Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Membongkar kedustaan dan kepalsuan Salafi Irja’

Membongkar kedustaan dan kepalsuan Salafi Irja’


Membongkar kedustaan dan kepalsuan Salafi Irja’

============================================

Bagian Pertama:

Bahwasanya jika Seorang Bapak Dalam Rumahnya Menyalahi Syariat, Apakah Dia Telah berhukum Selain Apa Yang Allah Turunkan….?

Nabi SAW bersabda setiap kalian adalah  pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang di pimpinnya…dan termasuk didalamnya adalah bapak sebagai pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.dengan alasan inilah murjiah gaya baru membantah kami dengan subhat ini, bahwa sanya seorang bapak apabila berhukum dengan selain hukum Allah seperti berhukum dengan apa yang sesuai dengan hawa nafsunya maka dia telah kafir sebagaimana dia mengkafirkan hakim yg memutuskan hukum selain hukum Allah seperti perkataan kalian yang mengatakan bahwa hakim itu telah mengganti syariat, dan dalam hal ini misalnya bapak ingin membagikan warisan pada keluarganya dan mau mencukur jenggotnya karena hawa nfsunya dan lain lain, maka dengan demikian bapak tersebut  telah menjadi hakim yang telah memutuskan hukum selain hukum Allah dan telah mengganti syariaatNya maka yang demikian adalah kafir . Maka apa yang harus kami katakan ? kami ingin ada bantahan dari para masyaikh kami  secara ilmiyah dan mendetail .

Dijawab oleh lajnah syar’iyah mimbar tawhed

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Robb semesta  alam

Dan Sholawat dan salam pada nabiNya yang mulia serta  para shahabat dan keluarganya semua

Adapun setelah itu.

Bahwasanya mereka para penipu ( Murji’ah gaya baru pent) itu sudah tidak mampu lagi menetapkan kebatilan mereka dengan dalil -dalil syar’i yang sudah jelas, sehingga mereka berusaha untuk melindungi diri dengan cara merubah hukum dengan cara mempermainkan istilah- istilah syar’i  tersebut.dan mereka dengan subhatnya yang batil ini , ingin memperluas pemahaman hukum ini dengan cara merubah hukum itu sendiri sampai mencakup seluruh amal, sehingga tidak ada perbedaan antara hukum dan amal . sementara mereka memastikannya bahwa setiapa orang yang melakukan perbuatan maksiat  maka ia telah kafir , karena ia telah berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah inilah pemahaman khawarij, dan sesungguhnya orang-orang khawarij itu tidak bisa membedakan antara hokum dan amal, karena kesesatan dan kebodohan mereka dengan berdalil  {ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الكافرون dan tatkala ummat ini memiliki keserasian paham dengan mereka madzab khawarij yang tidak bisa membedakan konsep hukum dan amal maka mereka memberikan stigma negative terhadap yanglain.

Adapun kwarij memandang kafirnya setiap pelaku perbuatan ma’siat karena telah berhukum dengan hukum selain Allah sementara madzab yang lain tidak mengkafirkan orang yang berhukum selain hukum Allah karena perbuatan maksiat , adapun ahlus sunnah wal jama’ah tidak mengkafirkan pelaku ma’siat.

Untuk melemahkan subhat-subhat khawarij kontemporer ini maka kami katakan berbeda, berhukum dengan hukum selain apa yang diturunkan Allah dengan seluruh perbuatan maksiat yang tidak ada dalil yang mengkafirkannya.

Yang pertama adalah kekafiran yang mengeluarkan dari millah karena tsabitnya dalil terhadap hal tersebut

Yang kedua tidak dianggapnya kekafiran itu karena tidak tegaknya dalil bahwa sanya dia sebagai mukaffir ( pelaku kekafiran ).

Untuk membedakan antara hukum dan amal maka harus mebatasi konsep hukum, sesungguhnya hukum itu adalah hukum antara manusia dalam menetapkan dan memutuskan suatu perkara diantara mereka dalam masalah masalah yang diperselisihkan dalam dunia politik dan pemerintahan maka konsep hukum itu terbatas pada perkara-perkara yang berasal dari qodhi dan para hakim ditinjau dari segi keumuman pemimpin, sementara hukum yang terdapat dalam nash-nash syar’i tersebut tidak dimaksudtkan dalam pengertian ini. Hal ini terdapat kurang lebih seratus empat dalam kitab Allah .

Adapun khitab (perintah) terhadap wajibnya berhukum dengan hukum Allah itu ditujukan pada para qodhi dan pemerintah serta hakim. Adapun yang lain tidak termasuk di dalamnya . Oleh karena itu pemahaman itu tidak termasuk dalam firman Allah {ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الكافرون karena perintah berhukum itu tidak di tujukan pada mereka, adapun penisbatan dan pendalilan dari mereka dengan nash (كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته ) maka ini adalah dalil syar’i lain yang telah dipermainkan oleh mereka. Ibnu atsir berkata dalam menjelaskan hadist tersebut  (كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته ) maksutnya adalah komitment dan dapat dipercaya .dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya serta berbuat adil (Annihayah fi gharibi al hadits jilid 2/581).Imam nawawi berkata, para ulama berkata: bahwa pemimpin itu adalah komitmen dan dapat dipercya serta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya selama berada di bawah pengawasannya, maka ia dituntut untuk berlaku adil dan bertanggung jawab atas kemaslahatan dien dan dunianya dan hal hal yang berkaitan dengannya (syarh nawawi’ala muslim 12/213). Ibnu batthol berkata, Almihlab berkata: budak itu adalah pemimpin terhadap harta majikannya, dia di beri kewajiban yang sama terhadap apa yang telah diwajibkan pada para pemimpin dalam rangka menjaga apa yang dia pelihara dan tidak boleh mengerjakan perkara perkara yang berat (yang tidak mampu dia kerjakan dan bukan haknya untuk itu pent.) kecuali dengan izin majikannya. (Syarh shohih bukhori oleh ibnu baththol 6/531) . Maka makna hadits  ini adalah bahwa setiap pemimpin itu baik laki maupun perempuan atau budak mereka semua sama dalam hal permintaan tanggung jawab disisi Allah. Inilah yang di maksudkan oleh mereka dengan menyerupakannya dengan pemimpin, padahal masing-masing diantara hal tersebut memiliki urgensi dan hukum secara husus. Ibnu hajar berkata, Al khathobi berkata : berserikatlah kalian maksudnya adalah pemimpin baik laki laki dan orang yang disebutkan dalam hadis dalam hal sifat kepemimpinan dalam pengertian yang beragam. Adapun tanggung jawab pemimpin yang agung (pemerintah) berhati hati dalam melaksanakan hukum-hukum syar’i seperti penegakan hukum hudud serta harus adil dalam menegakkan hukum. Adapun tanggung jawab laki-laki terhadap keluarganya adalah menyampaikan dan memerintahkan pada mereka tentang hak-hak mereka, dan tanggung jawab seorang wanita adalah mengatur urusan urusan rumah tangga dan anak-anak mereka dan pembantu pembantu mereka, dan menasehati suami dalam hal itu secara dan tanggung jawab pembantu menjaga hal-hal yang dibawa tanggung jawabnya serta menegakkan kewajiban yang dibebankan padanya. Adapun urgensi yang paling penting bagi pemimpin adalah (menegakkan hukum) dalam kepemimpinannya dan yang paling urgen bagi laki-laki adalah menjaga keluarganya, dan bagi wanita adalah menjaga rumahnya. Oleh karena itu kami tidak menyebut tuan rumah itu sebagai hakim, sebagaimana kami tidak menyebut hakim itu sebagai tuan rumah. Maka sesungguhnya dengan inilah semuanya sama dalam hal sifat kepemimpinan dan berbeda dalam masalah yang pelik dan hukum dengan demikian hilanglah segala macam kesulitan (yang dilemparkan oleh murji’ah gaya baru dengan segala bentuk subhatnya pent).

Wallahua’lam

Walhamdulillahirabbil ‘alamin

Dijawab oleh anggota lajnah syar’iyah mimbar tawhed

Syaikh Abu Mundzir As Singkity

Selesai di terjemahkan oleh Abu Muhammad Al Atsari: selasa pagi 21 desember 2010

Judul Asli

شبهة أن الوا لد في بيته إن خالف الشرع يكون قد حكم بغير ما أنزل الله ؟

Bagian Kedua:

السلام عليكم ورحمة الله

Apa perbedaan kufur amali dan kufur karena amal?

Penanya , Abu Anas

Apabila kufur amali itu disebutkan secara mutlak maka maksudnya adalah kufur ashghar ,dan secara umum  penyebutan secara mutlak yang ditujukan pada kufur i’tiqodi  maka maksudnya adalah kufur akbar. Imam Al ‘Alamah Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimhullahu ta’ala berkata : Iman amali itu adalah lawan dari kufur amali, iman i’tiqodi itu adalah lawan dari kufur i’tiqodi dan sungguh nabi kita yang mulia semoga sholawat dan salam semuga tercurah padanya telah mememberitahukan pada kita di dalam haditsnya yang shohih  bahwa «سباب المسلم فسوق وقتاله كفر» mencela seorang muslim itu adalah fasik dan membunuhnya adalah kafir”. Maka berbeda antara membunuh dengan mencela yang menjadikan salah satu dari keduanya adalah fasik dan dia tidak di kafirkan, dan yang terakhir adalah kafir dan sudah di ketahui bahwa ini adalah yang di maksud kufur amali bukan i’tiqodi dan kekufuran ini tidak mengeluarkan dari batasan batasan islam dan tidak mengeluarkanya dari millah secara totalitas sebagaimana tidak keluarnya dari millah orang yang berzina, pencuri, peminum khamar dan lain lain yang tidak  menghilangkan ke imananya (ashholat 26)

Berkata Syaikh Hafidz Hakim : Apa kufur  amali yang tidak mengeluarkan dari millah ? yaitu setiap kemaksiatan yang disebutkan oleh pembuat  syariat (Allah subhanahu wa ta’ala) dengan sebutan kafir yang disertai dengan sebutan iman bagi pelakunya ..dst.( i’lamu Assunnah Al Mansyurah 82 )

Berkata Al ‘alamah Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah ta’ala: seperti halnya orang yang dikafirkan yang lalu, adapun kekafiran karena amal adalah disebabkan  karena perkataan  dan perbuatan yang mengkafirkan pelakunya dengan kufur akbar, karena ungkapan kekafiran yang dia perbuat dan ini merupakan cabang ke kafiran, dan begitu juga kekafiran dengan perbuatan, ia merupakan cabang dari cabang-cabang kekafiran, seperti sujud pada patung, menghina mushaf atau Al Qur an (Ash- sholah 24) dan beliau juga berkata : Adapun kufur amali  itu terbagi menjadi dua yaitu amal (perbuatan) yang bertentangan dengan  iman dan amal ( perbuatan) yang tidak bertentangan dengan iman seperti : Sujud pada patung, menghina Al qur’an membunuh nabi dan mencelanya, ini merupakan perbuatan yang bertentangan dengan iman  (Ash sholah 25) di sini yang perlu ditinjau adalah istilah “kufur amali dan kufur i’tiqodi” sebab tidak semua kufur ashghor adalah kufur  amali, sebagai mana juga tidak semua i,tiqod rusak itu menjadi kufur akbar dan tidak semua kufur akbar itu menjadikan i,tiqod rusak. namun istilah ini tdak lepas dari keumuman hal trersebut .

Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz rahimahullah  berkata : Saya mengajak ahli ilmu dan para siswanya dizaman kita ini termasuk generasi berikutnya, agar supaya menggunakan istilah-istilah ini sesuai dengan makna yang di maksudkan oleh para salafu sholeh . karena ada dua sebab ‘’ tidak adanya kufur amali ‘’

Sebab pertama adalah  : Istilah hadits yang di pakai oleh generasi terakhir ummat ini, tidak termasuk yang dimaksudkan oleh para  sahabat dan tabiin, tapi yang di maksudkan adalah kufur ashgor  yang di kenal dengan istilah tidak keluar dari millah atau kufrun duna kufrin, inilah yang di masudkan oleh Imam Al Bukhori dalam kitab Al- Iman yang terdapat dalam shohihnya yang di istilahkan dengan kufur nikmat .

Sebab ke dua adalah : Bahwasanya pensifatan kufur  Ashghor dengan kufur amali merupakan pandangan yang keliru yang menganggap seseorang itu tidak kafir kecuali dengan i’tiqod inilah madzab murji’ah (Yang berbaju salafy pent).

Dan sebagai ringkasan Sesungguhnya saya (penulis) lebih berhati-hati dari mencampur adukkan kufur amali dan kufur karena amal, sebagaimana halnya saya juga mengajak agar supaya tidak memakai istilah-istilah kufur amali dan tidak menggantinya dengan kufur ashghor atau kufrun duna kufrin dalam rangka untuk menghilangkan segala bentuk subhat dalam perkara ini.

 

Dijawab oleh lajnah syar’iyah mimbar tawhed

Oleh syaikh bakar bin abdul aziz al atsari

Selesai di terjemahkan tanggal , sore 29 DeSember 2010

oleh , Abu Muhammad Al Atsari

[lintastanzhim.com/thoriquna.wordpress.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: