Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Al Ghuluw Fit Takfier » Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 18 Mencampuradukkan antara tawalli mukafir dengan mudahanah yang haram atau mudaaraah yang disyariatkan

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 18 Mencampuradukkan antara tawalli mukafir dengan mudahanah yang haram atau mudaaraah yang disyariatkan


Di antara kekeliruan yang sering terjadi dalam hal takfir adalah mencampuradukkan antara tawalli mukaffir dengan mudahanah yang haram atau mudarah yang disyari’atkan.

Mudahanah apalagi mudarah, keduanya bukan termasuk tawalli yang membuat kafir (mukaffir), tapi mudahanah adalah sesuatu yang diharamkan, sedangkan mudarah adalah hal yang boleh secara syari’at. Dan sebagian orang yang terlalu bersemangat tidak membedakan antara keduanya, dia mempersempit dan mempersulit dalam apa yang tidak dipersulit oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan dia mengingkari sesuatu yang mandub (sunnah) dan bukan yang munkar.

Bahkan saya telah melihat dari kalangan Ghulah orang yang mengkafirkan dengan sebab murni mudarah, dan tindakan itu adalah ngawur dari kebenaran serta merupakan kesesatan, oleh sebab itu mesti dari mengingatkan akan hal ini dalam kekeliruan-kekeliruan takfir dan membedakan antara masing-masing macam dari hal-hal itu.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari pada syarah beliau terhadap Kitabul Adab dari Shahih Al-Bukhariy (Bab Al Mudarah Ma’an Nass) berkata saat menjelaskan apa yang dicantumkan secara mu’allaq oleh Al-Bukhariy dari ucapan Abu Darda:

“Sesungguhnya kami tertawa di hadapan orang-orang, padahal sesungguhnya hati kami melaknat mereka”.

Al Kasyru makna asalnya adalah nampaknya gigi, dan sering digunakan untuk makna tertawa.

Ibnu Baththal berkata: Al Mudarah adalah tergolong akhlaq orang-orang mu’min, dan ia adalah merendahkan diri terhadap orang-orang, halus perkataan dan meninggalkan bersikap keras terhadap mereka dalam ucapan. Dan itu adalah tergolong sebab terbesar untuk lunaknya hati.

Dan sebagian orang mengira bahwa mudarah itu adalah mudahanah, ini adalah keliru, karena mudarah adalah dianjurkan sedangkan mudahanah adalah diharamkan.

Dan perbedaanya adalah bahwa mudahanah itu diambil dari kata dihan dan ia adalah sesuatu yang nampak di atas permukaan sesuatu dan menutupi bagian dalamnya. Para ulama menafsirkan mudahanah adalah bergaul dengan orang fasik serta menampakan ridha dengan perbuatanya tanpa mengingkarinya.

Sedangkan mudarah adalah bersikap lembut terhadap orang jahil dalam mengajarinya dan terhadap orang fasik dalam melarang perbuatanya meninggalkan bersikap kasar terhadapnya sehingga tidak menampakan apa yang dilakukan oleh orang fasik itu dan mengingkarinya dengan ucapan dan perlakuan yang lembut, apalagi bila diperlukan untuk melunakan (hati) nya berserta yang lainya.

Dan berkata juga: (mudarah, tanpa (huruf) hamzah, dan asalnya adalah (ada) hamzah (مداراة/mudara’ah), karena ia berasal dari (makna) mudafa’ah (menolak/membela) dan yang dimaksud dengannya adalah menolak atau melarang dengan lembut…).

Berkata: (Dan yang ada berkenaan denganya secara terang adalah hadits Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مداراة الناس صدقة“ Bermudarah dengan munusia adalah shadaqah”. Ini dikeluarkan oleh Ibnu Addiy dan Ath Thabraniy dalam Al Ausath sedangkan dalam sanadnya ada Yusuf Ibnu Muhammad Al Munkadir, para ulama mendha’ifkannya, dan Ibnu Addiy berkata: Saya berharap dia itu tidak apa-apa,  dan dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam Adabul Hukama dengan sanad yang lebih baik darinya). Beliau dalam bab itu juga, dan dalam bab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kasar dan tidak bersikap keji, menukil perkataan Al Qurthubiy seraya mengikuti ‘Iyadh: (Perbedaan antara mudarah dengan mudahanah, sesungguhnya mudarah adalah mengorbankan dunia untuk kebaikan dunia atau dien atau untuk kedua-duanya, dan ia adalah dibolehkan dan bisa saja dianjurkan. Sedangkan mudahanah adalah meninggalakan dien untuk kebaikan dunia).

Maka nampaklah dari ini semua bahwa mudarah adalah boleh, bahkan terkadang menjadi dianjurkan (mustahabb).

Adapun mudahanah, sesungguhnya ia meskipun sebagian (ulama) menggunakan dalam defenisinya dimana terkadang dimaksudkan denganya hal-hal yang membuat kafir, akan tetapi mayoritas ulama menggunakan lafazh ini, mereka hanya memaksudkan denganya hal-hal yang haram yang di bawah kekafiran dan ia sebagaimana yang dikatakan oleh Ath Thabariy dalam tafsir firman Allah tabaraka wa ta’ala:ودوالوتدهن فيدهنون adalah diambil dari kata dihan (minyak), berupaya bersikap lembut dalam ucapan diserupakan dengan melulurkan minyak). Al Hasan berkata: “Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak terhadap mereka dalam (hal) dien kamu, lalu mereka bersikap lunak terhadap kamu”.

Maka bisa disimpulkan dari ini bahwa mudahanah itu mengorbankan sesuatu yang pengorbananya dari dien untuk kepentingan dunia ini di haramkan (tapi) bukan kekafiran. Bila ternyata masalahnya yang dimaksud denganya adalah seperti itu serta tidak dimaksudkan dengannya apa yang di atas itu berupa tawalli dan yang lainnya dan hal hal yang mengkafirkan, maka tidaklah halal –sedangkan keadaanya seperti- sebagian orang-orang yang berlebihan itu mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka karena hanya sikap mudahanahnya terhadap musuh-musuh Allah yang berupa sikap lembut dan memuliakan atau diam dari mengingkari munkarat, kebejatan serta kebatilan mereka tanpa mereka bersikap mengakui orang orang itu di atas kekafiran atau celaan terhadap dien ini, terutama sesungguhnya mayoritas mereka menyelisihi itu pada realita sekarang ini beralasan untuk mayoritas sikap mudahanahnya dengan alasan takut ketertindasan atau mashlahat (da’wah).

Jadi sikap mudahanah mereka itu berkisar sesuai klaim mereka antara taqiyyah dan takwil. Sama saja baik alasan mereka itu sah atau tidak…. Selama status maksimal apa yang mereka lakukan itu tergolong muharramat atau kabaa-ir…, maka tidak halal sama sekali mengkafirkan (mereka) dengannya.

Bahkan takfir dengan hal itu saja adalah lebih haram dan lebih sesat dari mudahanah itu sendiri. Sungguh engkau telah mengetahui dalam uraian yang lalu bahwa wa’id (ancaman) atas sikap mengkafirkan dengan sebab pebuatan padahal Allah dan Rasulnya tidak mengkafirkan dengannya adalah tergolong macam ancaman yang paling dasyat, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakannya dengan membunuh orang muslim dan menumpahkan darahnya yang haram.

Sesungguhnya suatu dosa yang dinamakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  adalah tidak seperti dosa-dosa lainnya, namun bisa jadi adalah kekafiran sesuai ancaman tertentu atau ia itu adalah (dosa) yang menghantarkan kedalam kekafiran. Siapa saja orangnya yang mempertaruhkan diennya dan menjerumuskan dirinya serta berani menembus pintu-pintu yang berbahaya ini maka sesungguhnya penganiayaannya kembali hanya kepada diri dan diennya.

Apakah tidak cukup bagi dia dan bagi kaum berlebih-lebihan yang seperti dia, diam di batas yang telah digariskan Allah dan tidak melampauinya?

Syariat ini tidak butuh dari seorangpun kepada sikap mempersulit melebihi apa yang gariskan Allah dan dihati hatikan ancamanya.

Dan ia juga tidak membutukan pada sikap tafrith dan idhan (mudahanah/basa-basi) dari orang orang yang terlalu mengenteng-enteng setelah Allah menjadikan di dalamnya kemudahan yang dengannya dia angkat kesulitan dari umat ini.

Dan Al haq adalah pertengahan, ia tidak bersama orang orang yang mempersulit dengan sikap mempersulit mereka dan tidak pula bersama orang orang yang terlalu mempermudah dalam sikap tafrith mereka.

Dan dalam Sunnah Al Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan metode da’wahnya terdapat kadar cukup dan obat bagi penyakit-penyakit itu. Al Imam Al Bukhariy telah meriwayatkan dalam Shahihnya dalam kitab Al Adab dalam bab-bab yang telah diisyaratkan tadi dari ‘Aisyah: ((bahwa seorang laki-laki meminta izin untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan tatkala belaiu melihatnya beliau berkata: “Seburuk-buruknya saudara marga itu”, dan dalam riwayat lain: Beliau berkata: “Izinkan dia, seburuk-buruknya saudara marga itu” dan tatkala ia masuk, maka beliau melembutkan perkataan terhadapnya, kemudian tatkala dia duduk, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakan wajah berseri-seri dan ramah dihadapanya, kemudian tatkala orang itu pergi, ‘Aisyah berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, saat engkau melihat orang itu, engkau berkata kepadanya ini dan itu, kemudian engkau berseri-seri dan ramah kepadanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai ‘Aisyah kapan engkau melihatku kasar? Sesungguhnya orang yang paling buruk di sisi Allah kedudukanya di hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia karena takut keburukanya”, dan dalam riwayat lain: “sikap kasarnya”. Al Hafizh telah menulis dalam Al Fath dari Ibnu Bahthal dan yang lainya bahwa laki laki itu adalah ‘Uyainah Ibnu Hishn Al Fazzariy, dan ia itu digelari Al Ahmaq Al Mutha (orang dungu yang ditaati), sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan dengan sikap sambutan beliau terhadapnya pelunakan hatinya  agar kaumnya mau masuk Islam, karena ia adalah pemimpin mereka dan ia menukil dari ‘Iyadl ucapanya: ‘Uyainah saat itu wallahu a’lam belum masuk Islam… atau sudah masuk Islam namun keislamannya belum baik.))

Dan Al Hafizh berkata: (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan untuknya dari dunia beliau ini sikap ramahnya dan lemah lembut saat berbicang-bincang denganya, namun bersama itu semua beliau tidak memujinya dengan ucapan, serta ucapan beliau tentang dia tidak bertentangan dengan perbuatanya, karena ucapan beliau tentangnya adalah benar dan perlakuan beliau terhadapnya adalah pergaulan yang baik…)

Perhatikanlah tuntunan yang sempurna lagi pertengahan ini yang menggabungkan antara jujur dalam menilai dan perkenalkan serta tulus terhadap orang-orang yang mendengar, dengan sikap mempergauli yang baik dan ta-liful qalbi untuk mashlahat dien dan Islam. Ini bersih dari mudahanah, karena di dalamnya sedikitpun tidak ada pengorbanan (dien) atau tafrith dalam dien ini dari satu sisi sebagaimana bersih dari sikap kasar, bengis dan sikap kaku yang membuat orang lari yang bukan pada tempatnya…dari sisi lain.

Maka dimana letak orang orang yang berlebih-lebihan lagi mempersempit apa yang telah Allah lapangkan dari pemahaman yang agung dan akhlaknya mulia ini?

Sungguh saya telah melihat dari kalangan mereka orang-orang yang mengecam dan membid’ahkan bahkan mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka dalam hal hal yang bukan kekufuran dalam dienullah ini, bahkan sebahagiannya adalah hal yang disyari’atkan yang tergolong mudarah yang terpuji yang belum tercerna oleh akal mereka yang lemah serta tidak sejalan dengan sikap kasar dan kaku mereka. Dan sebagiannya tidak lebih dari status mudahanah yang diharamkan yang tidak mengkafirkan.

Mereka mengkafirkan orang yang duduk di majelis orang-orang kafir ,atau menziarahi mereka dan masuk menemui mereka, atau manis muka di hadapan mereka atau memperlakukan mereka dengan sedikit lembut dan senyuman. Dan apalagi menurut mereka orang yang menyalami mereka (jabat tangan), atau mencandai mereka, membuat mereka tertawa (senang) dan sikap lembut terhadap mereka. Sedangkan yang benar adalah tidak halal menyamakan antara ini semuanya… dan tidak boleh mengkafirkan dengan sebab itu saja.

Di antara hal-hal itu ada yang disyari’atkan seperti duduk bersama mereka menziarahinya dan masuk menemui orang-orang kafir dalam rangka mendakwahi mereka, dan lemah lembut dalam mengajak mereka bicara, membantah mereka dengan cara yang lebih baik, serta mendakwahi mereka dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan telah kami ketengahkan kepadamu dari Shahih Al Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk anak Yahudi yang sakit dan beliau mengajaknya kepada Islam, maka dia masuk Islam. Sehingga (boleh) bagi muslim menjenguk orang kafir saat sakit dan berbuat baik kepadanya dengan harapan keislamannya.

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi orang-orang kafir di mejelis-mejelis mereka seraya memperdengarkan dakwahnya kepada mereka dan beliau bersabar atas penindasan mereka di Makkah dan Madinah,sebagaimana dalam hadits muttafaq ‘alaih yang di tuturkan Al Bukhari dalam kitab Al Adab (Bab Kunyatil Musyrik) dari Usamah Ibnu Zaid radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggang keledai yang diletakkan kain fadakiyyah di atasnya sedangkan Usamah di belakangnya, beliau menjenguk Sa’ad Ibnu Ubadah di Banu Harits  Ibnul Khazraj sebelum perang Badar. Keduanya terus berjalan hinga melewati suatu majlis yang di dalamnya ada Abdullah Ibnu Ubay Ibnu Salul, dan kejadian ini sebelum Abdullah Ibnu Ubay masuk Islam, dan ternyata di majelis itu campuran dari kalangan muslim, musyrikin para menyembah berhala dan orang-orang Yahudi, sedangkan di antara kaum muslimin ada Abdullah Ibnu Rawahah. Tatkala majelis itu tertaburi debu akibat jalannya keledai, maka Abdulllah Ibnu Ubay menutupi hidungnya dengan kainnya dan berkata: “Janganlah kalian mengotori kami dengan debu”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam terhadap mereka, terus berhenti dan turun, beliau dakwahi mereka kepada Allah dan membacakan (ayat-ayat) Al-Quran terhadap mereka, maka Abdullah Ibnu Ubay Ibnu Salul berkata kepada belaiu: “Hai orang, tidak ada yang lebih baik dari apa yang kamu ucapkan bila itu memang benar, maka jangan sakiti kami dengannya di mejelis-mejelis kami, siapa yang datang kepada kamu maka jelaskanlah kepadanya”. Abdullah Ibnu Ruwahah berkata: “Ya, terus wahai rasulullah datangilah kami di mejelis-mejelis kami, karena kami mencintai hal itu”, maka terjadilah ketegangan antara kaum muslimin, kaum musyrik dan Yahudi sehingga mereka hampir baku hantam, Rasulullah terus menenangkan mereka sampai akhirnya mereka tenang, kemudian Rasulullah menunggangi keledainya sehingga beliau masuk menemui Sa’ad Ibnu Ubadah, terus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Sa’ad, apa kamu tidak mendengar apa yang dikatakan Abu Hubab?”, maksudnya Abdullah Ibnu Ubay…).

Di dalam hadits ini sebagaimana yang dinukil Al Hafizh dari Ibnu Bathtal: (Bolehnya memberi kun-yah kaum musrikin dalam rangka pelunakan hati, baik karena harapan keislaman mereka atau untuk mendapatkan manfaat dari mereka…); ini padahal sesunguhnya An Nawawi berkata dalam Takniyah (pemberian kun-yah): (Etikanya adalah orang terpandang dan yang dekat seperti mereka di khithabi dengan kun-yah).

Beliau berkata: (Orang-orang generasi terdahulu satu sama lain sering mengagungkannya dalam pembicaraan langsung atau surat-menyurat dan lainnya dengan kun-yah dan mereka memandang hal itu sebagai puncak kehormatan dan pengangungan). (Al Adzkar)

Dan didalam hadits itu ada kebolehan mendatangi orang-orang kafir dalam majelis-majelis mereka dan duduk bersama mereka dalam rangka mendakwahinya dan mengajak bicara mereka dengan cara yang lebih baik) dan hal-hal sejenis ini sering kami arahkan kepadamu dalam banyak tempat.

Dan yang menjadi bukti adalah bahwa semua ini adalah boleh dan masyru’ (disyari’atkan) yang tidak di ingkari kecuali orang yang lalai atau jahil akan Sunnah Al Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuntunanya dan sirahnya. Oleh karenanya takfir dengan sebab hal-hal itu adalah lebih busuk dan lebih keji dari bid’ah khawarij yang mengkafirkan dengan sebab maksiat dan dosa.

Dan di antara yang mereka ingkari -dan terkadang sebagian mereka mengkafirkan dengannya- dari apa yang telah lalu, ada hal-hal yang sama sekali tidak sampai pada batas pengharaman… selama tidak terkandung dalam sesuatu darinya pengakuan terhadap kemunkaran atau hal haram, seperti menyalami kuffar, senyum dan ramah terhadap mereka serta hal yang lainnya dari hal-hal yang tidak ada dalil yang menunjukan keharamanya meskipun kami tidak menyukainya untuk selain kepentingan dakwah atau membuat mereka senang terhadap dien dan yang lainnya. Sungguh sebagian orang-orang yang ngawur telah berlebihan di antara mereka mengkafirkan orang-orang menyelisihinya dari kalangan yang berjabatan tangan dengan aparat syirik dan UU atau orang-orang kafir lainya. Sehingga dengan perbuatan itu mereka menyimpang dari garis kebenaran dan mereka berlebih-lebihan. Dan di antara mereka ada yang merasa cukup dengan sikap membid’ahkan atau menuduh dengan tuduhan mudahanah dan kecendrungannya (kepada kuffar) padahal mereka itu tidak mengatahui satu dalilpun yang melarang hal itu. Dan kami meskipun tidak menyukai berjabatan tangan dengan mereka dan tidak pula kami melakukanya sebagai bentuk idhhar akan da’wah kami dan penampakan akan sikap berani kami dari syirik dan pendukungnya, dan sungguh Imam Ahmad telah ditanya tentang berjabat tangan dengan kafir dzimmy, maka beliau tidak menyukainya[1], maka selain mereka dari kalangan kafir harbi lebih utama menurut beliau atas dasar ini dengan hukum tidak disukai itu, namun kami bersama ini semua tidak menganggapnya haram karena tidak adanya nash, bahkan kami menganggapnya hanya sebagai sarana yang bisa sampai pada sikap melunakan (hati orang). Dan sudah ma’lum dalam kaidah-kaidah fiqh: (bahwa apa yang dilarang karena sebagai upaya menutup jalan, maka dibolehkan karena mashlahat). Dan itu telah lalu dan oleh karena itu kami tidak melarang berjabat tangan karena masalah melunakan hati, atau da’wah, atau menolak mafsadat dan yang lainnya sesuai apa yang dipandang perlu oleh orang muslim pada kondisinya terutama bila yang terlebih dahulu mengulurkan tangan adalah orang kafir yang tidak menampakan permusuhan terhadap dien ini.

Status berjabat tangan (mushafahah) tidak sama dengan mengucapkan salam yang ada larangan secara tegas, bahkan syari’at telah menjadikannya sebagai sebab untuk datangnya rasa cinta sebagaimana dalam hadits: kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai, apakah kalian mau saya tunjukkan kepada sesuatu yang bila kalian melakukannya maka kalian saling mencintai, sebarkan salam diantara kalian”. HR. Muslim

Rasa cinta hanyalah didatangkan dan diupayakan keberadaannya di antara kaum muslimin dan dilarang bersama orang-orang kafir dan musyrikin, oleh sebab itu ada larangan secara tegas dari memulai mengucapkan salam terhdap kaum musyrikin, seperti hadits: “Janganlah kalian memulai orang-orang Yahudi dan Nashrani dengan salam”, dan dalam satu riwayat: “Bila kalian berjumpa dengan kaum musyrikin, janganlah memulai salam terhadap mereka“. Hadits riwayat Muslim dan yang lainnya”. Ini berbeda dengan mushafahah dimana bagi kami tidak ada satupun dalil shahih yang melarang dari mushafahah terhadap kuffar[2].

Oleh sebab itu tidak halal membid’ahkan orang-orang yang menyelisihi di dalamnya, serta mencela mereka, apalagi mengkafirkannya!!

Dan di antara hal-hal yang mana mereka mengkafirkan dengannya ada sesuatu yang memang diharamkan seperti mudahanah yang di dalamnya terdapat pengakuan akan hal-hal yang di haramkan dan maksiat atau ada yang merupakan sikap mentaati orang-orang kafir dalam maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan yang lainnya yang sampai pada status sebagai dosa besar dan tidak sampai pada kekafiran sama sekali.

Ringkasanya: Sesunguhnya tidak boleh menyamakan antara itu semuanya, karena tidak sesuai dengan keadilan yang dengannya Allah menurunkan Al Kitab dan Timbangan.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala sudah menjelaskan di dalam kitab-Nya bahwa mukhalafat syar’iyyah (hal-hal yang menyelisihi syari’at) tidak sama seluruhnya, tapi ada yang merupakan kekafiran, ada bersifat fusuq dan ada yang bersifat maksiat. Dia berfirman:

“Dan dia menjadikan kalian tidak suka kekafiran, fusuq dan maksiat”. (Al Hujurat: 7)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa dzunub itu ada yang tergolong shagha-ir (dosa-dosa kecil) ada juga yang tergolong kaba-ir (dosa-dosa besar) dan mubiqat (dosa-dosa yang membinasakan).

Dan telah lalu juga bahwa kekufuran bertingkat-tingkat, sebagianya lebih dasyat dari sebagian lainnya, serta sebagiannya adalah penambahan dalam kekafiran sehingga tidak  halal -sedangkan keadanya seperti itu- apa yang dilakukan oleh banyak orang yang ngawur berupa sikap serabutan langsung saja mengkafirkan dengan sesuatu yang merupakan muharramat, apalagi karena sebab hal-hal yang makruh atau hal-hal yang mubah atau mustahabb, sebagaimana sebagian mereka mencampuradukan antara tawalli mukaffir dengan mudahanah yagg haram …serta mudarah.

Ajaran ini tidak butuh pada sikap-sikap yang membuat takut… sampai para ghulat dan orang-orang yang berlebih-lebihan membuat-buatnya dan menciptakanya dari (kantong) sikap tasydid, berlebihan dan takfir mereka seraya membuat orang jera.


[1] Al Mughni (Kitab Al Jizyah), fashl (dan tidak boleh mengedepankan mereka dan memulai mereka dengan salam)

[2] .Adapun hadits: “Termasuk kesempurnaan tahiyyah (salam) adalah mushafahah atau menjabat tangan“ adalah hadits dla’if seluruh jalannya dengan status sangat lemah, tidak sah untuk i’tibar dan juga hadits “Berjabat tanganlah, pasti hilang rasa dengki dari kalian…”. Sunguh telah diriwayatkan oleh Malik secara mu’adldlal dari ‘Atha Al Khurasany, lihat At Targhib wat Tarhib  3 /278, dan lafadz-lafadz ini diriwayatkan juga dari jalan Bisyr Al Anshari sedang dia tergolong pembuat hadits palsu seperti kata Al Uqaili dan Ibnu Addiy.

//


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: