Beranda » Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir

Category Archives: Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir

Masailul min Fiqih Jihad (permasalahan dalam Fiqih Jihad) Karya Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 09


Dan apabila kamu bertemu dengan musuhmu dari kalangan orang-orang musyrik maka serulah mereka kepada tiga perkara maka apa yang mereka terima maka terimalah mereka dan tahanlah tanganmu (tidak memerangi) mereka, kemudian serulah mereka untuk masuk islam jika mereka memenuhinya maka terimalah mereka dan tahanlah tanganmu kepada mereka.
Jikalau mereka menolak, maka serulah mereka agar menyerah dengan membayar jizyah, jika mereka menerimanya maka terimalah mereka dan jagalah tanganmu kepada mereka. Jika mereka menolaknya maka memohonlah pertolongan kepada Alloh perangilah mereka. (Al-Hadits) (Muslim.3/1357).
Ahlul ilmi dan para imam telah menunjukan bahwa hadits ini menjelaskan tentang kewajiban mendahulukan dakwah kepada Islam sebelum diperangi yang pada hakeatnya belum sampai pada mereka dakwah, dan para mushshanif menerjemahkan pembahasan ini didalam kitab-kitab Sunan dan atsar.
Al-Hafidz ibnu Hajar –rahimahulloh-: Pendalilan dalam sabdanya yang berbunyi ادعحم : (mempunyai makna) bahwa dakwah kepada Islam sebagai syarat diperbolehkannya peperangan. (Fathul Bari, 7/478).
Asysyaukani –rahimahulloh- berkata : dalam hadits tersebut terdapat dalil diwajibkannya mendahulukan dakwah Islam kepada orang kafir sebelum diperangi. (Nailul Authar, 8/53).
Al-Imam Al-Bukhari mengeluarkan hadits dari Anas dan ibnu Abbas –semoga Alloh meridhoi keduanya- mengenai syarat yang ditulis Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam kepada Raja Kisra dan Kaisar, dan diterjemahkan tentang keduanya dengan perkataannya (Al- Bukhari) : (Bab: dakwah terhadap Yahudi dan Nashrani, dan kewajiban atas memerangi mereka, dan mengenai apa yang Nabi Shallallahu Alihi Wa Sallam tulis kepada Kisra dan Kaisar, serta mendakwahi mereka sebelum memeranginya). (shahih al-Bukhari 3/1074).
Al-Hafidz ibnu Hajar –rahimahulloh- berkata : (petunjuk yang diambil dari hadits ini yakni Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam mengirimkan surat (seruan untuk masuk Islam) kepada Raja Kisra dan Kaisar sebelum mereka di perangi. (Fathul Bari, 6/108)
Al-Imam Al-Baihaqi -rahimahulloh- menerjemahkan mengenai hadits di atas dengan perkataannya : wajibnya mendakwahi mereka kepada Islam dari kalangan orang-orang musyrik, dan menyeru mereka yang telah sampai kepadanya dengan terang. (Assunan Al-Kubro, 9/106).

 

  • Dari ibnu Abbas –semoga Alloh meridhoinya- berkata: tidaklah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerangi suatu kaum kecuali menyeru mereka (terlebih dahulu kepada Islam). (Ahmad, Abu Ya’la, Hakim, Thabrani dengan sanad rijalnya dari rija shahih).
Adapun dalil yang memperbolehkan dakwah sebelum diperangi yang pada hakekatnya belum sampai dakwah pada mereka diantaranya:
  • Dari Sahl bin Sa’ad –semoga Alloh meridhoinya- bahwa dia mendengar dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda pada hari peperangan Khaibar : aku akan memberikan panji bendera ini pada seorang pemuda yang mana Alloh memenangkan Islam ini dengan perantaraan kedua tangannya, maka bangkitlah para sahabat mereka berharap siapa diantara mereka yang diberikan panji tersebut, maka mereka bersegera di pagi harinya dan berharap diantara mereka yang diberi panji tersebut, maka berkata beliau : “dimanakah Ali? Maka dikatakan (oleh para sahabat yang hadir) : “ dia sedang sakit mata, maka disuruhlah Ali agar menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Salam, maka diludahilah matanya dan berdoa untuknya oleh beliau sehingga hilanglah penyakitnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa beliau (Ali) (sembuh seketika tanpa bekas) kemudian panji-panji bendera itu diberikan kepada Ali. Lalu Ali berkata: Ya Rasulullah apakah saya wajib memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita (yakni masuk Islam)? Maka beliau bersabda : berjalanlah dengan perlahan-lahan (tidak tergesa-gesa) sehingga engkau datang di halaman mereka (perkampungan) kemudian ajaklah mereka untuk masuk Islam dan beritahukanlah kepada mereka atas perkara yang wajib dipenuhi. Demi Alloh, sesunggunya jikalau Alloh memberikan petunjuk dengan sebab usahamu akan seorang (seorang saja) maka hal itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta yang berwarna merah (Hr. Bukhari, 3/1077).
Telah diketahui bahwa orang Yahudi Khaibar yang telah sampai dakwah Nabi kepada mereka sedangkan mereka hidup pada jaman Nabi dan para Sahabatnya. Al-Imam Al-Bukhari –rahimahulloh- mengeluarkan hadits ini bersama hadits yang lain dalam bab: Seruan Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam kepada Islam dan kenabian, agar mereka tidak menjadikan sebagian mereka dengan yang lain sebagain arbab dari selain Alloh, sebagaimana Alloh berfirman:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًۭا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ
ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (QS. Ali-Imran, 3:79).
Secara dhahir ini menjelaskan tentang kebolehan mendakwahi siapa saja yang telah sampai dakwah kepada mereka namun tidak terkecuali kebolehan memerangi siapa saja yang telah sampai dakwah kepada mereka berdasarkan riwayat-riwayat yang banyak bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam meninggalkan dakwah pada sebagian negara yang diperangi, Shalawat dan Salam baginya.
Adapun dalil di syariatkannya peperangan sebelum ditegakkan dakwah Islam padanya adalah:
  • Dari Anas –semoga Alloh meridhoinya- berkata : (kebiasaan Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam apabila menyerang suatu kaum beliau tidak memeranginya sampai menunggu waktu subuh, apabila terdengar Adzan : beliau menahannya (tidak jadi menyerang mereka), apabila tidak terdengar adzan: beliau menyerang setelah subuh. (HR. Bukhari 3/1077).
  • Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajr –rahimahulloh- (dalil hadits diatas) merupakan dalil atas bolehnya memerangi siapa saja yang telah sampai dakwah padanya tanpa mendakwahi mereka terlebih dahulu, maka dikumpulkan dengan keterangan hadits Sahl yang sebelumnya, bahwa dakwah itu diperbolehkan namun bukan syarat wajib. (Shohih Muslim 3/1356).
  • Berkata Asy Syaukani –rahimahulloh- didalamnya (hadits diatas) terdapat dalil kebolehan memerangi mereka yang telah sampai dakwah kepada mereka tanpa mendakwahi mereka terlebih dahulu. (Nailul Authar, 8/69)
  •      Al Imam Al-Bukhari mengeluarakan Hadits dari Al-Baraa bin ‘Azib –semoga Alloh meridhoinya- tentang kisah Ightiyalat (pembunuhan senyap) terhadap Abi Rafi’ Al-Yahudi, Berkata Al- Baraa bin ‘Azib bahwa Rasululloh Shallallahu alaihi Wa sallam mengirimkan sekelompok orang dari kalangan Anshor kepada Abi Rafi’i, maka masuklah Abdullah bin Atik kedalam rumahnya pada malam hari dan Abdulloh bin Atik membunuhnya ketika dia sedang tidur (Al-Bukhari,3/1101).
Dan kisah ini menampakan kebolehan meniadakan dakwah sebelum di perangi, dan Al-Imam Al-Bukhari menjelaskan secara fiqih mengenainya dengan perkataan: Bab. Membunuh orang musyrik ketika sedang tidur. (Shahih Al-Bukhari, 3/1100).
  • Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar –rahimahulloh- dalil hadits di atas di ambil sebagai dalil bolehnya membunuh orang musyrik tanpa mendakwahi mereka terlebih dahulu walaupun sebelumnya bisa mendakwahi mereka terlebih dahulu sebelum diperangi. (Fathul Bari, 6/156).
  • Begitupun Al-Imam Al-Bukhari –rahimahulloh- mengeluarkan hadits dari jabir –semoga Alloh meridhoinya- dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam bersabda : “siapa yang bersedia membunuh Ka’ab bin al-Asyraf untuk saya? Muhammad bin maslamah saudara Bani Abdullah al-Asyhal berkata, “saya bersedia melakukannya untuk anda ya Rasulullah saya akan membunuhnya. “beliau berkata, “lakukanlah jika engkau mampu.” Ia berkata, “ya Rasulullah, kita mesti mengatakan. “beliau berkata,”katakanlah oleh kalian apa yang tampak bagi kalian, kalian bebas dalam hal itu,” (AL-Bukhari, 3/1103).
Al-Imam Al-Bukhari –rahimahulloh- menerjemakan hadits di atas dengan perkataannya: Bab. Membunuh orang yang mempunyai jaminan keamanan secara mendadak. (Shahih Al- Bukhari, 3/1103).
  • Dalil di atas menjelaskan bahwa dakwah sebelum peperangan bukan syarat, pembahasan bab. Al-Fatku dalam hadits diatas semata-mata karena kecemburuan karena iman (Ghiroh) (Mukhtar Shohah, 205).
  • Telah berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar –rahimahulloh- tentang kisah Ightlayat terhadap ibnu Al-Asyraf didalamnya terdapat kebolehan membunuh orang musyrik selain mendakwahinya apabila dakwah secara umumnya telah sampai kepadanya. (Fathul Bari, 6/156)
  • Telah berkata An Nawawi –rahimahulloh- hadits ini menunjukan bolehnya mengadakan Ightiyalat terhadap orang musyrik selain dakwah kepada Islam. (Syarh Muslim. 12/161).
  • Dari Ash-Sha’ab bin Jatsamah –semoga Alloh meridhoinya- berkata: Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai anak keturuan dari orang-orang musyrik yang terbunuh (dalam penyerang di malam hari) begitupun menimpa pada perempuan-perempuan musyrik dari mereka, dan anak keturunan mereka semua, maka beliau bersabda: mereka yang terbunuh karena termasuk golongan mereka, (Muslim 3/1364) (Muslim no.3281).
  • An Nawawi berkata: Makna “Al-bayt”, “Wayubaiytun” adalah penyerangan terhadap mereka pada malam hari yang mana tidak diketahui mana laki-laki mana perempuan dan anak-anak…
  •     Hadits diatas ; menjadi dalil diperbolehkannya penyerangan secara mendadak di malam hari (al-bayat) dan diperbolehkannya melakukan pernyerangan terhadap orang-orang yang sampai padanya dakwah walaupun sebelumnya belum diterangkan kepada mereka (karena umumnya mereka telah dianggap mendengar dakwah secara umum) (Syarh Muslim, 12/50).
  •       Dan dari Abi Utsman An Nahd salah satu kibarul At Tabi’in –rahimahulloh- berkata: kami memerangi mereka, maka kami mendakwahi mereka dan tidak mendakwahi mereka (terlebih dahulu) (Syarh Ma’ani Al-Atsar At Thahawi, 3/209 dan di shahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath, 6/109).
  •     Nash ini menjelaskan bahwa para sahabat mengerjakan 2 perbuatan ini (menyerang mereka tanpa mendakwahi terlebih dahulu sebelum diperangi.pent), dan ini pun menjadi petunjuk dalil bahwa dakwah bukan syarat dalam memerangi mereka ini pendapat dhahir.
  •      Dari Yahya bib Sa’id –rahimahulloh- berkata : tidak apa-apa menyerang musuh pada malam hari dan siangnya karena dakwah Islam telah sampai pada mereka, Rasululla Shallallahu alaihi wa sallam mengutus pasukan pada peperangan khaibar, mereka para sahabat membunuh para pemimpin mereka yang bernama Ibnu Abi Al-Haqiiqie yang telah melanggar perjanjian dengan muslim, dan memerangi pimpinan bani Lyhan yang melanggar perjanjian dengan muslim, Rasululloh mengutus sekelompok para sahabatnya untuk memerangi mereka yang lain hingga ke sisi Madinah dari kalangan Yahudi diantara mereka ada yang bernama ibnu Al-Asyraf. (Al-Madunatu al-kubro, 3/3).
  •      Dalam kitab Al-Mukhtashar Al-Khiraqi : Ahli kitab dan Majusi diperangi tidak diberlakukan dakwah atas mereka karena dakwah telah sampai pada mereka (Mukhtasar Al-khiraqi, 128).
Berikut Madhab (pemahaman) dari pendapat yang mewajibkan dakwah terlebih dahulu sebelum diperangi hanya berlaku pada awal dakwah Islam adapun setelah Islam menyebar luas ke pelosok dunia, maka tidak diambil pendapat yang mewajibkan dakwah terlebih dahulu yang menjadi syarat sebelum diperangi karena pada hakekatnya mereka telah mendengar dakwah Islam bersamaan penyebaran Islam di seluruh alam. Namun bila secara wujudnya dia belum mendapat dakwah Islam maka dia diseru sebelum diperangi.
  • Dikeluarkan oleh Muslim –rahimahulloh- dengan sanad dari ibnu ‘Aun, berkata : Aku menuliskan kepada Nafi’ dan aku bertanya kepadanya tentang seruan dakwah sebelum peperangan, berkata : maka dituliskan untukku : bahwa keadaan tersebut hanya berlaku pada masa awal Islam, karena Rasullulloh Shallallahu alaihi wa sallam telah memerangi bani Musthaliq, secara mendadak di saat mereka sedang lengah, yaitu ketika mereka sedang memberi minum binatang ternak mereka. Lalu terjadilah peperangan hingga dari mereka banyak yang terbunuh dan tertawan, dan pada hari itulah Juwairiyah binti Harits tertawan, “ Yahya berkata, aku kira dia mengatakan Juwairiyah atau anak gadisnya Al-Harits. Hadits ini di sampaikan kepadaku oleh Abdullah bin Umar, saat itu dia termasuk orang yang ikut berperang sebagai prajurit dalam pasukan. (Muslim, 3/1356).
  • Imam An Nawawi menerjemahkan denga perkataannya : (Bab: diperbolehkannya memerangi orang-orang kafir yang sampai padanya dakwah Islam tanpa mendahulukan dakwah terhadap mereka dengan menyerangnya ketika mereka lengah). (Shahih Muslim,3/1356).
  • Berkata An Nawawi –rahimahulloh- perkataan وهم غا رون Yakni huruf “Ghin” Al-Ma’jumah, di Syaddah “ra’” nya maksudnya : ketika mereka lengah lalai atau lupa. (Syarah Muslim, 12/36).

Dari Al-Hasan –rahimahulloh- tidak diberlakukan dakwah terlebih dahulu kepada bangsa Ruum karena dakwah Islam telah sampai kepada mereka

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. bag. 8


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “dan demi jiwaku yang berada ditanganNya tidaklah salah seorang mendengar dariku dari umat Yahudi dan tidak pula umat Nashrani lalu dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus kepadanya kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hr. Muslim, 1/134).
Maka setiap orang yang telah sampai kepadanya dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu dakwah kepada Din Alloh yang dia (Muhammad) telah diutus dengannya, namun dia tidak mengikutinya maka dia wajib diperangi sampai tidak ada lagi fitnah dan Din ini semuanya untuk Alloh. (Al-Fatawa, 28/349).
Dan mengenai hukum ditegakkannya dakwah
(dalam keadaan sebenarnya dan ketika berhadapan dengan musuh) (bada’iu ashshana’i karya. al-Kasani, 7/100, dan yang sejenisnya dalam kitab tuhfatu al-fuqoha, 3/293, 294) sebelum diumumkan peperangan kepada mereka terdapat perbedaan dari kalangan para ulama masyhur:
*Pendapat dari sebagian Imam yang mensyaratkan dakwah terlebih dahulu secara mutlak maksudnya merealisasikan dakwah kepada manusia yang sudah sampai atau belum sampai dakwah kepadanya kecuali dia masuk kepada Islam.
*Pendapat sebagian yang lain yang meniadakan sama sekali (mutlak) syarat untuk ditegakkan dakwah kepadanya, maksudnya dakwah tidak ditegakkan baik kepada orang yang sudah sampai kepadanya dakwah atau kepada yang belum sampai dakwah kepadanya sama sekali. (lihat : Fathul Bari’, 6/108-109, 7/478), syarah Annawawi dari hadits Muslim, 12/36) .
Dan pendapat yang benar dan masyhur adalah pendapat yang mengatakan dakwah wajib sebelum diperangi namun perkara mendakwahi kepada mereka yang belum sampai kepadanya dakwah Islam atau selainnya bersamaan adanya pendapat kebolehan mendakwahi mereka dahulu sebelum diperangi maka perkara ini tidak wajib.
Berkata Imam Nawawi -semoga Alloh merahmatinya- : (nash-nash ini pendapat dari Nafi’ pembantu ibnu Umar, Al-Hasan al-Bashri, Atstsauri, Laits, Asysyafi’i, Abu Tsauri, ibnu Mundzir, dan Jumhur. Berkata Al-mundzir : pendapat ini adalah pendapat dari kebanyakan ahli Ilmi, dan telah jelas dalam hadits-hadits shahih secara makna. (syarah Muslim, 12/36).
Aku (pengarang) berkata: adapun dalil-dalil yang mewajibkan dakwah ditegakan kepada orang yang belum sampai dakwah kepadanya diantaranya:
*Alloh berfirman,” dan tidaklah kami mengadzab mereka sampai Kami mengutus kepada mereka seorang rasul”. (Qs. al-Israa’, 17:15).
Berkata ibnu Rusyd -semoga Alloh merahmatinya- : (adapun syarat diperangi adalah bila telah tegak padanya dakwah sesuai kesepakatan Ulama, yaitu : tidak diperbolehkan memerangi mereka sehingga dakwah telah sampai terlebih dahulu kepada mereka,
demikian kesepakatan dari kaum muslimin berdasarkan firman Alloh dalam surat Al-Israa’, 17:15. (Bidayatul mujtahid, 1/282, lihat al-mabsuth, karya. Assarkhosi, 10/6).
Aku berkata: pendalilan ini merupakan dalil-dalil yang halus, demikian juga adzab yang Alloh timpakan kepada orang kafir secara menyeluruh lewat perantaraan tangan orang-orang yang beriman sebagaimana Alloh berfirman, ” perangilah mereka semua niscaya Alloh akan mengadzab mereka melalui perantaraan tangan-tangan kalian”. (Qs. Attaubah, 9:14).
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Alloh merahmatinya- : dan merupakan sunnatulloh bahwa ditimpakannya siksa kepada Orang-orang kafir kadang langsung dari sisiNya dan kadang pula dari sisi perantaraan tangan orang-orang yang beriman. (Ashsharim al-Maslul, 2/234).
*dari Buraidah -semoga Alloh meridhainya-, berkata: ( kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila memerintahkan kepada pemimpin pasukan atau sariyah (detasemen khusus): beliau selalu berwasiat khusus untuk senantiasa bertaqwa kepada Alloh, dan bersama dengan kaum muslimin dalam segala kebaikkan, lalu beliau berkata: “berperanglah kalian dengan nama Alloh, di jalan Alloh, perangilah mereka yang kafir kepada Alloh, berperanglah kalian dan janganlah berlebih-lebihan, jangan berkhianat (lari dari medan perang), jangan mencincang mayat, dan janganlah membunuh anak-anak.

Masailu Min Fiqh Jihad. Permasalahan dalam Fiqh Jihad. Karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 7


Permasalahan ketiga
Hukum-Hukum Mendakwahi Kafir Harbi.
Maksud dakwah disana: mendakwahi kafir harbi kepada Islam lalu membayar jizyah (disana terdapat perbedaan besar dalam penulisan yang semuanya dikembalikan kepada jizyah setelah mereka memenuhinya dari kalangan ahli kitab dan majusi, namun penerimaan jizyah ditolah dari golongan murtad, lihat Al-Mughni, karya. Ibnu Qudamah, 9/173-174, ahkamu liahlidzdzimmah, karya. Ibnu Qayyim, 1/87-111.
para fuqaha telah menashkan bahwa dakwah disana meliputi dakwah hakikiyah dan hikmiyah, adapun dakwah hakikiyah adalah dakwah dengan lisan sedangkan dakwah hikmiyah yaitu penyebar luasan dakwah ke timur dan barat dimana saja mereka bisa diseru dan dimana saja mereka diperangi dengan menegakkan kekuatan kepada mereka . (bahru raiq, 5/82, Syarh Fathul qadir, 5/445).
Adapun sifat dakwah hakikiyah maka kami katakan- akan kami datangkan nash-nash sharih dengan sifat dakwah ini:
Dalam kitab Kifayatuththalib: sifat dakwah adalah menyeru mereka untuk berpaling kepada Islam jikalau mereka memenuhi seruan Islam ini maka jagalah tanganmu dari mereka namun bila mereka menolak maka suruhlah mereka untuk membayah jizyah, jika mereka menolak bayar jizyah maka perangilah mereka, jika mereka menyerah maka perintahkan kepada mereka untuk tunduk kepada kekuasaan kami, jika mereka menerimanya maka tahanlah tanganmu dari mereka namun bila mereka menolaknya maka perangilah mereka seandainya mereka bisa didakwahi maka peperangan terhadap mereka dikecualikan. (Kifayatuththalib, 2/6, atstsamaru addin syarah risalah al-Qiruni, 1/412).
Berkata ibnu Rojab semoga merahmatinya berkata Malik: bila diwajibkan dakwah atasnya maka mereka hanya diseru kepada Islam secara umum tanpa menjelaskan kepada mereka tentang hukum-hukum syar’i kecuali apabila mereka bertanya tentangnya maka dijelaskan kepadanya, begitu juga mereka diperintahkan untuk membayah jizyah secara umum tanpa ada batasan dan tanpa penolakan dari mereka (wajib) kecuali mereka bertanya dengan sebab harus membayar jizyah maka dijelaskan kepadanya. (tarikh al-Iklil, 3/350).
Dan pendapat tentangnya: mereka orang kafir diseru untuk masuk Islam diberi jangka waktu 3 hari disandarkan kepada seperti halnya kepada orang murtad untuk bertobat, bila mereka memenuhi seruan Islam maka wajib menahan tangan atasnya karena darah dan harta bendanya telah terjaga dengan sebab masuk Islam atapun bila mereka memilih membayar jizyah maka wajib untuk menahan tangan atasnya juga, bila dia tidak mau memilih Islam atau membayar jizyah maka mereka diperangi dengan perbuatan dengan segenap macam perangkat perang untuk memerangi mereka (peralatan persenjataan). (al-fawakih addiwani, 1/396).
Adapun dakwah hikmiyah yaitu dengan merealisasikan
dakwah Islam supaya sampai terdengar oleh orang-orang kafir dengan berbagai jalan.
Alloh Ta’ala berfirman : katakanlah wahai Muhammad, siapakah yang lebih kuat kesaksiannya? katakanlah, “Alloh”, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Quran ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai Al-Quran kepadanya. Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa tidak ada ilah-ilah lain bersama Alloh?” Katakanlah, “Aku tidak dapat bersaksi, “Katakanlah, “Sesungguhnya hanyalah Dialah Alloh Robb Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dengan Alloh.” (Qs. Al-An’aam ayat 19).
Berkata As-Saadi maksud ayat pada kalimat “liungdzirokum bihi wa man balagho” pada ayat diatas: adapun “wa man balagho” adalah siapa saja yang telah sampai Al-Quran kepadanya maka dia telah terkena peringatan.
Dari Muhammad bin Ka’ab rahimahulloh: maksud “liungdzirokum bihi wa man balagho”adalah siapa saja yang telah sampai Al-Quran padanya maka dia telah menyaksikan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Berkata ibnu Zaid rahimahulloh maksud ayat pada kalimat “wa uhiya ilayya hadzal qur’an liungdzirokum bihi wa man balagho” adalah siapa saja yang telah sampai Al-quran padanya, maka aku (Muhammad) telah memperingatinya, firman Alloh “wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian semua” (Qs. Al-A’raaf ayat 158) maka barangsiapa yang telah sampai Al-Quran padanya maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memperingatinya.
Dari Hasan bin Shalih berkata: aku ditanya oleh Laits apakah seseorang bisa tidak terkena dakwah ? Aku berkata bahwa Mujahid mengatakan: dimana saja Al-Quran datang maka penduduknya telah terkena seruan dan peringatan lalu membacakan ayat diatas.
Dari Mujahid sesungguhnya dia berkata maksud kalimat “wa uhiya ilayya hadzal qur’an liungdzirokum bihi” maksudnya kepada orang Arab, “wa man balagho” maksudnya kepada bangsa ‘ajam yakni non arab.

Masailul Min Fiqh Jihad. Permasalahan dalam Fiqh Jihad. Karya. Asysyahid Abu Abdillah al-MUhajir. Bag. 6


Berkata Asysyaukani semoga Alloh merahmatinya : tentang Islam yang menjadi syarat ditegakkannya hukum qishash terlepasnya jaminan keamanannya (qishash) dengan sebab Islam. Berkata juga Al-Imam Syafi’i semoga Alloh merahmatinya: dihalalkannya darah mereka setelah tegak dakwah atas mereka. (Al-Umm, 4/219).
Addasuki semoga Alloh merahmatinya berkata: adapun kafir al-harbi tidak ada jaminan perlindungan atasnya, tidak ada diyat bagi yang membunuhnya. (Hasyiah Addasuki, 4/268). Maka yang jelas bahwa al-harbi adalah kafir yang tidak terikat baginya perlindungan Islam atau aman.

Telah lewat makna perkataan Annawawi semoga Alloh merahmatinya: adapun orang kafir yang tidak terikat perjanjian dengannya, dan aman maka dia tidak ada dalam jaminan dari diperangi apapun agamanya.(roudatu aththalibin, 9/259) . Maka penjelasan dari beliau bahwa orang kafir yang tidak berada dalam jaminan dari diperangi adalah orang kafir yang tidak ada perjanjian baginya dan tidak juga aman maka inilah yang dimaksud al-harbi. Dalam kitab Al-Iqna :ditumpahkan darah harbi walau dari kalangan anak dan perempuan dan budak dari jenis mereka, karena dalil Alloh,”maka perangilah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu menemukan mereka”. (Attaubah:5). Maka perhatikanlah perkataan walau dari kalangan anak dan perempuan dan budak.
Jelas yang dimaksud al-harbi itu adalah kafir yang tidak ada perjanjian aman bukan selainnya .
Telah lewat makna perkataan dari ahli Islam tentang halalnya darah kafir secara mutlak yang belum terikat perjanjian aman.
Telah berkata Imam Aththabrani semoga Alloh merahmatinya:mereka telah sepakat walaupun orang kafir itu melilitkan lehernya atau ketenggorokannya kain ka’bah atau dia bernaung dibawah pohon disekitar tanah al-haram maka dia belum aman dari diperangi bila dia belum terikat perjanjian dzimmah atau aman dengan kaum muslim.
(tafsir Aththabari, 6/61).
Berkata juga beliau :Ijma bahwa Alloh menghukum ahli harbi dari kalangan musyrikin diperangi mereka walaupun berlindung dibait al-Haram atau al-muqaddas di bulan haram dan selainnya. (tafsir aththabari, 6/61, 62).
Berkata ibnu Katsir semoga Alloh merahmatinya: telah dihikayatkan oleh ibnu Jarir ijma bahwa orang musyrik boleh diperangi bila tidak terikat aman walaupun dia berlindung dial-haram atau bait al-muqaddas. (tafsir ibnu Katsir, 2/576).
Berkata ibnu Qudamah al-Maqdisi semoga Alloh merahmatinya: begitupun bila dia murtad dari Islam lalu dia mumtani ke negeri kafir maka hilanglah jaminan nyawa dan hartanya halal, karena orang kafir asli tidak ada perlindungan didalam negerinya, begitupun murtad. (Al-Mugni, 9/20)
Berkata al-Imam Asysyaukani semoga Alloh merahmatinya :ketahuilah bahwa penjelasan tentang darul Islam dan darul Kafir mempunyai faidah yakni bahwa darul kafir harbi mubah darah dan harta sepanjang tidak ada perjanjian dengan kaum muslimin sedangkan harta dan darah kaum muslim terjaga dengan sebab Islam walaupun berada didalam negeri kafir harbi dan selainnya. (Sailu al-Jaror, 4/576).
Maka pikirkanlah penjelasan imam Asysyaukani yang sangat jelai antara muslim dengan kafir, keduanya darah dan harta muslimin terjaga walau didalam darul harbi dan selainnya sedangkan darah dan harta orang kafir halal didalam negaranya yang harbi dan selainnya.Sehingga jelas darah dan harta muslim terjaga dimana saja berada sedangkan darah dan harta kafir harbi halal dimana saja dia berada selama tidak terikat perjanjian dengan muslimin.
asySyaukani mengomentari juga atas perkataan pengarang hadaiq al-Azhar yaitu diperangi mata-mata kafir atau bughat.
Berkata juga beliau adapun darah orang kafir asalnya halal sebagaimana dalam ayat saif, maka apa gerangan dengan mata-mata terhadap kaum muslimin…Berkata juga berliau: adapun orang musyrik sama saja dia harbi atau bukan halal darahnya karena disebabkan musyrik. (Sailu al-jaror, 4/369).
Sebagai penutup ada permasalahan penting dan berguna dalam kisah perjanjian Hudaibiyah yaitu:berkata Abu Jandal dengan nada keras: wahai kaum muslimin apakah kalian akan meninggalkanku ditengah orang musyrik sedangkan aku melakukannya demi din! Maka bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:wahai Abu Jandal bersabarlan dan berharaplah untuk mendapatkan pahala Alloh, karena Alloh akan memberikan jalan keluar bagimu dan bagi orang-orang lemah sepertimu sungguh kita telah menandatangani perjanjian dengan kaum tersebut. Kita berikan perjanjian pada mereka sedangkan mereka memberikan janji Alloh kepada kita dan kita tidak mengkhianati mereka. Umar bin Khaththab berdiri menuju tempat Abu Jandal, berjalan disampingnya dan berkata:bersabarlah wahai Abu Jandal sesungguhnya mereka orang-orang musyrik dan darah mereka adalah darah anjing.” Umar pun mendekatkan pegangan pedang pada Abu Jandal, Umar bin Khaththab pun berkata: aku berharap Abu Jandal mengambil pedang itu lalu memukulkannya pada ayahnya yang masih musyrik kafir…”(al-hadits). (hadits hasan Hr.Ahmad, 4/325, Baihaqi al-kubro, 9/227, tarikh athThabari, 2/123, siroh nabawi, 4/287, lìhat Fathul Bari, 5/345).
Perhatikanlah ucapan Umar :darah salah seorang mereka adalah darah anjing, sedangkan rasulullah tidak mengingkari ucapannya ketika rasululullah mendengarnya, dalam keadaan muslim dengan kafir terikat perjanjian aman dan ahd maka apa gerangan wahai kaum muslim dengan orang kafir yang tidak ada ahd dan tidak ada aman!!! Perhatikanlah.

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 3


Lanjutan Masailul min Fiqh Jihad 3

Dan hadits-hadits yang membahas perkara ini sangat banyak Ibnu Abi Syaibah –rahimahulloh- telah menterjemahkan hadits ini dengan pendapatnya yakni:
( Mengenai perkara yang melindungi darah, dan dihentikannya pembunuhan atas pelakunya) (Mushshanif, ibnu Abi Syaibah, 5/556).
( Di terjemahkan juga olehnya dengan arti yang lain , yaitu : mengenai perkara yang menahan dari pembunuhan, dan apa perkara itu, dan perkara apa yang melindungi darah).(Mushshanif, ibnu Abi Syaibah, 6/481).
Dan An Nasai menerjemahkan dengan : (Bab diharamkannya darah). (Al- Mujtaba’,7/75).

Dan Ibnu Majah menerjemahkan dengan: (Bab: Ditahannya dengan perkataan/ikrar : Laailaaha illallah). ( Assunan,2/1295).
Dan Imam Addaruquthnie menerjemahkannya : (bab diharamkannya darah mereka, harta –harta mereka apa bila mereka bersaksi dengan dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat). (sunan Addaruquthnie, 1/231).
Dan para Imam yang menterjemahkan semisal di atas sangat banyak juga.
Dan Maimun bin Siyah telah bertanya kepada Anas bin Malik –semoga Alloh meridhoinya- berkata : Wahai Abu Hamzah apa yang mengharamkan darah dan harta seorang hamba?
Maka berkata (Anas bin Malik) : (barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Alloh, menghadap kepada kiblat kami (ketika sholat) sholat seperti sholat kami, memakan hewan sembelihan kami maka dia muslim, baginya mendapat haq sebagai seorang muslim, dan baginya kewajiban atas setiap muslim.) (HR. Bukhori, 1/153).
Telah berkata AsSarkhosi –rahimahulloh- bahwa syariat menetapkan perlindungan jaminan keamanan karena disebabkan hanya semata-mata dari harta dan nyawa (darah) bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wa sallam, “ maka apabila mereka mengerjakan maka terjagalah dariku darah dan harta mereka.” (Al-Mabsuth, 10/52, 105).
Berkata Ibnu Rusyd –rahimahulloh- : (Asal bolehnya harta disebabkan karena kekafiran, sedangkan keterjagaan dan jaminan ialah dengan Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam “…maka apabila mereka mengatakannya (dua kalimat syahadat) maka terjaga dari ku darah-darah mereka dan harta benda mereka.” (Bidayatul Mujtahid, 1/293).
Dan hadits dari Ibnu Umar –semoga Alloh meridhoinya- bersabda Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam, “ aku di utus menjelang hari kiamat dengan pedang sampai Alloh semata yang di sembah yang tidak ada serikat bagiNya, dan telah di jadikan rejeki ku di bawah naungan tombak , dan telah di jadikan terhina orang-orang yang menyelisihi perintahku, dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka.” (hadits hasan : Hr. Ahmad, 2/50,92, Mushanif Ibnu Abi Syaibah, 4/212, Syuabul iman, 2/75, lihat Al- Majmu, 5/ 267, 6/49), berkata Adzdzahabie dalam Assiyar, 15/509 : (Isnadnya baik), dan hadits di riwayatkan oleh Abi Hurairoh –semoga Alloh meridhoinya- lihat : Assiyar, 16/242).
Maka “kehinaan”. “kerendahan” dari orang kafir mencabut jaminan perlindungan, jaminan keamanan halalnya darah dan harta: hukum syarie ini diberlakukan bagi siapa saja yang menolak dan sombong u/ masuk ke dalam dienul Islam atau menyerah (dengan membayar jizyah)
Hadits dari Buraidah –semoga Alloh meridhoinya- berkata: apabila Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam memerintahkan seorang amir pasukan perang atau datasemen beliau memerintahkan amirnya agar bertaqwa kepada Alloh (begitupun juga kepada pasukannya) lalu berkata beliau : berperanglah denga nama Alloh, di jalan Alloh, perangilah siapa saja yang kafir kepada Alloh, berperanglah dan jangan melampaui batas, dan janganlah berkhianat (lari kebelakang), dan janganlah mencincang (memotong-motong mayat), dan janganlah membunuh anak-anak.” Maka bila kamu telah menjumpai musuh mu maka serulah mereka kepada tiga perkara jika mereka memenuhimu maka perkenankanlah (terimalah mereka) dia dan tahanlah tangan mu dari memeranginya, lalu serulah dan ajaklah dia masuk Islam, bila mereka memenuhi seruanmu maka perkenankanlah mereka dan tahanlah tanganmu dari memerangi mereka…. Bila mereka menolaknya maka suruhlah mereka agar menyerah dengan membayar jizyah kalau mereka memenuhinya maka perkenankanlah mereka dan tahanlah tangan kalian dari memeranginya, jika mereka menolak membayar jizyah maka memohonlah pertolongan dari Alloh lalu perangilah mereka…..” (Al-Hadits) (Hr. Muslim, 3/1357).
Dari Ibnu Abbas –semoga Alloh meridhoinya- berkata : Rasulullah shallallau alaihi Wa sallam bila mengirim pasukan-pasukannya berkata kepada mereka: “pergilah kalian dengan nama Alloh, berperanglah di jalan Alloh, perangilah di jalan Alloh orang-orang yang telah kafir kepada Alloh.” (Musnad Abu Ya’la, 4/422 : At Tamhid, 16/141).
Maka inilah Hadits secara dhohir di dalam hal tercabutnya perlindungan atas mereka, dan hilangnya kekafiran ini dengan Islam atau tunduk menyerah dengan membayar jizyah.
Telah berkata Al-Qurthubie –rahimahulloh- dhohir nash-nash diatas menggambarkan urutan-urutan atau tahapan-tahapan didalam memerangi orang-orang kafir dan syirik…
Sedangkan tahapan-tahapan inilah menjadi sebab hukum u/ memerangi mereka dan meniadakan sebab hukum yang lain (selainnya). (Adzdzakhiiroh, 3/387).
Telah berkata Al-Qorofie –rahimahulloh- disamping banyak penyebab ditegakannya jihad:
Sebab pertama: berdasarkan keberadaan aslinya yakni kewajiban asalnya yakni (jihad) ditegakan untuk menghilangkan kemungkaran berupa kekafiran karena kekafiran adalah kemungkaran yang terbesar, maka barang siapa yang mempunyai kesanggupan/kemampuan untuk menghilangkan kemungkaran maka ini menjadi wajib baginya. (Al- Furuq).
Dan inilah nash-nash dari para imam fuqoha atas halalnya darah dan harta bagi orang kafir yang tidak di jamin keamanannya oleh kaum muslimin secara mutlak.
Telah berkata Al-Imam Asy Syafi’I –rahimahulloh- “Alloh menjaga darah dan harta kecuali dengan haqNya. Yaitu dengan iman kepada Alloh iman kepad RasulNya atau perjanjian dengan beriman kepada Alloh dan rasulNya dari kalangan ahli kitab, dan pada umumnya darah dan harta menjadi halal ketika dia menolak dari keimanan kepada Alloh dan RasulNya bila baginya tidak ada ikatan perjanjian. (Al-Umm, 1/257)
Telah berkata Al-Qurthubie –rahimahulloh- “orang muslim bila bertemu dengan orang kafir yang tidak terikat perjanjian dengannya, dia (muslim) boleh membunuh orang kafir tersebut. Bila dia mengatakan laailaaha illallah maka orang muslim itu tidak boleh membunuhnya karena dia telah terjaga dengan jaminan keterjagaan dengan sebab Islam, tertahan darah, hartanya dan keluarganya (bila tunduk kepada Islam). (tafsir Al-Qurthubie, 5/338).
Telah berkata Al- Khathabie –rahimahulloh- orang kafir itu halal darahnya dengan sebab hukum dien sebelum tunduk kepada Islam (masuk Islam atau membayar jizyah). Bila dia masuk Islam maka terlindungilah darahnya sebagaimana darah kaum muslimin lainnya, bila seorang muslim membunuhnya setelah dia muslim maka diberlakukan hukum qishash. (Fathul Barie, karya Ibnu Hajar, 12/189).
Berkata Ibnu Qudamah –rahimahulloh- (begitu juga kalau mereka murtad (keluar dari Islam) dan meminta perlindungan kepada Negara kafir mereka (mumtanie) dari ketaatan kepada Imam muslim : maka lepaslah/gugurlah jaminan perlindungan kepada mereka dan harta benda mereka (boleh di ambil), karena orang kafir ashli pada asalnya tidak ada jaminan keamanan baginya kalau mereka berada di negaranya, adapun orang murtad sama tidak ada perlindungan).(Al-Mughnie,9/20).
Ijma para ulama telah menukilkan tentang halalnya darah orang kafir secara mutlak yang tidak ada jaminan aman baginya.
Telah berkata Al-Imam Aththabarie –rahimahulloh-: (“telah di sepakati bahwa bila orang musyrik walaupun mereka mengalungkan dan melilitkan lehernya dengan kulit-kulit pohon di sekitar tanah al-Haram walaupun sehasta tetap tidak ada jaminan keamanan atasnya dari pembunuhan atasnya apabila tidak ada perjanjian, dzimmah dengan kaum muslimin atau aman). (tafsir Aththabarie, 6/61)
Telah berkata juga Al-Imam Aththabarie –rahimahulloh- : telah di sepakati bahwa Alloh menghukumi dari kalangan kafir harbie musyrik, mereka diperangi walaupun mereka menyengaja mendatangi baitul al-Haram, bait al-Muqaddas pada bulan al-haram. (Insya Alloh penjelasannya akan di sampaikan mengenai hukum memerangi mereka pada bulan al-Haram)
Telah berkata Ibnu Katsier –rahimahulloh- telah di hikayatkan oleh Ibnu Jarir: ijma dari para ulama bahwa orang musyrik boleh dibunuh apabila tidak ada perjanjian aman baginya walaupun dia menyengaja ke bait al-Haram atau bait al-Muqaddas. (tafsir Ibnu Katsier. 2/6).
Oleh karena itu darah orang kafir yang tidak ada ikatan perjanjian : darahnya ditumpahkan (sia-sia), tidak ada perlindungan, tidak ditegakan keadilan atasnya. Pendapat ini dikumpulkan oleh pendapat para Imam ahlu Islam:
Dan menurut madhab Hanafi, telah berkata Al-Kasanie –rahimahulloh-: Qishosh hukumnya kembali kepada yang dibunuh.
Ketiga: terjaganya darah secara mutlak maka seorang muslim tidak boleh di bunuh dan tidak juga seorang kafir dzimmie karena di sebabkan membunuh kafier harbie, dan tidak di Qishosh karena membunuh orang murtad karena ketiadaan jaminan penjagaan terhadapnya pada asalnya, dan tidak di Qishosh juga dengan sebab membunuh pembesar-pembesar mereka, dan tidak di Qishosh pula karena sebab membunuh orang kafir harbie yang musta’mien dalam dhohirnya riwayat dikarenakan keterjagaannya (muslim) secara mutlak. Dan dikarenakan juga orang kafir musta’man dari penduduk kafir harbie hanyalah di perbolehkan memasuki negeri Islam dalam rangka untuk memenuhi kepentingannya saja setelah itu dia kembali pada tanah airnya dan keterjagaannya hilang setelah dia kembali. (Bada’iu Asshonaie, 7/235).
Dan berkata Ibnu Najm Al-Hanafi –rahimahulloh- mengenai syarat Qishash:
Diantaranya : keadaan orang yang dibunuh terjaga darahnya secara mutlak, maka seorang muslim tidak boleh dibunuh tidak juga kafir dzimmi disebabkan membunuh orang kafir harbie dan tidak di bunuh (Qishash) karena membunuh orang murtad karena pada asalnya tidak ada perlindungan bagi si murtad tsb. Dan tidak pula di sebabkan membunuh orang kafir musta’man di dalam dhohir riwayat karena keterjagaan darah secara mutlak terjaganya di sebabkan mereka berada dalam penjagaan/jaminan keamanan negeri Islam, telah di jelaskan pada pembahasan-pembahasan pada umumnya (pada bab Qishosh).(Al-Bahru Ar Ra’ieq, 8/328).
Menurut Madhab Al-Malikiyah.
Dalam kitab Syarh al-Kabier : (dan rukun Qishash : tiga; pezina sedangkan syaratnya bila dia telah terkena taklif, Al-Ishmah (asal terjaga darah dan hartanya), ada yang menanggung (bila dia di ganjar) terhadap keluarganya di tinggal, sedangkan yang di zinahipun ada hukumnya.
Adapun orang kafir al-harbi tidak dibunuh dikarenakan Qishosh akan tetapi ditumpahkan darahnya dengan sia-sia (halal ditumpahkan) karena asalnya ketiadaan jaminan keamanan terhadapnya…
Maka tidak boleh dibunuh seorang muslim walaupun dia seorang budak atau merdeka disebabkan membunuh seorang kafir…
Tidak ada Qishash kepada orang muslim yang telah membunuh seorang murtad dikarenakan hukum asal bagi orang murtad adalah tidak adanya jaminan perlindungan bagi dia, dan statusnya menjadi diperangi dengan sebab kemurtadannya sehingga di tegakan hukum bunuh baginya. (Asyarhu al-kabier 4/237,238).
Telah berkata Ad Dasuki didalam Al-hasyiah : (perkataannya disyaratkan taklif, Al-Ishmah maksudnya Iman atau aman…
Pendapatnya juga: Adapun kafir harbi tidak diberlakukan Qishash baginya, maksudnya: tidak ada penegakan hukum Islam atasnya (dengan Qishash) (yang ada ditumpahkan darahnya dengan sia-sia karena kaidah asal bagi kafir harbi ialah tidak ada jaminan keamanan baginya: sambungan dari penjelasan terdahulu). (Hasyiah Ad Dasuki, 4/237).
Dan telah berkata Ad Dasuki –rahimahulloh- begitupun juga : (Adapun kafir harbi : tidak ada baginya ikatan, tidak ada diyat (ketika membunuhnya). (Hasyiah Ad Dasuki ,4/268).
Menurut Madhab Asy Syafi’ieyah
Dalam kitab (Mughnie Muhtaj) : (di syaratkan diwajibkannya hukum Qishosh atau diyat pada jiwa yang dibunuh : “jaminan perlindungan ada dengan sebab Islam, sebagaimana dalam keterangan riwayat Muslim: “Aku di perintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Alloh maka apabila mereka telah melakukannya maka terjaga dariku darah mereka dan harta mereka kecuali dengan hakNya. Atau adanya jaminan aman sebab dzimmah atau ahd (perjanjian) atau aman sebagaimana di maksud dalam firman Alloh:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“perangilah mereka orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan kepada hari akhir dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan RasulNya dan tidak berdien dengan dienul yang haq dari kalangan orang-orang yang di beri al-Kitab sampai mereka membayar jizyah” (QS. At Taubah,9:29)
Dan firmannya :

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ

“dan jika diantara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah…” (QS. At Taubah, 9:6).
Apabila Islam dan aman menjadi syarat maka ditumpahkan darah orang kafir harbie dan murtad. Adapun perintah untuk memerangi orang kafir harbie dalam firman Alloh:

فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ
“maka bunuhlah orang-orang musyrik dimana saja kamu menjumpai mereka” (QS. At Taubah: 5).
Dan perintah untuk memerangi orang murtad, sebagaimana dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam “barang siapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah dia” (HR. Muslim). (Mughni al-Muhtaj, 4/14,15, dan yang membahas serupa lihat di I’anatu Aththalibien, 4/117).
Dalam kitab al-Iqna’ yang menjelaskan tentang syarat Al-Qishash: (yang kelima: asalnya dia terjaga baik karena iman atau aman (dzimmah atau ‘ahd) berdasarkan firman Alloh Ta’ala : “perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh..” (QS. At Taubah: 29) dan firmannya: “dan jika ada diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah” (QS. At Taubah: 6), maka ditumpahkan darah orang kafir harbie walaupun anak-anak, wanita, dan hamba sahaya karena firman Alloh Ta’ala: “maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu menemui mereka” (QS: At Taubah: 5).
Telah berkata Al-Bajirimie –rahimahulloh- dalam catatan kakinya: (pendapat tentang: ditumpahkan darah orang kafir harbie dengan sia-sia maksudnya : ditujukan kepada tiap-tiap mereka). (Hasyiah Al-Bajirimie, 4/136).
Telah berkata An Nawawie –rahimahulloh- : (Adapun orang kafir yang tidak terikat perjanjian, dan tidak ada jaminan keamanan baginya dari kalangan orang kafir, maka dia diperangi karena dien ini) (Raudhatu Ath Thalibien, 9/259).
Pendapat para pengikut Hanbaliah
Telah berkata Ibnu Qudamah –rahimahulloh- : (pasal: tidak ada Qishash bagi orang yang telah membunuh kafir harbie berdasarkan firman Alloh “ dan bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu mendapatkan mereka” (QS. At Taubah: 5)).dan tidak di Qishash pula orang yang telah membunuh seorang yang murtad, dikarenakan darahnya sama seperti kafir harbie…). (Al-Kaafi, Fiqh Al-Imam Ahmad, 4/7).
Telah berkata Ibnu Muflih –rahimahulloh- dalam penjelasan (Syarh) matan kitab Al-Muqni : (pasal kedua: tentang keadaan status keterjagaan orang yang di bunuh, maka tidak di Qishash orang yang telah membunuh seorang kafir harbie, dan tidak di qishash pula orang yang telah membunuh orang murtad…
Pasal: kedua tentang status yang dibunuh itu terjaga, maksudnya: terjaga darah karena qishash hanya diperintahkan untuk menjaga darah yang terjaga, berdasarkan kaidah: “mencegah dari kerusakan mengharuskan/menuntut untuk menjaga selamanya.” Begitupun juga dengan dihilangkannya dari selain yang harus di jaga (diberlakukan hukum qishash bagi yang terkena hukum asal terjaga darahnya, sedangkan yang asalnya tidak terjaga darahnya maka tidak diberlakukan qishash bagi orang yang telah membunuhnya, contoh: membunuh kafir harbie atau murtad, tidak ditegakan qishash bagi si pembunuhnya.red), begitupun juga bagi si pembunuh tidak wajib membayar diyat (tebusan = ganti rugi), tidak ada kaffarat bagi pembunuhnya, dikarenakan darah orang kafir harbie dan murtad halal (boleh ditumpahkan) secara mutlak seperti layaknya “babi” ! dan Alloh telah memerintahkan untuk membunuh mereka dengan firmannya : “maka bunuhlah orang-orang musyrik itu….” (QS. At Taubah: 5) baik yang membunuhnya itu seorang muslim atau dzimmi, begitupun juga tidak di berlakukan qishash bagi yang membunuh orang murtad Karena darah mereka sama seperti kafir harbie. ) (Al-Mabdi’u, 8/263, dan dijelaskan serupa dalam kitab kasyafu al-Qina’ 5/521).

Maka aku (pengarang) mengatakan, “perhatikanlah mubahnya darah orang kafir harbie dan murtad secara mutlak layaknya seekor babi.”!!!
Dan telah berkata Al-Imam al-Kabir ibnu Qudamah –rahimahulloh-: “tidak boleh di qishash seorang kafir dzimmie disebabkan membunuh kafir harbie, dan kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat tentang permasalahan ini dikarenakan mubahnya darah orang murtad dan harbi secara mutlak layaknya seekor babi, dan tidak ada diyat ketika membunuhnya, dan tidak ada kaffarat, dan tidak ada qishash bagi yang membunuh seorang murtad, tidak ada diyat, dan tidak ada kaffarat baik si pembunuh tersebut orang Islam atau kafir dzimmi.). ( Al-Mughnie, 8/221)
Berkata Ibnu Qudamah –rahimahulloh- “tidak ada perbedaan dalam permasalahan diyat antara kafir dzimmie dengan musta’man karena keduanya dijaga darahnya (di dalam darul Islam/perlindungan seorang muslim), kalau mereka dibunuh, adapun kafir harbie dan murtad tidak ada diyat bagi keduanya karena tidak adanya jaminan perlindungan bagi keduanya).( Al-Mughnie, 8/313, dalam dalil ( Ath thalieb, 1/290,291)).

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai penjelasan bahwa orang kafir selain mu’ahad tidak ada kemuliaan bagi secara mutlak, dan darahnya boleh di tumpahkan dengan sia-sia, dan tidak ada pembelaan sedikitpun atas mereka, dengan perbedaan pendapat yang banyak sekali, namun kami telah mengawalinya dengan pendapat yang menjadikan kami tenang (dengan mengambil dalil/pendapat keumuman dan mayoritas ulama madhab).
Para ulama fuqaha berbeda pendapat juga tentang kaidah ushul ini yaitu dicabutnya perlindungan bagi orang kafir tanpa perjanjian secara mutlak, dan dihalalkannya darah,hartanya seluruhnya, namun perbedaan ini hanya terletak pada makna yang mendasar dalam memerangi mereka yang mana di jelaskan dalam hujjah Qawiyyah bagi orang kafir menurut hukum syar’ie, dijelaskan dengan sempurna (tidak ada kekurangan, tidak ada keraguan) mereka seperti babi atau anjing yang disembelih, tidak ada kehormatan/ kemuliaan bagi mereka, dan oleh karena itu semuanya itu menjadi balasan/hukuman yang jelas bagi orang kafir karena disebabkan pengingkarannya.
Di antara permasalahan: hukum orang kafir yang didapati oleh kaum muslimin (didalam negeri Islam) tanpa ada perjanjian keamanan baginya.
Berkata Ibnu Muflih –semoga Alloh merahmatinya- dalam syarah matan Al-Muqni : barangsiapa dari golongan orang kafir masuk kedalam negeri Islam tanpa jaminan keamanan, baik dia sebagai utusan, pedagang yang membawa barang dagangannya : dia dikembalikan ke negerinya, jika dia seorang mata-mata : Imam mempunyai pilihan terhadapnya seperti halnya orang yang asing, jika dia seorang yang tersesat atau dia tidak mengetahui arah tujuan sehingga menyampaikan ke tempat darul Islam maka ini menjadi kewajiban bagi orang yang menemukannya untuk menunjukan ketempat tujuannya. (Al-Imam Al-Kabir Imam Ahlu Sunnah Wal jama’ah, Ahmad bin Hambal rahimahulloh).

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh jihad) karya. Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 5


Dalam Kitab Al-Iqna, Kitab Fiqh AsySyafi’i: seperti penyembah matahari, bulan, zindiq yang mana mereka tidak berdin dengan din yang haq maka tidak ada jaminan keamanan bagi mereka. (Al-Iqna, 2/506).
Dalam Kitab Kasyaf al-Qina’, Kitab Fiqh Al-Hanabilah: adapun kafir harbi darah dan hartanya sia-sia.., adapun penyembah berhala dan kebanyakan yang tidak sampai kepada mereka Al-Kitab, tidak ada diyat yang diwajibkan kepada orang Islam yang telah memerangi mereka, tidak ada aman bagi mereka dan tidak ada ahd karena darah mereka sia-sia. (Kasyaf al-Qina’, 6/21, Al-Mughni, 8/314).
Telah dijelaskan pada pembahasan terdahulu dalam nash Al-Qur’an dan AsSunnah, pendapat para ulama dan para Imam mengenai pembahasan : bahwa kekafiran itu sebab hilangnya perlindungan, tidak adanya kehormatan baginya karena kehormatan dan kemuliaan tidak akan teguh kecuali dengan Islam. Maka tidak ada perlindungan dan kemuliaan kepada kekafiran kecuali orang-orang muslim menjaminnya.
Telah kami jelaskan pula seputar negeri-negeri secara syar’i: Negeri Islam dan Negeri Kafir Harbi tidak ada selain keduanya. Maka setiap negeri yang tidak terikat perjanjian ahd dengan negeri Islam maka negeri itu adalah negeri kafir harbi.

Para ulama fiqh (fuqoha) telah menashkan dan menjelaskan dengan gamblang khususnya mengenai perbedaan orang kafir dzimmi, kafir mu’ahad dan kafir musta’man maka selain ketiganya adalah kafir harbi.
Perkataan dari para Imam terdahulu (salaf) tentang pembahasan hadits tentang hukum qishash dan syarat-syaratnya, adapun agama Budha dan yang selainnya masuk pada pembahasan diluar pembahasan kafir harbi peperangan antara muslim dengan kafir namun agama Budha dan yang sejenisnya ini baik aman atau tidak aman tetap sia-sia (darah dan hartanya halal).
Pembahasan mengenai “Al-Musallamah” yaitu seorang muslim tidak boleh di qishash (hukum bunuh) karena membunuh seorang kafir harbi karena telah diketahui bahwa pembunuhan yang dilakukannya adalah ibadah, maka dimanakah akal ditempatkan bila ada orang yang sedang beribadah dibunuh???. (Al-Mughni al-Muhtaj, 4/16).
Para fuqoha telah mensyarah bahwa syarat qishash pada dasarnya adalah orang yang diqishash ialah orang yang terjaga dengan Islam secara mutlak. Berbeda apabila yang dibunuhnya adalah kafir harbi tidak diberlakukan hukum qishash kepada sipembunuhnya.

Masailu Min Fiqh Jihad (Permasalahan Dalam Fiqh Jihad) karya Asysyahid Abu Abdillah al-Muhajir. Bag. 4


Dan jikalau keadaan orang kafir tersebut tersesat dijalan atau dibawa oleh hewan tunggangannya yang tidak tentu arah dan sampai masuk ke dalam daerah kekuasaan wilayah kaum muslimin maka seorang muslim yang menemukannya disuatu jalan boleh baginya untuk mengambil hartanya tanpa memeranginya.
Begitu juga bila seandainya orang kafir itu diusir oleh kaumnya lalu datang dengan hewan tunggangannya atau kendaraanya memasuki wilyah negeri Islam atau status orang kafir yang diusir itu seorang budak maka hukum dhohirnya tidak diambil hartanya walaupun sebanyak seperlima karena status orang yang terusir seperti halnya orang yang bebas.
Namun ada pendapat lain tentang hal ini, yakni hartanya halal sebagai fa’i bagi kaum muslimin karena fa’i adalah harta orang musyrik yang diambil orang muslim tanpa peperangan.
Pendapat lain tentang hal ini juga jika orang kafir tersebut telah memasuki negeri Islam maka yang berhak mengambil hartanya sebagai fa’i adalah seorang muslim yang pertama menemukannya. (Al-Mabda’u, 3/394, dan dibahas tuntas dalam Kasyaful Qina’, 3/108, lihat Ahkam Al-Quran karya Al-Jashshosh, 3/40 dan selainnya).

Berkata ibnu Qudamah-rahimahullah- : (barangsiapa yang menemukannya kecuali dalam keadaan darahnya terjaga maka tidak halal untuk memeranginya karena dirinya terjaga dengan sebab jaminan dari saudaranya yang muslim dan tidak dihalalkan bagi si muslim untuk memutuskan sesuatu dari dirinya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan (melepaskan jaminan keamanan kepada yang dijamin olehnya).
Jika dia mendapatkan darah yang halal maka halal untuk diperangi dan diambil hartanya. (Al-Kafi, 1/492).
Berkata ibnu Muflih semoga Alloh merahmatinya : jika dia tidak menemukannya kecuali darah yang halal seperti kafir harbi, pezina muhshan maka halal darahnya untuk ditumpahkan dan diambil harta dari tangan orang kafir harbi itu karena kehormatan mereka tidak ada atau sia-sia (Al-Mabda’u, 9/208).
Berkata Al-Mardawi semoga Alloh merahmatinya tentang pendapatnya jika seorang muslim tidak menemukannya kecuali darahnya halal seperti kafir harbi, pezina muhshan maka halal darahnya diambil hartanya dari si kafir harbi itu dan ini pendapat jumhur para sahabat. (Al-Inshaf, 10/376, pembahasan serupa di kitab Manar Assabil, 2/370, Kasyaf al-Qina, 6/199).
Dan diantara permasalahan yang lain
Pendapat ibnu Qudamah Al-Maqdisi semoga Alloh merahmatinya : jika seorang muslim atau kafir dzimmi memenggal leher orang kafir harbi lalu dia mengucapkan syahadat dan mati maka tidak ada tebusan dan tidak ada diyat bagi sipembunuhnya karena orang murtad dan kafir harbi yang dibunuh tersebut pada awalnya tidak terjaga darah dan hartanya. (Al-Kafi, fiqh Al-Imam Ahmad, 4/6).
Berkata Al-Kamal ibnu Al-Hamaam al-Hanafi semoga Alloh merahmatinya : tentang pendapatnya : jika orang kafir yang diperangi sebelum masuk Islam maka itu tidak disukai namun tidak mengapa memeranginya dan membunuhnya karena asal orang kafir adalah halal diperangi dan tidak ada diyat bagi yang membunuh orang murtad. (Syarh Fathul Qadir, 6/71).
Dan sebagian karangan-karangan dari kitab yg ditulis mengenai pembahasan permasalahan ini menurut pemahaman AsySyafi’iyah dalam kitab syarah Al-Muhadzab dikatakan : kewajiban untuk mengembaikan harta rampasan yang dicuri sebelum di bagikan begitupun juga melukai hewan ghonimah sebelum dibagikan walaupun seutas benang atau pakaian maka tidak ada kehormatan bagi pencurinya seperti tidak ada kehormatan bagi orang yang mati murtad dan kafir harbi.
Tambahan
Yang dimaksud orang karfi harbi adalah setiap orang kafir yang tidak ada perjanjian dan tidak ada jaminan keamanan baginya dari orang Islam.
Mereka berpendapat kafir harbi tidak mengandung arti khusus tetapi makna hukum maksudnya setiap orang kafir yang tidak ada baginya jaminan perlindungan dari seorang muslim.
Syaikh ibnu Taimiyah semoga Alloh merahmatinya berkata kafir harbi itu diwujudkan kepada setiap orang kafir pada asal hukumnya maka diperbolehkan untuk memperbudaknya seperti halnya boleh memeranginya. (Al-Fatawa, 31/380).
Berkata Al-Imam AsySyafi’i semoga Alloh merahmatinya :mengenai orang kafir yang terikat perjanjian secara dzat dan kedudukannya dia dilindungi dengan sebab perjanjian saja namun bila dia mengingkari dan
menentang perjanjian maka status dia adalah kafir harbi halal darah dan hartanya. (Al-Umm, 7/323).
Orang kafir harbi tidak diperangi dengan sebab ada perjanjian (ahd)
Telah lewat perkataan Al-Imam ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah semoga Alloh merahmatinya : orang kafir terbagi menjadi: kafir harbi, kafir ahd adapun kafir ahd terbagi tiga: kafir dzimmi, kafir mu’ahad atau ahli hudnah, kafir musta’man. (Ahkam ahlidzdzimmah, 2/873).
Maka setiap orang kafir yang tidak ada perjanjian dengan muslim baik dengan ahd, dzimmah atau aman maka dia harbi.
Berkata Imam AsySyafi’i semoga Alloh merahmatinya : Alloh telah mengharamkan darah orang yang beriman begitu juga hartanya kecuali dengan sebab yang mengharuskan ditegakkan hukum untuk menumpahkan darahnya dan mengambil hartanya. Telah dihalalkan darah dan harta orang kafir kecuali dia membayar jizyah atau aman. (Al-Umm, 1/264).
Maka orang kafir yang tidak terikat karena jizyah atau aman maka darah dan hartanya halal.
Al-Imam AsySyafi’i menyebutkan juga bahwa darah dan harta mereka halal sebelum masuk Islam atau sebelum perjanjian. (Al-Umm, 6/37).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.