Beranda » artikel » THORIQUNA Menghadirkan risalah dari daar Al Khowah#Mujahid Sepanjang Zaman# oleh : Akhuna Zubair Hasan as Sundee

THORIQUNA Menghadirkan risalah dari daar Al Khowah#Mujahid Sepanjang Zaman# oleh : Akhuna Zubair Hasan as Sundee


بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah, apa yang ada di langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya
Shalawat dan salam semoga senantiasa di limpahkan kepada imamul mujahidien khotaman Nabiyyien wal Mursalien Muhammad bin abdillah juga para sahabatnya, keluarganya serta orang yang senantiasa mengikuti mereka dengan benar.

Allah ta’ala berfirman :

“telah diwajibkan atas kamu berperang padahal itu (berperang) tidak menyenangkan bagimu” (QS. 2 : 216)

Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berperang. Memerangi orang orang kafir musyrikien dan ahli kitab yang tidak mau beriman kepada Allah dan Rasul Nya ataupn tidak mau membayar jizyah. Ayat ini telah jelas dan tegas, serta akan tetap tidak berubah. Ini adalah salah satu kewajiban yang telah Allah tetapkan atas umat Muhammad bin Abdillah, apalagi ketika jihad hukumnya fardlu ‘ain pada saat ini. Terutama kewajiban memerangi para thaghut murtaddin dan ansharnya yang telah menguasai seluruh wilayah kaum muslimien.
Berperang menghancurkan mereka untuk menegakkan haq Allah di atas bumi ini baik dengan menyerang mereka secara bersama sama (dalam shaf besar ataupn kecil) ataupun menyerang mereka seorang diri (dgn cara ightiyal, atau lebih di juluki dengan sebutan dzi’bul munfarid atau lone wolf atau serigala sendirian). Sebagaimana firman Nya :

“maka berangkatlah engau di jalan Allah, engkau tidak di bebani melainkan atas dirimu sendiri” (QS. 3 : 84)

ini adalah ciri keutamaan seorang hamba yaitu mengikuti atau melaksanakan apa yang telah Allah wajibkan, khususnya Jihad fie sabilillah yang mana kewajiban ini sudah di tinggalkan oleh hampir seluruh kaum muslimin karena berat dan kerasnya jalan jihad.
Tidak menutup mata, banyaknya tanzhim atau jama’ah jihadi tidak akan berpengaruh besar ketika tidak di topang langkahnya yaitu berperang atau memerangi thaghut murtaddin. Ada atau tidaknya langkah nyata ini, kewajiban jihad akan tetap ada pada pundak2 kaum mukminien sampai Haq Allah ta’ala tegak. Maka sadarlah bahwa kita terbebani oleh kewajiban yang telah Allah tetapkan dan jangan merasa terbebani dengan jama’ah.

Oleh karena itu menjadi mujahid tidak harus jadi anggota tanzhim jihadiy ataupn jama’ah yang menisbatkan namanya dengan jihad atau semacamnya.
Menjadi mujahid tidak pula harus lulus akademi Afghan, Moro atau lainnya. Menjadi mujahid tidak pula harus lulusan ma’had atau pondok jihadi. Karena menjadi mujahid itu bukan pilihan tetapi suatu keharusan bagi setiap mukmin untuk menegakkan Dienullah.

Rasulullah pernah di tanya : “wahai Rasulullah, seseorang berperang karena harta rampasan perang, seseorang berperang agar dikenang”[1] atau dalam riwayat lain : “seseorang yang beperang karena keberanian, berperang karena fanatisme, manakah yang berperang di jalan Allah?” Rasulullah menjawab “barangsiapa berperang agar kalimat Allah tinggi, maka dia di jalan Allah”[2]

Inilah mujahid, gelar yang Allah anugerahkan kepada hamba Nya ketika berperang hanya karena Nya.
Menjadi mujahid sepanjang zaman bukan mujahid musiman, ketika ramai ramai orang teriak jihad dan berangkat jihad, maka berteriak dan berangkatlah dia. Tapi ketika selesai jihad dan kembali kemudian melihat negeri ini nyaman dan aman maka merasa di negeri ini belum ada jihad. Laa hawla walaa quwwata illaa billah.

Ingatlah ketika Rasulullah pulang dari berjihad dan ingin meletakkan peralatan perangnya karena musuh telah di usir dan merasa madinah telah aman, tapi Jibril ‘alaihis salam datang mengingatkan beliau untuk tidak meletakkan peralatan perangnya sampai para pengkhianat dari Bani Quraizhah di perangi.[3]
Dan juga ketika sahabat Salamah ibnu Nufail Al Kindi menceritakan bahwa kaum muslimin telah meletakkan pedang mereka dan menambatkan kuda mereka bahkan mereka berkata “sekarang sudah tidak ada lagi jihad”. Maka Rasulullah bersabda : “mereka itu dusta, mereka itu dusta. Sekarang telah tiba saatny jihad”[4]
Ini d jaman Rasul yang mana Daulah islam madinah telah tegak, berjihad untuk menyebarkan dan menegakkan Dienullah. Lalu apa gerang dengan negeri ini yang mana para thaghut menyebarkan kesyirikan dan bahkan memaksakanya?!.

Demi Allah telah jelas dan tegas serta telah kering tinta dan bertumpuknya kitab para ulama yang mejelaskan bagaimana status hukum penguasa murtad dr kalangan thaghut dan jg ansharnya.
Mujahid sepanjang zaman terus berperang melawan para penguasa murtad meski orang mencelanya baik dari kalangan awwam atau yang brilmu di antara mereka. Tetap istiqomah di atas jihad meski kawan kawan berguguran atau pun meninggalkan.

Allah Ta’ala berkalam :

“dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri” (QS. 2 : 195)

ayat ini turun berkenaan dengan kaum anshar yang mana Allah telah memuliakan islam pada waktu itu. Melimpahnya harta dan kebun mereka,maka Mereka hendak meninggal barisan jihad dan menganggap satu kebaikan atas peran mereka dalam jihad lalu Allah ta’ala menurunkan ayat ini.[5]

Rasulullah bersabda : “sungguh ada orang yang melakukan perbuatan penduduk jannah dalam pandangan manusia, padahal sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya ada orang yang melakukan penduduk neraka menurut pandangan manusia padahal sebenarnya dia adalah penduduk jannah.”[6]

Ibnu Rajab rahimahullah berkata : sabda Rasulullah “menurut pandangan manusia” menunjukkan isi hati orang itu berbeda dengan apa yang di lihat manusia. Kehidupan yang berakhir buruk, di sebabkan oleh “bisikan” lain dalam hati seorang hamba yang tidak di ketahui orang lain. Dan itu merupakan amalan buruk. Bisikan itulah yang akhirnya menyebabkan datangnya su’ul khotimah (akhir kehidupan yang buruk”.

Hal tersebut bisa terjadi pada seorang mujahid. Di tengah perjalan amalnya dan di hamparkannya dunia yang indah di liat mata, jika bisikan itu berupa keburukan makanakan terjatuhlah kepada kebinasaan meskipun dia lulusan afghan, moro atau lainnya.
Karena tidak menutup kemungkinan akan mengurangi atau menghapuskan pahala jihadnya dan berakhir dengan su’ul khotimah di sebabkan “bisikan” dalam hatinya.

Bisa jadi karena sudah pernah berjihad kemudian merasa cukup dengan amalnya, atau merusak amalnya dengan melakukan kemaksiatan[7] yang mungkin di anggap remeh, tapi dari hal kecillah akan lahir hal yang besar, atau sadar atau tidak dia membantu thaghut dan anshar terhadap setiap aksi amaliyah yang di lakukan, atau dengan melakukan kesyirikan dengan berkecimpung dalam pemilu / demokrasi[8], atau dengan sadar menyibukkan diri dengan ribawi[9]

Maka hendaklah mujahid senantiasa selalu ta’at kepada Allah dan Rasul Nya dan menjaga amalnya baik dia itu terjun langsung di front ataupn dalam da’wah kepada Al Haq tanpa talbis dan mudahanah.
Janganlah menjadi orang yang Allah berkalam tentangnya :

“maka setelah mereka,datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi taurat, yang mengambil harta dunia dengan rendah ini lalu mereka brkata : kami akan di beri ampun” (QS. 7 : 169)

ini adalah perkataan yang jauh dari kebenaran, mereka mengambil dunia dan menjual ayat ayat Allah dengan harga sedikit dan mengganti kebaikan dengan keburukang. Ini di sebabkan karena jika ada sesuatu yang sifatnya masih syubhat (mengenai penguasa thaghut dan ansharnya) dan itu berbenturan dengan syahwatnya maka dia pasti akan menyembunyikan kebenaranya dan lenyaplah sisi kebenaran itu. Jika kebenaran itu sudah jelas dan tidak tersamar maka dia akan memberanikan diri untuk menyelisihinya seraya mengatakan “masih ada jalan keluar untuk bertobat bagiku atau perkataan yang semakna”, jika mereka tau keharamanya sembari mengatakan “kami akan di ampuni atau perkataan yang semakna” lalu mereka mengambil dunia yang paling rendah.

Maka jadilah mujahid sepanjang jaman dengan kondisi dan karakter beragam untuk senantiasa memerangi kesyirikan meski kita terfitnah karena amal kita[10]
mujahid hendaknya menjaga amalnya dan selalu ta’at kepada Allah dan Rasul Nya.
Mujahid sepanjang zaman senantiasa ada di antara mereka yang menunggu dan di antara mereka ada yang menepati janjinya[11] kepada Allah dengan menjual jiwa mereka dengan menggapai syadah.

Ya Rabb yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas Dien Mu dan dalam keta’atan kepada Mu

Ya Allah anugerahkanlah kepada kami ke istiqomahan dalam keta’atan kepada Mu
Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kesyahidan di jalan Mu.
Ya Allah terimalah seluruh amal sholih kami
Ya Allah kami memohon kepada Mu husnul khotimah dan berlindung kepada Mu dari su’ul khotimah.

Wallahu Ta’ala A’lam bishShowab

3 Rabiuts Tasaanie 1434 H

Daar Kholwah

Al Faqir ilallah

Zubair Hasan as Sundee

—————————————————————————————————————————————————

footnote :

1]. HR. Bukhari
2]. HR. Muslim
3]. Shirah Nabawiyah Syafiyurrahman Mubarakfuri
4]. HR. An Nasai
5]. HR. Abu Daud, At Tarmidzi, ibnu Hibban, Hakim tentang asbabun nuzul QS. 2 : 195 dari Abu Ayyub Al Anshari.
6]. HR. Bukhari – Muslim.
7]. “barangsiapa yang belajar memanah kemudian dia meninggalkanya maka dia telah bermaksiat” (Al Hadits).
8]. Dalam satu riwayat Al Aliyah brsama ummu zaid masuk ketempat aisyah, lalu ummu zaid bin arqam brkata : “wahai ummul mu’minien,aku jual budak kepada zaid bin arqam seharga 800 dirham dgn pembayaran tunda kemudian aku membelinya lagi dari zaid sehar 600 dirham secara kontan” ummul mukminein Aisyah Radliyallahu ‘anha berkata “sungguh jelek apa yang engkau beli dan jual. Sesungguhnya jihad zaid bin Arqam bersama Rasulullah menjadi batal, kecuali jika dia bertaubat” (HR. Baihaqi)
Ibnu Rajab berkata : Al Aliyah perawi tsiqaah, haditsnya di jadikan hujjah oleh Ats Tsauri, al Auza’i, Abu Hanifah dan sahabat sahabatnya, Imam Malik dan ibnu Hanbal. (jami’ul ulum wal hikam)
9]. Seandainya Rasulullah melakukan kesyirikan langsung Allah tegur dan di ancam dengan adzab yang sangat “jika kamu (muhammad) melakukan kesyirikan maka akan hapus seluruh amalmu” lalu bagaimana dengan kita?!

10]. Allah berfirman “dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan”.
Para ulama menjelaskan fitnah di sini adalah kesyirikan. Lalu sekarang manakah yang lebih kejam orang yang membiarkan thaghut dan anshornya menguasai kaum muslimin dan menyebarkan faham syirik mereka ataukah mujahid yang beramal dan sedikit atau banyak korban karena ingin memerangi kesyirikan?!

11]. “di antara orang orang mukmin itu ada orang orang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya)” (QS. 33 : 23)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: