Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » biografi » biografi mujahid » Abu Mansur Al-Amriki, Tokoh Gerakan Jihad Selanjutnya [bagian 03 dari 11]

Abu Mansur Al-Amriki, Tokoh Gerakan Jihad Selanjutnya [bagian 03 dari 11]


LANJUTAN BAGIAN 2

Suasana Daphne yang terletak di sepanjang teluk Alabama, di utara teluk Meksiko tampak tenang. Kota ini tampak tidak terlalu sibuk daripada kota-kota lain di Amerika. Pondok dan gazebo gaya lama tampak menghiasi tepian pantai yang terletak di bawah tebing-tebing yang menjulang tinggi. Jalan-jalan luas yang diselingi pohon kemiri dan mapel juga menambah keharmonisan tempat tersebut dengan alam di sekitarnya. Apalagi saat senja tiba, deru ombak seperti biasa akan menampar dermaga, menginspirasi para nelayan untuk bermalas-malasan sambil memandangi siluet langit berwarna emas.

Setelah meninggalkan Suriah (tepatnya pada tahun 1972), Shafik Hammami  terus disibukkan dengan urusan mencari tempat tinggal di Amerika. Ia masih teringat saat di Suriah dulu. Ia, anak yang tertua dari sembilan bersaudara saat itu ingin belajar ilmu kedokteran dan mendengar kalau perguruan tinggi kecil di daerah-daerah yang kurang penduduknya di Amerika Serikat adalah yang paling cocok untuk para imigran. Di saat ia sedang memikirkan perguruan mana yang akan ia masuki, secara kebetulan seorang penerjemah yang bekerja di Damaskus menyerahkan brosur Faulkner State Community College yang berlokasi di Bay Minette, tidak jauh dari Daphne.

Di Faulknerlah Shafik kemudian belajar. Bersama dengan segelintir mahasiswa lain dari Timur Tengah, Shafik pun menjalani hari-harinya yang penuh lika-liku. Dengan rambut hitam bergelombang dan bahasa Inggris yang masih belepotan, ia kadang menyendiri dari keramaian dan duduk di tempat-tempat yang tidak ramai oleh kerumunan mahasiswa. Pernah suatu malam, ia merasa aneh karena saat sedang berkendara di daerah Mobile bay, sekelompok orang dengan penutup kepala putih mencegatnya dan meminta uang. Baginya penutup kepala mereka terlihat lucu, seperti kelompok Ku Klux Klan di Amerika.

BAGIAN  3

 

Debra dan Shafik Hammami (Ayah Abu Mansur Al Amriki) di awal tahun 80 an, mereka sedang menggendong anak perempuan mereka Dena (kakak Abu Mansur), beberapa tahun sebelum Abu Mansur atau Omar dilahirkan

Tapi budaya umat Kristen konservatif di Alabama ternyata cocok dengannya. Kebanyakan perempuan yang ia jumpai di sana tidak minum minuman keras atau merokok. Hal itulah yang menjadi faktor utama kenapa ia suka dengan Debra Hadley, seorang senior di sekolah yang memiliki wajah cantik dan kemudian ia kenal lewat teman-temannya. Debra sendiri adalah putri seorang tukang jagal, berpipi merah jelita dengan senyum yang menawan dan jarang melewatkan kebaktian di hari Minggu.

Setelah mengenal Debra, Shafik tidak membuang-buang waktu. Ia memutuskan untuk melangsungkan pertunangan dengan Debra, apalagi bagi Shafik, hal tersebut tidak melanggar ajaran agama, karena menurutnya seorang muslim dibolehkan menikahi orang Kristen. Debra sendiri ternyata mendapat restu dari ibunya, setelah ia sebelumnya berjanji tidak akan memeluk Islam. Pernikahan mereka dimulai dengan upacara pernikahan ala agama Kristen di gereja, kemudian diikuti dengan upacara pernikahan ala Islam di sebuah tempat khusus. Saat melangsungkan dua upacara lain agama seperti itulah, muncul pertanyaan pada diri mereka, apakah mereka akan menyerahkan haknya .

Pada saat Umar Hamammi lahir delapan tahun kemudian, orang tua dan adiknya pindah ke sebuah daerah peternakan di Daphne, sebuah kota di mana sekitar ribuan hektar ladang kapas menjadi sumber mata pencaharian utama bagi penduduknya, seperti perkebunan Hills yang terkenal. Hari pun berlanjut hingga Shafik kemudian berhasil menjadi insinyur sipil dan bekerja di Departemen Perhubungan, sedangkan Debra berkesempatan mengajar di sebuah sekolah dasar.

Tahun-tahun pertama, kehidupan Umar kecil lebih banyak dihabiskan bersama ibunya. Berbintik-bintik dan berambut pirang, Umar kecil yang sering dipanggil Omie kadang menghabiskan waktu sore di musim panas bersama kakek-neneknya di ladang, mengupas kacang dan makan semangka di beranda rumah mereka. Bahkan, di saat ada waktu lengang, pamannya, Tom Sawyer mengajaknya berburu rusa di hutan.

Pada hari Minggu, Umar kecil dan Dena sering diajak sang ibu menghadiri kebaktian di Gereja Baptis terdekat, walaupun hal itu harus mereka rahasiakan dari sang ayah. Selain acara kebaktian, mereka berdua juga menghadiri program studi Alkitab khusus musim panas (saat itulah Umar memenangkan $ 10 dalam sebuah lomba bertema pengetahuan agama). Beranjak ke umur 6 tahun, Umar secara sukarela menyatakan kepada pendeta kalau ia bersedia dibaptis. “Aku percaya, aku menginginkan semua itu,” kata Umar kemudian kepada temannya, Trey Gunter.

Di rumah, ayah Umar ternyata juga tidak kalah gencar mengajarkan agama Islam dan bahasa Arab, agama yang dibawa dari Suriah, tanah kelahiran yang jauh dari hiruk pikuk pesta kembang api empat Juli, kostum Halloween dan adat-adat di Amerika lainnya.

Namun, adat di rumah Hammami tetap kental dengan adat keluarga muslim. Hal itu tampak dari dinding di dalam rumah yang terhiasi ayat-ayat Al-Quran. Selain itu, daging babi juga sangat dilarang di rumah tersebut. “Rasanya seperti dua sekolah dengan pemikiran berbeda di bawah satu atap,” kata Dena suatu hari.

Umar dan adiknya terus belajar beradaptasi dengan situasi di dalam rumah. Dalam sebuah foto yang diambil pada tanggal 8 Oktober 1992, ayahnya mengarahkan sebuah kamera ke kue yang sedang terhidang. “Hari ini adalah hari ulang tahun Debra.” Kata ayahnya dalam aksen Suriah yang sedikit terpengaruh nada orang Alabama. “Kami saat ini sedang merayakan ulang tahunnya.” Pada jepretan berikutnya, sang ibu berdiri di dekat kue ulang tahun sambil tersenyum.

Waktu Debra sibuk membuka hadiah, Umar yang berumur 8 tahun tampak tidak tahan melihat kelezatan kue di depannya. Dengan kepolosannya, ia langsung menjilati lapisan kue yang terlihat berkilat-kilat, sehingga membuat semua yang melihatnya tertawa.

Waktu pun berlalu secara cepat. Umar Hammami akhirnya menemukan keluarga barunya di sekolah menengah. Kathleen Hirsch, gurunya dalam program khusus siswa berbakat adalah seorang wanita Yahudi yang unik. Ia sering bolak-balik ke dalam dan keluar kelas, mengganti meja dengan sofa, menyeduh kopi dan mengisi rak-rak dengan buku Dylan Thomas dan Gertrude Stein. Ialah satu-satunya guru yang sering mengajari Hammami berpikir di luar kebiasaan.

Saat itu juga, Hammami mulai membaca buku dengan lahap, sampai ia pernah benar-benar tenggelam, menikmati buku The Catcher in the Rye bahkan kadang-kadang ia juga melahap kamus. Selain membaca, ia juga suka mengikuti program debat, apalagi ia sangat aktif. Dalam sebuah kontes pidato, ia bahkan pernah menegur dirinya sendiri untuk menyelesaikan persiapan yang ada. “Ia terus mengulang-ulang teks pidato tersebut setiap menit, kemudian bertanya kepada saya apakah yang ia melakukan kesalahan, bagaimana gaya tubuh pembicara? Bagaimana melakukan kontak mata?” kata Hirsch mengenang sang anak didik yang telah diajar selama enam tahun dalam pesan e-mail baru-baru ini. “Ia benci menjadi orang yang kalah.” [muslimdaily.net/NYT]


1 Komentar

  1. slumber mengatakan:

    Alhamdulillah, Allah SWT telah menurunkan hamba2nya yang teguh dan tidak takut mati, semoga menjadi inspirasi bagi pemuda muslim,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: