Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Pengamanan Catatan Dan Data-data (bag 4)

Pengamanan Catatan Dan Data-data (bag 4)



Orang yang menunggu kesempatan untuk menyerang musuh harus tahu data-data tentang musuhnya itu. Data-data seperti ini bisa diperoleh dengan dua cara:
1. MENYUSUP KE DALAM ORGANISASI, caranya:
a. Menanam agen di dalam organisasi tersebut.
b. Merekrut salah satu anggota organisasi tersebut untuk dikader.
2. MEMATA-MATAI KEGIATAN ORGANISASI MELALUI LANGKAH-LANGKAH BERIKUT:
– Mengawasi, meneliti, memeriksa secara diam-diam, menginvestigasi, dan cara-cara lain yang biasanya dilakukan secara diam-diam. Terkadang juga bisa dilakukan secara terang-terangan jika ia adalah penguasa diktator.
Cara Memenuhi Keamanan Sebuah Jamaah adalah:
1. Menjaga fikroh (pemikiran) anggota-anggotanya dari penyusupan. Yaitu melalui pembinaan (tarbiyah) secara berkesinambungan, menyampaikan tema-tema kekinian, dan memproteksi mereka dari pengaruh-pengaruh media informasi musuh.
2. Mencegah agar jangan sampai terjadi penyusupan. Caranya adalah dengan menjalankan aktifitas keorganisasian sesuai tahapan-tahapan yang telah dipelajari dan diprogram. Kemudian mengumpulkan data-data yang cukup tentang masing-masing orang yang akan direkrut menjadi anggota. Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah:
Tahapan pertama: Pengamatan dan Seleksi
Dalam fase ini, pertama kali yang dilakukan adalah menilai orang yang hendak dijadikan anggota berdasarkan berbagai kriteria yang harus dipenuhi. Langkah pertama yang dilakukan kepada siapapun dalam hal ini adalah mengajukan pertanyaan, dan harus ada standart minimal keilmuan pada setiap anggota. Ini bisa dilakukan tanpa kedua belah fihak harus saling mengenal. Tahapan ini bisa kita katakan sebagai tahap awal pengarahan.
Tahapan kedua: Meneliti Dan Mengumpulkan Data-data
Ketika seseorang telah berhasil melewati tahapan pertama tanpa ada cacat apapun, maka kita mulai untuk mengumpulkan data-data yang terperinci tentang dia. Ini harus dilakukan dengan sangat rahasia, tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Dalam kondisi ini, orang itu baru bisa dinilai meyakinkan jika dinilai berdasarkan beberapa point berikut:
a. Mengetahui Masa Lalunya; artinya, ia bersih dari kendali pihak manapun yang bisa mempengaruhinya di masa mendatang, seperti pernah memiliki keterkaitan dengan sebuah partai politik namun apa penyebab ia meninggalkan partai tersebut tidak diketahui banyak orang, yang mengetahuinya hanya orang-orang tertentu atau pihak berwenang yang bersangkutan. Atau, ia pernah terlibat kasus pencurian (korupsi), memiliki perilaku menyimpang, atau faktor-faktor lainnya, masa lalu seperti ini bisa memberi kesempatan kepada musuh untuk menyetir orang ini dengan imbalan aibnya tidak akan dibongkar, lalu musuh akan mengendalikannya sesuai kepentingannya.
b. Mengetahui Keyakinannya Tentang Perkembangan Politik Masa Kini: ini bisa dilakukan dengan bertanya kepada orang lain, kerabatnya, teman dekatnya, atau rekan kerjanya. Karena, biasanya sikap keyakinan seseorang terhadap masalah politik akan tampak melalui dialog dengan orang lain; karena bisa jadi, sistem demokrasi menjadi keyakinan berpolitik yang paling cocok menurutnya dan bahwa demokrasi adalah contoh riil adanya penyamarataan antara seluruh anggota masyarakat, atau meyakini bahwa perbedaan kelas dalam masyarakat yang demokratis adalah penyebab menderitanya kehidupan bangsa-bangsa. Dan bisa jadi dia meyakini prinsip yang lain…dst.
c. Mengetahui Pemikirannya Tentang Permasalah Masa Kini: Kapasitas pemikiran anggota harus diketahui, sebab ini akan menjadi faktor terpenting dalam menertibkan dan menyatukan anggota-anggota. Kejelasan manhaj dan pemikiran yang sama-sama diyakini oleh anggota sebuah jama`ah menjadikan perselisihan yang timbul di kalangan anggota hanya terbatas pada masalah-masalah khilafiyah yang mu’tabar. Sedangkan ketidak jelasan manhaj akan memicu perselisihan-perselisihan yang besar.
Setelah selesai dari dua tahapan di atas, ia harus dibentuk seperti ini:
a. Pengikut setia terpercaya: yaitu orang yang memberikan wala’ secara total hanya untuk Alloh `Azza wa Jalla, dan kemungkinannya untuk menyerah kepada tekanan-tekanan dari luar sangat kecil.
b. Non-Pengikut Setia: yaitu orang yang tidak menganut prinsip wala` yang total dalam beragama, ia merasa dirinya bersikap loyal kepada fihak lain karena menganut pemikiran-pemikiran yang diimpor ke dalam masyarakat dan negerinya.
c. Tak Terpercaya: Yaitu orang yang dalam hidupnya terlibat di dalam masalah keamanan karena suatu kesalahan, sehingga ketika ada fihak luar yang menekan maka ia menjadi tidak berdaya.
Tahapan Ketiga: Membangun Hubungan
Dalam tahapan ini, hubungan harus dijalin antara orang yang terlibat dalam aktifitas keorganisasian dengan orang yang hendak direkrut dijadikan anggota sehingga ia faham apa itu Islam, dan membentuk himpunan pemikiran untuk mendukung keberlangsungan perjuangan. Hubungan itu adalah sebagai berikut:
1. Hubungan kemasyarakatan, yaitu untuk mengikat seseorang dengan Jamaah dan mengikut sertakannya untuk turut merasakan suka duka dan cita-citanya.
2. Hubungan pemikiran, yaitu untuk menyatukan pandangan dan metode dalam berjuang.
3. Eksperimen: Yaitu mencobanya untuk melakukan sebuah operasi intelejent untuk memastikan kelayakannya kepribadian, kesehatan dan akal. Test-test psikologi juga harus diberlakukan untuk mengukur kemampuannya dalam menutup rahasia, kestabilan emosi (semangat), semangat bekerja sama, bertindak cepat, kebaikan akhlak dan moral, setelah itu meletakkannya di posisi yang tepat.
4. Tahap ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu:
– Sosok terbuka
– Sosok rahasia
– Pimpinan (Qoid).
Pengamanan tiga unsur di atas:
1. Sosok terbuka –yang berbaur dengan masyarakat—:
a. Ia bukan orang yang ekstrim, tidak banyak bertanya tentang hal-hal yang tak bermanfaat baginya, hal itu bertujuan agar tidak merusak pekerjaan teman-temannya yang lain yang jauh lebih penting.
b. Jangan menitipkan nama-nama, alamat-alamat atau nomor-nomor telephone orang kepadanya. Jika itu terpaksa dilakukan, pastikan keamanannya terjaga.
c. Jika terjadi situasi keamanan yang janggal atau ada tanda-tanda akan terjadi penangkapan, orang ini harus meminimalisir pergerakan terutama ke tempat-tempat tak lazim, apalagi jika dia berpenampilan Islami. Dalam masa-masa seperti ini, sebaiknya ia tidak menginap di rumah; sebelumnya harus sudah disiapkan tempat untuknya.
d. Ia bukan orang yang banyak bicara (cerewet) yang membicarakan apa saja yang dia ketahui atau dia dengar, apalagi tentang program-program Jamaah yang penting.
e. Ketika ia berbicara di telephone, kata-katanya jangan mengandung hal-hal yang bernilai bagi musuh.
f. Hubungan yang ia jalin dengan tokoh-tokoh strategis, seperti tentara, polisi dan posisi-posisi strategis lainnya, harus benar-benar diamankan dengan baik, agar selanjutnya ia bisa merambah ke petinggi khusus mereka. Ketika berinteraksi dengan mereka, perhatikanlah: lokasi, waktu, besar kecil informasi. Ini penting agar ia tidak terlalu cepat terdeteksi sebelum sempat meraih suatu hasil dari mereka. Untuk akfititas kirim dan terima surat, hendaknya dilakukan dalam kerangka umum saja, di dalamnya jangan berisi informasi yang bisa menguntungkan musuh. Dan, suratnya harus segera dibakar, langsung setelah selesai dibaca.
2. Sosok Rahasia –yang bekerja di dalam Sel—
Di samping langkah-langkah pengamanan yang sudah disebutkan pada sosok terbuka tadi, langkah-langkah berikut harus dijalankan:
a. Menjaga penampilan umum agar jangan terlalu menunjukkan identitas keislaman –jenggot, jilbab, siwak, membawa mushaf dan buku-buku dzikir kecil…dst—.
b. Menjaga keluarnya kata-kata atau sikap yang populer di kalangan ikhwan, seperti melakukan penampilan-penampilan tertentu, mengucapkan: Jazakalloh khoiro dan sering mengucapkan salam ketika masuk atau keluar rumah.
c. Harus ada cover yang sudah disiapkan sebelumnya di mana saja ia bergerak, baik di apartemen, negara, wilayah, sarana komunikasi dan lain sebagainya.
d. Ia harus selalu membawa bukti identitas palsu yang sudah dia ketahui dengan baik data-datanya dan semua yang terkait dengannya.
e. Jangan mencoba melakukan Amar Makruf Nahi Munkar sehingga bisa mengundang perhatian lalu merusak misinya. Sebab, dengan jihad fi sabilillah yang sedang ia jalankan, ia tengah berjuang untuk mengingkari kemungkaran yang lebih besar.
f. Hubungan dia dengan sosok terbuka harus aman, dan jangan dilakukan kecuali sangat terpaksa.
g. Sebaiknya menguasai dialek bahasa setempat yang tercantum di dalam kartu identitasnya atau tempat di mana ia tinggal untuk menjalankan misi, sehingga tidak ada kesan bahwa dia adalah orang asing, atau gara-gara logatnya ia bisa diketahui tempat asalnya, seperti logat Mesir, Teluk…dst.
h. Jangan sering-sering mengunjungi tempat-tempat Islami yang populer, seperti masjid, tempat-tempat Islami ataupun perpustakaan Islam.
i. Mengirim dan menerima surat harus dengan tulisan rahasia atau kode tertentu.
j. Pembicaraan via telepon harus menggunakan kode khusus.
3. Pimpinan (Qoid): Baik pimpinan dalam misi terbuka atau rahasia.
Pemimpin memiliki nilai sangat penting yang istimewa, karena:
a. Besarnya informasi yang ada pada dirinya.
b. Sulitnya mencari pengganti posisi pemimpin.
Oleh karena itu, pengaturan-pengaturan keamanan pada diri anggota yang telah disebutkan di atas itu harus lebih ketat lagi dijalankan dalam diri seorang pemimpin. Dan harus disiapkan fasilitas dalam jumlah besar untuk mengamankan pimpinan.
Catatan Penting: Untuk ikhwan yang sudah menikah, ingat:
1. Jangan bercerita kepada isteri urusan-urusan yang terkait dengan aktifitas perjuangan Islam.
2. Jangan mengedepankan perasaan dalam menyikapi semua urusan perjuangan.
Tahapan keempat: I‘dad
1. Pendidikan Politik Syar‘i untuk menanamkan nilai-nilai din dan akhlak dalam diri anggota.
2. Latihan Militer (Tadrib Askari), disarankan untuk tidak memberikan pelatihan militer kepada anggota, apapun bentuknya, kecuali setelah melatih kepekaan intelejen mereka dan mengkelompokkan mereka sesuai kemampuan intelejent tersebut, lalu menggabungkannya dalam regu-regu yang sesuai.
Tahapan Kelima: Pengawasan
Tujuannya untuk memastikan terealisasinya materi-materi intelejent tadi dan supaya tidak terjadi penyusupan dari musuh dalam bentuk apapun. Secara berkala, hendaknya dijalankan langkah-langkah berikut ini:
1. Mengkontrol perkembangan psikologis anggota, supaya anggota tidak menjalankan suatu proyek tanpa pengkajian terlebih dahulu akibat semangat yang berlebihan.
2. Mencek pengetahuan anggota tentang materi intelejen terbaru.
3. Mengoreksi kesalahan anggota dan menempatkannya pada posisi yang tepat.
4. Mengkaji kesalahan apapun bentuknya dan segera menanggulanginya, dengan:
a. Memperbaiki kesalahan tersebut dan memindahkan pelakunya dari posisi rahasia ke posisi terbuka.
b. Menon-aktifkan anggota ketika ternyata terbukti ia sulit dikendalikan.
Tahapan keenam: Menjatuhkan sanksi-hukuman;
Dalam menjatuhkan sanksi, harus diperhatikan pertimbangan-pertimbangan berikut ini, khususnya yang menyangkut aspek keamanan:
1. Hukuman yang dijatuhkan harus setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan, untuk memastikan bahwa kesalahan itu tak akan terulang lagi.
2. Mengkarantinakan siapa saja yang terbukti tertuduh.
Ringkasan:
1. Jangan bercerita tentang dirimu, tentang kegiatanmu dan kegiatan orang lain.
2. Jaga selalu prinsip: Informasi sesuai keperluan.
3. Tidak membawa data rahasia apapun ke dalam rumah, walaupun untuk mempelajarinya.
4. Jangan terpancing provokasi dan hasutan.
5. Hindarilah berbicara dengan suara tinggi, biasakan berbicara selalu dengan suara pelan.
6. Waspadai pengawasan telpon.
7. Waspadai pancingan secara bertahap dari musuh dan tekhnik-tekhniknya.
8. Letakkan data-data rahasia di tempat yang aman dan jangan memindahkannya.
9. Pastikan tempat-tempat penyimpanan data –arsip— terkunci dengan baik.
10. Waspadailah alat-alat penyadap.
11. Periksa, adakah alat-alat penyadap, ketika memasuki tempat kerja.
12. Jangan mendahului kejadian.
13. Hindari pengaruh-pengaruh umum, seperti teman yang jahat dan lain sebagainya.
14. Hindarilah membuat permasalahan umum di tempat di mana Antum tinggal atau di tempat bekerja supaya tidak mengundang perhatian orang. Sebab watak manusia itu memperhatikan orang yang membuat masalah, mengawasinya untuk mengetahui siapa dia, atau hanya sekedar ingin tahu. Ini bisa mengakibatkan identitas Antum terbongkar.
ASPEK-ASPEK PENGAMANAN DATA DAN CATATAN:
Pertama: Percetakan (Printing)
Kriteria pengamanannya adalah:
1. Memilih orang-orang terpercaya dalam mencetak, menyimpan dan menyebarkan data-data rahasia.
2. Sebaiknya percetakan yang mencetak data-data rahasia itu satu saja, alat percetakannya pun satu, sehingga mudah ketika hendak mengamankan tempat, baik menentukan lokasi atau menjaganya.
3. Sediakan tempat yang aman untuk membakar tinta, karbon, dan sisa-sisa teks dari data-data rahasia itu.
4. Tidak men-copy data-data rahasia melebihi kebutuhan.
5. Membubuhkan peringatan tingkat pengamanan yang tepat di bagian atas dan bawah setiap lembar catatan.
Kedua: Membubuhkan Tulisan
Maksudnya, mengatur pengamanan data-data dengan langkah tertentu, biasanya diletakkan di awal dan di akhir data. Untuk lembar catatan dan gambar misalnya, cara mengamankannya adalah memberi warna merah pada awal halaman, bagian bawah dan atasnya, kemudian setiap lembaran diberi nomor. Untuk data dalam kaset rekaman, cara mengamankannya adalah dengan membubuhkan tulisan di atasnya, bisa sebelum merekam atau setelah selesai. Yang penting, letakkan langkah pengamanan yang tepat, tidak berlebihan dan tidak meremehkan.
Pentingnya Membubuhkan Tulisan:
1. Untuk menunjukkan penting dan bahayanya sebuah data.
2. Menentukan tingkat keamanan yang diperlukan bagi sebuah data.
3. Menentukan, apakah data itu hendak diserahkan ke orang lain atau disebarluaskan.
4. Menentukan bagaimana cara mengamankan data tersebut.
Tingkatan-tingkatan Tulisan Yang Dibubuhkan:
1. Sangat Rahasia: Tulisan ini dibubuhkan pada data-data yang berisi informasi-informasi yang sangat rahasia. Di simpan di brangkas-brangkas besi yang kuat dan memiliki gembok yang kuat yang harus ditarik, kemudian diberi penjagaan. Data-data seperti ini berisi: Informasi-informasi strategis tentang sebuah negara dan musuh, serta keputusan-keputusan penting dalam negara.
2. Rahasia: Tulisan ini dibubuhkan pada data yang berisi informasi tentang amaliyah-amaliyah, tak-tik, keputusan-keputusan berbahaya yang penting. Sebaiknya data-data seperti ini juga disimpan di dalam brangkas-brangkas besi.
3. Tertutup: Tulisan ini dibubuhkan pada data-data yang berisi informasi yang tidak boleh disebarluaskan kecuali kepada para penanggung jawab. Biasanya, data-data seperti ini disimpan di dalam almari-almari besi yang dikunci.
4. Terlarang: Tulisan ini dibubuhkan pada data-data yang berisi informasi yang akan disebarkan secara resmi, ia tidak memiliki tingkat kerahasiaan yang tinggi tapi bukan untuk disebarluaskan kepada sebagian besar anggota. Biasanya diletakkan dalam almari terkunci yang juga berisi majalah-majalah dan buku-buku terlarang.
5. Tidak Rahasia: Yaitu data-data umum, biasanya dituliskan kode: G.D.S atau kadang tidak ditulis kode sama sekali.
Pada data-data yang tingkat kerahasiaannya tinggi, bisa dibubuhkan tulisan: Sangat sangat Rahasia pada bagian atas data bagian kiri, kemudian dibubuhkan jumlah halaman, jumlah copy-an, nomor setiap teks copy-an, dan tujuan yang dituju. Tidak boleh men-copy naskah data yang memiliki tingkat kerahasiaan tinggi sebagai cadangan kecuali melalui perantara penerbit yang berwenang atau yang diserahi untuk menulisnya.
Ketiga: Penyebaran Data
1. Jangan membubuhkan tulisan “pribadi” pada amplop yang diberi alamat kecuali jika dikirim melalui seseorang atau yang mewakilinya ketika orang tersebut tidak ada.
2. Ketika seseorang membaca data rahasia, ia harus membubuhkan tanda tangan di atas kertas tentang tanggal data tersebut yang menjelaskan kapan ia membacanya, dan kapan tanggal ia akan mengembalikannya.
3. Dilarang memindahkan data rahasia dari tempat penyimpanannya dan meletakkannya di tempat orang lain.
4. Penyebaran data rahasia sebaiknya dilakukan dari tangan ke tangan, atau melalui perantara seseorang.
5. Ketika mengirim data yang sangat rahasia, maka hendaknya data itu diletakkan di dalam amplop double: pada amplop luar ditulis: rahasia, pada amplop dalam ditulis: sangat rahasia. Hal ini supaya tidak mengundang perhatian orang-orang asing terhadap data tersebut.
6. Data-data rahasia yang hendak dikirim keluar tempat penyimpanan hendaknya ditutup dengan lilin merah ketika mengirimnya.
Memusnahkan data:
1. Jangan memusnahkan data apapun selain melalui persetujuan fihak yang mengeluarkannya.
2. Data hendaknya dimusnahkan sampai tidak bisa lagi dikumpulkan kembali, dengan menggunakan berbagai alat pemusnah. Dan harus ada tempat khusus untuk memusnahkannya.
Kehilangan Data:
Ketika terjadi kehilangan data, langkah-langkah berikut ini harus diambil:
1. Segera memberitahu dan jangan menunda-nunda.
2. Membentuk tim investigasi segera.
3. Tim investigasi mengkaji langkah-langkah yang seharusnya dilakukan dan kesalahan-kesalahan yang menyebabkan hilangnya data, sehingga kejadian serupa tak terulang lagi.
4. Kerahasiaan data lama-kelamaan akan habis seiring berjalannya waktu, masa habis kerahasiaan data tergantung kepada jenis data tersebut.
Nabi n dahulu mengajari para shahabatnya untuk menjaga rahasia-rahasia pribadi beliau. Meskipun semangat para shahabat guntuk menyebarluaskan dan menyampaikan kepada umat apa yang mereka lihat dan dengar dari beliau, namun kepekaan intelejent pada diri mereka sangat tinggi. Masing-masing mereka tahu apa yang harus disebarluaskan dan apa yang harus ditutupi dari Nabi n tanpa harus beliau komando. Bahkan anak kecil dari mereka sudah tahu urusan seperti ini, di dalam buku-buku Sunnah banyak sekali ditemukan kisah-kisah yang menegaskan kepekaan intelejent tersebut. Di antaranya adalah:
1. Ahmad meriwayatkan dari Abu `d-Darda’aia berkata: “Rosululloh n bersabda:
مَنْ سَمِعَ مِنْ رَجُلٍ حَدِيْثًا لاَ يَشْتَهِيْ أَنْ يَذْكُرَ عَنْهُ فَهُوَ أمَانَةٌ وَإِنْ لَمْ يَسْتَكْتِمْهُ

“Barangsiapa mendengarkan kata-kata dari seseorang yang dia tidak suka kata-kata itu diceritakan, maka itu adalah amanah meskipun ia tidak meminta untuk merahasiakannya.”
2. Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan dari Abdulloh bin Ja‘farhia berkata: “Rosululloh n pernah memboncengkanku di belakang kendaraannya suatu hari, kemudian beliau membisikkan rahasia yang kemudian aku tidak pernah menceritakannya kepada siapapun.”
Ada jenis pengamanan lain yang disebut: Pengamanan Cadangan (Antisipasi). Salah satu tekhnik dari cara pengamanan ini adalah menggunakan data-data palsu sebagai pelindung demi mengelabui musuh, supaya energi mereka terkuras untuk membongkar isi di balik data-data palsu ini.
Yang penting, semakin kita mengerti betapa berartinya data-data bagi musuh, walau sekecil apapun, maka kita akan selalu sadar betapa pentingnya data yang kita ketahui, di mana jika data itu tersebar maka musuh akan mengambil keuntungan tanpa kita sadari.
Untuk lebih bisa difahami, kami beri contoh:
Jika musuh menemukan data misterius yang menyebutkan bahwa mujahidin sedang akan segera melaksanakan sebuah operasi besar, tapi data itu tidak menyebutkan kapan dan di mana operasi itu akan dilaksanakan, dan tidak juga menyebutkan cara eksekusi serta jumlah pelakunya… Setelah itu, musuh juga menemukan data lain yang menunjukkan adanya aktifitas jual beli alat-alat militer, senjata, amunisi dan makanan dari sebuah lokasi tertentu…Kemudian, musuh kembali menemukan data yang menunjukkan adanya pergerakan sekelompok mujahidin menuju pegunungan yang mengelilingi sebuah kota…Kemudian musuh kembali menemukan data lain yang menyerukan agar Mujahidin berdiam diri selama satu pekan penuh…Semua data-data ini, ketika ditemukan oleh musuh, mereka kumpulkan di satu pusat lalu mereka menganalisanya secara detail berdasarkan database yang mereka miliki sebelumnya kemudian mereka kaitkan semua data itu, maka mereka bisa menyimpulkan secara rinci apa yang akan dilakukan oleh Mujahidin.
Data pertama menunjukkan, sesuatu yang tidak beres akan terjadi. Berdasarkan hal ini, musuh mempergencar pengumpulan data untuk menyimpulkan apa jenis operasi itu, di mana dan kapan dilakukan?
Data kedua secara spesifik menunjukkan jenis persenjataan, berapa jumlahnya dan berapa jumlah makanan yang dari sana musuh bisa menyimpulkan berapa jumlah orang yang akan bergabung dalam operasi ini, meskipun sekedar perkiraan. Taktik operasi juga bisa diketahui melalui jenis senjatanya.
Data ketiga yang menunjukan pergerakan Mujahidin memungkinkan bagi musuh untuk menyimpulkan jumlah personel Mujahidin jika gerakan itu dilakukan secara terbuka. Tapi jika secara tertutup, musuh hanya bisa menyimpulkan wilayah dan cakupan target sasaran operasi.
Sedangkan melalui data keempat, musuh bisa menyimpulkan waktu pelaksanaan operasi, yaitu setelah sepekan berlalu, masa berdiam diri yang diperintahkan itu berarti merupakan persiapan terakhir untuk operasi, hal ini sudah cukup dikenal di dunia pertempuran.
Tapi perlu dicatat, analisa musuh terhadap data-data ini tidak berarti mereka yakin dengan analisa dan perkiraan mereka. Musuh hanya bersiap menjaga kemungkinan yang akan terjadi, jika ternyata perkiraan mereka tidak terjadi maka mereka hanya rugi pada aspek beban-beban yang harus mereka laksanakan, yaitu bersiap-siap dan berjaga-jaga. Ini bagi mereka jauh lebih ringan ketimbang kerugian kehilangan anggota dan alat-alat. Dan sadarilah, setiap hari musuh selalu menganalisa puluhan data seperti ini, dan kadang-kadang data itu menjadi kenyataan.
Kami tidak bermaksud menyembunyikan cerita ketika kami katakan bahwa sering kali kami enggan bercerita tentang amaliyat-amaliyat yang telah terjadi terhadap musuh, di mana hasilnya cukup menggembirakan hati kaum beriman. Sebab kami menilai lebih baik tidak menceritakannya demi tercapainya sebuah mashlahat, sebab menceritakannya bisa mempengaruhi sisi-sisi lain atau menguak informasi yang sebenarnya tidak perlu terbongkar.
Barangkali ada yang mengatakan: Lantas, mengapakah Mujahidin sendiri terkadang menampakkan informasi yang bisa memberi keuntungan kepada musuh?
Mujahidin adalah orang yang terlibat dalam sebuah urusan secara langsung, mereka tahu data mana yang harus disembunyikan, data mana yang harus disebarluaskan dan data mana yang harus disebarluaskan untuk mengelabui musuh. Mereka adalah orang yang paling mengerti apa mereka inginkan dan diinginkan oleh musuh mereka. Maka, sudikah sebagian kaum Muslimin memberi kesempatan kepada Mujahidin untuk mengorganisir perang informasi sebagaimana mereka memberi kesempatan untuk perang militer?…kita memohon hal itu kepada Alloh.
Pertama: Pentingnya Aspek Keamanan (Intelejent)
Bersikap waspada –atau yang hari ini sering diistilahkan sebagai security—merupakan sunnah yang syar‘i. Artinya, orang yang meninggalkannya berarti telah masuk dalam lingkup maksiat dan merupakan orang yang meremehkan sebab-sebab datangnya kemenangan dan tamkin. Padahal Alloh Ta‘ala berfirman:
( أُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ )
“Mereka (para Nabi) itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An‘am: 90)
Siapa yang melihat dengan pandangan i‘tibar akan melihat bahwa Alloh juga berfirman tentang Nabi Musa q:
( وَدَخَلَ اْلمَدِيْنَةَ عَلَى حِيْنِ غَفْلَةٍ مِّنْ أَهْلِهَا )
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah…” (Al-Qoshosh: 15)
Kemudian tentang Nabi Ibrohim q:
( قَالُوْا أََأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَاإِبْرَاهِيْم قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هَذَا )
“Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya…” (QS. Al-Anbiya’: 62)
Dan juga tentang Ibunda Musa:
( وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيْهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَّهُمْ لاَ يَشْعُرُوْنَ )
“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Qoshosh: 11)
Ibnul Qoyyim berkata tentang firman Alloh Ta‘ala:
( وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ))
“Alloh memelihara kamu dari (gangguan) manusia…” (QS. Al-Maidah: 67)
“Sesungguhnya jaminan Alloh untuk beliau ini tidak bertentangan dari sikap beliau yang melindungi diri dari gangguan manusia. Sama seperti maklumat dari Alloh bahwa Dia akan memenangkan agama-Nya di atas seluruh agama, ini juga tidak bertentangan dengan perintah-Nya untuk berperang, menyiapkan persenjataan dan kekuatan serta kuda-kuda yang tertambat, bekerja keras dan waspada, melindungi diri dari musuhnya dan memerangi mereka dengan berbagai tekhnik perang dan tipudaya.” (Zaadu `l-Ma‘ad: III/ 480)
Karena jujurnya penerimaan ilmu para shahabat, bersihnya pertemuan mereka dengan Rosul dan diiringi dengan niat yang ikhlas, pemahaman tentang aspek keamanan ini tertancap kuat di dalam diri para shahabat g, kemudian mereka mempraktekkannya di dalam kehidupan nyata. Lihatlah Anas bin Malik, ketika ia masih kecil, ia pernah bercerita: “…kemudian Rosululloh n mengutusku untuk suatu keperluan sehingga aku terlambat datang menemui ibuku. Ketika tiba, ibuku bertanya: “Apa yang menahanmu?” kukatakan: “Rosululloh n mengutusku untuk suatu keperluan?” “Apa keperluan beliau itu?” tanya ibuku. “Itu rahasia” jawabku.
Kedua: Prinsip-prinsip Mencapai Keamanan Dalam Perjuangan Islam
Prinsip pertama: Merealisasikan makna-makna Robbaniyah.
Maksud kami Robbaniyah adalah berjalannya sikap seorang muslim, baik sikap lahir maupun batin, secara teratur sesuai dengan syariat Robbnya –Jalla wa ‘Ala—. Alloh Ta‘ala berfirman:
( وَلَكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيِّيْنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ اْلكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ )
“Akan tetapi (mestinya ia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imron: 79)
Kerobbaniyah-an seorang Muslim artinya adalah mentaati Alloh Jalla wa ‘Ala, ketaatan inilah yang menjadi rahasia datangnya kemenangan dan keamanan, serta penyebab datangnya wilayah (perwalian/ perlindungan) dari Alloh kepadanya. Dan siapa yang dijadikan wali oleh Alloh, Alloh akan melindunginya dari kejahatan musuh-musuhnya. Karena Alloh lberfirman:
( قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيْدُوْنِيْ فَلاَ تُنْظِرُوْنِي، إِنَّ وَلِيِّيَ اللهُ الَّذِيْ نَزَّلَ اْلكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ )
“Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Alloh, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku).” Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS. Al-A‘rof: 196)
Sebenarnya, kekalahan-kekalahan dan luka-luka yang bertubi-tubi menimpa kaum Muslimin itu tidak lain karena maksiat yang mereka lakukan. Alloh lberfirman:
( أَوَلمَاَّ أَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ )
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. Ali Imron: 165)
Dalam hal ini, yang terpenting untuk diperhatikan adalah:
1. Menanamkan makna-makna Akidah Islam di dalam diri orang-orang Beriman, seperti akidah bahwa seseorang menjadi lebih tinggi daripada yang lain karena imannya, yang iman itu memberikan semangat kepada seorang Muslim dan menjaganya dari sikap lemah di hadapan makar agen-agen intelejen musuh. Alloh lberfirman:
( وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ)
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imron: 139)
Ini bisa diperoleh sembari mempelajari ilmu syar‘i, khususnya yang terkait dengan hukum-hukum dan fikih Jihad.
2. Memperhatikan pelaksanaan Akhlak Islami, salah satunya adalah Akhlak menjaga rahasia. Rosululloh n bersabda:
(أَرْبَعٌ مَّنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خُلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خُلَّةٌ مِّنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ )
“Empat hal yang barangsiapa keempat hal itu ada pada dirinya maka ia orang munafik tulen. Dan siapa di dalam dirinya ada salah satu sifat dari keempatnya, maka dalam dirinya ada salah satu sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya: Apabila berbicara berdusta, apabila bersepakat melanggar, apabila berjanji tidak menepati, dan apabila berseteru berbuat curang (jahat).” (HR. Bukhori)
Juga akhlak meninggalkan perdebatan jika itu tidak perlu, sebab Nabi n pernah bersabda:
( مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَيَعْنِيْهِ )
“Termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmizi)
Juga akhlak meninggalkan banyak bicara, Rosululloh n bersabda:
(كَفَى بِاْلمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ )
“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Prinsip Kedua: Selalu Sadar dan Waspada
Sebab kesadaran dan kewaspadaan adalah faktor tercapainya keamanan, baik secara syar‘i maupun qodari.
Prinsip Ketiga: Memahami Dengan Baik Sarana yang Digunakan Musuh
Sebab dengan begitu kita bisa mengetahui titik-titik kelemahan mereka dan mematahkan tujuan dari makar mereka…
(وَقَدْ مَكَرُوْا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُوْلَ مِنْهُ الْجِبَالَ )
“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Alloh-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (QS. Ibrohim: 46)
Pemahaman ini bisa dicapai dengan banyak hal, yang paling penting adalah:
1. Menyadari Sunnah-sunnah kauniyah, mengenal dengan baik kemajuan tekhnologi khususnya di bidang security. Misalnya mengenal alat-alat komunikasi, alat-alat pengintai dan penyadap…dsb.
2. Wawasan intelejent: yaitu mengenal lembaga-lembaga musuh, bagaimana sistem pelatihan mereka, metode-metode mereka dalam menyusup, peran mereka untuk menebar fitnah dan tekhnik-tekhnik spionase.
3. Melihat langsung kehidupan musuh secara nyata dan meneladani Nabi n yang bekerja keras demi mengetahui setiap kasus dari dekat.
Prinsip Keempat: Ketertiban Berorganisasi
Maksud ketertiban di sini adalah ketaatan yang sempurna kepada pimpinan jamaah. Yaitu meminta izin dalam setiap hal yang akan dikerjakan, bagaimana caranya, kapan waktunya, dan melaksanakan seluruh perintahnya hingga yang kecil-kecil. Allohlberfirman:
(يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ )
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kamu…” (QS. An-Nisa’: 59)
Hal-hal terpenting untuk bisa merealisasikan hal ini adalah:
1. Memahami keterkaitan antara keamanan dan ketertiban berorganisasi: maksud kami adalah memperdalam kesadaran tentang adanya keterkaitan yang kuat antara ketertiban berorganisasi dengan aman tidaknya sebuah perjuangan Islam. Kejadian dalam peristiwa Uhud merupakan bukti terbaik yang menunjukkan hal ini.
2. Menanamkan akhlak selalu meminta izin. Maksud kami adalah membiasakan diri untuk meminta pendapat pemimpin sebelum melaksanakan suatu pekerjaan. Alloh lberfirman:
( وَإِذَا كَانُوْا مَعَهُ عَلىَ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوْا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوْهُ )
“…dan apabila mereka berada bersama-sama Rosululloh dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rosululloh) sebelum meminta izin kepadanya…” (QS. An-Nur: 62)
3. Mengakui kesalahan. Yaitu bersegera memberitahu jika terjadi kesalahan, agar kaum Muslimin yang lain terhindar dari dampak negatifnya.
4. Menyikapi informasi dengan baik. Artinya, apa yang layak disebarkan dan ada yang tidak. Bagaimana caranya. Kapan. Semua ini tidak tercapai kecuali dengan memegang teguh aturan-aturan dalam berjamaah.
LANGKAH-LANGKAH MENGAMANKAN IDENTITAS:
1. Melakukan pemalsuan/ pengelabuan/ kamuflase dengan sempurna.
2. Menjaga data-data keterangan dengan baik dan kerahasiaan mutlak.
3. Jika Antum membawa catatan identitas yang asli dan tidak dipalsukan, maka kata-kata harus disesuaikan dengan perbuatan, baik ketika dalam perjalanan atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
4. Tidak membawa lebih dari satu identitas pada waktu yang sama.
5. Surat-surat yang dibawa harus dipassword dan tersamarkan, nomor telepone misalnya, bisa ditulis dalam format harga atau nomor induk pribadi.
6. Bisa saja menulis nomor telepone dan alamat-alamat yang diperlukan di dalam file word, setelah dibuat passwordnya yang panjang kemudian bisa disimpan di dalam E-mail (sebaiknya password terdiri dari huruf-huruf kecil, huruf-huruf besar dan angka secara berselang seling)
7. Untuk menyimpan hal-hal yang rawan, buatlah e-mail khusus, atau beberapa e-mail dengan satu alamat yang sama namun pada perusahaan penyedia e-mail yang berbeda-beda, karena dikhawatirkan akan terjadi kerusakan pada salah satu perusahaan. E-mail ini jangan digunakan untuk mengirim atau menerima surat dari dan kepada siapapun. Dengan kata lain, e-mail ini hanya khusus untuk menyimpan data-data seperti itu. Atau, ambillah lembar-lembar tugas dalam signer lalu simpanlah di dalam e-mail atau situs tertentu. Atau minimal, letakkanlah data-data itu di suatu tempat yang tak diketahui orang di dalam rumah, sehingga apabila terjadi apa-apa secara mendadak Antum bisa mengambil atau membakarnya, atau mengirimkan orang untuk melakukannya. Dan jangan panik ketika dalam kondisi seperti itu.
8. Jika tempat penyembunyian identitas terdapat celah untuk membukanya, maka harus diatur sedemikian rupa sehingga sangat savetiy dan rapat, sebab aparat terkadang memeriksa segala sesuatu hingga kran air (sivon). Terkadang, kalau mereka melihat ada keramik dinding yang sedikit terlepas, mereka akan curiga dan membongkar dinding tersebut untuk melihat barangkali ada yang disembunyikan di situ. Terkadang mereka juga menjebol kayu di pintu-pintu ruangan karena khawatir ada senjata yang disembunyikan di dalamnya.
9. Menyerahkan titipan surat secepat mungkin dan meminimalisir masa tinggalnya di tempat Antum.
10. Untuk melenyapkan kertas-kertas yang rawan, kita harus membakarnya lalu tumbuk halus dan siramkan air di atasnya.
11. Ketika membuat paspor, gunakan foto tanpa jenggot. Usahakan sebisa mungkin ketika memberikan data-data di tempat-tempat resmi untuk menyerahkan foto tanpa jenggot, atau menggunakan jenggot tapi tipis, contohnya ketika di Universitas, Pendaftaran Sipil, dll. Sebab terkadang ini berguna ketika pihak intelejen ingin mempelajari siapa Antum.
12. Pilihlah paspor yang sesuai dengan bentuk tubuh Al-Akh, usianya, logatnya, warna kulitnya dan negara yang akan dituju. Ada beberapa negara yang jika mau pergi ke sana tidak perlu menggunakan visa, sehingga ini mempermudah pergerakan, ini adalah celah yang seharusnya mereka tutup, jangan mengira membongkar identitas paspor itu perkara mudah. Sebab di Turki, hasil penghitungan dalam sebulan di musim panas menunjukkan ada 100.000 hingga mendekati 300.000 orang Arab yang memasuki negara itu dalam sehari. Kalau mereka mau memeriksa satu persatu, berapa waktu yang akan dibutuhkan oleh dinas intelejent di perbatasan untuk menyelesaikannya?
Ini bukan berarti kita boleh meremehkannya, sebab pernah ada ikhwan masuk ke negara lain dengan paspor asli, tapi menurut pihak intelejent diklaim sebagai paspor palsu, padahal selama ini ikhwan itu selalu masuk menggunakan paspor palsu, tapi kali ini dia masuk justeru dengan menggunakan paspor asli.
13. Jika sumber pembuat data-data palsu berupa paspor atau kartu identitas atau yang lain terbongkar, maka harus segera membuang proteksi data yang mengelilinginya, kelak Alloh akan mengganti dengan yang lebih baik. (Jika Alloh menghalangi sebuah pintu bagimu karena hikmah-Nya maka Dia akan membukakan pintu yang lebih baik bagimu dengan rahmat-Nya).
14. Jika petugas di perbatasan ragu bahwa identitas Antum adalah palsu lalu mereka menyatakan kepadamu bahwa itu palsu maka jangan pernah mengiyakannya, sebab sangsi undang-undang yang dijatuhkan kepada orang yang berhasil mereka ungkap identitasnya sama dengan sangsi orang yang mengakui identitasnya sendiri, maka buatlah kesamaran di hadapan musuh-musuh Alloh. Solusi terbaik menghadapi situasi seperti ini, ketika polisi perbatasan mengatakan kepadamu: “Ini kartu identitas palsu,” adalah: hendaknya Antum tertawa dan terus tertawa supaya tidak muncul tanda-tanda ketakutan pada dirimu, seperti wajah menjadi pucat atau gugup.
Antum bisa sambil mengunyah permen karet untuk menyembunyikan raut muka yang sedang gugup (bingung), dan siapa memohon pertolongan kepada Alloh maka akan mudahlah urusannya. (Cara ini pernah dipraktekkan, ketika itu ada petugas intelejen yang coba memancing seorang ikhwah agar mengakui bahwa kartu identitasnya adalah palsu, tapi kemudian ikhwan ini hanya tertawa saja dan menampakkan seolah-olah itu tuduhan aneh, hingga akhirnya Alloh menyelamatkannya.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: