Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » SALAFIYYAH QADIYANIYYAH

SALAFIYYAH QADIYANIYYAH


Qadiyaniyyah adalah Ahmadiyyah, sekte murtad pengikut Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani Al Kadzdzab Al Mutanabbiy (si pendusta pengaku nabi) la’natullah ‘alaih. Boneka Inggris di India yang digunakan oleh penjajah Inggris untuk mematikan perlawanan jihad kaum muslimin India terhadap penjajah kafir Inggris. Di mana di antara ajaran si nabi palsu ini adalah haramnya memberontak kepada pemerintah Inggris yang kafir itu dan wajibnya as sam’u wath tha’ah (mendengar dan taat) kepada pemerintah Inggris yang mereka sebut sebagai ulil amri, atau singkatnya adalah kewajiban as sam’u wath tha’ah kepada pemerintah kafir dan keharaman memberontak kepadanya, karena mereka itu adalah ulil amri yang wajib ditaati.

Pada zaman ini pula ada sekte yang memiliki kesamaan paham dengan Qadiyaniyyah dalam hal kewajiban as sam’u wath tha’ah kepada pemerintah kafir dan keharaman pembangkangan terhadapnya, padahal kekafiran pemerintah yang ada itu adalah kufur riddah (kafir murtad) yang mana ia adalah lebih buruk daripada kafir asli, sebagaimana yang sudah diketahui di dalam ajaran Islam, di mana pemerintah kafir murtad ini telah kafir lagi murtad dari berbagai sisi, diantaranya:

1. Mereka telah merampas hak khusus Allah ta’ala, yaitu kewenangan membuat hukum dan undang-undang, dan mereka memberikan hak tersebut kepada para anggota legislatif mereka, padahal Allah ta’ala mengatakan:
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ

“Hak menentukan hukum itu hanyalah milik Allah.” [Yusuf : 40]

Seperti di negeri ini dimana thaghut terbesar mereka yaitu UUD 45 menetapkan bahwa MPR lah yang berhak membuat atau mengubah UUD, DPR yang berhak membuat UU, juga Presiden, sedangkan Allah ta’ala tidak memiliki hak penentuan hukum di sistim pemerintahan ini, dimana yang menjadi acuan di dalam putusan atau di dalam sanksi atau kebolehan dan pelarangan adalah apa yang digulirkan oleh lembaga-lembaga tersebut. Dan ini adalah sebagai bentuk penentangan dan penyaingan terhadap Allah ta’ala di dalam ketuhanan-Nya, oleh sebab itu Allah telah mencap para pembuat hukum saingan ini sebagai: thaghut, wali-wali syaithan, sekutu-sekutu (yang diibadati), dan arbab (tuhan-tuhan palsu), di dalam firman-Nya:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan kepada orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, tetapi mereka ingin berhakim kepada thaghut, padahal mereka sudah diperintahkan agar kafir kepadanya.” [An Nisa : 60]

Di sini Allah ta’ala menamakan yang dirujuk hukum selain-Nya atau yang membuat hukum selain-Nya sebagai thaghut yang harus diingkari. Al Imam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab menuturkan pentolan thaghut yang kedua adalah: Penguasa durjana yang merubah hukum-hukum Allah. Seraya berdalil dengan ayat di atas. [Risalah fi Ma’na Ath Thaghut, Majmu’atut Tauhid]

Disebut sebagai wali syaithan, sebagaimana firman-Nya ta’ala:
وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan kamu jangan makan dari apa (daging hewan) yang tidak disebut nama Allah (saat disembelihnya), perbuatan itu adalah benar-benar suatu kefasikan. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu membisikkan kepada wali-walinya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik.” [Al An’am : 121]

Yaitu membantah kaum muslimin agar menyetujui penghalalan bangkai. Disini dinyatakan bahwa hukum buatan (yaitu penghalalan bangkai) itu adalah bisikan (wahyu) syaitan yang digulirkan oleh wali-walinya ke hadapan manusia supaya dijadikan acuan.

Dan itulah realita hukum yang ada di negeri ini, Riba dihalalkan dengan dilegalkannya bunga bank dengan UU-nya, pabrik khamr dihalalkan berdiri dan produksi dan ada wajib pajaknya, pelacuran dilegalkan dan dilokalisasikan serta dikenakan pajak, I’dad ‘askari (pelatihan kemiliteran) dengan menggunakan senjata api yang diwajibkan oleh Islam diharamkan dan dianggap sebagai kejahatan, meninggalkan shalat, shaum dan ajaran Islam lainnya adalah boleh dan sah-sah saja, bahkan meninggalkan Islam secara total pun adalah halal dan bukan tindak pidana yang perlu ada sanksi bagi si pelaku, bahkan pemerintah sendiri telah meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah serta menggantinya dengan kitab UUD 45, KUHP dan kitab-kitab hukum lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata di dalam Majmu’ Al Fatawa:
والإنسان متى حلل الحرام المجمع عليه أو حرم الحلال المجمع عليه أو بدل الشرع المجمع اليه كان كافرا مرتدا باتفاق الفقهاء

“Dan orang dikala menghalalkan keharaman yang sudah diijmakan atau mengharamkan kehalalan yang sudah diijmakan atau mengganti aturan yang sudah diijmakan, maka ia kafir lagi murtad dengan kesepakatan ulama.”

Mereka disebut sebagai sekutu-sekutu yang disembah selain Allah, sebagaimana firman-Nya:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka memiliki sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan-aturan dien bagi mereka yang tidak diizinkan Allah?” [Asy Syura : 21]

Sedangkan Allah ta’ala tidak mengizinkan satu makhluq pun ikut campur di dalam penetapan aturan-aturan hukum yang merupakan dien, sebagaimana firman-Nya:
وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak menyertakan seorangpun di dalam (penetapan) hukum-Nya.” [Al Kahfi : 26]

dan di dalam qira’ah mutawatirah, Ibnu ‘Amir membacanya:
وَلَا تُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan kamu jangan menyertakan seorangpun di dalam (penetapan) hukum-Nya.”

Sedangkan bentuk penyembahan atau peribadatan kepada si pembuat hukum itu bukanlah dengan cara shalat dan sujud kepadanya, namun dengan ketaatan, perujukan dan loyalitas kepada hukum buatannya itu, sebagaimana firman-Nya:
وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik.” [Al An’am : 121]

Kemudian mereka itu disebut juga sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah, sebagaimana firman-Nya ta’ala:
اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ

“Mereka telah menjadikan alim ulama dan para pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah….” [At Taubah : 31]

Dimana  di dalam hadits hasan riwayat At Tirmidzi dari ‘Adi Ibnu Hatim Radliallahu ‘anhu, Rasaulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan makna peribadatan dan pertuhanan di dalam ayat itu, yaitu penyandaran hukum kepada para pendeta dan alim ulama.

2. Mereka kafir dari sisi mengganti Kitabullah yang merupakan rujukan hukum dengan kitab-kitab hukum buatan manusia, seperti UUD 45 yang merupakan Ummul Kitab (kitab induk) yang mana segala undang-undang atau hukum yang dibuat harus berlandaskan kepadanya dan tidak boleh menyelisihinya, dan hukum apapun atau keputusan apapun yang bertentangan dengannya adalah gugur. Kemudian ada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana peninggalan kolonial yang tetap dijadikan pegangan, ada Undang-Undang Niaga, ada Undang-Undang Anti Terorisme yang dibuat dalam rangka mencari ridla Fir’aun terbesar (Amerika Serikat) untuk membungkam para mujahidin dan simpatisannya, serta Kitab-kitab hukum lainnya yang mereka imani dan mereka rujuk.

Bila saja meninggalkan satu hukum Allah dan menggantinya dengan hukum buatan sebagai pengganti yang diberlakukan kepada manusia, maka pelakunya divonis kafir, sebagaimana firman-Nya ta’ala:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” [Al Maidah : 44]

Di mana sebab nuzul ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim dan yang lainnya dan Al Bara Ibnu ‘Azib adalah perihal orang-orang Yahudi yang meninggalkan hukum rajam bagi pezina yang ada di dalam Taurat dan malah mereka memberlakukan hukum buatan pengganti rajam yang dijadikan acuan hukum saat ada yang berzina, yaitu deraan dan polesan hitam di wajah. Dan gambaran sebab nuzul ayat ini adalah sama dengan realita pemerintah ini, di mana pemerintah ini meninggalkan potong tangan yang ada di dalam Al Qur’an bagi pencuri yang memenuhi syarat, dan menggantinya dengan pasal 363 KUHP berupa ancaman penjara, bahkan pemerintah ini lebih buruk dari perbuatan yahudi tadi, di mana yang diganti oleh pemerintah ini bukan satuan hukum saja, akan tetapi yang diganti adalah kitabnya, yaitu Kitabullah ta’ala diganti dengan kitab-kitab syaitan tadi dan wahyu Allah ta’ala yang diturunkan lewat lisan Rasul-Nya diganti dengan wahyu syaitan yang dibisikkan lewat lisan wali-walinya.

Ibnu Hazm menjelaskan bahwa barangsiapa memberlakukan hukum Injil maka dia kafir tanpa ada perselisihan di antara kaum muslimin.

Padahal Injil adalah wahyu Allah ta’ala, namun sudah dihapus dengan syarat Muhammadiyyah, maka bagaimana dengan yang memberlakukan wahyu syaitan?

Ibnu Katsir berkata:
من ترك الشرع المحكم المنزل علي محمد بن عبد الله وتحاكم ألي غيره من الشرائع المنسوخة كفر. فكيف بمن تحاكم ألي الياسا وقدمها عليه فمن فعل ذلك فهو كافر بأجماع المسلمين

“Barangsiapa meninggalkan ajaran (hukum) yang muhkam (baku) yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi dan dia malah merujuk hukum kepada syari’at-syari’at (Allah) yang sudah dihapus, maka dia kafir. Maka bagaimana dengan orang yang merujuk hukum kepada Al Yasa (Yasiq) dan dia lebih mengedepankannya terhadapnya (syari’at Muhammadiyyah), maka barangsiapa melakukan hal itu maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin.” [Al Bidayah Wan Nihayah 13/119]

Yasiq adalah KUHP buatan Jenggis Khan yang dipakai pemerintah Tatar, sebagaimana KUHP buatan kolonial Belanda yang dipakai pemerintah Indonesia. Ketahuilah bahwa Tattar itu adalah bangsa, sebagaimana Indonesia juga adalah bangsa. Sebagaimana bangsa Indonesia penduduknya ada yang muslim, ada yang murtad dan ada yang kafir asli, begitu juga bangsa Tatar. Sebagaimana Aparatur pemerintah Indonesia dan bala tentaranya ada yang MENGAKU muslim dan ada pula yang kafir asli dan ada pula yang pindah mengaku agama yang lain, maka begitu pula Aparatur pemerintah Tatar pun mengaku muslim sebagaimana pemimpin negeri ini, maka kenapa pemerintah Tatar dan bala tentaranya dikafirkan para ulama diantaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam Majmu Fataawanya juz 28 dan beliau sebarkan fatwanya untuk melawannya, namun kenapa sekte Salafiyyah Talafiyyah yang mengklaim mengikuti Syaikhul Islam malah menghukumi muslim pemerintah ini dan bala tentaranya yang sama persis dengan Tatar, apa bedanya?
أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِّنْ أُوْلَئِكُمْ أَمْ لَكُم بَرَاءةٌ فِي الزُّبُرِ

“Apakah orang-orang kafir di lingkunganmu lebih baik dari mereka, ataukah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam kitab-kitab terdahulu?.” [Al Qamar : 43]

3. Mereka kafir dari sisi menjadikan demokrasi sebagai dien (aturan/hukum/sistem).

Harus dipahami bahwa dien itu adalah manhajul hayah (sistem yang mengatur kehidupan), sedangkan demokrasi adalah sistem yang mengatur kehidupan atau ia adalah hukum atau undang-undang, di mana demokrasi adalah aturan main yang mengatur roda pemerintahan. Dan di dalam ajaran Allah ta’ala hal itu disebut dien, sebagaimana firman-Nya ta’ala:
مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ

“Yusuf tidak mungkin membawa saudaranya ke dalam undang-undang raja.” [Yusuf : 76]

lihat di sini undang-undang dinamakan dien.

Sebagaimana ritual-ritual syirik yang dilakukan kafir Quraisy dinamakan dien juga di dalam Islam walaupun mereka tidak mengaku agama tertentu, sebagaimana firman-Nya:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Bagi kalian dien kalian dan bagiku dien aku.” [Al Kafirun : 6]

Maka begitu juga demokrasi walaupun orang tidak menyebutnya sebagai agama, namun Islam menyebutnya sebagai dien, sedangkan sistem hidup (dien) satu-satunya yang Allah ridlai hanyalah Islam dan Allah tidak menerima selainnya:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya dien satu-satunya (yang diridlai) di sisi Allah adalah Islam.” [Ali Imran : 19] dan firman-Nya:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barangsiapa mencari selain Islam sebagai dien, maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” [Ali Imran : 85]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sudah diketahui secara pasti dari dien kaum muslimin dan dengan kesepakatan seluruh kaum mu’minin bahwa barangsiapa membolehkan mengikuti selain dienul Islam atau (membolehkan) mengikuti ajaran (hukum) selain ajaran Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, maka dia itu kafir.” [Majmu Al Fatawa 28/524]

4. Mereka Menghina, Memperolok-olok dan Melecehkan Allah ta’ala, Kitab-Nya dan Rasul-Nya, serta sikapnya memberi keleluasaan bagi setiap orang yang ingin menghujat Islam dan ajaran-Nya.

Adapun yang pertama yaitu penghinaan Allah ta’ala dan Kitab-Nya yang dilakukan pemerintah ini adalah bahwa sudah maklum bahwa di dalam aturan yang ada bahwa setiap orang yang mau memangku jabatan apa saja diharuskan untuk bersumpah bagi yang mengaku muslim atau berjanji bagi yang lain. Sumpah dengan apa dan terhadap apa? Sumpah demi Allah untuk setia kepada Pancasila, UUD 45 dan Negara, seraya diangkat Al Qur’an di atas kepalanya….

Subhanallah….sudah maklum bahwa Pancasila adalah thaghut, UUD 45 adalah bapak thaghut-thaghut, dan negaranya adalah negara kafir, sedangkan sudah maklum bahwa janji setia kepada sebagian hukum kafir adalah kekafiran dan kemurtaddan, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) setelah petunjuk jelas di hadapan mereka, maka setanlah yang merayu mereka dan memanjang-manjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu dikarenakan mereka berkata kepada orang-orang yang tidak menyukai apa yang telah Allah turunkan: “Kami akan mematuhi kalian di dalam sebagian urusan.” [Muhammad : 25-26]

Maka bagaimana kalau berjanji setia kepada semua yang dikandung kekafiran Pancasila, UUD 45 dan Negara… Apalagi dengan menyebut asma Allah….. Sehingga maknanya adalah “Demi Allah, saya akan setia kepada thaghut,” Masya Allah…. Penghinaan macam apa yang lebih dahsyat dari penghinaan ini….perolok-olokan macam apa yang lebih besar dari ini. Bila saja bergurau dengan cara menyebut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya sebagai para penakut, pendusta dan paling banyak makannya, langsung Allah ta’ala turunkan vonis kafir bagi pelakunya dengan firman-Nya:
قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ

“Katakanlah: Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Raasul-Nya kalian ini memperolok?.” [At Taubah : 65]

kemudian orang-orang itu mencari alasan dengan mengatakan motif ucapannya itu:
إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ

“Sesungguhnya kami ini hanya bergurau dan bercanda.” [At Taubah : 65]

maka Allah mengatakan seraya menolak alasan itu:
لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Kalian jangan mencari-cari alasan, sungguh kalian telah kafir setelah kalian kalian beriman.” [At Taubah : 66]

Maka bagaimana dengan ucapan sumpah tadi? Bahkan kebejatan thaghut ini tidak berhenti di situ, dimana para aparat pembuat kebijakan di Kehakiman pun membuatkan janji bagi narapidana yang di tempel di dinding LP yang dinamakan Catur Darma Narapidana, yang isinya diantaranya berjanji: menjadi manusia susila yang berpancasila…..dan di ujung diakhiri dengan ucapan….: semoga Allah Yang Maha Esa memberkati kita…. Subhanallah penghinaan macam apa ini?!!! Meminta berkah kepada Allah untuk menjadi orang kafir….

Dan sejuta penghinaan kepada Allah ta’ala yang bisa dipahami oleh orang yang bertauhid yang hatinya masih hidup, adapun orang yang hatinya sudah mati mana bisa merabanya, layaknya luka bisa dirasa sakit oleh orang yang hidup, adapun bangkai maka ia tidak bisa merasakannya…

Adapun pemberian izin kepada setiap orang yang menghina Allah dan ajaran-Nya, maka lihat saja UUD 45 Pasal HAM dimana setiap orang bebas mengeluarkan pendapat dan pikirannya, walaupun menghujat ajaran Islam, oleh sebab itu orang-orang JIL (Jaringan Islam Liberal) yang seharusnya Jaringan Iblis Laknatullah, siang malam lewat buku, koran, simposium, majalah dan lain-lain mengeluarkan lontaran-lontaran hujatan terhadap ajaran Islam, dan pemerintah ini santai saja seolah tidak ada apa-apa, tapi kalau thaghut mereka dihujat baru mereka bereaksi. Berbeda dengan pemimpin Islam, seperti Khalid Ibnu Abdillah Al Qusari gubernur Kufah tatkala ada orang yang meniadakan sifat Allah, dia langsung bersikap di hari raya qurban, dia mengatakan:
أيها الناس ضحوا تقبل الله ضحاياكم فإني مضح بالجعد بن درهم فإنه يزعم أن الله لم يتخذ إبراهيم خليلا ولم يكلم موسى تكلما، تعالى الله عما يقول الجعد علوا كبيرا

“Wahai manusia, berkorbanlah, semoga Allah menerima kurban-kurban kalian, karena sesungguhnya saya akan berkorban dengan Al Ja’du Ibnu Dirham, sebab sesungguhnya dia itu mengklaim bahwa Allah tidak menjadikan Ibrahim sebagai Khalil dan bahwa Allah tidak mengajak bicara Musa secara langsung, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang dikatakan Al Ja’du.”

Terus Khalid turun dan langsung menyembelihnya…

Itu pemimpin Islam saat menghadapi para perusak ajaran, tapi di negeri ini JIL subur dan menjamur di bawah payung thaghut dan hukumnya….

Dan segudang kekafiran-kekafiran lainnya yang nampak terang sejelas matahari di siang bolong yang tidak samar kecuali atas orang yan rabun dan nampak nyata kecuali atas orang yang buta mata dan hati seperti kalangan sekte salafiyyah Qadiyaniyyah yang menganggap mereka sebagai ulil amri yang wajib ditaati dan haram untuk dilawan.
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” [Al Hajj : 46]

Sadarlah kalian wahai sekte salafiyyah, kalian ini dusta dalam menisbatkan diri kepada salaf….

Abu Sulaiman

5 Ramadlan 1431 H

Mu’taqal PM

nukilan dari http://lintastanzhim.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: