Beranda » Al Ghuluw Fit Takfier (Halaman 4)

Arsip Kategori: Al Ghuluw Fit Takfier

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 10 Tidak Membedakan Antara Syi’ar-Syi’ar Kekafiran Dan Sebab-Sebabnya Yang Nampak Jelas Dengan yang belum cukup jelas untuk takfir


Dan di antara kekeliruan-kekeliruan yang sering terjadi dalam hal takfier juga adalah tidak membedakan antara syi’ar-syi’ar kekafiran dan sebab-sebabnya yang nampak jelas dengan sarana-sarana-sarana penghantar atau tanda-tandanya yang tidak cukup dengan sendirinya untuk memastikan pengkafiran.

Telah kami ketengahkan kepada anda bahwa Islam itu memiliki ciri-ciri khusus yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain, dan bahwa siapa yang menampakkannya maka hukum asalnya adalah Islam selama tidak nampak darinya pembatal keIslaman.

Kemudian ketahuilah begitu juga bahwa Islam memiliki tanda-tanda dan cirri-ciri yang banyak, walaupun dengan sendirinya tidak cukup untuk memastikan keIslaman (seseorang), akan tetapi ia menjadi bahan pertimbangan untuk hati-hati, tabayyun dan tidak tergesa-gesa di dalam takfier, penghalalan darah dan harta serta pembolehan ‘ishmah, karena ia adalah sumber dugaan akan keIslaman, dan di antara hal itu adalah:

(1). Ucapan salam: ia adalah qarinah dan salah satu tanda dari tanda-tanda orang islam, akan tetapi ia bukan bukti yang pasti akan keIslaman, karena banyak orang-orang kafir mengucapkannya, sebagaimana dalam hadits Anas yang muttafaq ’alaih: “Bila ahlul kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah: “Wa’alaikum” oleh sebab itu maka ia saja tidak cukup untuk memastikan status keIslaman, akan tetapi keberadaan tanda ini menjadi pendorong untuk bersikap hati-hati, tabayyun dan tidak tergesa-gesa dalam takfier dan bersegera untuk menghalalkan darah dan harta, sebagaimana yang diwasiatkan Allah tabaraka wa ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) dijalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan seorang mu’min “(lalu ia membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan didunia, karena disisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (An-Nisaa’: 94)

Allah Tabaraka wa Ta’ala melarang kaum mu’minin bersikap tergesa-gesa mengkafirkan orang yang menampakkan tanda ini, dan Dia mengajak mereka untuk meneliti keadaannya dan tidak bersegera menghalalkan darah dan hartanya. Bepergian di muka bumi adalah safar dan perang, maka ia adalah isyarat yang menunjukkan bahwa hal itu bukan di Daarul Islam. Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan yang lainnya meriwayatkan tentang sebab turun ayat ini dari Ibnu Abbas, berkata: Seorang laki-laki dari Bani Sulaim melewati sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sembari menggiring kambing-kambingnya, terus ia mengucapkan salam kepada mereka, mereka berkata: “Ia tidak mengucapkan salam kepada kita kecuali untuk melindungi dirinya dari kita.” Maka mereka mengejarnya terus membunuhnya, dan mereka datang dengan kambing-kambingnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka turunlah ayat itu.

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata: (Dan di dalam ayat ini ada dalil yang menunjukkan bahwa orang yang menampakkan suatu dari tanda-tanda Al-Islam tidaklah halal darahnya sehingga statusnya diuji, karena salam adalah tahiyyah kaum muslimin, sedangkan tahiyyah mereka pada zaman jahiliyyah berbeda dengan hal itu, sehingga ini menjadi satu tanda….) Hingga ucapannya (Dan dari apa yang saya sebutkan ini tidaklah mesti menghukumi keIslaman orang yang hanya mencukupkan atas hal itu dan (tidak mesti pula) memberlakukan hukum-hukum kaum muslimin atasnya, akan tetapi mesti ada pengucapan dua kalimah syahadat dengan rincian-rincian (perbedaan) di dalam hal itu antara ahlul kitab dengan yang lainnya, wallahu ta’ala a’lam). Dari Fathul Bari Kitabut Tafsir Bab 17

Dan di antara yang menguatkan bahwa tanda ini dan yang lainya yang bukan termasuk cirri-ciri khusus Islam tidaklah cukup untuk memastikan keIslaman seseorang, adalah apa yang dikeluarkan Al Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (1112) dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan 9/203 dari ‘Uqbah Ibnu Amir Al-Juhanniy “(Bahwa beliau melewati seorang laki-laki yang tampangnya tampang orang muslim, terus orang itu mengucapkan salam, maka ‘Uqbah membalasnya: Wa’alaikas salam wa Rahmatullahi wa barakatuhu,” maka budaknya berkata kepada beliau: Apa engkau tahu kepada siapa engkau menjawab salam? Beliau berkata: Bukankah dia orang muslim? Orang-orang berkata: Bukan, tapi dia itu nasrani, maka ‘Uqbah bangkit terus mengejar orang itu hingga bisa menyusulnya, terus berkata: Sesungguhnya rahmat Allah dan berkah-Nya adalah bagi orang-orang mu’min, akan tetapi semoga Allah memanjangkan hidupmu dan memperbanyak hartamu)[1]

Perhatikan bagaimana sang sahabat menjawab salam laki-laki ini, dikarenakan dia menampakkan dua dari tanda-tanda Islam, yaitu salam dan penampilan kaum muslimin, dan bersama ini ternyata orang itu bukan muslim. Begitulah halnya status tanda-tanda yang tidak mencapai tingkatan ciri-ciri khusus Islam.

Dan perbuatan sang sahabat ini tidaklah bermasalah karena hal itu terjadi di Daarul Islam, dengan dalil bahwa orang nasrani itu termasuk Ahlul Dzimmah sebagaimana yang bisa dipahami dari doa itu dan sebabnya, sedangkan hukum asal di Daarul Islam adalah engkau mengucapkan salam terhadap orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal sebagaimana dalam hadits (Mutaffaq ‘alaih) karena orang murtad itu tidak diakui hidup di sanadan dikarenakan berbedanya (penampilan) kaum muslimin dari yang lainnya di dalamnya. Dan bila sebagian kafir dzimmiy tidak membadakan (panampilan diri)nya dari kaum muslimin, maka terjadilah isykal seperti ini, dan tidak ada dosa di dalamnya atas orang muslim, karena ia berdiri di atas nash dan melakukan apa yang diperintahkannya.[2]

(1) Pemberian Nama Dengan nama-nama Islamiyyah seperti Muhammad dan yang lainnya.

Ini juga satu tanda yang menuntut orang untuk tatsabbut (teliti), hati-hati dan tidak bersegera melakukan takfier, namun demikian ia saja tidak cukup untuk memastikan keIslaman orangnya, karena banyak orang-orang kafir dan murtaddin bernamakan nama-nama kaum muslimin pada hari ini terutama setelah lenyapnya daulatul Islam dan berdirinya daulah yang melindungi riddah dan mengakui kaum murtaddin serta tidak mengharuskan orang-orang nashrani dengan sesuatupun dari syarat-syarat yang diberlakukan terhadap orang-orang kafir dzimmi yang mana mereka dilarang dari menggunakan nama-nama dan kunyah kaum muslimin di masa lalu. Adapun hari ini segalanya telah berbaur dengan perlindungan undang-undang kafir dan para arbabnya.

Sungguh saya telah mendengar dari sebagian orang yang belum dikaruniai anak dari kaum Nashara: orang yang bernadzar bila dikaruniakan anak akan dinamai Muhammad, terus mereka melakukannya.

(2) Penampilan Dhahir, berupa pakaian kaum muslimin, sorbannya atau jenggot.

Ini adalah qarinah-qarinah, akan tetapi tidak bisa memastikan (keIslamannya) karena banyak orang-orang kafir bersyerikat di dalamnya terutama jenggot, dan terutama ahlul kitab tidak memiliki pakaian khusus yang mereka diwajibkan komitmen dengannya sebagaimana keadaan mereka di Daarul Islam, namun bila kumpul jenggot dengan pakaian kaum muslimin dan ciri orang-orang yang saleh di antara mereka maka ia menjadi qarinah yang kuat.

Muhammad Ibnu Hasan Asy-Syaibani berkata dalam As Sair Al Kabir: (Dan bila kaum muslimin masuk ke dalam suatu kota kaum musyrikin secara paksa maka tidak apa-apa mereka membunuhi laki-laki yang mereka temui kecuali bila mereka melihat laki-laki berpenampilan kaum muslimin atau panampilan seperti orang-orang kafir dzimmi yang mendapatkan jaminan kaum muslimin. Maka dalam keadaan seperti ini mereka wajib tatsabbut dalam urusannya sehingga jelas bagi mereka status dia). Pensyarah As Sarkhasiy berkata: (Karena mengacu pada penampilan adalah suatu hukum asal pada suatu yang tidak diketahui hakikatnya, Allah ta’ala berfirman:

“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka” (Al Fath: 29)

Dan firmannya ta’ala:

“Kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya” (Muhammad: 30)

Beliau berkata: Dan kapan saja terjadi kekeliruan dalam pembunuhan, maka tidak mungkin diperbaiki, dan dalam penangguhannya hingga jelas statusnya tidaklah menelantarkan sesuatupun dari mashlahat kaum muslimin. Dan oleh sebab itu mereka seyogyanya tatsabbut dalam urusannya hingga jelas bagi mereka status dia. Ini dikarenakan penampilan itu di dalam keadaannya yang memiliki kemungkinan adalah tidaklah di lebih rendah dari berita orang fasiq, sedangkan Allah ta’ala memerintahkan kita untuk tatsabbut di sana, maka di sini adalah lebih utama } As Sair Al Kabir (4/1444)

(3) Melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, membantu orang yang susah, menolong orang yang didzalimi, serta memerintahkan kepada kebaikan dan akhlaq-akhlaq terpuji.

Sesungguhnya hal ini tidak khusus bagi kaum muslimin, namun ada pada banyak orang-orang kafir juga seperti yang sudah dimaklumi. Dari Ummu Salamah berkata: Saya berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Hisyam itu menyambungkan tali persaudaraan, menjamu tamu, membebaskan tawanan, memberikan makanan, andai ia ada sekarang tentu dia masuk Islam, apakah hal itu bermanfa’at baginya? Beliau berkata: tidak, sesungguhnya ia memberikan hal itu karena dunia, dia menyebutkannya dan memujinya, serta ia tidak pernah satu haripun mengatakan “Ya Tuhanku ampunilah kesalahanku di hari pembalasan”} Dikeluarkan oleh Ath Thabaraniy dalam Al Kabir dan Abu Ya’la.

Dan begitu juga dengan yang diriwayatkan Muslim dan yang lainnya dari hadits Aisyah bahwa ia juga bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Ibnu Jud’an, ia berkata: Dia pada zaman jahiliyyah menyambung tali persaudaraan dan memberi makan yang miskin, apakah hal itu bermanfaat bagi dia? Beliau berkata: Tidak, wahai Aisyah, sesungguhnya ia tidak pernah mengatakan seharipun “Ya Tuhan ampunilah kesalahanku di hari pembalasan”

Dan begitu juga Hadits Hakim Ibnu Hizam yang mutaffaq ‘alaih, bahwa ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Berikabar aku tentang hal-hal yang saya anggap ibadah yang saya lakukan pada zaman jahiliyyah berupa shadaqah dan memerdekakan, atau silaturrahim, apakah ada pahala di dalamnya? Maka beliau berkata shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau masuk Islam di atas kebaikan yang telah engkau lakukan”

Dan hal ini bisa disaksikan pada realita, karena pasti saja di antara orang-orang kafir ada orang yang mencintai akhlaq-akhlaq yang mulia dan berusaha menolong orang yang kesusahan. Dan organisasi-organisasi yang dalam istilah modern mereka namakan “organisasi kemanusiaan” banyak berada di tengah orang-orang kafir, ia berperan membantu orang yang membutuhkan, mendanai, mengobati, dan ihsan kepada yang cacat meskipun berbagai macam tujuannya. Ini saja tidak cukup untuk memastikan keIslaman, meskipun orang Islam adalah lebih utama dengan akhlaq yang terpuji, oleh sebab itu ia tergolong tanda-tanda keIslaman.

Kesimpulannya: Sesungguhnya tanda-tanda ini dan yang lainnya tidaklah sampai pada ciri-ciri khusus bagi kaum muslimin saja dan mereka berbeda dengannya dari yang lainnya, meskipun ia saja tidak cukup untuk memastikan keIslaman (orang) di payung kondisi jahiliyyah modern yang segalanya bercampur baur, terutama dengan keberaddan legalitas undang-undang buatan terhadap kemurtaddan, perlindungannya terhadap kaum murtaddin dan tidak diharuskannya ahlul kitab dengan pakaian khusus, bahkan justeru banyak kaum muslimin tasyabbuh dengan orang-orang kafir, akan tetapi ia menghalangi dari sikap tergesa-gesa terhadap takfier. Ia pendorong untuk tatsabbut, hati-hati dan tidak cepat menghalalkan darah dan harta. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat:

“Maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: “kamu bukan seorang mu’min” (An-Nisaa’: 94).

Ibnu Jarir Ath Thabariy ((maka telitilah)), beliau berkata: hati-hatilah dalam membunuh orang yang statusnya isykal atas kalian, kalian tidak mengetahui hakikat keIslaman dan kekafirannya, janganlah tergesa-gesa terus kalian membunuh orang yang statusnya samar atas kalian, dan janganlah memberanikan membunuh seseorang kecuali atas membunuh orang yang kalian telah ketahui secara meyakinkan memerangi kalian dan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya). selesai

Sehingga setelah ini semua mungkinkah kami mengatakan bahwa tanda-tanda ini saja tidak cukup untuk memastikan keIslaman, akan tetapi ia adalah memberikan praduga keIslaman. Orang yang menampakkannya lebih dekat kepada keIslaman daripada kekafiran, karena Allah Ta’ala telah memerintahkan kita dalam hal seperti itu untuk tidak mengkafirkannya, akan tetapi Dia subhanahu wa ta’ala mengajak kita di dalamnya untuk tabayyun, karena ia adalah tanda-tanda keIslaman yang tidak qath’iy dan bukan seperti ciri-ciri khusus yang khusus bagi ahlul Islam, dan seandainya ia seperti itu tentulah kita tidak butuh pada tabayyun dan tatsabbut.

Bila engkau telah mengetahuinya, maka pada hal sebaliknya ketahuilah bahwa kekufuran juga memiliki syi’ar-syi’arnya yang jelas yang merupakan ciri-ciri khusus orang-orang kafir dan kekafiran-kekafiran mereka. Dan ia tergolong sebab-sebab takfier yang nyata yang menunjukkan atas kekafiran, dan ada tidaknya takfier tergantung padanya.

Kekafiran juga memiliki jalan-jalan yang menghantarkan, tanda-tanda, bukti-bukti, dan cirri-ciri, yang dengan sendirinya tidak cukup untuk memastikan takfier, terutama pada payung lemahnya ikatan-ikatan iman dalam jiwa kaum muslimin dan merebaknya maksiat di tengah-tengah mereka, akan tetapi tetap di dalamnya mesti tabayyun dan tatsabbut.

Sebagaimana kita tidak memastikan keIslaman seseorang kecuali terhadap orang yang telah menampakkan sesuatu dari ciri-ciri khususnya. Dan tanda-tanda saja tidak cukup dari masyarakat sekarang untuk memastikan keIslamannya, maka begitu juga kita tidak mengkafirkan dengan sebab tanda-tanda dan bukti-bukti kekufuran saja akan tetapi kita tidak mengakfirkan kecuali dengan sebab-sebab dhahir yang sharih yang terbatas pada ucapan atau perbuatan yang mukaffir.

Di antara tanda-tanda yang sendirinya tidak cukup untuk takfier:

(1). Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, dalam hal pakaian dan penampilan mereka, berupa menggundulkan jenggot dan lain-lainnya. Ini semuanya tergolong dosa-dosa yang tidak mukaffir. Dan takfier dengannya saja adalah jalan kaum yang ghuluw di dalam takfier, kecuali bila ia tasyabbuh dengan mereka dalam suatu yang merupakan syi’ar-syi’ar dan ciri-ciri khusus dien mereka, seperti menyelarasi mereka dalam suatu dari ibadah-ibadah syirik mereka atau ucapan-ucapan kufur mereka, atau pakaian-pakaian mereka yang menunjukkan secara sharih terhadap kekafiran mereka, seperti memakai Salib yang nyata[3], karena sesunggnya salib itu termasuk ciri-ciri khusus kekafiran dan kemusyrikan orang-orang nashrani dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mensifatinya sebagai berhala (watsan) dalam hadits ‘Addiy Ibnu Hatim sebagaimana dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibny Jarir Ath-Thabariy dalam tafsirnya.

Dan seperti hal itu mengenakan pakaian keagamaan mereka yang melambangkan dien mereka yang batil, seperti mengenakan zanar (ikat pinggang khusus) yang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab mereka sebagaimana dikatakan di dalam Raudlatuth Thalibin (10/69) dalam kitab Ar Riddah: (Andai ia mengikatkan zanar di pinggangnya maka ia kafir. Dan para ulama berselisih tentang orang yan meletakkan peci majusi di atas kepalanya, sedangkan pendapat yang shahih bahwa ia tidak kafir. Seandainya ia mengikatkan tali di pinggangnya, maka ditanyakan tentangnya, terus ia berkata: Ini adalah zanar,” maka mayoritas ulama mengatakan bahwa ia kafir. Dan seandainya ia mengenakan zanar di pinggangnya dan masuk kedalam Daarul harbi untuk berniaga maka ia kafir, dan bila masuk untuk membebaskan para tawanan maka ia tidak kafir)

Dan perhatikan ucapannya: (seandainya ia mengikatkan tali di pinggangnya, maka ditanyakan tentangnya ….) Dan itu dikarenakan ia mengikuti hal-hal yang muhtamal yang tidak jelas.

Adapun sesuatu yang bukan tergolong busana mereka yang melambangkan ajaran mereka yang batil atau aqidah mereka yang syirik, akan tetapi tergolong keumuman busana, pakaian, dan penampilan mereka, maka tidak halal takfier dengannya saja.

Dan hal itu dibuktikan dengan apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah Ibnu ‘Amr bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dua pakaian mu’ashfar yang dia kenakan, maka beliau berkata: “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir, janganlah kamu mengenakannya,” dan beliau tidak lebih dari itu, seandainya sekekar pemakaiannya adalah kekafiran tentulah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dan mengajaknya untuk bertaubat, dan tentulah akan dahsyat pengingkaran beliau terhadapnya serta beliau sangat keras dalam menghati-hatikan darinya sebagaimana sikap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pengingkaran syirik dan kekafiran.

Dan sungguh dalam hal tasyabbuh ini telah ada nash-nash yang merupakan ancaman syariat terhadapnya dengan bentuk ungkapan yang mengandung kemungkinan takfier. Dan sebagian kaum yang ghuluw menggunakannya dalam setiap bab tasyabbuh, padahal yang benar adalah ada rincian di dalamnya.

Dan itu seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia tergolong mereka bagian dari mereka.” (Bagian dari hadits riwayat Al Imam Ahmad, dan Abu Dawud dari Ibnu Umar, dan Isnadnya dinilai Jayyid oleh Syaikhul Islam dalam kitabnya “Iqtidlaush Shirathil Mustaqim (94))

Syaikhul Islam berkata dalam kitabnya Iqthidlaush Shiratil Mustaqim Mukhalafatu Ashhabil Jahim} hal (95): (Hadits ini minimal menuntut pengharaman tasyabbuh dengan mereka, walaupun dhahirnya menuntut kekafiran orang yang menyerupai mereka, sebagaimana dalam firman-Nya dan “siapa yang tawalli terhadap mereka di antara kalian maka ia termasuk golongan mereka” (Al Maidah: 51) kemudian beliau berkata dalam takwilnya: (maka terkadang ini dibawa kepada tasyabbuh yang muthlak, maka sesungguhnya ia memastikan kekafiran dan menuntut pengharaman bagian-bagian itu, dan terkadang dibawa pada status bahwa dia itu bagian bagi mereka dalam kadar kesamaan yang dia menyerupai mereka di dalamnya, bila itu kekafiran atau maksiat atau syiar bagi maksiat maka hukumnya seperti itu).

Perhatikan rincian ini, sesungguhnya ia sangat penting, dan di dalamnya ada penjelasan bahwa tasyabbuh dengan orang-orang kafir itu ada yang merupakan tasyabbuh dalam kekafirannya, atau tasyabbuh dalam hal maksiatnya, maka setiap macam hukumnya sesuai dengan apa yang di serupainya, sedangkan tasyabbuh muthlak yang menggabungkan hal itu semua adalah kekafiran secara meyakinkan, karena masuknya kekafiran di dalamnya. Dan ini dijabarkan dan diperjelas oleh firman Allah Tabaraka wa ta’ala:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa penyekutuan terhadapNya dan mengampuni dosa di bawah itu bagi orang yang dikehendakiNya.” (An Nisa: 48)

Dan dijelaskan juga dengan keberadaan bahwa seandainya seluruh bab-bab tasyabbuh dengan orang-orang kafir itu adalah kekafiran, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menyelarasi mereka sesaat pun atas apapun, padahal telah tsabit bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal hijrahnya (senang menyelarasi ahlul kitab dalam suatu yang tidak ada perintahnya) (mutaffaq ‘alaih) ). Maka ini menunjukan akan wajibnya melakukan rincian, serta wajibnya memahami hadits yang yang lalu sesuai timbangan ini semua.

Dan tidak boleh dikatakan sebagaimana yang dikatakan sebagian kaum yang ghuluw bahwa setiap orang yang tasyabbuh dengan orang-orang kafir di dalam apa saja maka dia itu kafir. Seperti contoh: jika seseorang menggunduli jenggotnya maka dia bagian dari mereka. Dan dari hal ini mereka memvonis kafir dan menghalalakan darah dan harta dengan sekedar menggundul jenggot atau menggunakan pakaian orang kafir pada umumnya. Namun yang benar adalah, siapa yang tasyabbuh dengan kekafiran-kekafiran mereka, maka sesungguhnya ia telah kafir dan menjadi bagian dari mereka, dan siapa yang tasyabbuh dengan maksiat-maksiatnya seperti menggunduli jenggot dan yang lainnya, maka sesungguhnya ia termasuk bagian dari mereka dengan kadar maksiat-maksiat tersebut dan tidak boleh menyertakan dia dengan dengan mereka dalam hukum-hukum takfir. Dan siapa yang tasyabbuh dengan mereka secara muthlak maka ia telah menggabungkan keburukan mereka seluruhnya, dan ia tergolong mereka dalam semua itu.

Dan masih ada macam tasyabbuh terhadap mereka dalam tuntunan mereka yang dzahir yang bukan tergolong kekafiran dan tidak ada maksiat di dalamnya, maka itu juga masuk dalam keumuman larangan tasyabbuh dengan mereka, karena ia menghantarkan pada jalan yang dilarang. Oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al Iqtidla: (Penyerupaan itu menghantarkan kepada kekafiran atau maksiat atau kepada keduanya secara umum ) Hal: 232.

Sebagaimana beliau menyebutkan dalam banyak tempat lain bahwa penyerupaan dalam penampilan dhahir itu mewariskan semacam kasih sayang, kecintaan dan loyalitas di dalam batin, dan oleh sebab itu syari’at memotong jalan pintu ini dan menutup sarana pengahantar ke sana dengan larangan tasyabbuh terhadap mereka secara muthlak. Akan tetapi tergolong suatu yang dimaklumi di kalangan para ulama dalam kaidah-kaidah fiqh bahwa (suatu larangan bila itu untuk menutup suatu kerusakan maka dibolehkan untuk kamashlahatan).[4] Syaikhul Islam telah berbicara tentang kaidah ini di dalam Al Fatawa dan beliau isyaratkan dalam Al Iqtidla, oleh sebab itu beliau dalam Al Iqtidla membolehkan tasyabbuh dalam penampilan dzahir mereka yang tidak ada kekafiran di dalamnya untuk kebutuhan dan kemashlahatan, beliau berkata di dalam kitabnya hal 192 (…..menyelisihi mereka tidak dilakukan kecuali setelah tampak dan jayanya Dien ini, seperti dalam berjihad dan pengharusan mereka dengan jizyah dan kehinaan. Tatkala kaum muslimin di awal perjalanannya lemah maka tidak disyariatkan menyelisihi mereka, dan tatkala dien ini telah tampak kejayaannya, maka hal itu telah disyariatkan.

Dan seperti itu pada masa sekarang: Seandainya seorang muslim di Daarul Harbi atau Daarul Kufri yang bukan Harbi, maka ia tidak diperintahkan untuk menyelisihi mereka dalam penampilan dzahir karena terdapat bahaya bagi seorang muslim dalam hal itu, bahkan terkadang disunnahkan bagi laki-laki atau diwajibkan atasnya untuk terkadang menyertai mereka dalam penampilan dhahir mereka, bila dalam hal itu terdapat mashlahat dieniyyah berupa mendakwahi mereka kepada dien ini dan mengamati rahasia urusan mereka untuk mengabarkan kaum muslimin akan hal itu, atau menolak bahaya mereka dari kaum muslimin serta tujuan-tujuan baik lainnya.

Adapun di Daarul Islam wal Hijrah yang mana Allah telah mengokohkan dien-Nya ini di negeri itu dan Allah jadikan kehinaan dan jizyah dengannya atas kaum kafir, maka di dalamnya disyariatkan mukhalafah (menyelisihi) mereka itu, dan bila telah nampak bahwa menyelarasi mereka dan menyelisihi mereka itu adalah berbeda hukumnya sesuai perbedaan zaman dan tempat, maka nampaklah hakikat hadits-hadits itu di dalam hal ini.

Saya berkata: Suatu yang keadaannya seperti itu dan dia boleh untuk mashlahat dan wajar, maka tidak boleh sama sekali menyamakan hal ini dengan mukaffirah dan pembatal keIslaman yang tidak boleh dianggap mashlahat sama sekali.

Dan sudah maklum pada masa sekarang keadaan mayoritas kaum muslimin dan orang-orang awamnya, serta keterpurukan mayoritas mereka pada kemungkaran-kemungkaran dan maksiat-maksiat macam ini yang dengannya mereka meniru orang-orang kafir, “bahkan di kalangan khusus mereka ada jama’ah-jama’ah Islamiyah yang menganut paham -sungguh sangat disayangkan- pembolehan menggunduli jenggot, dan menurut mereka tidak ada dosa dalam hal taqlid terhadap orang-orang kafir, menyerupai tuntunan dhahir mereka dan adat kebiasaannya!” Melakuakan takfier dengan hal seperti ini adalah membuka pintu yang besar untuk takfier jumhur ahli maksiat dari kaum muslimin tanpa sebab hal yang sharih dari sebab-sebab takfier, bahkan hal itu bisa menggiring kepada pengkafiran orang-orang khusus dari kaum mu’minin dan mujahidin yang secara dlarurat mereka -di banyak negara yang mana para thagut menabuh genderang perang di dalamnya terhadap kaum mu’minin- perlu untuk menyembunyikan dirinya dan merubah pakaiannya serta menggunduli jenggotnya, karena takut kekejaman dan penangkapan yang biasa dilakukan oleh para aparat thagut atas dasar jenggot dan penampilan. Dan dalam hadits yang diriwayatkan Al Bukhariy secara ta’liq bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Miqdad: (Bila orang mu’min menyembunyikan imannya di tengah orang-orang kafir, terus dia menampakan keimanannya, terus kamu membunuhnya, maka begitu juga dulu engkau menyembunyikan keimananmu di Mekkah) (6358).

2. Dan seperti hal itu, membawa paspor-paspor negara kafir dan mengambil kewarganegaraannya yang jahiliyyah yang diharuskan para thagut atas manusia pada masa sekarang. Dan sudah maklum apa yang sudah terjadi di negeri-negeri kaum muslimin pada masa sekarang dalam hal ini, dan mereka mempersulit kehidupan para muwwahidin. Mereka tidak bisa bergerak, tidak bisa berpindah-pindah, tidak bisa mencari nafkah, tidak bisa menikah dan tidak bisa saling mewarisi kecuali dengan berkas-berkas mereka atau pengakuan-pengakuan mereka yang mereka haruskan atas manusia dan mereka wajibkan. Dan sangat-sangat sedikit sekali yang kekuatannya, atau sukunya atau kemampuannya dan keadaannya memungkinkan dia untuk mengambil ‘azimah (hokum pokok) sehingga ia tidak butuh kepadanya, (ini) tidak ada pengaruh baginya dalam penetapan vonis di dalam keadaan realita ini. Dan seseorang yang berakal tidak mampu mengharuskan seluruh kaum muslimin, yang lemah, yang tua, yang renta, anak-anak dan orang-orang dewasanya untuk tidak membutuhkan hal itu dan hidup di padang pasir dan pedalaman atau di lereng gunung, dan kalau tidak seperti itu maka mereka dianggap kafir!! yang tunduk terhadap undang-undang kafir!! karena sesungguhnya ketundukkan yang dipaksakan yang menyeluruh yang dipaksaan oleh para thagut pada masa kini terhadap manusia dengan kekuasaannya tidaklah seperti ketundukkan dan inqiyad yang diusahakan dan dipilih oleh para aparat thagut, kaki tangannya serta para abdinya[5]. Dan tidak boleh dikatakan bahwa setiap orang yang membawa paspor atau kewarganegaraan negara para thagut itu adalah dia itu ridha dengan kekuasaan mereka atau bahwa para thagut itu telah ridha terhadap dia, sebagaimana yang saya dengar dari orang yang pernah tidak membutuhkan hal itu, dia menyatakan hal itu, terus mereka meninggalkan pendapat itu setelah merasa sempitnya bumi ini dan mereka kembali memakai paspor-paspornya.

Sungguh dahulu orang kafir memberikan jaminan kepada orang muslim pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekkah. Dan itu tidak berarti selamanya keridhaan salah satunya terhadap dien yang lainnya. Bagaimana mungkin sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerima perlindungan Al Muth’im Ibnu ‘Adiy tatkala beliau kembali ke Mekkah di hari orang-orang Thaif mengusir beliau tatkala beliau datang kepada mereka untuk mendakwahi mereka, dan beliau mengakui Abu Bakar atas jaminan Ibnu Ad Dughnah baginya (sebagaimana yang akan datang) dan juga jaminan Al ‘Ash Ibnu Wail serta jaminan keamanan yang beliau berikan kepada ‘Umar setelah beliau masuk Islam.

Jiwar (jaminan perlindungan) adalah penjagaan, perlindungan, mempermudah iqamahnya seseorang dan pemberian jaminan dalam pencahariannya, bahkan dalam jiwar ini terkandung makna-makna yang lebih dari apa yang diberikan oleh pemerintah-pemerintah pada masa sekarang terhadap para pemegang paspor-paspornya. Namun demikian, sungguh permusuhan para sahabat terhadap ajaran kaumnya dan sikap bara’ mereka dari tuhan-tuhannya adalah lebih jelas dari matahari di siang bolong

Dan inilah kami walillahil hamd, dan setiap saudara yang berada di atas jalan ini, kami tidak ridla terhadap thaghut-thaghut itu dan merekapun tidak ridla terhadap kami, kami kafirkan mereka secara terang-terangan, kami kafir terhadap mereka, kami berlepas diri dari mereka dan undang-undang mereka, kita perdengarkan kepada mereka apa yang tidak mereka sukai siang dan malam, dan kami terang-terangan menyatakan bara’a dari mereka, serta kami tampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka sedangkan kami memiliki paspor, surat-surat resmi dan akte negeri ini, dan kami memohon kepada Allah untuk membantu kami agar tidak membutuhkan hal itu dan segala yang berkaitan dengan thaghut, dan Dia jadikan bagi kami pelindung dari sisi-Nya serta menjadikan bagi kami penolong dari sisi-sisinya. Ya memang terkadang kami dipersulit, surat-surat itu dirampas atau dibekukan dan tidak diperbaharui, akantetapi hal ini tidak tentu dan tidak sama di setiap negeri. Di barat mereka memberikan keleluasaan dalam kebebasan sehingga hal seperti ini tidak terjadi bagaimanapun keyakinan pemegang paspor itu walaupun ia terang-terangan dengannya. Maka nampaklah bahwa membawa paspor itu tidak mesti darinya ridha kedua belah pihak terhadap yang lainnya.

Dan sesungguhnya masalah ini tidak pasti, sehingga tidak boleh takfier dengan sekedar hal itu, kecuali ada kaitan dengannya atau disyaratkan untuk mengeluarkan dan mendapatkannya melakukan ucapan yang membuat kafir seperti bersumpah untuk loyal terhadap orang-orang kafir. Negara mereka dan undang-undangnya, atau perbuatan yang membuat kafir seperti persyaratan masuk bergabung dalam pasukan tentara kafir. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antar kewarganegaraan barat dan timur pada zaman kita, para thaghut barat adalah ikhwan bagi para thaghut timur, bahkan pada masa sekarang ini para thaghut barat lebih lembut dalam memberikan kelapangan terhadap rakyatnya dan lebih perhatian terhadap mereka, serta lebih jujur dalam menerapkan kebebasan mereka dengan segala baik buruknya.

Di barat dan negara-negara kafir lainnya selain Arab, terdapat orang-orang muslim yang shalih yang berlepas diri dari negara-negara kafir yang mana mereka hidup di dalamnya dan yang menampakkan kekafiran terhadap thaghutnya, hal yang menjadikan takfier atas dasar kewarganegaraan dan paspor saja suatu kesalahan yang buruk dan hal yang musykil sekali.

Adapun orang yang mengklaim bahwa dalam permohonan untuk mendapatkan paspor terkandung tahakum kepada thaghut, dan terus dia mengkafirkan banyak manusia dengan klaimnya ini, maka sesungguhnya dia itu ghuluw lagi ngawur dalam hokum-hukum takfier, dia menggadaikan dirinya lagi lagi tidak mengetahui tahakum yang mukaffir, dan dia tidak bisa membedakan antara apa yang Allah syariatkan berupa hudud dan hukum-hukum dan Dia jadikan sebagai hal tauqifiy yang tidak Dia izinkan bagi hamba-hamba-Nya untuk mengganti atau merubahnya atau ikut campur tangan dalam menetapkannya, dengan apa yang Dia biarkan terhadap ijtihad mereka dan Dia izinkan mereka untuk menetapkannya. Dan orang seperti ini tidak halal berbicara dalam hukum yang berbahaya ini selama dia tidak bissa membedakan antara dua macam hukum syar’iy dan hukum idariy. Dan akan datang perbedaan keduanya nanti.

Begitulah…. Sebagian mereka telah berdalil atas takfier dengan hal itu dengan apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dari Thariq Ibnu Syihab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (seorang laki-laki masuk surga karena lalat dan seorang laki-laki masuk neraka karena lalat) para sahabat bertanya: Bagaimana itu wahai Rasulullah? Beliau berkata: Dua laki-laki lewat suatu kaum yang memiliki berhala yang tidak seorangpun boleh melewatinya sehingga ia mempersembahkan sesuatu baginya, maka mereka berkata kepada salah seorangnya: “Persembahkanlah” Orang itu berkata: “Saya tidak mempunyai apa-apa” mereka berkata: “Persembahkanlah walaupun seekor lalat, maka ia mempersembahkan lalat, terus mereka membiarkan dia lewat, kemudian dia masuk neraka. Terus mereka berkata kepada yang lain: “Persembahkanlah” Dia berkata: “Saya tidak mungkin mempersembahkan sesuatupun kepada selain Allah azza wa jalla” maka mereka memenggal lehernya, terus dia masuk surga”

Mereka berdalil dengan hadits atas kafirnya orang yang menerima paspor orang kafir atau membawanya, karena orang yang diizinkan lewat oleh mereka masuk neraka!!

Bantahan atas hal ini adalah dikatakan: Sebelum berdalil hendaklah menetapkan keabsahan dalilnya terkebih dahulu. Hadits ini tidak tsabit secara marfu’. namun diriwayatkan secara mauquf. Ya disebutkan oleh Syaikh Sulaiman Ibnu Abdil Wahhab dalam kitab (Taisir Al-Azis Al Hamidd Syarhi Kitabit Tauhid) dalam ( Bab Ma Jaa’a Fidzdzabhi Lighairillah) beliau menisbatkan kepada Al Imam Ahmad, telah mengabarkan kepada kami Muawiyah, telah mengabarkan kepada kami Al-A’masy dari Sulaiman Ibnu Maisarah dari Thariq Ibnu Syihab Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (terus beliau tuturkan hadits………..)

Thariq Ibnu Syihab adalah Al Bajali, Al Ahmasiy, yang kesahabatannya masih diperselisihkan, di mana dikatakan bahwa dia itu pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun ia tidak mendengar sesuatupun darinya, maka ia mursal dan Syaikh Sulaiman telah menukil dari Ibnu Qayyim ucapannya: (Sungguh saya telah mentela’ah Al-Musnad, namun saya tidak mendapatkannya di dalamnya, maka bisa jadi Al-Imam meriwayatkannya dalm kitab Az-Zuhd atau yang lainnya)

Hal Saya berkata: Dan ia memang seperti apa yang beliau katakan, ia ada di dalam kitab Az-Zuhd no 84 hal 32-33 dari riwayat puteranya Abdullah dari beliau dengan isnad yang sama namun beliau tidak memarfu’kannya, tapi beliau berkata (….. dari Thariq Ibnu Syihab dari Sulaiman berkata ( kemudian beliau menuturkannya) dan Sulaiman ini tidak dikenal. Penta’liq kitab Az-Zuhdi, berkata: (mungkin Salman Al-Farisy), dan atas dasar ini maka tidak tsabit status marfu’nya, dan bila tsabit dari Salman[6] maka bisa saja ia adalah israiliyyat, karena Salman pernah dikatakan bahwa ia adalah (Shahibul Kitabain) yaitu: Injil dan Al Furqan[7], beliau pernah berbaur dengan ahlul kitab yahudi dan nasrani. (Wallahhu a’lam akan yang benar). Bagaimana pun keadaannya, kabar yang keadannya seperti ini tidaklah boleh dijadikan sandaran hukum yang sangat berbahaya seperti takfir, sehingga dengannya keislaman dilenyapkan dan darah serta harta pun dihalalkan.

Kemudian saya berkata: Seandainya kabar ini betul shahih, maka istidlal orang yang berdalil dengannya terhadap pengkafiran dengan sebab paspor adalah tertolak dari berbagai sisi:

1. Bahwa ia adalah berita tentang umat sebelum kita, dan sudah ma’lum bahwa syari’at orang sebelum kita, bila bertentangan dengan syariat kita maka hal itu bukan syariat kita, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan bagi setiap umat syari’at dan jalan pada selain tauhid, dan yang dimaksud di sini adalah penghalang (takfir) ikrah, sungguh engkau telah mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menerapkan ikrah dan mensyari’atkannya sebagai salah satu mawani’ penetapan dosa dan takfir. Dan ia adalah termasuk kekhususan umat ini, serta ia termasuk beban yang ditetapkan atas umat sebelum kita dan Allah subhanahu wa ta’ala mangangkatnya dari kita, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:

ان الله تجاوزلي عن أمتى الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

“ Sesungguhnya Allah telah memaafkan bagiku dari umatku kekeliruan (karena tidak disengaja), lupa dan apa yang dipaksakan atas mereka.”[8]

Dan ini termasuk rahmat Allah dan pelapangan-Nya atas umat ini, sungguh umat sebelum kita tidak diudzur dengan sebab ikrah. Seandainya hadits itu shahih, tentulah itu khusus bagi mereka, karena kaum yang disebutkan dalam kabar itu membunuh orang yang tidak mempersembahkan, sedangkan di dalam syari’at kita ia adalah penghalang dari adzab dan takfier, karena masuknya ke dalam neraka orang yang mempersembahkan lalat dalam kondisi mukrah lagi diancam dibunuh itu adalah jelas bertentangan dengan syari’at kita. Sehingga tidak sah berdalil dengannya atas kita.

2. Sesungguhnya ancaman dengan masuk neraka saja tidak cukup untuk menunjukan terhadap kufur akbar, sebagaimana yang telah kami jelaskan kepada anda, dan itu menjadi lebih kuat bila tidak disertai penyebutan kekekalan dan selama-lamanya beserta hapusnya amalan, atau qarinah yang menunjukan bahwa ia tergolong ahli neraka yang mana neraka dipersiapakan bagi mereka dan mereka tidak akan keluar selamanya. Ini berdasarkan suatu yang tsabit bahwa di antara para muwwahiddin ada yang masuk ke dalam neraka dan disiksa sesuai kadar dosanya kemudian dikeluarkan dari neraka dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan dimasukkan ke dalam surga tempat tinggal kaum muwwahiddin.

3. Sesungguhnya izin keluar yang dengan sebabnya orang itu masuk neraka, di dalamnya ada syarat kekafiran. Dan kami tidak membolehkan permohonan untuk mendapatkan paspor atau membawanya bila mengandung syarat-syarat kekafiran, sedangkan orang-orang yang kami ingkari mereka atas pengkafirannya terhadap pembawa paspor, mereka itu mengkafirkannya secara umum saja dengan dengan sekedar permohonan pembuatan paspor tanpa ada syarat seperti ini. Dan mayoritas mereka menjadikan hukum asal pada permohonan dan pembuatan paspor adalah kekafiran dan tahakum kepada thagut. Perbedaan kita bukanlah tentang macam syarat kekafiran ini bila memang ada, dan bagaimanapun keadaannya sesungguhnya syarat itu adalah di luar paspor, dan paspor itu adalah izin untuk bergerak dan berpindah-pindah yang diberikan oleh thaghut yang berkuasa terhadap orang-orang yang tertindas di bawah kekuasaan mereka. Siapa yang membutuhkannya, mendapatkannya dan menggunakannya tanpa ada syarat kufur di dalamnya, maka apa alasannya ia dikafirkan?

3. Mengibarkan bendera-bendera orang kafir atau lambang-lambang mereka yang tidak jelas indikasinya terhadap kekafiran mereka pada realita hari ini yang terkaburkan, atau duduk di bawah gambar-gambar (photo) mereka yang mereka buat di lapangan terbuka atau di kantor-kantor pemerintah dan yang lainnya. Ini tidak halal takfir dengan sekedar hal ini saja. Adapun masalah bendera, sesungguhnya orang-orang yang mengkafirkan dengan sebabnya, sebagaimana yang kami dengar dari sebagian mereka hanyalah mengkafirkan dari dua sisi:

Pertama: Klaim bahwa pengagungannya atau penghormatannya adalah termasuk tergolong jenis pengagungan dan penghormatan terhadap berhala. Dan hal ini tidaklah tepat dan benar, karena ta’dhim (pengagungan) terhadap berhala adalah ta’dhim ta-alluh (pentuhanan) dan tanassuk (dalam rangka ibadah), sehingga ia adalah ibadah yang disertai rasa takut (khauf) pengharapan (raja’), di mana para penyembahnya memalingkan kepadanya sesuatu dari rasa rahbah (takut) dan raghbah (rasa kecintaan), mereka meyakini bahwa ia bisa mendatangkan mudharat dan manfaat atau mendekatkan mereka kepada ALLAH subhanahu wa ta’ala, oleh karena itu orang di antara mereka mengagungkannya dan mempertuhankannya. Sedangkan tadhim itu bila tidak disertai tanassuk, ta-alluh, khauf, cinta dan pengharapan, maka ia bukanlah ibadah dan bukan syirik, namun ia adalah jalan-jalan yang bisa menghantarkan kepada hal itu bila dirasuki ghuluw dan mubalaghah (berlebih-lebihan).

Dan begitu juga tidak setiap khauf adalah ibadah sebagaimana yang sudah maklum dalam kitab-kitab tauhid. Bendera dan lambang-lambang ini, saya tidak mengetahui bahwa seseorang menta’dhimnya dengan ta’dhim ta-alluh atau tanassuk, akan tetapi ia adalah ta’dhim yang berlebih-lebihan, sedangkan mubalaghah (berlebih-lebihan) dalam ikram (memuliakan), tauqir (mengagungkan) dan ihtiram (menghormati) yang dikhawatirkan menghantarkan kepada kemusyrikan bukanlah kemusyrikan dengan sendirinya, namun ia termasuk apa yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para sahabatnya berupa berdiri menghormati beliau sebagaimana yang dilakukan orang-orang ‘ajam terhadap raja-raja mereka, dan tatkala para sahabat melakukannya ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sambil duduk ketika sakit, beliu melarang mereka dari hal itu seraya berkata: “Hampir saja kalian barusan melakukan perbuatan orang-orang Persia dan Romawi, mereka berdiri menghormati raja-raja mereka sedangkan raja-raja mereka duduk, maka maka janganlah kalian melakukannya.” HR.Muslim.

Dan dalam lafadzh riwayat Ahmad: ”Janganlah kalian berdiri seperti orang-orang ajam, mereka berdiri sambil menghormati satu sama lain.”[9] Dan itu bukan sebagai kekafiran dari mereka. Ta’dhim (pengagungan) dan berdiri serta yang lainnya, berupa penghormatan dengan tangan dan upacara-upacara bendera yang diciptakan dan diada-adakan oleh negara-negara di dunia, meskipun ta’dhim ini tidak boleh diberikan terhadap sehelai kain dan terhadap lambangnya dari lambang-lambang mereka lainnya, terutama bahwa bendera dan lambang-lambang itu melambangkan pada negara-negara baru ini yang telah merobek-robek persatuan daulatul Islam dengan segala batasannya, bendera-benderanya, lambang-lambangnya dan kewarganegaraannya, akan tetapi itu tidak sampai pada makna ibadah yang menyebabkan orangnya kafir.

Dan karena itu, maka tidak sah juga berdalil di sini untuk takfir dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (Al Baqarah: 238)

Karena qunut walaupun dipakai biasanya untuk berdiri lama, maka sesungguhnya yang dimaksud dengan berdiri di sini adalah shalat, ibadah, tanassuk dan ta-alluh yang di antaranya adalah doa, bukan umumnya berdiri yang termasuk di dalamnya berdiri yang mubah untuk tujuan apa saja, atau berdiri untuk menghormati atau mengagungkan yang memang dilarang dan ia bukan ibadah dan bukan pula kekafiran.

Dan para ulama telah menyebutkan sepuluh makna buat al qunut [10] di antaranya: lama berdiri, khusyu, tha’ah, do’a, dan diam. Sesungguhnya para sahabat dahulu di awal perintah shalat, mereka berbicara di dalam shalatnya, kemudian turunlah ayat ini (2:238), maka mereka dilarang dari hal itu dalam hadits Zaid Ibnu Arqam dalam Ash Shahihan dan yang lainnya, beliau berkata: ”Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam orang mengajak bicara temannya dalam kebutuhannya di dalam shalat, sampai turun ayat ini: ”Berdirilah karena Allah Swt (dalam shalat) dengan khusyu” maka kami diperintahkan untuk diam.”

Maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan berdiri di sini adalah berdiri dalam keadaan shalat, bukan mutlak berdiri.

Dan selama keadaannya sesuai rincian ini, maka bila didapatkan orang yang berdiri terhadap bendera-bendera ini dalam rangka ibadah dan tanassuk dan shalat terhadapnya (dan saya pribadi tidak mengetahui keberadaan hal seperti ini termasuk di kalangan orang-orang kafir asli atau Majusi atau Hindu, Budha dan yang lainnya) namun demikian ini saya katakan: Bila hal seperti ini didapatkan pada sebagian orang, maka keadaan maksimal berdirinya keumuman manusia pada keadaan seperti ini adalah menjadi bagian dari perbuatan-perbuatan yang ihtimal dalam takfier yang pengkafiran dengannya membutuhkan pada tabayyun dan tatsabbut untuk mengetahui tujuan si pelaku di dalamnya. Di mana jadi hal itu adalah maksiat, kemungkaran, keburukan dan jalan-jalan kepada kekafiran, atau bisa jadi adalah ibadah yang mengkafirkan. Adapun pengkafiran dilontarkan di dalamnya atas setiap keadaan, maka ia itu tidak layak dan tidak tepat.

Dan di antara yang menjadikan bab ini juga tergolong hal-hal yang muhtamal dan dugaan-dugaan yang tidak boleh segera melakukan takfier dengannya tanpa tabayyun; adalah keberadaan panji-panji kaum muslimin di generasi-generasi awal yang utama serta berdalihnya banyak manusia saat mereka berinteraksi dengan bendera-bendera ini dengan hal itu.

Ibnul Qayyim berkata dalam Zadul Ma’ad (1/131): (Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki rayah (panji) hitam yang dinamakan ‘uqab, dan dalam Sunan Abi Dawud dari seorang sahabat, berkata: Saya melihat rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna kuning, dan beliau juga memiliki bendera-bendera putih, dan terkadang beliau jadikan hitam padanya.)

Dan dahulu kaum muslimin berkumpul dalam peperangan di seputar rayah-rayah ini, dan mereka selalu berupaya mengangkatnya agar tidak jatuh. Dan inilah di antara yang dijadikan hujjah oleh sebagian orang untuk membolehkan sikap mereka menta’dhim dan memuliakan bendera-bendera ini, serta mereka menuturkan dalam hal ini kisah kesyahidan Ja’far Ibnu Abi Thalib pada perang Mu’tah saat mengambil panji dengan tangan kanan, terus dipotong tangannya, kemudian beliau mengambilnya dengan tangan kirinya, terus dipotong tangannya kemudian beliau memeluknya hingga terbunuh, dan kerena itu beliau digelari Dzul Janahain sebagaimana dalam Al-Bukhari dari Ibnu Umar, bahwa beliau bila mengucapkan salam kepada Ibnu Ja’far berkata: “Semoga salam dilimpahkan kepada engkau wahai anak Dzul Janahain.”

Dan ini semua menjadikan hal ini tergolong hal-hal yang muhtamal sebagaimana yang telah kami katakan. Di samping ini sesungguhnya sebagian ulama telah melakukan rincian seperti ini dalam hal sujud yang mana ia lebih dahsyat dari berdiri, mereka membedakan antara sujud dengan maksud rububiyyah orang yang dilakukan sujud terhadapnya dengan apa yang terjadi pada banyak orang yang masuk menghadap raja ‘ajam berupa mencium bumi sebagai penghormatan dan penganggungan terhadap mereka. Mereka menganggap sujud yang pertama sebagai syirik terhadap Allah, dan mereka tidak menganggap yang kedua sebagai kekafiran sedikitpun.[11] Dan ini tentunya tidak berarti pembolehan sujud macam kedua ini yang perlakuannya disebutkan dari sebagian orang dalam buku-buku tarikh, sungguh engkau telah mengetahui larangan berdiri dalam rangka ta’dhim atau ikram, maka apa gerangan dengan sujud?[12] Akan tetapi bila para ulama saja melakukan rincian seperti ini dalam hal sujud, maka berdiri yang mana ia itu di bawahnya adalah lebih utama (akan rincian ini).

Sisi kedua: Klaim bahwa bendera-bendera ini melambangkan kepada pemerintah yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan. Mereka berkata: Siapa yang mengibarkannya, atau mengagungkannya atau memuliakannya, maka dia itu kafir karena ia termasuk wali-wali pemerintah kafir. Ini juga tidak sharih, akan tetapi ia adalah muhtamal, dan ia adalah seperti yang sebelumnya dalam kebutuhannya terhadap mencari kejelasan maksud si pelaku, karena sesungguhnya banyak manusia berinteraksi dengan bendera-bendera ini atas dasar bahwa ia itu adalah lambang bagi tanah air dan negeri dan bukan (lambang) bagi sistem dan pemeintah, karena pemerintah itu selalu berubah dan silih berganti, sistem jatuh dan pemerintahan berganti, dan jarang sekali bendera-bendera ini berubah. Dan contoh terdekat atas hal ini adalah apa yang dilakukan awam orang-orang Palestina dan kaum jahilnya berupa mengangkat bendera negeri mereka semenjak puluhan tahun, padahal di sana tidak ada sistem dan pemerintah yang berkuasa yang dilambangkannya. Perbuatan ini walaupun tergolong tasyabbuh dengan orang-orang kafir dan termasuk seruan jahiliyyah akan tetapi perselisihan itu bukan tentang hal ini, akan tetapi perselisihan itu hanyalah tentang keberadaannya apakah sebagai perbuatan mukaffir yang sharih dilalahnya ataukah sesungguhnya ia itu sebagai tanda yang muhtamal dari tanda-tanda kekafiran yang ia sendiri tidak cukup untuk memastikan hukum takfier, sedangkan yang rajih bagi kami adalah yang akhir ini, sehingga wajib membedakan dan merinci tentang maksud orang yang mengibarkannya dan (tentang) pemahamannya terhadap dilalahnya. Bila dia mengagungkannya, mengibarkannya, dan menjadikannya sebagai syiar yang dinisbatkan kepada pendukungnya dan negaranya dengan menganggap bendera itu sebagai lambang bagi pemerintah yang berkuasa yang menerapkan selain apa yang Allah turunkan, maka ini adalah perbuatan mukaffir karena di dalamnya terdapat makna keberpihakan kepada orang-orang kafir, penampakkan loyalitas terhadap mereka tanpa ada ikrah, dan pemberitahuan secara terang-terangan bahwa ia itu termasuk golongan, kelompok dan barisan mereka serta bahwa ia berada di barisan mereka yang memusuhi dien ini, dan pihak mereka yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta golongan mereka yang melawan Syari’at

Dan bila ia mengibarkannya untuk selain itu dari makna-makna yang telah lalu, maka ia itu walaupun divonis jahil dan sesat namun tidak boleh kita mengkafirkannya dengan sekedar hal itu. Oleh sebab itu ada dalam kitab Ad-Durar As- Saniyyah Fil Ajwibah An- Nadjiyyah hal: 245 pada juz hukmul murtad dalam bantahan Syaikh Abdullah Ibnu Abdillathif Alu As Syaikh terhadap orang yang membolehkan perlindungan orang-orang kafir atau wakil mereka (yaitu masuk di bawah wilayah (perwalian mereka) dan mengambil bendera dari mereka untuk keselamatan harta dan perahunya, dan bahwa hal ini setara dengan teman (penunjuk jalan). Maka beliau menjawab dengan ucapannya: (Ini adalah qiyas yang bathil, karena mengambil teman (penunjuk jalan) untuk keselamatan harta adalah boleh bila keadaan mendesak hal itu dan si penunjuk jalan adalah orang muslim yang dhalim atau orang kafir yang fasiq.

Adapun masuk di bawah perlindungan orang-orang kafir, maka ia adalah kemurtaddan dari Islam, dan mengambil bendera dari mereka adalah tidak boleh bila dia itu tidak masuk di bawah perlindungan dan perwalian orang-orang kafir itu, dan ia itu tidak seperti mengambil khafir (penunjuk jalan) untuk melindungi harta, karena ini adalah bendera dan tanda yang menunjukkan bahwa mereka itu tunduk terhadap perintah mereka lagi masuk dalam perlindungan mereka, dan itu adalah sebagai bentuk persetujuan terhadap mereka secara dhahir)

Perhatikanlah, bagaimana beliau menjadikan kekafiran dan riddah di sini hanyalah pada hakikat masuk dalam perwalian dan perlindungan mereka, bukan dengan sekedar mengambil bendera dari mereka dan mengibarkannya tanpa masuk yang sebenarnya dalam perwalian mereka, hal ini walaupun tidak boleh sebagaimana yang dikatakan syaikh, akan tetapi ia bukan dengan sendirinya sebagai riddah dhahirah. Ya ia seperti yang dikatakan syaikh adalah tanda yang menunjukan ketundukan kepada perintah mereka dan masuk ke dalam perwalian mereka, sedangkan tanda itu sebagaimana yang telah engkau ketahui bukanlah sebab yang sharih lagi baku untuk takfier. Ini disertai pengingatan bahwa bila bendera yang dimaksud di sini adalah bendera Inggris yang mana ia melindungi-melindungi wali-walinya yang mengibarkannya di atas kapal-kapal mereka di peraian teluk, maka status mereka sebagai nashara dan kafir asli yang tidak intisab kepada Islam itu adalah lebih nyata dalam mengindikasikan bendera mereka itu kepada kekafiran (terutama dengan keberadaan salib padanya) dari bendera negara-negara yang mengaku Islam.

Inilah…. Sungguh sebagian orang telah menqiyaskan bendera-bendera ini terhadap salib, dan ini adalah tidak benar, dan ia adalah qiyas yang disertai adanya perbedaan, karena indikasi salib terhadap aqidah nashara yang kafir adalah jelas dan maklum lagi dhahir di tengah manusia. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menamakannya sebagai watsan (berhala) dalam hadits ‘Adiy Ibnu Hatim yang diriwayatkan At Tirmidzi dan Ibnu Jarir Ath-Thabariy, tatkala dia masuk menemui beliau sedangkan di lehernya ada salib yang terbuat dari emas, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Hai Addiy campakkan berhala ini dari lehermu” berbeda halnya dengan bendera-bendera dan lambang-lambang ini yang telah engkau ketahui indikasi-indikasi yang beragam yang terkandung di dalamnya, oleh sebab itu tidak halal takfier dengan sebab tashlib (palang) secara umum walaupun memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan tashlib di rumahnya kecuali beliau merobeknya, karena tidak setiap tashlib dan palang garis itu menunjukkan terhadap aqidah orang nashrani yang kafir atau melambangkan kepadanya. Jadi indikasi tashlib itu tidaklah seperti dilalah salib yang sharih, meskipun dianjurkan beserta ini semua perombakan segala bentuk tashlib, dan begitu juga status bendera-bendera dan lambang-lambang ini juga tidak ada perselisihan bahwa yang wajib adalah merobek dan melenyapkannya. Di samping ini semua sesungguhnya para thagut sebagai bentuk upaya serius dari mereka untuk mengkaburkan yang haq dengan kebathilan dan mempermainkan perasaan keagamaan di tengah masyarakat, mereka telah memasukkan ke dalam bendera-bendera dan lambang-lambang ini sebagian lambang-lambang Islam bahkan ciri-ciri khususnya secara terkadang, seperti kalimah tauhid dan syahadat atau lafadh takbir atau ayat:

“Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu,” (Ali ‘Imran: 160) dan yang lainnya yang menjadikan masalah ikram (penghormatan), ihtiram (pemuliaan) dan ta’dhim terhadapnya menjadi hal musykil dari sisi ini, maka siapa yang berani membolehkan untuk menghinakannya dan mengingkari ikram dan ta’dhimnya beserta keberadaan hal seperti ini di dalamnya?? Dan ini semua menjaikan sikap bersegera untuk memastikan takfier orang yang mengibarkan bendera-bendera ini atau menghormatinya tanpa ada rincian sebagai sikap tergesa-gesa dan ngawur.

Dan di antara hal itu juga photo para thagut dan lambang-lambang mereka yang disebar para aparatnya di ruang pertemuan, ruangan-ruangan di apartemen mereka dan kantor-kantor pemerintahan serta yang lainnya. Maka tidak boleh menjadikannya secara menyendiri sebagai sebab untuk mengkafirkan orang yang duduk di bawahnya atau di sampingnya di tempat-tempat itu, terus setelahnya menghalalkan darah atau hartanya dengan sekedar perbuatan itu, baik dia itu dari kalangan pegawai atau orang-orang yang datang untuk meminta pelayanan atau kaum muslimin lainnya.

Sungguh bencana ini sudah merata di jalan-jalan raya mereka atau tempat-tempat fasilitas mereka hari ini, dan selama bagi seseorang tidak memiliki keinginan sendiri dalam memajangnya, maka tidak sah melakukan takfier dengan sekedar itu, sungguh di sekitar Ka’bah dan di atasnya pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat lebih dari 300 berhala, dan hal itu tidak menghalangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat di dekat Ka’bah sebagaimana dalam hadits ‘Amr Abnul ‘Ash yang diriwayatkan oleh Al-Bukhariy (3856), berkata (tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di hijrl Ka’bah tiba-tiba muncul ‘Uqbah Ibnu Abi Mu’aith terus dia meletakkan bajunya di leher beliau dan kemudian mencekiknya dengan keras…..)

Dan sebagaimana dalam sebab turun firman Allah Tabaraka wa ta’ala:

“Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat zabaniyah.” (Al ‘Alaq: 17-18) Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat dekat maqam Ibrahim, kemudian Abu jahal melewati beliau….)” Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Jarir dalm tafsirnya, dan hadits-hadits lain yang menegaskan hal itu. Ini terjadi padahal shalat itu mungkin dilakukan jauh dari Ka’bah dan berhala-berhala itu. Dan keberadaan berhala-berhala itu tidak menghalangi beliau dari duduk dekat Ka’bah sambil berbantalkan jubahnya sedangkan berhala-berhala itu ada di sekitar beliau yang mana beliau tidak kuasa menghancurkannya[13] padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dipaksa untuk duduk di sana dan bisa duduk di tempat lain. Maka dalam hal ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa tidak mengapa hal itu dilakukan, dan sesungguhnya tidak berani mengkafirkan dengan sebab seperti hal itu saja kecuali orang yang ngawur yang telah mempertaruhkan diennya. Maka sekedar duduk tidaklah berarti ridla dengannya dan mengagungkannya atau mengikutinya terutama hal itu telah merata tanpa ada keinginan sendiri dari manusia, di mana hampir semua dompet orang muslim atau rumahnya tidak kosong dari uang mereka yang padanya terdapat gamba-gambar mereka dan lambang-lambang mereka .

Sungguh kaum muslimin pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelahnya di generasi-generasi yang utama bermu’amalah dengan mata uang Persia, Romawi dan yang lainnya karena saat itu kaum muslimin belum memiliki uang khusus mereka, dan tidak ada percetakan uang khusus milik mereka kecuali pada zaman Abdul Malik Ibnu Marwan. Kaum muslimin sebelum itu bermu’amalah dengan mata uang orang-orang kafir yang tidak kosong dari gambat thaghut-thaghut mereka, sebagaimana ia ma’ruf dan sisa dan peninggalannya ada hingga sekarang[14]

Kesimpulannya: Sesungguhnya sebagaimana tidak cukup tanda-tanda Islam saja untuk memastikan keIslaman seseorang tanpa ciri-ciri khususnya, namun yang wajib adalah tabayyun di dalamnya sebagaimana yang Allah perintahkan dan itu di selain Daarul Islam, maka begitu juga tidak cukup untuk memastikan hukum takfier dengan sekedar jalan-jalan yang menghantarkan kepada kekafiran dan tanda-tandanya yang mana ia itu bukan sebab-sebab yang baku lagi jelas untuk takfier, akan tetapi mayoritasnya termasuk hal-hal yang muhtamal, atau tergolong jenis dosa besar, maksiat dan mudahanah.

[1] Doa ini dari seorang sahabat buat orang kafir untuk manfa’at kaum muslimin dengan jizyah yang dia berikan sebagaimana yang ditakwil oleh para sahabat, dan hal serupa diriwayatkan dari ibnu Umar sebagaimana di dalam Al-Mughniy (Kitabul Jizyah) (Fashl Wa Laa Yajuuzu Tashdiiruhum Fil Majalis Wa Laa Badaa-atuhum Bissalam). Dan ini telah lalu.

[2]. Bila dikatakan: Kenapa orang Nashrani ini tidak berpnampilan beda dan tidak berkomitmen dengan pakaian khusus yang kalian sebutkan dan syaratkan? Maka kami katakan: Ini adalah kejadian individu yang tidak diketahui sejarahnya, maka ini tidak merobek hukum asal yang mahsyur di dalam syarat-syarat kaum muslimin terhadap ahlul dzimmah, akan tetapi termasuk hal yang maklum adalah bahwa syarat-syarat ini belum ada lagi diharuskan terhadap kaum yahudi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala tiba ke Madinah beliau mengikat perjanjian dengan seluruh kaum yahudi di dalamnya dengan perjanjian yang muthlaq dan beliau tidak menerapkan jizyah atas mereka dan merekapun tidak terhinakan, karena perjanjian itu tidak ada kehinaan seperti yang terdapat dalam pembayaran jizyah. Dan lihat dalam hal itu dan tentang apa yang dituliskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buat mereka dan apa yang beliau syaratkan atas mereka dan bagi mereka. (Ash-Sharimul Maslul hal 62 dan selanjutnya). Bukti masalah dari hal itu bahwa ahlul kitab di awal daulah Islam tidaklah berpenampilan beda dari kaum muslimin baik dalam hal rambut, pakaian dan yang lainnya. Akan tetapi setelah kaum muslimin kuat, dien ini nampak dan kokoh negaranya, maka ahlul kitab diharuskan hal itu. Dan nampak kejayaannya dan kesempurnaan negaranya terjadi pada kekhalifahan Umar sebagaimana dituturkan Syaikhul Islam dalam Al Iqtidha hal 192, dan beliaulah yang menetapkan syarat-syarat itu atas mereka, dan oleh sebab itu dikenal dengan syarat ‘Umariyyah…. Dan bisa saja kejadian itu terjadi sebelum hal itu.

[3] Yaitu yang jelas indikasinya bahwa itu adalah salib orang-orang nashrani yang menandakan aqidah mereka yang syirik. Adapun sekedar tanda palang (tashlib) bergaris dan potongan-potongannya yang terkadang ada pada baju atau yang lainnya berupa lukisan, bendera dan gambar, maka ini semua tidak halal takfier dengannya (walaupun ia itu adalah terlarang), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak pernah membiarkan di rumahnya suatupun yang mengandung tashlib melainkan beliau merombaknya) diriwayatkan oleh Al Bukhari (5952) dan dalam riwayat Al-Isma’iliy “suatu yang ada tashlibnya” akan tetapi kebencian beliau akan tashlib, perombakannya dan pelenyapannya dari pakaian untuk menghindari sarana-sarana dan sumber dugaan adalah sesuatu di luar takfier yang tidak boleh dilakukan kecuali dengan sebab salib yang jelas yang melambangkan aqidah syirik orang-orang nashrani. Dan suatu yang tidak sejelas seperti itu maka tidak boleh takfier dengannya, karena batas maksimal hal itu adalah tergolong hal-hal yang muhtamal, sedangkan engkau sudah tahu sikap wajib dalam hal itu.

[4] Oleh sebab itu banyak ulama membolehkan shalat yang memiliki sebab di waktu yang dilarang shalat di dalmnya, karena larangan di dalamnya bukan karena dzat shalat itu akan tetapi larangan dari menyerupai kaum musyrikin yang shalat kepada selain Allah dalam waktu-waktu ini, dan untuk menutup pintu kepada kemusyrikan. Bila jalan itu aman dan dibutuhkan shalat untuk mashlahat, maka dosa diangkat dan sebagai contoh silahkan lihat Majmu Al Fatwa:123.

[5] Dan tidak membedakan antara ini dan itu mengingatkan saya akan kepandiran si anggota parlemen terdahulu yang membesuk saya bersama mendagri di hari saat saya membantah mereka atas tuduhan yang mereka alamatkan kepada saya, yaitu tuduhan mengkafirkan semua manusia. Saya jelaskan bahwa kami hanya mengakfirkan pemerintah yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan serta para ansharnya, terus dia malah memotong perkataan saya seraya mengingkari lagi berdalih dengan sikap kami tidak berjabat tangan dan mengucapkan salam terhadapnya, dan tatkala saya katakan kepada dia: “kamu adalah bagian dari kekuasaan legislatif, maka kamu adalah bagian syirik dari pemerintah kafir ini, oleh sebab itu kami perlakukan kamu dengan ini”, maka dia berkata: kamu juga bagian dari sistem ini !! maka saya bertanya: Bagaimana? (yaitu dari bagian kekuasaan apa saya ini?) dia berkata: kamu makan dan minum dari pemerintah, maka kamu adalah bagian darinya…. (maksudnya makanan penjara)!! Perhatikan qiyas dia yang pincang dan pemahamannya yang sangat jauh. Dan sungguh telah saya katakan saat itu juga kepada orang yang bersama saya: (Sesungguhnya ucapan yang paling tepat dikatakan pada kesempatan ini adalah apa yang dinisbatkan kepada Asy syafi’iy: Saya tidak mendebat orang alim melainkan saya kalahkan dia dan saya tidak didebat oleh orang jahil melainkan dia mengalahkan saya!!)

6. Kemudian saya menemukannya setelah Allah membebaskan saya ada Al Hilyah (1/203) karya Abu Nu’aim dari Salman Al Farisi secara mauquf.

[7] Lihat Al isti’ab Ibnu Abdil Barr hal 196

[8] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al Baihaqqi, Al Hakim (2/198), Ad Daruquthuny dan yang lainnya, walaupun ia itu dianggap cacat oleh Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya, namun sesungguhnya para ‘ulama telah menerimanya karena ia memiliki banyak pendukung yang tsabit dalam Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana ia memiliki banyak jalan yang menunjukan bahwa ia memiliki dasar sebagaimana yang dituturkan As Sakhawi dalam Al Maqashid hal (230), oleh sebab itu An Nawawi menilai hasan dalam Al Arba’in.

[9]Al Musnad (5/253-256) dan Syaikhul Islam telah berbicara dalam Iqtidlaush Shiratal Mustaqim tentang indikasi hadits ini terhadap penyelisihan orang-orang ‘ajam dalam hal itu, dan bahwa hal itu tidak dimansukh dari sisi ini, termasuk atas pengandai-andaian penasakhan hukum shalat sambil duduk di belakang imam yang duduk, dan sungguh beliau telah menshahihkan statusnya sebagai yang muhkam di sisi itu juga.

[10] Asy Syaukaniy telah menuturkannya dalam Nauhal Authar (kitabul libas) (hal 83) (bab larangan berbicara dalam shalat) dalam bab-bab “hal yang membatalkan shalat”, dari Ibnu Arabiy berbentuk mandhumah (342).

[11] Lihat As Sailul Jararr karya Asy Syaukaniy 4/580, dan lihat dekat dari hal itu pemilahan Syaikhul Islam antara apa yang dilakukan oleh sebagian orang di hadapan para raja berupa mencium lantai dan membungkuk seperti ruku’ atau yang mengandung sujud dan hal-hal haram lainnya, dengan orang yang melakukan hal itu sebagai ibadah dan taqarrub, Majmu Al Fatawa (1/257) cet. Daar Ibnu Hazm, dan begitu juga pemilahan Ibnu Nujaim dalam Al-Bahrur Ar-Rayyiq (5134) antara sujud terhadap para penguasa bila dimaksudkan ibadah dengannya (kekafiran) dengan orang yang memaksudkan penghormatan dengannya (mayoritas Ulama tidak mengkafirkannya)

[12] Ada dalam (Ghayatul Muntaha Fil Jam’i Bainal Iqra’ wal Muntaha) karya Mar’iy Al Karmiy, bahwa sujud terhadap para penguasa dengan tujuan ibadah adalah kekafiran dan dengan tujuan penghormatan adalah dosa besar.

[13] Sebagaimana dalam hadits Khabbab riwayat Al Bukhari juga (Kami mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau berbantalkan jubah beliau di bawah ka’bah, kami berkata: Apa engkau tidak meminta pertolongan dan berdoa buat kami ?… ….
[14] Ulama ahli peninggalan menuturkan bahwa dirham perak yang dipakai pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dirham Persia yang terbuat di dalamnya setengah gambat Kisra (Raja) Persia. Adapun dinar emas maka ia adalah dinar Romawi yang terdapat di dalamnya gambar Kaisar Romawi dan kedua anaknya sambil membawa tongkat Patrick Nasrani, dan beberapa mata uang ini masih ada hingga sekarang. Dinukil dari makalah Dekan Fakultas Arkeologi di Universitas Kairo Ra-fat An-Nabrawiy.

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 9 Takfier Dengan Ucapan-Ucapan Atau Perbuatan-Perbuatan Yang Ihtimal Dilalahnya Tanpa Memandang Maksud Orang Yang Mengucapkannya Atau Yang Melakukannya


Dan di antara kekeliruan yang umum dalam takfier juga adalah takfier dengan ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan yang dilalahnya muhtamal tanpa memandang kepada maksud orang yang mengucapkanya atau yang melakukannya. Dan ini yang dikenal dengan takfier dengan hal-hal yang muhtamal, yaitu keberadaan ucapan atau perbuatan seseorang itu tidak sharih (jelas) dilalahnya terhadap kekafiran namun memiliki kemungkinan lain.

Syaikul Islam berkata di dalam Ash Sharimul Maslul: (Takfier itu tidak boleh dengan hal yang muhtamal). Hal 517.

Sesungguhnya perbuatan atau ucapan mukallaf itu tidak menjadi sebab yang shahih untuk takfier kecuali dengan dua syarat:

v Pertama: Syarat dalam dalil syar’iy yang dijadikan dalil atas hal itu, yaitu dalil tersebut qath’iy dilalahnya terhadap kekufuran perbuatan atau ucapan, dan telah lalu pembahasan atas hal ini dalam tempat yang lalu.

v Kedua: Syarat pada ucapan atau perbuatan mukallaf itu sendiri. Ucapan atau perbuatan (yang merupakan sebab takfier) yang muncul darinya harus jelas dilalahnya terhadap kekafiran, yaitu ia mengandung secara jelas dan bukan secara ihtimal (sekedar kemungkinan) memuat sebab yang mengkafirkan yang ada pada nash syar’iy yang dijadikan dalil terhadap takfier itu.

Oleh sebab itu para ulama ushul memberikan definisi bagi sebab sebagaimana yang telah lalu dengan ucapan mereka: (Sifat yang dhahir lagi baku yang dengannya hukum menjadi terbukti, dari sisi di mana syari’at mengaitkan hukum itu dengannya).

Adapun ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan yang ihtimal (memiliki banyak kemungkinan) yang bisa berarti kekafiran dan bisa juga tidak, maka tidak halal bersegera untuk melakukan takfier dengannya, karena ia adalah sifat-sifat yang tidak pasti.

Dan supaya menjadi mundlabith (baku) maka mesti memperhatikan beberapa hal untuk menentukan dilalahnya, apakah dibawa kepada kekafiran yang nyata atau tidak, dan ia adalah yang dinamakan dengan isthilah melihat pada murajjihat (hal-hal yang menguatakan), yaitu:

- Tabayyun (mencari kejelasan) maksud orang yang melakukan atau yang mengucapkannya.

- Memperhatikan qarinah-qarinah keadaan yang menyertai ucapan atau perbuatan.

- Dan mengetahui adat si pembicara atau adat kabilahnya atau penduduk negerinya.

Adapun tabayyun maksud si pelaku, yaitu dengan menanyakan tentang apa yang dia maksudkan dengan ucapan atau perbuatannya itu, contohnya: Seandainya orang mencaci nama Muhammad, maka dhahir ini bahwa ia telah mengucapkan ucapan kekafiran, akan tetapi ada kemungkinan bahwa dia memaksudkan sosok selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama bila orang itu tidak terkenal dengan kezindiqan atau suka meremehkan dien ini, sehingga perlu ditanya tentang maksudnya sebelum dia divonis kafir. Dan contoh lain: Seandainya muncul darinya ucapan yang tidak jelas berbentuk celaan, maka mesti tabayyun dari maksud ucapannya sebelum divonis. Oleh sebab itu Ibnu Mundzir menukil kesepakatan bahwa orang yang mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sharih maka wajib dibunuh.

Abu Bakar Al Farisiy salah seorang tokoh madzhab Asy Syaf’iy menukil di dalam Kitabul Ijma’ bahwa orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan penghinaan yang jelas maka dia kafir dengan kesepakatan ulama.

Adapun lafadh-lafadh atau ucapan-ucapan yang ihtimal lagi tidak sharih, maka ini diijmakan dan tidak disepakati, dan mereka tidak mengharuskan takfier dengannya dan tidak pula vonis hukuman mati kecuali setelah tabayyun dan mencari kejelasan serta meminta pernyataan jelas dari si pelaku atau orang yang mengucapkannya. Asy Syafi’y berkata dalam Al Ummu (7/297): (Ucapan yang dipegang adalah ucapan dia di dalam hal yang memiliki kemungkinan suatu yang tidak dhahir, sehingga tidak divonis selamanya kecuali dengan hal yang dhahir) Dan lihat I’lamul Muwaqqi’in 3/115

Al Hafidh Ibnu Hajar telah menukil hal itu dari Ibnu Mundzir dan Abu Bakar dalam kitab Istitabatul Murtaddin di mana Al Bukhari menuturkan hadits-hadits ucapan salam orang-orang Yahudi terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan mereka ” السام عليكم / kematian atasmu “ dan beliau menetapkan suatu bab baginya “ (Bab bila kafir dzimmy atau yang lainnya mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan yang tidak terang-terangan seperti ucapannya: السام عليكم.

Para ulama telah menyebutkan di antara sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang yahudi itu, bahwa dia tidak terang-terangan dalam celaannya, namun dia mengucapkan ucapan yang muhtamal, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menghukumi kecuali dengan hal yang jelas yang tidak diperselisihkan oleh manusia, sehingga bila pelakunya dihadirkan dan dibunuh maka tidak ada yang mempermasalahkannya, oleh sebab itu belaiu cukup membalas mereka dengan ucapannya “ وعليكم “

Dan mereka telah menyebutkan sebab-sebab lain selain ini, dan silakan lihat Asy Syifa karya Al Qadli Iyadl 2/224-230 (Fasal, bila engkau berkata: Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang yahudi yang menyatakan kepadanya “السام عليكم ) dan sebagiannya akan dating di dalam bahasan setelah ini, dan dalam hal itu lihat juga Ash Sharim Al Maslul dan Fathul Bari di dalam tempat yang telah kami isyaratkan tadi

Contoh lain, Andai seseorang berdoa di samping kuburan dan suaranya tidak kedengaran, maka mesti ditanya tentang doanya. Bila dia berkata: “Saya berdoa kepada Allah di sisi kuburan orang saleh ini dengan harapan doa diterima“ maka perbuatan ini bid’ah ghair mukaffirah, dan dia mesti dilarang dari hal itu karena ia adalah sarana kepada kemusyirkan.

Bila ia berkata “Saya memohon kepada orang yang dikubur ini agar ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan saya“ maka perbuatannya adalah membuat dia kafir … dan begitulah seterusnya.

Mencari kejelasan maksud itu bisa menentukan apa yang dimaksud dari perbuatan yang ihtimal dilalahnya, dan bisa memastikan sebab takfier.

An Nawawiy menukil dari Ash Shaimuri dan Al Khathib: (Bila ditanya -yaitu si mufti- tentang orang yang mengatakan ini dan itu, berupa sesuatu yang memiliki banyak kemungkinan yang sebagian kemungkinan-kemungkinan itu bukan kekafiran, maka seyogyanya si mufti berkata: Orang itu mesti ditanya tentang apa yang dia maksudkan dari apa yang dia katakan: Bila dia memaksudkan begini maka jawabannya ini dan bila dia memaksudkan begitu maka jawabannya itu). Al Majmu karya An-Nawawi 1/49.

Dan hal seperti itu adalah apa yang dijawab oleh Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang pertanyaan seputar orang yang melaknat agama yahudi dan mencaci Taurat, maka beliau berkata: (Al Hamdulillah, tidak seorangpun boleh melaknat Taurat, bahkan siapa yang melaknat Taurat, maka dia disuruh taubat, kemudian bila dia bertaubat (maka dia dilepas) dan bila tidak bertaubat maka dia dibunuh. Dan bila ia tergolong orang yang mengetahui bahwa Taurat itu diturunkan dari Allah dan bahwa wajib iman terhadapnya, maka orang ini langsung dibunuh dengan sebab celaan dia terhadapnya dan taubatnya tidak diterima dalam pendapat yang paling benar dari dua pendapat ulama. Dan adapun bila ia melaknat agama yahudi yang mereka pegang pada zaman sekarang ini, maka ini tidak apa-apa, karena sesungguhnya mereka itu dilaknat, mereka dan agama mereka. Dan begitu juga mencela taurat yang ada pada mereka, yang mana memberikan penjelasan bahwa maksudnya adalah penyebutan tahrif taurat itu, seperti dikatakan: Cetakan taurat ini telah dirubah, tidak boleh mengamalkanya yang ada di dalamnya, dan siapa yang mengamalkan ajaran-ajarannya yang telah dirubah lagi diganti maka dia itu kafir. Ucapan ini dan yang semisalnya adalah haq tidak apa-apa atas yang mengucapkannya, wallahu a’alam). Majmu Al Fatawa dari Ibnu Hazm 35/121.

Adapun dalam sesuatu yang tidak memiliki ihtimal kecuali apa yang nampak, yaitu jelas dilalahnya terhadap kekafiran, maka tidak perlu melihat pada niat dan maksudnya. Dan andaikata hal itu mesti diperhatikan tentulah itu menjadi jalan masuk bagi permainan kaum zindiq terhadap syariat ini.

Oleh sebab itu Al Qadli Iyadl menukil dalam Asy Syifa dari Habib Ibnu Ar Rubaiy -dari kalangan Fuqaha Malikiyyah: (Sesungguhnya klaim takwil di dalam lafadh yang jelas adalah tidak diterima) 2/217, dan Syaikhul Islam telah menukilnya seraya berhujjah dengannya dalam Ash-Sharimul Maslu l/327.

Dan sebelumnya Al Qadli telah menuturkan secara langsung contoh atas kekafiran yang nyata, beliau menukil dari Ahmad Ibnu Abi Sulaiman sahabat Sahnun (Berkata tentang laki-laki yang dikatakan kepadanya: Tidak, demi hak Rasulullah, semoga Allah memperlakukan Rasulullah dengan hal seperti itu, dan ia menuturkan ucapan yang buruk –maka dikatakan kepadanya: Apa yang kamu katakan wahai musuh Allah? maka dia mengatakan ucapan yang lebih dahsyat dari ucapan dia pertama, kemudian berkata: Yang dimaksud dengan ucapan saya Rasulullah adalah kalajengking “maka Ibnu Abi Sulaiman berkata kepada orang yang ada bersamanya: Jadilah kamu saksi terhadanya, sedang saya adalah serikatmu, maksudnya dalam hal membunuhnya dan pahala hal itu) 2/217.

Dan kesimpulannya: Bahwa mencari kejelasan maksud si pelaku itu hanya dianggap dan diperhitungkan serta penting lagi harus di dalam hal yang ihtimal dilalahnya (yaitu dalam takfier dengan hal-hal yang muhtamal) dan tidak di perhitungkan dalam kekafiran yang nyata.

Tanbih: Telah kami ketengahkan kepada anda dalam mawani’ takfier bahwa maksud yang dianggap lagi dimaksud kejelasannya di sini dan yang berpengaruh di dalam hukum takfier adalah penentuan apa yang dimaksud dari perbuatan atau ucapan yang muhtamal itu, bukan mencari kejelasan keinginannya untuk menjadi kafir dan keluar dari agama, sebagaimana yang diduga dan disyaratkan oleh sebagian orang.

Dalam contoh orang yang menghina (Muhammad), maksud yang membuatnya kafir yang dituntut untuk dicari kejelasannya adalah ucapan orang itu (Saya memaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan yang lainnya).

Dan dalam contoh kedua adalah ucapannya (Saya memohon terhadap si mayyit untuk melepaskan kesulitan saya).

Inilah maksud yang berpengaruh dalam hukum takfier dengan hal-hal yang muhtamal dan tidak mesti ditanya: “Apakah kamu bermaksud untuk kafir dengan hal itu, atau apakah kamu menghalalkan hal itu dengan hatimu“ sebagaimana yang disiyaratkan oleh para pewaris Murjiatul Jahmiyyah.

Akan tetapi andai dia berkata: “Saya tidak bermaksud untuk kafir dengan hal itu“ tentulah penafian ini tidak berpengaruh dalam hukum tersebut, karena hukum yang memiliki sebab sebagaimana yang telah lalu tidaklah mungkin tertinggal dari sebabnya secara syar’iy, baik orang yang melakukan sebab itu memaksudkan melekatnya status hukum yang disebabkan ataupun tidak memaksudkannya, bahkan bila sebab yang disebabkan atasnya atau tidak, namun justeru bila sebabnya ada dan syarat-syaratnya terpenuhi serta mawani’nya tidak ada, maka yang status hukumnya itu melekat padanya walaupun si mukallaf itu tidak memaksudkan keterjalinan hukum itu padanya. Si mukallaf tidak punya kewenangan untuk melepaskan ikatan yang dengannya syari’at telah mengikat hukum dengan sebab-sebabnya, walaupun dia itu berangan-angan atas Allah.

Oleh sebab itu Syaikhul Islam berkata dalam Ash-Sharim hal 177-178: (Dan secara umum, siapa yang mengatakan atau melakukan sesuatu yang merupakan kekafiran, maka dia telah kafir dengan hal itu meskipun tidak bermaksud untuk kafir, sebab tidak ada seorangpun yang bermaksud untuk kafir kecuali apa yang Allah kehendaki) dan ungkapan serupa telah lalu dalam bahasan syarat-syarat dan mawani’ takfier.

Adapun peninjauan qarinah-qarinah keadaan yang menyertai suatu perbuatan, maka ia adalah apa yang telah kami isyaratkan kepadanya, yaitu keberadaan orang yang melontarkan ucapan yang muhtamal itu terkenal dengan sikap permainannya terhadap agama ini dan pertemanannya dengan orang-orang zindik, atau dia sendiri tertuduh dengan kezindiqan. Di mana qainah-qarinah ini dan yang serupa dengannya adalah menguatkan maksud kekafiran.

Ibnu Rajab berkata: (Indikasi keadaan menjadikan indikasi ucapan-ucapan itu berbeda, dengan diterimanya klaim suatu yang selaras dengannya dan ditolaknya suatu yang menyelisihinya, dan terbangun hukum-hukum di atasnya dengan sekedar hal itu). Al Qawaaid hal 322 no: 151.

Contoh hal itu adalah apa yang telah disebutkan Al Qadli Iyadl, berkata: (Saya telah menyaksikan Syaikh kami Al Qadli Abu Abdillah Ibnu Isa saat beliau menjadi qadli, di mana didatangkan seorang laki-laki yang telah menghina orang yang namanya Muhammad, terus dia menghampiri seekor anjing kemudian memukulnya dengan kakinya, terus berkata kepadanya: Bangkit kamu wahai Muhammad ! kemudian laki-laki itu mengingkari bahwa ia telah mengatakan hal itu dan bersaksi atasnya sejumlah orang, maka beliau menyuruh memenjarakan orang itu dan meneliti keadannya, dan apakah ia berteman dengan orang yang suka mempermainkan dienya? dan tatkala ia tidak menemukan suatu yang menguatkan kecurigaan terhadap keyakinannya, maka beliau memukulnya dengan cemeti dan membebaskannya) dari Asy Syifa 2/237.

Beliau tidak membunuhnya karena lawan/sekutu laki-laki itu sebagaimana yang dia katakan namanya Muhammad, ini adalah qarinah, disertai ketidakterkenalan laki-laki itu dengan sikap kezindiqan atau bersahabatnya dengan orang-orang zindiq, semua itu menunjukkan bahwa laki-laki itu bermaksud mencari temannya yang telah menghina dia, dan tidak bermaksud mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang menghalangi dari mengkafirkannya dan darahnya masih terjaga, dan beliau mencukupkan saja dengan memukulnya sebagai ta’zir, agar ia hati-hati dan menjaga diri dari celaan yang ihtimal seperti ini, dan agar tidak menjadi jalan untuk mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membiasakan manusia terhadap hal itu.

Adapun tinjauan terhadap adat kebiasaan, maka sungguh suatu kata di adat suatu kabilah atau daerah atau kelompok manusia bisa jadi berbada maksudnya bagi adat orang-orang lain.

Oleh sebab itu Ibnu Qayyim berkata dalam I’lamul Muwaqqi’in (faidah ke 43: (Tidak boleh bagi dia -yaitu mufti- memfatwakan dalam iqrar (pengakuan), sumpah, wasiat dan hal lainnya yang berkaitan dengan lafadh, dengan apa yang menjadi kebiasaan dia berupa pemahaman lafadh-lafadh itu tanpa mengetahui kebiasaan pemilik bahasa itu dan orang-orang yang melontarkan ucapan itu, di mana dia membawa lafadh itu kepada apa yang menjadi adat dan kebiasaan mereka walaupun hal itu menyelisihi makna asal yang sebenarnya, dan bila dia tidak melakukan hal itu maka dia sesat dan menyesatkan …).

Dan beliau itu menyebutkan contoh-contoh atas hal itu terus berkata: (Dan ini adalah pintu yang besar yang terjatuh ke dalamnya mufti yang jahil, sehinga ia menipu manusia dan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya dan ia merubah diennya, dan dia mengharamkan apa yang tidak Allah haramkan, dan mewajibkan apa yang tidak Allah wajibkan .. Wallahu’ Musta’an). 4/228.229.

Dan contoh itu, yang mengikuti kebiasaan orang-orang zaman kita terutama di negeri ini bila mereka menyebut nama Muhammad dan memaksudkan dengannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka mengucapkannya dengan bahasa arab asli dan berkata: Muhammad, dan bila mereka memaksudkan dengannya orang lain, maka mereka mengucapkannya dengan bahasa ‘amiyah (pasaran) begini Amhammad. ‘Urf ini tergolong qarinah-qarinah yang mungkin dengannya dilakukan pentarjihan lafadh atau celaan yang muhtamal bila muncul terhadap orang yang namanya Muhammad. Di mana telah terbiasa di tengah orang-orang bila mereka berkomunikasi dan saling memaki adalah dengan menggunakan bahasa ‘amiyah. Adapun nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka tidak menuturkannya kecuali dengan bahasa arab yang benar.

Dan kesimpulan: Sesungguhnya takfier dengan hal-hal yang muhtamal adalah biang ketergelinciran dan keterpurukan pemahaman yang tidak halal bagi orang yang sayang terhadap agamanya menceburkan diri ke dalamnya tanpa memperhatikan batasan yang telah lalu.

Dan ini adalah contoh-contoh dari fatwa-fatwa ulama dan para qadli di dalam permasalahan seperti ini, yang mana hal seperti ini memperkenalkan kepadamu kehati-hatian para ulama dan ketelitian mereka di dalamnya.

Al Qadli ‘Iyyadl berkata dalam Asy Syifa: (fasal) (sisi keempat: Mendatangkan dari ungkapan suatu ucapan yang global, dan menuturkan ucapan yang musykil yang mungkin membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau orang yang lainnya, atau bimbang dalam hal yang dimaksud berupa keselamatan dia dari yang tidak disukai atau keburukannya maka di sinilah pandangan menjadi bimbang dan ungkapan jadi bimbang serta sumber perselisihan para mujtahid dan saat pembersihan diri para muqaliddin, supaya binasa orang yang binasa di atas kejelasan serta hidup orang yang hidup di atas kejelasan, maka di antara ulama ada yang mengunggulkan kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melindungi kepribadiannya sehingga dia berani menvonis pelakunya untuk dibunuh, dan di antara mereka ada yang menganggap besar kehormatan darah dan menolak had dengan syubhat karena ihtimal ucapan tersebut.

Para imam kita telah berselisih tentang orang yang dibuat marah oleh orang yang dia hutangi, terus dia berkata kepadanya: Ucapkanlah shalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam! maka orang yang menagih berkata kepadanya: Semoga Allah tidak melimpahkan shalawat kepada orang yang mengucapkan shalawat kepadanya

Maka dikatakan kepada Sahnun: “Apakah ia seperti orang yang mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? maka beliau berkata: (Tidak, bila dia dalam kondisi marah yang kamu sebutkan, karena dia tidak menyembunyikan celaan). Dan Abu Ishaq Al Barqiy dan Ishbigh Ibnul Farj berkata: (Dia tidak dibunuh, karena sesungguhnya ia hanya mencela manusia), dan ini seperti ucapan Sahnun, karena ia tidak mengudzurnya dengan sebab marah dalam celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi tatkala ucapanya itu mengandung ihtimal baginya dan bersamanya tidak ada qarinah yang menunjukkan celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau celaan terhadap malaikat, serta tidak ada muqaddimah yang ucapanya bisa di bawah kepadanya, akan tetapi justeru qarinah menunjukan bahwa yang dimaksud dia itu adalah orang-orang selain mereka, karena dasar ucapan pihak yang lain kepadanya: Ucapan salawat kepada Nabi,” sehingga ucapan dan celaannya dibawa kepada orang yang membaca salawat kepada beliau sekarang, karena dasar perintah orang lain itu kepadanya di saat marah, inilah makna ucapan Sahnun, dan ia sejalan dengan alasan dua sahabatnya.

Dan disebutkan bahwa selain mereka berpendapat pelakunya mesti dibunuh, kemudian menukil dari Abdul Hasan Al Qabisiy sikap tawaqqufnya juga dalam hal seperti ini serta ucapannya: (Dan darah orang muslim itu tidak boleh ditumpahkan kecuali dengan hal yang jelas, sedangkan suatu yang mengandung pentakwilan-pentakwilan adalah mesti dikaji ulang, inilah makna ucapannya. Dan dihikayatkan dari Abu Muhamad Ibnu Abi Zaid rahimahullah tentang orang yang mengatakan: Semoga Allah melaknat orang-orang arab, semoga Allah melaknat Bani Israil, dan semoga Allah melaknat Banu Adam, “ dan ia menyebutkan bahwa ia tidak maksudkan Para Nabi namun memaksudkan orang-orang yang dzhalim di antara mereka, maka ia wajib diberi sangsi sesuai ijtihad penguasa. Dan begitu juga dia menfatwakan tentang orang yang mengatakan: Semoga Allah melaknat orang yang mengharamkan suatu yang memabukan, dan berkata:”Saya tidak mengetahui yang mengharamkannya.” Dan (Menfatwakan juga) tentang orang yang melaknat hadits“ orang kota tidak boleh menjualkan bagi orang yang datang dari desa“ dan melaknat apa yang dia bawa, bahwa dia itu diudzur karena kejahilan dan tidak mengetahuinya akan sunnah, dan dia wajib diberi pelajaran yang menyakitkan, Ini dikarenakan dia tidak memaksudkan dengan berdasarkan dhahir keadaannya untuk mencela Allah tabaraka wa ta’ala dan tidak pula mencela Rasul-Nya, namun ia hanya melaknat yang mengharamkanya dari kalangan manusia, sejalan dengan fatwa Sahnun dan para sahabatnya dalam masalah yang lalu. Dan sama seperti itu apa yang biasa muncul dari ucapan orang-orang dungu saat saling mencaci satu sama lain: Hai anak seribu babi, Hai anak seratus anjing, dan ucapan-ucapan kotor lainya. Dan tidak diragukan lagi masuk ke dalam bilangan seperti ini dari kalangan nenek moyangnya adalah sejumlah para Nabi, dan bisa jadi sebagian bilangan ini terputus kepada Adam ‘alaihissalam, sehingga seyogyanya dibuat jera darinya dan mencari kejelasan apa yang tidak diketahui oleh orang yang melontarkanya serta kerasnya sangsi yang diberikan kepada dia. Dan seandainya diketahui bahwa dia memaksudkan celaan terhadap para Nabi yang ada di dalam jalur nasab leluhurnya atas dasar ilmu, tentulah dibunuh. Dan permasalahan bisa dipersempit dalam contoh seperti ini seandainya orang berkata kepada seorang Bani Hasyim: “Semoga Allah melaknat Bani Hasyim,” dan dia mengatakan bahwa maksud saya adalah orang-orang dhalim dari mereka, atau berkata kepada orang yang tergolong keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ucapan yang kotor tentang bapaknya atau orang yang termasud anak cucunya padahal dia tahu bahwa ia termaksud keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dalam dua masalah itu tidak ada qarinah yang menuntut pengkhususan sebagian bapak-bapaknya dan pengeluaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang yang di cela di antara mereka. Dan saya telah melihat (ucapan) Abu Musa Ibnu Manas tentang orang yang berkata kepada seseorang “Semoga Allah melaknatmu hingga Adam ‘alaihissalam” bahwa bila ada bukti atasnya maka dia itu dibunuh). 2/234-237.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya tentang orang yang berkata kepada seorang syarif yaitu turunan Ahlul Bait: “Hai anjing, hai anak anjing” terus dikatakan kepadanya; Sesungguhnya dia itu syarif. Kemudian ia malah mengatakan: “Semoga Allah melaknatnya dan melaknat orang yang mengagungkannya” maka apakah ia wajib dibunuh atau tidak? dan bersaksi atasnya musuh dia dengan hal itu.

Maka beliau menjawab: (Kesaksian musuh terhadap musuhnya tidaklah diterima walaupun dia itu adil, dan ucapannya ini bukan dengan sendirinya tergolong hinaan kepada Nabi yang mana pelakunya mesti dibunuh, akan tetapi mesti diminta penjelasan tentang maksud ucapannya “orang yang mengagungkannya”.

Kemudian bila telah terbukti dengan tafsirnya atau dengan qarinah-qarinah kondisinya atau ungkapannya bahwa ia itu memaksudkan pelaknatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib ia dibunuh.

Dan bila tidak terbukti hal itu, atau terbukti dengan qarinah-qarinah kondisinya atau ungkapannya bahwa ia memaksudkan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti ia memaksudkan pelaknatan terhadap orang yang mengagungkannya atau menyanjungnya atau pelakanatan orang yang meyakini dia itu syarif maka hal itu tidak memastikan hukum bunuh dengan kesepakatan ulama. Orang yang bukan zindiq tidak boleh diduga bahwa ia itu memaksudkan pelaknatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang diketahui dari keadaannya bahwa ia itu mukmin bukan zindiq, maka itu bukti bahwa ia tidak memaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak wajib membunuh muslim dengan sebab menghina salah seorang asyraf (keturunan Nabi) dengan kesepakatan para ulama, yang dibunuh itu hanyalah orang yang menghina para Nabi). Majmu Al Fatawa 35/20.

Dan berkata juga di dalamnya 34/87: (Dan siapa menghina Abu Hasyimi maka ia dita’zir atas hal itu, dan hal itu tidak dijadikan sebagai hinaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan andai ia menghina bapak dan kakek orang Hasyimiy maka hal itu tidak dibawa kepada hinaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena lafadhnya tidak nampak jelas dalam hal itu, karena kakek yang muthlaq adalah bapaknya bapak, dan bila seseorang menyebutkan kakek maka para kakeknya itu banyak sekali, sehingga tidak tertuju kepada orang tertentu, sedangkan hinaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kekafiran yang mengharuskan hukum bunuh, maka iman yang jelas tidak hilang dengan sebab keraguan, dan darah yang ma’shum tidak dihalalkan dengan sebab keraguan, apalagi hal yang umum pada diri orang muslim itu adalah dia itu tidak bermaksud (menghina) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana keadaan dan ucapannya itu tidak menuntut hal tersebut, dan tidak diterima atasnya ucapan orang yang mengklaim bahwa dia itu memaksudkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa hujjah, wallahu a’lam).

Perhatikanlah pertimbangan keadaan dan ungkapan serta pentingnya penetuan maksud dalam hal-hal yang muhtamal seperti ini. Dan perhatikan rincian para ulama yang matang keilmuannya dalam hal-hal seperti ini, maka oleh sebab itu perhitungkanlah dan pahamilah baik-baik, karena sesungguhnya kafur dan iman adalah termasuk hukum-hukum yang bahaya.

Dan ia itu seperti apa yang dikatakan Syaikhul Islam adalah (termasuk hukum-hukum yang diambil dari Allah dan Rasulnya, dan bukan termasuk hal yang dihukumi oleh manusia dengan praduga dan hawa nafsu mereka …!) Al Fatawa 35/101

Dan berkata dalam Ash Sharim Al Maslul: (Takfier itu tidak terjadi dengan hal yang muhtamal). Selesai hal 517.

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 8 Takfir dengan nash yang muhtamal dilalahnya lagi tidak qathi’y dalam takfir


Dan di antara kesalahan yang banyak terjadi di dalam Takfir juga adalah Takfir dengan bersandarkan kepada nash-nash atau dalil-dalil syar’iy yang muhtamal dilalahnya (memiliki banyak indikasi) lagi tidak qath’iy dalam takfir.

Dan yang benar adalah tidak boleh takfier kecuali dengan nash-nash yang shahih lagi sharih juga qath’iy dilalahnya terhadap kekafiran.

Adapun nash-nash yang muhtamal dilalahnya maka tidak layak untuk takfier, karena suatu yang nyata terbukti berupa keislaman, dan ‘ishmah (keterjagaan darah dan harta) dengan nash yang qath’iy maka tidak sah digugurkan dengan nash yang muhtamal, sedangkan dalil itu bila mengandung banyak kemungkinan maka gugurlah istidlal dengannya.

Dan penentuan yang dimaksud dari nash yang muhtamal dilalahnya itu bias terealisasi bukan dengan hawa nafsu belaka atau selera, istihsan (anggapan baik) ,atau anggapan mashlahat, akan tetapi bisa jadi dengan qarinah-qarinah dari nash itu sendiri atau dari nash-nash lain yang menjelaskannya. Dan tanpa itu maka pemahaman bisa menyimpang, sebagaimana yang terjadi pada diri Khawarij dan firqah-firqah sesat lainnya dengan sebab mereka mengambil nash-nash yang muhtamal lagi mutasyabih tanpa nash yang menjelaskannya.

Mereka lakukan itu dikarenakan nash yang qati’iy mematahkan kebatilan mereka, adapun nash yang muhtamal saja bila dijauhkan dari nash-nash yang menjelaskannya maka ia adalah mutasyabih yang mereka takwil dengan hawa nafsu mereka dan digiring dengan talbis-talbis mereka kepada kebatilan mereka. Dan ini adalah cara Ahluz Zaigh (orang-orang sesat) yang telah Allah tabaraka wa ta’ala hati-hatikan darinya dalam kitab-Nya , dia berfirman.

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat muhkamat itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang lain ( ayat-ayat ) Mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya“ (Ali Imran: 7)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: (Allah ta’ala mengabarkan bahwa di dalam Al-Quran Al-Karim itu terdapat ayat-ayat muhkamat yang mana ia adalah Ummul Kitab, yaitu jelas nampak dilalahnya yang tidak ada kesamaran atas seorangpun, di antarannya ada ayat-ayat lain yang terkandung kesamaran dalam dilalahnya atas banyak manusia atau sebagianya. Siapa yang mengembalikan hal yang samar kepada yang jelas darinya dan merujukkan yang mutasyabih kepada yang muhkamnya maka dia telah mendapat perunjuk, dan siapa yang membalikkannya maka dia terjerembah (pada kesesatan). Dan oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “itulak pokok-pokok isi Al-Quran “ yaitu intinya yang dijadikan rujukan saat terjadi kesamaran “ dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat “ yaitu yang dilalahnya ada kemungkinan lain dari sisi lafadh dan tarkib bukan dari sisi maksud…) hingga ucapannya (Oleh sebab itu Allah tabaraka ta’ala berfirman (Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan) yaitu kesesatan dan keluar dari Al-Haq kepada kebatilan (maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat) yaitu mereka mengambil yang mutasyabih yang memungkinkan mereka untuk memalingkannya kepada maksud-maksud mereka yang rusak dan menempatkanya kepadanya karena ada ihtimal (kemungkinan) lafadhnya terhadap apa yang mereka palingkan. Adapun yang muhkam maka tidak ada bagian bagi mereka di dalamnya, karena ia bisa menghadang mereka dan hujjah atasnya, oleh sebab itu Allah tabaraka wata’ala berfirman (untuk menimbulkan fitnah) yaitu penyesatan terhadap para pengikutnya sebagai bentuk image di hadapan mereka bahwa mereka itu berhujjah atas paham bid’ahnya itu dengan Al-Qur’an, padahal ia itu adalah hujjah atas mereka bukan bagi meraka ).

Kemudian beliau menuturkan hadis ‘Aisyah radliyallahu ‘anha yang diriwayatkan Al Bukhari bahwa Rasulullah membaca ayat-ayat ini kemudian berkata: “Bila engkau milihat orang-oarang yang mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasaybihat, maka merekalah orang-orang yang telah Allah beri tanda, karena itu maka hati-hatilah.”

Di antara contoh nash yang dilalahnya muhtamal dalam bahasan kita ini adalah datangnya lafadh kekafiran dengan bentuk nakirah كفر” ” sesungguhnya ia bila tidak diambil bersama dalil-dalil yang menjelaskannya dan (tidak) di kembalikan kepada yang muhkam di dalamnya, maka ia itu secara menyendiri menjadi suatu yang mutasyabih yang bisa menghantarkan kepada fitrnah dan kesesatan .

Sebagai contoh silakan ambil hadits: “Janganlah kalian kembali kafir setelahku, di mana sebagian kalian membunuh sebagian yang lain“ (HR Al Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan sikap saling berperang di antara kaum muslimin sebagai kekafiran, sebagai tanfir (penjera) darinya, takhwif (membuat orang takut) dan tahdzir darinya.

Dan orang yang membawanya kepada kufur akbar, maka tindakannya itu menghantarkan dia kepada sikap mengkafirkan banyak orang dari kalangan para sahabat dan kaum muslimin yang mana telah terjadi peperangan di antara mereka. Dan nash-nash lain yang menjelaskannya telah menujukan bahwa taqaatul (saling berperang) di antara kaum muslimin tidaklah mengeluarkan dari Millah, sebagaimana di dalam firman-Nya ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qishsh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita, maka barang siapa yang mendapat sesuatu pemaafan dari sauDaaranya maka hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik dan hendaklah (yang diberi maaf ) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula)….” (Al Baqarah: 178)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: (Allah ‘azza wa jalla memulai dengan mengkhitabi) orang-orang yang beriman, siapa saja orangnya di antara mereka, baik si pembunuh atau yang dibunuh, dan Allah ta’ala menegaskan bahwa orang yang membunuh secara sengaja dengan wali si terbenuh adalah dua bersaudara, sedangkan Allah ta’ala telah berfirman “Sesunguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara“ maka sahlah bahwa oarang yang membunuh secara sengaja adalah mu’min dengan nash Al-Quran ) Al Fash 3/255.

Dan seperti dalam firman-Nya ta’ala:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujurat: 9-10)

Walaupun mereka saling berperang tetap saja Allah subhaanahu menamakan mereka mu’min. dan ini semua menjelaskan dan menunjukan bahwa kekafiran yang ada dalam hadis ini adalah kekafiran yang tidak hilang bersamanya Al-Iman Asy Syar’iy yang mana ia adalah Al Islam sehinggah jadilah denganya sebagai kufur ashghar, yaitu ia dosa yang tidak mengkafirkan. Dan Allah menamakannya sebagai kekafiran dalam rangka tahdzir dan tanfir darinya, karena suatu dosa yang dinamakan sebagai kekufuran oleh pemilik syari’at ini adalah tidak seperti dosa-dosa yang lainnya, sehingga dengan hal itu ia adalah salah satu dosa besar atau bila mau silahkan katakan: kufrun duna kufrin atau kufr muqayyad lagi ditafsirkan dengan kufur nikmat persaudaraan, bukan kufur muthlaq.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata dalam Iqtidla Ash Shiratil Mustaqim: (Ada perbedaan antara makna nama yang muthlaq bila dikatakan “kafir” atau “mu’min” dengan makna yang muthlaq bagi suatu nama dalam semua penggunaannya, sebagaimana dalam sabdanya “Janganlah kalian kembali kafir setelahku, sebagian kalian membunuh sebagian yang lain“ sabdanya ”sebagian kalian membunuh sebagian yang lain“ adalah tafsir bagi “orang-orang kafir” ditempat ini. Dan mereka dinamai sebagai orang-orang kafir dengan penamaan yang muqayyad dan mereka tidak masuk dalam nama yang muthlaq bila dikatakan “ kafir” dan “ mu’min” )

Dan sebagaimana bahwa firma-Nya ta’ala:

“Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,” (Ath Thariq: 6)

Mani dinamakan air dengan penamaan yang muqayyad dan ia tidak masuk dalam nama yang muthlaq, di mana dia berfirman:

“lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah” (Al Maidah: 6))) selesai hal 82-83.

Dan contohnya juga apa yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Kitabul Iman di Shahihnya bab (kufranul ‘asyyiir wa kufrun duna kufra) dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Neraka di perlihatkan kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita; mereka itu kafir” Ada seseorang bertanya:”Apakah mereka kafir kepada Allah? Beliau bekata: Mereka ingkar kepada suami dan mengingkari kebaikan. “ Dan diriwayatkan juga dalam kitabul haidl (Bab Tarkil Haaidli Ash Shaum) dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dalam Iedul Adlha atau Iedul Fithri, terus beliau melewati para wanita, kemudian beliau berkata: (Wahai sekalian wanita bersedekalah, karena saya diperlihatkan kalian sebagai mayoritas penghuni neraka ) mereka berkata: Apa alasanya wahai Rasulillah? beliau berkata: “Kalian banyak melaknat dan mengingkari suami”

Di dalamnya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan ketidakmengakuan perempuan akan jasa suaminya dan tidak berterimakasihnya terhadap ihsanya (kebaikanya) sebagai kekafiran. Siapa yang mengambil ini saja tanpa dalil yang menjelaskannya maka dia telah sesat dan tergelincir bila membawanya terhadap kufur akbar. Adapun bila dia melihat kepada qarinah-qarinah yang menjelaskan dan menafsirkanya dengan yang seharusnya, maka dia mengetahui bahwa yang dimaksud dengannya adalah kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari millah.

Salah satu qarinah adalah berpalingnya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kafur akbar tatkala mereka bertanya kepada beliau “Apakah mereka kafir kepada Allah? dengan sabdanya: “Mereka mengingkari suami”.

Dan qarinah yang lain ada di dalam riwayat Abu Sa’id bahwa beliau memerintahkan mereka bersedekah dalam rangka menebus dosa pengingkaran kepada suami, sedangkan shadaqah hanyalah menghapuskan maksiat-maksiat dan dosa-dosa yang tidak mengkafirkan, dan ia (shadaqah) tidak menghapuskan syirik akbar dan kufur yang mengeluarkan dari millah.

Dan begitulah hal-hal semacam itu yang terdapat dalam As Sunnah yang datang dengan lafadhnya dalam bentuk fi’il madli atau mudlari (فقد كفر ) (يكفر ) atau kufur dengan bentuk nakirah baik mufrad atau jama (كافر ) (كفار ).

Semuanya tergolong nash-nash yang muhtamal yang tidak boleh bersegera atau memastikan takfier dengan hal itu saja.

Adapun lafadh kufur dengan bentuk isim ma’rifat seperti الكفار, الكافر, الكفر ,الكافرون dan الكوافر , maka biasanya yang dimaksud adalah kufur akbar.

Syaikhul Islam berkata dalam Iqtidlaaush Shirathil Mustaqim saat menjelaskan hadits Muslim:

اثنتان في الناس هما بهم كفر: ألطعن في السب والنياحة على الميت

“Dua hal yang ada pada manusia, keduanya kekufuran pada mereka: mencela garis keturunan dan meratapi mayit”

(Sabdanya ”Keduanya kekafiran pada mereka” yaitu dua perbuatan ini adalah kekafiran yang ada pada manusia. Dua perbuatan ini adalah kekafiran, di mana keduanya adalah termaksuk perbuatan orang-orang kafir, dan keduanya ada pada manusia. Akan tetapi tidak setiap orang yang ada padanya cabang kekafiran, dia menjadi kafir muthlaq dengannya sehingga tegak padanya hakikat kekafiran, sebagaimana tidak setiap orang yang ada padanya cabang keimanan, dia menjadi mu’min sehingga ada padanya ashlul iman

Dan ada perbedaan anatara الكفر yang mari’fat dengan lam, sebagaimana dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ليس بين العبد وبين الكفر والشرك الا ترك الصلاة

“Tidak ada penghalang antara hamba dengan kekafiran atau kemusyrikan kecuali meningalkan shalat.”

dengan ” كفر “ yang nakirah dalam kontek itsbat) (hal: 82)

Para ahli ilmu telah menuturkan dalam ushul fiqh pada pembahasan lafadh-lafadh Al kufri terutama yang ma’rifat darinya suatu kaidah yang intinya membawa lafadh الكفر dalam lafadh syar’iy kepada hakikat sebenarnya, yaitu kufur akbar, dan mereka menjadikan itu sebagai asal sehingga ada yang memalingkannya dari hal itu kepada kufur ashghar.

Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Alu Asy Syaikh berkata: (Lafadh الشرك, الفسوق, الظلم dan yang lainnya merupakan lafadh-lafadh yang datang dalam Al kitab dan As Sunnah terkadang dimaksudkan namanya yang muthlaq dan haqiqatnya yang muthlaq, dan terkadang juga dimaksudkan muthlaqul haqiqat, sedangkan yang pertama adalah makna yang asal menurut para ulama ushul, dan yang kedua tidak dirujuk kecuali dengan qarinah lafdhiyyah atau ma’nawiyyah. Dan itu bisa diketahui hanyalah dengan penjelasan Nabi dan tafsir Sunnah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. “ (Ibrahim: 4)

Selesai dari (Ar Rasaail Al Mufidah 21- 22).

Pemberlakuan hukum asal ini ditunjukan dan dibenarkan oleh pemahaman para sahabat saat mereka mendengar pensifatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap wanita dalam hadits tadi dengan sabdanya “ يكفرن / mereka kafir “ di mana mereka langsung menyusul dengan pertanyaan “apakah mereka kafir terhadapa Allah?”

Itu menunjukan bahwa ini adalah hukum asal atas lafadh الكفر bagi mereka, akan tetapi tatkala lafadh tersebut adalah muhtamal maka mereka tidak memastikan dengan hal itu, namun mereka bertanya dan merujuk dan mencari pemahaman hal itu kepada orang yang memiliki penjelasan. Dan begitulah keadaan dalam lafadh-lafadh muhtamal lainnnya.

Dan dalam hadist itu ada faidah lain yang bisa dianggap sebagai contoh lain bagi beberapa dilalah yang muhtamalah, yaitu sabdanya dalam hadits Abu Sa’id “ Saya diperlihatkan kalian sebagai mayoritas penghuni neraka” maka ini juga, yaitu sekedar wa’id (ancaman) atas dosa tertentu dengan masuk neraka, tidaklah dengan sendirinya menunjukkan terhadap kekafiran yang mengeluarkan dari millah karena adanya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa di antara kaum maksiat dari kalangan mukminin itu ada orang yang dimasukkan neraka kemudian dikeluarkan darinya dan tempat akhirnya adalah tempat akhir kaum muwahhidin, baik setelah diadzab dengan sekedar dosanya, atau dengan syafa’at pemberi syafa’at yang ditaati lagi telah Allah ridhai, atau dengan karunia dan rahmat Allah tabaraka wa ta’ala tanpa syafa’at seorang mahlukpun, sebagaimana di dalam hadits-hadits yang mana di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah ta’ala berfirman: “Pergilah, siapa yang kamu dapatkan di dalam hatinya ada seberat dinar dari keimanan maka keluarkan dia”

Dan di dalamnya ada sabdanya (terus Dia berfirman: pergilah, siapa yang kamu dapatkan di dalam hatinya ada sebatas dzarrah dari keimanan maka keluarkanlah dia …) hingga ucapannya: (Maka para Nabi, para malaikat dan orang-orang mukmin memberikan syafa’at, kemudian Al Jabar berfirman: Tinggalah syafa’atku” Dia menggenggam satu genggaman dari neraka, terus Dia mengeluarkan orang-orang yang telah gosong, kemudian mereka dicelupkan kedalam sungai di mulut surga disebut Maa-ul hayah (Air kehidupan), maka mereka tumbuh di kedua tepinya sebagaimana biji tumbuh di tanah bekas banjir …) Shahih Al Bukhari No 7439

Dan di antara jenis itu apa yang diriwayatkan Al Bukhari dari Abdullah Ibnu ‘Amr, berkata: (Adalah di antara orang yang meninggal dalam pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang laki-laki yang disebut Karkarah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Dia itu neraka) maka para sahabat mencarinya ternyata mereka mendapatkan ‘aba’ah (jubah) yang telah dia curi).

Dan di antaranya juga apa yang diriwayatkan Al Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Orang yang mencekik diri maka dia akan mencekiknya di neraka, orang yang menusuk dirinya sendiri maka ia akan menusuk dirinya di neraka dan orang yang menceburkan dirinya maka ia akan menceburkannya di neraka)”.

Syaikhul Islam berkata: (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menshalati orang yang mencuri ghanimah, dan yang bunuh diri. Seandainya mereka itu kafir dan munafiq tentulah tidak boleh menshalatkan mereka). Majmu Al Fatawa 10/358-359.

Dan di antara hal itu adalah apa yang di riwayatkan Abu Dawud dari Aisyah radliyallahu ‘anhu, berkata: Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Senantiasa orang-orang memperlambat diri dari barisan pertama sehingga Allah membelakangkannya di api neraka)”.

Dan contoh-contoh itu sangat banyak

Dan seperti itu wa’id dengan lafadh “ فليتبوأ مقعده من النار “ Hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka “

Dan termasuk wa’id (ancaman) “خالدين فيها” “mereka kekal di dalamnya”

Sesungguhnya sesuai penelitian yang cermat terhadap dalil-dalil syar’iy, ia adalah muhtamal dilalahnya.

Adapun bila disertai lafadh ta-biid (ابدا /selama-selamanya \) maka telah (dikatakan bahwa ia tidak didatangkan kecuali bersama kekafiran, ini ditegaskan oleh Syaikhul Islam dalam Al Fatawa 7/42,51 dan beliau tidak memastikannya, namun beliau berkata dalam dua tempat: (Dan telah dikatakan).

Dan begitu juga lafadh-lafadh: لا ينظر الله اليهم “Allah tidak memperhatikan mereka” dan lafadh لا يكلمهم “ Tidak mengajak bicara mereka” dan ولهم عذاب اليم أو عظيم “ bagi mereka adzab yang pedih atau yang besar “ Semua itu adalah muhtamal lagi tidak menunjukkan secara pasti terhadap kekafiran, dengan dalil bahwa hal itu datang pada dosa-dosa yang di bawah syirik, dan dalil-dalil syar’iy telah menunjukkan bahwa ia adalah tidak membuat kafir.

Syaikhul Islam berkata dalam Ash Sharim hal 52: (Dan adapun adzabul adhim (siksa yang besar), maka ia telah ada sebagai ancaman bagi kaum mu’minin dalam firman-NYa:

“Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil “. (Al Anfal: 68)

Berbeda dengan Al Adzabul Muhin (siksa yang menghinakan), karena sesungguhnya ia sebagaimana yang dikatakan oleh syaikhul Islam dalam tempat yang sama: (tidak datang penyiapan adzab yang menghinakan dalam Al Qur’an kecuali bagi orang-orang kafir, sebagaimana dalam firman-firman-Nya ta’ala:

“Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An Nisa: 151).

Dan firman-Nya:

“Karena itu mereka mendapatkan murka sesudah (mendapatkan) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.“ (Al Baqarah: 90) hingga ucapannya hal 53: (Dan Allah Subhanah telah berfirman:

“Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya” (Al Hajj: 18)

Itu dikarekan penghinaan adalah penyepeleaan, pelecehan dan kenistaan, dan itu adalah kadar lebih atas kepedihan adzab, terkadang orang mulia disiksa tapi tidak dihinakan). Selesai

Oleh karena itu beliau rahimahullah Mentarjih bahwa firman-Nya ta’ala:

”Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam api nereka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan” (An Nisa: 14) bahwa ia (tentang orang yang mengingkari faraa-idl dan meremehkannya). (Hal 52).

Tidak memperhatikan hal seperti ini dan tidak mengembalikannya kepada dalil-dalil yang menjelaskannya, ia dan nash-nash wa’id (ancaman) lainnya, bisa menjerumuskan pada sikap gluluw dan ngawur dalam takfier. Sungguh saya telah melihat hal itu pada orang-orang yang mengambil muthlaq firman-Nya tabaraka wa ta’ala:

“Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” (Al Jinn: 23) dan tidak membatasinya dengan nash yang menjelaskannya dari firman-Nya ta’ala:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi yang dikehendaki-Nya. (An Nisa: 48)

Kemudian mereka memuthlaqkan takfier dalam semua maksiat dan dosa, dan ia tidak membedakan antara yang tergolong syirik akbar dengan maksiat-maksiat lain yang tidak membuat kafir. Inilah salah satu cara Khawarij dahulu.

Dan di antara shighat (konteks) yang muhtamal dilalahnya juga adalah ancaman atas sebagian perbuatan dengan datangnya pelaknatan para pelakunya lewat lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya apa yang di riwayatkan Al Imam Ahmad (1/136) (2/97) dan Abu Dawud (3674) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat khamr, pemerasnya, yang minta diperaskan, peminumnya, yang menuangkannya, pembawanya, yang diantarkannya kepadanya, penjualnya, pembelinya, dan yang memakan uangnya). Dan laknat adalah menjauhkan dari rahmat dan mengusir darinya. Bila dia mengambil ancamannya ini saja dan memuthlaqkan tanpa memahaminya dengan landasan nash-nash yang menjelaskannya, maka nash itu menjadi mutasyabih yang tergolong jenis apa yang diikuti oleh orang-orang sesat. Akan tetapi dengan merujuk kepada nash-nash yang menjelaskannya yang lain, ternyata kita mendapatkannya bahwa had (sangsi) peminum khamr dalam syari’at ini adalah didera dan bukan dibunuh seperti halnya orang murtad, maka ini menunjukkan bahwa peminum kharm itu tidak kafir, dan bahwa laknat saja bila datang dengan shighat doa yang muthlaq tidaklah cukup untuk menunjukkan atas kekafiran.

Dan itu ditunjukkan juga dengan apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitabul hudud (Bab maa yukrahu min la’ni syaaribil khamr wa annahu laisa bikharijin minal millah) dari Umart Ibnu Khaththab: (Bahwa ada seseorang laki-laki pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namanya Abdullah dan diberi laqab (gelar) Al Himar dan ia suka membuat tertawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menderanya dalam kasuus minum (khamr), kemudian suatu hari ia didatangkan dan diperintahkan untuk didera, tiba-tiba seorang laki-laki dari kaum berkata: Ya Allah laknatkan dia, sungguh sering sekali dia digiring ! maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: jangan kalian laknat dia, demi Allah saya tidak mengetahui kecuali dia itu mencintai Allah dan Rasul-Nya).

Dan beliau menuturkan juga di dalamnya hadits Abu Hurairah, berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan orang yang mabuk, kemudian beliau memerintahkan untuk memukulnya, di antara kami ada yang memukulnya dengan tangan, dan ada yang memukulnya dengan sandal dan ada yang memukulnya dengan pakaian. Dan tatkala orang itu pergi, seorang laki-laki berkata: Kenapa dia itu, semoga Allah menghinakannya, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Janganlah kalian menjadi pembantu syaitan atas saudara kalian”.)

Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam “Janganlah kalian menjadi pembantu syaitan atas sadara kalian” adalah qarinah yang jelas yang menjelaskan bahwa pelaknatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap peminum khamr tidaklah menunjukkan kekafirannya, karena meminum khamr itu tidak mengeluarkan dia dari lingkungan ukhuwwah Imaniyyah.

Dan sabdanya dalam hadits pertama: “Jangan kalian laknat dia” adalah dalil yang menunjukkan bahwa pelaknatan muthlaq tidaklah memastikan darinya pelakanatan orang mu’ayyan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : (Beliau melarang melaknatnya walaupun dia terus menerus meminumnya, dikarenakan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat dalam khamr 10 pelaku..) dan beliau menyebutkan haditsnya terus berkata: (Akan tetapi laknat muthlaq tidak memastikan pelaknatanya orang mu’ayyan yang ada padanya suatu hal yang menghalangi jatuhnya laknat kepada dia … dan begitu juga (Takfier muthlaq dan (Wa’id muthlaq), oleh sebab itu wa’id muthlaq dalam Al Kitab dan As Sunnah disyaratkan dengan keterpenuhan syarat-syarat dan tidakadanya mawani, sehingga orang yang taubat dari dosa tidak masuk dalam ancaman dengan kesepakatan kaum muslimin, tidak pula orang yang memiliki kebaikan yang bisa menghapuskan kesalahan-kesalahnya, tidak pula orang yang mendapatkan syafa’at dan orang yang diampuni, …) Majmu Al Fatawa 10/191.

Dan kesimpulannya bahwa laknat bila datang dengan shighat (bentuk) doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia tidak menunjukkan terhadap takfier dengan sendirinya. Di antara contoh hal itu sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Allah melaknat si pencuri..) dan (Allah melaknat orang yang merubah batas tanah) dan (Allah melaknat pemakai riba dan orang yang memberikannya) dan (Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambung dan wanita yang bertato serta yang minta ditato) dan yang lainnya ..

Berbeda halnya bila bentuk kalimatnya khabar tentang laknat Allah terhadapnya di dunia dan akhirat, maka sesungguhnya ini tidak terbukti kecuali kepada orang kafir, sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Ash-Sharim dalam bahasan firman-Nya tabaraka wa ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat, dan dia mempersiapkan bagi mereka adzab yang menghinakan” (Al Ahzab: 57) Hal 41-43.

Dan di antara bentuk dilalah yang muhtamal juga adalah shighat penafian iman, seperti sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: Tidak berzina si pezina saat dia berzina sedang dia itu mu’min, dan tidak minum khamr (si peminum) saat dia minum sedang dia itu mu’min, dan tidak mencuri (si pencuri) saat dia mencuri sedang dia mu’min..) dikeluarkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

Dan telah lalu penamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap peminum khamr dengan ucapannya “sauDaara kalian”.

Dan telah terbukti keberadaan zina, pencurian dan minum khamr pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak menvonis mereka dengan hukum orang yang kafir, serta tidak memutus muwalah antara mereka dengan kaum muslimin, namun beliau mendera ini, memotong tangan ini, dan beliau dalam hal itu memerintahkan ampunan bagi mereka dan berkata: ”Janganlah kalian menjadi penolong syaitan atas saudara kalian ..) Majmu Al Fatawa cet Daar Ibnu Hazm 7/409.

Dan seperti hadits “Tidak beriman seseorang di antara kalian sehinga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya.” (Muttafaq’ Allah)

Dan hadits: “Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga saling mencintai…”) (HR Muslim) ..

Dan hadits:”Bukan orang mu’min orang yang tetangganya tidak merasa aman dari ganggungan dia.” Dikeluarkan oleh Al Hakim 4/165 dari Anas secara marfu’.

Dan hal yang sama hadits: “Demi Allah tidak beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Dan hadits:”Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai dari anaknya, bapaknya dan manusia semuanya.” (HR Al Bukhari)

Dan hadits-hadits lainnya…

Ini adalah shighat yang muhtamal dilalahnya, dan tidak boleh memastikan bahwa penafian di sini adalah penafian ashlul iman dan terus mengkafirkan setiap orang yang masuk di bawah wa’id ini. Sungguh saya telah melihat di antara orang-orang yang ngawur dan yang sangat menggebu-gebu, orang yang mengkafirkan banyak para pelaku maksiat seraya berdalil dengan hadits-hadits semacam ini dan wa’id yang ada di dalamnya.

Saya telah mendengar orang yang menvonis kafir orang yang bermalas-malas dari melaksanakan shalat jama’ah atau disibukkan dengan dunia darinya, dengan dalil bahwa dia telah mengedepankan hal itu dan mengutamakannya atas cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari itu dia bukan mu’min.

Dan seperti itu mereka katakan pada orang yang taqshir (teledor) dalam jihad dan pembelaan agama karena berat terhadap dirinya dan anaknya.

Dan begitu juga orang yang tidak mengutamakan saudaranya dalam sebagian urusan… mereka berkata: (Dia tidak mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya) berarti dia bukan mu’min sebagaimana ada dalam hadits tadi: Yaitu kafir.

Tidak seperti itu nash dipahami

Engkau telah tahu bahwa shighat ini dan yang semisalnya adalah muhtamalah yang tidak cukup dengan sendirinya untuk memastikan takfier.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperlakukan orang yang melanggar dosa dan maksiat yang lebih dahsyat dari ini dengan perlakuan sebagai kaum muslimin dan beliau tidak mengkafirkan mereka atau menegakkan atas mereka hukuman buat orang-orang murtad. Jadi mesti memahami nash-nash semacam ini dengan merujuk kepada nash-nash lain yang menjelaskannya. Dan kaidah Ahlus Snnah wal jama’ah dalam hal ini adalah firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu bagi orang yang dikehendakinya.”(An Nisa: 48)

Dan sebaliknya tidak sah dikatakan bahwa penafian yang ada dalam hadits-hadits ini adalah penafian kesempurnaan iman, yaitu dengan maksud Al Iman Al Mustahabb (Yang sunnah) sebagaimana yang saya baca dalam sebagian tulisan-tulisan.

Kecuali bila dimaksudkan penafian Al Kamaalul wajib (Kesempurnaan yang wajib) yang mana pelakunya dicela dan terancam siksaan (Lihat Al Fatawa 7/14 cet Daar Ibnu Hazm)

Karena kurang dari (memenuhi) Al Iman Al Wustahabb tidaklah memastikan celaan, dan shighat penafian iman tergolong shighat wa’id, sedangkan wa’id itu sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam di dalam kitabul iman tidak digunakan kecuali bagi orang yang meninggalkan kewajiban, baik itu termasuk Ashlul iman atau termasuk Al iman Al Wajib.

Jadi shighat-shighat semacam ini adalah muhtamal lagi mungkin digunakan untuk penafian Ashlul Iman yang dengannya si pelaku menjadi kafir, atau bisa digunakan untuk penafian kamaalul Iman Al wajib, sehingga pelakunya menjadi fasiq bukan kafir. Dan penentuan salah satu dari dua indikasi yang merupakan maksud syar’iy adalah dengan mengembalikan nash-nash yang muhtamal ini kepada nash-nash muhkam yang menjadi penjelasan baginya.

Dan di antara jenis itu adalah shighat: ليس منا (Bukan termasuk golongan kami).

Sebagaimana dalam hadits: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyanyangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua di antara kita“ (HR Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrid (358))

Dan hadits “Siapa yang menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami, dan siapa yang mengangkat senjata terhadap kami maka dia bukan termasuk golongan kami “ (HR Muslim).

Dan hadits “Siapa yang belajar memanah terus dia meninggalkannya, maka dia bukan termauk golongan kami.“ (HR Muslim dari hadits Uqbah Ibnu Amir secara marfu’).

Dan yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengannya bukanlah Al Kufru Al Mukhrij dari millah adalah riwayat yang lain dari hadits itu sendiri dengan shighat “ فقد عصى /sungguh dia telah maksiat.

Dan hadits-hadits lainnya, sesungguhnya ia adalah termasuk shighat-shighat yang muhtamal yang tidak boleh memastikan takfier dengannya, meskipun ia sebagaimana yang ditegaskan Syaikhul Islam adalah tergolong wa’id yang menunjukkan pengurangan pada iman yang fardhu atau yang wajib, dimana beliau berkata: (Di kala Allah menafikan iman dari seseorang, maka ini tidak terjadi kecuali karena kekurangan sesuatu yang merupakan keimanan yang wajib di atasnya, dan berarti ia tergolong orang-orang yang berhaq mendapatkan janji yang muthlaq, dan begitu juga sabdanya “Siapa yang menipu kami maka ia bukan termasuk golongan kami dan siapa yang mengangkat senjata terhadap kami, maka ia bukan termasuk golongan kami. “Semuanya termasuk masalah ini, tidak dikatakan kecuali terhadap orang yang meninggalkan apa yang Allah wajibkan atasnya atau melakukan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, sehingga ia telah meninggalkan dari keimanan yang difardhukan atasnya suatu yang lenyap darinya nama itu karenanya, maka ia tidak tergolong orang-orang mu’min yang berhak mendapatkan janji lagi selamat dari ancamana). Al Fatawa 7/30-31.

Oleh sebab itu salaf tidak menyukai pembicaraan dalam pentakwilan nash-nash wa’id ini karena khawatir mengentengkan keberadan dosa-dosa yang diancamkannya dan keberanian orang-orang untuk melanggarnya. Dan mereka terpaksa berbicara dalam hal itu –seperti yang kami lakukan di sini– hanyalah untuk menjelaskan madzhab yang benar dan membantah syubhat-syubhat para ghulat (Extrimis dalam Takfier), karena kalau keadaannya tidak seperti itu, maka sesungguhnya wa’id itu pada dasarnya -bila aman dari hal itu- adalah dibiarkan sesuai dhahirnya seperti yang dilontarkan syar’iy, karena sesungguhnya ia lebih membuat jera. Oleh sebab itu An Nawawiy menukil dalam Syarah Muslim dari Sufyan Ibnu Uyainah bahwa beliau tidak menyukai ucapan orang yang menafsirkan sabdanya dalam hadits dengan (Tafsir) bukan di atas tuntunan kami, dan beliau berkata (Sungguh buruk sekali pendapat ini): Yaitu akan tetapi (semestinya) menahan diri dari mentakwilkannya supaya lebih mengena dalam jiwa dan lebih membuat jera) Kitabul Iman 2/29.

Dan di antara shighat yang muhtamal dilalahnya juga adalah wa’id ( Allah haramkan surga atasnya) atau (tidak masuk surga) atau (tidak mendapatkan wangi surga)

Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungna silaturrahim) (HR Al Bukhari dan Muslim).

Dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Muslim).

Dan ini dijelaskan dengan apa yang diriwayatkan Abu Dawud dari Abu Hurairah dalam kisah laki-laki yang telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengadukan tetangganya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk bersabar dan beliau tidak mengkafirkan tetangganya itu, terus beliau memerintahkan dia agar menaruh semua perabotan rumah tangganya di jalan, kemudian dia melakukannya, dan tatakala ditanya orang-orang dan dia kabari mereka tentang gangguan tetangganya terhadapnya, maka mereka mengutuk tetangganya itu, dan di dalamnya tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa dia memperlakukannya seperti orang murtad.

Oleh sebab itu An Nawawi berkata dalam Syarah Muslim (Kitabul Iman): (Dan dalam makna “Tidak masuk surga“ ada dua jawaban yang keduanya berlaku pada setiap hal yang menyerupai hal ini.

Salah satunya: Sesungguhnya ia diartikan pada orang yang menghalalkan sikap menyakiti tetangga padahal ia tahu bahwa itu diharamkan, maka ini kafir tidak mungkin masuk neraka.

Kedua: Maknanya: Balasannya dia tidak masuk surga di saat orang-orang berhasil masuk surga bila telah dibuka pintu-pintunya bagi mereka, tetapi dia mundur, kemudian terkadang diberi balasan dan dimaafkan sehingga dia bisa masuk terlebih dahulu.

Dan kami takwil ini dengan dua pentakwilan, karena kami telah ketengahkan bahwa madzhab ahlul haq sesungguhnya orang yang mati di atas tauhid seraya terus di atas kabaa-ir (dosa dosa besar) maka urusannya kepada Allah tabaraka wa ta’ala bila Dia menghendaki Dia ampuni terus Dia masukan ke dalam surga terlebih dahulu, dan bila Dia menghendaki Dia menyiksanya terus memasukkannya ke dalam surga, wallahu ta’ala a’lam). 2/15-16.

Syaikhul Islam memiliki jawaban seputar pertanyaan dalam bab ini dalam Al Fatawa 7/413 di dalamnya beliau menuturkan perkataan ulama (Bahwa yang dinafikan itu adalah masuk surga langsung yang tidak ada adzab bersamanya, bukan masuk yang muqayyad yang terjadi bagi orang yang masuk neraka kemudian masuk surga) 7/414.

Dan di antara itu juga shighat (Al Jahiliyyah) atau (Da’wal Jahiliyyah) atau (Al Maitah Al Jahiliyyah) dan telah lalu…

Dan di antara shighat yang muhtamal dilalahnya juga adalah lafadh (Saya berlepas diri dari orang yang melakukan ini dan itu) atau (Sungguh telah lepas dzimmah darinya)

Seperti hadits: “Jaminan telah lepas dari orang yang muqim bersama kaum musyrikin di negeri mereka” dikeluarkan Ath Thabarani dalam Al Kabir.

Dan hadits: “Siapa yang tidur malam di atas rumah yang tidak ada perlindungan baginya, terus dia jatuh dan mati. Maka dzimmah lepas darinya, dan siapa yang naik perahu saat ombak berkecamuk, terus dia mati, maka dzimmah telah lepas darinya) (HR Ahmad 54/79)

Hal itu telah ada penafsirannya dalam hadits lain yang menunjukkan bahwa bara’a di sini tidak berarti kekufuran dan keluar dari millah, namun yang dimaksud di antaranya adalah gugurnya diyat di saat kaum muslimin membunuh orang yang pertama bersama kaum musyrikin, dan saat jatuhnya orang yang kedua dari dinding, matinya atau tenggelamnya.

Untuk menjelaskan yang pertama, Abu Dawud At Tirmudzi dan Ibnu Majah dari Jarir Ibnu Abdillah “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus pasukan ke Khats’am, terus orang-orang melindungi diri dengan sujud, kemudian mereka malah dibunuh. Dan berita itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memerintahkan bayar setengah diyat bagi mereka, dan berkata: “Saya berlepas diri dari setiap muslim yang muqim ditengah kaum musyrikin “mereka berkata: “wahai Rasulullah kenapa? beliau berkata: Kedua perapian mereka tidak boleh saling melihat.”

Dan dalam penjelasan kedua, Ath Thabarany meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Ja’far bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:”Siapa yang melempar kami di malam hari maka dia bukan golongan kami, dan siapa yang tidur dia atap yang tidak ada dinding pelindung baginya, maka darahnya tidak bernilai diyat”

Kesimpulannya …Bahwa tidak membedakan dan tidak jeli dalam shighat-shighat muhtamal seperti ini dan membawanya pada kufur akbar yang mengeluarkan dari millah, serta tidak mengembalikannya kepada nash-nash yang menjelaskannya adalah sandungan besar yang tidak ditembus kecuali oleh orang yang tidak peduli dengan diennya, dan ia adalah inti keterelinciran Khawarij yang membawa seluruh shighat wai’d terhadap kufur akbar, padahal banyak darinya tidak sharih penegasannya terhadap kufur akbar, dan ia juga memiliki qarinah-qarinah dan nash-nash yang menjelaskannya yang memalingkannyan darinya. Mereka kafirkan kaum muslimin dan halalkan darahnya dan mengeluarkannya dari lingkungan Islam dengan sebab suatu yang bukan kufur akbar, sehingga dengan itu mereka keluar dari madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka wajib atas pencari kebenaran agar hati-hati bagi diennya dan tidak menembus takfier dengan shighat-shighat yang ihtimal dilalahnya sebelum metadabburi dalil-dali syar’iy, pokok-pokok dasarnya dan maksud-maksudnya untuk mengetahui dan menentukan maksud Allah subhanahu wa ta’ala darinya. Bila dia tafrith di dalam hal ini dan melupakannya serta berinteraksi dengan nushush dengan semangat saja dan dengan ngawur, maka dia binasa dan membinasakan tanaman dan binatang ternak, dan sikap aniayanya adalah atas agamanya.

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 7 Pembatasan Firqah Najiyah Hanya Pada Kumpulan, Atau Jam’ah, Atau Partai Atau Kelompok Tertentu Di Antara Umum Kaum Muslimin


Pembatasan Firqah Najiyah

Hanya Pada Kumpulan, Atau Jam’ah, Atau Partai Atau Kelompok Tertentu Di Antara Umum Kaum Muslimin


Di antara kesalahan yang sangat buruk dalam takfier juga adalah pembatasan Firqah Najiyah pada kumpulan, atau jama’ah atau partai atau kelompok tertentu di antara umum kaum muslimin, dan mengkafirkan selainnya atau memvonis binasa (bid’ah) mereka.

Sunguh telah datang hadis yang mengabarkan perpecahan umat ini dan yang memberi kabar gembira terhadap Al Firqah An-Najiyah dari berbagai jalan dan dishahikan oleh banyak ulama, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ”Yahudi telah pecah menjadi 71 golongan, semuanya di neraka kecuali satu saja, dan Nashara telah pecah menjadi 72 golongan kecuali satu saja, serta umat ini akan pecah menjadi 73 golongan kecuali satu saja,” dan dalam satu lafadh ”umatku akan pecah“ dan dalam riwayat lainnya ”Millah ini akan pecah.!!”.

Dan dalam satu riwayat.”dikatakan “Wahai Rasulullah…! siapa mereka itu ? (Yaitu: Orang-orang yang selamat), maka  beliau berkata: (Al Jama’ah), dan dalam riwat lainnya: (Sesuatu yang mana aku dan para sahabatku berada di atasnya). Riwayat yang akhir ini di dlaifkan oleh sebagai ulama dan dihasankan oleh ulama  lainnya, di antaranya adalah At Tirmudzi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Hadits ini adalah shahih lagi masyhur di dalam As Sunnan dan Al Masanid, seperti Sunnan Abu Dawud, At Tarmidzi, An Nasai, dan ayang lainnya). Majmu Al Fatawa cetakan Dar Ibnu Hazm 3/215.

Al Hafidh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya: (Hadist pemecahan umat menjadi tujuh puluh sekian diriwayatkan dari jalan-jalan yang banyak).

Dan sungguh saya telah mendengar orang-orang yang ngawur dari kalangan yang berafiliasi kepada kelompok-kelompok atau (dari) kalangan yang intisab kepada jama’ah tertentu, dan anehnya sebagiannya adalah dari jama’ah-jama’ah Irja’ yang secara dusta mengaku salafy, dia bersikap wara’ dari mengkafirkan para thaghut dan tidak bersikap wara’ dari menyatakan perang atas setiap orang yang berupaya untuk menjihadi para thaghut itu atau dia itu tidak ragu-ragu dari bersikap bara’ dari setiap orang yang mengkafirkan para thaghut itu walaupun orang itu tergolong penganut islam pilihan.

Saya telah mendengar dan melihat mereka menggiring kandungan hadist ini dan sebutan Al Firqah An Najiyah – yang lazim darinya menurut mayoritas mereka kebinasaan selainya – terhadap panutan-panutan mereka, syaikh-syaikh mereka serta jama’ah-jama’ah mereka sendiri. Dan seseorang di antara mereka bahagia bila mendapatkan ucapan-ucapan ulama tentang ahli hadits dan bahwa mereka itulah Al Firqah An Najiyah; terus dia terbang dengan hal itu sambil mengira bahwa mereka itu adalah jama’ahnya dari kalangan Para Pengaku Salafiy karena sekedar pertengkaran dan saling dengki di antara mereka atas perniagaan pentahqiqkan manuskrif-manuskrif hadist.

Dia lupa atau pura-pura lupa bahwa Ahlul Hadits yang mana ucapan-ucapan mereka itu dijadikan sebagai dalil, semacam Imam Ahlissunnah Ahmad Ibnu Hanbal, Sufyan Ats Tsauri dan yang lainya, mereka itu tidak pernah diam dari kemungkaran atau bid’ah-bida’ah para penguasa, mereka tidak bermudahahah dengan mengorbankan dien mereka terus memejamkan mata dari sesuatu kebatilan para penguasa itu, dan mereka menaggung resiko disiksa, dipenjara dan berbagai ujian karena hal itu.

Dan (Dia lupa atau pura-pura lupa) bahwa Ahlul Hadits itu berpaling dari pintu-pintu penguasa dan jabatan-jabatan mereka, serta mengingkari terhadap orang yang menjabat suatu dari jabatan-jabatan mereka, menilainya sebagai cacat yang membuat ruwayat haditsnya dipertanyakan dan menghajrnya, sedangkan itu pada masa-masa kekhilafahan dan penaklukan-penaklukan islam.[1]

Di waktu di mana para pengaku salafiy hari ini berguguran dan berlomba-lomba (mendekati) pintu-pintu para thaghut dan jabatan-jabatan syirik dan berhalaisme mereka.

Dan dia lalai (tidak ingat) bahwa Ahlul Hadits di generasi pertama tidak hanya cukup menggoreskan pena dalam lembaran-lembaran dalam rangka membela hadits Al Masththafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi mereka menggoreskan bukti-bukti jihad terbesar dalam rangka membela Islam dan kaum muslimin, dengan darah-darahnya. Di mana mereka meriwayatkan dengan darah-darah mereka kisah-kisah medan pertempuran dan jalan-jalan istisyhad. Dan semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah Ibnul Mabarak saat berkata:

Wahai ‘Abidal Haramain andai engkau melihat kami …

Tentu engkau mengetahui bahwa engkau bermain-main dengan ibadah

Siapa yang pipinya basah dengan air mata

Maka leher kami berlumuran dengan darah kami

Atau dia melelahkan kudanya dalam kebatilan

Maka kuda-kuda kami lelah di hari penuh debu

Angin semerbak bagi kalian, sedangkan wangian kami

Kapulan telapak kuda dan debu yang wangi…

Hingga akhir bait syairnya….

Dan sudah maklum juga sikap Al Izz Ibnu Abdissalam terhadapa para penguasa zamannya.

Juga sikap-sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap para penguasa Tartar dan fatwa- fatwanya prihal pengkafiran Tartar dan jihad melawan mereka serta yang lain-lainnya.

Sungguh tidak malu orang-orang yang mengaku salafiy ini dari mengutarakan dan menyebutkan dalam jajaran para tokoh Al Firqah An Najiyah ini nama-nama para pentolan Jahmiyyah dan Murji’ah pada masa sekarang yang telah membancikan agama ini, mengkerdilkannya dan menundukannya buat kepantingan para penguasa. Mereka menjadikan para thaghut kekafiran itu sebagai Imam (Pemimpin) kaum mukminin, mereka berikan kepadanya kepatuhan dan bai’at, mereka rela menjadi bala tentara yang setia dan pemberi saran yang tulus baginya.

Namun demikian dia itu menjadikan orang-orang semacam itu  sebagai tokoh-tokoh Al Firqah An Najiyah bahkan (sebagai) Ath Thaifah Al Manshurah !! dikarenakan mereka itu – hebat sekali- telah memerangi – seperti yang dia tuturkan- syirik kuburan !! bid’ah-bid’ah tashawwuf !! dan hal lainnya yang tergolong hal yang tidak mempengaruhi politik-politik atau kekafiran para thaghut itu. Dan tidak apa-apa atas mereka serta tidak masalah baginya bila mereka menghidupkan dan melegalkan syirik Hukum, Undang-Undang dan UUD dengan fatwa-fatwa dan pengkaburan-pengkaburan mereka itu[2] !!!

Sebagaimana saya telah melihat sebagian orang-orang yang ghuluw mengklaim hal itu pada jama’ah-jama’ah mereka, dan atas dasar ini mereka tawaqquf prihal keIslaman selain golongan mereka atau mengkafirkan setiap orang yang berada di luar jama’ah mereka. Karena mereka itu telah meninggalkan (Al jama’ah), sedangkan menurut mereka ini adalah kekafiran ??

Dan termasuk jenis itu juga orang yang mensifati jama’ahnya atau menamakannya dengan nama Jama’atul Muslimin dengan hujjah bahwa ia adalah Al Jama’ah Al Haq dan Al Firqah An Najiyah dan selain mereka termasuk golongan yang binasa.

Dan orang-orang yang ghuluw yang paling minimal keburukannya adalah orang yang engkau lihat memperlakukan setiap orang yang keluar dari kelompoknya atau di luar batasan jama’ahnya: dengan perlakuan terhadap orang-orang kafir, dia gugurkan hak-hak keIslaman mereka serta menghalalkan kehormatannya atau melampaui aturan-aturan Allah tentang mereka, dia tidak menjaga dzimmah dan hak syar’iy pada mereka, walaupun dia itu saat dimintai kejelasan tentang hal itu, maka dia itu tidak terang-terangan mengkafirkan mereka. Dan ini semua termasuk kebatilan dan kesesatan yang nyata di mana kami berlepas diri di hadapan  Allah darinya.

Dan ia termasuk jenis yang telah lalu, yaitu takfir orang yang tidak memba’at imam tertentu, karena sesungguhnya sebagian pemegang pendapat ini berhujjah juga prihal kekafiran orang yang meninggalkan jama’ah mereka dengan hadits Muslim:Siapa yang meninggalkan jama’ah terus dia mati, maka (dia) mati jahiliyyah”, Kemudian mereka mempersulit dan mempersempit suatu yang telah Allah lapangkan di mana mereka membatasi lafadh jama’ah di sini terhadap jama’ah mereka. Sedangkan telah lalu jawaban atas masalah acaman dengan mati jahiliyyah dan bahwa indikasinya terhadap kekafiran adalah tidak jelas.

Dan begitu juga keadaannya di sini berkaitan dengan ancaman yang ada dengan neraka bagi selain penganut Al Firqah An Najiyah dari kalangan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia juga tidak terang indikasinya terhadap takfier. Dan sudah maklum bahwa sekedar ancaman dengan neraka tidak menunjukan kekal di dalamnya, sedangkan orang yang boleh (secara hukum) keluar dari neraka walau setelah sekian lama diadzab di dalamnya, maka dia itu tidak tergolong kalangan yang binasa secara muthlaq, bahkan justru dia tergolong kalangan yang selamat dan menang walau setelah waktu yang lama.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah beruntung”. (Ali ‘Imran: 185)

Dan akan datang bahwa ancaman dengan neraka itu telah ada pada banyak dosa-dosa yang tidak mengkafirkan, dan bahwa ancaman dengan kekal di neraka selama-lamanya adalah yang dibawa pada umumnya kepada kekafiran, berbeda dengan sekedar ancaman masuk ke dalamnya. Maka diketahuilah dari itu bahwa tidak setiap orang yang diancam masuk neraka dari kalangan yang menyelisihi Al-Firqah An-Najiyah dari kalangan yang masih tergolong umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (umat ijabah) adalah bahwa dia itu menjadi kafir dengan hal itu.

Akan tetapi di antara orang-orang yang masuk dalam ancaman ini ada orang-orang yang seperti itu, yaitu kafir, dan merekalah orang-orang kekal di dalamnya lagi binasa, dan mereka itu masuk di bawah keumuman lafad umat, yaitu umat dakwah, yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada mereka, dan di antara mereka ada yang tidak keluar dari Islam dengan sebab penyelisihannya atau dengan sebab penyimpangannya dari manhaj Al-Firqah An Najiyah, dan mereka itu bila masuk neraka, maka mereka tidak tergolong yang kekal di dalamnya…

Oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Kitabul Iman: (Dan siapa yang menyatakan bahwa yang 72 firqah itu, masing-masing dari mereka itu kafir yang mengeluarkan dari millah, maka dia telah menyelisihi Al-Kitab As-Sunnah dan ijma sahabat radliyallahu ‘anhum, bahkan ijma imam yang empat dan yang lainnya, karena tidak ada di antara mereka orang yang mengkafirkan setiap firqah dari dari ke72 firqah itu, dan hanya yang terjadi adalah sebagian mereka itu mengkafirkan sebagian yang lain dengan sebab sebagian pendapat yang dianutnya) Majmu Al-Fatawa 7/139.

Dan Asy Syathibiy telah mengomentari hadits ini juga dalam Al I’tisham dan beliau menjelaskan di hal (2/226) bahwa firqah-firqah yang disebutkan di dalam hadits itu ada  kemungkinan mereka itu menjadi keluar dari millah dengan sebab apa yang mereka ada-adakan, mereka itu telah meninggalkan Ahlul Islam secara total, dan itu tidak lain adalah kekafiran ).

(Dan ada kemungkinan mereka itu tidak keluar dari Islam secara total, walaupun mereka telah keluar dari sejumlah syariat dan ushulnya) …2/228

(Dan ada kemungkinan ketiga, yaitu mereka itu tidak tergolong orang yang telah meninggalkan Islam, akan tetapi ucapannya kufur dan mengandung makna kekafiran yang nyata, dan di antara mereka ada yang tidak meninggalkan Islam akan tetapi hukum Islam masih melekat padanya, meskipun pendapatnya sangat bahaya dan madzhabnya sangat buruk, akan tetapi tidak sampai pada tingkatan keluar kepada kekafiran murni dan penggantian agama yang nyata ). 2/228-229.

Kemudian beliau menuturkan ucapan yang akan kami nukil dalam kekeliruan Takfier Bil Ma-aal, yang intinya (Bahwa kekafiran dengan ma-aal (apa yang dihantarkan oleh pendapatnya) bukanlah kekafiran di saat itu pula)

Sampai beliau mengatakan 2/230: (Dan bila penukilan perbedaan telah diketahui maka mari kita kembali kepada apa yang dituntut oleh hadits yang sedang kita bicarakan dari pendapat-pendapat ini.

Adapun yang shahih darinya, maka ia  tidak menunjukkan atas sesuatupun, karena di dalamnya tidak ada kecuali penyebutan bilangan firqah-firqah itu secara khusus. Dan adapun riwayat orang yang dikatakan di dalam haditsnya : “Semuanya masuk neraka kecuali satu“ maka ia hanya menuntut penerapan ancaman secara dhahir, sedangkan masalah kekal dan tidaknya adalah tidak disinggung, sehingga di dalamnya tidak ada dalil terhadap sesuatupun dari apa yang kami inginkan, karena ancaman dengan neraka bisa berkaitan dengan kaum mukminin sebagaimana ia berkaitan dengan orang-orang kafir secara umum, meskipun keduanya ada berbeda dari sisi kekal dan tidaknya).

Kemudian beliau menuturkan rincian dan kemungkinan-kemungkinan lainnya..

Maka terbuktilah bahwa indikasi hadits tersebut terhadap kekafiran firqah yang menyelisih Al Firqah An Najiyah adalah tidak qathi’iy akan tetapi ia adalah muhtamal, sedangkan yang rajih bahwa di antara firqah-firqah itu ada orang-orang yang binasa yang telah murtad ke belakang, dan di antara mereka ada orang yang penyelisihannya tidak mengeluarkan dari Islam.

Ini dari satu sisi, dan dari sisi yang lain sesungguhnya Al Firqah An Najiyah atau Al Jama’ah itu tidak halal dibatasi pada perkumpulan atau kelompok atau partai tertentu saja dari keumuman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, namun setiap orang yang berada di atas Ushul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, maka dia itu tergolong mereka walaupun tidak mengikuti sosok dari sosok-sosok yang ada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun terdapat padanya berbagai maksiat atau penyimpangan- penyimpangan yang tidak mengkafirkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata 3/125: (Dan oleh sebab itu Al Firqah An-Najiyah disebut sebagai ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dan mereka itu adalah Al Jumhur Al Akbar dan As Sawaad Al Adham).

Dan berkata dalam tempat yang sama 3/216: (Maka banyak dari manusia menggambarkan tentang firqah-firqah ini dengan hukum dhann (persangkaan) dan hawa nafsu, terus dia menjadikan kelompoknya dan orang-orang yang intisab kepada tokoh yang diikutinya lagi loyalitas kepadanya sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan dia menjadikan orang yang menyelisihinya sebagai Ahlul Bid’ah, dan ini adalah kesesatan, karena Ahlul Haq Was Sunnah tidak ada orang yang mereka ikuti kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berkata dari hawa nafsu, ia tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan, beliaulah yang wajib dibenarkan dalam apa yang beliau kabarkan, dan wajib ditaati dalam setiap apa yang beliau perintahkan. Dan kedudukan ini tidak berlaku bagi selain beliau dari kalangan para imam, akan tetapi setiap orang dari manusia ini diambil ucapannya dan ditolak kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapa yang menjadikan satu sosok dari sosok-sosok yang ada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang mencintainya dan selaras dengannya maka dia tergolong Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dan siapa yang menyelishkannya maka dia tergolong ahlul bid’ah Wal Furqah –sebagaimana hal itu ditemukan pada kelompok-kelompok pengikut para imam dalam membicarakan dien ini dan yang lainnya. Maka orang itu tergolong ahlul bid’ah waldldlalaal wat tafarruq (orang-orang penganut bid’ah dan kesesatan serta perpecahan).

Dan dengan ini jelaslah bahwa orang yang paling berhak mendapatkan predikat Al Firqah An Najiyah adalah ahlul hadits was sunnah yang tidak memiliki matbu’ (yang diikuti) yang mana mereka ta’ashshub terhadapnya selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)…)

Kemudian beliau menuturkan sifat-sifat terpenting mereka.

Dan Asy Syathibiy juga telah menyatakan dalam hal 290 dan yang sesudahnya dalam penjelasan tafsir Al Firqah An Najiyah dan makna Al Jama’ah, dan beliau menuturkan hadits-hadits yang mendorong untuk komitmen dengan Al Jama’ah serta beliau menjelaskan perselisihan manusia tentang maknanya menjadi lima pendapat.

Pertama : Ia adalah As Sawadul A’dham dari Ahlul Islam, dan siapa yang menyelisihinya maka dia mati jahiliyyah.

Kedua : Sesungguhnya ia adalah jama’ah aimmatil ulama wal mujtahiddin, siapa yang keluar dari apa yang dipegang oleh ulama umat ini, maka ia mati jahiliyyah, seolah ia mengisyaratkan dengan hal ini dan yang sebelumnya terhadap apa yang dituturkan oleh para ulama tentang ijma, dan akan ada bahasanya.

Ketiga : Sesungguhnya mereka adalah sahabat secara khusus, merekalah yang tidak mungkin sepakat di atas kesesatan.

Dan berkata hal (294): (Atas dasar pendapat ini maka lafadh Al Jama’ah selaras dengan riwayat yang lain dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesuatu yang saya dan para sahabt saya berada di atasnya”)

Keempat : Sesungguhnya mereka adalah Jama’atu Ahlil Islam, dan telah dijelaskan bahwa yang lebih nampak dalam pendapat ini adalah kembalinya pada pendapat pertama.

Kelima    : Apa yang dipilih oleh Ath Thabari, bahwa Al Jama’ah adalah jama’atul muslimin bila telah berkumpul atas seorang amir … dan berdalil dengan hadits “Siapa yang datang kepada umatku untuk memecah jama’ah mereka, maka penggallah lehernya siapa pun dia” dan inti pendapat ini adalah sebagaimana yang beliau katakan (296) (sesungguhnya jama’ah itu kembali kepada berkumpul kepada imam yang selaras dengan Al Kitab dan As Sunnah, dan ia adalah dhahir (menunjukkan bahwa ijtima (kumpul / sepakat) atas selain sunnah adalah keluar dari makna jama’ah yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang lalu, seperti Khawarij dan orang yang sejalan dengan mereka).

Berkata  : (ini adalah lima pendapat yang berkisar seputar penganggapan ahlus Sunnah Wal Ittiba, dan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang dimaksud dengan hadits-hadits itu, maka hendaklah kita mengambil itu sebagai landasan …) (2/296)

Dan atas dasar ini, maka tidak sah membatasi Ahlus Sunnas Wal Jama’ah yang mana mereka itu Al Firqah An Najiyah, menyempitkannya serta mengkhususkannya bagi jama’ah atau kelompok (tertentu), dia loyalitas dan memusuhi di dalamnya tanpa kaum muslimin lainnya … sesungguhnya ini adalah metode Ahlul Bid’ah sebagaimana yang dituturkan para ulama.

Asy Syathibiy telah menyebutkan dalam Al Itisham 2/283 bahwa setiap firqah dan firqah-firqah yang sesat adalah tidak meyakini bahwa firqah yang lainnya itu adalah firqah yang selamat.

-          Orang yang menafikan sifat-sifat  Allah mengklain bahwa dialah muwahid

-          Mutazilah menamakan diri mereka sebagai Ahlul ‘Adli Wat Tauhid

-          Dan Musyabbih (orang yang menyerupakan  Allah) mengklaim bahwa dia itu orang yang menetapkan Dzatullah dan sifat-sifat-Nya[3].

Berkata 2/286: (Khawarij berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:Akan senantiasa sekelompok dari umatku  nampak di atas Al Haq sampai datang ketentuan  Allah

Dan Murji’ah berdalil dengan sabdanya:Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah seraya tulus dari hatinya maka dia masuk surga meskipun  dia berzina dan meskipun dia mencuri.” Kemudian dia menyebutkan Qadariyyah, Mufawwidlah, Rafidlah dan yang lainnya.

Dan berkata 2/283: (Dan itu dikarenakan bahwa setiap yang masuk di bawah penamaan “Al Islam“ baik sunny atau ahli bid’ah mengklaim bahwa dialah yang mendapatkan keselamatan dan masuk dalam barisan firqah itu, karena tidak mengklaim hal selain itu kecuali orang yang telah melepas ikatan Al Islam dan bergabung dengan firqah kekafiran). Selesai.

Dan kesimpulan yang lalu bahwa Al haq yang kami yakini dan yang kami anut di dalam dienullah ini adalah bahwa kami meskipun intisab kepada Al Firqah An Najiyah (Ahlus Sunnahn Wal Jama’ah) dan kami berupaya terus agar kami tergolong Barisan Thaifah yang menegakkan dienullah yang nampak di atas perintahnya, dan yang mana mereka itu adalah tergolong kalangan khusus Ahlis Sunnah Wal Jama’ah dan Ahlul Firqah An Najiyah, kami memohon kepada  Allah Tabaraka Wa Ta’ala agar meneguhkan kami di atas jalan mereka dan menutup umur kami dengannya.

Namun kami tidak membolehkan bagi diri kami dan bagi yang lainnya untuk membatasi Al Firqah An Najiyah pada jama’ah atau golongan tertentu di antara kaum muslimin, dan tidak pula mengkhususkan Ath Thaifah Al Manshurah pada jama’ah-jama’ah tertentu atau perkumpulan yang terbatas tanpa yang lainnya dari kalangan para pembela dien ini.

Tidak sama sekali, kami berlindung kepada Allah dari mengkalim hal itu, sungguh saya telah mengetahui bahwa ini adalah jalan Khawarij dan orang-orang sesat lainnya yang mana kami berlepas diri kepada Allah dari jalan-jalan mereka.

Dan yang kami yakini adalah bahwa setiap muslim yang merealisasikan tauhid dan menjauhi syirik dan tandid serta tidak pernah melakukan satupun dari nawaqidlul (penggugur) Islam dan pembatal-pembatalnya, maka sesungguhnya dia tergolong golongan Al Firqah An Najiyah, dan tempat kembalinya dengan rahmat Allah kepada keselamatan yang sempurna bila ia tergolong orang yang merealisasikan Ashlul Iman dan kewajiban-kewajibannya atau di penghujungnya dia itu mendapatkan keselamatan walaupun setelah waktu yang lama bila ia mendatangkan Ashlul Iman dan menelantarkan sebagian kewajiban-kewajiban al iman, sehinga ia tergolong orang-orang yang mendhalimi diri mereka sendiri.  Allah tabaraka wa ta’ala beriman;

Kemudian Kami wariskan kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiyaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin  Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (bagi mereka) surga ‘Adn, mereka masuk kedalamnya(Fathir:32-33).

Dan bahwa Pengusung Ath Thaifah Al Manshurah Al qaa-imah bl amrillah, dan mereka itu adalah kalangan khusus Al Firqah An Najiyah ini sebagaimana yang akan datang penjelasannya di penutup kitab ini, adalah setiap orang yang menegakkan dien ini, membelanya dan menampakannya, maka ia tergolong Thaifah ini di mana saja berada dan hingga kiamat.

Kita memohon kepada Allah ta’ala agar menjadikan kita bagian dari tentara dan barisan Thaifah ini, dan meneguhkan kita di atas hal itu hingga hari perjumpaan dengan-Nya. Dialah penolong kita, sebaik-baiknya Pelindung dan sebik-baiknya Penolong.


[1]Dan contoh-contoh akan hal itu adalah banyak, silahkan lihat sikap sebagian salaf terhadap Az Zuhry karena sebab dia masuk kepada khalifah-khalifah dan sikap Ibnu Mubarak terhadap Ismail Ibnu ‘Ulayyah saat dia menjabat qadli, dan syair yang beliau ucapan dalam rangka mengingkarinya.

Dan yang lucu sesungguhnya para pewaris Murji’ah dan para pengekor ulama pemerintah menyerang kami habis-habisan dan selalu menghujat kami tatkala kami meminjam ujung bait syair Ibnul Mubarak “Zalla Himaar Ilmi Fith Thiin (Kedelai Ilmu terpeleset di tanah)” dan kami menyediakannya sebagai judul bagi ungkapan-ungkapan yang kami tulis sebagai reaksi marah karena dienullah dan karena ikhwan kami kaum muwahhidien yang dihalalkan darahnya oleh para syaikh jahat dengan sebab jihad mereka dan perang mereka terhadap orang-orang kafir, para syaikh jahat itu telah menjadikan jihad terhadap orang-orang kafir sebagai bentuk sikap memerangi Allah dan Rasul-Nya dan sebagai bentuk penebaran kerusakan di muka bumi serta sebagai bentuk terror terhadap orang-orang yang mereka sebut sebagai Al Aaminiin (orang-orang yang diberi jaminan keamanan) !! dari kalangan murtaddin, kafirin dan kaum musyrik harbi, semua itu dalan rangka mencari ridla raja mereka dan auliyanya dari kalangan orang-orang Amerika .

Dan saya tidak tahu bila Ibnul Mubarak mengucapkannya terhadap Ibnu ‘Ulayyah karena sekedar beliau menjabat sebagai gadli pada masa Khilafah !! maka apa yang akan beliau katakan terhadap pada syaikh itu?? andaikata beliau melihat penyimpangan-penyimpangann dan kerancuan-kerancuan mereka serta mengetahui pembai’atan para syaikh itu terhadap para thaghut dan pelegalannya terhadap berbagai kemusyrikan mereka seperti tawalli kepada kaum musyirikin dan negara-negaranya, tawalli kaum murtaddin dan undang-undangnya serta dukungannya kepada mereka dalam memerangi para mujahidin di bawah payung kesepakatan-kesepakatan yang mereka namakan “Memerangi Terorisme” dan yang lainya, itu semuanya ada pada mereka ! sampai-sampai mengenakan salib pun (adalah hal-hal biasa) !! dan bukan kekafiran juga bukan kemusyrikan !.

[2] Silahkan contoh Dari hal itu lontaran Rabi’ Ibnu Hadi Al Madkhaliy dalam kitabnya (Ahlul Hadits Hum Ath Thaifah Al Manshurah An Najiyah), di mana dia menuturkan di antara kalangan yang termasuk Ahluth Thaifah Al Manshurah nama-nama orang dan jama’ah-jama’ah yang sebagian mereka itu telah menjual dien mereka kepada para penguasa dengan bentuk bai’atnya kepada para thaghut itu, dan sebagian mereka dari kalangan yang melegalkan (pemilu) atau yang ikut serta dalam parlemen-parlemen kufur di negara-negara murtad. Dan yang paling minimal kejahatan dan keburukannya adalah orang yang mencap para Muwahhidin yang menjihadi para thaghut sebagai Khawarij dan Takfiriy di waktu yang mana dia meremehkan kekafiran para thaghut dan menganggapnya ringan di mana dia jadikan kemusyrikan mereka, pembuatan hukum yang mereka lakukan serta kekafiran mereka yang nyata sebagai kufrun duna kufrin ??

[3] Menyerupakan Allah ta’ala dengan salah satu makhluk-Nya adalah termasuk kebatilan yang mana Ahlus Sunnah terlepas diri darinya, akan tetapi mesti diingatkan bahwa di antara seteru-seteru Ahlus Sunnah ada yang mencapnya sebagai musyabbihah karena sebab mereka menetapkan sifat yang telah ditetapkan Allah tabaraka wa ta’ala bagi diri-Nya, padahal sesungguhnya kaidah Ahlus Sunnah dalam hal itu bukan itsbat mujarrad (sekedar penetapan), akan tetapi itsbat dan penafiyan yang mana ia adalah tanzih (pensucian Allah) dari syabih (yang menyerupai) dan matsil (yang sepadan) sebagaimana dalam firman-Nya tabaraka wa ta’ala:

“Tidak ada sesuatupun seperti Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi maha Melihat.” (Asy Syura: 11)

Seri ke 6 Mengkafirkan Orang Yang Tidak Membai’at Imam Tertentu


Mengkafirkan Orang Yang Tidak Membai’at Imam Tertentu

Termasuk kekeliruan yang sangat buruk dalam takfier juga adalah takfier orang yang tidak membai’at imam tertentu seraya berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya:

من ما ت وليس في رقبته بيعة مات ميتة جا هليه

Siapa yang mati sedangkan di lehernya tidak ada bai’at, maka dia mati secara Jahiliyyah

Dan dengan apa yang diriwayatkan Muslim juga:

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتة جاهلية

Siapa yang meninggalkan jama’ah, terus dia mati, maka matinya mati ‘ala Jahiliyyah “.

Terus mereka jadikan mati ‘ala Jahiliyyah itu sebagai kekafiran yang mengeluarkan dari millah. Padahal ia itu adalah lafadh yang tidak sharih atas penunjukan terhadap hal itu, bahkan mengandung banyak kemungkinan, sehingga wajib memahaminya dengan berlandaskan pancaran nash-nash yang muhkam (baku) yang menjelaskan maksudnya, sebagaimana hal itu diberlakukan secara umum terhadap nash-nash yang muhtamal lagi mutasyabih (mengandung kesamaran). Dan penjelasan ini akan datang pada bahasan dalil-dalil yang dilalahnya muhtamal lagi tidak qath’iy terhadap maksud kekafiran.

Maka kita melihat dalam dalil-dalil syar’iy yang menjelaskan hal ini ternyata kita mendapatkan bahwa orang yang membangkang lagi memberontak terhadap Jama’atul Muslimin dan imamnya adalah tidak keluar dari Islam dengan sebab hal itu saja. Sungguh  Allah Ta’ala telah berfirman:

”Dan bila dua kelompok dari kalangan kaum mukminin saling berperang, maka damaikanlah di antara dua (kelompok itu…)….. “Hingga firman-Nya “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kalian”. (Al Hujurat: 9-10)

Allah subhanahu wa ta’ala menamakan mereka kaum mukminin walaupun mereka itu bughat (orang-orang yang membangkan), maka ini adalah qarinah yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Jahiliyyah di dalam hadist itu  adalah sesuatu yang di bawah kekafiran yang mengeluarkan dari Millah berupa maksiat dan sifat-sifat serta kebiasaan-kebiasaan yang tercela. Dan disifati dengan hal itu sebagai bentuk kecaman terhadap status dosa yang memecah persatuan dan jama’ah kaum muslimin, serta sebagai bentuk tanfier (penjauhan orang) darinya karena di dalamnya terdapat penyerupaan dengan orang-orang jahiliyyah yang tidak dipersatukan oleh satu imam atau satu jama’ah, yang mana mereka itu kelompok-kelompok yang terpecah belah, dan kabilah-kabilah yang saling bertengkar, yang satu sama lainn saling menghajar dan saling memerangi.

Dan dikuatkan bahwa lafadh (Jahiliyyah) telah sering datang dalam pemakaian syari’at untuk maksiat-maksiat yang di bawah kekafiran dan kemusyrikan, sebagaimana di dalam firman-Nya:

Dan diamlah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj seperti tabarruj Jahiliyyah pertama”. (Al Ahzab: 33)

Tabarruj adalah termasuk akhlak para wanita pada zaman Jahiliyyah, dan ia itu bukan kekafiran yang mengeluarkan dari millah dengan sendirinya.

Dan di antara hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Ath Thabraniy dalam Al Ausath dengan isnad yang hasan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:Khamar itu adalah ibu segala perbutan buruk, dan siapa yang meminumnya maka Allah tidak akan menerima darinya shalat empat puluh hari, sedangkan bila dia mati sedangkan khamar itu ada di dalam perutnya, maka dia mati dengan mati Jahiliyyah.”

Sedangkan minum khamr tanpa Istihlal itu bukan kekafiran.

Dan di antara hal itu adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Abu Dzarr tatkala ia mengejek seorang laki-laki dengan sebab ibunya:Apakah engkau mengejek dia dengan sebab ibunya? Sesungguhnya kamu adalah orang yang terdapat sifat kejahiliyyahan pada dirimu.” Di riwayatkan oleh Al Bukhariy dalam Kitabul Iman, dan beliau menambahkan dalam Kitabul Adab (Bab Ma Yunha ‘Annis Sibab Walla’ni):Terdapat pertengkaran antaraku dengan seorang laki-laki, sedangkan ibunya seorang ‘ajam, maka saya mencela ibunya, dan celaan ini yaitu ucapan Abu Dzaar (wahai anak wanita hitam)”. Sebagaimana dalam riwayat lain, adalah maksiat dan secara pasti bukan kekafiran, oleh sebab itu Al Bukhari menerapkan satu bab dalam Shahih beliau pada Kitabul Iman (Bab maksiat-maksiat itu termasuk urusan Jahiliyyah, dan pelakunya tidak dikafirkan dengan sebab melanggarnya kecuali dengan sebab syirik, berdasarkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:Sesungguhnya engkau adalah orang yang terdapat sifat kejahiliyahan pada dirimu “ dan firman  Allah Tabarakah Wa ta’ala:

Sesungguhnya  Allah tidak mengampuni penyekutuan pada-Nya, dan dia mengampuni (dosa) yang di bawah itu bagi orang yang di kehendaki-Nya”.) (An Nisaa: 48) Dan di dalamnya beliau menyebutkan hadist Abu Dzar kemudian firman  Allah Ta’ala:

Dan bila dua kelompok kaum muslimin saling berperang maka damaikanlah di antara mereka berdua”. (Al Hujurat: 9)

Dan beliau berkata:(Allah menamakan mereka sebagai kaum muslimin) selesai

Ibnu Hajar berkata dalam Kitabul Adab (Bab Maa Yunhaa Anis Sibab Walla’ni) tentang lafadh Jahiliyyah dalam hadits Abu Dzar (Dan ada kemungkinan dimaksud dengannya di sini adalah kejahilan, yaitu padamu terdapat kejahilan) selesai Dari Fathul Bari.

Dan di antara hal itu adalah apa yang ada dalam Shahih Muslim dari ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang mati sedang dia belum pernah berperang dan tidak membisikan dirinya untuk berperang, maka dia mati dengan mati Jahiliyyah”. Sedangkan meninggalkan berperang itu bukanlah suatu kekafiran, dan mati Jahiliyyah di sini bukanlah kekafiran yahg mengeluarkan dari millah dengan dalil firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tidaklah sama antara yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak memiliki uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melabihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atau orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka  Allah menyajikan surga (An Nisa: 95).

Perhatikanlah bagaimana Allah telah menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang tidak ikut berjihad tanpa alasan ada orang-orang mu’min, ketidakikutsertaan mereka di dalam jihad itu tidak mencabut nama iman dari mereka dan bahwa  Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan surga kepada orang-orang yang tidak ikut berjihad dan kepada para mujahidin karena keimanan mereka, meskipun para mujahidin itu lebih besar tingkatannya.

Maka nampak dari ini semua bahwa syari’at menggunakan lafadh ini pada maksiat-maksiat yang mana meninggalkannya termasuk iman yang wajib, dan melanggarnya tergolong kejahilan yang di bawah kekafiran yang mengeluarkan dari millah. Dan bila ternyata lafadh ini telah ada penggunaannya sesekali pada perbuatan yang merupakan bagian dari kekafiran jahiliyyah, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala:

Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin(Al Maidah: 50)

Maka lafadh ini sebagaimana yang telah kami katakan telah menjadi bagian dari lafadh-lafadh yang muhtamal (memiliki banyak kemungkinan) yang wajib dipahami dengan berlenterakan nash-nash yang menjelaskannya.

Dan sudah maklum bahwa mencari-cari nash-nash yang mutasyabihah lagi muhtamal, memilih-milihnya serta mengambil itu saja tanpa mengembalikannya kepada nash yang muhkam lagi menjelaskannya berupa Ummul Kitab adalah tergolong metode orang-orang sesat lagi ahli bid’ah, sebagaimana telah  Allah Ta’ala sebutkan dalam kitabnya.

Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesataan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihah untuk menumbuhkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya(Ali Imran: 7).

Dan begitu juga ancaman dengan lafadh-lafadh yang muhtamal, yang di antaranya: (Mati Jahiliyyah)

Ini… Dahulu saya pernah berdebat dengan sebagian Ghulatul Mukaffirah (orang-orang yang ghuluw di dalam takfier)  seputar hadits bab ini, dan mereka ini berkeyakinan bahwa itu adalah Kufur Akbar, serta atas dasar ini mereka mengajak (orang) untuk membaiat amir mereka, dan siapa yang tidak membaiatnya maka mereka vonis kafir, setelah penegakkan hujjah terhadapnya tentang hal itu dan bahwa mereka itulah Jama’ah Al Haq yang sejengkalpun tidak boleh ditinggalkan, dan kalau tidak maka matinya ‘Ala Jahiliyyah !!!

Inilah ucapan mereka, saya sangat berupaya untuk mendengar langsung dari mereka dan tidak lewat perantaraan seorangpun.

Dan pada hari itu pula saya berdalil dengan apa yang telah lalu, dan dengan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Hudzaifah setelah pertanyaanya: Bila kaum muslimin tidak memiliki jamaah dan iman? Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tinggalkan firqah-firqah itu walau kamu menggigit kuat akar pohon sampai kamu menemui kematian sedangkan engkau tetap di atas hal itu

Di dalam hadits ini ada faidah bahwa sah saja keIslaman seseorang walaupun tidakadanya Jama’atul Muslimin dan imam mereka yang umum lagi memiliki tamkin, dan bahwa keabsahan keIslaman itu tidak ada hubungannya dengan pembai’atan imam tertentu atau amir tertentu saat pecah belahnya Jama’atul Muslimin.

Dan kalau ada kaitanya tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Hudzaifah tatkala bertanya: “Bila kaum muslimin tidak memiliki jama’ah dan iman? untuk membentuk jama’ah baginya atau tandhim dan membai’at bagi dirinya atau bagi yang lainnya sebagai imam, dan kalau tidak maka dia mati ‘ala jahiliyyah, dan sudah ma’lum bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan kepada sesuatupun dari hal-hal itu di dalam jawaban-jawabannya terhadap Hudzaifah yang sering bertanya dalam masalah ini serta meminta rincian sebagai bentuk keseriusannya untuk mengetahui keburukan karena khawatir terjatuh ke dalamnya, sebagaimana perkataannya:Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir saya terjatuh kedalam”.

Seandainya tidak membaiat imam saat tidak adanya Jama’atul muslimin dan imam mereka adalah keburukan atau kekafiran, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghati-hatikan darinya dan tentulah beliau menjelaskan kepadanya, karena tidak boleh mengakhirkan bayan dari waktu yang dibutuhkan.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling perhatian terhadap umatnya, beliau tidak meninggalkan sedikitpun dari kebaikan yang bisa mendekatkan mereka ke surga melainkan beliau telah menunjukkan mereka terhadap hal itu, dan tidak meninggalkan sedikitpun dari keburukan yang bisa mendekatkan mereka kepada api neraka melainkan beliau menghati-hatikan mereka darinya, maka apa gerangan dengan kekafiran dan kemusyirikan yang membuat kekal pelakunya di neraka?

Dan saya juga berdalil atas hal itu dengan kisah Abu Bashir, Abu Jandal dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka menetap di tempat antara Makah dan Madinah dan mereka tidak memiliki kemungkinan dari membai’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan (dari) bergabung dengan Jama’atul Muslimin dengan sebab syarat yang terjadi antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang kafir Quraisy pada perjanjian Hudaibiyyah. Dan mereka tetap dalam kondisi seperti itu hingga akhirnya Quraisy menggugurkan syarat itu dan mereka bisa bergabung ke Madinah. (Lihat Khabarnya dalam Shahih Al Bukhari (kitab Asy Syurut) (Bab Asy Syurut Fil Jihad wal Mushalahah Ma’a Ahlil Harbi) Hadits No. 2731-2732.

Adapun Abu Bashir, maka beliau meninggal dunia ditempat itu sebelum memiliki kesempatan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengingkari mereka atas hal itu, apalagi mengkafirkannya. Beliau juga tidak pernah menghukumi Abu Bashir bahwa dia sudah mati ‘ala Jahiliyyah … Seandainya sesuatu dari hal yang mereka lakukan itu adalah kekafiran tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengakui mereka, dan tidak mungkin beliau menerimanya dalam syaratnya bersama Quraisy, sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling wara’ dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka Wa ta’ala

Para ‘ulama telah berdalil bahwa Abu Bashir tidak berada dalam wilayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pula bergabung dengan jama’atul muslimin, dengan keberadaan bahwa Quraisy tidak menekan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula menuntut beliau dengan diyat orang ‘amiriy yang telah dibunuh Abu Bashir tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikannya kepada Quraisy bersamanya dan bersama satu orang lagi yang lari, padahal keduanya adalah kafir mu’ahid, namun tatkala Abu Bashir ini tidak berada dibawah wilayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bergabung (berkoalisi) dengan jama’atul muslimin maka apa yang diperbuatnya itu tidak membebani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak terikat dengan perjanjian beliau dengan Quraisy.

Namun dalil-dalil itu semua tidak mempan meyakinkan kaum Ghulat itu, hingga akhirnya saya hujjah mereka dengan hadits:Hasan dan Husein itu penghulu para pemuda ahlul jannah[1]

sedangkan Hasan radliyallahu ‘anhu itu telah meninggal dalam keadaan tidak membai’at imam pada zamannya, bahkan beliau bersama orang-orangnya khuruj terhadapnya …Maka apakah beliau mati jahiliyyah?

Dan apa beliau kafir dengan hal itu ?

Bagaimana bisa sedangkan Ash Shadiqul Mashduq telah mengabarkan bahwa dia adalah penghulu para pemuda surga ?

Maka mereka terputus hujjahnya dan tidak mendapatkan jawaban …karena mereka telah berada antara dua api yang salah satunya lebih panas dan lebih pahit dari yang satunya lagi.

Mereka harus pilih apakah mengkafirkan penghulu para pemuda ahli surga -kita berlindung kepada Allah- !!!

Atau mereka meninggalkan madzhab mereka yang mana mereka bangun di atasnya salah satu ushul jama’ah mereka, terus mengakui bahwa itu bukan kekafiran…

TANBIH:

Dan apa yang pantas dingatkan di sini yaitu kesalahan orang yang mengaggap dosa setiap orang yang tidak membaiat imamnya yang telah dia baiat pada kondisi istidh’af.

Bagi orang yang mau mengharuskan dirinya untuk membai’at orang dari kalangan kaum muslimin yang dia anggap telah memenuhi syarat-syarat Khilafah dan berupanya untuk berperang bersamanya karena dia memiliki kekuasaan dan nushrahnya untuk menegakkan dienullah di bumi ini, akan tetapi dia tidak boleh mengganggap dosa orang lain yang menyelisihinya atas dasar ijtihadnya, atau orang yang tidak membai’at imamnya, terutama telah ada dari macam imam yang telah memiliki tamkin ini banyak sekali, dan sebelumnya telah dibai’at mereka itu sebelum yang lainnya, dan masing-masing mengklaim dirinya yang paling berhak dalam hal itu dan menuntut bai’at bagi dirinya, dan berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya tidak ada Nabi setelah aku dan akan ada banyak Khalifah”,Para sahabat bertanya: “ Maka apa yang engkau perintahkan kepada kami ? Beliau berkata, ”Penuhilah bai’at yang pertama kemudian seterusnya, dan berikanlah kepada mereka haknya

Sedangkan kaum muslimin dalam kondisi istidl’af mereka berada di antara penganggapan dosa oleh mereka dan oleh yang lainya, ini bila mereka selamat dari takfir orang-orang yang pertama!!!

Padahal sesungguhnya imam masing-masing dari mereka itu tidak memilki tamkin, tidak mempunyai syaukah (kekuatan) dan juga ia bukan junnah (perisai) berlindung dengannya setiap orang yang membai’atnya, maka atas dasar apa dia mengharuskan kaum muslimin untuk membai’atnya ? Sedangkan ada dalam hadits shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata tentang sifat imam yang mengemban tanggung jawab atas ahlul Islam:Imam itu hanyalah perisai yang (orang) berperang di belakangnya dan berlindung dengannya”. (HR Al Bukhari, Muslim dan yang lainnya).

Maknanya: Bahwa Al Imam itu (suatu yang) dijadikan pelindung, dan bahwa dia itu tempat keterjagaan dan perlindungan bagi rakyat. Dia itu bagaikan perisai dan tameng bagi mereka, karena sesungguhnya orang yang berlindung di balik perisai berarti dia itu telah menjaga dirinya dari serangan musuh.

An Nawawi berkata: (Yaitu seperti perisai, karena ia menghalangi musuh dari menyakiti kaum muslimin, menghalangi manusia dari (menyakiti ) satu sama lain, dan melindungi keutuhan Islam, serta ditakuti oleh manusia dan ditakuti kekuasaannya).

Dan ini telah ditafsirkan dengan apa yang disyaratkan oleh para Fuqahah, berupa kewajiban Khalifah di antaranya menjaga keutuhan (jama’atul muslimin), menunaikan hak-hak kaum muslimin, menegakkan apa yang menjadi kewajiban mereka berupa penegakkan jihad, menjaga dien mereka dan kepentingan-kepentingan dunia mereka, sehingga bila ia terhalang dari menegakkan hal itu, baik karena ia tertawan atau ia itu dicekal, atau lemah atau yang lainnya, maka ia itu tercopot dan tidak dianggap sebagai Imam atau Khalifah. Dan begitu juga andai dia itu mustadl’af (tertindas) lagi tidak memiliki daya dan kekuatan, maka bagi kelompok mana saja boleh rela dia menjadi amirnya, walau dalam kondisi istidla’fnya, akan tetapi dia tidak boleh -sedangkan kondisinya seperti ini- mengharuskan kaum muslimin untuk membaiatnya, dan menjadikannya sebagai imam tertinggi atau khalifah atas seluruh kaum muslimin atau dia sendiri tidak kuasa akan urusannya dan urusan keluarganya sedikitpun di bawah payung hukum para thaghut dan penindasan mereka. Apalagi dari status mampu menjadi perisasi bagi kaum muslimin lainnya.

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (Sabdanya “Imam itu hanyalah prisasi (junnah)” dengan jim berharakat, karena ia menghalangi musuh dari menyakiti kaum muslimin dan menahan tindakan aniaya satu sama lain, dan yang dimaksud dengan imam adalah setiap orang yang menegakkan urusan-urusan kaum muslimin).

Dan Al Qalqsyandiy berkata dalam Ma-aatsirul Anaaqah Fi Ma’alimil Khilafah: Dan kebiasaan yang berlaku semenjak awal Islam dan seterusnya adalah penggunaan nama Khalifah atas setiap orang yang menegakkan urusan kaum muslimin dengan penegakan yang menyeluruh) (1/13).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Minhajus Sunnah: (Siapa yang berpendapat bahwa orang menjadi imam dengan persetujuan seseorang atau dua atau empat orang, sedangkan mereka itu tidak memiliki kemampuan dan kekuatan, maka dia itu telah salah). (1/141).


[1] HR At Tirmidzi dan Al Hakim (3/166-167) dan yang lainnya. At Tirmidzi berkata (hadits Hasan Shahih) dan ia memiliki jalan-jalan yang sampai pada batasan mutawatir sebagaimana yang dituturkan Al Munawwi dalam Faidul Qadir.

Seri ke 5 Takfier Karena Sekedar Memuji Orang-Orang Kafier Atau Mendo’akan Sebagian Mereka Tanpa Rincian


Takfier Karena Sekedar Memuji Orang-Orang Kafier Atau

Mendo’akan Sebagian Mereka Tanpa Rincian

Dan di antara kekeliruan yang umum di dalam takfier juga adalah pengkafiran dengan sebab sekedar memuji orang-orang kafir atau mendoakan sebagiannya tanpa rincian dan tidak mengudzur karena kejahilan dalam hal itu, serta membangun hukum cabang di atasnya dengan tidak boleh shalat di belakang setiap orang yang mendoakan para thaghut dengan bentuk doa apapun.

Dan yang benar bahwa hal ini tergolong sesuatu yang diudzur dengannya karena kejahilan, sehingga merinci dalam hal ini adalah wajib, karena do’a itu beraneka ragam dan berbeda-beda, dan yang dikafirkan itu hanyalah orang yang memuji orang-orang kafir karena kekafirannya atau memuji dan menyanjung kekafirannya itu sendiri.

Kekafiran karena memuji kekafiran mereka adalah lebih nampak dari kekafiran karena memuji diri mereka itu sendiri, dan ini contohnya seperti menamakan undang-undang kafir mereka sebagai kebenaran atau mensifatinya dengan bersih dan adil, sedangkan  Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa ia adalah kekafiran dan kesesataan, atau menampakkan penghormatan dan tawalli terhadapnya, atau sumpah untuk setia kepadanya dan menjaganya, atau menuntut untuk menerapkan dan memberlakukannya, atau berdoa untuk keberlangsungan dan kesinambungannya, karena menginginkan keberlangsungan kekafiran adalah kekafiran. (lihat Al Furuq karya Al Qarafiy/4/118)

Adapun memuji diri orang kafir adalah masih memiliki banyak kemungkinan, dan tujuan itu terkadang berbilang tergantung para pelakunya, sehingga wajib ada rincian.

Sekedar memuji sebagian orang-orang kafir karena kejujurannya atau karena sebagian mereka menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak terpuji adalah tidak berdosa. Seperti memuji sebagian perkumpulan-perkumpulan mereka atau koalisi-koalisinya atau yayasan-yaysannya yang berdiri untuk membela orang yang didzalimi atau amal-amal kebaikan dan akhlak-akhlak terpuji.

Sungguh  Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah berfirman:

Dan di antara  Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, di kembalikanya kepadamu ; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan kepadamu kecuali kamu selalu menagihnya… (Ali Imran: 75)

Dan ini dibuktikan dengan jelas oleh pujian Rasulullah terhadap Hilful Fudlul atau Hilful Muthyyibiin ini adalah koalisi zaman jahiliyyah di antara kaum yang kafir, akan tetapi tatkala dalam rangka menolong orang yang dalam kesulitan dan membela orang yang didzalimi serta mengembalikan hak kepada pemiliknya, maka bolehlah memujinya karena hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Saya menyaksikan Hilful Muthayyibin  bersama paman-pamanku sedangkan saya masih kecil, saya tidak suka bila memiliki unta yang merah sedangkan saya melanggarnnya.) Diriwayatkan oleh Ahmad 1/190 dan 193, Al Hakim 2/220 dan yang lainnya  dari Abdurahman Ibnu Auf secara marfu’ ).

Hilful Muthayyibin -sebagaimana dalam An-Nihayah-: (Banu Hasyim, Banu Zahra dan Taim berkumpul di rumah Ibnu Ju’dan  di zaman jahiliyyah, mereka menuangkan minyak wangi di nampannya dan mereka mencelupkan  tangan-tangan mereka ke dalamnya, serta mereka saling berjanji untuk saling tolong menolong  dan mengambilkan hak orang yang didzalimi dari yang dzalim, maka mereka menamakanya  muthayyibin (orang-orang yang memakai minyak wangi)

Dan yang dimaksud dengan hilf ini adalah hilful fudlul, sebagaimana yang dipastikan oleh Al Hafidh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah 2/291, dan bukan hilf dahulu yang pernah terjadi setelah kematian Qushaiy dan persengketaan Quraisy seputar siqayah (pemberian minum jama’ah haji), rifadah (jamuan makan jama’ah), liwaa’ (panji peperangan), nadwah (tempat berkumpul) dan hijabah (penjagaan pintu Ka’bah), kemudian setiap kelompok dari mereka berkoalisi atas kelompok yang lain, maka kawan-kawan Bani Abdi Manaf menghadirkan nampan yang berisi minyak wangi, terus meletakan tangan-tanganya di atas nampan tersebut dan mereka saling berjanji, kemudian tatkala mereka bangkit maka mereka mengusapkan tangan-tangannya pada dinding-dinding Baitullah, maka mereka dinamakan Al Muthayyibin. Ini bukan yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Katsir: (Yang dimaksud dengan hilf ini -yaitu yang dinamai Al Muthayyibin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memujinya adalah hilful fudlul dan itu terjadi di rumah Abdullah Ibnu Jud’an sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Humaidi dari Sufyan Ibnu ‘Uyainah dari Abdullah, dari Muhammad dan Abdurrahman, kedua putra Abu Bakar, keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Sungguh saya telah menyaksikan di rumah Abdullah Ibnu Jud’an hilf yang seandainya saya diundang kepadanya di Islam tentu saya memenuhi undanganya, mereka berjanji mengembalikan fudlul (hak) kepada pemiliknya dan agar yang dzalim tidak aniaya kepada orang yang didzalimi), mereka berkata: Dan hilful fudlul terjadi dua puluh tahun sebelum beliau diutus (menjadi Rasul), dan Ibnu Katsir berkata: (Hilful Fudlul adalah hilf yang paling mulia yang pernah didengar dan yang paling mulia di tengah bangsa Arab).Al Bidayah Wan Nihayah 2/291.

Sehingga terbukti secara pasti bahwa tidak ada dosa dalam hal ini.

Dan termasuk jenis ini apa yang diriwayatkan oleh Muhammad Ibnu Ishaq bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya tatkala penindasan Quraisy makin dasyat terhadap: (Seandainya kalian keluar ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja yang tidak seorangpun didzalimi di sisinya, dan ia adalah negeri kejujuran, sampai  Allah menjadikan bagi kalian jalan dari apa yang kalian alami sekarang).

Dan di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Al Baihaqiy bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada putri Hatim Ath Thaiy terkala meminta kepada beliau untuk melepaskannya dan dia menyebutkan sebagaian sifat-sifat ayahnya yang terpuji: (Lepaskan dia, karena bapaknya mencintai ahlak-ahlak terpuji, sedangkan  Allah ta’ala mencintai ahlak-ahlak tepuji)

Dan di antaranya ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dan yang lainya dari hadits Abu Hurairah: (Ucapan yang paling benar yang pernah diucapkan oleh penyair adalah ucapan Lubaid; Ketahuilah, segala sesuatu selain  Allah adalah Batil), dan Lubaid telah mengatakan hal itu di masa jahliyyahnya sebelum masuk Islam, karena sesungguhnya ia meninggalkan sya’ir setelah keislamannya dan tidak mengatakan kecuali satu bait syair saja yang bukan sya’ir tadi, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keberatan dari memuji kalimat yang telah dikatakan oleh orang kafir saat dia kafir, selama itu haq.

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Manusia itu barang tambang. Yang terbaik dijaman jahiliyyah adalah yang terbai dalam Islam bila mereka faqih). Di riwayatka Al Bukhari dan Muslim, beliau menetapkan orang-orang terbaik bagi ahlil jahiliyyah.

Begitu juga berterima kasih kepada mereka dengan lisan atau perbuatan sebagai balasan kebaikan yang pernah mereka berikan kepada orang muslim dengan yang setimpal, adalah tidak apa-apa pula. Dalil untuk yang pertama adalah keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Tidak bersyukur kepada  Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” Diriwayatkan Abu Dawud. At Tirmidzi dan berkata: Shahih.

Adapun yang kedua dalilnya adalah sebda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang para tawanan perang badar: (Seandainya Al Muth’im Ibnu ‘Adiy masih hidup, terus dia mengajak bicara saya tentang orang-orang busuk itu tentu saya melepaskan mereka untuknya) Diriwayatkan Al Bukhari dari Jubair Ibnu Muth’im.

Dan itu dikarenakan Al Muth’im Ibnu ‘Addiy adalah tergolong pemuka Quraisy, dan dia pernah memiliki jasa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana dia pernah memberikan perlindungan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kembali dari Thaif setelah beliau mendakwahi Tsaqif. Dan juga dia adalah salah seorang dari orang-orang yang bangkit merobek shahifah yang ditulis Quraisy untuk membaikot Bani Hasyim, dan dia meninggal dunia tujuh bulan sebelum badar, (Lihat Al Isti’aab Fi Ma’rifatil Ashhab, dalam biografi anaknya Jubair Ibnu Muth’im)

Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah justru bentuk dari balasan bagi Muth’im dan balasan atas kebaikannya, terutama sesungguhnya beliau ini telah mengatakan hal itu kepada anaknya sebelun dia masuk Islam juga. Dan dia hadir untuk memberikan syafaat bagi tawanan Badar.

Ibnu Baththal berkata: (Sisi pengambilan hujjah denganya adalah bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh baginya mengabarkan sesuatu yang seandainya terjadi, tentu beliau melakukannya, sedang ia adalah perbuatan yang tidak boleh). (Dari Fathul Bari, Kitab Fardlul Khumus) (Bab Maa Mannan Nabiyyu shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Alal Usaaraa….) pada hadits no 3139)

Dan di antara hal ini larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh Abul Buhtury Ibnu Hisyam di perang Badar padahal dia itu kafir yang tidak memiliki jaminan keamanan, dikarenakan dia tidak menyakitinya dan perbuatan baiknya dengan upaya merobek lembaran shahifah kedzaliman.

Dan hal itu telah disebutkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Ash-Sharimul Masluul hal (163) dan beliau menyebutkan hadits Al Muth’im, kemudian berkata: (Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas orang yang berbuat baik kepadanya dengan sebab perbuatan baiknya itu meskipun dia itu orang kafir).

Dan tergolong jenis ini apa yang ada di dalam ijtihad-ijtihad sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membalas ihsan dengan yang semisalnya, adalah seperti membalas ucapan tahiyyah (ucapan salam) bila ia itu salam yang jelas, bahkan doa juga, walaupun salam itu adalah doa.

Dan di antara hal itu apa yang diriwayatakan Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrid (1101) dengan sanad yang jayyid: (Abu Musa menulis surat kepada Dahqan seraya mengucapkan salam terhadapnya, maka ada yang bertanya: “Apakah engkau mengucapkan salam kepadanya sedang dia itu kafir,” beliau berkata: Sesungguhnya dia menulis surat kepadaku dan mengucapkan salam kepadaku, maka aku membalas salamnya). Ini adalah ijtihad dari beliau radliyallahu ‘anhu sebagai pengamalan keumuman firman  Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balas penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa.”  (An-Nisaa: 86)

Dan di antaranya juga apa yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrid (1113) dari Sa’id Jubair dari Ibnu ‘Abbas, berkata: (Seandainya Fir’aun mengatakan kepadaku (Semoga  Allah memberkatimu) tentu saya katakan: Dan engkau juga, sedangkan Fir’aun itu telah mati). Perhatikanlah: Padahal Fir’aun tergolong thaghut bumi ini yang paling dasyat !! maka apa yang akan dikatakan orang yang berlebihan yang mengkafirkan dengan sebab hal-hal yang di bawah ini terhadap ijtihad Habrul Qur’an (Ibnu Abbas) di sini??

Dan atas dasar ini, seandainya sebagian orang mengucapkan terima kasih terhadap penguasan thaghut atau memuji mereka dikarenakan mereka telah meringankan sedikit dari kedzalimannya dan aniyanya sesekali dari sebagian manusia atau karena mereka memberikan sebagian pelayanan yang pada dasarnya ia adalah dari darah rakyat !! atau karena mereka memberikan sebagian tunjangan dan sembako yang mana mereka dan para auliyanya memakan lebih banyak dari berlipat-lipat ganda. Perbuatan ini walaupun menunjukan kejahilan akan realita para thaghut dan sabilul mujrimin, dan bisa jadi di dalamnya terdapat kesesatan dan talbis, akan tetapi itu saja tidak sampai kepada derajat kekafiran terutama disertai pentakwilan pelakunya dan istidlal-nya dengan apa yang telah lalu.

Kami katakan ini, padahal kami mengetahui perbedaan yang nampak antara interaksi dengan yang lalu bersama orang-orang kafir secara umum, dengan memberikannya terhadap orang-orang khusus mereka dari kalangan para thaghut dan arbab mereka yang beraneka ragam.

Dan kami mengetahui bahwa munculnya hal itu dari orang-orang yang intisab kepada ilmu dan dakwah adalah lebih buruk dan lebih jelek dari kemunculannya dari orang-orang awan yang terpedaya oleh mereka terutama bila mereka berlebih-lebihan dalam sanjungan dan terlalu berlebihan di dalam pujian terhadap para thaghut, di mana dengan hal itu terjadi talbies, tadlies dan penyesatan terhadap orang-orang awan dan para pengekor yang akibatnya hanya Allah-lah yang mengetahuinya, akan tetapi bersama ini semua sesungguhnya takfier adalah hal lain di luar ini semua.

Kemudian bila orang yang melakukan hal itu melampau batas sehingga memuji kekafiran mereka dan hukum-hukum thaghutnya dan undang-undang buatannya (negatifnya) atau demokrasinya (agama kafir mereka), maka dia telah terjerumus masuk dalam pintu-pintu yang mengkafirkan.

Dan lebih buruk dan lebih busuk dari itu adalah orang yang mengedepankan mereka atas kaum muslimin, dengan cara mereka mengedepankan hukumnya dan aturannya atau demokrasinya atas hukum dan aturan Islam, sebagaimana keadaan banyak orang-orang yang buta yang mengklaim bahwa hukum Islam itu mengandung pemberian kesempatan terhadap kediktatoran individu dan tidak mengandung keragaman demokrasi serta kebodohan dan kesesatan lainnya.

Mereka itu dan yang semisal mereka dari kalangan yang mengedepankan hukum-hukum kafir atas hukum-hukum Islam adalah bagian dari orang-orang yang difirmankan  Allah tabaraka wa ta’ala:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi sebahagian dari Al Kitab ? mereka beriman kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuk Allah. Barangsiapa yang dikutuk  Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” (An-Nisa: 51-52).

Dan Al Imam Ahmad telah meriwayatkan juga, Ibnu Jarir dalam tafsirnya serta yang lainya dari Ibnu Abbas bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Ka’ab Ibnul Asyaf tatkala dia pergi ke Mekkah seraya mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata kepada orang-orang kafir Quraisy: “Kalian lebih baik dan lebih lurus dari Muhammad.” Sedangkan sebelum itu dia itu adalah kafir mu’ahid, maka perjanjiannya batal dan dia dibunuh oleh kaum muslimin. Dan silahkan lihat faidah-faidah yang berkaitan dengan kisahnya dalam Ash Sharim Al Maslul.

Adapun bila dia maksudkan pengedepankan orang-orang di antara mereka dari sisi berpegang teguhnya kepada sebagian ahlak-ahlak terpuji dan etika-etika yang mulia atas sebagian orang-orang fasiq kaum muslimin yang tidak memperhatikan ahlak-ahlak itu, maka ini tidak boleh dikafirkan, akan tetapi mesti diberi pemahaman bahwa inti tauhid dan Islam yang dimiliki orang-orang fasiq yang muslim itu adalah lebih baik dan lebih selamat bagi mereka dari apa yang dimiliki orang-orang kafir itu berupa ahlak-ahlak yang kosong dari tauhid.

Adapun memuji mereka secara umum tanpa alasan dan menganggap baik kebiasaan-kebiasaan mereka yang bukan kufur, maka para ulama telah menganggapnya sabagai salah satu dosa besar.

Oleh sebab itu wajib meminta rincian dan tabayyun (mencari kejelasan) di dalam lafadz-lafadz dan lontaran-lontaran yang muhtamal (memiliki banyak kemungkinan) seperti ini, serta tidak cepat-cepat melakukan takfier dengan sekedar hal itu.

Shiddieq Hasan Khan berkata dalam kitabnya (Al ‘Ibrah Fiimaa Warada fil Ghazwi Wasy Syahadah Wal Hijrah) hal: 246: (Memuji orang-orang kafir karena kekafiran mereka adalah kemurtaddan dari dienil Islam, dan memuji mereka seraya kosong dari maksud ini adalah dosa besar yang pelakunya haru dita’zir dengan sangsi yang membuat dia jera. Dan adapun ucapan orang: “Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang adil, maka bila dia memaksudkan bahwa hal-hal kufur yang di antaranya undang-undang positif mereka adalah keadilan, maka ia adalah kekafiran yang nyata lagi jelas, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah mencelanya, mengecamnya dan menamakan hal itu sebagai tindakan melampaui batas, pembangkangan, aniaya, dusta, dosa yang nyata, kerugian yang nyata dan mengada-ada, sedangkan keadilan hanyalah syariat  Allah yang dikandung oleh Kitab-Nya yang muliah dan sunah Nabi-Nya yang lembut lagi penyayang,  Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan ihsan”. (An Nahl: 90)

Seandainya hukum orang-orang nasrani itu adalah adil tentulah diperintahkan). Selesai.

Perhatikanlah rincian beliau dalam memuji orang-orang kafir, dan bahwa ia tidak satu status, dan ucapannya (bila dia memaksudkan begini..) sesungguhnya ia termasuk istifshal (pencarian rincian) dan tafshil (pemberian rincian) yang penting dalam fatwa dan memutuskan dalam hal-hal yang muhtamal sebagaimana yang akan datang, karena sesungguhnya tujuan dalam ucapan-ucapan yang muhtamal seperti ini adalah sangat diperhatikan, dan tidak boleh segera mengkafirkan di dalamnya tanpa istifshal dan tabayyun, terutama bila hal itu muncul dari orang yang memiliki ashlul Islam (tauhid) karena sesuatu yang tsabit (terbukti) dengan yakin tidaklah bisa lenyap, gugur dan batal dengan ihtimal (kemungkinan).

Di samping hal ini bahwa banyak awam kaum muslimin, nenek-nenek dan kakek-kakeknya tidak mengetahui hakikat dari realita para thaghut zaman ini, mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitar mereka, mereka tidak memiliki bashirah akan makar para thaghut, dan samar atas mereka pengkaburan-pengkaburan para thaghut, sehingga mereka tertipu dengan pembangunan mesjid-mesjid, shalat-shalat dan hal lainnya dari hal-hal yang mereka saksikan dan mereka dengar dari ucapan mereka yang dihiasi, direka-reka dan dikaburkan… Mereka itu bila tergolong orang-orang yang menjauhi kekafiran dan kemusyrikan para thaghut, akan tetapi tersamar atas mereka statusnya dan tidak nampak bagi mereka kekafirannya, serta mereka terpukau dengan apa yang mereka tampakkan sesekali berupa amalan-amalan kebaikan, sehingga mereka memuji para thaghut itu karena hal itu atau karena sebagian pelayanan-pelayanan mereka, atau mereka mengucapkan terima kasih terhadap para thaghut atas sebagian keberhasilan-keberhasilannya yang secara dhahir adalah kebaikan dan manfaat bagi manusia sedangkan dalamnya adalah racun yang disisipkan pada lemak. Orang-orang semacam itu tidak dikafirkan karena sebab hal itu saja kecuali oleh orang yang ngawur yang telah mempertaruhkan diennya, selama mereka memiliki ashluttauhid (inti tauhid), bahkan andaikata mereka mendo’akannya dengan sebab hal itu dan karenanya agar panjang umur atau taufiq bahkan kemenangan dan kejayaan, dan kata-kata lainnya yang terkadang menghantarkan kepada kekafiran bagi orang yang mengetahui kekafiran mereka dan kekafiran undang-undang mereka, dan mengetahui apa yang menjadi kemestian dari doa-doa semacam ini berupa harapan berlangsungnya kekafiran, kejayaannya, serta lamanya masa hukum dan undang-undangnya, akan tetapi dikarenakan ini adalah tergolong takfier dengan sebab apa yang dimestikan oleh ucapan mereka –dan akan datang bahasannya nanti– dan karena ada kemungkinan orang yang mendoakan mereka itu tidak iltizam (komitmen) dengan hal itu dan tidak mengetahuinya, akan tetapi sebagaimana yang telah kami ketengahkan dia itu hanya mendoakan sosok-sosok mereka karena sebab pelayanan-pelayanan yang telah mengecoh mereka dengannya, maka kita tidak tergesa-gesa mengkafirkan orang mu’ayyannya (Individunya) kecuali setelah iqamatul hujjah, bayan dan pemberitahuan akan realita para thaghut itu dan penohokannya terhadap tauhid dan Islam serta penjelasan akan konsekuensi dari doa semacam itu, kemudian bila dia bersekukuh dan komit dengan konsekuensi-konsekuensi itu, maka enyahlah, kemudian enyahlah, kemudian enyahlah.

Dan sebab kami mengudzur karena kejahilan di sini dan kami mensyaratkan adanya bayan, iqamatul hujjah dan istifshal sebelum melontarkan hukum-hukum takfier, dikarenakan keadaan-keadaan manusia itu berbeda dari keadaan undang-undang atau kekafiran itu sendiri, dan dikarenakan talbies yang terjadi dengan sebab apa yang dilakukan para thaghut berupa ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang indah yang menjadi sumber kesamaran atas banyak manusia, serta disebabkan beragamnya tujuan-tujuan manusia dalam memuji dan menyanjung orang-orang tertentu, dan adanya ihtimal apa yang mereka maksud dalam doa itu. Ini berbeda seandainya dia melakukan salah satu sebab dari sebab takfier yang tegas lagi nyata yang tidak ada ihtimal, maka tidak bermanfaat bagi dia -sedang keadaanya seperti itu- pemberian alasan dengan talbies dan ucapan-ucapan dan amalan-amalan yang indah.

Al Bukhari meriwayatakan dalam Al Adab Al Mufrid (1112) dan Al Baihaqiy dalam As Sunan (9/203) dengan isnad yang hasan dari Uqbah Ibnu Amir Al Juhanniy ( Bahwa dia melewati seorang laki-laki yang penampilanya penampilan laki-laki muslim, orang itu mengucapkan salam kepadanya, maka Uqbah menjawabnya : Wa ‘Alaikassalam wa rahmatullahi wa barakatuhu’’ Maka seorang budak berkata kepadanya: Apakan engkau tahu terhadap siapa engkau membalas salam? Beliau berkata: Bukankah dia itu muslim? Mereka menjawab: Bukan, akan tetapi dia itu Nasrani, maka Uqbah berdiri terus menyusulnya hingga dia mendapatkannya, kemudian dia berkata: Sesungguhnya rahmat dan limpahan berkat itu atas orang-orang mu’min, akan tetapi semoga  Allah memanjangkan hidupmu dan memperbanyak hartamu…”

Dan doa ini dari beliau radliyallahu ‘anhu bukan seperti doa terhadap tokoh-tokoh dan imam-imam kekafiran serta para thaghutnya, karena orang nasrani itu adalah dzimmiy sedangkan maksudnya dari doa tersebut adalah memperbanyak harta kaum muslimin dari jizyah orang ini dan yang semisal dengannya, sebagaimana yang ditakwil oleh para sahabat dan sebagaimana hal yang serupa diriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu bahwa beliau melewati seseorang, terus beliau mengucapkan salam terhadapnya, kemudian dikatakan kepadanya: Sesungguhnya dia itu kafir, maka beliau berkata: (Kembalikan kepadaku salam yang aku ucapkan kepadamu, “Terus beliau berkata: Semoga Allah memperbanyak harta dan anakmu”. Kemudian beliau menoleh kepada para sahabatnya seraya berkata: Supaya lebih banyak jizyahnya). (Dinukil dari Al Mughniy (Kitabul jizyah) (Pasal: Tidak boleh mengedepankan mereka dalam majelis dan tidak boleh mengucapkan salam terlebih dahulu kepada mereka).

Perhatikanlah bagaimana ihtimal itu masuk dalam doa, dan bahwa doa itu tidak mesti selamanya memestikan langgengnya kekafiran.

Dan ini berbeda dengan memuji kekafiran mereka yang nyata itu sendiri, atau menyanjung kekafiran-kekafiran mereka yang jelas dengan undang-undang mereka dan hukum-hukum buatannya yang bertentangan dengan syariat Allah ta’ala, atau mendoakannya untuk jaya, maju dan langgeng, maka ini adalah kekafiran nyata yang tidak ada kasamaran di dalamnya, yang tidak berani melakukan dan memasukinya kecuali orang yang berada di atas millah dan ajaran thaghut mereka.

Kecuali bila pujian atau doa itu tidak sharih dalam pencakupannya terhadap kekafiran dan syirik mereka yang menolok dienullah, akan tetapi memiliki kemungkinan makna-makna lain yang tidak mengkafirkan, seperti orang yang mengucapkan terimah kasih kepada mereka atau mamuji mahkamah-mahkamah mereka karena membantu mengembalikan haknya atau memuji demokrasi sedangkan ia tidak mengetahui dari maknanya kecuali apa yang diduga oleh banyak orang-orang awan, berupa makna-makna yang menyelisihi dan lawan dari otoriter, diktatorisme dan terror, dan mereka tidak memaksudkan atau mengetahui maknanya yang syirik lagi pembuatan hukum, sehingga mendoakan dalam keadaan ini masuk dalam bagian ucapan-ucapan yang muhtamal yang akan datang bahasannya yang mana wajib di dalamnya istifshal dan mencari kejelasan maksud orang yang mengucapkannya.

Dan telah kami ketengahkan kepada anda dalam mawani’ takfier pada bahasan intifaul qashd (ketidakadaan maksud) bahwa orang yang mengucapkan ucapan atau kalimat kekafiran yang tidak dia ketahui maknanya atau kandungannya atau hakikatnya, maka dia tidak dikenakan sangsi dengannya dan tidak dikafirkan.

Dan kesimpulannya bahwa wajib membedakan antara doa untuk pribadi orang kafir dengan doa untuk kekafirannya yang nyata lagi jelas, sebagaimana wajib istifshal dan tabayyun dalam hal-hal yang ada ihtimal di dalamnya.

Seandainya imam atau khatib berdoa untuk sebagian para thaghut hukum, maka wajib melakukan tafshil, karena tidak setiap doa dihukumi kafir pelakunya di dalamnya, dan dari itu tidak boleh shalat di belakangnya atau menganggap batal shalat itu terutama di negeri-negeri yang mana para khatib diharuskan berdoa untuk para penguasa.

Seandainya dia mendoakan hidayah bagi mereka umpamanya atau kebaikan dan agar Allah mengembalikan mereka kepada diennya, dan doa-doa seperti itu, maka tidak boleh mengkafirkannya dan tidak boleh meninggalkan shalat di belakangnya. Dan dalam hadits muttafaq ‘alaih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan kepadanya:Wahai Rasulullah sesungguhnya Daus telah membangkang dan enggan, maka berdoalah untuk kebinasaan mereka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ya Allah berilah Daus petunjuk dan datangkanlah merekaAl Bukhari menuturkannya dalam kitabul jihad was sair dan memberikan baginya bab dengan ucapannya: (Bab mendoakan kaum musyrikin dengan hidayah untuk melunakan (hati) mereka).

Dan hal yang sama adalah apa yang diriwayatkan Al Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dan yang lainnya dari abu Musa bahwa dari orang-orang yahudi berusaha bersin di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harapan beliau mengucapkan kepada mereka “Semoga  Allah merahmati kamu”. Namun beliau mengatakan kepada mereka “Semoga Allah memberikan hidayah kepadamu dan membenahi hatimu”.

Di dalam hadits ini ada doa bagi mereka dengan hidayah dan pembenahan hati, sedangkan benahnya hati mereka adalah hanya dengan keIslaman mereka, sebagaimana firman Allah tabraka wa ta’ala:

Dan orang-orang beriman (kapada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mefeka dan memperbaiki keadaan mereka. (Muhammad: 2).

Dan begitulah andai dia medoakan mereka agar menegakan kitabullah dan mengamalkanya serta agar Allah mengkaruniakan buat mereka pendamping-pendamping yang saleh dan yang lainnya, maka tidak mengkafirkan mereka dengan hal seperti ini kecuali orang yang ngawur, walaupun kami membenci doa seperti itu, karena doa bagi para penguasa secara umum meskipun mereka itu penguasa muslim adalah termasuk bid’ah jum’at yang dibeci para ulama.

Dikatakan dalam Al Majmu Syarhul Muhadzdzab (4/393): (Dan adapun doa buat penguasa, maka para ulama kami sepakat bahwa itu tidak wajib dan tidak dianjurkan, sedangkan dhahir ucapan mushannif (penulis) dan yang lainnya itu adalah bid’ah, baik itu makruh atau menyelisih hal yang utama…)

Dan begitu juga dalam Al Ithsham karya Asy Syathibiy (1/29), di dalamnya beliau telah menukil dari Ishbigh, sedang beliau itu tergolong ahli fiqh Madzhab Maliky (273H) bahwa beliau berkata tentang doa khathib buat para khalifah terdahulu: (Itu bid’ah dan tidak selayaknya diamalkan, dan yang terbaik adalah dia mendoakan kaum muslimin secara umum).

Dan dinukil dari Izzudien Ibnu Abdussalam (660 H): (Bahwa doa buat para khalifah di dalam khutbah adalah bid’ah yang tidak disukai). (1/30) (Cetakan Darul Khany).

Saya berkata: ini (doa) buat para khalifah, maka bagiamana dengan doa buat para thaghut ??.

Dan lihat juga Al Fatawa milik Syaikhul  Islam, (Cetakan Dar Ibnu Hazm 24/118)

Dan dikarenakan terdapat di dalam sebagian doa-doa -ini meskipun bukan kekafiran- semacam kejahilan dan talbies, maka doa bagi mereka agar diberikan pendamping yang baik bisa memberikan image bahwa mereka itu orang-orang yang baik dan bahwa kerusakan itu hanyalah berasal dari orang-orang yang di sekitar mereka. Dan doa bagi mereka supaya mereka menerapkan Kitabullah memberikan image bahwa mereka itu layak untuk hal tersebar atau bahwa jalan tersebut penerapan Kitabullah tabaraka wa ta’ala hanya terbukti dengan terus menerus berdoa bagi mereka dan menangis di pintu mereka serta memelas kepada mereka, bukan dengan menghabisi mereka.

Di samping itu bahwa mendoakan penguasa di mimbar jum’at setelah menyebar dan merebak kebid’ahannya adalah telah menjadi tanda pada kebiasaan orang-orang lalu terhadap sikap wala (loyalitas) kepada orang didoakan dan sebagai bukti ketundukan terhadapnya serta masuk dalam kekuasaannya (perwaliannya). Oleh karena itu engkau bisa melihat mereka mengatakan dalam Tarikh: (Dan dia menjabat khilafah tahun sekian dan didoakan baginya dalam khutbah di atas mimbar ).

Atau (dia menguasai Halb dan menggugurkan doa bagi ‘Ubbaidiyyin di dalamnya serta menegakkan doa bagi Banu Al ‘Abbas ) Atau ( Dia dibai’at tahun sekian dan didoakan di atas mimbar )

Dan mereka menganggap pengguguran doa dan meninggalkannya semacam sikap keluar dari ketaatan atau celaan terhadap kekuasaannya terutama hal itu disertai doa bagi selain mereka (sebagai contoh silahkan lihat Al Bidayah wan Nihayah, Al Kamil karya Ibnu Atsir, dan kitab-kitab tarikh lainnya ).

Seadainya kebiasaan itu berlangsung hingga sekarang, tentulah terdapat bahaya (besar) dalam setiap doa bagi mereka, hari ini. Terutama sesungguhnya mereka itu tidak mengharuskan seorangpun atau memaksakannya untuk menjabat sebagai Iman dan Khatib, bahkan justru sesungguhnya orang yang menjabatnya adalah mengerahkan berbagai upaya untuk meraihnya, dan dia tidak mendapatkannya sehingga setelah melewati banyak hambatan dan test-test tertentu, dan terkadang dia mencari-cari berbagai koneksi dan perantara untuk mendapatkannya.

Oleh karena itu kami berupaya dan menganjurkan untuk shalat di belakang Imam yang tidak berdoa bagi mereka dengan bentuk doa apapun.

Akan tetapi bila kita terkena bencana dengan shalat di belakang orang muslim mastuurul hal yang tidak kita ketahui, kemudian kita dkagetkanya dengan doa-doa semacam itu yang tidak mukaffirah, maka kami tidak meninggalkan shalat di belakangnya itu dan kami tidak memerintahkan untuk mengulanginya  termasuk walaupun hal itu mengandung beberapa lawazim (konsekuensi ucapan) yang rusak, karena sesungguhnya termasuk hal yang sudah tetap –sebagaimana yang akan datang– bahwa konsekuensi suatu pendapat itu bukanlah pendapat, selama pemilik ucapan atau pendapat itu tidak terang-terang mengakui dan menganutnya. Dan selama jum’at itu dilaksanakan pada banyak tempat di zaman kita ini maka kesempatan memilih itu sangat luas, sehingga seyogyanya bagi orang muslim untuk berupaya shalat di belakang orang-orang dari kalangan Ahlus Sunnah, terutama saat menyebarnya bid’ah-bid’ah mukaffirah dan riddah. Tidak selayaknya dia menyerahkan kendali diennya terhadap orang-orang fasiq dan orang-orang fajir yang mana mereka itu sumber kekacauan pada dien ini, kecuali takut fitnah atau takut ketinggalan shalat oleh sebab susahnya cari pengganti atau orang yang utama.

Sesungguhnya keadaan jum’at atau jama’ah pada zaman kita ini adalah sangat leluasa dan tidak sempit seperti pada zaman dahulu, di mana dahulu jum’at tidak berbilang dalam satu negeri, sehigga siapa yang meninggalkan di belakang mereka berarti dia menyia-nyiakannya, karena di sana tidak ada pengganti, dan oleh karena itu salaf shalat di belakang orang-orang fasiq dan fajir bahkan di belakang ahli bid’ah . Kemudian ada perbedaan pendapat tentang keharusan mengulangnya sejalan dengan perselisihan dalam pengkafiran penganut paham bid’ah.

Syaikhul Islam berkata: (Bahkan mereka mewajibkan pelaksanaan jum’ah, ‘Iedain, shalat khauf[1], ibadah haji dan lainnya di belakang para penguasa yang fajir dan di tempat-tempat yang hasil dari ghashab, bila meninggalkan hal itu mengantarkan pada meninggalkan jum’ah dan jam’ah atau pada fitnah di tengah umat ). Majmu Al Fatawa 23/142.

Meninggalkan jum’at adalah dikhawatirkan atas orang yang meninggalnya di belakang mereka karena keberadaannya tidak berbilang, adapun fitnah, maka ini dikarenakan orang yang menangani urusan jum’at dan semisalnya adalah para penguasa atau para wakil mereka, dan merekalah orang-orang yang dimaksud dengan ucapan Ibnu Taimyyah (Di belakang penguasa yang fajir), dan dengan ucapan salaf (dan kita melihat (bolehnya) shalat, haji dan jihad di belakang imam-imam kita, baik mereka itu orang-orang baik ataupun fajir). Dan oleh karena itu maka di dalam sikap meninggalkan shalat di belakang mereka itu adalah ada semacam fitnah, karena terkandung di dalamnya celaan kepada pemimpinan mereka, dan menyerupai Khawarij yang memberontak kepada para gubernur dan penguasa dengan sekedar maksiat dan penyimpangan-penyimpangan yang tidak sampai kepada kekafiran, dan bukan dimaksud dengan hal itu seluruh para imam-imam kampung dan mesjid, karena peluang memilih di tengah mereka adalah lapang dan tidak ada fitnah yang timbul pada sikap yang meninggalakan shalat di belakang salah seorang mereka, Syaikhul Islam berkata: (Dan sunnah yang berlaku adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat jum’at dan dan jama’ah bersama kaum muslimin. Dan para panglima perang yang mana mereka itu adalah wakil penguasa di pasukan menyampaikan khutbah terhadap mereka) …. Sehingga ucapan: (Dan begitu juga para khalifah sesudahnya, dan setelah mereka dari kalangan para raja Bani Umayyah dan sebagian ‘Abasiyyah ) … Majmu Al Fatawa (28 / 146).

Oleh sebab itu terdapat dalam Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Al Lalikaiy (418 H) dalam penuturan I’tiqad Abu Abdillah Sufyan Ibnu Sa’id Ats Tsaurry yang diceritakan terhadap Syu’aib Ibnu Harb, di mana beliau berkata di akhirnya (2/154), (Wahai Syu’aib, apa yang kamu tulis tidak bermanfaat sehingga engkau berpendapat (bolehnya) shalat di belakang setiap orang yang baik dan fajir, dan (berpendapat bahwa) jihad itu terus berlangsung hingga hari kiamat, serta sabar di bawah panji penguasa, baik zalim atau adil. Syu’aib berkata: Maka saya berkata kepada Sufyan: Wahai Abu Abdillah, shalat seluruhnya? Dia berkata: Tidak, tetapi shalat jum’at dan dua ‘ied, shalatlah di belakang orang yang engkau dapatkan. Dan adapun selain hal itu maka engkau boleh memilih-milih, janganlah engkau shalat kecuali di belakang orang yang engkau percayai dan engkau ketahui bahasa ia termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. (Dan hal itu disebutkan juga oleh Adz Dzahabiy dalam Tadzkiratul Huffadh (1/207) dan berkata setelahnya: (Dan ini Tsabit dari Sufyan).

Adapun bila mungkin shalat di belakang selain mereka karena berbilangnya pelaksanaan jum’at, maka tidak seorang pun dari salaf mengatakan bahwa itu wajib dan harus di belakang orang-orang fajir, di mana orang yang meninggalkannya di bid’ahkan atau diingkari. Dan oleh sebab itu (Para Ulama berbeda pendapat tentang imam bila dia fasiq atau ahli bid’ah, sedangkan mungkin shalat di belakang orang adil, maka dikatakan sah shalat di belakangnya, dan menurut pendapat lain: Tidak sah bila memungkinkan shalat di belakang orang adil, dan ia adalah salah satu dari dua riwayat yang berasal dari Malik dan Ahmad…) Al Fatawa 23/204.

Adapun bila doa si khatib buat si thaghut agar panjang umur atau sembuh dari penyakit atau agar tetap berkuasa, jaya dan menang dan lainnya yang memestikan darinya keinginan tetap, menang dan kuatnya kekafiran serta panjangnya masa kekuasaan dan pemerintahanya, maka hal ini selama si pembicaraannya tergolong orang yang berilmu dan bukan tegolong orang yang jahil akan keadaan mereka maka tidak halal menyamakannya dengan orang yang telah disebutkan dari kalangan  awam, lanjut usia, dan yang lainnya dan yang samar atas mereka keadaan para thaghut itu dan muncul dari mereka ungkapan-ungkapan doa atau pujian terhadapnya, yang biasanya ini disebabkan pelayanan atau bantuan yang muncul dari mereka atau atas nama mereka.

Justru hal ini bersumber dari orang yang mengaku  berilmu adalah lebih busuk dan lebih buruk, dan pelakunya selama keadaannya seperti itu adalah lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan, akan tetapi tatkala pernyataan-pernyataan ini kembali kepada bab takfier dengan kemestian konsekunsi pernyataan karena ada ihtimal keinginannya berdoa bagi dia dengan kemenangan atas yahudi atau Amerika atau yang lainnya yang suka didegung-degungkan oleh sebagian para khatib yang dungu dalam kondisi-kondisi krisis yang dibuat-buat antar berbagai Negara, maka itu tidak halal takfier dengan hal itu saja.

Semestinya dijelaskan kepadanya lawazim (konsekuensi kemestian) doanya yang kufur, kemudian bila dia iltizam (komitmen) dengannya maka dia telah kafir dan tidak halal shalat di belakangnya.

Adapun sebelum itu, maka sesungguhnya hukum shalat di belakang orang-orang semacam dia adalah seperti hukum shalat di belakang penganut bid’ah mukaffirah yang mana pendapat-pendapat mereka itu memestikan kekafiran, seperti Jahmiyyah, Qadariyyah dan yang lainnya, sedangkan telah lalu perselisihan salaf dalam penerapan vonis kafir terhadap individu mereka, serta cabang dari perselisihan ini adalah perselisihan mereka tentang hukum shalat di belakang mereka.

Dan telah lalu ucapan Syaikhul Islam: (Adapun shalat di belakang orang yang dikafirkan dengan sebab bid’ah dari kalangan ahlul ahwa, maka di sana mereka telah berselisih tentang hukum shalat jum’at di belakangnya, orang yang berpendapat bahwa orang itu kafir, maka dia menyuruh untuk mengulang shalatnya. Akan tetapi masalah ini berkaitan dengan takfier Ahlul Ahwa (penganut paham bid’ah), sedangkan orang-orang masih berselisih dalam masalah ini). Majmu Al Fatwa 23/195.

Inilah, sungguh saya telah memberikan rincian dalam hal ini, dan saya kutip ucapan para imam dalam hal meninggalkan shalat di belakang mereka dan perintah mereka terhadap orang yang shalat (di belakang mereka) karena takut atau taqiyyah untuk mengulangi, serta sikap keras banyak dari mereka dalam hal ini (yang saya cantumkan)  dalam tulisan saya (Mesjid Dlirar dan hukum shalat di belakang wali-wali thaghut dan para wakilnya). Dan pendapat yang kuat bagi saya adalah pendapat meninggalkan shalat di belakang mereka walau sebagai bentuk hajr mereka untuk membuat mereka jera, pengingkaran terhadap mereka dan tidak mengakui mereka atas kebatilan dan kemungkarannya yang selalu mereka dengung-dengungkan…

Dan sungguh serupa sekali mereka itu dengan sebagian orang-orang yang membela-bela para thaghut yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab saat beliau berkata: “Dan siapa yang membela-bela mereka atau mengingkari atau terhadap orang yang mengkafirkan mereka atau mengklaim bahwa perbuatan mereka ini walaupun memang batil (tetapi) tidak mengeluarkan mereka kepada kekafiran, maka status minimal orang yang membela-bela ini adalah fasiq yang tidak diterima tulisannya, dan kesaksiannya serta tidak (boleh) shalat di belakangnya…) (Ad Durar As Saniyyah, Kitab Hukum Al Murtad hal: 71).

Dan ini sangat kuat dengan berbilangnya jum’at dan jama’ah pada zaman kita ini, sehingga orang memiliki kelapangan dalam urusannya, dan keberadaan dia meninggalkan shalat di belakang mereka itu tidak menyebabkan dia meninggalkan jum’at dan jama’ah.

Akan tetapi tatkala masalah ini adalah masalah ijtihadiyyah dan salaf sendiri telah berselisih dalam hal yang serupa dengannya, maka kami tidak mengingkari orang yang shalat di belakang mereka dan tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalat, sebagaimana tidak halal bagi seorangpun mengingkari kami atau yang lainnya karena sikap tidak shalat di belakang orang-orang semacam mereka, apalagi kalau membid’ahkan atau menuduh ghuluw dan takfier karenanya, karena sesungguhnya orang yang mencerna ucapan-ucapan salaf dalam tentang orang seperti ini, maka ia akan mendapatkan bahwa mayoritas mereka berpendapat untuk meninggalkan shalat di belakang mereka, dan di antara mereka ada yang memerintahkan untuk mengulangi shalat.

Adapun bila si khatib dalam doanya buat thaghut agar menang, jaya dan lain-lain itu tegas-tegasan menyatakan keinginan agar thaghut itu menang atas para muwahhidin dari kalangan mujahidin yang menentang pemerintahanya, maka sikap ini termasuk bentuk tawalli, dan membantunya atas para muwahhidin dan yang mendukungnya atas mujahidin yang berupaya menghancurkan dan menjatuhkan kemusyrikan dan undang-undangnya untuk merealisasikan tauhid dengan menerapkan syariat  Allah tabaraka  wa ta’ala saja dan mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada makhluk kepada peribadatan kepada  Allah saja, serta dari sikap mengikuti arbab yang membuat undang-undang cerai berai kepada ibadah terhadap Allah yang maha Esa lagi Maha Perkasa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan siapa yang tawalli kepada mereka di antara kalian, maka sesungguhnya dia itu tergolong mereka”. (Al Maidah: 51)

Dan para ulama telah menegaskan bahwa membela kaum musyirikin atas kaum muwahiddin adalah kekafiran, dan mereka berdalil untuk hal itu dengan dalil-dalil yang banyak sekali yang diambil dari Al Kitab dan As Sunnah dan telah kami paparkan sebagiannya ditempat lain[2].

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam banyak tempat di kitab Ash Sharimul Maslul (206-207) bahwa pembelaan, jihad dan muharabah (sikap memerangi) itu bisa dengan lisan seagaimana bisa dengan tangan, bahkan dengan lisan terkadang lebih kuat dari pada tangan.

Maka apa gerangan bila hal itu disertai talbies (pengkaburan), tadlies (manipulasi) dan pembelaan bagi thaghut dengan dalil-dalil syar’iy dan penuh wahyu, beliau radliyallahu ‘anhu berkata: (Al muharabah itu ada dua macam: muharabah dengan tangan dan muharabah dengan lisan, sedangkan muharabah dengan lisan dalam masalah dien ini adalah lebih menyakitkan daripada muharabah dengan tangan ). Ash Sharimul Maslul 385.

Dan sudah maklum bahwa  orang yang melakukan hal seperti hal ini, hanyalah melakukannya dan menjerumuskan dirinya kedalamnya seraya dalam keadaan tidak dipaksa, sebagai bentuk kemunafikan dan mencari muka di hadapan mereka, karena kalau tidak demikian sesungguhnya pemerintah-pemerintah yang ada tidak mengharuskan si khatib untuk melakukan hal itu, justru pemerintah itu merasa cukup dengan sesuatu di bawah itu berupa doa apa saja darinya sebagaimana yang bisa disaksikan dari realita keadaan banyak para imam dan para khatib. Andai saja pengharusan mereka terhadapnya dianggap sebagai ikrah syar’iy, tentulah pada sikap terus menerus dan melampai batas orang yang melakukan hal itu dengan melebihi doa yang mereka paksakan terhadapnya terdapat pengguguran alasan ikrah itu. Dan telah lalu dalam syarat-syarat sahnya ikrah dan penganggapannya bahwa tidak nampak pada orang yang dipakasa itu sesuatu yang menunjukkan pada sikap terus menerus (di atas kekafiran itu).

Maka bagaimana, sedangkan ilzam (pengharusan) mereka untuk berdoa itu pada dasarnya tidak sampai pada batasan ikrah yang sebenarnya yang denganya diudzur orang yag menampakkan sesuatu dari hal-hal yang membinasakan ini. Coba siapa yang memaksa si khatib atau si imam itu untuk terus memegang jabatan khatib atau imam tersebut??

Dan persis seperti itu dan bahkan lebih buruk, bila si imam atau si khatib itu terang-terangan memuji demokrasi mereka (Yaitu agama kafir mereka) atau mengajak ikut serta dalam (PS=Pesta Syirik) demokrasi, dan memuji undang-undang yang kafir, atau dia sendiri ikut serta dalam menerapkan atau membuat undang-undang ini, atau dia terolong bala tentaranya, ansharnya dan aparat pelindungnya, atau dia tergolong orang yang terjun langsung tawalli terhadap mereka atas para muwahhidin serta memberikan laporan-laporan (mereka kepada para thaghut), sesungguhnya di antara macam orang jenis ini ada orang-orang yang menjadi tentara yang selalu hadir lagi sukarela buat mereka serta lebih tulus terhadap mereka daripada angkatan bersenjata dan dinas keamanannya yang resmi.

Dan Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,”. (An NIsa: 140)

Di dalam ayat itu Allah tabaraka wa ta’ala telah menghukumi dengan hukum yang nyata bahwa orang yang duduk bersama orang-orang yang membicarakan kekafiran tanpa dipaksa, maka sesungguhnya dia itu kafir seperti mereka, dan bahwa  Allah subhanahu akan mengumpulkannya bersama mereka di Neraka jahanam, tempat kembali mereka di akhirat, sebagaimana mereka berkumpul bersamanya dan tidak menjauhi mereka atau berlepas diri dari mereka di dunia saat mereka mengucapkan kekafiran tanpa paksaan.

Syaik Sulaiman Ibnu Abdullah Ibnu Muhmmad Ibnu Abdil Wahab rahimahullah berkata: (Ayat ini sesuai dhahirnya, yaitu sesungguhnya seseorang bila mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, terus dia malah duduk di sisi orang-orang kafir yang memperolok-olokkan itu tanpa paksaan dan tanpa pengingkaran serta tanpa berdiri meninggalkan mereka sampai mereka memasuki pembicaraan lain, maka dia itu kafir seperti mereka meskipun tidak melakukan apa yang mereka lakukan ..) Ad Durar As Saniyyah Fil Ajwibah An Najdiyyah Juz Al Jihad 72

Namun orang zalim itu malah mengganti ucapan yang telah dikatakan kepada mereka, yaitu seharusnya mereka itu memenuhi perintah  Allah ta’ala untuk tidak duduk beserta mereka di saat mendengar kekafiran mereka dan sanjungan mereka terhadap undang-undangnya atau mengajak untuk andil dalam menerapkan atau merencanakan serta  menerapkan demokrasinya: Eh mereka malah duduk-duduk bersama mereka dan tidak merasa cukup dengan duduk-duduk dan mendengarkan hal itu dari mereka dalam khutbahnya tanpa pengingkaran, bahkan justru mereka menambahkan terhadap hal itu sikap mereka menyelisihi perintah  Allah dan hukum-Nya, di mana Dia berfirman:

“Dan Allah tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir atas kaum mukminin ”. (An Nisa: 141).

Di mana mereka mengedepankan orang-orang yang membicarakan kekafiran dan bermakmum terhadap mereka di dalam shalat.

Di mana di dalam pengedapanan mereka, shalat di belakang mereka dan bermakmun terhadap mereka terkandung sikap pemuliaan terhadap kekafiran mereka atau pengakuan terhadap mereka atas kekafirannya, yang lebih dahsyat dan lebih nampak dari sekedar duduk beserta mereka. Sehingga ia itu masuk secara lebih utama dalam larangan. Dan seandainya dalam hal itu tidak ada kecuali keumuman firman Allah tabaraka wa ta’ala:“Maka janganlah kamu duduk bersama mereka”. Tentulah dia cukup dalam larangan shalat di belakang mereka, karena shalat itu tidak luput dari duduk.

Sedangainya bahaya di sini; adalah bahwa menyelisihi hal itu adalah masuk dalam ancaman “Tentulah kamu serupa dengan mereka“ dan ini bukan hanya sekedar terkandung batalnya shalat, akan tetapi batal dan runtuhnya keIslaman dan tauhid sebagaimana yang engkau ketahui.

Kemudian sesungguhnya para imam dan para khatib yang keadaannya seperti ini, sungguh mereka itu bukan bagian dari kita dan kita bukan bagian dari mereka, dan tidak ada penghargaan dan tidak ada kehormatan bagi mereka atau untuk shalat di belakang mereka. Dan telah lalu hadits yang telah diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim Dan An Nasai dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Bila mereka bertiga, maka salah seorang hendaklah mengimani mereka…) dan setiap khatib atau imam yang keadaannya seperti mereka, maka dia itu bukan bagian dari kaum muslimin, namun dia itu tergolong kaum kafir dan kaum musyrikin serta bala tentaranya.

Dan firman-Nya tabaraka wa ta’ala: “Dan Allah tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir atas kaum mukmin” adalah perintah dan hukum bahwa tidak ada kekuasaan yang bersifat dien bagi orang kafir atas orang muslim, dan tidak boleh menjadikannya sebagai imam, dan tidak boleh mengedepankan orang kafir atas orang mukmin.

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman seraya mengingkari orang yang menyamakan antara orang muslim dan orang kafir:

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka ? amat buruklah apa yang mereka sangka itu”. (Al Jatsiyah: 21)

Maka apa gerangan dengan orang yang mendahulukan orang kafir atas orang muslim?

Dan Dia tabaraka wa ta’ala:

“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah,” (Al Hasyr: 20)

Sedangkan kata kerja yang terdapat dalam konteks atau penafian adalah mengandung nakirah, sehingga ia sama sekuat ungkapan “Tidak sama“. Makanya ia mencakup setiap hal kecuali apa yang dikhususkan dalil. Sedangkan ini adalah berkaitan dalam hal menyamakan.

Maka apa gerangan dengan mengedepankan mereka dan memuliakannya melebihi orang muslim dengan memberikan kepada mereka perwalian dan kepemimpinan di dalam urusan agama …?

Dan tidak diragukan lagi bahwa imamah itu terkandung sikap pemuliaan dan pengedepanan, oleh sebab itu penghapal Al Qur’an didahulukan di dalamnya.

Bila mereka sama dalam hal qira’ah (bacaan)nya, maka didahulukan orang yang paling alim akan Sunnah, kemudian yang lebih dahulu hijrah, terus paling tua. Ini digariskan oleh penutup Nabi, kemudian datang orang yang tidak memiliki bagian (dalam Islam ini), mereka mengedepankan kaum musyirikin dan murtadin atas itu semua …Enyahlah …Enyahlah …

Dan di dalam hadits dituturkan Al Bukhari dalam shahihnya secara ta’liq:“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya”

Dan itu telah lalu….

Dan  Allah ta’ala berfirman terhadap Ibrahim ‘alaihissalam:

“Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Al Baqarah: 124)

Maka tidak sah bagi muwahhid untuk ridla seraya tidak dipaksa menjadikan orang kafir sebagai pemimpinnya di dalam  urusan dunianya, apalagi urusan agamanya.

Sesungguhnya manusia di hari kiamat dipanggil dengan orang-orang yang dia bergabung dengannya di dunia, dan mereka digiring di belakang orang-orang yang diikuti dan yang dicontohnya, sehingga mereka sama-sama dan berkumpul di tempat kembali, sebagimana  mereka sama-sama dan berkumpul pada urusan mereka di dunia. Bila buruk ya buruk dan bila baik ya baik

Allah swt berfirman:

“(Ingatlah) suatu hari (Yang dihari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinya, dan barang siapa yang diberikan kitab amalanya di tanggan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Dan barang siapa yang buta (Hatinya) di dunia ini niscaya di akhirat (Nanti) ia akan, lebih buta (Pula) dan lebih tersesat dari jalan (Yang benar). (Al Isra: 71-72).

Mujahid, Qatadah dan yang lainya berkata: (Al Imam adalah orang yang diikuti. Sehingga dikatakan: Datangkan para pengikut Ibrahim ‘Alaihissalam , datangkan pengikut Musa ‘Alaihissalam, datangkan pengikut syaithan, datangkan pengikut berhala. )…

Sedangkan ayat ini adalah umum, dan ucapan para ulama di dalamnya sangat beragam. Dan keumumannya menjadikan bagi orang yang ridla dengan imamah orang kafir dalam shalat bagian dari ancaman ini.

Di dalam hadis Muttafaq ‘alaih tentang melihatnya orang-orang mu’min terhadap Tuhannya di hari kiamat, ada ungkapan : Maka sang penyeru, berseru : Siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah mengikutinya. Maka orang yang menymbah matahari, mengikuti matahari. Siapa yang menyembah bulan maka dia mengikuti bulan, dan orang yang menyembah thaghut maka dia mengikuti thaghut… hingga ucapannya : Sehingga tersisalah orang yang menyembah Allah… terus dikatakan kepada mereka : Apa yang menahan kalian sedangkan manusia telah pergi ? Maka mereka menyatakan: Kami telah meninggalkan mereka sedangkan kami lebih membutuhkan kepadanya pada hari ini dari pada diri kami…hingga akhir hadits.

Dalam hal ini terdapat ancaman yang dasyat dan tahdzir yang kuat bagi orang yang terang-terangan mengikuti aimmatul kufri atau mengekor kepada mereka atau terhadap anshar dan auliya mereka. Dia memilih untuk mengikuti mereka dan mengekor terhadapnya daripada meninggalkan mereka yang merupakan jalan keselamatan dan penghindaran dari mengikuti dan ikut serta dengan mereka di tempat kembalinya pada hari kiamat.

Oleh karena itu kami tidak memandang shalat di belakang orang yang keadaannya seperti ini, dan kami memandang sikap menjauhi shalat di belakang mereka adalah tergolong lawazim bara’ah kami dari thaghut dan auliyanya. Para imam yang sifatnya seperti ini mereka itu pada hakikatnya tergolong wali-wali thaghut dan ansharnya, mereka memilih untuk berada di barisan, golongan, jajaran dan hizbnya. Sehingga mereka berada di satu lembah dan sisi, sedangkan kami berada di lembah dan sisi yang lain. Kami dan mereka adalah dua seteru yang berselisih tentang rabb mereka dan tentang tauhid-Nya.

Kami telah menadzarkan diri kami untuk membentengi syari’at dan tauhid, sedangkan mereka telah mengerahkan jiwa dan umur mereka untuk membentengi undang-undang, syirik dan tandid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk meninggalkan dan menjauhi kaum musyrikin dan agar api kita dengan api mereka tidak saling melihat sebagai bentuk sikap yang lebih dalam hal mufaraqah (sikap meninggalkan), saling menjauh dan bara’a, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah :

Aku berlepas diri dari setiap muslim yang muqim di tengah kaum musyrikin, mereka berkata: Wahai Rasululla, memang bagaimana? Beliau berkata: “Api keduanya tidak saling melihat “.

Al Imam Ahmad (5/5), An-Nasai dan Al Hakim (4/600), beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy, mereka meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

Setiap muslim atas muslim adalah haram, dua bersaudara yang saling menolong,  Allah ‘azza wa jalla tidak menerima amalan dari orang musyrik setelah dia masuk Islam sehingga ia meninggalkan kaum musyrikin kepada kaum muslimin ”.

Maka bagaimana masuk akal setelah ini kita ridla dengan mereka atau menjadikan mereka sebagai Imam-Imam yang dikedepankan?

Oleh sebab itu kami suka menampakan terang-terangan biasanya dengan meninggalkan shalat di belakang mereka. Dan seandainya kami dikagetkan dengan sesuatu dari hal itu di tengah-tengah khutbah orang yang sebelumnya bagi kami adalah mastrul hal, maka kami sama sekali tidak keberatan dari memutuskan shalat atau keluar dari khutbah, karena sesungguhnya kami sangat senang menampakan bara’a kami dari thaghut dan ansharnya, dan kami bersengaja menampakan permusuhan kami terhadapnya dan terhadap wali-walinya yang membelanya dengan lisan atau dengan senjata, sebagaimana itu sikap Tha-ifah Manshurah yang nampak di atas perintah Allah yang mana kita mengikuti jejaknya. Dan sebagaimana hal itu sebelumnya ditampakan oleh Al Khalil Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dan yang berada di atas jalannya dari kalangan para nabi dan kaum mu’minin yang telah  Allah jadikan sebagai uswah dan qudwan bagi kita dalam hal ini,  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya : “Sesungguhnya kami telah berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain  Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan tampak antara kami dengan kalian permusuhan den kebencian selama-lamanya sehingga kalian beriman kepada  Allah saja”. (Al Mumtahanah: 4)

Dan terakhir, bila saja meninggalkan shalat di belakang umara yang dzalim yang belum keluar dari Islam adalah hal  tercela yang telah dihati-hatikan darnyai oleh salaf dan ulama kita  terdahulu, karena dalam sikap itu terkandung macam penentangan dan pengusikan akan kekuasaan mereka serta penyerupaan akan thariqah Khawarij yang mana mereka itu menentangnya dan meninggalkan shalat di belakang mereka serta mengobarkan perang karena sekedar sebagian maksiat yang dilakukan para penguasa itu tanpa mereka menampakan kekafiran yang nyata, maka sesungguhnya meninggalkan shalat tersebut pada hari ini di belakang aimatul kufri dan auliyanya setelah mereka menampakan berbagai macam kekafiran yang nyata dan syirik yang nampak adalah menjadi tanda bagi Anshar Tauhid dan pengusung Thaifah Dhahirah Manshurah yang tidak perduli dengan orang yang menyelisihi dan yang menggembosi.

Dan bila dalam hal itu terkandung macam penentangan dan pengusikan akan pemerintahan para thaghut itu dan kekuasaan para auliya mereka atas urusan dien dan dunia kita, maka itulah hal baik yang diharapkan.

Oleh karena itu kami menampakan dan menjaharkannya serta bersemangat terhadapnnya sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada  Allah Ta’ala, serta sebagai bentuk perealisasian tauhid-Nya subhanah dan sebagai bentuk bara’a dari para thaghut dan auliya mereka di mana saja berada dan bagaimanapun status mereka itu.

Perhatian akan kekeliruan sebagian orang yang tergesa-gesa dan kaum yang ghuluw di dalam pengkafiran mereka terhadap orang muslim karena sekedar pujian orang-orang kafir terhadapnya atau pujian mereka terhadap akhlaknya.

Dan yang mesti diingatkan di sini dalam hal kebalikan ini bahwa sesungguhnya tidak boleh menetapkan sangsi apalagi menganggap bid’ah atau mengkafirkan dengan sebab pujian atau sanjungan orang-orang kafir terhadap akhlak atau metode sebagian muwahhidin, selama kaum muwahhidin itu istiqamah di atas millah Ibrahim lagi menampakan bara’nya dari orang-orang kafir atau musyrikin itu, juga pujian itu tidak membahayakan mereka atau memalingkannya dari jalan yang benar.

Dosa apa atas mereka dan dengan sebab kesalahan apa mereka dikecam, terutama bila hal itu dikatakan sebagai pujian terhadap metode mereka dalam dakwah dan interaksi: Sebagai kebalikan apa yang ditampakan oleh sebagian orang berupa sikap kaku atau celaan murni atau lontaran-lontaran yang tidak ilmiyyah dan tidak teratur dengan batasan-batasan syariat.

Sama saja pujian orang-orang kafir itu muncul atas dasar penerimaan dan sikap obyektif ataupun atas dasar tujuan makar, tipu daya dan penggebosan di tengah barisan, karena mereka tahu benar bahwa hal ini atas sebagian orang-orang yang akalnya lemah akan menjadi fitnah atau faktor pendorong untuk bersikap dengki, aniaya dan hasud. Dan yang mana hal itu terkadang membuahkan permusuhan dan perpecahan dan itu adalah apa yang selalu diupayakan dan diinginkan oleh orang-orang kafir, dan saya telah mengalami hal seperti, serta saya melihat orang yang mencela saudara-saudaranya Al Muwahhidin dengan sebab pujian orang-orang kafir terhadap akhlaq mereka dan menjelek-jelekan mereka karena sebab pujian kaum kafir terhadap metode mereka dalam bergaul dan berinteraksi. Ini adalah termasuk makar musuh-musuh Allah yang dilakukan siang malam, seandainya para du’at itu taqwa kepada  Allah pada diri mereka dan para ikhwannya, dan mereka mau memahami sirah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersabar di atas jalannya serta berpandangan jeli akan jalan dan metode-metode kaum mujrimin dalam membuat tipu daya terhadap dakwah dan para du’at, tentulah tipu daya itu tidak membahayakan mereka sedikitpun… karena  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali ‘Imran: 120)

Tarohlah bahwa mereka itu benar jujur dalam pujiannya lagi tidak bermaksud membuat tipu daya, maka aib apa atas muwahhid dalam hal itu selama aqidahnya nampak lagi jelas dan selama takfier dia terhadap mereka diketahui orang jauh dan dekat serta bara’anya dari mereka dan undang-undangnya nampak terang.

Bukankah telah dikatakan bahwa keutamaan itu adalah apa yang disaksikan oleh musuh ? (Itu adalah pengaduan yang nampak cacatnya di hadapanmu)

Bukankah orang-orang kafir Quraisy mensifati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ash Shadiq Al Amin?? dan di dalam Shahih Al Bukhari (Kitab Bad’il Wahyu) ada hadits pertanyaan-pertanyaan Heraklius terhadap Abu Sufyan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana di dalamnya ada ucapannya: “Apakah kalian menuduhnya dusta sebelum mengatakan apa yang dia katakan? Abu Sufyan berkata:”Tidak.“ Dia bertanya: “Apakah dia berkhianat?” Dia menjawab: “Tidak”, hingga pertanyaannya: “Apa yang dia perintahkan kepada kalian? Dia menjawab: Dia berkata: Beribadahlah kalian kepada Allah saja dan janganlah kalian menyekutukan sesuatupun dengannya serta tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian…” Dan dia memerintahkan kami untuk shalat, jujur, menjaga harga diri dan shilaturrahmi).

Dan di dalam Musnad Al Imam Ahmad dari hadits Abdillah Ibnu “Amr -akan datang isyarat ke arah sana- bahwa orang-orang kafir Quraisy selalu mengingatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengancamnya karena beliau mencela tuhan-tuhan mereka, dan di dalam hadits itu bahwa beliau lewat ke depan mereka sedangkan mereka sedang melakukan hal itu dan beliau memperdengarkan kepada mereka apa yang membuat mereka tidak suka, Abdullah berkata: Sehingga orang yang paling dengki sebelum itu membujuk rayunya dengan perkataan yang paling baik yang ia dapatkan, sampai-sampai ia mengatakan: “Pergilah wahai Abdul Qasim…Pergilah dalam keadaan baik…. demi  Allah engkau ini tidak bodoh”.

Perhatikan ucapannya: (Membujuk rayunya dengan perkataan yang paling baik yang ia dapatkan). Dan seperti hal itu apa yang  Allah Ta’ala sebutkan dalam kitabnya berupa ucapan sebagian penghuni penjara kepada Nabiyyullah Yusuf sedangkan mereka itu berlainan agama dengan Yusuf:

“Sesungguhnya Kami memandang kamu Termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi).” (Yusuf: 36)

Dan:

“(setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf Dia berseru): “Yusuf, Hai orang yang Amat dipercaya,” (Yusuf: 46)

Dan itu dikarenakan mereka melihat keadaan, akhlak dan perilakunya.

Juga ucapan istri Al Aziz tatkala jujur mengaku:

“Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 51)

Dan sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sarat dengan contoh hal itu. Al Bukhari meriwayatkan dalam Ash-Shahih di (Kitab Manaqib Al Anshar) dari hadits Aisyah radliyallahu ‘anhu pada kisah hijrah Abu Bakar radliyallahu ‘anhu menuju Habasyah serta jiwar (perlindungan) Ibnu Ad Dughnah baginya dan mengembalikannya ke Mekah, dan di dalamnya ada ucapan Ibnu Ad Dughnah terhadap Abu Bakar: (Sesungguhnya orang sepertimu tidak (layak) keluar dan dikeluarkan, sesungguhnya engkau mengusahakan (mendatangkan) sesuatu yang tidak ada dan menyambungkan hubungan (shilaturrahmi), menanggung beban tanggung jawab, menjamin tamu, membantu yang dalam kesusahan, maka aku adalah pelindung bagimu kembalilah dan sembahlah Tuhanmu di negerimu). (3905)

Dan seperti hal itu juga apa yang diriwayatkan Al Bukhari dalam (Kitabul Jihad was Siyar) dalam kisah penawanan Khubaib Al Anshariy, dan di dalamnya ada pujian Bintul Harits Ibnu ‘Amir terhadap Khubaib saat beliau menjadi tahanan di tengah mereka, terus beliau meminjam pisau dari untuk mencukur kemaluannya, maka wanita itu meminjamkannya, kemudian beliau mengambil anak wanita itu saat ibunya lengah, wanita itu berkata: (Saya dapatkan dia telah mendudukan anak itu di atas pahanya, sedangkan pisau itu di tangannya, maka saya tersentak dengan sentakan yang diketahui Khubaib pada wajahku), Khubaib berkata: Kamu takut saya membunuhnya? saya tidak mungkin melakukan hal itu. Wanita itu berkata: (Demi Allah saya tidak melihat tawanan yang lebih baik Khubaib, demi Allah sesungguhnya saya telah melihatnya suatu hari makan anggur segar di tangannya, sedangkan dia itu dibelenggu besi dan di Mekah itu tidak ada buah-buahan) (3045).

Dan menelusuri hal itu adalah sangat panjang dan yang menjadi bukti dari hal itu adalah sangat nampak.

Dan di sisi lain juga, tidak selayaknya bagi orang yang berakal memperdulikan atau menoleh celaan musuh-musuh Allah dan kaki tangan mereka terhadap salah seorang ikhwan tauhid, atau menengok pada tuduhan-tuduhan yang mereka labelkan terhadapnya, seperti tuduhan tasyaddud (bersikap mempersulit), atau ta’ashshub (fanatik) dan takfieriy atau kasar atau teroris atau tuduhan lainnya, selama dengan lebel-lebel ini mereka dicela karena sebab hal-hal kebenaran pada posisinya yang terpuji, karena dalam banyak tempat di Kitab-Nya Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajarkan sikap keras dan kasar terhadap musuh-musuh-Nya yang memerangi dien-Nya dan terhadap kaum munafiqin serta orang-orang lainnya yang tidak suka terhadap  syariat-Nya. Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai Nabi jihadilah orang-orang kafir dan kaum munafiqin, dan bersikap keraslah terhadap mereka ”. (At Taubah: 73)

Dan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman perangilah orang-orang kafir disekitar kamu dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu”.  (At Taubah: 123)

Dan firman-Nya:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (Al Fath: 29)

Dan firman-Nya:

“Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,” (At Taubah: 120)

Dan dia berfirman dalam mansifati ahli dakwah tauhid dan ansharuddin:

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mu’min yang bersikap kasar terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela ”. (Al Maidah: 54)

Dan ayat-ayat Al Qur’an lainnya…

Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sarat dengan praktek-praktek amaliy akan hal itu dan sangat panjang menelusurinya…

Semua itu disyariatkan di tempat dan posisinya, dan tidak apa-apa bagi seorangpun untuk mengikuti dan mencontoh serta mempraktekannya, akan tetapi yang menjadi dosa atas orang-orang yang tafrith dan taqshir di dalamnya serta lemah dari menegakkannya adalah dia mencela orang-orang yang menegakkannya, mencibir mereka dan mencela mereka karenanya dan dengan sebabnya, itu adalah pengaduan yang aibnya nampak (jauh) darimu. Dan tidak layak bagi orang yang berakal menghiraukan celaan selama orang-orang yang dimaksud itu berada di atas minhaj Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam, lagi berpegang teguh pada Millah Ibrahim, mencontoh tuntunan salaf mereka lagi tidak cenderung kepada ifrath atau tafrith. Dan saya tegaskan batasan penting ini, karena sesungguhnya sebagian orang yang menyimpang dari minhajun Nubuwwah kepada ifrath atau tafrith ini serta berbuat aniya kepada diri dan dakwah mereka dengan hal itu engkau bisa melihat mereka menghibur diri mereka dengan hal seperti ini yang kami ingatkan dengannya di sini, padahal tidak ada penghiburan bagi mereka dengan hal seperti ini selama mereka itu telah melakukan hal itu dengan tangan mereka sendiri dan aniaya terhadap dakwahnya dengan penyimpangan-penyimpangan dan sikap ngawurnya, justeru hiburan (‘azaa) dengan hal itu hanyalah bagi orang yang mengupayakan dirinya untuk istiqamah di atas manhaj dakwah para Nabi, merekalah orang-orang yang berbuat baik yang dijanjikan kemenangan dan kebersamaan oleh Allah tabaraka wa ta’ala Dia berfirman:

Dan orang-orang berjihad untuk (mencari keadilan) kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya  Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik ”.  (Al ‘Ankabut: 69)

Dan selama mereka itu termasuk para pewaris dakwah para Nabi dan Rasul, maka mereka itu mesti mendapatkan sebagian konsekuensi logis warisan ini. Dahulu Fir’aun berkata tentang Musa ‘alaihissalam:

Sesunguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi(Al Mukmin: 26)

Dan sebelumnya pernah dikatakan kepada Nuh dan kaum mu’minin para pengikutnya:

Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta(Hud: 27)

Dan orang-orang kafir Quraisy juga mensifati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ini menganggap bodoh pemikiran mereka, mencela nenek moyang mereka, menghina dien mereka, memecah belah persatuan mereka dan memaki tuhan-tuhan mereka[3] padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela nenek moyang mereka dan apa yang mereka ibadati dengan celaan begitu saja, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang dari melakukan hal itu selama itu menjadi pintu yang bisa mendorong orang kafir untuk mencela Allah secara aniaya tanpa ilmu, dan juga sesungguhnya di antara yang mereka ibadati itu adalah malaikat dan orang-orang saleh yang tidak boleh dicerca, akan tetapi bila beliau menelanjang alihah mereka yang batil dan menampakan bahwa ia tidak bisa mendatangkan manfaat dan madlarat dan tidak bisa menolong mereka sedikit pun, serta mengajak untuk kufur terhadapnya dan bara’ dari peribadatannya, menjelaskan kesesatan nenek moyang mereka dalam mengada-ada dan mereka-rekanya, dan menghati-hatikan dari taqlid terhadap mereka atau mencela sikap mengikuti mereka atas hal itu, maka mereka menjadikan hal itu sebagai celaan, dan mereka mengatakan: Dia telah menghina tuhan-tuhan kami, mencerca nenek moyang kami dan memecah belah persatuan kami.

Dan begitulah para pewaris mereka dari kalangan kaum musyrikin undang-undang dan para penyembah UUD hari ini, bila kami menjelaskan kebusukan undang-undang mereka, kami tampakan kekafiran dan kontradiksinya, kami hati-hatikan dari aturan-aturan mereka yang sama sekali bukan berasal dari Allah, dan kami jelek-jelekan dia dan para pembuatnya, maka mereka mengatakan tentang kami: Kaum militan, Khawarij, Takfiriyyun dan para teroris…yang membangkang  terhadap dien mereka (undang-undang). Dan mereka mencap dakwah jihad dan kekafiran kami terhadap mereka sebagai tindakan yang tidak syar’iy (tidak sah) yaitu tidak sesuai undang-undang, dan mereka menuduh kami sebagai pemecah belah persatuan nasional mereka yang bersipat berhalaisme lagi jahiliyyah,[4] persis apa yang dikatakan kaum musyrikin Quraisy (Dia memecah belah persatuan kami (Hati mereka sangat serupa)

Tidak ada dosa seorangpun dari kalangan muwahhidin dalam satupun dari tuduhan-tuduhan itu semuanya selama mereka itu berjalan di atas tuntunan Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi tidak cenderung kepada ifrath atau tafrith. Sungguh itu adalah tuduhan-tuduhan para penentang tauhid dan para pemeluknya sejak dulu yang saling mewarisi satu sama lain di setiap zaman, seolah satu sama lain saling mewasiatkan hal itu :

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang di katakan itu sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas(Adz-Dzariyat: 53)

Di samping ini sesunguhnya mayoritas apa yang dicela oleh musuh-musuh Allah sebagaimana apa yang telah engkau saksikan terhadap sebagian para pemula yang intisab kepada dakwah tauhid adalah semangat mereka dan sikap kerasnya yang berlebihan yang terkadang tidak terkontrol dengan batas-batasan syari’at, atau karena penempatannya bukan pada tempatnya di mana hal itu menggiringnya pada sikap mempersulit dan mempersempit diri pada sebagian apa yang telah Allah lapangkan di dalamnya pada kesempatan lainnya, atau hal-hal semacam ini…

Inilah, meskipun hal yang wajib atas penyeru dakwah ini adalah menanggulanginya dan tidak membiarkan atau mengakunya karena khawatir menjadi penyebab tercorengnya wajah dakwah yang berisih ini atau menjadi biang penyebab orang lari darinya, sedangkan keberadaan hal seperti itu di dalam barisan adalah tidak aneh, dan jarang orang selamat darinya terutama pada fase-fase pertama belajar dan pengalamannya, dan saya tidak membebaskan diri saya dari hal itu, sungguh pernah saya mengalami sikap kasar dan tidak lembut yang semoga Allah mengampuni dosa saya itu, saya selalu ingat orang yang tulus memberikan masukan tentang sesuatu dari masalah ini, dan tidak layak menolak nasehat karenanya, karena peringatan itu bermanfaat bagi saya, mereka dan seluruh kaum muslimin :

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz Dzariyat: 55)

Sedangkan orang yang ma’shum adalah orang yang dijaga  Allah ta’ala.

Yang jelas bagaimanapun jarang sekali setiap perkumpulan selamat dari hal seperti ini, bahkan sesuatu dari hal itu telah ada di generasi terbaik namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mengakui dan tidak mendiamkannya, akan tetapi beliau berupaya keras untuk mengingkari dan menanggulanginya saat seorang laki-laki mengadukan kepada beliau bacaan panjang Imamnya di dalam shalat, sampai-sampai orang itu keluar dari shalat subuh karenanya, Abu Mas’ud Al Anshariy berkata: Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dalam suatu wejangan yang melebihi kemarahannya saat itu, beliau berkata: (Wahai manusia sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat lari (orang lain dari) HR Muslim.

Akan tetapi di antara yang wajib diketahui dan diperhatikan serta dijaga di sini adalah bahwa mayoritas metode-metode yang dicela atas sebagian duat tauhid itu terkubur beserta kekeliruan-kekeliruan lainnya di dalam sisi yang dibawa oleh para pemuda itu, berupa pembelaan terhadap tauhid, penegakan akan hal itu serta sikap bara’ah dari syirik dan para pelakunya. Ini adalah dasar penilaian kami terhadap ahlut tauhid, dan tidak halal sama sekali mengenyampingkan keutamaan yang agung ini, dan bagian yang penting yang kartu lembarannya melebihi berat puluhan lembaran dosa, maksiat dan kesalahan, dengan sebab sebagian kekeliruan yang mana ia itu termasuk hal furu’, dan itu bisa hilang bagi orang-orang yang ikhlas dengan pencarian ilmu, pengalaman dan kematangan serta dengan nasihat dan pembenahan dari orang-orang yang bertanggung jawab atas pengarahan mereka atau orang-orang yang menangani urusan mereka atau orang-orang yang bergaul langsung dengan mereka. Dan itu adalah sesuatu yang selalu kami upayakan dengan karunia  Allah. Dan lembaran ini membahas bagian dari hal itu, sebagaimana yang engkau lihat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memiliki risalah yang sangat bagus dalam awal jilid keempat Majmu Fatawa beliau yang telah kami isyaratkan di awal pasal ini, di mana di dalamnya beliau membela Ahlul Hadits dan Ansharus Sunnah, dan beliau menyebutkan kritikan lawan-lawan mereka terhadap mereka dan celaan ahlul kalam wal bida’ terhadap sebagian mereka. Kecintaan beliau terhadap ahlul hadits dan keberadaan beliau sebagai ansharus sunnah tidaklah menghalangi beliau dari mengakui keberadaan sebagian kritikan dan kekeliruan, dan mengakui keberadaannya, dan beliau tidak merasa tidak enak terhadap seseorang dalam mengeritik kekeliruannya, sebagai bentuk kesungguhan dari beliau untuk merubah dan meluruskannya, sebagaimana beliau membantah berbagai tuduhan lainnya yang diadakan-adakan.

Kemudian berkata ditengah itu seraya membandingkan antara dua kelompok (4/20): (Dan bila kita bandingkan antara dua kelompok  -yaitu ahlul hadits dan ahlul kalam-, yang mencela ahlul hadits dan ahlul jama’ah dengan tuduhan hasywul qaul (leterlek/harfiyah), hanyalah menuduh mereka dengan kurangnya pengetahuan atau kurangnya pemahaman. Adapun yang pertama adalah dengan bentuk mereka berhujjah dengan hadits-hadits dlaif atau palsu atau dengan atsar-atsar yang tidak pantas dijadikan hujjah.

Dan adapun yang kedua adalah dengan keberadaan mereka itu tidak memahami makna hadits-hadits yang shahih, bahkan bisa jadi mereka memiliki dua pendapat yang saling kontradiksi dan mereka tidak mengetahui jalan keluar dari itu. Dan masalahnya kembali kepada dua hal: Bisa jadi tambahan ungkapan yang tidak berfaidah yang diduga bahwa ia berfaidah seperti hadits-hadits palsu, dan bisa saja ungkapan-ungkapan yang berfaidah tapi mereka tidak memahaminya. Jadi mengikuti hadits itu membutuhkan: Pertama terhadap keshahihan hadits, dan kedua terhadap pemahaman maknanya, seperti mengikuti Al Qur’an. Sehingga ketimpangan itu masuk terhadap mereka karena sebab meninggalkan salah satu dari dua muqaddimah itu, dan orang yang mencela mereka dari kalangan manusia hanyalah mencela dengan sebab hal ini.

Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini ada pada sebagian mereka, mereka berhujjah dengan hadits-hadits dalam masalah-masalah (ushul dan furu) dan dengan atsar-atsar yang diada-adakan serta cerita-cerita yang tidak shahih, dan mereka menyebutkan dari Al Qur’an dan hadits apa yang tidak mereka pahami maknanya, dan bisa jadi mereka mentakwilnya dengan yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya dan menempatkannya bukan pada tempatnya.

Kemudian mereka dengan manqul (atsar) yang dlaif dan dengan pemahaman yang rendah ini terkadang mengkafirkan, menganggap sesat dan membid’ahkan orang-orang dari tokoh-tokoh umat ini dan menganggap bodoh mereka. Pada sebagian mereka terdapat tafrith dalam al haq dan aniaya terhadap manusia yang mana sebagian sikap itu bisa jadi berupa kekeliruan yang diampuni, dan bisa jadi kemungkaran dan ucapan kebohongan, dan bisa jadi tergolong bid’ah dan kesesatan yang mengharuskan sangsi-sangsi yang besar. Maka hal ini tidak diingkari kecuali oleh orang jahil atau dzalim, dan saya sungguh telah melihat berbagai keajaiban[5] dari hal ini.

Akan tetapi mereka itu bila dibandingkan dengan yang selain mereka dalam hal itu adalah seperti kaum muslimin bila di bandingkan dengan para pemeluk agama-agama lain. Dan tidak diragukan lagi bahwa pada banyak kaum muslimin terdapat kedzaliman, kebodohan, bid’ah dan fujur yang tidak diketahui kecuali oleh Dzat yang mengetahui segala sesuatu, akan tetapi setiap keburukan yang ada pada sebagian kaum muslimin, maka hal itu pada selain mereka adalah lebih banyak. Dan setiap kebaikan yang ada pada selain mereka, maka ia di tengah kaum muslimin adalah lebih tinggi dan lebih besar. Dan begitulah ahlul hadits bila dibandingkan dengan selain mereka…)

Kemudian beliau mulai membandingkan antara dua kelompok, dan beliau jelaskan bahwa ahlul hadits -walaupun mendapatkan kritikan- memiliki keistimewaan yang berlipat-lipat atas lawan-lawan mereka dari kalangan ahlul kalam dan kelompok-kelompok lainnya yang menyimpang dari garis kebenaran ahlul haq, dan pada kalangan khusus mereka bahkan kalangan awamnya terdapat keyakinan dan ilmu yang bermanfaat yang sedikitpun dari hal itu tidak ada pada para Imam ahli kalam, dan bahwa kekeliruan-kekeliruan lawan mereka adalah melebihi kekeliruan-kekeliruan mereka dari berbagai sisi karena kebersihan ushul mereka…

Dan beliau rahimahullah berbicara panjang dalam hal itu, sungguh ia sangat berharga… silahkan rujuk ke sana.

Begitulah keadaannya dalam hal apa yang dikritikan terhadap sebagian pengikut dakwah yang penuh berkah ini, sesungguhnya celaan yang dilontarkan terhadap mereka berupa kekeliruan sebagian para pemula di antara mereka, tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kesesatan-kesesatan yang membinasakan berupa penyimpangan-penyimpangan yang ada di musuh-musuh dan lawan-lawan mereka.

Dan hal yang menjadi pujian berupa hal-hal furu’ yang ada pada lawan-lawan mereka, ia itu ada pada pengikut dakwah ini terutama (pada) kalangan orang-orang yang matang ilmunya di dalam dakwah ini (dengan keberadaan) yang lebih sempurna, lebih tinggi, lebih besar, lebih nampak dan lebih jelas. Dan itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada orang yang dia kehendaki.

Karena sesungguhnya di antara faktor pendorong pancaran ilmu dan pemahaman, serta sebab terpenting keberlangsungannya hidayah dan taufiq adalah taqwa kepada Allah tabaraka wa ta’ala dan taat kepada Rasul-Nya serta nushrah tauhid-Nya sebagaimana firman-Nya:

Dan bertaqwalah kepada  Allah,  dan Allah mengajarimu”  (Al Baqarah: 282)

Dan firman-Nya:

Jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan(Al Anfal: 29)

Dan Firman-Nya:

Dan jika kamu mentaati-Nya tentu engkau mendapat petunjuk”. (An Nur : 54)

Dan Firman-Nya:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) kami, benar-benar akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami(Al Ankabut: 69)

Sebagaimana di antara sebab penguncian hati dan terhalangnya pemahaman serta dicabutnya pemahaman dan ilmu yang mendorong lawan-lawan dan musuh-musuh dakwah ini untuk bersikap ngawur di dalam lembah-lembah kejahilan, kebutaan dan kesesatan, adalah diam diri duduk-duduk dan tidak melibatkan diri dalam pembelaan tauhid ini, sebagaimana firman-Nya:

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad)” (At Taubah: 87)

Dan firman-Nya:

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan  Allah mengunci mati hari mereka, maka mereka tidak mengetahui (Akibat perbuatan mereka)(At-Taubah: 93).


[1] Begitu dalam cetakan Ibnu Hazm, dan bisa jadi (khusuf). Perhatikan bahwa beliau menyebutkan shalat-shalat yang biasa tidak terbilang, berbeda dengan shalat yang lima waktu, sesungguhnya ia didirikan biasanya di masjid-masjid kampung dan berbilang, sehingga peluang memilih dalam hal itu adalah luas bagi mereka.

[2] Sebagai contoh dalam hal ini silahkan lihat kitab (Hukmu Muwalati Ahli Isyrak) yang dikenal oleh penduduk Nejd dengan nama (Ad-Dalaa-il) karena berisi dalil-dalil syar’iy yang banyak tentang hal ini. Para penuntut ilmu di Nejd dahulu menghafalnya di luar kepala. la adalah tulisan Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (1233H) penulis Kitab Taisiril ‘Aziz Al Hamid Syarh Kitab At Tauhid.

[3] Lihat musnad Imam Ahmad hadits No: 7036  Tahqiq Ahmad Syakir

[4] Dalam hal ini kami punya tulisna berjudul “Al Farqul Mubin Baina Tauhid Wathaniyyiin wa Tauhidil  Mursalin” yang kami tulis di penjara

[5] Perhatikan ucapannya ini dan keselarasannya terhadap keadaan sebagian orang-orang yang intisab kepada dakwah tauhid dari kalangan para pemula dan orang-orang yang bersemangat tinggi dan yang lainnya. Sungguh saya telah melihat juga keajaiban-keajaiban darinya. Dan pengobatan hal seperti ini dan pelurusannya adalah hal yang mendorong apa yang kami tulis di sini akan tetapi masalahnya adalah seperti apa yang beliau katakan setelahnya….

//

Seri ke 4 Tidak Membolehkan Shalat Bermakmum Di Belakang Muslim Yang Tidak Diketahui Keadaannya Hingga Diketahui Aqidahnya


Tidak Membolehkan Shalat Bermakmum Di Belakang

Muslim Yang Tidak Diketahui Keadaannya Hingga

Diketahui Aqidahnya

Di antara kekeliruan tekfier yang umum adalah pendapat sebagian orang bahwa tidak boleh shalat kecuali di belakang orang yang telah mereka ketahui akidahnya atau mereka itu mengetesnya padahal orang tersebut menampakkan syiar-syiar Islam dan ciri-ciri khususnya serta tidak menampakan satupun dari Nawaqidul Islam/pembatal keIslaman (Dan dia adalah muslim mastuurul haal), bahkan mereka mensyaratkan mengetahui kekafirannya terhadap thaghut dan takfiernya terhadapnya dengan rincian yang ada pada mereka. Dan pensyaratan ini (batasan) ini menjadikan sikap memperluas dalam kaidah ini beragam dengan beragamnya hawa nafsu mereka, di mana di antara mereka ada yang menganggap ulama yang mudahanah lagi cenderung kepada thaghut atau yang tidak mengkafirkan para thaghut sebagai ahbar dan ruhban, dan dari dasar itu maka para ulama itu adalah thawaghit, dan orang yang tidak terang-terangan mengkafirkan para ulama itu maka mereka kafirkannya juga dan merekatidak shalat di belakangnya, karena dia itu tidak kafir terhadap para thaghut, sehingga dia bukan mukmin walaupun dia menganggap sesat ulama itu, bara’ dari kebatilan mereka dan kafir terhadap para thaghut hukum serta memusuhinya. Dan hal itu telah terjadi dahulu pada saya bersama sekelompok dari mereka, di mana mereka itu tidak merasa cukup dengan mengkafirkan saya, bahkan mereka itu mengkafirkan setiap orang yang shalat di belakang saya.

Dan pendapat yang shahih yang kami yakini dan kami mengamalkannya adalah bahwa orang yang menampakan sesuatu dari ciri-ciri khusus Islam yang dhahir maka dia dihukumi muslim dalam hukum-hukum dunia tanpa menengok kepada apa yang disembunyikan bathinnya, karena hal itu bukanlah patokan hukum itu di dunia, akan tetapi ia diserahkan kepada  Allah, sehingga boleh shalat di belakangnya, menshalatkannya, mengucapkan salam terhadapnya, dan memakan sembelihanya serta perlakuan ahlul kiblat lainnya, selama dia tidak menampakan satupun dari nawaqidul Islam, Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Siapa yang shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita serta memakan sembeliham kita, maka dia itu muslim.HR. Al Bukhari dari hadits Anas.

Al Qurthubi telah menukil ijma atas hal itu dari Ishaq Ibnu Rahwiyah.

Dan yang dimaksud dengan “ Serta memakan sembelihan kita ” yaitu bahwa dia tidak memakan kecuali apa yang disembelih sesuai dengan cara kita, dia tidak makan bangkai yang  Allah haramkan sebagaimana kaum musyrikin memakannya, dan hal itu ditafsirkan dengan apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhari juga secara marfu’:

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan Laa ilaha illallah, bila mereka telah mengatakannya, shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita dan menyembelih seperti sembelihan kita, maka telah haram atas kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisabnya atas  Allah”.

Dan perhatikanlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan masalah sembelihannya seraya disandarkan kepada ciri-ciri khusus Islam lainnya, dan beliau tidak menyebutkannya secara menyendiri sebagai bukti atas keIslaman. Itu dikarenakan masalah sembelihan adalah masalah yang berserikat di dalamnya kita dengan sebagian pemeluk agama-agama lainnya, seperti yahudi, kaum nasrani yang taat dan yang lainnya, di mana masalahnya sama seperti hal-hal lain yang tidak khusus bagi kaum muslimin, seperti shadaqah, sebagian perbuatan baik, akhlak-akhlak yang mulia, al amru bil ma’ruf dan perbuatan baik. Dan hal-hal ini walaupun termasuk cabang-cabang Al Iman bagi kaum muslimin, namun ia tidak khusus bagi mereka saja, tetapi ia itu adalah suatu hal yang sama dilakukan oleh orang muslim dan orang kafir. Dan kisah Hatim Ath Thaa”iy adalah sangat masyhur sekali[1], dan hadits Hakim Ibnu Hizam bahwa beliau berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ Beri kabar kepadaku tentang hal-hal yang dahulu di masa jahiliyyah saya mendekatkan diri kepada Allah dengannya, berupa shadaqah, memerdekakan budak atau shilaturahmi, apakah ada pahala di dalamnya? maka Rasulullah berkata: “Engkau masuk Islam di atas kebaikan yang lalu” (Muttafaq  ‘Alaih).

Dan dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anhu berkata: Wahai Rasullulah, Ibnu Jud’an pada jaman jahliyyah suka shilaturahmi dan memberi makan orang-orang miskin apakah hal itu bermanfaat baginya? Beliau berkata: Tidak hai ‘Aisyah, sesungguhnya dia tidak pernah mengatakan seharipun “ya Tuhanku ampunilah bagiku kesalahanku di hari pembalasan” “(HR Ahmad 6163, Muslim dan yang lainnya).

Hal-hal musytarak ini tidak cukup untuk memastikan keIslaman walaupun itu sumber dugaan ke sana dan alasan pendorong untuk tatsabbut (mencari kejelasan) sebagaimana yang akan dating.

Adapun ciri-ciri khusus Islam, maka ia adalah syiar-syiar dan hal-hal yang khusus bagi orang Islam tanpa pemeluk agama lainnya. Dan dengan hal itu orang yang menampakannya dihukumi muslim dan diperlakukan dengan hukum Islam dalam hukum-hukum dunia, meskipun dia menyembunyikan hal yang berbeda dengannya selama tidak nampak pembatal darinya.

Pensyarah Ath Thahawiyyah berkata: (Yang shahih adalah bahwa dia menjadi muslim dengan sebab (penampakan) apa yang termasuk ciri-ciri khusus Islam).

Dan di antara cirri khusus islam adalah:

1. Mengucapkan dua kalimat syahadat, berdasarkan hadits: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah, bila mereka telah mengucapkannya, maka mereka telah menjaga dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya, sedangkan penghisabannya atas  Allah ‘azza wa jalla(Muttafaq ‘Alaih).

Dan hadits Usamah Ibnu Zaid :Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illalllaah ? “ (Muttafaq ‘Alaih).

Siapa saja yang menampakan dua kalimat syahadat, maka dia dihukumi sebagai orang muslim, darah dan hartanya terjaga, dan dia perlakukan sebagai  ahli kiblat, selama tidak nampak darinya satupun pembatal, karena Laa ilaaha illallah memiliki syarat syarat dan pembatal-pembatal yang sebagiannya qalbiy bathiniy (bersifat batin yang ada di dalam hati) yang diserahkan kepada  Allah, sedangkan sebagiannya dhahir yang mengikuti Islam hukmi (hukum-hukum dunia), dan inilah yang kami maksud di sini.

Pengucapan kalimah syahadat ini bila disertai keterjerumusan ke dalam sesuatu dari mawani’ (penghalang-penghalang) atau nawaqidl (pempatal-pembatal) atau pemutus-pemutusnya, dan tidak mencabut diri dari hal itu serta tidak bara’ darinya adalah tidak bermanfaat sedikitpun bagi si orangnya walaupun dia itu shalat dan shaum serta mengaku muslim, karena dua kalimat syahadat hanya menjadi dalil atas keIslaman adalah dengan pertimbangan penganggapan bahwa dua kalimah syahadat tersebut adalah akad di antara si hamba dengan Rabb-nya untuk komitmen terhadap hukum-hukum syari’at, ridla dengannya, istislam terhadapnya dan tidak mendatangkan pembatal-pembatalnya. Bila nampak darinya suatu perbuatan atau ucapan yang membatalkannya, maka ‘ishmah (keterjagaan darah dan harta) yang dia masuk ke dalamnya dengan pengucapan dua kalaimat syahadat itu adalah tidak berlangsung terus (yaitu terputus.-Ed), seperti orang yang mengucapkannya sedangkan dia tidak mencabut diri dari sujud kepada berhala, atau mengucapkannya sedangkan dia tidak berlepas diri dari penisbatan uluhiyyah kepada Isa Ibnu Maryam, atau mengucapkannya sedangkan dia tidak meninggalkan celaan terhadap dienullah tabaraka wa ta’ala, atau mengucapkannya sedangkan dia tidak meninggalkan pembuatan undang-undang dan penerapan undang-undang buatan.

Kesimpulannya: Bahwa dua kalimat syahadat itu dianggap sebagai salah satu ciri khusus Islam dan orang yang mengucapkannya dihukumi muslim selama tidak nampak darinya apa yang membatalkannya. Bila dia tergolong dari kaum murtaddin yang selalu mengucapkannya, namun mereka murtad itu dengan sebab pembatal-pembatal keislaman selain pengingkaran dua kalimat syahadat atau menolak dari mengakui keduanya maka pengucapannya saja tidaklah bermanfaat bagi mereka sampai mereka mencabut diri dari pembatal-pembatal itu dan taubat darinya.

Al Kasymiriy berkata dalam (Ikfarul Mulhidien) hal 36: ( Orang yang kekafirannya dengan mengingkari hal yang diketahui secara pasti seperti haramnya khamar umpamanya, sesungguhnya dia harus berlepas diri dari apa yang diyakininya,  karena dia itu mengakui dua kalimat syahadat bersamanya, sehingga dia harus berlepas diri dari kayakinan itu sebagaimana yang ditegaskan oleh kalangan Syafi’iyyah…) hingga ucapannya: ( Kemudian seandainya dia mengucapkan syahadat sebagai kebiasaan saja maka hal itu tidak bermanfaat baginya selama dia belum rujuk dari apa yang telah diucapkannya, karena kekafirannya tidak lenyap dengan hal itu).

Dan ini ditunjukan oleh ijma shahabat dalam kasus Qudamah Ibnu Madh’un atas istitabah (proses pembuktian hukum dan penyuruhan taubat) yang diberlakukan kepada dia dan para shahabatnya, kemudian bila mereka mengakui hukum haram maka mereka didera dengan had khamar, dan bila mereka tidak mengakuinya maka mereka telah kafir dan (harus) dibunuh. Sesungguhnya para shahabat tidak menjadikan terangkatnya kekafiran dari mereka dengan sekedar pengucapan dua kalimat syahadat itu, karena mereka masih senantiasa mengakui hal itu. Dan justru para sahabat menjadikan keterangkatan kekafiran itu hanyalah dengan pengakuan mereka akan keharaman apa yang mereka halalkan.

Dan ini ditujukan juga oleh apa yang dituturkan para ulama, yaitu bahwa orang yahudi yang mengakui tauhid bisa menjadi muslim dengan sekedar kesaksian bahwa Muhammad Rasulullah. Padahal pengakuan akan syahadat laa ilaha illallaah itu saja tidak cukup bagi dia, karena kekafirannya itu terjadi dengan sebab pengingkaran risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dia tidak dihukumi muslim kecuali dengan bara’nya dan taubatnya dari kekafiran ini dan dengan pengkuannya bahwa Muhammad Rasulullah. Dan untuk hal itu mereka berdalil dengan haidts Anas: Bahwa seorang yahudi berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, terus dia meninggal, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “ Shalatkanlah kawan kalian”.[2]

2.   Ucapan seseorang (Sesungguhnya saya muslim), sebagaimana dalam hadits Furat Ibnu Hayyan dan pembenaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya[3] atau ucapannya (Saya telah masuk Islam) atau (Saya berserah diri kepada Allah, sebagaimana dalam hadits Al Miqdad yang Muttafaq ‘Alaih, berkata: Wahai Rasulullah bagaimana pendapat engkau bila saya bertemu dengan seorang dari orang-orang kafir, terus dia menyerang saya kemudian dia memukul salah satu tangan saya dengan pedang terus dia mencari perlindungan dengan satu pohon dari saya  dan berkata ( Saya telah masuk Islam) apakah saya boleh membunuhya wahai Rasulullah setelah dia mengatakannya? beliau berkata: Jangan engkau membunuhnya…

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy (Kitabul Murtad): (Bila dia mengatakan saya mu’min atau saya muslim, maka Al Qadli berkata: Dia dihukumi muslim dengan hal ini) dan beliau menyebutkan hadits ‘Imran Ibnu Hushain dalam Shahih Muslim: Kaum muslimin telah menangkap seorang laki-laki dari Banu Uqail terus mereka membawahnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terus laki-laki itu berkata wahai Muhammad sesungguhnya saya muslim”, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:” Seandainya kamu ini seperti apa yang kamu ucapkan saat kamu masih memiliki urusanmu ini tentulah engkau beruntung sekali”[4]

Dan beliau berkata (Dan ada kemungkinan bahwa hal ini berlaku bagi kafir asli atau orang yang mengingkari keesaan Allah. Adapun orang yang kafir dengan sebab mengingkari Nabi atau Kitab atau hal fardlu dan yang lainnya, maka dia tidak menjadi muslim dengan sebab hal itu, karena dia bisa jadi meyakini bahwa Islam itu apa yang dipegangnya, karena sesungguhnya ahli bid’ah itu seluruhnya meyakini bahwa merekalah orang-orang islam padahal di antara mereka itu ada yang kafir).

Saya berkata: Ini adalah batasan yang penting, karena banyak kaum martaddin pada hari ini dari kalangan para thaghut dan anshar mereka yang memerangi agama Allah, mereka itu mengatakan bahwa mereka itu muslim, padahal ini tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka itu masih menetap di atas sebab-sebab kemurtaddan mereka, mereka tidak mencabut diri darinya dan tidak bara’ darinya, oleh sebab itu kami katakan di sini  sebagaimana yang telah kami katakan dalam bahasan dua kalimah syahadat: Bahwa hukum asal bagi orang yang mengatakan hal itu adalah Islam selama tidak melakukan salah satu pembatal keIslaman, namun bila dia juga melakukan pembatalnya maka dalam keadaan seperti ini dia tidak menjadi muslim sampai mencabut diri dari pembatal itu. Bila seorang muslim yang terpecaya bersaksi baginya bahwa dia itu telah mencabut diri dari hal itu dan masuk Islam, maka diterima kesaksian itu darinya. Atau bersaksi bagi orang kafir asli bahwa dia telah masuk Islam maka diterima darinya. Dan itu seperti kesaksian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi An Najasyi Ushhumah dengan keIslamannya tatkala beliau menshalatkan jenazahnya sebagaimana di dalam hadits yang Mutafaq  ‘Alaih, dan para sahabat tidak mengetahui keIslamannya kecuali saat itu, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam[5] sampai-sampai sebagaian para sahabat mengatakan: (Engkau menshalatkan si Nasrani itu sedang dia di negerinya ?) maka turunlah firman-Nya Ta’ala:Dan di antara ahli kitab itu sungguh ada orang yang beriman kapada  Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu …”

Dan di antara itu juga kesaksian Ibnu Mas’ud akan keIslaman Sahl Ibnu Baidla  dalam kisah para tawanan badar dan hadistsnya ada pada Al Hakim (3/ 21) dan Ahmad (1/383) dan lainnya, lihat Al Bidayah Wan Nihayah (3/298) sedangkan dalil darinya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tarkala berkata tentang tawanan Badar:Tidak seorangpun pergi kembali di antara kalian kecuali dengan tebusan atau tebasan leher,” Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: (Saya berkata; kecuali Sahl Ibnu Baidla, sesungguhnya dia jangan dibunuh, karena saya mendengar dia mengucapkan keIslaman. “

(Dan dalam Al Isti’ab: Dia bersaksi bahwa dia melihatnya shalat di Mekkah) maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : (Kecuali Sahl Ibnu Baidla)[6].

3. Shalat, baik sendiri maupun berjamaah: Karena shalat adalah termasuk ciri-ciri khusus orang Islam, di sana ia mencakup dua kalimah syahadat, dan telah lalu hadits Anas yang marfu: ”Siapa yang shalat seperti kami, menghadap kiblat kami dan makan sembelihan kami maka dia itu muslim”, dan berdasarkan hadits: “ Pembatas antara kita dengan mereka adalah shalat, siapa yang meninggalkannya maka dia kafir.” diriwayatkan Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Dan An-Nasai: Dan At Tirmidzi dari Buraidah dah secara marfu’.

Dan hadits:Antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat,” Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir secara marfu.

Al Qurthubiy berkata dalam Tafsirnya: (Iman itu tidak jadi  kecuali dengan Laa ilaaha illallah tidak dengan perbuatan-perbuatan lainnya kecuali di dalam shalat, Ishaq Ibnu Rahwiyah berkata: “Mereka telah ijma di dalam masalah shalat atas sesuatu yang tidak mereka ijmakan atasnya di dalam masalah syari’at-syari’at lainnya, karena mereka berkata: Orang yang diketahui kafir kemudian mereka melihatnya shalat pada waktunya sampai shalat-shalat yang banyak, dan tidak diketahui darinya pengakuan dengan lisan, sesungguhnya dia dihukumi mu’min, dan mereka tidak menghukumi baginya dengan hal itu dalam shaum dan zakat.” Al Jami Li Akhamil Qur’an 8/207

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy: (Babul Imamah) (pasal: para ulama madzhab kami menghukumi keIslamannya dengan sebab shalat baik dia itu di Daarul Harbi atau Daarul Islam, dan sama saja baik shalat jama’ah atau sendiri-sendiri), dan menyebutkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (antara kita dan mereka adalah shalat), kemudian berkata: (Beliau menjadikan shalat sebagai pembatas antara Islam dengan kekafiran, siapa yang shalat, maka dia telah masuk dalam batasan Islam …Dan karena shalat itu adalah ibadah yang khusus bagi kaum muslimin, maka mendatangkannya adalah keIslaman seperti dua kalimah syahadat).

Dan beliau berkata dalam (Kitabul Murtad) (Pasal, dan bila orang kafir shalat maka dia dihukumi Islam, baik dalam Daarul Harbi atau Daarul Islam atau shalat jama’ah atau shalat sendiri-sendiri…) hingga ucapan (Sesungguhnya dia adalah perbuatan-perbuatan yang berbeda dari perbuatan orang-orang kafir, dan penganut Islam memiliki ciri khusus dengannya, dan Islam tidak tetap sampai dia mendatangkan shalat yang membedakan dengannya dari shalat orang-orang kafir berupa menghadap kiblat kita, ruku dan sujud …dan tidak ada perbedaan antara akfir asli dengan orang murtad dalam hal ini, karena sesuatu yang dengannya keIslaman terbukti pada kafir asli, maka ia terbukti juga dengannya pada orang murtad seperti dua kalimah syahadat …) secara ikhtishar.

Saya berkata: Kecuali bila riddahnya terjadi dengan sebab pembatal selain meninggalkan shalat atau mengingkarinya; Yaitu bahwa ia telah melakukan satu sebab dari sebab-sebab kekafiran atau satu pembatal dari pembatal-pembatal keIslaman sedang dia itu masih shalat lagi tidak meninggalkannya, maka kembalinya kepada Islam ini bukanlah dengan shalat saja namun mesti mencabut diri dari sebab (kekafiran) atau pembatal (keIslaman) itu dan bara’ serta taubat darinya.

Oleh sebab itu Ibnu Qudamah setelah ucapannya yang lalu berkata: (Kecuali bila terbukti bahwa dia itu murtad setelah shalatnya atau riddahnya dengan sebab mengingkari kewajiban atau Kitab atau Nabi, atau yang serupa dengan hal itu berupa bid’ah-bid’ah yang mana penganutnya menisbatkan dirinya kepada Islam, maka sesungguhnya dia itu tidak dihukumi sebagai orang muslim dengan sebab shalatnya itu karena memang dia menyakini wajibnya shalat dan mengerjakannya padahal dia itu kafir.

Dan ini seperti kondisi para thaghut dan yang lainya dari kalangan orang-orang musyrik, anshar mereka dan para pelindung undang-undang buatannya, karena di antara mereka itu ada yang shalat, namun shalatnya itu tidak berguna bagi dia dalam menghukumi keIslamannya dan keterjagaan darah dan hartanya, karena dia itu tidak menjadi kafir dengan sebab mengingkarinya atau meninggalkannya sehingga dihukumi Islam dengan sebab mengerjakannya, akan tetapi dia melakukan apa yang dia lakukan berupa sebab-sebab kekafiran, baik itu tawalli kepada para thaghut atau membela kemusyrikannya atau undang-undangnya yang kafir atau ikut serta di dalam membuatnya, bersumpah untuk menghormatinya, loyalitas terhadapnya, menjaganya dan melindunginya serta sebab-sebab kekafiran lainnya… dia lakukan itu sedangkan dia suka shalat dan mengaku Islam, maka untuk kembalinya kepada Islam ini dia harus bara’ dan taubat dari yang menyebabkan dia kafir di samping dia shalat dan mengerjakan bangunan-bangunan Islam serta rukun-rukunnya sehingga hal itu diterima darinya, karena keadaan mereka itu bukan seperti orang kafir asli yang mana shalat darinya adalah bermakna masuk ke dalam Islam dan mengakui dua kalimat syahadat.

Dan kesimpulannya di sini adalah: sebagaimana telah lalu dalam ciri-ciri khusus yang lain bahwa kita menghukumi orang yang shalat yang masturul hal lagi tidak nampak bagi kita darinya satupun pembatal-pembatal keIslaman yang telah disebutkan atau yang lainnya sebagai orang Islam dengan sekedar shalatnya, maka kita shalat di belakangnya dan memperlakukannya sebagai kaum muslimin, dan hukum asal padanya bagi kami adalah Islam sehingga dia mendatangkan satu dari pembatal-pembatal keIslaman yang nampak. Kita tidak menjadikan pembatal-pembatal dan mukaffirat itu sebagai asal pada hak dia meskipun menampakan Islam atau ciri-ciri khususnya dengan klaim menyebarnya kekafiran itu di masyarakat-masyarakat zaman kita ini, sebagaimana yang  dianut oleh banyak kalangan yang ghuluw.

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy: (Pasal bila shalat di belakang orang yang diragukan keIslamannya, maka shalatnya sah selama tidak nampak kekafirannya, karena yang nampak pada orang-orang yang shalat adalah Islam apalagi bila dia itu imam). Secara ringkas dari Bab Al Imamah…

4. Adzan dan Iqamah, karena keduanya mengandung dua kalimat syahadat, dan telah lalu pembicaraan tentang keduannya, dan berdasarkan hadits Anas Ibnu Malik, berkata: (Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyerang kecuali saat shalat fajar, bila beliau mendengar adzan, maka beliau menahan diri, dan bila tidak maka beliau menyerang…) HR Muslim dan yang lainnya.

Dan ini sejalan dengan apa yang telah sering diingatkan bahwa orang murtad bila  kemurtaddannya itu dengan pembatal atau sebab selain pengingkaran Islam secara total atau selain penolakan terhadap shalat dan adzan, sebagaimana realita para thaghut hukum dan para anshar mereka hari ini, di mana sesungguhnya adzan itu bisa didengar di pangkalan-pangkalan dan asrama-asrama mereka, dan ini tidak bermanfaat bagi mereka, karena mereka itu adalah bukan orang-orang kafir asli namun orang-orang murtad, dan dikarenakan kemurtaddan mereka itu bukan dengan sebab penolakan akan shalat dan adzan atau yang lainnya yang mana orang murtad menjadi muslim di dalamnya dengan kembali dan menampakan syariat-syariat Islam itu, justru mereka itu memerangi tauhid, dan muwahhidin, dan membela syirik dan tandid, dan banyak dari mereka shalat, adzan, iqamah, dan mengucapkan dua kalimat syahadat sedang dia muqim di atas pembelaan kepada syirik dan perang terhadap tauhid, sehingga kembalinya kepada Islam tidak terealisasi dengan adzan yang sama sekali tidak mereka tinggalkan dan tidak mereka ingkari, namun (harus) dengan bara’ dari sebab-sebab kemusyrikan mereka itu dan menjauhinya.

Dan telah kami utarakan kepada anda kisah orang-orang yang telah Allah tabaraka wa ta’ala kafirkan di dalam surat Al Bara’ah karena sebab perolok-olokannya  terhadap para qurra, padahal mereka itu shalat seraya mengucapkan syahadat, adzan dan iqamah, dan mereka itu telah keluar untuk berjihad bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tatkala mereka kafir dengan perolok-olokkan, maka taubat mereka adalah dengan mencabut diri darinya menampakkan penyesalan atasnya dan bukan menampakkan adzan, shalat atau yang lainnya, karena mereka itu tidak kafir dengan sebab penolakan akan hal itu.

Adapun orang yang tidak nampak darinnya satupun dari sebab-sebab kekafiran dan pembatal-pembatal keIslaman, maka hukum asal bagi orang yang menampakan adzan atau iqamah dari mereka adalah  (muslim) yang terjaga darah dan hartanya, sehinga nampak apa yang membatalkannya….inilah hukum asalnya dan bukan ia itu memperkirakan (adanya) pembatal-pembatal lagi memberlakukannya serta mengabaikan hukum asal yang diterangkan oleh Nabi.

5. Haji, Haji adalah termasuk syiar-syiar Islam dan ciri-ciri khusus yang nampak dan masyhur, dan tidak usah dihiraukan apa yang dituturkan oleh Ibnu Qudamah, yaitu klaim bahwa kaum musyrikim dahulu menunaikan haji pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena itu beliau menegaskan  bahwa orang kafir tidak dihukumi muslim dengannya[7],  dan itu dikarenakan ibadah haji pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ikut serta di dalamnya kaum musyrikin yang mengaku bahwa mereka itu di atas millah Ibrahim, mereka haji sedangkan mereka di atas syiriknya tanpa masuk ke dalam Islam … sampai akhirnya turun surat Al Bara’ah yang di dalam-Nya ta’ala:

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä $yJ¯RÎ) šcqä.Ύô³ßJø9$# Ó§pgwU Ÿxsù (#qç/tø)tƒ y‰Éfó¡yJø9$# tP#tysø9$# y‰÷èt/ öNÎgÏB$tã #x‹»yd 4

Sesunguhnya orang-orang musrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati masjidil  haram sesudah tahun ini” (At-Taubah: 28)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Setelah tahun ini tidak seorang musyrikpun boleh  naik haji.”

Sehinga keadaanya adalah seperti itu sampai sekarang, yaitu tidak ada yang menunaikan haji ke Baitullah kecuali orang mengaku Islam, sehingga haji telah menjadi bagian ciri-ciri khusus kaum muslimin, selama ia tidak melakukan satupun dari pembatal keislaman, seperti keadaan para thaghut, anshar mereka dan yang lainya dari kalangan orang-orang murtad lainnya yang diizinkan dan dibolehkan untuk menunaikan haji dan masuk Masjidil Haram oleh Negara Saudi yang mengurusi haji hari ini[8], mereka itu tidak manfaat baginya haji, shalat dan syahadat untuk menghukumnya sebagai orang Islam, dan hal itu tidak menghalangi dari mengkafirkan mereka, karena kekafiran mereka sebagaimana yang telah engkau ketahui berdiri sendiri (tidak berkaitan dengan) masalah-masalah dan rukun-rukun islam ini, sehingga mereka tidak dihukumi sebagai orang muslim sampai mereka bara’ dari kemusyrikan, undang-undang dan hukum-hukum mereka, dan dikarenakan mereka itu melumuri diri dengan pembatal-pembatal (KeIslaman) mereka dan kemusyrikan-kemusyrikannya sedangkan banyak dari mereka itu mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat dan haji, namun pengucapan dua kalimah syahadat yang mereka lakukan itu tidak berarti bahwa mereka bara’ dari syirik dan kafur terhadap para thaghut, sehingga pengucapan mereka terhadapnya itu tidaklah cukup untuk kembali kepada Islam sampai mereka kafur terhadap hukum-hukum mereka dan memurnikan semua ibadah kepada Allah yang Esa lagi Maha Perkasa, sebagaimana dalam hadits Abu Malik Al Asyaja’i dari ayahnya secara marfu:Siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah dan dia kafir kepada segala yang diibadati selain Allah, maka haram harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya adalah kepada  Allah.”

Sesunguhnya meskipun kalimat tauhid itu mencakup kufur terhadap segala sesuatu yang diibadati selain  Allah tabaraka wa ta’ala dan ia adalah rukun penafian di dalamnya, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan hal itu dan mengkhususkannya dengan penyebutan dalam rangka menjelaskan bahwa orang yang mengatakannya sedangkan dia muqim di atas peribadatan kepada selain  Allah tabaraka wa ta’ala lagi tidak bara’ dari syirik dan tidak kufur terhadapnya, maka hal itu tidak bermanfaat baginya dan tidak terjaga darah dan hartanya.

Dan yang dimaksud adalah bahwa kita menghukumi bagi orang yang nampak darinya ibadah haji dengan status muslim, sebagaimana halnya dengan hal-hal yang lalu berupa ciri-ciri khusus Islam dan syi’ar-syi’arnya, serta kita memperlakukannya sebagai kaum muslimin, selama dia  tidak melumuri diri dengan salah satu pembatal keIslaman, orang yang ihram haji bukanlah orang yang majhulul hal bagi kami, kami tidak tawaqquf dalam menghukumi keIslamanya, justru dia itu muslim dalam hukum yang nampak bagi kami, dan kami menghukuminya dengan apa yang dia tunjukan berupa keIslaman, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan orang muhrim yang jatuh dari untanya dengan perlakuan kaum muslimin, beliau memerintahkannya untuk dimandikan, dikafani dengan pakaian ihramnya, tidak diberi wangi-wangian dan tidak ditutupi wajahnya[9], maka begitu juga kita memperlakukan dalam hukum-hukum dunia orang yang kita lihat dari kalangan orang-orang ihram dan jama’ah haji di Mina, Muzdalifah, Arafah dan yang lainnya dengan jumlah mereka yang berjuta-juta, hukum asal pada mereka bagi kami adalah Islam, kita menghukumi mereka dengan hal yang nampak bagi kita dan kita memperlakukannya sebagai kaum muslimin -walau orang-orang yang ghuluw menolaknya- kecuali bila nampak dari salah seorang mereka suatu pembatal keislaman atau kekafiran yang nyata ….Ya  Allah saksikanlah.

Dan atas dasar ini, kami memandang bolehnya shalat di belakang orang muslim mastuurul hal (yang keadaan sebenarnya tidak diketahui), yaitu orang yang dihukumi sebagai orang muslim hukmi, dikarenakan dia menampakkan sesuatu dari ciri-ciri khusus Islam dan tidak dibatalkan dengan suatu pembatal dhahirpun. Dan kami tidak menggugurkannya atau menghalangi darinya atau mensyaratkan untuk hal itu mengetahui keyakinan di dalamnya serta keimananan bathin yang sebenarnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Dan boleh shalat di belakang setiap mastuurul haal dengan kesepakatan para Imam yang empat dan para Imam kaum muslimin lainnya. Siapa yang mengatakan: Saya tidak shalat jum’ah dan jama’ah kecuali di belakang orang yang saya ketahui aqidahnya di batinnya, maka dia itu ahli bid’ah yang menyelisihi sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan para Imam kaum muslimin yang empat serta yang lainnya …. Wallahu Ta’ala A’lam). Majmu Al fatawa 4/331.

Dan berkata juga (23/199): (Boleh bagi orang melaksanakan shalat yang lima waktu, jum’at dan yang lainnya di belakang orang yang tidak diketahui darinya bid’ah dan kefasikan dengan kesepakatan imam yang empat dan imam kaum muslimin lainnya, dan bukan syarat bermakmum keberadaan si makmum itu mengetahui keyakinan si imamnya dan tidak (boleh juga) mengujinya seraya berkata : Apa yang kamu yakini? “ akan tetapi ia shalat di belakang masturul hal”).

Dan beliau rahimahullah berkata 3/175-176: (Shalat di belakang mastuurul hal adalah boleh dengan kesepakatan ulama kaum muslimin. Dan siapa yang mengatakan bahwa shalat di belakang orang yang tidak diketahui keadaannya adalah haram atau batil, maka dia telah menyelisih ijma Ahlus Sunnah wal jama’ah…)

Sebagian orang berdalil dengan kesungguhan Imam Ahmad untuk shalat di belakang orang yang beliau ketahui keyakinannya saat tersebar bid’ah Jahmiyyah. Dan kami tidak mengingkari bolehnya kesungguhan orang muslim untuk shalat di belakang orang yang utama, dan kami tidak mengingkari bolehnya menghajr ahli bid’ah untuk membuat dia jera dan mengingkari bid’ahnya, namun pembicaraan ini adalah hanya tentang larangan shalat dan tidak membolehkannya atau kewajiban mengulanginya di belakang orang yang tidak dikafirkan dengan sebab bid’ahnya, apalagi melarangnya atau mengulangnya dibelakang mastural hal dengan dalih menyebarnya bid’ah dan kekafiran atau kemurtaddan.

Dan lebih buruk dari hal itu adalah sikap tawaqquf dari menghukumi keIslamanya atau menganggap batal shalat di belakangnya, padahal dia itu tidak menampakan satupun pembatal atau sebab kekafiran.

Justru hukum asal adalah bolehnya shalat di belakang orang muslim yang masturul hal yang asal padanya adalah Islam, selama tidak nampak pembatal darinya. Bila dia menampakan pembatal maka dia bukan masturul hal. Bila kita mendapatkan orang masturul hal di waktu shalat, maka kita shalat dan tidak keberatan di dalamnya. Dan ini tidak menghalangi kita dari berupaya sungguh dalam kodisi-kondisi normal untuk shalat di belakang orang-orang yang utama serta mencari para pengikut sunnah, terutama dalam shalat jum’at supaya kita tidak dikagetkan dalam khutbah dengan apa yang membuat kita tidak senang.

Sedangkan perbuatan Al Imam Ahmad itu adalah dibawa kepada makna anjuran saja bukan kepada makna wajib, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam: (Senantiasa kaum muslimin setelah Nabi mereka shalat di belakang muslim masturul hal…. Sampai beliau berkata: (Adalah sebagian orang bila bid’ah merebak, mereka itu lebih suka untuk tidak shalat kecuali di belakang orang yang diketahui, atas dasar istihbab sebagaimana hal itu dinukil dari Ahmad, sesungguhnya beliau menyebutkan hal itu kepada orang yang bertanya kapadanya, dan Ahmad tidak mengatakan: Sesungguhnya tidak sah shalat kecuali di belakang orang yang saya ketahui keadaannya). Majmu Al Fatawa 3/280.

Adapun shalat di belakang ahli bid’ah dari kalangan penganut bid’ah mukaffirah, maka perselisihan tentang tidak bolehnya atau perintah untuk mengulangnya adalah cabang dari perselisihan tentang pengkafirannya.

Syaikhul Islam berkata: (Dan adapun shalat di belakang orang yang dikafirkan dengan sebah bid’ahnya dari kalangan ahli bid’ah, maka di sana mereka telah berselisih tentang shalat jum’ah di belakangnya. Orang yang mengatakan dia itu kafir, maka dia memerintahkan untuk mengulanginya, karena ia adalah shalat di belakang orang kafir, akan tetapi masalah ini berkaitan dengan takfier ahli bid’ah, sedangkan manusia masih berselisih tentang masalah ini. Dalam hal ini dari Malik  dihikayatkan dua riwayat, dari Asy Syafi’iy dua pendapat dan dari Ahmad dua riwayat juga, serta begitu juga ahli kalam, mereka menyebutkan dua pendapat milik Al Asy’ariy di dalamnya, sedangkan umumnya madzhab para Imam adalah memiliki rincian di dalamnya.

Dan hakikat masalah dalam hal itu adalah bahwa ucapan bisa jadi merupakan kekafiran, sehingga dilontarkan saja pengkafiran penganutnya secara muthlaq, di mana dikatakan siapa yang mengatakan begini maka dia kafir, akan tetapi orang mu’ayyan yang mengatakannya tidak dihukumi kafir sehingga ditegakan atasnya hujjan yang mana dikafirkan orang yang meninggalkannya) Majmu Al Fatawa 23/195.

Adapun orang yang menampakan suatu dari sebab-sebab kekafiran yang nyata atau menampakan suatu dari macam-macam kemurtaddan yang nampak, seperti mengajak untuk ikut serta dalam lembaga legislatif, atau menampakan dukungan kepada undang-undang buatan, atau ikut serta di dalam membuatnya atau dalam memutuskan denganya, dan memujinya atau bersumpah untuk menghormatinya atau loyal terhadap thaghut-thaghutnya, maka ini tidak ada kehormatan baginya, sehingga tidak boleh shalat di belakangnya, karena dia bukan termasuk orang-orang yang bertauhid, namun dia itu tergolang jajaran kaum masyrikin murtaddin. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kaum muslimin untuk shalat sebagaimana mereka melihat beliau shalat dan agar mereka bermakmum kepada salah seorang di antara mereka bukan orang-orang selain mereka, sebagaimana dalan hadits Malik Ibnul Huwairits dalam Al Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya dan kepada orang-orang yang bersamanya: (Pulanglah kekeluarga kalian, menetaplah di tengah mereka dan ajarilah mereka serta shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat, bila telah hadir (waktu) shalat maka adzanlah salah seorang di antara kalian dan hendaklah mengimami kalian orang yang paling tua di antara kalian). Dlamir (kata ganti) yang ada pada (Orang yang paliang tua di antara kalian) kembali kepada salah seorang dari kaum muslimin bukan dari selain mereka. Dan di dalam Shahih Muslim dari Abu Sa’id berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Bila mereka bertiga hendaklah salah seorang mereka memimpin mereka) dan diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dan An Nasai. Sedangkan orang kafir itu bukan bagian dari kita, sehingga tidah kalal bagi muslim mengedepankan orang kafir untuk menjadi imam shalat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

`s9ur Ÿ@yèøgs† ª!$# tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ’n?tã tûüÏZÏB÷sçRùQ$# ¸x‹Î6y™ ÇÊÍÊÈ

“Dan  Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman” (An Nisa 141)

Dan dalam hadits yang diriwayatkan Al Bukhari secara Ta’liq[10]:Islam itu tinggi dan tidak ada yang di atasnya

Dan orang yang shalat di belakang orang yang menampakkan kekafiran atau kemurtaddan atau orang yang menghiasinya dan mengajak kepadanya, maka dia tidak shalat sebagaimana shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seperti apa yang beliau perintahkan, bahkan ia adalah mengada-ada di dalam dien ini yang bukan bagian darinya ….

Dan di dalam Ash Shahihain dari hadits ‘Aisyah Ummul Mu’minin radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami apa yang bukan bagian darinya, maka ia itu ditolak “.

Dan sesuatu yang maklum bahwa hukum asal di dalam ibadah adalah dilarang sehingga ada dalil yang mensyariatkan, karena ia adalah tauqifiyyah (hal-hal yang tergantung dalil)…dan sesungguhnya tidak diterima dan tidak sah dari berbagai ibadah kecuali apa yang murni karena  Allah Tabaraka Wa Ta’ala dan benar, yaitu sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughny (Bab Al Imamah) (Masalah: Dan bila shalat di belakag orang musyrik…) : (dan secara umum bahwa orang kafir itu tidak sah shalat di belakangnya bagaimanapun keadaannya, baik ia mengetahui kekafirannya setelah selesai shalatnya atau sebelum itu, dan orang yang shalat dibelakangnya harus mengulang. Inilah pendapat Asy Syafi’iy dan para penganut Ra’yu (pendapat akal)

Abu Tsaur dan Al Muzanny berkata: Tidak wajib mengulang atas orang yang shalat di belakangnya sedang dia tidak mengetahui, karena dia bermakmum terhadap orang yang tidak dia ketahui keadaannya, maka ini sama andaikata dia bermakmum dengan orang yang berhadats)

Ibnu Qudamah berkata: (Dan hujjah kami bahwa dia bermakmum terhadap orang yang bukan ahli shalat, maka tidak sah shalatnya seperti andaikata dia bermakmum kepada orang gila).

Bila si imam tergolong orang yang terkadang menampakkan kekafiran dan terkadang bara, atau menampakkan suatu sebab kekafiran terkadang dan terkadang memcabut diri darinya serta taubat di lain kali, seperti orang-orang yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya: Segeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah yang seperti potongan malam yang gelap, di pagi hari seseorang mu’min dan sore hari dia kafir, di sore dia mu’min dan di pagi dia kafir, dia jual diennya dengan bagian dari dunia ”. Maka ini tidak boleh shalat di belakangnya sehingga diketahui keIslamannya dan batinnya dari syirik serta sikap menjauhinya.

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy (Dan bila si Iman tergolong orang yang terkadang muslim dan terkadang murtad, maka tidak boleh shalat di belakangnya sehingga dia mengetahui di atas dien apa dia itu). ((dari Bab Al Imamah Pasal bila shalat di belakang orang yang diragukan keIslamannya).(Dari Bab Al Imamah, Pasal: Bila shalat di belakang orang yang diragukan keislamannya…)

Ini yang bisa kami ingatkan di sini, dan kami dalam hal ini memiiliki satu risalah khusus berjudul “Masaajidudl Dliraar Wa Hukmush Shalah Khalfa Auliyaait Thaghut Wa Nuwwabihi “


[1] Lihat sebagai kisahnya dalam Al Bidayah wan Nihayah 2/212. dan sesudahnya.

[2] Lihat Al Mughniy (kitabul murtad), dan hadits ini dishahihkan oleh Al Albaniy dalam Al Irwa (2480), namun beliau rancu dalam takhrij seraya membaurkan hadits ini dengan hadits Al Bukhari tentang anak yahudi yang pernah melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus dia sakit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya dan mengajaknya sehingga masuk Islam.

[3] Hadits ini diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud

[4] Telah lalu isyarat pada hadits ini, dan laki-laki ini termasuk sekutu Tsaqif, dia ditawan kaum muslimin dengan sebab pelanggaran Tsaqif  tetkala mereka membatalkan perjanjian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dituturkan dalam hadits ini, sedangkan sisi dalil darinya: Bahwa ucapan laki-laki itu (saya muslim) di dalamnya adalah terdapat keberuntungan, di antaranya keterjagaan darah dan harta, seandaianya dia mengucapkannya hal itu sebelum tertangkap padahal sebelumnya dia memiliki kekuatan, (tentulah bermanfaat). Adapun pengucapan hal itu setelah dia tertangkap sedangkan sebelumnya dia itu adalah orang yang melindungi dirinya dengan kekuatan (sebagaimana keadaan dia di sini, karena dia itu tergolong koalisi orang–orang yang membatalkan perjanjian) maka pengucapan itu serta pengakuan Islamnya setelah dia ditangkap tidaklah bisa menjaga darah dan hartanya sebagaimana yang ditunjukan oleh hadits itu, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghanimah untanya (Al ’Adlba) dari laki-laki ini, dan menebusnya dengan dua orang muslim yang ditawan mereka(Tsaqif) sebagaimana dalam hadis itu sendiri dan ia ada dalam Shahih Muslim (Kitab An Nadzr) (1614)  beliau memperlakukan dia layaknya orang–orang kafir padahal dia itu mengaku muslim, karena pengakuan ini ada setelah dia ditangkap.

[5] Majmu’ Al Fatawa 19/119

[6] Begitulah yang benar wallahu ‘alam, yaitu (Sahl) bukan (Suhail), dan (Suhail) telah banyak diriwayatkan dalam banyak tempat yang ada di tangan saya, seperti Al Mughniy (8/261), Al Bidayah Wan Nihayah (3/29), Dan Al Hafidl menisbatkannya di dalamnya kepada At Tirmidzi, dan begitu juga Al Muntaqa Bab (tawanan mengaku Islam sebelum ditawan dan ada satu saksi ) dan  diakui oleh Asy Syaukaniy dalam Nailul Authar 8/136-137 dan juga dalam Al Jami ‘ Fi Thalabil ‘Ilmi Asy Syarif hal 559, dan ada juga dalam Irwaul Ghalil 5/48, semua menyebutkannya Suhail Ibnu Baidla, dan ia seperti dalam Al Isti’ab 2/228 adalah saudara Sahl pemeran kisah ini, karena yang pertama telah masuk Islam di Mekkah dan hijrah ke Habasyah kemudian kembali ke Mekkah sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada di sana; kemudian muqim bersamanya hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah dan Suhail juga hijrah, sehingga dia mengumpulkan dua hijrah terus mengikuti Badar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh sebab itu Ibnu Katsir menyebutkannya juga dalam Al Bidayah Wan Nihayah 3/319 dalam jajaran Badriyyin. Adapun Sahl, maka dia adalah yang menyembunyikan keIslaman di Mekkah, tidak hijrah sampai akhirnya Quraisy memaksa dia keluar ikut perang Badar bersama mereka, kemudian ia ditawan di dalamnya bersama kaum musyrikin, begitulah dalam Al Isti’ab 2/221.

[7] Lihat Al Mughni Kitabul Murtad (pasal Bila orang kafir shalat, maka dia dihukumi muslim…)

[8] Agar engkau mengetahui sebagian kekafiran Negara Saudi, silakan rujuk kitab kami “ Al Kawasif Al Jaliyyah Fi kufrid Daulah As Su’udiyyah”.

[9] Asal hadits di dalam Ash Shahihain dari hadits Ibnu ‘Abbas.

[10] Dalam kitab Al Janaaiz (Bahwa Bila anak kecil shalat terus dia meninggal, apakah dishalatkan…?) secara mauqquf terhadap Ibnu Abbas dan diriwayatkan secara marfu dari berbagai jalan yang dihasankan dengan semua jalan-jalanya.

Seri ke 3 Takfier Berdasarkan Kaidah “Hukum Asal Pada Manusia Adalah Kafier“ Karena Negeri Ini Adalah Negeri Kafir


(2)

Takfier Berdasarkan Kaidah “Hukum Asal Pada Manusia Adalah Kafier“ Karena Negeri Ini Adalah Negeri Kafir

Di antara kekeliruan yang sangat buruk di dalam takfier adalah takfier berdasarkan kaidah “Hukum Asal Pada Manusia Adalah Kafir“ karena negeri ini adalah Negeri Kafir, dan memperlakukan mereka sebagai orang kafir serta menghalalkan Daarah, harta serta kehormatan mereka berdasarkan kaidah ini yang mereka bangun sebagai kaidah asal seraya menginduk terhadap dasar keberadaan negerinya adalah negeri kufur.

Dan kekeliruan ini banyak tersebar di tengah-tengah ahlul ghuluw, dan sebagian orang-orang jahil mengambilnya Dari mereka tanpa mengetahui asal (landasan)nya dan konsekuensi- konsekuensi logisnya

Sedangkan kami -walillahulhamdu wal minnah- tidak mengatakan dengan ta-shil (penetapan hukum asal) ini dan tidak pernah menganutnya, namun kami senantisa dan terus tergolong orang-orang yang sangat mengingkarinya, sampai-sampai sebagian kalangan yang ghuluw di dalam takfier mereka itu mengkafirkan saya takkala saya menyelihi mereka dalam hal ini, dan saya mendebat mereka dalam rangka menggugurkannya. Dan pada hari itu saya tidak mendapatkan pada mereka sesuatu yang mereka jadikan sebagai hujjah untuk tas-hil ini, kecuali ungkapan yang terpotong milik Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang mereka cuplik Dari fatwa beliau seputar negeri Mardin yaitu ungkapanya: “(Dan ia) tidak seperti Daar Al Harbi yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir)”.

Dan mereka merubahnya kemudian menjadikannya: “Daar Al Kufri yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir )”

Kemudian mereka keluar Dari itu (dengan kesimpulan) bahwa setiap negeri kufur -walau ia mendadak muncul lagi baru bukan asal- maka penduduknya seluruhnya adalah kafir, kecuali orang yang mereka ketahui rincian-rincian keyakinannya.

Dan pada hari itu telah saya jelaskan kapada mereka bahwa lafadh ini -terutama pada negeri Mardin dan negeri-negeri kufur yang muncul baru yang semisal dengannya- tidak lain adalah isthilah para fuqaha buat negeri yang dikuasai orang-orang kafir dan hukum-hukum mereka berdiri tegak di atasnya, dan tidak ada kaitannya bagi penduduknya dengan cap kafir kecuali orang yang melakukan salah satu sebab Dari sebab-sebab takfier.

Dan saya tuturkan kepada mereka sebagian rincian yang akan datang, akan tetapi mereka tidak mau beranjak Darinya dan malah bersikukuh memegang ucapan itu sehingga saya terheran-heran bagaimana hawa nafsu bisa membalikkan mawazin (tolak ukur) dan menjadikan orang yang mengakui bahwa ucapan seorang sahabat itu bukan hujjah dan tidak menerima ucapan yang lainnya Dari kalangan tiga generasi terbaik dalam suatu masalah furu’ terus malah dia berhujjah dengan ucapan yang terpotong yang dikutip Dari ucapan seorang ulama pada abad ke tujuh dan (itu) dalam masalah yang mana ia tergolong masalah-masalah dien yang paling rentan (berbahaya), di saat ia mengira bahwa ucapan itu selaras dengan nafsunya atau melempangkan keinginan dan hajatnya… Padahal mereka itu mengakui bahwa seluruh mahkluk setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ucapan mereka perlu itu harus dilandasi hujjah dan bukan dijadikan sebagai hujjah, serta (ucapan itu) butuh terhadap dalil dan bukti dan bukan ia itu sebagai dalil dan bukti dengan sendirinya.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan sebagian dorongan-dorongan nafsu dan keinginannya dalam sikap langsung melakukan takfier serta terkadang tergesa-gesa di dalamnya, dalam firmanNya:

Dan jangan kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: ” kamu bukan orang mu’min”. (An Nisa: 94)

kemudian  Allah mengatakan:

“dengan maksud kamu mencari harta benda kehidupan di dunia…”. (An Nisa: 94).

Begitulah memang keinginan orang-orang yang terperdaya itu yang mana sebagian mereka itu telah saya debat. Sungguh memang mereka itu suka mencari-cari kesempatan terdekat dan termudah untuk merampas dan mencuri apa yang mereka dapatkan berupa harta benda milik orang-orang yang telah mereka vonis kafir, walaupun yang divonis kafir itu Dari kalangan du’at dan mujahidin atau kaum muslimin mustadl’afin (yang lemah). Harta-harta itu menurut orang-orang yang ghuluw itu adalah ghanimah, dan telah saya saksikan banyak contoh Dari itu, dan pada akhirnya mereka bertikai di antara mereka sendiri dan berselisih atas sebagian harta-harta itu.

Saya memohon kepada  Allah subhanahu wa ta’ala agar membimbing mereka kepada jalan yang lurus dan menjauhkan pemuda kaum muslimin Dari fitnah-fitnah yang menyesatkan ini. Karena sikap berani mengkafirkan kaum muslimin serta menghalalkan Daarah dan harta kaum muwahhidin tanpa alasan syar’iy adalah tidak ada yang berani lancang terhadapnya kecuali jiwa-jiwa yang sakit yang tidak pernah mencium aroma wara’ dan taqwa.

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalah haji Wada’: “Sesungguhnya Daarah-Daarah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti keharaman hari kalian ini di bulan kalian ini di negeri kalian ini”.

Dan sabdanya juga dalam hadits Al Bukhari dan Muslim: “Tidak halal Daarah orang muslim kecuali dengan salah satu Dari tiga hal: Tsayyib yang berzina, jiwa dengan jiwa (qishash), dan yang meninggalkan diennya lagi meninggalkan jamaah“.

Dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Senantiasa orang mu’min dalam kelapagan Dari diennya selama ia tidak menumpahkan Daarah yang haram.“ (HR Al Bukhari Dari Ibnu Umar).

Dan dalam Al Bukhari:Ibnu Umar berkata: “Sesungguhnya termasuk keterpurukan yang tidak ada jalan keluar bagi orang yang terjatuh di dalamnya adalah penumpahan Daarah yang haram tanpa ada penghalalnya.”

Dan dalam Al Bukhari juga, Maimun Ibnu Siyah bertanya kepada Anas Ibnu Malik,       berkata: Wahai Abu Hamzah, apa yang mengharamkan Daarah dan harta seorang hamba?

Maka beliau berkata:Siapa yang bersaksi akan laa ilaaha illallah, menghadap kiblat kami, shalat seperti shalat kami dan makan sembelihan kami, maka dia muslim, baginya apa yang menjadi hak orang muslim dan atasnya apa yang menjadi kewajiban orang muslim”.

Dan telah lalu apa yang dituturkan oleh Al Qadli ‘Iyadl dalam Asy Syifa 2/277 Dari para Ulama muhaqqiqin, ucapan mereka: Sesungguhnya penghalalan Daarah orang-orang yang shalat lagi bertauhid itu adalah berbahaya, sedangkan keliru dalam membiarkan seribu orang kafir adalah lebih ringan Dari keliru dalam menumpahkan satu semburan Dari Daarah satu orang muslim.”

Dan beliau menukil ucapan Al Qabisiy: Dan Daarah tidak boleh ditumpahkan kecuali dengan hal yang jelas, sedangkan sangsi dengan cambuk dan penjara terkandung hukuman yang membuat jera bagi orang-orang yang dungu“  (2/262)

Dan seandainya mereka itu menyibukan diri di dalam pencarian ilmu dan mengkaji kitab-kitab para ulama serta muthala’ah masalah-masalah ushul dan furu’, tentulah mereka akan mengetahui bahwa sebelum penghalalan Daarah dan harta seandainya muncul ucapan atau perbuatan mukaffir pada diri seseorang; adalah ada tahapan-tahapan dan syarat-syarat dan mawani’ yang terkadang menghalangi Dari takfier apalagi Dari penghalalan (Daarah dan harta), terutama bagi macam orang-orang yang mereka cengkram Dari kalangan kaum muslimin yang lemah atau para da’i dan kaum mu’minin yang tidak melindungi diri dengan kekuatan para thaghut atau dengan hukum dan undang-undang mereka. Dan bahwasanya tidak mesti Dari vonis kafir terhadap suatu perbuatan atau ucapan tertentu, orang mu’ayannya langsung dikafirkan sebagaimana yang telah lalu, sehingga tentunya tidak terbukti atas hukum tersebut konsekuensi-konsekuensi logis yang mereka inginkan dan mereka cari-cari.

Di samping ini sesungguhnya jumhur ulama, bahkan Ibnul Muhdzir menuturkan ijma mereka; bahwa kepemilikan orang murtad itu tidak hilang dengan sekeDaar riddahnya[1] bila riddahnya tidak munghalladhah dan tidak pula dia mumtani’ (melindungi diri dengan kekuaatan), sesungguhnya dia itu disuruh taubat sedangkan keadaannya seperti itu, dan terkadang dia kembali kepada Islam

Dan setiap orang yang mengamati fatwa Syaikhul Islam yang mana orang-orang yang ghuluw menjadikannya sebagai hujjah, maka dia pasti mendapatkannya Dari awal hingga akhir sebagai hujjah atas mereka. Sungguh beliau rahimahullah telah ditanya tentang negeri Mardin yang dijajah Tartar dan mereka menguasainya sedangkan di sana terdapat kaum muslimin. Maka beliau rahimahullah menjawab: (Segala puji bagi Allah, Daarah dan harta kaum muslimin adalah diharamkan di mana saja mereka berada di Mardin atau tempat lainnya. Dan orang yang menetap di sana bila tidak mampu menegakkan diennya maka wajib hijrah atasnya, dan kalau tidak demikian maka hijrah adalah sunnah dan tidak wajib…) hingga ucapannya: (Dan tidak halal mencela mereka secara umum serta (tidak halal) mencap mereka munafik, namun celaan dan tuduhan nifaq itu dilakukan terhadap sifat-sifat yang disebutkan dalam Al Kitab dan As sunah, sehingga masuk di dalamnya sebagian penduduk Mardin dan lainnya. Adapun statusnya sebagai Daarul harbi atau negeri Islam, maka ia adalah gabungan: Di dalamnya ada dua makna, ia tidak berkedudukan sebagai Daar Al Islam yang mana berlaku di atasnya hukum-hukum Islam dikarenakan tentaranya adalah kaum muslimin, dan tidak berkedudukan sebagai Daarul Harbi yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir, namun ia adalah macam ketiga yang mana kaum muslimin diperlakukan dengan yang semestinya). Diikhtishar Dari Majmu Al Farawa 28/135.

Maka beliau menerapkan     :

-          Bahwa Daarah dan harta kaum muslimin, hukum asal yang paling mendasar di dalamnya adalah haram dan terjaga di mana saja mereka berada. Sedangkan status negeri itu tidak ada campurtangan di dalam hal itu, namun tolak ukur keterjagaan (Daarah dan harta) itu adalah penampakan orang itu terhadap Islam, bukan penampakkan Daar negeri itu terhadap Islam.

-          Dan bahwasannya tidak halal menuduh kaum muslimin dengan sesuatu Dari sifat-sifat nifaq dan yang lainnya dengan alasan sekeDaar bahwa negerinya[2] itu telah berada dibawah kekuasaan orang-orang kafir padahal kaum muslimin itu sendiri tidak melakukan sesuatu (pembatal).

-          Dan sesungguhnya Daar (negeri) yang beliau ditanya tentangnya dan yang semisal dengannya, meskipun ia itu telah mendapatkan cap para fuqaha sebagai Daarul Kufri karena penguasaan orang-orang kafir di atasnya, akan tetapi berkaitan dengan status hukum yang diterapkan terhadap penduduknya adalah murakkabah (gabungan).

Ia tidak seperti Daarul Islam yang asli yang mana Ahlul Kitab membedakan dirinya di sana dengan pakaian yang membedakan mereka serta orang murtad tidak diakui sama sekali di dalamnya. Maka hukum asal bagi setiap orang selain Ahlil Kitab Dari para penduduknya bahwa ia itu tergolong kaum muslimin, dan oleh karenanya Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seseorang dalam kondisi seperti itu untuk mengucapkan salam terhadap orang yang dikenal dan orang yang tidak dikenalnya[3]. Dan oleh karena itu para fuqaha menegaskan dan berdalil sering sekali dalam furu fiqh dengan ungkapannya: Hukum asal di Daarul Islam adalah Islam “.

Dan ia juga tidak seperti Daarul Harbi yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir dan belum pernah mengalami seharipun sebagai Daar Islam serta mayoritas penduduknya bukan orang-orang Islam. Jadi ia bukan negeri kufur asli, akan tetapi sebelum penguasaan orang-orang kafir tehadapnya ia adalah negeri Islam dan mayoritas penduduknya adalah Dari kaum muslimin. Dan oleh karena itu hukum terhadap penduduknya serta perlakuan terhadap mereka tidaklah dikaitkan mengikuti sesuatu Dari isthilah-isthilah itu karena tidak adanya kebakuan hal itu, namun siapa saja yang menampakkan Islam maka harta dan Daarahnya terjaga serta ia diperlakukan layaknya kaum muslimin, dan siapa saja yang keluar Dari syariat Islam maka ia diperlakukan dengan perlakuan yang layak baginya. Perkataan beliau rahimahullah adalah jalas lagi tidak ada kesamaran di dalamnya…

Namun masalahnya adalah seperti apa yang beliau tuturkan ditempat lain, bahwa berkumpulnya syahwat dengan syubhat menguatkan pendorong pada syubhat dan mewariskan rusaknya ilmu dan pemahaman.

Sedangkan mereka itu telah mendapatkan pada pemahaman yang sakit itu sesuatu yang mengokohkan syubhat-syubhat mereka dan melegalkan syahwat-syahwat mereka yang bersifat mencari ghanimah. Sehing mereka berpegang erat dengan ucapan Ibnu Taimiyyah (dan ia tidak seperti Daarul Harbi yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir) terus mereka menjadikan kekafiran sebagai hukum asal pada penduduk setiap negeri yang masuk dalam isthilah Daarul Kufri walaupun sifat kekafiran di dalamnya adalah thari’ (baru muncul) karena penguasaan hukum orang-orang kafir. Terus akhirnya mereka mengkafirkan seluruh penduduknya walaupun mayoritas mereka itu Dari kalangan yang mengaku Islam, dan berpegang teguh dengan hal itu dan mereka bersikeras di atasnya.

Inilah, dan sungguh dulu saya pernah menelusuri isthilah Daarul Kufri dan Daarul Islam, saya kumpulkan perkataan-perkataan banyak ulama dan definisi mereka akan daar (negeri), serta saya lihat pengaruh isthilah ini menurut mereka terhadap penduduknya, namun ternyata saya tidak mendapatkan pada seorang ulama muhaqqiqin pun sesuatu Dari apa yang diinginkan oleh mereka (ahlul ghuluw), terutama pada Daarul Kufri yang muncul baru yang mana mayoritas penduduknya adalah orang-orang Islam.

Ya, memang saya telah menemukan sesuatu yang serupa dengan pendapat mereka pada sebagian kelompok Khawarij yang sesat.

Azariqah pengikut Nafi Ibnul Azraq berkata: (Sesungguhnya orang yang muqim di Daarul Kufri adalah kafir, tidak ada jalan lain baginya kecuali keluar). Dan sudah maklum bahwa mereka memandang bahwa negeri orang-orang yang menyelisihi mereka Dari kalangan kaum muslimin adalah negeri kufur.

Baihasiyyah dan ‘Aufiyyah berkata: (Bila Imam (pemimpin) telah kafir maka seluruh rakyatnya kafir, baik yang ghaib di antara mereka ataupun yang menyaksikan).

Ini semua berasal Dari kejelekan dan kebodohan mereka, dan nanti akan ada urusannya di Pasal IV Dari kitab ini.

Adapun para ulama muhaqqiqin, maka sungguh saya telah mengamati pernyataan banyak di antara mereka, namun saya tidak mendapatkan pada mereka sesuatupun Dari lontaran-lontaran ini. Dan lontaran saya ini tidak dikeruhi oleh apa yang ada dalam Ahkamul Qur’an Karya Al Jashshash dan yang lainnya, yang mana ia bisa diduga oleh orang yang tergesa-gesa sebagai hal yang serupa dengan hal itu, padahal ia bukan tergolong bahasan ini. Dan itu dikarenakan ungkapan tersebut berkenaan dengan tanah musuh yang ulama maksudkan dengan isthilah Daarul Harbi atau Daarul Kufri yang asli dan di saat adanya payung Daar Islam dan Jama’atul Muslimin yang mana orang muslim mampu pindah kepada mereka terus ia tafrith (tidak ada upaya) dalam hal itu dan tinggal seraya memperbanyak jumlah orang-orang musyrik.

Adapun pelontaran kaidah ini dan istilah itu serta penggunaannya secara muthlaq terhadap negeri yang mana kekafirannya muncul kemudian di atasnya padahal mayoritas penduduknya adalah Dari kalangan orang-orang yang mengaku Islam, tanpa mempertimbangkan Istidl’af (ketertindasan) kaum muslimin dan tidak adanya Daar Islam yang bisa dijadikan tempat Hijrah dan tempat berlindung orang muslim, dan tanpa orang muslim itu bermufakat dan membantu atas kekafiran, maka ini yang tidak saya dapatkan sama sekali. Dan di akhir uraian ini adalah sangat senang sekali saya menuturkan perkataan Asy Syaukani dalam As-Saul Jarrar: (Ketahuilah sesungguhnya menyinggung penyebutan Daarul Islam dan Daarul Kufri adalah sedikit faidahnya, berdasarkan bahasan yang telah kami utarakan kepadamu dalam bahasan tentang Daarul Harbi, dan bahwa Kafir Karbi itu halal Daarah dan hartanya bagaimanapun keadaannya, selama tidak diberi jaminan keamanan Dari kaum muslimin, dan bahwa harta dan Daarah orang muslim itu terjaga dengan keterjagaan Islam baik di Daarul Harbi dan yang lainnya). 4/576

Inilah yang penting bagi kami di sini Dari hal itu, dan ia itu selaras dengan kesimpulan ucapan Syaikhul Islam tentang penduduk Mardin dan yang lainnya.

Dan para ulama seluruhnya berpendapat seperti itu, sehingga engkau berkesimpulan Dari penelusuran definisi mereka terhadap Daarul Kufri dan Daarul Islam, bahwa penamaan-penamaan ini adalah isthilah Fiqh yang tidak ada pengaruhnya dalam menghukumi orang yang memungkinkan untuk mengetahui diennya Dari penduduk negeri-negeri itu, dan bahwa orang yang menampakkan Islam serta tidak mendatangkan satupun Dari pembatal-pembatalnya yang dhahir maka sesungguhnya dia itu terjaga Daarah dan hartanya di mana saja berada.

Definisi-definisi mereka meskipun ada sedikit perbedaan, namun sesungguhnya jumhur mereka menyatakan bahwa penamaan ini digunakan sesuai mengikuti hukum-hukum yang berlaku dan pendominasian kekuatan yang berdiri di atas negeri itu. Bila hukum-hukum kufur berkibar di atas negeri itu atau pendominasian kekuatan di dalamnya berada di tangan orang-orang kafir, maka para ulama biasa menamakanya sebagai Daarul Kufri maskipun mayoritas penduduknya orang-orang Islam. Dan bila ghalabah (dominasi kekuatan) di dalamnya dan hukum-hukum yang berlaku adalah bagi kaum muslimin, maka ia adalah Daarul Islam meskipun mayoritas penduduknya Dari orang-orang kafir sebagaimana keadaan negeri-negeri yang dihuni oleh kaum kafir dzimmi dan dikuasai oleh kaum muslimin.

Ibnu Hazm (456 H) bekata: (Dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamSaya berlepas diri Dari setiap muslim yang tinggal di tengah orang-orang musyrik” beliau hanya memaksudkan dengannya Daarul Harbi, karena sesunguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengangkat para pengawainya untuk mengurusi Khaibar sedangkan seluruh penduduknya adalah yahudi. Dan bila saja orang-orang  kafir dzimmiy di negeri-negeri mereka lagi tidak dicampuri oleh orang-orang lain, orang yang tinggal di tengah mereka untuk menjadi amir mereka atau untuk berdagang di antara mereka adalah tidak dinamakan kafir dan tidak dinamakan orang yang salah akan tetapi dia itu muslim yang baik, sedangkan negeri mereka adalah Daar Islam bukan Daar Syirik, karena Daar itu hanya dinisbatkan kepada yang kekuatan yang mendominan di atasnya, dan penguasaan di dalamnya serta pemiliknya). Al Muhalla 11/ 200

Al Qadli Abu Ya’la Al Hanbaly (450 H): (Setiap negeri yang mana pendominasian kekuatan di dalamnya bagi hukum-hukum kafir bukan hukum-hukum Islam, maka ia adalah Daar Kufri ) Al Mut’tamad Fi Ushuliddien 276.

Ibnul Qayyim (751 H) berkata: “Selagi tidak berjalan di atasnya hukum Islam, maka ia bukan Daarul Islam meskipun berdampingan dengannya. Contohnya Thaif, di mana ia dekat sekali dengan Mekkah namun tidak menjadi Daarul Islam dengan Futuh Mekkah”. Ahkam Ahlidz dzimmah  1/ 366.

Asy Syaukaniy berkata (1250 H) dalam As Sail Al Jarrar 4/ 575: “Yang dianggap jadi patokan adalah nampaknya kekuasaan, bila perintah-perintah dan larangan-larangan di suatu negeri itu di tangan kaum muslimin, maka negeri ini adalah Daarul Islam, sedangkan tampaknya cabang-cabang kekafiran di dalamnya adalah tidak mempengaruhi (status negeri ini), karena cabang-cabang kekafiran itu tidak nampak dengan kekuatan dan kekuasaan orang-orang kafir, sebagaimana ia disaksikan pada orang-orang kafir dzimmi Dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan kafir-kafir mu’ahid yang tinggal di kota-kota Islamiyyah, dan bila masalahnya sebaliknya maka status negerinya juga sebaliknya.”

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman (1349H) berkata di dalam sya’irnya:

Bila orang kafir berkekuatan menguasai

Negeri Islam dan rasa takut menyelimuti

Dan dia berlakukan hukum kafir terang-terangan

Dia tampakkan di dalamnya tanpa sungkan

Dan dia lemahkan dengannya hukum syariat Muhammad

Serta Islam tidak nampak dan tidak dianut di sana

Maka ia Daaru Kufr menurut setiap ahli  Tahqiq

Sebagaimana dikatakan para ahli ajaran agama

Namun tidak setiap orang di dalamnya di cap kafir

Bisa jadi di dalamnya ada orang salih dalam beramal.

Engkau dapat melihat Dari pengamatan definisi-definisi ini dan yang lainnya bahwa para ulama biasa menggunakan isthilah ini sebagai bentuk penunjukan pada macam ghalabah (dominasi kekuatan) dan hukum-hukum yang berlaku di negeri itu, dan mereka pada umumnya mengingatkan sebagaimana yang telah engkau lihat bahwa orang muslim itu terjaga darah dan hartanya di mana saja mereka berada, dan bahwa keislaman mayoritas penduduk negeri atau kekafirannya adalah tidak ada pengaruhnya di dalam menghukumi suatu negeri, sebagaimana status negeri itu tidak ada pengaruhnya di dalam menilai keislaman atau kekafiran penduduknya, terutama bila negeri itu adalah negeri kafir yang baru muncul (negeri yang murtad)  bukan negeri kafir asli.

Namun tidak setiap orang di dalamnya di cap kafir

Bisa jadi di dalamnya ada orang shalih dalam beramal

Sebagaimana yang dikatakan oleh Sulaiman Ibnu Sahman………….

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menaklukan Khaibar tahun 7H, sedangkan seluruh penduduknnya adalah Yahudi, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui mereka di sana dan bersepakat dengan mereka atas hasil pertaniannya, sehingga dominasi kekuatan kaum muslimin dan tegaknya hukum-hukum islam di sana menjadikannya sebagai Daarul Islam, dan bolehlah tinggal menetap dan bermuqim di dalamnya. Dan Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak pegawai di sana.

Dan sebaliknya, tatkalah Aswad Al’Insiy mengaku nabi di Yaman dan banyak orang Dari kalangan penduduknya murtad serta menjadi pengikutnya sehingga ia bisa menguasai San’a -dan itu terjadi di akhir hari-hari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup dunia ini- dan Aswad membunuh gebernurnya Syahr Ibnu Badzan yang mana ia telah diakui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai gubernurnya, dan sebagian pegawai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lari ke Madinah tatkala pengaruh Al ‘Insiy menyebar dan banyak orang menjadi murtad bersamanya (sedangkan kaum muslimin mempergauli dia di sana dengan taqiyyah)[4], namun mereka tidak menjadi kafir dengan sebab menetapnya mereka di negeri murtad dan tidak melarikan diri Darinya, justru di antara mereka ada Fairuz Ad Dailamiy dan para sahabatnya yang teguh dan berbuat rekayasa sehingga bisa membunuh Al Aswad Al ’Insiy dan akhirnya dominasi (ghalabah kekuatan) kembali di Yaman kepada tangan kaum muslimin.

Inilah San’a telah menjadi negeri kafir dengan dominasi kaum murtaddin dan orang-orang kafir terhadapnya setelah sebelumnya ia adalah negeri Islam, yaitu ia telah menjadi negeri riddah, dan tetap di bawah dominasi Al Aswad yang mengaku nabi selama empat bulan atau dekat Dari empat bulan. Dan itu tidak mencegah Dari keberadaan kaum muslimin yang shahih di dalamnya yang mana mereka mengambil sikap taqiyyah dan berupaya untuk mengembalikan ghalabah bagi muslimin, sehingga pada akhirnya meraka mampu membunuh Al Aswad dan mengembalikan Yaman kepada hokum kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu[5] dan tidak pula mengatakan bahwa mereka itu telah kafir dengan sebab menetapnya di San’a dan tidak lari saat ia telah menjadi negeri kafir dengan kemenangan orang-orang kafir atas mereka, sedangkan ini terjadi saat adanya Daarul Islam dan Jamaatul Muslimin.

Dan juga setelah itu, tatkala Mesir jatuh ke tangan ‘Ubaidiyyin yang kafir Dari keturunan Banu ‘Ubaid Al Qadah, mereka menguasainya dan mereka mengendalikan pemerintahan di sana, maka Mesir menjadi negeri kafir murtad setelah sebelumnya adalah Daar Islam dan mayoritas penduduknya Dari kaum muslimin. Mesir terus berada dalam cengkraman ‘Ubaidiyyin kurang lebih 200 tahun, di dalamnya mereka menampakkan paham Rafidhah, kekafiran serta kezindiqan, sehingga Ibnul Jauzi menulis kitab berjudul (An Nashr ‘Alaa Mishr). Namun demikian tidak seorangpun Dari ulama muhaqqiqin menyatakan bahwa hukum kufur yang telah dilebelkan pada negeri ini dan terhadap para perampasnya itu telah mencakup para penduduknya yang tertindas. Bahkan justru di dalamnya terdapat banyak ulama, fuqaha dan orang-orang shalih. Di antara mereka ada yang sembunyi-sembunyi dan tidak mampu menampakkan aqidahnya di hadapan Banu ‘Ubaid, bahkan (mereka tidak mampu) menyampaikan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khawatir dibunuh (sebagaimana Ibrahim Ibnu Said Al Hibal teman Abdul Ghaniy Ibnu Said menghikayatkan bahwa ia menolak Dari meriwayatkan hadits karena khawatir mereka membunuhnya). Majmu Al Fatawa 35/85.

Bersama ini semua, sesungguhnya umumnya kaum muslimin menyembunyikan kebencian kepada Bani ‘Ubaid dan berlepas diri dari mereka. Dan memang ada sebagian mereka menampakkan hal itu dengan cara yang mana ia tidak mendapatkan siksaan mereka di dalamnya, sebagaimana As Sayuthi menuturkan dalam Muqaddimah Tarikh Al Khulafa Dari Ibnu Khalkan bahwa ia berkata tentang Ubaidiyyin: (Mereka itu mengklaim tahu yang ghaib, dan berita mereka dalam hal itu sangatlah masyhur, sampai-sampai Al Aziz suatu hari naik mimbar terus melihat selembar kertas bertuliskan:

Dengan kezaliman dan aniaya kami telah relakan

Tapi bukan dengan kekafiran dan kedunguan

Bila kamu benar mengetahui Ilmul ghaib

Jelaskan kepada kami siapa penulis surat kaleng ini?

Dan seorang perempuan mengirimkan kisah kepadanya, yang di dalamnya ada: Dengan Dzat Yang memuliakan kaum Yahudi dengan Misya dan Nashara dengan Ibnu Nasthur serta menghinakan kaum muslimin dengan kamu, tolong selesaikan urusan saya)[6]

Siapa di antara pada ulama muhaqqiqin -bukan orang-orang yang ngawur- yang mengatakan kafirnya masyarakat dengan sekedar muqim mereka di Daarul Kufri selama mereka tidak menampakkan suatu sebab dari sebab-sebab kekafiran? Ini padahal saat adanya Daar Islam yang mana kaum muslim bisa hijrah kepadanya saat itu, maka apa gerangan saat Daarul Islam tidak ada pada zaman kita ini?

Sungguh ‘Ubaidiyyin itu lebih buruk terhadap agama Islam daripada Tartar sebagaimana yang dituturkan Adz Dzahabiy. Di antara mereka ada yang menampakkan celaan terhadap para Nabi, adapun celaan terhadap para sahabat maka janganlah ditanya lagi. As Sayuthiy telah menuturkan dari Abul Hasan Al Qabisiy: (Sesungguh para ulama dari kalangan para ahli ibadah yang di bunuh oleh ‘Ubaidillah dan keturunannya adalah empat ribu orang dengan tujuan menghalangi mereka dari menyatakan doa ridla Allah buat para sahabat, namun mereka memilih mati, dia berkata: Andai saja ia itu Rafidlah saja, namun ia itu Zindiq). Tarikhul Khulafa hal: 13.

Engkau lihat sesungguhnya saat itu di Mesir banyak para fuqaha, sebagaimana yang telah kami ketengahkan juga dalam ucapan Abu Muhammad Al Qairuwaniy Al Kizaniy: (Adanya para Fuqaha Muqim di sana hanyalah dalam rangka menghadang (paham) mereka agar kaum muslimin tidak kosong dari orang yang memberikan penjelasan kepada mereka, sehingga mereka (‘Ubaidiyyah) tidak leluasa menyesatkan mereka dari diennya).

Di antara mereka ada yang sembunyi-sembunyi dan di antara mereka ada yang menampakkan diennya, sehingga di bunuh, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Qadli Abu Bakar Al Baqilaniy: (Al Mahdi ‘Ubaidillah adalah orang kebatinan busuk yang sangat berupaya untuk melenyapkan Millatul Islam, dia menghukum mati para ulama dan Fuqaha agar leluasa untuk menyesatkan manusia). Tarikhul Khulafa hal 12.

Dan di antara ulama yang terang-terangan mengkafirkan mereka adalah Asy Syahid –kami mengira seperti itu– Abu Bakar An Nabulsi yang dihadirkan oleh Al Mu’izz: (Dia berkata kepadanya: Telah sampai berita kepadaku tentang kamu bahwa kamu berkata: Seandainya saya punya sepuluh panah tentu saya akan tembak Ramawi dengan yang sembilan dan akan saya tembak orang-orang Mesir  dengan satu,” maka beliau berkata: Saya tidak pernah mengataka ini,” Mu’izz menduga beliau rujuk dari ucapannya terus dia berkata: Bagimana kamu katakan? Beliau berkata: Saya berkata: Seyogyanya kami menembak kalian dengan sembilan panah dan kemudian menembak Romawi dengan yang ke sepuluh.” Mu’izz berkata: Kenapa? beliau berkata: ( Karena kalian telah merubah dien umat ini, kalian bunuh orang-orang shalih, kalian padamkan cahaya ilahiyah  dan kalian mengklaim apa yang  tidak kalian miliki.” Maka dia mempermalukan beliau terus memukulnya dengan cambuk kemudian dia datangkan seorang yahudi mengulitinya sedangkan beliau membaca Al-Quran, Yahudi berkata: Saya merasa iba terhadapnya, sehingga terkala saya sampai dekat jantungnya maka saya menusuknya dengan pisau, dan akhirnya beliau mati…..). Al-Bidayah Wan Nikayah 11/284 secara ringkas, dan lihat Siyar A’lam  An Nubala 16 / 148…

Dan bukti dari ini semua bahwa keadaan kaum muslimin di bawah kekuasaan para penyerobot yang kafir di setiap zaman, yang mana mereka telah menyerobot dan menguasai negeri-negeri Islam, adalah bertingkat-tingat, ada yang tertindas lagi bersembunyi, ada yang melakukan taqiyyah dan ada yang berjihad lagi menegakkan dienullah tabaraka wata’ala. Dan para ulama tidak mencap kafir terhadap seorangpun dari mereka selagi tidak melakukan sesuatupun  dari pembatal-pembatal keislaman dan sebab-sebab kekafiran yang nyata lagi nampak. Dan mereka hanya mengkafirkan orang yang membela orang-orang kafir atau murtaddin atau menampakan loyalitas terhadap mereka atau ia menjadi pejabat negaranya dan pemerintahanya yang kafir sebagaimana Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah 11/284 menukil dari Al Qadli Al Baqilaniy ucapannya tentang ‘Ubaidiyyin (Sesungguhnya madzhab mereka adalah kekafiran yang murni dan keyakinananya Rafidlah, dan begitu juga pejabat negaranya, siapa yang menurutinya dan membelanya serta loyal terhadapnya, maka semoga  Allah hinakan mereka dan dia) .

Dan contoh-contoh dari jenis ini dalam Tarikh adalah banyak. Dan bukti  darinya: Bahwa hukum asal pada setiap orang yang mengaku Islam atau menampakkan sifat-sifat khusus Islam adalah Muslim selama tidak menampakkan suatu sebab dari sebab-sebab kekafiran. Dan hukum asal padanya adalah bahwa dia itu terjaga darah dan hartanya serta kehormatannya di mana saja.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’min yang tiada kamu ketahui…..” (Al Fath: 25).

Allah namakan mereka mu’minin padahal mereka itu berada di Mekah saat berstatus sebagai negeri kufur dan padahal mereka itu bersembunyi-sembunyi lagi tidak diketahui oleh orang-orang mu’min.

Berkata dalam Raudlatuth Thalibin 10/282: (Cabang: Orang muslim bila lemah di Daarul Kufri lagi tidak mampu Idhharud dien (menampakan keyakinan), maka ia haram menetap di sana, dan wajib atas dia hijrah ke Daarul Islam, bila dia tidak mampu hijrah maka dia diudzur sampai dia mampu, bila suatu negeri ditaklukan sebelum si muslim itu hijrah maka hijrah gugur darinya. Dan bila dia mampu idhharuddien dikarenakan dia itu orang yang ditaati di tengah kaumnya atau karena di sana dia memiliki keluarga yang melindunginya dan tidak takut fitnah dalam diennya, maka hijrah itu tidak wajib, namun dianjurkan agar tidak memperbanyak jumlah kaum musyrikin, atau dia cenderung kepada mereka, atau mereka melakukan tipu muslihat terhadapnya, dan ada yang mengatakan: Hijrah wajib baginya, ini dihikayatkan oleh Imam Madzhab, sedangkan yang shahih adalah yang pertama).

Al Mawardiy berkata: (Bila dia memiliki di dalamnya -yaitu di Daarul Kufri-  keluarga dan marga, serta mungkin baginya menampakkan diennya, maka tidak boleh baginya untuk hijrah, karena tempat yang mana ia ada di sana telah menjadi Daar Islam).

Rasyid Ridla berkata dalam rangka mengomentari hal itu: (Ini adalah pendapat yang batil, karena sekedar penampakkan seseorang akan diennya tidak menjadikan Daar itu sebagai Daar Islam sedangkan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya adalah bukan Islamiyyah, sebab sesungguhnya seluruh negeri-negeri Eropa tidak seorangpun ditentang di dalamnya bila ia menampakkan diennya atau mendakwahkannya termasuk saat kondisi mereka memerangi kaum muslimin, dan dikarenakan hijrah dari Daar Islam ke Daar Islam yang lain adalah boleh dengan ijma. Seandainya beliau (Al Mawardi) berkata: “Tidak wajib atasnya hijrah dalam keadaan seperti itu”, tentulah dekat, dan bisa jadi ini adalah asli ucapannya, kemudian terjadi kekeliruan di dalam penukilan). Dari Syarhul Arba’in An Nawawiyyah hal 13 dalam Majmu’atul Hadits An Najdiyyah.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam rincian-rincian tentang pembunuhan orang secara keliru:

Jika ia (si terbunuh) Dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mu’min”. (An Nisa:92)

Allah subhanahu wa ta’ala menamakan dia mu’min, dan menjadikan (wajib) kaffarah dalam pembunuhannya karena keliru, padahal dia itu menetap bersama musuh-musuh kita di Daarul Harb, sesuai ucapan segolongan dari salaf, para fuqaha dan para mufassirin sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Jarir dan yang lainnya….. dan silahkan lihat Raudlatuth Thalibin 9/381.

Asy Syaukani berkata dalam Fathul Qadir 1/998: (Dan ini adalah masalah orang mu’min yang dibunuh oleh kaum muslimin di negeri orang-orang kafir yang mana ia itu asalnya bagian dari mereka kemudian masuk Islam dan tidak hijrah sedangkan kaum muslimin itu mengira bahwa ia itu belum muslim dan masih di atas agama kaumnya, maka tidak wajib diyat atas si pembunuhnya, namun ia wajib memerdekakan hamba sahaya yang mu’min. Para ulama berselisih tentang alasan gugurnya diyat, ada yang mengatakan bahwa para wali si terbunuh itu adalah orang-orang kafir yang tidak memiliki hak dalam diyat, dan ada yang mengatakan bahwa kehormatan orang yang baru beriman ini adalah kecil, berdasarkan Firman  Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali dengan mereka. Dan  Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan”.  (Al Anfal: 72)

Perhatikanlah pelebelan  Allah terhadap mereka dengan status sebagai orang-orang yang beriman padahal mereka itu belum hijrah dari Daarul Kufri di saat adanya Daar Islam yang mana hijrah itu wajib ke sana.

Asy Syaukani sungguh telah menuturkan setelah itu bahwa sebagian ahlul ilmi mewajibkan diyatnya, namun untuk baitul mal, pendapat ini dan bahasan kita ini bisa diperdekat juga dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud 2642 dan At Tirmidzi Dari hadists Jarir Ibnu Abdillah, berkata: (Rasulullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan kecil ke daerah Khats’am kemudian orang-orang di antara mereka melindungi diri dengan sujud, namun mereka tetap dibunuh, dia berkata: Hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus beliau memerintahkan bayar buat mereka separuh diyat, dan beliau berkata: Saya berlepas diri dari muslim yang menetap di tengah orang-orang musyrik.” Mereka bertanya: Kenapa wahai Rasulullah? beliau berkata: Jangan sampai kedua api mereka saling melihat”.

Hadists ini dianggap cacat dengan Irsaal, di mana Jarir tidak disebutkan dalam riwayat Jama’ah, namun sebagian ulama menilai shahih dengan seluruh jalan-jalannya.

Al Khaththabi dan sebagian ulama menyebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengeluarkan separuh diyat buat mereka setelah beliau tahu akan keIslaman mereka, karena mereka sendirilah yang telah membantu atas diri mereka dengan menetapnya di tengah orang-orang kafir. Sehingga mereka itu seperti orang yang binasa dengan jinayah (perbuatan aniaya) dirinya dan jinayah orang lain, maka dengan itu gugurlah bagian jinayah dirinya, sehingga dia tidak mendapat kecuali separuh diyatnya.” ‘Aunul Ma’bud 7/218.

Dan ini semuanya tergolong bukti-bukti yang menunjukkan bahwa orang seperti ini tidak kafir walau dia taqshir dalam berhijrah dan berdosa dengan sebab ia menetap di tengah kaum musyirik. Dan tidak ada yang menunjukkan akan hal itu selain penamaan yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan kepadanya dengan lebel muslim dan tidak menghilangkan sifat (cap) itu darinya. Dan ini tidak dikeruhkan oleh sikap bara’ah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam darinya dan sedangkan sikap bara’ah secara total itu tidak dilakukan kecuali dari orang kafir, karena yang dimaksud dengan bara’ah di sini adalah bara’ah dzimmah (lepas tanggungan) dari diyatnya secara sempurna,[7] sebagaiman yang telah ditafsirkan di dalam hadits itu sendiri. Dan di antara hal itu pula adalah kurangnya hak dia dalam nushrah karena dia taqshir di dalam hijrah. Ini adalah qarinah? yang memalingkan bara’ah total kepada bara’ah macam kedua yang ditafsirkan oleh As Sunnah dan  Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum hijrah maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadmu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan  Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.”  (Al Anfal : 72)

Kecuali bila menetapnya di Daarul Kufri serta taqshirnya akan hijrah yang wijib ke Daarul Islam diserta: Pembelaan dia terhadap kaum musyrikin dan sikap perangnya terhadap kaum muslimin, maka saat itu bara’ah darinya adalah bara’ah total yang mengkafirkan.

Ibnu Hazm berkata setelah menuturkan hadits di atas: (Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bara’ kecuali dari orang kafir. Allah Tabaraka Wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. “ (At Taubah: 71)

Terus beliau berkata: (Maka sahlah dengan hal ini bahwa orang yang bergabung dengan Daarul Kufri wal Harbi dengan sukarela seraya memerangi orang-orang yang dekat dengannya dari kalangan kaum muslimin, maka ia dengan perbuatan ini murtad, baginya berlaku hukum-hukum orang murtad seluruhnya, seperti wajibnya dibunuh dikala kuasa atasnya, halal hartanya, lepas pernikahannya dan yang lainnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bara’ dari orang muslim. Dan adapun orang yang lari ke negeri harbi karena kezhaliman yang dia khawatirkan dan ia tidak memerangi kaum muslimin dan tidak membantu orang-orang kafir) atas kaum muslimin, serta ia tidak mendapatkan pada kaum muslimin orang yang melindunginya, maka ini tidak ada dosa atasnya karena ia terpepet lagi mukrah (terpaksa)) Al Muhalla 13/138-139.

Dan ia jelas menerangkan bahwa luhuq (bergabung) ke Daarul Kufri hanya bisa menjadi kekafiran bila disertai pemerangan terhadap kaum muslimin, bantuan terhadap orang-orang kafir serta menyokong mereka atas kaum muslimin. Sehingga ia bisa berlaku bagi para pendukung kemusyrikan yang memerangi dien ini atau orang yang membantu kaum musyrikin dan kafirin atas para muwahhidin, bukan semua orang-orang yang menetap di Daarul Kufri.

Kemudian Ibnu Hazm berkata: (Dan telah kami sebutkan bahwa Az Zuhriy Muhammad Ibnu Muslim Ibnu Syihab telah berazam bahwa bila Hisyam Ibnu Abdul Malik mati, maka ia akan pergi ke negeri Romawi karena Al Walid Ibnu Yazid telah nadzar untuk membunuhnya bila ia menangkapnya, sedangkan ia itu adalah penguasa setelah Hisyam, maka orang yang seperti ini adalah diudzur.

Dan begitu juga orang yang tinggal di negeri India, Sind, Turki, Sudan dan Romawi dari kalangan kaum muslimin, bila ia tidak mampu keluar dari sana karena beratnya beban atau sedikitnya harta atau lemahnya badan atau tercegahnya jalan maka dia itu diudzur.

Kemudian bila ia di sana memerangi kaum muslimin lagi membantu orang-orang kafir dengan khidmat (layanan) atau tulisan maka ia kafir.“

Awas anda memahami dari ucapannya: (Lagi membantu orang-orang kafir dengan layanan atau tulisan maka ia kafir) takfier dengan sebab sekedar membantu  orang-orang kafir dengan hanya pelayanan atau tulisan, sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian para ghulat. Anda sudah lihat bagaimana Ibnu Hazm mengaitkan bantuan ini dengan memerangi kaum muslimin, inilah yang merupakan kekafiran, yaitu memerangi kaum muslimin, membela orang-orang kafir serta nushrah mereka atas kaum muslimin dalam memerangi mereka walau dengan tulisan dan yang lainnya, bukan sekedar khidmah mereka dan menuliskan buat mereka, maka hal ini ada rincian di dalamnya yang akan datang dalam rincian bekerja  pada orang kafir.

Kemudian beliau rahimahullah berkata: (Dan bila ia menetap di sana hanya untuk mendapatkan dunia, dan ia seperti dzimmi bagi mereka, sedangkan dia mampu bergabung dengan golongan kaum muslimin dan tanah mereka, maka ia tidak jauh dari kekafiran, dan kami tidak melihat baginya udzur serta kami memohon ‘afiyah kepada  Allah. Dan tidak seperti itu orang yang tinggal dalam ketaatan terhadap ahlul kufri dari kalangan orang-orang yang ghuluw (kepada manusia) dan orang yang sejalan dengan mereka, karena tanah Mesir dan Qairuwan (beliau mengisyaratkan kepada Ubaidiyyin) serta yang lainnya maka sesungguhnya Islam adalah yang nampak (di sana) dan para penguasanya bagaimanapun tidak terang-terangan dengan sikap keberlepasan diri dari Islam, justru mereka itu mengaku Islam walaupun hakikat sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir.

Dan adapun orang yang tinggal di Negeri Qaramithah secara sukarela, maka dia itu kafir tanpa ragu lagi, karena Qaramithah terang-terangan dengan kekafiran dan meninggalkan Islam, wa na’udzu billah min dzalik.

Dan adapun orang yang tinggal di negeri yang tampak di dalamnya sebagian bid’ah yang mengeluarkan kepada kekafiran, maka ia tidak kafir karena nama Islam adalah yang nampak di sana bagaimanapun keadaannya berupa tauhid, pengakuan akan risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bara’ dari setiap ajaran selain dien Islam, penegakkan shalat, shaum Ramadhan dan syariat-syarait lainnya yang mana ia adalah Islam dan Iman. Wal hamdu lillahi Rabbil Alamin). Selesai..

Dan sudah maklum bahwa ini semuanya adalah saat ada payung Daarul Islam.

Perhatikan pertimbangan Ibnu Hazm terhadap penampakkan syariat-syariat Islam dan kekhususan-kekhususan yang besar seperti tauhidullah, pengakuan akan keNabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, penampakkan shalat dan shaum Ramadhan, dan pengakuan para penguasanya terhadap Islam serta mereka tidak bara’a darinya, padahal mereka itu sebenarnya adalah kafir. Perhatikan pertimbangan beliau akan hal itu dalam pembolehan bagi orang muslim untuk muqim –atau minimal tidak mentakfirnya– karena muqimnya dia di Daar Kufr yang sifatnya seperti itu dan keadaan para penguasanya seperti ini. Dan tidak menolak keserupaaan negeri-negeri kaum muslimin pada masa sekarang dengan hal ini kecuali orang yang keras kepala.

Dan begitu juga hadits yang disebutkan tentang sikap bara’a  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang yang menetap di antara kaum musyrikin, maka sungguh telah di katakan bahwa itu dalam payung adanya Daar Islam, bahkan telah di katakan bahwa itu di saat status hijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib sebelum Futuh Mekkah, namun dengan ini semua beliau tidak mengkafirkan orang-orang macam mereka dengan sekedar Iqamah mereka di tengah kaum musyrikin, meskipun mereka itu berdosa dan di kenakan sangsi dengan kurangnya nilai kehormatan mereka serta lemah dan kurangnya perwalian mereka.

Bila ternyata tidak ada Daarul Islam yang bisa dijadikan tempat hijrah oleh orang muslim, maka sesungguhnya dia itu diudzur dengan Iqamah dia di Daarul Kufri bila dia bertaqwa kepada  Allah dan menjauhi syirik serta (menjauhi) membantu ahlusy syirki atas kaum muslimin karena tidak ada jalan ke Daar Islam yang bisa dijadikan tempat hijrah sehingga dia berdosa dengan sebab taqshirnya dalam hal itu, apalagi dari bisa  dikafirkan.

Maka bagaimana bila Iqamah dia di Daarul Kufri sedangkan keadaannya seperti itu, dalam rangka membela dienillah dan idhhar/menampakan tauhid serta memberantas syirik dan tandid? maka tidak ragu bahwa orang muslim seperti ini adalah muhsin yang dapat pahala lagi menegakkan dienullah tabaraka wa ta’ala.

Dan dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan dari sekian belas/banyak sahabat dengan lafadh-lafadh yang berdekatan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Akan senantiasa segolongan dari umatku nampak di atas pertolongan Allah, mereka tidak terusik oleh orang yang menyelesihi mereka dan oleh orang yang menggembosi mereka sampai datang ketentuan  Allah”.

Dan seperti hal itu hadits yang lain: (Kuda itu diikatkan kebaikan pada kepalanya hinga hari kiamat,  pahala dan ghanimah). Ia ada dalam Shahih Al Bukhari.

Dua hadits ini menunjukan adanya kaum muslimin yang jujur dan para mujahid hingga hari kiamat, serta kesinambungan keberadaan mereka dalam setiap kondisi dalam payung adanya Daarul Islam dan saat tidak adanya, bahkan para ulama telah menetapkan wajib menetapnya orang muslim di Daarul Kufri bila memiliki kesempatan untuk merubah menjadi Daarul Islam, sebagaiman ada dalam Mughnil Muhtaj karya Asy-Syarbini 4/239: (Dan seandainya dia mampu mempertahankan diri di Daarul Harbi dan mengasingkan diri maka wajib dia menetap di sini, karena tempatnya adalah Daar Islam, sehinga andai ia hijrah tentu jadi Daar harb maka hijrah itu haram. Ya bila ia mengharapkan pembelaan kepada kaum muslimin dengan hijrahnya maka lebih utama baginya berhijrah, ini dikatakan oleh Al-Mawardiy -dan ia telah lalu- kemudian dalam iqamahnya di sana ia bisa berperang di atas Islam dan mendakwahkannya bila ia mampu, dan bila tidak seperti itu maka tidak (utama).

Dan beliau menukil dalam Raudlatuth Thalibin 10/282 Dari penulis Al-Hawi ucapannya: (Bila ia mengharapkan nampaknya Islam dengan muqimnya di sana, maka lebih utama baginya untuk menetap. Beliau berkata: (Dan seandainya dia mampu mempertahankan diri di Daarul Harbi dan mengasingkan diri maka wajib dia menetap di sini, karena tempatnya adalah Daar Islam, sehinga andai ia hijrah tentu jadi Daar Harb, maka hijrah itu haram, kemudian bila ia kuasa untuk memerangi orang-orang kafir dan mendakwahi mereka kepada Islam maka wajib hal itu atasanya, dan kalau tidak maka tidak, Wallahu ‘Alam).

Perhatikan pengwajiban mereka untuk menetap di Daarul Kufri dalam keadaan seperti ini. Jadi mana orang yang berlebih-lebihan lagi mengkafirkan dengan hal itu dari ini semua.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath: (Dan di dalamnya –yaitu hadits tentang kuda– ada kabar gembira akan keberadan Islam dan pemeluknya hingga hari kiamat, karena termasuk kelaziman adanya jihad adalah adanya mujahidin sedangkan mereka itu muslimin. Dan ia persis seperti hadits lain “(Senantiasa ada sekelompok Dari umatku yang berperang di atas kebenaran)”. Dari Kitabul Jihad Was Sair (Bab Al Jihad Madlin Ma’al Barri Wal Fajir).

Dan hampir dekat dengannya hadits Hudzaifah yang muttafaq alaih (Bila mereka tidak mamiliki jama’ah dan imam?) Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (Tinggalkan firqah-firqah itu semuanya walau engkau menggigit akar pohon sampai engkau dijemput kematian sedangkan engkau di atas itu).

Di dalamnya ada faidah bahwa tidak ada pengaruh bagi lenyapnya Jama’atul Muslim atau imamnya -sedang ini adalah elemen-elemen Daarul Islam- dan tidak ada kaitannya bagi hal itu dalam keIslaman atau kekafiran seseorang. Dan tolak ukur yang mana hal itu berkaitan dengannya adalah hanya penampakan dia terhadap suatu sebab dari sebab-sebab kekafiran.

Maka ini semuanya menunjukan bahwa orang muslim bila berada di Daarul Kufri dan tidak hijrah darinya ke Daarul Islam karena kelemahan atau ada penghalang yang menghalanginya atau karena dia memiliki kesempatan untuk Idhhar/menampakan dien di Daarul Kufri atau karena ia menegakkan Jihad dan membela dien, maka dia muslim yang terjaga darah dan hartanya.

Apa lagi orang muslim yang menetap di Daarul Kufri dalam kondisi tidak adanya Daar Islam yang bisa dijadikan tempat hijrah sama sekali, karena Allah tabaraka wa ta’ala tidak mengaitkan hukum-hukum takfier dengan hal-hal yang memaksa yang tidak ada upaya hamba di dalamnya, namun Dia subhanahu wa ta’ala hanya mengaitkannya dengan sebab-sebab dhahir yang baku –sebagaimana yang lalu– yang terbatas pada ucapan atau perbuatan mukaffir dari upaya si mukallaf. Dan selama seseorang tidak menampakkannya dari hal itu maka tidak ada alasan untuk mengkafirkannya dengan hal-hal diluar keinginannya selama dia memiliki Ashlul Islam.

Dan kesimpulannya adalah bahwa isthilah Daarul Kufri itu tidak ada pengaruhnya dalam menghukumi para penduduk negeri itu, terutama di saat bumi ini seluruhnya telah menjadi negeri kafir baik kafir asli atau baru (murtad) karena pendominasian orang-orang kafir dan hukum-hukum mereka atas semua negeri.

Dan hal itu semakin kuat bila negeri yang disifati dengan isthilah ini adalah Daar Kufr Thari’, yaitu bahwa ia sebelumnya adalah Daar Islam dan mayoritas penduduknya masih mengaku Islam. Ini adalah hal yang luput dan dilalaikan oleh banyak kaum yang bersemangat tinggi, mereka tidak membedakan antara Daarul Kufri Al Ashliyyah yang mana biasanya para fuqaha memberlakukan statusnya sesuai status negeri itu di dalam sebagian masalah, dengan Daarul Kufril Hadits (baru) yang asalnya milik orang-orang muslim terus orang-orang kafir menguasainya. Sesungguhnya para Fuqaha menetapkan hukum asal di dalamnya bagi majhulul hal (orang yang tidak diketahui keadannya) yang tidak ada jalan untuk mengetahui keadaan -seperti mayyit, anak hilang dan orang gila- dengan hukum asal Islam dan ‘Ishmah (keterjagaan darah dan harta) dalam rangka hati-hati terhadap kehormatan muslimin dan sebagai penjaga akan darah mereka walaupun hanya satu orang muslim saja di sana, karena Islam itu tinggi dan tidak ada yang tinggi di atasnya, bahkan sebagian ulama menetapkan hukum asal Islam bagi keadaan seperti itu walau tidak ada satu muslimin pun yang nampak di dalamnya karena ada kemungkinan di dalanya terdapat mu’min yang menyembunyikan imanya.[8]

An Nawawi menukil dari Ar Rafi’iy dalam Raudhatuth Thalibin ucapanya dalam konteks ucapan beliau tentang laqith (anak yang ditemukan) di suatu negeri dan status hukum baginya dengan taba’iyyah (diikutkan dengan status negeri itu), bahwa Daarul Islam ada tiga macam   :

Pertama: Negeri yang dihuni kaum muslimin, maka laqith yang ada di dalamnya adalah muslim, meskipun di dalamnya ada kafir dzimiy, sebagai bentuk pendominanan kekuasaan Islam.

Kedua: Negeri yang dibuka oleh kaum muslimin dan mereka mengakuinya berada di tangan orang-orang kafir dengan jizyah, di mana bisa jadi mereka diberikan kepemilikan terhadapnya atau berdamai dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai pemilikinya, maka laqith di dalamnya adalah muslim walau hanya ada satu muslim atau lebih di dalamnya. Dan kalau tidak ada muslim maka si laqith itu kafir menurut pendapat yang shahih, dan ada yang berpendapat bahwa dia itu muslim karena ada kemungkinan bahwa dia itu anak orang yang menyembunyikan Islamnya di antara mereka.

Ketiga : Negeri yang pernah dihuni kaum muslimin kemudian mereka terusir darinya dan orang-orang kafir menguasainya, bila di dalamnya tidak ada orang yang diketahui keIslamannya, maka dia itu kafir menurut pendapat yang shahih. Dan Abu Ishaq berkata: Dia itu muslim karena kemungkinan ada muslim yang menyembunyikan Islamnya di sana. Dan bila ada orang yang diketahui keIslamannya di sana maka dia muslim.

Ini tentang keadaan-keadaan Daarul Islam, adapun tentang Daarul Kufri yang asli, maka beliau berkata: (Daarul Kufri, bila tiada muslim di dalamnya, maka si laqith yang ada di sana dihukumi kafir. Dan apabila di sana ada para pedagang musllim yang tinggal, maka apakah di hukumi kafir seraya mengikuti status negeri atau atau dihukumi muslim sebagai bentuk pendominan akan Islam? ada dua pendapat, yang paling shahih dari keduanya adalah yang kedua….).

Perhatikan kehati-hatian para ulama dan sikap mereka menetapkan dominasi Islam saat ada isykal termasuk di Daarul Kafri ashliyyah sebagai bentuk penghormatan akan kehormatan kaum muslimin dan sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga darah mereka; maka lebih utama lagi di Daarul Kufri Ath Thari’ (tiba-tiba mendadak) yang mayoritas penduduknya mengaku Islam.

Bagaimanapun keadaannya, selagi isthilah ini hanyalah dilontarkan para fuqaha dalam rangka penunjukan bahwa ghalabah (dominasi) dan pengendalian di negeri itu berada di tangan orang-orang kafir dan hukum-hukum mereka, maka tidak sah sedangkan keadan seperti itu penetapan kaidah pokok (bahwa hukum asal manusia adalah kekafiran) atas dasar isthilah ini terutama di Daarul Kufri Ath Thari’ah yang mayoritas penduduknya mengaku muslim dan menampak cirri-ciri khususnya.

Karena selama isthilah ini tidak dikaitkan dan tidak digantungkan terhadap para penduduk negeri dan macam agamanya, maka bagaimana bisa sah ta’shil (penetapan hukum asal) terhadap kepemelukan agama mereka di atasnya. Ta’shil maknannya menjadikan hukum asal sebagian acuan, seandainya isthilah ini dikaitkan dengan agama mayoritas penduduk negeri itu tentulah ta’shil ini memiliki jalan masuk. Oleh sebab itu sesunguhnya para fuqah bila berbicara tentang Daarul Islam yang mana ahlul kitab diwajibkan di dalamnya mengenakan pakaian yang berbeda dan orang murtad  tidak diakui sama sekali di dalamnya, atau bila mereka berbicara tentang Daarul Kufri Al-Ashliyyah yang mana Islam belum masuk ke dalamnya dan mayoritas penduduknya bukan kaum muslimin, engkau bisa melihat mereka menggunakan taba’iyyah (sifat pengikutan) terhadap Daar dalam sebagian bidang-bidang yang sempit saat tanda dhahir dan ciri tidak ada, serta sulit mencari kejelasan keadaan orang, seperti laqith, atau orang gila atau mayit yang tidak jelas statusnya, ia ditemukan di salah satu dua negeri dan tidak diketahui oleh seorangpun statusnya serta tidak ada ciri khusus yang menujukan akan dienya, maka mereka menyamakannya dengan negeri itu dalam keadaan seperti  ini… yaitu bahwa mereka mengambil hukum asal agama penduduk negeri itu di dalamnya, bukan sekedar isthilah yang mengikuti ghalabah dan hukum (yang berkuasa) saja sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw di dalam takfier, dan itu mereka terapkan di dalam Daarul Kufri Ath Athariah.

Dan bagaimanpun keadaannya, sungguh masalah hukum dengan taba’iyyah yang telah dibahas oleh para fuqah adalah tidak ada hubungannya dengan bahasan yang sedang kita bantah. Ia bukan untuk orang yang menampakkan sesuatu dari tanda-tanda Islam dan cirri-ciri khususnya, namun ia malah dikafirkan, sebagimana yang dilakukan oleh para ghulat sebagai penerapan kaidah ini, namun itu terbatas pada orang yang majhulul hal (tidak di ketahui keadaannya) yang sulit dari mencari kejelasan statusnya karena tidak adanya ciri dan karena ia masih keci, atau sudah mati, atau hilang akalnya, dan di sana tidak ada orang yang mengakuinya baik ayah atau wali agar diikutkan kepada mereka. Dan oleh karena itu para fuqah menegaskan bahwa di kala nampak padanya satu tanda yang menujukan dirinya atau ia diakui oleh seseorang, maka tanda dhahir ini didahulukan atas istishhab itu (hukum asal yang ada), dan karena itu mereka mendahulukan  tabi’iyyah kepada kedua orang tua terhadap taba’iyyah kepada negeri.[9]

Dan itu dikarenakan istishhab ini sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ulama ushul adalah dalil yang paling lemah, dan ia tidak dipakai kecuali saat tak mampu menetapkan dhahir

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah: (Yang nampak itu didahulukan atas istishhab. Dan atas hal ini seluruh masah-masalah syari’at  (di tetapkan).

Dan dalam tempat yang sama beliau berkata: (Berpegang pada sekedar penggunaan hukum asal keadaan yang tidak ada adalah dalil paling lemah secara muthlaq serta dalil paling rendah yang dilakukan tarjih di atasnya) sehingga ucapanya: (Dan tidak boleh memberi tahu akan tidak adanya sesuatu dengan sekedar istihshabul hal tanpa bersandar kepada sesuatu yang menunjukan ketidakadaan, dan barangsiapa yang melakukan hal itu maka dia adalah dusta lagi berbicara tanpa dasar ilmu).

(Tidak mengetahuinya dia bukanlah ilmu akan ketidak adaanya) …. ( Dan macam dalil yang menunjukan terhadap pembuktian sesuatu adalah dalil yang lebih kuat dari sekedar pengambilan hokum asal ketidakadaan). Ikhtishar Dari Majmu Al Fatawa 23/13.

(Sesunguhnya kaum muslimin telah ijma’ dan itu diketahui secara pasti dari dienul Islam, bahwa tidak boleh bagi seorang untuk meyakini dan menfatwakan dengan landasan istishhab dan penafian ini, kecuali setelah mencari dali-dalil yang khusus, bila ia memang tergolong ahli hal itu, karena (semua) apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan adalah merubah istishhab ini, maka ia tidak dijadikan pegangan kecuali setelah melihat (meninjau) dali-dali syar’iy bagi orang yang ahlil hal itu). Majmu Al Fatawa 29/90.

Ibnu Qayyim berkata: (Kesaksian dari oang adil baik lagi laki-laki maupun perempuan adalah  lebih kuat dari istishhabul hal, karena sesungguhnya istishhabul hal itu adalah tergolong bukti yang paling lemah, oleh karenanya bisa ditolak dengan dengan pencabutan pernyataan, dan terkadang dengan sampah yang tertolak dan dengan saksi serta sumpah dan indikasi keadaan ). A’lamul Muwaqqi’in  1/96.

Perhatikan ini … pada hal sesungguhnya para fuqaha hanya memakai istishhab itu atau ta’shil tersebut dalam bidang yang sempit yang telah engkau ketahui di saat tidak ada qarinah-qarinah yang membedakan dan tidak diketahui dhahirnya, namun demikian ta’shil dan istishhab mereka ini adalah lemah, bisa dirubah oleh dalil  yang paling rendah, atau ciri atau dhahir atau kesaksian atau yang lainnya. Maka apa gerangan dengan kaidah itu dan ta’shil yang telah dilontarkan orang-orang yang ghuluw di dalam takfier lagi ngawur terhadap seluruh umat Islam, dan mereka tidak mempertimbangkan di dalamnya apa yang ditampakan oleh orang-orang shalih di antara mereka atau para mujahidin atau kaum mustadl’afin berupa syiar-syiar Islam dan cirri-ciri khususnya?

Mereka mengedepankan kaidah asal mereka yang bersandarkan kepada sekedar isthilah nama yang tidak ada hubungannya dengan agama manusia  (di negeri itu) terhadap hal dhahir yang terang dan apa yang dilakukan terang-terangan dari ucapan-ucapan manusia, amalan-amalan mereka serta syiar syiar Islam mereka, sedangkan Daar itu adalah Daar kufri thari’ah bukan  Daar kufri ashliyyah…

Maka tidak ragu bahwa  ta’shil mereka ini adalah sangat lemah dan sangat lemah, maka apa gerangan bila mereka menambahkan kepadanya dan membangun di atasnya penghalalan darah, harta dan kehormatan. Sesungguhnya ia adalah kebatilan yang murni yang mana kami berlepas diri kepada  Allah darinya…

TANBIH

Sesunguhnya kaidah (Hukum asal pada balatentara thaghut dan Ansharnya adalah kafir ) adalah benar lagi tidak ada cacat di atasnya.

Perlu dikatakan di sini bahwa kita meskipun mengingkari tha’shil  (penetapan hukum asal ) yang lalu, akan tetapi sesungguhnya perkataan dan pengingkaran kita ini tidak berlaku bagi bala tentara thaghut dan ansharnya, karena kaidah yang berkenaan dengan  mereka itu bagi kami adalah (bahwa hukum asal bagi mereka adalah kafir) sampai nampak bagi kita hal yang menyelisihi hal itu, karena ta’shil ini berdiri di atas nash dan indikasi dhahir bukan atas sekdaar taba’iyyah terhadap Daar, karena dhahir pada tentara thaghut, polisinya, intelejenya, dan dinas keamanannya adalah bahwa mereka itu tergolong wali wali syirik dan kuum musyrikin.

Merekalah mata yang menjaga undang-undang buatan yang kafir, mereka itu yang menjaganya, mengkokohnya dan menegakkanya senjata dan kekuatan mereka.

Mereka juga sebagai pelindung dan pancang-pancang yang mengkohkan tahta para thaghut dan yang menjadi sandaran para thaghut dalam menolak komitmen dengan syariat-syariat Islam dan dari tahkimnya.

Mereka adalah kekuatan thaghut dan ansharnya yang membantunya dan membelanya untuk menetapkan syariat-syariat kafir dan pembolehan hal-hal yang diharamkan berupa kemurtadan dan riba, khamr dan zina dan yang lainnya.

Mereka adalah orang-orang yang menghadang di depan setiap orang yang keluar dari kalangan hamba-hamba  Allah seraya mengingkari kekafiran dan kemusyrikan para thaghut, yang berupaya menerapkan syariat  Allah dan membela dien-Nya yang ditelantarkan lagi dihinakan.

Inilah hakikat pekerjaan mereka, jabatannya dan amalannya yang teringkas dalam dua sebab dari sebab-sebab kekafiran yang nyata yaitu     :

²     Membela kemusyrikin (Dengan cara tawalli kepada Undang-undang dan aturan kafir lagi thaghuti)[10].

²     Membela kaum musyrikin, tawalli kepada mereka dan membela mereka atas kaum muwahhidin[11].

Dan nash-nash yang menujukan bahwa dua hal ini adalah dua sebab Dari sebab-sebab kekafiran yang nyata adalah nampak lagi jelas, dan kami telah merincinya dalam selain tempat ini. Dan kami disini tidak bermaksud mereincinya, namun hanya mengingatkan pada (hukum) asal yang telah disebutkan.

Sungguh  Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan di hadapan kita hukum asal pada para pendukung orang-orang kafir dan auliya mereka seluruhnya, hukum asal yang paten dalam firman-Nya tabaraka wa ta’ala:

Orang-orang kafir berperang di jalan thaghut”. (An-Nisa: 76)

Dan firman-Nya:

“Dan siapa yang tawalli kepada mereka di antara kalian maka sesungguhnya ia tergolong mereka”. (Al-Maidah: 51)

Hukum asal pada setiap orang yang menampakkan tawalli kepada orang-orang kafir dan membela mereka atau orang yang berperang di jalan thaghut atau ia berada di barisannya dan pihaknya, dan orang yang menampakkan nusrahnya dengan lisan dan senjata-senjata bahwa ia tergolong kalangan orang-orang yang kafir.

Dan oleh karena itu, maka sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perlakuannya terhadap orang-orang kafir harbi dan terhadap ansharnya, auliyanya dan koalisinnya yang membantu orang-orang kafir atas kaum muslimin adalah atas dasar hukum asal ini.

Sebagai contoh silahkan lihat perlakuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Al ‘Abbas sebagaimana perlakuan terhadap orang-orang kafir padahal dia itu mengaku Islam tatkala ditawan di barisan-barisan musyrikin pada perang Badar dan hal seperti ini lihat juga pada apa yang diriwayatkan Muslim dalam kitab An-Nudzur (1008) dari Al Mukhtashar dari Hadits Umran Ibnu Hushain tentang kisah orang laki-laki dari Bani ‘Uqail sekutu Tsaqif tatkala ia ditawan oleh kaum Muslimin dengan sebab pelanggaran sekutunya tatkala Tsaqif melanggar perjanjiannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melepaskannya walaupun dia mengaku Islam, namun justru beliau memperlakukannya dengan perlakuan orang-orang kafir, untanya dijadikan ghanimah dan dijadikan tebusan bagi dua orang tawanan muslimin.

Dan itulah yang dilakukan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelahnya terhadap setiap orang yang memiliki kekuatan yang keluar dari syariat  Allah tabaraka wa ta’ala.

Lihat tindakan mereka pada kekhilafahan Abu Bakar terhadap Anshar Musailamah Al Kadzdzab dan kaum murtaddin lainnya seperti anshar Thulaihah Al Asadiy. Para sahabat telah mengkafirkan mereka seluruhnya dan mereka menyikapinya dengan satu sikap serta tidak ada satu sahabatpun yang menyelisihi dalam hal itu.

Dari itu para ulama muhaqqiqin memuthlakan ucapan akan penghalalan darah dan harta kaum muharibin dan anshar mereka. Dan mereka menjadikan hukum penopang (arrid-u) di antara mereka seperti hukum al mubasyir (orang yang langsung terjun) dari mereka.[12] Dan di dalam Al Mughniy (kitabul jihad) (Pasal, siapa yang ditawan terus mengaku bahwa dia muslim, maka tidak diterima ucapannya kecuali dengan bayyinah (bukti), karena dia mengaku sesuatu yang mana dhahir keadaannya menyelisihinya). 8/261, dan beliau menyebutkan di dalamnya kisah Sahl Ibnu Baidla dalam perang Badar, dan ia akan datang.

Perhatikan bagaimana beliau menjadikan hukum asal pada orang yang menampakkan sikap keberpihakan (inhiyaz) terhadap bala tentara orang-orang kafir sampai dia ditawan (saat ada) dalam barisan mereka, hukum asalnya adalah kufur, yang mana klaim yang menyelisihinya tidak diterima -sebagaimana dalam kisah tertawannya Al ‘Abbas juga- sehingga tegak bukti yang merubah hukum asal yang nyata ini.

Dari itu, sesungguhnya hukum asal -menurut kami- pada setiap orang yang Intisab terhadap lembaga dan alat ini yang mana hakikatnya nushratusy syirki dan ahlinya adalah kufur, sehingga kami menghukumi setiap individu dari mereka dengan hukum kafir dan kami berlakukan terhadapnya hukum-hukum kufur dengan sebab apa yang mereka tampakkan berupa sebab-sebab kekafiran, selama tidak nampak bagi kita suatu yang menyelisihi hal itu berupa adanya mani’ (penghalang) yang mu’tabar dari mawani’ takfier pada diri orang yang mengaku Islam dari mereka, sehingga kita mengecualikannya. Dan telah saya jelaskan bahwa tabayyun akan mawani’ pada diri al mumtani’in yang memerangi adalah tidak wajib karena imtina’ (penolakan) mereka dan muharabahnya, namun bila nampak bagi kita sesuatu dari hal itu pada diri sebagian mereka, maka kita tidak mengkafirkannya. Dan selama hal itu tidak nampak maka hukum asal yang nampak bagi kami dari mereka adalah kufur sedangkan hakikat urusan batin mereka adalah diserahkan kepada  Allah subhanahu wa ta’ala, dan bukan diserahkan kepada kita, kita telah diperintahkan untuk menghukumi berdasarkan dhahir, dan kita tidak diperintahkan merobek dada manusia dan batinnya, dan dikarenakan asal pekerjaan ini dan dhahirnya adalah apa yang telah engkau ketahui, sehingga kita memperlakukannya dan menetapkan hukum asal bagi mereka atas dasar dhahir ini sampai nampak bagi kita apa yang menyelisihinya, berbeda dengan tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan yang asal tabiatnya dan hakikatnya bukan nushrah syirik atau ahlinya, maka oleh sebab itu kita tidak mengatakan sesungguhnya hukum asal pada para dokter adalah kafir umpamanya sehingga nampak bagi kita hal yang menyelisihi itu, dan tidak pula kita katakan bahwa hukum asal pada para guru adalah kufur atau bahwa asal pada pekerjaan dinas di negara kafir semuanya adalah kufur…Tidak sama sekali, pekerjaan-pekerjaan ini sebagaimana yang akan datang ada rinciannya, di mana hakikat semuanya dan tabi’atnya tidaklah nushrah syirik dan ahlinya. Ya bisa saja ada pada orang yang memegang pekerjaan ini orang yang mana ia tergolong anshar syirik dan ahlinya, namun ini bukan khusus dengan hakikat tugas ini, sebagaimana ada dari kalangan bukan pegawai negeri ada orang yang tergolong anshar syirik dan ahlinya.

Ringkasan: Sesungguhnya ta-shil ini bila pada tugas atau pekerjaan yang hakikatnya ia adalah satu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang nyata, seperti nushratusy syirky dan ahlinya atau tsyri’i sesuai UUD dan kekafiran-kekafiran nyata lainnya, maka ta-shil ini adalah tidak bermasalah bagi kita, dan maknanya: Memberlakukan hukum dhahir terhadap orang-orang yang bekerja di dinas ini dan menyerahkan hukum-hukum batinnya kepada  Allah tabaraka wa ta’ala.


[1] Lihat Al Mugni (Kitab Al Murtad), (Fasal: Dan tidak dihukumi hilangnya kepemilikan orang murtad dengan sekeDaar riddahnya …)

[2] Dari sebab guluw itulah maka lahir ide dan anggapan bahwa jika Daar atau negeri itu kafir –penduduk mayoritas Islam tapi hukum yang berjalan hukum jahiliyyah­- maka penduduknya dianggap kafir secara menyeluruh. Ini tidak diragukan lagi bahwa Pentakfieran model ini adalah hasil cloning Dari pemahaman khawarij Ekstrim masa kini, Ed-

[3]A- Yaitu bahwa tolak ukur sifat-sifat itu bukanlah daar itu, akan tetapi adanya sifat-sifat itu dan pengharusnya adalah ada pada diri orangnya di mana saj dia berada

B- Hadits “kamu ucapkan salam terhadap orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal”muttafaq alaih

[4] Lihat Al Badayah Wan Nihayah 6/808

[5] Bahkan diriwayatkan bahwa mereka melakukan hal itu atas perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa beliau mengirimkan utusan kepada mereka seraya memerintahkan mereka untuk tegak melaksanaan dien mereka dan bangkit untuk perang dan menghabisi Al Aswad, lihat Tarikh Thabari dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Fairuz  tatkala sampai kepadanya berita pembunuhan Al Aswad saat beliau sedang sakit para h shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[6] Tarikh Al Khulafa hal 13, Misya Al Yahudi adalah gubernur di Syam dan Ibnu Nasthur An Nashrani adalah gubernur di Mesir.

[7] Dalam riwayat Al Baihaqi 9/12-13 dan lainnya. Di dalamnya ada an’anah Al Hajaj Ibnu Astha’ah (Siapa yang muqim bersama kaum musyrikin, maka dzimmah telah lepas darinya).

[8] Lihat sebagai contoh Al Mughni (kitab Al Laqith) (Fashl wala yakhlu al latqih min an yafada Fi Daar Islam au Fi Daar kufr…) dan lihat raudhatuth thalibin 5/433-434

[9] Lihat sebagai  contoh Al Mughni  (Kitabul Murtad) (Masalah: Dan begitu juga orang yang mati dari kedua orang tua di atas kekafirannya…)

[10] Undang-Undang mereka sendiri telah menegaskan bahwa tabi’at tugas aparat ini dan muhimmah intinya adalah: menjaga undang-undang, menegakkannya serta loyalitas kepada ahlinya.

[11] Setiap orang yang ingin menggulingkan undang-undang, falsafah, dan asas kekafirannya maka merekalah yang terdepan dan yang paling bersemangat untuk menjerat, memenjarakan dan menumpahkan darah muwahhidin dan mujahidin. (pent)

[12] Lihat Al mughniy 8/297, dan perhatikan alasan yang beliau kemukakan untuk kesamaan ar Rid-u dengan Al mubasyir dalam hukum-hukum muharabah (memerangi): Bahwa penyerangan itu dibangun di atas adanya man’ah (ketahanan), dukungan, dan munasharah (saling membela ), di mana Al Mubasyir (yang langsung terjun) tidak bisa berbuat kecuali dengan kekuatan ar rid-u.

Seri ke 2 Tidak Membedakan Antara Takfier Muthlaq Dengan Takfier Mu’ayyan atau Antara Kufur Nau’ dengan Kufrul ‘Ain.


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

(1)

Tidak Membedakan Antara Takfier Muthlaq

Dengan Takfier Mu’ayyan atau Antara Kufur Nau’ dengan Kufrul ‘Ain.

Ini dikarenakan banyak dari kalangan para pencari ilmu yang masih pemula tidak membedakan antara Ithlaqat (lontaran-lontaran) banyak para ulama dalam kitabn-kitabnya, seperti: “penghikayatan Ibnul Qayyim rahimahullah dari lima ratus para ulama islam, bahwa mereka mengkafirkan orang yang mengingkari istiwa (Allah bersemayam di atas ‘Arasy) dan justru mengklaim bahwa ia itu bermakna istilaa (menguasai)” atau seperti ucapan mereka “Siapa yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluq, maka dia telah kafir” atau “Siapa yang mengatakan bahwa  Allah ada di mana-mana, maka dia telah kafir”.

Dan sama seperti ini pula apa yang pernah kami lontarkan berupa lontaran-lontaran tentang sebagian orang yang melakukan atau mengucapkan hal-hal yang bisa membuatnya kafir (Sesungguhnya si Fulan telah jatuh dalam Mukaffirat ) atau (dia telah melakukan atau mengucapkan kekafiran) sungguh sebagian para pemula menisbatkan kepada kami pengkafiran orang-orang mu’ayyan itu dengan sebab lontaran-lontaran seperti ini, padahal itu tidak pernah kami katakan atau kami maksudkan sama sekali.

Dan begitu juga lontaran-lontaran para ulama tentang aliran-aliran yang menyimpang dari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti ucapan mereka “Jahmiyyah adalah kafir” atau “Qadariyyah adalah kafir” atau yang lainnya.

Mereka tidak membedakan antara hal ini dengan penerapan hukum-hukum ini terhadap orang-orang mu’ayyan sehingga bisa saja mereka mengkafirkan setiap orang yang mana mereka mendengar darinya sesuatu dari ucapan-ucapan ini atau mereka membacanya dalam kitab-kitab dan tulisan-tulisannya sampai-sampai saya mendengar di antara mereka ada orang yang mengkafirkan banyak para ulama karena keterjerumusan mereka dalam suatu dari pentakwilan sifat-sifat  Allah, seperti Al Hafidh Ibnu Hajar, An Nawawi dan yang lainnya, serta dari kalangan ulama masa kini adalah Sayyid Quthb[1] dan yang lainnya ini semua termasuk sikap ngawur dan tasarru’ (tergesa-gesa) yang akibatnya tidak terpuji.

Dan yang benar menurut para ulama muhaqqiqin bahwa mereka meskipun melontarkan lontaran-lontaran itu terhadap paham-paham atau aliran-aliran yang menganutnya, akan tetapi mereka tidak menerapkan hukum takfier terhadap orang mu’ayyan  kecuali setelah melihat syarat-syarat dan mawani’ takfier. Dan di antara hal itu adalah apa yang telah sering disebutkan oleh Syakhul Islam dalam Al-Fatawa bahwa “Jahmiyyah itu telah dikafirkan oleh salaf dan para imam dengan takfier muthlaq, meskipun individu-individu tertentu tidak dikafirkan kecuali setelah tegak hujjah yang mana orang yang meninggalkannya dikafirkan”[2].

Kesimpulan bahasan ini :

-          Bahwa takfier muthlaq adalah: Terbuktinya kekafiran orang yang mendatangkan ucapan atau perbuatan tertentu dengan dalil syar’iy, dan itu dikatakan siapa yang mengucapkan ini maka dia telah kafir. Begitulah dengan ithlaq (lontaran umum) tanpa penerapan hukum kafir terhadap orang mu’ayyan.

-          Jadi takfier muthlaq adalah penerapan hukum kufur terhadap sebab bukan terhadap pelaku sebab itu. Yaitu adalah penerapan dosa perbuatan itu bukan si pelakunya, dan untuk hal itu cukup saja meninjau pada dalil syar’iy dari sisi qath’iy dilalah terhadap kufur akbar dan ia itu bukan dari bentuk shighah-shighah (teks-teks) yang banyak memiliki kemungkinan dilalahnya disertai meninjau qath’iy dilalah perbuatan atau ucapan itu terhadap kekafiran.

-          Adapaun takfier mu’ayyan adalah pemberlakuan hukum takfier terhadap orang mu’ayyan yang mengatakan atau melakukan sebab mukaffir. Di dalam  hal ini di samping keharusan meninjau macam dosa perbuatan tersebut sebagaimana dalam takfier muthlaq (harus juga) meninjau pada keadaan si pelaku atau orang yang mengucapkannya dari sisi keterbuktian perbuatan itu terhadapnya dan tidak adanya penghalang-pengahalang hukum kafir padanya, yaitu terpenuhinya syuruth takfier dan tidak adanya mawani’.

Dan telah lalu syarat-syarat dan mawani’ dalam pasal yang lalu, serta telah lalu bahwa memperhatikan hal ini hanyalah wajib pada orang-orang yang tidak mumtani’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata (Dan saya pernah menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang dinukil bagi mereka dari salaf dan para imam berupa pelontaran pernyataan umum prihal kekafiran orang yang mengatakan ini dan itu, maka ini adalah haq juga, akan tetapi wajib membedakan antara lontaran umum dengan ta’yin. Dan inilah masalah pertama yang mana umat ini berselisih di dalamnya dari masalah-masalah ushul yang besar, yaitu masalah “Al Wa’id”, karena nash-nash Al-Qur’an tentang Al-Wa’id adalah muthlaq (bersifat umum), seperti firmannya :

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya …(An-Nisa: 10).

Dan begitu juga ungkapan-ungkapan lain, siapa yang melakukan hal ini, maka baginya itu, sesungguhnya ungkapan-ungkapan ini adalah muthlaq lagi umum dan ia seperti ungkapan salaf “siapa yang mengatakan ini maka ia demikian”. Kemudian orang mu’ayyan bisa gugur darinya hukum wa’id/ancaman dengan taubat atau kebaikan-kebaikan yang bisa menghapus atau musibah-musibah yang menggugurkan dosa atau syafa’at yang diterima.

Sedangkan takfier itu termasuk wa’id, dan sesungguhnya suatu ungkapan itu meskipun sebagai bentuk takdzib (pendustaan) terhadap apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun bisa jadi orang itu baru masuk Islam, atau hidup di pedalaman yang jauh, maka orang seperti ini tidak dikafirkan dengan sebab pengingkaran apa yang dia ingkari sehingga hujjah tegak atasnya, dan bisa jadi orang itu belum mendengar nash-nash (syar’iy) atau sudah mendengarnya namun tidak tsabit (shahih) baginya, atau ada hal lain padanya yang menyelisihinya yang mengharuskan dia untuk mentakwilnya walaupun dia itu keliru. Majmu Al Fatawa 3/147-148.

Dan beliau berkata juga 35/101: (Dan asal hal itu: Bahwa maqalah (paham) yang mana ia adalah kekafiran terhadap Al-Kitab, As-Sunnah dan ‘Ijma’, maka dikatakan tentangnya bahwa ia adalah kekafiran dengan ucapan yang muthlaq, sebagaimana hal itu ditunjukan oleh dalil-dalil syar’iy, karena Al Iman adalah termasuk hukum-hukum yang didapatkan dari  Allah dan Rasul-Nya, dan hal itu bukan termasuk apa yang di putuskan oleh manusia dengan praduga-praduga dan hawa nafsu mereka. Dan tidak wajib divonis pada setiap orang yang mengatakan hal itu bahwa ia kafir sampai terbukti jelas padanya syarat-syarat takfier dan penghalang-penghalangnya tiada, seperti orang yang mengatakan sesungguhnya khamar atau riba adalah halal karena dia baru masuk Islam atau tinggal di pedalaman yang jauh atau dia mendengar ucapan yang diingkarinya dan ia tidak menyakini bahwa itu bagian dari Al-Qur’an atau dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)…dan ini telah lalu.

Dan berkata 23/195: Dan hakikat masalahnya dalam hal itu: Bahwa ucapan itu bisa saja kekafiran, kemudian di muthlaqkan ucapan tentang kekafiran orangnya, dan dikatakan: Siapa yang mengatakan ini maka dia kafir, akan tetapi orang mu’ayyan yang mengatakannya tidak divonis kafir sehingga tegak atasnya hujjah yang mana orang yang meninggalkannya di kafirkan, dan ini seperti dalam nash-nash wa’id, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (mereka)” (An-Nisa:10)

Nash ini atau nash-nash wa’id lainnya adalah haq, akan tetapi orang mu’ayyan tidak boleh dipastikan terkena wa’id (ancaman), maka tidak boleh bagi orang mu’ayyan dari kalangan Ahlul kiblat dipastikan masuk neraka, karena boleh jadi dia tidak terkena cakupan wa’id oleh sebab tidak terpenuhi salah satu syarat atau adanya mani’ (penghalang), di mana bisa saja hukum pengharaman belum sampai kepadanya, dan bisa saja dia bertaubat dari perbuatan haram itu, dan bisa saja dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar yang menghapuskan (dosa) perbuatan haram itu, dan terkadang dia dicoba dengan musibah-musibah yang bisa menggugurkan (dosa) darinya, serta terkadang pemberi syafaat yang ditaati memberikan syafaat padanya.

Dan begitu juga ucapan-ucapan yang si pengucapnya dikafirkan bisa saja orang itu belum sampai padanya nash-nash yang mengharuskan dia mengetahui al haq, dan bisa saja nash-nash itu ada padanya namun tidak tsabit atau tidak memiliki kesempatan untuk memahaminya, dan bisa saja ada syubuhat yang merintanginya yang dengannya Allah mengudzur dia, maka siapa saja yang mana ia itu tergolong kaum mu’minin seraya berijtihad dalam mencari Al Haq dan dia malah keliru, maka sesungguhnya  Allah mengampuni baginya kekeliruan itu apa pun bentuknya baik dalam masalah-masalah nadhariyyah (teoritis) atau amaliyyah (praktek), inilah yang di pegang oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jumhur para imam Islam ini.

Dan beliau berkata juga setelah menuturkan pertentangan sebagian muta’akhkhirin dalam takfier ahlul bid’ah, apakah ia kekafiran yang mengeluarkan dari millah atau bukan, dan apakah mereka itu kekal dalam nereka atau tidak … beliau berkata : (Dan hakikat masalah ini: “Bahwa mereka tercakup dalam lafadh-lafadh umum pada ucapan para Imam, seperti apa yang menimpa orang-orang terdahulu dalam lafadh-lafadh umum pada nash-nash syari’at, di mana setiap kali mereka melihat ulama salaf mengatakan: Siapa yang mengatakan ini maka dia kafir” maka si pendengar meyakini bahwa lafadh ini meliputi setiap orang yang mengucapkannya, dan mereka tidak memperhatikan bahwa takfir itu memiliki syuruth dan mawani’ yang terkadang tak terpenuhi pada hak orang mu’ayyan, dan bahwa takfierul muthlaq tidak memestikan takfirul mu’ayyan kecuali bila syarat-syaratnya ada dan  mawani’nya tidak ada. Ini dijelaskan dengan realita bahwa Imam Ahmad dan umumnya para imam yang melontarkan lafadh-lafadh umum ini tidak mengkafirkan mayoritas orang yang menyatakan ucapan ini secara ta’yin. Sesungguhnya Imam Ahmad umpamanya telah menghadapi langsung Jahmiyyah yang mengajak beliau kepada pendapat “Al-Quran itu makhluk dan penafian sifat-sifat  Allah “ mereka menindas beliau dan para ulama masa itu, dan mereka menyiksa kaum mu’min dan mu’minat yang tidak menyetujui mereka atas paham Jahmiyyahnya dengan pukulan dan penjara. Dan di sebutkan bahwa mayoritas ulil amri mengkafierkan setiap orang yang bukan Jahmiy yang setuju dengan mereka, serta mereka memperlakukannya seperti terhadap orang-orang kafir…hingga ucapannya (Dan sudah ma’lum, sesungguhnya ini tergolong sikap Jahmiyyah yang paling kejam, karena mengajak kepada pendapat itu adalah lebih dasyat dari sekedar berpendapat, memberikan hadiah kepada yang menyatakannya dan menyiksa orang yang meninggalkannya adalah lebih dahsyat dari sekedar mengajak kepadanya).

Kemudian Imam Ahmad mendoakan bagi sang Khalifah dan yang lainnya dari kalangan orang yang telah memukul dan memenjarakanya, beliau memohonkan ampun bagi mereka dan menghalakan mereka dari apa yang telah mereka lakukan, dan seandainya mereka itu murtad dari Islam  tentulah tidak boleh memintakan ampun bagi mereka, karena memintakan ampun bagi orang-orang kafir adalah tidak boleh dengan landasan Al-Kitab, As-Sunnah dan Al-Ijma’.

Ucapan-ucapan beserta perbuatan-perbuatan ini dari beliau dan dari para imam lainnya adalah sharih (Jelas) bahwa mereka tidak mengkafirkan orang-orang mu’ayyan dari Jahmiyyah…

Dan telah di nukil dari Imam Ahmad apa yang menunjukkan bahwa beliau mengkafirkan dengan sebabnya orang-orang mu’ayyan. Bisa jadi dituturkan dari beliau dua riwayat dalam masalah ini, maka ini perlu ditinjau, atau masalahnya perlu dirinci, sehingga dikatakan: Orang yang beliau kafirkan secara ta’yin adalah karena tegaknya dalil yang menunjukkan bahwa pada orang itu syarat-syarat takfier telah terpenuhi dan mawani’nya tidak ada. Dan orang yang tidak beliau kafirkan secara ta’yin, adalah karena tidak terpenuhinya hal itu padanya, ini tentunya disertai pelontaran takfier secara umum dari beliau). Majmu’  Al Fatawa 12/261-262.

Khulashahnya / Ringkasnya: Bahwa tidak memperhatikan perbedaan antara takfier muthlaq dengan takfieru mu’ayyan adalah sumber ketergelinciran dan kesalahan yang jatuh di dalamnya sebagian orang. Di mana mereka mengkafirkan banyak orang yang tidak halal dikafirkan kecuali setelah penegakkan hujjah dan peringatan terhadap mereka, sehingga mereka sesat dengan sikap itu dan menyesatkan banyak orang.


[1] Takfier Sayyid Quthb dengan sebab kekeliruannya dalam bab sifat-sifat  Allah, dan sebagian ungkapan-ungkapan sastranya, saya telah mendengarnya dari sebagian Neo Murji-ah yang menisbarkan diri secara palsu kepada salafiyyah padahal mereka itu bersikap wara’ yang dingin lagi dungu dalam takfier orang-orang murtad yang memerangi dien ini dari kalangan para thaghut dan ansharnya.

[2] Lihat sebagai contoh 2/.214

Seri ke 1 Muqadimmah Al Ghuluw Fit Takfier – 2


Di antara hal itu adalah:

  • Rasa takut dari ancaman pemutusan gaji bulanan, atau pemecatan dari pekerjaan, atau penyitaan sebagian kekayaan dunia, atau pelarangan dari urusan dunia.

Maka hal ini bukan termasuk mawani’ takfier dan seorangpun tidak diudzur dengannya bila hal itu menghantarkan kepada kekafiran terhadap Rabbul ‘Alamin, sikap tawalli kepada kaum musyrikin dan membantu mereka terhadap kaum muslimin, serta membela undang-undang kaum musyrikin. Justeru hal itu termasuk tipu daya syaitan, penyemangatannya kepada wali-walinya dengan kesesatan, dan penarikan mereka dengan keras kepada kekafiran, karena ancaman dengan hal-hal tadi bukanlah termasuk ikrah sama sekali. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.” (Al ‘Ankabut: 10)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Al Maidah: 51-54)

Di dalam ayat-ayat ini ada penjelasan prihal kemurtaddan orang yang mana sekedar rasa takut telah menjerumuskannya kepada sikap tawalli terhadap orang-orang kafir, dan ada penegasan bahwa amalan mereka itu telah hapus, sedangkan keterhapusan amalan ini tidaklah terjadi kecuali dengan sebab kekafiran. Jadi Allah tidak mengudzur di dalam kekafiran ini –seperti tawalli kepada kaum musyrikin atau kepada undang-undang mereka- dengan sekedar rasa takut, dan Dia tidak menjadikan hal itu sebagai penghalang dari penghalang-penghalang pengkafiran, serta Dia tidak menggolongkannya ke dalam ikrah sama sekali, seperti yang diduga oleh banyak orang-orang yang bodoh.

Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata di dalam Sabilin Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wa Ahlil Isyrak hal 62 saat menjelaskan macam-macam manusia yang menampakkan sikap menyelarasi orang-orang kafir, di mana beliau menyebutkan di antaranya[50] adalah orang yang menyelarasi mereka secara dhahir seraya mengklaim bahwa ia menyelisihi mereka secara bathin sedangkan ia tidak berada di bawah penguasaan mereka, Beliau berkata: (Namun yang mendorongnya untuk melakukan hal itu adalah bisa jadi adalah karena keinginan untuk mendapatkan jabatan atau harta atau karena berat dengan tanah air atau dengan keluarga atau rasa takut dari apa yang mungkin terjadi pada hartanya, maka sesungguhnya dia itu di dalam keadaan seperti ini adalah murtad, dan tidak ada manfaat baginya kebencian dirinya kepada mereka secara bathin.[51]

Dan justeru dia itu tergolong orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan:

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (An Nahl: 107)

Dan Allah mengabarkan bahwa yang menghantarkan mereka kepada kekafiran itu bukanlah kejahilan dan bukan pula kebencian kepada Al Haq atau kecintaan kepada kebatilan, namun yang menghantarkannya itu kecintaan kepada dunia yang lebih dia utamakan daripada dien.

Dan inilah makna ucapan Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah.

Dan adapun apa yang diyakini oleh banyak manusia sebagai udzur, maka sesungguhnya itu adalah berasal dari penghiasan syaitan dan penipuannya, di mana sebagian mereka bila ditakut-takuti oleh wali-wali syaitan dengan rasa takut yang tidak ada hakikatnya, maka dia mengira bahwa boleh baginya untuk menampakkan sikap setuju kepada kaum musyrikin dan tunduk kepada mereka). Selesai

Kemudian beliau menuturkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang sifat ikrah terhadap pengucapan kekafiran, dan bahwa paksaan itu adalah tidak terjadi kecuali dengan pemukulan, penyiksaan dan pembunuhan, tidak dengan sekedar ucapan dan tidak pula dengan ancaman untuk menjauhkan dia dari isterinya atau hartanya atau keluarganya.

As Sayuthi di muqaddimah Tarikhul Khulafa telah menukil dari Al Qadli ‘Iyadl, berkata: Abu Muhammad Al Qairuwani Al Kizaniy dari kalangan ulama madzhab maliki ditanya tentang orang yang dipaksa oleh Banu ‘Ubaid (penguasa Mesir) untuk masuk di dalam ajaran mereka, atau dibunuh (kalau tidak mau)?

Maka beliau menjawab: Dia memilih dibunuh saja, dan seorangpun tidak diudzur dengan sebab hal ini kecuali orang yang tidak mengetahui keadaan mereka di awal kemunculan mereka di negeri ini. Adapun setelah dia mengetahui keadaan mereka maka wajib lari, dan seorangpun tidak diudzur untuk menetap di sana dengan alasan takut, karena menetap di suatu negeri yang mana penduduknya dituntut untuk menggugurkan syari’at adalah tidak boleh. Namun keberadaan para ulama dan para ahli ibadah di sana itu adalah hanya dalam rangka menentang mereka, agar musuh kaum muslimin itu tidak leluasa menyesasatkan mereka dari agamanya) selesai hal 13.

Dan ini sejalan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya: “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa: 97)

Di mana ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang telah masuk islam, akan tetapi mereka melakukan taqshir di dalam hijrah, mereka menetap di Mekkah di tengah kaum musyrikin karena merasa berat dengan tempat tinggal, isteri, harta dan negeri, kemudian tatkala perang Badar mereka dipaksa ikut keluar oleh kaum musyrikin di dalam barisan mereka, dan adalah kaum muslimin bila menembakkan panah maka mengenai sebagian mereka itu, dan kaum muslimin pun berkata: Kami telah membunuh sudara-saudara kami,” maka Allah menurunkan ayat-ayat di dalam surat An Nisa tadi, di mana Allah tidak mengudzur mereka dengan klaim ketertindasan dan pemaksaan kaum musyrikin terhadap mereka sehingga ikut di barisan mereka, karena dari awal merekalah yang melakukan taqshir di dalam hijrah dan dari keluar dari tengah mereka saat mereka dalam kondisi lapang. Namun yang diudzur di dalam ayat itu hanyalah orang-orang yang benar-benar tertindas yang tidak memiliki kesempatan untuk hijrah dan mampu terhadapnya karena mereka ditahan dan diikat dan karena ketertindasan yang sebenarnya, atau karena mereka itu tidak memiliki daya dan tidak mengetahui jalan hijrah, seperti wanita, anak-anak dan yang seperti mereka.

Maka ini menunjukan bahwa orang yang memperbanyak jumlah kaum musyrikin dan orang-orang kafir lagi menampakkan persetujuannya terhadap mereka dan pembelaannya melawan kaum muslimin, adalah tidak diudzur dengan sekedar klaim rasa takut kehilangan harta dan merasa berat kehilangan pensiunan dan tempat tinggal serta urusan dunia lainnya.

Maka bagaimana dengan orang yang menampakkan sikap pembelaan terhadap kemusyrikan itu sendiri, dia melindungi undang-undang kafir dan keluar dalam kondisi tidak dipaksa untuk membelanya dan membela orang-orangnya terhadap kaum muwahhidin..?? terus dia beralasan dengan udzur-udzur semacam itu…

Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu adalah lebih layak untuk divonis kafir daripada yang tadi dipaksa..

  • Oleh sebab itu bukan termasuk mawani’ takfier juga keberadaan bahwa orang-orang murtad dan ansharnya itu beralasan dengan alasan ketertindasan dan bahwa mereka itu tidak berdaya di hadapan pemimpin mereka. Sesungguhnya ketertindasan itu andaikata ada lagi dianggap pada diri mereka, maka ia itu tidak bisa melegalkan bagi mereka untuk membela kemusyrikan dan kekafiran atau membela orang-orangnya terhadap kaum muslimin, karena tidak seorangpun yang memaksa mereka terhadap pekerjaan semacam itu dan tidak seorangpun yang memaksa mereka untuk menjadi pegawai yang memiliki jenis pekerjaan semacam itu, justeru merekalah yang mati-matian untuk bisa diterima bekerja di situ, dan mereka mencari jalan pintas yang bisa meluluskan mereka kepada pekerjaan di dinas itu.

Dan yang lebih mengherankan lagi dari hal itu adalah apa yang saya dengar dari sebagian orang-orang yang mata hatinya telah Allah hapus dan telah Allah butakan matanya dari bisa melihat cahaya wahyu, yaitu bahwa mereka itu mengudzur para penguasa yang menggugurkan syari’at Allah lagi membuat undang-undang kafir lagi memberlakukannya dan melindungi diri dengannya, yaitu bahwa para penguasa itu diudzur karena mereka itu tertindas di hadapan Amerika dan tidak bisa memberlakukan syari’at karena sebab hal itu..!! dan saya pernah bertanya kepada mereka itu:  Siapa orangnya yang telah memaksa mereka untuk tetap di atas kekuasaannya dan bersusah payah mempertahankannya dengan segala cara dan memegangnya dengan erat, bagaimana tidak demikian sedangkan mayoritas mereka itu telah mencapai kursi kekuasaannya dengan tank baja dan dengan segala cara pembunuhan, penipuan dan sikap curang, di mana sebagian mereka ada yang membunuh ayahnya, di antara mereka ada yang mengasingkan ayahnya, dan di antara mereka ada yang membumi hanguskan banyak kota dan desa demi meraih kekuasaannya itu, kemudian orang-orang buta itu mengatakan; bahwa mereka itu orang-orang yang tertindas di hadapan Amerika, namun hendaklah mereka itu menamakan sesuatu dengan namanya yang sebenarnya, dan hendaklah mereka mengatakan: Para penguasa itu adalah kaki tangan Amerika, saudara-saudaranya dan kekasihnya.

Bagaimanapun keadaannya, sesungguhnya orang yang tertindas itu adalah tidak halal melontarkan ucapan atau perbuatan yang mukaffir, namun yang dirukhshahkan baginya itu hanyalah mudarah (bersikap lembut) kepada orang-orang kafir dan taqiyyah, yaitu tidak mengingkari mereka dengan tangan dan lisan dengan tetap adanya kebencian kepada mereka dan pengingkaran kebatilannya di dalam hati, serta meninggalkan penampakkan permusuhan kepada mereka dengan tetap adanya pokok permusuhan di dalam hati, tanpa mengikuti mereka di atas kekafirannya atau ridla dengannya, sebagaimana di dalam hadits:” kecuali orang yang ridla dan mengikuti.”

Karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengudzur orang-orang kafir atas kekafiran dan kemusyrikannya dengan hujjah istidl’af (ketertindasan), sebagaimana yang sangat jelas di dalam ayat yang sangat banyak. Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, Maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya Kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari Kami sebahagian azab api neraka?” Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)”. (Al Mukmin: 47-48)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya”. dan (alangkah hebatnya) kalau kamu Lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan Perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah Kami menjadi orang-orang yang beriman”. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru Kami supaya Kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Saba’: 31-33)

Dan ayat-ayat yang semakna dengan itu.

Dan perhatikanlah sikap saling bermusuhan di antara mereka setelah lenyapnya kesempatan dan nampaknya penyesalan tatkala mereka melihat adzab, serta ucapan mereka kepada para pemimpinnya yang telah menggiring mereka kepada kebinasaan:” sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.”

Jadi, ketertindasan itu bukanlah udzur di dalam hal semacam itu, sedangkan ketertindasan yang menjadi udzur bagi orang yang tertindas adalah hanya di dalam melakukan sebagian yang diharamkan atau di dalam meninggalkan sebagian yang diwajibkan, seperti meninggalkan hijrah kepada kaum muslimin dan taqshir di dalam membela mereka serta hal-hal serupa itu yang tidak bisa dia lakukan saat kondisi ketertindasannya, selama dia tidak melakukan kekafiran yang nyata dengan tanpa paksaan, karena ketertindasan itu adalah berbeda dengan ikrah yang telah dijelaskan gambarannya dan yang menghalangi dari pengkafiran orang yang melakukan sesuatu dari sebab-sebab kekafiran yang nyata sedang hatinya teguh dengan keimanan.

Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala telah mensifati orang-orang yang tertindas dari kalangan kaum mukminin; bahwa mereka itu berupaya keras dan memohon kepada Allah dengan penuh ketulusan agar mengeluarkan mereka dari tengah orang-orang kafir, dan mereka itu tidak betah dengan realita ketertindasan atau menjadikannya sebagai alasan untuk menjual dien dengan dunia, sebagaimana alasan yang sering disebutkan oleh orang-orang yang sesat pada hari ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“….dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!”. (An Nisa: 75)

  • Dan bukan termasuk mawani’ takfier keberadaan orang-orang murtad dan anshar mereka serta orang-orang kafir lainnya itu meyakini bahwa diri mereka itu adalah orang-orang mukmin atau bahwa mereka itu berada di atas kebenaran padahal mereka itu melakukan berbagai kekafiran.

Di mana Allah subhanahu wa ta’ala telah mensifati banyak orang-orang kafir dengan hal itu, dan Dia tidak menjadikan hal itu sebagai penghalang dari pengkafiran mereka: Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 103-14)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Al A’raf: 30)

Dan begitulah realita orang-orang kafir di setiap masa, dan bahkan Fir’aun thaghut Mesir juga mengatakan kepada kaumnya:

“Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. (Al Mukmin: 29)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berfirman tentang yang lainnya:

“Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan.” (Al Baqarah: 11)

Dan begitulah orang-orang kafir di setiap zaman, termasuk orang-orang yahudi dan nasrani, mereka itu meyakini bahwa mereka itu berada di atas petunjuk dan bahwa diri mereka itu adalah orang-orang mukmin dan calon penghuni surga yang beruntung. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. (Al Maidah: 18)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”.  (Al Baqarah: 111).

Dan begitulah orang-orang kafir lainnya.

Dan sudah maklum bahwa anggapan itu tidak bermanfaat bagi mereka di sisi Allah dan tidak manfaat juga bagi mereka di dunia di mana hal itu tidak menghalangi dari mengkafirkan mereka.

Dan bagaimanapun keadaannya, sesungguhnya pembatasan takfier dengan keyakinan itu adalah paham Ghulatul Murjiah yang memeandang bahwa iman itu adalah keyakinan hati saja, dan oleh sebab itu di dalam paham mereka tidak ada kekafiran kecuali dengan sebab keyakinan. Dan untuk rincian ini silahkan lihat kitab kami (Imta’un Nadhr Fi Kasyfi Syubuhat Murjiatil ‘Ashr).

Di samping hal itu sesungguhnya keyakinan itu adalah hal yang ghaib yang ada di hati yang tidak nampak dan tidak mungkin dijadikan sandaran, oleh sebab itu syari’at tidak menganggapnya sebagai penghalang dari pengkafiran, dan oleh sebab itu maka ia adalah bukan termasuk mawani’ takfier dan tidak ada urusan dengan kita di dalam urusan dunia ini.

  • Bukan termasuk mawani’ takfier keberadaan orang yang melakukan sebab kekafiran atau pembatal keislaman itu komitmen dengan sebagian ajaran islam, seperti shalat atau dua mengucapkan dua kalimah syahadat atau yang serupa itu.[52]

Maka hal ini bukan penghalang dari pengkafirannya, karena dia itu tidak kafir dari sisi penolakan dari melaksanakan sesuatu dari ajaran yang tadi disebutkan, namun kekafirannya adalah dengan sebab yang lain. Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan di dalam Kitab-Nya bahwa kaum musyrikin itu memiliki amalan dan bahkan sebagian mereka memiliki sebagian cabang-cabang keimanan yang tidak bisa meniadakan status musyrik dari dirinya, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Yusuf: 106)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala menjelaskan di tempat yang lain bahwa syirik itu menghapuskan semua amalan tersebut, di mana Dia berfirman:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am: 88)

Dan sudah maklum bahwa orang itu masuk islam dengan ikrar dua kalimah syahadat kemudian keislamannya itu tidak berlangsung terus kecuali dengan komitmen terhadap sekumpulan cabang-cabang iman yang merupakan ashlul iman, padahal hal itu semua bisa menjadi batal dengan salah satu sebab kekafiran saja.

Dan di antara dalil yang menunjukan bahwa alasan itu bukan termasuk udzur yang diterima Allah subhanahu wa ta’ala dan bukan termasuk penghalang dari pengkafiran adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman..(At Taubah: 65-66)

Di mana ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang yang shalat lagi mengakui dua kalimah syahadat, bahkan mereka ikut keluar berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam peperangan kaum muslimin yang tergolong paling terkenal dan paling sulit, kemudian tatkala mereka melontarkan ucapan kekafiran yang berupa perolok-olokan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat penghapal Al Qur’an, maka Allah subhanahu wa ta’ala mengkafirkan mereka dengan sebab hal itu, sedangkan keberadaan shalat mereka, ikrar dua kalimah syahadat, jihad dan cabang-cabang keimanan lainnya yang mereka lakukan adalah tidak menjadi penghalang dari pengkafiran mereka.

Oleh sebab itu seandainya orang murtad yang sebab kemurtaddannya adalah karena dia membela kemusyrikan dan kaum musyrikin mengucapkan dua kalimah syahadat saat dia berperang, tentulah darahnya tidak terjaga dan tidak ada halangan dari membunuhnya, karena kekafiran dia itu bukan karena dia menolak mengucapkan dua kalimah syahadat sehingga bisa disamakan dengan orang yang dibunuh oleh Usamah Ibnu Zaid saat orang itu mengucapkannya, justeru si murtad itu mengucapkannya dan mengakuinya siang dan malam dan bisa jadi dia itu rajin shalat, dan ini bukan sebab kekafirannya yang mana dia diperangi di atasnya, namun sebab kekafirannya yang mana dia itu diperangi di atasnya adalah karena dia tawalli dan membela undang-undang dan para pendukungnya terhadap kaum muwahhidin, sehingga dia itu tidak menjadi muslim sampai ia melepaskan diri dan berlepas diri dari sebab kekafirannya ini dan taubat darinya, maka dengan itulah dia kembali kepada islam, karena ia adalah pintu yang mana ia keluar darinya, maka darinyalah dia kembali kepada islam selagi dia mengakui ajaran-ajaran yang lainnya.

Ini adalah hal yang terkenal dari perjalanan para sahabat saat memperlakukan kaum murtaddin setelah wafat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana sesungguhnya orang-orang yang murtad itu ada beraneka ragam (di antara mereka ada yang murtad dari dien ini secara total, sebagian yang lain murtad dari sebagian ajaran di mana mereka berkata: Kami tidak akan shalat dan zakat,” dan sebagian yang lain murtad dari pemurnian ketundukan kepada dien yang dibawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana mereka selain beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka juga beriman kepada para nabi palsu, seperti Musailamah Al Kadzdzab, Thulaihah Al Asadiy dan yang lainnya) maka Abu Bakar Ash Shiddiq ra menjihadi mereka dan memperlakukan mereka sebagai orang-orang murtad, di mana orang yang di antara mereka itu shalat dan ikrar dua kalimah syahadat namun murtad karena menolak membayar zakat maka beliau memeranginya sampai menunaikan zakat, dan orang yang kemurtaddannya dengan sebab iman kepada Musailamah, maka beliau perangi sampai berlepas diri dari Musailamah dan kafir terhadap kenabiannya…dan begitu seterusnya…

Dan tatkala hal itu di awal permulaannya dirasa belum dipahami oleh Umar Al Faruq dan bertanya kepadanya: bagaimana engkau memerangi manusia sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata:”Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi laa ilaaha illallah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah….” Maka Abu Bakar berkata kepadanya: Demi Allah saya akan perangi orang yang memisahkan antara shalat dengan zakat…” maka ini memberikan penerangan bahwa di antara yang diperangi oleh Abu Bakar di dalam peperangan melawan kaum murtaddin adalah ada orang yang shalat dan ikrar dua kalimah syahadat, namun dia itu menjadi murtad dari pintu-pintu yang lain sehingga dia diperangi karenanya.

  • Dan bukan termasuk penghalang dari pengkafiran keberadaan orang yang melakukan kekafiran yang nyata lagi jelas itu adalah tersesatkan dan tertipu oleh para ulama suu’ dan para ahli ibadah yang bejat atau oleh para tokoh dan pemimpin atau yang lainnya.

Di mana telah kami jelaskan di hadapanmu bahwa penghalang kejahilan itu adalah dianggap di dalam masalah-masalah yang samar dan sulit yang membutuhkan kepada penjelasan dan penerangan, sehingga sebelum dilakukan pengkafiran di dalamnya harus ada penegakkan hujjah, dan akan ada tambahan penjelasan di dalam kekeliruan takfier.

Akan tetapi penegakkan hujjah ini adalah tidak wajib di dalam masalah yang mana ia adalah lebih jelas daripada matahari di siang bolong, seperti penghancuran tauhid atau melakukan hal yang menggugurkannya berupa kekafiran yang nyata dan kemusyrikan yang terang yang tidak mungkin samar terhadap anak-anak kecil kaum muslimin, bahkan orang-orang yahudi dan nasranipun mengetahui bahwa hal itu menggugurkan apa yang dibawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan nanti akan datang hadits ‘Adiy Ibnu Hatim prihal tidak diudzurnya orang-orang yahudi dan nasrani dengan sebab penyesatan para ahli ilmu dan ahli ibadah mereka terhadap mereka di dalam pemalingan hak pembuatan hukum –yang merupakan ibadah- kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, padahal sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui bahwa ketaatan di dalam hal itu adalah ibadah sebagaimana yang dinyatakan oleh ‘Adiy. Juga sesungguhnya kekafiran orang-orang yahudi dan nasrani pada umumnya adalah kekafiran dengan sebab taqlid, oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah: 31)

Dan begitu juga kekafiran mayoritas orang-orang kafir, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”.Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (Al Maidah: 104)

Dan di dalam hadits riwayat Al Bukhari di dalam Shahihnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang adzab kubur:” Adapun orang kafir atau orang munafiq, maka dia itu berkata: Say tidak mengetahui, saya mengatakan apa yang dikatakan manusia,” Maka dikatakan: Kamu tidak tahu dan tidak membaca,” kemudian dia dipukul dengan palu besi dengan pukulan di antara kedua telinganya….”

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan di dalam Kitab-Nya bahwa orang-orang yang lemah dan orang-orang yang taqlid itu berlepas diri di hari kiamat dari para pemimpin mereka yang telah menyesatkan mereka, dan bahwa itu bukanlah udzur yang bisa menyelamatkan mereka dan bukan pula sebagai penghalang dari pengkafiran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya Kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan daripada Kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada Kami, niscaya Kami dapat memberi petunjuk kepadamu. sama saja bagi kita, Apakah kita mengeluh ataukah bersabar. sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (Ibrahim: 21)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“ Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al Ahzab: 64-68)

Dan ayat-ayat semacam ini adalah sangat banyak sekali.

Ibnul Qayyim telah menuturkan di dalam kitabnya Thariqul Hijratain saat menuturkan tingkatan orang-orang mukallaf (Thabaqah yang ke tujuh belas) yaitu: (Tingkatan orang-orang yang taqlid dan orang-orang kafir yang jahil, para pengikut mereka dan keledai mereka yang ikut-ikutan bersama mereka yang mengatakan: Sesungguhnya kami mendapakan nenek moyang kami di atas suatu ajaran, dan sesungguhnya kami mencontoh mereka…..) beliau berkata: (Dan umat ini telah sepakat bahwa thabaqah ini adalah kafir walaupun mereka itu jahil lagi taqlid kepada para pemimpin dan para tokoh mereka, kecuali apa yang dihikayatkan dari sebagian ahli bid’ah bahwa mereka itu tidak boleh dipastikan masuk neraka dan ahli bid’ah itu menggolongkan orang-orang itu sama dengan orang-orang yang belum sampai dakwah kepadanya, dan pendapat ini adalah pendapat yang tidak pernah dilontarkan oleh seorang ulama kaum muslimin-pun, baik itu dari kalangan sahabat, tabi’in dan tidak pula orang-orang setelah mereka. Namun pendapat ini hanya dikenal dari sebagian ahli kalam yang bid’ah di dalam islam ini. Dan telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdanya “Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim”[53] Dan orang yang taqlid ini bukanlah orang muslim, di mana ia itu berakal lagi mukallaf, sedangkan orang yang berakal lagi mukallaf itu tidak lepas dari islam atau kafir…..) sampai ucapannya: (“Islam adalah mentauhidkan Allah, beribadah kepada-Nya saja tidak ada sekutu bagi-Nya, iman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengikuti beliau dalam apa yang dibawanya, jika seorang hamba tidak mendatangkan hal ini maka dia bukan muslim. Bila dia bukan kafir mu’anid maka dia kafir jahil. Status thabaqah (orang-orang macam) ini adalah mereka itu orang-orang kafir jahil yang tidak mu’anid (membangkang) dan ketidakmembangkangan mereka itu tidaklah mengeluarkan mereka dari statusnya sebagai orang-orang kafir.” ) kemudian beliau menuturkan ayat-ayat yang menjelaskan pengadzaban orang-orang yang taqlid lagi mengikuti orang lain di atas kekafiran, dan bahwa orang yang mengikuti dan yang diikuti adalah sama-sama masuk neraka, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, Maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya Kami adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan dari Kami sebahagian azab api neraka?” Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)”. (Al Mukmin: 47-48)

Kemudian beliau berkata: (Ini adalah pemberitahuan dari Allah dan penghati-hatian bahwa orang-orang yang diikuti dan orang-orang yang mengikuti itu adalah berserikat di dalam adzab, dan sikap taqlid mereka itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka. Dan ayat yang lebih jelas dari itu adalah firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“(yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya Kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (Al Baqarah: 166-167).

  • Dan bukan termasuk mawani’ takfier juga keberadaan orang murtad itu termasuk ahli ilmu atau orang yang berjenggot panjang atau termasuk jama’ah islamiyyah tertentu atau bergelar Doktor dalam bidang syari’ah atau hal lainnya yang biasa dianggap oleh sebagian orang.

Di mana Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman tentang orang yang paling alim di zamannya (tergolong Kibarul ‘Ulama):

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (Al A’raf: 175)

Dan Allah berfirman tentang makhluk pilihan-Nya yaitu para nabi shallallahu ‘alaihim wa sallam:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka Itulah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, hikmat dan kenabian jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Maka Sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.” (Al An’am: 88-89)

Dan di antara dalilnya juga adalah kisah Abdullah Ibnu Sa’ad Ibnu Abi Sarh yang asalnya tergolong penulis wahyu dan ia itu penulis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia murtad dari islam, maka nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya agar dibunuh walaupun dia bergelantungan di tirai Ka’bah, kemudian dia itu taubat dan kembali kepada Islam ti tahun Futh Mekkah, ia dihadirkan oleh Usman Ibnu ‘Affan –sedang ia adalah saudara sesusuannya- kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus ia membai’atnya. Dan kisah dia itu dengan segala alur riwayatnya dipaparkan dan dibicarakan oleh Syaikhul Islam di dalam Ash Sharimul Maslul. Dan sedangkan bukti dalil dari kisah ini adalah bahwa keberadaan dia termasuk penulis wahyu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah termasuk penghalang dari kekafiran dan kemurtaddannya tatkala ia mendatangkan sebab kekafiran.

Akan tetapi di dalam hal ini harus dibedakan antara kekafiran yang nyata lagi mengeluarkan dari islam, maka ia itu seperti apa yang kami utarakan, dengan sesuatu yang bukan kekafiran berupa ijtihad yang salah yang mana pelakunya bisa diberi pahala atas ijtihadnya atau ketergelinciran-ketergelinciran yang kadang ahli ilmu atau para pencari ilmu terjatuh ke dalamnya, maka tidak boleh diburuk sangkakan terhadap mereka karena sebabnya atau lancang terhadap mereka dengan mencelanya atau tidak mau mengambil ilmunya atau menjauhkan para pemuda dari kitab-kitabnya, terutama bila mereka itu termasuk anshar dien ini lagi menegakkannya yang berlepas diri dari para thaghut murtad.

Terdapat di dalam Shahih Al Bukhari (Kitab Manaqib Al Anshar) Bab ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Terimalah dari orang yang baik di antara mereka dan maafkan dari orang yang keliru di antara mereka) dan beliau menuturkan banyak hadits di dalamnya, di antaranya hadits Anas tentang wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar berbuat baik kepada Anshar, dan di dalamnya ada ucapan beliau: “Saya berwasiat kepada kalian agar baik kepada Anshar…” sampai ucapannya:” Maka terimalah dari orang yang baik di antara mereka dan maafkan dari orang yang keliru di antara merek”.

Maka ansharudien yang mana mereka itu tergolong thaifah yang menegakkan dienullah, yang menghabiskan umur mereka dan mengerahkan jiwanya di dalam membela dienullah dan tauhid-Nya; adalah memiliki bagian dari wasiat Nabi ini di setiap masa. Maka jagalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam prihal mereka, dan hindari dari kelancangan orang-orang bodoh dan orang-orang buruk terhadap mereka, karena dalam sikap itu terdapat penyenangan bagi mata musuh-musuh Allah dan musuh-musuh dakwah yang penuh berkah ini. Dan orang yang berakal atau orang yang paham tidak mungkin lancing terhadap hal ini.

  • Bukan termasuk mawani’ takfier juga keberadaan orang-orang yang akan dikafirkan itu adalah banyak, karena agama Allah itu tidak ada toleransi terhadap seorangpun, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

“Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Ibrahim:

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (Yusuf: 103)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya.” (Ar Ruum: ” />

Di dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Tsauban:”Hari kiamat tidak akan tiba sehingga kabilah-kabilah dari umatku bergabung dengan kaum musyrikin, dan sehingga kabilah-kabilah dari umatku menyembah berhala,”.

Dan Al Hakim meriwayatkan seraya menshahihkannya dari Abu Hurairah, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca:

“Dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,” (An Nashr: 2)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:”Sungguh mereka akan keluar darinya dengan berbondong-bondong sebagaimana mereka dahulu masuk ke dalamnya berbondong-bondong,” dan diriwayatkan juga secara mauquf kepada Abu Hurairah.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menuturkan di dalam Minhajus Sunnah 7/217 bahwa para pengikut Musailamah Al Kadzdzab itu sekitar seratus ribu orang atau lebih.

  • Dan bukan termasuk penghalang dari pengkafiran dengan kesepakatan para ulama; keberadaan pengucapan kekafiran itu dalam rangka bercanda, bersenda gurau dan main-main.

Sedangkan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu mencari-cari alasan, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At Tubah: 65-66)

Di mana Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengudzur mereka dengan alasan itu, padahal sesungguhnya mereka itu ikut keluar di dalam peperangan yang sulit (perang Tabuk) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka melontarkan ucapan itu dalam rangka bercanda dan mengisi waktu di perjalanan, yaitu (obrolan para pengendara yang dengannya kami menghilangkan kepenatan perjalanan) sebagaimana yang ada di dalam seba turun ayat itu.

Abu Bakar Ibnul ‘Arabiy (543 H) berkata: (Bercanda dengan kekafiran adalah kekafiran, tidak ada perselisihan di antara umat ini, karena sesungguhnya berbicara serius itu adalah saudaranya ilmu dan kebenaran, sedangkan bercanda itu adalah saudaranya kebodohan dan kebatilan) selesai dari Ahkamul Qur’an 2/964, dan lihat Al Qurthubi 8/197.

Ibnul Jauziy (597 H) berkata: (Serius dan main-main di dalam penampakkan ucapan kekafiran adalah sama) selesai, Zadul Masir 3/465.

An Nawawiy (676 H) berkata: (Perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kekafiran adalah yang muncul dari kesengajaan dan perolok-olokan yang nyata terhadap dien ini) selesai, Raudlatuth Thalibin 10/64.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata di dalam Ash Sharimul Maslul saat menjelaskan firman Allah subhanahu wa ta’ala:” Tidak usah kamu mencari-cari alasan, karena kamu kafir sesudah beriman.” :( Allah ta’ala tidak mengatakan” kalian dusta di dalam ucapan kalian “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Di mana Allah tidak mendustakan mereka di dalam udzur (alasan) ini sebagaimana Dia telah mendustakan mereka di dalam ucapan-ucapan mereka lainnya yang telah mereka tampakkan berupa alasan yang menuntut keberlepasan diri mereka dari kekafiran seandainya mereka itu jujur, namun justeru Dia menjelaskan bahwa mereka itu telah kafir setelah mereka beriman dengan sebab bercanda dan bermain-main ini) selesai hal 517.

Yaitu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tetap mengkafirkan mereka walaupun mereka beralasan dengan alas an itu, dan Dia subhanahu wa ta’ala tidak mendustakan akan keberadaan alas an itu, akan tetapi Dia mengingkari penganggapannya sebagai udzur, maka ini menunjukan bahwa udzur semacam ini bukanlah termasuk mawani’ takfier.

Ibnul Qayyim berkata di dalam I’lamul Muwaqqi’in 3/76 setelah pembahasan beliau tentang pensyaratan adanya kesengajaan bagi keabsahan hukum, beliau berkata setelah menuturkan kisah orang yang mengatakan ucapan “Ya Allah Engkau adalah hambaku, dan aku adalah tuhan-Mu” setelah ia mendapatkan untanya yang telah menghilang, dia salah ucap karena sangat bahagia:” Dia tidak menjadi kafir dengan sebab hal itu walaupun mendatangkan ucapan kekafiran yang nyata, dikarenakan dia itu tidak memaksudkannya, dan orang yang dipaksa terhadap ucapan kekafiran pun tidak dikafirkan dikarenakan dia tidak memaksudkannya, berbeda halnya dengan orang yang memperolok-olok dan yang bercanda, maka sesungguhnya thalaq dan kekafiran itu adalah sah darinya, meskipun dia itu hanya main-main, dikarenakan dia itu memaksudkan untuk mengatakannya, sedangkan sikap bercandanya itu adalah tidak menjadi udzur baginya, berbeda dengan orang yang dipaksa, orang yang salah ucap dan orang yang lupa, maka sesungguhnya dia itu adalah diudzur dan diperintahkan untuk mengatakannya atau diizinkan di dalamnya, sedangkan orang yang bercanda itu adalah tidak diizinkan untuk bercanda dengan ucapan kekafiran dan akad, sehingga dia itu mengatakan ucapan itu lagi memaksudkannya, dan tidak memalingkan dari maknanya paksaan, salah ucap, lupa dan ketidaktahuan (makna). Sedangkan bercanda itu tidak dijadikan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai udzur yang memalingkan, bahkan pelakunya lebih berhak untuk diberi sangsi. Bukankah Allah telah mengudzur orang yang dipaksa terhadap kalimat kekafiran bila hatinya teguh dengan keimanan, namun Dia tidak mengudzur orang yang bercanda, dan justeru Dia malah berfirman:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu mencari-cari alasan, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At Tubah: 65-66)

Ibnu Nujaim Al Hanafi (1005 H) berkata: (Bahwa orang yang mengucapkan ucapan kekafiran seray bercanda atau main-main, maka dia itu kafir menurut semua ulama, dan keyakinannya itu tidak dianggap). Selesai (Al Bahrur Rayiq Syarhu Kanzi Ad Daqaiq 5/134.

  • Bukan termasuk mawani’ takfier yang dianggap juga keberadaan orang-orang yang mengkafirkan itu tidak mampu melaksanakan konsekuensi-konsekuensi pengkafiran terhadap orang yang mereka kafirkan, seperti penegakkan had riddah atau mengganti penguasa yang kafir dan hal lainnya.

Ini adalah syubhat yang sering didengung-dengungkan oleh kalangan Murjiatul ‘Ashr, dan telah lalu isyarat kepada sebagian ucapan syaikh-syaikh mereka di dalam hal itu di pasal pertama. Dan hal itu telah diikuti oleh orang-orang dungu dan orang-orang bodoh di antara mereka. Dan ia itu termasuk igauan mereka dan perdebatan mereka dengan kebatilan, karena andai kata mereka komitmen dengan ucapannya itu tentulah mereka mengugurkan semua hukum syari’at ini.

Karena itu mengharuskan mereka selagi kita ini tidak mampu dari menegakkan had zina kepada orang yang telah terbukti berzina dengan saksi atau pengakuan atau yang lainnya bahwa dia itu bukan pezina, dan begitu juga masalah-masalah lainnya!!

Dan selagi kita ini belum mampu dari menegakkan had pembunuhan kepada si pelaku, maka dia itu bukan pembunuh, oleh sebab itu tidak ada diyat, kaffarat dan taubat atasnya.!!

Dan selagi kita ini tidak mampu dari menegakkan had pencurian kepada si pelaku, maka kita tidak halal mencap dia sepagai pencuri, karena apa faidahnya dari hal itu –seperti yang mereka katakana-?! Maka silahkan kita namai dia sebagai orang yang terpercaya dan kita berikan kepadanya kepercayaan pengurusan harta manusia!!

Dan selagi kita ini belum mampu dari merubah kemungkaran yang nampak, maka tidak halal bagi kita memperkenalkannya atau menghati-hatikan darinya atau menamainya sebagai kemungkaran, dan kalau bukan kemungkaran maka berarti secara pasti ia adalah hal yang baik….dan begitu seterusnya.

Dan di dalam hal itu terdapat kebatilan yang dengannya kita membuka segala pintu kerusakan dan kekafiran, membolehkannya serta memperingannya di hadapan manusia.

Sedangkan yang benar dan haq di dalam hal ini adalah apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kita di dalam Kitab-Nya dengan firman-Nya:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At Taghabun; 16)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berkata tentang Syu’aib:

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (Huud: 88)

Dan dari sanalah para ahli fiqh menetapkan kaidah fiqh mereka yang terkenal (bahwa suatu yang mudah itu tidak gugur dengan suatu yang sulit).

Bila kaum muslimin di waktu tertentu tidak mampu dari memberontak para penguasa murtad dan dari mengganti mereka, maka ini tidak berarti mereka meninggalkan pengkafirannya, namun ini adalah hukum syar’iy yang mereka mampu, maka mereka wajib bertaqwa kepada Allah di dalamnya dan di dalam konsekuensi pengkafiran lainnya yang mereka mampu. Di mana mereka meninggalkan pembelaannya dan tawallinya serta tahakum kepada hukum-hukum kafirnya, dan mereka jangan menyerahkan urusan agama mereka kepadanya dan tidak menjadikan baginya jalan untuk menguasai diri mereka semampu mungkin, tidak masuk di dalam pembai’atannya atau berperang di bawah panjinya atau membantunya di atas kebatilannya atau membantunya terhadap orang muslim serta hal-hal lainnya yang mereka mampu melaksanakannya. Dan juga sesungguhnya mengetahui status kekafiran si penguasa adalah factor pendorong yang memompa dia untuk berbuat serius dan menyiapkan apa yang mereka bisa supaya bisa menggantinya di suatu hari nanti.

Berbeda dengan orang yang meyakini bahwa si penguasa itu adalah muslim, maka dia itu tidak akan beranjak dan tidak akan berpikir satu haripun untuk I’dad yang seriaus dalam rangka menggantinya, sebagaimana ia adalah realita kalangan Murjiah Gaya Baru di masa sekarang ini.

Maka perbedaan penilaian terhadap si penguasa bagi setiap kelompok adalah furqan dan timbangan yang menimbang prilaku setiap kelompok dan memilah pemahaman dan pemikirannya, antara muwahhid yang kafir kepada thaghut lagi memusuhinya atau minimal menjauhinya, dengan orang yang membai’atnya lagi membelanya, atau berdebat dalam rangka membela kebatilannya lagi memperingan kekafirannya. Di mana realita kami dan realita lawan dakwah kami ini adalah saksi yang nyata atas hal itu semua. Maka silahkan orang yang obyektif memperhatikan keadaan para muwahhidin, prilaku mereka, dakwah mereka dan manhaj mereka pada realita hari ini, kemudian silahkan dia mengamati realita pihak lain yang tidur di pangkuan para thaghut dan menetek dari susu mereka serta menjulurkan lidah dan pena mereka kepada setiap orang yang keluar membangkang terhadap mereka atau melawan mereka dengan lisan atau senjatanya.

  • Bukan termasuk mawani’ takfier juga buruknya tarbiyah orang yang melakukan kekafiran, sebagaimana yang diklaim oleh sebagian orang yang dijadikan panutan lagi tersohor, di mana dia menjadikan hal itu sebagai penghalang dari pengkafiran orang yang menghina Allah, dien dan Rasul, karena sesungguhnya mayoritas orang-orang kafir dan kaum musyrikin itu telah kafir dan tumbuh dewasa di atas kemusyrikan karena buruknya tarbiyah dan bimbingan, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:”Setiapa anak yang terlahir itu adalah terlahir di atas fithrah, namun kedua orang tuanya menjadikan dia yahudi, atau majusi atau musyrik” Hadits riwayat Muslim dan yang lainnya. Namun hal itu tidak menghalangi dari pengkafirannya.
  • Dan bukan termasuk mawani’ takfier juga melakukan sesuatu dari sebab-sebab kekafiran yang nyata lagi terang dengan dalih istihsan (anggapan baik) atau mashlahat atau apa yang mereka sebut mashlahat dakwah…!!

Di mana tidak ada mashlahat yang bisa dianggap pada kemusyrikan atau kekafiran, karena ia adalah dosa terbesar yang dengannya Allah didurhakai di dunia ini, oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditanya di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim: Dosa apa yang paling besar? Maka beliau menjawab: Kamu menjadikan tandingan bagi Allah sedangkan Dialah yang telah menciptakanmu.”

Jadi ia adalah kerusakan terbesar di dalam kehidupan ini secara muthlaq, dan oleh sebab itu maka ia menghapuskan seluruh amalan, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65)

Sehingga setiap mashlahat yang diklaim atau diaku-aku di dalam syirik atau kekafiran ini, maka ia adalah mashlahat yang bathil lagi tidak dianggap di dalam syari’at ini, yang mana Allah tidak menganggapnya.

Ya bisa saja di dalam syirik itu terdapat mashlahat duniawi dan mashlahat yang sejalan dengan syahwat yang dibungkus oleh sebagian orang dengan mashlahat agama, sedangkan agama berlepas diri darinya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus semua rasul-Nya dan menurunkan semua kitab-Nya dalam rangka menggugurkan syirik dan menghancurkannya, dan di antaranya adalah pemurnian ibadah hanya kepada Allah, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah baik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik. Dan tujuan-tujuan syari’at yang suci ini tidaklah boleh diraih kecuali dengan sarana-sarana syar’iy yang suci lagi shahih, sama persis bahwa najis tidak bisa disucikan dan dihilangkan dengan barang najis lagi, dan sebagaimana tidak boleh istinja dari kencing dengan air kencing. Kita ini bukanlah Mikafiliyyin[54] yang melegalkan segala macam cara dalam meraih tujuan, sehingga kita memilih dan mengambil sarana apa saja yang kita suka, namun Allah telah menutup semua jalan, dan tidak tersisa bagi kita kecuali satu jalan yang menghantarkan kepada-Nya dan ke surga-Nya, untuk meraih keridlaan-Nya dan untuk membela agama-Nya serta untuk meraih kebahagian di dunia dan di akhirat; yaitu jalan syar’iy yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini adalah di antara makna terpenting dari kesaksian kita bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Allah telah menjelaskan kesesatan orang yang menganggap kekafiran sebagai mashlahat dan menjelaskan kerugian orang yang menganggap baik apa yang dikerjakannya, Dia berfirman:

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al Kahfi: 103-105)

Dan semoga Allah merahmati salaf yang telah menamakan mashlahat yang disematkan oleh sebagian orang kepada agama ini sebagai (tipuan iblis), mereka lontarkan ucapan itu kepada orang yang berbasa-basi dengan para penguasa dan mendekatkan diri kepada mereka di masa khilafah dan futuhat islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan Ast Stauri rahimahullah kepada orang yang beliau nasehati: “Hati-hatilah kamu dari para penguasa (jangan) kamu mendekat dari mereka atau berbaur dengan mereka dalam sesuatu hal apa saja, dan hati-hatilah kamu tertipu dan dikatakan kepada kamu” agar kamu menjadi perantara yang membantu dan membela orang yang didzalimi atau mengembalikan hak,” karena sesungguhnya itu adalah tipuan Iblis, dan itu hanya dijadikan tangga oleh ahli baca yang bejat….” Selesai[55]

Maka perhatikan pengguguran beliau terhadap istihsan dan klaim mashlahat sebagian fuqaha untuk masuk kepada penguasa dengan hujjah meringankan kedhaliman dan menolak kerusakan…!! Dan beliau menamakan hal itu sebagai tipuan iblis, dan kapan  beliau katakan itu? Di awal-awal kekhilafahan ‘Abbasiyyah sebelum Al Mu’tashim dan Al Makmun serta yang lainnya yang menampakkan bid’ah mereka dan menindas manusia dengan bid’ahnya itu. Dan saat itu kejayaan khilafah dan pamornya sedang di atas, dan penaklukan-penaklukan kaum muslimin dan pasukan mereka sedang menggedor wilayah kekuasaan orang-orang kafir di barat dan di timur.

Maka bagaimana beliau rahimahullah andaikat melihat orang-orang khalaf zaman kita ini yang bukan hanya mendekatkan diri kepada para thaghut murtad saja, namun mereka itu masuk di dalam dien mereka, bersumpah setia kepada UUD mereka yang kafir, ikut serta di dalam pembuatan undang-undang kafir mereka dan menjadi bala tentara yang setia bagi mereka serta menjadi anshar yang tulus baginya…??

Kemudian mereka itu tidak memiliki rasa malu dari menyandarkan seluruh kekafiran dan kemusyrikan mereka yang nyata lagi jelas itu kepada agama ini, di mana mereka mengatakan: Ini adalah mashlahat dakwah dan untuk membela agama!! Justeru ia adalah mashlahat perut dan uang. Semoga Allah merahmati Sufyan Ats Tsauri saat berkata: (Saya bertemu dengan orang yang saya benci, terus dia berkata kepada saya: Bagaimana keadaanmu? Maka hati saya menjadi lembut kepadanya, maka bagaimana dengan orang yang makan dari hidangannya dan menginjak permadaninya??) selesai dari Tadzkiratul Maudluu’aat hal 25.

Maka tidak anehlah setelah ini semua, bila para penganut mashlahat dakwah yang rusak lagi kafir ini tidak merasa cukup dengan membela kemusyrikan-kemusyrikan mereka yang telah dicampuraduk dengan agama ini dengannya, sungguh mereka itu telah melampaui hal itu, di mana dengannya mereka membela dan mengudzur para thaghut hukum dan anshar mereka.

Dan di antara udzur-udzur yang membuat geli di dalam bab ini adalah apa yang diklaim oleh seorang anggota legislative yang berasal dari Ikhwanul Muslimin yang mengunjungi kami di penjara dengan disertai menteri dalam negeri dan para pembantunya. Dia dan orang-orang yang bersamanya merasa tersinggung karena kami tidak mau mengucapkan salam terhadap mereka dan kami malah menampakkan pengkafiran mereka, dan kami tampakkan keberlepasan diri kami dari mereka dan undang-undang mereka serta pemerintahan mereka, dan kami pun –dengan karunia Allah subhanahu wa ta’ala- menolak dari mengajukan permintaan apapun kepada mereka tatkala mereka menawarkan hal itu kepada kami. Dan kami mengingkari di hadapan si anggota legislative itu apa yang difitnahkan kepada kami oleh media massa bahwa kami telah mengkafirkan semua masyarakat, kami jelaskan kepada mereka bahwa itu hanyalah fitnah, karena kami tidak pernah mengkafirkan semua masyarakat, di mana peperangan kami itu bukanlah dengan masyarakat umum, namun dengan pemerintah yang memerangi agama Allah. Kami ini hanyalah mengkafirkan pemerintahan dan mengkafirkan orang yang membela undang-undang kafir dan melindunginya atau ikut serta di dalam pembuatannya. Kami selalu mengajak mereka untuk meninggalkan pembelaan kepada undang-undang dan menjadi para pembela syari’at dan anshar bagi dien ini, maka si anggota dewan itu bangkit seraya membela orang-orang yang kami kafirkan itu dengan dalih bahwa mereka itu membela agama dengan jabatan-jabatan mereka tersebut; di mana mereka itu menurut klaim dia adalah mempersiapkan dan melenggangkan jalan dengan jabatan dan posisinya itu bagi tegaknya khilafah yang akan menghadang Amerika –begitu dia katakan- dan dia sama sekali tidak malu dari mengatakan hal itu di hadapan mereka –dan saat itu hadir panglima tertinggi keamanan umum dan yang paling dasyat dan paling bengis permusuhannya terhadap dien ini- yang mana hal itu tidak pernah terlintas sama sekali di benak seorangpun dari mereka itu, yaitu udzur yang diklaim oleh si anggota dewan tersebut bagi mereka, bahkan andaikata mereka berani mengucapkannya atau mengklaimnya, maka bisa saja mereka itu langsung dimeja hijaukan atau dipecat. Namun ini adalah realita dari apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ucapan kenabian pertama: “Bila kamu tidak malu, maka lakukan apa yang kamu suka.”(HR Al Bukhari dan yang lainnya dari Abu Mas’ud Al Badriy). Adapun dia maka telah membela diri untuk keberadaannya di Dewan Legislatif, kadang dengan pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hilful Fudlul, dan tatkala kami mengatakan kepada dia bahwa Hilful Fudlul yang dipuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah berdiri di dalam rangka membela orang yang dianiaya dengan kekuatan fisik, maka komitmenlah dengan hal ini dan tinggalkan pembuatan hukum! Maka dia lari seraya berteriak: Tidak, tindakan fisik tidak, kita ini orang-orang tertindas, dan tidak ada tindakan fisik di fase Mekkah!! Maka saya berkata: Kalau begitu telah gugurlah pendalilan kamu, maka jangan kembali kepada dalil ini…!

Oleh sebab itu dia di kesempatan lain berdalil terhadap kami saat dia mau meninggalkan tempat; dengan perbuatan Nu’aim Ibnu Mas’ud di perang Ahzab, kemudian tatkala kami menanyakan kepadanya: Apakah Nu’aim bersumpah setia kepada UUD? Atau apakah dia membuat Undang-Undang tatkala dia menggembosi pasukan Ahzab untuk kepentingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau apakah ia melakukan kekafiran yang nyata atau kemusyrikan yang jelas sebagaimana yang kalian lakukan? Maka dia tidak bisa menjawab, dan diapun pergi begitu saja…

Maka benar sekali apa yang dikatakn Sufyan: (maka bagaimana dengan orang yang makan dari hidangannya dan menginjak permadaninya??)

KETIGA

SEBAB-SEBAB  TAKFIER

Sebab syar’iy menurut ulama ushul adalah: (Sifat yang dhahir lagi baku yang mana hukum terbukti ada dengannya dikarenakan syari’at mengaitkan hukum dengannya)[56] atau ia adalah (suatu yang yang mesti karena keberadaannya adanya musabbab (apa yang disebabkan) dan mesti karena ketidak adaannya tidak adanya musabbab) atau ia itu adalah (menjadikan sifat yang dhahir lagi baku sebagai manath (alasan) untuk adanya hukum, yaitu mengharuskan adanya).[57]

Dan dengan ungkapan lain adalah apa yang dijadikan oleh syari’at ini sebagai tanda terhadap apa yang disebabkannya serta mengaitkan keberadaan musabbab dan ketidakadaannya terhadapnya. Oleh sebab itu para ulama mengatakan bahwa hukum itu berputar bersama ‘illat-nya (alasannya) saat ada dan saat tidak ada.

‘illat dan sebab itu adalah sama menurut mayoritas ahli ushul, dikatakan di dalam Maraqi As Su’uud:

Dan bersama ‘illat yang sama dengan sebab

dan sebagian berpendapat membedakannya[58]

Dan dikarenakan iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu adalah terdiri dari tiga rukun; yaitu keyakinan, ucapan dan amalan, maka sesungguhnya sebab kekafiran itu adalah seperti itu juga, yaitu ada ucapan yang mukaffir, atau perbuatan mukaffir (dan masuk di dalamnya sikap meninggalkan yang mukaffir) atau keraguan atau keyakina yang mukaffir.

Ibnu Hazm rahimahullah (456 H) berkata tentang definisi kekafiran: (Ia di dalam dien ini adalah sifat orang yang mengingkari sesuatu yang telah Allah ta’’ala fardlukan  untuk iman kepadanya setelah tegak hujjah terhadapnya dengan sampainya kebenaran kepadanya, dengan hatinya tanpa lisannya, atau dengan lisannya tanpa hatinya, atau dengan kedua-duanya secara bersamaan atau melakukan suatu amalan yang mana telah datang penegasan bahwa hal itu mengeluarkannya dengan sebab itu dari nama iman) selesai dari Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam 1/45.

Tajuddien As Subki (771 H) berkata: (Takfier adalah hukum syar’iy yang sebabnya adalah pengingkaran rububiyyah atau wahdaniyyah atau kerasulan, atau ucapan atau perbuatan yang mana syari’at telah menghukuminya bahwa itu adalah kekafiran walaupun dia itu bukan mengingkari). Selesai dari Fatawa As Subki 2/586.

Asy Syarbiniy Asy Syafi’i (977 H) berkata di dalam Mughnil Muhtaj: (Kemurtaddan adalah pemutusan Islam secara total dengan niat, atau ucapan atau perbuatan, sama saja dia mengucapkannya dalam rangka bercanda atau pembangkangan atau keyakinan). Selesai 4/133.

Manshur Al Bahuti Al Hanbali (1051 H) berkata: (Orang murtad itu secara bahasa adalah orang yang kembali. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Al Maidah: 21)

Dan sedangkan secara syari’at maka ia itu adalah orang yang kafir setelah dia muslim, baik dengan ucapan atau keyakinan atau keraguan atau perbuatan). Selesai dari Kasyful Qinaa’ ‘An Matnil Iqnaa 6/136.

Dan ucapan para ‘ulama di dalam hal ini adalah sangat banyak.

Dan di dalam itu semua dijelaskan bahwa sebab kekafiran atau kemurtaddan itu adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan: Bisa berupa ucapan yang mukaffir atau perbuatan yang mukaffir atau keyakinan atau keraguan yang mukaffir.

Ini adalah sebab-sebab kekafiran secara umum.

Adapun sebab-sebab takfier yang diberlakukan di dalam hukum-hukum dunia, maka ia itu terbatas pada perbuatan yang mukaffir atau ucapan yang mukaffir saja. Dan telah kami jelaskan bahwa di antara perbuatan dan ucapan itu ada yang merupakan kekafiran dengan sendirinya yang mengeluarkan dari Islam, tanpa dikaitkan dengan keyakinan yang rusak atau juhud atau istihlal di dalam kitab kami (Imtaa’un Nadhr Fi Kasyfi Syubuhat Murjiatil ‘Ashr) dan di dalamnya kami berbicara panjang lebar, maka silahkan rujuk karena ia adalah tempatnya.

Syari’at ini telah membatasi takfier terhadap hal itu saja di dalam hukum-hukum dunia, karena keyakinan dan keraguan itu adalah tidak nampak dan tidak baku di dalam hukum dunia, oleh sebab itu Allah tidak mengaitkan hukum-hukum dunia terhadapnya dan tidak menjadikannya sebagai sebab  takfier di dalamnya, namun itu adalah urusan Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi, jadi ia adalah sebab  kekafiran di akhirat yang tidak ada kaitannya dengan hukum-hukum dunia. Oleh sebab itu orang yang menyembunyikan kekafiran dan tidak menampakkannya dan ia malah menampakkan ajaran-ajaran Islam, maka ia itu adalah orang munafiq yang di dunia diperlakukan sebagai orang muslim, dan sedangkan di akhirat maka Allah yang akan menghisabnya  atas kekafiran yang disembunyikannya, sehingga akhir jalannya adalah di tingkatan neraka yang paling dasar.

Dan telah lalu ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam Ash Sharimul Maslul 177-178: (Dan secara umum, barangsiapa mengatakan atau melakukan suatu yang merupakan kekafiran, maka dia itu kafir dengan sebab itu walaupun tidak ada maksud untuk kafir, karena tidak ada seorangpun yang bermaksud untuk kafir kecualia apa yang Allah kehendaki).

Jadi sebab takfier itu dibatasi pada ucapan dan perbuatan yang mukaffir, karena itulah yang dianggap di dalam hukum dunia, dan tidak ada kaitan dengan sebab yang tersembunyi, karena ia tidak ada hubungannya dengan hukum dunia. Dan hal yang hampir sama dengan ini di dalam Ash Sharim Al Maslul hal 370.

Dan telah lalu pembicaraan tentang penjelasan ucapan Syaikhul Islam (walaupun tidak ada maksud untuk kafir), dan itu dikarenakan syari’at ini telah mengaitkan hukum dengan sebabnya, (sehingga bila sebab ini ada, syurutnya terpenuhi serta mawani’nya tidak ada, maka secara pasti hukumnya ada juga), (karena hukum itu tidak pernah meleset dari sebabnya secara syari’at, baik orang yang melakukan sebab itu memaksudkan terjadinya hukum padanya ataupun tidak, justeru hukum itu sudah melekat walaupun dia tidak memaksudkannya),[59](Di mana orang mukallaf tidak memiliki hak untuk melepaskan ikatan yang mana syari’at telah mengaitkan hukum dengan sebabnya) dan iapun tidak akan bisa, walaupun dia melakukan angan-angan yang melangit.

Dan atas dasar ini, seandainya orang mukallaf mendatangkan suatu sebab kekafiarn yang nyata, baik itu ucapan atau perbuatan yang mukaffir, serta syurutnya terpenuhi lagi mawani’nya tidak ada, maka dia itu kafir, walaupun dia mengklaim bahwa ia tidak bermaksud keluar dari agama Islam, karena hal ini tidak dimaksud oleh seorangpun kecuali apa yang Allah kehendaki. Termasuk orang-orang nasrani, seandainya kita tanyakan kepada mereka apakah kalian bermaksud kafir dengan ucapan kalian bahwa Al Masih itu adalah anak Allah? Tentu mereka menjawab tidak dan mengingkarinya.

CATATAN SEPUTAR SEBAB-SEBAB TAKFIER

Ketahuilah bahwa orang mukallaf seandainya mendatangkan suatu sebab kekafiran yang nyata, sedangkan syurutnya terpenuhi dan mawani’nya tidak ada, maka dia itu kafir. Dan tidak mesti dia itu menggabungkan lebih dari satu sebab kekafiran agar dikafirkan, akan tetapi berbilangnya sebab kekafiran adalah menjadikan kekafiran dia itu berlapis-lapis, di mana sesungguhnya kekafiran itu berlapis-lapis sebagaimana iman itu bertingkat-tingkat. Lihat dalam hal ini pasal Maratibul Mukallafin Fid Daril Akhirah Wa Thabaqatuha dari Kitab Thariqul Hijratain karya Ibnul Qayyim, dan ini dibuktikan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. “ (At Taubah: 37)

Pengundur-unduran bulan haram itu adalah sebab kekafiran yang menambah kekafiran-kekafiran orang kafir Quraisy. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Orang-orang Arab Badwi itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya,” (At Taubah: 97)

Di dalamnya ada penjelasan bahwa sebagian kekafiran itu adalah lebih dasyat dari sebagian yang lainnya, dan ini sangat nampak. Maka barangsiapa yang menggabungkan berbagai sebab kekafiran, di mana dia murtad dengan meninggalkan ikrar dua kalimah syahadat dan shalat, di samping itu juga dia mencela dienullah, menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berniat jahat terhadapnya serta berupaya memeranginya, seperti Abdullah Ibnu Sa’ad Ibnu Abu Sarh dan Abdullah Ibnu Khathal serta yang lainnya dari kalangan yang kisahnya disebutkan oleh Syaikhul Islam di dalam Ash Sharimul Maslul, maka tidak diragukan lagi bahwa kekafiran dan kemurtaddannya itu adalah lebih dasyat daripada orang-orang yang telah dikafirkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan satu sebab kekafiran saja, seperti orang-orang yang memperolok-olok para sahabat di perang Tabuk, dan seperti orang-orang yang murtad karena sebab menolak dari membayar zakat saja tanpa menolak dari shalat atau rukun-rukun islam yang lainnya.

Dan ringkasnya bahwa pemberian alasan hukum kafir dengan lebih dari satu ‘illat atau satu sebab adalah bukan syarat bagi pengkafiran, namun hal itu hanyalah menambah point kekafiran baginya.

Sebagaimana pengharaman itu kadang diberikan alasan baginya dengan dua alasan untuk menguatkan pengharamnnya, sebagaimana dalam pengharaman menikahi puteri tiri, bila ia itu diharamkan dengan sebab sesusuan di samping dia itu anak tiri, dan untuk hal itu para ulama berdalil dengan hadits Ummu Habibah di dalam Ash Shahihain bahwa ia berkata keada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya kami membicarakan bahwa engkau akan menikahi Darrah puteri Ummu Salamah,” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya dia itu andaikata bukan anak tiri saya yang ada di dalam asuhan saya, maka tetap dia itu tidak halal bagi saya, karena ia itu adalah puteri saudara saya dari susuan, saya dan Abu Salamah disusukan oleh Tsuwaibah budak milik Abu Lahab.”

Dan Imam Ahmad mengatakan di dalam sesuatu yang pengharamannya sangat dasyat: (Ini seperti daging bangkai babi) beliau katakana itu dalam rangka mempertebal nilai keharaman dan menguatkannya, dan seperti penguatan pembunuhan orang yang membunuh, dan murtad serta berzina secara muhshan….dan begitu seterusnya.

Dan dalam hal ini adalah kekafiran para thaghut hukum di zaman ini, di mana kekafiran mereka itu adalah kekafiran yang berlapis-lapis, karena mereka itu telah mengumpulkan berbagai sebab kekafiran sehingga mereka itu telah keluar dari dien ini dari berbagai pintu, seperti pembuatan undang-undang, berhukum dengan selain hukum Allah, mengikuti dien selain islam yang berupa sistim-sistim kafir lagi bid’ah yang mereka anut seperti demokrasi dan yang lainnya, tawalli kepada orang-orang yahudi dan nasrani, membantu saudara-saudara mereka yang murtad dari kalangan para thaghut berbagai Negara terhadap kaum mujahidin muwahhidin, membuka berbagai pintu perolok-olokan terhadap dien dan memberikan izin bagi media-media massanya, baik yang bisa dilihat atau yang bisa didengar maupun yang bisa dibaca, serta kekafiran-kekafiran lainnya yang sangat banyak.

PASAL KETIGA

PENGHATI-HATIAN DARI KEKELIRUAN-KEKELIRUAN YANG BANYAK TERJADI DI DALAM TAKFIER

Kekeliruan-kekeliruan ini sebagiannya umum terjadi, dan sebagiannya adalah sangat busuk di dalam masalah takfier yang terjatuh ke dalamnya banyak kalangan dari orang-orang yang bersemangat tinggi, para pemula, dan orang-orang yang ghuluw. Di mana mereka melontarkan ungkapan-ungkapan yang bisa saja pendorongnya adalah hawa nafsu, di samping kelemahan ilmu dan keikhlasan. Kelemahan ilmu adalah pintu peluang bagi syubuhat, dan kelemahan keikhlasan adalah peluang bagi syahwat, sedangkan penyerahan diri kepada syubhat dan syahwat itu adalah pijakan hawa nafsu dan kendaraan bagi kesesatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shaad: 26)

Dan kadang yang menjerumuskan kepada hal itu adalah adalah sikap aniaya yang sesekali menghantarkan kepada sikap berlebihah, dan sesekali menghantarkan kepada sikap mengada-ada. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri” (Yunus: 23)

Dan di antaranya juga adalah buruknya niat yang muncul dari percikan-percikan perseteruan yang tidak diikat dengan timbangan keadilan yang mana bumi dan langit berdiri dengannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah)

Dan kadang yang mendorongnya adalah tekanan realita kekafiran, terror pemikiran, terror pisik serta terror mental yang dilakukan musuh-musuh agama ini terhadap para penganutnya, yang mana hal itu pada sebagian orang melahirkan pemahaman-pemahaman yang muncul sebagai reaksi sebaliknya, yang dinamakan oleh sebagian orang sebagai al fikru as sujuni (pemahaman yang muncul dari akibat tekanan penjara), serta nama-nama lainnya yang mereka ada-adakan dalam rangka mencoreng citra baik dakwah tauhid ini dengan klaim bahwa aqidah para penganutnya adalah tidak murni dan tidak ada kaitannya dengan agama ini, namun ia adalah lahir dari fase-fase ketertindasan, kefaqiran dan tekanan, oleh sebab itu mereka mengira bahwa dakwah tauhid ini akan lenyap dengan lenyapnya fase-fase ini.

Yang mereka klaim ini, andaikata ada sesuatu darinya, maka ia itu hanya ada pada orang-orang yang lemah akalnya dan miskin ilmunya yang tidak terarah dengan batasan-batasan syari’at, serta tidak terikat dengan kaidah-kaidah dan dasar-dasarnya, sehingga mereka dan pikiran mereka dipermainkan oleh situasi, tekanan dan penindasan.

Sedangkan para du’at tauhid yang haq dan para penganut aqidah yang mantap, maka mereka itu adalah tidak seperti itu.

Namun lontaran-lontaran yang muncul dari ghulat (orang-orang yang ghuluw di dalam takfier) itu hanyalah mempengaruhi kadang kepada sebagian orang-orang yang bersemangat tinggi atau para pemula yang belum mantap keilmuannya di dalam dakwah ini, sebagaimana yang kadang saya saksikan, itu muncul karena rasa ghirah dan marah karena pelanggaran terhadap apa yang dilarang agama ini.

Kemudian orang yang berakal di antara mereka, bila diingatkan, maka dia tersadar dan kembali kepada dalil-dalil syar’iy, kemudian dia mengikat dengannya rasa ghirahnya (cemburunya), ucapannya serta perbuatannya, di saat kondisi ridla dan marah, di saat kondisi susah dan lapang. Karena sudah maklum bahwa ghairah yang terpuji itu adalah apa yang diikat dengan batasan-batasan syari’at, bukan apa yang muncul dari reaksi balik yang tidak diikat dengan batasan syari’at.

Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat Sa’ad merasa sulit bila dia mendapatkan seorang laki-laki lain bersama isterinya terus ia membiarkannya dan tidak membunuhnya sampai ia mendatangkan empat orang saksi, dan itu sebelum turun hukum Li’an, dan berkata: Tidak, demi Dzat yang telah mengutus engkau sebagai Nabi, sungguh saya akan menghabisinya dengan pedang sebelum itu, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Apakah kalian merasa heran dari ghairah Sa’ad, maka demi Allah sesungguhnya aku adalah lebih ghairah darinya, dan Allah lebih ghairah dariku, oleh sebab itu Dia telah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, yang nampak maupun yang tersembunyi darinya, dan tidak seorangpun lebih ghairah daripada Allah….” Asal hadits ada di dalam Ash Shahihain.

Dan diriwayatkan juga di dalam hadits marfu’: “Sesungguhnya di antara ghairah itu ada yang Allah cintai dan ada yang Allah benci…” Hadits riwayat Al Imam Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya, sedang ia adalah hadits hasan dengan seluruh jalan-jalannya.

Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang semacam itu selagi mereka itu adalah ansharuddien, maka sesungguhnya mereka itu diudzur, bila sangat kuat syubhat yang mendorong mereka untuk melontarkan sesuatu kepada sebagian orang, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengudzur Umar tatkala berkata tentang Hathib (Sesungguhnya dia itu munafiq) dan ia meminta izin untuk membunuhnya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan kepadanya (kamu telah kafir karena kamu telah mengkafirkan saudaramu yang muslim), itu dikarenakan Hathib telah terjatuh ke dalam syubhat amalan yang mukaffir. Namun mereka itu harus diberikan pengarahan ilmu dan pengingatan serta pengembalian mereka kepada al haq, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap seperti itu kepada Umar, karena dien ini tidak ada toleran kepada seorangpun.

Ini adalah Umar, jadi kesalahan itu bagaimanapun dorongannya adalah tetap kesalahan, karena tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.

Wajah kesesatan yang buruk itu tidak boleh dihiasi atau dibuat indah dengan sesuatupun dari niat-niat yang baik atau tujuan-tujuan yang bagus atau dorongan yang positif, walaupun ia itu adalah banyak.

Kemudian sesungguhnya musuh-musuh dien ini dan lawan-lawan dakwah ini selalu mencari-cari kesalahan yang muncul dari para pengikut dakwah ini seraya tidak memakluminya sedikitpun atau mengudzur mereka di dalam takwil, dan mereka itu tidak mau membedakan antara dakwah dengan para pengikutnya atau membedakan antara orang-orang yang sudah mantap keilmuannya dengan para pemula.

Dan suatu yang paling sulit dan paling jarang pada diri mereka itu adalah sikap inshaf (obyektif), dan yang paling banyak mereka miliki adalah dusta dan mengada-ada, sedangkan sekedar klaim dalam rangka perseteruan adalah hal yang sangat mudah bagi setiap orang yang membolehkan dan menganggap baik sikap berbicara tanpa dasar ilmu dan keadilan.

Para pembawa dakwah tauhid yang penuh berkah ini adalah memiliki pakaian yang putih bersih yang sedikit kotoran saja sangat nampak kelihatan padanya, oleh sebab itu mereka harus menghindari penyimpangan dari manhaj mereka yang murni, walaupun hanya hal kecil di dalam pandangan mata. Di mana mereka itu tidak seperti lawan-lawan tauhid ini yang telah mencoreng hitam wajah dan pakaian mereka dengan pekatnya kebatilan serta dengan kegelapan syubhat dan syahwat, sehingga mereka itu sudah tidak merasa segan dari hal-hal yang membinasakan atau bersikap wara’ dari hal-hal yang mencelakakan atau merasa malu dari kebejatan-kebejatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menuturkan di dalam suatu risalah yang tergolong risalah paling bagus di dalam kritikan diri: (Sesungguhnya di antara sebab penyepelean ahli bid’ah terhadap salaf adalah apa yang muncul dari sebagian orang-orang yang menisbatkan diri kepada salaf berupa suatu keteledoran dan sikap  aniaya, dan apa yang muncul dari sebagian mereka berupa urusan-urusan ijtihadiyyah yang mana kebenaran adalah kebalikannya, maka sesungguhnya apa yang muncul itu adalah menjadi fitnah bagi orang yang menyelisihi salaf, yang dengan sebabnya dia tersesat dengan sangat jauh) Selesai dari Majmu Al Fatawa 4/91.

Oleh sebab itu maka kami tidak mungkin mengakui kekeliruan-kekeliruan ini, pada orang-orang yang kami berkumpul dengan mereka atau mengajari mereka atau menangani urusan mereka, dan kami tidak pernah mendiamkan hal semacam itu kapanpun. Di dalam rangka membersihkan dakwah yang mahal ini dari setiap corengan yang mengotorinya atau memperkeruhnya maka kami tidak peduli dengan keridlaan atau kebencian, orang dekat mapun yang jauh, dan tidak akan menghalangi kami dari hal itu sikap aniaya mereka atau permusuhan mereka atau gangguan mereka, karena orang-orang yang lebih baik dari kami telah disakiti pada jiwanya dan kehormatannya sampai dating pertolongan Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada orang yang mengatakan:

Teruslah di atas semua keutamaan seraya bersungguh-sungguh

Dan langgengkan untuknya kelelahan hati dan badan

Niatkan dengannya Wajah Allah dan manfaat orang

yang engkau temui dari kalangan yang serius dan sungguhan

Dan biarkan ucapan para pendengki dan aniaya mereka begitu saja

Karena setelah kematian terputuslah kedengkian.

Kemudian sesungguhnya di antara orang-orang yang merasa benci dan mengingkari saya karena sikap bara kami dari kekeliruan-kekeliruan dan sikap berlebihan mereka pada suatu waktu, ada orang-orang yang pada akhirnya mereka rujuk kepada kebenaran setelah mereka matang dan memiliki bashirah, atau setelah mereka merasakan bahayanya sikap-sikap ganjil mereka terhadap dakwah ini serta mereka mengetahui akibat-akibat negatifnya, maka merekapun akhirnya memuji sikap bara’ kami atau melakukan apa yang kami lakukan walaupun setelah waktu yang lama, sehingga perumpamaan saya dengan mereka itu adalah seperti orang yang mengatakan:

Aku kerahkan nasehat pada mereka dengan penuh penentangan

Namun mereka tidak tersadar pada kebenaran kecuali di keesokan hari

Maka segala puji bagi Allah atas segala keadaan, sesungguhnya sikap rujuk mereka kepada Al haq walaupun setelah perdebatan sengit dan penentangan, adalah lebih baik daripada bersikukuh di atas kebatilan dan kesesatan. Sesungguhnya penghidayahan hati itu bukanlah di tangan kami dan tidak pernah juga ada di tangan seorangpun, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala kepada manusia terbaik:

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al Qashash: 56)

Namun itu adalah karunia Allah dan taufiq-Nya, yang Dia berikan kepada orang-orang yang Dia pilih dari kalangan hamba-hamba-Nya yang menjihadi dirinya dan hawa nafsunya serta musuh-musuh Allah di jalan-Nya, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al ‘Ankabut: 69)

Kesimpulannya adalah bahwa kami dengan karunia Allah ta’ala saja tidak pernah menganut sesuatupun dari kekeliruan-kekeliruan dan sikap ganjil-ganjil itu kapanpun, dan kami tidak pernah mengakuinya, dan tidak pernah juga menerimanya atau mendakwahkannya atau menulisnya kapanpun. Ini buktinya kitab-kitab kami yang diterbitkan dan yang masih berbentuk tulisan tangan, sejak Allah memberikan hidayah kepada kami ke jalan ini, bahkan kami senantiasa berlepas diri dari kekeliruan-kekeliruan dan sikap-sikap ngawur tersebut sebelum kami di penjara dan saat kami mendekam di dalamnya, dan insya Allah kami akan tetap seperti itu, dan kamipun tidak pernah menganut pemahaman-pemahaman yang muncul akibat tekanan penjara dan tidak pula reaksi-reaksi yang muncul akibat penindasan yang tidak dibatasi dengan batasan-batasan syari’at. Namun kami membawa aqidah ini yang merupakan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kami menulisnya dan kami mendakwahkannya pada kondisi sempit dan lapang, dari hasil pengkajian, pencarian dan penelaahan pada dalil-dalil syar’iy dan ucapan-ucapan salaf.

Kami senantiasa dengan karunia Allah tetap berada di atasnya dalam kondisi penjara, penahan dan kondisi sulit, dan kami tidak pernah menyimpang dengan sebab tekanan dan iming-iming kepada sikap ifrath (berlebihan) ataupun tafrith. Maka kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menyempurnakan nikmat-Nya kepada kami dengan keteguhan dan husnul khatimah.

Inilah kami menulis dalam hal itu, sebagai bentuk nasehat dan pengingatan bagi para pemula dan orang-orang yang bersemangat tinggi, dan sebagai bentuk pentahdziran dan tarhib bagi orang-orang yang ghuluw dan berlebihan, serta sebagai bentuk penguatan sikap bara’ kami dan sikap bara’ para pembawa dakwah ini dari segala sikap ganjil dan kekeliruan.


[1] Penjara Al Jufr adalah penjara padang pasir, tergolong penjara Yordania tertua  dibangun pada masa penjajahan Inggris  tahun 1372 H/1952 M, berjarak sekitar 300 km Selatan Aman, dan kota Yordania yang paling dekat dengannya adalah Ma’an 60 km, kami dipindah ke sana di akhir bulan Rabi’Tsani. Tahun 1419 H, dan dilakukan pengawasan ketat terhadap kami dan upaya mempersulit kami di dalamnya setelah pemerintah mengetahui pengaruh keberhasilan dakwah tauhid secara kuat lewat jeruji penjara-penjara lain.

[2] Dan di antara mereka adalah seorang napi jahiliy yang dijebloskan pemerintah di dalam jajaran aktivis Islam – padahal dia itu sama sekali tidak memiliki latar belakang di dalam ‘amal Islami dan di dalam dakwah kepada Islam -, dia berupaya keras dalam memberikan masukan kepada pemerintah dan mengarahkannya kepada cara yang paling efektif yang memungkinkan pemerintah –menurut dugaannya– dari menghadang bahaya dakwah ini. Dan itu terjadi saat kami berada di penjara Balqa, kemudian di antara kebaikan sangkaan dia terhadap pemerintah setelah dia mengumumkan sikap bara’nya dari kami dan dari aqidah kami lewat lembaran-lembaran koran yang berpaham Bath adalah keyakinannya bahwa dia tidak akan dipindah ke penjara padang pasir Al Jufr –dan begitulah dugaan sebagian orang yang mencela dakwah kami– sembari menduga bahwa sikap bara’ mereka dari kami dan dari dakwah kami akan menolomg mereka di hadapan pemerintah, dan mereka mengklaim bahwa pemindahan paksa ini adalah hanya sangsi bagi kaum takfiriyyin saja, ternyata dugaan mereka meleset, dan ternyata mereka juga tergolong daftar yang dipindahkan, serta sikap mudahanah mereka itu tidak bermanfa’at bagi mereka sedikitpun

[3] Sebagaimana yang sering terjadi antara saya dengan yang lain, saat musuh-musuh  Allah menyampaikan kepada kami sebagian hujatan ikhwan kami terhadap kami, sembari mereka mengira bahwa hal seperti ini akan membuat kami kenal, atau itu menjadi faktor pendorong kami bara’ah dari mereka atau menata mereka. Sungguh kami dengan karunia Allah memperdengarkan kepada mereka bantahan atas itu berupa pujian atas ikhwan kami yang membuat para musuh  Allah itu mati dengan kedongkolan.

[4] Majmu Al Fatawa cet der Ibnu  Hazm 28/34

[5] Al Jufri adalah nama daerah padang pasir yang mana penjara itu ada di sana, di mana saya menulis lembaran lembaran ini. Jadi ia adalah nama daerah dan tempat, dan bukan yang dimaksud denganya anak kambing.

* Faidah: Orang Rafidhah menisbatkan kepada Ja’far Ash Shadiq sebuah kitab yang mereka klaim bahwa ia menulis segala kejadian di dalamnya, mereka menamakanya Kitabul Jufri, dan ia termasuk dusta mereka terhadapnya, Syaikhul Islam berkata: (Al Jufri adalah anak kambing, mereka mengklaim bahwa ia menulis itu pada kulitnya) Al Fatawa 4/51

[6] Majmu Al Fatawa 12/251

[7] Lihat dalam wajibnya hal itu: Fathul Bariy 13/123 dan Syarah Muslim karya An-Nawawy 12/229 dan lihat Asharim Al Mashlul hal 13 dan hal 216, Juga lihat karya Asy Syaukany (Ad Dawaaul ‘Aajl Fi Daf’il ‘’Aduw Ash Ashaail) hal 33-35 yang ada dalam Arasaail As Salafiyyah, dan karya Hamd Ibnu ‘Atiq (Sabilunnajah wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin wal Ahlul Isyrak) hal 412 dalam Majmu’atut tauhid, dan karya Abdul Qadir ‘Audah (At Tasyri’ Al Jinaai) 2/232 dan Ulama lainya.

[8] Lihat Al Mughny (Kitabul Murtad) (pasal: Bila ia menikahinya maka pernikahanya tidak sah…dan bila menikahkan maka tidak sah itu karena perwaliannya atas wanita yang diwalikannya telah hilang…).

[9] Bagian dari hadits yang dikeluarkan dalam Ash Shahihain dari Abu Said secara marfu

[10] Bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh Al Iman Ahmad, At Tirmidzi dan yang lainnya dari Abu Umamah secara  Marfu

[11] Bagian dari hadits yang dikeluarkan muslim dalam Ash Shahih dari Abu Dzarr secara marfu dalam Kitab Az Zakat Bab Al Khawarij Syarrul Khalqi Wal Khaliqah (158).

[12] Sebagai contoh seilahkan lihat (At Tahdzir Min Fitnatittakfir) karya Ali Al Halabiy, dan kami telah membongkar sebagian permainannya terhadap ucapan ulama, keracunannya dan tadlisnya, di kitab kami “Tabshirul’Uqala Bi Talbisat Ahlit Tajahhumi Wal Irja.”

[13] Perkataan ini milik Syaikh Al Albaniy, lihat (At Tahdzir Min Fitnahtittakfier) hal 71 dan saya katakan: Andai kami tidak mengambil faidah dari takfier itu kecuali memiliki bashirah terhadap musuh-musuh  Allah dan bisa membedakan jalan kaum mujrimun yang mana kalian telah terhalang darinya dengan sebab keberpalingan kalian dari hukum-hukum ini, tentulah cukup.

[14] Dan ucapan ini adalah milik Syaikh Ibnu Utsaimin, lihat rujukan yang lalu – fotnote hal 72-

[15] Dari ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang sanjungan terhadap salaf, Majmu’ Al Fatawa 4/11

[16] Sudah ma’lum bahwa Khawarij itu tidak terang-terangan mendustakan kesaksian Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap sebagian sahabat dengan jaminan surga, namun ini tegolong konsekuensi takfier mereka terhadap sahabat yang telah disaksikan dengan jaminan surga bagi mereka, seperti Usman, Ali, Aisyah dll. Dan akan ada dalam kekeliruan-kekeliruan takfier dalam bab takfier bil ma-aal atau dengan lazimul qaul bahwa lazimul madzhab itu bukanlah madzhab kecuali bila pemilik madzhab itu komitmen dengannya, oleh sebab itu sesungguhnya takfier Khawarij dari arah ini adalah tidak kuat. Al Hafidh berkata dalam Al Fath setelah dia menuturkan tawaqquf sebagian ulama dalam takfier mereka: (Dan sebelumnya Al Qadli Abu Bakar Al Baqilani telah tawaqquf, dan beliau berkata: Mereka itu tidak terang-terangan dengan kekafirannya, namun hanya mengucapkan ucapan-ucapan yang menghantarkan pada kekafiran). Dari kitab Istitabatul murtaddin (Bab Man Taraka Qitalal Khawarij).

[17] Jumhur Ulama tidak mengkafirkan Khawarij sebagaimana yang akan datang, dan sebagian mereka menyelisihinya seperti yang ada di atas, sedangkan rinciannya yang ada pada pasal  IV adalah lebih utama.

[18] Dari Fathul bari Kitab Istitabatil Murtaddin…(Bab Man Taraka Qitalal Khawarij Lit-Ta’liif wa li-Ala Yunaffiran Nas ‘Anhu)

[19] Dari Fathul bari kitab Istitabatil Murtaddin…(Bab  Man Taraka Qitalal Khawarij Lit-Ta’liif wa li-Ala Yunaffiran Nas ‘Anhu)

[20] Sebagaimana beliau telah mengisyaratkan kepada sebagian darinya dalam Asy Syifa 2/280-281 dan ungkapannya akan ada bahasan kaidah “Siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir”.

Yang perlu diingat bahwa semua ungkapan Al Ghazaliy dan contoh-contohnya dalam kitabnya At Tafriqah adalah seputar takfier dalam bab-bab Al Asma Wash Shifat dan yang lainnya, maka hendaklah orang yang mentelaahnya selalu memperhatikan hal ini, supaya setelah itu dia mengetahui permainan dan talbis sebagian Murji’ah Gaya Baru dalam menggiring ungkapan itu bukan pada posisinya dan memposisikannya bukan pada tempatnya dan mempergunakannya untuk membela kaum musyirikan dan pembelaan terhadap para thaghut masa kini serta upaya menutup-nutupi (kekafiran) mereka.

[21] Atau beliau membedakan antara orang yang mengajak kepada paham bid’ah itu dengan yang lainnya, sebagaimana yang akan datang hal itu dari beliau. Dan ini bisa masuk dalam kemungkinan kedua, karena orang yang mengajak (da’iyah) adalah madhaannah (tempat dugaan kuat adanya) ilmu dan tidak adanya penghalang kejahilan serta yang lainnya.

[22] Dan sebagian mereka di antaranya Al Qarafi menyelisihi dalam hal itu dan dibantah oleh Al ‘Allamah Ibnul Qayyim, lihat Bada-ial Fawaaid 4/12.

[23] Diriwayatkan oleh Muslim, dan sebagian ulama menyertakan dalam man’i ketidakadaan unsur sengaja dengan sebab khilaf (salah ucap) karena saking bahagia, khatha’ (khilaf/salah ucap) karena saking marah (ighlaq) di mana ia tidak mengetahui apa yang dia ucapkan. Lihat A’lamul Muwaqqi’in 4/50: (Andai muncul darinya kalimat kekafiran dalam kondisi marah yang sangat dahsyat maka dia tidak kafir…) dan dalam hal itu ada perselisihan. Dan yang penting adalah wajib membedakan atas orang yang memiliki pendapat seperti itu antara orang yang terbiasa melakukan mukaffirat dalam kondisi marah dan ridla dengan orang yang asalnya baik dan bertaqwa.

[24] Harus ingat sesungguhnya kaum quburiyyun dan dusturiyyun itu bukan termasuk kaum muslimin. (pent)

[25] Lihat Shahih Al Bukhariy, Kitab Al Maghaziy dan yang lainnya.

[26] Oleh sebab itu para ulama berselisih tentang orang yang mengucapkan kalimat kekafiran saat mabuk, sebagian mereka memandang bahwa orang yang mabuk berat yang tidak mengetahui apa yang dia ucapkan adalah tidak dianggap ucapannya baik riddah maupun Islam. Syaikhul Islam berkata: (Tidak divonis kafir menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat ulama sebagaimana thalaqnya juga tidak sah dalam pendapat yang paling shahih dari dua pendapat ulama, meskipun perselisihan dalam hukumnya adalah masyhur) 10/39

Dan lihat A’lamul Muwaqqiin 5/49 dan orang yang mengatakan hal itu berdalil dengan hadits Hamzah diatas dan dengan firman-Nya subhanahu wa ta’ala (sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…), maka mafhumnya bahwa orang yang mabuk berat tidak memaksud ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Dan sebagian mereka memberikan rincian antara apa yang tergolong khitbah taklif dengan apa yang tergolong khitbah wadl’i, dan engkau melihat bahwa dalil-dalil yang digunakan oleh orang-orang yang menganggap mani’ ini semuanya adalah sebelum pengharaman khamr, oleh sebab itu Al Qadl’i Iyadl mentarjih dalam Asy Syifa sikap tidak menganggapnya 2/232, dan beliau menukil dari sebagian ulama pendapat dibunuhnya orang yang mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat dia mabuk dan menetapkan sahnya thalaq, pemerdekaan, qhishash, dan hudud … 2/213-232.

Dan lihat juga Al Mughniy karya Ibnu Qudamah (Kitab Orang yang Murtad Sedang Dia Mabuk..)

[27] Pengucapan kekafiran atas dasar bercanda, lelucon, main-main, dusta, takut, basa-basi atau karena ingin dunia adalah bentuk kekafiran. (Pent.)

[28] Apa yang ada di dalam kurung adalah tambahan yang tidak ada di dalam terbitan Darul Jail yang dituntut oleh konteks kalimat.t

[29] Keinginan memilih kata, yaitu ikhtiar yang menjadi lawan penghalang ikrah (paksaan).

[30] Keinginan terhadap makna, yaitu memaksudkan dan menyengaja yang sedang kita bicarakan di sini yang merupakan lawan penghalanh khatha (ketidakadaan niat) atau ketidakadaan maksud.

[31] Yaitu meniatkan maksud orang arab dengan kalimat ini sedangkan ia tidak mengetahui apa maksud mereka.

[32] Lihat Syarah Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah karya Abul ‘Izz Al Hanafiy pada bahasan beliau seputar kaum mukminin melihat Allah Rabbul ‘Alamin di hari kiamat.

[33] Akan datang bahasan dan perkataan para ‘ulama di dalamnya di pasal kekeliruan takfier. Tambahan “kecuali tauhid” adalah sangat dikenal dari dienul Islam ini secara pasti, namun demikian teks itu telah diriwayatkan juga oleh Al Imam Ahmad di dalam Musnadnya dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah secara marfu’ dan dari hadits Ibnu Mas’ud secara mauquf.

[34] Taisir Al Aziz Al Hamid Syarh Kitab At Tauhid hal 185.

Penterjemah berkata: Ini tidak benar tentang syirik akbar, akan tetapi tentang syirik ashghar, sebagimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam di dalam Al Iqtidla, Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahha di dalam Mufidul Mustafi dan Asy Syathibi di dalam Al  I’tisham.

[35] Diriwayatkan oleh Muslim dari Anas secara marfu’, dan hal serupa diriwayatkan Imam Ahmad 4/11: Sesungguhnya ibuku dan ibumu di neraka.” Dan di dalam Shahih Muslim:” Aku meminta izin kepada Rabbku untuk memintakan ampunan nagi ibuku, namun Dia tidak mengizinkanku…”

[36] Lihat Fathul Bari (Kitabul Ikrah).

[37] Lihat Al Mughni karya Ibnu Qudamah Kitabul Murtad (Pasal: Barangsiapa dipaksa terhadap kekafiran..)

[38] Lihat Al Mughni karya Ibnu Qudamah Kitabul Murtad (Pasal: Barangsiapa dipaksa terhadap kekafiran..)

[39] Lihat (Sabilun Najah Wal Fikak) karya Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq hal 62 (Keadaan yang ketiga: menyelarasi mereka secara dhahir namun menyelisihi mereka secara bathin, dan ini ada dua macam: Pertama: Dia melakukan hal itu dikarenakan dia berada di bawah kekuasaan mereka seraya dia dipukuli dan diikat serta diancam hendak dibunuh, maka dalam kondisi seperti ini adalah boleh dia menyelarasi mereka secara dhahir dengan syarat hati teguh dengan keimanan, sebagaimana yang terjadi pada ‘Ammar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:” kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman,”) selesai, dan akan ada ucapan beliau ini nanti tentang macam yang kedua.

[40] Al Mughni di tempat yang lalu.

[41] Sepertinya ini adalah akhir ucapan Al Imam Ahmad, sedangkan yang sesudahnya adalah penjelasan penulis Al Mughni, wallahu ta’ala a’lam.

[42] Asal hadits ada di dalam Ash Shahihain.

[43] Sebagai contoh coba lihat Al Mughni (Kitabul Qadla) masalah: (Dan bila bersaksi di sisinya orang yang tidak dia ketahui….), dan yang dimaksud dari hal ini di sini adalah apa yang berkaitan dengan kesaksian terhadap kemurtaddan dan kekafiran. Adapun di dalam permasalahan fiqh lainnya, maka sudah maklum bahwa di dalamnya ada perincian, di mana di dalam zina maka kesaksian hanya bisa sah dengan empat saksi laki-laki atau lebih, di dalam hutang dan rujuk maka dengan dua saksi yang adil, dan telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memutuskan di dalam permasalahan hak dan harta dengan seorang saksi dan sumpah saat tidak ada dua saksi, di dalam wasiat di tengah safar adalah diterima kesaksian dua orang kafir bila tidak ada dua orang muslim yang adil sebagaimana di dalam surat Al Maidah, dan ia tergolong posisi yang sangat dibutuhkan yang diperhatikan oleh syari’at. Dan hal serupa adalah apa yang dibolehkan para ‘ulama berupa kesaksian anak kecil di antara mereka sendiri di dalam masalah luka yang terjadi di antara mereka dan tidak ada orang lain yang hadir, juga kesaksian wanita saja terhadap sebagian yang lainnya di dalam hal-hal yang tidak dihadiri kecuali oleh mereka. Silahkan di dalam hal ini lihat nishab kesaksian dan beberapa faidah yang berkaitan dengannya di dalam I’lamul Muwaqqi’in 1/91 dan seterusnya.

[44] Maqdur ‘alaih adalah orang yang berada di bawah kekuasaan dan genggaman kaum muslimin, di mana bisa dihadirkan kapan saja ke hadapan mahkamah syar’iyyah. Sedangkan orang yang selainnya adalah mumtani’ yaitu orang yang tidak bisa dihadirkan dan di luar jangkauan kekuasaan kaum muslimin, baik itu orang yang murtad di Darul Islam terus melarikan diri ke Darul Kufri atau orang yang meleindungi dirinya dengan undang-undang kafir yang ada atau orang yang melindungi dirinya dari jangkauan kaum muslimin dengan kekuatan  atau kelompok yang dia miliki. (pent)

[45] Seperti para thaghut murtad dan para ansharnya. (pent).

[46] Lihat sebagai contoh Majmu Al Fatawa 20/59.

[47] Dan hal serupa silahkan lihat di dalam kitab kami (Imtaa’un Nadhr Fi Kasyfi Syubuhat Murji’atl ‘Ashri) dan (Millah Ibrahim) dan (Kasyfu Syubuhat Al Mujadilin ‘An ‘Asaakirisy Syirki Wa Ansharil Qawanin) dan juga silahkan lihat kitab (Al Jami’ Fi Thalabi ‘Ilmi Asy Syarif) karya Syaikh Abdul Qadir Bin Abil Aziz  hafidhahullah. Dan di sini saya perlu menegaskan bahwa saya telah mengambil faidah dari kitab itu dan saya meringkas dari sebagian bahasan juz kedua darinya dengan sedikit perubahan redaksi, di mana Allah telah memudahkan untuk memasukannya ke dalam penjara secara sembunyi-sembunyi lewat sebagian ikhwan yang mulia, di mana mereka meminta dari saya agar memberikan masukan mereka prihal kitab itu, maka saya menulis beberapa catatan terhadapnya yang saya namai An Nukat Al Lawami’ Fi Malhudhatl Jami’. Dan saya sebutkan itu dalam rangka menyandarkan keutamaan kepada pemiliknya, sebagaimana yang dikatakan penulis juga di hal 858 dari Ibnu Abdil Barr bahwa ia (adalah termasuk barakah ilmu).

[48] Lihat Al Wadlih Fi Ushulil Fiqh karya Muhammad Sulaiman Al Asyqar hal 32.

[49] Mudzakkirah Ushulil Fiqhi karya Asy Syinqithiy hal 282, dan lihat Irsyadul Fuhul (pasal kelima)(Tentang hal-hal yang qiyas tidak berlaku di dalamnya) hal 375.

[50] Ini adalah macam kedua dari keadaan orang-orang yang disebutkan di atas, dan telah lalu ucapannya tentang macam yang pertama di dalam catatan kaki bahasan penghalang ikrah, yaitu orang yang berada di bawah kekuasaan mereka seraya mereka memukulinya dan mengikatnya serta mengancamnya dengan pembunuhan.

[51] Karena dia menyetujui mereka terhadap penampakkan kekafiran tanpa ada paksaan yang hakiki. Sedangkan kebencian bathin orang yang dipaksa untuk mengucapkan kekafiran itu hanyalah manfaat saat ada ikrah hakiki, atau orang yang tertindas yang menyembunyikan keimanannya bila dia tidak menampakkan apa yang membatalkan keimanannya.

[52] Apa gerangan dengan hal-hal yang lebih rendah dari hal itu, berupa hal-hal kulit dan bungkus yang dianggap oleh sebagian orang sebagai mawani’ dari pengkafiran para thaghut; seperti para thaghut itu menamakan jalan, sekolahan, atau peperangan dengan nama-nama para sahabat atau nama-nama Islam lainnya, dan ia adalah yang dianggap oleh Syaikh Al Albani sebagai penghalang dari penghalang-penghalang pengkafiran thaghut Irak saat ia ditanya tentangnya di dalam sebagian fatwanya yang direkam suaranya.

[53] HR Muslim di Kitabul Iman hadits nomor 178.

[54] Penisbatan kepada Niccola Macchiavelli pemilik kitab Al Amir yang di dalamnya dia menjelaskan ringkasan pengalaman-pengalamannya di hadapan para penguasa dan di dalamnya dia mencantumkan nasehat-nasehatnya yang bisa menjaga singgasana mereka, dan di antara nasehat tersohornya adalah bahwa tujuan itu melegalkan segala macam cara.

[55] Siyar A’’lam An Nubala 13/586 dan dalam hal ini kami memiliki satu risalah yang ringkas dengan judul Al Qaulun Nafis Fit Tahdzir Min Khadi’ati Iblis, di dalamnya kami menuturkan fatwa Syaikhul Islam seputar seorang dari kalangan ahlus sunnah yang ingin memberikan bimbingan hidayah kepada sekelompok perampok dengan cara ia mengadakan bagi mereka acara nyanyian mubah dengan tabuhan rebana dan dia meraih hati mereka dengan hal itu sampai akhirnya sekelompok dari mereka itu mendapatkan hidayah, sehingga mereka bersikap wara’ dari hal-hal syubuhat setelah sebelumnya mereka itu tidak segan-segan melakukan hal-hal yang haram.  Maka Syaikhul Islam menggugurkan cara yang bid’ah ini  padahal di dalamnya terdapat mashlahat yang nampak dan beliau menjelaskan bahwa syaikh tadi adalah bodoh akan cara yang syar’iy atau dia itu lemah darinya, dan bahwa di dalam cara-cara syar’iy itu sudah ada kadar cukup lagi tidak membutuhkan kepada cara-cara bid’ah semacam ini. Silahkan lihat di dalam Majmu Al Fatawa 11/337 juz Tashawwuf, maka bagaimana beliau rahimahullah andaikata melihat istihsan dan klaim mashlahat orang-orang yang masuk di dalam kekafiran di zaman kita ini dengan dalih mashlahat dakwah dan dien?

[56] Lihat Al Wadlih Fi Ushulil Fiqhi Karya Muhammad Sulaiman Al Asyqar hal 31.

[57] Lihat Irsyadul Fuhul karya Asy Syaukani hal 24. manath adalah dari naath asy syaiu bila mengaitkannya atau menggantungkannya, seperti Dzatu Anwath, dan manath ini digunakan untuk ‘illat atau sebab karena hokum digantungkan kepadanya.

[58] Lihat Mudzakkirah Fi ‘Ilmil Ushul karya Asy Syinqithi hal 42. dan orang yang membedakan di antara keduanya tidak menyelisihi bahwa masing-masing dari ‘illat dan sebab itu adalah tanda terhadap hukum  atau bahwa masing-masing dari keduanya dibangun hukum di atasnya dan dikaitkan dengannya saat ada dan tidak ada, jadi dalam hal itu ‘illat dan sebab adalah sama, namun orang yang membedakan di antara keduanya hanyalah dalam hikmah pengaitan antara apa yang mana hukum dikaitkan dengannya, bila hikmah dan munasabah di dalam pengaitan ini adalah diketahui lagi bisa dicerna oleh akal kita maka ia itu adalah ‘illat dan sebab, dan bila tergolong hal yang tidak bisa dicerna oleh akal kita maka ia adalah sebab saja dan tidak dinamakan ‘illat. Safar menurut mereka adalah ‘illat dan sebab bagi qashar shalat, sedangkan tergelincir matahari adalah sebab dan bukan ‘illat bagi kewajiban shalat Dhuhur, jadi setiap ‘illat adalah sebab, namun tidak setiap sebab adalah ‘illat menurut para ‘ulama yang membedakan, dari sisi ini saja.

Di sisi lain sebagian ‘ulama membagi ‘illat menjadi ‘illat yang sempurna  dan ‘illat yang tidak sempurna. ‘illat yang sempurna adalah yang memestikan hukum dan hukum itu berputar bersamanya saat ia ada dan tidak ada, di mana bila ‘illat ini ada maka hukum pasti ada dan tidak mungkin meleset darinya, sehingga atas dasar ini maka masuk di dalam lafadh ‘illat itu keterpenuhan syurut dan tidak adanya mawani’. Adapun ‘illat yang tidak sempurna, maka ia itu yang menuntut hukum, akan tetapi tergantung kepada keterpenuhan syurut dan tidak adanya mawani’, dan ini dinamakan sebab oleh orang yang membagi menjadi seperti itu.

‘Illat yang pertama adalah yang mana hukum tidak mungkin meleset darinya, sedangkan yang kedua adalah yang mungkin terpeleset karena adanya penghalang atau tidak terpenuhinya syarat. Jadi masalahnya hanyalah isthilah saja karena mengikuti kaitan ‘illat atau sebab dengan syurut dan mawani’. Dan lihat Al Fatawa 21/204.

[59] Lihat Ushulul Fiqh karya Abdul wahhab Khalaf hal 18, dan para ulama memberikan contoh hal itu dengan orang yang menthalaq isterinya dengan thalaq raj’iy, maka ia berhak rujuk, walaupun dia mengatakan saat melafalkan thalaq (tidak ada rujuk bagi saya) atau dengan orang yang safar di bulan Ramadlan, bahwa ia boleh berbuka, baik dia bermaksud adanya kebolehan berbuka maupun tidak, dan seterusnya. Jadi hukum itu seperti yang telah lalu adalah berputar bersama ‘illat dan sebabnya saat ada dan tidak ada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.