Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Siapakah kita dan mau kemana…???

Siapakah kita dan mau kemana…???


MENGENAL DIRI &
MENGETAHUI FUNGSI HIDUP


“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang kejadian diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhan-nya”
Ar Ruum/30 :8

Mengenal diri sendiri

A. Mengapa manusia harus mengenal diri sendiri ?

Pengetahuan manusia tentang hakekat dirinya adalah penting, dengannya manusia menjadi mengerti siapa dirinya yang sesungguhnya dan ke mana seharusnya melangkah dan berbuat dalam kehidupan dunia ini.

Berangkat dari permasalahan di atas, ada tiga hal penting yang harus diketahui :
 Fungsi hidup
 Tujuan hidup
 Cara hidup

Dengan mengetahui ketiga hal tersebut, kehidupan manusia akan menjadi berguna, punya arah dan akan berjalan dengan baik, ini adalah awal dari kebahagiaan manusia.

Tanpa pengetahuan di atas, kehidupan manusia akan senantiasa diliputi kegelisahan, kebingungan dan kecemasan serta ketidakpuasan.

1. Fungsi hidup

Bayangkan dengan sebuah mesin yang canggih, seperti komputer, yang diberikan kepada sebuah suku terasing yang tidak mengenal sama sekali tentang baca tulis.

Akan diapakan oleh mereka !?… Sama keadaannya dengan apa yang akan dialami oleh manusia jika manusia tersebut tidak memahami fungsi hidupnya. Padahal manusia adalah suatu perangkat yang jauh lebih komplek dan rumit daripada komputer. Sungguh sayang sekali dan menjadi sebuah kesia-siaan.

2. Tujuan hidup

Ketika manusia mengerti tentang fungsi hidupnya, maka ia akan segera mengerti pula akan tujuan hidupnya.

Secara sederhana seperti alat-alat perkakas misalnya, sebuah palu, akan segera dipahami bahwa fungsinya adalah untuk memukul, gergaji untuk memotong dan lain sebagainya.
Alat-alat tersebut hanya tinggal alat, bila tidak digunakan Atau jika digunakan untuk keperluan lain yang tidak sesuai dengan fungsinya, maka tujuan penciptaan alat tersebut tidak terpenuhi.
Manusia yang salah dalam memahami fungsi kehidupan tidak akan pernah sampai kepada tujuan hidup yang sesungguhnya, walaupun mungkin ia merasa telah sampai kepada tujuan hidup yang telah ia tetapkan dan ia merasa bahagia, padahal bisa saja ia tertipu.

“Katakanlah:”Akankah kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya”
Al Kahfi/18/103~104

3. Cara hidup

Cara hidup adalah cara-cara atau metode yang dipakai manusia dalam rangka mencapai tujuan hidupnya
Keberadaan cara hidup adalah sebagai akibat atau tuntutan dari adanya tujuan hidup. Dan manusia yang memiliki tujuan hidup mau tak mau harus menetapkan sistem atau cara hidupnya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Benar salahnya manusia dalam menetapkan cara hidup ini tergantung dari benar salahnya cara pandangnya terhadap fungsi kehidupan dan tujuan hidupnya.
Sebagaimana halnya dengan alat perkakas tadi, yang harus dipakai dengan cara-cara yang benar, sehingga alat tersebut menjadi efisien, tidak rusak dan hasilnya maksimal.

B. Memahami diri akan mengangkat kualitas kehidupan

1. Kelompok pertama

Kelompok manusia yang tidak memperdulikan bagaimana hidupnya dan ia hanya mengejar kesenangan saja/ hedonisme. Kehidupan yang tak lebih daripada kualitas kehidupan hewan.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata(tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga(tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”
Al A’raaf/7:179

2. Kelompok kedua

Kemudian ada juga sekelompok manusia yang mau mengembangkan dirinya. Segala kemampuannya dicurahkan untuk mengejar tujuannya, tetapi kelompok ini sangat serakah dalam kehidupannya, semua harus bisa dicapai dan dikuasai, maka terjadi eksplorasi besar-besaran di alam ini tanpa henti.
Kadang ia tidak memperdulikan resiko yang dihadapi, atau terkadang ia tidak memperdulikan akibatnya yang merugikan orang lain.

“…dan orang-orang kafir itu bersenang-senang di dunia dan mereka makan seperti makannya binatang”
Muhammad/47:12

Dan dia sebenarnya tidak pernah merasakan kepuasan yang sesungguhnya dalam kehidupannya, karena apa-apa yang diperolehnya hanyalah kesenangan-kesenangan semu, dan ia segera harus mencari kesenangan-kesenangan berikutnya.
Kelompok ini ibarat hewan pintar yang serakah seperti monyet

3. Kelompok ke tiga

Kelompok manusia yang ketiga adalah yang mengetahui tujuan akhir kehidupan dan ke mana ia akan sampai.
Ia memahami tentang hakekat dirinya dengan sebenarnya, dan apa tujuan dari keberadaannya di muka bumi ini.
Apa-apa yang dimiliki dan tujuan-tujuan jangka pendeknya, semuanya diorientasikan kepada tujuan akhir.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain main-main dan senda gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, maka tidakkah kamu memahaminya?”
Al A’raaf/7:32

فَمَنْ يُرِدِاللهُ أَنْ يَهْدِيْهِ يَسْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلاَمِ” قَالُوْا: “يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرَحُ صَدْرَهُ؟” قَالَ: “يُدْخِلُ فِيْهِ النُّوْرَ فَيَنْفَسِحُ” قَالُوْا:”وَهَلْ لِذَلِكَ عَلَمَةٌ يَارَسُوْلَ اللهِ؟”،قَالَ:”التَّجَافِي عَنْ دَارِالْغُرُوْرِ، وَاْلإِنَابَةُ إِلَىدَارِالْخُلُوْدِ، وَاْلإِسْتِعْدَادُلِلْمَوْتِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ الْمَوْتُ

“Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk diberi-Nya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam” Para Shahabat bertanya:”Wahai Rasulullah bagaimana Allah melapangkan dadanya?” Beliau bersabda:”Cahaya masuk ke dalam hatinya sehingga dia merasa lapang” Shahabat bertanya:”Apakah hal itu ada tandanya?” Beliau bersabda:”Tandanya ialah menghindari negeri tipuan(dunia), kembali ke negeri keabadian(akhirat) dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian sebelum kematian itu tiba”
Hadits Ibnu Mas’ud / Tafsir Al Maidah:125, Ibnu Katsir

Inilah kelompok manusia yang memahami hakekat kehidupan

“Inilah jalan Tuhanmu yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menerangkan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang memahami”
Al Maidah/5:126

C. Kehidupan dunia yang berputar-putar dan sebenarnya terbatas apabila tidak mengetahui dan mengejar kehidupan akhirat sebagai tujuan yang sesungguhnya

*****

Keharusan manusia mencari petunjuk yang terjamin kebenarannya

A. Cara pandang manusia terhadap dirinya

Dalam memahami diri sendiri yaitu memahami fungsi hidup, tujuan hidup dan cara hidup, manusia berbeda cara dan sudut pandang, sesuai dengan landasan berpijak, falsafah hidup dan keyakinan masing-masing, tetapi secara umum terdapat dua aliran ekstrim yang saling bertolak belakang.

1. Aliran materialisme

Menganggap manusia sebagai seonggok daging tanpa ruh di dalamnya, mereka menyikapi kehidupan dan melihat hakikat kehidupan hanya berdasarkan kepada sesuatu yang bisa ditangkap oleh panca indera. Yang bisa diindera adalah ada dan yang tidak bisa ditangkap oleh indera dan ilmu pengetahuan adalah tidak ada.
Mereka puas dan berusaha memuaskan dirinya dengan sangat memperhatikan hal-hal yang materialistik/inderawi, kehidupannya berkisar kepada masalah-masalah sandang, pangan dan papan, lalu bagaimana cara-cara untuk menyempurnakan ketiganya.
Dan di antara mereka menganggap kehidupan adalah kehidupan di dunia ini saja, tujuan hidupnya adalah kesenangan lahiriah saja dan akhirnya segala cara ditempuh untuk mendapatkan kepuasan hawa nafsunya dan tidak perlu memperhatikan nilai-nilai moralitas.

“ …Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitan “
Al An’am/6:29
Aliran ini terbagi dalam banyak model, antara lain kapitalisme, liberalisme, sosialis, komunisme, hedonisme. Mungkin ada istilah yang lain, tetapi dapat diketahui semua pemikiran tersebut lahir dengan landasan materialisme, lalu bagaimana cara memperoleh dan mengaturnya.

2. Aliran spiritualisme

Memahami bahwa hakikat manusia sebenarnya adalah roh, unsur yang tinggi, eksitensi manusia yang utama. Dan jasad dianggap sebagai unsur yang rendah, unsur yang fana, kotor seperti binatang dan tidak layak untuk dipenuhi keinginan serta kebutuhannya, layak untuk dikebiri atau bahkan dimusnahkan.
Mereka berusaha keras mengejar kesempurnaan diri mereka berupa kedamaian hati atau ketenangan batin dengan menjauhi dunia, mengasingkan diri, bertapa, menjauhi lawan jenis dan membatasi makanan, sebagaimana yang dilakukan rahib-rahib, pendeta-pendeta dan sebagian besar golongan sufi.

B. Kesalahan manusia

Kesalahan manusia adalah anggapannya bahwa aliran yang diyakininya adalah benar dan sesuai dengan dirinya.
Dan pada skala yang lebih besar adalah terciptanya suatu sistem yang berlaku di dalam masyarakat, di mana mereka saling berkelompok dan membuat aturan hidup yang mengatur hubungan di antara mereka.
Padahal ilmu manusia adalah bentuk dari hasil pengamatan, teori-teori kehidupan, berupa aliran-aliran pemikiran di atas adalah bersifat tidak kekal. Persoalan-persoalan ilmiah terus berkembang juga teori-teori kemanusiaan juga terus berkembang dan selalu mengkoreksi pemikiran-pemikiran atau teori-teori sebelumnya.

Lalu apakah manusia dalam memandang dirinya dalam upaya mengenal dirinya secara lebih dalam, menggunakan cara-cara di atas? Cara-cara yang senantiasa berubah mengikuti perkembangan pemikiran dan zaman?

Sesungguhnya hasil suatu pemikiran manusia dan sistem kehidupan yang diciptakannya, mungkin sebagian sesuai dipakai pada zamannya saja, karena suatu hasil pemikiran sangatlah subyektif dan sangat tergantung kepada kondisi dan situasi, daerah dan wilayah tertentu, dan tentu ia tidak cocok dengan tempat atau kondisi yang berbeda.
Jika manusia berangkat dari pengetahuan dan pijakan yang salah dalam memahami diri dan bagaimana menentukan tujuan hidup berikut cara hidupnya, cepat atau lambat ia akan menemukan kesengsaraan dalam hidupnya.
Karena fungsi dan sistem kehidupan yang ia tentukan lama-kelamaan akan diketahui kelemahannya kemudian menjadi berlawanan dengan fitrahnya sendiri, dan ia tidak akan sampai pada kebahagiaan yang sebenarnya.
Maka adalah suatu keharusan bagi manusia untuk mencari informasi tentang dirinya bagi kepentingan kehidupannya dari suatu sumber informasi yang benar dan teruji kebenarannya.

C. Keterbatasan ilmu manusia

Manusia terlalu terbatas pengetahuannya yang terbukti dengan ilmu pengetahuannya yang selalu berkembang sebagai koreksi dan penyempurna atas kesimpulan-kesimpulan sebelumnya, trial and error. Hal-hal yang sudah terjadi, seperti sejarah, apalagi yang sudah berlalu lama tidak tercatat dengan baik oleh manusia, apalagi mencoba mengetahui apa yang belum terjadi.
Manusia dengan kadar keilmuannya tidak akan sanggup untuk memahami hakekat hidupnya, asal-mula kehidupan, dan proses kejadian dirinya. Sebagaimana tantangan dari Allah kepada manusia dalam hal penciptaan dirinya…

“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang nuthfah yang kamu pancarkan, kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami yang menciptakannya?”
Al Waqi’ah/56:58~59
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini apa yang mereka katakan”
Ath Thuur/52:35~36

Maka tidak ada cara yang lain untuk memahami atau membangun pandangan tentang hakikat diri manusia kecuali dengan berdasar petunjuk dari Yang menciptakan kehidupan manusia itu sendiri.
Bagaimana tidak, bukankah yang membuat atau mencipta mengetahui tujuan penciptaan? Bukankah Dia lebih mengetahui secara mendetail apa-apa yang diciptakan-Nya? Bukankah Dia yang mengetahui dan berkuasa bagaimana mengatur semua makhluk ciptaan-Nya secara bersama-sama?

“Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi dan Maha Besar”
Al Baqarah/2:255

Hanya berdasarkan bimbingan petunjuk atau informasi dari Allah saja yang akan menjamin kebenaran manusia dalam memahami dirinya dan dalam menjalani kehidupannya di dunia ini.

“Dan inilah jalan Tuhanmu;(jalan)yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat Kami kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka disediakan Darussalam(syurga) pada sisi Tuhannya, dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan”
Al An’am/6:126~127

*****

Informasi dari Allah tentang keadaan diri manusia

A. Awal kejadian manusia

1. Dari sesuatu yang tidak bisa disebut
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu atas masa, sedang ia ketika itu belum merupakan suatu yang bisa disebut”
Al Insaan/76:1

2. Dari tanah dan saripati air
“Yang membuat sesuatu yang Ia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina(mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam(tubuh)nya roh(ciptaan)–Nya dan menjadikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati,…”
As Sajdah/32:7~9

3. Ditempatkan di dalam rahim
” Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh(rahim) ”
Al Mu’minuun/23:13

4. Proses kejadian manusia
”Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain…”
Al Mu’minuun/23 :15

إِنَّ خَلَقَ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًانُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَالِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَالِكَ، ثُمَّ يُبْعَثُ إِلَيْهِ اْلمَلَكُ فَيَنْفُحُ فِيْهِ الُّوْحَ
“Sesungguhnya penciptaanmu dalam perut ibumu adalah empatpuluh hari sebagai tetesan, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat meniupkan ruh kepadanya”
Riwayat Bukhari Muslim

B. Kondisi manusia yang diciptakan Allah

1. Manusia adalah makhluk yang paling mulia

a. Allah SWT menciptakan manusia dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya
“Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:”Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh(ciptaan)-Ku…”
Al Hijr/15:28~29
b. Semua malaikat diperintah sujud kepadanya
“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat:”Sujudlah kamu semua kepada Adam, lalu mereka sujud kecuali Iblis…”
Al Israa’/17:61

2. Manusia adalah makhluk yang istimewa

a. Diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”
At Tiin/95:4

b. Dianugrahi akal
Untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Terdiri dari dua unsur yaitu otak untuk berpikir dan hati untuk merasa. Apabila keduanya telah berjalan sesuai dengan kebenaran yang telah ditetapkan Allah, maka manusia itu dikatakan berakal atau dikatakan telah menggunakan akalnya.

“…Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Al Israa’/17:70

“…dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”
As Sajdah/32:9

c. Dianugrahi fitrah yang baik
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama(Allah), (tetaplah atas)fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Ar Ruum/30:30

Allah telah menciptakan manusia dengan memiliki kesiapan untuk bertauhid dan beribadah hanya kepada-Nya.

Segala keburukan dan penyimpangan adalah pertanda rusak dan sakitnya fitrah yang ditimbulkan dari luar dan bukan merupakan bagian dari manusia. Sebagaimana bayi yang sehat dan sakitnya kerena pengaruh dari luar yang datang kepadanya

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي خُنَفَاءَ كُلُّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشًّيَاطِينُ فَا جْتَا لَتْهُمْ عَنْدِينِهِمْ

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan suci, kemudian syaithan mendatangi mereka dan menarik mereka untuk menyimpangkannya dari dien(Islam)”
Hadits Qudsi, riwayat Muslim

كُلُّ مَوْلُوْدٍيُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ تُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ

“Setiap bayi yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nashara atau majusi”
Shahihain

d. Memiliki naluri / hawa nafsu
Dibekali kekuatan amarah dan syahwat untuk melindungi eksitensinya, kekuatan untuk menghindar dari apa yang membahayakannya, mencari apa yang bermanfaat dan apa-apa yang dibutuhkannya.

Ia adalah pendorong gerak kehidupan manusia yang harus dikendalikan dengan akal dan hati, akal yang berguna untuk mencari ilmu serta hati sebagai alat penimbang kebenarannya. Lalu dikendalikan lagi dengan sabar agar ia bisa tetap istiqamah.

e. Memiliki akhlak
Al Khuluk adalah bentuk manusia yang tersembunyi/batin, ia adalah sifat-sifat jiwa, bisa bersifat baik atau bersifat jelek.

Ia merupakan suatu keadaan jiwa yang darinya bersumber perbuatan manusia yang baik maupun buruk, yang semuanya muncul tanpa adanya pemikiran dan perenungan terlebih dahulu.

Akhlak terbagi dua, akhlak yang berasal dari tabiat atau bawaan lahir (seperti sifat malu, penyabar), dan yang kedua adalah bentukan karena kebiasaan hidup dan pengaruh lingkungan atau dari latihan yang bermula dari perenungan atau pemikiran yang berlanjut menjadi kebiasaan perbuatan.

f. Kemampuan bicara dan berkomunikasi, berilmu, menganalisa dan belajar serta menulis

g. Tidak diciptakan untuk dibiarkan
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Al Mu’minuun/23:115

3. Pembawaan dasar manusia

a. Lemah dan payah
“…dan manusia dijadikan bersifat lemah”
An Nisaa’/4:28

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”
Al Balad/90:4

b. Ilmu yang sedikit
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”
Al Ahzab/33:7
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati,…”
Luqman/31:34

4. Kecenderungan-kecenderungan
a. Ingkar nikmat
”Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata(terhadap nikmat Allah)”
Az Zukhruf/43:15

b. Pelupa
“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa(akan perintah itu) …”
Thaahaa/20:115

c. Keluh kesah dan kikir
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir”
Al Ma’arij/70:19

d. Suka membantah
“…dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”
Al Kahfi/18:54

e. Tergesa-gesa

“Dan manusia bersifat tergesa-gesa”
Al Israa’/17:11

f. Lemah kemauan
“…dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat”
Thaahaa/20:11

g. Cinta dunia
“Sebenarnya kamu(hai manusia) mencintai kehidupan dunia”
Al Qiyamah/75:20

*****
Fungsi hidup adalah untuk mengemban amanat

Keberadaan manusia di muka bumi ini adalah tidak mungkin bila tidak diciptakan. Apakah manusia tiba-tiba ada dan muncul begitu saja? Kenyataannya, bila mau jujur dalam memandang dirinya, Allah menciptakan dirinya secara “paket”, serba lengkap dan mencukupi lagi sempurna, mustahil ia bisa hidup tanpa kelengkapan tersebut. Jadi tidak mungkin ia berasal dari evolusi, dari tingkat yang rendah menjadi makhluk yang bertingkat tinggi.
Dan tidak mungkin pula bila manusia diciptakan tanpa memiliki fungsi dan tujuan. Apakah keberadaan manusia ini hanyalah kebetulan atau diciptakan secara iseng saja? Mengingat besarnya potensi yang dimilikinya dan juga bekal-bekal hidup yang lain.

Apakah hidupnya sebagaimana kehidupan binatang… , survive, mencari makan dan minum, serta berketurunan.

Penciptaan kehidupan manusia adalah mempunyai fungsi dan tujuan, yaitu beribadah kepada Allah. Yang tentunya caranya sesuai dan menurut kehendak yang menciptakan manusia dan yang memberi kehidupan itu sendiri, yaitu Allah SWT.

1. Tidak dicipta untuk main-main
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Al Mu’minuun/23:115

2.Perjanjian manusia dengan Allah
“Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak keturunan Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka(seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab:”Betul(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”, (Kami lakukan yang demikian itu)agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(kekuasaan Tuhan)”
Al A’raaf/7:172

3. Mendapat amanat yang besar
” Sesungguhnya Kami telah mengamukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh,…sehingga Allah mengadzab orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”
Al Ahzab/33:72

4. Tujuan penciptaan manusia
“Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
Adz Dzariyaat/51:56

“Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu…”
Al Baqarah/2:21

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…”
Al Baqarah/2:30

“Dia telah menjadikan kamu dari tanah dan menjadikan kamu pemakmurnya”
Huud/11:61

*****

Bekal dari Allah bagi manusia untuk memikul konsekuensi hidup

Semua yang telah diberikan Allah kepada manusia adalah nikmat yang merupakan bekal-bekal manusia untuk memikul konsekuensi kehidupannya, yaitu berupa keutamaan-keutamaan dan kelebihan-kelebihannya, melebihi makhluk yang lain.

Tetapi semua adalah tinggal potensi belaka bahkan menjadi penyebab kebinasaan apabila tidak di arahkan kepada tujuan yang benar karena cenderung mengikuti naluri yang bersifat bebas / hawa nafsu.

Maka Allah memberikan peringatan-peringatan-Nya dan memberikan hidayah kepada yang dikehendaki-Nya.

“…maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…”
Al Baqarah/2:213

“Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah ni’mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab(Al Qur’an) dan Al Hikmah(As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang telah diturunkan-Nya itu…”
Al Baqarah/2:231

Allah memberi kesanggupan bagi manusia untuk mendapatkan peringatan dan petunjuk ini Allah ini, apabila dirinya memiliki syarat kesiapan untuk menerimanya.

A. Hati yang bertaqwa kepada Allah SWT

Taqwa adalah sebaik-baik bekal dan yang mencukupi, tanpanya tiada bermanfaat bekal-bekal yang lainnya.

“…Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertawakallah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”
Al Baqarah/2:197

Allah telah menetapkan bahwa taqwa adalah sebaik-baik bekal, maka berbekallah dengan taqwa, karena manfaat darinya sangat besar.

1. Penjaga hati yang mudah lalai

Manusia begitu mudah untuk lupa dan lalai, maka untuk menguranginya adalah dengan lawannya yaitu kewaspadaan, waspada terhadap kehidupannya, di dalam melangkah di dalamnya, dan melewati ujian-ujian di dalamnya, apakah sudah dilewati dengan benar atau tidak?
Sebagaimana gambaran taqwa menurut Umar Ra. Ketika dia ditanya tentang taqwa. Yaitu keadaan dimana seseorang yang sedang melewati jalan yang penuh dengan lubang dan rintangan. Dengan begitu dia akan berhati-hati kalau ingin selamat dalam melangkah, hatinya akan senantiasa disibukkan dengan pertimbangan-pertimbangan sebelum beramal, apakah ini halal atau haram.

2. Tambahan hidayah dari Allah berupa furqan

“Hai orang-orang yang beriman jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada furqaan…”
Al Anfaal/8:29

Dengan taqwa hati menjadi hidup, jernih dan terasah kepekaannya sehingga mampu membedakan antara yang haq dan yang batil, dan menjadikannya mudah untuk menerima cahaya nasehat dan ilmu.

3. Mempertemukan fitrah dengan kebenaran

Sesungguhnya kebenaran itu tidak samar bagi fitrah, karena fitrah diciptakan dengan kebenaran sebagaimana langit dan bumi diciptakan dengan kebenaran juga, terdapat sinergi /saling kerja sama dan keserasian antara keduanya.

“Dan mengapa kamu tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan”
Ruum/30:8

Akan tetapi hawa nafsulah yang menghalangi antara kebenaran dan fitrah. Hawa nafsu yang menebar kegelapan dan menghalangi pandangan yang benar, menyamarkan jejak, serta menyimpangkan dari arah tujuan.

Hawa nafsu tidak dapat ditolak dengan adu argumentasi karena akan menimbulkan kesia-siaan saja, tetapi dapat ditolak dengan taqwa, rasa takut kepada Allah dan kesadaran adanya pengawasan dari Allah SWT.

“Dan adapun orang-orang yang takut kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya..”
An Naazi’aat/79:40~41
“…maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya,…”
Asy Syams/91:8

4. Menjaga dari perbuatan maksiat kepada Allah

“Dan orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya ”
An Naziaat/79:40~41

Orang yang taqwa kepada Allah takut terhadap murka dan adzab-Nya tentu tidak berani berbuat maksiat apalagi menentang-Nya, ia akan selalu terjaga di dalam wilayah ketaatan.
Menahan diri/nafsu memerlukan perjuangan yang berat dan keras, karena mengendalikan agar nafsu tetap dalam ketaatan kepada Allah bertentangan dengan pembawaan dasar nafsu itu sendiri yang cenderung bebas tidak ingin dikekang, maka surga layak diberikan sebagai balasan, bagi yang mampu mengendalikannya.
Manusia diciptakan Allah dari dua unsur yaitu unsur tanah dan unsur roh. Yang masing-masing unsur memilliki sifat-sifat bawaan. Sifat roh adalah seperti malaikat, fitrah, tinggi dan mulia, dan sifat dari unsur tanah adalah rendah sebagaimana binatang. Ketika dua unsur ini bertemu dan menjadi manusia, sifat bawaan dari masing-masing unsur itu akan ikut terbawa pula.
Kemudian manusia dibekali oleh Allah berupa penjaga yang akan menjaga persatuan kedua unsur ini yaitu hati dan naluri. Hati berfungsi untuk menjaga bagian ruh/batiniah, senantiasa mengajak manusia kembali kepada fitrahnya, membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Sedangkan naluri berfungsi untuk menjaga jasad manusia, atau menjaga secara lahiriah. Naluri untuk memenuhi kebutuhan jasad seperti makan minum, tidur dan berketurunan, dan naluri untuk menghindari sesuatu yang membahayakan, seperti gerak reflek misalnya.
Manusia dalam beramal/beraktifitas sehari-hari tidak lepas dari kekuatan kedua unsur penjaga ini. Kekuatan hati diperoleh dari pemenuhan makanan rohani, maka sifat bawaan ruh akan hidup dan kuat. Kekuatan naluri/hawa nafsu diperoleh dari pemenuhan kebutuhan jasad
Dua unsur penjaga ini saling dominasi dan saling mempengaruhi tergantung dari makanan yang diperoleh masing-masing, mana yang lebih banyak makanannya ia yang akan lebih berpengaruh terhadp yang lain.
Manusia yang baik adalah yang mampu memenuhi kebutuhan jasadiah dan ruhaninya secara seimbang dan mengarahkan potensinya ke arah yang benar menuju tujuan hidupnya.

Di dalam proses saling mempengaruhi ini, musuh manusia yang bernama syethan ikut campur tangan dan berusaha merusak keseimbangannya.
Pertama ia membisikkan manusia untuk lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan jasadiah sampai ke dalam porsi yang berlebihan, dan mengabaikan makanan-makanan hati. Ketika hati manusia menjadi lemah, maka dengan mudah syethan menyerang hati dengan membisikkan angan-angan kosong yang menipu, merusak fitrah dan membalik timbangan kebaikan keburukan yang dimiliki hati, sehingga yang baik bisa dikatakan buruk dan yang buruk dikatakan baik.
Atau sebagian yang lain tertipu bujukan syaithan dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ruh/hati saja dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan jasadiah, sehingga ia menjadi manusia yang lemah fisik dan lemah materi.

B. Akal yang difungsikan untuk mencari ilmu

Dengan akal manusia mampu mengemban beban yang berat dan tanggung jawabnya yang besar, dengannya menusia mampu mencari pengetahuan dan mengikat ilmu. Inilah karunia yang karenanya manusia dilebihkan dan dimuliakan atas kebanyakan makhluk.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”
Al Israa’/17:70

Ibnu Qayyim mengatakan:”Akal yang berfungsi dengan sempurna ialah yang mampu mengantarkan pemiliknya kepada ridha Allah Ta’ala kemudian ridha Rasul-Nya”

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”
Az Zumar/39:18
“Dan apabila kamu menyeru(mereka) untuk(mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”
Al Maidah/5:58

Kekuatan akal sangat dipengaruhi hati, jika hati kuat maka akal juga kuat dan tajam, hal ini juga berlaku bagi anggota tubuh yang lain, sebagaimana hadits dari Rasulullah:

أَلاَوَإِنَّ فِىالْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقُلُبُ
”Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila dia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati ”
Bukhari dari Kitabul Iman

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami?”
Al Hajj/22:46
“Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikannya”
Qaaf/50:37

C. Indera yang dimiliki manusia

“Dan Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itulah kebenaran”
Sajdah/32:53

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata(tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga(tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”
Al A’raaf/7:179

D. Dunia dan seluruh isinya

“Dan Dia menundukkan untukmu apa-apa yang di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat)daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda(kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”
Al Jatsiyah/45:13

“Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk(kepentinganmu) apa yang di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan nikmat-Nya lahir dan batin”
Luqman/31:20

*****

Semua nikmat Allah adalah sarana untuk memikul konsekuensi kehidupan

“…sesungguhya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur”
Yunus/10:60

“Maha Suci Allah yang telah menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. Dan Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang mau bersyukur”
Al Furqaan/25/61~62

“…janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya”
Al Anfaal/8:27

Jelas sekali bahwa Allah–lah yang telah menundukkan langit dan bumi bagi manusia, merancang serata menciptakan tempat tinggal manusia dengan begitu detail dan nyaman, susunan udaranya, iklim dan suhunya, besarnya gaya gravitasi yang sesuai dengan kebutuhan manusia, siklus perputaran air, buminya yang dapat ditanami bermacam-macam tanaman dan sebagai tempat hewan-hewan, dan masih banyak yang lain yang tidak mungkin disebutkan secara singkat, pendek kata semua yang ada di dunia ini adalah untuk menunjang kehidupan manusia.

Kemudian apa-apa yang ada pada dirinya, berupa indera, yang berfungsi sebagai alat perasa kenikmatan dan penjaga keselamatan diri, dan dengannya pula manusia bisa mencari ilmu.
Akal dan hati juga dikaruniakan Allah kepada manusia sebagai alat pengendali yang mengarahkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh kepada tujuan yang benar, agar senantiasa manusia bisa berjalan di atas kebenaran, sesuai dengan tujuan pemberian kenikmatan-kenikmatan tersebut.

*****


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: