Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Keamanan Spionase dan Intelejen (bag 7)

Keamanan Spionase dan Intelejen (bag 7)


1. Akhi…jangan kaget atau terkejut ketika Antum tahu ternyata alat-alat intelejen yang dimiliki negara (thoghut) yang hina ini berkembang begitu cepat, khususnya dalam bidang kegiatan penyadapan telpon, e-mail, dan menjaring Mujahidin. Sebab pemimpinnya, yaitu Amerika, telah memberikan semua fasilitasnya, baik materi, ilmu pengetahuan, teknologi dan lain sebagainya kepada mereka karena begitu percaya dan tahu ketulusan negara yang bersangkutan untuk memberi bantuan kepada mereka dan saudara-saudara mereka (kaum Yahudi).
2. Oleh karena itu, semua ikhwah Mujahidin harus berhati-hati manakala terpaksa melewati negara seperti ini. Caranya adalah menghindari membawa nama-nama, nomor-nomor telpon, atau alamat-alamat e-mail orang-orang penting atau Mujahidin atau bahkan orang biasa sekalipun. Hendaknya mereka mengandalkan hafalannya dan memanfaatkan password.
3. Hindarilah membawa komputer jinjing dan HP satelit atau alat-alat semisal yang sudah dirancang oleh pihak intelejen akan digunakan juga oleh Mujahidin. Di samping itu, alat-alat ini beresiko untuk disita (dirampas) seperti yang dialami oleh ikhwah yang telah ditangkap oleh aparat.
4. Hindarilah membawa uang dalam jumlah besar, baik itu harta sumbangan atau uang pribadi. Sebab itu rawan untuk disita dan dicuri oleh agen-agen aparat tadi dengan dalih itu harta organisasi kegiatan teroris. Peristiwa seperti ini sudah banyak menimpa ikhwah.
5. Jangan mencelakai sesama ikhwah Mujahidin manapun, dengan memberi petunjuk informasi yang sebenarnya tentang mereka, tentang pergerakan dan jihad mereka, kepada aparat negara ini atau yang lain, hanya karena asumsi bahwa orang-orang yang mereka sebut itu jauh kemungkinannya untuk ditangkap aparat negara ini atau negara lain. Sebab kerjasama keamanan-intelejen telah terjalin kuat dan terus menerus antar aparat intelejen thoghut dari berbagai negara.
6. Jika Alloh takdirkan seorang ikhwah tertangkap oleh aparat intelejen negara seperti ini, maka jangan dia menampakkan diri seolah banyak mengetahui informasi. Sebab ini akan memperpanjang masa penahanan dan akan menjadikannya sebagai sumber informasi, sehingga mereka tidak akan dengan mudah membebaskannya. Hendaknya ia bersabar menahan rasa sakit dan terus membantah, sebab itulah jalan tercepat untuk membebaskan diri dari genggaman mereka.
7. Ketika ada kesempatan untuk bertemu dengan relawan dari Palang Merah, maka Al-Akh harus segera memperkenalkan nama aslinya dan berusaha menghubungi keluarganya serta memberitahu tempat penahanannya melalui Palang Merah itu. Ini akan membuat situasi yang ia alami berangsur-angsur normal dan mengurangi tekanan, dan bagi orang yang lemah tidak mengapa memanfaatkan hal itu. Sebab itu termasuk dalam apa yang disebutkan Alloh Ta‘ala tentang sebagian orang musyrik yang mengatakan kepada Nabi-Nya (Nabi Syuaib):
( وَلَوْلا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ )
“…kalau bukan karena keluargamu, tentu kami akan merajammu…” (QS. Hud: 91)
Karena banyak orang-orang musyrik itu yang lebih takut kepada makhluk daripada takut kepada Alloh, dan orang yang tertindas tidak mengapa memanfaatkan bantuan dari orang kafir yang ia berikan kepadanya. Alloh sendiri mengingatkan Nabi-Nya yang telah memberinya perlindungan melalui perantara pamannya yang kafir, firman-Nya:
( أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَآوَى )
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. Adh-Dhuha: 6)
Dalam hal ini, Dinas Intelejen Yordania sangat serius untuk menyenangkan Organisasi Palang Merah, mereka menyembunyikan semua pelanggaran dan kasus penyiksaan, mereka memanipulasi fakta dan mereka berdusta agar membuat mereka senang dengan menyembunyikan tindakan brutal dan terornya. Mereka lebih takut kepada Palang Merah melebihi takutnya kepada Alloh, maka tidak mengapa bagi seorang Al-Akh yang dalam kondisi lemah untuk memberitahu keberadaan tempat ia dipenjara dan ditahan melalui organisasi tersebut. Ini akan memposisikan dirinya sebagai tahanan biasa dan resmi, bukan tahanan yang ditangkap sembunyi-sembunyi (diculik).
8. Ketika tertangkap, Al-Akh harus selalu mengingat firman Alloh Ta‘ala:
( وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ )
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imron: 139)
Hendaknya ia yakin, rasa sakit ini akan hilang sedangkan pahalanya akan tetap ada, Insya Alloh. Maka, berusahalah semaksimal mungkin untuk tidak membahayakan jihad dan mujahidin sebisanya, ketahuilah bahwa jalan tercepat untuk keluar dari bala’ ini adalah kata-kata: “Saya tidak tahu,” walaupun ini sulit.
9. Dari penjelasan tadi bisa disimpulkan bahwa siapa yang mencari seseorang yang hilang atau diculik, baik di Pakistan, Afghanistan, Yaman dan lain-lain, lalu tidak menjumpainya di daftar para tahanan Guantanamo, maka hendaknya ia mencarinya di penjara Dinas Intelejen Yordanisa dengan berbagai cara. Sebab aparat keamanan di negara ini telah berubah menjadi tempat cadangan untuk memenjarakan dan menginterogasi orang yang tertangkap itu ketika yang bersangkutan tidak diinginkan oleh Amerika.
10. Maka jangan heran jika Mujahidin menjadikan anggota-anggota aparat yang buruk ini sebagai target, sebab mereka selalu menunggu-nunggu datangnya musibah kepada Mujahidin dan meletakkan dirinya di posisi terdepan untuk memerangi Mujahidin di mana saja dalam rangka melayani Amerika. Maka hendaklah mereka bersiap menerima serangan-serangan mujahidin, yang terduga maupun yang tak terduga, selama mereka dengan sukarela menjadi ujung tombak dalam memerangi Mujahidin, atau menurut lidah orang-orang Yordan: “Buz Midfa‘” (Senjata pembela Bush), karena ingin menyenangkan Amerika. Tidak ada bukti terkuat akan adanya serangan ini selain peristiwa yang menimpa salah seorang pemimpin utama mereka, si lelaki merah, Ali, di mana mereka semua tahu bahwa ia menjadi target pembunuhan ketika mobil yang ia tumpangi berusaha diledakkan.
( فَلاَ تَعْجَلْ عَلَيْهِمْ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا )
“Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.” (QS. Maryam: 84)
( وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَبَقُوْا إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُوْنَ )
“Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Alloh). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Alloh).” (QS. Al-Anfal: 59)
11. Demikianlah, jelaslah sebab mengapa aparat keamanan di negara sekecil Yordania menempuh cara yang tak sebanding dengan ukuran wilayah dan kemampuannya, sehingga ia bisa bertindak seperti sebuah negara besar dalam memburu dan menangkap Mujahidin, meniru para pemimpinnya di CIA, mereka mulai membangga-banggakan prestasinya itu, hingga ada salah seorang penyidik yang mengatakan kepadaku dengan nada bangga: “Kami berhasil mendatangkanmu dari Pakistan, kami berhasil mendatangkan yang lain dari Yaman, Australia, bahkan dari Georgia dan Rusia, kami bisa mendatangkan siapa saja yang kami inginkan dari manapun ia berasal!!”
Saya katakan: “Mengapa tidak? Bukankah anjing seorang syaikh juga syaikh? Ya, namun menurutku anjing itu tak akan mampu menanggung beban dari pekerjaannya itu, atau menanggung sedikit saja dari serangan Mujahidin kepada pimpinan mereka.. mengapa mereka tidak terdiam dan gemetar, apakah mereka seperti kata orang: “Ekor anjing itu bengkok dan tidak akan bisa lurus, maka potonglah.”
Maka Al-Akh harus selalu waspada dari alat-alat mata-mata yang dipasang musuh di mana-mana, baik yang bisa diprediksi atau tidak bisa diprediksi. Ada beberapa alat yang biasanya dipakai untuk memata-matai Mujahidin, maka mereka harus waspada. Di antaranya:
a. Alat perekam saku yang langsung aktif begitu bolpen ditarik darinya. Ini adalah alat yang kecil namun sangat peka, dipasang pada saku baju atau jacket dalam. Di dalam alat ini ada tinta pena seperti layaknya pena yang lain. Jika pena ditarik dari alat perekam itu, maka ia akan mulai merekam tanpa mengeluarkan suara apapun. Kemudian begitu pena dikembalikan ke tempatnya, perekaman akan berhenti. Alat ini sangat peka sekali, ia bisa menangkap semua kata meskipun disembunyikan di dalam saku.
b. Kamera video mini sebesar kacang yang bisa disembunyikan di mana saja.
c. Alat pendengar jarak jauh yang mampu mendengar hingga suara bisikan. Bentuknya seperti medali dan ada beberapa kunci kecilnya, kemudian dilengkapi microfon dan alat perekam. Jika tombol merahnya ditekan, alat perekam akan bekerja dan bisa merekam suara orang-orang yang posisinya dekat.
d. Teropong (kaca pembesar) untuk mendekatkan titik pandang yang jauh, sekaligus mendekatkan suaranya.
e. Kamera video mini pada jam tangan.
f. Kamera video digital sebesar bolpen tinta. Ini adalah gabungan dari kamera biasa dan kamera video lalu bisa disambungkan ke komputer untuk mentransfer gambar.
12. Teknik dalam melakukan ightiyalat (pembunuhan diam-diam) tidaklah menganut rumus baku; yang penting bagaimana pembunuh berusaha agar perbuatannya tidak terbongkar, sehingga dia harus menggunakan prinsip kerahasiaan dan ketiba-tibaan ketika mengeksekusi. Memang, secara umum peperangan itu bersandar kepada prinsip ketiba-tibaan, akan tetapi begitu tiba waktu pelaksanaan ia akan menjadi terbuka; artinya unsur tiba-tiba itu sudah tidak ada lagi begitu serangan dimulai. Berbeda dengan teknik yang harus dilakukan dalam igthiyalat yang harus selalu rahasia, meskipun setelah eksekusi dilaksanakan. Sehingga jarang sekali pelakunya diketahui apalagi diinterogasi, dan biasanya aparat keamanan cenderung tidak akan mengumumkan hasil investigasinya secara mendetail ketika terjadi situasi seperti ini, sebab itu terkait dengan rahasia perang yang berlangsung antara pihak-pihak intelejen.
13. Pekerjaan Rahasia tidak boleh dilakukan di rumah atau di tempat-tempat yang sudah dikenali orang, meskipun itu keluarga sendiri. Bahkan, kantor dan base-camp-nya harus berada di apartemen-apartemen sewaan yang memenuhi standart keamanan.
14. Alat Komunikasi Dalam Pekerjaan Rahasia Harus Dipisahkan Dari Alat Komunikasi Pribadi. Alat komunikasi pribadi biasanya diketahui oleh keluarga, teman, kerabat, bahkan orang-orang asing. Alat-alat komunikasi ini memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial secara umum, ia terbuka untuk semua orang, nomornya mudah didapat. Sehingga, alat seperti ini tidak layak digunakan untuk pekerjaan rahasia.
15. Para Pelaku Pekerjaan Rahasia Harus Menjalankan Pekerjaan Dan Profesi Sehari-harinya Secara Terbuka Dan Biasa-biasa Saja, Supaya Tidak Menimbulkan Kecurigaan.
16. Pertemuan harus dilakukan di tempat yang berbeda-beda, dan hendaknya menjauhi tempat-tempat terbuka agar tidak diketahui siapapun dan agar para pesertanya tidak menjumpai siapapun yang ia kenal. Setelah kegiatan ini dilaksanakan, peserta kembali ke tempat ia berangkat tanpa mengetahui apa-apa selain peran dan tugasnya. Secara berkala, tempat pertemuan harus dipindah dan diganti.
17. Selalu Hidup Dinamis (Berubah-ubah), Tidak Terjerat Dengan Rutinitas Dan Hidup Terjadwal.
18. Merahasiakan lokasi pekerjaan, alamatnya, markaz-markaznya dan nomor telponnya. Tidak dibenarkan bagi siapapun menceritakan hal-hal ini kepada orang lain atau kerabat terdekat sekalipun. Tidak boleh bagi Al-Akh, atau orang yang suka bersikap berlebihan, atau orang yang banyak bicara, menggunakan pendengaran, penglihatan dan lisannya untuk mengetahui bidang yang bukan haknya.
TEKHNIK-TEKHNIK IGHTIYALAT:
Pertama: Menggunakan surat dan paket berisi bom.
Kedua: Bom mobil. Meledakkan mobil tidak memerlukan keahlian tinggi atau waktu yang lama. Cukup dengan seseorang yang mempunyai keahlian standart tentang arus listrik dalam mobil. Mobil bisa meledak hanya dengan menghidupkan kunci starter (switch), membuka pintunya, atau menginjak rem
Kedua: Mengisi Mobil Dengan Bahan Peledak (Lalu meledakkannya). Meledakkan mobil seperti ini tidak memerlukan ketrampilan tinggi dan waktu yang lama; cukup memerlukan satu orang yang mengerti masalah arus listrik di dalam mobil. Mobil bisa diledakkan melalui kunci starter (switch), pijakan rem, pengekang rem belakang, spare parts bagian belakang lainnya, tuas bensis, melalui lampu fius atau lampu biasa, atau lampu sangat terang, atau tombol alarm, atau spion kanan dan kiri, atau dengan terdudukinya kursi. Yang penting, semua tekhnik ini berprinsip kepada:
a. Arus listrik sampai ke bahan peledak dengan mengaktifkan salah satu dari komponen-komponen di atas.
b. Menekan, membuka, memutus adan mengikat.
Ketiga: Meledakkan mobil dari kejauhan. Ini adalah tekhnik modern yang tidak memerlukan banyak langkah rumit dan waktu yang lama. Secara umum, amaliyah ini bisa dijalankan hanya dalam beberapa menit, seseorang meletakkan sebuah bom yang ditempelkan di bagian bawah mobil, yang mana hanya dengan menyentuhkannya bom sudah melekat di body mobil. Pada bagian dalam bom itu dipasangi alat penerima gelombang yang sudah diatur frekwensinya. Kemudian dari jarak 50 meter atau 100 meter dari area terbuka yang memungkinkan untuk melihat, orang yang hendak meledakkan berdiri di situ. Dengan alat pengirim gelombang di tangan, ia mengirimkan gelombang yang sudah diatur ke alat penerima gelombang di bom tadi, dan mobil sudah siap diledakkan. Cukup dengan menekan tombol dengan jari, semuanya habis…setelah itu para eksekutor segera bersembunyi dari tempat kejadian menggunakan mobil yang sudah disiapkan sebelumnya, memanfaatkan kepanikan yang timbul akibat adanya ledakan.
Keempat: Menembakkan peluru dari dekat.
Kelima: Menyerbu Rumah.
Semua operasi khusus itu memerlukan pengumpulan informasi yang detail sebelum pelaksanaan, perlu perincian, pengambilan foto dari semua sudut dan tiang dari sasaran yang akan diserang. Jangan lupa mempertimbangkan semua jalan yang menuju ke sasaran dan bahaya apa saja yang ada di sana, juga jalan untuk mundur, serta informasi yang detail tentang orang yang hendak dibunuh dan kekuatan mana sajakah yang akan membantunya.
Keenam: Peledakan tidak langsung. Yaitu tekhnik yang menggunakan cara mengisi mobil dengan bahan peledak lalu meletakkannya di tempat yang berdekatan dengan sasaran yang akan diledakkan, entah itu bangunan kantor atau mobil seorang petinggi.
Ketujuh: Meledakkan Ruangan.
1. Teknik ini menggunakan cara meletakkan bom yang akan meledak jika diinjak, atau dikendalikan dari kejauhan, atau dengan menekan saklar lampu, cara seperti ini banyak dipakai di hotel-hotel.
2. Setelah Antum menerobos ke sebuah rumah, pastikan ada pintu yang Antum pecahkan atau ada penghalang, supaya pemilik rumah itu mengira Antum adalah pencuri.
Kedelapan: Racun.
Kesembilan: Menembus dinding.
Kesepuluh: Membom dengan pesawat.
Kesebelas: Melakukan peledakkan tidak langsung untuk membunuh orang-orang yang ada di dalamnya.
SIFAT-SIFAT PASUKAN PENGAMANAN (RIJALUL AMN):
1. Keislaman yang kuat dan akhlak yang baik. Pertama-tama, hendaknya memilih anggota yang memiliki kapasitas keislaman dan akhlak yang mulia, yang dengan itu ia takut kepada Alloh sebelum mengurusi perhatian manusia. Seorang yang akan dilantik menjadi pasukan pengamanan tidak cukup yang memiliki kapasitas keislaman saja, sebab ada orang yang memiliki kapasitas keislaman yang tidak cocok mengemban tugas seperti ini karena dia lemah, pelupa atau suka meremehkan. Sehingga wajib melakukan seleksi secara luas sekaligus terperinci dan diiringi firasat yang tidak keliru. Abdulloh bin Mas‘ud a berkata:
«إِنَّ أَفْرَسَ النَّاسِ ثَلاَثَةٌ: أَبُوْ بَكْرٍ حِيْنَ تَفْرُسُ فِيْ عُمَرَ، وَصَاحِبُ يُوْسُفَ قَالَ: (أَكْرِمِيْ مَثْوَاهُ) وَصَاحِبَةُ مُوْسَى قَالَتْ: (يَا أَبَتِ اسْتَأْجِِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ اْلقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ).
“Sesungguhnya manusia yang paling tepat firasatnya ada tiga: Abu Bakar ketika berfirasat tentang Umar, orang yang menemukan Yusuf ketika ia mengatakan: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik,” , calon isteri Musa ketika ia berkata: “Ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
Demikian juga, harus dicari orang yang bisa melengkapi keahlian-keahlian yang diperlukan dalam sebuah perangkat keamanan. Penulis yang cerdas misalnya, ia tepat untuk tugas menganalisa, menyampaikan tulisan, dan membuat laporan dengan kata-kata yang jelas namun singkat dan membuat orang penasaran. Ini termasuk hal inti yang diperlukan sebuah perangkat keamanan. Tugas pengamanan juga membutuhkan orang-orang yang memiliki keahlian dalam masalah tekhnik, seperti para ahli di bidang ilmu kimia atau fisika.
2. Taat dan Merasa terikat dengan perintah: Operasi keamanan memerlukan tindakan yang cepat, rahasia dan waspada (hati-hati). Oleh karena itu, ketaatan sangat diperlukan selagi seseorang tidak diperintah untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintah untuk bermaksiat, “maka tidak ada mendengar dan tidak ada taat,” sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits. Alloh Ta‘ala juga berfirman:
(يَا أَيُّهَا الََّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولىِ اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلىَ اللهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ ذَالِكَ خَيْرٌ وَّأَحْسَنُ تَأْوِيْلاً)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh, taatilah Rosul dan Ulil Amri di antara kalian. Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu urusan, maka kembalikanlah urusan tersebut kepada Alloh dan Rosul jika kalian beriman kepada Alloh dan hari Akhir, yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)
Bagi para pejuang, mereka harus percaya dan berbaik sangka terhadap pimpinannya:
(مَنْ يَّشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَّكُنْ لَّهُ نَصِيْبٌ مِّنْهَا وَمَنْ يَّشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَّكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِّنْهَا وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقِيْتاً)
“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 85)
3. Suka terhadap tugas dan selalu merasa bertanggung jawab. Begitu berbahayanya tugas keamanan dan intelejen ini, maka itu memerlukan jiwa yang selalu bertanggung jawab dan cinta terhadap tugas. Sebab sikap meremehkan dalam bidang ini bisa mendatangkan banyak bahaya besar yang akan menimpa kepentingan negeri dan rakyat. Oleh karena itu, seorang pasukan pengamanan tidak perlu menunggu ada orang lain yang menghasungnya untuk berkorban, namun ia harus melakukannya berdasarkan dorongan pribadi karena mengharap ridho Alloh.
4. Berpengalaman, mahir dan professional. Bekerja di sebuah lembaga keamanan dan intelejen adalah seni pekerjaan yang menuntut adanya kemahiran tinggi, kemampuan tekhnis khusus dan professional dalam bertugas. Sebab lembaga ini bersinggungan langsung dengan musuh yang ahli makar, mahir, dilengkapi alat-alat yang bisa membongkar hal-hal yang bersifat rahasia, menembus batas dengan deteksi jarak jauh, merekam dan mengambil gambar tersembunyi, memalsukan dokumen dengan baik. Oleh karena itu, orang yang menghadapi musuh seperti ini harus juga berpengalaman, mahir dan professional dalam pekerjaannya. Di dalam sebuah hadits Nabawi disebutkan:
«إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ)
“Sesungguhnya Alloh suka ketika seorang dari kalian bekerja, ia bekerja professional.”
Alloh Ta‘ala berfirman:
(وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَاْلمُؤْمِنُوْنَ وَسَتُرَدُّوْنَ إِلىَ عَالِمِِِ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِّمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ)
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Alloh dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Alloh) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)
Dan seorang Muslim itu diperintahkan untuk teliti dalam pekerjaannya, firman-Nya:
(أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَّقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ)
“(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba’: 11)
Para Mufassir menjelaskan tentang makna “…ukurlah anyamannya…” pada ayat ini: yakni telitilah dalam pekerjaanmu.
Pekerjaan pengatur keamanan dan intelejen itu memerlukan kesabaran dan ketidak tergesa-gesaan, firman-Nya:
(يَا أَيُّهَا الََّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ)
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Alloh, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imron: 200)
Anggota pasukan pengamanan juga harus belajar berbagai keahlian, seperti menembak, dan skill-skill yang terkait dengan bidangnya, contohnya: fotografer, menganalisa gambar satelit, menganalisa dan mengoreksi informasi-informasi dan password, pemantauan (musuh), mengerti ilmu-ilmu security dan intelejen lainnya. Belajar bahasa asing juga hal yang penting bagi anggota tim pengamanan, sebab dengan itu ia bisa belajar, mendengar dan menjalin hubungan dengan orang lain, serta mengkaji dokumen-dokumen penting tanpa harus meminta bantuan penerjemah. Mempelajari bahasa asing termasuk sunnah yang dianjurkan oleh Islam –khususnya bahasa musuh—. Sebab Nabi n dulu pernah memerintahkan sekertarisnya, Zaid bin Tsabit, untuk meningkatkan keahliannya dalam bahasa Suryaniyah. Zaid berkata: “ Rosululloh n menyuruhku agar aku belajar tulisan Yahudi berbahasa Suryaniyah (maka akupun belajar atas perintah beliau).” Ia juga berkata: “Demi Alloh, aku tidak mempercayakan tulisanku kepada orang Yahudi.”
5. Amanah:
Anggota tim pengamanan bertanggung jawab menjaga hak-hak dan keamanan orang lain, menjaga tugas, informasi dan tempat-tempat tinggal dari sikap meremehkan dan kekurangan. Ia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki penduduk biasa, baik senjata, peralatan maupun wewenang. Seorang anggota keamanan tidak boleh terfitnah dengan kekuatan dan kewenangan ini, janganlah hal itu mendorongnya untuk memeras dan menyepelekan orang lain, tapi sebaliknya dia harus menjadi pengayom keamanan. Mereka yang senantiasa menyadari tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, sadar bahwa kelak ia akan dimintai pertanggjawaban di hadapan Robbnya. Rosululloh n bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَّسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَاْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِيْ أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلمَرْأَةُ فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةً وَهِيَ مَسْئُوْلُةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ فِيْ مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang ia pimpin. Imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang ia pimpin. Lelaki menjadi pemimpin pada keluarganya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia pimpin. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia pimpin, pembantu adalah pemimpin bagi harta majikannya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia pimpin.”
Sebelum diutus sebagai Nabi, Rosululloh n digelari oleh kaumnya sebagai Al-Amin (orang yang terpercaya). Beliau adalah yang bersabda:
«مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ اْلمُسْلِمِيْنَ شَيْئاً فَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ أَحَداً مَحَابَاةً فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ صَرْفاً وَلاَ عَدْلاً حَتَّى يُدْخِلَهُ جَهَنَّمَ)
“Barangsiapa diangkat memimpin kaum Muslimin kemudian ia mengangkat salah seorang untuk memimpin mereka atas dasar pilih kasih, maka Alloh tidak akan menerima alasan apapun darinya hingga Alloh masukkan dia ke neraka Jahannam.”
Dan bersabda:
«مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقاً فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُوْلٌ»
“Barangsiapa yang kami angkat menjadi petugas untuk sebuah pekerjaan lalu kami berikan jatah rezeki untuknya, maka apa yang ia ambil selain itu adalah ghulul.” Artinya, berarti dia telah mencuri (mengkorupsi) harta rakyat. Alloh Ta‘ala berfirman:
«وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُوْنَ)
“Barangsiapa yang berbuat ghulul (berkhianat dalam urusan rampasan perang itu), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imron: 161)
Alloh Yang Mahabenar juga telah mengingatkan:
(يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَخُوْنُوا اللهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَّأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rosul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 27-28)
Anggota keamanan selalu berlaku jujur dalam apa yang ia cari, apa yang ucapkan, dan laporan yang ia tulis. Kejujurannya dalam laporan dan tugas yang dijalankan sebuah negara, maka secara otomatis itu akan menghantarkan kepada kondisi yang baik. Alloh Ta‘ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهََ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ قَوْزاً عَظِيْماً)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Alloh memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Alloh dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Khalifah Umar bin Khotob pernah mengirim surat kepada Sa‘ad bin Abi Waqqos, memberinya nasehat agar ia selalu meneliti kejujuran mata-mata yang akan ia tugaskan: “Jika kamu memasuki daerah musuh, maka bersihkanlah mata-mata antara dirimu dengan mereka. Hendaknya engkau memiliki orang Arab atau penduduk manapun yang engkau percayai kesetiaan dan kejujurannya. Sebab pendusta itu beritanya tidak akan bermanfaat bagimu, meskipun kadang ia jujur. Sedangkan orang yang suka bercerita, ia justeru memata-mataimu, bukan menjadi mata-mata untukmu.”
6. Stabil (tenang) dalam berbagai hal:
Intelejen musuh selalu berusaha mengkader agen-agen keamanan dan intelejen di tubuh lawannya untuk menjadi mata-mata. Dalam hal itu, musuh mengandalkan titik-titik lemah yang berhasil mereka pantau pada diri orang yang akan mereka kader –dan titik lemah itu banyak sekali—. Di antara titik lemah yang paling populer dalam ilmu intelejen adalah: sifat ekstrim dan gugup (meskipun dalam hal-hal yang sifatnya hoby), sikap suka menonjol dan tampil beda dari yang lain, mudah percaya dengan penampilan lahiriyah, serta cinta harta dan kedudukan. Sedangkan justeru Islam memerintahkan kepada sifat yang sama sekali bertentangan dengan semua ini; Alloh Ta‘ala justeru memuji orang-orang yang memiliki sifat pertengahan (stabil) dalam menyikapi berbagai masalah, firman-Nya:
(وَالَّذِيْنَ إِذَا أَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً)
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqon: 67)
7. Kitman (tutup mulut) dan bisa menjaga rahasia:
Kitman adalah perkara mendasar dalam kegiatan intelejen. Sebab penyebaran dan kebocoran informasi bisa mengakibatkan berbagai bahaya besar, bahkan keruntuhan sebuah negara. Untuk menegaskan pentingnya memperhatikan masalah kerahasiaan dalam tugas, Rosululloh n bersabda:
«اِسْتَعِيْنُوْا عَلَى قَضَاءِ حَوَائِجِكُمْ بِاْلكِتْمَانِ»
“Permudahlah urusan kalian dengan kitman.”
Beliau juga dikenal sebagai orang yang selalu bersikap kitman dan menjaga rahasia dalam perang-perang yang beliau lakukan. Seperti ketika beliau mendekati tempat perang di Badar, beliau memerintahkan para shahabatnya agar memutus lonceng-lonceng yang terkalung di leher unta-unta mereka agar musuh tidak mendengar suaranya. Diriwayatkan juga bahwa beliau mengutus Abdulloh bin Jahsy pada tahun ketiga Hijriyah bersama 12 orang Muhajirin, beliau membekalinya sebuah surat tertutup, beliau memerintahkan agar tidak melihat isinya sebelum ia berjalan selama dua hari penuh, di mana ketika itu ia telah sampai ke sebuah tempat yang sudah diketahui yang beliau sebutkan kepadanya. Jika sikap Nabi terhadap para shahabat yang mulia –yang kesemuanya adalah orang-orang yang bisa menjaga amanah— saja seperti ini, lantas bagaimana dengan selain mereka yang tidak pernah tersaring dengan ujian yang pernah menimpa mereka?
PERGERAKAN DALAM KEGIATAN INTELEJEN:
Informasi yang mengalir pada kegiatan intelejen melewati empat tahapan sebelum disampaikan kepada petugas intelejen:
1. Mengumpulkan informasi (collection) dari sumber-sumber informasi terbuka, seperti koran, majalah, media-media informasi, buku-buku, laporan-laporan dan hasil-hasil penelitian. Hanya sedikit saja –mungkin tak lebih dari 10 %– pengumpulan informasi yang dilakukan melalui jalur rahasia dan ini biasanya dilakukan dengan menanam agen (penyusup). Istilah untuk menyebut aktifitas intelejen dalam mengumpulkan informasi secara diam-diam adalah: At-Tajassus (spionase).
2. Menertibkan informasi (collation). Yaitu mengklasifikasikan tingkat kerahasiaannya, tanggal dan sumbernya, merekam dan menyimpan informasi sehingga mudah mengambil dan mendapatkan data darinya. Semua ini dijalankan dengan menggunakan berbagai alat-alat mesin seperti micro film, komputer, dan alat-alat modern lainnya.
3. Analisa informasi.
4. Membagikan informasi. Maskudnya mengirim informasi ke orang yang bersangkutan dan yang patut menerimanya, sehingga ia mendapat informasi untuk bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan benar.
Satu hal yang juga harus diperhatikan: Informasi harus sampai kepada orang yang tepat dan di waktu yang tepat; sebab informasi yang telah sampai kepada seseorang jauh sebelum peristiwa yang dimaksud terjadi atau setelah peristiwa terjadi, itu sedikit manfaatnya, bahkan bisa jadi tidak bermanfaat sama sekali. Informasi juga harus sampai kepada orang yang mengambil keputusan di tempat yang tepat, jika ia memiliki identitas resmi lebih dari satu. Artinya: informasi itu sampai kepadanya di tempat yang memiliki kaitan dengan isi informasi.
PRINSIP-PRINSIP DALAM KEGIATAN INTELEJEN:
Kegiatan intelejen mencakup prinsip-prinsip berikut ini:
1. Tahu informasi sebatas keperluan.
Mari kita lihat contoh penerapan prinsip kerahasiaan dalam Islam dari gua Hiro’, tempat di mana Rosul Shollallohu ‘alaihi wa sallam beribadah kepada Robbnya secara rahasia (diam-diam), setelah itu tibalah fase yang mirip dengan fase: “Tahu Informasi sebasat keperluan” yaitu ketika beliau diperintahkan untuk menyampaikan dakwah kepada orang-orang tertentu saja:
(وَأَنْذِِرْ عَشِيْرَتَكَ اْلأَقْرَبِيْنَ)
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syuaro’: 214)
Informasi yang sangat –sangat penting (berbahaya) ini hanya diketahui oleh sekitar 60 orang saja ketika itu, kira-kira empat di antaranya adalah dari wanita.
Rosul n telah mengerti betapa pentingnya kerahasiaan di awal-awal perjalanan dakwahnya, terbukti bahwa beliau dan para shahabatnya berkumpul di rumah Arqom bin Abi `l-Arqom. Alasan pemilihan rumahnya tersebut adalah:
Pertama: Keislaman Arqom belum diketahui dan kaum Quraisy tidak pernah berfikir bahwa Muhammad dan para shahabatnya akan mengadakan pertemuan di rumahnya.
Kedua: Arqom berasal dari Bani Makhzum yang notabene selalu bersaing dan berperang dengan Bani Hasyim. Ini artinya, pertemuan rahasia itu terjadi di pusat barisan musuh.
Ketiga: Arqom adalah pemuda yang baru berumur 16 tahun. Sehingga jika kaum Quraisy berfikir untuk mencari tempat pusat perkumpulan Islam, mereka tidak akan pernah berfikir untuk mencarinya di rumah anak-anak muda.
Rumah Arqom bisa dikatakan sebagai percontohan dari sebuah “Rumah Keamanan” dalam istilah ilmu security. Itulah kelebihan berupa kerahasiaan yang meliputi segala tindakan Nabi sebelum hijrah, bahkan dalam urusan sholat, ketika itu dilakukan dua rekaat-dua rekaat. Dan apabila Rosul n sholat, beliau dijaga oleh Ali bin Abi Tholib atau Zaid bin Haritsah. Beribadah secara terbuka baru bisa terlaksana setelah Umar a masuk Islam.
Maka harus diseimbangkan antara kerahasiaan dengan pengetahuan informasi sebatas keperluan. Oleh karena itu, kerahasiaan adalah sarana, sedangkan tujuannya adalah melindungi diri dan keamanan.
2. Tentang Tajassus (spionase).
Tajassus adalah memeriksa bagian-bagian dalam dari sesuatu.
Sedangkan tahassus (dengan huruf haa’) artinya hampir sama, yaitu mencari berita dan informasi.
Kata tajassus disebutkan di dalam Al-Quran:
(وَلاَ تَجَسَّسُوْا)
“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang…” (QS. Al-Hujurot: 12)
Artinya, janganlah kamu mencari-cari aib kaum Muslimin. Sama seperti yang tercantum dalam firman Alloh Ta‘ala:
(يَا بَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَأَخِيْهِ)
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)
Spionase dalam perspektif Islam:
Pada asalnya, kaum Muslimin tidak boleh saling memata-matai satu sama lain, Alloh Ta‘ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْراً مِّنَ الظَّنِ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَّلاَ تَجَسَّسُوْا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Perbuatan tajassus (spionase) ini –seperti perbuatan-perbuatan lain yang diharamkan Islam—tidak boleh dilakukan selain dalam kondisi yang sangat darurat. Maka ketika kondisi sangat mendesak hal itu boleh dilakukan dalam rangka melindungi kehormatan atau menolak bahaya yang lebih besar. Adapun mengintip aurat manusia dan privasi mereka, melanggar kemerdekaan dan rahasia pribadi mereka, maka itu tidak diperbolehkan. Kendati demikian, lembaga-lembaga kenegaraan yang ada sekarang, berikut aparatnya, membolehkannya dengan alasan untuk kebaikan umum atau alasan yang lain. Di dalam sebuah hadits yang mulia dikatakan:
«مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ مُؤْمِنٍ فَكَأَنَّمَا اسْتَحْيَا مَوْؤُوْدَةً مِنْ قَبْرِهَا»
“Barangsiapa menutupi aib seorang mukmin, maka ia seperti orang yang menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya.”
Orang-orang beriman itu –yang selalu berpegang kepada tali Alloh—itu tidak merasa ciut dengan isu-isu yang berkembang, tidak lemah tekadnya dengan provokasi.
(اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْمَاناً وَقَالُوا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ)
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Alloh dan Rosul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik Pelindung”.” (QS. Ali Imron: 173)
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rosululloh n mengirim 10 mata-mata dalam perang Badar.
Para ulama kaum Muslimin juga memperbolehkan memanfaatkan mata-mata dan meminta tolong kepada mereka untuk mengumpulkan informasi tentang musuh. Dahulu Rosululloh n mengangkat Abdulloh bin Uroiqith sebagai penunjuk jalan ketika berhijrah dari Mekah ke Madinah, padahal Ibnu Uroiqith ini adalah orang musyrik, namun dia memiliki pengetahuan tentang wilayah, jalan dan jalur-jalurnya. Rosululloh n juga menggunakan Husaib bin Khorijah dan Abdulloh bin Nuaim dalam perang Khoibar, karena keduanya memiliki pengetahuan tentang daerah itu.
Keamanan dalam kegiatan spionase:
Mengingat bahwa kegiatan spionase bisa menimbulkan efek yang berbahaya, maka tidak ada cara aman selain mengikuti kaidah-kaidah baku dalam keamanan untuk menjamin keselamatannya dan mensukseskan misinya. Kaidah-kaidah itu adalah:
a. Tekad yang kuat untuk melaksanakan program.
b. Setiap mata-mata harus memiliki cover untuk melegalkan keberadaan di di tempat dan waktu tertentu. Covernya harus rinci dan cocok dan bisa dijalani oleh si mata-mata secara detail.
c. Mata-mata harus sudah merancang langkah jika terjadi kondisi darurat dan merancang cara melarikan diri. Misalnya, jika ia tengah mencari sebuah kantor atau tempat tinggal, maka tempat itu harus ada padanya lebih dari satu pintu untuk lari.
d. Mata-mata tidak boleh secara tiba-tiba menjalin akad nikah atau melibatkan diri dalam persengketaan yang nampak. Dia juga tidak boleh memperlihatkan kemampuannya dalam berbahasa dan tidak menulis tulisan dengan bahasanya kepada seseorang ketika ia berada di negeri asing.
e. Ia harus selalu waspada dari penguntitan, dan hendaknya ia tidak menemui sumber-sumber rujukannya kecuali setelah memastikan bahwa dirinya tidak dikuntit. Ia juga harus membakar kertas-kertas dan catatan-catatan atau menghancurkannya hingga tidak bisa dikembalikan.
f. Mata-mata harus menggunakan sarana yang bagus untuk menyembunyikan sesuatu. Nomor dan jarak perjalanan misalnya, bisa dia tulis dalam format harga atau nomor rekening pribadi.
g. Termasuk yang prinsip: Janganlah seorang mata-mata menyandang sifat banyak bicara, kecuali jika maksud dari banyak bicara itu adalah memancing orang lain secara bertahap sehingga ia bicara panjang lebar dalam masalah tertentu.
Langkah-langkah Antisipasi terhadap Aksi Spionase:
a. Antisipasi telpon:
• Memutus sambungan telpon ketika tidak digunakan.
• Melakukan pembicaraan rahasia di dalam kamar yang jauh dari tempat telpon.
• Memasang alat-alat yang bisa membuat suara gaduh untuk mengirim suara-suara kacau ke sambungan telpon ketika tidak digunakan.
• Menggunakan sumber-sumber ladang magnet yang berfungsi sebagai “pembersih” magnetis untuk menggagalkan berbagai percobaan penyadapan.
• Perhatikan, jangan sampai telpon yang dipakai mengalami penurunan arus listrik secara drastis, artinya jangan sampai suara penelpon menjadi pelan secara tiba-tiba. Sebab jika itu terjadi, berarti ada penyadapan.
• Selalu menganggap bahwa telpon diawasi jika operator memberi nada sibuk terus menerus, padahal pemilik telponnya terlihat baik-baik saja.
3. Pertanyaan Ketika Menginterogasi mata-mata:
a. Bagaimana cara mata-mata itu mengirimkan informasi?
b. Informasi apa saja yang sudah dia kirim?
c. Bagaimana cara komunikasi yang terjalin antara mata-mata dengan musuh?
d. Sebesar apakah informasi yang sudah dia kirimkan kepada musuh? Dan sejuah mana efeknya terhadap anggota dan jamaah?
4. Langkah-Langkah Yang Diambil Ketika Menangkap Mata-Mata Wanita Yang Bekerja Untuk Musuh:
a. Memanfaatkan beberapa orang yang sudah berkeluarga dan pernah hidup dalam dunia jahiliyah.
b. Memaksanya menggunakan pakaian yang longgar.
c. Memukulnya jika ia berusaha menggoda dan menampakkan titik-titik fitnah dari tubuhnya.
d. Mengikatnya sekuat mungkin dan tidak meninggalkannya tanpa terikat dengan sebab apapun.
e. Menutup kedua matanya.
f. Menjauhkannya dari benda-benda yang bisa ia gunakan untuk menyakiti dirinya sendiri.
g. Melepas semua perhiasan dan cincin yang ada padanya.
Satu hal yang tak diragukan, bahwa setiap orang memiliki peran dalam perjuangan yang berbeda dengan peran orang lain. Begitu juga informasi yang diberikan kepada setiap orang pun akan berbeda-beda. Contohnya: Peran dan informasi seorang komandan tentu berbeda dengan peran dan informasi pada seorang anggota, sebab seorang komandan dituntut untuk menjalankan langkah pengamanan yang sangat ketat.
Demikian juga lingkungan di mana seorang anggota bergerak, itu memiliki peran dalam karakter langkah pengamanan yang diambil. Contohnya: Anggota yang bertugas berdakwah dan melakukan tugas yang di permukaan, berbeda peran dan lingkungannya dengan anggota yang bertugas di bidang militer bawah tanah. Dan bagian dalam dari setiap bidang berbeda-beda langkah keamanannya. Contohnya: personel dakwah beragam tugasnya, di samping sebagai dai ia juga sebagai penanggung jawab pelatihan, penyokong dan pengumpul dana…dst, sehingga langkah pengamanannya di setiap tugas akan berbeda-beda. Demikian juga ragam pekerjaan pada personel militer bawah tanah, yaitu urusan senjata, informasi, latihan, dst, sehingga beragam pula langkah pengamanan yang diambil pada setiap personel dan pekerjaannya. Namun secara umum prinsipnya adalah: Mengatur keamanan yang bisa mewujudkan target tanpa terbongkar, dalam setiap bidang.
5. Keamanan, antara berlebihan (ifroth) dan meremehkan (tafrith).
Al-Ifroth adalah: ekstrim dan berlebihan dalam sesuatu. At-Tafrith adalah: mentelantarkan dan meremehkan sesuatu. Semua urusan harus diposisikan langkah pengamanannya sesuai dengan kadarnya yang tepat. Anggota biasa yang terlalu berlebihan dalam berwaspada dan bersikap rahasia –padahal itu tidak mendatangkan manfaat—justru akan memancing perhatian dan menempatkannya pada posisi rawan serta problem-problem keamanan lain. Inilah sikap berlebihan yang bukan pada tempatnya.
Sebaliknya, bagi anggota yang bertugas dalam pekerjaan militer yang penting dan rawan, yang kita lihat berbicara tentang informasi-informasi penting atau bergerak dengan cara yang tidak waspada, maka ini adalah orang yang meremehkan, ia bisa membahayakan teman-temannya dan membongkar pekerjaan mereka.
Yang dibutuhkan adalah seimbang dalam berbagai urusan, tidak mencampur adukkan antara sesuatu yang seharusnya rahasia dan sesuatu yang seharusnya ditampakkan. Maka, setiap yang terkait dengan dakwah terhadap orang lain, memberi hidayah dan pengajaran kepada mereka, dilakukan dengan cara terbuka sesuai dengan karakter dakwah seperti telah disinggung dalam masalah keamanan dan perbedaannya pada setiap anggota dan lingkungannya. Sedangkan semua yang terkait dengan urusan-urusan operasi militer, maka ini perlu kerahasiaan dan harus diamankan dengan baik sesuai dengan tingkat urgensinya.
Semua ini memerlukan kejelian dan kontrol yang terus menerus dari pemimpin, sehingga setiap urusan berjalan di atas relnya yang benar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: