Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Perbedaan Pokok Antara Jihad Offensif dan Devensif

Perbedaan Pokok Antara Jihad Offensif dan Devensif


Jihad Offensif Jihad Defensif
Definisi Memerangi orang-orang kafir – bukan orang kafir yang terikat perjanjian dengan orang muslim – di negri mereka supaya berhukum kepada syariat islam – apakah mau masuk islam atau mau memberikan jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk Memerangi musuh serta mengusirnya dari negeri islam jika mereka sampai masuk atau dikhawatirkan berani masuk
Hukum Fardlu kifayah – bagi pemimpin negara – jika dikerjakan oleh sebagian orang muslim, maka gugur kewajiban muslim yang lain. Ada yang berkata sebagian ulama hukum fardlu ‘ain Fardlu ‘ain sesuai kesepakatan para ulama. Sampai musuh keluar dari negeri kaum muslimin atau terusir
Waktu Disunnahkan sekali atau lebih dalam setahun Apabila musuh masuk masuk ke negeri islam atau dikhawatirkan sampai memasukinya
Hukum pelaku Pahala baginya serta ganjaran yang agung jika mengikhlaskan niat dan mengikuti petunjuk Rasul saw Pahala baginya serta ganjaran yang agung jika mengikhlaskan niat dan mengikuti petunjuk Rasul saw
Hukum orang yang meninggalkan Tidak disanksi karena meninggalkannya jika telah dilaksanakan fardlu kifayah oleh yang lain. Kecuali orang yang belum pernah berperang atau tidak berkeinginan untuk perang, maka matinya berada di atas cabang kemunafikan. Sedang orang yang ada dalam barisan perang, maka tidak boleh melarikan diri, kecuali lari untuk mengatur siasat atau untuk bergabung dengan pasukan lain Berdosa dengan dosa terbesar disebabkan ia juga meninggalkan negeri, para wanita serta meninggalkan kemarahan kaum muslimin sehingga dirampas oleh kaum kafir.
Hukum tempat yang jauh dari medan perang (jaraknya lebih jauh dari ukuran solat qosor) Jihad hakekatnya adalah fardlu kifayah, melaksanakannya berpahala atau setatusnya mustahab. Maka kalau kaum muslimin membutuhkannya, sedang dia mampu untuk datang kepada mereka, maka berubahlah menjadi fardlu ‘ain Jika orang-orang yang berperang tidak mampu, maka hukum berjihad bagi yang bertempat tinggal jauh menjadi fardlu ‘ain. Dari yang terdekat sampai kewajiban itu menyuluruh di dunia sampai kaum kafir hengkang dari tanah air islam dan mereka terusir.
Dakwah kepada islam Musuh diajak kepada islam jika dakwah belum sampai sebelumnya. Tapi jika telah sampai dakwah dianjurkan ( bukan wajib ) untuk didakwahi. Diberi pilihan antara masuk islam, mebayar pajak atau diperangi. Dalam tempo tiga hari. Musuh tidak perlu didakwahi lebih dulu, bahkan langsung diperangi tanpa didakwahi karena mereka yang menyerang
Apakah perlu mundur? Perlu, jika musuh lebih berlipat banyaknya, maka boleh mundur Tidak boleh. Kalau para pejuang laki-laki lari, maka musuh dengan mudah menjangkau para wanita serta anak-anak kaum muslim. Maka wajib memerangi orang kafir dalam kondisi apapun
Apakah boleh menarik mundur pasukan? Dibolehkan mundur ke kelompok lain atau untk menipu sesuai kemaslahatan Boleh dalm keadaan terjepit. Dan tidak boleh jika mush dengan mudah mengambil anak-anak perempuan-perempuan islam
Apakah boleh melarikan diri? Boleh jika musuh lebih banyak jumlahnya. Tidak boleh jikatak ada alasan syar’i. sedangkan melarikan diri termasuk salah satu dari tujuh dosa besar Tidak boleh. Bahkan wajib berperang sampai negeri islam aman dan musuh terusir dari para pempuan dan anak-anak islam
Syarat-syaratnya Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, selamat dari bahaya atau selamat dari tanggungan nafkah Ibnu Taimiyah berkata,”Musuh yang menembus sampai merusak addin dan dunia tidak mengapa, bahkan lebih wajib memeranginya setelah urutan iman. Maka tidak persyaratan satupun, bahkan melawan semampunya
Status jihadnya perempuan Ada  yang  mengatakan haram. Ada juga yang mengatakan boleh dengan beberapa syarat : tidak berrlagak laki-laki dan tidak dikawatirkan dari tertawan dan syarat yang lainnya. Yang pasti bukan suatu kewajiban Boleh bersama dengan mahramnya dalam ukuran lebih jauh dari jarak solat qosor. Kadang juga mnjadi wajib jika sangat dibutuhkan dan laki-laki saja tidak cukup. Juga tidak perlu wanita berjihad izin suaminya jika dalam statusnya wajib sepanjang tidak mencapai ukuran solat qosor, jika dia mampu berperang
Izin kedua orang tua Wajib, kecuali keduanya bukan orang muslim. Ini perlu perincian Tidak perlu, jika tidak sampai dikhawatirkan terjadi suatu kebinasaan salah satunya atau keduanya
Izin pemimpin pemerintah Dianjurkan. Dimakruhkan berperang tanpa izinnya, tapi tidak sampai diharamkan Tidak perlu. Kadang muncul sifat kemunafikan. Lihat ayat 44-45 surat At Taubah
Izin penghutang Wajib, berdasar perbedaan pendapat. Dan ini ada perinciannya Tidak perlu
Izin sorang alim atau syekh Tidak perlu Tidak perlu
Izin suami Termasuk syarat Tidak disyaratkan selama belum mencapai ukuran sholat qossor
Izin istri Tidak perlu Tidak Perlu

Husain bin Mahmud


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: