Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Muslimah » Siapakah Cucu Shafiyah?

Siapakah Cucu Shafiyah?


Hari ini akan aku tulis kisah cucu Shafiyyah yang baru, dia adalah seorang ukhti mujahidah dan memiliki fadhilah, dia adalah seorang ukhti yang menghancurkan segala fitnah dunia yang menipu ini di bawah kedua kakinya, tekad dan cita-citanya begitu tinggi hingga menyamai puncak gunung, bahkan sampai melebihi awan, bahkan hingga sampai menyentuh matahari, agar semakin terang dan bersinar.

Dia adalah seorang mujahidah yang memulai kisahnya ketika menikah dengan salah seorang singa islam, dia adalah seorang pahlawan dan memiliki tekad tinggi, dari sinilah dimulai perjalanan jihadnya, saya memohon kepada Allah agar memperlihatkan kepada kita dan dia akan kemenangan yang begitu dekat bagi para mujahidin. Dia berhijrah bersama suaminya ke negeri mulia, menuju negeri Imarah Islam Afghanistan, ketika sampai disana dia merasakan kegembiraan yang sangat besar dan lisan keadaannya berkata: Disinilah kemuliaan dan kemenangan dan disinilah kebahagiaan dan kehormatan.

Lalu dia tinggal sebagai tamu dari dua akhwat yang bersaudara dan tinggal satu rumah, keduanya jauh dari keluarganya dan semakin bertambah kerinduan kepada ibu, bapak, saudara, saudari dan kerabat serta teman-temannya, lalu datang wanita yang memiliki keutamaan ini untuk menghilangkan kesedihan mereka, dan mengingatkan keduanya dengan nikmat yang mereka dapatkan dan keadaan yang seharusnya keduanya senang dan bahagia kaerna nikmat yang diberikan kepada keduanya berupa hijrah dan ujian di jalannya serta pahala besar yang akan mereka dapatkan di akherat. Sehingga Allah merubah keadaan keduanya atas karunia-Nya, kemudian dengan muamalah dan akhlak yang baik dari ukhti tersebut, dan para akhwat tetap teguh disebabkan kata-kata yang indah dan ungkapan yang lembut darinya, dan keadaannya tetap sebagai mujahidah yang bersabar dan istri yang shalehah dimana dia menjadi panutannya.

Setelah perang terhadap Afghanistan, dia bersama suaminya tidak kembali ke negerinya. Tidak! Bagaimana dia mau kembali kepada kehidupan yang nuaj setelah terbiasa dengan kehidupan laksana singa, akan tetapi dia bersama suaminya melanjutkan hijrah ke kuburan Amerika, ke Irak sebelum dimasuki oleh orang-orang yang suka berbuat jahat. Dan suaminya adalah termasuk orang yang dekat dengan syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi rh, dan syaikh sangat mencintainya. Dia bersama kelompoknya dari para ikhwan mempersiapkan diri dan merencanakan untuk menghadapi Amerika, menghadai kesombongan dan kesewenangan mereka, dan mereka tidak mendapatkan apa yang akan mereka berikan sebagai kewajiban menerima tamu selain apa yang mereka mampu dari senjata ringan dan bom sabuk dan lisan keadaan mereka berkata: “Wahai Rabb kami, Engkau memerintahkan kami untuk mempersiapkan diri dengan apa yang kami mampu, jika kami mampu menikam mereka dengan pisau dapur pasti kami akan lakukan! Dan jika kami mampu menembak mereka satu persatu maka kami tidak akan memperlambat diri dari hal itu, maka ampunilah kami wahai Allah dan berilah taubat kepada kami dan perlihatkan kami bagi mereka keajaiban takdir-Mu”.

Maka dimulailah peperangan, dan suami ukhti ini, rumahnya dijadikan sebagai tamu bagi para mujahidin baik muhajirin maupun anshar, dan ukhti kita ini membantu mereka siang dan malam, mempersiapkan makanan, mencuci pakaian, dan memberikan suasana tenang agar jihad mereka sempurna dengan bentuk yang sebaik-baiknya, hingga hari itu suaminya ditawan oleh pihak Amerika, lalu dia disiksa dengan berbagai macam siksaan, dan dipukuli terus menerus, namun mereka tidak mampu mendapatkan informasi apapun darinya, lalu mereka mengeluarkannya dari penjara dan dia mendapatkan ujian yang mana hanya Allah yang tahu, lalu istri shalehah ini duduk mengobatinya dan menghiburnya, juga menaikkan tekad dan keteguhannya, hingga Allah menyembuhkan dan menyehatkannya, lalu kembali untuk berperang melawan musuh Allah dan membuat mereka marah serta mengintai mereka setiap waktu….

Salah seorang ikhwah datang kepada keluarga yang mulia ini dalam rangka meminta untuk menikah dengan anak perempuan ukhti ini, dimana umurnya belum genap 12 tahun, hingga sang bapak menolaknya karena umur anaknya masih kecil, namun ibunya merasa senang dan mendorong suaminya agar menikahkan anaknya dengan mujahid itu, dan mengingatkannya akan pernikahan Aisyah ra, lalu sang bapak merasa yakin dan menyetujuinya, maka terjadilah khitbah dan pernikahan dengan sempurna, kemudian mulailah perang Fallujah kedua, dan keluarga ini masih tetap berada di dalam kota Fallujah, dan anggota keluarga ini ikut serta dalam setiap peperangan dengan segala kekuatan yang dimiliki, semuanya sesuai dengan kemampuannya, diantara mereka ada yang berperang dengan senjata dan diantara mereka ada yang mengobati orang yang terluka, dan diantara mereka ada yang menyiapkan makanan. Dan ketika suami anaknya (menantunya) sedang menolong salah seorang ikhwah yang terluka, tiba-tiba tank Amerika memindahkannya kepada kehidupan yang lebih bahagian insyaAllah, tembakan yang mengenainya telah menjadikannya segera bergabung dengan kafilah para syuhada, maka orang tua istrinya (mertua, suami dari ukhti dalam kisah ini) memindahkan dan menguburkannya. Dan keluarga ini mendapatkan kabar yang sangat menyedihkan, Allah berkehendak untuk menguji mereka dengan yang lebih dari itu, karena Allah jika mencintai seorang hamba maka dia akan mengujinya. Allah mentakdirkan setelah beberapa hari suaminya ukhti mujahidah shabirah ini terbunuh. masyaAllah, dua musibah dalam satu pekan, tidak ada musibah yang lebih besar dari ini.

Dan demi Allah, wahai saudariku jika kalian melihatnya pasti akan terkagum akan kesabarannya dan keridhaan serta keteguhannya. Kami memohon kepada Allah agar memberinya pahala dengan sebaik-baik pahala dan mengakhirinya dengan mati syahid. Bahkan kalian akan terkagum dengan kesabaran anaknya juga. Dan pasti kalian akan berkata: Alangkah baiknya pendidikan terhadapnya. Seorang remaja pada umur itu telah kehilangan bapak dan suaminya namun dia tetap bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah. Akan tetapi orang yang terdidik di medan jihad dan kedua orang tuanya seperti kedua orang tua ini yang tidak pernah bersedih dan mengeluh. Sungguh saya sampaikan kisah ini kepada setiap para remaja muslimat di setiap penjuru dunia, bahkan sampaikanlah kepada para wanita yang sudah tua, agar mereka dapat bersabar ketika kehilangan orang-orang yang dicintai dan orang-orang dekatnya, barang siapa yang melihat musibah selainnya maka musibah yang menimpanya akan terasa ringan.

Dan sikap mulia yang dilakukan oleh seorang putri yang masih kecil ini, ketika peluru dan rudal menyalak seperti hujan terhadap penduduk Irak, dan orang-orang lari dari kematian, namun ibu dan anak-anaknya termasuk putrinya yang masih kecil ini tetap berada di rumah dan tinggal di dalamnya menunggu kesyahidan dan mereka memohon kepada Allah agar menyampaikannya kepada kedudukan para syuhada, dan tidak lama dari itu hingga rudal mereka mentarget rumah itu, hingga sebagian rumahnya hancur, namun sebagiannya yang masih ada siap-siap akan roboh dalam waktu singkat, akan tetapi Allah belum menghendaki mereka mati syahid pada kesempatan itu, walaupun rudal-rudal Amerika berkumpul di rumah ini mereka tidak akan mati kecuali Allah mentakdirkan hal itu, lalu ibu itu keluar bersama anak-anaknya di bawah reruntuhan dengan selamat dan aman kecuali anak perempuannya, lalu para ikhwah berkumpul untuk mengevakuasinya, namun mereka tidak mendapatkan anak perempuannya itu dan dia masih tetap berada di dalam rumah, akan tetapi dia menolak untuk keluar. Namun para ikhwah khawatir rumah itu akan ambruk seluruhnya dan menimpa kepalanya, lalu mereka tetap memintanya untuk keluar, namun tetap pula dia menolak, lalu mereka menanyakan sebabnya.

Apa kira-kira menurut perangkaan kalian? Apa sebabnya? Bahwa dia menjawab dia sedang mencari cadarnya! Ya Allah! Lihatlah wahai para akhwat, bagaimana dia sangat berusaha untuk menutup wajahnya, namun sebagian wanita muslimat hari ini merasa dipaksa untuk memakainya, bahkan sebagian yang lain tidak memakainya, dan sebagian lagi tidak menutup kepalanya, padahal mereka dalam keadaan senang dan lapang, aman dan terjaga. Lalu bagaimana jika terjadi gempa pada salah satu negeri, dan itu telah terjadi dan hanya Allah tempat meminta pertolongan, kalian pasti akan mendapati para wanita akan keluar dari rumah mereka tanpa sesuatupun yang menutupi kepala mereka. Akan tetapi putri itu – ketika itu umurnya 11 tahun empat bulan – tidak mau keluar dari rumahnya yang akan runtuh atapnya sewaktu-waktu karena dia belum menggunakan cadarnya, padahal ketika itu sangat gelap gulita, hingga salah seorang ikhwah memberikan gamisnya lalu dia menutupi wajahnya dan keluar, maka sungguh dia adalah anak dan ibu yang paling baik.Kita kembali kepada yang kita ceritakan ini, ukhti ini telah melalui berbagai kesulitan, ujian dan penderitaan di jalan jihad akan tetapi aku tidak melihatnya seharipun mengeluh atas takdir dan ketentuan Allah, aku melihatnya dan seakan senyuman dari raut mukanya tidak pernah hilang darinya selamanya, apapun yang menimpanya dia tidak marah, mengamalkan wasiat Rasulullah saw, dari Abu Hurairah ra bahwa seseorang berkata kepada nabi saw: berilah wasiat kepadaku, beliau mejawab: Jangan marah, lalu beliau mengulanginya berkali-kali: jangan marah.

Allah telah menghiasinya dengan kebijaksanaan dan akal, dan betapa aku sangat senang ketika aku menanyakan suaminya, dan bagaimana dia mampu bersabar setelah kematiannya. Dia menjawab: “Dia sekarang bersama bidadari, maka berbahagialah dia di dalamnya dan aku memohon kepada Allah agar menambahkan keutamaan kepadanya”.

Para akhwat menyebutnya dengan (an nab’u), demi Allah sungguh itu sangat sedikit bagi dirinya yang seharusnya, karena kesabarannya. Saya ingat ketika kami berkumpul dengan ukhti ini dan beberapa akhwat yang suaminya ditahan, dan salah seorang dari mereka suaminya terbunuh, ukhti ini menyabarkannya dan menghiburnya dengan kalimat yang sangat menyentuh dari yang kami bayangkan, dan dengan senyuman yang bercampur dengan kecintaan dan kasih sayang serta mengayomi para akhwat itu yang mana diantara mereka yang paling tua umurnya 24 tahun dan yang paling muda 16 tahun, dan mereka dalam keadaan lelah karena menjadi buronan musuh Allah, lapar dan rasa takut – hingga air mata berubah menjadi senyuman, dan kesedihan berubah menjadi kesenangan dan kebahagiaan, dan ukhti kita ini tetap menjadi sumber inspirasi dengan penuh kasih sayang dan kelembutan terhadap akhwat mujahidah kita.

Dan setelah beberapa lama ukhti ini menikah dengan salah seorang mujahid yang gagah berani, yang telah ikut serta dalam perang Fallujah, lalu beberapa saat setelah pernikahannya terjadi kesempitan bagi para muhajirin lalu mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan aku ketika itu bersama ukhti ini. Ya Allah! Alangkah bagusnya tarbiyah dia terhadap anak-anaknya. Aku duduk dekat kedua anaknya yang masih kecil, dan kami dalam sebuah mobil dan setiap mereka melihat gambar thaghut negeri itu, maka salah satunya berkata kepada yang lainnya dengan logat anak kecil yang indah, dan dengan wala dan bara’ yang ia terima dari ibunya: “Lihat! Lihat thaghut anjing itu”. Dan setelah kita menjauh dari gambar itu keduanya bernasyid, bukan bernasyid “Ya baba sanani wawah, dan juga bukan pula nasyid “Tut… tut…” akan tetapi keduanya bernasyid “Lillahwi rijalan qad usirat Ashahi ya nukhwatun islamiyah”.

Nasyid ini menurut yang saya ketahui adalah untuk menghibur suami ibunya, dan dalam beberapa bulan kami tetap berpindah dari satu kota ke kota lain dan dari satu rumah ke rumah lain, dan ukhti ini adalah sebaik-baik teman bagi kami dalam safar kami, betapa dia sangat menghibur kami ketika semakin kuat pengepungan, dan betapa dia bisa membuat kami tertawa jika kami sekain bersedih dan gundah gulana. Alangkah baiknya dia dan hanya Allah yang membalasnya. Bagaimana dia bisa tersenyum dalam keadaan seperti itu? Bagaimana dia bisa menawan hati para akhwat? Bagaimana dia bisa bersabar atas kesempitan dan kesulitan hidup? Kami menjadi buronan kemudian kami tinggal di salah satu rumah setelah bersafar dan kelelahan, dan di dalam rumah tidak ada apapun selain tikar diatas tanah dan tidak ada yang lainnya, dan ketika itu sangat dingin sekali. Dia mengambil beberapa pakaian lalu diletakkan dibawah anak-anak dan tidak ada sesuatupun yang menutupi mereka, dan masing-masing baju kami dan itu sangat sedikit kami berikan kepada para akhwat yang memiliki anak kecil.

Demi Allah, jika kalian melihat keadaan ukhti ini pasti mata kalian akan menangis. Dia bersama enam anak kecil yang tidur diatas tanah dan udara sangat dingin sekali. Demi Allah, kami hampir mati karena lelah, lapar dan kedinginan, lalu bagaimana dengan anak-anak kecil itu, bahkan bagaimana dengan hati ibu ini yang melihat anak-anaknya dalam keadaan seperti ini, namun ketika aku melihat wajahnya, aku selalu melihat senyuman itu yang membingungkan aku, dan seakan dia ingin agar Allah tidak melihatnya kecuali dengan penuh keridhaan akan ketentuannya, dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Kemudian kami berpisah setelah berharap untuk bertemu kembali, dan setelah aku berpisah dengannya aku mengetahui bahwa suaminya yang kedua telah mati syahid di Lebanon di perkemahan Nahrul Barid, kami memohon kepada Allah agar menerimanya dalam rombongan para syuhada’ dan memberinya kesabaran dan keteguhan serta mengumpulkan kami dengannya di dunia dan akherat, sesungguhnya Allah maha mampu dan menguasai akan hal itu. Dan aku memohon kepada kalian atas nama Allah, agar mendoakan aku dan akhwat kita yang memiliki keutamaan dan seluruh ikhwan kita para mujahidin serta akhwat mujahidah, dan supaya Allah membebaskan setiap para tawanan muslim baik oleh orang kafir maupun para murtadin.

Dan akhir dakwah kami segala puji bagi Allah rabb semesta alam, dan shalawat serta salam semoga tercurahkan bagi nabi kita Muhammad saw, keluarga dan seluruh para sahabatnya.

—————————–
oleh Ummu Syuhada’
Sumber :
Hafidat Shafiyyah
Penulis: Arijul Jihad
Penerjemah: Ibnu Qalami Muhajiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: