Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Al Ghuluw Fit Takfier » Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 34 Mengkafirkan Orang-Orang Yang Menyelisihi Karena Sekedar Intima Mereka Kepada Jama’ah-Jama’ah Irja

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 34 Mengkafirkan Orang-Orang Yang Menyelisihi Karena Sekedar Intima Mereka Kepada Jama’ah-Jama’ah Irja


Mengkafirkan Orang-Orang Yang Menyelisihi

Karena Sekedar Intima Mereka

Kepada Jama’ah-Jama’ah Irja

 

Di antara kekeliruan yang sangat buruk dalam takfier juga adalah mengkafirkan orang yang menyelisihi (mukhalifin) karena sekedar intima mereka kepada jama’ah-jama’ah Irja.

Sungguh saya telah melihat di kalangan mutahammisin yang tidak mengendalikan lontaran-lontaran mereka dengan dlawabith syar’iy (batasan-batasan syari’at), ada orang yang mengkafirkan seluruh jama’ah-jama’ah irja hari ini dari kalangan orang-orang yang menyelisihinya dalam hal takfier para thaghut atau anshor mereka dari kalangan ‘asaakirul qawaniin.

 

Saya mendengar umpamanya orang yang mengatakan: (Sesungguhnya jama’ah fulaniyyah termasuk jama’ah irja, mereka bukan bagian dari dienullah atau bahasa mereka itu tidak berada di bawah payung Islam), dan bila engkau meminta rincian dari mereka tentang maksud dari lontaran-lontaran yang bernada semangat ini, ternyata engkau mendapatkan mereka menakwilkan dengan hal itu takfier seluruh individu jama’ah-jama’ah itu. Dan bila engkau menuntut mereka agar mengutarakan dalil akan hal itu, maka mereka menuturkan kepada anda sikap-sikap atau statement-statement sebagian tokoh-tokohnya yang di dalamnya terdapat mudahanah terhadap para thaghut atau pembelaan dari apanya mengkafirkan mereka.

Dan sudah maklum bahwa ini saja tidak cukup untuk takfier, terutama bila si mukhalif dalam hal itu hanya tawaqquf dalam takfier karena dia meyakini keberadaan suatu penghalang (mani’) dari mawani’ takfier, atau samar atasnya keadaan mereka karena berdirinya sebagian syubuhat pada diri mereka karena kelemahan pemahaman mereka terhadap nushush, seperti terpedaya oleh ucapan mereka (laa ilaaha illallah) atau oleh shalat mereka, di mana ia menyebutkan hadits Usamah dan pengingkaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya saat membunuh orang yang mengucapkannya atau hadits bithaqah dan yang lainnya tentang keutamaan-keutamaan laa ilaaha illallah atau hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan Muslim tentang para penguasa dan di dalamnya ada pertanyaan sahabat:

(أفلا نقاتلهم)؟  وجواب النبي صلى الله عليه وسلم: (لا ما صلوا)

(Apakah boleh kami memerangi mereka ?) Dan jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Tidak, selama mereka masih shalat)[1]

Dan hadits-hadits semacam itu yang mengaitkan keterjagaan darah dan harta dengan sebagian ciri-ciri khusus Islam.

Bila masalahnya seperti itu dan pada seseorang tidak ada sesuatu pun dari asbabut takfier, maka ini saja tidak cukup untuk mengkafirkannya. Terutama sesungguhnya orang-orang yang menyelisihi kami tentang mereka itu tidak  tegas-tegasan berlepas diri dari Islam, namun mereka senantiasa intisab kepadanya dan sesungguhnya banyak dari mereka itu shalat, shaum, haji dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal yang terkadang membuat isykal bersamanya takfier mereka atas banyak dari manusia. Oleh sebab itu kekafiran mereka bagi banyak manusia adalah tidak seperti kekafiran orang murtad riddah sharihah dengan cara kepindahan dia ke agama lain yang nampak bara’ahnya dari dienul muslimin. Jadi dia itu tidak seperti orang yang pindah masuk Nashrani yang hampir tidak engkau dapatkan seorang muslim yang awampun tawaqquf dalam takfiernya, berbeda dengan masalah yang sedang kita bahas ini, yang mana ia butuh kepada ta’rif dan tafhim.

Oleh sebab itu telah terjadi isykal semacam ini terhadap orang yang lebih baik dari mereka, yaitu Al Faruq radliyallahu ‘anhu, tatkala Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu bermaksud memerangi orang-orang yang murtad dari kalangan Arab dengan sebab menolak membayar zakat tanpa mereka ini berlepas diri dari Islam, ‘Umar berkata kepadanya:

(كيف تقاتل الناس، وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  ”أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله.. ؟” فقال أبو بكر:  والله لأقاتلن من فرّق بين الصلاة والزكاة، فإن الزكاة حق المال. والله لو منعوني عناقاً كانوا يؤدونها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لقاتلتهم على منعها.

فقال عمر؛ فوالله ما هو إلا أن رأيت أن الله قد شرح صدر أبي بكر للقتال فعلمت أنه الحق ).. والحديث في الصحيحن.

(Bagaimana engkau memerangi manusia itu, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadati, kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan allah, kemudian bila mereka telah melakukan itu, maka mereka telah melindungi dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya, sedangkan perhitungan mereka adalah atas Allah…”). Abu Bakar menjawab: “Demi Allah, sungguh saya akan memerangi orang yang memilah antara shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka menahan anak unta dariku yang padahal mereka dahulu menunaikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentulah aku akan memerangi mereka atas perlakuannya”. Maka ‘Umar berkata: “Demi Allah, tidaklah terjadi kecuali saya melihat bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka saya mengetahui bahwa inilah al haq…”) hadits ini dalam Ash Shahihain.

Perhatikanlah kesamaran masalah ini terhadap orang yang telah disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya:

( لقد كان فيما قبلكم من الأمم ناس مُحدّثون، فإن يك في أمتي أحدٌ فإنه عمر ) رواه البخاري عن أبي هريرة..

(Sungguh sebelum kalian dari antara umat-umat telah ada orang-orang muhaddatsun[2], dan bila ada seorang di antara umatku maka sesungguhnya ia adalah ‘Umar). Diriwayatkan Al Bukhari dari Abu Hurairah.

Maka apa gerangan dengan orang yang di bawah tingkatan mereka?

Kemudian perhatikan bagaimana Abu Bakar radliyallahu ‘anhu, padalah beliau ini umat yang paling taqwa setelah Rasulullah dan yang paling serius terhadapa dienullah, tidak mengkafirkan ‘Umar karena tawaqquf-nya dan jidal-nya dalam memerangi orang-orang yang murtad tersebut, itu dikarenakan jidal beliau itu terjadi dengan sebab syubhat dan Abu bakar tidak mengkafirkannya, karena ia meyakini bahwa mereka itu muslimun yang terjaga dengan dua kalimat syahadat. Sungguh jauh beliau dan jauh juga para sahabat dari sikap-sikap ngawur semacam itu, namun beliau menjelaskan kepadanya dalil untuk memerangi mereka, yaitu bahwa zakat itu hak harta dan bahwa ia dan shalat termasuk hak-hak laa illaaha illallah. Dan itu isyarat dari beliau kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

( أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وان محمداً رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة فإن فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحقها )

(Saya telah diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang diibadati selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mereka shalat dan mereka menunaikan zakat, kemudian bila mereka telah melakukan itu, maka mereka telah melindungi dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya) (Dan ia ada dalam Ash Shahihain). Beliau menjelaskan kepadanya bahwa qital itu memanjang hingga penegakan dua ibadah, sebagaimana Dia ta’ala berfirman:

“Kemudian bila mereka mendirikan shalat dan menuanaikan zakat maka lepaskanlah mereka” (At Taubah: 5) dan beliau melenyapkan darinya isykal dengan hal itu dan inilah yang wajib dilakukan terhadap orang yang memiliki isykal semacam ini.

Maka bila tidak boleh mengkafirkan seorangpun dari kalangan yang memiliki isykal semacam ini, terus dia malah menyelisihi kita dan mendebat kita dalam hal takfier mereka, maka lebih utama lagi tidak boleh mengkafirkan para pengikutnya atau murid-muridnya, atau orang-orang yang mana mereka itu tergolong anggota jama’ahnya karena sekedar pendapat syaikh mereka itu atau hal semacamnya, berupa pengkaburan-pengkaburannya dan mudahanahnya, karena Allah telah berfirman:

“Dan jiwa yang berdosa tidak menanggung dosa jiwa yang lain”.(Fathir: 18)

Dan dalam hadits:

(…  ألا لا يجني جانٍ إلا على نفسه) أخرجه الترمذي وغيره.

(“…Ketahuilah, sungguh orang-orang yang aniaya tidak melakukan aniaya kecuali atas dirinya sendiri”). Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan lainnya.

Dan dalam satu lafadh:

(لا تجني نفس على أخرى) رواه ابن ماجة وغيره.

(“Suatu jiwa tidak aniaya atas jiwa yang lainnya”) diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan yang lainnya.

Berapa banyak diantara jama’ah-jama’ah ini orang yang tidak ridha dengan kerancuan-keracuan ini, bahkan diantara mereka ada yang terang-terangan mengingkarinya dan sebagian mereka mengaku bahwa ia berupaya untuk memperbaiki dari dalam serta pengakuan-pengakuan yang timpang lainnya.

Dan telah tsabit di kalangan setiap orang yang memiliki ma’rifah dan tajribah (pengalaman) di dalam realita jama’ah-jama’ah yang beragam ini, keberadaan para pemuda yang ikhlash di tengah-tengah barisannya dari kalangan yang mencari kebenaran dan selalu memilihnya. Dan mereka membutuhkan beberapa fase untuk mengetahui hakikatnya dan penyimpangan-penyimpangannya dan banyak dari mereka sebagaimana yang kami saksikan mendapat taufiq terhadap kebenaan itu, kemudian ia cepat-cepat keluar dari jama’ah-jama’ah itu, atau umumnya mereka dikeluarkan oleh jama’ah itu sendiri, bahkan sesungguhnya banyak dari du’atut tauhid pada hari ini, mereka itu telah memulai komitmennya terhadap dien ini dalam barisan dan pangkuan jama’ah-jama’ah ini. Kemudian tidak lama setelah itu dengan taufiq dan hidayah Allah, akhirnya mereka menyadari penyimpangan-penyimpangan jama’ahnya dan mereka ‘iltizam dengan dakwah para Nabi dan minhaj para pengikut mereka. Dan Allah ta’ala telah berfirman:

“Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) kami, sungguh kami akan menunjukkan mereka ke jalan kami dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Al ‘Ankabut: 69)

Sungguh orang itu tidak mendapatkan bashirah dalam dien ini secara sekaligus, namun masalahnya adalah sebagaimana yang di kabarkan Ash Shadiq Al Mashduq:

( إنما العلم بالتعلم، وإنما الحلم بالتحلّم، ومن يتحرّ الخير يعطه، ومن يَتَوَقّ الشرّ يُوَقة).

“Hanyalah ilmu itu dengan belajar dan santun adalah dengan belajar santun, dan siapa yang mencari-cari kebaikan, maka dia akan diberi serta siapa yang menghindari keburukan maka ia akan dihindarkan darinya”.

Dan hendaklah orang selalu mengingat firman-firman-Nya ta’ala:

“Begitulah juga keadaan kalian sebelum ini, kemudian Allah memberikan karunia kepada kalian, oleh sebab itu carilah kejelasan. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan”. (An Nisa: 94)

Oleh sebab itu telah kami katakan berkali-kali dan berulang-ulang dalam banyak tempat dan kesempatan dan kami selalu menyatakan dan menegaskan bahwa kami tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi kami karena sekedar penyelisihan mereka terhadap kami dalam takfir para thaghut dan ‘asakir mereka karena adanya syubuhat pada mereka dari sebagian nushuh atau karena kejahilan mereka akan kekafiran-kekafiran merema. Selama penyelisihan mereka terhadap kita hanya dalam bab Al asma wal al fadh! Dan sikap ngawur mereka dan paham irjanya itu tidak menghantarkan mereka kepada pelegalan kekafiran atau pembolehannya atau pengajakan terhadapnya atau hal lainnya yang masuk dalam asbabuttakfier, persis sebagaimana salaf tidak mengkafirkan para tokoh mereka dari kalangan murji-ah terdahulu yang mana perselisihan mereka dengan ahlus sunnah itu hanya sekedar lafadh.

Sebagaimana Syaikul Islam telah menukil dari Al Imam Ahmad, beliau berkata: (Dan adapun Murji-ah, maka tidak ada perselisihan nushush bahwa beliau tidak mengkafirkan mereka, karena bid’ah mereka tergolong jenis perselisihan para fuqaha dalam furu’ dan banyak dari ucapan mereka kembali pada perselisihan di dalamnya kepada perselisihan dalam al al fadh dan al asma, oleh sebab itu dinamakan pembesaran dalam masalah-masalah mereka adalah bab al asma. Dan ini adalah tergolong perselisihan para fuqaha namun berkaitan dengan ashluddien, sehingga orang yang menyelisihi di dalamnya adalah mubtadi’.) Majmu Al Fatawa cet. Dar Ibnu Hazm 12/260, dan beliau maksudkan dengan hal itu Mujia-tul Fuqaha.

Oleh sebab itu beliau berkata di tempat lain 7/246: (Dan oleh sebab itu masuk dalam irja-ul fuqaha banyak orang yang mana mereka itu ahlu ‘ilmin wa dien di tengah umat, oleh karenanya seorang pun dari salaf tidak mengkafirkan seorang pun dari Murji-atul fuqaha, namun justru mereka menjadikan ini, sebagai bagian dari bid’ah ucapan dan perbuatan, bukan sebagai bagian dari bid’ah keyakinan, karena banyak dari perselisihan di dalamnya adalah lafdhiy, namun lafadh yang selaras dengan Al Kitab dan As Sunnah adalah yang benar, maka tidak seorangpun boleh mengatakan ucapan menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul-Nya, apalagi sesungguhnya hal itu telah mejadi jalan penghantar terhadap bid’ah-bid’ah ahlul kalam dari kalangan ahlul irja dan yang lainya dan jalan penghantar terhadap kemunculan al fisq, sehingga kekeliruan yang kecil dalam lafadh itu menjadi penyebab munculnya irja kekeliruan yang kecil dalam lafadh itu telah menjadi sebab munculnya kekeliruan yang besar dalam ‘aqaid (keyakinan) dan amalan).

Perhatikanlah hal ini supaya engkau mengetahui perbedaan antara irja fuqaha yang bersifat lafdhiy yang terbatas pada masalah-masalah definisi dan nama dengan apa yang bisa menghantarkan kepada hal itu berupa penyimpangan dalam keyakinan dan amal, dan ini adalah hal yang jelas lagi ma’lum jadi tidak semua Murji-ah seperti apa yang di’udzur oleh salaf berupa perselisihan lafadh, akan tetapi di antara mereka ada yang irja-nya menghantarkan kepada paham Jahmiyyah murni, sehingga mereka menggugurkan asbabuttakfier secara keseluruhan dan mereka membatasinya pada juhud qalbiy (pengingkaran hati) saja!! Di antara mereka ada yang irja-nya menghantarkan pada sikap meninggalkan hal-hal yang fardlu atau melegalkan hal itu atau melegalkan kekafiran atau mempermudah untuk melakukannya dan menyepelekannya. Dai ini di kalangan mutaakhirin lebih nampak keberadaannya daripada di kalangan Murji-ah terdahulu.

Oleh sebab itu Syaikhul Islam membuktikan antara orang-orang yang dinamakan Muqtashidatul Murji-ah yang mana bid’ahnya tergolong bid’ah fuqaha dengan Ghaliyatul Murji-ah yang mengkafirkan dengan siksaan dan mengklaim bahwa nushush menakut-nakuti dengan suatu yang tidak memiliki hakikat, beliau berkata (20/60): (Dan begitu juga Muqtashidatul Murji-ah, padahal sesungguhnya bid’ah mereka tergolong bid’ah fuqaha yang tidak ada kekafiran di dalamnya tanpa ada perselisihan di antara para imam. Dan orang-orang yang memasukkan mereka dari kalangan ulama madzhab kami ke dalam bid’ah-bid’ah yang dia hikayatkan takfier di dalamnya dan dia membelanya, maka sungguh ia telah keliru dalam hal itu, dan hal itu terjadi karena mereka tidak memandang memasukkan amalan atau ucapan dalam iman, dan ini adalah meninggalkan yang wajib. Adapun Ghaliyatul Murji-ah yang ingkar terhadap siksa dan mengklaim bahwa nash-nash itu menakut-nakuti dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya, maka pendapat ini sngat besar sekali (kebohongannya ……)

Dan hal serupa adalah pemilahan Adz Dzahabi[3] antara irja fuqaha yang bersifat lafdhiy dengan irja kufriy yang berkata (meninggalkan faraidh tidak berbahaya  bersama adanya tauhid).

Perhatikanlah pemilahan ini, karena sesungguhnya ia sangat penting oleh sebab itu sudah kami katakan dan senantiasa kami mengatakan bahwa keselarasan sebagian Neo Jahmiyyah di zaman kita terhadap Ahlus Sunnah dalam bab-bab Al Fadhul Iman dan definisi-definisinya padahal mereka itu menyelisihi dan bersebrangan dengannya dalam tauhid dan al ‘urwah al wutsqa serta penambalan terhadap para thaghut dan pelegalannya terhadap syirik dengan nama-namanya dan baju-bajunya yang baru berupa demokrasi dan yang lainnya, juga penambalannya terhadap UUD dan undang-undang buatan serta pembolehan memutuskan dengannya dengan dalih bahwa ia (UUD/UU) itu tidak menyelisihi syari’at atau bahwa ia itu harus melindungi hak-hak manusia, tidaklah boleh sama sekali menyamakannya dengan Murji-atul Fuqaha. Dan orang-orang yang kami ‘udzur dan kami setarakan dengan Murji-atul Fuqaha adalah orang yang dihantarkan oleh syubuhat-syubuhat yang lalu yang mana kelemahan pemahaman mereka akan nushush telah menjerumuskan mereka  ke dalamnya atau dugaan mereka akan tegaknya mawani’ takfier dan yang lainnya; kepada sikap tawaqquf dalam takfier para thaghut dan anshor mereka atau yang lainnya, tentu hal itu mengantarkan mereka pada sikap pelegalan al kufrul bawwah atau mempermudahnya, dan memberikan fatwa untuk membolehkan syirik yang nyata atau menganggap baik hal itu dan menganggap itu mashlahat atau melanggar suatu dari pintu-pintunya. Perhatikan macam yang kami bela ini dan hati-hatilah dari pembauran dan dari menisbatkan kepada kami apa yang tidak kami katakan.

Saya katakan ini padahal saya mengetahui bahwa salaf telah keras mengingkari Murji-atul Fuqaha dan membid’ahkan mereka serta melontarkan ucapan yang pedas terhadap mereka, karena bid’ah mereka sebagaimana yang telah lalu dari Syaikhul Islam telah menjadi jalan pada bid’ah ahlul kalam dan munculnya kefasikan, sehingga kesalahan yang kecil dalam lafadh itu telah menjadi sebab kekeliruan yang besar dalam ‘aqidah dan amalan.

Dan begitu halnya dengan kebanyakan penerus Neo Murji-ah yang menjidal dalam hal takfier para thaghut dan anshar mereka, sesungguhnya mereka meskipun bukan tergolong orang-orang yang tidak memperbolehkan kemusyrikan yang nyata atau menganggap bagus riddah. Namun perselisihan mereka itu adalah dalam asmaul kufri wal iman dengan sebab suatu dari syubuhat-syubuhat yang lalu, akan tetapi itu telah menjadi jalan bagi banyak kalangan ghulat mereka kepada sikap mempermudah masalah syirik dan tawalliy para thaghut dan mengentengkan banyak mukaffirat.

Namun tatkala takfier itu tidak sah dengan lazim dan ma-aal serta tidak tsabit, kecuali dengan sebab-sebab dhahir yang mundlabith; maka kami tidak mengkafirkan kecuali orang yang menangani langsung pelegalan kekafiran atau fatwa untuk membolehkannya atau memasuki sebab-sebabnya.

Dan selama keadaan mereka tidak seperti itu dan selama itu tergolong irja fuqaha, maka kami dalam menyikapi mereka adalah seperti salaf terdahulu, yaitu tidak mengkafirkan dan merasa cukup dengan vonis tabdi’, tadhlil (menganggap sesat) atau tajhil (menganggap bodoh).

Terhadap orang-orang semacam merekalah ucapan Syaikhul Islam dibawa: (Dan adapun salaf dan para imam, maka mereka tidak berselisih dalam hal tidak mengkafirkan Murji-ah, Syiah Mufadhdhah dan yang lainnya, serta penegasan-penegasan Ahmad tidak berbeda dalam keberadaannya bahwa beliau tidak mengkafirkan mereka, meskipun di antara murid-muridnya ada orang yang menghikayatkan dalam pengkafiran seluruh ahlul bid’ah dari kalangan mereka dan yang lainnya perselisihan darinya atau di dalam madzabnya, sampai sebagian mereka melontarkan pendapat kekekalan mereka itu dan yang lainnya (di neraka), sedangkan ini adalah kekeliruan atas nama madzhabnya dan atas nama syari’at. Majmu Al Fatawa Cet. Dar Ibnu Hazm 3/219

Beliau berkata setelah pembicaraan tentang Murji-atul Fuqaha dan awal kemunculan madzhab mereka: (Kemudian sesungguhnya salaf dan para imam sangatlah keras pengingkaran mereka terhadap mereka itu dan membid’ahkannya serta mengecam pedas mereka. Dan saya tidak mengetahui seorangpun dari mereka mengkafirkannya, bahkan mereka sepakat bahwa mereka itu tidak mengkafirkan dengan sebab itu. Ahmad dan lainnya telah menegaskan akan sikap tidak takfier Murji-ah itu, dan siapa yang menukil dari Ahmad dan Imam yang lainnya akan pengkafiran mereka atau menjadikan mereka sebagai bagian ahlul bid’ah yang diperselisihkan pengkafirannya, maka sungguh dia keliru besar. 7/311

Dan khulashah-nya: Sesungguhnya selama Afrakhul Murji-ah (Neo Murji-ah) hari ini menyelisihi kami dalam hal takfier para thaghut atau anshar mereka karena dugaan adanya sebagian mawani’ takfier pada diri mereka, atau karena syubhat yang muncul kepada mereka dari sebagian nushush syari’at, atau karena kejahilan mereka akan realita kekafiran-kekafiran mereka itu,  maka kami tidak mengkafirkan mereka selama itu tidak menghantarkan mereka kepada suatu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang nyata yang tidak layak jahil terhadapnya, seperti membela undang-undang kafir atau ikut serta dalam membuatnya atau bersumpah untuk menghormatinya dan setia terhadapnya, atau nushrah para budak UU itu atau membantu mereka dalam mengokohkannya dan menerapkannya atau nushrah mereka dan mudhaharah mereka atas para muwahhidin yang berlepas diri darinya lagi membela syari’at ini, atau melegalkan suatu dari hal itu dan menganggap baik hal itu, menganggapnya mashlahat dan memfatwakan kebolehannya serta mempromosikannya, karena mempromosikan kekafiran, mendakwahkannya serta memfatwakan kebolehannya adalah kekafiran seperti yang ditegaskan oleh para ulama.[4]

Oleh sebab itu mereka membedakan dalam ungkapan-ungkapannya tentang takfier dan sanksi antara penyeru yang memiliki wawasan akan bid’ahnya lagi mengajak kepadanya dengan keumuman kaum jahil ahlul bid’ah.

Para imam seperti Ahmad Ibnu Hanbal dan yang lainnya menolak riwayat dari orang yang terang-terangan dengan bid’ahnya dan mereka menolak kesaksiannya dan shalat di belakangnya, berbeda dengan orang jahil muqallid yang tidak memiliki bashirah.[5]

Al Kausaj berkata: Saya berkata keapada Ahmad: (Orang Murji-ah bila dia itu penyeru (bagaimana, ed.)? Ia berkata: Ya demi Allah, ia itu dikerasi dan dijauhkan.)[6]

Dan ucapannya ini tentang orang yang engkau ketahui pendapat tentang mereka (yang mana mereka itu) tergolong Murji-ah Fuqaha, maka apa gerangan seandainya beliau melihat orang yang mana paham Jahmiyyah dan Irja-nya pada masa kita ini menghantarkan mereka pada sikap nushrah kemusyrikan dan kaum musyrikin, menganggap baik riddah dan menganggap kekafiran dan keluar dari dien sebagai mashlahat…..?

Inilah sungguh sebagian orang telah merasa jijik dengan pemilahan dari kami ini, dan mereka heran dari sikap kami meng’udzur orang yang keliru dan menyelisihi kami saja dalam vonis terhadap para thaghut dan ansharnya, dengan orang yang membangun di atas itu dan menyertainya dengan suatu dari mukaffirat.

Kami meyakini bahwa pemilahan itu jelas dan gamblang yang terikat al ushul lagi sejalan dengan batasan-batasan syari’at.

Dan telah kami utarakan kepada engkau sebelumnya dalam pembicaraan terhadap kaidah: (siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir…) peng’udzuran orang yang tawaqquf dalam takfier orang kafir karena dia meyakini adanya suatu penghalang dari penghalang-penghalang takfier padanya atau karena pertentangan sebagian dalil dalam benak dia atau karena kejahilannya terhadap sebagian nushush atau adanya sebagian syubuhat padanya.

Dan selama sikap tawaqquf Murji-ah dalam takfier para thaghut dan ansharnya tersebut tergolong jenis itu dan bukan tergolong pendustaan terhadap dalil-dalil syar’iy atau bukan tergolong tawalliy UU mereka dan membela-belanya atau tawalliy terhadap para thaghut itu dan membantunya atas kaum muwahhidin atau sebab kekafiran dhahirah lainnya, maka dengan dasar alasan apa mereka dikafrikan???

Terutama sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kami tidak mengkafirkan, kecuali dengan suatu sebab dari sebab-sebab kekafiran dhahirah yang terbatas pada ucapan atau perbuatan yang mengkafirkan yang terang dilalahnya.

Mana ada dalam dalil-dalil syar’iy bahwa di antara sebab-sebab kekafiran itu kekeliruan seseorang dalam menempatkan vonis kafir terhadap sebagian orang yang kami kafirkan dari kalangan yang mengaku Islam yang melaksanakan sebagian ajaran-ajarannya, karena sebab syubuhat yang ada di benaknya yang muncul di hadapannya dari sebagian nushush atau karena keyakinannya akan keberadaan satu penghalang (takfier) atau karena kesamaran sebagian nushush terhadapnya?? Atau ‘udzur-‘udzur lain yang disebutkan ulama ???

Bila saja orang-orang yang menganggap jijik ucapan kami dan pilihan kami menuturkan dalil itu di hadapan kami, maka hendaklah mereka senang dengan keberadaan bahwa mereka tidak akan mendapatkan dari kami Insya Allah kecuali ketundukan dan penerimaan, karena dalil-dalil syar’iy bagi kami adalah segalanya dan kami tergolong orang yang paling bahagia dengannya dan dengan mengikutinya.

Adapun penilaian jijik menurut akal saja adalah tidak cukup (Karena Al Iman dan Al Kufru adalah tergolong hukum-hukum yang tsabit dengan risalah dan dengan dalil-dalil syar’iy bisa dibedakan antara orang mu’min dengan orang kafir tidak dengan sekedar dalil-dalil aqliy)[7]

Al Qadli ‘Iyadl berkata dalam Asy Syifa dalam fashl (Penjelasan apa yang merupakan kekufuran dari ucapan-ucapan)… (Ketahuilah bahwa tahqiq pasal ini dan pembuka kesamaran di dalamnya, sumbernya adalah syari’at dan tidak ada kesempatan bagi akal di dalamnya …) 2/282

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Al kufru adalah hukum syar’iy yang diambil dari shahibusysyari’ah, sedangkan akal terkadang diketahui dengannya kebenaran suatu ucapan dan kekeliruannya. Dan tidak setiap yang keliru menurut akal ia adalah kekafiran menurut syari’at, sebagaimana tidak setiap yang benar menurut akal ia itu wajib diketahui dalam syari’at) Dar’u Ta’arudlil ‘Aqli wan Naqli 1/242.

Ibnu Asy Syath Al Isybiliy (723 H): (Keberadaan suatu hal merupakan kekafiran, suatu apa saja, bukanlah tergolong hal-hal ‘aqliy, namun ia tergolong hal-hal yang berlandaskan syari’at, sehingga bila syar’i mengatakan tentang suatu hal adalah kekafiran, maka ia memanglah seperti itu, sama saja baik ucapan itu insya’ ataupun ikhbar) Tahdzibul Furuq (4/158-159)

Ibnul Qoyyim berkata dalam Nuniyyah-nya:

Kekafiran itu adalah hak Allah kemudian Rasul-Nya

Dengan nash ia tsabit bukan dengan ucapan si fulan

Siapa orang yang telah dikafirkan Rabbul ‘aalamiin dan hamba-Nya

Maka dia itulah orang yang telah kafir

Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnul Wazir (840 H) berkata: (Sesungguhnya takfier adalah sam’iy murni yang tidak ada campur tangan akal di dalamnya, dan sesungguhnya dalil yang menunjukkan terhadap kekafiran adalah tidak terbukti, kecuali sam’iy lagi qath’iy dan tidak ada perselisihan di dalam hal itu). Dengan ikhtishar dari Al ‘Awashim Wal Qawashim 4/178-179.

Dan engkau telah mengetahui sikap tawaqquf Al Faruq pada status kaum murtaddin dan hukum memeranginya, karena syubhat pengucapan mereka akan laa ilaaha illallah, sehingga Ash Shiddiq mendebatnya, menyingkap syubhat itu dan menjelaskan Al Haq kepadanya, serta beliau tidak mengkafirkannya karena sebab kekeliruannya itu, di sisi lain Ash Shiddiq tidak sungkan-sungkan dan mana mungkin beliau sungkan mengkafirkan orang yang dihantarkan oleh syubhat itu atau syubhat-syubhat yang lainnya pada sutu sebab dari sebab-sebab kekafiran dan riddah, seperti nushrah Musailamah Al Kadzdzab atau penolakan terhadap sebagian ajaran-ajaran Islam. Di antara orang-orang yang diperangi Abu Bakar Ash Shiddiq dari kalangan murtaddin ada kaum yang menolak bayar zakat seraya berhujjah dengan syubhat yang mereka jadikan dalil akannya dengan nash syar’iy, di mana mereka berdalih dengan firman Allah ta’ala:

“Ambillah dari sebagian harta-harta mereka sebagai shadaqah yang mana kamu menyucikan muka dan membersihkannya dengan shadaqah itu dan do’akanlah mereka karena sesungguhnya do’a kamu itu ketenangan bagi mereka”. (At Taubah: 103).

(Jadi menurut mereka) shadaqah itu hanya wajib diberikan kepada orang yang mendo’akan mereka dan doanya kesenangan bagi mereka, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sudah meninggal, sehingga tidak ada kewajiban membayar shadaqah kepada selainnya.

Dan mereka itulah yang statusnya isykal atas umat sampai Abu Bakar menjelaskan dan menghilangkan isykal darinya. Dan sudah maklum bahwa Umar tidak memiliki isykal tentang status pengikut Musailamah, Al Aswad atau Sajah, karena kejelasan status mereka. Perhatikan selalu hal ini karena kaum murtaddin saat itu ada tiga macam.[8]

Namun demikian syubhat ini tidak manfaat bagi mereka atau layak menjadi ‘udzur buat mereka di sisi Ash Shiddiq karena kejelasan dan terangnya status kefardluan zakat, dan karena suatu takwil atau syubhat bila mengahantarkan kepada kekafiran yang nyata atau pada penolakan terhadap syari’at dan berlindung dengan kelompok dan kekuatan, maka sesungguhnya ia tidak menghalangi dari takfier atau qital. Dan begitu juga orang yang syubhatnya mengahantarkan dia pada sikap nushratul murtaddin dari kalangan budak undang-undang atas kaum muwahhidin, atau pada sikap membela undang-undang mereka dan berlindung dengannya dari syari’at, atau pada sikap pelegalan aturan yang kafir atau pembolehan penerapan undang-undang kafir atau menyatakan setia kepadanya atau paham irja-nya menghantarkan dia pada sikap ikut serta dalam pembuatan hukum yang tidak Allah izinkan, atau membantu untuk menerapkan UU kafir, maka orang ini dengan paham Jahmiyyah dan irja-nya serta dengan syubhatnya telah menerobos sebab-sebab yang nyata dari sebab-sebab kekafiran, dan dengan sebab-sebab yang nyata inilah kami mengkafirkan dia.

Berbeda halnya dengan orang yang penyelisihan dan mujadalah-nya hanya berhenti pada sekedar nama dan lafadl, terus dia tidak mengkafirkan para thaghut atau ansharnya karena syubuhat-syubuhat yang ada pada dia karena kelemahan pemahamannya terhadap nushush syari’at, atau karena mawani’ yang dia duga keberadaannya, atau karena kesamaran sebagian nushush atasnya…, tanpa hal itu menghantarkan dia pada pelanggaran suatu dari sebab-sebab kekafiran yang telah disebutkan atau yang lainnya, maka tidak halal mengkafirkan dengan hal itu saja, dan tidak dengan lawazim-nya yang disebutkan oleh sebagian orang selama ia tidak iltizam dengannya.

Kami juga tidak berdusta atas nama mereka atau menisbatkan kepada mereka suatu yang tidak mereka katakan atau yang mereka anut, walaupun mereka itu memfitnah kami, berdusta atas nama kami dan menisbatkan kepada kami apa yang tidak pernah kami katakan, dan mereka menyebarkan dan mengada-ada, apalagi (buat apa) kami mengkafirkan mereka karena sekedar sikap aniaya mereka, dusta mereka, kezhaliman mereka dan melampui batas mereka terhadap kami. Ini semuanya termasuk dosa dan permusuhan yang akan mereka dapatkan di lembaran-lembaran mereka dan mereka akan ditanya tentangnya di hadapan Allah, namun ia saja bukan tergolong asbabuttakfier sehingga mereka dikafirkan dengannya.

Apa engkau tidak melihat wahai saudara setauhid setelah ini bahwa rincian kami itu sejalan dengan al ushul dan tidak menjijkan?

Disebutkan dari Al Imam Asy Syafi’iy bahwa beliau berkata: (Ahlul bid’ah bila engkau menyelisihnya, dia berkata: kamu telah kafir dan adapun orang sunniy, maka bila engkau menyelisihinya, dia berkata: kamu telah keliru.)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam bantahannya terhadap Ibnul Bakriy: (Oleh sebab itu adalah Ahlul ‘Ilmi was Sunnah tidak mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka, meskipun si mukhalif itu mengkafirkan mereka, karena al kufru adalah hukum syar’iy, maka orang tidak bisa memberi sanksi dengan hal serupa, seperti orang yang berdusta atas nama kamu dan menzinai istrinya, karena zina dan dusta adalah haram karena hak Allah ta’ala dan begitu juga takfier adalah hak milik Allah ta’ala sehingga tidak boleh mengkafirkan kecuali orang yang dikafirkan Allah dan Rasul-Nya) Hal 257.

Dan disebutkan juga bahwa (di antara ahlul bid’ah adalah satu sama lain saling mengkafirkan dan di antara sifat terpuji ahlul ‘ilmi bahwa mereka itu menyalahkan dan tidak mengkafirkan)[9]

Dan berkata dalam Minhajus Sunah 5/158: (Dan Khawarij mengkafirkan Ahlul Jama’ah. Dan begitu juga mayoritas Mu’tazilah mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka.[10] Dan begitu juga mayoritas Rafidlah. Dan orang yang tidak mengkafirkan maka dia menfasikannya, sedangkan ahlus sunnah itu mengikuti al haq dari Rabb mereka yang dibawa Rasul dan mereka tidak mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka di dalamnya, akan tetapi mereka itu adalah yang paling tahu akan al haq dan lebih sayang terhadap makhluq sebagaimana sifat yang Allah berikan kepada kaum muslimin dengan firman-Nya:

(Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan untuk manusia). (Ali ‘Imran: 110) Abu Hurairah berkata: “Kalian adalah sebaik-baiknya manusia untuk manusia”.)

Ada baiknya saya menutup bahasan ini dengan meminjam ucapan beliau rahimahullah yang beliau katakan tentangnya: (Inilah… dan saya selalu lapang dada bagi orang yang menyelisihi saya, sesungguhnya ia meskipun melampui batas aturan Allah pada saya dengan takfier atau tafsiq atau mengada-ada atau fanatik jahiliyyah, maka saya tidak melampui batas aturan Allah padanya, namun saya mengendalikan apa yang saya katakan dan apa yang saya lakukan serta saya menimbangnya dengan timbangan keadilan dan saya menjadikannya mengikuti Al Kitab yang telah Allah turunkan dan Dia jadikan sebagai petunjuk bagi manusia juga sebagai pemutus tentang apa yang mereka perselisihkan di dalamnya. Dia ta’ala berfirman:

“Bila kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul” (An Nisa: 59)

Dan itu dikarenakan engkau tidak membalas orang yang maksiat kepada Allah pada dirimu dengan seperti sikap engkau taat kepada Allah pada dirinya.

“Sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang mana mereka itu berbuat baik”. (An Nahl: 128)

Dan firman-Nya:

“Dan bila kamu sabar dan bertaqwa tentulah tipu daya mereka tidak membahayakanmu sedikitpun, sesungguhnya Allah Maha Menguasai apa yang mereka kerjakan”. (Ali ‘Imran: 120) Majmu Al Fatawa cet. Dar Ibnu Hazm 3/155-156. Yaa Allah, bantulah aku atas hal itu, berilah hamba petunjuk dan luruskanlah hambamu.

Wa ba’du:

Inilah hal terpenting yang sangat ingin saya ingatkan dan hati-hatikan darinya dalam kekeliruan-kekeliruan takfier, dari hal yang telah saya ketahui dan saya saksikan keberadaannya di tengah-tegah berbagai kelompok para pemuda di berbagai belahan bumi.

Dan itu adalah kekeliruan paling masyhur yang saya ketahui dalam takfier dan keganjilan-keganjilannya.

Telah sengaja saya mengkhususkan pembicaraan tentang kekeliruan-kekeliruan yang padahal mungkin dicantumkan dalam kekeliruan lain yang telah saya utarakan dalam pasal itu sendiri, namun karena kekejian kekeliruan-kekeliruan itu, kemasyhuran dan banyaknya tersebar, maka saya memandang pentingnya mengkhususkan bahasan tentang ini sebagai bentuk tambahan dalam tafshil dan bayan.

Demikianlah, saya telah berupaya maksimal dalam ketulusan akan dakwah ini dan para pemeluknya serta dalam tahdzir kaum mufarrithin dan tanbih kaum mufrithin sebagai bentuk ketulusan kepada Allah subhanah, kepada dien-Nya, Kitab-Nya, sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umum kaum muslimin.

Bila saya menepati kebenaran, maka itu dari Allah saja dan milik-Nyalah karunia dan keutamaan, pujian dan syukur, dan saya memohon keikhlasan dalam hal itu dan penerimaan. Dan bila saya keliru, maka itu dari diri saya dan saya tidak membebaskan diri saya (dari dosa), karena saya tidak ma’shum. Maka saya memohon ampun kepada Allah dari ketergelinciran, serta saya meminta kepada Dia agar tidak menghalangi saya di dalamnya dari pahala orang-orang yang ijtihad. Juga semoga Dia subhanahu wa ta’ala memberi saya petunjuk terhadap apa yang diperselisihkan di dalamnya berupa al haq dengan izin-Nya… Sesungguhnya Dia memberi petunjuk orang yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus.

 

 


[1] Lihat tentang bantahan terhadap syubuhat-syubuhat ini dan yang lainnya dalam kitab kami Imtaunnadhdhari fi Kasyfi Syubuhati Murji-atil ’Ashri dan Kasyfu Syubuhatil Mujadilin ‘An ‘Asaakirisysyirki wa Anshaaril Qawaaniin.

[2] Muhaddatsun yaitu orang-orang yang mendapat ilham yang mendapatkan kebenaran tanpa kenabian, sebagaimana di dalam Al Fath (kitab Fadlil Ash Shahabat).

[3] Lihat Siyar A’lam An Nubala 5/235

[4] Lihat I’lamul Muwaqqi’in 3/188-189 dan di dalamnya ada vonis kafir dari ulama salaf terhadap orang-orang yang memfatwakan kepada wanita untuk murtad sebentar dan sementara supaya lepas secara ba-in dari suaminya yang enggan menceraikannya.

[5] Lihat dalam hal ini (Ath Thuruq Al Hukmiyyah Fis Siyasah Asy Syar’iyyah) karya Ibnul Qayyim (Jalan yang ke enam belas) memutuskan dengan kesaksian fasiq hal 232 dan yang sesudahnya. Cet. Maktabah Al Madaniy – Jeddah.

[6] Dari I’lamul Muwaqqi’in 4/168

[7] Asal ungkapan adalah milik Syaikhul Islam dari Majmu Al Fatawa Cet. Dar Ibnu Hazm 3/204

[8] Lihat Al I’thisam karya Asy Syathibiy 2/385 dan lihat Fathul Bari (Kitab Istitabarul Murtadin…) (Bab membunuh orang yang enggan menerima Al Faraidl)

[9] Ini dan yang sesudahnya dinukil dari Syarh Qashidah Ibnul Qayyim karya Ahmad Ibnu Isa 2/406-407 dan lihat Minhajussunnah An Nabawiyyah 5/251.

[10]Abdul Qahir Al Baghdadi menuturkan dalam Ushuluddin (343) bahwa mayoritas Mu’tazilah mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka, bahkan mereka mengkafirkan orang yang ragu akan pengkafiran orang-orang yang meneyelisihi mereka!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: