Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » biografi » biografi mujahid » Abu Mansur Al-Amriki, Tokoh Gerakan Jihad Selanjutnya [bagian 04 dari 11]

Abu Mansur Al-Amriki, Tokoh Gerakan Jihad Selanjutnya [bagian 04 dari 11]


Kenakalan Remaja dan Proses Penemuan Islam
Jika dibandingkan dengan teman-teman seusianya, Hammami adalah anak yang paling suka mengintropeksi diri, selain itu ia juga sangat suka mempelajari pelajaran yang menurut orang lain tergolong berat. Di jurnal sekolah, Hammami pernah menuliskan pendapatnya tentang perang. “Saya tidak percaya perang adalah sebuah pilihan. Ia tidak memiliki maksud yang pasti.” Dalam sebuah kesempatan, tepatnya pada tanggal 13 April 1996, ia menulis tentang pengeboman di Oklahoma, AS. Ia menganggap pengeboman di Oklahoma sebagai tindakan bodoh, selain itu ia memberi sedikit komentar, “Saya berharap kekerasan akan lenyap dari bumi ini.”

Hammami (memakai peci putih) saat di Syria bersama saudaranya

Kembali ke masa kecil Hammami, saat itu Dena, adiknya seperti bayangan yang terus mempengaruhi hidupnya. Ketika adiknya mengkonsumsi ganja, Hammami yang mengidolakannya segera mengikuti langkahnya. Semakin hari, Hammami dan Dena semakin menjadi-jadi, hingga mereka berdua berani mengkonsumsi mariyuana dalam dosis tinggi.

Shafik, selaku seorang ayah yang disiplin pernah harus mencuci mulut mereka dengan deterjen sampai membuat mereka muntah. Tapi sebagai anak-anak yang memasuki masa remaja, Shafik semakin berhati-hati menjaga anak-anaknya terutama Dena, karena ia adalah seoranga wanita. Baginya menjaga anak-anaknya adalah jalan yang paling terhormat. Karena itu, Shafik selalu melarang Dena berbicara di telepon tanpa pengawasan dari ayahnya. Ia juga memerintah Dena untuk menutupi seluruh kakinya selama latihan sepak bola untuk menghindari tatapan orang lain.

Tapi Dena dengan jiwa mudanya justru terus berusaha mengelak dari aturan ayahnya, tentu saja dengan dukungan Hammami sebagai kakak yang siap membela. Tanpa sepengetahuan sang ayah, Hammami sering membantu adiknya tersebut menerima telepon dari orang laki-laki dan menyelinap keluar dari rumah. Dari bantuan tersebut, Dena dan Hammami menjadi semakin akrab dan kompak. Di kemudian hari, mereka berdua merupakan saksi dari sebuah sistem pendidikan yang hanya mereka bisa mengerti sendiri.

Beranjak ke umur 16 tahun, Dena merasa tidak tahan lagi terhadap aturan ketat ayahnya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Saat akan pergi, Dena memeluk kakaknya erat-erat sambil meminta maaf. “Maaf aku tidak bisa mengajakmu.” katanya.

Dena lantas tinggal di rumah temannya, walaupun tahun berikutnya ia memutuskan kembali ke rumahnya lagi. Saat itu Hammami menulis kelakuan kakaknya itu sebagai “berpikir untuk diri sendiri dan membuat cara sendiri.”

Dalam kehidupan sehari-hari, Hammami juga suka berpikir untuk diri sendiri. Karakter tersebut baginya sangat berguna, sehingga ia tidak malu-malu mengklaim sebagai salah satu anak terpopuler di Daphne High School. Jika orang-orang benar-benar mengamatinya, sebenarnya ia terkesan lucu dan unik, apalagi ia kutu buku, menyenangi sastra, jago bermain skateboard, tapi berjiwa pemberontak. Meskipun pendek dan kurus, tetapi berkat keberanian atau kesombongannya, ia banyak menjadi pujaan wanita-wanita cantik di sekolah. Keberuntungan seolah-olah berpihak kepadanya saat ia dapat menaklukkan Lauren Stevenson, salah satu gadis tercantik di sekolah. “Ia hanya bisa ditaklukkan oleh orang yang enerjik” kata Hammami mengomentari keberuntungannya.

Namun keberuntungan dalam masalah sosial tersebut tidak berpihak kepada batin Hammami. Hari demi hari, ia justru merasakan ada konflik internal di dalam dirinya, ia tidak tahu apakah harus menjadi Muslim atau Kristen. Ia kembali teringat saat-saat di Suriah dulu, ketika ia dan Dena yang masih kanak-kanak diperingatkan oleh keluarga ayahnya kalau mereka akan masuk neraka jika tidak memeluk Islam. Padahal, dalam agama kristen Perdido, keluarga ibu mereka juga bersikeras mengingatkan kalau neraka disediakan untuk orang-orang non-kristen.

Ketika berusia 12 tahun, Hammami menulis dalam buku hariannya, “Kadang-kadang saya bingung karena Alkitab (bibel) menyatakan satu hal, sedangkan buku pelajaran dan guru saya mengatakan hal lain yang berlawanan.” Satu hal yang lebih susah dipahami Hammami adalah bagaimana Allah bisa memiliki anak seperti yang diyakini oleh para pemeluk agama kristen. Di saat-saat penuh kebingungan seperti itulah, ayahnya mulai mendesaknya belajar Islam.

Tapi Daphne saat itu masih belum mendukung keagamaan Hammami. Sebagaimana wilayah lain di penjuru Amerika, saat itu Daphene masih belum memiliki masjid sendiri, sedangkan sekitar 43 gereja terdaftar sudah bertebaran lebih dahulu di sekitarnya. Tapi di wilayah Mobile, tepatnya di dekat Universitas Alabama Selatan, komunitas Muslim kecil Palestina, Mesir dan Pakistan telah membangun dan mengembangakan sebuah masjid lengkap dengan kegiatan-kegiatan pendukungnya. Hal itu kemudian memikat hati ayah Hammami untuk bergabung menjadi jamaah aktif. Tidak hanya masjid, perkembangan keislaman masyarakat Muslim di Mobile juga berlanjut ke pembangunan sekolah Islam pertama.

Sebuah perjalanan ke Damaskus di liburan musim panas ternyata memberikan kesan tersendiri bagi Hammami. Ia menyukai hal-hal yang sering terngiang-ngiang di dalam pikirannya, bagaimana bibinya setia menemaninya dan bagaimana sepupu laki-lakinya berbagi kekompakan dengannya dengan penuh rasa persaudaraan. Dalam foto-foto perjalanannya ke Damaskus, Hammami tampak memakai celana dan kaos polo dengan kopyah diatas kepalanya. Sebuah video keluarga juga menunjukkan kalau ia sedang menghadap kiblat ketika melaksanakan sholat di suatu malam.

Ketika ia kembali ke Daphne, Hammami masih kembali mengalami konflik batin. Suatu malam sebelum pergi tidur, ia berpaling menghadap Tuhannya untuk memohon bimbingan. “Perlahan-lahan aku mulai cenderung kepada Islam.” Baru setelah itu, dengan penuh keyakinan ia menulis surat kepada kakaknya, “hatiku kini menjadi tenang.”

Tapi proses keislaman Hammami ternyata tidak berjalan mulus. Ia dengan segala identitas dan ketenarannnya di sekolah harus menghadapi semua konsekwensi dari teman-temannya, seperti saat ia berhasil mendapat izin dari pihak sekolah untuk melaksanakan sholat di ruangan kecil di samping perpustakaan, banyak siswa yang mencuri pandang kepadanya sambil kemudian membelalakkan mata. Mereka benar-benar tidak percaya apa yang terjadi pada Hammami saat itu. [muslimdaily.net/NYT]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: