Beranda » Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir

Category Archives: Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir

Masailul min Fiqih Jihad (permasalahan dalam Fiqih Jihad) Karya Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 09


Dan apabila kamu bertemu dengan musuhmu dari kalangan orang-orang musyrik maka serulah mereka kepada tiga perkara maka apa yang mereka terima maka terimalah mereka dan tahanlah tanganmu (tidak memerangi) mereka, kemudian serulah mereka untuk masuk islam jika mereka memenuhinya maka terimalah mereka dan tahanlah tanganmu kepada mereka.
Jikalau mereka menolak, maka serulah mereka agar menyerah dengan membayar jizyah, jika mereka menerimanya maka terimalah mereka dan jagalah tanganmu kepada mereka. Jika mereka menolaknya maka memohonlah pertolongan kepada Alloh perangilah mereka. (Al-Hadits) (Muslim.3/1357).
Ahlul ilmi dan para imam telah menunjukan bahwa hadits ini menjelaskan tentang kewajiban mendahulukan dakwah kepada Islam sebelum diperangi yang pada hakeatnya belum sampai pada mereka dakwah, dan para mushshanif menerjemahkan pembahasan ini didalam kitab-kitab Sunan dan atsar.
Al-Hafidz ibnu Hajar –rahimahulloh-: Pendalilan dalam sabdanya yang berbunyi ادعحم : (mempunyai makna) bahwa dakwah kepada Islam sebagai syarat diperbolehkannya peperangan. (Fathul Bari, 7/478).
Asysyaukani –rahimahulloh- berkata : dalam hadits tersebut terdapat dalil diwajibkannya mendahulukan dakwah Islam kepada orang kafir sebelum diperangi. (Nailul Authar, 8/53).
Al-Imam Al-Bukhari mengeluarkan hadits dari Anas dan ibnu Abbas –semoga Alloh meridhoi keduanya- mengenai syarat yang ditulis Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam kepada Raja Kisra dan Kaisar, dan diterjemahkan tentang keduanya dengan perkataannya (Al- Bukhari) : (Bab: dakwah terhadap Yahudi dan Nashrani, dan kewajiban atas memerangi mereka, dan mengenai apa yang Nabi Shallallahu Alihi Wa Sallam tulis kepada Kisra dan Kaisar, serta mendakwahi mereka sebelum memeranginya). (shahih al-Bukhari 3/1074).
Al-Hafidz ibnu Hajar –rahimahulloh- berkata : (petunjuk yang diambil dari hadits ini yakni Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam mengirimkan surat (seruan untuk masuk Islam) kepada Raja Kisra dan Kaisar sebelum mereka di perangi. (Fathul Bari, 6/108)
Al-Imam Al-Baihaqi -rahimahulloh- menerjemahkan mengenai hadits di atas dengan perkataannya : wajibnya mendakwahi mereka kepada Islam dari kalangan orang-orang musyrik, dan menyeru mereka yang telah sampai kepadanya dengan terang. (Assunan Al-Kubro, 9/106).

 

  • Dari ibnu Abbas –semoga Alloh meridhoinya- berkata: tidaklah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerangi suatu kaum kecuali menyeru mereka (terlebih dahulu kepada Islam). (Ahmad, Abu Ya’la, Hakim, Thabrani dengan sanad rijalnya dari rija shahih).
Adapun dalil yang memperbolehkan dakwah sebelum diperangi yang pada hakekatnya belum sampai dakwah pada mereka diantaranya:
  • Dari Sahl bin Sa’ad –semoga Alloh meridhoinya- bahwa dia mendengar dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda pada hari peperangan Khaibar : aku akan memberikan panji bendera ini pada seorang pemuda yang mana Alloh memenangkan Islam ini dengan perantaraan kedua tangannya, maka bangkitlah para sahabat mereka berharap siapa diantara mereka yang diberikan panji tersebut, maka mereka bersegera di pagi harinya dan berharap diantara mereka yang diberi panji tersebut, maka berkata beliau : “dimanakah Ali? Maka dikatakan (oleh para sahabat yang hadir) : “ dia sedang sakit mata, maka disuruhlah Ali agar menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Salam, maka diludahilah matanya dan berdoa untuknya oleh beliau sehingga hilanglah penyakitnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa beliau (Ali) (sembuh seketika tanpa bekas) kemudian panji-panji bendera itu diberikan kepada Ali. Lalu Ali berkata: Ya Rasulullah apakah saya wajib memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita (yakni masuk Islam)? Maka beliau bersabda : berjalanlah dengan perlahan-lahan (tidak tergesa-gesa) sehingga engkau datang di halaman mereka (perkampungan) kemudian ajaklah mereka untuk masuk Islam dan beritahukanlah kepada mereka atas perkara yang wajib dipenuhi. Demi Alloh, sesunggunya jikalau Alloh memberikan petunjuk dengan sebab usahamu akan seorang (seorang saja) maka hal itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta yang berwarna merah (Hr. Bukhari, 3/1077).
Telah diketahui bahwa orang Yahudi Khaibar yang telah sampai dakwah Nabi kepada mereka sedangkan mereka hidup pada jaman Nabi dan para Sahabatnya. Al-Imam Al-Bukhari –rahimahulloh- mengeluarkan hadits ini bersama hadits yang lain dalam bab: Seruan Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam kepada Islam dan kenabian, agar mereka tidak menjadikan sebagian mereka dengan yang lain sebagain arbab dari selain Alloh, sebagaimana Alloh berfirman:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًۭا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ
ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (QS. Ali-Imran, 3:79).
Secara dhahir ini menjelaskan tentang kebolehan mendakwahi siapa saja yang telah sampai dakwah kepada mereka namun tidak terkecuali kebolehan memerangi siapa saja yang telah sampai dakwah kepada mereka berdasarkan riwayat-riwayat yang banyak bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam meninggalkan dakwah pada sebagian negara yang diperangi, Shalawat dan Salam baginya.
Adapun dalil di syariatkannya peperangan sebelum ditegakkan dakwah Islam padanya adalah:
  • Dari Anas –semoga Alloh meridhoinya- berkata : (kebiasaan Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam apabila menyerang suatu kaum beliau tidak memeranginya sampai menunggu waktu subuh, apabila terdengar Adzan : beliau menahannya (tidak jadi menyerang mereka), apabila tidak terdengar adzan: beliau menyerang setelah subuh. (HR. Bukhari 3/1077).
  • Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajr –rahimahulloh- (dalil hadits diatas) merupakan dalil atas bolehnya memerangi siapa saja yang telah sampai dakwah padanya tanpa mendakwahi mereka terlebih dahulu, maka dikumpulkan dengan keterangan hadits Sahl yang sebelumnya, bahwa dakwah itu diperbolehkan namun bukan syarat wajib. (Shohih Muslim 3/1356).
  • Berkata Asy Syaukani –rahimahulloh- didalamnya (hadits diatas) terdapat dalil kebolehan memerangi mereka yang telah sampai dakwah kepada mereka tanpa mendakwahi mereka terlebih dahulu. (Nailul Authar, 8/69)
  •      Al Imam Al-Bukhari mengeluarakan Hadits dari Al-Baraa bin ‘Azib –semoga Alloh meridhoinya- tentang kisah Ightiyalat (pembunuhan senyap) terhadap Abi Rafi’ Al-Yahudi, Berkata Al- Baraa bin ‘Azib bahwa Rasululloh Shallallahu alaihi Wa sallam mengirimkan sekelompok orang dari kalangan Anshor kepada Abi Rafi’i, maka masuklah Abdullah bin Atik kedalam rumahnya pada malam hari dan Abdulloh bin Atik membunuhnya ketika dia sedang tidur (Al-Bukhari,3/1101).
Dan kisah ini menampakan kebolehan meniadakan dakwah sebelum di perangi, dan Al-Imam Al-Bukhari menjelaskan secara fiqih mengenainya dengan perkataan: Bab. Membunuh orang musyrik ketika sedang tidur. (Shahih Al-Bukhari, 3/1100).
  • Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar –rahimahulloh- dalil hadits di atas di ambil sebagai dalil bolehnya membunuh orang musyrik tanpa mendakwahi mereka terlebih dahulu walaupun sebelumnya bisa mendakwahi mereka terlebih dahulu sebelum diperangi. (Fathul Bari, 6/156).
  • Begitupun Al-Imam Al-Bukhari –rahimahulloh- mengeluarkan hadits dari jabir –semoga Alloh meridhoinya- dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam bersabda : “siapa yang bersedia membunuh Ka’ab bin al-Asyraf untuk saya? Muhammad bin maslamah saudara Bani Abdullah al-Asyhal berkata, “saya bersedia melakukannya untuk anda ya Rasulullah saya akan membunuhnya. “beliau berkata, “lakukanlah jika engkau mampu.” Ia berkata, “ya Rasulullah, kita mesti mengatakan. “beliau berkata,”katakanlah oleh kalian apa yang tampak bagi kalian, kalian bebas dalam hal itu,” (AL-Bukhari, 3/1103).
Al-Imam Al-Bukhari –rahimahulloh- menerjemakan hadits di atas dengan perkataannya: Bab. Membunuh orang yang mempunyai jaminan keamanan secara mendadak. (Shahih Al- Bukhari, 3/1103).
  • Dalil di atas menjelaskan bahwa dakwah sebelum peperangan bukan syarat, pembahasan bab. Al-Fatku dalam hadits diatas semata-mata karena kecemburuan karena iman (Ghiroh) (Mukhtar Shohah, 205).
  • Telah berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar –rahimahulloh- tentang kisah Ightlayat terhadap ibnu Al-Asyraf didalamnya terdapat kebolehan membunuh orang musyrik selain mendakwahinya apabila dakwah secara umumnya telah sampai kepadanya. (Fathul Bari, 6/156)
  • Telah berkata An Nawawi –rahimahulloh- hadits ini menunjukan bolehnya mengadakan Ightiyalat terhadap orang musyrik selain dakwah kepada Islam. (Syarh Muslim. 12/161).
  • Dari Ash-Sha’ab bin Jatsamah –semoga Alloh meridhoinya- berkata: Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai anak keturuan dari orang-orang musyrik yang terbunuh (dalam penyerang di malam hari) begitupun menimpa pada perempuan-perempuan musyrik dari mereka, dan anak keturunan mereka semua, maka beliau bersabda: mereka yang terbunuh karena termasuk golongan mereka, (Muslim 3/1364) (Muslim no.3281).
  • An Nawawi berkata: Makna “Al-bayt”, “Wayubaiytun” adalah penyerangan terhadap mereka pada malam hari yang mana tidak diketahui mana laki-laki mana perempuan dan anak-anak…
  •     Hadits diatas ; menjadi dalil diperbolehkannya penyerangan secara mendadak di malam hari (al-bayat) dan diperbolehkannya melakukan pernyerangan terhadap orang-orang yang sampai padanya dakwah walaupun sebelumnya belum diterangkan kepada mereka (karena umumnya mereka telah dianggap mendengar dakwah secara umum) (Syarh Muslim, 12/50).
  •       Dan dari Abi Utsman An Nahd salah satu kibarul At Tabi’in –rahimahulloh- berkata: kami memerangi mereka, maka kami mendakwahi mereka dan tidak mendakwahi mereka (terlebih dahulu) (Syarh Ma’ani Al-Atsar At Thahawi, 3/209 dan di shahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath, 6/109).
  •     Nash ini menjelaskan bahwa para sahabat mengerjakan 2 perbuatan ini (menyerang mereka tanpa mendakwahi terlebih dahulu sebelum diperangi.pent), dan ini pun menjadi petunjuk dalil bahwa dakwah bukan syarat dalam memerangi mereka ini pendapat dhahir.
  •      Dari Yahya bib Sa’id –rahimahulloh- berkata : tidak apa-apa menyerang musuh pada malam hari dan siangnya karena dakwah Islam telah sampai pada mereka, Rasululla Shallallahu alaihi wa sallam mengutus pasukan pada peperangan khaibar, mereka para sahabat membunuh para pemimpin mereka yang bernama Ibnu Abi Al-Haqiiqie yang telah melanggar perjanjian dengan muslim, dan memerangi pimpinan bani Lyhan yang melanggar perjanjian dengan muslim, Rasululloh mengutus sekelompok para sahabatnya untuk memerangi mereka yang lain hingga ke sisi Madinah dari kalangan Yahudi diantara mereka ada yang bernama ibnu Al-Asyraf. (Al-Madunatu al-kubro, 3/3).
  •      Dalam kitab Al-Mukhtashar Al-Khiraqi : Ahli kitab dan Majusi diperangi tidak diberlakukan dakwah atas mereka karena dakwah telah sampai pada mereka (Mukhtasar Al-khiraqi, 128).
Berikut Madhab (pemahaman) dari pendapat yang mewajibkan dakwah terlebih dahulu sebelum diperangi hanya berlaku pada awal dakwah Islam adapun setelah Islam menyebar luas ke pelosok dunia, maka tidak diambil pendapat yang mewajibkan dakwah terlebih dahulu yang menjadi syarat sebelum diperangi karena pada hakekatnya mereka telah mendengar dakwah Islam bersamaan penyebaran Islam di seluruh alam. Namun bila secara wujudnya dia belum mendapat dakwah Islam maka dia diseru sebelum diperangi.
  • Dikeluarkan oleh Muslim –rahimahulloh- dengan sanad dari ibnu ‘Aun, berkata : Aku menuliskan kepada Nafi’ dan aku bertanya kepadanya tentang seruan dakwah sebelum peperangan, berkata : maka dituliskan untukku : bahwa keadaan tersebut hanya berlaku pada masa awal Islam, karena Rasullulloh Shallallahu alaihi wa sallam telah memerangi bani Musthaliq, secara mendadak di saat mereka sedang lengah, yaitu ketika mereka sedang memberi minum binatang ternak mereka. Lalu terjadilah peperangan hingga dari mereka banyak yang terbunuh dan tertawan, dan pada hari itulah Juwairiyah binti Harits tertawan, “ Yahya berkata, aku kira dia mengatakan Juwairiyah atau anak gadisnya Al-Harits. Hadits ini di sampaikan kepadaku oleh Abdullah bin Umar, saat itu dia termasuk orang yang ikut berperang sebagai prajurit dalam pasukan. (Muslim, 3/1356).
  • Imam An Nawawi menerjemahkan denga perkataannya : (Bab: diperbolehkannya memerangi orang-orang kafir yang sampai padanya dakwah Islam tanpa mendahulukan dakwah terhadap mereka dengan menyerangnya ketika mereka lengah). (Shahih Muslim,3/1356).
  • Berkata An Nawawi –rahimahulloh- perkataan وهم غا رون Yakni huruf “Ghin” Al-Ma’jumah, di Syaddah “ra’” nya maksudnya : ketika mereka lengah lalai atau lupa. (Syarah Muslim, 12/36).

Dari Al-Hasan –rahimahulloh- tidak diberlakukan dakwah terlebih dahulu kepada bangsa Ruum karena dakwah Islam telah sampai kepada mereka

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. bag. 8


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “dan demi jiwaku yang berada ditanganNya tidaklah salah seorang mendengar dariku dari umat Yahudi dan tidak pula umat Nashrani lalu dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus kepadanya kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hr. Muslim, 1/134).
Maka setiap orang yang telah sampai kepadanya dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu dakwah kepada Din Alloh yang dia (Muhammad) telah diutus dengannya, namun dia tidak mengikutinya maka dia wajib diperangi sampai tidak ada lagi fitnah dan Din ini semuanya untuk Alloh. (Al-Fatawa, 28/349).
Dan mengenai hukum ditegakkannya dakwah
(dalam keadaan sebenarnya dan ketika berhadapan dengan musuh) (bada’iu ashshana’i karya. al-Kasani, 7/100, dan yang sejenisnya dalam kitab tuhfatu al-fuqoha, 3/293, 294) sebelum diumumkan peperangan kepada mereka terdapat perbedaan dari kalangan para ulama masyhur:
*Pendapat dari sebagian Imam yang mensyaratkan dakwah terlebih dahulu secara mutlak maksudnya merealisasikan dakwah kepada manusia yang sudah sampai atau belum sampai dakwah kepadanya kecuali dia masuk kepada Islam.
*Pendapat sebagian yang lain yang meniadakan sama sekali (mutlak) syarat untuk ditegakkan dakwah kepadanya, maksudnya dakwah tidak ditegakkan baik kepada orang yang sudah sampai kepadanya dakwah atau kepada yang belum sampai dakwah kepadanya sama sekali. (lihat : Fathul Bari’, 6/108-109, 7/478), syarah Annawawi dari hadits Muslim, 12/36) .
Dan pendapat yang benar dan masyhur adalah pendapat yang mengatakan dakwah wajib sebelum diperangi namun perkara mendakwahi kepada mereka yang belum sampai kepadanya dakwah Islam atau selainnya bersamaan adanya pendapat kebolehan mendakwahi mereka dahulu sebelum diperangi maka perkara ini tidak wajib.
Berkata Imam Nawawi -semoga Alloh merahmatinya- : (nash-nash ini pendapat dari Nafi’ pembantu ibnu Umar, Al-Hasan al-Bashri, Atstsauri, Laits, Asysyafi’i, Abu Tsauri, ibnu Mundzir, dan Jumhur. Berkata Al-mundzir : pendapat ini adalah pendapat dari kebanyakan ahli Ilmi, dan telah jelas dalam hadits-hadits shahih secara makna. (syarah Muslim, 12/36).
Aku (pengarang) berkata: adapun dalil-dalil yang mewajibkan dakwah ditegakan kepada orang yang belum sampai dakwah kepadanya diantaranya:
*Alloh berfirman,” dan tidaklah kami mengadzab mereka sampai Kami mengutus kepada mereka seorang rasul”. (Qs. al-Israa’, 17:15).
Berkata ibnu Rusyd -semoga Alloh merahmatinya- : (adapun syarat diperangi adalah bila telah tegak padanya dakwah sesuai kesepakatan Ulama, yaitu : tidak diperbolehkan memerangi mereka sehingga dakwah telah sampai terlebih dahulu kepada mereka,
demikian kesepakatan dari kaum muslimin berdasarkan firman Alloh dalam surat Al-Israa’, 17:15. (Bidayatul mujtahid, 1/282, lihat al-mabsuth, karya. Assarkhosi, 10/6).
Aku berkata: pendalilan ini merupakan dalil-dalil yang halus, demikian juga adzab yang Alloh timpakan kepada orang kafir secara menyeluruh lewat perantaraan tangan orang-orang yang beriman sebagaimana Alloh berfirman, ” perangilah mereka semua niscaya Alloh akan mengadzab mereka melalui perantaraan tangan-tangan kalian”. (Qs. Attaubah, 9:14).
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Alloh merahmatinya- : dan merupakan sunnatulloh bahwa ditimpakannya siksa kepada Orang-orang kafir kadang langsung dari sisiNya dan kadang pula dari sisi perantaraan tangan orang-orang yang beriman. (Ashsharim al-Maslul, 2/234).
*dari Buraidah -semoga Alloh meridhainya-, berkata: ( kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila memerintahkan kepada pemimpin pasukan atau sariyah (detasemen khusus): beliau selalu berwasiat khusus untuk senantiasa bertaqwa kepada Alloh, dan bersama dengan kaum muslimin dalam segala kebaikkan, lalu beliau berkata: “berperanglah kalian dengan nama Alloh, di jalan Alloh, perangilah mereka yang kafir kepada Alloh, berperanglah kalian dan janganlah berlebih-lebihan, jangan berkhianat (lari dari medan perang), jangan mencincang mayat, dan janganlah membunuh anak-anak.

Masailu Min Fiqh Jihad. Permasalahan dalam Fiqh Jihad. Karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 7


Permasalahan ketiga
Hukum-Hukum Mendakwahi Kafir Harbi.
Maksud dakwah disana: mendakwahi kafir harbi kepada Islam lalu membayar jizyah (disana terdapat perbedaan besar dalam penulisan yang semuanya dikembalikan kepada jizyah setelah mereka memenuhinya dari kalangan ahli kitab dan majusi, namun penerimaan jizyah ditolah dari golongan murtad, lihat Al-Mughni, karya. Ibnu Qudamah, 9/173-174, ahkamu liahlidzdzimmah, karya. Ibnu Qayyim, 1/87-111.
para fuqaha telah menashkan bahwa dakwah disana meliputi dakwah hakikiyah dan hikmiyah, adapun dakwah hakikiyah adalah dakwah dengan lisan sedangkan dakwah hikmiyah yaitu penyebar luasan dakwah ke timur dan barat dimana saja mereka bisa diseru dan dimana saja mereka diperangi dengan menegakkan kekuatan kepada mereka . (bahru raiq, 5/82, Syarh Fathul qadir, 5/445).
Adapun sifat dakwah hakikiyah maka kami katakan- akan kami datangkan nash-nash sharih dengan sifat dakwah ini:
Dalam kitab Kifayatuththalib: sifat dakwah adalah menyeru mereka untuk berpaling kepada Islam jikalau mereka memenuhi seruan Islam ini maka jagalah tanganmu dari mereka namun bila mereka menolak maka suruhlah mereka untuk membayah jizyah, jika mereka menolak bayar jizyah maka perangilah mereka, jika mereka menyerah maka perintahkan kepada mereka untuk tunduk kepada kekuasaan kami, jika mereka menerimanya maka tahanlah tanganmu dari mereka namun bila mereka menolaknya maka perangilah mereka seandainya mereka bisa didakwahi maka peperangan terhadap mereka dikecualikan. (Kifayatuththalib, 2/6, atstsamaru addin syarah risalah al-Qiruni, 1/412).
Berkata ibnu Rojab semoga merahmatinya berkata Malik: bila diwajibkan dakwah atasnya maka mereka hanya diseru kepada Islam secara umum tanpa menjelaskan kepada mereka tentang hukum-hukum syar’i kecuali apabila mereka bertanya tentangnya maka dijelaskan kepadanya, begitu juga mereka diperintahkan untuk membayah jizyah secara umum tanpa ada batasan dan tanpa penolakan dari mereka (wajib) kecuali mereka bertanya dengan sebab harus membayar jizyah maka dijelaskan kepadanya. (tarikh al-Iklil, 3/350).
Dan pendapat tentangnya: mereka orang kafir diseru untuk masuk Islam diberi jangka waktu 3 hari disandarkan kepada seperti halnya kepada orang murtad untuk bertobat, bila mereka memenuhi seruan Islam maka wajib menahan tangan atasnya karena darah dan harta bendanya telah terjaga dengan sebab masuk Islam atapun bila mereka memilih membayar jizyah maka wajib untuk menahan tangan atasnya juga, bila dia tidak mau memilih Islam atau membayar jizyah maka mereka diperangi dengan perbuatan dengan segenap macam perangkat perang untuk memerangi mereka (peralatan persenjataan). (al-fawakih addiwani, 1/396).
Adapun dakwah hikmiyah yaitu dengan merealisasikan
dakwah Islam supaya sampai terdengar oleh orang-orang kafir dengan berbagai jalan.
Alloh Ta’ala berfirman : katakanlah wahai Muhammad, siapakah yang lebih kuat kesaksiannya? katakanlah, “Alloh”, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Quran ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai Al-Quran kepadanya. Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa tidak ada ilah-ilah lain bersama Alloh?” Katakanlah, “Aku tidak dapat bersaksi, “Katakanlah, “Sesungguhnya hanyalah Dialah Alloh Robb Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dengan Alloh.” (Qs. Al-An’aam ayat 19).
Berkata As-Saadi maksud ayat pada kalimat “liungdzirokum bihi wa man balagho” pada ayat diatas: adapun “wa man balagho” adalah siapa saja yang telah sampai Al-Quran kepadanya maka dia telah terkena peringatan.
Dari Muhammad bin Ka’ab rahimahulloh: maksud “liungdzirokum bihi wa man balagho”adalah siapa saja yang telah sampai Al-Quran padanya maka dia telah menyaksikan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Berkata ibnu Zaid rahimahulloh maksud ayat pada kalimat “wa uhiya ilayya hadzal qur’an liungdzirokum bihi wa man balagho” adalah siapa saja yang telah sampai Al-quran padanya, maka aku (Muhammad) telah memperingatinya, firman Alloh “wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian semua” (Qs. Al-A’raaf ayat 158) maka barangsiapa yang telah sampai Al-Quran padanya maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memperingatinya.
Dari Hasan bin Shalih berkata: aku ditanya oleh Laits apakah seseorang bisa tidak terkena dakwah ? Aku berkata bahwa Mujahid mengatakan: dimana saja Al-Quran datang maka penduduknya telah terkena seruan dan peringatan lalu membacakan ayat diatas.
Dari Mujahid sesungguhnya dia berkata maksud kalimat “wa uhiya ilayya hadzal qur’an liungdzirokum bihi” maksudnya kepada orang Arab, “wa man balagho” maksudnya kepada bangsa ‘ajam yakni non arab.

Masailul Min Fiqh Jihad. Permasalahan dalam Fiqh Jihad. Karya. Asysyahid Abu Abdillah al-MUhajir. Bag. 6


Berkata Asysyaukani semoga Alloh merahmatinya : tentang Islam yang menjadi syarat ditegakkannya hukum qishash terlepasnya jaminan keamanannya (qishash) dengan sebab Islam. Berkata juga Al-Imam Syafi’i semoga Alloh merahmatinya: dihalalkannya darah mereka setelah tegak dakwah atas mereka. (Al-Umm, 4/219).
Addasuki semoga Alloh merahmatinya berkata: adapun kafir al-harbi tidak ada jaminan perlindungan atasnya, tidak ada diyat bagi yang membunuhnya. (Hasyiah Addasuki, 4/268). Maka yang jelas bahwa al-harbi adalah kafir yang tidak terikat baginya perlindungan Islam atau aman.

Telah lewat makna perkataan Annawawi semoga Alloh merahmatinya: adapun orang kafir yang tidak terikat perjanjian dengannya, dan aman maka dia tidak ada dalam jaminan dari diperangi apapun agamanya.(roudatu aththalibin, 9/259) . Maka penjelasan dari beliau bahwa orang kafir yang tidak berada dalam jaminan dari diperangi adalah orang kafir yang tidak ada perjanjian baginya dan tidak juga aman maka inilah yang dimaksud al-harbi. Dalam kitab Al-Iqna :ditumpahkan darah harbi walau dari kalangan anak dan perempuan dan budak dari jenis mereka, karena dalil Alloh,”maka perangilah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu menemukan mereka”. (Attaubah:5). Maka perhatikanlah perkataan walau dari kalangan anak dan perempuan dan budak.
Jelas yang dimaksud al-harbi itu adalah kafir yang tidak ada perjanjian aman bukan selainnya .
Telah lewat makna perkataan dari ahli Islam tentang halalnya darah kafir secara mutlak yang belum terikat perjanjian aman.
Telah berkata Imam Aththabrani semoga Alloh merahmatinya:mereka telah sepakat walaupun orang kafir itu melilitkan lehernya atau ketenggorokannya kain ka’bah atau dia bernaung dibawah pohon disekitar tanah al-haram maka dia belum aman dari diperangi bila dia belum terikat perjanjian dzimmah atau aman dengan kaum muslim.
(tafsir Aththabari, 6/61).
Berkata juga beliau :Ijma bahwa Alloh menghukum ahli harbi dari kalangan musyrikin diperangi mereka walaupun berlindung dibait al-Haram atau al-muqaddas di bulan haram dan selainnya. (tafsir aththabari, 6/61, 62).
Berkata ibnu Katsir semoga Alloh merahmatinya: telah dihikayatkan oleh ibnu Jarir ijma bahwa orang musyrik boleh diperangi bila tidak terikat aman walaupun dia berlindung dial-haram atau bait al-muqaddas. (tafsir ibnu Katsir, 2/576).
Berkata ibnu Qudamah al-Maqdisi semoga Alloh merahmatinya: begitupun bila dia murtad dari Islam lalu dia mumtani ke negeri kafir maka hilanglah jaminan nyawa dan hartanya halal, karena orang kafir asli tidak ada perlindungan didalam negerinya, begitupun murtad. (Al-Mugni, 9/20)
Berkata al-Imam Asysyaukani semoga Alloh merahmatinya :ketahuilah bahwa penjelasan tentang darul Islam dan darul Kafir mempunyai faidah yakni bahwa darul kafir harbi mubah darah dan harta sepanjang tidak ada perjanjian dengan kaum muslimin sedangkan harta dan darah kaum muslim terjaga dengan sebab Islam walaupun berada didalam negeri kafir harbi dan selainnya. (Sailu al-Jaror, 4/576).
Maka pikirkanlah penjelasan imam Asysyaukani yang sangat jelai antara muslim dengan kafir, keduanya darah dan harta muslimin terjaga walau didalam darul harbi dan selainnya sedangkan darah dan harta orang kafir halal didalam negaranya yang harbi dan selainnya.Sehingga jelas darah dan harta muslim terjaga dimana saja berada sedangkan darah dan harta kafir harbi halal dimana saja dia berada selama tidak terikat perjanjian dengan muslimin.
asySyaukani mengomentari juga atas perkataan pengarang hadaiq al-Azhar yaitu diperangi mata-mata kafir atau bughat.
Berkata juga beliau adapun darah orang kafir asalnya halal sebagaimana dalam ayat saif, maka apa gerangan dengan mata-mata terhadap kaum muslimin…Berkata juga berliau: adapun orang musyrik sama saja dia harbi atau bukan halal darahnya karena disebabkan musyrik. (Sailu al-jaror, 4/369).
Sebagai penutup ada permasalahan penting dan berguna dalam kisah perjanjian Hudaibiyah yaitu:berkata Abu Jandal dengan nada keras: wahai kaum muslimin apakah kalian akan meninggalkanku ditengah orang musyrik sedangkan aku melakukannya demi din! Maka bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:wahai Abu Jandal bersabarlan dan berharaplah untuk mendapatkan pahala Alloh, karena Alloh akan memberikan jalan keluar bagimu dan bagi orang-orang lemah sepertimu sungguh kita telah menandatangani perjanjian dengan kaum tersebut. Kita berikan perjanjian pada mereka sedangkan mereka memberikan janji Alloh kepada kita dan kita tidak mengkhianati mereka. Umar bin Khaththab berdiri menuju tempat Abu Jandal, berjalan disampingnya dan berkata:bersabarlah wahai Abu Jandal sesungguhnya mereka orang-orang musyrik dan darah mereka adalah darah anjing.” Umar pun mendekatkan pegangan pedang pada Abu Jandal, Umar bin Khaththab pun berkata: aku berharap Abu Jandal mengambil pedang itu lalu memukulkannya pada ayahnya yang masih musyrik kafir…”(al-hadits). (hadits hasan Hr.Ahmad, 4/325, Baihaqi al-kubro, 9/227, tarikh athThabari, 2/123, siroh nabawi, 4/287, lìhat Fathul Bari, 5/345).
Perhatikanlah ucapan Umar :darah salah seorang mereka adalah darah anjing, sedangkan rasulullah tidak mengingkari ucapannya ketika rasululullah mendengarnya, dalam keadaan muslim dengan kafir terikat perjanjian aman dan ahd maka apa gerangan wahai kaum muslim dengan orang kafir yang tidak ada ahd dan tidak ada aman!!! Perhatikanlah.

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 3


Lanjutan Masailul min Fiqh Jihad 3

Dan hadits-hadits yang membahas perkara ini sangat banyak Ibnu Abi Syaibah –rahimahulloh- telah menterjemahkan hadits ini dengan pendapatnya yakni:
( Mengenai perkara yang melindungi darah, dan dihentikannya pembunuhan atas pelakunya) (Mushshanif, ibnu Abi Syaibah, 5/556).
( Di terjemahkan juga olehnya dengan arti yang lain , yaitu : mengenai perkara yang menahan dari pembunuhan, dan apa perkara itu, dan perkara apa yang melindungi darah).(Mushshanif, ibnu Abi Syaibah, 6/481).
Dan An Nasai menerjemahkan dengan : (Bab diharamkannya darah). (Al- Mujtaba’,7/75).

Dan Ibnu Majah menerjemahkan dengan: (Bab: Ditahannya dengan perkataan/ikrar : Laailaaha illallah). ( Assunan,2/1295).
Dan Imam Addaruquthnie menerjemahkannya : (bab diharamkannya darah mereka, harta –harta mereka apa bila mereka bersaksi dengan dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat). (sunan Addaruquthnie, 1/231).
Dan para Imam yang menterjemahkan semisal di atas sangat banyak juga.
Dan Maimun bin Siyah telah bertanya kepada Anas bin Malik –semoga Alloh meridhoinya- berkata : Wahai Abu Hamzah apa yang mengharamkan darah dan harta seorang hamba?
Maka berkata (Anas bin Malik) : (barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Alloh, menghadap kepada kiblat kami (ketika sholat) sholat seperti sholat kami, memakan hewan sembelihan kami maka dia muslim, baginya mendapat haq sebagai seorang muslim, dan baginya kewajiban atas setiap muslim.) (HR. Bukhori, 1/153).
Telah berkata AsSarkhosi –rahimahulloh- bahwa syariat menetapkan perlindungan jaminan keamanan karena disebabkan hanya semata-mata dari harta dan nyawa (darah) bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wa sallam, “ maka apabila mereka mengerjakan maka terjagalah dariku darah dan harta mereka.” (Al-Mabsuth, 10/52, 105).
Berkata Ibnu Rusyd –rahimahulloh- : (Asal bolehnya harta disebabkan karena kekafiran, sedangkan keterjagaan dan jaminan ialah dengan Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam “…maka apabila mereka mengatakannya (dua kalimat syahadat) maka terjaga dari ku darah-darah mereka dan harta benda mereka.” (Bidayatul Mujtahid, 1/293).
Dan hadits dari Ibnu Umar –semoga Alloh meridhoinya- bersabda Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam, “ aku di utus menjelang hari kiamat dengan pedang sampai Alloh semata yang di sembah yang tidak ada serikat bagiNya, dan telah di jadikan rejeki ku di bawah naungan tombak , dan telah di jadikan terhina orang-orang yang menyelisihi perintahku, dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka.” (hadits hasan : Hr. Ahmad, 2/50,92, Mushanif Ibnu Abi Syaibah, 4/212, Syuabul iman, 2/75, lihat Al- Majmu, 5/ 267, 6/49), berkata Adzdzahabie dalam Assiyar, 15/509 : (Isnadnya baik), dan hadits di riwayatkan oleh Abi Hurairoh –semoga Alloh meridhoinya- lihat : Assiyar, 16/242).
Maka “kehinaan”. “kerendahan” dari orang kafir mencabut jaminan perlindungan, jaminan keamanan halalnya darah dan harta: hukum syarie ini diberlakukan bagi siapa saja yang menolak dan sombong u/ masuk ke dalam dienul Islam atau menyerah (dengan membayar jizyah)
Hadits dari Buraidah –semoga Alloh meridhoinya- berkata: apabila Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam memerintahkan seorang amir pasukan perang atau datasemen beliau memerintahkan amirnya agar bertaqwa kepada Alloh (begitupun juga kepada pasukannya) lalu berkata beliau : berperanglah denga nama Alloh, di jalan Alloh, perangilah siapa saja yang kafir kepada Alloh, berperanglah dan jangan melampaui batas, dan janganlah berkhianat (lari kebelakang), dan janganlah mencincang (memotong-motong mayat), dan janganlah membunuh anak-anak.” Maka bila kamu telah menjumpai musuh mu maka serulah mereka kepada tiga perkara jika mereka memenuhimu maka perkenankanlah (terimalah mereka) dia dan tahanlah tangan mu dari memeranginya, lalu serulah dan ajaklah dia masuk Islam, bila mereka memenuhi seruanmu maka perkenankanlah mereka dan tahanlah tanganmu dari memerangi mereka…. Bila mereka menolaknya maka suruhlah mereka agar menyerah dengan membayar jizyah kalau mereka memenuhinya maka perkenankanlah mereka dan tahanlah tangan kalian dari memeranginya, jika mereka menolak membayar jizyah maka memohonlah pertolongan dari Alloh lalu perangilah mereka…..” (Al-Hadits) (Hr. Muslim, 3/1357).
Dari Ibnu Abbas –semoga Alloh meridhoinya- berkata : Rasulullah shallallau alaihi Wa sallam bila mengirim pasukan-pasukannya berkata kepada mereka: “pergilah kalian dengan nama Alloh, berperanglah di jalan Alloh, perangilah di jalan Alloh orang-orang yang telah kafir kepada Alloh.” (Musnad Abu Ya’la, 4/422 : At Tamhid, 16/141).
Maka inilah Hadits secara dhohir di dalam hal tercabutnya perlindungan atas mereka, dan hilangnya kekafiran ini dengan Islam atau tunduk menyerah dengan membayar jizyah.
Telah berkata Al-Qurthubie –rahimahulloh- dhohir nash-nash diatas menggambarkan urutan-urutan atau tahapan-tahapan didalam memerangi orang-orang kafir dan syirik…
Sedangkan tahapan-tahapan inilah menjadi sebab hukum u/ memerangi mereka dan meniadakan sebab hukum yang lain (selainnya). (Adzdzakhiiroh, 3/387).
Telah berkata Al-Qorofie –rahimahulloh- disamping banyak penyebab ditegakannya jihad:
Sebab pertama: berdasarkan keberadaan aslinya yakni kewajiban asalnya yakni (jihad) ditegakan untuk menghilangkan kemungkaran berupa kekafiran karena kekafiran adalah kemungkaran yang terbesar, maka barang siapa yang mempunyai kesanggupan/kemampuan untuk menghilangkan kemungkaran maka ini menjadi wajib baginya. (Al- Furuq).
Dan inilah nash-nash dari para imam fuqoha atas halalnya darah dan harta bagi orang kafir yang tidak di jamin keamanannya oleh kaum muslimin secara mutlak.
Telah berkata Al-Imam Asy Syafi’I –rahimahulloh- “Alloh menjaga darah dan harta kecuali dengan haqNya. Yaitu dengan iman kepada Alloh iman kepad RasulNya atau perjanjian dengan beriman kepada Alloh dan rasulNya dari kalangan ahli kitab, dan pada umumnya darah dan harta menjadi halal ketika dia menolak dari keimanan kepada Alloh dan RasulNya bila baginya tidak ada ikatan perjanjian. (Al-Umm, 1/257)
Telah berkata Al-Qurthubie –rahimahulloh- “orang muslim bila bertemu dengan orang kafir yang tidak terikat perjanjian dengannya, dia (muslim) boleh membunuh orang kafir tersebut. Bila dia mengatakan laailaaha illallah maka orang muslim itu tidak boleh membunuhnya karena dia telah terjaga dengan jaminan keterjagaan dengan sebab Islam, tertahan darah, hartanya dan keluarganya (bila tunduk kepada Islam). (tafsir Al-Qurthubie, 5/338).
Telah berkata Al- Khathabie –rahimahulloh- orang kafir itu halal darahnya dengan sebab hukum dien sebelum tunduk kepada Islam (masuk Islam atau membayar jizyah). Bila dia masuk Islam maka terlindungilah darahnya sebagaimana darah kaum muslimin lainnya, bila seorang muslim membunuhnya setelah dia muslim maka diberlakukan hukum qishash. (Fathul Barie, karya Ibnu Hajar, 12/189).
Berkata Ibnu Qudamah –rahimahulloh- (begitu juga kalau mereka murtad (keluar dari Islam) dan meminta perlindungan kepada Negara kafir mereka (mumtanie) dari ketaatan kepada Imam muslim : maka lepaslah/gugurlah jaminan perlindungan kepada mereka dan harta benda mereka (boleh di ambil), karena orang kafir ashli pada asalnya tidak ada jaminan keamanan baginya kalau mereka berada di negaranya, adapun orang murtad sama tidak ada perlindungan).(Al-Mughnie,9/20).
Ijma para ulama telah menukilkan tentang halalnya darah orang kafir secara mutlak yang tidak ada jaminan aman baginya.
Telah berkata Al-Imam Aththabarie –rahimahulloh-: (“telah di sepakati bahwa bila orang musyrik walaupun mereka mengalungkan dan melilitkan lehernya dengan kulit-kulit pohon di sekitar tanah al-Haram walaupun sehasta tetap tidak ada jaminan keamanan atasnya dari pembunuhan atasnya apabila tidak ada perjanjian, dzimmah dengan kaum muslimin atau aman). (tafsir Aththabarie, 6/61)
Telah berkata juga Al-Imam Aththabarie –rahimahulloh- : telah di sepakati bahwa Alloh menghukumi dari kalangan kafir harbie musyrik, mereka diperangi walaupun mereka menyengaja mendatangi baitul al-Haram, bait al-Muqaddas pada bulan al-haram. (Insya Alloh penjelasannya akan di sampaikan mengenai hukum memerangi mereka pada bulan al-Haram)
Telah berkata Ibnu Katsier –rahimahulloh- telah di hikayatkan oleh Ibnu Jarir: ijma dari para ulama bahwa orang musyrik boleh dibunuh apabila tidak ada perjanjian aman baginya walaupun dia menyengaja ke bait al-Haram atau bait al-Muqaddas. (tafsir Ibnu Katsier. 2/6).
Oleh karena itu darah orang kafir yang tidak ada ikatan perjanjian : darahnya ditumpahkan (sia-sia), tidak ada perlindungan, tidak ditegakan keadilan atasnya. Pendapat ini dikumpulkan oleh pendapat para Imam ahlu Islam:
Dan menurut madhab Hanafi, telah berkata Al-Kasanie –rahimahulloh-: Qishosh hukumnya kembali kepada yang dibunuh.
Ketiga: terjaganya darah secara mutlak maka seorang muslim tidak boleh di bunuh dan tidak juga seorang kafir dzimmie karena di sebabkan membunuh kafier harbie, dan tidak di Qishosh karena membunuh orang murtad karena ketiadaan jaminan penjagaan terhadapnya pada asalnya, dan tidak di Qishosh juga dengan sebab membunuh pembesar-pembesar mereka, dan tidak di Qishosh pula karena sebab membunuh orang kafir harbie yang musta’mien dalam dhohirnya riwayat dikarenakan keterjagaannya (muslim) secara mutlak. Dan dikarenakan juga orang kafir musta’man dari penduduk kafir harbie hanyalah di perbolehkan memasuki negeri Islam dalam rangka untuk memenuhi kepentingannya saja setelah itu dia kembali pada tanah airnya dan keterjagaannya hilang setelah dia kembali. (Bada’iu Asshonaie, 7/235).
Dan berkata Ibnu Najm Al-Hanafi –rahimahulloh- mengenai syarat Qishash:
Diantaranya : keadaan orang yang dibunuh terjaga darahnya secara mutlak, maka seorang muslim tidak boleh dibunuh tidak juga kafir dzimmi disebabkan membunuh orang kafir harbie dan tidak di bunuh (Qishash) karena membunuh orang murtad karena pada asalnya tidak ada perlindungan bagi si murtad tsb. Dan tidak pula di sebabkan membunuh orang kafir musta’man di dalam dhohir riwayat karena keterjagaan darah secara mutlak terjaganya di sebabkan mereka berada dalam penjagaan/jaminan keamanan negeri Islam, telah di jelaskan pada pembahasan-pembahasan pada umumnya (pada bab Qishosh).(Al-Bahru Ar Ra’ieq, 8/328).
Menurut Madhab Al-Malikiyah.
Dalam kitab Syarh al-Kabier : (dan rukun Qishash : tiga; pezina sedangkan syaratnya bila dia telah terkena taklif, Al-Ishmah (asal terjaga darah dan hartanya), ada yang menanggung (bila dia di ganjar) terhadap keluarganya di tinggal, sedangkan yang di zinahipun ada hukumnya.
Adapun orang kafir al-harbi tidak dibunuh dikarenakan Qishosh akan tetapi ditumpahkan darahnya dengan sia-sia (halal ditumpahkan) karena asalnya ketiadaan jaminan keamanan terhadapnya…
Maka tidak boleh dibunuh seorang muslim walaupun dia seorang budak atau merdeka disebabkan membunuh seorang kafir…
Tidak ada Qishash kepada orang muslim yang telah membunuh seorang murtad dikarenakan hukum asal bagi orang murtad adalah tidak adanya jaminan perlindungan bagi dia, dan statusnya menjadi diperangi dengan sebab kemurtadannya sehingga di tegakan hukum bunuh baginya. (Asyarhu al-kabier 4/237,238).
Telah berkata Ad Dasuki didalam Al-hasyiah : (perkataannya disyaratkan taklif, Al-Ishmah maksudnya Iman atau aman…
Pendapatnya juga: Adapun kafir harbi tidak diberlakukan Qishash baginya, maksudnya: tidak ada penegakan hukum Islam atasnya (dengan Qishash) (yang ada ditumpahkan darahnya dengan sia-sia karena kaidah asal bagi kafir harbi ialah tidak ada jaminan keamanan baginya: sambungan dari penjelasan terdahulu). (Hasyiah Ad Dasuki, 4/237).
Dan telah berkata Ad Dasuki –rahimahulloh- begitupun juga : (Adapun kafir harbi : tidak ada baginya ikatan, tidak ada diyat (ketika membunuhnya). (Hasyiah Ad Dasuki ,4/268).
Menurut Madhab Asy Syafi’ieyah
Dalam kitab (Mughnie Muhtaj) : (di syaratkan diwajibkannya hukum Qishosh atau diyat pada jiwa yang dibunuh : “jaminan perlindungan ada dengan sebab Islam, sebagaimana dalam keterangan riwayat Muslim: “Aku di perintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Alloh maka apabila mereka telah melakukannya maka terjaga dariku darah mereka dan harta mereka kecuali dengan hakNya. Atau adanya jaminan aman sebab dzimmah atau ahd (perjanjian) atau aman sebagaimana di maksud dalam firman Alloh:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“perangilah mereka orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan kepada hari akhir dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan RasulNya dan tidak berdien dengan dienul yang haq dari kalangan orang-orang yang di beri al-Kitab sampai mereka membayar jizyah” (QS. At Taubah,9:29)
Dan firmannya :

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ

“dan jika diantara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah…” (QS. At Taubah, 9:6).
Apabila Islam dan aman menjadi syarat maka ditumpahkan darah orang kafir harbie dan murtad. Adapun perintah untuk memerangi orang kafir harbie dalam firman Alloh:

فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ
“maka bunuhlah orang-orang musyrik dimana saja kamu menjumpai mereka” (QS. At Taubah: 5).
Dan perintah untuk memerangi orang murtad, sebagaimana dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam “barang siapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah dia” (HR. Muslim). (Mughni al-Muhtaj, 4/14,15, dan yang membahas serupa lihat di I’anatu Aththalibien, 4/117).
Dalam kitab al-Iqna’ yang menjelaskan tentang syarat Al-Qishash: (yang kelima: asalnya dia terjaga baik karena iman atau aman (dzimmah atau ‘ahd) berdasarkan firman Alloh Ta’ala : “perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh..” (QS. At Taubah: 29) dan firmannya: “dan jika ada diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah” (QS. At Taubah: 6), maka ditumpahkan darah orang kafir harbie walaupun anak-anak, wanita, dan hamba sahaya karena firman Alloh Ta’ala: “maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu menemui mereka” (QS: At Taubah: 5).
Telah berkata Al-Bajirimie –rahimahulloh- dalam catatan kakinya: (pendapat tentang: ditumpahkan darah orang kafir harbie dengan sia-sia maksudnya : ditujukan kepada tiap-tiap mereka). (Hasyiah Al-Bajirimie, 4/136).
Telah berkata An Nawawie –rahimahulloh- : (Adapun orang kafir yang tidak terikat perjanjian, dan tidak ada jaminan keamanan baginya dari kalangan orang kafir, maka dia diperangi karena dien ini) (Raudhatu Ath Thalibien, 9/259).
Pendapat para pengikut Hanbaliah
Telah berkata Ibnu Qudamah –rahimahulloh- : (pasal: tidak ada Qishash bagi orang yang telah membunuh kafir harbie berdasarkan firman Alloh “ dan bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu mendapatkan mereka” (QS. At Taubah: 5)).dan tidak di Qishash pula orang yang telah membunuh seorang yang murtad, dikarenakan darahnya sama seperti kafir harbie…). (Al-Kaafi, Fiqh Al-Imam Ahmad, 4/7).
Telah berkata Ibnu Muflih –rahimahulloh- dalam penjelasan (Syarh) matan kitab Al-Muqni : (pasal kedua: tentang keadaan status keterjagaan orang yang di bunuh, maka tidak di Qishash orang yang telah membunuh seorang kafir harbie, dan tidak di qishash pula orang yang telah membunuh orang murtad…
Pasal: kedua tentang status yang dibunuh itu terjaga, maksudnya: terjaga darah karena qishash hanya diperintahkan untuk menjaga darah yang terjaga, berdasarkan kaidah: “mencegah dari kerusakan mengharuskan/menuntut untuk menjaga selamanya.” Begitupun juga dengan dihilangkannya dari selain yang harus di jaga (diberlakukan hukum qishash bagi yang terkena hukum asal terjaga darahnya, sedangkan yang asalnya tidak terjaga darahnya maka tidak diberlakukan qishash bagi orang yang telah membunuhnya, contoh: membunuh kafir harbie atau murtad, tidak ditegakan qishash bagi si pembunuhnya.red), begitupun juga bagi si pembunuh tidak wajib membayar diyat (tebusan = ganti rugi), tidak ada kaffarat bagi pembunuhnya, dikarenakan darah orang kafir harbie dan murtad halal (boleh ditumpahkan) secara mutlak seperti layaknya “babi” ! dan Alloh telah memerintahkan untuk membunuh mereka dengan firmannya : “maka bunuhlah orang-orang musyrik itu….” (QS. At Taubah: 5) baik yang membunuhnya itu seorang muslim atau dzimmi, begitupun juga tidak di berlakukan qishash bagi yang membunuh orang murtad Karena darah mereka sama seperti kafir harbie. ) (Al-Mabdi’u, 8/263, dan dijelaskan serupa dalam kitab kasyafu al-Qina’ 5/521).

Maka aku (pengarang) mengatakan, “perhatikanlah mubahnya darah orang kafir harbie dan murtad secara mutlak layaknya seekor babi.”!!!
Dan telah berkata Al-Imam al-Kabir ibnu Qudamah –rahimahulloh-: “tidak boleh di qishash seorang kafir dzimmie disebabkan membunuh kafir harbie, dan kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat tentang permasalahan ini dikarenakan mubahnya darah orang murtad dan harbi secara mutlak layaknya seekor babi, dan tidak ada diyat ketika membunuhnya, dan tidak ada kaffarat, dan tidak ada qishash bagi yang membunuh seorang murtad, tidak ada diyat, dan tidak ada kaffarat baik si pembunuh tersebut orang Islam atau kafir dzimmi.). ( Al-Mughnie, 8/221)
Berkata Ibnu Qudamah –rahimahulloh- “tidak ada perbedaan dalam permasalahan diyat antara kafir dzimmie dengan musta’man karena keduanya dijaga darahnya (di dalam darul Islam/perlindungan seorang muslim), kalau mereka dibunuh, adapun kafir harbie dan murtad tidak ada diyat bagi keduanya karena tidak adanya jaminan perlindungan bagi keduanya).( Al-Mughnie, 8/313, dalam dalil ( Ath thalieb, 1/290,291)).

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai penjelasan bahwa orang kafir selain mu’ahad tidak ada kemuliaan bagi secara mutlak, dan darahnya boleh di tumpahkan dengan sia-sia, dan tidak ada pembelaan sedikitpun atas mereka, dengan perbedaan pendapat yang banyak sekali, namun kami telah mengawalinya dengan pendapat yang menjadikan kami tenang (dengan mengambil dalil/pendapat keumuman dan mayoritas ulama madhab).
Para ulama fuqaha berbeda pendapat juga tentang kaidah ushul ini yaitu dicabutnya perlindungan bagi orang kafir tanpa perjanjian secara mutlak, dan dihalalkannya darah,hartanya seluruhnya, namun perbedaan ini hanya terletak pada makna yang mendasar dalam memerangi mereka yang mana di jelaskan dalam hujjah Qawiyyah bagi orang kafir menurut hukum syar’ie, dijelaskan dengan sempurna (tidak ada kekurangan, tidak ada keraguan) mereka seperti babi atau anjing yang disembelih, tidak ada kehormatan/ kemuliaan bagi mereka, dan oleh karena itu semuanya itu menjadi balasan/hukuman yang jelas bagi orang kafir karena disebabkan pengingkarannya.
Di antara permasalahan: hukum orang kafir yang didapati oleh kaum muslimin (didalam negeri Islam) tanpa ada perjanjian keamanan baginya.
Berkata Ibnu Muflih –semoga Alloh merahmatinya- dalam syarah matan Al-Muqni : barangsiapa dari golongan orang kafir masuk kedalam negeri Islam tanpa jaminan keamanan, baik dia sebagai utusan, pedagang yang membawa barang dagangannya : dia dikembalikan ke negerinya, jika dia seorang mata-mata : Imam mempunyai pilihan terhadapnya seperti halnya orang yang asing, jika dia seorang yang tersesat atau dia tidak mengetahui arah tujuan sehingga menyampaikan ke tempat darul Islam maka ini menjadi kewajiban bagi orang yang menemukannya untuk menunjukan ketempat tujuannya. (Al-Imam Al-Kabir Imam Ahlu Sunnah Wal jama’ah, Ahmad bin Hambal rahimahulloh).

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 5


Dalam Kitab Al-Iqna, Kitab Fiqh AsySyafi’i: seperti penyembah matahari, bulan, zindiq yang mana mereka tidak berdin dengan din yang haq maka tidak ada jaminan keamanan bagi mereka. (Al-Iqna, 2/506).
Dalam Kitab Kasyaf al-Qina’, Kitab Fiqh Al-Hanabilah: adapun kafir harbi darah dan hartanya sia-sia.., adapun penyembah berhala dan kebanyakan yang tidak sampai kepada mereka Al-Kitab, tidak ada diyat yang diwajibkan kepada orang Islam yang telah memerangi mereka, tidak ada aman bagi mereka dan tidak ada ahd karena darah mereka sia-sia. (Kasyaf al-Qina’, 6/21, Al-Mughni, 8/314).
Telah dijelaskan pada pembahasan terdahulu dalam nash Al-Qur’an dan AsSunnah, pendapat para ulama dan para Imam mengenai pembahasan : bahwa kekafiran itu sebab hilangnya perlindungan, tidak adanya kehormatan baginya karena kehormatan dan kemuliaan tidak akan teguh kecuali dengan Islam. Maka tidak ada perlindungan dan kemuliaan kepada kekafiran kecuali orang-orang muslim menjaminnya.
Telah kami jelaskan pula seputar negeri-negeri secara syar’i: Negeri Islam dan Negeri Kafir Harbi tidak ada selain keduanya. Maka setiap negeri yang tidak terikat perjanjian ahd dengan negeri Islam maka negeri itu adalah negeri kafir harbi.

Para ulama fiqh (fuqoha) telah menashkan dan menjelaskan dengan gamblang khususnya mengenai perbedaan orang kafir dzimmi, kafir mu’ahad dan kafir musta’man maka selain ketiganya adalah kafir harbi.
Perkataan dari para Imam terdahulu (salaf) tentang pembahasan hadits tentang hukum qishash dan syarat-syaratnya, adapun agama Budha dan yang selainnya masuk pada pembahasan diluar pembahasan kafir harbi peperangan antara muslim dengan kafir namun agama Budha dan yang sejenisnya ini baik aman atau tidak aman tetap sia-sia (darah dan hartanya halal).
Pembahasan mengenai “Al-Musallamah” yaitu seorang muslim tidak boleh di qishash (hukum bunuh) karena membunuh seorang kafir harbi karena telah diketahui bahwa pembunuhan yang dilakukannya adalah ibadah, maka dimanakah akal ditempatkan bila ada orang yang sedang beribadah dibunuh???. (Al-Mughni al-Muhtaj, 4/16).
Para fuqoha telah mensyarah bahwa syarat qishash pada dasarnya adalah orang yang diqishash ialah orang yang terjaga dengan Islam secara mutlak. Berbeda apabila yang dibunuhnya adalah kafir harbi tidak diberlakukan hukum qishash kepada sipembunuhnya.

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 4


Dan jikalau keadaan orang kafir tersebut tersesat dijalan atau dibawa oleh hewan tunggangannya yang tidak tentu arah dan sampai masuk ke dalam daerah kekuasaan wilayah kaum muslimin maka seorang muslim yang menemukannya disuatu jalan boleh baginya untuk mengambil hartanya tanpa memeranginya.
Begitu juga bila seandainya orang kafir itu diusir oleh kaumnya lalu datang dengan hewan tunggangannya atau kendaraanya memasuki wilyah negeri Islam atau status orang kafir yang diusir itu seorang budak maka hukum dhohirnya tidak diambil hartanya walaupun sebanyak seperlima karena status orang yang terusir seperti halnya orang yang bebas.
Namun ada pendapat lain tentang hal ini, yakni hartanya halal sebagai fa’i bagi kaum muslimin karena fa’i adalah harta orang musyrik yang diambil orang muslim tanpa peperangan.
Pendapat lain tentang hal ini juga jika orang kafir tersebut telah memasuki negeri Islam maka yang berhak mengambil hartanya sebagai fa’i adalah seorang muslim yang pertama menemukannya. (Al-Mabda’u, 3/394, dan dibahas tuntas dalam Kasyaful Qina’, 3/108, lihat Ahkam Al-Quran karya Al-Jashshosh, 3/40 dan selainnya).

Berkata ibnu Qudamah-rahimahullah- : (barangsiapa yang menemukannya kecuali dalam keadaan darahnya terjaga maka tidak halal untuk memeranginya karena dirinya terjaga dengan sebab jaminan dari saudaranya yang muslim dan tidak dihalalkan bagi si muslim untuk memutuskan sesuatu dari dirinya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan (melepaskan jaminan keamanan kepada yang dijamin olehnya).
Jika dia mendapatkan darah yang halal maka halal untuk diperangi dan diambil hartanya. (Al-Kafi, 1/492).
Berkata ibnu Muflih semoga Alloh merahmatinya : jika dia tidak menemukannya kecuali darah yang halal seperti kafir harbi, pezina muhshan maka halal darahnya untuk ditumpahkan dan diambil harta dari tangan orang kafir harbi itu karena kehormatan mereka tidak ada atau sia-sia (Al-Mabda’u, 9/208).
Berkata Al-Mardawi semoga Alloh merahmatinya tentang pendapatnya jika seorang muslim tidak menemukannya kecuali darahnya halal seperti kafir harbi, pezina muhshan maka halal darahnya diambil hartanya dari si kafir harbi itu dan ini pendapat jumhur para sahabat. (Al-Inshaf, 10/376, pembahasan serupa di kitab Manar Assabil, 2/370, Kasyaf al-Qina, 6/199).
Dan diantara permasalahan yang lain
Pendapat ibnu Qudamah Al-Maqdisi semoga Alloh merahmatinya : jika seorang muslim atau kafir dzimmi memenggal leher orang kafir harbi lalu dia mengucapkan syahadat dan mati maka tidak ada tebusan dan tidak ada diyat bagi sipembunuhnya karena orang murtad dan kafir harbi yang dibunuh tersebut pada awalnya tidak terjaga darah dan hartanya. (Al-Kafi, fiqh Al-Imam Ahmad, 4/6).
Berkata Al-Kamal ibnu Al-Hamaam al-Hanafi semoga Alloh merahmatinya : tentang pendapatnya : jika orang kafir yang diperangi sebelum masuk Islam maka itu tidak disukai namun tidak mengapa memeranginya dan membunuhnya karena asal orang kafir adalah halal diperangi dan tidak ada diyat bagi yang membunuh orang murtad. (Syarh Fathul Qadir, 6/71).
Dan sebagian karangan-karangan dari kitab yg ditulis mengenai pembahasan permasalahan ini menurut pemahaman AsySyafi’iyah dalam kitab syarah Al-Muhadzab dikatakan : kewajiban untuk mengembaikan harta rampasan yang dicuri sebelum di bagikan begitupun juga melukai hewan ghonimah sebelum dibagikan walaupun seutas benang atau pakaian maka tidak ada kehormatan bagi pencurinya seperti tidak ada kehormatan bagi orang yang mati murtad dan kafir harbi.
Tambahan
Yang dimaksud orang karfi harbi adalah setiap orang kafir yang tidak ada perjanjian dan tidak ada jaminan keamanan baginya dari orang Islam.
Mereka berpendapat kafir harbi tidak mengandung arti khusus tetapi makna hukum maksudnya setiap orang kafir yang tidak ada baginya jaminan perlindungan dari seorang muslim.
Syaikh ibnu Taimiyah semoga Alloh merahmatinya berkata kafir harbi itu diwujudkan kepada setiap orang kafir pada asal hukumnya maka diperbolehkan untuk memperbudaknya seperti halnya boleh memeranginya. (Al-Fatawa, 31/380).
Berkata Al-Imam AsySyafi’i semoga Alloh merahmatinya :mengenai orang kafir yang terikat perjanjian secara dzat dan kedudukannya dia dilindungi dengan sebab perjanjian saja namun bila dia mengingkari dan
menentang perjanjian maka status dia adalah kafir harbi halal darah dan hartanya. (Al-Umm, 7/323).
Orang kafir harbi tidak diperangi dengan sebab ada perjanjian (ahd)
Telah lewat perkataan Al-Imam ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah semoga Alloh merahmatinya : orang kafir terbagi menjadi: kafir harbi, kafir ahd adapun kafir ahd terbagi tiga: kafir dzimmi, kafir mu’ahad atau ahli hudnah, kafir musta’man. (Ahkam ahlidzdzimmah, 2/873).
Maka setiap orang kafir yang tidak ada perjanjian dengan muslim baik dengan ahd, dzimmah atau aman maka dia harbi.
Berkata Imam AsySyafi’i semoga Alloh merahmatinya : Alloh telah mengharamkan darah orang yang beriman begitu juga hartanya kecuali dengan sebab yang mengharuskan ditegakkan hukum untuk menumpahkan darahnya dan mengambil hartanya. Telah dihalalkan darah dan harta orang kafir kecuali dia membayar jizyah atau aman. (Al-Umm, 1/264).
Maka orang kafir yang tidak terikat karena jizyah atau aman maka darah dan hartanya halal.
Al-Imam AsySyafi’i menyebutkan juga bahwa darah dan harta mereka halal sebelum masuk Islam atau sebelum perjanjian. (Al-Umm, 6/37).

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al- Muhajir. Bag. 2


Amma ba’du :
Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan kepada Islam, masuk Islamlah niscaya kamu akan selamat, Alloh akan memberimu pahala dua kali, namun bila berpaling bagimu dua urusan kejelekan, Alloh berfirman :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.(Q.S. Ali-Imran :64) (Al-Bukhori. 4/1657, 1658, Muslim. 3/1393-1396)
Dan sesungguhnya Al-Imam Al-Bukhori menerjemahkan hadits dengan perkataannya : Bab : ” Katakanlah, ”Wahai ahli Kitab marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang sama antara kami dan kalian ”agar tidak beribadah kecuali kepada Allah” Maksud سواء : tujuan (maksud)

Dan di terjemahkan olehnya di riwayat yang lain : Bab : Seruan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Islam, kenabian (Nubuwwah) dan agar jangan menjadikan mereka dengan yang lain Sebagai arbab dari selain Allah dan firmannya:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.(Al-Imran:79)
Dan di terjemahkan oleh Al-Imam Nawawi –rahimahullah- : Bab : Kitab Nabi Shallallahu Alaihi Wasalam Hiraklius untuk di seru memasuki Islam . (H.R. Muslim 3/1393)
Aku katakan : dan Hiraklius telah berkata : akan di sampaikan kekuasaannya apa yang di bawah kakiku (H.R. Bukhori 4/1658 Muslim. 3/1395)
Dan dari Anas – semoga Allah meridhoinnya – bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wasalam menulis surat kepada Kisra, Kaisar dan kepada Najasyi dan kepada setiap pembesar raja di serunya mereka kepada Allah Ta’ala, dan tidak ada selain Najasyi yang memasuki Diennya. (Muslim. 3/1397)
Dan dari ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam mengirimkan surat ajakan masuk Islam kepada Raja Kisra namun di tolak dengan keras. Kepada Raja Bahrain juga mendapat penolakan yang keras, tatkala di bacakan kepada Raja Kisra dia membakarnya. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasalam mengirimkan pasukannya untuk menyerang Kisro (H.R. Bukhori. 3/1074)
Dan ada tambahan oleh Al-Imam Bukhori –rahimahullah- tentang hadits : Bab. Dakwah kepada Yahudi, Nasrani, dan kepada mereka yang di perangi olehnya dan beliau (Nabi Muhammad) menuliskan pesan surat kepada Kisro, Kaisar, dan mereka di dakwahi sebelum di perangi (Fathulbari 8/127-128)
Dan hadits dari Al-Miswar bin Makrhomah : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam keluar kepada sahabat-sahabatnya lalu berkata : Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada manusia maka serulah mereka dan janganlah kalian menyelisihiku . Maka di utuslah Abdullah bin Hudjaifah kepada Raja Kisro, Salith bin Amru kepada Hudjaifah bin Ali bin Yamamah Ali bin Al-Hadhramiey kepada Al-Mundzier bin Saawiey dan Hajar, Amru bin Ash kepada jubair dan Ibad kepada Al-Jildani di Amman, wadahiyah kepada kaisar, Syuja’ bin wahb kepada ibnu Abi Syamr Al-Ghasaniey, Amru bin Amiyah kepada An Najasyi. Maka mereka semuanya kembali kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam kecuali Amru bin Ash .
Telah berkata ibnu Hajar –rahimahullah- ”di tambah dengan para sahabat Sir” bahwa telah di utus Al-Muhajir bin Abi Amiyah bin Al-Harits bin Abdil Kilali, Jariron kepada Dzi Al- Kialie Saaieb kepada Musailamah, Khotib bin Abi Balta’ah kepada Al-Muqauqis (Al-Fathu. 8/128)
Dan telah dinashkan oleh para fukoha dengan kesepakatan yang wajib (bukan sunat) tujuan memerangi semua orang kafir dengan pembunuhan dan peperangan di negeri mereka
Telah berkata Al-Kamal bin Al-Hamam -rahimahullah- ”Pembunuhan terhadap orang-orang kafir yang mana mereka tidak mau menyerah (masuk Islam) dan mereka dari golongan orang-orang musyrik Al-Arob atau mereka belum muslim dan tidak membayar jizyah dari kalangan mereka : wajib memeranginya walaupun mereka tidak mendahului dalam memerangi kaum muslimin karena kewajiban memerangi orang-orang kafir tidak di khususkan, mereka yang memulai terlebih dahulu untuk memerangi kaum muslimin” (Syarh Fathul Qadier 5/441, lihat Bidayatul Mubtadie :114, Al-Hidayah 2/153)
Berkata ibnu Rusyd : “ Adapun orang-orang yang mereka diperangi (irhab): maka yang menjadi kesepakatan bahwa mereka adalah semua orang-orang musyrik, sebagai mana Alloh berfirman : “Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dien ini hanya untuk Alloh”.(Q.S. Al Baqoroh : 193), (Bidayatul Mujtahid 1/279).
Dan berkata pula beliau : “Hanyalah orang-orang kafir itu diperangi diatas dien supaya mereka memasuki Islam tidak diatas keumuman. Bersabda Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang hak kecuali Alloh, maka jika mereka mengerjakannya maka terjagalah dariku darah mereka dan harta-harta mereka kecuali hak dari Alloh dan perhitungannya ada di sisi Alloh.(Al Muqoddimah Ibnu Rosyid).
Dan telah berkata ibnu Abdirrbar Rohimahulloh (Bab : Siapa saja yang diperangi dari kalangan ahli kafir sampai dia masuk kedalam Islam atau membayar jizyah dan hukum tentang memerangi mereka).
(Senantiasa diperangi seluruh ahli kafir dari golongan ahli kitab dan selain mereka dari Al Qibthi, Al Barok, Al Habasyah, Al Fazaariyah, As Shoqolabah, Al Barbar, Al Majusi, dan kebanyakan dari orang-orang kafir dari bangsa arab dan ajam mereka diperangi sampai mereka masuk Islam atau membayar jizyah dalam keadaan hina)
Dan dikatakan : tidak akan dikabul kan atau diterima jizyah kecuali dari ahli kitab dan majusi dari sebagian kebanyakan dari orang-orang kafir, dan tidak akan diterima dari mereka kecuali mereka memasuki Islam atau diperangi telah dijelaskan perdapat tersebut oleh jamaah dari pernduduk madinah, penduduk Hijaz, Irak, dan ini merupakan madzhab dari ibnu Wahb, dan ini merupakan pendapat Syafi’i.
Dan setiap orang-orang kafir yang menolak untuk memasuki Islam, menolak membayar jizyah maka dia dibunuh. (Al Kaafi, dalam Fiqh ahli madinah, hal. 207-208).
Telah berkata imam Asy Syaukani –rohimahulloh- adapun peperangan melawan orang kafir dan orang-orang kafir menderita kekalahan maka mereka diperintahkan untuk masuk Islam atau membayar jizyah (bila dia menolak masuk Islam) atau dibunuh bila menolak membayar jizyah maka perkara ini adalah perkara yang darurat dalam urusan dien. Dan inilah yang menjadi tujuan Alloh mengutus para Rosul-Rosul Nya, diturunkannya kitab-kitabnya, sampai Alloh mengutus RosulNya Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam kewajiban perintah ini diberikan kepada beliau, sedangkan kewajiban melaksanakan perkara ini adalah seagung-agung perkara dalam dien. Serta dalil dalam Al Quran dan sunnah yang mewajibkan untuk menyuruh orang-orang kafir untuk masuk Islam jika menolak dia harus membayar jizyah, jika menolak juga mereka harus dibunuh. Sangat banyak dalil yang memerintahkannya sedangkan perintah untuk menahan, sabar dari serangan orang-orang kafir sudah dihapus dengan kewajiban memerangi mereka semua sampai mereka masuk Islam, membayar jizyah atau dibunuh bersama ketika kaum muslimin mempunyai kemampuan, kekuasaan untuk memerangi mereka dan Negara. Akan tetapi di samping itu terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ahli fiqh seputar di tegakkanya kewajiban ini menyerang orang-orang di dalam negeri mereka pada umumnya : apakah di wajibkan minimal satu kali dalam setahun atau lebih? Cukuplah Alloh sebagai sebaik-baik wakil untuk memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.
Berkata Al-Imam ibnu Qudamah Al Maqdisi –Rohimahulloh Pasal : dan pendapat menyerang orang-orang kafir sekali dalam setahun : karena jizyah di wajibkan untuk di bayar oleh orang-orang kafir setahun sekali sebagai jaminan pembelaan bagi mereka dan tidak di tegakan jihad kepadanya. maka di wajibkan jihad pada tiap setahun sekali kecuali ada udzur seperti keadaan kaum muslimin. Yang masih lemah dari segi jumlah dan kekuatan atau bila keadaan kaum muslimin sedang membutuhkan kekuatan dari orang-orang kafir atau bila lemahnya kaum muslimin tersebut di sebabkan karna ada penghalang, tertimpa wabah kelaparan dan kehausan sehingga tidak mempunyai kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir dan mengambil jizyah dari mereka dalam keadaan tunduk atau dia mengetahui bahwa musuhnya lebih memilih Islam maka di dahulukan mengIslamkan mereka dan yang semisal dengannya dari maslahat bersamanya untuk meninggalkan jihad perang (Al-Mughni. 9/164)
Dan perkataan An-Nawawie –rohimahulloh – Al-Jihad : kadang merupakan kewajiban kifayah kadang juga merupakan kewajiban ain. Dan adapun pada hari ini terdapat dua bentuk : salah satunya bila di pastikan orang-orang kafir berada di dalam negeri-negeri mereka maka hukum memerangi mereka adalah kewajiban kifayah sehingga kewajiban kepada yang lain terbebaskan.
Kewajiban kifayah ini terbagi ke dalam dua keadaan:
Pertama: Bila Al-Imam yang menjaga perbatasan sudah mengirimkan sekelompok pasukan untuk memerangi orang-orang kafir.
Kedua: bila Al imam memasuki negeri kafir atau dengan tentaranya memerintahkan pada mereka, sedikitnya sekali dalam setahun mengadakan peyerangan kepada orang-orang kafir maka bila di tambah maka itu lebih utama.
Dan tidak diperbolehkan kosong dalam setahun tidak berperang atau mengambil jizyah kecuali bila ada madharat seperti keadaan kaum muslimin pada waktu dalam keadaan lemah untuk menghadapi musuh yang berjumlah banyak dan di khawatirkanan bila memulai penyerangan akan menderita kerugian di kalangan kaum muslimin atau bila keadaan kaum muslimin tertimpa bencana kelaparan dan kehausan sehingga kewajiban ini di tangguhkan sampai bencana ini lenyap . atau menunggu bantuan penambahan pasukan Islam maka di perbolehkan untuk meninggalkan peperangan (sampai alasan di atas terpenuhi) maka ini nash yang di jelaskan oleh Asy Syafi’i dan para pengikut madhabnya, semoga Alloh merahmatinya.
Telah berkata Al Imam : Pendapat yang dipilih dalam jalan ini adalah terdiri dari dua ushul pokok : bahwa mereka mengatakan bahwa jihad adalah kewajiban yang mendesak maka diwajibkan untuk menegakkan kewajiban jihad (perang) untuk mendapatkan kekuasaan (tamkin) sampai tidak ada yang tersisa sampai semuanya masuk Islam atau tunduk kepada hukum Islam dengan membayar jizyah sedangkan mereka dalam keadaan hina. Dan tidak di khususkan sekali dalam setahun untuk mendapatkan jizyah dan tidak mesti (mengambil dalam setahun satu kali) bila kekuasaan Islam telah bertambah, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para Fuqoha bahwa mempersiapkan kekuatan dan harta sebagai bekal prajurit Islam harus selalu bertambah seiring dengan bertambahnya kekuasaan Islam. Kemudian bila imam telah mempunyai kekuatan berupa tentara jihad maka jihad menjadi wajib “karena mendahulukan suatu perkara urusan yang penting maka itu menjadi wajib” (Roudhotut Tholibin 10/208-209).
Dan oleh karena itu, sudah menjadi keyakinan dan ijma dari seluruh kaum muslimin bahwa negeri kafir adalah negeri yang halal bagi kaum muslimin (untuk diambil harta dan darahnya) kecuali apabila status negeri mereka dan penduduknya dalam keadaan aman (terikat perjanjian)
Telah berkata Al Imam Asy Syafi’ie –rohimahulloh negeri mubah adalah negeri syirik dan membunuh orang-orang musyrik mubah (boleh) karena darah diharamkan dengan sebab keimanan baik orang iman tersebut berada di dalam negeri harbi atau negeri Islam.” (Al Umm. 7/350)
Telah berkata imam Al Jashos “Negeri kafir harbi adalah kekuasaan yang tidak sah (syar’i) sehingga negerinya adalah negeri mubah (boleh diambil darah dan hartanya)” (Ahkam Al Quran 4/76)
Telah berkata Al Kamal bin Al Hammamu –rohimahulloh “Bahwa negeri harbi adalah negeri mubah/halal (sehingga) tidak ada perlindungan bagi mereka” (syarah Fathur Qodier, 6/25 dan contoh semisalnya dalam juz 2/239, 6/21)
Telah berkata Asy Syaukani –rohimahulloh “Dan tidak samar lagi bahwa negeri kafir harbi adalah negeri mubah dikuasai tiap-tiap yang dimiliki olehnya sebagaimana penjelasannya akan datang baik dengan cara mengambil secara paksa atau penipuan tidak dibedakan antara pribadi, harta, orang, wanita, anak dari mereka (Sailul Jaror 4/53).
Karena keadaan darul harbi adalah negeri yang halal : asal yang di yakini oleh seluruh kaum muslimin muncul permasalah baru yang di perselisihkan mengenai seorang muslim yang terbunuh di negeri kafir harbi setelah diserang oleh pasukan Islam karena dianggap kafir apakah di wajibkan bagi yang membunuhnya (dalam keadaan tidak tahu yang dibunuhnya ternyata muslim) membayar diyat (tebusan) atau tidak ? ada dua pendapat yang berpendapat:
§ Maka jawaban dari pendapat yang pertama adalah: Telah berkata dalam kitab Al Mughnie Al Imam ibnu Al Qudamah, ”Tidak ada hukum Qishash baginya karena dia (pembunuh) terkena udzur dhahir”, bagitu juga tidak ada diyat baginya karena dia terhalang / terputus dari keharaman dengan sebab orang muslim yang dia bunuh berada di negeri kafir harbi yang merupakan negeri mubah, sama saja telah diketahui dia muslim berada di negeri kafir harbi atau tidak diketahui dia muslim, diketahui orangnya atau tidak.
§ Pendapat yang kedua : diwajikan membayar diyat namun didalam nya ada keraguan.
Maka aku berpendapat : hukum ini adalah hukum yang terus menerus berlaku (Sampai dakwah tersebar dan kalimat hukum ini adalah hukum yang terus-menerus berlaku (sampai dakwah tersebar dan kalimat tauhid tersebar merata, dan jihad memerangi orang-orang kafir terus berlaku hingga hari kiamat) sebagaimana yang di jelaskan oleh Rasulullah Shallallohu alahi Wasalam akan keberlangsungan jihad segala kebaikan sampai hari kiamat.”Pada ubun-ubun kuda itu tertambat segala kebaikan sampai hari kiamat, yaitu pahala dan ghanimah” .(H.R.Bukhori 3/1048, Muslim 3/1048 hadist dari Urwah bin Ja’d Bab dari ibnu Umar Anas dan selainnya)
Dan di (kuatkan) dengan berita turunnya Isa bin Maryam ‘Alaihissalam yaitu di kuatkan dengan hadits sebelumnya karena berita turunnya Isa ‘Alaihissalam sebagai pertanda hari kiamat (Tafsir Al-Qurtubhi. 2/350)
Permasalahan kedua : Tidak ada perlindungan kecuali dengan keimanan atau jaminan aman
Setiap orang kafir yang tidak di jamin keamanannya oleh orang Islam baik dan dzimah, (telah di sepakati oleh para imam bahwa ikatan dzimah dia seorang Yahudi, Nasrani dan Majusyi) hudnah (damai) atau jaminan keamanan (aman), maka tidak ada perlindungan pada darah atau hartanya, hukum adalah merupakan sebuah kebijakan Islam yang di tetapkan kaum muslimin dari abad keabad sebagaimana yang di tetapkan dalam Al-Quran Al-Karim dari kalangan salah seorang ahli ilmu dan catatan catatan mereka.
Dan telah dinashkan dengan shorih (telah disepakati oleh semua ulama atau ahli ilmu) yang tidak mengandung muhtamal (kemungkinan-kemungkinan) berupa takwil bahwa orang kafir tidak mendapat perlindungan.
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman :
بَرَاءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَسِيحُوا فِي الأرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ وَأَنَّ اللَّهَ مُخْزِي الْكَافِرِينَ وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
(1) (inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Alloh dan Rosulnya kepada orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka), (2) maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Alloh dan sesungguhnya Alloh menghinakan orang-orang kafir (3) dan satu maklumat (pemberitahuan) dari Alloh dan Rosulnya kepada umatnya pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Alloh dan Rosulnya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat maka itu lebih baik bagimu dan jika kamu berpaling maka ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Alloh. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih (Q.S. At Taubah. (9) : 1-3)
Ayat ini adalah bagian awal surat Al Baro’ah yang tidak diawali dengan bismillaah. Dan sungguh telah dikatakan (sesungguhnya aku meninggalkan tasmiyah di dalam surat ini turun berkenaan dengan dicabutnya rasa aman (kepada orang kafir) sedangkan bismillah memberikan keamanan) (Tafsir Al Baidhawie. 3/126)
Maka setiap kaum muslimin yang tidak memberikan keamanan/ jaminan keamanan kepada orang kafir (yang menyelisihi ajaran mereka) baik jenis mereka, tempat tinggal mereka (Negara mereka) baik dengan ‘ahd (perjanjian), dzimmah, hudmah atau aman, maka tidak ada perlindungan bagi orang kafir dan tidak ada jaminan keamanan baginya.
Telah berkata ibnu Jauzie -rohimahulloh telah berkata para ahli tafsir : Al Baro’ah yaitu : terputusnya perwalian, diangkatnya perlindungan dan hilangnya rasa aman (keamanan) (Zadul Masiir. 3/393, Ahkamul Quran oleh Al Jashash. 4/264).
Maka diyakini urusan / perkara orang kafir setelah turunnya surat Al Baro’ah ini kepada tiga macam :
1. Orang kafir harbi (yang di perangi)
2. Orang kafir yang terikat perjanjian (ahd) dan
3. Orang kafir dzimmi (dilindungi dengan sebab membayar jizyah)
Kemudian keadaan Ahlul Ahdi Wa Shulhi kepada Islam menjadi dua macam : orang kafir harbi (yang diperangi) dan orang kafir dzimmi dan dilihat darisegi Al Muharibunnya, mereka takut denganya terbagi menjadi tiga golongan yaitu muslim mu’min, orang yang menyerah dan dalam jaminan aman, orang yang diperangi” (Zadul Maad. 3/160)
Maka semua penduduk bumi bersama Islam terbagi menjadi tiga golongan tidak ada yang keempat :
· Golongan yang pertama : Ahli Islam (orang Islam)
· Golongan yang kedua adalah mereka yang tunduk, menyerah kepada Islam, mereka berdamai dengan jaminan dzimmah, hudmah (perdamaian) atau jaminan keamanan (aman)
Dua golongan diatas darah mereka dan harta benda mereka terjaga kecuali bila salah seorang dari mereka melakukan perbuatan yang menyebabkan darahnya menjadi halal atau hartanya dengan (diberlakukan kepadanya) hukum Islam (Syar’i)
· Golongan ketiga adalah mereka yang selain yang kedua golongan diatas yang berada dimuka bumi, maka setiap orang kafir yang hidup di muka bumi ini yang tidak tunduk kepada Islam (masuk Islam), dan tidak berdamai pelakunya (sikafir) baik dengan dzimmah, hudmah atau aman, maka dia termasuk kafir harbi tidak ada perlindungan baginya dengan mutlak yakni disebabkan karena suatu tujuan dari beberapa tujuan dan keadaan dari beberapa keadaan (disana terdapat macam-macam dari orang-orang kafir) yang diantaranya ada yang dilarang untuk memeranginya dikarenakan terjaganya darah dan kehormatannya sehingga haram untuk di tumpahkan – namun di dalamnya ada sebab yang menggugurkannya – insya Alloh penjelasanya akan dijelaskan dengan rinci.
Allah ta’la berfirman :
فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S.At-Taubah(9) :5)
Firman Alloh ta’la الْمُشْرِكِينَ = penjelasan dari yang berkaitan dengan hukum denganya. فَاقْتُلُوا = hukum yang menjadi sebab dari suatu pekerjaan yang disifati (musyrik). Ini menjadi illat (sebab) ditegakkannya hukum, maka (الُْشْرِكِ) = adalah sebab (alasan) yang diperintahkanNya memerangi mereka (sikafir).
Di kuatkan dan diperjelas dengan firmanNya setelah perintah untuk memeranginya.
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S.At-taubah :5)
Maka dhahir ini adalah perintah untuk memerangi dengan sebab kekafiran, kesyirikan. Bila mereka orang-orang kafir dan para musyrikin bertobat dengan memasuki Islam serta komitmen kepada hukum-hukum (Alloh dan Rasulnya), maka terlindunglah, tertahan mereka dari di perangi (فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ) : berilah kebebasan kepada mereka dan dalam ayat lain adalah : فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ : maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.(Q.S.At-Taubah(9)11)
Ayat-ayat berupa nash secara dhohir yang mencabut perlindungan terhadap orang-orang kafir yang tidak tunduk, menyerah kepada Islam (masuk Islam)

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 1


PERMASALAHAN TENTANG PEMAHAMAN JIHAD
OLEH: SYAIKH ABU ABDILLAH AL- MUHAJIR

BAGIAN I

SEPUTAR NEGERI-NEGERI YANG DIPERANGI

Barang siapa yang memutus hubungan ahlul islam yang dia ingkari (dari perkara islam) didalamnya atau dia mendebat (perkara-urusan) Islam maka dia kafir dengan kekafiran yang besar mengeluarkan dari Islam. Sudah menjadi keumuman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam diutus kepada manusia seluruhnya sampai Alloh memenuhi bumi ini dengan Islam.
Maka Rasul (yang membawa Islam) Muhammad sholawat dari Allah dan keselamatan untuknya untuk manusia seluruhnya bagaimanapun keadaannya kapanpun dimanapun ,telah di jadikan diennya sebagain dien penutup. Yang menjadi batu ujian  bagi umat sebelumnya. Yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam diutus kepada bangsa Arab dan Azam berkulit putih dan hitam. Dan setiap jenis dari manusia dari keturunan bani Adam, bahkan diutus pula kepada manusia dan jin di setiap zaman dan tempat. Tidak ada yang dikecualikan Alloh berfirman:

 

90. “mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat”. (QS. Al-An’aam: 90)
  • Alloh berfirman:
“dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS: Al-Anbiya: 107).
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS: Al-Furqaan: 1)
  • Alloh berfirman:
86.“Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku Termasuk orang-orang yang mengada-adakan.”
87. “Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam”. (QS: Shaad: 86-87).
  • Alloh berfirman:

 

51. “dan Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”.

 

 

52. “dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat”. (QS: Al-Qalam: 51-52).
  • Alloh berfirman:

 

26. “Maka ke manakah kamu akan pergi.
27. Al Qur’aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,
28. (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.
29. dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (QS: At Takwir: 26-29).
  • Alloh berfirman:

 

28. dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS: Saba: 28)
  • Alloh berfirman:
158.Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS Al- Araaf: 158).
  • Alloh berfirman:
19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS: Ali imran: 19).
  • Alloh berfirman:

 

85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS: Ali imran: 85).
Dan ayat-ayat dalam bab ini banyak sekali yang menerangkan tentangnya dalam kitab Alloh yang mulia.
Dan dalil dalam Assunah An Nabawiyah:
  • v  Dari jabir bin Abdillah –semoga Alloh meridhoinya- berkata: bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam aku diberikan ilmu yang tidak diberikan kepada salah satu dari kalangan para nabi sebelumku: aku ditolong untuk menggetarkan musuh sejauh sebulan perjalanan, dan telah di jadikan bagiku semua bumi sebagai masjid dan bersuci, maka dimanapun seseorang dari umatku hendak sholat maka sholatlah, dan telah dihalalkan bagiku barang rampasan (ghonimah), keadaan nabi terdahulu diutus kepada kaumnya khusus, sedangkan aku diutus kepada manusia seluruhnya, dan aku diberikan hak untuk memberikan syafaat (HR. Bukhari, 1/168).
  • v  Dan dalam lafadz Muslim: aku diberi lima yang tidak diberikan kepada Nabi sebelumku: setiap nabi diutus kepada umatnya khusus, sedangkan aku diutus kepada setiap yang berkulit merah dan hitam….(Al-Hadits) (HR. Muslim 1/371).
  • v  Dan dalam riwayat Abu Hurairah, semoga Allah meridhoinya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Aku diutamakan atas para nabi dengan enam: aku diberikan kepada seluruh perkataan (bangsa arab dan azam), aku di tolong dari rasa takut dari musuh,telah di halalkan bagiku ghonimah, telah dijadikan bagiku dunia/bumi sebagai tempat yang suci dan tempat bersujud, dan aku diutus kepada segenap makhluk seluruhnya dan ditutup kenabian olehku” (HR. Muslim 1/370)
  • v  Dan dari Ibnu Umar -semoga Alloh meridhoinya- berkata: bersabda Rasulullah Shallallahu Wa Sallam : aku diberi dengan lima yang tidak diberikan kepada nabi sebelumku: aku diutus kepada manusia seluruhnya yang berkulit merah dan hitam, aku ditolong dari rasa takut, dan ditanamkan rasa takut dari para musuhku terhadapku sejauh perjalanan satu bulan, aku diberi makan dari hasil barang rampasan (ghonimah). Dan telah dijadikan bagiku bumi sebagai masjid (tempat bersujud) dan bersuci, dan aku diberi hak memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat” (HR. Shohih : Al- Mu’jam al-kabier. 12/413, hadist yang di riwayatkan dari Ibnu Dzar ibnu Abbas, dan dari Ibnu Abi Umamah –semoga Alloh meridhoinya- lihat Shohih Ibnu Hiban (14/375) Al-Mustadrak (2/460) Musnad Ahmad (1/301, 5/248). Al Mujam al-kabier (8/257, 11/73) dan selain riwayatnya banyak dan telah di sohihkan oleh Al-hakim, Hadits Abu Dzar lihat Majmu Zawaid (1/261,8/259).
  • v  Dan telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam “dan demi jiwaku yang berada di tanganNya, tidak ada yang mendengar seruan dari ku salah seorang dari umat ini Yahudi, dan tidak pula Nashrani lalu mati sedangkan dia tidak beriman kepada apa yang diutus kepadaku kecuali dia termasuk penghuni neraka” (HR. Muslim, 1/134).
  • v  Dan telah di terjemahkan oleh An Nawawi tentang hadits dan yang semisalnya perkataan : Bab diwajibkannya / kewajiban-kewajiban iman dengan risalah nabi Muhammas Shallallahu alaihi wa sallam kepada segenap manusia dan di hapuskannya semua millah dengan millah (Muhamad). Telah berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah semoga Alloh merahmatinya : maka Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam utusan Alloh kepada segenap tsaqolain dari kalangan manusia dan jin, dari kalangan Arab dan Azam, yang berkuasa diantara mereka dan yang zuhud diantara mereka, dari kalangan wali dari kalangan mereka dan selain wali, maka tidak diperbolehkan salah seorang (diantara mereka) keluar dari mengikutinya secara bathin dan terang-terangan dan tidak boleh keluar dari mengikuti kepada apa-apa yang telah datang dari Al-kitab (Al-Quran) dan Assunah dalam perkara yang halus maupun yang agung, tidak pula dalam perkara ilmu dan tidak pula dalam amal. (Majmu Fatwa, 2/234) dan sebagaimana sudah menjadi sunatulloh (ketetapan Alloh) secara Qodariyah bahwa setiap dakwah yang telah lalu (dalam menyikapi) dakwah ini terbagi menjadi dua kelompok yakni: kelompok yang menerima dengan kelompok yang berpaling (menolak dakwah al-haq.pent).
Yaitu : kelompok orang-orang yang beriman dengan kelompok kafirin. Ujian dari Alloh dengan sebab karena dua kelompok ini sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Terbaginya makhluk manusia ini dihadapan dakwah dan risalahnya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Maka berimanlah sekelompok dari mereka  yakni: orang-orang Islam dan kafir sebagian sekelompok mereka adalah orang-orang kafir yang menyelisihi dari jenis mereka, warna mereka dan daerah/tempat mereka.
  • Berfirman Alloh:

 

36. dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS: An-Nahl: 36)
  •   Berfirman Alloh :

 

20. dan Sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. (QS. Saba: 20)
  •   Berfirman Alloh:

 

30. sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. Al-A’raaf: 30).
  • Berfirman Alloh:

 

2. Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. At Taghabun: 2).
  • v  Dan dari Jabir bin Abdillah –semoga Alloh meridhoinya- dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam sesungguhnya Alloh Ta’ala berfirman: “Dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam telah memisahkan antara manusia” (HR. Bukhori 6/2655). (dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam telah memecah belah manusia.)
Dan terbaginya manusia dengan adanya dakwah Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam yakni Muslimin dan kafirin : disimpulkan permusuhan antara dua kelompok.
  •   Alloh berfirman :

 

101. dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Annisaa’ :101)
  •   Alloh berfirman:

 

31. “dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS. Al-Furqan: 31)
  •   Alloh berfirman:

 

112. “dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’aam: 112).
  • v  Dan dengan disebabkan keyakinan inilah sehingga terjadi permusuhan antara kedua kelompok, sehingga orang-orang kafir menimpakan dengan apa yang mereka kuasai berupa kekuatan dan rintang penghalang terhadap orang-orang muslim dengan macam-macam tipu daya muslihat yang mereka lakukan dalam rangka melancarkan fitnah kepada dien mereka dan membantah dakwah Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam. Maka Alloh memerintahkan kepada RasulNya untuk pergi dari makkah – darul kafir – yang mana (pada waktu itu) orang-orang kafir kuat dan menang (berkuasa di makkah).
Dan hijrohnya ke Madinah memberikan keamanan (perlindungan) yang diberikan para pemuda Madinah kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan kekuatan dan perlindungan. Mereka berbaiat untuk membela (menolong) Islam – baiat perang- dengan segala apa-apa yang mereka mampu dari kekuatan yang datang dari mereka (dukungan) dari bangsa Arab dan Azam.
Maka merekapun hijrah ke Madinah, dengan membentuk (menyusun) kekuatan didalamnya secara mutlak. Maka terbentuklah daerah kaum muslimin secara khusus yang dengannya keberadaan mereka berbeda dengan yang lain, menashabkan kepada mereka dan menetapkan didalamnya hukum (aturan) bagi Dien mereka yang diridhoi Alloh, dan merekapun meninggikan kalimatnya dan mewajibkan atas semua kaum muslimin untuk berhijrah ke negri ini (Madinah) Yakni: Darul Islam.
  •   Alloh Ta’ala berfirman:

 

97. “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,” (QS. AnNissa’: 97).
  • v  Telah berkata Abu saud –semoga Alloh merahmatinya- merupakan penjelasan tentang keadaan orang-orang yang duduk-duduk dari hijrah (tidak berjihad) sehingga membekas pada sikap duduk-duduk dari berjihad (tidak berjihad). Keadaan mereka dikatakan sebagai orang-orang yang mendzalimi dirinya sendiri, begitupun juga meninggikan kewajiban hijrah. Dengan memilih untuk tinggal berdekatan dengan orang-orang kafir (Makkah) karena ketiadaannya dalam perkara Dien. Maka ayat ini diturunkan bagi orang-orang yang berada di Makkah yang memilih menyerahkan diri dan mereka tidak berhijrah ketika hijrah telah diwajibkan. (Tafsir Abu Saud, 2/222).
  •   Berfirman Alloh Ta’ala:

 

72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Anfaal: 72).
Telah berkata Al-Imam Ibnu Jarir –rahimahullah- yaitu perkataan dari firman Alloh yaitu orang-orang yang membenarkan Alloh dan RasulNya yang kaumnya orang-orang kafir, dan mereka tidak memisahkan diri dari negeri kafir kepada negeri Islam Wahai orang-orang yang beriman kepada Alloh dan RasulNya mereka berhijrah dari kaumnya orang-orang kafir musyrik,Negeri perang yakni dari pertolongan mereka…… yakni kaum mereka, dan tempat mereka dari daerah perang.
  • v  Dan diriwayatkan dari Buraidah – semoga Alloh meridhoinya – berkata Adalah Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam jika mengangkat seorang Amir (komandan) atas suatu pasukan atau sariyah, beliau memberinya wasiat secara khusus supaya bertaqwa kepada Alloh Ta’ala dan memperlakukan pasukannya dengan baik, lalu beliau bersabda: “Berperanglah dengan menyebut nama Alloh, di jalan Alloh, perangilah orang-orang yang kafir kepada Alloh: Berperanglah, jangan mencuri harta rampasan perang sebelum di bagi, jangan membatalkan perjanjian secara sepihak, jangan mencincang mayat musuh dan membunuh anak-anak jika kamu menemui musuh dari orang-orang musyrik, maka serulah mereka kepada salah satu dari tiga pilihan, pilihan mana yang mereak pilih maka terimalah dan tahanlah dirimu dari menyerang mereka. Serulah mereka kepada Islam, jika mereka memenuhi seruanmu maka terimalah dan jangan memerangi mereka, lalu serulah mereka untuk hijrah dari negeri mereka, ke negeri hijrah dan beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka melakukannya maka mereka memiliki hak seperti hak orang-orang yang hijrah (muhajirin) dan mereka mempunyai kewajiban sebagaimana kewajiban kaum muhajirin. Kalau mereka menolak maka serulah mereka untuk membayar jizyah. Kalau mereka menyetujui maka terimalah dan jangan menyerang mereka. Kalau mereka menolak, maka memohonlah pertolongan kepada Alloh dan perangilah mereka.”
Dan dengan demikian terbagi secara alami dalam melaksanakan perintah Alloh kedalam dua Negara : Negara Islam dan Negara kafir (yang membangkang perintah Alloh). Selain bahwa hijrah khusus ke Madinah telah terputus karena fathu Makkah, (dan sungguh telah bersabda Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam: “Tidak ada hijrah setelah futh” maksudnya karena darul Islam Madinah yang mana Makkah telah di taklukkan menjadi darul Islam). Dan tetapnya hokum hijrah secara umum ke darul Islam dari darul kafir  apa yang sudah tetap sebab-sebabnya karena keumuman dalil-dalil yang sudah lalu.
  •   Alloh berfirman:

 

30. “Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Araaf: 30).
  •   Alloh berfirman:

 

2. “Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. At Taghabun: 2).
  • v  Dan dari Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam : “ Sesungguhnya Alloh Ta’ala telah berfirman (dalam hadits Qudsi): “Dan Muhammad telah memisahkan (memecah belah ) antara manusia.” (HR. Bukhori, 6/2655).
Dan terbaginya penciptaan ketika dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam, Muslim dan kafir: di yakini bahwa permusuhan kedua belah pihak ini (nyata) adanya.
  •   Alloh berfirman:

 

101. dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Annisa: 101).
  •   Alloh berfirman:

 

31. dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.  (QS. Al-Furqan: 31).
  •  Alloh berfirman:

 

112. “dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’aam: 112).

 

  • v  Telah berkata Imam Ibnu Katsir –Rahimahulloh- tentang ayat 97 dari surat Annisaa’ : Ayat yang agung ini bersifat umum seruan bagi siapa yang menetap di negeri kafir namun dia tidak bias mengidharkan Syiar Islam sedangkan sebenarnya ia mampu berhijrah tapi tidak berhijrah maka dia dalim. Menetap di dalamnya adalah keharaman berdasarkan ijma dan nash ini.
  • ·         Dan dalam sabdanya : “tidak ada fathu melainkan dengan jihad dan niat” (HR. Bukhori, 3/1025, Muslim 2/986).
Telah berkata: Al-Hafidh Ibnu Hajar – semoga Alloh merahmatinya- Hukum hijrah ini tetap dalam hak nya siapa saja yang ingin melepaskan diri dari negeri kafir dan berkehendak untuk keluar darinya…
Dan sabdanya: “ Melainkan dengan jihad dan niat”. Telah berkata Atthibbii dan yang selainnya: maksud dari hadits ini mengandung konsekuensi menyelisihi hukum yang setelahnya karena apa yang sebelumnya, dan maknanya ialah: bahwa hijrah yang artinya berpisah negeri yang di maksudkan disini ialah hijrah ke Madinah telah terputus kecuali bahwa memisahkan diri disini disebabkan denga jihad dan niat yang kekal terus-menerus. Begitu pula pemisahan dengan sebab niat yang baik seperti perginya dari negeri kafir, keluar dalam rangka mencari Ilmu, dan pergi karena menjaga Dien dari fitnah.
  •   Telah berkata Ibnu Al- Arobi –Rahimahullah- Hijrah ialah ia keluar dari negeri harb (kafir) ke negeri Islam dan kewajiban ini merupakan fardhu pada jaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam dan terus menerus berlangsung setelahnya Karena khawatir atau takut terancam jiwanya (maka diwajibkan hijrah).
  •   Telah berkata Al-Baihaqi: (berkaitan) dengan hadits diatas bahwa terputusnya kewajiban hijrah bagi ahli Makkah (setelah fathu Makkah) dan bagi yang selainnya dari negerinya setelah adanya darul Islam yang aman. Adapun darul harbie (wajib hijrah) orang yang menyerah di dalamnya (dari kalangan muslim) karena disebabkan untuk menghindari fitnah terhadap agamanya (Islam) dan baginya apa yang menyampaikan dia ke negeri Islam (dengan perantara apapun yang menjadi perantara untuk bisa hijrah ke negeri Islam) maka wajib baginya untuk hijrah. (Assuan Al-Kubro, 9/17).
  •   Oleh karena itu secara dhohirnya terbagi kedalam dua negeri: Negeri Islam dan Negeri kafir harbie dan pembagian ini terus-menerus berlaku sebagaimana diketahui dari agama yang menjadi suatu kemestian.
  •   Telah berkata Ibnu Qoyyim –Rahimahullah- dari apa-apa yang mencakup dari hadits Buraidah yang telah lewat dari pemahaman Fiqh:
Dan diantaranya: mesti bagi mereka untuk pindah ke negeri Islam bila keadaannya bermukim dengan orang kafir (di dalam negeri kafir) sedangkan kaum muslimin dalam keadaan menyerah (tidak mempunyai kekuatan) sebagaimana keadaan pada jaman hijrah di jaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yaitu adanya negeri Islam (di madinah), maka tatkala penduduk beralih ke negeri Islam maka dia tidak boleh pindah darinya. (Ahkamun Ahlidz dzimmah, 1/88,89).
  • ·         Telah bersabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa sallam : Alloh tidak akan menerima amalan orang musyrik setelah Islam atau bergabung dengan orang musyrik.” (HR. Hasan. Al-Mustadrak, 4/643, Nasai shohih oleh Al-Hakim).
  • ·         Telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam: “Barang siapa yang berkumpul dengan orang-orang musyrik, dan tenang dengannya, maka dia serupa dengannya” (HR. Abu Dawud 3/93, Al-Mu’jam al-kabier, 7/251, hadits hasan, lihat Aunul Ma’bud, 7/337).
  •  Dan telah di terjemahkan oleh Al-Imam Abu Dawud –Rahimahullah- tentang hadits ini dalam bab: Tentang menetapnya/tetapnya di negeri/bumi syirik, apa yang mesti diperbolehkan bagi seorang muslim?
  • ·         Telah di sebutkan oleh Al-Majid Ibnu Taimiyah –Rahimahullah- hadits ini bersamaan dengan hadits yang lain dari hadits-hadits diterjemahkan dengan: Bab nyatanya (kekalnya)(teru-menerus) kewajiban hijrah dari negeri harbie ke negeri Islam, bahwa tidak ada lagi hijrah yang penduduknya telah Islam. (Nailul Author. 8/176)
  • ·         Bersabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam: “-demikian- tidak diperbolehkan kalian tenang bersama orang-orang musyrik, tidak boleh kalian bergabung dengan mereka, Maka barang siapa yang tenang dengan mereka dan bergabung dengan mereka, maka dia termasuk mereka.” (Hadits Hasan, Al-Mustadrok, 2/154, Al-Baihaqie, Al-kubro,9/142, Al-Mu’jam Al-kabier.7/217, dan hadits yang dikeluarkan oleh At Tirmidzie, 4/155, dengan lain sanad di shahihkan oleh Al-Hakim).
  • ·         Bersabda juga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam “Saya berlepas diri dari setiap muslim yang menetap di antara orang-orang musyrik” berkata para sahabat, “Wahai Rasulullah bagaimana ? bersabda beliau Shallallahu Alaihi wa sallam: kalian tidak melihat perapian mereka (kedua-duanya tidak saling melihat perapian). (Hadits shohih: Riwayat Tirmidzi, 4/155, Abu Dawud, 3/45, An Nasai. Al-kubro, 4/229, dan hadits Al-Baihaqi Al-kubro,8/131, 9/142), Al-Mu’jam al-kabier, 4/114).
  • ·         Dan dalam hadits: Sesungguhnya Alloh telah memisahkan dua negeri: Islam dan kafir, maka tidak boleh bagi seorang muslim bertempat tinggal dengan orang kafir (tenang bersama orang kafir) di dalam negeri mereka (kafir) sampai tidak melihat/ saling melihat perapian mereka, yang mana sebagian mereka saling melihat (bila bersama-sama) (Aunul Ma’bud. 7/219)
  • ·         Dan bersabda Nabi Shallallahu Alaihi wa sallam: “Hijrah tidak akan terputus sampai terputusnya taubat -3 kali- dan tidak akan terputus taubat sampai matahari terbit sebelah barat.” (shohih Ad Darimie 2/312, al-Baihaqi, Al-kubro. 9/17, Abu Dawud 3/3, Al-Bazzarie, 3/263, Ahmad, 4/99, Al-Mu’jam al-Kabier, 19/387).
  • ·         Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam: “hijrah tidak akan terputus selama orang-orang kafir masih diperangi.” (Shohih Ibnu Hibban, 11/207. Al-Baihaqie, Al-Kubro,9/17. AnNasai, Al-Kubro, 4/427. 5/216. Al-Mujam al-Ausath. 1/29, Ahmad 1/192, 5/270).
Maka yang nampak bahwa yang menjadi awal dari hukum Islam ialah terbaginya Alam – dalam hal penunaian/pelaksanaan perintah Allah – kepada dua negeri : negeri Islam dan negeri kafir harbie.
                Dan yang menjadi batasan (bagi umat muslim) disini ialah negeri Islam (Darul Islam).
        Telah berkata Ibnu al-Qayyim – Rahimahullah – telah berkata jumhur ulama : Darul Islam adalah tempat yang dijadikan tempat tinggal oleh kaum muslimin, dan dijaharkan di dalamnya hukum-hukum Islam, dan apa-apa yang didalamnya tidak dijaharkan hukum-hukum Islam maka bukan disebut negeri Islam (Darul Islam) dan bila tidak maka ini yang mendekati pemahamannya dengan keadaan Makkah yang belum menjadi Darul Islam dengan fathu Makkah.” (Ahkam ahlidzdzimmah. 2/728).
        Telah berkata Assarkhosi –Rahimahulloh- “dan negeri beralih menjadi negeri kaum muslimin bila menjaharkan hukum-hukum Islam.” (Bada’iul Shona’i, 7/130). (Syarh Assair al-kabir,5/2197).
Telah berkata Al-kasanie –Rahimahullah- tidak ada perbedaan diantara sahabat-sahabat kami bahwa negeri kafir beralih menjadi negeri Islam bila mengidharkan (menampakan) dari hukum-hukum Islam didalamnya. (Bada’iul Shona’i, 7/130).
        Adapun negeri kafir harbie:
Telah berkata al-Qadhie Abu Ya’la al-Hanbali –Rahimahullah- setiap negeri yang secara umum didalamnya ditegakkan hukum-hukum kafir selain hukum Islam: maka dinamakan Negara kafir. (al-mu’tamad dalam ushul Dien: 276).
Dan Syaikh Sulaiman bin Samhan –Rahimahullah- adapun pengertian dari negeri kafir: telah disebutkan oleh madhab al-hanbaliah dan selain mereka, bahwa tempat yang dijaharkan di dalamnya hukum-hukum kafir dan tidak di tampakan hukum-hukum Islam maka ini di sebut Negara kafir (Kasyfu al-Auham wal-Iltibas, 94).
Maka yang nampak dari apa yang merupakan pembatas ulama dari “negeri Islam” dan “negeri kafir harbie” bahwa yang menjadi manath hukum disini ialah bentuk hukum yang dinampakan di dalam negeri tersebut. Maka kapanpun hukum Islam ditegakan disana maka setatus negeri tersebut sebagai negeri Islam walaupun penduduknya yang bertempat tinggal disana mayoritas orang-orang kafir, dan kapanpun hukum kafir yang ditegakan maksudnya hukum yang ditegakan di dalamnya selain hukum Islam maka disebut negeri kafir harbie walaupun kenyataannya kebanyakan penduduknya muslim.
        Adapun tentang berubahnya negeri Islam menjadi negeri kafir harbie, maka dapat dikatakan: shifat dari suatu negeri bukan shifat yang menjadi kelaziman (kemestian) yang tetap baku, namun ia merupakan shifat yang dapat berpindah (berubah) maksud maknanya: bahwa negeri kadang-kadang bisa berubah dari shifat kepada shifat yang lain, maka bisa pada suatu waktu negeri kafir menjadi negeri Islam, begitu pula negeri Islam pada suatu waktu menjadi negeri kafir.
        Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahulloh- bahwa keadaan dari bumi ini yang sudah menjadi sunah kauniyah adanya darul kafir atau darul Islam atau Iman atau darul Assalam atau darul harbie atau darul taat atau maksiat atau darul mu’minin atau darul fasiqin. Shifat-shifat ini bisa berubah tidak tetap maka sungguh sebagaimana telah disebutkan dari shifat sebagaimana pula shifat dari seseorang pada dirinya dari kafir menjadi iman dan berilmu, dan demikian pula sebaliknya. (Al-Fatwa 27/45, lihat 18/282-284,27/143-144)
        Telah berkata Ibnu Qudamah al-Maqdisie -rahimahullah- dan kapan murtadnya dari penduduk suatu negeri dan dhahirnya/nampaknya didalamnya hukum-hukum mereka (hukum kafir). mereka beralih menjadi negeri yang harus diperangi, dirampas harta-harta mereka, ditawan anak-anak mereka setelah mereka murtad, dan Imam memerangi mereka, karena Abu Bakar –semoga Alloh meridhoinya- telah memerangi penduduk riddah dengan segenap para sahabatnya karena Alloh Ta’ala telah memerintahkan memerangi orang-orang kafir dalam Al-Qur’an  dan mereka (orang murtad) berhak untuk diperangi karena mereka telah meninggalkan agama (Islam) dan beberapa yang serupa dan seperti mereka (dalam perbuatan), dan murtadnya bersama mereka ialah : banyaknya kemurtadan yang ditimbulkan mereka.
Dan memeranginya adalah dengan membunuh yang mampu (baligh) dari mereka, berikut yang mengikuti mereka di belakangnya (penduduk = pengikut), membunuh yang terluka dari mereka, menjadikan harta mereka sebagai ghonimah, dan ialah dikatakan oleh Asy Syafii.
        Dan telah berkata Abu Hanifah : tidak beralih negeri kafir sampai terkumpul padanya tiga macam: Bila batas negeri kafir tidak berkumpul (jelas) keluar dari negeri Islam, orang Islam dan dzimmi tidak aman tingal di dalamnya, hukum-hukum kafir tegak di dalam negera tersebut (mendominasi).
        Telah berkata Ibnu Qudamah: dan bagi kami (pendapat kami) bahwa darul kafir didalamnya ada hukum: bila keadaannya darul harb sebagaimana telah terkumpul didalamnya sifat-sifat asli dari darul kafir ashli.
        Telah berbeda pendapat Abu Hanifah –rahimahullah- dari para pengikutnya diantaranya : Muhammad bin Al-Hasan, Abu Yusuf –rahimahullah-:
        Telah berkata Assarkhosi –rahimahulloh- dan dari Abi Yusuf dan Muhammad –rahimahullah Ta’ala- Bila mereka menampakan hukum-hukum syirik di dalamnya: maka statusnya menjadi Negara kafir karena nyatanya (kemusrikan didalamnya), kami menyebutkan Negara kafir (Karena kemusyrikan) disebabkan factor pendukung kekuatan yang mendukungnya. Maka bentuk yang Nampak didalamnya, hukum syirik bersamaan dengan kekuatan yang mendukung kemusyrikan maka (dengan sendirinya) menjadi negeri harbie, dan setiap bentuk yang nampak didalamnya hukum Islam, maka kekuatan didalamnya bagi kaum muslimin. (Al-Mabsuth,10/114).
        Telah berkata Al-Kasanie –rahimahullah- telah berkata Abu Yusuf dan Muhammad –rahimahullah- sesungguhnya Negara kafir itu dengan sebab nampaknya hukum-hukum kafir di dalamnya menurut pendapat keduanya. Pendapat kami: begitupun Negara Islam dan Negara kafir sebagaimana disandarkan pada Islam dan kafir karena dengan sebab ditampakannya Islam atau kafir didalamnya.
        Sebagaimana penamaan Surga sebagai negeri yang selamat (penuh dengan keselamatan) dan Neraka sebagai negeri yang penuh dengan kebinasaan. Karena keberadaan keselamatan (kesejahteraan) didalam surga, kebinasaan didalam neraka. Sedangkan ditampakan Islam dengan kekafiran dengan sebab ditampakannya hukum-hukumnya bila yang ditampakan didalamnya berupa hukum-hukum kafir maka Negara itu adalah Negara kafir. dan oleh karena itu Negara Islam dengan sebab ditampakannya hukum-hukum Islam didalamnya. Maka demikian pula negeri kafir dengan sebab nampaknya hukum-hukum kafir didalamnya. (Badaiul Shona’i , 7/130,131).
Dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Abidin al-Muhaqiq Al-Hanafie Masyur perkataan Abi Yusuf dan Muhammad, berkata –semoga Alloh merahmatinya- pendapatnya : Negara Islam itu tidak menjadi Negara kafir…..dst: maksudnya bila orang-orang kafir harbie menguasai negeri kami (negeri Islam) atau penduduk-penduduknya telah murtad sebagaimana penduduk Mesir, serta menyebarnya /meluasnya hukum-hukum kafir atau para ahludzdzimah telah membatalkan perjanjian dengan mereka menang/berkuasa di Negara mereka, maka dalam hal ini Negara Islam tidak menjadi Negara kafir harbie kecuali dengan memenuhi tiga syarat, (sebagaimana syarat-syarat yang telah disebutkan oleh Abu Hanifah rahimahullah).
Dan pendapatnya: dengan salah satu syarat ,tidak selainnya, yaitu menampakan hukum kafir dan ini Qiyas.
Dan jumhur Ahli ilmi dan para Imam bawa negeri Islam menjadi negeri kafir harbie dengan sebab nampaknya hukum-hukum kafir di dalamnya tanpa harus menyertakan syarat yang lain, dan perkataan ini telah diterangkan sebelumnya sebagaimana telah disebutkan bahwa sebab hukum dari status negeri adalah bentuk hukum yang nampak didalamnya tidak selainnya.
        Telah berkata Ibnu Hazm –rahimahullah- bahwa suatu negeri disandarkan setatusnya pada hukum (yang diberlakukan) didalamnya, dan kekuasaan yang menguasai negeri tsb. (Al-Muhalla ,11/200).
Berkata Asysyaukanie –rahimahullah- penjelasan dari kalimat maka apabila perintah-perintah dan larangan-larangan didalam negeri Islam dimana orang-orang kafir yang hidup didalamnya tidak bisa menampakan kekafiran didalam negeri Islam kecuali yang diidzinkan (oleh imam Negara Islam) maka status Negara ini adalah Negara Islam. Orang-orang kafir tidak bisa menampakan kekafiran karena mereka tidak mempunyai kekuatan.
(Assailul Jaror, 4/575).
Dan Syaikh Sulaiman bin Samhan –Rahimahulloh- berkata dalam baitnya :
        Telah ditanya Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh : “Apakah diwajibkan hijrah dari negeri muslimin yang berhukum didalamnya dengan hukum buatan manusia?
Maka dijawab oleh Syaikh –rahimahullah- Negara yang berhukum dengan hukum buatan manusia, maka bukan Negara Islam, wajib hijrah darinya, oleh karena itu bila telah nampak penyembahan pada berhala tanpa diragukan lagi maka wajib hijrah darinya, karena telah tersebarnya kekafiran dengan jelas.” (fatwa dan Risalah Syaikh Muhammad bin Ibrohim,6/188).
Aku berkata: pada hari dimana al-ubaidiyun di daerah Maghrib sampai Mesir dan mereka menashabkan pada Islam dan mereka menampakan syiar-syiarnya kekafiran, dan mereka meniadakan sebagian dari hukum-hukum syar’i. disepakati oleh para ulama ahli ilmu pada hari ini akan kekafirannya dan kemurtadannya.
  •  Telah berkata Adzdzahabie telah disepakati oleh para ulama Maghrib untuk memerangi bani Ubaid tatkala merajalelanya kekafiran yang meluas. Dan sungguh aku telah menyaksikan didalam perjalanan sejarah yang membuktikan sebagian mereka dengan sebagaian yang lain.
  •  Telah berkata Arroynie –rahimahullah- telah sepakat ulama-ulama Qurun : Abu Muhammad bin Abi Zaid, dan Abu Al-Hasan Al-Qobisiey, Abu al-Qosim bin Syiblun dan Abu Aliey bin Kholidun dan Abu Muhammad Atthobiqiey dan Abu Bakr bin Adzroh : mengenai keadaan bani Ubaid maka mereka adalah orang-orang Murtad, dan Zindiq. Keadaan mereka tergolong orang-orang murtad karena mereka menampakan perkara dari yang menyalahi syariat. Maka tidak ada yang tersisa dari mereka berdasarkan kesepakatan Ijma. Dan dari segi zindiqnya mereka disebabkan mereka menyembunyikan (syariat) atau menyembunyikan kebencian kepada syariat, maka mereka diperangi dengan sebab zindiqnya.
  •  Dan telah dituturkan oleh Al-Qodhi iyadh –semoga Alloh merahmatinya- bahwa memberontak (keluar) dari daulah Al Ubaidah: tidak ada perselisihan dari kalangan yang masyur kecuali Abu Maisaroh akan tetapi (mesti) mempersiapkan peralatan persenjataan di sela waktu-waktunya sesuai dengan kesepakatan para Al-Masyaik. (Kitab Al-Madaarik,(susunan), 2/20).
  •   Dan telah dituturkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai Negara mesir pada hari ini: dan telah sampai masanya bahwa Mesir didalamnya tersebar beberapa perkara Zindiq (kekafiran yang tersembunyi) dan kebid’ahan selama 200 tahun terus menyisakan (kezindiqan dan kebid’ahan) yang memadamkan cahaya Islam dan Iman sehingga para ulama berkata tentang Negara murtad,nifaq. Seperti negeri Musailamah al-kadzab. (Al-Fatawa.35/138,139).
  •   Meskipun kami telah menghitung kekafiran dari para ulama mereka bersama pengakuan mereka kepada Islam dengan pembicaraan yang panjang namun dari yang lain apa yang telah Nampak mengenai kisah bani Ubaid kekuasaan raja Mesir dan para pengikutnya dimana mereka mengaku sebagai keturunan ahli bait, mereka mendirikan sholat berjamaah memutuskan perkara hukum dan berfatwa. Ulama telah sepakat atas kekafiran mereka . dan mereka diperangi karena negeri mereka adalah negeri harbie wajib memerangi mereka walaupun penduduk mesir yang masih muslim tidak menyukai dan membencinya karena mereka berhukum kepada Ubaidiyin. Maka ini berkaitan dengan hukum pada Negara tsb dan para hakimnya).(Risalah-Risalah Syakhsiyah:220).
  •   Telah berkata Abu Syaamah –rahimahullah- telah disifatkan sebagian mereka tentang keadaan mereka didalam Qashidah yang diberi nama:
Yang awalnya:  kehidupan Mesir telah lepas dari kendalinya lalu mematikan kewajiban dan sunnah-sunnah.
  •   Telah berkata: Walaupun telah disepakati bahwa penguasa Islam memberi bantuan kepada Negara Mesir u/memerangi kelompok al-Bathiniyah yang dilaknat, namun mereka bangsa Mesir adalah sejelek-jelek musuh dalam Dienul Islam, dan keadaan mereka termasuk salah satu golongan orang-orang munafik yang menampakan permusuhannya tatkala tegaknya kerajaan-kerajaan Islam berupa kekafiran dan kerusakannya. Membela dari serangan orang-orang kafir adalah kewajiban. Kemudharatan yang di timbulkan oleh mereka (Mesir) lebih berat dari pada kemudharatan yang ditimbulkan oleh orang-orang kafirpada waktu belum adanya kemampuan u/menjihadinya (kitab Arraudhotain fie akhbari daulatain. 2/222).
  •   Dan telah jelas dari pembahasan yang telah lalu: bahwa suatu negeri disebut Negara kafir  yaitu disebut Negara yang harbie (diperangi) kecuali bila disana ada perjanjian antara penduduknya dari golongan kafir dan muslim. Makna negeri harbie: yaitu setiap Negara kafir yang tidak ada ikatan perjanjian antara keduanya.
  •   Dan telah lewat makna perkataan Ibnu Qudamah: dan pendapat kami bahwa negeri kuffur berdasarkan hukum (yang diterapkan) maka statusnya menjadi negeri harbie sebagaimana kalau bergabung didalamnya syarat-syaratnya atau darul kafir ashli. (Al-Mughnie, 9/24,25).
  •   Telah berkata Assarkhosiey –rahimahulloh- dari Abi Yusuf, dan Muhammad –rahimahulloh- Apabila mereka menampakan hukum-hukum syirik maka negeri mereka menjadi negeri harbie karena suatu kedudukan hanyalah disandarkan kepada kami (Muslim) dan kepada mereka (kafir) dengan pertimbanyan /ukuran kepada kekuatan dan kekuasaan maka setiap bentuk dhohirnya didalamnya ialah hukum syirik, maka kekuatan hukum inilah yang menjadi maudhu orang-orang musyrik, sehingga menjadi Negara harbie. Dan setiap bentuk dalam dhohirnya didalam berupa (penegakan) hukum-hukum Islam maka kekuatan bagi muslimin.
  •   Maka yang menjadi sebab hukum sebuah Negara disebut Negara kafir harbie, yaitu nampaknya hukum-hukum kafir didalamnya memerangi oran-orang muslim. Maka setiap negeri kafir adalah negeri harbie kecuali bila disana ada perjanjian antara penduduknya dengan penduduk kaum muslimin.
  •   Telah berkata Al-Mardawie –rahimahulloh- “setiap negeri harbie ialah : keberkuasaan hukum-hukum kafir didalam negeri tersebut.
  •   Fuqoha seluruhnya menamakan tanpa adanya perselisihan bahwa negeri kafir adalah negeri harbie : sesungguhnya(perkara) ini merupakan bangunan yang merupakan pokok berkaitan antara kaum muslimin dan kaum kafirin dimana saja keberadaan mereka, dan yang penting bahwa memerangi mereaka supaya mereka tunduk patuh ukum Islam. Maka setiap bumi dari tiap bumi semuanya hanya u/Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja bukan untuk orang kafir yang banyak berbuat dosa serta najis, dan Islam adalah dienNya (Alloh) yang mana Alloh tidak menerima dan tidak meridhoi dari selainNya maka tidak boleh bagi seluruh penduduk bumi ini kecuali mereka tunduk, patuh kepada hukum Islam atau mereka (kafir) tunduk (dengan membayar jizyah), Alloh berkehendak dengan hukumNya kepada siapa yang di tolak olehNya, dan Alloh menolak kepada siapa yang di tolak olehnya. (Alloh Maha berkehendak dengannya), dan barang siapa yang di ridhoiNya, dan barang siapa yang dimurkai olehNya maka dia mendapat tempat didalam Jahanam dalam keadaan susah.
  •   Telah berkata Ibnu Assamanie –rahimahulloh- sesungguhnya Islam sumber kemuliaan sedangkan Al-kufru sumber kehinaan (hawa nafsu) (fathul Barie, 12/262).
  •   Dan telah berkata Al-Imam Ibnu al-Qayyim –rahimahulloh- orang-orang kafir adalah : baik ahli harbie, baik ahli ahd, ahli ahdi terbagi menjadi tiga golongan : ahli dzimmah, ahli Hudnah, ahli aman.
  •   Maka setiap yang bukan masuk ke dalam golongan kafir ahli ahd bersama kaum muslimin maka termasuk ahli harbie mesti harus.
  •  Dan Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam menyiarkan /menyerukan dakwah dengan nasihat kepada para pembesar kerajaan dan para menteri-menterinya menyerunya supaya masuk kedalam Islam keharusan u/ tunduk/patuh/taat.
  •   Dari Ibnu Abbas –semoga Alloh meridhoinya- bahwa Abu Sufyan memberitakan : telah berlalu aku pada masa yang panjang antara diriku dengan Rasulullah Shallallau Alaihi Wa Sallam berkata : diterangkan kepadaku tentang pengiriman surat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sedangkan saya berada di Syam kepada Raja Hiraklius yaitu raja rum –berkata : keadaan Raja Hiraklius menolak seruan beliau dan begitu juga Raja Bashrohpun menolaknya.
Berkata: lalu diseru dengan surat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka dibacakanlah : dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang dari Muhammad utusan Allah kepada Hiraklius raja Rum yang agung. Keselamatan atas siapa yang mengikuti petunjuk.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.