Thoriqul Huda, Al Jihad Sabiluna

Beranda » artikel » Manshur Asy-Syamy: Raya Kita Adalah Benar-Benar Raya

Manshur Asy-Syamy: Raya Kita Adalah Benar-Benar Raya


Segala puji bagi Allah, kami memuji, memohon ampun, dan meminta petunjuk kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka ia akan mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka takkan dapat engkau temui seorang wali pun baginya. Aku bersaksi tiada ilah melainkan Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(An-Nisa’ 4:1)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab 33:70-71)
Amma ba’du:

Hari ini adalah bagian dari hari-hari yang agung dan penuh berkah. Pada hari-hari itu kaum muslimin bergembira dan orang-orang mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam bentuk ibadah. Hari itu adalah hari makan dan minum dan hari berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan diantara ibadah yang paling agung di hari yang penuh berkah ini adalah ibadah menyembelih kurban untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah inilah yang mengingatkan kita dengan kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang Allah perintahkan untuk menyembelih putranya dan penyejuk matanya, Ismail ‘alaihissalam. Maka ia pun bergegas menjalankan perintah Allah ta’ala untuk menyembelih putranya, maka Allah menggantinya dengan sembelihan yang Agung.

Ibrahim bergegas menjalankan perintah Allah ta’ala karena hatinya telah dipenuhi dengan rasa cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tak secuil ruang pun dari hatinya yang tersisa kecuali terpenuhi dengan kecintaan kepada Allah ta’ala. Ini -bergegasnya Ibrahim untuk menyembelih anaknya- adalah bukti dan tanda yang jelas atas jujurnya cinta Ibrahim kepada Allah ta’ala. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Ibrahim ‘alaihissalam sebagai teman-Nya. Diantara neraca yang paling agung untuk mengetahui rasa cinta seorang hamba kepada Robbnya -yang dengannya diketahui cinta seorang yang jujur dari cinta seorang pendusta- adalah dengan adanya ibadah jihad. Ibadah jihad inilah yang menuntut seorang hamba untuk berpisah dari orang-orang  tercinta demi kecintaan kepada Allah ta’ala, dan mengedepankan kecintaan kepada Allah ta’ala atas seluruh orang yang  dicintainya. Maka ia pun meninggalkan keluarga, negeri, harta, handai taulan, dan ia akan mengorbankan jiwanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Maka siapa saja yang menjalankan ibadah yang penuh berkah ini -ibadah jihad-, maka ia akan menjadi bukti atas kejujuran cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan siapa saja yang enggan dan tidak menjalankan ibadah jihad ini, maka ia merupakan pertanda dan bukti akan kedustaan pengakuannya. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat At-Taubah:

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah 9:24)

Wahai hamba Allah..
Sesungguhnya hari ini adalah hari kegembiraan dan kesenangan bagi kaum muslimin di setiap tempat. Dan kebanyakan orang menyangka bahwasanya Mujahidin tidak bergembira di hari seperti hari ini. Dan kebanyakan orang menyangka bahwasanya Mujahidin tidak bisa senang dan gembira dan tidak mempunyai makanan untuk beraya. Mereka  menyangka bahwa Mujahidin selalu dalam kondisi risau dan sedih dan menghadapi berbagai musibah dan kesulitan. Sekali-kali tidak demi Allah! Sesungguhnya Mujahidin hidup dalam kegembiraan, sekiranya para raja tahu akan kondisi tersebut niscaya mereka akan menebasnya dengan pedang. Dan sekiranya ada seorang yang benar-benar merasakan indahnya raya di zaman ini, maka mereka itu adalah Mujahidin. Sebenarnya raya ini adalah raya mereka, Mujahidin.

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara Allah ta’ala telah menyiapkan bagi Mujahidin dengan dua nikmat yang agung; nikmat jihad dan nikmat hijroh? Dengan nikmat hijroh Mujahidin dapat menjaga dien mereka dan dengan nikmat jihad Mujahidin mampu menjaga dien umat ini.

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara mereka berdiri di atas puncak islam?

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara Allah ta’ala telah menyiapkan bagi Mujahidin seratus derajat yang jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya layaknya jarak antara langit dan bumi? Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara orang-orang yang kakinya berdebu di jalan Allah maka Allah haramkan dia untuk masuk neraka?

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara Allah ta’ala telah menjamin untuk memberi mereka hidayah,

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami maka sungguh akan kami beri dia petunjuk jalan kami. Dan Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (Al-‘Ankabut 29:69)?!

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara Allah telah menjamin bagi siap saja yang keluar di jalan-Nya, dia tidak keluar melainkan kerana keimanan dan pengakuannya dengan kalimat-Nya, bahwa Allah akan memasukkannya ke surga atau mengembalikannya ke tempat tinggalnya dengan membawa pahala atau ghonimah?!

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara permisalan seorang Mujahid fie sabilillah bagaikan seorang yang berpuasa sholat melafalkan ayat-ayat Allah yang tidak terputus puasanya sholatnya hingga sang Mujahid fie sabilillah kembali pulang?!

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara Allah ta’ala telah menjanjikan bagi orang yang terbunuh dalam jihad dengan sabar mengharapkan pahala yang maju tiada berpaling ke belakang, Allah janjikan ia dengan tujuh ganjaran: dosanya diampuni saat darah pertamanya menetes, diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, dihindarkan dari siksa kubur, diselamatkan dari kegoncangan yang besar, dihiasi dengan perhiasan keimanan, dipasangkan di kepalanya mahkota yang terbuat dari yaqut yang lebih baik dari dunia dan seisinya, dikawinkan dengan tujuh puluh dua bidadari, diberi syafa’at baginya untuk kerabatnya?!

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara mereka dengan jihad mereka menjauhkan dari siksa yang pedih,

“Jika kalian tidak berangkat berjihad niscaya Allah akan mengadzab kalian dengan adzab yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum selain kalian dan kalian takkan mampu mengganggunya sama sekali. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah 9:39)?!

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara mereka adalah orang-orang yang Allah ta’ala muliakan dengan menjalakan ibadah yang agung ini, ibadah yang dapat membedakan antara orang munafik dan orang beriman?!

Rosulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang belum pernah berperang dan belum pernah terdetik untuk berperang (lalu mati), maka ia mati di atas cabang kemunafikan”.

Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka sementara mereka adalah orang-orang yang Allah ta’ala muliakan, mereka mulia dengan membela Islam dan kaum muslimin. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menegakkan syariat Allah. Mereka adalah orang-orang yang berpacu dalam membebaskan saudara-saudara mereka yang tertawan, baik laki-laki maupun perempuan, dan membebaskan orang-orang yang terzhalimi dan orang-orang yang meminta bantuan. Bagaimana mungkin raya itu bukan raya mereka?!

Maka raya yang sebenarnya adalah rayanya Mujahidin yang melepaskan diri dari debu-debu kehinaan dari diri mereka. Bahkan sebenarnya hari-hari Mujahidin adalah seluruhnya hari-hari raya. Seluruh kehidupan mereka adalah raya. Bahkan kematian mereka adalah raya. Di hari mereka akan bertemu dengan Robb mereka, di hari mereka akan bertemu dengan ikhwan-ikhwan mereka yang telah mendahului. Di hari itulah mereka akan bertemu dengan apa yang telah Allah janjikan kepada mereka; surga yang tiada mata pernah melihatnya, tiada telinga pernah mendengarnya, dan tiada hati yang pernah terbersit tentangnya!

Dengan semua hal itu maka Mujahidin adalah orang-orang yang paling tawadhu’. Dengan demikian Mujahidin adalah orang yang paling mengasihi umat ini. Mereka adalah orang yang paling mengasihi kepada seorang anak dibanding ibunya. Tidakkah kalian lihat bahwa mereka, Mujahidin, meninggalkan keluarga, tanah air, harta, dan handai taulan demi umat dan dien ini? Tidakkan kalian lihat bahwa mereka, Mujahidin, menyalami pedang dengan leher-leher mereka dan tubuh mereka terpotong-potong di bawah bombardir demi menyenangkan umat ini dengan buah dan hasilnya setelah perjuangan mereka?

Tidakkah kalian lihat bahwasanya ada sekelompok dari umat ini lalai untuk menolong mereka,  bahkan diantara mereka dengan sengaja merendahkan Mujahidin dan menentang mereka, sementara itu mereka, Mujahidin, layaknya pohon kurma yang dilempari dengan batu oleh orang-orang yang menginginkannya maka ia pun memberi mereka buahnya seraya berkata:

“Sesunguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak menginginkan balasan maupun ucapan terima kasih dari kalian. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Robb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.”(Al-Insan 76:9-10)

Mujahidin adalah orang yang paling merdeka, mereka terlepas dari ikatan syahwat dan hawa nafsu mereka, bahkan mereka mengedepankan kecintaan Allah ta’ala atas kecintaan kepada seluruh orang-orang yang tercinta. Mereka adalah orang yang menghambakan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, tidak menghambakan diri kepada syahwat dan hawa nafsu. Mereka adalah orang-orang yang mengesakan Allah ta’ala dengan sebenar-benarnya. Mujahidin adalah orang-orang yang paling mulia yang berdiri di atas puncak Islam. Allah subhanahu wa ta’ala menyertai mereka dan barangsiapa yang disertai Allah ta’ala maka ia takkan bersedih,

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (At-Taubah 9:40)

Dan barangsiapa yang Allah bersamanya maka siapa lagi yang akan ia takuti? Dan barangsiapa Allah ta’ala bersamanya maka siapa lagi yang ingin dia harapkan? Mujahidin adalah orang yang paling lapang dadanya dan paling luas buminya. Seluruh bumi adalah milik mereka. Mereka tidak mengikat diri mereka dengan suatu tali pengekang/pembatas, tidak pula negeri, tidak pula dengan peta topografi yang dibuat oleh orang-orang kafir untuk mencincang jasad  kaum muslimin. Maka bergembiralah bagi setiap orang yang Allah ta’ala jadikan diantara orang-orang yang berjihad.

Dengan demikian Mujahidin harus bersyukur kepada Allah ta’ala siang malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan atas nikmat yang begitu agung ini, nikmat yang diharamkan bagi kebanyakan manusia. Maka kewajiban bagi Mujahidin untuk bersyukur kepada Allah ta’ala sampai Allah ta’ala menambahkan nikmat kepada mereka dan sampai Allah ta’ala meneguhkan mereka dan sampai Allah ta’ala menunjuki mereka dan sampai Allah ta’ala menolong mereka atas orang-orang kafir,

“Dan ingatlah tatkala Robbmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu..'” (Ibrohim 14:7)

“Dan jikalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (An-Nisa’ 4:66)

Dan kini ingin aku sampaikan kabar gembira kepada umat Islam yang penuh berkah dan kemuliaan bahwa Mujahidin yang sabar, yang teguh dan bertawakal kepada Robb mereka,

“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami.” (Ibrohim 14:12)

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami maka sungguh akan kami beri dia petunjuk jalan kami. Dan Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (Al-‘Ankabut 29:69)

Aku kabarkan kepada umat ini bahwa Mujahidin yang sabar dan teguh kini sedang berada di ambang pintu kemenangan. Aku kabarkan bahwa ujian tidak akan menambahkan bagi mereka kecuali menambah kesabaran dan keyakinan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mujahidin jika melihat suatu ujian mereka selalu mengatakan ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’, cukuplah Allah sebagai penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung,

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.” (Al-Baqoroh 2:249)

Maka bergembiralah wahai umat Islam, sebentar lagi insyaalloh syariat Allah akan tegak di atas seluruh negeri kaum muslimin bahkan di seluruh bumi. Sebentar lagi insyaalloh kezhaliman akan terangkat dari orang-orang yang terzhalimi. Sebentar lagi insyaalloh kegelapan malam akan sirna digantikan terangnya siang hari, terangnya Islam. Kita memohon kepada Allah ta’ala agar meneguhkan kita hingga kita menjumpai-Nya.

“Wahai Robb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (Al-Baqoroh 2:250)
“Wahai Robb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Ali Imron 3:147)
“Wahai Robb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (Al-Kahfi 18:10)

Ya Allah.. Jayakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin.
Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah. Cukuplah Allah sebagai penolong bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung. Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada rosulullah.

http://www.langgar.net


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

%d blogger menyukai ini: