Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Al Ghuluw Fit Takfier » Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 33 Tidak Membedakan Dalam Asbaabut Takfier Antara Celaan terhadap Dien Dengan Celaan terhadap Orangnya

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 33 Tidak Membedakan Dalam Asbaabut Takfier Antara Celaan terhadap Dien Dengan Celaan terhadap Orangnya


Tidak Membedakan Dalam Asbaabut Takfier

Antara Celaan terhadap Dien Dengan Celaan terhadap Orangnya

 

Di antara kekeliruan dalam takfier adalah tidak membedakan dalam asbaabut takfier antara celaan terhadap dien dengan celaan terhadap orangnya atau antara ’adaawah dieniyyah (permusuhan atas dasar agama) dengan ’adaawal syakhshiyyah (permusuhan pribadi), atau antara memperolok-olok orang muslim karena tadayyun-nya (ketaatan akan diennya) dengan memperolok-olok dia karena hal lain.

 

Itu terjadi dikarenakan banyak dari oarng-orang yang ngawur (al mutahawwirin) yang tidak menimbang dengan timbangan yang lurus dan yang dikuasai oleh kepentingan nafsu yang selalu mengajak pada keburukan; mereka mencampurbaurkan dalam asbabut takfier, terutama terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka dan khushum mereka, antara ’adaawah diniyyah dengan ’adaawah syakhshiyah, dan antara celaan terhadap dien dengan celaan terhadap sosok mereka, atau antara memperolok-olokan sebagian ajaran-ajaran Islam dan ciri-ciri khususnya dengan memperolok-olokan sosok mereka atau prilakunya, tingkahnya dan kekeliruan-kekeliruannya. Ini semuanya menafikan timbangan keadilan yang dengannya tegak langit dan bumi, dan terkandung di dalamnya pengedapanan hawa nafsu dan kepentingan pribadi terhadap ahkamusysyar’iy.

Celaan terhadap dien atau memperolok-olok ajaran-ajarannya dan menyisingkan lengan permusuhan terhadapnya dan terhadap ajaran-ajarannya adalah kekafiran yang nyata lagi jelas, dan dalil-dalil atas hal itu adalah lebih masyhur daripada kita menuturkannya di sini, serta tidak boleh sama sekali membaurkannya dengan celaan terhadap sosok para du’at saat terjadi perselisihan, atau membaurkannya dengan tampang dan penampilan serta tingkah laku mereka, atau dengan permusuhan-permusuhan pribadi yang terkadang ada antara mereka dengan sebagian orang.

Dan sebagai contoh yang menjelaskan pentingnya membedakan dan bahaya membaurkan dalam hal itu:

* Memperolok-olokan jenggot:

Bila orang yang memperolok-olok itu memaksudkan perolok-olokan terhadapnya dan terhadap jenggot secara umum sebagai suatu sunnah dari sunnah-sunnah Al Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini adalah kekafiran. Bila orang yang memperolok-olok itu tergolong orang yang jahil akan status kesunnahannya, dan muncul hal itu darinya, maka ia diberitahu dan ditegakkan hujjah atasnya akan hal itu, kemudian ia bersikukuh atas perolok-olokannya maka ia kafir.

Berbeda halnya bila ternyata perolok-olokannya adalah terhadap suatu yang ma’lum secara pasti bahwa itu termasuk dien seperti Al Qur’an, shalat dan ciri-ciri khusus Islam lainnya, dan ia itu bukan orang baru masuk Islam, maka ia dikafirkan tanpa butuh terhadap ta’rif akan hal-hal yang jelas lagi ma’lum ini bagi setiap orang muslim. Dengan dalil bahwa Allah Ta’ala langsung memvonis kafir orang-orang yang memperolok-olok Al Qur’an tanpa butuh akan hal itu dan tidak menerima ‘udzur/alasan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At Taubah: 65-66) [1]

Adapun bila didapatkan qarinah yang menunjukkan bahwa si pengolok-olok jenggot orang muslim mu’ayyan itu atau orang yang mencela jenggot itu melakukannya unuk selain maksud yang pertama, akan tetapi dikarenakan jenggotnya itu kusut atau acak-acakan umpamanya, maka ini bukan kekafiran, meskipun hal itu haram, berdasarkan firman-Nya Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…” (Al Hujurat: 11)

Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم) رواه مسلم.

“Cukuplah bagi seseorang berupa keburukan adalah dia menghina saudaranya yang muslim,” (HR. Muslim)

Seandainya ia mengkritik karena kusut penampilannnya dan semerawut rambut kepalanya serta jenggotnya, dan tidak memperhatikan akan pemuliaan itu, menyisirnya dan merapikannya, tentulah hal itu tidak apa-apa. Justru ini adalah perintah akan hal yang ma’ruf, sebagaimana dalam Mursal ’Atha Ibnu Yasar yang dikeluarkan oleh Malik dalam Al Muwatha dengan sanad yang shahih:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يدخل في المسجد فدخل رجل ثائر الرأس واللحية، فأشار إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده:  أن اخرج، كأنه يعني إصلاح شعر رأسه ولحيته، ففعل الرجل، ثم رجع، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  (هذا خير من أن يأتي أحدكم ثائر الرأس كأنه شيطان)

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, terus masuk pula seorang laki-laki yang kusut rambut dan jenggotnya, maka Rasulullah memberi isyarat kepada dia dengan tangannya agar keluar, sepertinya memaksudkan agar dia membereskan rambut dan jenggotnya, maka orang itupun melaksankannya, terus kembali, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ini lebih baik daripada seseorang di  antara kalian datang dengan keadaan rambut kusut seolah ia syaithan.[2]

Mesti ada rincian seperti ini, karena tidak membedakan antara hal itu dan justru membaurkan sebagiannya dengan sebagian yang lain membuahkan serabutan dan takfier dengan sesuatu yang bukan kekafiran.

Termasuk jenis ini juga celaan terhadap sosok para du’at dan kaum mukminin dan menghina mereka atau lancang terhadap mereka bukan karena dien dan tauhid mereka namun karena permusuhan duniawi, atau karena hasud, dengki dan aniaya dan penyakit-penyakit hati lainnya, atau dengan sebab keburukan akhlak dan kesemerawutan perilaku-perilaku para du’at itu, atau mencela mereka dengan klaim pembelaan terhadap dien, seperti menuduh mereka dengan tuduhan ghuluww, dangkal, kurang bashirah terhadap realita, lemah pemahaman dalam memahami nash-nash dan hal lainnya yang biasa dilontarkan lawan terhadap pihak lainnya di zaman kita ini. Maka tidak halal membaurkan seperti ini dengan dorongan syahwat emosional dan mengaduknya dengan celaan terhadap dien dan syari’at, terutama bila hal itu muncul dari kaum muslimin yang dikenal aktif berdakwah dan shalih. Sering sekali sejawat dari kalangan para ulama satu sama lain saling aniaya dengan ucapan, celaan dan hujatan sehingga masalahnya menghantarkan banyak di antara mereka kepada sikap saling berseteru, saling meng-hajr dan saling membelakangi bahkan saling berperang. Semua itu tergolong bisikan syaitan dan tergolong maksiat yang tidak halal membaurkannya dengan celaan terhadap dien syari’at dan melakukan takfier dengan sebab hal itu.

Sungguh Allah Ta’ala telah membedakan dalam kitabnya antara celaan terhadap dien dan menyakiti Allah dan Rasul-Nya dengan menyakiti kaum mu’min secara umum. Allah subhanahu wa ta’ala berkata tentang macam pertama:

“Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (At Taubah: 12)

Syaikhul Islam berkata:

(وإنما ذكر الطعن في الدين وأفرده بالذكر تخصيصاً له بالذكر وبياناً لأنه من أقوى الأسباب الموجبة للقتال، ولهذا يُغلّظ على الطاعن في الدين من العقوبة ما لا يُغلّظ على غيره من الناقضين) أهـ الصارم ص (14).

(Dia menyebutkan celaan terhadap dien dan menyendirikannya dengan penyebutan itu sebagai bentuk pengkhususannya dengan penyebutan dan penjelasan (baginya), karena ia adalah tergolong penyebab terkuat yang mengharuskan (mereka) diperangi, oleh sebab itu sanksi yang diterapkan terhadap orang-orang yang mencela dien ini dilipatgandakan, tidak terhadap yang lainnya dari kalangan yang menggugurkan (keislamannya). Ash Sharim hal: 14

Dan beliau berkata hal: 17:

( فثبت أن كل طاعن في الدين فهو إمام في الكفر ) أهـ.

(Maka tsabitlah bahwa setiap orang yang mencerca dien ini adalah pemimpin dalam kekafiran). Selesai.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berkata juga:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (Al Ahzab: 57)

Syaikhul Islam telah membahas ayat ini dan menyebutkan sisi-sisi dilalah di dalamnya terhadap kekafiran orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya dalam Ash Sharim Al Maslul (40) dst., serta beliau panjang lebar di dalamnya, maka silahkan rujuk karena ini sangat penting, dan di dalamnya ada faidah-faidah yang banyak.

Adapun tentang macam ke dua yaitu menyakiti kaum mukminin secara umum maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentangnya:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al Ahzab: 58)

Perhatikanlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala membedakan antara orang yang menyakiti Dia subhanahu dan Rasul-Nya dengan orang yang menyakiti kaum mukminin dalam dua ayat yang berurutan. Dia menjadikan laknat di dunia dan di akhirat terhadap kelompok  yang pertama dan menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan. Semua itu tergolong dilalat atas kekafiran mereka sebagaimana yang disebutkan Syaikhul Islam dalam tempat yang diisyaratkan tadi, berbeda dengan kelompok yang lain, Dia tidak mengkafirkan mereka dan tidak melaknat mereka, namun Dia menakut-nakuti mereka dan menetapkan dosa mereka.

Oleh sebab itu orang yang mencela Allah atau Rasul-Nya adalah kafir murtad dan sanksinya adalah dibunuh, berbeda dengan orang yang mengina kaum mukminin karena (muthlaq kebohongan dan dosa saja tidaklah mengharuskan hukum bunuh).[3]

Dan begitu juga keadilan sahabat radliyallahu ‘anhum  dan fiqh mereka, di antara keadilan mereka bahwa mereka tidak pernah menjadikan dien ini sebagai perisai bagi usaha dari manusia dan mereka tidak pernah menyelamatkan celaan yang diarahkan kepada sosok mereka dan mengalihkannya terhadap dien supaya mereka bisa memperkuat dalam hukum dan sanksi.

Dan diantara fiqh mereka bahwa mereka tidak pernah menyamakan antara orang yang mencela sosok mereka dan yang mencerca mereka dengan orang yang mencela dien atau mencerca Rasul. Ini adalah suatu hal bagi mereka dan itu adalah hal lain.

Di antara hal itu adalah apa yang diriwayatkan An Nasa’i dan Ahmad dari Abu Barzah Al Aslamiy, berkata: Seorang laki-laki bersikap kasar terhadap Abu Bakar Ash Shiddiq dan dalam satu riwayat:

(أن رجلاً شتم أبا بكر، فقلت: يا خليفة رسول الله ألا أضرب عنقه ؟ فقال: ويحك، ما كانت لأحد بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم )

(Bahwa seorang laki-laki mencerca Abu Bakar, maka saya berkata: Wahai khalifah Rasulullah, bolehkah saya penggal lehernya? Maka beliau berkata: Kasihan kamu, hal itu tidak bagi seorangpun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)[4]

Dan juga sungguh para ulama telah membedakan antara mencela sahabat dan menghujat mereka dengan hujatan yang bersifat dien yang menolak apa yang mutawatir berupa penilaian adil dan kesucian mereka dalam Al Kitab dan As Sunnah, dengan orang yang mencela mereka dengan selain itu.

Al Qadli ‘Iyadh telah menukil dari Malik radliyallahu ‘anhu bahwa:

(من شتم أحداً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أبا بكر أو عمر أو عثمان أو معاوية أو عمرو بن العاص فإن قال كانوا على ضلال وكفر قتل، وإن شتمهم بغير هذا من مشاتمة الناس نكّل نكالاً شديداً) أهـ.  الشفا (2/308).

(Orang yang mencela seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Bakar atau ‘Umar atau ‘Utsman atau Mu’awiyyah atau ‘Amr Ibnul ‘Ash, bila orang itu mengatakan: Mereka itu di atas kesesatan dan kekafiran, maka ia dibunuh dan bila mencela mereka dengan selain ini berupa ucapan saling mencela di antara mereka, maka dia diberi pelajaran yang dasyat). (Asy syifa 2/308)

Syaikhul Islam dalam Ash Sharimul Maslul menukil dari sebagian Al Hanabilah hal.570 berkata:

(وهو الذي نصره القاضي أبو يعلى أنه إن سبهم سباً يقدح في دينهم وعدالتهم كفر بذلك، وإن سبهم سبا لا يقدح –مثل أن يسب أبا أحدهم أو يسبه سباً يقصد به غيظه ونحو ذلك- لم يكفر) أهـ.

(Dan ia adalah yang didukung oleh Al Qadli Abu Ya’laa bahwa ia mencercanya dengan cercaan yang mencoreng dien dan keadilan mereka, maka ia kafir dengan hal itu. Dan bila mencerca dengan cercaan yang tidak mencoreng seperti mencela ayah seseorang di antara mereka atau mencela dengan celaan yang dengannya ia memaksudkan supaya dia dongkol dan hal yang serupa itu, maka dia tidak kafir). Selesai.

Kemudian beliau menuturkan hal.571 dari Al Imam Ahmad dalam riwayat Al Marwaziy: ”Siapa yang mencela Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Aisyah, maka saya tidak memandang dia berada di atas Islam” dan beliau menuturkan tawaqqufnya dalam riwayat ‘Abdullah dan Abu Thalib tentang hukum membunuh dia dan dalam kesempurnaan had dan pengharusan ta’zir saja; yang mana tergolong menuntut bahwa ia tidak menghukumi kafir.

Kemudian menukil dari Al Qodli ‘Iiyadh ucapannya: (Dan ada kemungkinan ucapannya ”Maka saya tidak memandang dia berada di atas Islam” terhadap celaan yang mencoreng keadilan mereka seperti ucapannya: Mereka zhalim dan mereka fasiq setelah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil kendali urusan tanpa haq. Dan ada kemungkinan ucapannya dalan hal pengguguran hukum bunuh adalah terhadap celaan yang tidak mencoreng dien mereka, seperti ucapannya: Di tengah mereka terdapat kekurangan ilmu dan kurang pengetahuan akan politik dan keberanian, dan di tengah mereka ada kekikiran dan kecintaan akan dunia serta hal lainnya.) Ash Sharim Al Maslul.

Telah lalu penuturan pemilahan Syaikhul Islam di dalamnya (586-587) antara orang yang mencela mereka dengan celaan yang tidak mencoreng keadilan dan dien mereka, seperti mencap sebagian mereka dengan sifat bakhil atau penakut atau kurang ilmu atau tidak zuhud dan yang serupa itu, dan bahwa ia berhak di-ta’zir dan tidak dikafirkan dengan sekedar itu dengan orang yang melampaui itu sampai mngklaim bahwa ini tidak ragu dalam kekafirannya. (Silahkan lihat dalam kekeliruan melontarkan kaidah: ”Siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir” tanpa rincian).

Dan dalam kitab Ash Shawaiq Al Muharriqah fir Raddi ’Ala Ahlil Bida’ Waz Zindiqah tulisan Ahmad Ibnu Hajar Al Haitamiy (974 H) dalam rangka penyebutan khilaf dalam hal pengkafiran orang yang mencaci sahabat (berbeda dengan mencaci seluruh mereka, maka tidak diragukan bahwa itu kekafiran dan berarti juga mencaci dalah seorang diantara mereka dari arah keberadaan ia sebagai sahabat itu adalah pelecehan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan atas ini seyogyanya perkataan Ath Thahawi ditafsirkan ”membenci mereka adalah kekafiran”. Membenci sahabat seluruhnya dan membenci sebagian mereka dari keberadaan mereka sebagai sahabat, tidak ragu lagi bahwa itu kekafiran dan ataupun mencela atau membenci sebagian mereka sebab hal lain maka itu bukan kekafiran).Hal 256.

Dan seperti itu apa yang di-istinbath oleh Al Imam Malik[5] dan yang lainnya berupa takfier yang di dalam hatinya ada kedongkolan (kebencian) dan ketidaksukaan terhadap sahabat dengan berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). (Al Fath: 29)

Syaikhul Islam berkata: (Dan bila orang-orang kafir jengkel terhadap para sahabat, maka siapa yang jengkel terhadap mereka maka ia telah menyertai orang-orang kafir dalam hal yang dengannya Allah hinakan mereka, menistakan mereka dan mencampakkan mereka di atas kekafirannya, sedangkan tidak menyertai orang-orang kafir dalam kejengkelan mereka yang dengannya mereka dicampakkan sebagai balasan kekafirannya kecuali orang kafir. Hal ini dijelaskan dengan keberadaan bahwa firman-Nya Ta’ala: ”karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir” adalah penggantungan hukum terhadap sifat musytaq lagi munasib, karena kekafiran adalah pantas dianggap jengkel pelakunya, bila ia adalah hal yang menuntut agar Allah membuat jengkel pelakunya terhadap sahabat Muhammad. Oleh sebab itu siapa yang Allah jengkelkan dengan sahabat Muhammad, maka sungguh telah ada pada dirinya hal yang menuntut itu yaitu kekafiran) Ash Sharim hal 579.

Akan tetapi wajib membedakan antara muthlaq kejengkelan dan kebencian dengan kejengkelan, kebencian dan ketidaksukaan yang bersifat dien terhadap mereka yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang semisalnya:

( لا يبغض الأنصار رجل يؤمن بالله واليوم الآخر) رواه مسلم

”Tidak membenci anshar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir” (HR. Muslim)

Dalam Ash Sahihain dari hadits Anas secara marfu’:

( آية الإيمان حب الأنصار، وآية النفاق بغض الأنصار)

“Tanda iman adalah mencintai anshar dan tanda nifaq adalah membenci anshar” Dan dalam satu lafadh:

( لا يحبهم إلا مؤمن ولا يبغضهم إلا منافق )

“Tidak mencintai mereka, kecuali orang mu’min dan tidak membencinya kecuali orang munafiq”.

Hal seperti ini hanya tepat mengenai orang yang membenci mereka atau mencaci dan menghina mereka karena alasan dien mereka, jihad mereka dan pembelaannya terhadap Al Haq, sebagaimana Allah Ta’ala tuturkan dalam sifat-sifat terpenting mereka dalam ayat itu sendiri (bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang diantara mereka, engkau melihat mereka dalam keadaan ruku dan sujud…) hingga firman-Nya (agar dengan sebab mereka Dia menjengkelkan orang kafir), berbeda dengan orang yang kebenciannya terhadap sebagian mereka atau cercaannya terhadap sekelompok dari mereka bukan karena makna ini, dengan dalil apa yang terjadi di antara mereka sendiri di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa celaan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain atau kejengkelan sebagian terhadap sebagian yang lain atau apa yang terjadi berupa perdebatan, emosional dan hampir mati berperang yang diingkari beliau dan beliau tenangkan atau beliau anjurkan mereka agar kembali tenang, namun beliau tidak kafirkan mereka dengan sebabnya[6], dan begitu juga apa yang terjadi di antara mereka setelah wafat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa berperang, pertempuran, celaan dan permusuhan, suatu yang tidak dihukumi kafir atau nifaq atas sebagian mereka dengan sebabnya, karena keadaan mereka dalam hal ini adalah keadaan orang-orang yang ijtihad, sungguh mereka di dalamnya antara mujtahid yang keliru yang mendapat satu pahala karena keinginannya akan kebaikan dan mujtahid dengan ijtihad yang tepat, yang mendapat dua pahala.

Begitu juga pendapat tentang Ansharuddien di setiap zaman sebagaimana yang telah lalu tidak seyogyanya mengkafirkan setiap orang yang memusuhi sebagian mereka atau membencinya atau mencelanya karena sebab dunia atau sebab-sebab lainnya yang telah diisyaratkan sebagiannya. Namun yang dikafirkan ini adalah orang yang mencela mereka atau memusuhi mereka karena sebab nusrohnya terhadap dien dan tauhid atau karena sebab penghiasan mereka akan dirinya dengan sifat-sifat yang Alah cintai dan disebutkan bahwa kejengkelan orang-orang kafir terhadap para sahabat adalah karena hal itu. Sesungguhnya Ansharuddien pada setiap zaman memiliki bagian dari apa yang di miliki Anshar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam berkata dalam Ash Sharim hal 581-582 setelah menuturkan hadits-hadits yang lalu tentang orang yang membenci anshar:

( فمن شارك الأنصار في نصر الله ورسوله بما أمكنه فهو شريكهم في الحقيقة، كما قال تعالى “يا أيها الذين آمنوا كونوا أنصار الله” ) أهـ.

“Siapa yang menyertai anshar dalam nasrullah dan Rasul-Nya dengan segenap kemampuan mereka, maka ia adalah syarik mereka secara hakikat sebenarnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ”Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai Ansharullah”. Selesai.

Ya Allah jadikanlah kami termasuk Anshar dien Mu.. Yaa Hayyu .. Yaa Qayyum…

Jadi wajib memberikan rincian yang tadi berkenan dengan orang yang membenci atau memusuhi seorang dari ansharuddien wattauhid di zaman kapanpun dan jangan menjadikan semuanya sebagai kekafiran tanpa rincian.

Dan sejenis itu pula membedakan antara mencerca kehormatan mukminat muwahhidat dan menuduh (zina) mereka karena keislaman dan hijab mereka dalam rangka tanfir dari sikap taat akan dien, hijab, khimar dan penutup wajah atau sebagai celaan terhadap tauhid dan dakwah mereka, atau untuk tujuan mencoreng jihad dan tauhid suami mereka dengan menuduh (zina) kaum muhshanat secara umumnya untuk selain tujuan ini.

Allah Ta’ala telah membedakan dalam hukum antara kedua macam ini dengan dua ayat dalam Kitab-Nya.

Dia subhanahu wa ta’ala berfirman tentang macam pertama:

”Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka terkena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka ‘adzab yang besar.” (An Nur: 23)

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa mereka itu di sini terlaknat di dunia dan akhirat dan itu tergolong indikasi-idikasi yang mengkafirkan sebagaimana yang dituturkan Syaikhul Islam saat membahas firman-Nya Ta’ala:

”Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat…” (Al Ahzab: 57)

Dan beliau menjelaskan bahwa shighat (bentuk) seperti ini dalam hal laknat adalah menghuruskan qatl atau takfier. Lihat Ash Sharim 41-43.

Karena laknat adalah menjauhkan dari rahmat, sedangkan orang yang telah Allah usir dari rahmat-Nya di dunia dan akhirat, tidak lain adalah orang kafir. Beliau berkata: Ini dikuatkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

( لعن المؤمن كقتله ) متفق عليه

Melaknat orang mu’min adalah seperti membunuhnya”. Muttafaq ’alaih.

Bila saja Allah telah melaknat ini di dunia dan akhirat, maka ia seperti membunuhnya, maka diketahui bahwa membunuhnya adalah boleh. (Hal. 42). Ini berbeda dengan keberadaan laknat dengan shighat do’a; Syaikhul Islam berkata: (Dan umumnya orang-orang yang dilaknat yang tidak dibunuh atau tidak dikafirkan, mereka itu hanyalah dilaknat dengan shighat do’a, seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Semoga Allah melaknat orang yang merubah batas tanah,” dan ”SemogaAllah melaknat pencuri”, dan “Semoga Allah melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makannya”. dan yang serupa itu) Hal: 43.

Telah ada dalam ungkapan para mufassirin seputar ayat ini bahwa ia turun tentang ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, karena menuduh beliau berzina ada celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan oleh sebab itu ia adalah kekafiran. Namun demikian ia adalah umum sebagaimana yang ditarjih oleh Syaikhul Islam hal.50 karena sisi dhahir khithab adalah umum, beliau berkata: (Maka wajib memberlakukannya sesuai keumumannya, karena tidak alasan untuk mengkhususkannya dan ia bukan khusus untuk sebab itu saja dengan kesepakatan ulama, karena hukum selain ‘Aisyah dari kalangan para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah masuk dalam keumuman, sedangkan ia bukan masuk dalam sebabnya, karena ia adalah lafazh jamak sedangkan sebabnya adalah salah satunya, dan karena membatasi keumuman Al Qur’an terhadap sebab-sebab nuzulnya adalah bathil, karena mayoritas ayat-ayat Al Qur’an turun dengan sebab-sebab yang menuntut itu, dan diketahui bahwa sesuatu darinya tidak dibatasi terhadap sebabnya).

Kemudian beliau berkata: (Abu Hamzah Ats Tsumaliy berkata: telah sampai keapda kami bahwa ia turun tentang musyrikin penduduk Makkah, karena adanya di antara mereka dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perjanjian.[7] Bila ada seseorang wanita keluar menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan maksud hijrah ke Madinah, maka musyrikin Makkah menuduhnya berzina dan mereka berkata: “Ia keluar (ke sana) untuk melacur”. Maka atas dasar ini berarti ia berkenaan dengan orang yang menuduh kaum mukminat berzina, dengan tuduhan yang dengannya ia menghalangi mereka dari keimanan dan ia memaksudkan dengannya celaan terhadap kaum mukminin untuk menjauhkan orang dari Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ka’ab Ibnul Asyraf. Dan atas dasar ini, siapa yang melakukan hal itu maka ia kafir dan ia setara dengan orang yang memaki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) Hal: 50

Inilah… sungguh Syaikhul Islam telah memberikan faedah yang sangat unik pada jawaban beliau tentang seputar apa yang telah lalu. Intinya bahwa di antara orang-orang yang menuduh ‘Aisyah berzina itu ada orang mukmin dan ada munafiq, sedangkan sebab nuzul itu harus masuk dalam keumuman, yaitu: Bagaimana ayat itu tentang orang-orang kafir dan pelaknatan di dalamnya memberikan indikasi terhadap takfier, sedangkan di antara orang-orang yang ayat ini turun berkenaan dengan mereka dan mereka dilaknat didalamnya ada orang-orang mu’min ?

Maka beliau menjawab: (Jawaban atas dasar perkara ini adalah bahwa Dia subhanahu wa ta’ala berfirman: ”Mereka dilaknat di dunia dan di akhirat” dengan bentuk mabniy maf’ul dan tidak disebutkan yang melaknatnya, dan Dia berfirman di sana[8] ”Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat” dan bila fa’il tidak disebutkan maka bolehlah mereka dilaknat oleh selain Allah dari kalangan malaikat dan manusia dan boleh juga mereka dilaknat oleh Allah dalam suatu waktu dan dilaknat oleh sebagian makhluk-Nya dalam waktu lain dan boleh juga Allah sendiri yang melaknat sebagian mereka dan itu adalah orang yang tuduhannya adalah celaan terhadap dien, dan makhluk-Nya menangani pelaknatan sebagian yang lainnya. Dan bila yang melaknat itu adalah makhluk maka pelaknatannya adalah bisa jadi bermakna do’a (celaka) atas mereka, dan bisa jadi bermakna bahwa mereka dijauhkan dari rahmat Allah, dan ini dikuatkan bahwa seorang laki-laki bila menuduh istrinya berzina dalam bentuk li’an dan si suami berkata pada ungkapan ke limanya: ”Laknat Allah atas dirinya bila ia tergolong orang-orang yang dusta” maka ia mendo’akan atas dirinya bila ia dusta dalam tuduhan agar Allah melaknat dia …” Hal: 51

Adapun pada macam ke dua: yaitu menuduh zina para wanita muhshanat secara umum bukan karena maksud ini, sungguh Allah telah berfirman tentangnya:

”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasiq. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An Nur: 4-5)

Mereka itu orang-orang yang fasiq dengan fisq ashgar dan bukan orang-orang kafir, karena mereka menuduh zina wanita muhshanat karena syahwat atau syubhat tanpa ada bukti yang jelas benar lagi sempurna. Dan tidak ada dalam tujuan mereka atau dalam ucapan mereka celaan terhadap dien atau menyakiti keluarganya secara khusus, oleh sebab itu Allah Subhanahu menjadikan sanksi bagi mereka deraan dan tertolaknya kesaksian dan Dia menyebutkan bahwa mereka itu dilaknat di dunia dan di akhirat seperti golongan pertama. Di samping ini juga sesungguhnya Allah Subhanahu menyebutkan taubat di sini dan tidak menyebutkannya di sana sebagai bentuk taghlidh dan tafriq (pembeda) antara kedua macam itu. Dan dengan hal itu Syaikhul Islam telah berdalil dalam Ash Sharimul Maslul atas hukuman bunuh bagi orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada istitabah. Hal.338.

Sebagaimana beliau menyebutkan perbedaan antara kedua macam itu juga di dalamnya setelah menuturkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah Al Ifki: (Siapa yang mengudzur saya dalam membunuh seorang laki-laki yang telah sampai kepada saya skap menyakitinya pada keluarga saya) dan ucapan Sa’ad Ibnu Mu’adz terhadap beliau: (Saya mengudzurmu, bila ia bagian dari Aus maka saya penggal lehernya…) terus Syaikhul Islam berkata hal.180: (Dan tatkala Rasulullah tidak mengingkari Sa’ad atas ucapannya, maka itu menunjukkan bahwa orang yang menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencorengnya adalah boleh dipenggal lehernya.[9] Sedangkan perbedaan antara Ibnu Ubay dengan yang lainnya dari kalangan yang mencoreng ‘Aisyah adalah bahwa Ibnu Ubay memksudkan dengan tuduhan terhadapnya itu celaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hinaan terhadapnya dan mengakibatkan aib terhadapnya, serta ia berkata dengan perkataan yang merendahkannya dengan ucapan itu. Oleh sebab itu mereka berkata: “Kami akan membunuhnya”. Berbeda halnya dengan Hissan, Misthah dan Hamnah, sesungguhnya mereka tidak memiliki tujuan itu dan mereka tidak berkomentar dengan komentar yang menunjukkan terhadap hal itu. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meminta udzur untuk membunuh Ibnu Ubay tidak yang lainnya; dan karenanya beliau mengajak bicara orang-orang sehingga hampir saja kedua suku saling membunuh).

As Subkiy berkata dalan hal itu juga: (Menyakiti itu ada dua macam: pertama: si pelakunya bermaksud menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ragu bahwa ini menuntut untuk dibunuh, dan ini seperti menyakiti yang dilakukan Abdullah Ibnu Ubay dalam kisah Al Ifki. Dan yang lain: si pelaku tidak bermaksud menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ucapan Misthah dan Himnah dalam Al ifki. Dan ini tidak menuntut hukum bunuh.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa menyakiti itu harus dimaksudkan adalah firman-Nya Ta’ala: ”Sesungguhnya itu adalah menyakiti Nabi”. (Al Ahzab: 53). Ayat ini berkenaan dengan orang-orang shalih dari kalangan sahabat, menyakiti itu tidak menuntut merupakan kekafiran, dan setiap maksiat maka melakukannya adalah menyakiti, namun demikian hal itu bukanlah kekafiran sehingga melakukan rincian dalam status menyakiti yang telah kami sebutkan adalah suatu keharusan). Fatawa As Subkiy 2/591-592.

Dan di antara jenis itu juga adalah perbedaan antara membunuh dan memerangi orang muslim karena sebab diennya, keislamannya, tauhidnya dan kekafirannya terhadap para thaghut, dengan membunuh dan memeranginya karena sebab perseteruan duniawi, yang pertama adalah kekafiran yang mengeluarkan dari millah, sedangkan yang ke dua adalah salah satu dosa besar, sehingga tidak halal mencampuradukkan antara kedua macam ini.

Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Adapun bila ia membunuhnya atas alasan dienul Islam –sepertisikap orang Nashrani memerangi kaum muslimin atas alasan dien mereka– maka itu lebih buruk dari kafir mu’ahid, karena ini adalah kafir muharib setara dengan kuffar yang memerangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dan mereka itu dikekalkan di Jahannam sebagaimana dikekalkannya selain mereka dari kalangan kuffar.

Adapun bila ia membunuhnya dengan bentuk pembunuhan yang diharamkan, baik karena permusuhan atau harta atau perseteruan dan hal lainnya, maka ini tergolong dosa besar, dan tidak boleh dikafirkan dengan sekedar itu menurut Ahlus sunah wal jama’ah, namun hanya Khawarijlah yang mengkafirkan dengan sebab seperti ini. Dan tidak seorang pun dari ahluttauhid dikekalkan di neraka menurut Ahlus sunah wal jama’ah, berbeda dengan Mu’tazilah yang berpendapat akan dikekalkannya orang-orang fasiq millah ini dan mereka berhujjah dengan firman-Nya Ta’ala:

”Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan ‘adzab yang besar baginya.” (An Nisaa: 93)

Dan jawaban mereka: bahwa ia dibawa terhadap orang yang sengaja membunuhnya atas dasar keimanannya, sedangkan mayoritas manusia tidak membawanya pada makna ini, namun mereka mengatakan: ini adalah ancaman muthlaq yang telah ditafsikan oleh firman-Nya Ta’ala:

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (An Nisa: 48). Majmu Al fatawa cat dar Ibnu Hazm 34/88.

Rincian ini bermanfaat dalam mentakwil hadits Al Bukhari dari Abdullah Ibnu Mas’ud secara marfu’:

(سباب المسلم فسوق وقتاله كفر)

”Mencerca orang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran”. Sungguh mereka telah mentakwil kekafiran di dalamnya seperti pentakwilan-pentakwilan yang mereka terapkan pada hadits:

( إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء به أحدهما )

”Bila seorang mengatakan kepada saudaranya hai kafir, maka salahsatunya telah kembali dengannya”, di mana mereka sebutkan di dalamnya istihlal sebagai satu sebab untuk membawa kekafiran di dalamnya pada kufur akbar, maka hendaklah rincian ini digabungkan kepada hal itu, terus dikatakan: Siapa yang memerangi orang muslim karena dirinya dan tauhidnya, maka ia telah kafir dan keluar dari millah, dan siapa yang memeranginya karena aniaya atau karena perseteruan duniawi, maka ia telah melakukan suatu dosa besar yang dengannya ia tidak mengingkari nikmat ukhuwwah imaniyyah, dan dikhawatirkan terhadapnya hal itu menghantarkan kepada kekafiran, hingga akhir apa yang dituturkan ulama di sini.

Begitu juga sungguh perang yang digelar oleh para thaghut dan ansharnya terhadap muwahhidin yang berupaya untuk merealisasikan tauhid dengan bentuk mengeluarkan manusia dari perbudakan terhadap thaghut kepada peribadatan terhadap Allah saja, dan dari syirik hukum-hukum mereka dan kebusukan undang-undang mereka serta kegelapannya kepada aturan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa; tidak ragu bahwa ia tergolong macam yang mengkafirkan.[10] Dan setiap orang yang membantu mereka dan membela mereka di atasnya, terus dia menyiksa para muwahhidin atau memenjarakan mereka atau menunggu-nunggu bencana yang menimpa mereka, atau memata-matai mereka dan mencatat laporan-laporan tentang mereka untuk tujuan itu, maka ia masuk dalam macam ini.

Dan tidak halal mencampurkan hal seperti ini dengan apa yang terjadi berupa persengketaan, aniaya dan perang yang sering terjadi diantara kaum muslimin, tentang yang akhir ini sungguh Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuraat: 9-10)

Suatu kaum telah berbuat ghuluw, di mana mereka menyertakan macam ini dengan perang yang merupakan kekafiran, sehingga mereka mengkafirkan banyak golongan dari kaum muslimin. Dan kelompok lain bersikap tafrith, di mana mereka menjadikan  genderang perang para thaghut dan permusuhan mereka terhadap para muwahhidin serta muharobah mereka terhadap dakwah dan jihadnya sebagai bagian dari perseteruan yang terjadi antara kaum muslimin, sedangkan Al Haq adalah apa yang telah kami uraikan kepada anda.

Khulashah setelah uraian semua ini, adalah wajib membedakan dalam asbab takfier antara celaan terhadap dien atau terhadap pemeluknya karena keislaman mereka, Qur’an mereka, dien mereka dan ajaran-ajarannya, dengan celaan terhadap sosok orangnya karena dorongan dan faktor duniawi atau individu, yaitu tidak boleh dikafirkan dan darah tidak boleh dihalalkan, kecuali dengan suatu yang tergolong celaan terhadap dien yang menjadikan pelakunya sebagai pemimpin dalam kekafiran. Dan oleh karena itu Allah memerintahkan untuk memerangi orang semacam dia, Dia berfirman:

”Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, supaya mereka berhenti”. (At Taubah: 12)

Maka hati-hatilah dari mencampurbaurkan antara ini dan itu sehingga timbangan menjadi rusak, segala hal menjadi terkabur, dan hukum-hukum syar’i menjadi berbaur dengan kepentingan-kepentingan jiwa dan hawa nafsu. Banyak sekali saya melihat orang-orang yang telah menjadikan syari’at sebagai tameng yang dengannya mereka melindungi diri dari panah-panah yang diarahkan kepada sosok mereka, dan dengannya mereka mengalamatkan celaan yang difokuskan terhadap penyimpangan-penyimpangan dan kesalahan-kesalahan mereka, dan itu dilakukan supaya mereka bisa mengkafirkan seteru mereka, sehingga dengan ini mereka telah aniaya terhadap syari’at dan dengan perbuatan aniaya itu mereka telah melakukan pengkaburan terhadap manusia, serta mencampuradukkan hawa nafsunya dengan Al Haq.

Terakhir, sesungguhnya dalam petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini terdapat pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran, karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghati-hatikan dari pembauran permusuhan pribadi dan kepentingan-kepentingan jiwa dengan urusan dien. Walaupun beliau mengetahui kekafiran orang-orang munafiq dalam bathin mereka, namun beliau tidak mengkafirkan mereka dalam hukum dunia kecuali dengan kekafiran yang nyata lagi jelas (yakni perolok-olokan) yang mana Allah menghukumi di dalamnya dengan hukuman yang jelas.

Beliau juga tidak mengkafirkan mereka dan tidak memberikan mereka sanksi dengan sebab lahnul qaul dan tidak pula dengan kesaksian perorangan,  anak kecil dan yang lainnya dari kalangan yang kesaksian mereka tidak memenuhi nishab bayyinah, dan itu dikhawatirkan untuk dikatakan bahwa beliau hanya membunuh mereka karena kepentingan dan dengki pribadi, sehingga urusan dien jadi terkabur dan tersamar atas manusia, dan mereka mengatakan: Muhammad membunuh para sahabatnya, sehingga orang-orang menjauh darinya.

Al Qadli ‘Iyadl berkata dalam Asy Syifa: (Seandainya Nabi membunuh mereka karena nifaq mereka dan karena apa yang muncul dari mereka serta karena pengetahuan beliau akan apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka, tentulah provokator mendapatkan bahan omongan, tentu pula orang yang masih ogah-ogahan menjadi ragu dan si pembangkang makin menjauh dan banyak orang takut dari mendekati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta dari masuk Islam.

Serta tentulah pengklaim mengklaim dan musuh yang zhalim menduga bahwa hukum bunuh itu hanya karena permusuhan dan balas dendam. Dan saya telah melihat makna apa yang saya uraikan disandarkan kepada Malik Ibnu Anas radliyallahu ‘anhu, oleh sebab itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لا يتحدث الناس أن محمداً يقتل أصحابه

”(Agar) orang-orang tidak berkata bahwa Muhammad membunuh sahabatnya…”) 2/227 dan makna serupa dikatakan Syaikhul Islam dalam Ash Sharim Al Maslul 237.

Perhatikanlah kebersihan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kejelasannya dan perhatikanlah keadaan dakwah-dakwah banyak orang zaman kita ini yang tercampur di dalamnya kepentingan-kepentingan jiwa, keinginannya dan permusuhannya dengan urusan dien yang dijadikan oleh mayoritas manusia sebagai perisai yang dengannya mereka melindungi diri dari panah-panah dan tusukan-tusukan yang diarahkan kepada kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan mereka.

 

 


[1] Ada syubhat: Bila dikatakan: Ucapan orang-orang yang memperolok-olokan Al Qur’an yang mana Allah Ta’ala kafirkan mereka dalam surat Bara’ah adalah (Kami tidak melihat yang seperti qurraa kami, mereka itu paling banyak makannya, paling dusta lisannya dan paling penakut saat bertemu musuh …) begitu telah datang dalam sebab nuzul, namun demikian Allah menganggapnya sebagai bentuk perolok-olokkan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya dan mereka telah kafir dengan sebabnya. Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman….” (At Taubah: 64-66).

Maka kami katakan: (Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapannya) dan Dia adalah hakim yang seadil-adilnya, sedangkan hukum-hukum Allah Ta’ala adalah sesuai dengan hakikat sebenarnya. Dia mengetahui rahasia dan apa yang disembunyikan serta mengetahui apa yang ada di dada. Dan selagi Dia subhanahu telah menetapkan bahwa mereka itu telah memperolok-olokan Allah dan ayat-ayat-Nya, maka itu haq lagi tidak ada sedikitpun kerugian pada kami. Akan tetapi mana dalam dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, bahwa Dia Subhanahu telah menjadikan perolok-olokan terhadap penampilan al qurraa dan tabiat-tabiat mereka sebagai bentuk perolok-olokan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya??

Ucapan-ucapan mereka yang diukir dalam atsar adalah tergolong lafadh-lafadh yang muhtamal dalam takfier yang wajib di dalamnya sebagaimana yang telah lalu, mencari kejelasan maksud si pelaku sebelum takfier; apakah dia memaksudkan dengannya perolok-olokan terhadap mereka karena dien mereka dan karena Al Qur’an yang mereka bawa, ataukah ia memang memaksudkan celaan terhadap suatu dari sifat-sifat yang ada pada sebagian mereka, atau ia memaksudkan celaan terhadap mereka karena permusuhan pribadi. Mencari kejelasan ini dituntut dalam lafadh-lafadh yang muhtamal dalam hukum kita yang tidak menyinggung kecuali yang dhohir. Adapun dalam ahkamullah yang mengetahui rahasia dan apa yang disembunyikan, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan dan memutuskan bahwa memaksudkan dengan hal itu perolok-olokan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-rasul-Nya, sedangkan Dia adalah Dzat Yang Paling Benar Ucapan-Nya.

Bila ada yang mengatakan: Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh mereka selama mereka itu telah kafir dan murtad, sebagaimana dalam hadits: “Siapa yang mengganti diennya maka bunuhlah dia.” Maka kami katakan jawaban dalan hal ini adalah nampak dalam kelanjutan ayat yaitu firman-Nya Ta’ala: “Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.”

Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa seluruh orang kafir dengan hal itu telah menampakkan taubat dan penyesalan atas apa yang muncul dari mereka, dan bahwa mereka dalam taubat ini ada dua kelompok, yang pertama jujur yang taubatnya taubat yang sebenarnya, dan mereka itu adalah orang-orang yang Allah maafkan, dan kelompok lain menampakkan taubatnya secara nifaq tidak jujur dengannya di dalam bathin, dan mereka itulah yang diancam Allah dengan adzab dikarenakan mereka itu adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Adapun dalam hukum dunia, maka taubat yang dhahirah lagi hukmiyyah adalah melindungi darah mereka dari  qatl. Silahkan dalam hal ini lihat perkataan Ibnu Hazm dalam Al Muhalla II/207.

[2] Abu Dawud, An Nasa’i, Ahmad 93/357) dan yang lain meriwayatkan hal serupa secara ikhtishar dari Jabir Ibnu Abdillah tanpa menyebutkan jenggot atau tasyabbul dengan syaithan.

 

[3] Dan lihat Ash Sharimul Maslul hal: 578.

[4] Dan lihat dalam hal ini Ash Sharim Al Maslul hal: 93 dst.

[5] Lihat Al Hilyah karya Abu Nu’aim 6/327 dan tafsir Al Qurthubiy

[6] Sebagaimana dalam kisah hadits Al Ifki yang ada dalam Ash Shahihain dari Aisyah radliyallahu ‘anha.

[7] Syaikhul Islam menjelaskan bahwa ucapan Abu Hamzah ini tidak dimaksudkan dengannya bahwa ia turun pada masa perjanjian; namun bermakna Wallahu A’lam bahwa beliau memaksudkan dengannya seperti kaum musyrikin mu’ahidin dan apa yang mereka ucapkan tentang para mukminat, karena ayat hanya turun malam-malam al ifki (tuduhan dusta) pada perang Banil Mushthaliq sebelum Khandaq, sedangkan perjanjian itu terjadi dua tahun setelah itu. Lihat Ash Sharim hal 51.

[8] Yaitu pada firman-Nya Ta’ala: (Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya)

[9] Ada dalam Ash Shawaiq Al Muharriqah karya Ibnu Hajar Al Haitamiy: (Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh para penuduh ’Aisyah adalah dikarenakan tuduhan mereka itu terjadi sebelum turun Al Qur’an (yang membahas itu) sehingga tuduhan mereka itu tidak mengandung pendustaan terhadap Al Qur’an dan dikarenakan hal itu adalah hukum yang turun setelah turunnya ayat itu, sehingga hukumnya tidak bisa disambungkan terhadap yang sebelumnya) hal: 261.

Syaikul Islam memiliki jawaban-jawaban lain seputar ini yang bisa anda dapatkan di kitab Ash Sharimul Maslul saat beliau membahas tentang sebab-sebab yang menjadikan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling dari orang-orang munafiq dalam banyak kondisi dan beliau tidak membunuh mereka….. lihat sebagai contoh hal: 178, 179, 189, 220, 223, 237, 259 dan yang lainnya.

[10] Dan apakah ada yang lebih terang dari keberadaan tuduhan yang mereka lontarkan terhadap para muwahhidin, yaitu (intima’ kepada organisasi teroris!! Yang berupaya mejatuhkan sistem pemerintahan dengan kekuatan untuk menegakkan sistem Islami)??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: