Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » FENOMENA “SALAFY” DAN MANHAJ KRITIK TERHADAP ORANG LAIN

FENOMENA “SALAFY” DAN MANHAJ KRITIK TERHADAP ORANG LAIN


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas baginda Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keluarga dan segenap pengikutnya hingga hari akhir kelak. Munculnya gerakan “salafy” di tengah para pegiat dakwah merupakan peristiwa fenomenal. Dengan gaya khas-nya, kelompok ini mengobok-obok para ulama, du’at serta jama’ah-jama’ah dakwah lain yang tidak sepaham dengan mereka.

Padahal, sebelum era 90-an, yakni sebelum pecah perang teluk, barisan kaum muslimin khususnya para pengusung al-haq di seluruh pojok dunia terfokus menghadapi geliat penyimpangan akidah, kaum kuffar, dan sekuler.[] Namun tiba-tiba dunia seolah dikejutkan oleh fenomena lahirnya fikrah “salafy” ini. Begitu fenomenal. Sebab hadir dengan sebuah fikrah yang membuat banyak orang tercengang, tak percaya. Kelompok anak-anak muda yang sangat berani menyerang dan menuding ulama umat, tak terkecuali para ulama terdahulu yang banyak melahirkan karya-karya monumental bagi umat ini, seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam an-Nawawi dan selain keduanya –rahimahumullah

 

Ketidakpercayaan di sini dilatari oleh sebuah keyakinan umum, bahwa ulama merupakan mercusuar agama ini. Dipandang, dihormati, diberikan tempat layak dalam kapasitasnya sebagai pengarah dan penunjuk bagi umat.[ Namun sekejap seakan mereka tidak lagi memiliki apa-apa di mata anak-anak muda tersebut. Begitu berani, kalau tidak dikatakan sebagai kelancangan. Olehnya, perhatian dan konsentrasi umat-pun pecah. Disatu sisi sibuk menghadapi makar musuh yang nyata dari kalangan kuffar, munafikin dan sekuler, namun di sisi lain mereka dibebani tugas tambahan membela diri, dan meredam fitnah kelompok “salafy” tersebut. Fatwa-fatwa, nasehat, pengarahan dan sebagainya membumbung ke langit terbidik pada kelompok ini. Hal ini telah disinggung pada akhir tulisan kami Silsilah Pembelaan Para Ulama dan Du’at II, bahwa seluruh fatwa-fatwa dan nasehat ulama yang kami paparkan di dalamnya, mustahil lahir begitu saja tanpa dipantik oleh sebuah fenomena menyedihkan.

Yang membuatnya menjadi semakin fenomenal, gerakan ini begitu cepat merembeti hampir seluruh penjuru dunia. Dan rata-rata penggeraknya adalah anak-anak muda enerjik dan hanya bermodal hamasah. Seruannya pun sama. Hingga pada tataran penerapan fikih ibadah, nyaris serupa di seluruh belahan dunia. Perhatikan awal kemunculannya dibarengi dengan gaya shalat yang sama di hampir seluruh dunia. Yaitu dalam persoalan al-‘Ijn (mengepalkan telapak tangan dan menjadikan sebagai tumpuan kala bangkit dari sujud), dan masalah mendahulukan tangan dari lutut saat akan sujud. Sampai sampai pada kenyataan, -dahulu- anak-anak muda ini berasumsi dan menimbang seseorang dari gaya shalatnya. Siapa yang tidak shalat seperti shalat mereka, dinyakini bukan dari kelompok mereka. Yah, sampai pada derajat demikian.

Demikian pula konsep bid’ah, ahli bid’ah dan aplikasi konsep itu dalam kehidupan beragama, masih belum tuntas hingga saat ini Apalagi pada saat awal kemunculannya. Begitu mudahnya mereka bertikai. Makanya tidak aneh, jika pada hari ini kita saksikan mereka duduk bersama, mengkaji ilmu bersama, menuding orang lain secara bersama, namun esoknya mereka sendiri yang saling menyerang, saling menuding sebagai ahli bid’ah, dan saling merasa diri sebagai ahli sunnah sejati. Setelah itu berebutan menarik sedapat bisa murid-murid dan pengikut, lalu didoktrin melalui hampir seluruh majelis-majelisnya, bahwa mereka-lah ahli sunnah, sedangkan fulan –yang dulu bersamanya- bukan lagi ahli sunnah, menyimpang, dan sebagainya. Pokoknya, Ahlu Sunnah hanya terbatas bagi dirinya dan kelompoknya, dan siapa yang berseberangan dengan mereka, maka mereka-pun berteriak bahwa fulan telah menyelisihi Ahlu Sunnah, demikian pula jika tidak sepaham dengan Syaikh panutannya, mereka akan berkata, si fulan menyelisihi ulama Ahlu Sunnah !!.

Celakanya, murid-murid yang sebelumnya pernah belajar dari ustadz fulan, ketika telah berpindah majelis ikut-ikutan mencela dan menuding mantan ustadznya yang dahulu mendiktekan ilmu syar’i padanya. Tidak ada rasa hormat sedikitpun apalagi menghargai. Makanya dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian kaum muslimin di tanah air tersita oleh kelompok ini. Datang secara tiba-tiba, menyerang membabi buta, lalu mereka sendiri saling bertikai. Puncaknya kisruh panjang yang berakhir mubahalah antara Ustadz Ja’far Umar Thalib dari kalangan “salafy” dan Syaikh Syarif Fu’ad Hazza dari Jam’iyyah Ihya’ at- Turots yang diperbantukan di Pesantren al-Irsyad Tengaran Salatiga Solo. Lalu disusul kisruh-kisruh lainnya antara Ust. Ja’far dan mantan murid- muridnya yang berujung lahirnya fatwa sang panutan “salafy” Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhaly –hafidzahullah-, bahwa Ust. Ja’far telah meninggalkan Ahli Sunnah, dan kemudian menyeberang ke jama’ah yang sangat bertolakbelakang dengan apa yang ia gaungkan selama ini.

Setelah itu mereka pun berebutan mencari simpati -kalau istilah jawanya sungkeman– di hadapan ulama atau Syaikh yang menjadi panutan dan marja’ mereka dalam bermanhaj yang jumlahnya hanya gelintiran. Mencari tazkiyah dan lejitimasi serta meminta fatwa tentang keadaan saudaranya, melalui pertanyaan-pertanyaan umum yang kemudian ditanzil secara serampangan terhadap lawan seterunya. Lalu ditulis atau direkam, setelah itu disebarkan di tengah-tengah masyarakat, khususnya pengikut mereka agar jangan sampai terpengaruh oleh kelompok lain, seraya mengatakan, “Lihatkan Syaikh fulan berfatwa bahwa fulan itu ahli bid’ah, bukan ahli sunnah, telah meninggalkan ahli sunnah dan lain sebagainya”. Dan lawan seterunya pun berbuat hal yang sama. Menukil lalu menghembuskan fatwa Syaikh lainnya yang juga berasal dari jenis pertanyaan yang serupa tapi tak sama.

Anehnya, jika muncul fatwa atau risalah dari kalangan ulama mu’tabar dan terpandang bertentangan dengan hawa nafsunya, segera mereka memasang argumen-argumen peredam fatwa itu. Diantaranya, bahwa fatwa itu telah mansukh (terhapus), atau Syaikh fulan telah ruju’ dan sebagainya. Tapi jika argumen-argumen tersebut tidak efektif, mereka tidak segan mengatakan, bahwa fatwa dan buku itu adalah karya terjelek yang pernah ditulis oleh Syaikh fulan!. Akhirnya, waktu dan potensi anak-anak muda itu terkuras lantaran disibukkan oleh perlombaan-perlombaan ini dari menuntut dan mendalami ilmu syar’i. Wallahul musta’an.

Jika menilik gaya kelompok “salafy” di seluruh dunia, dan apa yang mereka serukan berupa tahdzir pada ulama-ulama yang mereka anggap hizbi serta perang terhadap manhaj al-muwazanah, maka itu tidak lebih dari sekedar adopsi dari manhaj al-Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhaly –hafidzahullah– dalam menyikapi orang-orang yang tidak sejalan dengan beliau, yang kemudian dibukukan dalam beberapa karyanya diantaranya dan yang paling nampak adalah “Manhaj Ahli Sunnah fi Naqdi ar-Rijal wa al-Kutub wa ath-Thawaaif“.

Dan sebagai bahan renungan, kami akan paparkan secara ringkas manhaj kelompok “salafy” tersebut dalam mengkritik orang lain agar dapat menjadi pelajaran bagi kita.

Pertama: Menjadikan sikap adil, ihsan, persaksian kebenaran, serta menegakkan keadilan sebagaimana perintah Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri…“. (Qs: an-Nisa’ : 135), juga firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”. (Qs: al-Maidah : 8), dan selainnya sebagai manhaj Ahli Bid’ah yang kemudian dimasyhurkan dengan nama “Manhaj al-Muwazanah” dan bahwasanya metode ini bukan manhaj Ahlul Hadits dan Ahlu Sunnah.

Kedua: Menganggap bahwa tamassuk (berpegang) pada kesalahan dan kekeliruan manusia termasuk bagian dari agama. Dan bahwasanya, manusia tidak ditimbang melainkan dengan kesalahan-kesalahan dan kekeliruan tersebut. Menurut asumsi mereka, hukum terhadap orang lain berdasarkan kesalahan serta kekeliruan, dan bahwasanya setiap kesalahan dan kekeliruan itu menghancurkan kebaikan dan kemuliaan.

Ketiga: Manhaj kritik kelompok “salafy” ini telah melahirkan jama’ah-jama’ah Takfir dan Tafsiq (Jama’ah yang gampang menuduh orang lain kafir dan fasik) yang kemudian menuding sesat ulama Salaful Ummah lalu membakar karya-karya monumental mereka, seperti kitab Fathul Bari karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani,Syarhu Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi, aqidah ath-Thahawiyah dan selainnya. Dan mereka ini, tidak diragukan lagi, adalah alumni dari manhaj dan metode kritik orang lain yang rusak tersebut.

Keempat: Manhaj ini tidak menyisakan tempat terpuji bagi seorang dari ulama Islam, sebab ia dibangun di atas pondasi mengendus-ngendus kesalahan, kekeliruan dan ketergelinciran, padahal tidak ada di dunia ini seorang yang memperoleh sifat al-ishmah kecuali Nabi shallallahu alaihi wasallam. Olehnya, tatkala mereka mengorek-ngorek kesalahan ulama-ulama yang berseberangan dengan Syaikh mereka, maka seteru-seterunya pun membalas dengan perbuatan yang sama, yakni berusaha tanpula mengerik-ngerik kekeliruan dan kesalahan Syaikh mereka juga. Maka jadilah setiap dari kedua kelompok sibuk saling mengendus, mengorek dan mengerik kesalahan yang ada pada lawan seterunya. Olehnya, siapa yang memulai suatu sunnah (kebiasaan) buruk, maka atas dosa (atas perbuatan itu) dan dosa orang yang mengikutinya hingga hari kiamat kelak.

Kelima: Manhaj ini menjadikan para pemuda awam yang masih hijau dalam ilmu syar’i menjadi berani (baca: lancang) merusak dan mencemari harga diri dan kehormatan ulama, serta mengendus kesalahan-kesalahan mereka. Padahal, mereka ini masih sangat hijau dan baru saja akan mendalami ilmu syar’i, dimana kondisi ini –lantaran mereka masih baru– menyebabkan terjadinya banyak penyimpangan di kalangan mereka, diantaranya meninggalkan ajaran-ajaran agama, akhlak, tabiat yang terpuji, dan selainya. Dan anehnya, mereka mendendangkan bahwa perbuatan mencela dan menuding ulama tersebut sebagai bagian dari agama yang dengannya mereka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Keenam: Manhaj dalam mengkritik ala kelompok “salafy” ini menyebabkan rusaknya citra Ahli Sunnah di hadapan orang yang tidak paham terhadap metode Ahlu Sunnah berkaitan dengan sifat adil dan ihsan. Demikian pula di hadapan orang-orang yang jahil terhadap manhaj para ulama-ulama Ahlu Sunnah, hingga mereka menilai bahwa manhaj Ahlu Sunnah itu adalah mencela, menghina, menuduh ahli bid’ah tanpa dasar, dan mengorek-ngorek kesalahan orang lain, yang karenanya memalingkan manusia dari manhaj Ahli Sunnah itu sendiri.

Ketujuh: Manhaj ini menyebabkan pengikutnya terjebak dalam tanaaqhud (pertentangan), lahirnya “dua timbangan” (standar ganda), serta hukum dalam satu masalah dengan dua perkataan yang saling bertentangan. Olehnya, banyak lahir dari kalangan mereka taqiyyah dan dusta. Akibatnya, mereka pun memiliki perkataan-perkataan rahasia dalam membid’ahkan pemuka-pemuka umat, dimana mereka tidak berani menampakkannya di hadapan khalayak.

Kedelapan: Manhaj kritik ini menyebabkan tertutupnya mata hati kebanyakan thullabul ilmi, hingga tanpa disadari mereka berdiri dalam shaf musuh-musuh Islam dalam menghadapi saudara-saudara muslim mereka.

Kesembilan: Manhaj ini menyebabkan perpecahan yang sangat banyak dalam tubuh umat Islam secara umum, dan khususnya barisan Ahli Sunnah, yang belum pernah terjadi pada manhaj manapun. Dimana mereka memberi al-wala dan al-bara hanya lantaran masalah-masalah tertentu dari furu’iyyah agama. Bahkan, mereka menganggap bahwa salafy itu adalah yang berkata ini dan itu, di samping begitu cepat mendepak seorang muslim dari manhaj ahlu sunnah dan barisan para pengikut salafus salih hanya lantaran menyelisihi satu perkara dari masalah-masalah ijtihad, dan wajib mendapatkan al-bara’.

Kesepuluh: Manhaj ini memalingkan kaum muslimin dari menghadapi musuh-musuh Islam yang nyata dari kalangan kuffar dan munafiqin. Dimana pada du’at sibuk membela diri dan kehormatan ulama dihadapan gempuran syubhat dan dusta yang ramai dihembuskan oleh pengekor manhaj ini, hingga memberi ruang yang lapang bagi musuh-musuh Islam menancapkan taring-taring mereka dalam agama yang mulia ini.

Terakhir, kami akan nukilkan perkataan al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali –rahimahullah– dalam kitabnyaJami’ al-Ulum wa al-Hikam I/340, berkaitan dengan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menutupi aib seorang mukmin, niscaya Allah Ta’ala akan menutupi (aib) nya pada hari kiamat“, beliau (Ibnu Rajab) berkata: Diriwayatkan dari perkataan sebagian salaf: “Sungguh aku mendapati suatu kaum yang sebenarnya mereka tidak memiliki aib dan cela, namun mereka suka mengungkit aib-aib manusia, maka orang lain pun mengungkap aib-aib mereka. Sebaliknya, aku juga mendapi suatu kaum yang memiliki banyak aib dan kekurangan, namun mereka menahan diri dari (mencari-cari) aib orang lain, maka aib-aib mereka pun terlupakan“.

Demikian pula Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah –rahimahullah– memiliki perkataan berharga dan pantas digoret dengan air mata, sebab jelas melukiskan kondisi sebagian penuntut ilmu di zaman ini: “Merupakan perkara aneh, seorang itu begitu mudah baginya menjaga diri dari makanan haram, berlaku zalim, zina, mencuri, minum khamer, memandang sesuatu yang diharamkan dan sebagainya, namun sulit baginya mengontrol gerakan lisannya. Hingga engkau melihat seorang yang terkenal akan kebaikan agama, sifat zuhud dan ibadah, namun ia berkata-kata dengan kalimat yang memancing murka Allah sementara ia tidak peduali akan hal itu, namun satu kalimat itu cukup menjauhkannya antara timur dan barat. Betapa banyak engkau saksikan seorang yang begitu wara’ (menjaga diri) dari perbuatan keji dan zalim, namun lisannya panjang dalam (mencela) kehormatan dan harga diri orang, baik yang masih hidup maupun yeng telah mati, serta tidak ambil peduli terhadap apa yang ia ucapkan“.


1 Komentar

  1. aku mengatakan:

    Apa yang disampaikan sama sekali tidak pernah ana rasakan saat ana mengikuti kajian2 salafi, bahkan kitab tauhid athowawiyah yang dibilang di bakar, ternyata di kaji di kajian2 salafi….. ana jadi merasa antum yang menulis artikel ini yang menyebarkan fitnah…. AFWAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: