Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Menebar jihad & Menuai teror. Bagian Pertama : Merunut Akar Masalah Bom Bali, Marriot dan Kuningan

Menebar jihad & Menuai teror. Bagian Pertama : Merunut Akar Masalah Bom Bali, Marriot dan Kuningan


Kata Pengantar Penulis

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102).
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا(1).
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا(71).
أما بعد :
فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
اللهم رب جبريل وميكائيل وإسرافيل، فاطر السماوات والأرض، عالم الغيب والشهادة، أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدنا لما اختلف فيه من الحق بإذنك، إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم.

” Media massa dan elektronik,” kata Charles Kimball, Guru Besar Studi Islam di Universitas Wake Forest,” Cenderung tertarik pada peristiwa yang paling dramatis dan sensasional.”
Lain lagi dengan penulis Amerika yang kesohor, Alex Haley (1921-1992). Menurutnya,” Hystory is written by the winners.”
L’ histoire se repete, kata orang Perancis. Sejarah berulang dalam pola yang serupa dan dalam waktu yang berbeda.
Ketiga kutipan ini, boleh dikatakan sangat tepat untuk menggambarkan hingar bingar dunia modern yang sejak beberapa tahun terakhir, dibakar oleh demam “perang global melawan terorisme.”
Bermula dari “tragedi kemanusiaan” penuh berkah (lho ?) 11 September 2001 M yang nun jauh di sana, berlanjut ke pelosok Legian, Bali, dan akhirnya nyantol di tengah kota metropolitan, Jakarta.
Bom Bali, Bom Marriot dan Bom Kuningan bagi bangsa ini, dan juga bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara, boleh jadi lebih berkesan dari serangan WTC dan Pentagon yang merubah peta ekonomi, politik dan militer dunia tersebut. Bukan karena kerugian materi dan non-materi ketiga pemboman tersebut lebih besar. Bukan karena ketiga tragedi tersebut memberi alasan pembenar kepada badan intelijen di lingkungan POLRI maupun TNI untuk kembali memperagakan pelanggaran HAM, kebebasan dan tindakan represif kepada rakyat sendiri. Pun, bukan karena ketiga kasus tersebut menewaskan beberapa warga sipil pribumi, alias bangsa Melayu.
Jadi ? Lantas ?
Itu tadi. Ketiga kutipan di atas. Perpaduan antara kepentingan politik rezim penguasa dan bisnis industri media massa-elektronik, telah menjadi bukti paling kasat mata atas terjadinya pengulangan sejarah dalam ketiga kasus tersebut, dan tentu saja kasus-kasus kemanusiaan lainnya.
Seluruh media massa dan elektronik, pasca ketiga kasus bom di tanah air tersebut, seia sekata ramai-ramai memberitakan : Kutuk dengan keras…basmi sampai tak berbekas…usut sampai tuntas !!! Terakhir, mari rayakan kenaikan oplah dan tiras !!! Jangan tanyakan lagi unsur obyektifitas, validitas data, both side dan kode etik jurnalistik lainnya !
Lain lagi dengan rezim penguasa. Semua jajaran dan lembaga, sibuk menonjolkan perannya. Departemen Politik dan Keamanan, Departemen Pertahanan, Departemen Kehakiman dan HAM, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pariwisata, Badan Intelijen, POLRI dan TNI ramai-ramai mengeluarkan jurusnya demi menangguk laba dan simpati internasional.
Komentar para tokoh masyarakat, agama, pemerintahan, organisasi massa dan politik, LSM dan bahkan rakyat jelata, sudah diulas tuntas oleh media massa dan elektronik.
Langkah-langkah nyata rezim penguasa untuk membasmi apa yang dituding sebagai “jaringan terorisme global” pun telah disaksikan oleh seluruh umat manusia di jagat ini.
Namun, sebagaimana dinyatakan oleh berbagai pihak, berbagai penyelesaian kasus “terorisme” tersebut sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan sebenarnya. Berbagai pihak yang terlibat dalam perang melawan “terorisme” tersebut, hanya sekedar memanfaatkan suasana untuk meraih kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan. Akar dan inti persoalan sendiri dilupakan dan diabaikan. Definisi terorisme yang tak jelas, pelanggaran HAM dan kebebasan dalam upaya pemberantasan “teroris” dan sejumlah kejahatan “luar biasa” lainnya dari pihak “the winners”, justru dilegalkan lewat undang-undang.
Ada kisah menarik dari rangkaian pengungkapan kasus pemboman di tiga stasiun kereta api bawah tanah London, beberapa waktu lalu. Sebagaimana disebutkan oleh radio BBC, saat para pemuka agama Islam di Inggris menyatakan kepada PM Tony Blair bahwa para pelaku pemboman berada di luar Islam (kafir ?), memahami Islam secara salah dan seterusnya, justru banyak kalangan di Inggris sendiri memandang sebelah mata pernyataan para pemuka agama Islam tersebut. Menurut mereka,” Ah, itu kan pandangan para tokoh tua, belum tentu mewakili pandangan kawula muda.”
BBC juga melaporkan bahwa banyak kalangan di Barat berkomentar,” Setiap kali Barat memerangi umat Islam, tak satupun umat Islam yang membuka Injil dan mencari tahu apa itu Nasrani. Namun setiap kali Islam memerangi Barat, bangsa Barat bergegas membuka Al-Qur’an dan mencari tahu apa sebenarnya Islam itu.”
Buku yang hadir di tangan para pembaca ini, adalah sebuah pengamatan dan kajian segelintir kalangan yang boleh jadi oleh sebagian pihak dianggap sebagai “kaum Islam fundamentalis, radikal, anti liberal, anti pluralisme” atau bahkan simpatisan “teroris.”
Apapun komentar berbagai pihak, yang jelas buku ini mencoba ikut memberi sumbangsih “pencerahan” atas ketiga tragedi bom di Indonesia tersebut, dari sudut pandang yang lain dari mainstream opini publik yang digalang oleh media massa-elektronik dan rezim penguasa “the winners”. Meminjam istilah radio BBC, buku ini mencoba mengkaji permasalahan “terorisme” dalam ketiga pemboman di Indonesia (bom Bali, bom JW Marriot dan bom gedung Kedubes dengan perspektif “kawula muda” yang sedang mencari “identitas diri”, dan cenderung meninggalkan “kaum tua.”
Buku ini mencoba untuk menjawab beberapa komentar dan pertanyaan seputar “terorisme” dalam ketiga kasus pemboman dalam negeri ini, disajikan dalam beberapa bagian :
Bagian Pertama. Membahas akar masalah yang diduga melatar belakangi kasus-kasus tersebut.
Bagian Kedua. Membahas tinjauan hukum Islam terhadap kasus-kasus tersebut.
Bagian Ketiga. Membahas status kelompok “pro-teroris” dan “anti-teroris” menurut tinjauan hukum Islam.
Bagian keempat. Menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan erat dengan motif dan hasil berbagai kasus tersebut.
Bagian Kelima. Sebuah epilog berisi berbagai himbauan dan nasehat.
Penulis bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala limpahan hidayah, rahmat dan ‘inayah-Nya sehingga buku ini bisa hadir di hadapan para pembaca budiman. Selanjutnya, Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah banyak membantu penulisan buku ini, semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan mereka. Penulis yakin sepenuhnya bahwa tulisan ini tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Koreksian, saran dan kritik yang membangun dari segenap pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kemanfaatan buku ini.
Akhir kata, Penulis berharap semoga buku ini menjadi jembatan komunikasi yang baik dan efektif, untuk membangun sikap saling memahami antara “generasi muda” dan “generasi tua”, “kaum fundamentalis” dan “kaum moderat-liberal”. Penulis berdoa, semoga tulisan ini hadir murni dalam rangka mencari ridha Allah Ta’ala, diterima sebagai amal shalih di sisi-Nya, bermanfaat bagi diri Penulis pribadi dan sesama umat Islam. Amien.

وصلى الله على محمد النبي الأمي، وعلى آله وصحبه وسلّم.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Sulaiman Ibnu Walid Damanhuri
18 Jumadil Akhirah 1426 H

Bagian Pertama :

Merunut Akar Masalah Bom Bali, Marriot dan Kuningan

[1]
Pasukan Koalisi Salib di Jazirah Arab,
Menjajah Jantung Dunia Islam

Eksistensi pasukan AS di Jazirah Arab (istilah mereka, kawasan Timur Tengah) saat ini bukan-lah sebuah reaksi atas sebuah permasalahan tertentu, misalnya invasi Iraq ke Kuwait (1191 M), tragedi WTC (11 September 2001 M), atau menjatuhkan rezim diktator Saddam Husain, semata. Eksistensi pasukan AS di Jazirah Arab adalah sebuah strategi matang yang tidak bisa digugat lagi, sudah dirancang sejak beberapa dekade sebelumnya. Untuk mempertahankan eksistensinya di Jazirah Arab, AS siap memerangi seluruh negara kawasan tersebut. Bahkan, siap memerangi negara-negara Eropa sekutunya, jika mereka menghalangi kepentingan AS di kawasan ini.
Jazirah Arab adalah kunci untuk menguasai dunia. Siapa mengendalikan kawasan ini, ia akan menjadi pemimpin dunia. Negara-negara salib telah mengetahui urgensi jantung dunia Islam ini sejak sebelum ditemukannya minyak bumi di kawasan ini. Sejak lama, kawasan ini telah menjadi jantung rute transportasi dinamis dunia, dan titik pertemuan dari berbagai benua.
Sejak empat abad terdahulu, mereka telah berusaha menguasainya, mengingat urgensinya dari aspek keagamaan dan geografis. Portugal, kemudian Perancis dan terakhir Inggris telah berusaha menaklukkannya. Inggrislah yang beruntung dan berhasil menjadi penguasa penuh kawasan ini. Dengan ditemukannya minyak bumi di kawasan ini, Inggris menjadi negara penjajah terbesar dan terkuat di dunia pada masa itu.
Pasca perang dunia kedua, 1366 H / 1947 M, Inggris mulai melemah, merugi dan satu-persatu wilayah jajahannya memerdekakan diri. Meski demikian, Inggris tetap mempertahankan eksistensinya di kawasan ini. Bersamaan dengan melemahnya Inggris, AS sebagai sekutu Inggris mulai muncul sebagai pesaing yang bernafsu memainkan perannya di kawasan ini. AS benar-benar menggantikan posisi Inggris di Jazirah Arab, setelah Inggris pada tahun 1969 M (1389 H) mengumumkan penarikan mundur militernya sebagai akibat dari perang Arab-Israel tahun 1967 M (1387 H) dan penutupan terusan Suez pasca perang tersebut.
Mantan presiden AS, Richard M. Nixon dalam memoarnya menulis :
” Untuk pertama kalinya, eksistensi militer AS secara besar-besaran di kawasan ini terjadi pada pertengahan 1367 H / 1948 M, melalui Truman Doctrine , yang memberi mandat pembentukan divisi pasukan khusus keenam, yang semula mengendalikan armada AL AS Keenam. Segera setelah keluarnya mandat itu, pesawat-pesawat tempur AS mulai mempergunakan pangkalan-pangkalan Libya, Turki dan Arab Saudi melalui perjanjian peminjaman dan penyewaan. Presiden Rosevelt telah memasukkan kerajaan Arab Saudi ke dalam undang-undang ini, sebagai bukti itikad baik AS kepada kerajaan Arab Saudi.”

Urgensi Kawasan Jazirah Arab Bagi AS Pada Masa Tersebut

Urgensi kawasan Jazirah Arab bagi AS pada masa tersebut, bisa dirunut dari statemen para pengambil kebijakan di kalangan pemerintahan AS saat itu.
• James Rosetal, Mentri Pertahanan AS pada tahun 1945 M (1364 H) mengatakan,” Selama 25 tahun mendatang, AS akan menghadapi penurunan drastis cadangan minyak bumi. Karena minyak bumi dan hasil olahannya merupakan inti kemampuan menerjuni peperangan modern, saya melihat persoalan ini merupakan salah satu problem terbesar pemerintah AS. Bagi saya, tidak penting perusahaan AS mana yang akan menanam investasi bagi proyek eksplorasi minyak Arab. Namun, saya sangat yakin bahwa perusahaan tersebut haruslah perusahaan AS.”
• Pada saat AS menerjuni perang Dunia Kedua 1941 M / 1360 H dipihak pasukan sekutu, urgensi kawasan Jazirah Arab semakin besar bagi AS. Saat itu, Mentri Luar Negeri AS, Hal, menyatakan,” Kebutuhan Departemen Maritim dan Departemen Perang AS terhadap minyak bumi Arab Saudi semakin meningkat. Belum lagi ditambah dengan kebutuhan kepentingan udara AS terhadap bumi Saudi.”
• Dewan perwira AS pada tahun 1943 M / 1362 H memandang, pasokan minyak bumi AS untuk pasukan AS di medan pertempuran tidak mencukupi. Krisis ini menuntut pengadaan sumber-sumber baru, dengan syarat letaknya dekat dengan posisi armada AL AS. Untuk tujuan ini, dibangunlah kilang pengolahan minyak di Ras Tanurah (Arab Saudi) tahun 1945 M / 1364 H. Inilah faktor yang mendorong pembangunan pangkalan militer pertama AS di Dhahran, Arab Saudi pada tahun 1943 M / 1362 H. Pembangunannya baru selesai pada tahun 1946 M /1365 H. Kerajaan Saudi memperbaharui perjanjian kesepakatan pembangunan pangkalan ini untuk masa lima tahun selanjutnya, tahun 1951 M /1370 H. Departemen Luar Negeri AS pada tahun 1945 M /1364 H menyebutkan,” Kerajaan Arab Saudi adalah sumber yang memadai bagi kekuatan strategis dan merupakan salah satu hadiah material terbesar dalam sejarah dunia.” Pujian Deplu AS ini bukan karena Kerajaan Arab Saudi merupakan negara berperadaban maju, atau kuat militernya, melainkan karena letak geografisnya di perairan Teluk dan Laut Merah. Juga, ini yang terpenting, memiliki cadangan minyak bumi terbesar di dunia. Diperkirakan, kandungan minyak bumi di Arab Saudi sebesar 165 milyar barel.
• Urgensi inilah yang mendorong presiden AS, Franklin D. Rosevelt pada tahun 1943 M / 1362 H melangsungkan kesepakatan peminjaman pangkalan militer tersebut secara langsung dengan Kerajaan Saudi, tanpa melalui perantaraan Inggris. Saat itu, Rosevelt mengumumkan,” Penjagaan terhadap pemerintahan Saudi menjadi tanggung jawab AS.” Pengakuan ini tentu saja didorong oleh kebutuhan AS terhadap Kerajaan Saudi, dan negara-negara di kawasan ini yang mempunyai kekayaan minyak luar biasa besar. AS sendiri mengakui kemerdekaan Arab Saudi pada bulan Muharam 1350 H / 1931 M. Arab Saudi bukan satu-satunya negara di kawasan ini. Namun, jelas Saudi adalah negara yang mempunyai kandungan minyak bumi terbesar di kawasan ini, bahkan di dunia. Negara-negara Teluk memproduksi 62 % produksi minyak bumi dunia, dan di kawasan Teluk terdapat minimal 370 milyar barel cadangan minyak bumi dunia, atau setara dengan 2/3 cadangan minyak bumi dunia.
• Hal ini pula yang mendorong mantan presiden AS, Richard Nixon untuk menulis dalam memoarnya.” Sekarang, siapa yang menguasai apa yang ada di Teluk Arab dan Timur Tengah, berarti telah memegang kunci untuk menguasai dunia.”
• Mantan presiden Jimmy Carter menulis.” Seandainya Tuhan menjauhkan sedikit saja minyak bumi Arab ke arah Barat, tentulah persoalan kita lebih mudah.” Maksudnya, ke arah Israel, sekutu utama AS di kawasan Teluk.
Dari pernyataan para presiden AS ini, jelaslah bahwa persoalan hidup dan mati AS serta bangsa-bangsa Barat amat tergantung kepada kekayaan alam dan keamanan kawasan ini. Problem mereka tidak akan selesai, hanya dengan tergulingnya rezim Saddam Husain. Dan ini membuktikan, tujuan invasi militer pasokan koalisi pimpinan AS ke Iraq tahun 2003 M yang lalu, bukan semata untuk menggulingkan rezim Saddam Husain.

Urgensi Kawasan Jazirah Arab bagi Eropa

Kawasan Jazirah Arab bukan hanya menjadi kunci hidup matinya AS. Namun juga menjadi kunci penting bagi sekutu-sekutu AS, negara-negara NATO dan Eropa pada umumnya.
Pada awal tahun 60-an, presiden Perancis Jendral Charles de Gaulle mengajukan proposal pembentukan “dewan administrasi” untuk menyelesaikan konflik pemerintahan di luar Eropa. Namun presiden AS kala itu, Dwight Eisenhower menolak mentah-mentah usulan tersebut. Eishenhower berpendapat, yang dibutuhkan untuk menghadapi kondisi baru di kawasan minyak (Jazirah Arab) bukanlah lobi-lobi politik yang memakan waktu lama, melainkan langkah-langkah antisipasi untuk mengambil keputusan secara cepat.
Meski mendapat penentangan dari kepala negara anggota NATO terkuat, desakan anggota-anggota NATO untuk membentuk “dewan administrasi” ini semakin besar seiring semakin pentingnya peran minyak bumi bagi kehidupan ekonomi Eropa. Desakan ini mencapai puncaknya pasca perang Arab-Israel Oktober 1973 M. Dalam pertemuan mentri-mentri luar negeri negara-negara anggota NATO di Kanada di awal tahun 1974 M / 1394 H dicapai kesepakatan, bahwa perhatian NATO akan diperluas mencakup kawasan di luar negara-negara angota NATO.
Pasca invasi Soviet ke Afghanistan tahun 1979 M /1399 H, NATO menegaskan bahwa ancaman utama terhadap Barat bukan lagi berada di Eropa, melainkan di kawasan-kawasan penting minyak bumi dan jalur transportasinya.
Setelah adanya penegasan ini, terjadi diskusi seru di kalangan anggota NATO perihal pembentukan pasukan invasi kilat. Untuk mengamankan kepentingan minyak negara-negara NATO saat terjadi krisis di Jazirah Arab, negara-negara NATO harus membentuk pasukan gabungan yang bisa digerakkan untuk melakukan invasi militer secara kilat.
Tiada pilihan lain bagi NATO, selain komando pasukan gabungan NATO di Eropa, yang merupakan komando bersama di bawah kendali tujuh negara besar anggota NATO ; Belgia, Kanada, Jerman Barat, Italia, Luxemburng, Inggris dan AS. Kekuatan pasukan ini sebesar satu divisi. Pasukan ini telah dibentuk sejak 1961 M / 1380 H untuk memperkuat pasukan NATO di sebelah utara dan selatan kawasan anggota NATO. Pelopor seruan pengefektifan pasukan ini adalah Jendral Belgia, Robert Clour. Ia mengusulkan, pasukan ini direorganisasi, diperkuat dan diberi wewenang dengan skala internasional, termasuk menaungi wewenang di kawasan penghasil minyak bumi.
Perang Arab-Israel bulan Oktober 1973 M meninggalkan krisis minyak yang mencekik industri dan perekonomian AS serta Eropa. Dalam perang tersebut, AS dan Eropa begitu jelas berada di belakang Israel. Sebagai balasan atas kejahatan AS tersebut, negara-negara Arab memboikot penjualan minyak bumi kepada AS dan Eropa.
Dihadapkan kepada krisis minyak yang bisa meruntuhkan ekonominya, negara-negara NATO hanya mempunyai dua opsi :
(a)- Usulan untuk memperluas wilayah kerja NATO, sehingga meliputi seluruh kawasan Arab. Usulan ini akhirnya ditolak, karena beberapa pertimbangan. Yang terpenting adalah alasan bahwa NATO adalah sebuah pakta pertahanan, sama sekali tidak mengizinkan operasi ofensif di luar kawasan NATO, yaitu Eropa dan Amerika Utara. Mungkin saat ini (2005 M), kesepakatan ini telah berubah, mengingat pertemuan Puncak NATO pasca kemenangan atas Serbia di awal tahun 1999 M / 1420 H, telah merubah kesepakatan. Mereka menyetujui campur tangan NATO di kawasan manapun, tanpa perlu meminta persetujuan Dewan Keamanan PBB. Hanya saja, campur tangan NATO di kawasan penghasil minyak mendapat penentangan serius dari AS, si penguasa kawasan minyak Arab.
(b)- Membentuk pasukan invasi koalisi Barat untuk mendapat legitimasi internasional. Untuk melewati hambatan-hambatan politis, pasukan ini tidak berada dibawah nama NATO, dan untuk itu bisa diikut sertakan negara-negara lain seperti Australia, Jepang, Korea Selatan, Filiphina dan negara-negara lain. Usulan ini mendapat sambutan hangat. NATO pun segera bekerja melaksanakan program ini demi mengamankan kepentingan Barat di kawasan Jazirah. Atau dengan kata lain, Penjajahan Baru Terhadap Kawasan Jazirah Arab.
Dan inilah yang terjadi. Dengan mengatas namakan perang melawan terorisme, menegakkan demokrasi dan kebebasan, pasukan koalisi salibis-zionis-paganis internasional pimpinan AS ini melancarkan invasi militer ke Iraq, tahun 2003 M lalu.

AS Menjegal Eropa, Mengumumkan Penjajahan Teluk Dengan Mengumumkan Prinsip AS

Saat NATO sedang menyusun pasukan invasi koalisi, AS membuat langkah baru untuk menghalangi sekutu-sekutunya dari kalangan negara NATO untuk ikut menikmati kepentingan minyak di kawasan Jazirah. Joseph Sisco, asisten mentri luar negeri AS pada tahun 1974 M / 1393 H, mengumumkan penjegalan langkah NATO dengan mengatakan,” Kawasan Teluk adalah kawasan milik AS. Di kawasan itu terdapat kepentingan politik, ekonomi dan strategis yang sangat amat penting.”
Pada saat yang sama, wakil mentri pertahanan AS, James Nouis, menegaskan kepentingan dan tujuan AS. Ia mengatakan :
” Sesungguhnya AS perlu :
1- Mengurung kekuatan militer Soviet untuk tidak keluar dari batas-batas teritorialnya saat ini.
2- Meneruskan langkah penguasaan minyak bumi Teluk.
3- Meneruskan kebebasan kapal dan pesawat AS ke dan dari kawasan Teluk.”
Joseph Sisco menegaskan, pengamanan kepentingan minyak bumi AS di kawasan Teluk diraih dengan tiga unsur :
1- Meneruskan kemampuan impor minyak bumi.
2- Dengan harga miring alias murah.
3- Dengan jumlah cukup, untuk memenuhi kebutuhan AS yang terus bertambah, dan kebutuhan negara-negara Eropa dan Asia yang menjadi sekutu AS.
Program pengamanan minyak bumi AS ini merupakan tugas terbesar militer AS di kawasan Teluk. AS sedang mencurahkan usaha besar untuk hal ini, dan AS siap menghadapi dan melakukan tindakan apapun demi mengamankan kepentingan minyak bumi di kawasan teluk.

AS Siap Memerangi Negara-Negara Pengekspor Minyak, Jika Mereka Tidak Tunduk Kepada Aturan AS

Jika negara-negara Arab hanya mengekspor minyak buminya kepada AS semata, apakah AS akan ridha kepada mereka ? Tentu tidak. Masih ada syarat lain ; dengan harga murah dan jumlah yang cukup. Jika negara-negara Arab menurunkan produksi minyak buminya, otomatis harga akan naik dan itu akan memukul perekonomian AS. Jika hal ini terjadi, AS siap melakukan tindakan apapun, termasuk invasi militer. Jelaslah bahwa syarat-syarat pengamanan minyak bumi ala AS ini tak lain adalah PENJAJAHAN dari kekuatan asing terhadap kedaulatan negara-negara penghasil minyak bumi di kawasan Jazirah Arab.
Henry Kissinger, mentri luar negeri AS saat itu, di awal tahun 1975 M / 1395 H mengatakan,” Sekalipun langkah militer AS apapun di Teluk membawa dampak yang berbahaya, namun saya tidak bisa menjamin tidak akan terjadi kondisi-kondisi yang menyebabkan kami mempergunakan kekuatan militer kami. Sesungguhnya penggunaan kekuatan militer saat terjadi perselisihan tentang harga minyak adalah satu persoalan, dan usaha mencekik dunia industri adalah persoalan lain pula.”
Penegasan ini menunjukkan AS akan mengambil segala tindakan yang dianggap perlu, termasuk invasi militer, untuk menghajar negara-negara penghasil minyak jika mereka tidak menuruti harga dan jumlah minyak bumi yang didiktekan oleh AS. Ini sekali lagi menegaskan bahwa tujuan invasi AS ke Iraq (dan kawasan Jazirah) bukanlah untuk menggulingkan rezim Saddam semata. Saddam hanyalah batu loncatan kecil, setelah itu akan disusul dengan tindakan-tindakan penjajahan berikutnya.
Penegasan mentri luar negeri AS ini bukan satu-satunya penegasan kesiapan AS untuk melakukan invasi militer. Penegasan yang lebih jelas, juga dikeluarkan oleh departemen pertahanan AS (Pentagon) dan Dewan Keamanan Nasional AS pada tahun 1973 M /1393 H. Kedua lembaga penting AS ini membuat sebuah program bertajuk “Dhahran, Opsi Keempat”. Inti program ini adalah persiapan AS untuk melancarkan invasi militer ke sumur-sumur eksplorasi minyak bumi Arab Saudi manakala timbul krisis minyak kembali. Program ini secara khusus membidik sumur minyak Al-Ghawar, sumur minyak bumi Arab Saudi yang dipandang sebagai sumur minyak terbesar di dunia.
Untuk menjalankan program ini, telah disiapkan sembilan batalion infantri yang akan diangkut lewat udara, dari North Carolina, AS menuju Teluk melalui pangkalan udara Hesrim, Israel. Kini, pasukan ini tidak perlu berangkat dari North Carolina. Ia cukup berangkat dari Iraq, Kuwait atau Qatar untuk melakukan penguasaan atas ladang-ladang minyak di Dhahran, setelah sebelumnya warga negara AS di daerah itu dipindahkan ke kawasan lain.
Setelah itu, pasukan akan bergerak untuk menguasai ladang minyak Al-Ghawar dan As-Safaniyah di tengah padang pasir, setelah didahului oleh penguasaan kapal-kapal minyak di pelabuhan dan depot-depot minyak di Ras Tanurah. Kekuatan pasukan ini akan ditambah dengan satu batalion infantri untuk menguasai kawasan tersebut.
Pentagon dan Dewan Keamanan Nasional AS menyebutkan, langkah ini jauh lebih mudah dari sebuah operasi kecil sekalipun di Vietnam atau Kuba. Penyebabnya, kawasan ini bukan kawasan padat penduduk, berada di tengah gurun pasir yang kosong dari pepohonan atau perbukitan, sehingga memudahkan pergerakan pasukan tanpa hambatan sama sekali.
Dalam pembukaan program tersebut ditulis alasan pembenaran invasi ini,” Tiada pilihan lain bagi kita, keruntuhan ekonomi atau menginvasi Saudi di saat muncul tanda-tanda pencekikan ekonomi.”
Alasan ini menjawab tanda tanya besar seputar alasan AS melakukan invasi ke Iraq. Padahal invasi tersebut tidak mempunyai alasan kuat. Bukankah Dewan Atom PBB telah melaporkan tidak ditemukan senjata kimia dan biologis pemusnah masa di Iraq ? Invasi pasukan koalisi AS ini juga ditentang oleh PBB dan dunia internasional. Namun apa daya, AS-lah yang mendikte PBB.
Setelah rezim Saddam terguling, dan AS berhasil mendirikan pemerintahan baru pro AS, loyalitas Iraq akan diuji. Jika ia tidak mampu memenuhi kepentingan minyak AS (jumlah cukup dengan harga murah), AS akan menengok negara tetangga yang bisa diinvasi ; Saudi, Qatar atau Kuwait.
Pilihan invasi ke Saudi ini bukan pilihan final yang tidak bisa diformat ulang. Dalam rapat Kongres setahun peringatan 11 September, program ini diajukan ulang dengan format sedikit dirubah. Saudi akan diinvasi, dibagi menjadi tiga bagian, dengan bagian Timur sebagai negara minyak demokrasi yang indipenden, dibawah wewenang dan pengamanan AS langsung. Beberapa format lain juga diajukan, namun tidak keluar dari program inti invasi ke ladang-ladang minyak Saudi.
Inilah salah satu alasan ekonomi keberadaan militer AS di kawasan Teluk. Alasan-alasan ekonomi lainnya tentu masih banyak, namun kita cukupkan dengan satu alasan ini.

Alasan Politis Terbesar Bagi Eksistensi Militer AS di Kawasan Teluk

Namun, inti alasan politis adalah tetap dan tidak pernah berubah, yaitu merealisasikan mimpi “Israel Raya”. Israel Raya adalah inti terpenting motif ideologi dan politik dari eksistensi militer AS di Teluk. Bukti-bukti atas hal ini sangat banyak. Kita ambilkan salah satu contoh, pernyataan mantan presiden AS, Nixon, dalam bukunya “1999 : Menang Tanpa peperangan”.
Nixon menulis,” Kita memandang, pergulatan Arab-Yahudi telah bergeser, menjadi peperangan antara kaum fundamentalis Islam di satu pihak, dan Israel serta negara-negara Arab Moderat lainnya di pihak lain. Selama bangsa-bangsa ini tidak mampu menyelesaikan persengketaannya, dan mengakui bersama bahwa mereka menghadapi satu ancaman serius, kawasan Timur Tengah akan tetap menjadi kawasan paling bergolak di dunia.”
Untuk merealisasikan cita-cita “Israel Raya” yang aman, AS harus mencegah kaum aktivis Islam memegang tampuk kekuasaan di negara Teluk manapun. AS juga harus mencegah pergerakan aktivis Islam agar tidak membawa pengaruh terhadap kebijakan politik AS di Teluk. Ini adalah langkah strategis penting yang akan selalu diambil oleh AS.
Sekalipun di kalangan negara-negara salib Barat terdapat perselisihan, pun AS dan sekutunya meraih kemenangan atas Soviet selama Perang Dingin, 1985 M /1405 H. Namun ini semua tidak melupakan permusuhan mereka kepada Islam. Setelah Gorbachev memegang tampuk kepemimpinan Soviet, presiden AS Nixon menegaskan,”Uni Soviet dan AS harus membuat kesepakatan kuat untuk memukul kaum fundamentalis Islam.”
Dalam bukunya, “1999 : menang tanpa peperangan”, Nixon menulis,” Kewajiban dan peran AS dalam kehidupan ini adalah memimpin dunia yang bebas. AS harus segera memimpin dunia. Satu-satunya cara untuk memimpin dunia adalah kekuatan. Dan, musuh terbesar di dunia ketiga adalah kaum fundamentalis Islam.”

Nixon Doctrin

Setelah kegagalan AS dalam perang Vietnam, AS menegaskan bahwa menjaga eksistensi pemerintahan-pemerintahan Arab yang loyal kepada AS, merupakan program AS yang diprioritaskan. Pasca kekalahan di Vietnam, Nixon mengeluarkan Nixon Doctrin yang menegaskan,” Negara-negara (Jazirah Arab) yang mengalami ancaman dari luar, harus mengerahkan potensi manusia dan kemampuan militernya untuk menegakkan stabilitas keamanan. AS akan memberikan dukungan militer kepada pemerintahan tersebut, sesuai dengan tuntutan keamanan yang ada.”
Langkah ini dipraktekkan dalam masa pemerintahan presiden Richard Nixon dan Gerald Ford. Pada masa pemerintahan kedua presiden AS ini, negara-negara Teluk dibanjiri dengan dukungan peralatan dan teknologi militer dalam jumlah besar dan canggih.
Dalam doktrin Nixon, Nixon menulis,” Sebagai pengganti eksistensi militer Inggris, eksistensi militer AS di Teluk mendasarkan langkahnya kepada kekuatan-kekuatan lokal, yaitu Iran dan Saudi Arabia, pada level pertama, untuk menjaga stabilitas keamanan. Hal itu kita lakukan dengan memberikan bantuan-bantuan militer. Politik dua kaki ini telah berjalan normal, sampai ketika salah satu dari keduanya, yaitu Iran, jatuh pada tahun 1979 M.”
Menurut Nixon, posisi Iran harus digantikan oleh Iraq, sehingga perimbagan kekuatan tetap terpelihara. Ia juga menegaskan urgensi eksistesi langsung militer AS di kawasan Teluk.
Ia melanjutkan,” Karena minyak bumi adalah kebutuhan darurat bagi Barat, bukan sekedar kebutuhan sekunder, AS dan sekutu-sekutunya di Eropa dan Jepang harus menjadikan pemberian bantuan ekonomi dan militer kepada pemerintahan negara-negara di kawasan ini sebagai prioritas program. Hal ini bertujuan untuk menolak segala ancaman atas kawasan tersebut, baik ancaman eksternal maupun internal. Kita seyogyanya juga bersiap-siap dan tega mengambil tindakan apapun, termasuk di dalamnya eksistensi militer yang kuat dan bahkan tindakan militer, untuk menjaga kepentingan-kepentingan kita. Kita seyogyanya juga bersiap-siap membuktikan kebenaran ucapan kita dengan tindakan nyata.”
Lebih lanjut, ia menulis,” Statemen kedigdayaan bahwa AS akan melawan ancaman apapun terhadap kawasan tersebut dengan sebuah reaksi militer, hanya akan menjadi omong kosong bila kita tidak memiliki kekuatan militer di kawasan tersebut. Dengan eksistensi pasukan militer, barulah statemen kita akan dipercayai. Oleh karenanya, sangat mendesak bagi AS untuk mempunyai cara-cara pokok yang membantu kita untuk memamerkan kekuatan militer kita secara memuaskan di kawasan tersebut, sehingga bisa menolak dengan cepat setiap tantangan yang muncul secara tiba-tiba.”
Ia menambahkan,” Secara jelas dan tidak berbelit-belit, kita harus menegaskan kepada para pemimpin Saudi Arabia, Oman, Kuwait dan negara-negara utama lainnya di Teluk, bahwa tatkala terjadi kekuatan revolusi yang mengancam kekuasaan mereka, baik ekstrenal maupun internal, AS pasti akan berada di pihak mereka, sehingga mereka tidak akan menemui kesudahan yang menimpa Syah Iran.”
Inilah inti dari Nixon Doctrin.

Carter Doctrin

Setelah Syah Iran terguling, dan Soviet menginvasi Afghanistan, pada tanggal 20 dan 23 Januari 1980 M, presiden AS Jimmy Carter mengeluarkan “Carter Doctrin”. Dalam pernyataan yang diserahkan kepada Kongres AS tersebut, Carter menulis,” AS menganggap usaha dari kekuatan luar manapun untuk menguasai kawasan Teluk Persia sebagai gangguan terhadap kepentingan vital AS. AS akan membalas gangguan ini dengan berbagai cara yang dimilikinya, termasuk penggunaan kekuatan senjata.”
Doktrin ini merupakan pendorong kuat bagi terwujudnya pasukan invasi kilat AS di kawasan Teluk. Berdasar doktrin ini, tujuan utama dari eksistensi atau penggunaan kekuatan militer AS di kawasan Teluk adalah sekedar untuk tindakan membela diri atas segala ancaman dari luar.
Sebenarnya, AS tidak mengungkapkan ancaman yang lebih besar dan serius, yaitu ancaman internal dari bangsa-bangsa pengekspor minyak tersebut. Krisis minyak pasca perang oktober 1973 M menunjukkan, ancaman perang nuklir jauh lebih kecil dari ancaman bangsa-bangsa pengekspor minyak. Memperkuat pemerintahan negara-negara Teluk untuk kepentingan AS, suatu saat bisa berubah menjadi bumerang. Mengganti pemerintahan dengan sistem demokrasi, juga memberi peluang bagi aktivis Islam untuk memegang tampuk kekuasaan. Jika AS menjauh dari sumber-sumber minyak ini, AS tidak akan mendapatkan minyak bumi dengan jumlah cukup dan harga murah.
Jadi, sebenarnya tujuan utama pembentukan pasukan invasi kilat ini adalah untuk mengamankan kepentingan minyak bumi AS dari ancaman internal, ancaman kaum muslimin yang sering dipojokkan dengan istilah “fundamentalis Islam”.
Setelah AS kesulitan mempercayai satupun pemerintahan Teluk, Nixon ikut melupakan Nixon Doctrin-nya, dan justru ikut mendukung Carter Doctrin. Dalam bukunya, “1999 : menang tanpa peperangan”, ia menulis:
” Kini, AS adalah satu-satunya negara yang bisa menjaga kepentingan Barat di Teluk Persia. Tiada satu pun negara Teluk loyalis Barat yang kuat untuk cukup mampu mengemban tugas ini. Pun, tak satu pun negara Eropa sekutu kita yang mempunyai kemampuan atau keinginan kuat melaksanakan tugas ini. Kita harus menggunakan aspek militer kita untuk menunjukkan kekuatan militer AS di Teluk. Dan kita telah merealisasikan sebuah kemajuan yang berarti dalam aspek ini. Presiden Carter telah membentuk pasukan invasi kilat, presiden Reagen juga telah menguatkannya dengan menempatkannya langsung di bawah komando pusat. Konggres juga telah menyetujui milyaran dolar untuk pasukan ini.”
Lebih lanjut, ia mengungkapkan,” Mustahil militer AS bisa masuk ke Teluk Persia jika ia tidak mempunyai pangkalan-pangkalan udara di Saudi Arabia dan negara-negara Teluk yang lebih kecil lainnya. Kita perlu membuat pangkalan-pangkalan udara di sana sehingga bisa menjaga kekuatan darat kita saat membangun rute-rute darat. Tanpa adanya keunggulan pasukan udara, operasi penurunan militer AS apapun di Teluk Persia akan menyerupai operasi pendaratan pasukan Inggris di Galiyubi pada perang dunia pertama.”

Bukan Carter

Sebenarnya mantan presiden Carter bukanlah penggagas awal konsep pasukan invasi kilat ini. Ia sekedar menghidupkan kembali usulan Robert Mc Namara, penasehat mentri pertahanan AS di awal 60-an. Pada tahun 1962 M, Robert Mc Namara mengusulkan mengganti konsep “perlawasanan semesta” berbasis perang nuklir yang dianut AS dengan “perlawanan fleksibel”. Konsep perang Nuklir dianut oleh presiden Eisenhower dan Ford.
Saat itu, Mc Namara menyatakan,” Konsep perlawanan semesta sudah tidak memenuhi tuntutan kebutuhan, saat terjadi krisis yang lebih kecil dari krisis nuklir dan front semesta melawan Soviet. Konsep perlawanan fkesibel bertumpu pada perluasan kemampuan perang klasik (non nuklir) untuk menghadapi gerakan-gerakan pembangkang, peperangan rakyat, atau konflik lokal yang terbatas. Untuk itu perlu dibentuk kekuatan pemukul klasik yang bermobilitas tinggi dan mampu masuk ke daerah-daerah yang jauh dengan cepat dan efektif.”
Saat itu usulan ini ditolak oleh Konggres. Pasca krisis minyak akibat perang 1973 M, usulan ini kembali diperdebatkan, mengingat perannya sebagai solusi problem minyak yang dialami AS saat itu. Adalah menteri pertahanan AS, James R. Schlesinger yang kembali mengangkat “flexible option”nya Mc Namara, pada bulan Januari 1974 M.
Saat Henry Kissinger menjadi mentri luar negeri AS, pada tahun 1974 M/1394 H, ia juga menyerukan pembentukan pasukan koalisi AS-Eropa untuk mengamankan kepentingan minyak mereka. Namun, usulan ini ditolak NATO karena wilayah kerja NATO hanya sebatas negara dan kawasan anggota pakta pertahanan itu semata.
Saat Carter terpilih sebagai presiden tahun 1976 M/1396 H, ia menghidupkan kembali usulan Mc Namara dengan format baru yang ia namakan “Carter Doctrin”. Pada tahun 1977 M, pasukan invasi kilat resmi dibentuk oleh pemerintahan Carter. Langkah pertama pasukan ini dilakukan pada tahun 1979 M, dan untuk pertama kalinya pada tahun 1981 M, konggres AS membahas pembentukan dan tujuan pasukan ini. Di tahun 1981 M itu, pasukan ini telah dibentuk secara lengkap dari segala sudut dan aspeknya. Di tahun yang sama, mentri pertahanan AS Gasier Weneigner menjelaskan kepada komisi pertahanan dan urusan luar negeri Konggres, bahwa pengefektifan pasukan invasi di kawasan minyak dan jalur-jalur transportasinya semakin mendesak, setelah Syah Iran tergulingkan dan Soviet menginvasi Afghanistan.
Sebenarnya saat itu juga dibahas alternatif lain selain pembentukan pasukan invasi kilat AS. Di antaranya adalah alternatif pembentukan pasukan koalisi dengan negara-negara Teluk dengan tujuan mengamankan kepentingan AS. Namun AS keberatan dengan beberapa alasan, di antaranya AS tidak bisa percaya begitu saja kepada para wakilnya, dan pembentukan pasukan koalisi ini akan memakan anggaran besar, terlebih tindakan itu berarti memulai langkah dari nol kembali. Alasan lainnya, AS khawatir akan muncul pemerintahan-pemerintahan baru di kawasan Teluk yang menggulingkan pemerintahan-pemerintahan lama, sehingga menghancurkan segala fasilitas militer AS selama ini.
Tiada pilihan lain, AS meneruskan program pembentukan pasukan invasi kilatnya. Meski demikian, AS juga masih menempuh alternatif-alternatif lain, sesuai kebutuhan dan dalam batas-batas tertentu. AS tetap membentuk koalisi keamanan dan pertahanan dengan negara-negara Teluk, dengan nama “Dewan Kerjasama Teluk”. Juga persekutuan dengan Syah Iran, Anwar Sadat dan Saddam Husain —sebelum ia membangkang—. Alternatif–alternatif lain tetap dijalankan, namun sekedar dalam batas tertentu. Adapun inti langkah AS adalah menjadikan pasukan invasi kilat sebagai pelaksana seluruh kebutuhan dan kepentingan AS di Teluk.

Jumlah Pangkalan Militer AS di Dunia

Pembentukan pasukan invasi kilat ini hanya dikhususkan untuk kawasan Teluk. Jauh sebelum pembentukan pasukan invasi ini, terhitung sampai tahun 1976 M, jumlah pangkalan dan markas militer AS di seluruh dunia mencapai 300 pangkalan, tersebar di 30 negara untuk menjamin kepentingan-kepentingan AS. Sampai tahun 1975 M, jumlah tentara AS di seluruh pangkalan militer di 30 negara ini mencapai 504.000 personal. Untuk kawasan Eropa dan NATO saja, sebanyak 250.000 sampai 300.000 tentara AS ditempatkan di Eropa Barat, ditambah Armada AL AS Kedua di Samudra Atlantik, Armada AL AS Keenam di laut Mediterania dan 7000 rudal dengan hulu ledak nuklir. Pada tahun tersebut, sebanyak 41.000 personal telah ditarik ke negara AS, sehingga tersisa 463.000 personal.
Pasca perang Teluk Kedua 1991 M, Mentri pertahanan AS, Colin Powel, menegaskan, AS akan menutup 150 pangkalan militernya yang telah bertahan selama 45 tahun di Eropa, dan memindahkannya ke pangkalan-pangkalan militer rahasia dan baru di Kuwait, Qatar, Saudi, Oman, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Pangkalan Militer dan Modus Operasi Pasukan Invasi Salib

Eksistensi pasukan invasi AS di kawasan Teluk saat ini merupakan eksistensi pasukan AS langsung terbesar sejak tahun 1980 M. Eksistensi militer AS ini telah menjadi sebuah pengepungan yang mencekik kawasan dari seluruh sudutnya, darat dan laut. Betapa tidak. Di Turki saja, pasukan AS terpusat di lebih dari 20 pangkalan militer. Belum lagi pangkalan-pangkalan militer di Yunani, dan bagian timur dari Laut Mediterania. Terus berlanjut ke arah Mesir, tanduk Afrika —yang terpenting adalah pangkalan militer di Kenya—, lalu Laut Arab, Laut Merah dan perairan Teluk. Pasukan ini juga mempunyai pangkalan-pangkalan militer dan fasilitas kemudahan di kesultanan Oman, Kuwait, Qatar, Saudi Arabia, Bahrain, Uni Emirat Arab, Iraq dan Yordania. Pangkalan terpenting lainnya adalah di Palestina, dibawah pengendalian dan penjagaan Israel.
Angkatan Laut AS juga menyebar memenuhi seluruh perairan yang mengelilingi kawasan Teluk, mulai dari selat Jabat Tariq di Barat, sampai ke Semenanjung Hindia di Timur. Armada AL keenam dan ketujuh AS menjadi inti kekuatan AS yang dipersiapkan untuk operasi ini. Armada (kapal induk) AL AS ketujuh, sejak lama memang merupakan AL AS yang khusus diperuntukkan untuk melakukan operasi-operasi langsung di kawasan Teluk. Sedangkan armada (kapal induk) AL AS keenam adalah pasukan yang dikhususkan untuk beroperasi di Laut Mediterania, dalam prakteknya mencakup Jepang dan Asia Timur sampai Timur Samudra Hindia. Ia mempunyai hubungan dengan sebelah timur kawasan Teluk, yaitu sumber-sumber minyak bumi yang berada di Teluk. Armada ini bermarkas di pelabuhan Yokosoka, Jepang.
Dari aspek ekonomi, pangkalan-pangkalan militer AS di kesultanan Oman merupakan pangkalan yang paling berbahaya bagi kawasan Teluk. Pangkalan-pangkalan inilah yang menguasai selat Hurmuz, selat yang menjadi jalur pengeksporan 95 % minyak bumi Teluk ke seluruh dunia. Dengan menguasai selat ini, tanpa perang sekalipun, AS bisa mencekik ekonomi negara-negara Teluk yang lebih dari 98 % ekonominya bergantung kepada minyak bumi.
Karena buruknya kinerja pemerintahan negara-negara Teluk, mereka tidak berusaha maksimal untuk menambah sumber-sumber pendapatan negara selain minyak bumi. Pun, tidak berusaha untuk mencari solusi lain sebagai pengganti ketergantungan kepada selat Hurmuz. Memang, pemerintahan negara-negara Teluk tidak bisa melakukan itu semua, karena segala kebijakan mereka tidak berada di tangan mereka. Kebijakan strategis dalam aspek militer, ekonomi, politik pertahanan, dan keamanan mereka diarahkan oleh AS !!!!
Peranan operasi militer AS di pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk, adalah sebagai berikut :
a) Memperkuat militer AS yang telah berada di panggung percaturan Teluk sebelumnya, dan merubahnya dari sekedar unjuk gigi menjadi pasukan siap perang.
b) Mengamankan pangkalan-pangkalan militer dan fasilitas-fasilitas militer baru untuk pasukan AS yang beroperasi di kawasan, maksudnya pasukan-pasukan AS yang akan bergerak ke kawasan dalam kondisi-kondisi insidental.
c) Merealisasikan program penempatan militer AS permanen di seluruh negara kawasan Teluk, sehingga setiap negara Teluk terpaksa harus menerima realita ini. Taktik ini akan merubah sikap negara-negara Teluk, yang semula sepakat menolak eksistensi permanen militer AS. Masing-masing negara akan berlomba meminta penempatan militer AS di negaranya, mendahului negara tetangganya. Masing-masing pemimpin negara akan berfikir, jika tidak menerima penempatan militer AS, negara tetangga akan menerimanya, dan mendapatkan banyak kemudahan dari AS. Pemimpin-pemimpin negara di kawasan ini akan berlomba-lomba menerima penempatan pasukan AS, dan inilah yang menyebabkan sengketa terakhir antara Saudi dan Qatar.
d) Pembangunan gudang-gudang logistik, amunisi dan persenjataan AS untuk memudahkan operasi penyebaran secara kilat di seluruh kawasan. Penimbunan logistik, amunisi, persenjataan berat dan seluruh kebutuhan perang di negara-negara kawasan, akan meminimalisir biaya, waktu dan tenaga saat terjadi kondisi insidental yang menuntut pergerakan penyebaran secara cepat, bahkan terhadap negara-negara pengekspor minyak sendiri. Pembangunan gudang-gudang militer AS ini dirancang sedemikian rupa oleh para pakar militer AS. Terletak di tempat-tempat yang jauh, pasukan AS bisa mengisolir dan menguasainya secara penuh, sehingga tidak mungkin dijangkau oleh negara Teluk atau kelompok manapun di kawasan Teluk yang memusuhi AS. Dengan seluruh perencanaan matang ini, ketika sebuah negara yang ditempati menolak, atau gudang-gudang ini dijadikan target serangan, AS bisa mengamankannya.
e) Meningkatkan kemampuan pasukan invasi cadangan AS yang berada di AS sendiri, untuk beroperasi secara cepat dan insidental.
f) Mempertahankan penguasaan permanen atas setiap negara Teluk melalui pangkalan-pangkalan militer AS di setiap negara Teluk. Setiap pangkalan militer AS bertugas menjamin penguasaan AS atas negara yang ditempati, mengumpulkan informasi yang cukup, tidak memberi kesempatan kepada negara tersebut untuk berdikari dan tidak membutuhkan bantuan AS, serta mencegah pembentukan kekuatan apapun yang bisa mengancam eksistensi AS atau Israel.
Inilah tugas-tugas utama pangkalan-pangkalan militer AS di Teluk, yang berada di bawah kendali komando pasukan invasi kilat. Lantas, apa cara-cara AS untuk mengefektifkan pangkalan-pangkalan ini sehingga bisa menjadi jembatan utama bagi setiap operasi militer pasukan ini ?
Dari sudut pandang operasi taktis, ada beberapa cara. Namun secara strategis terpusat kepada beberapa langkah berikut :
a- Campur tangan melalui perantaraan pasukan pendahuluan yang sudah berada di dalam atau di dekat kawasan.
b- Campur tangan melalui perantaraan pasukan yang bergerak dari AS ke kawasan.
c- Campur tangan melalui satuan-satuan komando operasi yang berada di dalam atau luar AS, di bawah komando pusat AS.
d- Campur tangan melalui pasukan komando strategis seperti pesawat-pesawat tempur strategis atau rudal-rudal jarak jauh.
Seluruh langkah ini telah ditempuh dalam invasi ke Iraq tahun 2003 M yang lalu. Ini berarti dalam level perang klasik, AS telah melemparkan seluruh anak panahnya. Jika dalam invasi ke Iraq ini AS mengalami kegagalan, AS tidak segan-segan menempuh perang kimia dan nuklir. Pasukan invasi kilat yang saat ini sudah berada di pangkalan-pangkalan militer di Teluk, menjadi pasukan terdepan pasukan invasi kilat secara keseluruhan.
Inti kekuatan pasukan ini adalah Divisi 82 yang diangkut dengan udara, berkekuatan 15.200 personal, dan divisi 101 yang juga diangkut dengan udara, berkekuatan 18.900 personal. Kedua divisi ini terdiri dari berbagai kesatuan infantri dengan senjata ringan, tanpa meriam-meriam berat atau tank-tank tempur utama.
Divisi 82 bisa diangkut dari AS dalam waktu maksimal dua minggu, dengan pesawat-pesawat pengangkut C 5 Galaxy yang bisa membawa minimal peralatan militer seberat 100 ton, pesawat-pesawat C 141 yang bisa membawa peralatan perang minimal seberat 32 ton dan pesawat-pesawat pengisi bahan bakar KC 135 yang bisa mengisi bahan bakar pesawat sambil terbang. Dengan adanya pesawat KC 135 ini, AS tidak terlalu memerlukan pangkalan-pangkalan permanen untuk mendukung logistik pesawat-pesawat tempurnya. Meski demikian, AS juga membuat program penggunaan pesawat-pesawat sipil untuk mengangkut pasukan invasi dalam keadaan insidental.
Penjelasan ini baru menyebut dua divisi saja, dari keseluruhan pasukan invasi kilat AS di kawasan Teluk. Jumlah keseluruhan pasukan invasi AS tentu jauh lebih besar dari angka ini. Pada awal pembentukan pasukan invasi ini di masa presiden Carter saja, jumlah pasukan ini antara 100.000-110.000 tentara.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata AS saat itu, Bernard Roger, menyebutnya sebagai kesatuan indipenden. Setelah itu, komandan pertama pasukan invasi ini, Jendral Kelly, di awal tahun 1980-an menegaskan bahwa jumlah pasukan ini akan ditingkatkan menjadi 200.000 tentara. Jumlah final pasukan invasi kilat ini sebanyak 200.000 pasukan ini, dicapai pada tahun 1991 M yang lalu, dengan menambahkan 100.000 personal dari berbagai kesatuan militer AS. Untuk pasukan sebesar ini, AS telah menyiapkan secara khusus lebih dari 200 pesawat berbagai jenis. Jumlah personal dan jenis persenjataan pasukan invasi AS ini bertambah, sejak dilakukannya invasi AS ke Iraq tahun 2003 M yang lalu.

Heran….!!???

Yang sangat mengherankan, seluruh program, persiapan, langkah lama, rencana makar, jumlah besar pasukan, logistik dan persenjataan pasukan invasi AS yang sudah berada di kawasan Teluk sejak tahun 1991 M ini, masih belum meyakinkan sebagian umat Islam bahwa Jazirah Arab —termasuk di dalamnya Makkah dan Madinah, dua kota suci umat Islam— sudah dijajah oleh AS dan sekutu-sekutunya sejak lebih dari 13 tahun yang lalu !!???.
Sebagian kaum muslimin yang polos lantas berkomentar, pengerahan pasukan AS secara besar-besaran di dunia Islam ini adalah akibat dari serangan “mujahidin” di WTC dan beberapa penjuru dunia lainnya. Mereka tidak memahami, bahwa kebijakan AS saat ini sudah dirancang sejak lebih dari 20 tahun sebelum kelahiran Usamah bin Ladin. Mereka berteriak,” Perang melawan terorisme yang dikomandoi AS saat ini adalah sebagai reaksi atas tindakan ugal-ugalan para “teroris” di Manhatan, Kenya, Tanzania, Afghanistan, Yaman, Filiphina, Bali, Jakarta dan seterusnya”. Seakan-akan mereka mengajak bicara anak-anak kecil yang tidak faham sejarah !!!
Yang lebih polos lagi, mereka mengatakan perang melawan terorisme ini akan berakhir bila apa yang mereka sebut sebagai rezim Thaliban, Al-Qaedah, Jama’ah Islamiyah, para “teroris” dan seterusnya berhasil ditangkap dan dihancurkan. Padahal, pasukan AS sudah bercokol di kawasan Jazirah Arab sejak lima dekade sebelumnya, jauh sebelum mereka yang diistilahkan sebagai kelompok-kelompok “teroris’ tersebut lahir !!!!.
Penempatan pasukan invasi kilat AS saat ini, adalah tindak lanjut dari penempatan militer AS sebelumnya. Bedanya, lima dekade sebelumnya bersifat “meminjam dan menyewa pangkalan”, sedangkan kini bersifat “permanen, langgeng, menjadi pemilik alias menjajah langsung”. Mentri pertahanan AS, Powel, di awal tahun 1991 M (Rabi’ul Awal 1411 H) menegaskan kepada para wartawan saat ditanya tentang berapa lama keberadaan militer AS di Saudi Arabia,” Kita tentu saja tidak siap datang setiap 10 tahun sekali untuk memecahkan persoalan-persoalan kawasan ini.”
Ia menambahkan,” Keberadaan pasukan AS di Saudi tergantung kepada stabilitas kawasan.” Sampai kini, stabilitas belum tercipta, sekalipun pasukan penjajahan AS sudah bercokol di sana sejak lebih dari 13 tahun yang lalu.
Penegasan mentri pertahanan AS ini, merupakan pengulangan penegasan mentri luar negeri AS, James Baker, dua minggu sebelumnya yang menyebutkan bahwa keberadaan pasukan invasi kilat AS di Saudi yang saat itu berkekuatan 350.000 tentara, amat bergantung kepada stabilitas kawasan Teluk. Tentu saja, istilah “stabilitas kawasan” adalah sebuah istilah “karet” yang bisa ditarik ulur sesuka hati AS.

Terperosok ke Lubang yang Sama, Berulang Kali

Yang menyedihkan, saat ini kaum muslimin —terkhusus lagi kawasan Teluk— kembali tertipu dengan statemen yang sama dengan statemen-statemen sebelumnya, oleh tokoh yang itu-itu juga. Mereka tertipu oleh statement para pejabat AS bahwa pasukan AS akan segera ditarik keluar dari kawasan Teluk, bila tugas mengamankan kawasan ini telah selesai.
Hari Jum’at 16 Shafar 1424 H yang lalu, dalam wawancara dengan harian Maroco Ideo, Maroko, Henry Kissinger —mantan menlu AS— kembali menghasung negara-negara Arab untuk berpartisipasi membangun kembali Iraq, pasca invasi AS 2003 M lalu.
Begitulah. AS yang menghancurkan Iraq, dengan persetujuan dan izin negara-negara Arab lewat pangkalan-pangkalan militernya, kemudian negara-negara Arab pula yang harus memperbaiki, membangun kembali, menanggung kehancuran Iraq dan seluruh biaya perang. Dengan kekayaan dan pajak warga negara-negara Arab tersebut, pajak dari kaum muslimin !!!.
Dalam wawancara itu, Kissinger dengan arogan menyatakan,”Negara-negara Arab harus bergerak segera untuk kembali membangun Iraq.” “Pembangunan Iraq bukan tanggung jawab AS semata.” ” AS tidak bisa bertahan di Iraq lebih lama dari dua tahun, karena akan menambah kebencian rakyat Iraq kepada AS.”
Arogan. AS yang menghancurkan Iraq, membunuh puluhan ribu penduduknya tanpa memperhitungkan sedikitpun kebencian rakyat Iraq. Setelah semuanya hancur, dengan enteng menyatakan pembangunan Iraq adalah tanggung jawab negara-negara Arab, mereka harus terlibat dalam inti percobaan dengan membangun kembali Iraq. Waktu dua tahun yang ditegaskan Kissinger, tentu saja bisa bertambah sampai 20 atau 50 tahun. Negara dan organisasi dunia mana yang bisa memprotes dan meminta pertanggung jawaban AS ? Tentu tidak ada, selain operasi-operasi perlawanan mujahidin Iraq.
Dalam kunjungan ke Irlandia, Sabtu 24 Shafar 1424 H yang lalu, statemen yang sama juga ditegaskan oleh mentri pertahanan AS, Donald Rumsfled,” AS berencana akan mempertahankan eksistensinya di Iraq dan Afghanistan sampai terbentuknya pemerintahan demokratis seluas-luasnya.” Persoalannya, siapa yang menentukan standar demokratis dan seluas-luasnya ??? Tentu saja AS, dan AS akan menarik ulur standar ini sesuka hatinya. Keberadaan pasukan AS di Iraq dan Afghanistan akhirnya akan bersifat langgeng, seperti yang sudah terjadi di negara-negara Teluk.
Dalam perbincangan dengan stasiun TV Al-Jazerah, Rumsfeld menegaskan,” AS tidak berniat mempertahankan pangkalan-pangkalan militernya untuk jangka panjang di Iraq.” Jika AS menetapkan akan mempertahankannya dalam jangka panjang di Iraq, adakah protes dari negara-negara Arab yang sebelumnya berlomba mengemis agar pangkalan-pangkalan AS di negara mereka dipertahankan dalam jangka waktu yang lebih lama ??? Tentu saja tidak ada.
Para konseptor di Pentagon telah memberikan statemen, ada kebutuhan mendesak untuk mempertahankan 125.000 pasukan AS di Iraq, minimal dalam jangka waktu setahun untuk menciptakan stabilitas keamanan Iraq, sampai pemerintahan baru yang demokratis mampu mempertahankan stabilitas keamanan negara. Jumlah ini setara dengan 63 % keseluruhan pasukan invasi kilat AS di kawasan Teluk. Bermarkasnya 63 % pasukan invasi AS di Iraq, membuat pasukan invasi AS ini tidak tergantung lagi kepada pangkalan udara pangeran Sultan, Saudi Arabia.
Bila satu tahun telah lewat, dan pemerintahan baru belum mampu menciptakan stabilitas, langkah apa yang akan diambil ?
Admiral Arthur Cropsky, direktur kantor evakuasi militer Pentagon menjawab,”AS memandang selesainya perang di Iraq merupakan kesempatan AS untuk kembali menebarkan kekuatan militernya ke seluruh penjuru dunia. Langkah ini akan membawa perubahan besar pada pangkalan-pangkalan AS di Eropa dan Asia.”
Nampaknya, AS akan memindahkan pangkalan-pangkalan di Eropa dan Asia yang merupakan pangkalan-pangkalan terpenting AS di luar AS, ke Iraq. Arthur menambahkan,” Amat konyol bila setelah selesainya perang seperti yang kita lakukan di Iraq, seluruh persoalan akan kembali normal seperti sedia kala.”
Anggota partai Republik, Perez, di hadapan Senat pada hari Sabtu 25 Shafar 1424 H menyatakan,” Persoalan ini membutuhkan waktu minimal lima tahun, sampai terbentuk pemerintahan baru yang mampu secara langsung mengendalikan urusan sendiri d Iraq.”
Senator Richard Loger, ketua komisi hubungan luar negeri Senat, juga dari partai Republik, menegaskan dalam wawancara dengan stasiun TV CNN,” Saya yakin, kita harus memikirkan waktu yang tidak kurang dari lima tahun.”
Seorang senator partai Republik lainnya, Patt Robertos, yang juga ketua komisi intelijen Senat AS kepada stasiun TV Fox News juga mengungkapkan,” Kita datang untuk menetap.” Ia menambahkan,” Saya masih ingat, ketika presiden Bill Clinton menyebutkan kita akan berada di Semenanjung Balkan selama satu tahun. Sampai saat ini, sepuluh tahun sudah berlalu dan kita masih tetap berada di Balkan. Kita juga masih perlu bertahan di sana.”
Paul Wolfowitz, asisten mentri pertahanan AS dan orang kedua di Pentagon, juga menegaskan bahwa AS bisa saja membuat pangkalan-pangkalan militer baru di Iraq, yang akan menjadi sebuah negara Teluk kawan baru AS. Ia menambahkan,”Persoalan pokoknya, adalah dengan menggulingkan pemerintahan ini (Iraq), akan memberi peluang lebih leluasa kepada AS untuk bergerak di Teluk. Dan, langkah kaki AS akan semakin ringan, tanpa ada ancaman dari Iraq.”
Rencana ini dikuatkan oleh pernyataan para petinggi Pentagon yang dimuat oleh harian New York Times, bahwa ” AS berniat mempertahankan secara permanen empat pangkalan militer di Iraq untuk menjaga kepentingan-kepentingan AS, dan pada saat yang bersamaan akan mengurangi jumlah pasukannya di Saudi. Keempat pangkalan militer tersebut adalah :
– Pangkalan militer di bandara internasional Saddam.
– Pangkalan militer di Talel, dekat Nashiriyah.
– Pangkalan militer ITS I, di sebuah tempat terpencil di tengah padang pasir Iraq Barat, sejajar dengan kilang-kilang minyak antara Baghdad dan Yordania.
– Pangkalan militer di Pasyur, Iraq Utara.
Saat ini, pasukan AS bermarkas di empat pangkalan militer ini, selain ratusan kesatuan lainnya yang ditempatkan di setiap kota di Iraq dan daerah-daerah sekitarnya. Setelah ini, mungkin pasukan AS di Iraq akan dikurangi sehingga tinggal 125.000 personal, yang akan ditempatkan di empat pangkalan militer ini.”
Inilah pernyataan para petinggi pemerintahan AS. Jadi, benarkah tergulingnya Saddam menciptakan stabilititas di kawasan ? Benarkah tergulingnya rezim partai Baath membuat AS tidak memerlukan lagi pangkalan-pangkalan militer di kawasan ini ? Benarkah jatuhnya Iraq ke tangan AS, dan keberhasilan AS membentuk pemerintahan boneka baru loyalis AS, berarti selesainya opsi penggunaan kekuatan militer di kawasan ini ???
Seorang yang memahami sejarah invasi pasukan AS di kawasan Teluk dan mengikuti pernyataan-pernyataan para pejabat AS, tidak akan ragu-ragu menjawab tanda tanya di atas dengan jawaban TIDAK. Gertakan dan ancaman AS kepada Suriah, Iran, Sudan, Libya dan negara-negara “poros setan” lain di kawasan ini, semakin bertambah setiap hari. Belum lagi dengan penegasan Nixon bahwa musuh terbesar AS di kawasan ini adalah “fundamentalis Islam”.
Keberadaan pasukan AS untuk masa yang lebih lama, dikuatkan oleh para petinggi pemerintahan AS secara berturut-turut dalam beberapa waktu terakhir. Wakil Presiden Dick Cheney, dalam pertemuan dengan asosiasi redaksi media massa AS, menegaskan bahwa invasi ke Iraq akan disusul oleh operasi-operasi militer lain, sesuai dengan penegasan resmi presiden George W. Bush sebelumnya (BBC, 16/9/2001 M) bahwa perang “salib” melawan para teroris ini akan memakan waktu yang lama.
Dick Cheney menyebutkan,” AS mempunyai kewajiban moral untuk menghadapi para teroris.” Tentu sudah dimaklumi bersama, bahwa “teroris’ yang dimaksud oleh AS adalah kaum muslimin yang teguh memegang ajaran diennya, yang biasa mereka tuding dengan istilah “fundamentalis Islam”, atau “kaum Wahabi”.
Yang jelas, perang salib AS di kawasan Teluk belum akan berakhir, meski rezim Saddam sudah mereka gulingkan, bahkan mereka telah membentuk pemerintahan boneka loyalis AS. Iraq hanyalah batu loncatan awal. Negara-negara di kawasan Jazirah Arab, akan menjadi target selanjutnya. Dan tentu saja, pasukan invasi kilat AS akan dipertahankan dalam waktu lebih lama, atau tepatnya selamanya.
Hal ini dikuatkan dengan penegasan para petinggi Pentagon kepada kantor berita AFP, bahwa tiga hari setelah jatuhnya Iraq, pesawat-pesawat tempur AS mengangkut sejumlah besar bom MOAB, dengan berat masing-masing bom 9,5 ton. Bom ini merupakan bom terbesar AS sejak zaman perang klasik. Daya hancurnya senilai dengan sebuah bom nuklir kecil. AFP tidak menyebutkan sebab pengiriman bom-bom tersebut ke kawasan Jazirah, sekalipun Iraq telah takluk tiga hari sebelumnya.
Dua hari setelah jatuhnya Iraq, mentri pertahanan Inggris, Jeff Hone mngancam akan melakukan pukulan mematikan kepada negara-negara “pembangkang”, yaitu negara yang melindungi teroris internasional, dan negara yang berusaha atau telah memiliki senjata-senjata pemusnah masa. Melindungi teroris, memiliki atau berusaha memiliki senjata pemusnah masal, merupakan sebuah sifat yang bisa melekat atau dilekatkan kepada setiap negara di kawasan Teluk.
Dengan alasan ini pula, AS, Inggris dan sekutu-sekutunya melakukan invasi ke Iraq. Meski Iraq sudah dijatuhkan, dan penggeledahan terhadap setiap rumah, bangunan dan jengkal tanah Iraq telah mereka lakukan, bahan-bahan kimia untuk senjata pemusnah masal tidak didapatkan. Tim investigasi PBB sebelumnya juga telah mengeluarkan laporan ketidak beradaan senjata pemusnah masal di Iraq.
Namun, begitulah. Tidak masalah bila pasukan invasi AS dan sekutunya tidak menemukan bukti atas tuduhan yang mereka lontarkan. Karena, tujuan invasi ini bukanlah untuk mencari senjata pemusnah masal. Pun, bukan untuk menggulingkan rezim Saddam semata. Lagi, juga bukan untuk memburu Usamah, Al-Qaidah, jaringan teroris semata.
Tujuan sebenarnya adalah mempertahankan penjajahan atas Jazirah Arab ; Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kesultanan Oman dan Yaman.
Tujuan sebenarnya adalah merampok dan menguras kekayaan alam dunia Islam.
Tujuan sebenarnya adalah memerangi Islam, kaum muslimin dan mujahidin.
Tujuan sebenarnya adalah mengokohkan mimpi “Israel raya”
Tujuan sebenarnya adalah perang salib modern.

[2]
Melawan Penjajahan Koalisi Salibis, Sebuah Tindakan Terorisme ?

Wasiat Terakhir Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam

Sayang, seribu sayang, umat Islam telah melupakan firman Allah Ta’ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسُُ فَلاَيَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَآءَ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ حَكِيمُُ {28} قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلاَيُحَرِّمُونَ مَاحَرَّمَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَلاَيَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ {29}
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini, maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. Al-Taubah :28-29).
Sayang, seribu sayang, umat Islam telah melupakan sunnah dan wasiat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, yang disampaikan 4 hari sebelum beliau meninggal :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّه عَنْهمَا أَنَّهُ قَالَ : يَوْمُ الْخَمِيسِ. وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ؟ ثُمَّ بَكَى حَتَّى خَضَبَ دَمْعُهُ الْحَصْبَاءَ, فَقَالَ : اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعُهُ يَوْمَ الْخَمِيسِ, فَقَالَ (ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا). فَتَنَازَعُوا وَلَا يَنْبَغِي عِنْدَ نَبِيٍّ تَنَازُعٌ, فَقَالُوا هَجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ (دَعُونِي ! فَالَّذِي أَنَا فِيهِ خَيْرٌ مِمَّا تَدْعُونِي إِلَيْهِ) وَأَوْصَى عِنْدَ مَوْتِهِ بِثَلَاثٍ (أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ, وَأَجِيزُوا الْوَفْدَ بِنَحْوِ مَا كُنْتُ أُجِيزُهُمْ), وَنَسِيتُ الثَّالِثَةَ).
وَقَالَ يَعْقُوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ سَأَلْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ عَبْدِالرَّحْمَنِ عَنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ فَقَالَ مَكَّةُ وَالْمَدِينَةُ وَالْيَمَامَةُ وَالْيَمَنُ وَقَالَ يَعْقُوبُ وَالْعَرْجُ أَوَّلُ تِهَامَةَ. وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ (وَالثَّالِثَةُ خَيْرٌ إِمَّا أَنْ سَكَتَ عَنْهَا وَإِمَّا أَنْ قَالَهَا فَنَسِيتُهَا) قَالَ سُفْيَانُ هَذَا مِنْ قَوْلِ سُلَيْمَانَ. وَ فِي رِوَايَةٍ زِيَادَةُ (قَالَ عُبَيدُ اللهِ فَكَانَ ابْنُ عَبَّاٍس يَقُولُ إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللهِ وَبَيْنَ أَنْ يَكْتُبَ لَهُمْ ذَلِكَ الْكِتَابَ مِنْ اِخْتِلاَفِهِمْ وَلَغَطِهِمْ).

[1]- Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata,” Hari Kamis. (Tahukah kalian) apa itu hari Kamis?” Beliau lalu menangis sehingga air matanya membasahi jenggot putihnya —dalam riwayat lain : membasahi tikar–. Beliau berkata,” Pada hari Kamis sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam semakin berat. Beliau lalu bersabda,”Datangkanlah tulang pipih agar aku bisa menulis untuk kalian suatu catatan sehingga kalian tak akan tersesat selamanya sesudah ini.“
Para sahabat berselisih pendapat, padahal tak sewajarnya ada perselisihan di sisi Nabi. Para sahabat berkata,” Rasulullah mengigau.” Maka Rasulullah bersabda,”Biarkanlah saya. Apa yang aku kerjakan (ingin menulis wasiat, pent) lebih baik dari ajakan kalian (untuk tidak menulis, pent).”
Maka beliau mewasiatkan tiga hal sebelum beliau wafat,”Keluarkanlah orang-orang musyrik dari jazirah Arab dan berilah para utusan hadiah sebagaimana aku memberi mereka hadiah.” Saya (Ibnu Abbas) lupa yang ketiga.”
Ya’qub bin Muhammad berkata,” Saya bertanya kepada Mughirah bin Abdurahman tentang Jazirah Arab, maka beliau menjawab Makkah, Madinah, Yamamah dan Yaman.”
Dalam riwayat lain ada tambahan :
Ubaidullah berkata,” Adalah Ibnu Abbas berkata,” Musibah sebesar-besar musibah adalah terhalangnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dari menulis tulisan tersebut karena adanya perbedaan pendapat di antara mereka.”
Dalam riwayat lain :
Ibnu Abbas berkata,” Yang ketiga adalah kebaikan, boleh jadi beliau diam (tidak mengatakannya) atau boleh jadi beliau mengatakannya namun saya yang lupa.” Sufyan bin Uyainah berkata,” Ini perkataan Sulaiman (perawi).”

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَأُخْرِجَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ حَتَّى لَا أَدَعَ إِلَّا مُسْلِمًا
[2]- Jabir bin Abdullah radiyallahu ‘anhu berkata,” Umar bin Khatab memberitahukan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Saya benar-benar akan mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, sehingga tak aku sisakan kecuali orang Islam.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ إِذْ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ (انْطَلِقُوا إِلَى يَهُودَ) فَخَرَجْنَا مَعَهُ حَتَّى جِئْنَا بَيْتَ الْمِدْرَاسِ. فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَادَاهُمْ (يَا مَعْشَرَ يَهُودَ أَسْلِمُوا تَسْلَمُوا) فَقَالُوا قَدْ بَلَّغْتَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ. فَقَالَ (ذَلِكَ أُرِيدُ). ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ فَقَالُوا (قَدْ بَلَّغْتَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ). ثُمَّ قَالَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ )اعْلَمُوا أَنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ. وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُجْلِيَكُمْ فَمَنْ وَجَدَ مِنْكُمْ بِمَالِهِ شَيْئًا فَلْيَبِعْهُ وَإِلَّا فَاعْلَمُوا أَنَّمَا الْأَرْضُ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ)
[3]- Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata,” Ketika kami sedang duduk di masjid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam keluar menemui kami dan bersabda,” Mari berangkat ke orang-orang Yahudi.” Kami segera berangkat bersama beliau, sampai tiba di rumah Midras. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam segera berdiri dan menyeru mereka,” Wahai segenap kaum Yahudi, masuk Islamlah, kalian akan selamat !” Mereka menjawab,” Engkau telah menyampaikan risalah wahai Abu Qasim !”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berkata,” Itu yang aku inginkan.” Beliau lalu meneriakkan seruah dakwah yang sama, dan kembali mereka menjawab dengan jawaban yang sama. Untuk ketiga kalinya, beliau menyerukan dakwah kepada mereka, lalu bersabda,”Ketahuilah ! Sesungguhnya bumi milik Allah dan Rasul-Nya. Aku akan mengusir kalian, maka siapa di antara kalian memiliki harta, hendaklah ia segera menjualnya. Jika tidak, ketahuilah bahwa bumi milik Allah dan Rasul-Nya.”

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهمَا أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَجْلَى الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا ظَهَرَ عَلَى أَهْلِ خَيْبَرَ أَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ الْيَهُودَ مِنْهَا وَكَانَتِ الْأَرْضُ لَمَّا ظَهَرَ عَلَيْهَا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِلْمُسْلِمِينَ. فَسَأَلَ الْيَهُودُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتْرُكَهُمْ عَلَى أَنْ يَكْفُوا الْعَمَلَ وَلَهُمْ نِصْفُ الثَّمَرِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (نُقِرُّكُمْ عَلَى ذَلِكَ مَا شِئْنَا), فَأُقِرُّوا حَتَّى أَجْلَاهُمْ عُمَرُ فِي إِمَارَتِهِ إِلَى تَيْمَاءَ وَأَرِيحَا *

[4]- Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata,” Umar mengusir orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Hijaz. Dahulu ketika Rasulullah menang atas penduduk Khaibar, beliau ingin mengusir orang-orang Yahudi dari Khaibar, karena dengan kemenangan itu berarti tanah Khaibar menjadi hak Allah, Rasulullah dan kaum muslimin.
Orang-orang Yahudi meminta kepada Rasulullah agar membiarkan mereka tetap tinggal di Khaibar dengan syarat mereka mengerjakan tanah pertanian Khaibar dan hasilnya dibagi dua. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Kami setujui kalian mengerjakan hal itu selama masa yang kami kehendaki.” Mereka tetap tinggal di Khaibar sampai Umar mengusir mereka pada masa pemerintahan beliau ke Taima dan Ariha’.”

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهمَا قَالَ: لَمَّا فَدَعَ أَهْلُ خَيْبَرَ عَبْدَاللَّهِ بْنَ عُمَرَ, قَامَ عُمَرُ خَطِيبًا فَقَالَ (إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عَامَلَ يَهُودَ خَيْبَرَ عَلَى أَمْوَالِهِمْ, وَقَالَ نُقِرُّكُمْ مَا أَقَرَّكُمُ اللَّهُ. وَإِنَّ عَبْدَاللَّهِ بْنَ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى مَالِهِ هُنَاكَ فَعُدِيَ عَلَيْهِ مِنَ اللَّيْلِ فَفُدِعَتْ يَدَاهُ وَرِجْلَاهُ, وَلَيْسَ لَنَا هُنَاكَ عَدُوٌّ غَيْرَهُمْ هُمْ عَدُوُّنَا وَتُهْمَتُنَا. وَقَدْ رَأَيْتُ إِجْلَاءَهُمْ.
فَلَمَّا أَجْمَعَ عُمَرُ عَلَى ذَلِكَ أَتَاهُ أَحَدُ بَنِي أَبِي الْحُقَيْقِ فَقَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ, أَتُخْرِجُنَا وَقَدْ أَقَرَّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَلَنَا عَلَى الْأَمْوَالِ وَشَرَطَ ذَلِكَ لَنَا ؟ فَقَالَ عُمَرُ أَظَنَنْتَ أَنِّي نَسِيتُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ بِكَ إِذَا أُخْرِجْتَ مِنْ خَيْبَرَ تَعْدُو بِكَ قَلُوصُكَ لَيْلَةً بَعْدَ لَيْلَةٍ ؟ فَقَالَ كَانَتْ هَذِهِ هُزَيْلَةً مِنْ أَبِي الْقَاسِمِ.
قَالَ : كَذَبْتَ يَا عَدُوَّ اللَّهِ ! فَأَجْلَاهُمْ عُمَرُ وَأَعْطَاهُمْ قِيمَةَ مَا كَانَ لَهُمْ مِنَ الثَّمَرِ مَالًا وَإِبِلًا وَعُرُوضًا مِنْ أَقْتَابٍ وَحِبَالٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ. *
[5]- Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata,” Ketika kaum Yahudi Khaibar memotong pergelangan tangan dan kaki Abdullah bin Umar, Umar bin Khatab segera berkhutbah:” Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah mempekerjakan kaum Yahudi untuk mengurus harta mereka. Beliau bersabda : Kami mempertahankan kalian selama Allah mempertahankan kalian.” Abdullah bin Umar telah pergi ke Khaibar untuk menengok hartanya, namun ia diserang sehingga kedua tangan dan kakinya telah dipotong di suatu malam. Kita tidak mempunyai musuh di Khaibar selain mereka. Mereka adalah musuh kita, dan pihak yang tertuduh. Aku berpendapat, sekarang saatnya untuk mengusir mereka.”
Ketika keputusan Umar untuk mengusir mereka telah bulat, seorang Yahudi anak Ibnu Abi Huqaiq menemui beliau dan berkata,” Wahai amirul mukminin ! Apakah anda akan mengusir kami, padahal Muhammad telah mempekerjakan kami atas harta-harta (kaum muslimin) dan itulah syarat bagi kami ?”
Umar menjawab, “Apa engkau fikir aku sudah lupa dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam ((Bagaimana kabarmu bila kau diusir dari Khaibar, sedang untamu senantiasa mengganggumu setiap malam)) ?” Ia menjawab,” Ah, itu hanya guyon Abul Qasim saja !”
Umar berkata,” Kau dusta, wahai musuh Allah !” Umarpun mengusir kaum Yahudi dari Khaibar. Umar juga mengganti rugi buah-buahan mereka dengan sejumlah harta, unta, dan perabotan.

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ:(لَئِنْ عِشْتُ َلأُخْرِجَنَّ اْليَهُودَ وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ حَتىَّ لاَ أَتْرُكَ فِيْهَا إِلاَّ مُسْلِماً).
[6]- Umar bin Khathab radiyallahu ‘anhu berkata,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : Jika saya masih hidup (lebih lama lagi), saya benar-benar akan mengusir Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, sehingga tidak aku sisakan di Jazirah Arab selain orang Islam.”

عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ قَالَ كَانَ آخِرُ مَا تَكَلَّمَ بِهِ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَخْرِجُوا يَهُودَ الْحِجَازِ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَاعْلَمُوا أَنَّ شِرَارَ النَّاسِ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ.
[7]- Abu Ubaidah bin Jarrah radiyallahu ‘anhu berkata,” Sabda terakhir yang diucapkan oleh Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah : Usirlah kaum Yahudi Hijaz dari Jazirah Arab, dan ketahuilah bahwa sejahat-jahat manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.”

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ آخِرُ مَا عَهِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ قَالَ لَا يُتْرَكُ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ دِينَانِ.
[8]- ‘Aisyah radiyallahu ‘anha berkata,” Wasiat yang terakhir kali disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah : Tidak boleh dibiarkan ada dua agama di Jazirah Arab.”

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ لَا يَبْقَيَنَّ دِينَانِ فِي أَرْضِ اْلجَزِيرَةِ)
[9]- ‘Aisyah radiyallahu ‘anha berkata,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Semoga Allah memerangi kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. Sekali-kali tidak boleh ada dua agama di Jazirah Arab.”

عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَقُولُ كَانَ مِنْ آخِرِ مَا تَكَلَّمَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ لَا يَبْقَيَنَّ دِينَانِ بِأَرْضِ الْعَرَبِ

[10]- Umar bin Abdul Aziz berkata,” Termasuk yang terakhir kali disabdakan Rasulullah adalah sabda beliau,” Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan makam para nabi mereka sebagai masjid. Sekali-kali tidak boleh ada dua agama di bumi Arab.”

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجْتَمِعُ دِينَانِ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ. فَفَحَصَ عَنْ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ حَتَّى أَتَاهُ الثَّلْجُ وَالْيَقِينُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجْتَمِعُ دِينَانِ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ فَأَجْلَى يَهُودَ خَيْبَرَ
[11]- Ibnu Syihab Az Zuhri berkata,” Rasulullah bersabda,” Tak boleh berkumpul dua agama di Jaziratul Arab.” Maka Umar memeriksa benarkah Rasulullah bersabda demikian, sampai ia merasa yakin bahwa Rasulullah bersabda,” Tak boleh berkumpul dua agama di Jaziratul Arab.” Maka Umar mengusir orang Yahudi dari Khaibar.”

Batas Geografis Jazirah Arab

Jazirah Arab adalah pusaran bumi. Letaknya tepat berada di tengah bola bumi. Tidak di sebelah selatan, utara, barat ataupun timur bola bumi. Ia dikelilingi oleh lautan dari berbagai arah, untuk menjaga keamanannya.
Para ulama geografi, bahasa, sejarah dan fikih sepakat bahwa Jazirah Arab adalah kawasan yang mempunyai batasan :
• Timur : Teluk Arab (Teluk Persia ) dan Sungai Efrat .
• Barat : Laut Merah dan Terusan Sues .
• Selatan : Laut Arab ( Samudra Hindia ).
• Utara : Daerah pedalaman Yordania dan Iraq.
Batasan geografis ini, telah lebih dahulu diungkapkan oleh para ulama salaf beberapa ratus tahun sebelumnya, di antaranya :
• Imam Bukhori meriwayatkan dari Ya`qub bin Muhammad,“ Saya menanyakan jazirah arab kepada Mughirah bin Abdurrahman. Beliau menjawab,”Makkah, Madinah, Yamamah dan Yaman, “ Ya`qub berkata,” Al ‘Arj (daerah antara Makkah dan Madinah) adalah awal dari daerah Tihamah.”
• Imam Khalil bin Ahmad berkata,” Dinamakan jazirah (pulau) arab karena laut Persia, laut Habasyah, sungai Efrat dan sungai Dajlah mengelilinginya. Itulah bumi arab dan barang tambangnya.
• Imam Al Ashma`i berkata,” Daerah yang belum dicapai oleh Imperium Persia sejak ujung terjauh Aden sampai pinggiran Syam.”
• Imam Abu Ubaid berkata,” Panjangnya sejak ujung Aden sampai pedusunan (pantai) Iraq, sedang lebarnya sejak Jeddah dan seterusnya dari daerah pantai sampai pinggiran Syam.”
Karena dikellingi laut dan sungai, kawasan ini diberi nama Jazirah Arab, artinya Pulau Arab. Berdasar definisi dan batas geografis, Jazirah Arab dalam pengertian dunia modern adalah sebuah kawasan yang luas, meliputi tujuh negara arab, yaitu Kuwait, kesultanan Oman, Republik Yaman, Uni Emirat Arab, kerajaan Arab Saudi, Qatar dan Bahrain.

Keutamaan Jazirah Arab

Jazirah Arab adalah kawasan yang sangat agung dan suci bagi umat Islam, sejak awal diutusnya pada nabi dan rasul kepada umat manusia :
– Di daerah Ahqaf, Jazirah Arab bagian selatan, Allah Ta’ala mengutus Nabi Hud untuk menyampaikan risalah tauhid. (QS. Al Ahqaf :21).
– Di daerah Hijr, Jazirah Arab bagian Utara, Allah Ta’ala mengutus Nabi Shalih (QS. Al-Hijr :80).
– Keagungan, kemuliaan dan keberkahannya bagi seluruh dunia mulai muncul ke permukaan setelah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam menempatkan sebagian keluarganya di tengah padang pasir tandus lembah Bakkah. Di tempat inilah, dibangun masjid pertama di atas muka bumi, Masjidil Haram. Dari sini pula, manusia mengenal dan mengagungkan tauhid dan mengerjakan ibadah haji (QS. Ibrahim : 37, Al-Haj :26, Ali Imran :96). Ka’bah dan masjidil Haram menjadi tempat seluruh umat manusia mentauhidkan Allah Ta’ala dan merasakan keamanan (QS. Al-Baqarah :125-128, Al-Maidah :98). Di sini pula, Nabi Ismail diutus (QS. Maryam :54).
– Allah menyempurnakan kemuliaan Jazirah Arab dengan diutusnya Rasul terakhir di kawasan ini, dengan syariah yang menghapus seluruh syariah para nabi dan rasul sebelumnya, dan dien yang berlaku atas segenap alam semesta sampai masa berakhirnya dunia. (QS. Ali Imran :164, Asy Syu’ara’ ;193-194, Thaha :113). Nabi terakhir shallallahu ‘alaihi wa salam dikebumikan di kawasan ini.
Demikianlah, kawasan yang mulia ; tempat turunnya syariat terakhir untuk seluruh umat manusia dan jin, tempat diutusnya rasul terakhir dan termulia, tempat yang dikunjungi oleh Jibril dan para malaikat pagi dan sore, induk semang keimanan dan tauhid; sudah sewajarnya dimuliakan, dijaga kesuciannya dan dibersihkan dari segala unsur kekafiran, kesyirikan dan penistaan. Amat wajar bila kawasan ini hanya boleh mengenal satu syariah dan agama yang dijalankan, yaitu agama Islam. Amat wajar bila selain agama Islam, tidak boleh eksis di kawasan ini.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ وَهُوَ يَأْرِزُ بَيْنَ الْمَسْجِدَيْنِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ فِي جُحْرِهَا

” Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing sebagaimana dulu bermula. Dan sesungguhnya iman akan berkumpul di antara dua masjid ini (Masjid Nabawi Madinah dan Masjidil Haram Makkah), sebagaimana ular berkumpul (berlindung dengan kembali) di lubangnya.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

” Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah, sebagaimana ular berkumpul dalam lubangnya.”
Syaikh Bakar bin Abu Zaid berkata :
” Jazirah ini adalah tanah suci Islam. Ia adalah rambu-rambu dan rumah pertama Islam, inti dan ibukota negeri-negeri Islam, dan pusat pangkalan Islam sepanjang masa dan zaman. Darinya, cahaya nubuwah melimpah, menghapus kegelapan jahiliyah. Oleh karenanya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dalam as-sunnah ash shahihah menganugrahinya berbagai keutamaan dan hukum, supaya kawasan ini tetap abadi menjadi induk pangkalan Islam, seperti halnya ia menjadi induk pangkalan Islam untuk mula yang pertama. Dan supaya menjadi tempat berkumpulnya iman di akhir zaman, sebagaimana ia menjadi tempat berkumpulnya iman untuk mula yang pertama.”
” Di antara ciri khusus jazirah yang diberkahi ini, adalah di saat Islam diintimidasi di negeri-negeri Islam di luar jazirah, Islam akan bergabung dan kembali berlindung ke Jazirah ini, sehingga menemukan keutamaan sebagai tamu setelah keterasingan dan lamanya ujian.”

Hukum-Hukum Khusus Untuk Jazirah Arab

Ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits di atas menyebutkan beberapa hukum khusus yang berlaku untuk Jazirah Arab :

a- Orang-orang musyrik dan kafir dari ideologi apapun, tidak boleh tinggal dan menetap di Jazirah Arab.
Dalam perang Teluk II (1991 M), tak kurang dari setengah juta pasukan AS dan sekutunya masuk ke Jazirah Arab, membangun pangkalan-pangkalan militer AS di seantero jazirah Arab. Setelah perang yang hanya berlangsung beberapa bulan tersebut usai, pasukan AS tetap bertahan di seantero jazirah Arab, sampai akhirnya datang kembali tahun 2003 M dengan mengatas namakan penegakkan demokrasi, pemusnahan senjata pemusnah masal dan penjatuhan rezim kafir Bath Saddam Husain.
Pasukan AS juga membangun apartemen-apartemen khusus di sejumlah kota besar negara-negara Jazirah Arab, seperti (Saudi Arabia) ; Riyadh, Damam, Jedah, Thaif, Abha dan lain-lain. Apartemen-apartemen dan kompleks warga asing ini dipergunakan untuk perumahan, perkantoran, tempat perbelanjaan, asrama militer, tempat peribadatan dan wisata keluarga pasukan AS dan sekutu-sekutunya.
Jazirah Arab juga mulai dipenuhi dengan tenaga kerja kafir dari berbagai negara dan ideologi, seperti Kristen, Budha, Hindu, Konghucu dan Shinto, yang datang dari Eropa, Amerika, Afrika, Thailand, Filiphina, India, Jepang dan China.
Keberadaan orang-orang kafir dan musyrik di Jazirah Arab ini tidak terjadi setelah perang Teluk Kedua semata, namun sudah terjadi sejak awal berdirinya kerajaan Arab Saudi. Kerajaan ini berdiri dengan bantuan Inggris, dijaga oleh Inggris dan dalam perkembangan selanjutnya dijaga oleh AS.
Panitia Umum Peringatan 100 Tahun Berdirinya Kerajaan Saudi Arabia menerbitkan buku resmi negara berjudul “Al-Mamlakah Al-‘Arabiah Al-Su’udiyah fi ‘Uyuuni Awailil Mushawwirin” (Kerajaan Arab Saudi di Mata Para Pelopor Explorasi), yang ditulis oleh William Vest dan Julian Grant. Gubernur Riyadh, pangeran Salman, dalam pengantar buku tersebut di halaman 12 menulis sebagai berikut :
[Para pelancong mulai sampai ke Nejed pada masa tersebut. Mereka datang untuk membuka hubungan dengan Amir (gubernur) Abdul Aziz Alu Sa’ud di Riyadh. Di antara para pelancong tersebut adalah seorang Denmark, Barkeley Roncker di tahun 1331 H (1910 M), tiga orang Inggris ; Gerald Eishmen di tahun yang sama, William Shakespeare tahun 1333 H (1912 M), dan Horison Jhon Philipe tahun 1336 H (1915M)].
Dengan terus terang, pangeran Salman menulis dalam halaman yang sama [Mereka mendapat dukungan resmi untuk kegiatan-kegiatan politis mereka], maksudnya pangeran Abdul-Aziz Alu Sa’ud mengundang mereka sebagai mata-mata resmi Inggris dan Denmark dalam memata-matai kekuatan Daulah Utsmaniyah di Syam.
Di halaman 14, pangeran Salman menulis bahwa istana raja Abdul Aziz bin Su’ud menjadi markas intelijen negara-negara Barat, terutama Inggris, dalam persiapan perang melawan daulah Utsmaniyah. Raja Abdul Aziz mengundang mereka sebagai tamu, karena hubungan baik dirinya dengan Inggris, tuan yang telah membantunya menjadi raja di Riyadh.
Di halaman 15, pangeran Salman menulis para pelopor explorasi minyak AS yang berduyun-duyun memasuki kawasan Timur Saudi Arabia, Riyadh, Jedah, Thaif, Hijaz (Makkah dan Madinah), Hijaz dan daerah-daerah lain di Saudi Arabia pada awal tahun 30-an. Di antaranya adalah para ilmuwan ARAMCO ; Max Stainkey, Flouid Olivard, Joe Moutien dan Ello Pitchal.
Ini baru di awal-awal pemerintahan Saudi. Bagaimana dengan sekarang ? Jawabannya diberikan oleh duta besar Saudi Arabia untuk AS, pangeran Bandar bin Sultan. Dalam artikel di majalah AS, News Week edisi 9 Desember 1991 M halaman 20, Pangeran Bandar membuat permisalan ; Jazirah Arab adalah seorang pelacur, dan AS adalah seorang lelaki hidung belang. Namun si pelacur tidak mau melepaskan bajunya sendiri. Ia butuh orang ketiga yang mau melepaskan bajunya satu persatu sehingga si pelacur dan si hidung belang bisa saling memahami. Orang ketiga, menurut pangeran Bandar, adalah dirinya selaku duta besar Saudi untuk AS.

b- Orang-orang musyrik dan kafir dari ideologi apapun yang berada di Jazirah Arab, harus dikeluarkan dari Jazirah Arab.
Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa salam telah menyatakan niatnya untuk mengeluarkan mereka, namun keburu wafat. Khalifah sesudahnya, Abu Bakar radiyallahu ‘anhu disibukkan dengan memerangi orang-orang murtad. Umar radiyallahu ‘anhu yang memerintah lebih lama, berkesempatan mengerjakan sunah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam ini. Beliau membersihkan bumi Jazirah Arab dari orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan paganis lainnya. Peristiwa ini terjadi tahun 20 H.
Imam Ibnu Katsir berkata,” Pada tahun itu (20 H) Umar mengusir orang Yahudi Khaibar ke Azro’at dan daerah lainnya. Umar juga mengusir Yahudi Najran ke Kufah. Beliau membagi-bagikan tanah Khaibar, Wadil Qura dan Najran kepada kaum muslimin.”
Sejak saat itu, di jazirah arab tak ada lagi orang Yahudi dan Nasrani. Tak ada lagi kerajaan Yahudi dan Nasrani. Hal ini merupakan pukulan berat bagi Yahudi, Nasrani dan seluruh musyrikin lainnya, sehingga sampai abad 19 M, mereka tak pernah mampu bangkit lagi di Jazirah Arab. Wajar saja bila selama lebih dari seribu tahun orang-orang Yahudi, Nasrani dan musyrikin memendam bara kebencian dan dendam terhadap umat Islam. Mereka berusaha keras dengan segala cara untuk kembali ke Jazirah Arab dan mencabut Islam dari akarnya.
Namun kini kondisi telah berubah seratus delapan puluh derajat. Negara-negara Jazirah Arab telah memasukkan banyak orang kafir dari Afrika, Eropa, Amerika, Thailand, India, Jepang, Filiphina, dan lain-lainnya sebagai tenaga kerja, pembantu rumah tangga, sopir, karyawan dan seterusnya.
Kedutaan Besar dan Konsulat Jendral negara-negara kafir di Jazirah Arab, terlebih lagi AS, adalah penguasa yang sebenarnya atas negara-negara Jazirah Arab. Merekalah yang memberikan seluruh perintah dan mandat. Mereka mendapat pengamanan dan pengawalan begitu ketat, melebihi penjagaan dan pengawalan atas keamanan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Ketika raja Fahd bin Abdul Aziz dilarikan ke rumah sakit akibat stroke, keluar statemen resmi dari Gedung Putih di Washington,” Tidak ada yang perlu dikawatirkan dari situasi Saudi Arabia, karena sudah berada di tangan yang terpercaya.” Jadi, siapa sebenarnya yang berkuasa ?

c- Orang-orang musyrik dan kafir dari ideologi apapun tidak boleh diberi hak untuk memiliki tanah, bangunan, bekerja, membuka usaha, atau menanamkan modal di Jazirah Arab.
Pada tahun 1938 M, raja Saudi Abdul Aziz bin Sa’ud memberi hak ekplorasi dan distribusi minyak bumi dan gas alam Saudi kepada perusahaan raksasa AS The Standard Oil Company, California dan The Texaco Inc, California. Atas pemberian lisensi dan pemenangan tender ini, raja Saudi mendapat fee sebesar $ 1.500.000 dalam bentuk emas. Setelah explorasi dimulai, ia mendapat fee $ 750.000 pertahun. Kedua perusahaan ini kemudian bergabung menjadi ARAMCO (The Arabian American Oil Company). Sampai kini, perusahaan raksasa minyak bumi AS ini telah mendapat hak penuh permanen atas eksplorasi, produksi dan distribusi minyak bumi dan gas alam di Arab Saudi. Hak ini merupakan sumber utama perekonomian AS, sehingga AS siap melakukan invasi militer untuk menjaga kepentingan minyaknya di Jazirah Arab. Dan kini, invasi itu telah terjadi.
Monopoli minyak bumi dan gas alam oleh perusahaan raksasa AS-zionis ini, diikuti dengan penanaman modal besar-besaran perusahaan AS di bidang pariwisata dan perhotelan. Hotel-hotel AS bertaraf internasional pun menjamur bak cendawan di musim hujan. Bahkan, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi pun dikelilingi oleh hotel-hotel internasional milik salibis-zionis AS. Tidak cukup sampai di sini, karena hotel-hotel tersebut mengejek ayat-ayat Allah dan perasaan kaum muslimin lewat nama-nama mencolok :
– Hotel Daru Tauhid Intercontinental
– Hotel Iman Intercontinental
– Hotel Makkah sovietal
– Hotel Makkah Holiday In
– Hotel Thayiba Hilton
– Hotel Madinah Oprey
Sebuah pelecehan yang tidak bisa digambarkan lagi. Nama-nama yang agung : tauhid, iman, Makkah, Madinah dan Thayibah disandingkan dengan nama-nama hotel AS yang kafir dan penuh dengan kemesuman.

d- Tidak boleh memberikan jaminan keamanan atau mengikat perjanjian damai dengan orang kafir (baik perorangan, perusahaan atau negara) yang membawa akibat masuk dan menetapnya orang kafir di Jazirah Arab, terlebih memiliki lahan, bangunan atau menanamkan modal.

e- Tidak boleh membangun tempat peribadatan untuk selain muslim di Jazirah Arab. Kini gereja telah bertebaran, terutama di Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab dan apartemen-apartemen raksasa warga negara asing di Saudi Arabia.

f- Jika orang kafir atau musyrik masuk atau melewati jazirah Arab untuk sebuah keperluan, bisnis misalnya, maka ia tidak diperkenankan tinggal melebihi tiga hari. Setelah tiga hari, ia harus keluar atau dikeluarkan dari Jazirah Arab. Selama waku tiga hari tersebut, mereka tidak boleh menampakkan syiar agamanya seperti memakai salib, atau memasukkan Injil, atau menjual sesuatu yang diharamkan Islam seperti narkoba, minuman keras, daging babi, atau melakukan peringatan hari besar keagamaan seperti Paskah dan Natal.

g- Wajib memberantas dan memerangi setiap bentuk kesyirikan, kekafiran dan para pelakunya di Jazirah Arab. Bid’ah-bi’dah kufriyah seperti penyembahan kuburan, ajaran Bathiniyah, Rafidzah (Syi’ah Itsna ‘Asyariyah dan Ja’fariyah), kaum Zindiq, sekuler, liberal dan yang semisal harus dibersihkan dan dilarang.

Noda Terbesar Sepanjang Sejarah Islam

Sejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam wafat sampai hari ini, tak pernah umat Islam mengalami penistaan dan bencana melebihi kedahsyatan bencana jatuhnya Jazirah Arab ke tangan koalisi kaum salibis yang dipimpin oleh AS dan sekutu-sekutunya. Jatuhnya Jazirah Arab dalam pangkuan imperialisme salib modern ini, berarti telah jatuhnya tiga kota suci dan dua kiblat umat Islam ; Makkah, Madinah dan Al-Quds. Lengkap sudah nestapa umat Islam. Pasukan koalisi imperialis salibis-zionis-paganis-komunis internasional telah menaklukkan umat Islam, dan memukul jantung pertahanannya tanpa mengeluarkan banyak biaya dan korban.
Satu hal yang mengherankan dan sekaligus menyedihkan, sebagian besar umat Islam masih tertipu oleh propaganda media masa kafir internasional, bahwa perang yang mereka lancarkan adalah perang melawan teroris, segelintir kaum fundamentalis Islam yang menyimpang dari ajaran Islam. Yang lebih mengherankan dan menyedihkan lagi, sebagian besar umat Islam ikut menabuh gendang, memberi semangat musuh, menyingsingkan lengan bajunya untuk bersama-sama musuh Islam memerangi saudara seiman yang berjuang demi membela kehormatan Islam, Jazirah Arab, kota suci dan kiblat umat Islam.
Bencana apa lagi yang lebih besar dari hal ini ?
Umat Islam wajib menyatukan kekuatan dan langkah untuk melawan musuh yang telah menjajah wilayah-wilayah, kota suci dan kiblat kaum muslimin. Para mujahidin yang melakukan aksi perlawanan di Arab Saudi, Kuwait, Iraq, Afghanistan, Indonesia, Pakistan dan berbagai belahan bumi lainnya adalah umat Islam yang menyadari tanggung jawabnya di hadapan Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan kaum muslimin.
Mereka adalah pejuang pembela iman, kemerdekaan dan kehormatan, bukan para teroris sebagaimana dipropagandakan secara keji oleh media massa kafir internasional. Jihad mereka di manapun mereka berada, adalah jihad difa’, jihad defensif demi membela kehormatan agama. Jihad mereka bukanlah jihad thalab, jihad ofensif untuk mendakwahi kaum kafir agar masuk Islam atau membayar jizyah. Dan tentu saja, jihad defensif mempunyai hukum-hukum fiqih yang sedikit banyak berlainan dengan jihad ofensif.
Inilah inti persoalannya. Adapun tuduhan teroris, fundamentalis Islam, Khawarij dan lainnya, itu semua tak lebih dari fitnah, pengkambing hitaman dan bumbu yang meramaikan suasana semata. Semua pihak yang bersikap jujur dan obyektif, bisa membedakan antara terorisme dan jihad fi sabilillah, antara teroris dan mujahid.
Agresi militer AS ke Afghanistan, Iraq dan perang melawan “terorisme” yang gencar dipropagandakan saat ini, tak lain hanyalah usaha AS dan sekutu-sekutunya untuk mempertahankan hegemoni di Jazirah, mengamankan Israel dan memberangus setiap muslim yang akan melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam untuk mengusir orang musyrik dari Jazirah Arab.

Wallahu Al Musta’anu. Wallahu A’lam bish Shawab.

[3]
Perang Salib, Benarkah ?

Begitu terjadi serangan 11 September, para pemimpin AS langsung menuduh sebagian kaum muslimin “Al-Qaedah” sebagai pelaku serangan tersebut. Tanpa pembuktian yang obyektif, akurat dan memadai, mereka langsung mempersiapkan perang besar-besaran melawan kaum muslimin “Afghanistan”, dengan mengatas namakan perang melawan teroris. Satu bulan kemudian, Oktober 2001 M, AS dan Inggris langsung “tancap gas”, menyerbu Afghanistan. Setelah berhasil meruntuhkan Thaliban dan membuat pemerintahan boneka loyalis AS, AS langsung membidik Iraq.
Hasilnya, dengan dukungan beberapa negara sekutunya, tahun 2003 M yang lalu AS berhasil menggulingkan rezim Saddam, membentuk pemerintahan boneka loyalis AS, dan menjajah Iraq.
Sekalipun tujuan mereka jelas-jelas memerangi Islam dan kaum muslimin, sebagian orang yang polos (atau munafikun ??/) masih saja tertipu, menganggap perang ini adalah perang melawan para “teroris”, yaitu kaum fundamentalis Islam yang melakukan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa di sana sini.
Untuk menyingkap tabir kepalsuan slogan “perang melawan terorisme” yang menipu sebagian kaum muslimin, dibawah ini disampaikan sebagian kecil bukti yang menunjukkan bahwa perang ini adalah perang salib modern, perang melawan Islam dan kaum muslimin.

Bukti-Bukti Khusus

Beberapa pernyataan para pejabat tinggi AS dan sekutunya menunjukkan, sejatinya peperangan ini adalah perang salib modern melawan Islam. Di antaranya adalah :
[1]- Pertama :
Presiden George W. Bush sendiri secara terang-terangan, dalam jumpa pers lima hari pasca serangan 11 September, tepatnya Ahad, 16/11/2001 M (28/6/1422 H) menegaskan,” This Crusade, this war on terrorism, is going to take a long time.” (Perang salib ini, perang melawan terorisme ini, akan memakan waktu yang lama, BBC 16/9/2001 M). Begitu jelas dan tegas, namun justru sebagian kaum muslimin yang polos atau munafikun sibuk mencari-cari alasan untuk memalingkan penegasan Bush. Mereka mengatakan,” Itu diucapkan karena marah…ia keseleo lidah…” dan alasan-alasan lainnya. Padahal, Bush hanyalah mengungkapkan ideologi yang diyakininya. Seandainya ia bisa mengungkapkan dengan istilah lain yang lebih jahat dan keji, ia akan mengungkapkannya. Allah Ta’ala berfirman :

) قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ )
” Dan sungguh telah nampak kebencian yang sangat dari mulut-mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh dada-dada mereka lebih besar lagi.” (QS Ali Imran ;118).

[2]- Kedua :
Ucapan yang senada, juga telah diucapkan oleh mantan PM Inggris Margaret Tatcher dan PM Inggris Silvio Berlusconi, beberapa hari setelah tragedi 11 September. Mereka berbicara tentang agama Islam, bukan tentang teroris. Ungkapan Berlusconi adalah,” Islam menolak pluralisme, mengajak kepada rasisme dan mendorong terorisme.” Jika menurut mereka Islam mendorong terorisme, dan perang salib ini dilancarkan untuk memerangi terorisme, maka hasilnya adalah sama ! Perang melawan terorisme = perang melawan Islam !

[3]- Ketiga :
Setelah tragedi 11 September, Bush memberikan pidato selama 34 menit di hadapan Konggres. Dalam pidato yang diselingi oleh 29 kali aplaus anggota konggres tersebut, Bush berbicara tentang peperangan melawan terorisme. Sebenarnya, ia berbicara tentang perang melawan Islam, karena saat itu ia berbicara tentang syariat Islam yang diterapkan oleh Thaliban —bukan berbicara tentang Thaliban sendiri— ; pelarangan memotong jenggot, pewajiban hijab, pelarangan musik, lagu, bioskop dan dan lain-lain. Ini semua adalah ajaran Islam, bagian dari syariat Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, bukan undang-undang Mulah Umar semata.

[4]- Keempat :
Istilah-istilah yang dipergunakan oleh Bush dan sekutu-sekutunya dalam perang ini adalah istilah-istilah Taurat (perjanjian lama), seperti istilah “perang melawan kejahatan”, “kekuatan kebajikan melawan kekuatan kejahatan”, “peperangan orang-orang baik melawan orang-orang jahat”, dan istilah-istilah serupa.

[5]- Kelima :
Rakyat AS dan Barat melakukan intimidasi kepada kaum muslimin di Barat ; membunuh sebagian muslim, memukuli, mengeroyok, merusak toko-toko, membakar masjid dan tindakan-tindakan anarkis lainnya. Padahal mereka mengetahui, kaum muslimin tersebut tidak mempunyai kesalahan apapun atas terjadinya serangan tersebut. Para “Teroris” yang mereka maksud berada di jauh sana, di goa-goa di Afghanistan. Namun karena kesamaan sifat “beragama Islam” inilah, mereka disakiti. Tindakan anarkis dan arogan ini juga dilakukan oleh pemerintah mereka. Pemerintah AS dan negara-negara Barat melakukan penangkapan, penggerebekan dan penahanan seenaknya kepada kaum muslimin.

[6]- Keenam ;
Para jurnalis AS dan Barat juga menyebutkan bahwa perang ini adalah perang melawan Islam. Di antaranya, wartawan David Silburn menulis dengan judul ” Perang ini bukan melawan Terorisme, melainkan melawan Islam.” Majalah National Report menulis judul ” Inilah Perang, Mari Menyerbu Mereka di negerinya”. Dalam artikel tersebut, ditulis :”Bangsa kita telah diserang oleh sekelompok ekstrimis kriminil, kita harus menyerbu mereka di negeri mereka, membunuh pemimpin-pemimpin mereka dan memaksa mereka memeluk agama Masehi.”
Harian New York Times edisi 7/10/2001 M memuat headline sepanjang enam halaman, dengan tajuk ” Ini adalah perang agama.” Judul cover harian tersebut adalah ” Siapa mengatakan ini bukan perang agama?”. Penulis artikel ini, Andrew Sulivan, menulis dalam artikelnya bahwa perang kali ini adalah perang agama. Artikel-artikel serupa begitu bertebaran di berbagai media massa Barat.

[7]. Ketujuh :
AS mengumumkan target serangan pertama adalah 27 target, kesemuanya adalah perorangan dan organisasi Islam !

[8]- Kedelapan
AS menyebutkan, jumlah negara yang melindungi terorisme ada 60 negara, sementara jumlah negara “Islam” hanya 56 negara. Jika jumlah ini ditambah dengan beberapa negara yang di dalamnya ada gerakan jihad Islam, seperti Filipina, Macedonia dan lain-lain, maka genaplah jumlah ini menjadi 60 negara.

[9] Kesembilan
AS mengumumkan bahwa serangan kepada Afghanistan hanyalah bagian kecil dari peperangan luas mereka terhadap terorisme. Di antaranya adalah pernyataan Richard Meyer, kepala staf gabungan pasukan koalisi pada hari Ahad, 22/10/2001 M (5/8/1422 H) saat menjawab pertanyaan stasiun TV ABC “Apa target selain Afghanistan ?”. Ia menjawab,” Ini adalah perang internasional melawan terorisme dan senjata pemusnah masal. Afghanistan hanyalah satu bagian kecil. Karena itu, kami pasti berfikir dalam skala lebih luas. Bisa saya katakan, bahwa sejak Perang Dunia Kedua, kita belum pernah berfikir seluas sekarang.”

[10]. Kesepuluh
AS menyatakan tujuan perang ini adalah membasmi terorisme sampai ke akar-akarnya. Mereka juga menyatakan, target-target yang telah mereka bidik adalah gerakan teroris. Pertanyaannya, kenapa mereka tidak menyentuh sedikitpun gerakan-gerakan teroris non Islam, seperti :
– Tentara Merah Jepang : Paganis.
– Tentara Republik Irlandia Utara (IRA) : Katolik.
– Tentara Pembebasan Kuba : Komunis.
– Ekstrimis Sayap Kiri Masehi AS : Protestan.
– Sindikat-sindikat Narkotika di Amerika Latin.
– Gang-gang Mafia : Eropa.
– Dan kelompok teroris lainnya ????
Jawabannya jelas, karena gerakan-gerakan teroris ini bukan gerakan Islam.

[11]. Kesebelas :
AS menyebutkan gerakan-gerakan Islam yang melawan penjajah asing seperti mujahidin Kashmir yang melawan penjajah Hindu, mujahidin Filiphina yang melawan rezim Nasrani Filiphina, dan mujahidin Palestina yang melawan penjajah zionis. Pertanyaannya, jika perlawanan lokal kepada pemerintah adalah terorisme, kenapa AS membiarkan :
– Gerilyawan Macan Tamil Srilangka : paganis.
– Pasukan Pembebasan Rakyat Sudan Selatan (SPLA): Kristen.
– Tentara Republik Irlandia di Inggris : Kristen.
– dan lain-lain ????
Jawabannya jelas, gerakan-gerakan ini bukan gerakan Islam.

[12]. Kedua Belas :
Mereka mengerahkan seluruh negara anggota NATO, ditambah Rusia, China, Jepang, Korea Selatan, India, Australia dan lain-lain. Sebagian membantu dengan dana, sebagian dengan dukungan politis, sebagian dengan pangkalan-pangkalan militer, dan sebagian dengan bantuan militer. AS sendiri mengerahkan sekitar 1/3 kekuatan militernya. Apakah untuk menangkap satu orang “Usamah”, atau meruntuhkan satu pemerintahan yang paling miskin dan paling tertingal di dunia “Taliban”, harus mengerahkan kekuatan militer sekian puluh negara ?
Jawabannya tentu jelas bagi setiap orang waras, tujuan pengerahan pasukan ini bukan sekedar untuk menangkap seorang atau meruntuhkan sebuah pemerintahan. Tujuan sebenarnya, tak lain adalah menghancurkan setiap negara Islam, pergerakan Islam atau jihad Islam di tempat manapun di kawasan kaum muslimin.

[13]. Ketiga Belas :
Setelah runtuhnya Soviet dan berakhirnya perang dingin, Barat menganggap Islam sebagai musuh utama. Para pemimpin mereka telah menegaskan hal ini. Para pemikir mereka juga telah mengarang banyak buku tentang hal ini, di antaranya :
– Samuel Huntington dalam “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order”, terbit 1996 M.
– Francis Fukuyama dalam “The End of History and The Last Man”, terbit 1999 M.
– Charles E. Carlson dalam “Attacking Islam”, terbit 1994 M.
– Jack Miles dalam “Theology and The The Clash of Civilizations”, terbit 2002 M.
– Benjamin F. Barber dalam “Jihad vs Mc World, How The Globalism and Tribalism Are Reshaping The World”, terbit 2002 M.
– Judith Miller dalam “Is Islam Threat ?”, terbit 1993 M.
– Daniel Pipes dalam “Fundamentalist Moslems Between America and Russia”, terbit 1986 M.
Para pemikir dan cendekiawan ini bukan sembarang penulis biasa. Tulisan-tulisan mereka menjadi bahan pertimbangan para pembuat kebijakan dalam pemerintahan AS.
Huntington, misalnya, adalah seorang guru besar studi-studi strategis di Harvard University. Buku yang ditulisnya ini merupakan salah satu buku paling berpengaruh dalam wacana para ilmuwan dan para pengambil kebijakan pemerintahan Barat. Henry Kissinger, mantan Mentri Luar Negeri AS, memuji buku tersebut dengan menulis :
” One of the most important books to have emerged since the end of tha cold war.” (Salah satu buku terpenting yang terbit sejak berakhirnya Perang Dingin).
Fukuyama, misalnya, adalah guru besar George Mason University, Deputi Direktur Urusan Politik Militer AS dan staf perencanaan kebijakan Departemen Luar Negeri AS.
Dalam bukunya yang berjudul “1999 menang tanpa peperangan”, mantan presiden AS Richard Nixon menulis,” Di dunia Islam, sejak Maroko sampai Indonesia, kaum fundamentalis Islam menggantikan peran komunisme sebagai alat pokok perubahan radikal.”
Mantan Sekjen NATO, Jeifer Solanes dalam pertemuan NATO tahun 1991 M setelah runtuhnya Soviet mengatakan,” Setelah perang dingin selesai dan musuh beruang merah runtuh, seluruh negara NATO dan Eropa harus melupakan perselisihan di antara mereka, dan mulai mengalihkan perhatiannya ke depan untuk melihat musuh yang sedang mengintainya. Negara NATO dan Eropa harus bersatu untuk menghadapinya. Itulah kaum fundamentalis Islam.”
Presiden Rusia dari kalangan Kristen Orodoks, Vladimir Putin, dalam pertemuan terakhirnya dengan negara-negara persemakmuran (Commonwealth) tahun 2000 M mengatakan,” Sesungguhnya kaum fundamentalis Islam adalah satu-satunya bahaya yang hari ini mengancam negara-negara dunia maju. Inilah satu-satunya bahaya yang mengancam tatanan keamanan dan perdamaian dunia. Kaum fundamentalis mempunyai pengaruh. Mereka berusaha untuk mendirikan sebuah negara Islam yang membentang sejak Filipina sampai Kosovo. Mereka bergerak dari Afghanistan, sebagai pangkalan pergerakan mereka. Jika dunia tidak bangkit menghadapinya, ia bisa saja merealisasikan targetnya. Oleh karena itu, Rusia membutuhkan dukungan internasional untuk membasmi fundamentalis Islam di Kaukasus Utara.”

[14]- Keempat Belas
Banyak pejabat pemerintahan AS meyakini akan terjadinya perang internasional yang mereka kenal dengan nama “Armagedon”. Yaitu peperangan antara kekuatan kebaikan (Nasrani) melawan kekuatan kejahatan (Islam). Di antara yang paling bersemangat membicarakan Armagedon adalah mentri pertahanan saat ini, Donald Rumshfeld.

Sedikit kutipan ini menjadi bukti, bahwa peperangan melawan terorisme yang hari ini dikomandoi AS, disetujui dan didukung oleh lebih dari 95 % negara anggota PBB ini, sebenarnya adalah perang melawan Islam dan kaum muslimin. Afghanistan, Iraq, Al-Qaedah, Jama’ah Islamiyah dan entah nama apa lagi, hanyalah target antara dan batu loncatan awal. Daftar selanjutnya masih panjang dan bertingkat. Rangking teratas ditempati oleh berbagai gerakan salafiyah jihadiyah di dunia. Selanjutnya gerakan-gerakan salafiyah ishlahiyah, lalu salafiyah tarbiyah dan seterusnya, sampai mengenai berbagai gerakan Islam damai yang menempuh jalur perjuangan demokrasi sekalipun. Lambat, namun pasti, semua umat Islam yang tidak tunduk kepada ideologi dan kemauan Barat akan merasakannya.

Bukti-Bukti Umum

Dalil-dalil syar’i dan realita sejarah menjadi bukti umum bahwa perang melawan terorisme yang saat ini dilancarkan oleh aliansi kekuatan salibis-zionis-paganis-kamunis internasional, sejatinya adalah perang melawan Islam dan kaum muslimin.

[1]. Dalil-dalil Syar’i
Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa orang-orang kafir akan senantiasa memusuhi dan memerangi kaum muslimin, sehingga mereka mampu memurtadkan kaum muslimin. Mereka tidak akan pernah puas, sampai kaum muslimin mengikuti ideologi kekafiran mereka, baik “ideologi samawi” (Yahudi dan Nasrani), maupun “ideologi ardhi” (demokrasi, sekulerisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme, liberalisme, pluralisme, nasionalisme, humanisme, Hindhu, Budha, dan seterusnya). Allah Ta’ala berfirman :

) وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا).
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (QS. Al-Baqarah :217).

)وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ).
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. Al-Baqarah :120).

)وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً).
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). (QS. An-Nisa’ :89).

)إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ).
Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. (QS. Al-Mumtahanah :2).

)وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقّ).
Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al-baqarah :109).

)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقاً مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ).
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Ahli Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (QS. Ali Imran :100).

)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ).
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta’ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. (QS Ali Imran :149).

وقال تعالى ) قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ).
Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. Ali Imran ;118).

[2]. Realita Sejarah
Sejarah telah membuktikan permusuhan dan peperangan kaum Nasrani, Yahudi dan musyrikin kepada umat Islam. Dalam beberapa abad yang lalu, kaum Nasrani telah melancarkan tujuh kali perang salib terhadap dunia Islam. Beberapa abad kemudian, mereka datang ke dunia Islam dengan format baru “imperialisme dan kolonialisme moden”. Sebagian besar dunia Islam mereka jajah, kekayaan alamnya dirampas, kemerdekaan agama dicabuli dan sekulerisme mereka paksakan kepada umat Islam.
Setelah menghadapi berbagai perlawanan jihad sengit kaum muslimin, mereka hengkang dari dunia Islam dengan menanam anak didik bangsa pribumi yang telah ter-Baratkan. Tidak puas dengan penjajahan secara tidak langsung ini, mereka bekerja lewat payung PBB untuk memerangi umat Islam. Dengan mengeluarkan berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB, mereka melakukan invasi militer, embargo ekonomi dan tekanan politis kepada kaum muslimin.
Embargo ekonomi kepada kaum muslimin Iraq selama lebih dari sepuluh tahun telah menghancurkan kehidupan rakyat muslim Iraq. Begitu juga embargo terhadap Afghanistan, Sudan, Libia dan lainnya, telah menimpakan kesengsaraan luar biasa kepada umat Islam. Penanaman negara “haram” Israel di Palestina, telah berjalan lebih dari setengah abad. Pembantaian terhadap kaum muslimin baik secara langsung maupun tidak langsung, mereka lakukan di Sudan. Libia, Lebanon, Somalia, Afghanistan, Bosnia Herzegovina, Kosovo, Macedonia, Chechnya, Kashmir, Patani, Timor Timur, Poso, Ambon, Maluku Utara, dan lain-lain. Jutaan kaum muslimin mereka bunuh, jutaan lainnya mereka paksa menjadi pengungsi yang terkatung-katung.
Seluruh kejahatan salibis ini, masih ditambah dengan pemurtadan lewat gerakan orientalis, kristenisasi dan misionaris. Jutaan umat Islam mereka murtadkan. Alhasil, mereka memaksakan kekafiran kepada umat Islam lewat semua cara yang mereka bisa. Di bawah ini dikutip sedikit bukti makar mereka kepada umat Islam, yang disampaikan oleh tokoh-tokoh agama, politik, militer dan pemerintahan mereka sejak dahulu.

Perang Salib Terus Berlangsung

1. Wiliam Cohen, mantan mentri pertahanan AS dalam kunjungannya ke salah satu pangkalan militer AS di Saudi Arabia, 9/2/1418 H, mengatakan di hadapan pasukan AS,”Saya yakin banyak di antara kalian yang selalu bertanya-tanya tentang alasan keberadaannya di sini, benarkah sebuah kepentingan yang mendesak ? Jawabannya, ya. Timur Tengah adalah kawasan yang sangat penting (bagi ekonomi kita) dan bagi negara-negara lain. Negara kita harus menjaga sumber-sumber minyak bumi di Teluk, oleh karenanya stabilitas kawasan ini tetap menjadi prioritas untuk jangka waktu yang lama.”
2. Graham Flord, seorang penasehat politik senior di Institut Rant Washington, dan wakil ketua dewan intelijen nasional di CIA dalam artikelnya yang berjudul “Krisis dalam Hubungan AS-Arab Saudi”, tanggal 9/11/1422 H, menulis,” Untuk pertama kalinya, media massa AS menyerang Wahabi sebagai sebuah gerakan keagamaan anti toleransi dan sumber geakan-gerakan jihad di dunia. Sebagian pengamat menilai, ideologi Arab Saudi melahirkan banyak orang seperti Bin Laden.”
3. Eugene Rostew, ketua bagian perencanaan departemen luar negeri AS, asisten mentri luar negeri AS dan penasehat mantan presiden AS Lyndon B. Johnson untuk urusan Timur Tengah sampai periode 1967 M, mengatakan,”Kita harus menyadari, bahwa perselisihan kita dengan bangsa-bangsa Arab bukanlah perselisihan antar negara. Ia adalah perselisihan antara peradaban Islam dan peradaban Masehi. Benturan antara Masehi dan Islam sudah berlangsung sejak abad-abad pertengahan, dan terus berlangsung sampai saat ini, dengan beraneka ragam bentuk. Sejak satu setengah abad yang lalu, Islam telah tunduk kepada hegemoni Barat. Literatur Islam telah tunduk kepada literatur Masehi.” Ia melanjutkan,” Fakta-fakta sejarah menegaskan bahwa AS adalah bagian yang melengkapi dunia Barat, baik filsafat, ideologi maupun sistem kehidupannya. Hal ini menjadikan AS dalam pihak yang berlawanan dengan dunia Timur Islam, dengan filsafat dan ideologi yang diperankan oleh agama Islam. Tidak ada sikap lain, AS harus berada di pihak yang berlawanan dengan Islam, berada di pihak dunia Barat dan negara Zionis. Karena bila AS berada di pihak sebaliknya, AS telah mengingkari bahasa, filsafat, kebudayaan dan pemerintahannya sendiri.” Rostew menyebutkan, tujuan penjajahan Barat adalah menghancurkan peradaban Islam, dan tegaknya Israel hanyalah satu bagian dari rencana Barat, sebagai tindak lanjut dari perang salib sebelumnya.
4. Peterson Smith dalam bukunya “Kehidupan Kebangsaan Al-Masih” menulis : Perang-perang salib terdahulu telah gagal, namun sebuah peristiwa penting terjadi setelah itu, yaitu ketika Inggris mengirim pasukan salib kedelapan, dan pasukan ini meraih kemenangan. Serangan jendral Allenby ke kota Al-Quds selama Perang Dunia Pertama, merupakan perang salib kedelapan, dan terakhir.” Koran-koran Inggris menampilkan foto jendral Edmunt Allenby, lengkap dengan statemennya yang mendunia “Kini, Perang Salib Baru Telah Usai”. Sikap Allenby ini juga menjadi cerminan sikap pemerintahan Inggris, karena koran-koran Inggris juga menulis “Mentri Luar Negeri Inggris, Lewit George, menyambut hangat jendral Allenby di Parlemen Inggris, atas keberhasilannya meraih kemenangan dalam perang salib yang terakhir, yang disebut oleh Lewit George sebagai perang salib kedelapan.”
5. Pasukan Perancis juga menganggap perang dunia I sebagai perang salib. Setelah mengalahkan pasukan Islam di luar kota Damaskus, komandan pasukan Perancis Jendral Joffre segera mendatangi makam Shalahudien Al-Ayubi di Masjid Jami’ Al-Umawi. Diinjaknya makam Shalahudien, sembari mengejek,”Lihatlah ! Ini kami sudah datang, hai Shalahudin !”
6. Mentri Luar Negeri Perancis, Moshe Vido, saat menerima kunjungan konfirmasi anggota parlemen Perancis sehubungan perang yang meletus di Marakisy, Maroko, mengatakan,” Ini adalah perang antara bulan sabit dan salib.”
7. Saat kota Al-Quds jatuh ke tangan tentara Israel tahun 1967 M, Randolf Churchil mengatakan,” Sejak dahulu, pembebasan Al-Quds dari kekuasaan Islam merupakan mimpi kaum Masehi dan Yahudi. Sukacita kaum Masehi, tidak kalah dengan sukacita kaum Yahudi, karena Al-Quds telah dilepaskan dari tangan orang-orang Islam. Kneset Yahudi telah menetapkan tiga ketetapan yang memasukkan Al-Quds ke dalam Yahudi. Ia tidak akan pernah kembali kepada orang-orang Islam, dalam perundingan apapun antara orang-orang Islam dan Yahudi di masa mendatang.”
8. Setelah memasuki kota Al-Quds di tahun 1967 M tersebut, pasukan Israel dipimpin Mosye Dayan berkumpul di tembok ratapan dan bersorak-sorak,” Hari ini adalah pembalasan hari Khaibar…Khaibar telah terbayarkan”, “Muhammad telah mati…meninggalkan anak-anak perempuan.”
9. Israel juga memancing dan menggugah kembali semangat perang salib Barat. Orang-orang Yahudi di Paris mengadakan demonstrasi sebelum perang 1967 M. Dipimpin para tokoh pro Israel, di antaranya Jean Paul Sartre, mereka membawa spanduk-spanduk bertuliskan tiga kata “Perangi Orang Islam”. Kotak-kotak sumbangan untuk perang Israel juga ditulisi semboyan yang sama. Hasilnya luar biasa ! Hanya dalam masa empat hari saja, warga Perancis menyumbangkan 10 juta Frank ! Kaum Yahudi juga mencetak jutaan selebaran bertuliskan “Kekalahan Bulan Sabit”…sebagai dukungan kepada kaum zionis yang melanjutkan misi tentara salib di Timur Tengah, yaitu memerangi Islam dan menghancurkan kaum muslimin.”

Islam, Satu-satunya Tembok Penghalang

Kaum Nasrani dan Yahudi senantiasa meyakini kesinambungan perang salib, karena meyakini Islam sebagai satu-satunya tembok penghalang keinginan mereka untuk mendominasi dan memegang hegemoni dunia.
• Islam adalah satu-satunya tembok penghalang imperialisme salibis Barat.
1- Laurence Brown berkata,” Sesungguhnya Islam adalah satu-satunya tembok yang menghalangi imperialisme Eropa.”
2- William Ewart Gladstone, mantan perdana menteri Inggris selama empat periode, mengatakan,” Selama Al-Qur’an masih berada di tangan kaum muslimin, Eropa tidak akan sanggup menguasai Timur.”
3- Gubernur Jendral Perancis di Aljazair, dalam peringatan seratus tahun pendudukan Perancis atas Aljazair, mengatakan,” Kita tidak akan bisa mengalahkan orang-orang Aljazair selama mereka masih membaca Al-Qur’an dan berbicara dnegan Bahasa Arab. Mak, kita wajib menghilangkan Al-Qur’an Arab dari keberadaan mereka, juga mencabut sampai ke akar-akarnya Bahasa Arab dari lidah mereka.”
• Islam adalah satu-satunya tembok penghalang komunisme.
Dalam pembukaan edisi 22 tahun 1952 harian Keizel Uzbekistan, koran milik partai komunis Uzbekistan, dewan redaksi menulis,”Mustahil mensosialisasikan komunisme sebelum Islam diberantas tuntas.”
• Islam adalah tembok penghalang kristenisasi dan penjajahan Barat di dunia Islam
1- Seorang misionaris mengatakan,” Sesungguhnya kekuatan yang dikandung oleh Islam telah menjadi batu penghalang penyebaran agama masehi, kekuatan inilah yang telah menundukkan negeri-negeri yang semula tundauk kepada Nasrani.”
2- Esiac Pouman, dalam artikelnya di majalah misionaris “Dunia Islam” menulis,” Belum pernah terjadi, sebuah bangsa masehi yang masuk Islam, kemudian kembali masuk Nasrani.”
• Islam adalah batu penghalang terbesar keberadaan negara Israel :
1 Ben Gurion, mantan perdana mentri Israel, mengatakan,” Hal yang paling kita takutkan adalah bila di dunia Arab muncul Muhammad baru.”
2 Seorang penulis Yahudi, April Boger dalam bukunya “Perjanjian dan Pedang”, menulis: Prinsip yang menjadi asas tegaknya negara Irael sejak awal adalah bangsa Arab harus bekerja sama dengan Israel pada suatu hari nanti. Supaya kerjasama ini bisa dilaksanakan, seluruh unsur yang mendorong munculnya kebencian kepada Israel di dunia Arab harus diberangus. Itulah unsur-unsur primitif yang terwujud dalam diri para tokoh agama dan masyayikh.”
3 Sehari setelah Jimmy Carter terpilih sebagai presiden AS, dalam pernyataan yang diliput seluruh kantor berita dunia, Ben Gurion (perdana mentri Israel) mengatakan,” Problem bangsa Yahudi adalah bahwa agama Islam masih senantiasa memusuhi dan memperluas diri. Hal ini tidak bisa dicarikan solusi, sekalipun dalam jangka waktu yang panjang, selama Islam belum menanggalkan pedangnya.”

Islam, satu-satunya musuh

Mereka tidak hanya meyakini Islam sebagai tembok penghalang keinginan mereka untuk menjajah dunia semata. Mereka juga meyakini, Islam adalah musuh besar mereka dalam negeri.
1- Laurence Brown berkata : Dahulu para pemimpin kita menakut-nakuti kita dengan banyak bangsa, namun pengalaman kita membuktikan ketakutan tersebut sama sekali tidak beralasan. Mereka menakut-nakuti kita dengan bahaya Yahudi, bahaya bangsa “kuning” Jepang dan bahaya Bolsevick. Namun setelah itu terbukti, bangsa Yahudi adalah sahabat-sahabat kita, bangsa komunis Bolsevick aalah sekutu-sekutu kita. Sementara bangsa Jepang, telah ada banyak negara demokratis besar yang sudah menghadapinya. Kita justru mendapati musuh sebenarnya adalah Islam ; kemampuannya untuk meluas, menundukkan dan mobilitasnya yang menakjubkan.
2- Gladstone berkata,” Selama Al-Qur’an ini masih berada di tangan kaum muslimin, Eropa tidak akan bisa menguasai Timur, pun tak akan bisa merasakan keamanan.”
3- Orientalis Gardener mengatakan,” Kekuatan yang dikandung Islamlah yang menggentarkan Eropa.”
4- Dalam sebuah jumpa pers, Salazar berkata,” Bahaya yang sebenarnya mengancam peradaban kita adalah bahaya yang mungkin akan ditimbulkan oleh kaum muslimin saat mereka merubah tatanan dunia.” Seorang wartawan menyela,” Bukankah kaum muslimin disibukkan dengan perselisihan intern mereka ?” Salazar menjawab,” Saya khawatir, ada di antara mereka yang mengarahkan konflik intern mereka kepada kita.”
5- Moro Berger, dalam bukunya ” Dunia Arab Kontemporer” menulis,” Sesungguhnya kekhawatiran terhadap bangsa Arab dan perhatian kita dengan dunia Arab, bukan disebabkan oleh banyaknya minyak bumi di tengah bangsa Arab, melainkan karena Islam. Kita harus memerangi Islam, untuk mencegah bersatunya bangsa Arab. Bila Arab bersatu, bangsa Arab akan kuat. Perlu diingat, kekuatan bangsa Arab selalu seiring dengan kekuatan, kejayaan dan penyebaran Islam. Islam mengejutkan kita ketika bisa menyebar dengan mudah di benua Afrika.”

Tujuan Mereka, Mengancurkan Islam

1- Gardener berkata : Perang salib bukan bertujuan untuk menyelamatkan Al-Quds, melainkan untuk menghancurkan Islam.
2- Semboyan “Perangi Orang-orang Islam” yang menjadi semboyan demonstrasi orang-orang Yahudi di Paris sebelum perang 1967 M, mendapat sambutan positif di seantero Eropa.
3- Philip Fondacy mengatakan,” Sudah menjadi sebuah kebutuhan darurat bagi Perancis, untuk melawan Islam di dunia ini dan menempuh politik permusuhan terhadap Islam. Minimal, Perancis harus berusaha menghentikan perkembangan Islam.
4- Orientalis Perancis, Keymond, dalam bukunya “Patologi Islam” menulis : Agama Muhammad adalah penyakit kusta yang menyebar di tengah masyarakat, dan melanda mereka dengan parah. Ia adalah penyakit yang membuat payah dan kelumpuhan masal. Ia adalah kegilaan fikiran yang mendorong mnausia untuk melarat dan malas. Ia tidak menyadarkan manusia dari kemelaratan dan kemalasan, kecuali untuk menumpahkan darah, menenggak minuman keras dan melakukan semua bentuk kemesuman. Karenanya, kuburan Muhammad adalah tiang listrik yang membuat kepala orang-orng Islam menjadi gila. Mereka menampakkan gejala-gejala kerasukan setan dan kegilaan fikiran yang tiada ujungnya. Mereka terbiasa untuk berbalik dari tabiat asli kemanusiaan, seperti membenci daging babi, minuman keras dan musik. Seluruh ajaran Islam tegak di atas kekerasan dan kemesuman dalam meraih kepuasan !” Ia melanjutkan,” saya yakin, kita harus membinasakan seperlima umat Islam, menghukum sisanya dengan kerja paksa yang berat, menghancurkan Ka’bah dan menempatkan mayat Muhammad di museum Lofer.”
5- Raja Louis IX yang tertawan dalam perang salib di Manshurah, Mesir menulis,” Tidak mungkin meraih kemenangan atas umat Islam melalui peperangan. Kita hanya akan bisa mengalahkan mereka, dengan cara sebagai berikut : (a) menimbulkan perpecahan di kalangan pemimpin umat Islam. Jika sudah terjadi, perluaslah ruangnya sehingga perselisihan ini menjadi faktor yang melemahkan umat Islam. (b) Tidak memberi peluang berkuasanya seorang penguasa yang shalih di negeri-negeri Islam dan Arab. (c) merusak pemerintahan di negara-negara Islam dengan suap, kerusakan dan wanita sehingga fondasi bangunan terpisah dengan puncak bangunan. (d) mencegah munculnya tentara yang meyakini hak atas tanah airnya, rela berkorban demi membela prinsip tanah airnya. (e) mencegah terbentuknya persatuan bangsa Arab di kawasan Arab. (f) Membuat sebuah negara Barat di tengah kawasan Arab, mulai dari Ghaza di sebelah selatan, sampai Antokia di sebelah utara, kemudian ke arah timur, terus memanjang sampai ke Barat.
6- Samuel Zwemer mengatakan,” Kristenisasi bagi peradaban Barat mempunyai dua keuntungan, keuntungan destruktif dan keuntungan produktif. Keuntungan destruktif, maknanya mencabut seorang muslim dari (keterikatan kepada ajaran-ajaran) agamanya, sekalipun dengan mendorongnya kepada atheisme…Keuntungan produktif, maksudnya adalah mengkristenkan orang Islam jika memungkinkan, agar ia bersama peradaban Barat menlawan kaumnya sendiri.

[4].
Komparasi Sebab Perang Salib Lama dan Modern

Faktor Komparasi
Catatan
Perang Salib Lama Perang Salib Modern
1. Faktor Agama
Faktor penyebab Perang Salib I (1095 M) ; daulah Islam bani Saljuk mempersulit para peziarah Kristen ke Baitul Maqdis Gereja khawatir dengan perkembangan Islam yang sangat cepat di dunia Barat. Sekalipun saat ini kaum muslimin sangat lemah dan tertinggal dalam segala bidang kehidupan, namun keagungan Islam dan kekuatan kebenaran yang dibawanya senantiasa memancarkan sinar dan pesona yang menarik jutaan umat manusia untuk memeluknya. Islam adalah agama yang paling cepat penyebarannya di seluruh dunia. Menurut catatan PBB tahun 1994/1995, tingkat perkembangan Islam di seluruh dunia mencapai 6,4 % pertahun, sementara Nasrani hanya 1.46 % pertahun, padahal kristenisasi begitu gencar dilakukan. Sebagian pihak mungkin menyangkal motif agama dalam perang salib modern (perang melawan teroris) saat ini, mengingat sebagian besar bangsa Barat saat ini tidak menaruh perhatian terhadap ajaran agama. Perlu juga diingat, bahwa perang salib I juga dikenal dengan istilah peperangan kaum preman, perampok dan pencuri. Dalam perjalanan menuju Palestina, mereka melakukan perusakan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan kebrutalan lainnya di setiap daerah yang mereka lalui sepanjang perjalanan. Perang Salib IV tahun 1190 M juga hanya sekedar alat untuk memuaskan keinginan Paus dan kepentingan ekonomi para raja Barat. Pasukan Salib justru menjadikan kaum Nasrani Hongaria dan Konstantinopel sebagai lawan. Disebutkan, mereka malah memperkosa para biarawati di kedua negara tersebut. Dominasi ekstrim kanan dalam pemerintahan AS saat ini, menunjukkan puncak fundamentalisme keagamaan yang melebihi fundamentalisme perang Salib I. George W. Bush menjadikan perang melawan terorisme (Islam) dan as-sunah sebagai prioritas programnya. Cita-cita terbesarnya adalah mematikan dakwah, kegiatan sosial Islam dan pengajaran agama Islam.
2. Faktor Strategi
Penaklukan Islam yang membentang luas, mulai dari India Utara sampai Perancis Selatan telah mencekik kepentingan strategis Barat. Akibat penaklukan ini, perimbangan kekuatan condong kepada kepentingan Islam, terlebih dengan dukungan sumber daya alam dan kemajuan peradaban umat Islam saat itu. Mulai tahun 750 M, berbagai konflik dan perpecahan politik mendera Daulah Abbasiyah, sehingga posisinya dalam percaturan politik dunia melemah. Perimbangan kekuatan kembali memihak kepada Barat, ditandai dengan dominasi Barat di Laut Tengah dan Spanyol. Dalam masa ini, Angkatan Laut Barat mencapai banyak kemenangan atas angkatan laut Islam di Thulaitila dan Sicilia. Pasukan imperium Bizantium juga beberapa kali berhasil melakukan serangan surprise ke Suriah Utara, dan menguasai beberapa kota Islam dalam jangka waktu relatif pendek.Dari faktor strategi, nampak bahwa Perang Salib Lama bertujuan untuk mengembalikan kejayaan lama bangsa Nasrani Eropa, dan membalas penaklukan-penaklukan spektakuler Islam. Seluruh negara di kawasan Dunia Islam saat ini telah mengekor dan tunduk kepada Barat. Maka, tujuan perang salib modern ini bukan untuk mengembalikan perimbangan kekuatan kepada kepentingan Barat, melainkan untuk menjaga agar dominasi politik, ekonomi, militer dan budaya Barat di panggung percaturan dunia tetap lestari. Pada tahun 1980 M, presiden AS Jimmy Charter mengajukan “Charter Doctrine” kepada Kongres. Isinya adalah langkah-langkah strategis yang harus diambil oleh AS untuk tetap menjaga dominasi di dunia, paca invasi Soviet ke Afghanistan. Kunci langkah tersebut adalah mengembalikan dominasi dan menjaga kepentingan AS dan kapitalisme di kawasan Timur Tengah, Teluk Persia dan Asia Selatan. Ketiga kawasan ini memiliki sumber daya alam raksasa, jumlah populasi yang besar dan letak geografi yang strategis. Tanpa mendominasi ketiga kawasan ini, mustahil AS bisa menguasai percaturan dunia. Selat Hurmuz, misalnya, merupakan sebuah tempat strategis di kawasan Teluk. Dalam tahun 1980 M, sebuah kapal pengangkut minyak bumi melewati selat ini setiap 8 menit sekali. Diperkirakan total minyak bumi yang diangkut lewat selat ini sebesar 19 juta barel / hari, atau sekitar 40 % total perdagangan minyak bumi dunia. 12 %nya adalah total minyak bumi yang dihabiskan oleh AS. Kini, angka produksi minyak bumi yang diangkut lewat selat ini meningkat sekian ratus persen, dan peran strategis selat inipun semakin bertambah penting bagi AS.
Ini diperparah dengan kegagalan AS membangun cadangan minyak bumi raksasa. Cadangan minyak bumi AS yang mencapai 22 milyar barel, tak lebih dari 2 % dari total cadangan minyak bumi dunia. Cadangan minyak bumi AS ini semakin berkurang, sekalipun AS mempunyai teknologi dan peralatan paling modern untuk melakukan eksplorasi, eksploitasi dan investasi. Faktor ini, mendorong AS untuk segera melakukan invasi ke kawasan Teluk, kawasan penghasil 63 % minyak bumi dunia. Perang Salib modern saat ini merupakan tindak lanjut dari planing AS sejak pertengahan era 70-an untuk menguasai kawasan Teluk. Berzinki, penasehat Charter dan konseptor program penguasaan AS atas Asia Tengah sejak awal 90-an, menyarankan AS untuk menguasai kawasan Eurasia (perbatasan Rusia, China dan Iran) dan Teluk Arab. Dengan menguasai kedua kawasan tersebut, AS bisa mengalahkan seluruh kekuatan yang mungkin menjadi saingan AS dalam menguasai dunia pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Saat ini, investasi AS untuk minyak bumi dan gas di Laut Qazwin dan Asia Tengah sebesar $ 50 Miliar. Ia juga menyarankan AS agar menjadikan investasi tersebut sebagai alat untuk menguasai sumber daya alam di kawasan tersebut ; minyak bumi sebesar 200 Miliar barel dan gas alam sebesar 600 Triliun M3.
Invasi AS ke Iraq tahun 2003 M, juga merupakan pelengkap dari seluruh planing AS untuk merampok kekayaan alam dunia Islam. Iraq adalah negara terbesar kedua penghasil minyak bumi dunia, setelah Arab Saudi. Cadangan minyak buminya mencapai 115 Miliar barel, sekitar 11 % cadangan minyak bumi dunia. Sejak lama, Iraq adalah sekutu dan anak didik AS. Dengan saran dan dukungan AS, Iraq dijebak untuk melakukan perang melawan Iran (Perang Teluk I, September 1980 s/d Agustus 1989 M), perang yang melemahkan dan menguras kekuatan Iraq. Pada dekade 80-an ini, AS telah mendapatkan beberapa “kemudahan militer” di kawasan Teluk. AS kembali menjebak Iraq untuk menginvasi Kuwait, sehingga timbul perang Teluk II (1991 M). Lewat perang ini, AS berhasil mendapat izin membangun lebih dari 63 pangkalan militer permanen di 11 negara-negara kawasan tersebut (negara-negara Arab, tanduk Afrika, Asia Tengah dan Asia Selatan, yaitu sekitar dan di dalam Afghanistan). Inilah yang dikenal dengan sebutan wilayah kerja Markas Komando AS atas Timur Dekat mencakup 25 negara, mulai dari Pakistan di kawasan Timur sampai Maroko di kawasan Barat. Keberadaan militer AS secara raksasa ini bertujuan untuk menghancurkan keinginan “perlawanan” bangsa-bangsa kawasan tersebut, dan menundukkannya kepada kepentingan AS, dengan baju demokrasi sekuler, kapitalisme, pasar bebas dan tatanan dunia baru.
3. Faktor Politik
– Pasukan Salib lama memanfaatkan konflik politik di kawasan dunia Islam, untuk memberikan bantuan militer kepada salah satu pihak yang loyal kepadanya, sebagai langkah awal untuk melakukan invasi dan menanamkan dominasi politik.
– Tahun 1099 M, gubernur Tarablus meminta bantuan militer raja Kristen Raimond, untuk mempertahankan kekuasaan di Tarablus. Tahun 1099 M, gubernur Syizar dan Tarablus memberikan loyalitasnya kepada raja-raja Salibis, dan menyerahkan Palestina kepada pasukan Salib.
– Tahun 1164 M, sultan Syawar meminta bantuan pasukan salib demi menyelamatkan kekuasaannya dari serangan mujahidin Nurudien Zanki.
– Pada masa itu dunia Islam mengalami berkali-kali kudeta militer yang melemahkan umat dan menciptakan ketidak stabilan politik. Dalam waktu 3 tahun sebelum jatuhnya Palestina (1096-1099 M), terjadi delapan kali kudeta militer dalam Daulah Abbasiyah.
– Jatuhnya Palestina tahun 1099 M diawali dari penentangan rakyat terhadap pemerintahan militer Bani Saljuk tahun 1076, yang diberangus dengan kekerasan senjata oleh penguasa. Akibatnya, sebagian besar rakyat Palestina meninggalkan Palestina, dan hanya sedikit rakyat yang tersisa untuk menghadapi serbuan tentara salib. – Kepentingan AS di kawasan dunia Islam, bisa langgeng karena adanya pemerintahan boneka yang loyal kepada AS. Pemerintahan yang monarkis absolut, diktatoris, rela melakukan kebengisan apapun kepada rakyat, selama AS mempertahankan singgasana kekuasaannya.
– Tahun 2000, Yasir Arafat mengemis kepada Madeline Albright demi langgengnya kekuasaan atas pemerintahan Otoritas Palestina. Tahun 1967 M, raja Husain menyerahkan Al-Quds kepada Zionis.
– Para pemimpin Arab (Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Yaman, Qatar, Kesultanan Oman) selama beberapa dekade terakhir ini mengabdi dan loyal kepada kepentingan AS. Para pemimpin Arab meminta bantuan pasukan AS agar menyelamatkan kekuasaan mereka dari ancaman Al-Qaedah dan gerakan Al-Ishlah (reformasi).
– Selama 50-an tahun terakhir, dunia Arab juga didominasi oleh pemerintahan diktator, monarkis absolut dan kudeta militer berulang-ulang. Pemerintahan yang memerintah rakyat dengan tangan besi ini telah menimbulkan kebencian dan perlawanan rakyat. Setiap kali rakyat melakukan perlawanan, AS dan Barat turut campur —dengan permintaan pemerintahan Arab maupun tidak—untuk mengamankan kekuasaan pemerintahan diktator sekutu AS tersebut, dengan imbalan penambahan loyalitas, hak ekonomi, politik, militer dan budaya. Sedikit demi sedikit kepentingan para penguasa tersebut direlakan dan diserahkan kepada AS dan sekutunya, sampai akhirnya tidak mempunyai apapun. Saat itulah, tiba masanya AS menggusur mereka dan menggantikannya dengan pemerintahan Zionis-Salibis.
– Tekanan rezim militer dan monarkis absolut kepada rakyat Iraq, Suriah, Mesir, dan negara-negara Afrika Utara telah menyebabkan kelemahan umat Islam. Ini menimbulkan kekosongan kekuatan, dan memberi kesempatan kepada AS dan sekutunya untuk mengisinya.
4. Faktor Ekonomi
Pada masa Perang Salib Lama, dunia Islam berada dalam kemakmuran. Baghdad, misalnya, dipandang sebagai kota paling maju di dunia. Rumah sakit gratis, kamar mandi umum, sistem kantor pos dan keuangan yang sehat, bank-bank dengan cabang sampai di China, dan seterusnya. Roda perekonomian lancar dan berkembang pesat. Sebaliknya, Dunia Nasrani Barat dalam keterpurukan ekonomi dan keterbelakangan ilmu pengetahuan. Hal ini memaksa mereka menempuh berbagai cara untuk merubah peta percaturan ekonomi dunia untuk kepentingan mereka. Dan perang salib adalah salah satu jawabannya. Dunia Islam dalam keterpurukan di segala bidang kehidupan. Krisis rendahnya sumber daya manusia, buruknya kwalitas pendidian, kemiskinan menerpa sebagian besar rakyat, sulitnya lapangan kerja, hutang luar negeri menggunung, KKN menjadi budaya birokrat. Sebaliknya, negara-negara Nasrani Barat mengalami kemajuan industri dan ekonomi yang tidak tertandingi. Lantas, motiv ekonomi apa yang mendorong Perang Salib Modern ini?
Dunia Islam adalah kawasan paling kaya dan sekaligus paling miskin di dunia. Paling kaya dengan sumber daya alamnya, dan paling miskin akibat loyalitas para penguasanya kepada Barat. Kemunculan gerakan kebangkitan Islam di dunia Islam telah mengancam eksistensi para penguasa antek Barat, dan otomatis mengancam seluruh kemudahan ekonomi yang selama ini dinikmati Dunia Nasrani Barat. Bila kekhawatiran ini terbukti, akan terjadi krisis politik dan ekonomi dalam skala makro, harga minyak bumi akan naik dan runtuhlah ekonomi negara-negara Barat. Krisis harga minyak pasca perang Arab-Israel Oktober 1973 M belum hilang dari benak mereka.
Lebih dari itu, saat ini AS sedang mengalami krisis ekonomi paling parah sejak krisis ekonomi tahun 1929 M. Sepanjang tahun 2002 M, Bursa efek AS mengalami penurunan —bahkan keruntuhan—drastis, sehingga mengalami kerugian lebih dari $ 5 triliun. Tim ekonomi Bush Jr juga telah gagal memperbaiki krisis.
Maka tiada pilihan lain, harus diadakan langkah radikal. Penaklukan dunia Islam. Dan penguasaan minyak bumi dunia, adalah jawabannya. Itulah motif ekonomi Perang Salib Modern.

[5].
Solusi Damai :
Kekerasan Tidak Akan Menyelesaikan Masalah ?

Beberapa penjelasan terdahulu telah menegaskan :
1- Aliansi kekuatan salibis-zionis-paganis-komunis internasional telah melancarkan perang salib modern terhadap Islam dan kaum muslimin.
2- Aliansi pasukan salib melakukan invasi militer terhadap wilayah kaum muslimin yang menolak tunduk kepada keinginan aliansi salib, atau potensial untuk memberikan perlawanan. Iraq, Afghanistan dan Jazirah Arab adalah contoh terdepan dari wilayah kaum muslimin yang telah diinvasi secara militer.
3- Di negara-negara yang pemerintahnya tunduk dan menurut kepada keinginan aliansi salibis internasional, aliansi salibis cukup melakukan intervensi ekonomi, politik dan militer, dan tidak perlu melakukan invasi militer. Pemerintah pro aliansi salibis inilah yang melakukan peperangan terhadap Islam dan kaum muslimin, dengan mengatas namakan “perburuan terhadap jaringan teroris”.
4- Operasi-operasi yang diadakan oleh mujahidin di berbagai penjuru dunia adalah bentuk pembelaan diri dan perlawanan terhadap kekuatan invasi militer asing dan antek-anteknya.

***

Solusi Damai : Logis, Realistis dan Efektif ?

Sekalipun inti persoalan telah jelas, namun sebagian besar kaum muslimin masih kebingungan menentukan sikap dalam menghadapi gejolak perang salib modern ini. Di tengah kebingungan tersebut, berbagai wacana, teori dan analisa mengemuka ke permukaan. Salah satu wacana yang sangat kuat berkembang, adalah wacana yang menyatakan bahwa perlawanan dengan kekuatan tidak akan menyelesaikan masalah. Menurut para penganut teori ini, kekerasan tidak bisa dihadapi dengan kekerasan karena justru akan semakin merusak suasana. Hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik saat ini adalah DIALOG, TOLERANSI dan SOLUSI-SOLUSI DAMAI.
Dengan dukungan media massa yang luas, wacana ini begitu menguasai fikiran kaum muslimin. Lebih dari itu, wacana ini juga meyakinkan banyak kaum muslimin bahwa “perang salib”, “kebencian dan permusuhan kepada non muslim”, atau “konsep jihad fi sabilillah”, adalah konsep usang yang tidak sesuai dengan tuntutan hidup damai secara berdampingan. Konsep-konsep tersebut hanyalah wacana segelintir kaum fundamentalis Islam yang justru mengancam perdamaian dunia.
Tentu saja, mayoritas para penyeru wacana damai ini adalah kalangan sekuler, nasionalis, liberal, moderat dan pluralis. Sedikit di antaranya, adalah para aktivis Islam yang pro demokrasi, atau anti demokrasi namun setuju dengan perjuangan lewat PEMILU dan Parlemen.
Sekilas wacana mereka akan membuahkan perdamaian dunia, sikap toleransi dengan non muslim dan membuat citra Islam yang baik di mata musuh-musuh Islam. Tegasnya, solusi dialog dan damai adalah solusi terbaik bagi semua. Mereka pun ramai-ramai mengadakan berbagai seminar tentang toleransi, dialog damai, pluralisme, dan seterusnya. Bahkan lebih jauh, mereka mulai melayangkan ide perumusan ulang kurikulum pendidikan agama di berbagai sekolah agama yang dituduh menumbuhkan benih-benih permusuhan dan kebencian kepada non muslim.
Propaganda wacana yang didukung media massa dan banyak tokoh ini telah menghipnotis banyak kaum muslimin. Namun wacana ini layak mendapat sejumah tanda tanya. Benarkan solusi damai merupakan langkah yang logis, realistis dan efektif ? Ataukah justru hanya sebuah utopia, khayalan dan menguntungkan musuh ?
Berdialog dengan para penganut wacana ini yang kebanyakan adalah kaum sekuler, nasionalis, liberal, moderat dan pluralis, tentu tidak bisa berangkat dari dalil-dalil syar’i. Dengan mudah, mereka akan menolak atau menginterpretasikannya semau sendiri tanpa mengikuti kaedah-kaedah baku ilmu tafsir, ilmu hadits dan ushul fiqih. Konsep jihad fi sabilillah, al-wala’ dan al-bara’, atau penerapan syariah Islam, jelas mereka tolak. Lantas, darimana dialog dengan mereka harus dimulai ?
Telah diketahui bersama, pasca Perang Dunia II, dunia diramaikan dengan Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. Meski suasana ketegangan dan permusuhan begitu nampak antara kedua negara super power dunia ini, namun usaha-usaha untuk membuat kesepahaman telah dirancang, terlebih beberapa tahun sebelum runtuhnya Uni Soviet. Sejak Michal Gorbachev terpilih sebagai presiden Uni Soviet tahun 1985 M, ia langsung mengkampanyekan agenda reformasi kehidupan ekonomi dan sosial negara komunis tersebut. Langkah ini mendapat respon positif presiden AS, Ronald Reagen. Keduanya terlibat sejumlah pembicaraan untuk menurunkan kompetisi ideologi dan tensi ketegangan selama perang dingin.
Langkah Reagen dilanjutkan oleh penggantinya, George Bush. Begitu dilantik, Bush langsung bekerja secara rahasia dan intensif untuk menjadikan Uni Soviet sebagai negara sahabat “family of nations.” Bush yakin Uni Soviet bisa menjadi kawan. Bila hal ini terjadi, AS bisa menurunkan anggaran militernya dan menghemat jutaan dolar pajak negara yang dipergunakan untuk kepentingan militer. Bush menjanjikan akan membantu Gorbachev menyukseskan program-programnya.
Pada bulan Mei 1989 M, Bush mengejutkan negara-negara sekutunya ketika mengajukan sebuah proposal tebal berisi program pengurangan sejumlah besar kekuatan militer AS yang selama ini dipertahankan di Eropa untuk menghadapi kemungkinan serangan Uni Soviet. Pada bulan Desember 1989 M, Bush mengundang Gorbachev dalam tiga hari pertemuan luar biasa di sebuah pulau di Laut Mediterania, Malta. Dalam pertemuan itu, Bush menyerahkan daftar berisi 21 program kerjasama, mulai dari pengurangan jumlah militer sampai kepada bantuan ekonomi.
Keinginan Bush ini dibuktikan dengan beberapa kebijakan politik luar negerinya. Bush cenderung diam dan tidak mengomentari, apalagi mengkritik keras, kebijakan-kebijakan Uni Soviet. Pada bulan November 1989 M, tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dengan Jerman Timur diruntuhkan. Bush menyikapinya biasa-biasa saja. Ia justru mengumumkan bahwa dunia memerlukan “tatanan dunia baru” untuk menghentikan persaingan superpower dunia selama era perang dingin. Ketika pada tahun 1990 M, Uni Soviet menolak memberikan otonomi khusus kepada Latvia dan Lithuania sebagaimana yang diberikan kepada Hongaria dan Polandia, Bush juga tidak mengkritisinya. Hal ini mengakibatkan Bush sering didemo oleh rakyat AS.
Pada bulan Desember 1991 M, Uni Soviet runtuh dan terpecah belah. Rusia, sebagai bagian terpenting dari mantan Uni Soviet, menjadi satu-satunya negara terpenting bagi para pengambil kebijakan politik luar negeri AS. Dua isu utama mendominasi hubungan AS-Rusia pada era Bush-Boris Yeltsin ini, yaitu isu eksistensi-penurunan senjata nuklir dan langkah-langkah efektif yang akan diambil AS untuk membantu Rusia dalam membangun kembali ekonominya dengan beralih kepada sistem perdagangan bebas, sebagai ganti dari sistem lama desentralisasi ekonomi.
Pada bulan Juni 1992 M diadakan pertemuan antar Bush dan Yeltsin di Washington. Sekalipun terjadi perdebatan panjang, namun kedua pemimpin negara super power dunia ini sangat berhasrat mampu menekan sebuah kesepakatan sebelum masa pemerintahan Bush berakhir, tanggal 20 Januari 1993 M. Akhirnya, dalam pertemuan puncak di Moskow tanggal 3 Januari 1993 M, kedua pemimpin sepakat menandatangani perjanjian kesepakatan penurunan senjata nuklir, yang dikenal dengan nama Strategic Arms Reduction Treaty II (Start II).
Tinggal satu persoalan yang belum terselesaikan, yaitu bantuan ekonomi AS kepada Rusia untuk membangun kembali ekonomi yang hancur pasca keruntuhan Uni Soviet. Untuk itu, Bush mengadakan konferensi internasional mencari dukungan bantuan untuk Rusia. Tiga bulan kemudian, atau April 1993 M, Bush dan konselir Jerman Helmut Kohl telah mengumumkan dan menyerahkan bantuan ekonomi kepada Rusia sebesar $ 24 juta dari 7 negara yang tergabung dalam kelompok negara-negara industri (G7).
Dengan semua langkah maju dalam hubungan AS-Rusia ini, boleh dikatakan ketegangan dan permusuhan antara kedua negara super power dunia ini telah ditutup. Rusia dalam banyak hal memiliki ketergantungan kepada bantuan AS dan sekutu-sekutunya. Rusia, kini telah menjadi “family of nations”, negara sahabat bagi AS dan sekutunya.
Namun bukan berarti AS telah merasa aman dan menang sebagai “penguasa dunia”. AS dan dunia Barat merasakan ada pesaing baru yang harus diwaspadai dan diantisipasi. Itulah kekuatan Islam yang mulai bangkit kembali. Kesadaran ini semakin menguat setelah terjadinya Revolusi Syi’ah Iran yang menggulingkan sekutu utama AS di kawasan Teluk, rezim syah Pahlevi, dan kemenangan mujahidin Afghanistan atas pasukan Uni Soviet. Fenomena-fenomena tak terduga ini kembali menggugah kesadaran religius dan pemikiran para cendekiawan, pemikir, politisi dan pengambil kebijakan AS dan negara-negara Barat.
Di sana sini mulai ramai diskusi, seminar dan artikel tentang gerakan kebangkitan Islam sebagai “ancaman paling potensial” terhadap “dominasi Barat”. Dalam kondisi demikian, pada tahun 1993 M DR. Samuel Philips Huntington menulis tesis tersohor yang kemudian menjadi judul sebuah buku “The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order”, dan diterbitkan tahun 1996 M.
Dalam bukunya, Huntington menyebutkan secara detail dan kuat berbagai bukti yang menunjukkan bahwa peradaban Islam adalah calon lawan dan pesaing terbesar bagi peradaban Barat, dan motif utama konflik peradaban Islam versus perdaban Barat ini adalah motif agama. Agama, menurut Huntington, memilah-milah manusia dalam beberapa blok secara lebih obyektif dan komprehensif. Menurutnya, konflik Islam versus Barat merupakan konflik yang sebenarnya. Adapun konfik demokrasi liberal versus Marxis-Leninis (AS-Uni Soviet dalam perang dingin) hanyalah fenomena sejarah yang bersifat sesaat “fleeting” dan di permukaan “superficial” semata, bukan konflik sebenarnya. Istilahnya, sekedar konflik-konflikan. Konflik sebenarnya adalah Islam versus Barat. Selama 14 abad masehi, Islam dan Barat sangat sering terlibat dalam konflik.
Huntington menulis,” The Relation between Islam and Christianity, both Orthodoks and western, have often been stormy.” (Hubungan antara Islam dan Kristen —baik Kristen Ortodoks maupun Kristen Timur— sering kali buram.”
Tesis Huntington mendapat sambutan luar biasa dari para cendekiawan, politikus dan para pengambil kebijakan dalam pemerintahan AS dan Barat. Mantan Menlu AS, Henry Kissinger sampai menyebut bukunya sebagai “buku terpenting yang diterbitkan pasca perang dingin”. Tesis Huntington sebenarnya bukan satu-satunya tesis dalam masalah konflik peradaban. Sebelum dan sesudahnya juga telah banyak penulis lain yang menyebutkan hal yang sama.
Mark Jurgensmeyer menulis,” Sekalipun Francis Fukuyama, di antaranya, menyebutkan bahwa akhir perang dingin lama telah menghantarkan ke”akhir sejarah” dan konsensus ideologi seluruh dunia terhadap demokrasi liberal sekular, munculnya nasionalisme religius dan etnik menggugurkan penegasan ini.”
Prof. Joseph S. Nje Jr juga menulis,” Era pasca perang dingin adalah satu kondisi pengulangan sejarah (the return of history). Artinya, ideologi kapitalisme liberal yang berlaku saat ini tidaklah mengendalikan sebagian besar konflik dalam politik internasional. Respon dan kompetitor utama terhadap kapitalisme liberal pasca perang dingin adalah nasionalisme etnik.”
Sebagai sebuah peradaban yang dominan, peradaban Barat pasti akan berusaha memaksakan hegemoni dan dominasinya atas peradaban Islam atau peradaban etnik (China, Jepang). Sebab, sebuah peradaban yang menguasai peradaban lain selalu berusaha menyebarkan nilai-nilai peradabannya kepada peradaban yang dikuasainya. Hal ini merupakan pola yang selalu terulang (recurrent pattern).
Robert Gilpin menyebutnya,” The recurrent pattern in every civilization of which we have knowledge was for one state to unify the system under its imperial dominations.” (Pola yang selalu terulang dalam setiap peradaban yang kita ketahui, bahwa sebuah negara penjajah selalu berusaha untuk menyatukan negara-negara jajahan ke dalam satu sistem dibawah dominasi imperialismenya).
Sebagaimana diketahui bersama, para penulis dan cendekiawan yang memprediksikan peradaban Islam sebagai pesaing dan tantangan terbesar bagi dominasi peradaban Barat (atau menurut istilah mereka, perdamaian dunia dan tatanan dunia baru), adalah para cendekiawan yang sangat dekat dengan para pengambil kebijakan di negara-negara Barat. Para pejabat dan pengambil kebijakan dalam pemerintahan Barat banyak mengambil riset dan tesis mereka sebagai dasar dalam membuat sebuah kebijakan. Terbukti, Barat segera mengambil ancang-ancang dan kebijakan yang mengarah kepada persiapan perang semesta melawan peradaban Islam.
Karena Barat merepresentasikan sistem Demokrasi Liberal dengan ekonomi kapitalisnya, isu yang dipropagandakan dalam perang melawan peradaban Islam adalah isu globalisasi, penciptaan perdamaian dunia, pasar bebas, penegakan demokrasi di dunia ketiga, perlindungan HAM dan kebebasan, dan seterusnya. Dengan dalih ini pula, AS dan Barat bermain di belakang layar Dewan Keamanan PBB untuk mengembargo ekonomi Afghnistan. Tentu saja, dengan alasan rezim Thaliban melanggar HAM, kebebasan individu, melecehkan demokrasi liberal, melindungi perdagangan ganja, dan seterusnya. Padahal, Thaliban sedang menjalankan kebebasan beragama dengan menerapkan syariat Islam di Afghanistan.
Tetapi, di sinilah inti persoalannya. Penerapan syariat Islam, itulah hal yang dibenci dan dimusuhi oleh Barat. Atas nama demokrasi, kebebasan dan HAM, Barat melanggar HAM dan kebebasan umat Islam Afghanistan. Tanpa alasan yang logis pula, pada tahun 1998 M pemerintahan Bill Clinton membombardir Afghanistan dengan rudal-rudal Tomhawk, yang mengakibatkan ribuan rakyat sipil tak berdosa jatuh sebagai korban. Peristiwa ini disusul dengan resolusi Dewan Keamanan PBB no. 1267 (dikeluarkan tahun 1999 M), no 1333 (tahun 2000 M) dan no. 1363 (2001 M) yang menghukum Afghanistan. Disusul dengan resolusi DK PBB no. 1368 (2001) dan no. 1373 (2002 M) untuk memerangi teroris dan membekukan aset-aset mereka.
Fakta-fakta ini secara jelas menunjukkan, teori “konflik peradaban” bukan hanya khayalan semata. Ia telah menjadi ideologi dan praktek kebijakan politik negara-negara Barat. Sekedar menjalankan syariat Islam pun dianggap sebagai sebuah pelanggaran terhadap peradaban Barat (baca :demokrasi liberal, HAM, dan kebebasan) yang harus diperangi. Bukankah sangsi dan bombardir atas Afghanistan terjadi sebelum tragedi 11 September 2001 M ?
Di saat para cendekiawan dan pemimpin Barat mulai merealisasikan teeori tersebut dalam langkah-langkah strategis untuk meraih kepentingan-kepentingan Barat di dunia Islam, justru para “cendekiawan” umat ini menina bobokkan umat Islam. Mereka mengkaburkan inti persoalan dan berusaha keras membuktikan bahwa teori tersebut hanya pendapat segelintir cendekiawan “nyleneh” Barat yang tidak laku, tak perlu ditengok dan diperhitungkan. Merekapun sibuk menggelar berbagai agenda dan program bertemakan “dialog kesepahaman”, “dialog lintas peradaban”, “dialog lintas budaya dan agama”, dan seterusnya. Intinya, mereka menyerukan bahwa menumbuhkan sikap toleransi, menerima pluralisme dan menempuh solusi damai adalah solusi paling tepat dan efektif.
Para “cendekiawan moderat” umat ini sejatinya telah melarikan diri dari realita yang begitu buram. Mereka menutup-nutupi realita yang ada, dan sebagai gantinya menghibur diri dengan mengangkat slogan-slogan yang sebenarnya hanya ada dalam lamunan. Langkah mereka ini justru menguntungkan musuh dan membodohi umat Islam.
Tragedi WTC akhirnya terjadi, dan George W. Bush mengumandangkan perang salib “Crusade” (BBC, 16/11/2001 M). Diikuti oleh beberapa pernyataan pimpinan negara-negara Barat, di antaranya Berlusconi dan Blair, yang mendukung perang salib dan menunjukkan permusuhan kepada Islam. Akhirnya, invasi ke Afghanistan dan Iraqpun terjadi.
Semula, sebagian menyangka kedua invasi militer aliansi negara-negara Barat ini akan menyadarkan para “cendekiawan” kita yang sedang hidup di alam mimpi tersebut, untuk bangun dari mimpinya, terhenyak dan menyadari bahwa Barat benar-benar mengincar Islam sebagai target. Barat benar-benar sedang menjajah dunia Islam, untuk menegakkan peradaban Barat (demokrasi liberal, ekonomi kapitalis) atas dunia Islam dengan tangan besi dan todongan senjata.
Namun, ternyata mereka masih terbuai dalam mimpi. Mereka justru bersusah payah menginterpretasikan “crusade”nya Bush dengan makna-makna yang jsutru tidak diinginkan oleh Bush sendiri. Mereka kembali tidak mengakui bahwa perang ini sebenarnya adalah perang agama, perang melawan Islam dan kaum muslimin, perang salib, bukan perang melawan teroris.
Namun, justru Bush sendiri lebih jujur. Sekali lagi, ia menerangkan maksudnya.”Berdirilah di samping kami dalam perang salib yang penting ini !.” Kata Bush di hadapan pasukan Kanada. Jurnalis Robert Fiske, terpaksa harus menulis apa adanya,”Nampaknya, presiden Bush benar-benar meyakini bahwa ia sedang memimpin perang salib. Ia telah kembali menggunakan istilah tersebut, padahal beberapa hari sebelumnya telah diperingatkan untuk tidak menggunakannya.”
Demikianlah. Setelah persoalannya jelas, maka tepatkah bila program “solusi damai’ dan “kekerasan tidak menyelesaikan masalah” disebut sebagai sebuah solusi yang logis, efektif dan realistis ?
Saat negara-negara imperialis Barat menjajah negara-negera dunia Islam yang nota benenya adalah negara-negara dunia ketiga di Afrika dan Asia, haruskah penduduk negara-negara yang terjajah tersebut dituntut untuk menghentikan perlawanan bersenjata (lebih tepatnya perlawananan seadanya, tak bersenjata) dan menempuh “solusi damai” atau “dialog lintas peradaban” ? Apakah seruan seperti ini logis, efektif dan realistis ?
Bila kita menyerukan kepada Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin, Tengku Cik Ditiro, Panglima Sudirman dan para pejuang kemerdekaan lainnya agar meletakkan senjata, meninggalkan kekerasan dan menempuh dialog damai dengan imperialis Belanda, apakah seruan ini logis, efektif dan realistis ?

Penjajahan Tak Langsung

Namun para “cendekiawan moderat” umat ini menjawab diplomatis, Barat tidak menjajah dunia Islam. Barat hanya ingin memerangi kaum fundamentalis Islam yang mengancam penduduk sipil tak berdosa.
Padahal bukti-bukti konkrit menggugurkan pembelaan mereka kepada “tuan-tuan Barat” tersebut. Padahal, “tuan-tuan Barat” tersebut telah menjajah negeri-negeri umat Islam, merampas kekayaan alam, merusak pemikiran dan iman kaum muslimin. Sebenarnya, apa makna penjajahan, imperialisme atau kolonialisme ?
Dieter Nohlan menjawab,” Imperialisme adalah politik yang bertujuan menguasai dan mengendalikan bangsa-bangsa lain di luar batas negaranya, baik secara langsung (melalui perluasan wilayah), atau secara tidak langsung (dominasi politik, ekonomi, militer dan budaya) ”
Mari bertanya kepada para pakar ekonomi, politik, militer dan budaya, benarkah negara kita (dan dunia Islam pada umumnya) bebas merdeka dari pengaruh dan tekanan peradaban Barat ? Semua pakar yang jujur akan menjawab, negara kita dan dunia Islam pada umumnya, dalam penjajahan peradaban Barat.
Sebagaimana dijelaskan oleh Juwono Sudarsono, Guru Besar UI dan Duta Besar RI untuk Inggris, sistem internasional yang dibangun sejak lebih dari 50 tahun lalu telah didominasi kekuatan politik, ekonomi, dan militer dari negara maju. Tiga di antaranya, AS, Inggris, dan Perancis adalah “negara Barat” yang menguasai penentuan “keamanan dan perdamaian internasional” di dewan keamanan PBB.
Pada badan multilateral resmi maupun swasta, ketiga negara itu menguasai lebih dari 70 persen keunggulan ekonomi, sains teknologi, dan militer dunia. Sebagian besar perjanjian internasional di berbagai bidang, politik, ekonomi, bisnis, hukum, hak asasi, lingkungan hidup, perburuhan, perbankan, dan asuransi, disusun dan dikuasai ahli dan pelaku bisnis perusahaan multinasional Amerika Utara maupun Uni Eropa.
Peraturan yang diterbitkan badan multilateral, seperti OECD, WTO dan badan lain, mencerminkan kuatnya pengaruh negara maupun perusahaan multinasional di tiga kutub besar: Amerika Utara, Uni Eropa, dan Jepang. Pada hakikatnya sistem internasional yang dibangun sejak lama merugikan bangsa sedang berkembang.

Perang Agama

Namun para “cendekiawan moderat” umat ini menjawab diplomatis, ini bukan perang salib, bukan perang agama. Perang agama dalah fikiran kuno yang hanya cocok untuk abad-abad pertengahan. Sekarang zaman modern, milenium ketiga, abad teknologi tinggi, tidak mengenal perang agama lagi. Bila Bush mengumumkan perang salib, itu hanyalah keseleo lidah yang bisa diinterpretasikan ulang.
Tentu saja, pembelaan mereka kepada “tuan-tuan Barat” ini tidak merubah realita hari ini sedikitpun. Justru, mengkaburkan persoalan yang sebenarnya di hadapan kaum muslimin. Usaha mereka ini akan membekukan potensi umat, sehingga musuh-musuh peradaban Islam-lah yang akan menuai hasilnya dengan meminimkan kerugian. Satu hal yang harus disadari bersama, baik ini perang agama maupun bukan, peradaban Barat yang melancarkan penjajahan terhadap Islam dan kaum muslimin harus dilawan,” Jika mereka memerangi kalian, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang kafir.” (QS. 2:191). Dan perang demi membela diri dan kedaulatan, adalah sebuah hak yang diakui oleh seluruh bangsa dan aturan yang ada di dunia ini.
Sekarang, mari dikaji apa sebenarnya makna perang agama ?
Ketika peperangan umat Islam melawan musuh yang kafir didorong oleh dan berlandaskan kepada motif agama, maka peperangan tersebut adalah perang agama, atau dalam syariat dikenal dengan istilah jihad fi sabilillah. Tidak penting apakah pihak musuh memerangi kaum muslimin didorong oleh dan berlandaskan kepada motif agama atau tidak. Yang penting, perlawanan umat Islam tersebut bermotif agama dan mempunyai keterkaitan dengan perintah agama, perlawanan tersebut disebut perang agama, alias jihad fi sabilillah.
Perang umat Islam melawan tentara Tartar (era Jengish Khan dan seterusnya), bagi umat Islam adalah perang agama karena umat Islam berperang membela diri dan wilayah Islam berdasar perintah agama. Sekalipun, bagi tentara Tartar bukan sebuah perang agama, karena mereka berperang demi membalas dendam, merampas, menghancurkan dan menaklukkan semata.
Demikianlah, sebagian besar peperangan umat Islam melawan pemeluk agama samawi lainnya (Yahudi dan Nasrani), atau melawan kaum musyrik (paganis, komunis, sekuler) adalah perang agama, karena berdasar perintah dan tuntunan agama. Jika musuh juga melawan dan memerangi umat Islam karena motif agama, maka peperangan menjadi perang agama dari kedua belah pihak.
Seberapa jauh perang yang dilancarkan aliansi salibis-zionis-paganis internasional pimpinan AS terhadap umat Islam saat ini disebut sebagai perang agama ?
Untuk menjawabnya, pertama kali harus dipahami makna agama . Agama bisa bersumber dari bumi (hasil olah dan cipta akal manusia), sebagaimana bersumber dari langit (wahyu; Islam, Nasrani dan Yahudi). Agama juga tidak terbatas pada ritual peribadahan semata. Lebih dari itu, agama adalah ungkapan untuk sebuah sistem aturan hidup yang berlandaskan kepada sebuah pemahanan tertentu. Jika berlandaskan kepada wahyu Allah (tepatnya Al-Qur’an dan Al-Sunnah), maka ia adalah agama yang benar. Sebaliknya, bila tidak bersumber kepada wahyu Allah, maka ia adalah agama yang batil (salah), baik hasil olah fikir manusia (agama bumi : Hindu, Budha, Konghucu, Shinto, aliran kepercayaan, demokrasi, komunisme, kapitalisme, sosialisme, liberalisme, humanisme) maupun agama langit yang telah diselewengkan (Yahudi dan Nasrani).
AS telah mengumumkan bahwa perang yang dilancarkannya melawan Islam ini berlandaskan kepada nilai-nilai kebangsaan AS, sistem politik sekulerisme sampai sistem sosial liberalisme. AS akan memaksakan nilai-nilai AS ini kepada bangsa-bangsa muslim sebagai pengganti nilai-nilai Islam, dengan mengatas namakan demokratisasi dan melindungi kebebasan.
Berarti, perang yang dilancarkan AS adalah perang agama, bukan semata perang politik demi meraih kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi tanpa ada landasan dan kaitan dengan agama sama sekali. Ada nilai-nilai AS yang akan dipaksanakan sebagai pengganti dari nilai-nilai Islam. Ada perang Eropa dengan warisan ideologi Kristen dan realita sekulerismenya, yang dilancarkan kepada kaum muslimin.
Alhasil, aliansi kekuatan AS dan sekutu-sekutunya sedang melancarkan perang agama kepada umat Islam lewat jargon “perang melawan terorisme”. Ya, perang agama menurut kedua belah pihak ; versi Islam dan versi Barat. Inilah hakekat yang terjadi, sekalipun banyak pemerintahan dan cendekiawan “moderat” dunia Islam yang memilih menjadi burung onta, membenamkan kepalanya ke dalam pasir, lari dari kenyataan ini.
Ketika AS dan sekutu-sekutunya menyatakan “Kami tidak memerangi Islam, kami hanya memerangi teroris dan fundamentalis Islam”, maksudnya adalah Islam-Amerika, Islam “moderat” yang tunduk kepada AS, bahkan memberikan legitimasi kepada AS dan sekutu-sekutunya untuk menjajah dunia Islam.
Itulah Islam yang menjadikan seorang muslim sebagai kaki tangan setia AS, bekerja keras demi “kepentingan dan keamanan nasional” dengan memerangi kaum muslimin. Islam yang menerima sistem politik demokrasi liberal, sistem ekonomi kapitalisme, dan sistem sosial dan budaya yang serba permisif. Islam yang menerima segala keinginan dan tekanan AS, sampai akhirnya menjadi Islam li-Amrika (berserah diri kepada AS), bukan Islam Lillah (berserah diri kepada Allah Ta’ala).
Adapun Islam yang tegak di atas tauhid dan kufur kepada taghut, memberikan loyalitas (wala’) kepada sesama muslim dan anti loyalitas (bara’) kepada non muslim, memberikan perlawanan kepada agresor Israel dan AS dari bumi Palestina, Jazirah Arab, Afghanistan dan seterusnya, maka peradaban Barat menyatakan perang abadi dan konflik peradaban dengannya.

Sekaligus Perang Salib

Untuk menyimpulkan bahwa perang besar ini adalah perang salib, tentu umat Islam tidak terlalu bodoh dengan menunggu pernyataan yang keluar dari mulut setiap pemimpin Barat bahwa perang ini adalah perang salib. Meskipun, pemimpin pasukan koalisi sendiri, George W. Bush, beberapa kali telah menegaskan hal itu.
Cukup untuk menarik kesimpulan bahwa ini adalah perang salib, dengan melihat dua realita di lapangan. Pertama, apakah mereka yang melancarkan perang ini adalah orang-orang Nasrani ? Kedua, apakah doktrin-doktrin Nasrani dijejalkan dan mewarnai perang ini ? Jika kedua sifat ini telah terkumpul, tak terbantahkan lagi bahwa perang ini adalah perang Salib. Umat Islam harus menyikapinya sebagai sebuah perang salib modern, sekalipun AS dan sekutu-sekutunya berusaha keras untuk menutup-nutupi dan mengingkarinya.
Sekalipun dunia Barat mengalami kegersangan keagamaan dan gereja-gereja mulai ditinggalkan oleh masyarakat sebagai pengaruh dari sekulerisme, namun dalam setiap kali peperangan, agama menjadi faktor pertama dan utama yang menjadi motif pendorong dan mengintrepretasikan sikap.
Negara AS sendiri terbentuk sebagai hasil tekanan Katholik Roma terhadap Kristen Protestan. Para pelarian Kristen Protestan dari Eropa berduyun-duyun ke benua Baru, dan membasmi suku asli Indian, lagi-lagi dengan motif agama. Mereka menganggapnya sebagai peperangan bangsa Israel melawan imperium Romawi.
Imigran Eropa yang menetap di Amerika — mereka menyebut Amerika sebagai New World — merupakan kalangan puritan Kristen. Mereka berbicara dengan bahasa Ibrani dan memberi nama putra-putri mereka dengan nama dari bahsa Ibrani. Seperti Sarah, Abraham, David, Isaac, Moses dan lain-lain. Mereka juga memberi nama-nama kota dengan bahasa Ibrani seperti kota Salem yang berasal dari kata Shalom. Buku yang pertama kali berbicara tentang New World juga memakai bahasa Ibrani, berjudul Pay Psalm, berasal dari bahasa Ibrani Psalm yang merupakan bagian dari kidung-kidung yang dinyanyikan jemaat gereja.
Kaum puritan langsung memberi izin pendirian tempat ibadah Yahudi jauh hari sebelum mereka memberi izin yang sama kepada umat Katholik. Di universitas-universitas, bahasa Ibrani menjadi bahasa wajib, apalagi di Universitas Imanuel, Cambridge. Bahasa Ibrani (Yahudi) dan studi-studi tentang Yahudi mulai masuk Universitas Harvard yang berdiri tahun 1636 M.
Reuben Fink dalam America and Palestine menulis, seseorang tidak akan diterima di universitas selama belum mampu menerjemahkan Taurat berbahasa Ibrani ke dalam bahasa latin. Seorang alumni angkatan pertama di Universitas Harvard tahun 1642 M menulis skripsinya dengan judul “Hebraea est Lingiarum Mater” (bahasa Ibrani adalah bahasa ibu/induk). Kaum puritan sendiri menganggap dirinya sebagai Children of Israel dan menjadikan hari Sabtu sebagai hari libur.
Setiap kali terjadi perang, fikiran bangsa Amerika segera kembali kepada motif agama. Agamalah yang akan menginterpretasikan peperangan tersebut. Tak terkecuali, dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua, serta perang Arab-Israel. Bahkan, bangsa Amerika menganggap Perang Teluk Kedua (1991 M) sebagai awal dari perang kekuatan kebaikan melawan kekuatan kejahatan (Armagedon). Faktor keagamaan begitu kuat dan bercampur baur dengan politik dan perang.
Aliansi salibis-zionis internasional ini bukan sebuah kebetulan atau kepentingan sesaat. Aliansi ini adalah ideologi bangsa Amerika dan Barat. Para pakar sejarawan Barat seperti Hudson Winthrop dalam Religion in America (1973), Louis Casper dalam The Fundamentalist Movement (1963), Ernest R. Sandeen dalam The Origins of Fundamentalism (1968), Sydney E. Ahlstrom dalam A Religion History of the American People (1975) dan George Holar dalam A History of Fundamentalism in America (1973) menyebutkan keyakinan umat Kristiani dalam masalah Israel dan Yahudi sebagai berikut :
1) Keyakinan tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, yang terpenting adalah :
• Tuhan telah memilih Yahudi sebagai bangsa pilihan.
• Palestina adalah tempat ibadah dan kerajaan Israel yang telah ditentukan oleh Tuhan.
• Tuhan menghukum Yahudi karena mereka melanggar ajaran-Nya.
• Meski demikian Tuhan tidak akan menyelisihi janji-Nya kepada bangsa pilihan-Nya.
• Tuhan mengutus Yesus untuk menyelamatkan dunia, tapi bangsa Yahudi saat itu memusuhinya.
2) Keyakinan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, yang terpenting adalah :
• Tuhan telah menggariskan kembalinya Yesus ke dunia untuk memberi kabar gembira tentang kerajaan Tuhan.
• Hal itu baru terlaksana bila Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan telah dikembalikan ke tanah air mereka yang dijanjikan sebagai awal kembalinya Yesus sekali lagi.
• Berdirinya Israel Raya tahun 1948 M di Palestina dan takluknya Al Quds di bawah pemerintahan Israel untuk pertama kalinya setelah lebih dari 2000 tahun lepas dari tangan mereka, merupakan tanda semakin dekatnya kehadiran Yesus di bumi.
• Setiap individu, organisasi atau negara yang menentang Israel berarti telah melawan kehendak Tuhan dan menghalang-halangi janji Taurat, ia musuh Tuhan yang terkutuk.
Saat Bush mengumukan perang melawan terorisme (kaum muslimin) sebagai “Crusade”, ia tidak keseleo lidah, ngelantur, atau mengigau. Ia hanya mengungkapkan perasaan dan ideologi bangsa Amerika dalam setiap kali terjadi perang. Ia hanya menyampaikan pandangan dan perasaan bangsa Barat terhadap peradaban Islam. Istilah-istilah pengganti lainnya ternyata juga kembali kepada satu makna, motif agama dan perang salib. Setelah dikritik dalam penggunaan istilah “Crusade”, Bush menggunakan istilah “Operation Infinitive Justice”. Menurut Scot Rosenberg, redaktur eksekutif http://www.salon.com, ternyata “Infinitive Justice” juga berasal dari istilah Kristen, yang jika dirunut, kembali kepada satu kata, yaitu “Perang Salib”.
Demikianlah, perang melawan terorisme yang digalang oleh AS, Barat dan antek-antek dari dunia Islam, sejatinya adalah perang agama, perang salib, perang terhadap Islam dan kaum muslimin. Targetnya adalah umat Islam, sampai kepada titik mengganti kurikulum pendidikan agama agar sesuai dengan nilai-nilai dan keinginan Barat. Upaya apapun untuk mengkaburkan hakekat ini, justru kontra produktif dan menguntungkan musuh.
Maka, hanya ada dua pilihan, tiada pilihan ketiga ; anda bersama kekuatan perlawanan Islam atau aliansi salibis-zionis-paganis-komunis internasional. Jika anda memilih tidak peduli, netral dan menonton sambil menunggu siapa pemenangnya, berarti anda telah berbuat konyol. Minimal, anda telah berpangku tangan dari menolong Islam dan kaum muslimin disaat diperangi dan dizalimi di seluruh penjuru dunia. Maksimal, anda rela dan ikut kepada keinginan aliansi salibis, dan dalam bahasa syariat itu disebut murtad. Bila anda kurang beruntung “sedikit”, pasukan perlawanan Islam akan terkalahkan —laa samahallahu—, dan pandangan aliansi salibis akan teralih kepada anda. Giliran anda telah tiba, untuk disembelih, dinodai, dizalimi dan dimurtadkan.
Benarlah Bush ketika mengatakan kepada seluruh dunia :
“ Every nation in every region now has a decision to make. Either you are with us or you are with the terrorists. From this day forward, any nation that continues to harbor or support terrorism will be regarded by the United States as a hostile regime.”
Perang-perang salib lama tidak pernah membeda-bedakan “ini teroris (mujahid, fundamentalis Islam)” dan “ini muslim moderat”. Semua yang beragama Islam dilibas, termasuk para ulama dan kaum sufi yang mengucilkan diri untuk beribadah. Bahkan kaum Yahudi dan Kristen yang hidup di kota Al-Quds juga mereka libas. Hanya dalam kondisi perkecualian umat Islam bisa selamat dari keganasan mereka. Kondisi tersebut adalah di saat umat Islam mau melepaskan sebagian prinsip agamanya dan mengikuti keinginan atau ideologi pasukan salib, yang biasanya mencapai taraf murtad dari Islam.

{وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا}[البقرة:217]
” Mereka akan senantiasa memerangi kalian sampai mereka mengeluarkan kalian dari dien kalian, jika mereka mampu.” (QS. Al-Baqarah :217).
Demikian juga dengan perang salib modern. Ia tidak akan pernah membedakan “ini mujahid”, “ini non mujahid”, “ini salafy jihadi”, “salafi ishlahi”, “salafi tarbawi”, “ikhwani” atau bahkan “rasionalis lliberal dan moderat”. Bagi aliansi salibis-zionis, semuanya sama. Atau menurut majalah Inggris, Times, edisi 16 Juni 1992 M,” Tidak ada perbedaan antara kaum moderat dan kaum fundamentalis, mereka sama-sama Islam.”
Umat Islam yang saat ini belum menjadi target tidak perlu gembira, merasa aman atau bertepuk tangan menjadi suporter perang salib AS dan sekutu-sekutunya. Jika saat ini belum diusik, giliran kedua akan menunggu mereka. Bila saat ini AS dan sekutu-sekutunya belum mengusik, itu dikarenakan sibuk melawan musuh dalam daftar rangking teratas (gerakan salafiyah jihadiyah). Setelah musuh rangking pertama diselesaikan, giliran berikutnya akan segera digarap.
Seluruh gerakan dan kelompok umat Islam akan menjadi target korban perang salib modern ini. Tidak akan ada yang selamat, sekalipun itu lembaga-lembaga pendidikan Islam dan lembaga bantuan sosial Islam, terlebih lagi gerakan-gerakan lain. Oleh karenanya, seluruh gerakan dan kelompok Islam harus bersatu padu melawan perang salib modern ini. Tanpa ada kerjasama dan bahu membahu seluruh kelompok Islam, gerakan perlawanan gerakan-gerakan salafiyah jihadiyah di seluruh dunia akan kurang efektif dan menggigit.
Jika sebagian besar umat Islam masih bersikap “wara'” (ragu-ragu, menjauhi) jihad melawan penguasa murtad, maka jihad melawan aliansi salibis-zionis-paganis-komunis internasional ini tidak ada keraguan dan perselisihan pendapat lagi. Bahkan, menurut hukum kafir internasional (PBB) sekalipun, posisi aliansi salibis-zionis internasional adalah sebagai pihak agresor, imperialis, penyerang dan penyulut perang. Umat Islam, menurut hukum kafir internasional sekalipun (terlebih menurut syariat Islam) dalam posisi membela diri, defensif. Inilah tuntutan syariat dan kondisi kekinian, maka hendaklah seluruh kelompok Islam menaruh perhatian serius terhadap usaha ini.
Wallahu a’lam bish shawab.

[diarysangteroris.blogspot.com/thoriquna.wordpress.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: