Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » Akidah » Islam itu apa…???

Islam itu apa…???


Mengenal DIEN
Beberapa arti kata “dien” dalam Al Qur’an

1. Mencakup tentang ketaatan, ketundukan dan penyembahan
“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus”
Yusuf/12:40

2. Mencakup peraturan tentang ibadah /syari’at /ketaatan
”Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diidzinkan Allah?”
Asy Syuraa’/42:21

”Keputusan hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan kamu agar tidak menyembah selain Dia. Itulah dien yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Yusuf/12:40

”Untukmu lah dien-mu dan untukku lah dien-ku”
Al Kafirun/109:6

“…dan untuk-Nyalah ketaatan itu selama-lamanya…”
An Nahl/16:52

3. Balasan
“Sesunguhnya yang dijanjikan kepadamu pasti benar. Sesungguhnya hari pembalasan pasti terjadi”
Adz Dzaariyaat/51:6

“Tahukah kamu hari pembalasan itu. Sekali lagi tahukah kamu hari pembalasan itu? (yaitu)hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekusasaan Allah”
Al Infithar/82:19

*****

Beberapa arti kata “islam” dalam Al Qur’an

1. Islam secara umum diartikan dengan rela, pasrah dan menerima
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”
Az Zumar/39:54

2. Menyerah
”Maka apakah mereka mencari dien yang lain dari dien Allah, padahal hanya kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, baik dengan suka maupun dengan terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka akan dikembalikan”
Al Imran/3:83

”Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”
Az Zumar/39:11~12

3. Damai dan aman.
”Jangalah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah(pun) beserta kamu.. ”
Muhammad/47:35

*****

Arti secara istilah gabungan kata ”Dien” dan ”Islam”

Bisa dikatakan Dien adalah suatu aturan hidup atau sistem hidup, yang mengatur kehidupan manusia. Sedangkan Islam adalah nama dari dien itu.

Dan dapat diketahui pula bahwa aturan hidup/sistem hidup/dien itu banyak jumlahnya dan hanya Dienul-Islam yang ditentukan oleh Allah untuk manusia, yang disampaikan melalui para Rasul-Nya

”Barang siapa yang mencari dien selain dienul Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima(dien itu) daripadanya, dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”
Al Imran/3:85

“Dan Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya(dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama…”
At Taubah/9:33

”Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari akhir dan mereka tidak berdien dengan dien yang benar(dien Allah); (yaitu orang-orang)yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”
At Taubah/9:29

Jadi secara istilah ; makna Dienul Islam adalah menampakkan ketundukan dan melaksanakan hukum/syari’at Allah yang datang/diterima dari Rasulullah, dan yang datang selainnya adalah bukan Dienul Islam (Thaghut). Sehingga dari sini dapat diketahui batasan antara orang yang Islam atau yang tidak.

“Dan sesungguhya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah saja dan jauhi thaghut”
An Nahl/16:36

Perkataan Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab:
الإِسْلاَمُ هُوَ الإِسْتِسْلاَمُ اللهُ بِالتَّوْحِيْدِ وَالإِنْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ وَالْبَرَأَةُ مِنْ الشِّركِ وَ أَهْلِ الشِّرْكِ

“Islam adalah beristislam kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik”

*****

Dienulislam adalah dien tauhid, ajaran seluruh Rasul-rasul Allah dan dien para Rasul

Dienulislam adalah aturan hidup yang lengkap dan sempurna yang diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla melalui para rasul-Nya sebagai pedoman hidup bagi manusia.

Dienulislam adalah dien tauhid karena menuntut penyembahan, ketundukan dan kepasrahan hanya kepada Allah saja.

Dienulislam telah dibawa oleh seluruh para rasul dari Allah untuk disampaikan kepada manusia seluruhnya dan tauhid adalah inti da’wah para rasul.

”Dan Kami tiada mengutus seorang rasul-pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya ”Bahwasanya tiada ilah(yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian Aku”
Al Anbiyaa’/21:25

“Dan sesungguhya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah saja dan jauhi thaghut”
An Nahl/16:36

Beberapa kisah Rasul Allah di dalam Al Qur’an tentang ke ”Islaman ” mereka

Nabi Nuh As
”Jika kamu berpaling dari peringatanku aku tidak akan meminta upah sedikitpun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya”

Yunus/10:72

Nabi Ibrahim As dan Nabi Isma’il As
”Ya Robbi, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan jadikanlah di antara anak cucu kami ummat yang tunduk kepada-Mu dan tunjukilah kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang ”
Al Baqarah/2:128

Nabi Ya’kub As

”Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub : ”Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih dien ini bagimu, maka janganlah kamu sekalian mati kecuali dalam memeluk Islam ”
Al Baqarah/2:132

Nabi Yusuf As
” …wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang sholeh ”
Yusuf/12:101

Nabi Musa As
”Berkata Musa :”Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertaqwalah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar berserah diri”
Yunus/10:84

Nabi Sulaiman As
”Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya : ”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang ”
An Naml/27:31

Nabi Luth As
”Dan jika mereka(orang-orang musyrik mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, ’Aad dan Tsamud, dan kamu Ibrahim dan kaum Luth ”
Al Hajj/22:42~43

Nabi Syu’aib As
“Dan Kami telah mengutus kepada penduduk Madyan saudara mereka Sya’aib, ia berkata:” Hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya…”
Al A’raaf/7:85

Nabi Shaleh As
“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata:”Hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya…”
Al A’raaf/7:73

Nabi ‘Isa As

”Para Hawariyyun(sahabat setia Nabi Isa) berkata : ”Kamilah penolong-penolong Dienullah , dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri ”
Ali Imran/3:52

Nabi Huud As
”Dan ingatlah (Huud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya di al Ahqaaf, sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (yang menyerukan) janganlah kalian menyembah kepada selain Allah”
Al Ahqaaf/46:21

Nabi Muhammad Saw
”Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”
Az Zumar/39:12

Dan Nabi Saw. bersabda:
اْلاَنْبِيَاءُإِخْوَةٌلِعَلاَّتٍ, اُمَّهَاتُهُمْ شَتَّي وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi itu bersaudara sebapak, ibu mereka berbeda namun dien mereka satu”
HR Bukari

*****

Ruang Lingkup Dienul Islam

1. Hakekat ketuhanan  ma’rifatullah  ketauhidan
Menyatakan tidak ada ilah selain Allah, menuntut pengenalan terhadap Allah dalam hal rububiyyah-Nya, Asma wa sifat-Nya dan Uluhiyah-Nya

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi(segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran”
Al Baqarah/2:186

2. Hakekat penghambaan  adanya kelemahan dan keterbatasan
Ketergantungan hamba terhadap hukum-hukum Allah (kauniyah + khauliyah)

“Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak keturunan Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka(seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab:”Betul(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”, (Kami lakukan yang demikian itu)agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(kekuasaan Tuhan)”
Al A’raaf/7:172

3. Hubungan antar makhluk Allah
Saling ketergantungan dalam mencari kemaslahatan kehidupan dan untuk beribadah kepada Allah

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu…”
Al Hujaraat/49:13

*****

Unsur-unsur Dienul Islam

عَنْ عُمَرَرَضِىَاللهُ عَنْهُ أَيْضً قَالَ: بَيْنَانَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَرَسُوْلِ اللهِ صلىالله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْطَلَعَ عَلَيْنَ رَجُلٌ شَدِيْدُبِيَاضِ الشِّيَابِ شَدِيْدُسَوَادِالشَّعْرِ لاَيُرَىعَلَيْهِ اَثَرِالسَّفَرِوَلاَيَعْرِفُهُ مِنَّاأَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَىالنَّبِىِّ صلىالله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَىفَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَامُحَمَّدُ أَخْبِرْنِىعَنِ اْلإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلىالله عليه وسلم اَلإِْسْلاَمُ أَتَشْهَدَ أَنْل لاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمُ الصَّلاَتَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ السْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ صَدَقْتَ فَعَجِبْنَ لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ فَأَخْبِرْنِىعَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ أَنْتُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِوَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِخَيِرِهِ وَشَرِّهِ, قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِىعَنِ اْلإِحْسَانِ, قَالَ أَتَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السَّاعَةِ, قَالَ مَاالْمَسْؤُلُ عَنْهَابِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِىأَمَارَتِهَا. قَالَ أَنْ تَلِدَاْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَالْعُرَاةَالْعَالَةَ. رِعَاءَالشَّاءِِيَتَطَا وَلُوْنَ فِىالْبُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا. ثُُمَّ قَالّ يَا عُمَرُ أَتَدْرِىْ مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ اَللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ. قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رواه مسلم

Dari Umar bin Khaththab ra telah berkata :
“Ketika kami duduk bersama Rasulullah Saw pada suatu hari terlihat oleh kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak nampak padanya tanda-tanda habis pergi jauh dari safar dan tiada seorangpun dari kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi Saw, lalu ia sandarkan lututnya pada lutut Nabi dan ia letakkan tangannya di atas paha Nabi Saw. Dan berkata, “Wahai Muahammad beritahu padaku tentang Islam?“ Rasulullah Saw menjawab, “Islam adalah jika engkau bersyahadat bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau dirikan shalat, engkau tunaikan zakat, engkau shaum di bulan Ramadhan, serta engkau berhaji di Baitullah jika engkau mampu menjalaninya“. Ia berkata, “Engkau benar“. Kami heran ia bertanya dan ia juga yang membenarkannya. Lalu ia bertanya lagi, “Beritahu padaku tentang Iman“. Rasulullah menjawab, “Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari kiamat serta iman kepada qadar yang baik maupun yang buruk“. Ia berkata, “Engkau benar“. Ia bertanya kembali, “Beritahu padaku tentang ihsan“. Rasulullah menjawab, “Ihsan ialah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, namun jika engkau tidak melihat-Nya, maka sungguh Ia melihatmu“. Ia bertanya kembali, “Beritahu padaku (tentang) hari kiamat“. Rasulullah menjawab, “Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu dari penanya sendiri“. Ia berkata, “Beritahu aku akan tanda-tandanya“. Rasulullah menjawab, “(Di antaranya)jika seorang hamba sahaya melahirkan (anak) tuannya, jika engkau melihat orang yang tadinya miskin, papa, berbaju compang-camping sebagai pengembala kambing sudah mampu bermegah-megahan dalam mendirikan bangunan“. Kemudian ia pergi. Aku terdiam sejenak. Kemudian Rasulullah bertanya, “Wahai Umar tahukah engkau siapa yang bertanya tadi ?“ Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. “ Rasulullah menjawab, “Ia adalah Jibril. Datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian tentang dien kalian“
Riwayat Muslim.

Dienul Islam terbentuk dari tiga unsur di atas. Unsur-unsur di atas tidak bisa dihilangkan salah satunya, ketiga-tiganya harus bertemu dan saling terikat.

Dilihat dari ketiga unsur di atas manusia yang telah memilih dienulislam sebagai jalan hidupnya terbagi menjadi tiga.

Islam, Iman, Ihsan berbeda tingkatan. Seseorang bisa saja berislam dengan baik tetapi belum tentu ia memiliki keimanan yang baik. Seseorang yang beriman dengan baik pasti islamnya baik tetapi keihsanannya belum tentu baik, Tetapi apabila baik ihsannya tentu baik keimanannya dan baik juga keislamannya, jadi setiap Muhsin pasti Mu’min dan Muslim, setiap Mu’min pasti Muslim dan belum tentu Muhsin, sedang tidak setiap Muslim itu Mu’min apalagi Muhsin.

*****

Kerangka Bangunan Dienul Islam

Jika Dienul Islam diumpamakan sebagai suatu bangunan, maka ia memiliki beberapa bagian, yang memiliki fungsinya masing-masing.

Tiap bagian tidak boleh tidak ada, hilang atau rusak, agar manfaat bangunan sebagai tempat berlindung dan bernaung dapat dirasakan.

Dan bangunan itu sendiri aman, tidak membahayakan penghuninya.

رَاْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذُرْوَةُسَنَا مِهِ الْجِهَادُ فِىسَبِلِ اللَّهِ

“Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah”
HR Imam Ahmad, Tirmidzi,, Ibnu Majah.

Dasar :

بُنِيَل الإسْلَمُ عَلَى خَمْسٍ, شَهَادَةِأَنْ لاَّإلَهَ إلاَّاللَّه وَأنَّ مُحَمَّدًارَسُولَ اللَّه, وَإقَامِ الصَّلاَةِ وَإتَاءِالزَّكَاةِ وَصَومِ رَمَضَانَ وَحَجِّ البَيْتِ

“Islam dibangun atas lima, syahadat bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain allah dan muhammad adalah utusan allah, dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan shaum ramadhan dan pergi haji”
Dari Umar Ra, hadits Bukhari-Muslim

Sebagaimana sebuah pondasi , maka bagian yang terbawah dari bangunan Islam ini harus mampu menyokong bagaimanapun beratnya bangunan yang berdiri tegak di atasnya.

Awal kebaikan sebuah bangunan bermula dari pembangunan dasarnya, ia akan menentukan kelanjutan dari bangunan yang akan berdiri di atasnya. Percuma memperindah sebuah bangunan apabila bangunan tersebut mudah roboh.

Dasar-dasar Islam sebagaimana yang kita ketahui ada di dalam rukun-Islam. Pelaksanaannya dititik-beratkan kepada kesalehan individu-individu yang kemudian diarahkan untuk membentuk jama’ah atau masyarakat yang akan menyokong bangunan Islam secara keseluruhan.

Pondasi pertama adalah masalah aqidah/ keimanan/ keyakinan, sebagai aplikasi dari syhadatain. Pondasi berikutnya adalah ketaatan dan kedisiplinan dalam pelaksanaan rukun-rukun Islam.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah…”
Al Imran/3:103

Bangunan :
Bangunan Islam adalah terlaksananya Islam di berbagai aspek kehidupan, kehidupan yang sepenuhnya diatur oleh Islam , oleh syariat-syariat yang telah ditetapkan oleh Allah.

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama…”
Asy Syuura/42:13

“Maka demi Tuhanmu, mereka(pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang kereka perselisihkan, kemudian mereka merasa tidak keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
An Nisaa’/4:65

“Katakanlah:”Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…”
Al Maa-idah/5:68
Apabila bangunan Islam di atas telah terbentuk menjelma dalam kehidupan masyarakat, maka sudah pasti manfaat Islam dapat dinikmati, keadilan Islam, kemaslahatan ummat serta kehidupan yang penuh berkah akan benar-benar terwujud, sebagaimana janji Allah;
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan(hukum) Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka…”
Al Maa-idah/5:66

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi…”
Al A’raaf/7:96

Atap :

Bagaiamanpun juga, bangunan memerlukan atap pelindung, yang bermanfaat melindungi penghuni di bawahnya dan juga melindungi bangunan yang ada di bawahnya agar tetap terus memberikan menfaatnya.

a. Da’wah
“Serulah manusia kepada jalan Tuhamu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”
An Nahl/16:125

b. Tolong menolong
“…dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”
Al Maa-idah/5:2

c. Amar ma’ruf nahi munkar
“Dan hendaklah di antara kamu segologan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”
Al Imran/3:104

d. Jihad fii sabilillah
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah…”
Al Baqarah/2:193

e. Infaq
“Belanjakanlah hartamu di jalan Allah , dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan”
Al Baqarah/2:195

دِيْنٌ لاَصَدَقَةَ فِيْهِ وَلاَ جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ ؟

“Agama tanpa infaq di dalamnya dan juga jihad, lalu dengan apa kamu masuk jannah?”
Sabda Rasulullah ketika menolak baiat seseorang yang mau Islam tanpa shadaqah dan jihad…
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an…”
At Taubah/9:111
بُعِثْتُ بِاالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِّ السَّاعَةِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَجَعَلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِيْ، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَ الصِّغَارَ عَلَ مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ

“Aku diutus dengan pedang menjelang datangnya kiamat sehingga hanyalah Allah saja yang disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah menjadikan rezkiku di bawah naungan tombakku, dan kerendahan dan kehinaan ditimpakan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahku”
HR Ahmad

*****
Karakteristik Dienul Islam

A. Rabbaniyah / Ketuhanan

1. Buatan/murni dari Allah SWT
Rabbaniyah karena Islam adalah dien ciptaan Allah dan bukan produk manusia. Manusia sama sekali tidak mempunyai peran di dalam pembuatannya.

“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang”
An Nisaa’/4:174

”…orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya…”
Al An’am/6:114

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya…”
Al A’raaf/7:3

“Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yagn telah ditetapkan, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. Atau(patutkah) mereka mengatakan:”Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah:”(Kalau benar yang kamu katakan itu) coba datangkan sebuah surat seumpamanya, dan panggillah siapa saja yang dapat engkau panggil(Untuk membuatnya) selain Allah jika engkau termasuk orang yang benar.”
Yunus/10:37~38

2. Tujuan akhir adalah untuk menyembah Allah dan mengharap keridhaan-Nya
“..dan bahwasanya kepada Rabbmu kesudahan segala sesuatu…”
An Najm/53.42

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan, (akan) mendapat syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di syurga ‘And. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”
At Taubah/9.72

3. Rabbaniyah karena mengambil Al Qur’an / wahyu Allah sebagai sumber hukum dan dasar-dasar amal

“Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikamah dan kenabian, lalu ia berkata:”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata):”Hendaknya kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Alkitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
Al Imran/3:79

4. Rabbaniyyah karena menuntut hubungan langsung antara Allah dan hamba-Nya tanpa melalui perantara.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi(segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran”
Al Baqarah/2:186

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Al Maaidah/5:35

“…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya…”
Az Zumar/39:3

“Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri(kepada Allah) tidak dapat menolong mereka…”
Al Ahqaaf/46:28

5. Rabbaniyyah karena dien ini dijaga oleh Allah dan terjamin kebenarannya

“…dan sesungguhnya Al Qur’an itu kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya(Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya…”
Fushshilat/41: 41~42

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Al Hijr/15:9

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab(Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.”
Al Kahfi/18:1

“Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang semisal dengan Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”
Al Baqarah/2:23

Selain dienul Islam, dien yang lain tidak mungkin Rabbaniyah, mereka terbagi menjadi 3:
a. Aliran filosofi
Aliran ini merupakan dien yang murni buatan manusia, buah pikiran manusia berupa budaya-budaya dan firqah-firqah. Diantaranya adalah liberalisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme, dsb.
b. Agama manusia
Sebagai contoh adalah agama Budha dan Hindu.
c. Agama samawi yang menyimpang
Semisal agama Nasrani. Begitu banyak penyimpangan yang dijumpai di dalamnya, sampai-sampai isi dari kitabnya saja saling bertentangan.

B. Insaniyah / Kemanusiaan

1. Islam adalah agama manusia.

Islam mengajak manusia kembali kepada fitrahnya, yaitu keinginannya untuk mengenal, beriman, dan berhubungan dengan Allah, Khaliqnya.
Mengetahui dan berhubungan dengan Penciptanya inilah satu-satunya kebaikan terbesar yang harus diperoleh setiap manusia. Dengan begitu ia akan mengetahui asal mula kejadiannya, tempat kembalinya dan rahasia keberadaannya hidup di dunia ini.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama(Allah), (tetaplah atas)fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Ar Ruum/30:30

2. Syariat Dienul Islam menjaga kemuliaan manusia, membedakan manusia dengan makhluk yang lain dan menjaga kemaslahatan bagi kehidupan manusia.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”
At Tiin/95:4~6

3. Beban-beban yang diberikan Allah di dalam Dienul Islam kepada manusia sesuai dengan kadar kesanggupan manusia untuk mengerjakannya.

“Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu…”
Al Baqarah/2:185

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
Al Baqarah/2:286

C. Syamil / Universal / sempurna dan lengkap

Islam adalah dien syamilun kamilun dan mutakaamilun / sempurna lengkap dan melengkapi, menjangkau seluruh unsur kehidupan dan tidak ada yang terlewatkan, maka tidak memerlukan tambahan, pengurangan atau koreksi lagi.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu….”
Al Maaidah/5:3

“…dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab(Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
An Nahl/16:89

“…diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang haq dan yang batil)…”
Al Baqarah/2:185

1. Syumul sasaran
a. Meliputi segala zaman dan generasinya, masa lampau dan masa yang akan datang

b. Mencakup seluruh alam, wilayah atau daerah

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu(Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”
Al Anbiyaa’/21:107

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan(Al Qur’an) kepada seluruh alam”
Al Furqaan/25:1

c. Untuk semua bangsa dan semua status sosial tanpa membeda-bedakan
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”
Al Hujaraat/49:13

2. Syari’at yang syumul bagi manusia sebagai makhluk yang sempurna
a. Aspek jasadiyah dan ruhiyah
b. Aspek individu dan kolektif

3. Penghambaan yang sempurna bagi Allah

“Padahal mereka tidak disuruh melainkan supaya meyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan dien dengan lurus…”

Al Bayyinah/98:5

a. Pengaturan yang menyeluruh pada semua fase kehidupan manusia
Dari kandungan, lahir, kanak-kanak, dewasa, tua, mati, semuanya tidak berlalu begitu saja kecuali syari’at Islam mengatur kemaslahatannya

b. Segala aspek kehidupan ini adalah untuk beribadah kepada Allah

“Katakanlah:”Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rabb sekalian alam”
Al An’am/6:162

c. Semua yang telah disyari’atkan Allah harus diterima seutuhnya

“Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara keimanan kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan:”Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian yang lain” serta bermaksud(dengan perkataan itu mengambil jalan tengah) di antara yang demikian itu(iman atau kafir), merekalah orang-orang kafir sebenar-benarnya”
An Nisaa’/4:150~151

D. Tawazun / Moderat

1. Fenomena alam yang diciptakan Allah adalah keseimbangan, proporsional, dan adil.

“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang”
Al Mulk/67:3

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”
Al Qamar/54:49

Juga termasuk dari ciptaan Allah adalah Dienulislam ini, ia adalah salah satu bentuk keadilan dan kesimbangan Allah yang ditetapkan untuk manusia.

2. Membentuk dan mengatur manusia sesuai dan seimbang dengan tempat tinggalnya (bumi) dan menjamin kemaslahatannya

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca keadilan, supaya manusia dapat melaksanakan keadilan…”
Al Hadiid/57:25

Allah menciptakan alam ini sedemikian seimbang bagi penunjang kehidupan manusia, maka Allah juga memberikan aturan-aturan bagi manusia agar tetap berada dalam keseimbangan-keseimbangan itu.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali(ke jalan yang benar)”
Ar Ruum/30:41

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca(keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.”
Ar Rahmaan/55:5~8

Dienul Islam tawazun dalam memandang dan membebani manusia dalam berbagai aspeknya:

a. Sebagai manusia yang terdiri dari 2 unsur, tanah dan roh
b. Antara akal dan wahyu, antara yang nyata dan yang ghaib
c. Antara kehidupan individu dan kolektif
d. Dalam memandang dunia dan akhirat
e. Dalam sistem hukum / tasyri’

“Dan demikian(pula) Kami telah menjadikan kamu(ummat Islam), ummat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul(Muhammad) menjadi saksi(perbuatan)mu”
Al Baqarah/2:143

E. Waqi’iyyah / Kontekstual

1. Pengakuan Islam atas realitas yang terjadi di alam / hal-hal yang faktual. Terbukti dengan banyaknya informasi tentang alam , kejadian-kejadian yang telah maupun yang akan terjadi yang diberikan Allah kepada manusia.

2. Jangkauannya yang melebihi umur dunia memastikan bahwa aturan-aturan di dalam Dienul Islam akan selalu kontekstual dan tidak temporer.

“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia”
Al Lail/92:12~13

3. Perhatian Islam atas realitas yang di alami manusia
a. Memudahkan dan menghilangkan kesulitan

“…kebolehan mengawini budak itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri dari perbuatan zina..”
An Nisaa’/4:25

b. Memperhatikan tahapan (pensyari’atan yang bertahap)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”
An Nisaa’/4:43

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah:”Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…”
Al Baqarah/2:219

“Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antaramu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”
Al Maaidah/5:91

c. Turun dari nilai idealita yang tinggi menuju realitas yang lebih rendah (dalam kondisi darurat)

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberikan nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”
Ath Thalaq/65:7

F. Wudhuh / Jelas

Dienul Islam adalah dien yang jelas karena Dienul Islam adala dien yang berdasarkan ilmu, rasional dan masuk di akal manusia, bukan doktrin yang dipaksa-paksakan untuk diterima.

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”
Al Baqarah/2:256

1. Jelas di dalam masalah-masalah ushul / pokok
a. Aqidah
b. Jaza’ ukhrawi
c. Risalah para rasul
d. Syi’ar-syi’ar ibadah
e. Adab dan akhlak
f. Syariat Islam

2. Kejelasan manhaj dan penyelesaiannya

“Padahal mereka tidak diperintah, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”
Al Bayyinah/98:5

“Apabila kamu berselisih (berlainan pendapat) tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya(sunnahnya), apabila kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir”
An Nisaa/4 :59

3. Kejelasan sumber hukum

“ …ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan dengan rinci yang diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu“
Huud/11:1

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu(Muhammad) menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan“
An Nahl/16:44

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak dzikrullah“
Al Ahzab/33:21

4. Kejelasan sasaran dan tujuan

“(Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya yang terang benderang dengan izin Tuhan mereka, menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”
Ibrahim/14:1

“Wahai Rabb kami anugrahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkanlah kami dari siksa neraka”
Al Baqarah/2:201

G. Tsabat /Konsistensi dan Tathawur / Transformasi

Islam adalah dien yang teguh ajaran-ajarannya / konsisten dan terjaga sebagaimana janji Allah.

“…dan sesungguhnya Al Qur’an itu kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakang“
Fushshilat/41:41~42

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya“
Al Hijr/15 :9

Dan ia juga memiliki fleksibilitas, sesuai dengan karakteristik sebelumnya, universalitasnya dan insaniyyahnya yang senantiasa memperhatikan kondisi dan keadaan manusia di berbagai tempat dan masa.

“ …dan Dia tidak menjadikan untuk kamu di dalam agama suatu kesempitan…”
Al Hajj/22:78

Di dalam Islam ada bagian-bagian yang tetap, mutlak, tidak menerima perubahan serta ada bagian yang lain yang tidak tetap, bisa menerima perubahan dan pengembangan.

Tsawabit :
Adalah bagian-bagian Islam yang tetap, permanen, tidak dapat menerima perubahan, tambahan-tambanan atau ijtihad yang baru.

Tsawabit terdiri dari tiga hal :

a. Masalah-masalah aqa’id
Yaitu masalah-masalah keimanan / aqidah, seperti; sifat-sifat Allah, malaikat, jin, alam kubur, kiamat, syurga dan neraka, dan masalah-masalah ghaib yang lain. Semuanya tidak memerlukan ijtihad atau pemikiran-pemikiran yang baru walaupun beralasan tuntutan keadaan. Ilmu yang baru tentang hal ini hanya bisa dicapai oleh wahyu dan sekarang wahyu telah terputus. Jadi manusia hanya bisa menerima apa adanya menurut khabar yang diberitakan Allah melalui rasul-Nya.

“Katakanlah:”Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak(pula) aku mengetahui yang ghaib, dan tidak(pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku…”
Al An’am/6:50

b. Masalah-masalah ibadah
Tidak ada hal yang baru dalam hal shalat, haji, zakat dan ibadah ritual yang lainnya, semuanya sama sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Perbedaan-perbedaan yang ada, adalah dalam rangka mencari yang lebih sesuai dengan cara-cara Rasulullah.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاًلَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنَا فَهُوَرَدٌ
Dari Aisyah Ra : “Berkata Rasulullah SAW: ”Barang siapa beramal tanpa dasar dari kami, maka tertolaklah amalan tersebut.”
HR. Bukhari

c. Masalah-masalah akhlak
Seperti ihsan, sabar, berani, penyayang, qana’ah dan sebagainya, dalam hal ini telah jelas timbangan-timbangan kebaikan yang telah ditetapkan Allah, jika manusia mencari hal yang baru, maka akan terjadi devaluasi/penyusutan tolak ukurnya, sehingga kebenaran dikatakan kebathilan dan sebaliknya, kebathilan dikatakan sebagai kebenaran.

Mutaghayyirat :

Adalah masalah yang tidak tetap, fleksibel, membutuhkan ijtihad sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan keadaan, ia adalah bidang muammalah. Tetapi tentunya tetap dalam bingkai-bingkai aturan yang ada.

Sedangkan bingkai yang telah ditetapkan di dalam dien ini sangatlah luas, memungkinkan manusia berijtihad di dalamnya sebebas-bebasnya.

Ruang ijtihad yang luas ini adalah rahmat dari Allah SWT kepada manusia, bukan karena Allah lalai menetapkan aturannya, ia merupakan sifat insaniyah di dalam dien ini yang membebaskan manusia untuk mengembangkan diri menggunakan akalnya secara terkendali.

اِ نْ كَانَ شَيْـأً مِنْ اُمُرِدُنْيَاكُمْ فَشَاْنَكُمْ بِهِ وَاِنْ كَنَ مِنْ اُمُرِدِيْنِكُمْ فَاءِلَيَّ

“Jika ada padamu sesuatu urusan dunia maka kalian lebih mengetahui atasnya dan jika kalian menginginkan urusan dien kalian, maka atasku”
HR Ibnu Majah

*****

Pokok-pokok Dienul Islam

A. Hanya Islam dien yang diterima dan diridhai Allah

”Sesungguhnya dien (yang diridhai) Allah hanyalah Islam”
Al Imran /3.19

”Barang siapa yang mencari dien selain dienul Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima(dien itu) daripadanya, dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”
Al Imran/3.85

”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu… ”
Al Maaidah/5.3

B. Allah standar kebenaran dan pembuat hukum

1. Satu-satunya hukum yang baik, benar dan adil adalah dari Allah saja

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang bisa merubah kalimat-kalimat-Nya…”
Al An’am/6:115

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik”
Al An‘am/6:57

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab(Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci?…”
Al An’am/6:114

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum)Allah bagi orang yang yakin?”
Al Maa-idah/5:50

2. Pegangan yang kokoh tanpa ada kebimbangan atau ragu-ragu

“Katakanlah:“Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak(pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan(apakah) kita akan dikembalikan ke belakang sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syetan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus(dengan mengatakan):“Marilah ikuti kami”. Katakanlah:“Sesungguhnya petunjuk Allah itulah(yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam”
Al An’am/6:71

“Dan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”
Luqman/31:22

3. Tunduk apa yang di langit dan bumi suka maupun tidak suka kepada perintah Allah

“Maka apakah mereka akan mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.”
Al Imran/3:83

“Hanya kepada Allah-lah sujud(patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayang di waktu pagi dan petang hari.”
Ar Ra’d/13:15

C. Totalitas Islam

1. Menjadikan Islam sebagai nafas kehidupan

“Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu baginya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri(kepada Allah).”
Al An’am/6:162~163

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”
Al Imran/3:102

2. Ketundukan total akan ayat-ayat Allah (kauniyah dan syariat)

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya,…”
Al Baqarah/2:208

“Maka demi Tuhanmu, mereka(pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang kereka perselisihkan, kemudian mereka merasa tidak keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
An Nisaa’/4:65

3. Semua peribadahan hanya untuk Allah

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga mereka mempertuhankan Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
At Taubah/9.31

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thaghut itu, dan syetan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.”
An Nisaa’/4.60

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah…”
Al Baqarah/2:193

4. Menerima seluruh ketetapan Allah tanpa pilih-pilih

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara keimanan kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan: “Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir terhadap sebagian(yang lain), serta bermaksud mengambil jalan tengah di antara yang demikian(iman atau kafir). mereka itulah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya…”
An Nisaa’/4.150-151

5. Ikhlas dan benar

“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”
Al Kahfi/18:110

“Padahal mereka tidak disuruh melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus,…”
Al Bayyinah/98:5

*****

Salafushsholeh, generasi Islam terbaik, acuan ber”Islam” yang benar

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama(masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
At Taubah/9:100

“(Juga)bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena)mencari karunia dari Allah dan keridhan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar”
Al Hasyr/59:8

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman(Anshar) sebelum (kedatangan)mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka(orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan(orang-orang Anshar) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Al Hasyr/59:9

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka(Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a:”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”
Al Hasyr/59.10

A. Para shahabat adalah sebaik-baik generasi Islam

Dari Imran bin Husain, Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى , ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ , ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku ini(shahabat), kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka…”
Shahih Bukhari dan Muslim

B. Alasan meniru mereka

1. Perintah Allah dan Rsul-Nya untuk meniru mereka

“Apabila dikatakan kepada mereka:”Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman” mereka menjawab:”Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.”
Al Baqarah/2:13

“Dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”
An Nisaa’/4:115

عَلَيْكُمْ بِسُنَّيِيْ وَسُنَّةِالْخُلَفَاءَالرَّشِدِيْنَ الْهَدِيِّنَ مِنْ بَعْدِي, تَمَسَّكُوْابِهَاوَعَضُّوْ عَلَيْهَا بِا النَّوَاجِذِ
“Hendaknya kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaarrasyidin yang telah diberi petunjuk, pegang erat-erat dan gigitlah dengan gerahammu”
As Sunan, Shahih At Tirmidzi, dari Irbadh bin Sariyah
2. Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama mereka

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
At Taubah/9:100

Bahkan secara khusus Allah memberikan kabar gembira berupa jaminan masuk syurga bagi beberapa orang di antara mereka.

3. Mereka adalah orang-orang yang telah dianugrahi sebenar-benarnya nikmat oleh Allah SWT

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu)jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka”
Al Fatihah/1:5~6

Orang -orang yang telah diberi nikmat adalah:

“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang telah dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui”
An Nisaa’/4:69~70

4. Mereka adalah generasi terbaik pemahamannya dalam Islam
-Paham nash dan bahasa
-paham asbabunnuzul dan wurud
-paham tujuan-tujuan syariat

5. Mereka adalah generasi Qur’ani

“Dan Kami turunkan (Al Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan membawa kebenaran). Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Al Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. Katakanlah:”Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata:”Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu”
Al Israa’/17:105~109

6. Mereka adalah generasi yang dipilih untuk menemani Rasulullah

7. Keberhasilan, kebaikan dan kemuliaan generasi mereka di dunia telah terbukti dan tidak akan pernah ada generasi lain yang sanggup menyamai mereka secara keseluruhan.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholeh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka…”
An Nuur/24:55

8. Konsekuen

Tidak ada amalan yang tertinggal yang tidak dikerjakan(amal ibadah mereka maksimal), mereka adalah abid, ‘alim dan mereka adalah mujahid

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa(logam ) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada(pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”
Ar Ra’d/13:17

C. Sikap kepada para Sabiqunal Awwalun

1. Larangan mencela kepada mereka

لاَتَسُبُّوْ أَصْحَابِي فَلَوْ أَنْ أَحَدُكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَ بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَنَصِيْفَهُ

“Janganlah kamu mencaci maki shahabatku, kalau sekiranya salah seorang dari kamu berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan mencapai derajat mereka satu mudpun atau setengahnya sekalipun”
Shahih Bukhari Muslim

2. Larangan membodohkan mereka atau dianggap sebagai orang munafiq

“Apabila dikatakan kepada mereka:”Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman” mereka menjawab:”Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:”Kami beriman” Dan bila mereka kembali kepada syethan-syethan mereka, mereka mengatakan:”Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanya berolok-olok”
Al Baqarah/2:13

3. Dilarang membenci mereka

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka,…”
Al Fath/48:29

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka(Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a:”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”
Al Hasyr/59.10

*****

Daftar Pustaka
1.Al Qur’an dan terjemahnya, Khadim al-Haramain asy-Syarifain, 1971
2.1100 Hadits Terpilih Sinar Ajaran Muhammad, Dr. Muhammad Faiz Almath, Gema Insani Press, cet. 17, Mei 2001
3.Buah Ilmu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Azzam, cet. 2, November 1999
4.Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Al Kautsar, cet. 1, Juni 1998
5.Minhajul Qasidin, Jalan orang-orang yang mendapat petunjuk, Ibnu Qudamah, Pustaka Al Kautsar, cet. 3, Februari 1999
6.Koreksi atas Pemahaman Ibadah, Muhammad Quthb, Pustaka Al Kautsar, cet. 7, 1987, Juli 1997
7.Al Iman, Abdul Majid al-Zandany dkk, Darul Qalam Damaskus 1984
8.Terjemahan Syarhu Tsalatsatil Ushul. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Darul Haq Jakarta 1998
9.Makrifatur Rasul, Dr Irwan Prayitno, Pustaka Tarbiatuna, 2002
10.Karakteristik Islam, Kajian Analitik, Dr Yusuf Qardhawi, Risalah Gusti, cet 5, 2000
11.Dasar-dasar Islam, Abul A’la Maududi, Penerbit Pustaka Perpustakaan Salman ITB, cet 1, 1984
12.Makrifatul Islam, Dr Irwan Prayitno, Pustaka Tarbiatuna, cet 1, 2002
13.Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Dasar-Dasar Aqidah menurut Ulama’ Salaf, 1&2, Abdul Akhir Hammad Alghunaimi, At Tibyan, Solo, cet. 3, Januari 2001

di nukil dari Diarysangteroris


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: