Beranda » Al Ghuluw Fit Takfier (Page 4)

Category Archives: Al Ghuluw Fit Takfier

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 19 Mencapur Adukan Antara Tawalli Mukaffir Dengan Taqiyyah Yang Boleh


Termasuk kekeliruan yang sering terjadi dalam hal takfir juga adalah   mencampur  adukan  antara  tawalli  mukaffir   dengan taqiyyah  yang boleh.

Tawalli Mukaffir adalah: Membela orang-orang kafir dan mendukung  mereka atas kaum muwahhidin dengan lisan atau dengan senjata, atau (mencintai\mengikuti\menyetujui) kekafiran dan kemusyrikan mereka, serta membantu mereka atas kekafirannya itu. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman  tentangnya:

Dan siapa yang tawalli kepada mereka  di antara kalian, maka sesunguhnya  dia adalah termasuk gologan mereka” (Al Maidah: 51)

Adapun Taqqiyyah adalah boleh bagi orang muslim bila takut terhadap orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kecuali karena (siasat memelihara diri dari sesuatu dari mereka”  (Al Imran: 28)

Dan ia adalah sikap hati–hati dari orang-orang kafir dengan menyembunyikan sikap permusuhan, dan bersikap lembut terhadap mereka saat takut terhadap mereka dengan syarat dia tidak membatu mereka atas kekafiranya atau tawalli terhadap mereka atau melakukan sesuatu dari hal-hal yang membuatnya kafir.

Ia adalah rukhshah bagi orang muslim mustadl’af (yang tertindas) sehinga tidak halal mencela pada diennya atau menuduh dia munafiq karenanya atau mengkafirkannya karena sekadar taqiyyah, serta (tidak halal) mengharuskan dia untuk menampakan permusuhan terhadap orang-orang kafir dan menghantam musuh-musuh Allah sebagai syarat keabsahan islamnya.

Menampakan permusuhan meskipun ia adalah yang paling sempurna dan paling utama dan ia adalah sifat Ath Thaifah Al Manshurah yang  menegakkan  dien Allah, akan tetapi ia tidak wajib atas setiap orang, apalagi orang-orang mustadl’af. Dan cukuplah bagi orang-orang mustadl’afin itu dari sikap permusuhan tersebut keberadaan intinya di dalam hati, dan selama mereka tidak membatalkan dengan perbuatan yang mengkafirkannya seperti tawalli atau yang  lainnya, maka tidak halal mengkafirkan mereka itu dengan sekadar  taqiyyah, karena taqiyyah itu bukkanlah muwalah (loyalitasa).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: (Dan sudah maklum bahwa tuqah (taqiyyah) itu bukanlah muwalah, akan tetapi tatkalah Allah melarang mereka dari muwalatul kuffar, maka hal itu menuntut untuk memusuhi mereka, bara’ dari mereka dan terang-terangan menyatakan permusuhan terhadap mereka dalam setiap keadaan, kecuali bila mereka takut dari keburukan (kejahatan) mereka, maka Allah membolehkan bagi mereka taqiyyah, sedangkan taqiyyah itu bukan muwalah) Badaaiul Fawaid 2\69.

Dan di antara bukti yang menunjukan bahwa taqiyyah ini bukan muwalah mukaffirah adalah bahwa taqiyyah boleh (dilakukan) dengan sekedar rasa takut tanpa ada ikrah (pemaksaan). Sedangkan menampakkan tawalli (muwallah mukaffirah) tidak boleh dilakukan  kecuali dengan adanya ikrah haqiqi (sebenarnya). Dan rasa takut juga bukan udzur (alasan) dalam tawalli, oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala mengingkarinya terhadap orang beralasan denganya setelah firman-Nya:

Dan siapa yang tawalli kepada mereka di antara kalian, maka sesunguhnya dia adalah termasuk golongan mereka(Al Maidah:51)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala  berirman:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafiq) bersegera mendekati mereka (yahudi dan nashrani). Seraya berkata “Kami takut akan mendapatkan bencana “Mudah-mudahan Allah akan mendatakan kemenangan (kepada Rasulullah) atau suatu keputusan dari sisinya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka” (Al Maidah: 52)

Allah subhanahu wa ta’ala mensifati bahwa di dalam hati mereka ada penyakit, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan kekafiran mereka dengan binasanya (hapusnya) seluruh amalan mereka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Rusak binasalah segala amal merekah,lalu mereka menjadi orang yang merugi“ (Al Maidah: 53)

Allah subhanahu wa ta’ala tidak menjadikan takut -yang mana ia adalah bukan ikrah– sebagai udzur (alasan) dalam menampakan tawalli, berbeda dengan taqiyyah.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bariy di awal kitab Al Ikrah saat Al Bukhariy menyebutkan perkataan Al Hasan Al Bashriy secara mualaq: “Taqiyyah itu sampai hari kiamat”: (dan makna taqiyyah adalah hati-hati dari menampakkan apa yang ada di dalam diri berupa keyakinan dan yang lainnya terhadap orang lain).

Dan telah kami tegaskan kepada engkau dari Shahil Al Bukhariy dari Abu Ad Darda’: “Sesunguhnya kami bermuka manis di hadapan  mereka sedangkan hati kami melaknak mereka”. Dan di dalam atsar ini ada  isyarat pada wajibnya keberadaan sikap memusuhi orang-orang kafir di dalam hati saat taqiyyah karena lenyapnya ‘adaawah (permusuhan) secara total dan keberadaan lawanya yaitu mencintai mereka atau ajaran mereka adalah tergolong pembatal keimanan.

Jadi yang boleh ditinggalkan dalam kondisi taqiyyah adalah hanya penampakan dan pengutaraan ‘adawah, bukan meningalkan ‘adawah-nya itu. Syaikh Abdullatif Ibnu Abdurahman Alu Asy Syaikh berkata: (Dan masalah penampakan ‘adawah adalah berbeda dengan masalah adanya ‘adawah, yang pertama diudzur denganya saat takut dan lemah, berdasarkan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Kecuali karena (sesat) memelihara diri dari sesuatu ditakuti dari merek“ (Ali Imran: 28).

Sedangkan yang kedua adalah mesti ada, karena ia masuk dalam kufur terhadap thghut. Antara ia dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya dan talazum (hubungan timbal balik/keterkaitan) yang tidak lepas dari orang mukmin) Ar Rasail Al Mufidah.

Dan atas dasar ini maka tidak bolehlah mewajibkan seluruh kaum muslimin untuk menampakan ‘adawah terhadap para thaghut dan para anshar mereka, mengumumkannya secara terang-terangan pada realitas sekarang dalam kondisi ketertindasan dan kalau tidak demikian berarti mereka bukan muwahidin dan bukan muslimin, sebagaimana yang di lontarkan oleh sebagian orang-orang yang ngawur.

Berapa banyak orang mukmin yang menyembuyikan imannya di Mekah pada masa Nabi subhanahu wa ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang yang di perintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan hal itu, sebagaimana dalam kisah keislaman Abu Dzar Al Ghifariy. Dan yang jadi bukti dalam kisah itu adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Abu Dzar rahasiakan hal ini dan pulanglah kamu ke negerimu, kemudian bila sampai kepadamu berita kemenangan kami, maka segeralah datang ……”

Bila ada sekelompok dari umat ini menegaskan idhharuddien (penampakan dien) dan terang-terangan (mendakwahkan) kebenaran, maka mereka telah menanggung beban kewajiban atas umat ini, dan hal itu tidak wajib atas setiap orang, apalagi dengan menjadikan hal itu sebagai syarat sah keislamannya.

Namun yang menjadi syarat itu hanyalah adanya ‘adawah terhadap orang-orang kafir, bara’ (berlepas diri) dari kaum musrikin di dalam hati serta tidak hilangnya hal itu.

Sunguh saya telah melihat sebagian orang-orang yang ghuluw mencari-cari lontara-lontaran yang muthlaq milik Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahab dan ulama dakwah Najdiyyah lainya dalam bahasan mu’aadaah (memusuhi) dan wajibnya menampakan hal itu terhadap orang-orang kafir serta bahwa hal itu termasuk Millah Ibrahim dan dakwah para Nabi dan Rasul, supaya dengan hal itu mereka mengkafirkan kaum muslimin yang awam lagi tertindas dari kalangan yang tak terang-terangan  memusuhi orang-orang kafir, yang padahal mereka (kaum mustadl’afin) itu mempergauli orang-orang kafir dengan mudaarah atau taqiyyah,

Di antranya ucapan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahab rahimahullah dalam konteks penuturan dawah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang Quraisy untuk bertauhid, dan tindakan yang mereka lakukan saat menyebutkan tuhan-tuhan mereka, bahwa mereka itu tidak bisa mendatakan manfaat dan madlarat, dan Quraiys menjadikan (ungkapan) itu sebagai hinaan. Beliau (Syaikh Muhammad) berkata: (Bila engkau mengetahui hal ini, maka engkau mengetahui bahwa orang tidak istiqamah keislamanya meskipun dia mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi kaum musyrikin dan terang-terangan terhadap mereka dengan (sikap) memusuhi dan membenci, sebangaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Al Mujadilah: 22) Ad Durar As Saniyyah juz Al Jihad hal 93.

Dan  serupa dengannyan ucapan Syaikh Muhammad Ibnu Abdullathif Alu Asy Syaikh: (Ketahuilah semonga Allah memberikan kepada kami dan engkau taufiq terhadap apa yang Dia cintai dan Dia ridlai, sesunguhnya tidak istiqamah bagi seorang hamba keislaman dan dienya kecuali dengan memusuhi musuh-musuh Allah dan Rasul-nya…) Ad Durar, Juz Al Jihad hal 208.

Ungkapan ini dan yang serupa denganya, di samping bukan dalil syar’iy, karena perkataan para ulama dan pemahamannya itu adalah hanya dijadikan alat bantu dan pendekatan namun tidak bisa dijadikan dalil, bahkan harus disesuaikan dengan dalil, dan berserta ini semuanya sesunguhnya tidak ada hujjah bagi mereka di dalamnya atas pendapat mereka berupa takfir orang-orang awam kaum muslimin yang tidak terang-terangan memusuhi orang-orang kafir tanpa mereka itu melakukan sedikitpun dari nawaqidlul islam dan mukaffirat, dan itu dikarenakan ucapan para ulama ini adalah terang tentang ketidakkeisqamahan dien dan islam seorang hamba bila ia meninggalkan hal itu bukan tentang batalnya serta kekafiranya.

Dan sungguh saya telah menuturkan perkataan para Syaikh itu serta yang lainya dalam kitab saya (Millah Ibrahim) sebagai bentuk penguatan akan pentinya penampakan permusuhan dan kebencian terhadap musuh-musuh Allah serta menampakan bara’ dari mereka dan kemusyrikan-kemusyrikan-nya dan itu lebih dari empat belas tahun yang lalu, saat itu saya memberikan komentar terhadapnya di catatan kaki yang di cetak bersama kitab itu semenjak cetakannya yang pertama, yang ringkasnya: (Bila dimasudkan denganya adalah inti ‘adawah (permusuhan) maka ucapan itu adalah seadanya, dan bila yang dimaksudkan adalah umumnya ‘adawah yaitu menampakanya, rincian-rinciannya serta terang-teranganya, maka perkataannya adalah tentang keistiqamahan keislaman bukan tentang lenyapnya inti keislaman. Dan Syaikh Abdullathif dalam kitabnya Mishbahudhdhalam memiliki rincian seputar masalah ini, silakan rujuk oleh orang yang mau, dan di sana ada ucapannya: (Orang yang memahami pengkafiran orang yang tidak terang-terangan dengan sikap permusuhan dari ucapan syaikh ini, maka pemahamanya bathil dan pendapatnya sesat…) dan kami menuturkan ucapan-ucapan mereka dalam pasal ini hanya menjelaskan pentingnya inti ini yang realitanya sudah lenyap di kalangan mayoritas du’at masa kini. Kemudian kami sertakan penjelasan-penjelasan ini -padahal itu sudah jelas – untuk menutup jalan di hadapan orang yang berupaya berburu (ikan) di air yang keruh, di mana mereka mencari-cari ungkapan-ungkapan yang bersifat umum dan hal-hal yang bisa mendongkrak mereka untuk menuduh kami dengan aqidah Khawarij)[1]

Segala puji bagi Allah atas karunia-Nya, kemulian-Nya dan hidayat-Nya di awal dan di akhir. Apa yang kami tulis pada saat ini dengan kondisi susah, sempit dan keterkurungan tidak lain adalah sama dengan apa yang kami tulis kemarin saat kondisi lapang leluasa. Dan kami bukanlah tergolong orang-orang yang menganut aqidah mereka dari akibat reaksi balik atau akibat tekanan penjara atau yang lainya.

Ya Allah, Wahai Waliyyul Islam dan pemeluknya teguhkan kami di atasnya dan kuatkan kami memegangnya hingga kami menjumpaimu.


[1] Catatan kaki kitab Millah Ibrahim hal 10 cet 1, dan Allah telah memudahkan kitab itu masuk secara sembunyi-sembunyi lembar perlembar lewat lewat celah kecil di ruangan besukan penjara Sawwaqah (tempat penulis dikurung) dan telah dilakukan penggabungan dan penjilidannya di sana, kemudian ikut berpindah-pindah bersama kami di penjara lainya dengan kemudahan dari Allah meskipun para thagut dan anshar mereka tidak menghendakinya. Ini padahal saya telah meringkas isinya buat para ihwan di penjara itu sebelumnya.

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 18 Mencampuradukkan antara tawalli mukafir dengan mudahanah yang haram atau mudaaraah yang disyariatkan


Di antara kekeliruan yang sering terjadi dalam hal takfir adalah mencampuradukkan antara tawalli mukaffir dengan mudahanah yang haram atau mudarah yang disyari’atkan.

Mudahanah apalagi mudarah, keduanya bukan termasuk tawalli yang membuat kafir (mukaffir), tapi mudahanah adalah sesuatu yang diharamkan, sedangkan mudarah adalah hal yang boleh secara syari’at. Dan sebagian orang yang terlalu bersemangat tidak membedakan antara keduanya, dia mempersempit dan mempersulit dalam apa yang tidak dipersulit oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan dia mengingkari sesuatu yang mandub (sunnah) dan bukan yang munkar.

Bahkan saya telah melihat dari kalangan Ghulah orang yang mengkafirkan dengan sebab murni mudarah, dan tindakan itu adalah ngawur dari kebenaran serta merupakan kesesatan, oleh sebab itu mesti dari mengingatkan akan hal ini dalam kekeliruan-kekeliruan takfir dan membedakan antara masing-masing macam dari hal-hal itu.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari pada syarah beliau terhadap Kitabul Adab dari Shahih Al-Bukhariy (Bab Al Mudarah Ma’an Nass) berkata saat menjelaskan apa yang dicantumkan secara mu’allaq oleh Al-Bukhariy dari ucapan Abu Darda:

“Sesungguhnya kami tertawa di hadapan orang-orang, padahal sesungguhnya hati kami melaknat mereka”.

Al Kasyru makna asalnya adalah nampaknya gigi, dan sering digunakan untuk makna tertawa.

Ibnu Baththal berkata: Al Mudarah adalah tergolong akhlaq orang-orang mu’min, dan ia adalah merendahkan diri terhadap orang-orang, halus perkataan dan meninggalkan bersikap keras terhadap mereka dalam ucapan. Dan itu adalah tergolong sebab terbesar untuk lunaknya hati.

Dan sebagian orang mengira bahwa mudarah itu adalah mudahanah, ini adalah keliru, karena mudarah adalah dianjurkan sedangkan mudahanah adalah diharamkan.

Dan perbedaanya adalah bahwa mudahanah itu diambil dari kata dihan dan ia adalah sesuatu yang nampak di atas permukaan sesuatu dan menutupi bagian dalamnya. Para ulama menafsirkan mudahanah adalah bergaul dengan orang fasik serta menampakan ridha dengan perbuatanya tanpa mengingkarinya.

Sedangkan mudarah adalah bersikap lembut terhadap orang jahil dalam mengajarinya dan terhadap orang fasik dalam melarang perbuatanya meninggalkan bersikap kasar terhadapnya sehingga tidak menampakan apa yang dilakukan oleh orang fasik itu dan mengingkarinya dengan ucapan dan perlakuan yang lembut, apalagi bila diperlukan untuk melunakan (hati) nya berserta yang lainya.

Dan berkata juga: (mudarah, tanpa (huruf) hamzah, dan asalnya adalah (ada) hamzah (مداراة/mudara’ah), karena ia berasal dari (makna) mudafa’ah (menolak/membela) dan yang dimaksud dengannya adalah menolak atau melarang dengan lembut…).

Berkata: (Dan yang ada berkenaan denganya secara terang adalah hadits Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مداراة الناس صدقة“ Bermudarah dengan munusia adalah shadaqah”. Ini dikeluarkan oleh Ibnu Addiy dan Ath Thabraniy dalam Al Ausath sedangkan dalam sanadnya ada Yusuf Ibnu Muhammad Al Munkadir, para ulama mendha’ifkannya, dan Ibnu Addiy berkata: Saya berharap dia itu tidak apa-apa,  dan dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam Adabul Hukama dengan sanad yang lebih baik darinya). Beliau dalam bab itu juga, dan dalam bab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kasar dan tidak bersikap keji, menukil perkataan Al Qurthubiy seraya mengikuti ‘Iyadh: (Perbedaan antara mudarah dengan mudahanah, sesungguhnya mudarah adalah mengorbankan dunia untuk kebaikan dunia atau dien atau untuk kedua-duanya, dan ia adalah dibolehkan dan bisa saja dianjurkan. Sedangkan mudahanah adalah meninggalakan dien untuk kebaikan dunia).

Maka nampaklah dari ini semua bahwa mudarah adalah boleh, bahkan terkadang menjadi dianjurkan (mustahabb).

Adapun mudahanah, sesungguhnya ia meskipun sebagian (ulama) menggunakan dalam defenisinya dimana terkadang dimaksudkan denganya hal-hal yang membuat kafir, akan tetapi mayoritas ulama menggunakan lafazh ini, mereka hanya memaksudkan denganya hal-hal yang haram yang di bawah kekafiran dan ia sebagaimana yang dikatakan oleh Ath Thabariy dalam tafsir firman Allah tabaraka wa ta’ala:ودوالوتدهن فيدهنون adalah diambil dari kata dihan (minyak), berupaya bersikap lembut dalam ucapan diserupakan dengan melulurkan minyak). Al Hasan berkata: “Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak terhadap mereka dalam (hal) dien kamu, lalu mereka bersikap lunak terhadap kamu”.

Maka bisa disimpulkan dari ini bahwa mudahanah itu mengorbankan sesuatu yang pengorbananya dari dien untuk kepentingan dunia ini di haramkan (tapi) bukan kekafiran. Bila ternyata masalahnya yang dimaksud denganya adalah seperti itu serta tidak dimaksudkan dengannya apa yang di atas itu berupa tawalli dan yang lainnya dan hal hal yang mengkafirkan, maka tidaklah halal –sedangkan keadaanya seperti- sebagian orang-orang yang berlebihan itu mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka karena hanya sikap mudahanahnya terhadap musuh-musuh Allah yang berupa sikap lembut dan memuliakan atau diam dari mengingkari munkarat, kebejatan serta kebatilan mereka tanpa mereka bersikap mengakui orang orang itu di atas kekafiran atau celaan terhadap dien ini, terutama sesungguhnya mayoritas mereka menyelisihi itu pada realita sekarang ini beralasan untuk mayoritas sikap mudahanahnya dengan alasan takut ketertindasan atau mashlahat (da’wah).

Jadi sikap mudahanah mereka itu berkisar sesuai klaim mereka antara taqiyyah dan takwil. Sama saja baik alasan mereka itu sah atau tidak…. Selama status maksimal apa yang mereka lakukan itu tergolong muharramat atau kabaa-ir…, maka tidak halal sama sekali mengkafirkan (mereka) dengannya.

Bahkan takfir dengan hal itu saja adalah lebih haram dan lebih sesat dari mudahanah itu sendiri. Sungguh engkau telah mengetahui dalam uraian yang lalu bahwa wa’id (ancaman) atas sikap mengkafirkan dengan sebab pebuatan padahal Allah dan Rasulnya tidak mengkafirkan dengannya adalah tergolong macam ancaman yang paling dasyat, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakannya dengan membunuh orang muslim dan menumpahkan darahnya yang haram.

Sesungguhnya suatu dosa yang dinamakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  adalah tidak seperti dosa-dosa lainnya, namun bisa jadi adalah kekafiran sesuai ancaman tertentu atau ia itu adalah (dosa) yang menghantarkan kedalam kekafiran. Siapa saja orangnya yang mempertaruhkan diennya dan menjerumuskan dirinya serta berani menembus pintu-pintu yang berbahaya ini maka sesungguhnya penganiayaannya kembali hanya kepada diri dan diennya.

Apakah tidak cukup bagi dia dan bagi kaum berlebih-lebihan yang seperti dia, diam di batas yang telah digariskan Allah dan tidak melampauinya?

Syariat ini tidak butuh dari seorangpun kepada sikap mempersulit melebihi apa yang gariskan Allah dan dihati hatikan ancamanya.

Dan ia juga tidak membutukan pada sikap tafrith dan idhan (mudahanah/basa-basi) dari orang orang yang terlalu mengenteng-enteng setelah Allah menjadikan di dalamnya kemudahan yang dengannya dia angkat kesulitan dari umat ini.

Dan Al haq adalah pertengahan, ia tidak bersama orang orang yang mempersulit dengan sikap mempersulit mereka dan tidak pula bersama orang orang yang terlalu mempermudah dalam sikap tafrith mereka.

Dan dalam Sunnah Al Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan metode da’wahnya terdapat kadar cukup dan obat bagi penyakit-penyakit itu. Al Imam Al Bukhariy telah meriwayatkan dalam Shahihnya dalam kitab Al Adab dalam bab-bab yang telah diisyaratkan tadi dari ‘Aisyah: ((bahwa seorang laki-laki meminta izin untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan tatkala belaiu melihatnya beliau berkata: “Seburuk-buruknya saudara marga itu”, dan dalam riwayat lain: Beliau berkata: “Izinkan dia, seburuk-buruknya saudara marga itu” dan tatkala ia masuk, maka beliau melembutkan perkataan terhadapnya, kemudian tatkala dia duduk, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakan wajah berseri-seri dan ramah dihadapanya, kemudian tatkala orang itu pergi, ‘Aisyah berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, saat engkau melihat orang itu, engkau berkata kepadanya ini dan itu, kemudian engkau berseri-seri dan ramah kepadanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai ‘Aisyah kapan engkau melihatku kasar? Sesungguhnya orang yang paling buruk di sisi Allah kedudukanya di hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia karena takut keburukanya”, dan dalam riwayat lain: “sikap kasarnya”. Al Hafizh telah menulis dalam Al Fath dari Ibnu Bahthal dan yang lainya bahwa laki laki itu adalah ‘Uyainah Ibnu Hishn Al Fazzariy, dan ia itu digelari Al Ahmaq Al Mutha (orang dungu yang ditaati), sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan dengan sikap sambutan beliau terhadapnya pelunakan hatinya  agar kaumnya mau masuk Islam, karena ia adalah pemimpin mereka dan ia menukil dari ‘Iyadl ucapanya: ‘Uyainah saat itu wallahu a’lam belum masuk Islam… atau sudah masuk Islam namun keislamannya belum baik.))

Dan Al Hafizh berkata: (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan untuknya dari dunia beliau ini sikap ramahnya dan lemah lembut saat berbicang-bincang denganya, namun bersama itu semua beliau tidak memujinya dengan ucapan, serta ucapan beliau tentang dia tidak bertentangan dengan perbuatanya, karena ucapan beliau tentangnya adalah benar dan perlakuan beliau terhadapnya adalah pergaulan yang baik…)

Perhatikanlah tuntunan yang sempurna lagi pertengahan ini yang menggabungkan antara jujur dalam menilai dan perkenalkan serta tulus terhadap orang-orang yang mendengar, dengan sikap mempergauli yang baik dan ta-liful qalbi untuk mashlahat dien dan Islam. Ini bersih dari mudahanah, karena di dalamnya sedikitpun tidak ada pengorbanan (dien) atau tafrith dalam dien ini dari satu sisi sebagaimana bersih dari sikap kasar, bengis dan sikap kaku yang membuat orang lari yang bukan pada tempatnya…dari sisi lain.

Maka dimana letak orang orang yang berlebih-lebihan lagi mempersempit apa yang telah Allah lapangkan dari pemahaman yang agung dan akhlaknya mulia ini?

Sungguh saya telah melihat dari kalangan mereka orang-orang yang mengecam dan membid’ahkan bahkan mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka dalam hal hal yang bukan kekufuran dalam dienullah ini, bahkan sebahagiannya adalah hal yang disyari’atkan yang tergolong mudarah yang terpuji yang belum tercerna oleh akal mereka yang lemah serta tidak sejalan dengan sikap kasar dan kaku mereka. Dan sebagiannya tidak lebih dari status mudahanah yang diharamkan yang tidak mengkafirkan.

Mereka mengkafirkan orang yang duduk di majelis orang-orang kafir ,atau menziarahi mereka dan masuk menemui mereka, atau manis muka di hadapan mereka atau memperlakukan mereka dengan sedikit lembut dan senyuman. Dan apalagi menurut mereka orang yang menyalami mereka (jabat tangan), atau mencandai mereka, membuat mereka tertawa (senang) dan sikap lembut terhadap mereka. Sedangkan yang benar adalah tidak halal menyamakan antara ini semuanya… dan tidak boleh mengkafirkan dengan sebab itu saja.

Di antara hal-hal itu ada yang disyari’atkan seperti duduk bersama mereka menziarahinya dan masuk menemui orang-orang kafir dalam rangka mendakwahi mereka, dan lemah lembut dalam mengajak mereka bicara, membantah mereka dengan cara yang lebih baik, serta mendakwahi mereka dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan telah kami ketengahkan kepadamu dari Shahih Al Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk anak Yahudi yang sakit dan beliau mengajaknya kepada Islam, maka dia masuk Islam. Sehingga (boleh) bagi muslim menjenguk orang kafir saat sakit dan berbuat baik kepadanya dengan harapan keislamannya.

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi orang-orang kafir di mejelis-mejelis mereka seraya memperdengarkan dakwahnya kepada mereka dan beliau bersabar atas penindasan mereka di Makkah dan Madinah,sebagaimana dalam hadits muttafaq ‘alaih yang di tuturkan Al Bukhari dalam kitab Al Adab (Bab Kunyatil Musyrik) dari Usamah Ibnu Zaid radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggang keledai yang diletakkan kain fadakiyyah di atasnya sedangkan Usamah di belakangnya, beliau menjenguk Sa’ad Ibnu Ubadah di Banu Harits  Ibnul Khazraj sebelum perang Badar. Keduanya terus berjalan hinga melewati suatu majlis yang di dalamnya ada Abdullah Ibnu Ubay Ibnu Salul, dan kejadian ini sebelum Abdullah Ibnu Ubay masuk Islam, dan ternyata di majelis itu campuran dari kalangan muslim, musyrikin para menyembah berhala dan orang-orang Yahudi, sedangkan di antara kaum muslimin ada Abdullah Ibnu Rawahah. Tatkala majelis itu tertaburi debu akibat jalannya keledai, maka Abdulllah Ibnu Ubay menutupi hidungnya dengan kainnya dan berkata: “Janganlah kalian mengotori kami dengan debu”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam terhadap mereka, terus berhenti dan turun, beliau dakwahi mereka kepada Allah dan membacakan (ayat-ayat) Al-Quran terhadap mereka, maka Abdullah Ibnu Ubay Ibnu Salul berkata kepada belaiu: “Hai orang, tidak ada yang lebih baik dari apa yang kamu ucapkan bila itu memang benar, maka jangan sakiti kami dengannya di mejelis-mejelis kami, siapa yang datang kepada kamu maka jelaskanlah kepadanya”. Abdullah Ibnu Ruwahah berkata: “Ya, terus wahai rasulullah datangilah kami di mejelis-mejelis kami, karena kami mencintai hal itu”, maka terjadilah ketegangan antara kaum muslimin, kaum musyrik dan Yahudi sehingga mereka hampir baku hantam, Rasulullah terus menenangkan mereka sampai akhirnya mereka tenang, kemudian Rasulullah menunggangi keledainya sehingga beliau masuk menemui Sa’ad Ibnu Ubadah, terus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Sa’ad, apa kamu tidak mendengar apa yang dikatakan Abu Hubab?”, maksudnya Abdullah Ibnu Ubay…).

Di dalam hadits ini sebagaimana yang dinukil Al Hafizh dari Ibnu Bathtal: (Bolehnya memberi kun-yah kaum musrikin dalam rangka pelunakan hati, baik karena harapan keislaman mereka atau untuk mendapatkan manfaat dari mereka…); ini padahal sesunguhnya An Nawawi berkata dalam Takniyah (pemberian kun-yah): (Etikanya adalah orang terpandang dan yang dekat seperti mereka di khithabi dengan kun-yah).

Beliau berkata: (Orang-orang generasi terdahulu satu sama lain sering mengagungkannya dalam pembicaraan langsung atau surat-menyurat dan lainnya dengan kun-yah dan mereka memandang hal itu sebagai puncak kehormatan dan pengangungan). (Al Adzkar)

Dan didalam hadits itu ada kebolehan mendatangi orang-orang kafir dalam majelis-majelis mereka dan duduk bersama mereka dalam rangka mendakwahinya dan mengajak bicara mereka dengan cara yang lebih baik) dan hal-hal sejenis ini sering kami arahkan kepadamu dalam banyak tempat.

Dan yang menjadi bukti adalah bahwa semua ini adalah boleh dan masyru’ (disyari’atkan) yang tidak di ingkari kecuali orang yang lalai atau jahil akan Sunnah Al Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuntunanya dan sirahnya. Oleh karenanya takfir dengan sebab hal-hal itu adalah lebih busuk dan lebih keji dari bid’ah khawarij yang mengkafirkan dengan sebab maksiat dan dosa.

Dan di antara yang mereka ingkari -dan terkadang sebagian mereka mengkafirkan dengannya- dari apa yang telah lalu, ada hal-hal yang sama sekali tidak sampai pada batas pengharaman… selama tidak terkandung dalam sesuatu darinya pengakuan terhadap kemunkaran atau hal haram, seperti menyalami kuffar, senyum dan ramah terhadap mereka serta hal yang lainnya dari hal-hal yang tidak ada dalil yang menunjukan keharamanya meskipun kami tidak menyukainya untuk selain kepentingan dakwah atau membuat mereka senang terhadap dien dan yang lainnya. Sungguh sebagian orang-orang yang ngawur telah berlebihan di antara mereka mengkafirkan orang-orang menyelisihinya dari kalangan yang berjabatan tangan dengan aparat syirik dan UU atau orang-orang kafir lainya. Sehingga dengan perbuatan itu mereka menyimpang dari garis kebenaran dan mereka berlebih-lebihan. Dan di antara mereka ada yang merasa cukup dengan sikap membid’ahkan atau menuduh dengan tuduhan mudahanah dan kecendrungannya (kepada kuffar) padahal mereka itu tidak mengatahui satu dalilpun yang melarang hal itu. Dan kami meskipun tidak menyukai berjabatan tangan dengan mereka dan tidak pula kami melakukanya sebagai bentuk idhhar akan da’wah kami dan penampakan akan sikap berani kami dari syirik dan pendukungnya, dan sungguh Imam Ahmad telah ditanya tentang berjabat tangan dengan kafir dzimmy, maka beliau tidak menyukainya[1], maka selain mereka dari kalangan kafir harbi lebih utama menurut beliau atas dasar ini dengan hukum tidak disukai itu, namun kami bersama ini semua tidak menganggapnya haram karena tidak adanya nash, bahkan kami menganggapnya hanya sebagai sarana yang bisa sampai pada sikap melunakan (hati orang). Dan sudah ma’lum dalam kaidah-kaidah fiqh: (bahwa apa yang dilarang karena sebagai upaya menutup jalan, maka dibolehkan karena mashlahat). Dan itu telah lalu dan oleh karena itu kami tidak melarang berjabat tangan karena masalah melunakan hati, atau da’wah, atau menolak mafsadat dan yang lainnya sesuai apa yang dipandang perlu oleh orang muslim pada kondisinya terutama bila yang terlebih dahulu mengulurkan tangan adalah orang kafir yang tidak menampakan permusuhan terhadap dien ini.

Status berjabat tangan (mushafahah) tidak sama dengan mengucapkan salam yang ada larangan secara tegas, bahkan syari’at telah menjadikannya sebagai sebab untuk datangnya rasa cinta sebagaimana dalam hadits: kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai, apakah kalian mau saya tunjukkan kepada sesuatu yang bila kalian melakukannya maka kalian saling mencintai, sebarkan salam diantara kalian”. HR. Muslim

Rasa cinta hanyalah didatangkan dan diupayakan keberadaannya di antara kaum muslimin dan dilarang bersama orang-orang kafir dan musyrikin, oleh sebab itu ada larangan secara tegas dari memulai mengucapkan salam terhdap kaum musyrikin, seperti hadits: “Janganlah kalian memulai orang-orang Yahudi dan Nashrani dengan salam”, dan dalam satu riwayat: “Bila kalian berjumpa dengan kaum musyrikin, janganlah memulai salam terhadap mereka“. Hadits riwayat Muslim dan yang lainnya”. Ini berbeda dengan mushafahah dimana bagi kami tidak ada satupun dalil shahih yang melarang dari mushafahah terhadap kuffar[2].

Oleh sebab itu tidak halal membid’ahkan orang-orang yang menyelisihi di dalamnya, serta mencela mereka, apalagi mengkafirkannya!!

Dan di antara hal-hal yang mana mereka mengkafirkan dengannya ada sesuatu yang memang diharamkan seperti mudahanah yang di dalamnya terdapat pengakuan akan hal-hal yang di haramkan dan maksiat atau ada yang merupakan sikap mentaati orang-orang kafir dalam maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan yang lainnya yang sampai pada status sebagai dosa besar dan tidak sampai pada kekafiran sama sekali.

Ringkasanya: Sesunguhnya tidak boleh menyamakan antara itu semuanya, karena tidak sesuai dengan keadilan yang dengannya Allah menurunkan Al Kitab dan Timbangan.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala sudah menjelaskan di dalam kitab-Nya bahwa mukhalafat syar’iyyah (hal-hal yang menyelisihi syari’at) tidak sama seluruhnya, tapi ada yang merupakan kekafiran, ada bersifat fusuq dan ada yang bersifat maksiat. Dia berfirman:

“Dan dia menjadikan kalian tidak suka kekafiran, fusuq dan maksiat”. (Al Hujurat: 7)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa dzunub itu ada yang tergolong shagha-ir (dosa-dosa kecil) ada juga yang tergolong kaba-ir (dosa-dosa besar) dan mubiqat (dosa-dosa yang membinasakan).

Dan telah lalu juga bahwa kekufuran bertingkat-tingkat, sebagianya lebih dasyat dari sebagian lainnya, serta sebagiannya adalah penambahan dalam kekafiran sehingga tidak  halal -sedangkan keadanya seperti itu- apa yang dilakukan oleh banyak orang yang ngawur berupa sikap serabutan langsung saja mengkafirkan dengan sesuatu yang merupakan muharramat, apalagi karena sebab hal-hal yang makruh atau hal-hal yang mubah atau mustahabb, sebagaimana sebagian mereka mencampuradukan antara tawalli mukaffir dengan mudahanah yagg haram …serta mudarah.

Ajaran ini tidak butuh pada sikap-sikap yang membuat takut… sampai para ghulat dan orang-orang yang berlebih-lebihan membuat-buatnya dan menciptakanya dari (kantong) sikap tasydid, berlebihan dan takfir mereka seraya membuat orang jera.


[1] Al Mughni (Kitab Al Jizyah), fashl (dan tidak boleh mengedepankan mereka dan memulai mereka dengan salam)

[2] .Adapun hadits: “Termasuk kesempurnaan tahiyyah (salam) adalah mushafahah atau menjabat tangan“ adalah hadits dla’if seluruh jalannya dengan status sangat lemah, tidak sah untuk i’tibar dan juga hadits “Berjabat tanganlah, pasti hilang rasa dengki dari kalian…”. Sunguh telah diriwayatkan oleh Malik secara mu’adldlal dari ‘Atha Al Khurasany, lihat At Targhib wat Tarhib  3 /278, dan lafadz-lafadz ini diriwayatkan juga dari jalan Bisyr Al Anshari sedang dia tergolong pembuat hadits palsu seperti kata Al Uqaili dan Ibnu Addiy.

//

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 17 Tidak Membedakan Antara Tawali Yang Mengkafirkan Dengan Mempergauli Orang Kafir Dengan Ma’ruf


Diantara kekeliruan yang sering terjadi dalam hal takfir juga adalah tidak membedakan antara tawalli mukaffir dengan memperlakukan orang kafir dengan baik atau ihsan kepadanya dan baik kepadanya untuk mashlahat dakwah atau yang serupa dengannya.

Mempergauli kedua orang tua yang kafir dengan baik adalah sah lagi benar dengan berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”. (Luqman : 15)

Mencintai kebaikan dan hidayah bagi keduanya atau orang-orang kafir lainnya adalah sesuatu di luar mencintai mereka, dan di luar sikap berkasih sayang dengan mereka dan loyalitas terhadap mereka yang terlarang. Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah membedakan antara dua hal dengan firman-Nya yang indah:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusik kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesunggunya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”. (Al Mumtahanah: 8-9)

Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara berbuat baik, bersikap adil dan ihsan dengan tawalli yang mengkafirkan. Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak melarang yang pertama dan melarang dari yang kedua di sini dan di ayat-ayat lainnya.

Dan sudah dimaklumi bahwa laki-laki muslim boleh menikah wanita ahlul kitab (padahal dia itu) kafir. Bila saja hal itu boleh, maka tidak ragu lagi boleh duduk bersamanya, makan bersamanya, menjabat tangannya, bercumbu dengannya dan yang lainnya berupa mu’asyarah bil ma’ruf (pergaulan dengan baik) yang mana Allah Ta’ala memerintahkan sang suami untuk melakukannya dengan perintah yang bersifat umum. Dan dia juga menjadikan di antara mereka kasih sayang dan kecintaan yang bersifat thabi’iy (alami). Jadi bagi si isteri yang kafir dari hal itu ada kecintaan khusus yang dikecualikan dari umumnya larangan dari menjalin cinta kasih dengan orang-orang kafir.

Dan ini semuanya mengisyaratkan kepada ketidakbenaran lontaran sebagian orang-orang yang sembarangan tentang takfier dalam bab-bab ini. Dan yang penting bagi saya untuk mengingatkannya di sini adalah bahwa kondisi mendakwahi, melunakan hati (ta-liful qulub) dan menjelaskan dien dengan hikmah dan mau’idhah hasanah (cara yang baik), disyariatkan di dalamnya sikap lembut dalam mengajak bicara, jidal (berdebat) dengan cara yang lebih baik, mempergauli dengan cara terbaik serta wajah berseri. Dan hal itu lebih ditekankan lagi dilakukan terhadap orang-orang yang antusias terhadap mendengarkan dakwah ini. Itu sama sekali tidak bertentangan dengan sikap keras, kasar dan memanas-manasi yang Allah perintahkan hal itu di tempatnya dalam medan jihad dan qital. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahannam dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali (At Tahrim: 9)

Dan Allah Ta’ala berfirman juga:

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menentukan kekerasan dari padamu. Dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. (At Taubah: 123)

Kondisi qital (perang) memberikan pelajaran musuh-musuh Allah, membuat jera orang-orang yang mencela Islam, serta menjihadi kaum zanadiqah (zindiq), para penghina dan para pengolok-olok dien Allah Ta’ala serta yang lainnya … Berbeda dengan kondisi mendakwahi dan menyampaikan yang telah Allah subhanahu wa Ta’ala firmankan tentangnya:

“Dan bila seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui “. (At taubah: 6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk melindungi orang musyrik, menjaganya dan memberikan jaminan keamanan baginya meskipun dia itu harbiy selama dia telah menampakkan keinginan untuk mendengarkan dakwah. Sedangkan ini memastikan dan menunjukan secara isyarat atas kebolehan menghormatinya, yaitu berupa menyediakan makanannya, memberikan tempat tinggal untuknya, memperlakukannya serta mempergaulinya dengan baik sampai ia mendengar dakwah ini secara sempurna lagi jelas. Kemudian seandainya ia tidak beriman, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mengantarkannya setelahnya ke negerinya dengan aman sejahtera tanpa ada gangguan dan teror.

Dalam ini semuanya terdapat dalil terhadap wajibnya membedakan antara orang yang memiliki keinginan untuk mendengarkan dakwah atau orang yang baru didakwahi, baik dari kalangan harbiy atau lainnya, dengan orang yang berpaling atau mustakbir (keras kepala).

Sungguh saya telah melihat banyak orang yang berlebih-lebihan tanpa ada dalil, mereka bersikap keras dan mempersulit terhadap orang yang berbuat baik terhadap sebagian orang-orang kafir atau bergaul dengan mereka atau bermu’amalah dengan mereka atau mengajak bicara mereka dengan lembut dalam rangka menyampaikan dakwah kepada mereka dengan cara terbaik tanpa sedikitpun mudahanah atau kecenderungan, terutama keadaan sekarang adalah keadaan istidl’af (ketertindasan/lemah) dan kondisinya bukan kondisi perang.

Namun demikian, bila saja realita, saya melihat dan mendengar dari mereka berupa sikap kasar dan keras, yang mana itu menyumpal kerongkongan mereka dan membuat sempit dada mereka… Dan bersama itu semua orang-orang yang berlebih-lebihan itu mengingkari sikap lembut ini dan menjadikannya sebagai mudahanah, bahkan di antara mereka ada yang menjadikannya sebagai bentuk tawalli. Kita memohon kepada Allah Ta’ala keselamatan dan ’afiyah.

Dan bisa jadi sebagian mereka berhujjah dengan ayat-ayat Al Mumtahanah yang telah disebutkan, padahal ayat-ayat itu adalah hujjah atas mereka dan bukan hujjah bagi mereka. Di dalamnya Allah Yang Maha Terpuji sama sekali tidak melarang dari berbuat baik dan berbuat adil, terutama dalam rangka dakwah dan menyampaikan, namun Dia hanya melarang dari tawalli dengan bentuk larangan umum dalam banyak ayat-ayat Kitab-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian mereka mengklaim bahwa Al Muharibin (orang-orang kafir harbi) secara umum (keseluruhan) tidak ada (sikap) bagi mereka kecuali keras dan kasar dan bahkan sebagian mereka memasukan dalam hal itu dan menganggapnya termasuk sikap keras yang disyariatkan; ucapan kasar dan hinaan murni yang padahal Allah Ta’ala telah melarang kaum mu’minin dari melakukannya… Sehingga pada akhirnya dengan sikap itu mereka telah mencoreng wajah dakwah yang bercahaya dan telah berbuat aniaya terhadap dien ini dengan sebab pemahaman mereka yang buruk.

Mereka lalai (tidak jeli) bahwa kata muharabah(memerangi) dalam istilah para fuqaha mencakup : setiap orang (kafir/musyrik) yang tidak ada antara dia dengan kaum muslimin ’ahd (perjanjian damai), dzimmah (ahlu kitab dan yang lainnya yang mau hidup dalam naungan islam dan dia tetap di atas diennya dengan syarat bayar jizyah), amaan (jaminan keamanan) dan jiwaar (jaminan perlindungan), meskipun dia dari kalangan yang tidak ikut berperang, sehingga masuk didalamnya para wanita yang tidak ikut berperang, anak-anak, lanjut usia dan semacam mereka dari kalangan yang bukan ahlul qital, dan mereka tidak mampu mengusir kita dari negeri kita dan tidak membantu (orang lain) untuk mengusir kita. Sesungguhnya mereka itu seluruhnya masuk dalam istilah harbiyyin dari kalangan penduduk Darul Harbiy meskipun mereka itu bukan tergolong ahlul qital. Jadi Muqatil itu lebih khusus dari Muharib. Dan oleh karena itu para mufassirun menyebutkan dalam asbab nuzul ayat-ayat (Al Mumtahanah) itu hadits tibanya Ibu Asma Binti Abu Bakar radhiyallahu anha dari Mekkah dengan membawa hadiah, pakaian, keju, dan Iqth (macam makanan) untuk menziarahi Asma radhiyallahu anha, dan Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa salam mengizinkan Asma radhiyallahu ’anha untuk memperbolehkannya masuk rumahnya dan menerima bingkisan-bingkisannya.

Dan kesimpulannya bahwa kondisi mendakwahi dan sikap yang diperbolehkan di dalamnya terhadap Harbiyyin atau yang lainnya adalah berbeda dengan kondisi perang, memberikan pelajaran terhadap tokoh-tokoh kekafiran dan mengusir para pencela dan kaum keras kepala dari kalangan orang-orang yang berpaling dari dakwah atau orang-orang yang memperolok-olokannya.

Adapun mendakwahi mereka untuk pertama kalinya, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-Nya Musa ’alaihis salam kepada thaghut zamannya dan tokoh pimpinan Al Muharibin dan Al Muqatilin terhadapnya dan terhadap kaumnya. Dia memerintahkan Musa ’alaihis salam dan saudaranya untuk memulai mendakwahi Fir’aun dengan ucapan yang lembut padahal Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mensifati Fir’aun, dengan thugyan (Thaghut /melampui batas), Dia berfirman:

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampui batas, maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat (sadar) atau takut. (Thaha : 43-44)

Maka beliau memulainya dengan hal itu sebagaimana yang Allah Subahanahu wa Ta’ala firmankan kepada mereka, kemudian tatkala dia berpaling, menolak, bersikukuh dan keras kepala serta justru mengancam, menteror, menakut-nakuti, maka Dia berkata kepada Musa ’alaihis salam:

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, Maka Tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, Hai Musa, seorang yang kena sihir”. (Al Isra: 101)

Maka Musa berkata kepadanya :

”Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan Sesungguhnya aku mengira kamu, Hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. (Al isra’: 102)

Dan begitu juga Khalilur Rahman Ibrahim ’alahis salam, dia mengajak bicara kaumnya dalam status mendakwahi dengan bijaksana dan mau’idhah hasanah, beliau mendebat mereka dengan hujjah serta menampakkan keseriusannya agar ayahnya mendapat hidayah, di mana engkau bisa mendapatkan beliau berkata:

”Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. (Maryam: 43-45)

Dan yang serupa dengannya.

Dan dalam kondisi keberpalingan mereka, serta sikap membantah mereka dengan kebatilan yang mereka lakukan padahal hujjah sangat jelas, Ibrahim ’alaihis salam berkata kepada kaumnya yang di antaranya ayah Ibrahim ’alaihis salam:

“Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami?”. (Al Anbiya’ : 67)

Dan firman Nya Subhanahu wa Ta’ala :

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Al-Mumtahanah: 4)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim ’alaihis salam dalam sikap terhadap ayahnya :

”Tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya.” (At Taubah: 114)

Dan begitu juga Khatamul Anbiya wal Mursalin shalallahu ’alaihi wa salam, beliau sungguh orang yang sangat serius menginginkan kaumnya dan keluarga terdekatnya mendapatkan hidayah, beliau mengingatkan mereka dengan siksa neraka serta mengajak mereka untuk menyelamatkan diri mereka darinya.

Beliau terus menerus selalu mendakwahi pamannya Abu Thalib, dan beliau berharap dia mendapat hidayah, (beliau lakukan itu) hingga akhir nafasnya.

Dan dalam kondisi kaumnya memperolok-olokan beliau dan melecehkannya serta bersikap menentang, engkau dapatkan beliau berkata kepada mereka: “Kalian dengar wahai sekalian Quraisy, sungguh demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya aku tidak telah kepada kalian dengan penyebelihan” (Musnad Ahmad (7036) Tahqiq Ahmad Syakir).

Jadi wajib membedakan dalam dialog dan adu bicara antara orang yang mau mendengar terhadap dakwah, mau memperhatikan serta berkeinginan untuk mengetahuinya, dengan orang yang menjadikan dakwah ini sebagai bahan perolok-olokan dan mainan atau berpaling dan keras kepala.

Dan juga wajib dibedakan antara orang yang baru didakwahi dengan orang yang sudah lama dan justru tenggelam dalam keberpalingan dan sikap keras kepala padahal sudah didakwahi dan dakwah sampai kepadanya. Ini semuanya tergolong hikmah dan mau’idhah hasanah serta siasat syar’iyyah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, dan juga sudah dijelaskan oleh Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa salam dalam sirahnya, sunahnya, dan tuntunannya.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah merinci hal itu dalam Kitab-Nya. Dia menyebutkan sikap keras dan kasar dalam suatu kondisi, dan Dia Ta’ala menyebutkan lemah lembut dalam suatu kondisi, juga Dia sebutkan hikmah dan mau’idhah hasanah di suatu kondisi, serta beliau sebutkan ungkapan yang keras di suatu kondisi. Siapa orang yang menjadikan masing-masing pada tempatnya yang sesuai maka dia mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berhasil sekali di dalam dakwahnya.

Dan diantaranya Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahl: 125)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata saat menjelaskan ayat ini :

(Manusia ada tiga macam):

F      Orang yang mengakui kebenaran dan mengikutinya, maka ia adalah orang (yang didakwahi dengan) hikmah.

F      Orang yang mengakui kebenaran, namun tidak mengamalkannya maka ia diberi nasehat sampai mengamalkan.

F      Dan orang yang tidak mengakuinya, maka dia ini dibantah dengan cara yang baik.

Dikarenakan bantahan biasanya sumber mendatangkan kemarahan, bila ia dilakukan dengan cara yang lebih baik maka terbuktilah manfaatnya semaksimal mungkin seperti menahan musuh yang menyerang). Majmu Al Fatawa 2/33 Dar Ibnu Hazm.

Di tempat lain beliau berkata (Al Fatawa 3/159). (Dan Allah Ta’ala berfirman):

“Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (Al ‘Ankabut: 46).

Maka bila orang yang diajak dialog itu berbuat zalim, berarti kita tidak diperintahkan untuk menanggapinya dengan cara yang lebih baik, justru Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu berkata: “Sesungguhnya saya melihat para penakut di antara manusia, layak mereka itu lari dan meninggalkan engkau” Beliau berkata: “Jilatlah kemaluan Latta, apakah kami lari darinya dan meninggalkannya”. (HR Al Bukhari Kitab Asy Syuruth 2731-2732).

Padahal sudah maklum bahwa kekuatan itu hanyalah bagi Allah tabaraka wa Ta’ala, Rasul-Nya dan orang-orang mu’min, siapa saja mereka itu, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”  (Ali Imran: 139).

Siapa saja orang yang beriman, maka ialah yang tinggi (derajatnya) siapa saja orangnya. Dan siapa yang menentang Allah dan RasulNya, maka Dia Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan RasulNya, mereka Termasuk orang-orang yang sangat hina.” (Al Mujadilah: 20)

Perhatikanlah ucapannya ini dan ucapannya itu, sesungguhnya bagi setiap kondisi ada ungkapan (yang sejalan dengannya) … Dan siapa yang membaurkannya, maka terkaburlah urusannya dan iapun membuat pengkaburan atas manusia.

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah menjadi tauladan tertinggi dalam hal berbuat baik dan ihsan kepada kaumnya yang memeranginya karena dasar agama, mereka menindas para sahabatnya, mereka mengusirnya dari kampung halamannya dan membantu (orang lain) untuk mengusirnya, sungguh beliau berbuat baik kepada mereka dengan sebaik-baiknya saat beliau masuk ke  kota Mekkah saat penaklukkannya, kemudian beliau membebaskan mereka padahal mereka itu orang-orang kafir, dan hari itu pula mereka berkata: “Saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia.” Kemudian mereka masuk islam berbondong-bondong.

Beliau memberikan kebebasan sebelumnya kepada sekelompok orang di lembah Mekkah, padahal mereka itu telah berniat membunuh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kesempatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk menawan 80 orang, terus beliau membebaskan mereka tanpa tebusan. Apakah di atas ini ada ihsan yang menandinginya?.

Dan seandainya kita menelusuri petunjuk beliau Shalallahu ‘alahi wa salam dan sikapnya dalam hal ini, tentulah bahasannya panjang. Dan sudah diketahui pengaruh hal ini terhadap ketertarikan manusia kepada dienullah.

Dan di antara hal itu: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terkadang menerima hadiah orang-orang kafir dan membalas memberi hadiah kepada mereka, sebagaimana dalam Shahih Al Bukhari (Kitab Al Hibah) (Bab menerima hadiah dari Musyrikin) dan (bab memberi hadiah kepada kaum musyrikin) dan juga dalam Al Bukhari (Kitab Al Mardla) (Bab menjeguk orang musyrik).

Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menjenguk anak kecil yahudi yang pernah membantu-bantu beliau, dan beliau mengajaknya kepada Islam, terus dia masuk islam sebelum meninggal.

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu “bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam didatangi tamu kafir, maka beliau menyuruh (orang) untuk memerah susu kambing, kemudian orang kafir itu meminumnya, kemudian kambing lain, kemudiam kambing lain sampai ia minum tujuh kali perahan 7 kambing, kemudian dia masuk islam di pagi hari, dan beliau menyuruh diperahkan baginya dan dia meminumnya, kemudian kambing lain, dan ia tidak bisa menghabiskannya.” Asal hadits ini ada di dalam Al Bukhari.

Allah tabaraka wa Ta’ala berfirman saat memuji orang-orang mukmin:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Al Insan: 8)

Sedangkan pada umumnya tawanan kaum muslimin adalah dari kalangan orang-orang kafir harbi yang terjun perang.

Dan jika menelusuri ini maka panjang sekali……. Dan ia bermanfaat bagi setiap yang mencari al haq.

Dan bermanfaat juga bagi orang-orang yang berlebih-lebihan itu, dengannya mereka memperluas wawasannya, serta mereka semakin bertambah bashirah, hikmah dan kematangannya.

Jadi harus membedakan dalam hal takfir antara tawalli mukaffir yang telah Allah Subahnahu wa Ta’ala nashkan dalam Kitab-Nya bahwa itu salah satu sebab kekafiran yang nyata, dengan mempergauli orang kafir dengan baik, ihsan kepadanya serta lemah lembut dalam mengajak bicara dia dalam rangka mendakwahinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan yang lainnya.

Jadi tidaklah mengkafirkan (orang) dengan sebab perlakukan ini kecuali orang yang ngawur yang telah mempertaruhkan agamanya …. Maka dosanya ditanggung sendiri.

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 16 Tidak membedakan Antara Al Iman Al Haqiqiy Dengan Al Iman Al Hukmiy


Termasuk kekeliruan yang sering terjadi dalam takfier juga adalah tidak membedakan antara al iman al haqiqiy dengan al iman al hukmiy, serta antara taubat bathinah (yang tersembunyi) dengan taubat hukmiyyah.

Al Iman Al Haqiqiy: adalah tergolong hal-hal ghaib yang tersembunyi yang hukumnya diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan inilah yang berlaku atas dasarnya hukum-hukum akhirat di sisi Allah Ta’ala berupa pahala dan siksa.

Sedangkan Al Iman Al Hukmiy: adalah suatu yang nampak, yang dengan dasarnya dibedakan antara orang muslim dengan orang kafir, dan inilah yang sama artinya dengan al islam al hukmiy yang dengannya darah dan harta terjaga. Keterjagaan (‘ishmah) ini tetap di awal mulanya dengan ikrar akan dua kalimat syahadat, atau dengan suatu yang menempati posisi dua kalimat syahadat berupa ciri-ciri khusus islam dengan disertai tidak melakukan satupun dari pembatal-pembatal keislaman yang nyata.

Syaikhul islam berkata dalam Kitabul Iman: (Al Iman adh dhahir yang berlaku di atasnya hukum-hukum di dunia ini tidak memastikan (keberadaan) al iman al bathin yang mana orangnya tergolong orang-orang yang bahagia di akhirat). Al Fatawa terbitan Daar Ibnu Hazm 7/133.

Dan berkata pula (7/136) (Allah ta’ala tatkala memerintahkan memerdekakan budak yang mu’min dalam kaffarah, maka tidak ada kewajiban atas manusia untuk memerdekakan orang yang mereka ketahui ada keimanan di dalam hatinya, karena sesungguhnya hal ini adalah seperti seandainya dikatakan kepada mereka: Bunuhlah kecuali orang yang telah kalian ketahui bahwa iman ada di hatinya: Dan mereka tidak diperintahkan untuk mengorek hati manusia dan untuk merobek perut mereka, kemudia bila mereka melihat orang yang menampakkan keimanan maka boleh bagi mereka memerdekakannya, di mana pemilik budak wanita berkata bertanya kpd Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam:”Apakah dia mu’minah? Dia itu hanya memasukan al iman adh dhahir yang dengannya dibedakan antara muslim dengan kafir.

Dan berkata (7/137): (Dan yang dimaksud adalah bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam hanyalah mengabarkan tentang budak wanita itu dengan keimanan yg nampak yang dengannya dikaitkan hukum-hukum yang dhahir).

Hingga ucapannya: (Maka wajib dibedakan antara ahkamul mu’minin yg dhahir yang mana manusia dihukumi dengannya di dunia dengan hukum mereka di akhirat berupa pahala dan siksa. Orang mu’min yang berhak akan surga mesti sebagai mu’min dalam hukum bathin dengan kesepakatan semua ahli qiblat).

Dan berkata (7/138): (Dan pekuburan yang diperuntukan bagi kaum muslimin pada masa beliau dan masa khalifah dan sahabatnya dikubur di dalamnya setiap orang yang menampakkan keimanan walaupun dia itu munafiq dalam hukum bathin, dan kaum munafiqin tidak memiliki kuburan khusus yang berbeda dari pekuburan kaum muslimin di Negara Islam, sebagaimana kaum yahudi dan nasrani memiliki pekuburan khusus. Dan siapa yang dikubur di pemakaman kaum muslimin maka kaum muslimin menshalatinya, sedangkan menshalatkan orang yang diketahui kenifakannya adalah tidak boleh dengan nash Al Qur’an, maka diketahuilah bahwa hal itu di bangun di atas iman yang dhahir, dan Allah Ta’ala lah yang menangani hal-hal yang tersembunyi). Terbitan Daar Ibnu Hazm.

Dan berkata juga: (Iman yang dikaitkan dengannya hukum-hukum dunia adalah al iman adh dhahir, yaitu islam. Penamaan adalah satu dalam hukum-hukum dhahir, oleh sebab itu tatkala Al Atsram menuturkan kepada Ahmad berhujjahnya kaum Murji’ah dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam: ”Merdekakanlah dia karena dia itu mu’minah”, maka beliau menjawabnya bahwa yang dimaksud adalah hukum dia pada hukum dunia ialah hukum mu’minah, beliau tidak memaksudkan bahwa dia itu mu’minah di sisi Allah Ta’ala lagi berhak masuk surga tanpa (terlebih dahulu masuk) neraka bila dia berjumpa Allah dengan sekedar pengakuan ini).

Dan berkata pula saat beliau menuturkan perselisihan ulama tentang status anak-anak orang kafir: (Dan sumber kesamaran dalam masalah ini, tersamarnya hukum-hukum kekafiran di dunia dengan hukum-hukum kekafiran di akhirat, karena sesungguhnya anak-anak orang kafir tatkala berlaku atas mereka hukum-hukum kufur dalam urusan dunia, seperti tetapnya perwalian mereka bagi bapak–bapak mereka, hadlanah (pengurusan) bapak-bapak mereka terhadapnya, pemberian keleluasaan bagi bapak-bapak mereka untuk mengajari dan mendidik mereka, saling mewarisi antara mereka dengan bapak-bapak mereka, menjadikan mereka sebagai budak bila bapak-bapak mereka itu kafir harbiy, dan hal lainnya, maka mendugalah orang yang menduga bahwa mereka itu adalah orang-orang kafir pada keadaan sebenarnya, seperti orang yang mengucapkan dan melakukan kekafiran. Bila diketahui bahwa keberadaan mereka telah dilahirkan di atas fithrah itu tidak menafikan keberadaan mereka mengikuti bapak-bapaknya dalam hukum-hukum dunia, maka lenyaplah syubhat itu.

Bisa saja di negeri kafir ada orang mu’min secara rahasia yang menyembunyikan imannya di mana kaum muslimin tidak mengetahui keadaannya, yang bila kaum muslimin memerangi orang-orang kafir maka mereka membunuhnya, dia tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan dikubur bersama kaum musyrikin, sedangkan ia di akhirat tergolong kaum mu’minim ahlul jannah, sebagaimana kaum munafiqin berlaku atas mereka hukum-hukum kaum muslimin, sedangkan mereka di akhirat berada di dasar yang paling bawah dari api neraka. Jadi hukum negeri akhirat berbeda dengan hukum negeri dunia). (Dar’u Ta’arudlil ‘Aqli wan Naqli 8/432-433).

Sungguh Allah Ta’ala telah membedakan antara dua macam ini dalam firman-Nya Ta’ala:

”Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir.” (Al Mumtahanah: 10)

Firman-Nya Ta’ala: “Allah lebih mengetahui tentang keimanaan mereka“yaitu hakikat keimanan mereka

Dan firman-Nya Tabaraka wa Ta’ala: “Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman“yaitu sesuai apa yang nampak bagi kalian, yaitu al iman al hukmiy oleh sebab itu Sufyan Ats tsaury, Ibnul Mubarak dan kalangan salaf lainnya berkata: (manusia di sisi kita adalah mu’minun dalam hal warisan dan hukum-hukum (lainnya), dan kita tidak mengetahui bagaimana mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla). (Dikeluarkan oleh Al Khallal dalam As SUnnah 3/567, Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra 2/872).

Dan atas dasar ini maka syarat-syarat (Laa ilaaha illallah) dan pembatal-pembatal keislaman yang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab mereka; di antaranya ada yang berkaitan dengan al iman al haqiqiy, yaitu syarat-syarat dan pembatal-pembatal yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala, seperti ikhlas atau syirik bathin yang merupakan lawannya, shidq (jujur/benar) dan apa yang menggugurkannya berupa takdzib qalbiy (pendustaan hati), dan al yaqin yang menggugurkannya berupa keraguan, serta hal-hal serupa itu berupa hal-hal tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Tidaklah sah dan tidak layak takfier dengannya dalam hukum dunia, karena ia adalah sebab-sebab yang tidak nampak lagi tidak mundlabith (baku). Maka bagaimana hukum takfier dikaitkan dengannya? Dalam hukum dunia yang dilihat itu hanyalah apa yang nampak dari syarat-syarat atau pembatal-pembatal itu, sehingga terbuktilah hukum keislaman bagi seseorang dan dia di perlakukan sebagai kaum muslimin, di mana darah dan hartanya terjaga bila ia mendatangkan syarat-syarat islam hukmiy, sedangkan sarirahnya (bathinnya) diserahkan kepada Allah.

Syaikh Hafidh Al Hakamiy berkata dalam Ma’arijul Qabul 2/608: (Kemudian ketahuilah wahai saudaraku semoga Allah ta’ala meluruskan kami dan engkau, bahwa komitmen dengan dien yang dengannya dikaitkan keselamatan dari kenistaan dunia dan adzab akhirat, serta dengannya seorang hamba meraih surga dan dijauhkan dari neraka, ia itu hanyalah komitmen yang sesuai dengan hakikat sebenarnya dalam setiap apa yang di sebutkan dalam hadits Jibril ‘alaihi salam, dan ayat-ayat serta hadits-hadits lain yang semakna.

Sedangkan komitmen yang tidak sesuai dengan hakikatnya dan tidak nampak dari orang itu suatu yang membatalkannya, maka diberlakukan atasnya hukum-hukum kaum muslim di dunia, dan sarirahnya (bathinnya) diserahkan kepada Allah ta’ala. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kemudian bila mereka taubat (dari syirik atau kekafirannya), mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka lepaskanlah mereka” (At Taubah: 5)

Dan dalam ayat lain:

”Maka mereka itu ikhwan kalian dalam dien (ini)” (At Taubah: 11)

Serta ayat-ayat lainnya.

Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menggantungkan keterjagaan darah dan harta, serta mengantungkan ukhuwwah fiddien dengan hukum-hukum, syiar-syiar dan bangunan-bangunan (islam) yang dhahir, tidak dengan suatu yang samar dan tersembunyi.

Dan juga tidak disyaratkan untuk islam hukmi bahkan tidak pula untuk islam haqiqiy apa yang diduga sebagian orang berupa kemestian menghafal syarat-syarat (Laa ilaaha illallah) atau menghafal maknanya dan pembatal-pembatalnya serta mengetahui rinciannya  sebagaimana yang dijabarkan ulama dalam kitab-kitab mereka. Sungguh tidak seorangpun yang  bisa  mengklaim bahwa budak wanita yang ditanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam “Di mana Allah” dan beliau hukumi sebagai wanita mukminah, atau orang lainnya dari kalangan arab baduai dan awam kaum muslimin yang diperlakukan sebagai muslim secara dhahir oleh Rasulullah, bahwa mereka itu mengetahui rincian-rincian itu semuanya, atau bahwa mereka itu atau yang lainnya diharuskan untuk menghapal hal itu atau disyaratkan terhadap mereka menguasai hal itu agar dihukumi sebagai orang islam.

Syaikh Hafidh Al Hakami berkata dalam Ma’arijul Qabul pada ucapannya: Dengan tujuh syarat ia telah dibatasi.

Dan memang itulah yang telah terdapat dalam nash-nash wahyu-Nya.

Karena sesungguhnya orang yang mengatakannya tidak mengambil manfaat

dengan sekedar pengucapan kecuali bila ia menyempurnakan syarat-syaratnya.

Dan makna penyempurnaan (syaratnya) adalah terkumpulnya hal itu pada seorang hamba dan ia komitmen dengannya tanpa penohokan darinya akan suatu apapun darinya. Dan yang dimaksud dari hal itu bukanlah menghitung lafadh-lafadhnya dan menghafalnya. Berapa banyak orang awam yang mana hal-hal itu tidak terkumpul padanya dan ia komitmen dengannya, dan seandainya dikatakan kepadanya “Coba sebutkan satu persatu” tentu dia tidak cakap dengannya. Dan berapa banyak orang yang hafal TERHADAP kata-katanya lancar bagaikan panah melesat, dan ternyata engkau lihat dia sering jatuh ke dalam hal-hal yang membatalkannya, sedangkan taufiq hanyalah di Tangan Allah. Wallahul Musta’an. (2/418).

Yang ia maksudkan di sini pengambilan manfaat yang sempurna di dunia dan di akhirat,  oleh sebab itu disyaratkan pemenuhan semua syarat-syaratnya dan tidak membedakan antara apa yang nampak dengan apa yang tersembunyi dari hal itu, karena ia memaksudkan islam haqiqiy.

Adapun islam hukmi yang dhahir di dunia, maka engkau telah mengetahui bahwa keberadaanya adalah lebih rendah dari itu. Dan sesungguhnya yang disyaratkan baginya adalah seseorang menampakan sesuatu yang dengannya dia menjadi muslim. Berupa sesuatu yang tergolong ashlul iman dan tauhid, yaitu ia mendatangkan syarat-syarat islam yang dhahir dan ia tidak terjatuh pada satupun dari pembatala-pembatalanya yang dhahir.

Dan telah kami ketengahkan kepadamu bahwa kekafiran meskipun bisa terjadi dengan salah satu sebab yang empat: ucapan, perbuatan, keraguan atau keyakinan, atau dengan lebih dari  satu sebab darinya, akan tetapi takfier dalam hukum-hukum dunia hanyalah terbatas akan ucapan mukaffir atau perbuatan mukaffir atau dengan kedua-duanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan (orang murtad: setiap orang mendatangkan setelah dia muslim ucapan atau perbuatan yang menggugurkan keislaman di mana hal itu tidak mungkin berkumpul bersama (keislaman) nya). Ash Sharimul Maslul 459.

Dan berkata juga di dalamnya (370): “Bila ilmu iman yang difardlukan tidak menjadi sifat bagi hati orang lagi tidak menyertainya maka hal itu tidak bermanfa’at baginya, karena sesungguhnya hal itu setara dengan bisikan jiwa dan suatu yang terlintas di hati, sedangkan keselamatan (di akhirat) itu tidak tercapai kecuali dengan keyakinan di hati walaupun itu seberat dzarrah, ini adalah di antara dia dengan Allah Ta’ala. Adapun dalam hukum dhahir (dunia) maka hukum-hukum itu diberlakukan atas apa yang ditampakkannya berupa ucapan atau perbuatan”.

Adapun keyakinan dan syakk (keraguan), maka ia tergolong sebab-sebab kekafiran ukhrawiyyah bathiniyyah yang urusanya dikembalikan kepada Allah Ta’ala dan bukan kepada kita. Karena dalam hukum dunia tidak ada jalan untuk memegangnya, memperlakukannya serta mempertimbangkannya, sedangkan syar’i telah mengaitkan hukum-hukum dan musabbabat (hal-hal yang disebabkan) di dunia ini dengan dengan sebab-sebab dan sifat-sifat dhahirah lagi mundlabithah (baku) yang tidak tersembunyi. Dan itu supaya orang-orang mukallaf memungkinkan untuk menyikapinya, oleh sebab itu orang yang menyembunyikan kekafiran dan tidak menampakkanya dengan ucapan atau perbuatan-perbuatan sebagaimana keadaan kaum munafiqin maka mereka diperlakukan sebagai kaum muslim dalam hukum-hukum dunia, sehingga keislaman mereka yang hukmiy lagi dhahir menjaga darah dan harta mereka kemudian tempat kembali mereka  di akhirat kelak di tempat paling bawah dari neraka.

Sedangkan Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya“ (Al-Isra : 36).

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan bagi kita ilmu akan hal-hal ghaib dan hal-hal tersembunyi yang dengannya kita mengaitkan hukum-hukum dunia. Dan Dia Ta’ala berfirman pula dalam rangka menghikayatkan tentang Nabi– Nya Nuh ‘alaihi salam:

“Dan tidak pula aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu; “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka”. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya aku kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dzalim.” (Huud: 31)

Nuh ‘Alaihi salam mengaitkan hukum terhadap dhahir iman mereka, serta mengembalikan pengetahuan apa yang ada dalam jiwa mereka kepada Dzat yang mengetahui segala rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Asy syafi’iy rahimahullahu ta’ala berkata: “Allah Ta’ala memfadlukan atas makhluk-makhluknya taat kepada Nabi-Nya, dan dia tidak menjadikan bagi mereka suatu apapun dari urusan maka lebih pantas lagi mereka tidak diperkenakan untuk menghukumi atas hal ghaib seseorang dengan dilalah dan paraduga…..”.

Dan: “Allah tidak menyerahkan kepada mereka hukum di dunia ini kecuali dengan apa yang nampak dari orang yang divonis (mahkum ‘alaih), kemudian dia memfardlukan atas Nabi-Nya memerangi para penyembah berhala sampai mereka masuk islam sehingga darah mereka terjaga bila mereka menampakkan islam, dan beliau memberitahukan bahwa tidak ada yang mengetahui kejujuran mereka terhadap islam kecuali Allah Ta’ala, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukan kepada Rasul-Nya orang-orang yang menampakan keislaman dan menyembunyikan selainnya, kemudian Dia tidak menjadikan baginya untuk menghukum mereka dengan selain hukum islam, dan Dia tidak menjadikan (kebolehan) bagi mereka untuk memutuskan atas mereka di dunia ini dengan apa yang menyelisihi apa yang mereka tampakkan.” (Dinukil  dari I’lamul Muwaqqi’in 3/112).

Dan Ibnul Qayyim berkata: “Dan syar’i tidak membangun hukum-hukum-Nya atas sekedar apa yang ada dalam jiwa tanpa ada dilalah perbuatan atau ucapan”. (I’lamul Muwaqqi’in 3/117), dan ini dalam hukum-hukum dunia sebagaimana hal itu nampak.

Dan di antara dalil-dalil yang shahih atas hal ini adalah sabda Nabi Shalallahu a’alaihi wa salam di dalam hadits yang diriwayatkan Al Bukhari, Muslim dan yang lainnya: “Sesungguhnya kalian mengadu kepada saya…… Dan saya hanya memutuskan dengan dasar apa yang didengar…..”. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam mengabarkan bahwa beliau hanya memutuskan hal yang dhahir. Dan dalam Shahih Muslim: “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk membelah hati manusia dan merobek perutnya”.

Dan dalam Shahih Muslim ada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kepada Usamah seraya mengingkarinya: “Apakah kamu merobek (untuk mengetahui isi hatinya)??!”.

Abu Ja’far Ath-Thahawiyyah berkata tentang Ahlul Qiblat: “Dan kami tidak menjadikan saksi atas mereka dengan kekafiran dan kemunafikan selama tidak nampak atas mereka sesuatu dari hal itu, dan kami biarkan rahasia mereka kepada Allah Ta’ala”

Dan pensyarah Ath-Thahawiyyah berkata “Karena kita telah diperintahkan untuk menghukumi berdasarkan dhahir, dan kita dilarang dari praduga dan mengikuti apa yang tidak kita kuasai ilmunya”.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bariy (Kitab Istitabatil Murtaddien (bab hukmul murtad wal murtaddah wastitabatuhum)) dalam bahasannya terdapat “Siapa yang mengganti diennya, maka bunuhlah dia” (6922): dan sabdanya “Siapa” adalah umum yang  dikhususkan darinya orang yang mengganti diennya di dalam bathin dan hal itu tidak terbukti atasnya dalam hal dhahir, maka ini diberlakukan atasnya hukum-hukum dhahir….

Dan berkata setelah menuturkan firman-Nya Ta’ala:

”Mereka menjadikan sumpah-sumpahnya sebagai perisai” (Al Munafiqun: 2) “Maka ini menunjukan bahwa penampakan iman itu melindungi dari al qatl (pembunuhan), dan semua sepakat bahwa hukum-hukum dunia itu dibangun atas hal yang dhahir dan Allah Ta’ala yang menangani hal-hal yang tersembunyi, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam telah berkata kepada Usamah “Apakah kamu telah merobek hatinya…?” dan bersabda pula kepada orang yang membisikan beliau untuk membunuh seseorang “Bukankah dia shalat?” Dia berkata: “Ya,” Beliau berkata: “Merekalah orang-orang yang saya di larang dari membunuhnya”.

Dan menyebutkan hadits Khalid Ibnul Walid tatkala meminta izin untuk membunuh orang yang mengingkari pembagiannya, dan berkata: “Berapa banyak orang yang shalat mengatakan dengan lisannya suatu yang tidak ada di dalam hatinya” Maka Beliau shalallahu ‘alaihi wa salam berkata: “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan mengorek isi hati manusia” dikeluarkan Muslim dan hadits-hadits serupa dengan hal itu sangatlah banyak.

Dan seperti hal itu dikatakan pada taubat bathinah haqiqiyyah yang menyelamatkan di akhirat dan taubat hukmiyyah yang cukup di dunia untuk keterjagaan darah dan harta dan untuk menghukumi keislamannya.

Taubat haqiqiyyah: adalah yang diterima di sisi Allah Ta’ala, dan dia yang memenuhi syarat-syarat taubat bathinah dan dhahirah, berupa penyesalan, mencabut diri dari dosa, berazam untuk tidak mengulanginya kembali, istighfar dengan lisan dan menunaikan hak-hak hamba bila dosa itu berkaitan dengannya.

Inilah taubat yang diterima dan selamat di sisi Allah Ta’ala.

Adapun di dunia, maka tidak sah apa yang disyaratkan sebagai orang dalam keterjagaan darah seseorang atau (dalam) menghukumi taubat orang murtad berupa mencari kejelasan taubat macam ini, karena sebagian syarat-syaratnya termasuk hal ghaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala dan tidak mungkin bagi makhluk untuk menguasainya.

Namun cukuplah dalam hal itu nampaknya taubat hukmiyyah, yaitu penampakkan si pelaku dosa akan taubatnya di hadapan manusia dengan mencabut diri dari dosa itu secara dhahir atau rujuk dan bara’ah dari sebab kekafiran itu (baik) berupa ucapan atau amalan dhahir atau dengan komitmen terhadap apa yang membuat dia kafir dengan imtina’ darinya berupa suatu yang tergolong pokok keimanan yang dhahir.

Catatan:

Sebagian orang mengecualikan zindiq[1] dari hal itu: yaitu orang yang berulang-ulang riddah (kemurtaddan)nya, masyhur lagi terkenal permainan dan celaannya terhadap dien ini, (masyhur) pengulangan dan istitabah (memohon taubat)nya lagi banyak (muncul) darinya hal-hal muhtamal (ucapan-ucapan yang menyerempet) dan ucapan sindir sampir, serta terkenal persahabatannya dengan para penebar keraguan dan kaum zindiq.

Madzhab Malik rahimahullah adalah tidak diterimanya taubat zindiq, dan begitu juga Ahmad rahimahullah dalam riwayat termasyhur darinya.

Madzhab Asy Syafi’iy menerima taubatnya.

Syaikhul Islam Ibnul Taimiyyah berkata: “Dan oleh sebab itu para fuqaha berselisih tentang istitabah zindiq (penyuruhan taubat orang zindiq). Ada yang mengatakan bahwa ia itu diperintahkan untuk bertaubat, dan orang yang berpendapat itu berdalil dengan kaum munafiqin yang mana Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menerima apa yang mereka tampakkan sedangkan urusan mereka sebenarnya diserahkan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Maka dikatakan kepadanya: “Ini memang di awal mula islam, dan setelah ini Allah Ta’ala menurunkan ayat:

“Dalam keadaan terlaknat, di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya” (Al Ahzab: 61)

Maka mereka mengetahui bahwa bila menampakkannya sebagaimana mereka dahulu pernah menampakkannya, maka mereka pasti dibunuh, kemudian mereka menyembunyikannya.

Zindiq: Dialah orang yang munafiq, dan orang yang membunuhnya membunuh dia itu hanyalah bila nampak darinya bahwa ia itu menyembunyikan kemunafikan.

Mereka berkata: “Dan tidak diketahui taubatnya, karena paling tidak apa yang ada padanya adalah bahwa ia menampakan apa yang dia tampakkan, dan ia itu sebelumnya adalah menampakkan keimanan sedangkan ia itu munafiq, dan seandainya taubat zindiq diterima tentulah tidak ada jalan untuk membunuh mereka, sedangkan Al Qur’an telah mengancam mereka dengan hukum bunuh). Majmu Al Fatawa 7/137.

Dan rujukan dalam hal ini Wallahu a’lam adalah ijtihad, pengukuran mashlahat dan mafsadat, serta mengetahui waqi’ berupa bertambahnya keburukan, pelecehan akan dien dan keberanian manusia atasnya. Dan kapan saja ditemukan hal seperti ini, maka diperketat terhadap orang-orang yang mempermainkan (dien) lagi zindiq dan dicerai beraikan orang-orang yang berada di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, terutama bila terpenuhi kemampuan terhadapnya, sungguh telah beragam tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dan sikapnya terhadap macam mereka pada kondisi lemah kaum muslimin dan saat kuat syaukah (kekuatan) mereka.


[1] Zindiq adalah kata ‘ajam (non arab) yang masyhur di dalam penggunaan para fuqaha tatkala banyak orang ajam di tengah kaum muslimin. (Al Fatawa 7/290). Sahl Ibnu Abdullah At Tustari berkata: (Sebab zindiq dinamakan zindiz itu adalah dikarenakan dia itu menimbang ucapan dengan kebusukan akalnya, meninggalkan atsar serta mentakwil Al Qur’an dengan hawa nafsunya) selesai dari Ma’arijul Qabul, dan asalnya dari Kitab Al ‘Uluww karya Adz Dzahabiy, lihat Al Mukhtashar hal 220.

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 15 Tidak Membedakan Dalam Takfier Antara Suatu Yang Tergolong Ashlul Iman Atau Nawaqidl-nya Dengan Suatu Yang Tergolong Al-Imam Al Wajib Atau Al Mustahabb


Di antara kekeliruan yang sering terjadi dalam takfier juga adalah ngawur dan tidak membedakan dalam takfier antara suatu yang tergolong ashlul Iman atau pembatal-pembatalnya dengan suatu yang tergolong Al-Iman Al Wajib atau yang Al Iman Al Mustahabb. Sikap ngawur ini menjerumuskan dalam sikap serabutan dalam takfier. Dan penjelasan itu adalah bahwa iman itu terbagi menjadi: Ashl (pokok/inti), wajib dan mustahabb.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Kitabul Iman pada Definisinya: (Dan ia (iman) itu terdiri dari ashl yang mana ia tidak sempurna tanpanya[1], dan (terdiri) dari iman yang wajib yang mana iman menjadi kurang dengan meninggalkannya dengan kekurangan yang mana pelakunya berhak mendapatkan sangsi, serta terdiri dari iman yang mustahabb yang dengan ketinggalannya lenyaplah derajat yang tinggi).

Ashlul iman: Adalah suatu yang mana Al-Iman tidak ada tanpanya dan tidak ada keselamatan dari kekafiran kecuali dengannya, dan ini yang dinamakan dengan muthlaqul iman. Dan ia itu meliputi cabang-cabang yang mana Al-Iman tidak sah kecuali dengannya:

Atas hati: Mengetahui apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara gelobal, membenarkannya, tunduk kepadanya disertai mendatangkan amalan-amalan hati yang mana Al-Iman tidak sah kecuali dengannya, seperti mahabbah (mencintai) apa yang dibawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ridla dan berserah diri terhadapnya serta amalan-amalan hati lainnya.

Atas Lisan: Iqrar (pengakuan) akan dua kalimah syahadat.

Atas anggota Badan: Shalat yang mana orang yang meninggalkannya dikafirkan, dan begitu juga rukun-rukun Islam lainnya menurut sebagian ulama sesuai perbedaan tentang kekafiran orang yang meninggalkannya.

Sedangkan dlabith (batasan) suatu yang tergolong masuk dalam ashlul iman: bahwa setiap ucapan atau perbuatan yang mana orang yang meninggalkannya dikafirkan, maka mengerjakannya termasuk ashlul iman, dan setiap ucapan atau perbuatan yang mana pelakunya dikafirkan, maka meninggalkannya tergolong ashlul iman. Dan siapa yang membawa ashlul iman maka dia masuk syurga, baik langsung atau di kemudian hari, sebab ia tergolong kaum muwahhidin, sedangkan surga itu dipersiapkan buat kaum muwahhidin, dan ia adalah tempat kembali mereka meskipun mereka melakukan taqshir (keteledoran) dalam Al-Iman Al-Wajib.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam (Iqtidlaush Shirathil Mustaqim): (Tidak setiap orang yang ada padanya suatu cabang dari cabang-cabang keimanan menjadi mu’min sampai ada padanya ashlul iman) (hal 82)

Al-Iman Al-Wajib: Yaitu suatu yang lebih dari sekedar ashlul iman, berupa mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Sedangkan dlabith suatu yang masuk dalam Al-Iman Al-Wajib adalah bahwa setiap amalan yang ada ancaman dalam hal meninggalkannya dan yang meninggalkannya itu tidak dikafirkan, maka mengerjakannya itu termasuk Al-Iman Al-Wajib, seperti penunaian amanah, berbakti kepada kedua orang tua, jihad yang wajib, silaturahim dan yang lainnya

Dan setiap amalan yang ada ancaman dalam hal melakukannya namun mengerjakannya itu tidak dikafirkan, maka meninggalkannya itu termasuk Al-Iman Al-Wajib seperti: Zina, Riba, Mencuri, minum khamr dan dusta. Siapa yang taqsir di dalam Al-Iman Al-Wajib, di mana ia meninggalkan suatu kewajiban atau melakukan suatu yang haram, bila dia itu memiliki ashlul iman, maka ia itu termasuk ashhabul kabair (pelaku dosa besar) atau ‘ushatul muwahhidin (kaum muwahhid yang maksiat) atau orang yang dinamakan (al-fasiq al maliy) yaitu bahwa dia bersama kefasiqannya itu tidak keluar dari millah. Siapa yang mati dalam hal ini, maka ia itu termasuk ahlul wa’id (orang-orang yang mendapat ancaman), akan tetapi ia itu berada dalam masyi’ah (kehendak Allah) -menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, berbeda dengan dengan Khawarij dan Mu’tazillah- bila Allah menghendaki maka Dia mengampuninya dan memasukkannya kedalam syurga langsung tanpa ada adzab, dan bila Dia menghendakinya maka Dia mengadzabnya sesuai kadar dosanya, kemudian tempat kembali akhirnya adalah ke syurga, tempat kembali kaum muwahhidin dengan sebab ashlul iman yang ada padanya.

Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Al-Bukhariy bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Sehingga bila Allah telah selesai dari memutuskan di antara para hamba dan Dia ingin mengeluarkan dengan rahmat-Nya orang yang Dia inginkan dari penghuni neraka, Dia memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka orang yang tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah dari golongan orang yang Allah inginkan untuk merahmatinya dari orang-orang yang bersaksi akan laa ilaha illallah, maka para malaikat mengenal mereka di dalam neraka dengan bekas sujud)

Siapa yang mendatangkan Al-Iman Al-Wajib dengan ashlul iman, dia tidak taqshir di dalamnya dan tidak menambahkan atasnya, maka ia adalah mu’min yang berhak mendapatkan masuk surga langsung tanpa ada adzab sebelumnya. Dan berkenaan dengan macam mereka ini dikatakan di dalam hadits (Dia beruntung bila jujur) tatkala seorang sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Demi dzat yang memuliakan engkau dengan al haq saya tidak akan melakukan tathawwu (tambahan yang mustahabb) satupun dan tidak akan mengurangi suatupun dari yang Allah Fadlukan kepada saya) HR. Al-Bukhari.

Adapun Al Iman Al Mustahabb: maka ia adalah suatu yang melebihi dari Al Iman Al Wajib, berupa pelaksanaan Al-Mandubat (hal-hal yang dianjurkan) dan Al Mustahabbat, serta meniggalkan hal-hal makruh dan Al Musytabihat. Siapa yang mendatangkan hal ini disertai ashlul iman dan al iman al wajib, maka ia tergolong As- Sabiqunal Bil Khairat (orang-orang yang terdepan dengan kebaikan) dengan izin Allah. Dan lenyapnya tingkatan ini melenyapkan derajat yang tinggi, tapi tidak ada siksa atasnya serta tidak ada adzab. Dan dari rincian ini teringkaslah bagi kita kaidah ini: (bahwa setiap ketaatan adalah iman dan bukan setiap maksiat adalah kufur akbar), sebagaimana ketaatan itu beraneka ragam tingkatannya, di antaranya ada yang masuk dalam ashlul iman dan dianggap sebagai syarat bagi keimanan, ada juga yang masuk dalam Al-Iman Al Wajib, dan ada juga yang masuk dalam Al-Iman Al Mustahabb, sebagaimana dalam hadits “(Iman itu 60 sekian cabang, yang paling tinggi adalah pengucapan laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan kotoran dari jalan, sedangkan rasa malu itu adalah cabang dari keimanan)” Muttafaq ‘alaih.

Maka begitu pula halnya dengan maksiat, di antaranya ada yang mencoreng ashlul iman, dan ini dinamakan kekafiran atau pembatal. Di antaranya ada yang mencoreng Al-Iman Al-Wajib, dan ini dinamakan fisq maka mesti mengetahui setiap derajat dan apa yang berkaitan dengannya, dan membedakan antara suatu yang dikafirkan dengannya dengan sesuatu yang tidak dikafirkan dengannya, Allah Ta’ala:

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatinya serta menjadikan kami benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan” (Al Hujurat: 7)

Perhatikanlah pemilahan Allah Ta’ala antara kekafiran dengan kefasiqan dan maksiat, maka sikap keberserahan diri seorang hamba tidak akan selamat sehingga ia membedakan antara apa yang telah Allah bedakan, dan ia menggabungkan serta menyatukan antara apa yang telah Allah satukan.

Dia mesti membedakan antara apa yang menggugurkan ashlul iman yaitu al mukkaffirat, dengan apa yang mengurangi Al Iman Al Wajib atau Al mustahabb dan tidak menggugurkan ashlul iman. Sebagian ulama menggunakan istilah al iman al wajib atau wajibatul iman, dan mereka menggabungkan di dalamnya antara suatu yang tergolong ashlul iman dan tingkatan al iman al wajib, karena seluruhnya itu tergolong al wajibat, akan tetapi yang pertama termasuk syarat Al Iman yang mana al iman menjadi gugur dengan kurangnya suatu darinya, sedangkan yang kedua termasuk wajibatul iman saja dan bukan termasuk syarat-syarat al iman, ia menjadi kurang dengan kekurangan hal ini dan tidak menjadi gugur (batal/lepas). Dan masalah ini adalah perbedaan istilah dan tidak ada pengaruh di dalamnya selama yang dimaksud adalah selaras/sejalan dengan ushul ahlus sunnah, dan itu bisa dipahami dari konteks sebagaimana yang disebutkan dalam contoh berikut ini:

Sungguh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah memperumpamakan bagian-bagian al iman dengan pohon, beliau berkata:

(Sesungguhnya sebatang pohon umpamanya adalah nama bagi gabungan batang, daun-daun dan dahan-dahan[2], dan ia setelah lenyapnya daun-daun tetap disebut pohon, dan setelah lenyapnya dahan ia tetap disebut pohon namun tidak sempurna dan kurang[3], maka hal seperti itu diberlakukan pada penanaman Al Iman dan Ad Dien.

Sesungguhnya iman itu tiga tingkatan:

- Iman As-Sabiqunal Al-Muqqarrabun, yaitu iman yang didatangkan di dalamnya Al-Wajibat[4] dan mustahabbat berupa mengerjakan dan meninggalkan.

- Iman Al Muqtashidin Ashhabul Yamiin, yaitu iman yang didatangkan di dalamnya Al Wajibat[5] berupa mengerjakan atau meninggalkan.

- Iman Adh-Dhalimin, yaitu iman yang ditinggalkan di dalamnya sebagian al wajibat atau yang dikerjakan di dalamnya sebagian yang diharamkan.

Oleh sebab itu ulama As-Sunnah berkata ketika mensifati “i’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah”: (Sesungguhnya mereka tidak mengkafirkan seorangpun dari kalangan ahlul qiblat dengan sebab dosa)” sebagai isyarat kepada bid’ah khawarij yang mengkafirkan dengan dosa apa saja. Adapun ashlul iman yang mana ia adalah pengakuan terhadap apa yang dibawa para Rasul dari Allah sebagai bentuk tashdiq terhadapnya dan inqiyad kepadanya, maka ia adalah ashlul iman yang mana orang yang tidak mendatangkannya bukanlah sebagai orang mu’min……) 12/254 cet Daar Ibni Hazm

Kemudian berkata hal: 256 (Dan bila telah diketahui penggunaan nama al iman, maka saat disebut keberhakan surga dan keselamatan dari neraka dan (saat disebutkan) celaan terhadap orang yang meninggalkan sebagiannya dan yang lainnya, maka yang dimaksudkan dengannya adalah Al-Iman Al Wajib, seperti firman-Nya Ta’ala: Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. “(Al-Hujurat: 15)

Dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Tidaklah pezina berzina saat dia berzina sedangkan dia itu mukmin, dan tidaklah pencuri mencuri saat dia mencuri sedangkan dia itu mukmin, serta tidaklah meminum khamr saat dia meminumnya sedangkan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau menafikan darinya Al iman al wajib yang dengannya dia berhak dapat surga, namun tidak mesti hal itu menafikan ashlul iman dan bagian-bagian serta cabang-cabang lainnya. Sampai ucapannya: (Dan di antara bab ini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Siapa yang menipu kami maka ia bukan tergolong kami”[6] bukan dimaksud dengannya bahwa dia itu kafir sebagaimana yang ditakwil oleh khawarij, dan bukan juga yang dimaksud dengannya bahwa ia bukan tergolong orang-orang pilihan kami sebagaimana yang ditakwil oleh murjiah.

Akan tetapi yang disembunyikan (mudlmar) adalah selaras dengan yang dinampakkan (mudhar), dan Al-Mudhar (yang ditampakkan) adalah orang-orang mukmin yang berhak akan pahala lagi selamat dari adzab, dan orang yang menipu itu bukan tergolong kami karena ia terancam dengan murka dan adzab Allah secara ikhtisar.

Dan kesimpulannya adalah bahwa al iman yang lawannya kekufuran ia saja adalah suatu yang tergolong ashlul iman.

Adapun al iman al wajib, maka ia adalah yang lawannya kefasikan, sedangkan al iman al mustahab adalah suatu yang lawannya meninggalkan yang tidak mengkafirkan dan tidak membuat fasiq.

Maka hati-hatilah dari sikap mencampuradukan antara nash-nash ketiga tingkatan, karena dalam hal itu terdapat sumber ketergelinciran pemahaman.

Hendaklah mengamati ayat-ayat dan hadits-hadits, dan hendaklah mentadabburinya serta hendaklah mengembalikan nash ynag musykil kepada nash yang terang lagi jelas, karena sesungguhnya tidak dikeluarkan dari lingkungan al iman dan al Islam kecuali orang yang mendatangkan dosa mukaffir yang melenyapkan ashlul iman, sama saja baik itu:

Meninggalkan suatu kewajiban dari kewajiban-kewajiban ashlul iman, seperti meninggalkan ikrar akan dua kalimah syahadat, atau meninggalkan shalat, atau lenyapnya tashdiqul qalbi, yaitu kufr takdzib, atau lenyapnya keyakinan hati, yaitu kufr syakk (keraguan) dan cabang-cabang serta wajibbat ashlul iman lainnya, baik itu tergolong amalan-amalan hati atau lisan atau jawarih (anggota badan)

Atau melakukan suatu keharaman dari keharaman-keharaman yang berlawanan dengan ashlul iman, sama saja baik itu tergolong amalan-amalan hati atau lisan atau jawarih, seperti tahakkum kepada thaghut atau mencela Allah dan rasul-Nya serta menyeru selain Allah atau menyembelih dan sujud kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala atau memalingkan tasyri’, tahlil, dan tahrim kepada selain-Nya.

Adapun yang mencoreng al-iman al wajib, maka sesungguhnya ia mengurangi al-iman dan tidak menggugurkannya, maka hati-hatilah dari melakukan takfier dengan hal itu saja. Dan sebelum menutup bahasan ini saya ingin mengingatkan pada lima hal penting:

Pertama: Sesungguhnya kekafiran meskipun memang seperti apa yang telah engkau ketahui dengan mencoreng cabang mana saja dari cabang-cabang ashlul iman, akan tetapi sesungguhnya takfier dalam hukum-hukum dunia hanyalah dengan suatu yang menohok ashlul iman dengan lisan dan anggota badan (jawarih) secara pastinya, yaitu dengan ucapan-ucapan dan amalan dhahir saja.

Dan tidak ada kaitannya bagi amalan dalam hal takfier di hukum dunia ini, karena ia adalah hal yang ghaib yang tidak mungkin dilihat dan tidak bisa dijadikan patokan selama keyakinan itu tidak nampak pada ucapan dan amalan. Dan engkau telah mengetahui bahwa syar’iy telah menetapkan bagi hukum-hukum syariat dalam hukum dunia ini sebab-sebab dan alasan-alasan yang dhahir lagi mundlabith (baku), sedangkan apa yang ada di lubuk hati adalah tidak nampak dan tidak mungkin diberikan patokan, oleh sebab itu hal tersebut tidak dibebankan kepada kita namun diserahkan kepada Allah.

Kedua: Sesungguhnya banyak dari shighat-shighat wa’id sebagaimana yang telah lalu, memiliki kemungkinan menohok ashlul iman atau mengurangi pada Al Iman Al Wajib, sehingga wajib menguji shighat-shighat yang muhtamal dengan dikembalikan kepada (nash) yang muhkam lagi mafashshal (yang diperinci) dari nash-nash yang menjelaskannya untuk mengetahui maksud syar’iy darinya, sehingga tidak terjadi kesamaran dan ketergesa-gesaan dalam hal takfier dengan suatu yang bukan kekafiran yang mengeluarkan dari millah.

Ketiga: Sesungguhnya ulama terkadang melontarkan lafadh (penafian) kesempurnaan iman, dan mereka memaksudkan penafian Kamalul Iman Al wajib dengan hal itu, maka hati-hati dari mengartikannya pada penafian hakikat Al –Iman yaitu (Ashlnya) terus engkau dengan landasan ucapan-ucapan para ulama itu mengkafirkan orang yang tidak dikafirkan oleh syar’iy, atau malah mengartikannya pada (penafian) kamalul iman al mustahabb, sehingga engkau salah memahami maksud, karena syar’iy tidak mengancam atas sikap meninggalkan suatu dari cabang-cabang al iman al mustahabb, bahkan ancaman itu tidak datang kecuali pada sikap meninggalkan suatu kewajiban dari wajibatul iman, baik itu tingkatan ashlul iman atau tingkatan Al-Iman Al wajib.

Syaikhul Islam berkata 12/256: (Makna ucapan mereka “penafian kamalul iman bukan hakikatnya) yaitu al kamal al wajib, bukan ia al kamal al mustahabb).

Dan berkata (7/14): (kemudian sesungguhnya penafian “al iman” saat tidak adanya (yaitu: cabang-cabang al iman) menunjukkan bahwa itu adalah (cabang) yang wajib, dan bila disebutkan keutamaan iman pelakunya dan tidak menafikan imannya maka ia menunjukkan bahwa ia adalah (cabang) yang mustahabb[7]. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya tidak menafikan nama penyebutan suatu yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kecuali bila ditinggalkan sebagian kewajiban-kewajibannya, seperti sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا صلاة الا بأم القرأن

Tidak ada shalat kecuali dengan Ummul Qur’an[8], dan sabdanya:

لا ايمن لمن لا أمانة له ولادين لمن لا عهدله

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada dien bagi orang yang bisa dipegang janjinya.[9]

Dan yang lainnya, adapun bila perbuatan itu mustahabb dalam ibadah maka tidak dinafikannya karena lenyapnya hal mustahabb itu…. “Hingga ucapannya: (Seandainya orang yang tidak mendatangkan kesempurnaannya yang mustahabb boleh hal itu dinafikan darinya, tentu bolehlah hal itu dinafikan dari jumhurul muslimin dari kalangan terdahulu dan kemudian, sedangkan ini tidak dikatakan oleh seorangpun yang berakal.

Maka siapa yang mengatakan: Sesungguhnya yang dinafikan adalah al kamal, maka bila ia memaksudkan sesungguhnya ia adalah penafian al kamal al wajib yang dicela orang yang meninggalkannya dan ia terancam siksaan, maka ia telah benar, dan bila ia memaksudkan bahwa itu adalah penafian al kamal al mutahabb, maka ini sama sekali tidak pernah ada di dalam firman Allah dan sabda Rasul-Nya dan tidak boleh terjadi, karena orang yang melakukan hal yang wajib sebagaimana mestinya dan tidak mengurangi sedikitpun dalam kewajibannya maka tidak boleh dikatakan bahwa ia: tidak melakukannya baik hakikat ataupun majaz.)

Dan berkata pula (7/30): (Dan begitu juga orang yang tidak mencintai bagi saudaranya yang mukmin apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri adalah berarti tidak ada bersamanya apa yang telah Allah wajibkan atanya berupa keimanan. Bila Allah menafikan keimanan dari seseorang, maka itu tidak terjadi kecuali karena kurangnya suatu yang wajib atasnya berupa keimanan, dan ia itu tergolong orang-orang yang terkena ancaman lagi bukan tergolong orang-orang yang berhaq akan janji yang muthlaq.

Dan begitu juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam “Siapa yang menipu kami maka ia bukan tergolong golongan kami dan siapa yang menenteng senjata di hadapan kami maka ia bukan golongan kami.”[10] semuanya termasuk bab ini, tidak dikatakan kecuali terhadap orang yang meninggalkan apa yang telah Allah wajibkan atasnya, atau yang melakukan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasulnya sehingga ia telah meninggalkan dari iman yang difardlukan atasnya suatu yang menafikan darinya nama (iman) karenanya, sehingga ia tidak tergolong orang-orang mukmin yang berhak mendapatkan wa’d (janji) lagi selamat dari ancaman (wa’id)). Cetakan Daar Ibnu Hazm.

Dan atas dasar ini, maka sesungguhnya ucapan Al Hafidh Ibnu Hajar atau yang lainnya pada penjelasan hadits “tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya” sebagai contoh: (yang dimaksud dengan penafian adalah kamalul iman)[11], wajib membawanya pada penafian kamalul iman al wajib bukan al mustahabb, karena penafian nama al iman tidak terjadi karena meninggalkan hal yang mustahabb, akan tetapi itu tidak terjadi kecuali karena meninggalkan hal yang wajib, baik itu dari ashlul iman atau dari tingkatan iman al wajib. Sedangkan ucapan Al Hafidh hanyalah untuk mengingatkan bahwa hal itu bukan penafian ashlul iman sebagaimana yang dikatakan oleh khawarij, oleh sebab itu beliau berkata dalam tempat itu sendiri: (secara pasti bahwa orang yang tidak memiliki sifat ini bukan orang kafir).

Keempat: Bahwa batasan istihlal yang disebutkan sebagai syarat buat takfier dalam sebagian dosa hanyalah pensyaratannya di dalam dosa-dosa yang berpengaruh dalam tingkatan la iman al wajib, adapun suatu yang menggugurkan ashlul iman, maka tidak ada tempat bagi syarat ini di dalamnya, sebab ia tergolong mukaffirat (hal-hal yang mengkafirkan) dengan sendirinya yang tidak butuh terhadap syarat ini, namun bila dibarengi dengannya maka ia adalah tambahan dalam kekafiran.

Kelima: Sering terdapat dalam perkataan ulama pemisahan antara al iman al muthlaq dengan muthlaqul iman

Al Iman Al muthlaq Adalah iman yang sempurna lagi penuh yang menggabungkan antara ashlul iman, al iman al wajib dan al iman al mustahabb. Itu karena pada ucapanmu (al iman al muthlaq) adalah kamu memasukan laam pada kata al iman, sedangkan dia (laam) itu memberikan faidah umum dan syumul (mencakup), kemudian engkau mensifati al iman dengan al ithlaq dengan arti bahwa ia belum dibatasi dengan batasan yang mengharuskan pengkhususannya, maka ia itu umum mencakup setiap individu dari individu-individunya.

Adapun Muthlaqul Iman, maka ia digunakan dalam al iman yang kurang dan al iman yang sempurna.

Idlafat (penyandaran) di dalamnya bukanlah untuk faidah umum akan tetapi untuk membedakan, maka ia adalah kadar musytarak (yang berserikat di dalamnya) yang muthlaq bukan umum sehingga pantas digunakan buat semua individunya.

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam manafikan al iman al muthlaq dari pezina, peminum khamr dan pencuri sebagaimana dalam hadits yang lalu, agar tidak masuk dalam firman-Nya:

“Dan Allah adalah pelindung orang-orang mu’min” (Al Baqarah: 257)

Dan firman-Nya:

“Sungguh telah beruntunglah orang-orang mu’min” (Al Mukminun: 1)

Dan firman-Nya:

“Orang-orang mu’min itu hanyalah orang-orang yang bila disebut (nama) Allah, maka hati mereka menjadi takut” (Al Anfal: 2)

Dan ayat-ayat lainnya.

Dan tidak menafikan darinya muthlaqul iman agar tetap ia berada dalam firman-Nya Tabaraka wa ta’ala:

“Maka (hendaklah) memerdekakan hamba yang mu’min” (An Nisa: 92)

Dan firman-Nya:

“Dan bila dua kelompok dari kaum mu’minin saling berperang” (Al Hujurat: 9)

Dan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا يقتل المؤمن بكافر

“Orang mu’min tidak dibunuh (qishash) dengan sebab (membunuh) orang kafir” (HR. Al-Bukhari dan yang lainnya).

Oleh sebab itu terbuktilah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Orang-orang arab badui berkata: “ kami telah beriman” katakanlah “kalian belum beriman akan tetapi katakanlah: “kami telah Islam.” (Al Hujurat: 14)

adalah sebagai penafian akan al iman al muthlaq bukan muthlaqul iman[12].

Dan persis seperti itu muthlaqul tauhid dengan At-Tauhid Al Muthlaq:

Di mana Muthlaqul Tauhid: Masuk di dalamnya seluruh para muahhidin, baik kalangan khusus maupun kalangan awam, kalangan yang bertaqwa, maupun kalangan fasiq. Seluruh orang yang beriman kepada Allah dan menjauhi ibadah terhadap thaghut serta tidak melakukan sesuatupun dari nawaqidl Tauhid maka ia termasuk dalam muthlaqul Tauhid meskipun ia taqshir dalam lawazim (konsekuensi-konsekuensinya) dan kewajiban-kewajibannya yang bukan tergolong ashlut Tauhid.

At-Tauhid Al-Muthlaq: Digunakan pada kamalut Tauhid yang sempurna yang mana si mukallaf di samping mendatangkan ashlut Tauhid dia juga mendatangkan wajibat, lawazim, dan mukammilat-nya, seperti menjihadi para thaghut, menampakkan permusuhan terhadap mereka, terang-terangan menyatakan bara’ah dari mereka dan dari wali-wali mereka dan berupaya dalam menjatuhkan kemusyrikan dan mengeluarkan manusia darinya. Dan tidak ada perselisihan dalam istilah akan tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui hal itu

Oleh karena itu, kami meskipun menggunkan lafadh “Al Muwahhid” sering sekali, dan kami maksudkan dengannya kalangan khusus penganut dien ini dan ansharnya, kami menamai mereka dengan hal terpenting dalam dien ini yang mana mayoritas manusia taqshir dalam lawazim dan wajibat-nya sebagai penguatan akan pentingnya tauhid yang mana ia adalah inti dakwah para rasul dan para pengikutnya.

Akan tetapi kami tidak menyukai dan menghati-hatikan dari menafikan tauhid dari orang-orang yang menyelisihi kami dalam hal takfier para thaghut dan menjihadinya; selama orang-orang yang menyelisihi itu termasuk kaum muslimin, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Kami meskipun bersikap tasaahul (memperenteng) dengan itsbat (penerapan tauhid) dalam bab ini, akan tetapi kami tidak menyukai penafian di dalamnya serta melarang dari hal itu, karena itsbat itu tidak menimbulkan praduga suatu yang terlarang kecuali dengan (dilalah) mafhum, sedangkan ia itu tidak mesti, beda halnya dengan penafian, karena sesungguhnya dengan penggunaan an-nafyu (penafian) adalah dikhawatirkan menimbulkan praduga takfier setiap oang yang dinafikan hal itu darinya, sehingga wajib meninggalkannya, terutama sesungguhnya lawan tauhid dalam ‘urf kaum muslimin adalah syirik. Sedangkan mayoritas manusia tidak terjurus pemahaman mereka terhadap istilah (yang berlaku) sampai orang mengatakan sesungguhnya ia memaksudkan dengan hal itu penafian At-Tauhid al Muthlaq bukan muthlaqut Tauhid, mereka tidak bisa membedakan ini dan itu, maka wajib menjauhinya dan menghindar darinya agar tidak menimbulkan praduga takfier orang yang menyelisihi dari kaum muslimin dan agar tidak memberikan kesempatan bagi musuh-musuh tauhid untuk berburu di air yang keruh.

Dan termasuk jenis ini adalah penggunaan banyak para du’at masa kini akan lafadh (akhuna/saudara kita) atau (Ikhwanuna/ saudara-saudara kami) bagi perkumpulan-perkumpulan dan tandzim-tandzim mereka – dan saya telah menghidupi realita ini – tidak untuk orang-orang yang menyelisihi mereka atau orang-orang yang tidak di atas thariqah dan dakwah mereka, dan mereka terkadang menafikannya dari mereka itu, di mana mereka mengatakan (mereka bukan tergolong ikhwan kita) yaitu: Bukan tergolong jama’ah mereka. Dan ini tidak halal digunakan terhadap kaum muslimin, karena ia menimbulkan praduga bara’ah total dari mereka, dan ia itu buruk pengaruhnya terhadap para pengikut dari kalangan para pemuda. Dan pengaruh negatif yang paling minimal adalah mewariskan hizbiyyah yang buruk, ini bila tidak mewariskan perlakuan terhadap orang yang di luar (ikhwanuna) dengan perlakuan sebagai orang-orang kafir atau menghukumi mereka sebagai orang-orang kafir.

Dan Allah ta’ala telah menetapkan ukhuwwah imaniyyah antara kaum muslimin dalam kondisi terdahsyat permusuhan dan aniaya, yaitu pembunuhan dan saling berperang.. Allah ta’ala berfirman:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujurat: 9-10)

Sebagaimana Dia menggabungkan dengan persadaraan ini antara wali orang yang terbunuh dengan si pembunuh, Dia berfirman:

“Maka barangsiapa mendapat suatu penafian dari saudaranya” (Al Baqarah:178).

[1] Seandainya beliau rahimahullah berkata: (ashl yang mana ia tidak sah tanpanya) tentulah lebih jeli dan lebih tepat, kerena iman itu tidak sempurna dengan ashlnya saja, akan tetapi dengan ketiga tingkatannya yang dengan semuanya dinamakan Al-Iman Al-Kamil At-Taam (iman yang sempurna total).

[2] Ini isyarat pada iman yang sempurna dengan gabungan tingkatannya yang tiga

[3] Yaitu bahwa Al Iman dengan ketiga derajatnya adalah seperti sebatang pohon yang sempurna, dan setelah lenyap kesempurnaannya yang mustahabb dan yang wajib maka iman tidaklah gugur dan tidak lenyap sebagaimana yang dikatakan oleh Khawarij dan Mu’tazillah, namun masih tetap ashlnya meskipun dinamakan iman yang kurang, seperti pohon bila telah lenyap daun-daunnya dan dahannya, dan masih tersisa batang dan pangkalnya, tidak lenyap meskipun kurang.

[4] Dan Al Wajibat di sini adalah mencakup wajibat ashlil iman dan al iman al wajib sebagaimana yang nampak.

48 Yang dimaksud di sini adalah meninggalkan suatu yang tergolong tingkatan al iman al wajib bukan ashlul iman, karena pengurangan dari ashlul iman merupakan pengguguran akan Al-Iman, terutama sesungguhnya beliau telah menggunakan pengklasifikasian yang ada dalam firman-Nya ta’ala “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan…” orang – orang yang menganiaya diri mereka sendiri di sini tergolong orang – orang yang ALLAH subhanahu wa ta’ala pilih dengan sebab ushlul iman yang mereka miliki meskipun mereka berbuat taqshir pada wajibatnya.

[6] HR. Muslim

[7] Perhatikanlah hal ini, karena ia tergolong hal yang membantumu untuk membedakan antara suatu yang tergolong al iman al wajib dengan suatu yang tergolong al iman al mustahabb

[8] HR Al Bukhari dan Muslim secara lainnya

[9] Al Haitsamiy berkata dalam Al Majma (1/101): (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Al-Bazaar, dan Ath Thabrani dalam Al Ausath dan di dalamnya ada Abu Hilal, ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in dan yang lainnya, namun di dhaifkan oleh An Nasa’i serta yang lainnya

[10] HR Muslim

[11] Fathul Bari (kitabul Iman) (Bab termasuk iman, orang mencintai bagi saudaranya yang ia cintai bagi dirinya sendiri).

[12] Lihat Badaiul Fawaid karya Ibnul Qayyim juz 4

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 14 Takfier Orang Yang Mati Di Atas Sesuatu dari Dosa Yang Belum Dia Taubati


Termasuk kekeliruan yang sangat buruk dalam takfier juga adalah takfier orang yang mati di atas sesuatu dari dosa yang belum dia taubati. Dan sungguh saya telah melihat sebagian Ghulatul Mukaffirah mengatakan hal seperti ini, dan mereka mengecualikan dosa-dosa kecil seraya mengira bahwa mereka dengan hal itu bisa menutupi madzhab mereka yang syadz (ganjil) dari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, atau mereka membedakannya dari madzhab Khawarij, dan sudah maklum bahwa di antara Khawarij ada yang tidak mengkafirkan dengan dosa-dosa kecil, bahkan di antara mereka ada yang mengudzur dengan kejahilan dan di antara mereka ada yang tidak mengkafirkan dengan dosa-dosa besar, sebagaimana yang akan datang di akhir kitab ini.

Dan sungguh dahulu saya telah mengatakan kepada sebagian mereka dalil-dalil yang menunjukkan kerusakan madzhab mereka ini, berupa ayat –ayat yang di dalamnya disebutkan ampunan Allah terhadap dosa-dosa secara umum, baik dosa kecil maupun besar, selain syirik atau kekafiran bagi orang yang mati di atasnya, seperti firman-Nya Tabaraka Wa ta’ala:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) penyekutuan terhadap-Nya dan akan mengampuni dosa dibawah itu bagi orang yang dikehendaki-Nya” dan hadits-hadits syafa’at yang di dalamnya disebutkan keluarnya banyak para pelaku dosa dari neraka setelah mereka diadzab sesuai kadar dosa mereka atau mereka tidak masuk neraka sama sekali dengan rahmat Allah ta’ala terhadap mereka.” (An Nisa: 48)

Mereka (para ghulat) mentaqyid hal itu bagi orang yang taubat di dunia sebelum dia mati, padahal sudah maklum bahwa taubat yang benar di dunia ini menghapus dosa sebelumnya, sehingga setelahnya tidak ada adzab atas seseorang, dan pintu taubat ini adalah luas lagi mencakup kekafiran, syirik dan yang lainnya, serta ia tidak khusus bagi dosa besar dan kecil namun ia umum.

Adapun ayat An-Nisa yang lalu, maka Ahlussunnah telah berhujjah dengannya sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam atas ahlul bid’ah yang mengatakan: Tidak diampuni bagi Ahlul Kabair bila mereka tidak taubat….Sebagaimana dalam Majmu Al Fatawa (7/416)

Dan beliau merinci hal itu ditempat lain, beliau rahimahullah berkata: (Allah ta’ala adalah pengampunan segala dosa, penerima taubat lagi dahsyat siksanya. Dosa meskipun besar dan kekafiran meskipun dahsyat dan besar maka sesungguhnya taubat menghapus itu semua, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala tidak memandang besarnya dosa untuk dia ampuni bagi orang yang taubat, dia justeru mengampuni syirik dan yang lainnya bagi orang-orang yang taubat, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-ku yang telah berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya, sesungguhnya dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang” (Az Zumar: 53)

Ayat ini umum lagi muthlaq, karena ia bagi orang-orang yang bertaubat adapun firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa penyekutuan terhadap-Nya dan mengampuni dosa yang dibawah itu bagi orang yang dikehendaki-Nya”, maka ia dibatasi lagi khusus, karena ia berkenaan dengan orang-orang yang tidak taubat, Allah tidak mengampuni dosa syirik, sedangkan yang dibawah syirik maka ia digantungkan dengan kehendak Allah ta’ala. (Majmu Al Fatawa cet. Ibnu Hazm 2/217)

Dan Ibnu Hazm telah menyebutkan firman-Nya ta’ala:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujurat: 9-10)

Dan firman-Nya ta’ala tentang qishash pembunuhan:

“Barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya hendaklah (yang mema’afkan) yang mengikuti dengan cara yang baik….” (Al Baqarah: 178)

Dan beliau menjelaskan bahwa Ukhuwwah Imaniyyah itu memestikan bahwa ia itu bukan orang kafir….. Kemudian berkata: ( Dan seorangpun tidak berhak mengatakan: Bahwa Allah ta’ala hanyalah menjadikan mereka sebagai ikhwan kita bila mereka taubat, karena nash ayat menyatakan bahwa mereka itu ikhwan dalam keadaan membangkang dan sebelum kembali kepada Al Haq) Al-Fash 3/236.

Dan perhatikan firman-Nya yang Dia firmankan berkenaan dengan dosa-dosa yang tidak mukaffirah, serta perbedaan antara ini dengan apa yang dia fimankan berkenaan dengan kekafiran, di mana dia mengaitkan ukhuwwah fid dien serta mengukuhkannya di atas taubat darinya dalam surat At-Taubah:

“Kemudian bila mereka taubat (dari syirik/kekafiran), mereka shalat dan mereka menunaikan zakat, maka (mereka itu adalah) ikhwan kalian dalam dien ini, dan kami menjelaskan ayat-ayat kami bagi orang-orang yang memahami” (At Taubah: 11)

Al Bukhari, muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ubadah Ibnu Ash Shamit bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: (Marilah kalian bai’at saya untuk kalian tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, kalian tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak membunuh anak-anak kalian ….) Hingga sabdanya: “( Dan siapa yang melakukan sesuatu dari hal itu kemudian Allah menutupinya, maka ia (dikembalikan) kepada Allah bila Dia menghendaki maka Allah memaafkannya dan bila Dia menghendaki maka Allah menyiksanya)”, Di dalamnya ada faidah bahwa orang yang melakukan sesuatu dari dosa-dosa itu dan belum ditegakkan had atasnya serta Allah menutupinya hingga dia mati maka itu dikembalikan kepada masyi’ah-Nya, bila Allah menghendaki maka Dia mengadzabnya sesuai kadar dosa itu dan bila Allah menghendaki maka Dia memaafkannya, sedangkan orang seperti itu maka bukanlah orang kafir. Ini umum, masuk di dalamnya orang yang belum taubat dan orang yang taubat yang tidak memenuhi syarat-syarat taubat yang haqiqiyyah lagi diterima di sisi Allah. Adapun orang yang taubat dengan taubat kamilah haqiqiyyah mutaqabbalah (taubat yang sempurna lagi sebenarnya lagi diterima), maka tidak ada adzab atasnya, dan hal itu tidak dikeruhi oleh penyebutan syirik, karena ( keumuman hadits ini, sebagaimana yang dikatakan An-Nawawi- dikhususkan dengan firman-Nya ta’ala: “ (Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni ( dosa) penyekutuan terhadap-Nya)” (An Nisa: 48) Dan orang murtad bila dibunuh di atas riddahnya maka qatl (hukum bunuh) bagi dia itu bukanlah sebagai kafarat)

Al Hafidh berkata dalam (Kitabul Iman) … Fathul Bariy: (Dan dikatakan: Kemungkinan yang dimaksud ialah apa yang disebutkan setelah syirik dengan qarinah bahwa yang dikhitabi dengan hal itu adalah kaum muslimin, maka syirik tidak masuk sehingga butuh dikeluarkan, dan ini dikeluarkan oleh riwayat Muslim dari jalan Abul Asy’ats dari Ubadah dalam hadits ini: “Dan siapa yang mendatangkan had di antara kalian” karena qatl syirik tidak dinamai had)

Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Allah Azza Wa jalla) berkata: Siapa yang datang dengan kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat dan Aku menambahnya, dan siapa yang datang dengan keburukan, maka balasan keburukan adalah semisalnya atau aku mengampuni ….. “ Hingga firman-Nya: Dan siapa yang berjumpa dengan Aku dengan membawa sepenuh bumi seraya ia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, maka Aku menjumpainya dengan ampunan semisalnya) di dalamnya ada dua indikasi yang menunjukkan untuk tidak takfier orang yang mati di atas dosa selain syirik, pertama sabdanya: dan siapa yang datang dengan keburukan, maka balasan keburukan adalah semisalnya atau aku mengampuni)

Di dalamnya terkandung faidah bahwa orang yang datang kepada Allah dengan keburukan yang belum dia taubati, maka ia kembali kepada Allah, bila Dia menghendaki maka Allah membalasnya dengan yang semisalnya, dan bila Dia menghendaki maka Dia mengampuninya. Dan kedua firman-Nya: Dan siapa yang berjumpa dengan-Ku dengan sepenuh bumi dosa seraya tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, maka Aku menjumpainya dengan ampunan semisalnya.”

Di dalamnya terkandung faidah bahwa orang yang mati di atas dosa yang belum dia taubati, maka sesungguhnya Allah mengampuninya bila dia realisasikan tauhid dan menjauhi syirik dan tandid. dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu, berkata: Kami masih menahan diri dari memintakan ampunan bagi para pelaku dosa besar sampai kami mendengar dari mulut Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam bekata: (Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta’ala tidak mengampuni penyekutuan terhadap-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang dibawah itu bagi orang yang Dia kehendaki, sesungguhnya aku simpan syafa’atku buat ahlul kabaair dari kalangan ummatku di hari kiamat) maka kami menahan diri dari banyak hal yang ada dalam jiwa). HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah.

Dan Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dalam (kitabul iman) (bab dalil yang menunjukkan bahwa orang yang bunuh diri itu tidak kafir) hadits laki-laki yang hijrah bersama Ath-Thufail Ibnu ‘Amr, terus dia jatuh sakit, kemudian dia keluh kesah dan memotong sendi-sendi jarinya dengan tombak yang tajam, darahnyapun mengalir sampai dia mati. Kemudian, Ath-Thufail mimpi melihat dia dalam tidurnya, tampangnya bagus dan dia melihatnya menutupi kedua tangannya, maka Ath-Thufail bertanya kepadanya : Apa yang dilakukan Tuhanmu terhadapmu? Maka orang itu menjawab: Allah mengampuniku karena hijrahku…….., Ath Thufail berkata: Mengapa aku melihatmu menutupi kedua tanganmu? Ia berkata: Dikatakan kepadaku: Kami tidak akan memperbaik apa yang kamu rusak.” Maka Ath-Thufail menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah berkata: Ya Allah kedua tangannya ampunilah juga”

An-Nawawi berkata: (……. Di dalamnya terdapat hujjah bagi satu kaidah yang agung bagi Ahli Sunnah, bahwa orang yang bunuh diri atau melakukan maksiat lainnya dan mati tanpa taubat maka ia bukan kafir dan tidak boleh dipastikan neraka baginya, akan tetapi ia dalam stasus masyi’ah)

Dan beliau berkata di tempat lain: (madzhab ahlul haq: Bahwa maksiat maksiat yang bukan kekafiran tidak boleh dipastikan dengan vonis neraka bagi pelakunya bila mati sedang ia belum taubat darinya, akan tetapi ia tergantung masyi’ah Allah Ta’ala, bila Dia menghendaki maka Dia mema’afkannya dan bila Dia menghendaki maka Dia mengadzabnya, berbeda halnya dengan Khawarij dan Mu’tazillah). Syarh Muslim 4/297

Inilah ……. Dan di antara hal yang menunjukkan atas rusaknya madzhab orang yang mengakfirkan dengan sebab dosa secara umum adalah keragaman hudud dan sangsi-sangsi syar’iy yang Allah Ta’ala tetapkan bagi hamba-hamba-Nya di dunia, karena Allah Subhanahu Wa ta’ala tidak menjadikan sangsi dosa seluruhnya al-qatl, sebagaimana ia keberadaan had riddah yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Siapa yang merubah diennya maka bunuhlah dia.” (HR. Jama’ah, kecuali Muslim dan Hadits Ibnu Abbas)

Andaikata kabair atau dosa-dosa lainnya adalah kekafiran yang mengeluarkan dari millah, tentulah sama had dosa-dosa itu semua dengan had riddah, akan tetapi tatkala sangsi-sangsinya beraneka ragam maka itu menunjukkan pada aneka ragamnya hukum Allah tentang hal itu dan bahwa ia bukanlah kufur akbar. Oleh sebab itu tidak ditegakkan hudud yang di bawah hukum bunuh terhadap orang-orang yang sakit dan dikhwatirkan atasnya, kecuali setelah kesembuhannya.

Dan siapa yang maksiatnya hadnya adalah Al-Qatl seperti zina muhshan dan pembunuhan orang muslim, maka ia dishalatkan setelah dia dibunuh, dan dikuburkan di pekuburan kaum muslimin dan hartanya diwarisi ahli warisnya. Dan ini semuanya hukum-hukum yang berbeda dengan hukum-hukum murtad.

Pencuri dipotong tangannya karena sebab mencuri, dan ia diberi (tunjangan) dari baitul mal karena ia punya hak di dalamnya seperti kaum muslimin pada umumnya. Dan tatkala sebagian sahabat melaknat seorang laki-laki yang terkena had khamr, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dari melaknat dia, dan beliau menyebutkan bahwa dia itu mencintai Allah dan Rasul-Nya[1].

Ini dan yang lainnya tergolong hal yang menunjukkan bahwa terkadang berkumpul pada seseorang keburukan bersama kebaikan, dan bahwa ia tidak keluar dari lingkungan Islam selama keburukan itu di bawah syirik

Dan kemungkinan berkumpulnya maksiat bersama iman adalah ajaran inti yang membedakan ahlus sunnah wal jama’ah dengan seluruh firqah-firqah besar seperti khawarij, mu’tazillah dan yang lainnya oleh karena itu mereka mengatakan: Bahwa iman itu bertingkat-tingkat dan berbagi-bagi. Abu Manshur Abdul Qadhir Ibnu Thahir Al Baghdadi Berkata (429 H) dalam bantahannya terhadap khawarij yang mengkafirkan setiap pelaku maksiat, sedangkan beliau menuturkan ushul yang disepakati Ahlus Sunnah Wal Jama’ah: (Seandainya para pelaku dosa seluruhnya adalah kafir tentulah mereka murtad dari Islam, dan seandainya mereka seperti itu tentulah hukum yang wajib adalah membunuh mereka bukan penegakkan hudud atas mereka, dan tentulah tidak ada faidah akan wajibnya pemotongan tangan si pencuri, penderaan si penuduh zina serta perajaman pezina muhshan[2], karena orang murtad tidak ada had baginya kecuali qatl (bunuh) Hal (351-352)

Syaikhul Islam berkata dalam kontek penyebutan madzhab khawarij, dan bahwa mereka berkata: (Orang mukmin adalah orang yang melakukan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan, siapa yang tidak seperti itu maka dia kafir, kekal di neraka, terus mereka menjadikan semua yang menyelisihi pendapat mereka (kafir) seperti itu, mereka berkata: Sesungguhnya Usman, Ali dan yang lainnya telah memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan dan berbuat dhalim, maka mereka menjadi kafir), beliau berkata: (Dan madzhab mereka adalah bathil dengan dalil-dalil yang banyak dari Al-Kitab dan As-Sunnah, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan untuk memotong tangan pencuri tidak membunuhnya, seandainya ia itu kafir murtad tentulah wajib membunuhnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Siapa yang mengganti diennya maka bunuhlah dia) dan bersabda: (Tidak halal darah orang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga hal: kufur setelah Islam, zina setelah ihshan atau membunuh jiwa yang dia bunuh dengannya) dan Dia subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk mendera laki-laki pezina dan wanita pezina seratus deraan dan seandainya keduanya kafir tentulah dia perintahkan untuk membunuhnya dan Dia memerintahkan untuk mendera orang yang menuduh zina wanita yan baik-baik delapan puluh deraan, seandainya ia itu kafir tentu Dia perintahkan untuk membunuhnya…….) Majmu Al Fatawa 7/296-297 cat. dar Ibnu Hazm

Al-Imam Abu Usman Ismail Ash-Shabuniy (449): (Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa orang mukmin meskipun banyak melakukan dosa, baik kecil maupun besar, maka ia itu tidak kafir dan bila ia keluar meninggalkan dunia tanpa taubat darinya dan mati di atas tauhid dan ikhlas maka urusannya kembali kepada Allah azza wa jalla, bila Dia menghendaki maka ia mengampuninya dan Dia memasukkannya ke syurga hari kiamat dalam keadaan selamat menang tanpa dicoba dengan neraka serta tidak disiksa atas apa yang dia langgar dan dia lakukan serta dia bawa ke hari kiamat berupa dosa dan kesalahan, dan bila Dia menghendaki maka Dia mengadzabnya maka ia tidak kekal di dalamnya, akan tetapi Dia memerdekakannya dan mengeluarkannya darinya kepada kenikmatan Daarul Qarar…) (Aqidah As-Salaf wa Ashhabul Hadits)

[1] HR. Al Bukhari dalam Al-hudud (6780)

[2] Begitulah dalam cetakan, bisa jadi yang benar adalah (Dan penderaan pezina yang belum muhshan)

Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 13 Takfir Dengan Ma-aal Atau Dengan Lazimul Qaul


Termasuk kekeliruan yang sering terjadi dalam takfir juga adalah takfir dengan ma-aal atau dengan lazimul qaul, dan ia maknanya: adalah seorang mukallaf tidak terang-terangan dengan ucapan yang membuatnya kafir, namun ia mengatakan ungkapan yang lazim (mesti menimbulkan) darinya kekafiran, sedangkan dia itu tidak meyakini makna yang ditimbulkan itu[1], bahkan bisa saja dia tidak mengetahuinya dan sama sekali tidak terbesit di hatinya. Dan bila si shahibul qaul (pemilik ungkapan) tidak mengetahui lazim dari ucapannya serta tidak memegangnya, maka tidak boleh mengharuskan dia untuk menerimanya, atau menyandarkan atau menisbatkan kemestian ucapan itu kepadanya, dan kemudian dari sana dia mengkafirkannya dengan lazimul qaul itu.

Sungguh saya telah melihat di antara orang-orang yang ghuluw di zaman kita ini ada orang yang mencari-cari kekeliruan (orang lain) dan dia berburu di air yang keruh, kemudian dia mengkafirkan orang dengan sebab lazimul qaul bahkan juga dengan lazim dari lazimul qaul itu….!!!

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: (Dan adapun orang yang mengkafirkan manusia dengan ma-aal ucapan mereka, maka itu adalah salah, karena itu adalah dusta atas nama lawan dan penyandaran ucapan terhadapnya yang tidak pernah dia lontarkan, dan bila dia istiqamah (iltizam) terhadapnya maka dia tidak mendapatkan kecuali tanaqudl (kontradiksi) saja, sedangkan tanaqudl itu bukan kekafiran, bahkan dia telah baik karena ia telah lari dari kekafiran ….) Hingga beliau berkata: (Maka benarlah bahwa tidak boleh seseorang dikafirkan kecuali dengan ucapannya itu sendiri dan penegasan keyakinannya, dan tidak ada manfa’atnya seseorang mengungkapkan tentang keyakinan orang lain dengan ungkapan yang dengannya dia memperindah kejelekannya, akan tetapi yang divonis dengannya adalah makna ungkapannya saja)” Al-Fashl 3/294.

Jika kebenaran yang baku di antara para ulama adalah bahwa (lazim suatu madzhab itu bukanlah madzhab (itu)).

Bisa saja seseorang menganut suatu pendapat atau madzhab tertentu dan dia tidak komitmen dengan lawazim (konsekuensi-konsekuensinya) yang membuat kafir atau tidak membuatnya kafir, meskipun itu kontradiksi (Tanaqudl). Ini seperti ucapan orang Mu’tazillah tentang sifat-sifat Allah: (Dia adalah ‘Alim tetapi tidak memiliki ilmu) dan (Dia Maha Hidup tapi tidak ada kehidupan bagi-Nya). Dia itu menetapkan ilmu, dan bahwa Allah itu ‘alim juga hayy (Maha Hidup), serta dia sama sekali tidak mendustakan sedikitpun dari hal itu sehingga dia (boleh) dikafirkan. Akan tetapi ucapannya: “Tidak ada ilmu bagi-Nya dan tidak ada kehidupan- bagi-Nya”, menyebabkan adanya kesamaran dengan mengkafirkannya karena sesungguhnya penafian ilmu dan kehidupan (hayah) itu memastikan dari (lontaran) ini bahwa Allah itu tidak ‘alim dan tidak hidup. Akan tetapi orang Mu’tazillah tidak komitmen dengan itu, justeru ia mengakui bahwa Allah Ta’ala itu ‘alim, jadi penafian ia terhadap ilmu bukan sebagai penafian bahwa Alllah itu ‘alim. Sedangkan isykal ini mengharuskan kerancuan Mu’tazillah, tanaqudl mereka dan kesesatannya akan tetapi itu saja tidak mengharuskan untuk mengkafirkan mereka dengan sebabnya”….[2]

Al-Qadli ‘Iyadl berkata setelah menuturkan perselisihan para ulama tentang pengkafiran orang yang jahil akan sebagian sifat-sifat Alllah Ta’ala: (Dan adapun orang yang menetapkan Washf dan menafikan shifat, maka ia mengatakan: saya katakan (Dia) ‘alim tapi tidak ada ilmu bagi-Nya, mutakallim tapi tidak ada kalam bagi-Nya, dan begitulah dalam semua sifat sesuai madzhab Mu’tazillah. Siapa yang berpendapat booleh mengkafirkan dengan ma-aal ucapannya dan apa yang digiringkan oleh madzhabnya maka dia mengkafirkannya, karena bila dia menafikan ilmu berarti lenyaplah pensifatan ‘alim, karena tidak disebut ‘alim kecuali yang memiliki ilmu, maka seolah mereka menegaskan baginya dengan sesuatu yang ditimbulkan oleh ucapannya, dan begitulah bagi seluruh firqah ahlut takwil dari kalangan musyabbihah, Qadariyyah, dan yang lainnya. Dan orang yang tidak mengambil sikap terhadap mereka dengan ma-aal ucapannya dan tidak mengilzamkan mereka dengan wajib (keharusan yang ditimbulkan) madzhab mereka, maka ia tidak mengkafirkan mereka. Dia berkata: Karena mereka seandainya disuruh mengakui atas hal ini tentulah mereka berkata: Kami tidak mengatakan Dia itu tidak ‘Alim dan kami menolak pendapat dengan ma-aal yang kalian tuduhkan kepada kami, kami dan kalian meyakini bahwa itu adalah kekafiran, bahkan kami katakan bahwa ucapan kami ini tidak mengarah ke sana sesuai dengan apa yang kami gariskan.

Maka atas dua penilaian inilah manusia berselisih tentang pengkafiran ahlu takwil, dan bila engkau telah memahami hal di atas maka pasti jelas bagimu penyebab yang menimbulkan perselisihan mereka dalam hal itu, dan yang benar adalah meninggalkan takfier mereka, berpaling dari menvonis kerugian atas mereka, dan memberlakukan hukum Islam atas mereka dalam qishash, warisan, pernikahan, diyat, menshalatkan mereka, menguburkan mereka di pekuburan kaum muslimin dan perlakuan terhadap mereka lainnya, namun mereka mesti diberikan diberikan sikap keras dengan pelajaran yang menyakitkan, celaan yang pedas dan hajr sampai mereka meninggalkan bid’ahnya. Dan inilah sikap generasi pertama terhadap mereka. Sungguh pada zaman sahabat dan sesudahnya zaman tabi’in ada yang melontarkan ucapan-ucapan ini, seperti qadar, pemikiran khawarij dan i’tizal, namun mereka tidak menyingkirkan kuburannya dan tidak pula memutus warisannya, akan tetapi mereka menghajrnya dan memberikannya pelajaran dengan pukulan, pengasingan dan dibunuh sesuai dengan keadaan mereka, karena mereka itu adalah fasiq, sesat, ahli maksiat lagi pemikul dosa besar menurut ulama muhaqqiqin dan ahlussunnah dari kalangan yang tidak mengkafirkan mereka di antara ulama-ulama itu, berbeda dengan orang-orang yang berpendapat lain. Wallahul Muwwafiq Lishshawab. “Asy-Syifa 2/293-295.

Dan di antara contoh hal itu juga adalah perselisihan ulama dalam takfier khawarij yang tidak terang-terangan dengan kekufuran atau tidak melakukan satu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang sharih, namun mereka hanya melontarkan ungkapan-ungkapan yang bisa menghantarkan kepada kekafiran, sebagaimana yang tadi di isyaratkan oleh Al-Qadli dan beliau nukil dari Al Maziriy ucapannya: ( Para ulama berselisih tentang takfier khawarij, dan sungguh mereka ini hampir menjadi masalah yang paling isykal dibandingkan dengan masalah-masalah lainnya. Dan sungguh telah saya lihat Abul Ma’aliy, beliau dipersilahkan oleh Al-Faqih Abdul Haq rahimahumullah ta’ala untuk berbicara dalam masalah ini. Maka beliau menghati-hatikannya dari hal itu, dan beralasan bahwa keliru di dalamnya sangat besar pengaruhnya karena memasukkan orang kafir dalam Islam dan mengeluarkan orang muslim darinya adalah besar dalam dien ini, sedangkan telah bimbang perkataan Al-Qadli Abu Bakar Al Baqilaniy dalam hal ini padahal jangan tanya tentang beliau akan kehebatannya dalam ilmu ushul dan ilmu, Al-Baqilaniy telah mengisyaratkan bahwa masalah ini tergolong yang pelik, karen Khawarij tidak terang terangan dengan kekufuran, namun mengucapkan ungkapan-ungkapan yang menghantarkan kepada kekafiran……….) dari Syarh Muslim karya An-Nawwawiy 7/142 dan lihat Fathul bari (Kitab Isititabatul Murtaddin…..) Bab (Man Taraka Qital Al-Khawarij……..) Lihat Asy-Syifa 2/276-277

Begitu juga Murjiatul Jahmiyyah, sesungguhnya defenisi iman menurut mereka bahwa ia adalah ma’rifah memastikan darinya (pernyataan) imannya Fir’aun berdasarkan firmannya subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mengingkarinya Karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. (An-Naml:14)

Dan berdasarkan ucapan Musa sebagaimana yang Allah kabarkan:

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu Telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi (Al-Israa:102)

Dan (memastikan darinya) pernyataan imannya Yahudi dan Nasrani, berdasarkan firman Allah ta’ala:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri al-kitab (taurat dan injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri” (Al-Baqarah: 146)

Dan imannya Iblis karena ia mengetahui Allah dan ke-esaan-Nya, dan sesungguhnya ia tidak mendustakan khabar dan tidak pula mengingkarinya, karena Allah memerintahnya tanpa perantaraan utusan (rasul), akan tetapi mayoritas Murjiatul Jahmiyyah tidak memegang kemestian dari keyakinannya itu. Dan seandainya mereka iltizam (memegang kemestian pendapatnya) tentulah mereka kafir dengannya, karena di dalamnya terdapat pendustaan yang nyata terhadap nash-nash Al-Kitab yang mengkafirkan orang-orang tersebut, maka tidak boleh bila keadaannya seperti itu (memaksa mereka untuk memegang kemestian dari ucapannya meskipun mereka itu tanaqudl (kontradiksi) selama mereka tidak terang-terangan memegang kemestiannya itu. Meskipun di antara salaf seperti Waqi’ Ibnul Jarrah dan Ahmad Ibnul Hanbal ada orang yang melontarkan kafirnya orang yang mengatakan bahwa iman itu sekedar ma’rifatul Qalbi (mengenal di hati), dan mereka telah mengkafirkan Ghulatul Murjiah karena hal-hal lain, akan tetapi bagi orang yang mendebat mereka boleh berdalil atas rusaknya mereka dalam hal pemahaman iman dengan mengutarakan lawazim (keharusan-keharusan) yang rusak ini atas mereka, karena rusaknya lazim bisa dijadikan dalil atas rusaknya malzum.

Orang yang memegang lawazim ini seperti ittihadiyyah dan hululiyyah dari kalangan jahmiyyah maka dia kafir dengan sikap memegangnya ini, dan bila tidak, maka tidak halal memaksakan mereka dengannya selama mereka itu menolaknya dan tidak mau menerimanya meskipun mereka tanaqudl, atau mereka kafir dari pintu-pintu lain.

Dan di antara contoh hal itu dalam realita sekarang di antara para pemuda:

Sebagian mereka mengklaim bahwa tidak mengkafirkan kaum musyrikin, atau para thaghut atau para ansharnya itu adalah mengharuskan darinya muwalah (loyalitas) terhadap mereka dan tidak bara’ dari mereka, dan (dari) keyakinan itu maka (menurut dia) setiap orang yang tidak mengkafirkan mereka maka dia itu kafir berdasarkan firman-Nya ta’ala:

“barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al Maidah:51)”

Karena tidak mengkafirkan mereka dan menjadikan mereka sebagai bagian kaum muslimin itu menjadikan bagi mereka bagian dari muwalah imaniyyah dan tidak mengeluarkan mereka dari lingkarannya, karena orang muslim tidak boleh dibara secara total darinya. Inilah salah satu pengarahan para pemuda itu terhadap kaidah (Siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir) ….

Dan sebagian mereka mengarahkan hal ini pada arah lain, dia berkata: Dikarenakan kufur terhadap thaghut itu adalah separuh tauhid dan syaratnya, maka orang yang tidak mengkafirkan para thaghut itu berarti belum kufur terhadap thaghut, dan berarti dia itu belum merealisasikan tauhid yang merupakan hak Allah atas hamba-hamba-Nya yang mana Allah telah menjadikannya sebagai Al urwatul wutsqa yang mana keselamatan bergantung padanya

Dimana Dia berfirman:

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus.” (Al-Baqarah: 256)

Sedangkan orang yang tidak kufur terhadap thaghut dan tidak bara’ darinya adalah belum merealisasikan tauhid dan belum berpegang pada tali keselamatan yang amat kuat, dan berarti dia itu tergolong orang-orang yang celaka.

Dua pengarahan ini pada hakikatnya kembali pada satu hal yaitu mengilzam (mengharuskan) orang yang menyelisihi dia dengan (status dia itu) tidak bara’ dari thaghut dan (mengilzamnya) dengan sikap muwalah terhadap thaghut karena si thaghut itu baginya masih muslim. Dan sudah pastilah sesungguhnya sikap pengkafiran mereka dengan lazim ini menjadikan mereka mengeluarkan dari Islam kelompok-kelompok dan jumhur kaum muslimin yang awam pada zaman ini, bahkan menyebabkan para pemuda itu mengkafirkan orang-orang khusus kaum muslimin dari kalangan mujahidin, du’at, thalabatul ilmi dan para ulama, dikarenakan orang-orang khusus itu tidak mengkafirkan sebagian para syaikh yang memiliki hubungan dengan pemerintah. Dan hal itu sebagai efek sikap para pemuda itu memperluas istilah thaghut yang wajib kafir terhadapnya sebagai syarat untuk perealisasian tauhid.

(Menurut para syabab itu) syaikh fulan atau syaikh ‘alan yang memiliki hubungan dengan pemerintah thaghut dan tidak mengkafirkannya adalah tergolong ahbar dan ruhban, maka ia adalah thaghut, dan dari itu siapa yang tidak mengkafirkannya maka ia belum kufur terhadap thaghut dan belum merealisasikan tauhid.

Dan itu sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah” (At-Taubah: 31)

Sedangkan yang shahih bahwa ahbar dan ruhban itu statusnya sama dengan para wakil rakyat yang membuat undang-undang (anggota parlemen, MPR, DPR, pent), para amir, president, dan para raja. Mereka itu tidak dianggap tuhan (arbab) bagi setiap orang yang tidak mengkafirkannya. Dan mereka itu hanya menjadi arbab dan thaghut, thaghut yang diibadati bagi orang yang mengikuti mereka terhadap kekafirannya dan menuruti mereka dalam hukum-hukumnya…. Inilah yang dimaksud dengan menjadikan mereka sebagai arbab dan mengibadatinya sebagai thaghut, sebagaimana yang ada penafsirannya dalam hadits Adi Ibnu Hatim:

أليس يحرمون ما أحل الله فتحرمو نه ويحلون ما حرم الله فتحلونه

“Bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian (ikut) mengharamkannya, dan (bukankah) mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian (ikut) menghalalkannya.” (HR. At-Tirmidzi, dan terdapat kelemahan di dalamnya, namun tidak terlalu dahsyat, sehingga menjadi kuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (16634) dari Hudzaifah secara mauquf).

Dan karena itu Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab menuturkannya dalam kitab Tauhid bab:

من أطاع العلماء والا مر فى تحريم ما أحل الله أو تحليل ما حرم الله فقد اتخذهم أربابا من دون الله

“Barangsiapa mentaati para ‘ulama dan umara di dalam pengharaman apa yang Allah halalkan atau di dalam penghalalan apa yang Allah haramkan, maka dia telah menjadikannya sebagai arbab selain Allah.”

Jadi sekedar tidak mengkafirkan mereka tidaklah dianggap sebagai bentuk menjadikan mereka sebagai arbab dan thaghut yang diibadati, kecuali bila dia melakukan hal itu atau komitmen dengannya, dan apalagi bila sikap tidak mengkafirkannya karena syubhat adanya salah satu mawani’ takfier, atau jahil akan nash, atau belum sampai kepadanya, atau samarnya dilalah nash-nash atau (dugaan) kontradiksi antara nash-nash itu dibenak orang-orang awam yang lemah dalam ilmu syar’iy.

Dan sekedar kesesatan seorang ulama, atau penyesatannya atau talbisnya, atau hubunganya dengan pemerintah kafir, meskipun dia itu dengannya menjadi tokoh kesesatan atau menghantarkan terhadap kekafirannya dengan sebab dia melakukan salah satu sebab kekafiran, tidaklah mesti dengannya dia menjadi thaghut, karena setiap thaghut adalah kafir sedangkan tidak setiap orang kafir dinamakan thaghut. Dan ringkasnya sesungguhnya dia hanya menjadi thaghut bila terpenuhi padanya definisi thaghut yang diambil dari syari’at yaitu: Setiap yang diibadati selain Allah macam apa saja dari macam-macam ibadah yang mana orang yang memalingkannya kepada selain Allah dikafirkan, sedangkan yang menerima pemalingan itu ridla dengannya. Seperti orang yang membuat hukum selain Allah yang tidak Allah izinkan, atau orang yang dijadikan rujukan hukum selain apa yang Allah turunkan atau yang lainnya yang masuk dalam definisi syar’iy ini, bukan definisi-definisi bahasa yang bersifat umum yang terkadang masuk di dalamnya orang-orang ahli maksiat, orang-orang dhalim dan yang lainnya dan bukan pula istilah-istilah sebagian orang yang bersifat karet yang mana mereka memasukkan apa yang mereka sukai dan mereka inginkan di bawahnya.

Orang yang merujuk hukum kepada ulama atau dukun atau yang lainnya (yang memutuskan) dengan selain apa yang telah Allah turunkan atau mengikutinya atas pembuatan hukum apa yang tidak Allah izinkan, seperti tahrim al-halal atau tahlil al haram atau mengganti hukum-hukum Allah yang Dia tetapkan buat makhluk atau merubah hudud-Nya yang telah Dia gariskan buat manusia, maka orang ini telah menjadikannya sebagai thaghut dan tuhan selain Allah, dan inilah yang mana seseorang tidak menjadi muslim meskipun dia shalat, shaum, dan mengaku muslim sampai ia bara’ dari thagutnya dan kufur terhadapnya, baik dia mengkafirkannya atau tidak mengkafirkannya.

Ini dari satu sisi……

Dan dari sisi lain, sesungguhnya apa yang dimestikan terhadap penganut pendapat ini, yaitu orang yang tidak mengkafirkan para thaghut dan ansharnya, berupa keharusan loyalitas terhadap mereka dan tidak bara’ah dari mereka, maka sungguh mayoritas orang-orang itu tidak memegangnya, dan apa yang menjadi keharusan setelahnya atas hal itu berupa hal-hal yang mereka haruskan atasnya adalah tidak memestikan kecuali (bagi) orang yang terang-terangan memegangnya (baik) dengan berupa ucapan atau perbuatan yang terang, yaitu bila dia mendatangkan sesuatu yang membuatnya kafir yan terang lagi jelas berupa ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan yang mukaffirah yang mana ia adalah sebab-sebab kekafiran. Dan adapun selama ia tidak mendatangkan sesuatupun dari hal itu maka tidak bolehlah menetapkan baginya sesuatu dari lawazim itu.

Dan contoh-contohnya sangat banyak dari realita masa sekarang yang menunjukkan bahwa mayoritas manusia tidak memegang lawazim itu, meskipun mereka tanaqudl seperti tanaqudl Mu’tazillah yang lalu, akan tetapi tanaqudl, kerancuan dan kejahilan adalah sesuatu dil uar takfir yang tidak terjadi kecuali dengan salah satu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang nampak.

Dan sungguh saya telah melakukan munadharah (diskusi) dalam waktu-waktu yang berlainan dengan individu-individu dari jama’ah-jama’ah Islamiyyah yang beraneka ragam dalam masalah ini, dan saat saya utarakan atas mereka sesuatu dari lawazim yang mesti (ada) dari (sebab sikap) tidak mengkafirkan para thaghut itu, maka ternyata mayoritas mereka tidak memegang lawazim itu. Dan saya mengalahkan mereka dan menyudutkan mereka dengan (cara) menampakkan tanaqudl mereka, akan tetapi mereka itu pada umumnya ridla dengan tanaqudl ini daripada memegang sesuatu dari lawazim yang mukaffirah itu.

Dan di antara lawazim yang membuat orang yang merestuinya kafir adalah: Pengakuan akan muwalah (loyalitas) terhadap thaghut atau terhadap hukumnya dan aturannya yang mana mayoritas mereka mengakui bahwa ia adalah hukum dan aturan kafir.

Saya ingat, pernah saya memojokkan sebagian mereka, bahwa tidak boleh baginya bersikap bara’ dari thaghut dengan bara’ yang sepenuhnya karena (thaghut) itu baginya adalah muslim, maka orang itu mengiakan hal itu. Kemudian tatkala saya katakan terhadapnya: Jadi kamu tawalli terhadapnya? Ternyata dia tidak mau menerimanya, padahal sesungguhnya (sikap) tidak bara’ darinya dan tawalli terhadapnya, keduanya pada hakikatnya adalah satu, akan tetapi tatkala Allah nashkan atas kafirnya orang yang tawalli terhadap orang-orang kafir, maka jadilah hal itu sesuatu yang dijauhi oleh mereka itu yang mana mereka tidak menegaskan akan komitmen dengannya, sehingga tidaklah sah mengilzam dengannya selama mereka tidak iltizam (komitmen) dengannya dengan berupa ucapan atau perbuatan, sebagaimana tidak sah menyudutkan mereka dengan lazimul lazim, meskipun mereka itu tanaqudl dan takhabbuth (rancu/ngawur), tidak ada kepentingan bagi kita mencari-cari dan mengorek-ngorek sebab-sebab kekafiran selama mereka tidak menampakkannya. Dan kepentingan kita bukanlah mengkafirkan mereka atau mengkafirkan yang lainnya sama sekali, karena takfir yang harus dilakukan dengan sebab mereka melakukan salah satu sebab dari sebab-sebab kekafiran adalah sesuatu hal, sedangkan sekedar tanaqudl mereka tanpa ada pelanggaran sesuatu dari (sebab-sebab) itu adalah hal lain.

Kemudian takhabbath mereka itu tidak terbatas pada hal ini saja, di mana engkau melihat banyak dari mereka di sisi lain bara’ dari lawan mereka dari kaum muwahhiidin yang menentang para thaghut dengan bentuk bara’ yang lebih dahsyat dari bara’ mereka dari orang-orang kafir, bahkan banyak dari mereka mengumumkan hal itu di lembaran koran-koran sekuler lagi kafir, dan itu sering kami lihat, mereka memusuhi kaum muwahhidin, mengada-ada terhadap mereka, mencoreng kehormatan mereka, menggugurkan hak-hak Islamiyyah mereka dan memperlakukan mereka layaknya orang kafir. Dan bila engkau pojokkan dia untuk mengkafirkan kaum muwahhidin itu atau membencinya dan memusuhinya karena apa yang mereka bawa atau mereka anut berupa dien tauhid dan jihad, ternyata mereka menolak pemojokkan itu. Inilah termasuk takhabbuth dan tanaqudl mereka yang sering terjadi.[3]

Bahkan sebagian orang berpandangan bolehnya memerangi penguasa dan memberontak mereka serta konfrontasi dengan mereka padahal dia itu tidak mengkafirkan penguasa itu. Maka bagaimana mungkin menyudutkan orang-orang semacam mereka dengan tawalli terhadap penguasa itu sebagai bentuk lazim dari lawazim sikap tidak mengkafirkan mereka? Dan di antara contoh praktek yang nyata atas hal ini adalah Juhaimun rahimahullah dan kelompoknya, sungguh saya telah pernah berbaur dengan jama’ahnya dan telah saya baca kitab-kitabnya semua, saya hidup bersama mereka dan saya mengetahui mereka dari dekat. Juhaiman rahimahullah tidak mengkafirkan para penguasa Saudi hari ini karena kekurangan pengetahuannya terhadap realita undang-undang dan kekafiran-kekafiran mereka, dan begitulah status para penguasa Saudi baginya, dan beliau telah menegaskan hal itu di tulisan-tulisannya, sebagaimana dalam Kasyful Iltibas dan Al Imarah.

Namun beliau ini menjadi sumber kemurkaan mereka, dan duri di kerongkongan mereka serta lebih dahsyat atas mereka dari banyak orang–orang yang mengkafirkan mereka. Beliau mencela bai’at terhadap mereka dan menggugurkannya serta tidak mendiamkan sedikitpun dari kemungkaran mereka yang dia ketahui, sehingga pada akhirnya dia memberontak terhadap mereka dan memeranginya, beliau dan orang-orangnya dalam tragedi Al-Haram tahun 1400 H. Dan tidak penting bagi saya di sini apa yang menyertai fitnah ini dan mendahuluinya berupa pentakwilan-pentakwilan seputar Al-Mahdiy dan bai’atnya serta perkiraan mereka bahwa ia adalah salah saeorang dari mereka.

Dan yang ingin sata utarakan di sini hanyalah (realita) bahwa Juhaiman ini padahal ia itu tidak mengkafirkan penguasa Saudi dan tidak loyal kepada mereka atau mencintainya, tapi justeru memusuhi mereka, membencinya, menentangnya, dan mencela terhadap bai’atnya. Dia dan jama’ahnya menjauhi pekerjaan-pekerjaan yang bersifat negeri (PNS, Militer dan lainnya, pent) semuanya[4]. Sebagaimana mereka menjauhi sekolah-sekolahan, perguruan tinggi-perguruan tinggi pemerintah, bahkan mereka berlepas diri dari surat-surat penting mereka dan pasport-pasportnya, kemudian pada akhirnya mereka memeranginya, dan beberapa waktu sebelumnya Juhaiman selalu dicari dan diincar, ia berdakwah dan berpindah-pindah secara diam-diam, sampai akhirnya penguasa mendapatkannya di Al-Haram dan kemudian membunuhnya.

Inilah contoh yang jelas yang menunjukkan rusaknya lawazim-lawazim yang lalu atas setiap orang yang tidak mengkafirkan thaghut-thaghut.

Dan juga sudah maklum bahwa tawalli yang membuat kafir adalah membela orang-orang kafir atas kaum muwahhidin atau membela kekafiran itu sendiri baik dengan lisan ataupun dengan senjata, yaitu dengan cara si orang menampakkannya sebagai satu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang berupa ucapan atau amalan dhahir. Inilah yang memungkinkan pelakunya dikafirkan dengannya dalam hukum-hukum dunia. Adapun apa yang ada di bathin dan tersembunyi dari hal itu seperti klaim bahwa orang yang tidak mengkafirkan mereka berarti mesti tawalli kepada mereka, meskipun tidak nampak darinya sesuatupun dengan lisannya atau perbuatannya, maka hal ini sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam hukum-hukum dunia dan tidak sah mengkafirkan dengan sebabnya, dan juga dengan yang semisal dengannya berupa hal-hal yang tidak nampak, perkiraan dan praduga-praduga. Dan selama seseorang tidak komitmen dengan sesuatu dari lawazim-lawazim itu baik berupa ucapan atau amalan, maka tidak boleh mengilzamnya dengan hal-hal itu, dan terus setelah itu dia mengkafirkannya. Meskipun dia itu tanaqudl dan takhabbuth dalam madzhab dan pilihannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya: Apakah lazim (kemestian) suatu madzhab itu madzhab atau bukan?

Maka beliau menjawab: (Yang benar bahwa lazim madzhab seseorang itu bukan madzhabnya bila dia tidak memegangnya, karena sesungguhnya bila dia telah mengingkarinya dan menafikannya maka penisbatannya kepada dia adalah dusta atas namanya, namun (pengingkarannya) itu menunjukkan rusaknya pendapat dia dan tanaqudlnya dalam ungkapan, selain iltizamnya akan lawazim yang ternyata nampak bahwa lawazim tersebut tergolong kekafiran dan yang dialihkan dari sesuatu yan mana ia lebih banyak. Orang-orang yang menyatakan pendapat-pendapat yang memestikan adanya ungkapan-ungkapan yang dia mengetahui bahwa ia memegangnya namun ia tidak mengetahui bahwa ungkapan itu mengharuskan dia, dan seandainya lazim madzhab orang itu adalah madzhabnya tentulah harus mengkafirkan setiap orang yang berkata tentang istiwa’ atau sifat lainnya bahwa itu adalah majaz bukan hakikat dari nama-nama dan sifat Allah)…Hingga ucapannya: (Tapi kita mengetahui bahwa banyak dari kalangan yang menafikan hal itu tidak mengetahui lazim ucapannya, bahkan banyak dari mereka menduga bahwa hakikat itu tidak lain hanyalah murni hakikat-hakikat makhluk[5] dan mereka itu jahil akan maksud hakikat dan majaz, dan ucapan mereka itu adalah pengada-adaan dusta terhadap bahasa dan Syar’iy…..) Majmu Al Fatawa 20/121 cetakan Daar Ibni Hazm.

Dan beliau berkata juga dalam Al Fatawa 29/25-26: (Lazim ucapan orang ada dua macam.):

Pertama: Lazim ucapannya yang haq, maka ini tergolong yang wajib atas dia untuk memegangnya, karena lazim Al-Haq adalah Haq dan boleh disandarkan kepada dia bila diketahui dari keadaannya bahwa ia tidak menolak dari memegangnya setelah nampaknya hal itu

Kedua: Lazim ucapannya yang tidak haq, maka ini tidak wajib memegangnya, karena maksimal apa yang ada di dalamnya adalah bahwa ia telah tanaqudl, sedangkan telah tsabit bahwa tanaqudl itu terjadi dari setiap orang alim selain para Nabi, kemudian bila diketahui dari keadaannya bahwa ia memegangnya setelah hal itu nampak terhadapnya, maka terkadang disandarkan kepadanya, dan kalau tidak maka tidak boleh disandarkan kepadanya suatu ungkapan yang seandainya nampak bagi dia rusaknya hal itu tentu ia tidak memegangnya, dikarena ia telah mengatakan sesuatu yang mengharuskannya, sedangkan ia tidak sadar akan rusaknya ungkapan itu dan apa yang mengharuskannya.

Dan rincian ini dalam perselisihan manusia tentang lazimul madzhab: Apakah ia madzhabnya atau bukan ? Adalah lebih bagus daripada memuthlakkan salah satunya. Di antara lawazim yang mana itu diridhai oleh si pembicara setelah hal itu nampak baginya, maka ia adalah perkataannya, dan apa yang tidak dia ridlai maka itu bukan ucapannya meskipun hal itu tanaqudl)”

Dan murid beliau Ibnul Qayyim berkata dalam Qashidhah Nuniyyah yang dinamai Al-Kafiyyah Asy-Syafiyyah Fil Intishar Lil Firqah An-Najiyyah:

ولوا زم المعنى تراد بذكره من عا رف بلزومه الحقان

وسواه ليس بلازم فى حقه قصد الوزم وهي ذات بيان

اذا قد يكون لزومه الجهول أو قد كان يعلمه بلا نكران

لكن عرته غفلة بلزومها اذكان ذاسهووذانيان

ولذالك لم يك لازما لمذاهب العلماء مذبهم بلا برهان

Lawazim makna adalah dimaksudkan dengan penyebutannya

Dari orang yang mengetahui lazimnya adalah kebenaran

Dan selainnya adalah bukan lazim baginya

Memaksudkan lawazim dan ia adalah butuh penjelasan

Karena bisa jadi kelazimannya itu adalah tidak diketahui atau

Bisa jadi diketahuinya tanpa dia ingkari

Namun ia tak menyadari kelaziman ucapannya

Karena manusia itu makhluk yang suka lalai dan lupa

Oleh sebab itu lazim madzhab ‘ulama itu

Bukanlah madzhabnya tanpa adanya bukti

Dinukil dari Syahrul Qashidhah karya Ahmad Ibnu Isa 2/394. Dan ringkasan perkataan beliau dalam bait-bait itu: “Sesungguhnya lawazim madzhab itu bukan madzhab, kecuali bila penganut madzhab itu mengetahui lagi mengenal lawazim madzhabnya itu terus dia mengkomitmeninya. Dan selagi dia itu jahil atau lalai darinya juga lupa lagi tidak merasa, maka lawazim itu tidak mengharuskan dia, dan tidak boleh memaksanya kepada dia tanpa dalil”.

Adz-Dzahabiy (748 H) berkata: Tidak ragu lagi bahwa sebagian ulama ahli pikiran berlebihan dalam penafian, penolakan, tahrif, dan tanzih sesuai klaim mereka, sampai mereka jatuh dalam bid’ah atas pensifatan Allah Sang Pencipta dengan sifat-sifat suatu yang tidak ada, sebagaimana sesungguhnya jama’ah dari kalangan ulama atsar berlebihan dalam itsbat (penetapan) dan penerimaan akan (hadits) dlaif dan munkar[6] serta berujar dengan sunnah dan ittiba, sehingga terjadilah kericuhan dan kebencian, dan yang ini membid’ahkan yang itu, serta yang ini mengkafirkan yang itu. Dan kami berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan perdebatan dalam dien ini, dan dari sikap kami mengkafirkan muslim muwahhid dengan lazim ucapannya, sedangkan ia lari dari lazim itu, dan ia mensucikan serta menganggungkan Rabb) Ar Rad Al Wafir Libni Nashiruddien hal. 48

Abu Ishaq Asy-Syatibiy (790 H) dalam Al-I’tisham 2/229 berkata: (Yang pernah kami dengar dari para guru bahwa madzhab para ulama muhaqqiqin dari kalangan ahli ushul: “Bahwa kekufuran dengan ma-aal adalah bukan kekafiran fil haal (saat itu pula), maka bagaimana mungkin sedangkan orang kafir itu mengingkari ma-aal itu dengan sangat dan membuangnya jauh-jauh, dan andai jelas baginya sisi kemestian kekafiran dari ungkapannya itu tentulah ia tidak mengatakannya”.

Berkata dalam kitab yang sama: “Dan lazimul madzhab, apakah ia madzhab atau bukan? Ia adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ahlul ushul, dan yang dikatakan oleh syaikh-syaikh kami di kawasan Bija dan Maghrib, dan mereka memandang bahwa ia adalah pendapat para ulama Al Muhaqqin juga, bahwa lazimul madzhab itu bukan madzhab, maka dari itu bila dia disuruh mengakuinya, ternyata ia sangat mengingkarinya.”

Dan As-Sakhawiy menuturkan dalam Fathul Mugits 1/334 ungkapan gurunya Ibnu Hajar, dia berkata: “ Dan yang nampak bahwa yang dihukumi kafir itu adalah orang yang kekafirannya adalah penegasan ucapannya, dan begitu juga orang yang kekufuran itu lazim ucapannya dan itu dipaparkan kepadanya terus ia memegangnya. Adapun orang yang tidak memegangnya dan bahkan menghindar darinya maka ia itu tidak kafir meskipun lazim (ucapannya) itu adalah kekafiran”.

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir As-Sa’diy berkata (1376): (Dan Tahqiq yang dibuktikan oleh dalil bahwa lazimul madzhab yang tidak ditegaskan oleh pemiliknya dan tidak ada isyaratkan kepadanya serta tidak memegangnya bukanlah madzhab, karena si pembicara bukanlah yang ma’shum, sedangkan ilmu makhluk bagaimanapun tingginya maka sesungguhnya ia adalah kurang, jadi dengan dalil apa kita memestikan si pembicara dengan apa yang tidak dia pegang dan kita menisbatkan ucapan kepadanya padahal dia tidak mengucapkannya, akan tetapi kita mengambil dalil dengan rusaknya lazim atas rusaknya malzum, karena lawazim ucapan adalah tergolong dalil-dalil atas sah dan lemahnya pandapat itu serta atas kerusakannya, karena Al-Haq lazimnya haq pula, sedangkan yang bathil lazimnya adalah yang sesuai dengannya, sehingga rusaknya lazim terutama lazim yang diakui kerusakannya oleh si pembicara bisa dijadikan dalil atas rusaknya malzum. (Taudlih Al Kafiyah Asy Syafiyyah hal 113)

Dan ringkasnya: Sesungguhnya takfier dengan lazim dan ma-aal adalah termasuk masalah yang pelik sebagaimana telah lalu dari ulama. Asy-Syaukaniy berkata: Takfier dengan cara Ilzam adalah termasuk sumber ketergelinciran pijakan yang paling besar, siapa orangnya yang ingin mempertaruhkan diennya, maka terhadap diri sendirilah dia telah aniaya.

As-Sail Al-Jarar 4/580.

[1] Lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd Al-Hafid 2/492

[2] Lihat syarh An-Nawawi atas Shahih Muslim (kitab zakat) dan apa yang dituturkannya dari Al-Mazariy dalam bab ini 7/142

[3] Akan datang perbedaan antara apa yang terjadi karena permusuhan dengan sebab dunia atau karena sebab takwil, dan antara apa yang merupakan nushrah dan mudhaharah (bantuan) bagi orang-orang kafir atas kaum muwahhidin atau permusuhan karena dien mereka.

[4] Dan saya tidak memaksudkan bahwa dia dan jama’ahnya mengharamkan semua pekerjaan di (pemerintah) sama sekali tidak, sungguh telah mengabarkan saya Abu Huzaa’ Abdullatif Ad-Dirbas dan ia adalah tergolong orang dekat Juhaiman, dia ikut di penjara bersama anggota jama’ah lainnya sementara waktu: bahwa Juhaiman menghadiri majelis Ibnu Baaz, dan mereka itu menyodorkan risalah-risalah dan tulisan-tulisan mereka kepada Ibnu Baaz, Juhaiman ditanya oleh Ibnu Baaz: Apakah benar wahai Juhaiman bahwa kalian mengharamkan seluruh pekerjaan di pemerintahan ini? Maka Juhaiman menjawabnya sedangkan di tangannya ada cangkir kopi: Tidak benar wahai syaikh, seandainya saya mengharamkan semuanya tentulah saya tidak minum cangkir ini di sisimu, akan tetapi saya katakan kepada engkau wahai syaikh, sesungguhnya tidak ada bagian bagimu dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan sabar atas penganiayaan mereka adalah lebih baik dari pada mukmin yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar atas penganiayaan mereka. “Engkau mengetahui wahai syaikh sesungguhnya mereka melakukan ini dan itu… Juhaiman terus menyebutkan sedikit kemungkaran-kemungkaran mereka, sedangkan engkau tidak mampu merubahnya…. Dan mereka melakukan ini dan itu dan mereka tidak perduli dengan pengingkaran para syaikh …. Dan ia terus menyebutkan banyak hal… Sedangkan Syaikh (Ibnu Baaz) menundukkan kepalanya seraya mengangguk-angguk mengiakan.

[5] Yaitu ia mengira bahwa makna hakikat adalah apa yang disandang oleh makhluk berupa sifat-sifat, dan karenanya ia menafikan kata hakikat saat menyebut sifat-sifat Allah, dia berkata: Istiwa majaz bukan hakikat dan tangan adalah majaz bukan hakikat…

[6] Ada baiknya kami mengingatkan bahwa itsbat yang tercela adalah hanya menerapkan apa yang diriwayatkan dengan hadits-hadits dhaif dan munkar, sebagaimana yang diutarakan Adz-Dzahabiy dan sebelumnya Syaikhul Islam seperti yang telah lalu dalam Al-Fatawa juz 4. Adapun itsbat yang shahih maka itu bukan berlebihan dan tidak diingkari, sebagaimana tidak ada celaam terhadap Ulama Al-Atsar dengan sebab berujar dengan Sunnah dan Ittiba.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.