beliau membuat bab (hukum Al Murtad wa Al Murtaddah wa Istitaabatihim) (Shohih Al Bukhari juz 4 hal. 444-450 terbitan Daarul Hadits, Kairo). Lihatlah penyebutan beliau murtad dan murtaddah untuk menamai orang Islam yang berbuat kemurtaddan.

Ø  Al Qadhi Abu Ya’la Al Hambali

Beliau  berkata, “Dan lagi sesungguhnya ijma’ sahabat yaitu bahwa mereka (para sahabat) menisbatkan kekafiran kepada yang menolak zakat dan memerangi mereka serta menghukumi atasnya dengan kemurtadan”. (dinukil dari Al Jami’ 7/81)

Disini meskipun beliau berbicara dalam konteks menukil ijma’, tapi ini juga menunjukkan bahwa ijma’ yang beliau nukil adalah pendapat beliau. Wallahua’lam

Ø  Al Imam Abu Bakr Al Jassos Al Hanafi

Beliau berkata, “Dan untuk itu diwajibkan (untuk) membenarkan apa yang menjadi pendapat sahabat yaitu hukum murtad yang mereka berikan kepada orang yang menolak zakat dan diperanginya mereka serta ditawannya anak dan istri mereka”. (dinukil dari Al Jami’ 7/81, dengan sedikit perubahan)

Ø  Syeikh Al Islam Ibnu Taimiyah berkata

وقد اتفق الصحابة والامة بعدهم على قتال مانعى الزكاة وان كانوا يصلون الخمسة ويصمون الشهر الرمضان , وهؤلاء لم يكن لهم شبهة سائغة فلهذا كانوا مريدين …..

(dinukil dari Al Jami’ 7/81)

Ø  Beliau juga berkata, “Dan apabila salaf telah menyebut penolak zakat sebagai orang-orang murtad padahal mereka shoum dan sholat, apa gerangan dengan mereka yang bersama musuh Alloh dan Rasul-Nya memerangi kaum muslimin?”

Ø  Syeikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahab berkata (Al Jami’ 7/82), “…dan menyebut mereka semua (orang-orang yang menolak membayar zakat) ahlu riddah”. (dinukil juga dari Al Jami’ 7/82)

Ana kira cukup sampai disini pembahasan tentang (orang-orang yang telah datang kepada mereka hujjah lalu mereka menyambutnya sehingga mereka menjadi ahlu Islam, lalu mereka melakukan syirik akbar dengan sengaja tanpa dipaksa). Ditinjau dari sisi asma’uddin mereka disebut MUSYRIK KAFIR MURTAD. Adapun status mereka :

2) Ditinjau dari sisi ahkamu ad-diin

Di dunia haram sesembelihannya untuk dimakan, putus hubungan pernikahan, tidak boleh dinikahi dan menikahi, tidak boleh menjadi wali dan tidak boleh menjadi saksi, tidak boleh sholat di belakangnya, ditegakkan had (dibunuh) setelah dimintai taubat (ini kalau makdur ‘alaih) dan dibunuh tanpa dimintai taubat (kalau dia mumtahi’ bi asy syaukah). Tidak dimandikan, tidak juga disholatkan, tidak boleh dikubur di kuburan kaum muslimin, tidak boleh dido’akan, dll.

Di akhirat Alloh  berfirman,

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Baqarah : 217), Inilah hukuman mereka.

Selesai walhamdulillah pembahasan tentang status pelaku syirik. Perlu kita ulang disini bahwa pelaku syirik status minimal mereka adalah musyrik, jika belum tegak hujjah dan kafir musyrik jika hujjah telah tegak. Lalu kafir musyrik murtad bila dulunya si pelaku adalah muwwahid, lalu melakukan syirik akbar dengan sengaja tanpa dipaksa. Sampai disini pembahasan terhadap apa yang menjadi isykal bagi ana pada ucapan antum hal. 50, wallahua’lam bish showab.

Isykal lain,

2. Halaman 104, antum katakan, “Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab memberi udzur kepada seseorang yang berbuat syirik. Ia tidak boleh dikafirkan dan tidak diperangi sebelum ditegakkan hujjah padanya. Ini menunjukkan bahwa dalam syirik akbar (syirik besar) tetap ada udzur jahl (kebodohan)”.

Ana katakan, ada beberapa hal dari apa yang antum katakan di atas yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Pernyataan antum bahwa Syeikh Muhammad memberi udzur pada syirik akbar, ini benar ana sepakat dengan apa yang antum katakan. Dan alangkah baiknya seandainya antum sebutkan contoh dari ungkapan Syeikh bahwa beliau memberi udzur pelaku syirik akbar, karena hal itu akan membantu pembaca dalam memahami persoalan, di samping juga untuk meyakinkan pembaca terhadap pernyataan antum. Akan tetapi itu tak mengapa, disini ana akan menyebutkan beberapa ungkapan Syeikh bahwa beliau mengudzur pelaku syirik akbar, sebagai penguat pendapat kita.

Di dalam kitab Taarikh Nejd yang ditahqiq oleh DR. Nashiruddin Al Asad terbitan Daaru Asy Syuruq hal. 407, ketika beliu menjawab pertanyaan seorang “Syarif” yang bertabayun kepada beliau terhadap tuduhan-tuduhan kepada beliau, diantara ucapannya,

واذا كان لا نكفر من عبد الصنم الذي على قبر عبد القادر ,والصنم الذي على قبر احمد البدوي, وامثالها ,لأجل جهلهم وعدم ينبههم فكيف نكفر من لم يشرك بالله ……

“Apabila kami tidak mengkafirkan siapa yang mengibadahi berhala yang ada diatas kuburan Abdul Qoodir dan berhala yang ada di atas kuburan Ahmad Al Badawi dan di kubura-kuburan selain mereka berdua. Dikarenakan KEJAHILAN mereka dan tidak adanya yang memberi peringatan / penjelasan kepada mereka, lalu bagaimana kami (dituduh) mengkafirkan siapa yang tidak berbuat syirik dengan Alloh .” selesai

Dari sini nampak jelas sekali Alhamdulillah, bahwa beliau tidak mengkafirkan pelaku syirik akbar yang jahil.

Di buku yang sama hal. 264 di dalam surat beliau kepada seorang mutawwi’ atau ulama’ wilayah Sharmada bernama Muhammad bin Iid, diantara ucapan beliau,

وأما ما ذكر الأعداء عني أنى أكفر بالظان وبالموالاة , أو اكفر الجاهل الذي لم تقم عليه الحجة فهذا بهتان عظيم …..

“Dan adapun apa yang dikatakan orang-orang yang memusuhiku, bahwa aku mengkafirkan dengan dzan (prasangka) dan dengan muwallah, atau aku mengkafirkan orang jahil yang belum tegak padanya hujjah, maka ini adalah kebohongan yang besar.” Selesai.

Disini beliau membantah klaim orang bahwa beliau mengkafirkan orang jahil dan mengatakan itu adalah kedustaan yang besar.

Kesaksian Syeikh Abdul Lathief bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahab di dalam kitab Masbahu Dholam hal. 324 / Al Mutatimah likalami a’immati ad da’wah hal. 18. diantara ucapan beliau,

انه (الشيخ محمد ابن عبد الوهاب)لم يكفر الا بعد يقام الحجة وظهور الدليل حتى انه رحمه الله توقف في تكفير الجاهل من عباد القبور اذا لم يتيسر له من ينبهه……

“Sesungguhnya beliau (Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab) tidak mengkafirkan sebelum ditegakkan hujjah dan dinampakkan dalil, sampai-sampai beliau -rahimahullah- tawaquf (mengambil sikap diam) di dalam pengkafiran orang jahil dari kalangan yang beribadah kepada kuburan, apabila tidak adanya kemudahan baginya siapa yang memberikan penjelasan kepadanya. Ini diantara bukti-bukti dari ucapan beliau sendiri atau dari kesaksian ulama’ bahwa beliau mengudzur pelaku kesyirikan untuk dikafirkan.”

Kemudian pernyataan antum “ia tidak boleh dikafirkan dan tidak boleh diperangi sebelum ditegakkan hujjah kepadanya“, ini shohih, bila maksudnya tidak boleh dikafirkan dengan makna kafir ba’da dakwah atau kafir ba’da hujjah, yang berkonsekwensi ancaman adzab maka ini tidak boleh sebelum ditegakkan hujjah, tapi mereka disebut musyrik karena berbuat syirik, bukan muslim atau muwwahid atau mukmin, atau mereka boleh disebut kafir bi ma’na syirik atau kafir qobla dakwah, sudah berlalu penjelasan tentang ini.

Adapun ucapan antum “ini menunjukkan syirik akbar (syirik besar) tetap ada udzur jahl (kebodohan)”, ini benar. Dan ana telah menunjukkan bukti klaim antum, bahwa Syeikh Muhammad mengudzur syirik akbar, sedang ucapan Syeikh Muhammad telah ana sebutkan di atas, tapi coba antum perhatikan apa yang ana tulis di bawah ini.

Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, “Sesungguhnya engkau bila telah mengetahui bahwa orang menjadi kafir dengan satu kalimat yang dilontarkan dari lisannya, dan terkadang dia mengucapkannya sedang dia jahil, namun tidak diudzur karena kejahilan.” (Kasyfu Syubuhat, Majmu’ah At Tauhid hal. 40)

Beliau berkata lagi setelah menuturkan pembatal-pembatal keislaman, “Dan tidak ada perbedaan dalam semua pembatal-pembatal ini, antara orang yang main-main dan serius serta yang takut, kecuali orang yang dipaksa.” (Majmua’ah At Tauhid hal. 25)

Beliau juga berkata setelah menyebut khawarij, “Apakah orang jahil yang musyrik ini mengira bahwa mereka meninggalkan hal itu karena alasan mereka itu membaca tasbih, tahlil dan takbir.” (Risalah fii Syahadatain, Aqoo’idul Islam hal. 25)

Beliau juga berkata, “Namun kamu ini adalah laki-laki yang bodoh lagi musyrik.” (Tarikh Nejd hal. 304)

Beliau juga berkata, “Maka dikatakan kepada orang jahil ini, bila kamu -sampai perkataan beliau- maka orang musyrik ini malah mengatakan………” (Al Qoo’idul Islam hal. 17)

Dari apa yang ana nukil ini jelas dan tegas bahwa beliau tidak mengudzur syirik akbar dengan kejahilan. Sebenarnya ucapan beliau yang semisal masih sangat banyak, begitu juga ucapan beliau yang mengudzur syirik akbar dengan kejahilan juga tak kalah banyak. Ketika ana menyebutkan perkataan Syeikh Muhammad yang mengudzur syirik akbar dengan kejahilan dan ini menjadi pendapat antum, ana katakan di atas “antum benar”. Tapi ketika ana sebutkan perkataan beliau rahimahullah yang tidak mengudzur syirik akbar dengan kejahilan, maka ana harus katakan “antum salah” dus…. Gimana ini? Tadi benar, sekarang salah, bingung? Insya Alloh tidak, justru inilah yang ingin ana sampaikan, menurut ana –wallahua’alam- mestinya antum awali pembahasan dalam buku antum tentang masalah hakikat Islam dan syirik dan kufur kemudian tentang asma’uddin dan ahkamuddin, apa perbedaannya, kapan keduanya menyatu, kapan keduanya berpisah. Kemudian hakikat qiyamu hujjah dan fahmu hujjah apa perbedaan keduanya dan untuk masalah apa keduanya dipakai, juga tentang masalah dhahirah dan khofiyah.

Memang sebagian masalah di atas sudah antum bahas di awal-awal tulisan antum, tapi yang lainnya tertinggal untuk dibahas, seperti masalah asma’uddin dan ahkamuddin. Karena membicarakan masalah takfir tidak akan terlepas dari kaidah-kaidah di atas, ana telah sampaikan di awal risalah ini perkataan Syeikh Abdul Lathief bin Abdurrahman bin Hasan dalam Minhaj At-Taksis hal. 30 akibat buruk kurang perhatian dari kaidah-kaidah di atas, akan tetapi tidak ada istilah terlambat bagi yang menginginkan perbabaikan. (Lihat Al Haqoiq fii At Tauhid hal. 5)

Adapun jalan keluar dari masalah pelaku syirik akbar, apakah dia diudzur atau tidak diudzur dengan kejahilan adalah sebagai berikut :

a.     Diudzur

Ini jika jahilnya muktabar syar’i, artinya jahil yang tidak mungkin bagi penyandangnya menghilangkan dari dirinya, seperti pelaku syirik itu tidak berakal (gila atau idiot), tidak mendengar (tuli), tidak faham khitob (anak-anak), atau karena yang bersangkutan baru masuk Islam atau tinggal di daerah pedalaman yang jauh lor jauh kidul atau hidup pada zaman fatroh (terputus dari Rasul), intinya tidak atau belum sampainya hujjah, maka mereka diudzur dengan apa yang ada pada mereka yaitu jahil (bodoh).

Perlu difahami bahwa ucapan para ulama’ baik Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Abdil Wahab dan yang lainnya ketika mereka mengudzur pelaku syirik akbar yang jahil, itu maksudnya adalah diudzur dari sisi ahkamuddin saja, tidak asma’uddin, artinya dia diudzur (tidak boleh dikafirkan). Yang berkonsekwensi ancaman adzab, tapi dia tetap disebut musyrik, itu karena mereka melakukan syirik akbar.

Coba antum perhatikan ucapan Syeikh ibnu Abdullah ibnu Abdurrahman Abu Buthin, “Dan orang yang mengucapkan laa ilaha illah namun dia suka melakukan syirik akbar, seperti meminta kepada mayit atau yang ghoib, memohon kepada mereka supaya memenuhi kebutuhan dan supaya diselamatkan dari bencana, taqorrub kepada mereka dengan nadzar dan sesembelihan, maka dia itu MUSYRIK, mau atau tidak mau.” (Risalah makna kalimat tauhid yang diterbitkan bersama dengan Al kalimah an Naafi’ah hal. 106)

Dari ucapan beliau nampak jelas bahwa beliau menyebut mereka musyrik tanpa memperdulikan apakah mereka jahil atau tidak? Sudah sampai hujjah atau belum, disini mungkin akan ada yang bertanya bagaimana mungkin orang yang mengucapkan laailahaillallah dikatakan jahl/belum tegak hujjah? Ana jawab : sangat mungkin.. Misal dia baru saja mengucapkan laailahaillallah (baru masuk Islam) atau dia ada pada zaman fatroh, aimah da’wah telah ijma’ bahwa zamannya Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan zamannya Ibnu Taimiyyah adalah zaman fatroh, makanya Syaikh Muhammad tidak mengkafirkan secara umum orang-orang yang menyembah qubah qowwas dan yang lainnya padahal mayoritas mereka mengaku sholat, puasa dan diantara mereka ada yang mengaku ahlul ilmi dan zuhud, itu karena kehati-hatian Syeiikh barangkali diantara mereka ada yang belum tegak hujjah. Berkata Syaikh Al-Khudair ketika mengomentari pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dimana beliau menolak pengkafiran secara umum, Al Khudair berkata, “Karena pengkafiran terkait erat dengan hujjah, sementara tidak diketahui apakah mereka semua sudah sampai hujjah atau belum.” (Al-mutamimah hal. 16)

Jadi ana ulang, maksud para ulama’ bahwa pelaku syirik akbar yang jahil itu diuzur adalah diudzur dalam masalah ahkam bukan asma’.

b.     Tidak diudzur

Sedang maksud para ulama’ ketika mereka tidak mengudzur pelaku syirik akbar yang jahil (bodoh) adalah karena kejahilannya itu tidak muktabar, kadang memang dia bodoh tapi sebenarnya dia mampu untuk menghilangkan kebodohonnya itu, seperti orang yang tinggal di tengah kaum muslimin atau tinggal di negeri Islam lalu dia menyembah jin atau patung. Ketika ditanya dia menjawab ini adat istiadat kami, maka orang macam ini tidak diudzur.

Jadi pelaku syirik akbar yang jahil tidak diudzur para ulama’ adalah yang kejahilannya tidak muktabar.

Adapun tidak diudzurnya pelaku syirik akbar yang jahilnya tidak muktabar, adalah tidak diudzur baik dalam masalah asma’uaddin ataupun ahkamuddin.

Kesimpulan dari bahasan ini adalah pelaku syirik akbar yang jahil dia diudzur, ini apabila jahilnya muktabar dan diudzurnya hanya dari sisi ahkamu ad-din bukan asmau ad-diin. Adapun jika jahilnya tidak muktabar maka dia tidak diudzur baik asma’nya maupun ahkamnya, inilah yang dimaksud oleh para ulama’ dalam masalah udzur jahil dalam masalah syirik akbar.

Coba perhatikan perkataan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab di bawah ini :

“Maka macam orang-orang musyrik ini (perhatikan Syeikh menyebut mereka MUSYRIK) dan yang serupa dengannya dari kalangan orang-orang yang beribadah kepada para wali dan orang-orang sholeh, kami memandang bahwa mereka itu adalah musyrik (sekali lagi perhatikan disini, karena berbuat syirik mereka disebut musyrik, Syeikh belum mengkafirkan mereka) dan kami memandang mereka kafir bila hujjah risalah telag tegak pada mereka…. (disini Syeikh baru mengkafirkan mereka setelah tegak hujjah).” (lihat Adh-Dhuuror 1/522)

Antum bisa lihat bagaimana Syeikh membedakan antara asma’ (sebutan) dan tidak mengudzurnya sama sekali dan antara ahkam (hukum) yang beliau mengudzur dengannya kecuali telah tegak hujjah.

Kalau sudah jelas bagi antum, maka camkanlah bahwa maksud Syeikh Muhammad dan para A’immah ketika mereka mengudzur pelaku syirik akbar yang jahil adalah diudzur untuk dikafirkan bukan diudzur untuk disebut musyrik.

Sedang maksud Syeikh Muhammad dan a’immah yang lain ketika mereka tidak mengudzur pelaku syirik yang jahil adalah dikarenakan kejahilan mereka tidak muktabar, untuk lebih menguatkan apa yang ana katakan, di bawah ini ana sampaikan perkataan Syeikh Ali Khudair ketika beliau mengomentari ucapan-ucapan Syeikh Muhammad dan ulama’ dakwah yang lain dalam buku beliau,

(المتممة لكلام ائمة الدعوة في مسئلة الجهل في الشرك الاكبر)

Di dalam kitab ini, beliau menukil perkataan-perkataan a’immah dakwah Nejd tentang kejahilan dalam syirik akbar. Beliau menjelaskan apa maksud perkataan a’immah ketika mereka mengudzur jahil dan ketika tidak mengudzur jahil. Diantara penjelasan beliau adalah : (catatan kaki poin 2 hal. 8), mengomentari perkataan Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab beliau berkata, “Perlu diperhatikan sesungguhnya yang ditiadakan adalah penyebutan pengkafiran bukan sebutan syirik.”

Halaman 9 poin 6 beliau berkata, “Risalah-risalah dan nash-nash milik Syeikh Muhammad bin Abdil Wahab menunjukkan bahwasannya Syeikh tidak mengudzur dengan kejahilan dan menyebut siapa yang melakukan syirik (dia) musyrik serta dari kalangan musyrikin dan kadang kala Syeikh memaksudkan dengan nama kekafiran yang bermakna syirik jika belum tegak padanya hujjah. Adapun bila sudah tegak padanya hujjah maka Syeikh menyebutnya musyrik kafir.”

Halaman 9 alinea terakhir di dalam kurung beliau berkata, “Perlu diperhatikan disini  (Syeikh) menyebut mereka musyrikin.”

Halaman 11 beliau berkata, “Syeikh menyebut mereka musyrikin bagi siapa saja yang mengibadahi penghuni kubur.”

Halaman 12 beliau berkata, “Syeikh menyebut siapa yang mengibadahi Abdul Qodir, Ahmad Badawi, Iid bin Musaafir sesat dan itu adalah syirik akbar.”

Halaman 13 beliau berkata, “Sesungguhnya Syeikh tidak mengudzur dengan jahil dalam masalah syirik akbar, dan menyebut siapa yang terjerumus dalam syirik akbar karena jahil adalah musyrik.”

Halaman 14 beliau berkata, “Syeikh tidak mengkafirkan 3 kelompok (orang baru masuk Islam, orang yang tinggal di pedalaman yang jauh, dalam masalah khilafiyah) dan meniadakan juga bagi mereka sebutan kafir. Itu dikarenakan mereka belum mendengar hujjah, adapun nama syirik dan musyrikin maka disandangkan pada mereka dan mereka disebut musyrikin dan ditiadakan nama Islam bagi mereka.”

Adapun nama kafir dan hukum kafir (yang berkonsekwensi) pembunuhan dan adzab, maka tidak disematkan kepada mereka karena belum tegak pada mereka hujjah, karena kafir maknanya mengingkari atau mendustakan Rasul. Ini tidak terjadi kecuali setelah datang kepada mereka khobar Rasul. Dan makna datang kabar Rasul adalah tegak padanya hujjah, adapun nama syirik tidak ada kaitannya dengan hujjah.

Di catatan kaki masih di halaman 14 berkata, “Yaitu belum tegak hujjah untuk disematkan nama kafir yang diadzab atasnya atau yang dibunuh dengannya. Adapun 3 kelompok di atas termasuk juga orang yang tinggal di negeri kafir, apabila mereka melakukan kesyirikan maka disematkan pada mereka namanya (musyrik). Akan tetapi bila sudah tegak hujjah atas mereka dalam hal ini dibunuh dan diperangi dan diadzab dan disebut kafir.”

Halaman 15 beliau berkata dalam kurung, “Perlu diperhatikan tawaqufnya dalam masalah sebutan takfir, adapun keadaannya sebagai musyrik maka Syeikh tidak tawaquf karena Syeikh menyebut mereka telah mengibadahi qubah ini dan itu, dan tidak mungkin orang yang beribadah kepada selain Alloh disebut muslim selamanya karena Islam dan syirik adalah dua hal yang saling berlawanan yang tidak pernah bertemu.”

Berkata lagi, “Sesungguhnya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab ketika meniadakan pengkafiran terhadap orang-orang yang mengibadahi kuburan, maksudnya adalah meniadakan secara umum dikarenakan diantara mereka ada yang belum sampai hujjah seperti 3 kelompok tadi. Maka mereka tidak disebut kafir, akan tetapi nama syirik dan musyrikin disematkan pada mereka dikarenakan mereka melakukannya dan nyata atas mereka. Maka barangsiapa yang mengibadahi kuburan, secara umum disematkan pada mereka musyrik tanpa pengecualian, adapun sebutan kafir maka ada perincian.”

Halaman 16 beliau berkata, “Sesungguhnya tawaqufnya Syeikh adalah dalam penyebutan kafir bukan syirik.” Berkata lagi di dalam kurung,

ü  Karena takfir terkait dengan hujjah, sementara tidak diketahui apakah mereka semua sudah tegak hujjah atau belum.

ü  Perlu diperhatikan yang dinafi’kan hanya pengkafiran dan pembunuhan untuknya, adapun status mereka musyrik maka ya… karena mereka beribadah kepada selain Alloh, dan siapa yang mengibadahi berhala tidak disebut muslim.

ü  Maka jahil adalah penghalang dari pengkafiran, pembunuhan dan adzab, akan tetapi bukan penghalang untuk disematkan nama syirik pada mereka.

Halaman 17 beliau berkata dalam kurung,

ü  Perlu diperhatikan bahwa pembunuhan dan peperangan kaitannya dengan hujjah.

ü  Maka orang jahil yang belum tegak padanya hujjah (tapi mengerjakan syirik) tidak dikafirkan, akan tetapi tidak juga disebut muslim tidak juga muwahid.

ü  Di satu sisi dia tidak dikafirkan tapi di sisi yang lain dia disebut orang yang beribadah kepada kuburan, dan tidak mungkin orang yang beribadah kepada selain Alloh disebut muslim, karena Islam dan syirik adalah dua hal yang saling berlawanan, tidak pernah bertemu, selesai.

Sampai disini penukilan ucapan Syeikh Ali Al Khudair, kalau ingin tambahan keterangan silahkan di rujuk kitab aslinya untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak insya Alloh. Dengan demikian ana cukupkan sampai disini pembahasan tentang udzur jahil dalam syirik akbar, antara ada dan tiada. Mudah-mudahan bisa membantu atau paling tidak menjadi bahan pertimbangan kalau bukan malah menjawab apa yang antum katakan di halaman 107 dari buku antum, “Pembahasan udzur jahil adalah pembahasan yang cukup rumit dan terjadi perbedaan pendapat serta kesimpulan di dalamnya. Yang lebih rumit lagi adalah tatkala pembahasan dalam syirik akbar, terjadi perbedaan pendapat yang cukup alot, cobalah memahami apa yang sudah ana bahas di atas, mudah-mudahan yang alot bisa menjadi lebih lunak, dan Alloh  adalah pemberi petunjuk.”

3. Halaman 108 antum mengatakan, “Disini kami perlu tegaskan, bahwa udzur jahil tidak berlaku pada perkara-perkara yang menafi’kan pokok-pokok Islam yang global seperti, mengingkari kenabian Rasul  atau mengatakan bahwa beribadah kepada Alloh dalam bentuk apapun tidak wajib.” (disini antum menunjuk referensi)

Ana katakan, coba kita bandingkan ucapan antum ini dengan ucapan antum yang telah lalu yaitu di hal. 104, antum katakan “Ini menunjukkan bahwa dalam syirik akbar (syirik besar) tetap ada udzur jahil.” Apakah ini tidak bertentangan? Ana coba rinci :

a.     Halaman 108 antum katakan, “udzur jahil tidak berlaku pada perkara-perkara global, contoh : mengingkari kenabian Rasul , mengatakan beribadah kepada Alloh tidak wajib.”

Dalam 2 contoh ini antum tidak mengudzur dengan jahil, dan kita tahu mengingkari kenabian Rasul  memang perkara yang mengkafirkan tapi bukan syirik atau paling tidak kekafirannya lebih rendah dari pada syirik kepada Alloh . Termasuk mengatakan bahwa beribadah kepada Alloh  tidak wajib ini jelas kekafiran, akan tetapi apakah ini syirik atau bukan? Ana pikir masih perlu dibincangkan, yang jelas kekafirannya lebih ringan daripada kekafiran yang disebabkan syirik langsung kepada Alloh . Nah… dalam 2 contoh ini antum tidak mengudzur dengan kajahilan.

Halaman 104 antum katakan, dalam syirik akbar, ingat… syirik akbar! Yang dosanya lebih besar dan kekafirannya lebih berat dari mengingkari kenabian Rasul  dan mengatakan beribadah kepada Alloh tidak wajib, antum justru mengudzur. Bagaimana mungkin perkara syirik akbar antum udzur sedang perkara yang lebih ringan (meskipun sama-sama mengkafirkan) justru malah tidak antum udzur?? Ini pertama, yang ke :

b.     Mungkin -wallahua’lam- dan ini khusnudhon ana kepada antum, barangkali yang antum maksud di hal. 104 bahwa jahil (tentu jika jahilnya muktabar) dalam syirik akbar itu diudzur adalah diudzur dalam masalah hukum bukan asma’ seperti yang telah lalu pembahasannya. Sedangkan maksud antum di hal. 108 bahwa dalam perkara-perkara yang global tidak berlaku udzur jahil adalah bila jahilnya tidak muktabar dan tidak diudzurnya dalam masalah hukum dan asma’. Wallahua’lam

4. Halaman 110 antum mengatakan, “Bahkan setelah iqomatul hujjah pun mereka tidak dikafirkan karena syubhat mereka sangat pelik”

Disini konteksnya, antum sedang berbicara dalam perkara khofiyah (yaitu perkara-perkara yang dalil-dalilnya tersamar bagi sebagian kaum muslimin) dan antum memberikan contoh dalam hal ini adalah orang yang mengatakan Al Quran makhluk.

Ana katakan, lalu bagaimana kalau sudah fahmul hujjah wa idzalatus syubhat dengan dialog dan diskusi sampai tidak ada lagi syubhat pada dirinya, apakah juga tidak dikafirkan (kalau yang mengatakan Al Quran adalah makhluk) tetap ngenyel dengan pendapatnya?? Menurut ana alangkah baiknya kalau antum menggunakan kata fahmul hujjah wa idzalatus syubhat dalam masalah khofiah ini, tidak menggunakan kata iqomatul hujjah kecuali dalam masalah dzohiroh, wallahua’lam. Karena antara keduanya ada perbedaan dalam istilah dan penerapan, adapun perbedaanya sebagai berikut :

  1. Masalah Dhohirah

Nama lainnya adalah ma’lum bid-dhoruroh (lihat Al Mutammimah, catatan kaki hal. 9 / buku antum hal. 110) yaitu masalah-masalah yang sudah maklum diketahui oleh orang-orang seperti tidak ada illah kecuali Alloh  dan bahwa Muhammad adalah nabi dan Rasul terakhir, juga kewajiban sholat, zakat dan puasa di bulan Ramadhan.

Masalah khofiyah

Adalah masalah-masalah yang dalilnya tersembunyi atau tidak diketahui oleh orang-orang awam seperti masalah takdir, masalah Al Quran makhluk, masalah melihat Alloh di akhirat, masalah Alloh itu tidak heran, dll

  1. Iqomatul hujjah atau qiyamu hujjah (tegak hujjah)

Ini terjadi dengan datangnya peringatan Rasulullah (risalah) [buku antum hal. 132]. Adapun defenisi iqomatul hujjah (buku antum hal. 130)

Fahmul hujjah (faham hujjah)

Ini dilakukan dengan pendalaman dan penelitian yang serius dan sungguh-sungguh (bisa dilihat pembahasan masalah ini dalam Al Haqoiq, Ali Al Khudair).

Kemudian kaitannya dengan takfir orang yang melanggar masalah dhohiroh (misal mengatakan bahwa sholat 5 waktu tidak wajib) dan orang yang melanggar masalah khofiyah (misal mengatakan Al Quran adalah makhluk), sebenarnya disini juga ada rincian antara orang yang mengatakan Al Quran makhluk dari kalangan ahlu sunnah dan orang yang mengatakan makhluk dari kalangan jahmiyah juga ada perbedaan. Kalau yang mengatakan adalah da’i dan awam silahkan lihat juz fii ahli al ahwaak wal bida’ wa al mutawwil, Syeikh Ali Khudair, antara iqomatul hujjah dan fahmul hujjah adalah sebagai berikut :

Kalau yang dilanggar adalah masalah yang tergolong dhoohiroh maka pengkafirannya cukup dengan telah sampainya hujjah padanya. Contoh, orang yang mengatakan bahwa sholat lima waktu tidak wajib, sementara dia tinggal di tengah-tengah kaum muslimin, maka dia dikafirkan (tentu kalau syaratnya terpenuhi dan penghalangnya tidak ada). Tidak perlu ada penjelasan dan diskusi lagi kepadanya tentang wajibnya sholat lima waktu karena keberadaannya di tengah-tengah kaum muslimin adalah hujjah baginya.

  • Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang orang yang mengingkari kewajiban sholat lima waktu sementara dia tinggal di negeri Islam, di tengah ahli ilmi, “Tidak diterima klaimnya bahwa dia tidak tahu.” (Syarh Al ‘Ummdah hal. 51 / Al Haqoiq hal. 45).
  • Berkata pengarang Al Mughni di dalam kitab zakat tentang orang yang mengingkari kewajibannya, “Kalau dia muslim yang hidup di negara Islam (berada) di antara ahlul ilmi, maka dia murtad, diberlakukan padanya hukum orang-orang murtad.” (Al Haqoiq hal. 45)
  • Berkata Ibnu Abi Umar tentang orang yang mengingkari kewajiban sholat sementara dia tinggal di tengah-tengah kaum muslimin di negeri Islam, “Tidak diterima klaim jahil darinya dan dihukumi kafir karena dalil kewajiban sholat adalah jelas.” (buka Al Haqoiq hal. 45)

Dan kalau yang dilanggar tergolong masalah yang khofi, maka dalam mengkafirkan pelakunya perlu dengan fahmul hujjah dan idzalatus syubhat (difahamkan dan dihilangkan syubhat pada dirinya). Ini bisa dilakukan dengan diskusi yang panjang dan adu argumen. Contoh dari kasus ini adalah, apa yang terjadi terhadap Ibnu Taimiyah ketika menghadapi ulama’-ulama’ pengikut hawa nafsu dan bid’ah pada zaman beliau dimana beliau tidak langsung mengkafirkan mereka, tapi yang beliau lakukan adalah memberi penjelasan kepada mereka dengan dialog dan diskusi kemudian setelah mereka mentok dan tetap ngeyel pada pendiriannya, barulah Ibnu Taimiyah mengatakan kepada mereka seraya meninggikan suaranya. “Wahai zindiq!! Wahai kafir!! Wahai orang-orang murtad!! (lihat Al Haqoiq fii At Tauhid hal. 44)

Dan apabila yang dilanggar adalah aslul islam (melakukan syirik akbar) maka penjelasannya telah lalu (lihat penjelasan-penjelasan masalah ini dalam Juz Fii Ahli Ahwak Wa Al Bida’ Wa Al Mutaawwil hal. 10)

Jadi ucapan antum “bahkan setelah iqomatul hujjah pun mereka tidak dikafirkan” adalah kurang tepat, paling tidak perlu dikaji ulang kalau malah tidak mau dikatakan salah. Baik ana kasih contoh lagi supaya mudah difahami, misal :

Si Zaid tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani padahal dia berada di tengah-tengah kaum muslimin dan para ahlu ilmi, maka si Zaid kafir (tentu kalau syarat terpenuhi dan penghalangnya tidak ada). Karena kekafiran Yahudi dan Nashrani adalah termasuk masalah dhoohiroh sedang hujjah telah tegak padanya dengan keberadaannya di tengah kaum muslimin, lain kalau si Zaid tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik (yang sudah tegak hujjah) dikarenakan secara dhohir mereka mengaku Islam, sholat, zakat, puasa, haji dan bahkan berjihad, maka dalam hal ini si Zaid tidak boleh langsung dikafirkan sebelum dijelaskan padanya dalil-dalil dari Al Quran dan sunnah tentang kekafiran musyrikin tadi karena kekafiran musyrikin tadi boleh jadi tersamar bagi si Zaid dikarenakan pengakuan musyrikin bahwa mereka adalah ahlul Islam serta mereka buktikan secara dhohir dengan sholat, zakat, puasa dan haji. Bila sudah dijelaskan kepada si Zaid tentang kekafiran musyrikin tadi dengan penjelasan yang gamblang, sampai pada si Zaid tidak terdapat lagi syubhat, kemudian si Zaid tetap ngeyel atau malah ragu, maka saat itulah si Zaid dikafirkan (tentu kalau syarat terpenuhi dan penghalangnya tidak ada). Sesuai kaidah, “Siapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu dengan kekafirannya, maka dia kafir”

  • Berkata Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdil Wahab ketika ditanya tentang apa hukum orang-orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik,

قل : فان كان شاكا في كفرهم او جاهلا بكفرهم بينت له الادلة من كتاب الله و سنة رسول صلى الله عليه و سلم على كفرهم. فان شك بعد ذلك او تردد, فانه كافر باجماع العلماء على ان من شك في كفر الكافر فهو كافر

“Kalau yang bersangkutan ragu tentang kekafiran mereka (orang-orang musyrik) atau yang bersangkutan jahil tentang kekafirannya, maka dijelaskan kepadanya dalil-dalil dari al kitab dan sunnah Rasulullah  atas kekafiran mereka. (kemudian) kalau tetap ragu setelah dijelaskan atau yang bersangkutan malah ngeyel, maka dia kafir dengan dasar ijma’ ulama’ bahwa barangsiapa ragu tentang kekafiran orang kafir, maka dia kafir.” (Ad Dhuror 8/160).

  • Berkata Syeikh Muhammad bin Abdil Lathief bin Abdirraham bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahab setelah beliau mengutarakan kekafiran siapa yang beribadah kepada selain Alloh  kemudian beliau mengatakan,

من شك في كفره بعد قيام الحجة عليه فهو كافر (الدرر 10/439,440)

“Siapa yang ragu kekafirannya setelah tegak padanya hujjah, maka dia kafir.” (Ad Dhuror 10/440, 439)

  • Berkata Lajnah Ad-Daa’imah yang diketuai oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz, “Untuk itu ketahuilah bahwa tidak boleh bagi kelompok muwwahidin yang meyakini kekafiran orang-orang yang mengibadahi kuburan, mengkafirkan saudara-saudara mereka muwwahidin yang tawaquf (menahan diri) dalam mengkafirkan orang-orang musyrik sampai ditegakkan kepada mereka hujjah, karena adanya syubhat pada mereka yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, yaitu keyakinan mereka untuk terlebih dahulu menegakkan hujjah kepada mereka para penyembah kuburan sebelum mereka dikafirkan. Berbeda dengan yang tidak ada syubhat tentang kekafirannya seperti Yahudi, Nashrani dan komunis dan yang serupa dengan mereka, maka mereka itu tidak ada syubhat tentang kekafirannya dan kekafiran orang yang tidak mengkafirkannya.” (Fataawaa Al-Aimmah An-Najdiyah 3/74 / Juz Asli diin Al Islam hal. 17).

Masalah è Apakah orang yang menamai orang yang membuat perantara dalam beribadah dan meminta pertolongan kepada selain Alloh pada hal-hal yang hanya dimampui Alloh  sebagai muslimin bukan musyrikin dia boleh dikafirkan??

Jawab è ana katakan perlu dijelaskan padanya,

1.     Bahwa meminta tolong kepada selain Alloh dalam hal-hal yang hanya dimampui Alloh  adalah syirik,

2.     Bahwa pelakunya adalah minimal disebut musyrik bukan muslim,

3.     Penjelasan no. 2 harus sejelas-jelasnya karena merupakan masalah khofi sampai betul-betul tidak ada lagi syubhat yang dimiliki oleh orang yang tidak mau menyebut orang yang berbuat syirik sebagai musyrik.

Penjelasan dari Al Quran, sunnah, ijma’ dan penjelasan dari para ulama’ disyaratkan untuknya supaya betul-betul jelas. Baru setelah cara itu ditempuh kok dia tetap tidak mau menyebut orang syirik sebagai musyrik, maka berlaku atasnya fatwa Syeikh Sulaiman bin Abdullah dan Syeikh Muhammad bin Abdil Lathief serta Lajnah Daaimah di atas bahwa dia kafir menurut ijma’ (tentu kalau syarat terpenuhi dan mawani’nya tidak ada), wallahua’lam.

5. Antum katakan halaman 116,

a.     “Sebagian kaum muslimin menyakini bahwa khatha’ bukan udzur dalam syirik akbar. Ini dinisbatkan kepada aimmah dakwah, salah satu ulama’ yang berpendapat demikian adalah Syeikh Abdul ‘ula Rasyid bin Abu ‘ula” (pernyataan antum ini ana tulis dengan sedikit perubahan redaksi asli)

b.     “Sejauh penelitian kami udzur karena khatha’ berlaku dalam setiap masalah tanpa membedakan yang satu dengan yang lain, termasuk dalam perkara syirik akbar.

Ana katakan, kasus ini mirip dengan apa yang menjadi isykal bagi ana dan telah ana bahas pada isykal poin 2 tentang udzur jahil, sehingga secara umum jawabannya pun tidak terlalu jauh berbeda, hanya ada beberapa hal yang perlu ditambahkan disini, yaitu:

v Bahasan kita ini adalah khatha’ dalam syirik akbar, ini perlu diingat. Khatha’ biasanya terjadi hanya sebentar (buku antum hal. 117) dan biasanya terjadi karena 2 sebab :

a.     Khatha’ yang terjadi di luar kehendaknya atau keinginannya. Contoh : Khatha’ karena dipaksa, khatha’ karena hilangnya kesadaran baik karena mabuk atau karena kesleo lidah (salah ucap) dikarenakan saking senangnya atau saking marahnya sehingga yang bersangkutan lepas kontrol terhadap dirinya. Contoh kasus ini adalah orang yang mengatakan “Ya Alloh, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu”. Dia keliru karena saking gembiranya (HR. Muslim No. 6960, buku antum hal. 115). Contoh lain adalah sahabat yang membaca, “Katakanlah, wahai orang-orang kafir, aku menyembah apa yang kalian sembah dan kami menyembah apa yang kalian sembah”, dan kasus ini terjadi sebelum pengharaman khamer (lihat Risalah As Salaasiiniyyah fii At Tahdhir min Al Ghuluw fii At Takfir, Al Maqdisy dalam mawani’ takfir). Nah… contoh kesalahan-kesalahan inilah yang diudzur dalam syirik akbar.

b.     Khatha’ yang terjadi dengan kehendaknya atau kesadarannya. Contoh, orang melakukan syirik akbar (ini khatha’) sedang ketika malakukan dia tidak dipaksa tidak juga mengigau, maka khatha’ yang seperti ini tidak ada udzur sama sekali. Ucapan antum pada poin (a.) yaitu sebagian kaum muslimin menisbatkan kepada aimmah dakwah diantaranya Syeikh Abi Al ‘Ula, tidak mengudzur khatha’ dalam syirik akbar. Semestinya dibawa ke dalam makna khatha’ pada poin (b.), sedang ucapan antum pada poin (b.) yaitu penelitian antum yang menyimpulkan bahwa khatha’ adalah udzur dalam syirik akbar. Alangkah baiknya menurut ana kalau dibawa ke dalam makna khatha’ yang antum nukil dari kitab Iman pada hal. 114, atau makna khatha’ pada poin (a.). Memukul rata setiap khatha’ adalah udzur dalam syirik akbar tanpa rincian, menurut ana kurang bijaksana. Mestinya hal itu tidak terjadi apalagi sudah diadakan penelitian. Wallahua’lam

Jadi kesimpulannya udzur dalam syirik akbar ada 3,

1)    Al Ikroh (dipaksa), rinciannya seperti yang antum tulis dari hal. 117-122 atau lihat kitab Al Jami’ buku ke-10 dari hal. 60-66 atau As Salaasiiniyyah dalam mawani’ takfir.

2)    Al Jahlu (bodoh), rinciannya seperti yang telah lalu dari risalah ini.

3)    Al Khatha’ (kesalahan), rinciannya seperti yang baru saja kita selesaikan.

Masih ada satu masalah yang tersisa dari masalah udzur khatha’ dan ikroh dalam syirik akbar ini yaitu, apakah pelaku syirik akbar yang diudzur karena khatha’ dan ikroh itu diudzur dalam masalah ahkamnya saja atau juga asma’nya??

Jawab : ana katakan ya… dia diudzur secara ahkam di dunia dan akhirat. Tapi secara asma’ dia diudzur di akhirat tidak di dunia. Artinya di dunia dia tetap kita sebut musyrik, ini bila kita tidak tahu apakah dia dipaksa atau keliru yang muktabar atau lepas kontrol. Kalau kita tahu bahwa dia dipaksa atau keliru, maka kita tidak boleh menyebut mereka musyrik, baik di dunia maupun di akhirat. Kemudian perlu dicatat, berbeda dengan ahkam (menghukumi kafir), dalam asma’ (penyebutan nama musyrik) tidak disyaratkan tabayyun (mencari kejelasan) pada si pelaku, apakah dia dipaksa atau keliru atau tidak. Seperti halnya orang-orang Islam yang dhahirnya menampakkan keislaman dan kita tidak dapati pembatalnya, maka kita namai mereka kaum muslimin, tidak disyaratkan kepada kita tabayyun (mencari kejelasan) tentang keislaman mereka, bahkan perkara ini adalah bid’ah. Begitu juga kalau kita dapati orang berbuat syirik, maka kita katakan dia musyrik. Adapun kalau ternyata dia dipaksa atau tidak sengaja, maka urusannya dengan Alloh . Untuk itu Syeikh Sulaiman Ibnu Sahman mengatakan bahwa manusia itu terbagi menjadi 4 golongan, yaitu :

1)    Mukmin dhohir bathin,

2)    Kafir dhohir bathin,

3)    Mukmin dhohir kafir bathin, dan

4)    Kafir dhohir mukmin bathin. (Kitab At Tobaqoot, hal. 26), wallahua’lam

6. Halaman 133 antum katakan, “Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa syirik besar juga termasuk perkara yang penegakkan hujjahnya dengan risalah (peringatan Rasul).

Ana katakan, pernyataan ini benar sekali, bila dimaksudkan penegakkan hujjah dengan risalah (peringatan Rasul) sebagai syarat untuk menghukumi mereka sebagai kafir musyrik atau kafir musyrik murtad. Artinya orang yang berbuat syirik akbar tidak boleh dikafirkan atau dianggap murtad baik di dunia maupun di akhirat sebalum hujjah risalah tegak terhadap mereka. Akan tetapi perlu diingat bahwa mereka orang yang berbuat syirik akbar disebut musyrik, mau atau tidak mau. Karena sebutan musyrik tidak ada kaitannya dengan hujjah, tapi kaitannya adalah dengan pekerjaan, “siapa yang mengerjakan syirik  besar, maka dia musyrik”.

Adapun hujjah kaitannya dengan ancaman dan janji, sehingga benar memang bahwa orang yang berbuat syirik akbar dia tidak akan diadzab, baik di dunia maupun di akhirat sebelum ditegakkan hujjah pada mereka, baik di dunia maupun di akhirat.

Akan tetapi, sekali lagi mereka tetap disebut musyrik bukan muslim atau mukmin apalagi muwwahid, karena tauhid dan syirik adalah dua hal yang saling berlawanan yang takkan pernah bertemu dan bercampur. Apa masuk akal orang yang berbuat syirik dia disebut muslim? Sementara dia menyekutukan Rabbnya?

7. Halaman 139 antum katakan, “Sedangkan pernyataan bahwa orang tua Rasulullah  hidup pada masa fatroh dan tetap diadzab walau belum diutus kepada mereka Rasul adalah pernyataan yang salah.”

Ana katakan, ungkapan antum ini kurang bijaksana. Menurut ana alangkah baiknya kalau antum tidak memutlakkan kesalahan di atas. Alangkah baiknya jika antum menggunakan kata-kata “ungkapan ini masih perlu diteliti” atau ungkapan lain yang tidak memvonis mutlak salah pada ungkapan tersebut. Mari kita urai ungkapan di atas :

› Orang tua Rasulullah  hidup pada masa fatroh

Apa itu fatroh? Al Imam Ibnu Jarir Al Thobary ketika menafsirkan surat Al Maaidah ayat ke-19, yaitu kalimat  عَلَى فَتْرَةٍ مِّنَ الرُّسُلِ “Yaitu (terputus) dari Rasul.” (Al Haqoiq hal. 21). Sehingga kalau yang mereka maksud fatroh adalah fatroh dari Muhammad , maka tentu ini tidak bisa disalahkan karena kenyataannya orang tua Rasul  meninggal sebelum bi’tsah. Sekedar tambahan antara nabi terakhir (‘Isa ibnu Maryam) sampai bi’tsah (diutus Rasul) jaraknya adalah enam ratus tahun. Ini yang masyhur menurut Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 2/47) terbitan Daarul Hadits, Kairo). Berbeda kalau yang mereka maksud fatroh dari Rasul lain sebelum Muhammad , misalnya dari millahnya Ibrahim . Karena di tengah musyrik Quraisy saat itu masih ada hunafaak (orang-orang hanif yang masih memegang dien Ibrahim ) seperti Zaid bin Amru bin Nufail. Perlu diingat jarak dari ‘Isa  ke Muhammad  adalah enam ratus tahun, lalu berapa jarak dari Ibrahim  ke Muhammad ?

Ditambah kenyataan bahwa millah Ibrahim  waktu itu sudah dirusak oleh kelakuan Amru bin Luhay bin Qom’ah bin Khondaf. Dia ini yang membawa berhala Hubal, lalu dia letakkan di tengah-tengah ka’bah dan menyeru manusia supaya menyekutukan Alloh  dan meninggalkan millah Ibrahim  (Ar Rahiiqu al Makhtum edisi terjemah, Rabbani Press hal. 27). Jadi mengatakan orang tua Rasul  hidup pada masa fatroh tidak bisa mutlak disalahkan.

› Tetap diadzab (orang tua Rasul  diadzab)

Ini jelas benar berdasar Al Quran dan hadits, misal Al Quran surat At Taubah ayat ke 113. Ibnu katsir mengatakan asbabun nuzul ayat ini adalah keinginan Rasul  untuk mendo’akan ibunya (Tafsir Ibnu Katsir 2/487-488 terbitan Daarul Hadits, Kairo). Kemudian Alloh  melarang dan menetapkan mereka adalah penghuni neraka.

Dan dari hadits adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, tentang laki-laki yang bertanya tentang bapaknya yang meninggal zaman fatroh maka beliau   mengatakan, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka” dan yang semisal adalah hadits tentang Ibnu Jud’aan yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari A’isyah ummul mu’minin dan hadits tentang Bani Al Muntafiq yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (lihat Al Jami’ 6/42-43)

› Walau belum diutus pada mereka Rasul

Begitu juga dengan ungkapan ini, kalau Rasul yang dimaksud adalah Rasul lain selain Muhammad  seperti ibrohim  misalnya, maka disini masalahnya. Imam Nawawi misalnya beliau berpendapat diazab karena pada mereka sudah diutus rosul yaitu millah Ibrohim , yaitu masih adanya hunafa’ seperti Zaid bin Amru bin Nufail yang masih berpegang teguh dengan millah Ibrohim  meskipun secara global (Al Jami’ 6/45-46). Ada juga yang mengatakan “mereka itu tidak diudzur dengan sebab syirik akbar, padahal tidak pernah datang kepada mereka seorang pun pemberi peringatan yang khusus bagi mereka”. Berangkat dari keumuman ayat ke-6 dari surat Yaasin dan surat As Sajadah ayat ke-3 (lihat Assalaasiniiyyah, mawani’ takfir ke-3, khotho’), ana pribadai -wallahua’lam- lebih cenderung kepada pendapat pertama, akan tetapi ana katakan disini :

a.     Bahwa orang tua Rasulullah  diadzab di neraka, ini adalah hak berdasarkan Al Quran dan sunnah, ana yakini seyakin-yakinnya.

b.     Manusia tidak akan diadzab baik di dunia dan akhirat sebelum datang kepada mereka Rasul (tegak hujjah bi Rasul) baik di dunia maupun di akhirat.

c.     Apa sebab diadzabnya orang tua Rasul ? Ana cenderung terhadap pendapat karena pada mereka telah tegak hujjah dengan dien Ibrahim , akan tetapi ana tidak menafi’kan adanya pendapat lain dan tidak menyibukkan diri dengan masalah ini karena mereka adalah kaum yang telah berlalu, wallahua’lam.

8. Halaman 141 antum katakan, “Namun orang kafir asli mereka tetap dihukumi sebagai orang kafir (musyrik) walaupun belum ditegakkan hujjah padanya, namun tidak boleh dihukum hingga ditegakkan hujjah kepadanya”. Antum mengulanginya di hal. 146

(antum mengisyaratkan Al Jami’ 6/14 dan Nawaaqidhul Iman 1/290).

Ana katakan, ada beberapa hal yang ingin ana tanyakan dari satu paragraf di atas :

i.     Kenapa mereka disebut musyrik padahal belum tegak hujjah?

ii.     Kalau sudah tegak hujjah, mereka disebut apa?

iii.     Kalau sudah tegak hujjah, mereka mengaku Islam, sholat, zakat, haji tapi sering melakukan syirik akbar, ini disebut apa?

iv.     Apa konsekuensi dari penetapan hukum kafir (musyrik) bagi mereka di dunia maupun di akhirat?

Itulah beberapa pertanyaan yang ana harap bisa menambah wawasan keilmuan.

9. Halaman 168 antum katakan, “Menghukumi seluruh orang murtad di negara non Islam sebagai mumtani’ kurang tepat karena keadaan wilayah, aturan dan kondisi masyarakat berbeda-beda.”

Ana katakan, pernyataan antum ini adalah bentuk tidak sepakatnya antum dengan Syeikh Abdul Qaadir yang menganggap bahwa orang yang murtad di negara yang belaku di dalamnya hukum positif adalah mumtani’ bii daaril harbi itu dikarena mereka melindungi dirinya dari penegakkan hadd oleh kaum muslimin dengan UU kafir mereka, kerena UU kafir mereka tidak menganggap kemurtadan adalah pelanggaran (lihat selengkapnya fatwa beliau di Al Jami’ 8/64). Syeikh Al Maqdisi juga berpendapat sama dengan Syeikh Abdul Qaadir, bahkan beliau menganggap orang yang murtad dan melindungi dirinya dengan undang-undang kafir berarti dia mumtani’ dari dua sisi makna mumtani’ yaitu,

a.     Imtina’ dari mengamalkan syari’at, dan

b.     Imtina’ dari kekuasaan kaum muslimin (lihat Assalaasiiniyyah Qoidah Takfir, perhatian seputar mawani’ takfir).

Jadi paling tidak antum berbeda pendapat dengan dua Syeikh ini, ini adalah hak antum dan itu sah-sah saja. Akan tetapi ana melihat, dalil-dalil yang digunakan dua Syeikh ini adalah lebih kuat dari apa yang antum gunakan, wallahua’lam. Dan argumen antum (masih di hal. 168), bahwa terkadang ada negara non Islam yang memberi kebebasan kepada kaum muslimin untuk melaksanakan hukum-hukum Islam, kemudian antum mencontohkan Mesir ketika dijajah dan dikuasai Perancis. Disini perlu difahami dulu bahwa kita sedang berbicara membunuh orang murtad, betul memang kadang-kadang mereka membolehkan beberapa syari’at, seperti sholat, puasa, zakat, haji, hijab, dll. Akan tetapi apakah mungkin mereka membolehkan membunuh orang?? Apakah mungkin UU kafir membolehkan menegakkan hadd kepada orang murtad dengan membunuhnya?? Coba direnungkan, bukankah yang sedang kita bicarakan adalah membunuh orang murtad? Seandainya UU kafir mereka membolehkan hal ini, tentu mereka sendiri atau para pengkhianat murtad yang menjual darah dan harta kaum muslimin yang lebih dulu akan dihabisi oleh kaum muslimin. Tapi, tentu itu adalah hal yang sangat mustahil… dan mustahil… sampai onta masuk ke lubang jarum pun itu tetap mustahil. Dan tidak ada pertolongan dan kemudahan kecuali dari Alloh .

Ibnul Qoyyim mensyaratkan orang yang mau berfatwa itu harus memiliki dua kefahaman,

a)    Faham terhadap waqi’ (realita) tempat perkara berada,

b)    Faham ilmu terhadap perkara yang dia akan hukumi (buku antum hal. 161).

Faham waqi’ tapi tak faham ilmu, maka akan keluar fatwa ngawur dan bisa jadi sesat dan menyesatkan, begitu juga faham ilmu secara detail tapi jahil terhadap waqi’, ibarat orang yang berbicara tentang bulan padahal dia tinggal di bumi, akan keluar hukum yang gak nyambung.

Ana teringat apa yang diceritakan beberapa ikhwan mujahidin, dan ana pun menjadi saksi, mudah-mudahan Alloh  menetapkan bagi kami pahala dan menghapuskan dosa-dosa kami dan menjadikan kami ridho dengan takdir-Nya kepada kami.

Dulu ada sekelompok mujahidin yang memutuskan untuk menghabisi orang-orang lokal yang menjadi mata-mata thoghut untuk memata-matai mujahidin, bahkan dia ditugasi mencari tahu keberadaan ikhwan yang menjadi buron thoghut untuk kemudian dilaporkan kepada thoghut. Karena ulah mereka lah beberapa ikhwan berhasil ditangkap thoghut, dan tempat persembunyian ikhwan-ikhwan digrebek. Karena memandang bahayanya Banpol (bantuan polisi) ini, maka ikhwan-ikhwan memutuskan untuk mentarget mereka. Ini dilakukan supaya gerak thoghut terhambat, karena tidak mungkin thoghut bisa leluasa dan mudah mengetahui tempat ikhwan-ikhwan kecuali diantar oleh pengkhianat macam mereka (banpol). Maka dengan izin Alloh , ikhwan-ikhwan berhasil membunuh beberapa diantara mereka setelah melakukan pengintaian yang sangat lama. Ana tahu betul bagaimana ikhwan-ikhwan beberapa kali gagal membunuh banpol itu dikarenakan kelicinan dia dan karena memang ajalnya belum tiba. Apa yang diprediksi mujahidin betul terjadi, untuk sementara ikhwan-ikhwan bisa bernafas lega dari kejahatan mereka. Peristiwa itu pun menjadi pelajaran buat pengkhianat yang lain, diantara mereka ada yang taubat dan yang lain mengungsi ke markaz thoghut, dan yang tetap tinggal di rumahnya dijaga ketat oleh thoghut. Akan tetapi dengan kehendak Alloh , ikhwan-ikhwan tak begitu lama menghirup nafas lega. Mereka dikejutkan oleh serangan baru, bukan dari thoghut tapi dari “bolo dewe”. Serangan itu berupa tuduhan bahwa apa yang dilakukan mujahidin adalah qatlu al khatho’. Serangan itu dilancarkan dari jarak ribuan kilo meter dari medan konflik, dilancarkan oleh ahli ilmu strategi dan manajemen, kenapa ana katakan demikian? Karena meskipun dilakukan dari jarak ribuan kilo, serangan-serangan itu betul-betul mengenai sasarannya dengan tepat.

Wahai para ahli ilmu strategi dan manajemen, seandainya kalian mau datang ke tempat kami, hidup bersama kami dan mau memahami peta konflik di tempat kami, tentulah itu lebih baik bagi kalian. Ketahuilah, memahami waqi’ tidak cukup hanya dengan laporan seperti kebiasaan kalian, bagaimana kalian bisa mengatakan qatlu al khotho’ sementara sudah bertahun-tahun kami disini, tak pernah kami melihat wajah kalian meskipun cuma 1 jam. Kafilah telah silih berganti, tamu terus datang dan pergi, tapi tangan kami tidak pernah merasakan halusnya tangan kalian untuk menyambut kedatangan maupun untuk melepas kepulangan.

Tahukah kalian, kalau pun apa yang kalian katakan benar qatlul al khatho’, mereka adalah kelompok yang Alloh  janjikan kepada mereka “Alloh akan ampuni dosa-dosamu dan Alloh akan masukkan kamu ke dalam Jannah” (QS. Ash Shof : 12). Lalu apa janji Alloh kepada kalian?? Apakah ini? “Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At Taubah : 24). Inikah yang Alloh  janjikan kepada kalian? Maka mari kita menghisab diri kita masing-masing.

Lihatlah fenomena kalian dari dulu hingga sekarang dan waktu yang terus berjalan ketika terjadi bom penuh berkah di Legian, kalian katakan ini di luar kesepakatan. Ketika terjadi bom di Marriot dan Kuningan, kalian katakan mereka adalah orang-orang yang tidak mau menerima nasehat dan saran. Ketika ikhwan-ikhwan muwwahidin berusaha bangkit dari kehinaan, kemudian mereka berkumpul di Aceh untuk sekedar mengadakan pelatihan, kalian katakan, mereka adalah aliansi pelangi tanpa ikatan. Mereka hanya menjadikan jihad dan mati syahid sebagai tujuan. Aduhai… siapakah sebenarnya kalian? Ketika muwwahidin menampakkan kebaro’an terhadap para thoghut yang duduk di pemerintahan dan menghati-hatikan manusia supaya tidak mengemis kepada mereka, pekerjaan baik di dinas kepolisian, ketentaraan, kehakiman, atau sekedar menjadi pegawai negeri rendahan, kalian segera tampil dengan segudang keilmuan kalian. Membuka dauroh-dauroh untuk memberi penjelasan, bahwa polisi dan tentara tidak bisa dikafirkan, menurut ilmu kalian pada mereka ada rincian. Sebagian kalian mengatakan, kalau pemimpin-pemimpinnya dikafirkan, sedang anggotanya tidak bisa dikafirkan karena mereka cuma sekedar mencari makan. Sebagian kalian mengatakan, mereka kafir nau’ tidak mu’ayyan. Dan diantara kalian ada pula yang mengatakan, bahwa para anggota dewan itu bukan musyrik meskipun mereka melakukan kesyirikan. Di sisi lain diantara kalian ada yang menjalin pertemanan bahkan persaudaraan dengan pegawai negeri rendahan, barangkali demi masa depan. Lalu pergi kemanakah si al wala’ wal baro’ yang selama ini kalian gembar-gemborkan?? Inilah kalian… ketika sekumpulan mujahidin yang hanya bermodalkan senjata rakitan dan senjata karatan peninggalan zaman penjajahan berani menentang keangkuhan komandan densus 88 dengan anggotanya yang ribuan dan senjata lengkap di tangan dan di badan, ditambah rompi anti peluru untuk melindungi diri dari kematian. Mereka masih punya nyali untuk melindungi kehormatan, tak mau sama sekali dihinakan sampai titik darah penghabisan. Diantara mereka ada yang menjemput kesyahidan dengan 38 lubang peluru menembus badan, dan diantara mereka masih ada yang Alloh  sisakan untuk mengadakan pembalasan, insya Alloh.

Tapi apa yang kalian lakukan… kalian malah mengundang thoghut-thoghut pembawa kehinaan untuk meresmikan sekolah-sekolah kalian. Kalian sediakan bagi mereka tempat duduk di depan, kalian perlakukan bak pangeran-pangeran kerajaan, kalian persilahkan mereka memberikan sambutan, sementara kalian di bawah duduk mendengarkan wejangan-wejangan dari thoghut pemerintahan. Akhir dari adegan ini adalah kalian saling bersalaman dan berpelukan sebagai tanda perpisahan, hanya si thoghut pulang sambil membawa bingkisan dan kemenangan. Sementara kalian -demi Alloh – tidak tersisa bagi kalian kecuali kekalahan dan kehinaan. Wahai al wala’ wal baro’ dimanakah kalian ditanggalkan?

Inilah kalian… ketika muwwahidin berseteru dengan partai-partai pendukung kesyrikan, dimana mereka memilih arbab dan ruhban untuk menjadi tandingan sang Rahman dalam membuat dan menetapkan aturan. Mereka mengembel-embeli diri dengan syiar-syiar keislaman untuk meraih simpatisan. Para muwwahidin menghati-hatikan ummat atas mereka supaya tidak tertipu dan terperdaya oleh si kambing berbulu domba. Tapi lihatlah kalian, diantara kalian justru ada yang menikahi kader-kader mereka, mungkin karena si akhwat kaya, jadi lupa segalanya. Tahukah kalian bahwa para kader mereka punya andil besar untuk mendudukkan arbab dan ruhban mereka? Arbab dan ruhban mereka tidak mungkin menempati candi-candi (baca: gedung) MPR dan DPR untuk disembah kecuali atas dukungan dan pilihan yang diberikan oleh kader-kader mereka. Yah… itulah kalian, ibarat lalat yang tak akan hinggap kecuali di tempat yang tak sedap.

Inilah kalian… sekarang datang setelah daerah betul-betul aman, tak ada lagi penembakan dan penangkapan. Kalian datang untuk menetralisir keadaan dan melanjutkan pentadbiran tentu dengan gaya dan strategi kalian. Wahai apa yang sekarang terjadi? Benarkah orang-orang yang terbukti pemberani yang gigih mempertahankan harga diri, sekarang dijauhi? Sedang orang-orang yang bermental kalah sebelum perang diberi amanah untuk memegang kebijakan! Benarkah orang-orang yang dulu di garis depan tak pernah mundur dari pertempuran meski hanya dengan satu senjata di tangan yang dipakai bergantian, mereka tak menyerah meski harus bersimpuh darah, justru mereka ditinggalkan? Sementara orang-orang yang kalah menyerah sebelum berdarah yang tak ada nyali meski seujung jari mereka yang menghilang ketika musuh datang, mereka yang lari menyelamatkan diri bersembunyi di bilik-bilik istri bak bidadari yang enggan kulitnya tersentuh panas sinar matahari, justru dihormati dan diberi kepemimpinan dalam organisasi. Tidak tahukah kalian bahwa mereka adalah orang-orang yang dulu suka meminta udzur kepada komandan! Tahukah kalian bahwa mereka dulu adalah orang-orang yang tidak pernah dilibatkan dalam urusan lapangan dan pentadbiran, kecuali hanya mengurusi akhwat dan ummahat. Tahukah kalian bahwa diantara mereka ada yang nyaris menjadi target mujahidin, seandainya ikhwan-ikhwan tidak mengkhawatirkan fitnah. Tahukah kalian, diantara mereka lah yang dulu mendatangi ikhwa-ikhwan dan meminta kepada ikhwan-ikhwan untuk menyerahkan diri dengan imbalan duniawi!

Apakah mereka yang hari ini bersama kalian? Yang mengundang kalian datang, yang menyambut kalian, yang mengumpulkan orang-orang untuk mendengarkan fatwa-fatwa kalian. Fatwa yang keluar dari ilmu kalian yang mendalam dan pemahaman waqi’ yang sempurna setelah berada di lokasi selama satu atau dua hari. Setelah itu kalian pulang dengan meninggalkan keraguan di hati ikhwan-ikhwan. Inilah sekelumit refleksi, mudah-mudahan bisa dimengerti, ana minta maaf kalau ada yang sakit hati.

10. Halaman 172 antum mengatakan ketika antum menjawab pertanyaan point 4, “Bolehkah kita memastikan orang kafir asli sebagai penduduk neraka? Antum menjawab : “Jika orang meninggal dalam keadaan kafir (Hindu, Budha, Kristen dan lain-lain) dibolehkan memastikannya sebagai penduduk neraka.”

Ana katakan, coba kita lihat lagi hal. 141 dan hal. 146, di dua tempat itu antum katakan “Adapun orang kafir asli (dan pertanyaan hal. 172 point 4 adalah kafir asli) mereka tetap dihukumi sebagai orang kafir (musyrik) walaupun belum ditegakkan hujjah kepadanya, namun tidak boleh dihukum (diazab) hingga ditegakkan hujjah padanya, selesai.

Apakah disini tidak bertentangan?? Inilah yang beberapa kali ana dapatkan pada tulisan antum, yaitu sering bertentangan pada satu masalah yang dibahas. Ini disebabkan -wallahua’lam- karena antum tidak memberi rincian. Ana sendiri tidak tahu apakah sebabnya karena tergesa-gesa atau memang antum belum memahami masalah. Dan inilah yang mendorong ana ingin berdiskusi langsung dengan antum, hanya antum sendiri pun tahu apa yang terjadi di antara kita, sehingga menjadi penyebab hadirnya tulisan ini di hadapan antum.

Kembali ke jawaban antum pada pertanyaan poin 4, hal. 172, disini alangkah baiknya kalau antum memberi rincian sebagai berikut, “Jika seseorang meninggal dalam keadaan kafir (Hindu, Budha, Kristen, dll) maka perlu dirinci :”

a)    Jika dia meninggal dan belum tegak hujjah padanya, maka dia tetap disebut kafir yang bermakna syirik yaitu kafir qobla da’wah, dia tidak boleh diadzab sebelum ditegakkan hujjah, di akhirat dia akan di imtihan (diuji) sebagai ganti hujjah di dunia yang belum tegak, untuk menentukan dia apakah di neraka atau di jannah. Jadi tidak boleh memastikan mereka sebagai penduduk neraka (buku antum hal. 134).

b)    Jika sudah tegak hujjah pada mereka di dunia, baru dibolehkan bahkan diwajibkan untuk menetapkannya sebagai penduduk neraka, mereka kekal di dalamnya. Begitulah hukum Al Quran dan as sunnah kepada mereka, mudah-mudahan antum ridha.

11. Halaman 173 ketika antum menjawab pertanyaan poin 5, “Saya melihat seseorang melakukan perbuatan kufur, seperti membuat undang-undang yang menyelisihi syari’at atau meminta kepada orang yang sudah meninggal, tetapi saya tidak mengkafirkannya. Apakah keimanan saya batal karena tidak mengkafirkan orang tadi?”

Ana katakan, jawaban antum atas pertanyaan di atas kurang tepat dan tidak menjawab serta tidak menyelesaikan jawaban dari pertanyaan di atas dengan tuntas. Antum menukil dua perkataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan mengomentari : “Sepertinya Syeikh ingin memadukan bahwa diantara takfir ada yang merupakan syarat sah Islam seperti mengkafirkan Yahudi, Nashrani atau orang-orang yang menyatakan dirinya telah keluar dari Islam secara resmi”. Kemudian antum menukil dari Syeikh Al-Maqdisi dalam Ats-Tsalaasiniiyah hal. 520, “Dan diantara takfir ada yang merupakan bentuk kesempurnaan tauhid, bukan syarat sah seperti mengkafirkan pelaku kekufuran dari kalangan mu’min”.

Disini ana katakan bukan “sepertinya” tapi “memang begitu adanya” bahwa masalah tidak mengkafirkan orang kafir itu ada yang merupakan syarat sahnya tauhid dan ada yang merupakan syarat sempurnanya tauhid.

Ü Merupakan syarat sahnya tauhid

Ini kalau yang tidak dikafirkan adalah orang-orang yang kekafirannya adalah pasti dan diketahui siapapun (ma’lum min diiin bi dhururoh) dimana tidak ada syubhat sama sekali tentang kekafiran mereka seperti kekafiran Yahudi dan Nashrani.

Mengkafikrkan Yahudi dan Nashrani merupakan syarat sahnya tauhid sehingga barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir (Yahudi dan Nashrani) maka dia kafir. Ini tentu berkaitan erat dengan hujjah dan syarat dan mawani’ terpenuhi pada mu’ayyan yang menolak untuk mengkafirkan Yahudi dan Nashrani.

Ü Merupakan syarat sempurnanya tauhid

Ini kalau yang tidak dikafirkan adalah orang-orang yang memungkinkan adanya syubhat bagi yang tidak mau mengkafirkan, contoh : pelaku syirik akbar yang dhohirnya mengaku muslim, dia sholat, zakat, puasa dan haji. Maka mengkafirkan orang jenis ini adalah syarat sempurnanya tauhid bagi orang-orang yang terkena syubhat (ragu /jahil) tentang kekafiran mereka. Artinya muslim yang tidak mau mengkafirkan makhluk jenis ini dia tidak bisa langsung dikafirkan sebelum dijelaskan padanya hujjah dari Al Quran dan sunnah tentang kekafiran mahluk jenis ini. Baru jika setelah dijelaskan kepadanya hujjah dan dihilangkan darinya syubhat dia tetap ngeyel atau ragu maka dia kafir dengan ijma’. Ini seperti yang di katakan :

a.     Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdil Wahhab (Adh-Dhuror 8/160)

b.     Syaikh Muhammad bin Abdil Latief bin Abdirrohman (Adh-Dhuror 10/439-440)

c.     Lajnah Addaimah yang diketuai oleh Syakh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz (Fatawa Al-Aimmah Annajdiyyah 3/210 ; Juz Asli Ad-Diin Al Islam hal. 18)

Dan jawaban yang menurut ana tepat untuk pertanyaan poin 5 adalah : sikap anda yang tidak mengkafirkan ketika anda melihat seseorang yang melakukan perbuatan kufur, seperti yang anda contohkan adalah sikap yang terpuji. Karena jika sekedar melihat, tidak cukup untuk mengkafirkan seseorang itu dikarenakan takfir mu’ayyan (mengkafirkan individu) memiliki dhowabit (batasan-batasan ) yaitu terpenuhinya syarat baik pada pelaku, pada perbuatan maupun pembuktian dan hilangnya mawani’ (penghalang), baik pada pelaku, pada perbuatan, maupun pembuktian. Yang bisa anda lakukan adalah mengatakan apa yang dia lakukan adalah sebuah kekafiran dan itu -Alhamdulillah- sudah anda katakan di awal pertanyaan anda. Meskipun demikian perlu anda tahu bahwa 2 contoh yang anda sebutkan adalah syirik akbar, sehigga anda harus mengatakan dan meyakini bahwa pelakunya adalah musyrik. Ini jika ketika anda melihat perbuatan syirik mereka, anda tidak melihat adanya paksaan atau kesalahan yang tidak disengaja oleh si pelaku dan tidak diwajibkan kepada anda untuk mencari tahu apakah si pelaku dipaksa atau tidak. Berbeda dengan kalau anda mau mengkafirkan maka harus terpenuhi syarat-syarat yang sudah disebut diatas. Mungkin anda akan bertanya “Lalu bagaimana kalau saya tidak mau menyebut mereka musyrik padahal saya tau mereka berbuat syirik????” Maka dijelaskan kepada anda dalil-dalil dari Al Quran, ijma’ dan perkataan ulama’ bahwa orang yang berbuat kesyirikan dia disebut musyrik sampai anda faham dan tidak memiliki syubhat dalam hal ini. Kalau setelah dijelaskan kepada anda dengan gamblang tetapi anda tetap ragu atau ngeyel atau malah menentang, saat itulah anda dikafirkan, tentu setelah syarat dan mawani’ takfir terpenuhi kepada anda, selesai jawaban ana -wallahu ‘alam-.

12. Halaman 186 poin (a) antum katakan, “Orang yang istihza’ menandakan bathinnya telah kafir”

Ana katakan, Syeikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz mengatakan, membawa-bawa batin untuk mengkafirkan orang yang istihza’ adalah aqidahnya murji’ah fuqoha’ dan Al Asy’ariyah. Kita tahu bahwa orang bisa kafir karena 4 hal, qoul mukaffiroh, fi’il mukafiroh . i’tiqod mukaffiroh dan syak mukafiroh. Sementara istihza’ itu ada dua istihza’ shorih dan istihza’ ghoiru shorih. Dan ini terjadi dengan qoul maupun fi’il, maka orang yang melakukan istihza’ shorih dengan qoul maupun fi’il.

a.     Ahlus sunnah wal jama’ah mengatakan, “Dia kafir dhohir dan batin di dunia dan akherat, karena sebab istihza’nya”.

b.     Murji’ah fuqoha dan Al Asy’ariyah mengatakan, “Dia kafir dhohir dan batin di dunia dan di akherat, akan tetapi kekafirannya bukan sekedar qoul ataupun fi’il ketika dia beristihza’ melainkan perkataan atau perbuatannya itu adalah sebagai tanda bahwa hatinya juga sama dengan perkataannya atau perbuatannya”.

c.     Jahmiyyah murji’ah mengatakan, “Dia kafir dhohir di dunia saja dan boleh jadi dia mukmin batin jika dia mebenarkan dengan hatinya”. Orang seperti ini dikafirkan oleh Imam Malik Ibnu Jarroh, Ahmad Bin Hanbal, Abi Ubaid dan yang lainnya.

d.     Ghulat murji’ah, “Dia tidak dikafirkan di dunia apalagi di akherat kecuali bila dia menampakkan pengingkarannya dangan pernyataan”. Para salaf tidak berbeda pendapat tentang kekafiran kelompok ini (lihat Al jami’ 7/ 60-66).

Walhasil menurut Syeikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz apa yang antum katakan pada poin (a) adalah madzhabnya murji’ah fuqoha, wallahua’lam.

13. Halaman 193 poin 12 antum katakan, “Pengkafiran individu (takfir mu’ayyan) adalah hak seorang ulama’ “

Ana katakan, afwan inilah sedikit kekurangan pada buku antum, bertentanggan pada satu masalah (kata orang jawa mencla-mencle), di halaman lain begini, di halaman lainnya begitu, lain di dalam pembahasan lain pula dalam kesimpulan. Ini contoh terahir dari yang ana katakan.

Coba lihat hal. 161, disana antum katakan orang yang berhak melakukan takfir mu’ayyan adalah “orang-orang yang ahli dalam masalah ini bisa seorang qodhi mujtahid atau ahli ilmu yang meamang memiliki kapasitas ilmu yang tidak di raguka lagi

Coba lihat hal. 163 antum katakan “demikian bukti-bukti yang menunjukkan bahwa orang yang menghukumi kekafiran seseorang haruslah orang yang berilmu. Orang yang mengkafirkan tidak harus seorang qodhi, mujtahid, amir atau sulthon, tetapi seorang mujtahid dan qodhi adalah orang yang paling ideal dalam menghukumi kekafiran seseorang”.

Masih hal. 163 alenia akhir dan selesai di hal. 164 antum katakan “perlu ditegaskan pula bahwa kapasitas ilmu dan kemampuan orang yang mengkafirkan tidak harus sama, terkadang ada kekafiran yang sangat jelas serta tidak ada syubhat di dalamnya. Dalam hal ini mengkafirkan pelaku yang melakukan perbuatan tersebut tidak harus menunggu seorang mujtahid atau seorang alim yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Misal orang yang menghina Al Quran Alloh  dan Rasul-Nya  dengan penghinaan yang jelas-jelas dan tidak mengandung kemungkinan lain, mengkafirkan orang ini tidak harus dilakukan oleh seorang mujtahid. Namun jika mawani’ tidak ada padanya dan iqomatul hujjah telah tegak kepadanya (sesuai qoidah mawani’ dan iqomatul hujjah yang telah kami paparkan di atas) maka dia dikafirkan”.

Coba perhatikan perbedaan ucapan-ucapan antum, ana bertanya mana sebenarnya yang menjadi pendapat antum? Buku antum ini dijual bebas, dibaca banyak orang. Diantara mereka tentu ada yang terpelajar, ada juga yang awwam. Alangkah baiknya antum berikan rincian supaya gamblang sehingga tidak membingungkan.

Ana sendiri sependapat dengan apa yang antum katakan di akhir hal. 163 dan awal hal. 164. Alangkah bagusnya jika ini yang antum jadikan kesimpulan. Ana akan menambahkan perkataan-perkataan para ulama’ untuk menguatkan pendapat kita yaitu bahwa pengkafiran pada masalah-masalah yang jelas dan tidak ada syubhat di dalamnya separti yang antum contohkan atau dalam masalah syirik akbar, bukanlah haknya qodhi, hakim, atau ulama’ saja tapi boleh bagi siapa saja yang mengetahuinya melakukannya, kadang-kadang itu menjadi syarat sahnya tauhid.

Al Imam Abi Muhammad Al Hasan Al Barbahari berkata, “Dan tidak boleh dikeluarkan seorang ahlul qiblah dari Islam sampai dia menolak satu ayat dari kitabullah atau menolak sesuatu dari atsar-atsar Rasulullah  atau sholat untuk selain Alloh atau menyembelih untuk selain Alloh . Maka apabila dia melakukan hal tersebut di atas, wajiblah atas dirimu mengeluarkannya dari Islam.” (kitab Sahru As Sunnah poin 49 / Al Jami’ 7/ 49).

Ucapan beliau “wajiblah atas dirimu” ini adalah kalimat umum, tidak untuk ulama’, qodhi atau hakim saja. Sedang perkara yang beliau contohkan termasyuk syirik, jadi mengkafirkan (lebih-lebih pada pelaku syirik) bukanlah hak ulama’ saja tapi hak siapa saja yang mengetahui.

Syaikh Islam Muhammad bin Abdil Wahhab berkata ketika beliau menukil ucapan seorang badui, “Dan sungguh alangkah indah sekali apa yang dikatakan seorang arab badui tatkala dia datang kepada kami dan mendengar (sedikit) dari Islam (tauhid) ini, ia langsung berkata : “Saya bersaksi bahwa kami orang-orang kafir, dan saya bersaksi bahwa muthowwi’ (ustadz/kiyai) yang mengatakan bahwa kami adalah orang-orang Islam, dia adalah kafir.” (syarh Sittati Mawadhi Mina As-Siroh hal. 23 dalam Majmu’ah At-Tauhid).

Ini adalah ucapan paling kuat dan jelas dalam masalah ini, bagaimana tidak coba antum perhatikan seorang badui, orang dusun yang tidak tahu apa-apa jelas dia bukan pelajar atau cendikiawan apalagi ulama’. Bagaimana mau dikatakan ulama’ sementara dia baru datang dan baru mendengar dan belajar tauhid. Tapi dia berani mengkafirkan  secara ta’yin dirinya sendiri dan seluruh orang badui yang bersamanya bahkan masih dia tambah murobbi’nya sekalian dikafirkan secara mu’ayan. Kira-kira kalau ini dilakukan oleh orang zaman kita, apa kata mereka? Mahkota takfiiri, ghuluw fittakfir, khowariij tentu akan segera dipaksakan kepada yang melakukan untuk dipakai di kepalanya dan dibawa kemana-mana atau paling tidak nasibnya seperti yang ana alami pribadi.

Dulu ana pernah dikatakan antum salah!! Takfir itu bukan hak antum!! Itu haknya ulama’, kalau itu antum lakukan maka akan mengacaukan da’wah!! Itu ketika ana mengkafiran Hidayat Nur Wahid si gembong kesyirikan (waktu itu dia sebagai ketua MPR). Siapa yang mengatakan kepada ana?? Subhanallah BELIAU BUKAN IRJAI’ bukan salafi maz’umi bukan muqbili bukan juga ikhwani tapi beliau adalah “BOLO DEWE”. Lihat apa yang dikatakan Syeikh Islam Muhammad bin Abdul Wahhab kepada badui yang melakukan takfir mu’ayan pada dirinya sendiri dan seluruh badui yang  bersamanya, masih ditambah ustadznya, Syeikh katakan : “Sungguh alangkah indah sekali” Ya….  alangkah indah sekali kalau mereka mencontoh apa yang diucapkan Syeikh ini.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Aba Bhuthain berkata, “Sedangkan macam syirik yang terbesar ini adalah ibadah kepada selain Alloh  dan itu adalah kekafiran dengan ijma’ kaum muslimin dan tidak ada larangan dari mengkafirkan orang yang memiliki sifat ini karena orang yang berzina dikatakan si fulan berzina dan orang-orang yang memakan riba dikatakan si fulan memakan riba.” (Ad-Duror 10/417)

Perhatikan ucapan beliau “dan tidak ada larangan dari mengkafirkan orang yang memiliki sifat ini”. Kalimat beliau ini adalah kalimat umum dan ditunjukan kepada umum, tiada pengkhususan ulama’ atau qodhi atau hakim.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, “Ini berdasarkan  atas apa yang telah engkau ketahui bahwa tauhid itu menuntut penafi’an syirik, berlepas diri darinya, memusuhi para pelakunya dan mengkafirkan pelakunya saat hujjah telah tegak atas mereka.” (syarh Ashli Dienul Islam dan Majmu’ah At-Tauhid hal. 31).

Perhatikan ucapan beliau “Ini berdasarkan atas apa yang engkau ketahui -sampai- mengkafirkan mereka”. “engkau” yang beliau maksud adalah umum, tidak ditunjukkan kepada ulama’ saja karena mengkafirkan mereka berkaitan dengan orang yang bertauhid semantara orang yang bertauhid tentu bukan ulama’ saja tapi siapa saja yang merasa bertauhid harus mengkafirkan pelaku syirik akbar saat hujjah sudah tegak pada mereka karena mengkafirkan mereka merupakan syarat sahny tauhid.

Syaikh Abdul Latief bin Abdurrahman bin Hasan bin Abdil Wahhab berkata,

واما كان المكفر لأحد من هذه الأمة يستند في تكفيره له الى نص وبرهان من كتاب الله وسنة نبيه صلى الله عليه وسلم وقد رأى كفرا بواحا كاالشرك بالله وعبادة ما سواه والستهزاء به تعالى أو اياته أو رسله أوتكذيبهم أو كراهيته ما أنزل الله من الهدى ودين الحق أو جحد صفات الله على وتعوت جلاله ونحو ذلك فالمكفر بهذا وأمثاله مصيب ماجور مطيع لله ورسوله ……..

(الدرر 12 /261 , 264)

Lihatlah bagaimana Syeikh Abdul Latief menganggap bahwa pengkafiran karena sebab-sebab lain yang merupakan ashlul Islam adalah benar berpahala dan termasuk ketaatan kepada Alloh  dan Rasul-Nya . Maka dapat dipahami bahwa hal ini bukan saja hak ulama’ atau qodhi atau hakim atau mujtahid saja, akan tetepi adalah haknya setiap muwwahid yang mengetahui.

Syaikh Ali bin Khudhair Al-Khudhair ketika beliau ditanya siapa yang berhak melakukan pengkafiran secara ta’yin? Apakah pengkafiran secara ta’yin adalah haknya ulama’, mufti atau qodhi saja?? beliau menjawab, diantara ucapan beliau : “Orang biasa (yang sudah tahu hukum-hukum takfir dan penghalang-penghalangnya) ia boleh mengkafirkan. Inilah yang dipraktekkan sejak zaman Nabi  sampai zaman kita sekarang ini”. Dan di antara jawaban beliau juga, beliau berkata : “Takfir ini (mengkafirkan secara ta’yin) bukan hak khusus yang dimonopoli oleh qodhi, mufti atau ulama’ yang jadi panutan. Anggapan bahwa takfir adalah hak khusus yang dimonopoli oleh qadhi, mufti atau ulama’ yang menjadi panutan adalah termasuk kesalahan.” (sumber : mimbar Tauhid wal Jihad, rubrik Al-Iman Wal Kufr Fatwa’ Man Lahu Haqqy At-Takfir, Syeikh Ali bin Khudoir Al-khudhoir), selesai. Jelas sekali apa yang difatwakan Syeikh Ali Al-Khudhoir.

Sampai disini risalah ana, mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya, mohon ma’af kalau ada kata-kata yang menyinggung perasaan anda. Risalah ini hadir semata-mata karena rasa cinta, tentu dalam risalah ini ada yang tidak sempurna pembahasannya. Untuk itu ana tunggu jawaban, komentar atau tanggapannya, dengan cara baik dan ilmiyah tentunya. Ana ruju’ dari kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja kepada al-haq yang nyata baik ketika ana hidup atau setelah ana tiada.

فما كان فيها من صواب فمن الله وما كان فيها من خطاء فمني والشيطان وهو مرود.

الهم رب جبريل وميكائيل واسرافيل فاطر السموات والارض , عالم الغيب والشهادة أنب تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه تحتلفون , اهدني فيما اختلف فيه من الحق باذنك انك تهدي من تشاء الى صراط مستقيم (رواه مسلم)

لاحول ولا قوة الا بالله العزيز الحكيم

والله أعلم بالصواب , والحمد لله رب العالمين

والسلا م عليكم ورهمة لله وبركاته

الفقير الى لله

أبو حتاف سيف الرسول

غرفة الخلوة , يوم الاحد , 9ربيع الاول 1432 من هجرة النبي

Nusa Kambangan, 13 Februari 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: