Beranda » Akidah » Inilah jalan yang kami pilih…

Inilah jalan yang kami pilih…


Muqoddimah

Segala puji hanyalah milik Alloh ta’ala, hanya kepadaNya lah kami memuji dan hanya kepada-Nyalah kami memohon. Sholawat dan salam atas junjungan panglima tertinggi Ummat Islam, manusia terbaik, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan kepada para sahabat, para tabi’in serta orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dalam menjalankan Kitabullah dan sunnah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Dikala kami memulai perjalanan jihad ini, tidaklah ada yang terpampang di hadapan mata kami kecuali ganasnya penyiksaan, cobaan serta pengejaran para antek thoghut la’natullah ‘alaihim.
Namun kami sebagai hamba Alloh ta’ala yang diberikan kewajiban guna mengemban amanat mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sesuai pemahaman para salaful Ummah, tidak ada kata kompromi dengan pemerintah murtad, tidak pula berdiam diri melihat kemungkaran serta tidak mengenal ajaran demokrasi untuk menegakkan din ini.
Dengan hanya bergantung atas pertolongan Alloh ta’ala, semata kami jalani usaha untuk iqomatud din dengan cara jihad, guna menghalau musuh-musuh Alloh ta’ala, minimal dapat menimbulkan rasa ketakutan kepada mereka. Walau cobaan dan rintangan senantiasa mengiringi langkah kami, namun kami semakin yakin bahwa semakin berat rintangan yang kami hadapi, Alloh ta’ala pun akan memberikan pahala sesuai kadar ujian.
وَكَفَى بِاللهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللهِ نَصِيرًا

“ ….. Dan cukuplah Alloh menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Alloh menjadi Penolong (bagimu) “. (QS. An Nisa’ : 45).
Walau kami bergerak dengan segelintir manusia yang siap menanggung resiko, namun kami yakin kemenangan akan kami raih Biidznillah Insya Alloh ta’ala, baik kemenangan di dunia maupun kemenangan di akhirat dengan mendapatkan syahadah.
كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Alloh dan Alloh bersama dengan orang-orang yang bersabar”. (QS. Al Baqoroh : 249).
Risalah ini kami susun sebagai jawaban atas mereka yang masih mempertanyakan alasan pergerakan jihad kami, sebagai alasan kami dihadapan manusia dan hujjah kami dihadapan Alloh ta’ala.
Risalah ini sebagian besar adalah terjemahan dari kitab “Ilhaq Bil Khofilah” karya Asy Syahid Biidznillah Abdullah Azzam dengan beberapa perubahan. Namun kami memohon kepada ihwah sekalian untuk mengislah risalah ini bila ada yang tidak sesuai syar’I maupun kesalahan dalam pengambilan maraji’ (referensi) yang kurang tepat. Karena risalah ini kami kerjakan dibawah bayang-bayang intaian dan pengejaran thogut la’natullah ‘alaihim.
Hanya kepada Alloh ta’ala kami memohon untuk dijauhkan dari sifat riya’ maupun sum’ah dan semoga Alloh ta’ala menerima apa yang kami bisa lakukan selama ini sebagai amal yang sholeh.
Bukankah telah kusampaikan ? Yaa Alloh, saksikanlah !
Bukankah telah kusampaikan ? Yaa Alloh, saksikanlah !
Bukankah telah kusampaikan ? Yaa Alloh, saksikanlah !
Bumi Alloh, 2 Dzulqo’dah 1425 H
Al Faqir Ilalloh
Abu Silah Al Harby Al Jatimy

Berikut kami sampaikan kepada kalian kenapa jihad menjadi jalan pilihan kami, dikala manusia mengejar kehidupan dunia, dikala manusia lebih memilih tinggal diam dalam istana fana berdampingan dengan anak istri kemudian mereka tinggalkan jihad yang semuanya itu tidaklah akan memberikan manfaat baginya, serta dikala manusia sibuk menumpuk dunia… kami pilih jalan jihad ini, jalan yang telah ditempuh manusia termulia di muka bumi ini Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam yang tidak meninggalkan bagi ummat dinar dan dirham, jalan yang telah ditempuh para salafush sholeh, jalan yang telah dipilih oleh ummat terbaik…jalan dalam menegakkan kalimat Alloh ta’ala…jalan demi menegakkan dinul Islam.

Alloh ta’ala berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ

“Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Alloh ….. “ (QS. Al Anfal : 39).
Tahukah kalian apa yang dimaksud “fitnah” dalam ayat tersebut? Yang dimaksud fitnah yaitu “Syirik”. Kita diperintahkan untuk memerangi orang-orang kafir hingga tidak ada kesyirikan di muka bumi, tidak ada lagi yang diibadahi selain Alloh ta’ala saja. Maka selama jihad tidak ditegakkan maka orang-orang kafir akan menguasai kaum muslimin dengan demikian mereka akan menyebarkan kesyirikan, kerusakan dimuka bumi ini.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan:” supaya agama itu semata-mata untuk Alloh” adalah ; supaya Din yang unggul adalah Dinullah (al Islam). Agar Dinullah ini mengatasi seluruh din selain Islam” (lihat tafsir Ibnu Katsir 1/227)
Dalam sebuah hadist Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, sehingga hanya Allah saja yang diibadahi, tidak ada sekutu baginya. Dan dijadikan rizkiku di bawah bayang-bayang tombak, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongnnya” (HR Ahmad dari Abdulloh bin Umar )
Maka jihad harus senantiasa ditegakkan demi terjaganya Islam dan kaum muslimin, hingga seluruh manusia menyembah Alloh ta’ala saja.
Sungguh sekarang orang-orang kafir telah menyerang kalian namun kalian tidak merasa diperangi. Musuh-musuh Islam telah memasuki rumah-rumah kalian, telah merasuki fikiran anak-anak kalian bahkan mungkin pikiran kalianpun telah mereka perangi, hingga kamus jihad telah hilang dari ingatan kalian.
Yang lebih menyedihkan kalian tidak peduli terhadap kaum muslimin di belahan dunia yang mengalami pembantaian massal, kita diam seribu bahasa merasa mereka bukan bagian dari diri kita, merasa kita tidak mempunyai kewajiban dalam membela mereka.
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda;” Tidak (sempurna) iman kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” ( al Hadist)
Bahkan lebih memperihatinkan lagi saudara-saudara kalian, para ihwan dan para ustadz menghadapi kedzoliman di depan mata kalian, di dalam negara kita namun kalian tidak berbuat apapun untuk membela mereka walaupun dengan seuntai doa, alangkah hinanya… apakah kalian baru sadar bila anak-anak telah disembelih di depan mata kalian, istri yang ia cintai diperkosa dan dia hanya bisa diam dan akhirnya diapun akan dibantai dan dia cuma pasrah….Yaa Salaam…
Ingatlah bila kalian tidak berjihad maka kalianpun akan mati.
Dengarlah sabda junjungan kita:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنَ النِّفَاقِ أَوْ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَةً

“Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang dan tidak pernah bercita-cita dalam dirinya untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan atau mati sebagaimana matinya orang jahiliyah“.
Ketahuilah bahwa hanya bercita-cita berjihad saja ini belum cukup ia hanya menghilangkan sifat nifak dalam diri namun jika ia belum berjihad maka ia tetap berdosa karena jihad adalah kewajiban yang harus kalian tunaikan lalu akankah kita terus diam tanpa I’dad? Sesungguhnya pembenaran dari cita-cita itu adalah sebuah amalan yang nyata, itu kalau kalian benar-benar jujur, jujur pada Alloh ta’ala dan jujur pada dirimu sendiri.

Krisis yang melanda ummat Islam dunia adalah kurangnya manusia yang siap memikul amanat jihad ini, manusia yang siap melindungi agama ini dan manusia yang siap menghancurkan penghalang-penghalang agama Alloh ta’ala yang siap menyongsong kematian demi mendapatkan kehidupan.
Marilah kita melihat sekitar kita, negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, berapakah yang siap berjihad? ataupun tidak usah kita jauh-jauh mengambil contoh, ihwan-ihwan yang telah mengenal ilmu jihad, berapakah diantara mereka yang siap berjihad serta konsisiten terhadap jihad?? Sungguh benarlah apa yang telah dikhabarkan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Iman Bukhori:
“Manusia ibarat rombongan seratus onta namun engkau akan sulit menemukan satu saja yang layak untuk ditunggangi.”
Memang begitulah kenyataan yang kita hadapi sekarang ini, banyak manusia yang lebih memilih kehidupan fana daripada kehidupan akhirat.

يُوشَكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرُ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُودَ ، وَفِي رِوَايَة ِلأَحْمَدَ : حُبُّكُمُ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَتُكُمُ الْقِتَالَ .

“Hampir-hampir kalian akan diperebutkan oleh ummat-ummat lain sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampannya. Ada yang bertanya, “Apakah lantaran kita sedikit kala itu?” beliau bersabda, “Bahkan kalian banyak ketika itu, namun kalian adalah buih laksana buih air, dan Alloh benar-benar akan mencabut rasa segan kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Alloh benar-benar akan melemparkan ke dalam hati kalian ‘Al-Wahn.’ Maka ada yang bertanya, “Apakah Al-Wahn itu wahai Rasululloh?” beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci mati.” (HR. Abû Dâwud) dalam riwayat Ahmad disebutkan : “Kecintaan kalian kepada dunia dan kebencian kalian kepada perang.”
Suatu ketika amirul mukminin Umar bin Khottob sedang duduk dengan beberapa sahabatnya. Kemudian ia berkata: “Berharaplah kalian” maka para sahabatpun mengutarakan harapan-harapannya, setelah itu mereka berkata: ”Yaa amirul mukminin sekarang berharaplah Anda”. Maka beliau berkata; ”Aku berharap memiliki pengikut seperti Abu Ubaidah al Jarroh”.
Orang yang memahami ilmu akhirat amatlah sedikit dan mereka yang mengamalkannya jauh lebih sedikit lagi serta mereka yang menegakkan jihad jumlahnya amatlah langka dan mereka yang bersabar dan istiqomah dalam menekuni jihad, hanya Alloh ta’ala lah yang mengetahuinya.

Alloh ta’ala berfirman :

إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِير

“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Alloh akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. [At Taubah :39)
Dan sekarang marilah kita memahami ayat tersebut sebagaimana para ulama’ memahaminya.
Ibnu al ‘Arabi berkata: ” Siksa pedih di dunia adalah berkuasanya musuh atas diri kita dan diakhirat adalah api neraka” [Tafsir al Qurtuby 8/142]
Al Qurtubi berkata:”Telah dikatakan pengertian dari ayat ini bahwa pergi berjihad diwajibkan pada saat yang diperlukan, pada saat datangnya pasukan orang kafir dan saat berkecamuknya perang”
Kebanyakan manusia adalah mencintai kehidupan, mamang hak ini tidak terlarang, namun yang tercela bila kita lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Padahal untuk mencapai kehidupan hakiki (akhirat) kita dituntut untuk mengorbankan apa yang kita miliki mulai dari harta kita, waktu kita hingga nyawa kita. Kita korbankan itu semua untuk melepaskan diri dari siksa api neraka.
Maka marilah berdagang dengan perdagangan yang akan menyelamatkan kita dari api neraka.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ {} تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ {} يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?* (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya,* niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar”. (QS. Ash Shof : 10-12)

Alloh ta’ala berfirman :

انْفِرُوا خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. At Taubah [9] :41)
Inilah pangilan Rabb semesta alam, kepada siapakah ayat ini ditujukan? Tentunya kepada manusia yang beriman kepada Nya.
Al Qurtuby mengutip sepuluh pendapat yang berbeda tentang penafsiran kata ”Berat” dan “Ringan”.
1. Menurut Ibnu Abbas ta’ala ; “Berat” adalah muda dan “Ringan” adalah tua
2. Menurut Ibnu Abbas dan Qotadah “Ringan” memiliki hasrat serta keinginan yang kuat serta ”Berat” adalah malas dan enggan.
3. Menurut Mujahid; ”Berat” adalah miskin dan “Ringan” adalah kaya.
4. Menurut Hasan al Bashri; ”Berat” adalah tua dan “Ringan” adalah muda.
5. Menurut Zaid bin Ali dan Al Hakan bin Utaibah; ”Berat” adalah sibuk dan “Ringan” adalah santai.
6. Menurut Zaid bin Aslam ; ”Berat” adalah yang sudah berkeluarga dan “Ringan” adalah bagi yang masih bujang.
7. Menurut Ibnu Zaid :”Berat” adalah orang yang sudah bekerja dan “Ringan” adalah orang yang menganggur.
8. Menurut al Auza’I; ”Berat” adalah berkendaraan dan “Ringan” adalah dengan berjalan kaki.
9. “Ringan” adalah mereka yang bersegera menuju medan perang dan berada di barisan depan.
10. Menurut An Naqqosh; ”Berat” bagi penakut dan “Ringan” bagi pemberani.

Penafsiran yang tepat Wallohu ‘alam adalah bahwa manusia diperintah maju untuk berperang secara keseluruhan yaitu “majulah, apakah aktifitas itu ringan dan mudah bagimu atau berat dan sukar”.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hukum jihad saat ini adalah fardhu ‘ain, sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah:” Jika musuh merampas tanah kaum muslimin dan merusak din serta dunia, maka kewajiban pertama sesudah beriman adalah memerangi dan mengusir mereka” (lihat Fatawa al Kubra 4/520)
Salah seorang sahabat Rasulullah, Abu Tolhah ketika itu beliau sudah berumur 80 tahun, ketika menanggapi ayat tersebut beliau mengatakan: ”Tua atau muda, sungguh Alloh ta’ala tidak memberikan keringanan bagi siapapun, wahai anakku persiapkan bekal untukku karena aku akan maju berperang” maka anaknya berkata:” Semoga Alloh ta’ala memaafkan engkau wahai ayah, engkau telah berperang bersama Rasulullah sampai beliau wafat, engkau telah berperang bersama Abu Bakar ta’ala sampai ia wafat, demikian pula engkau telah berperang bersama Umar hingga iapun wafat, maka biarlah kami sekarang yang akan menggantikan (mewakili) engkau berperang”. Namun Abu Tolhah berkata; ”Sungguh sekali-kali tidak”. Maka berangkatlah beliau maju ke medan laga dan menemui kesyahidan di laut. Kaum muslimin tidak menemukan pulau untuk menguburkan jasad beliau kecuali setelah lewat tujuh hari dan Alloh ta’ala pun menjaga jasad beliau dari kerusakan.
(lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/97. Al Ishobah Ibnu Hajar, 1/567)
Demikianlah wahai saudaraku, seorang sahabat yang sebetulnya sudah mendapat udzur untuk tidak berjihad, namun ia tetap melaksanakan perintah jihad ini walaupun beliau sudah tua, lalu bagaimanakah kita sekarang? Usia kita belumlah setua beliau, badan kita segar bugar, kitapun mampu menjalankan perintah ini jika kita mau, namun kita selalu mencari alasan untuk menghindar dari kewajiban jihad ini. Apakah kita tidak membaca firman Alloh ta’ala :

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُولِ اللهِ وَكَرِهُوا أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ وَقَالُوا لاَتَنفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh dan mereka berkata:”Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah:”Api naar Jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, jikalau mereka mengetahui”. (QS. At Taubah : 81)
Dan Alloh ta’ala juga berfirman:

وَإِذَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ ءَامِنُوا بِاللهِ وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَئْذَنَكَ أُوْلُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُن مَّعَ الْقَاعِدِينَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang-orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Alloh dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta ijin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata:”Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk”. (QS. At Taubah : 86)
Wahai saudaraku semoga Alloh ta’ala tidak memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang munafik.

Jihad adalah jalan hidup yang telah di jalani oleh para slafush sholeh, jika kalian mengaku mengikuti mereka maka ikutilah apa yang mereka jalani. Mereka tidak hanya bergelut dengan kitab dan sibuk dengan belajar dan mengajar saja. Lihatlah panglima tertinggi ummat Islam Rasulullah , beliau berjihad kurang lebih 27 kali selama hidup beliau, dari jumlah tersebut diantaranya dilakukan dengan terjun langsung ke kancah medan peperangan diantaranya; perang Badar, Uhud, perang Al Muraisyi, Khondak, perang Bani Quraidzah, Fathul Makkah, Hunain dan Thoif. Berapa lamakah beliau hidup di Madainah sesudah Hijrah? kurang lebih 10 tahun, dalam satu tahun beliau berjihad dua sampai tiga kali setahun. Ini Rasulullah lalu bagaimana dengan para sahabat? Setiap kali terjadi pertempuran mereka melesat ibarat burung elang yang menyambar mangsanya.
Sungguh mereka telah mengukir sejarah kegemilangan Islam dengan darah dan ilmu mereka
Telah diriwayatkan bahwa Aslam Abu Amran berkata: “Di Konstantinopel, seorang muhajirin menyerang dengan menerobos barisan musuh hingga ia syahid, saat itu sahabat Abu Ayyub al Anshori bersama-sama dengan kami. Banyak orang-orang yang berkomentar bahwa ia telah menjerumuskan dirinya dalam kehancuran, maka Abu Ayyub berkata: ”Kami lebih mengetahui dan memahami ayat ini daripada kalian, karena kami hadir ketika ayat ini diturunkan kepada Rasulullah. Kami bersama-sama Rasulullah , kami mengalami berbagai hal dan membantu beliau. Kemudian ketika Islam telah menyebar dan menang sekelompok sahabat Anshor terikat dalam jalinan saling mengasihi antara sesamanya, suatu hari mereka berkumpul bersama dan berkata: ”Alloh ta’ala telah menganugerahkan kepada kita pertalian yang erat dengan Rasulullah sehingga Islam tersebar luas dan pengikutnya semakin banyak. Kita lebih mencintai Rasulullah daripada keluarga, istri-istri, anak-anak, dan harta benda kita. Tetapi sekarang perang telah berakhir, maka kita akan kembali kepada istri-istri dan anak-anak kita serta tinggal bersamanya. Maka turunlah ayat ini:

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah harta bendamu di jalan Alloh dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan” (QS Al Baqarah : 195).
Jadi sesungguhnya kehancuran itu adalah engkau tetap bersama keluarga dan hartamu dan kalian meninggalkan jihad. (al Hakim di dalam Mustadraknya 2/275 menegaskan derajat keshohihannya dan ad Dzahaby sependapat dengannya.
Ikrimah meriwayatkan tentang Dhomrah bin Al Ays, seorang yang sakit dan tertindas di kota Makkah. Ketika mendengar perintah Alloh ta’ala untuk berhijrah , maka iapun berkata: ”Bawa aku pergi !” maka diapun diusung untuk berhijrah dan beliau wafat di Tan’im sekitar 2 Km dari Makkah. (Tafsir al Qurtuby 5/347)
At Thobary meriwayatkan bahwa Miqdad bin al Aswad terlihat di tempat pertukaran uang di Emessa. Ketika itu ia menyandarkan tubuhnya yang amat gemuk ke sebuah meja. Seseorang yang melihatnya berkata padanya: ”Alloh ta’ala telah mengampunimu (untuk tidak berjihad). Mendengar ucapan tadi ia mengatakan: ”Surat yang memerintahkan kita untuk berperang telah turun. Alloh ta’ala berfirman:”Berangtkatlah dalam keadaan ringan maupun berat”
Az Zuhri mengatakan; ”Said bin al Musyayyib berangkat berjihad, padahal ia adalah seseorang yang salah satu matanya buta, maka seseorang berkata padanya: ”Engkau orang yang cacat”, namun said berkata:”Alloh ta’ala memerintahkan kita untuk berangkat dalam keadaan ringan maupun berat, jika aku tidak mampu bertempur paling tidak aku akan menambah jumlah kalian dan dapat ditugaskan untuk menjaga perlengkapan.
Telah diriwayatkan bahwa seseorang melihat, di pertempuran yang terjadi di Syam, seseorang yang memiliki kelopak mata yang telah sangat berkerut serta terjuntai karena usianya sudah sangat tua. Maka salah seorang berkata padanya: ”Wahai paman sesungguhnya Alloh ta’ala telah mengampunimu (dari tidak berperang) maka orang tersebut berkata: ”Wahai anakku kita diperintahkan berperang baik dalam keadaan berat maupun ringan. ( Lihat tafsir al Qurtubi 8/151)
Aduhai kepahlawanan mereka dalam membela Islam tiada duanya. Apakah kalian tidak ingin seperti mereka?
Inilah Abdullah bin Mubarok, beliau berkelana sejauh 2.600 Km dengan tunggangannya dari satu kota ke kota lain hanya dalam rangka berperang di jalan Alloh ta’ala.
Begitu juga Zuhair bin Qumair, pada suatu ketika ia berkata: ”Empat puluh tahun lamanya aku berharap dapat makan daging dan tidak akan aku lakukan hingga aku berhasil masuk kota Roma dan akan aku penuhi nazarku ini dari harta rampasan orang Romawi (Tadrib al Madarik, al Qodhi Iyyadh 3/249)
Begitu pula Urwah bin Al Ja’d yang di rumahnya ada 70 ekor unta yang hanya dikhususkan untuk dibawa pergi berjihad (Tahdzibul Asma’ wal Lughot 1/131)
Masih ada lagi Muhammad bin Wasi’ seorang muhaddist yang sholeh telah berpartisipasi terjun dalam berbagai bentuk ekpedisi serta menjaga garis depan hingga komandan Qutaibah bin Muslim Al Bahili berkata: ”Aku amat suka setiap kali pertempuran berkecamuk melihat bagaimana telunjuk Muhammad bin Wasi tertuju ke langit, jauh lebih aku sukai daripada 100.000 pedang yang masyhur dan pemuda yang gagah berani” (Al Mashuq fill jihad 66)
Lain lagi dengan Ahmad bin Ishaq As Sulami yang suatu ketika berkata: ”Aku tahu dengan yakin bahwa pedangku telah mampu membunuh 1.000 orang Turki. Jika saja ini bukan bid’ah tentu aku meminta supaya pedangku ikut dikubur bersamaku” (Tahdzibut Tahdziib 1 / 4)
Tidak ketinggalan, Abu Ubaidillah bin Quds yang telah mampu membunuh banyak orang Kristen dengan tangannya di Spanyol. (Al Mashuq fil jihad 77)
Juga Umar Mukhtar, dimana komandan Girasiyani berkomentar: ”Dia terjun dalam 263 pertempuran menghadapi pasukan saya selama lebih dari dua puluh bulan. Total pertempuran yang telah dijalaninya berjumlah 1.000 kali.
Selanjutnya adalah syekh Muhammad Al Fargholi, setiap kali dia memasuki kota Al Ismailiyah orang-orang Inggris mengumumkan darurat perang dan mereka menyedikan 50.000 ponsterling kepada siapa yang mampu menangkapnya hidup atau mati.
Begitu pula Yusuf Talat yang mendapatkan gelar “Penjagal Inggris” karena banyaknya orang Inggris yang berhasil ia bunuh di terusan Suez.
Begitu pula Muhammad Banna salah seorang mujahidin Afghon, beliau menceritakan bahwa pasukaannya pernah menghancurkan 400 kendaraan militer Uni Sovyet. Orang-orang Russia memanggilnya “The General”. Ia telah merampas 200 pucuk Kalakov dan 200 pucuk AK 47 Kalasnikov, ia juga pernah menghancurkan 150 tank musuh dalam satu kali operasi saja.
SubhanAlloh laa haula wa laa quwwata illa billah sungguh kepahlawanan manusia-manusia yang benar-benar mendapatkan anugerah dan pertolongan Alloh ta’ala sehingga mereka bisa berbuat demikian, memang … mereka Alloh ta’ala tolong karena mereka telah menolong agama Alloh ta’ala,

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ اْلأَشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat) “, (QS. Al Mukmin : 51).
Mereka menjual jiwa yang merupakan harta paling berharga bagi manusia dan Alloh ta’ala pun membelinya, sungguh Alloh ta’ala sekali-kali tidak akan menyelisihi janji Nya.

إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنجِيلِ وَالْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيم

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Alloh, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubah :111)
Maka sungguh rugi dan celakalah bila manusia lebih memilih diam diri dari berjihad dan merasa dirinya mendapat udzur padahal ia tidak mendapatkannya

Alloh ta’ala berfirman:

وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Alloh dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a:”Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”. (QS. 4:75)
Inilah jihad….dan mengapa kita berjihad. Jihad ditegakkan dalam rangka membela kaum muslimin yang tertindas, melindungi dan membebaskan mereka dari kedzoliman musuh-musuh Alloh ta’ala. Berapa banyak ulama’-ulama yang tsiqoh akan ajaran Islam dijebloskan ke dalam penjara baik oleh pemerintahan kafir maupun antek-antek mereka….
Ibnu al ‘Arabi berkata: “Sesungguhnya mempertanggung jawabkan keberadaan mereka (muslim yang ditawan musuh) adalah tegas (wajib), menolong mereka adalah wajib, sehingga tidak ada diantara kita yang sempat memicingkan mata, bahkan kita wajib mengerahkan pasukan demi membebaskan mereka, jika memang bilangan kita mencukupi, atau kita berusaha mati-matian, seoptimal mungkin mengumpulkan harta demi membebaskan mereka sehingga tak tersisa satu dirhampun pada diri kita”. Hal demikian juga dikatakan Imam Malik dan seluruh ulama’
Berapa banyak kaum muslimah yang kehilangan kehormatannya dan masih berapa bayak lagi anak-anak serta para orang tua yang harus menanggung derita terjajah oleh tentara kafir. Masih kurangkah kaum muslimin yang menjadi korban di negeri para syuhada’ Afghonistan? Masih terlalu sedikitkah anak-anak yatim dan janda-janda yang terlantar dan terbunuh di Iraq? Dan seandainya kita melihat sejarah, sungguh darah ummat Islam begitu murah ditumpahkan di berbagai belahan bumi mulai dari Palestina, Kasmir, Philipina, Thailand, Indonesia, China dan masih banyak lagi yang hingga sekarang tinta sejarah ummat Islam belum kering mengukirnya dengan tetesan darah.
Sungguh tubuh kaum muslimin tercabik-cabik menjadi santapan srigala-srigala kafir. Akankah kita tetap diam? Bukankah kalian membaca sabda junjungan shollallohu ‘alaihi wa sallam :
“Hilangnya dunia masih lebih ringan di sisi Allah dari pada terbunuhnya seorang muslim” (Lihat tafsir Ibnu Katsir 1/534)
Juga sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam
“Jika penduduk langit dan bumi berkumpul untuk membunuh seorang muslim, maka Alloh kelak akan membalikkan wajah mereka semua ke dalam neraka” (HR Ath Thobroni dalam Ash Shoghir)
Telah menjadi kesepakatan para ulama’ jika satu orang muslimah tertawan dan diperlakukan tidak adil, maka kaum muslimin wajib membelanya dan pada waktu itu jihad menjadi fardhu ‘ain. Lalu bagaimanakah pendapat kalian dengan kondisi kita hari ini???
Dalam hadist Hasan yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Jabir bahwasannya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam ta’ala bersabda:
”Tidaklah satu orang muslimpun yang tidak menolong saudaranya, diasaat saudaranya itu tengah memerlukan pertolongannya untuk membela kehormatannya dan harga dirinya, melainkan Alloh ta’ala pun pasti tidak akan menolongnya di saat ia membutuhkan pertolongan. Demikian juga tidaklah seorang muslim yang menolong saudaranya untuk membela kehormatan dan harga dirinya, niscaya Alloh ta’ala pasti akan menolongnya di saat ia tengah membutuhkan pertolongan” (lihat Shohih Jami’: 5566)
Dimanakah jiwa-jiwa yang sangup mengikuti jalan para pendahulunya? Dimanakah gerangan singa-singa tauhid yang siap menerkam dan menghancurkan musuh-musuh Alloh ta’ala? dimanakah gerangan Mu’tashim? ketika beliau mendengar jeritan seorang muslimah yang tinggal di Umuriyah mendapatkan tamparan dari seorang Romawi, maka dikirimlah 40.000 pasukan untuk membebaskannya.
Dan dimanakah gerangan Al Mansur bin Abu Amar? Seorang raja yang berwibawa di Andalusia, setelah selesai dari peperangan dengan membawa kemenangan datanglah seorang ibu muslimah seraya berkata: “Anda dan orang lain berbahagia, sedangkan aku menangisi putraku yang ditawan pasukan asing” maka spontan raja Al Mansur membatalkan niatan ke istana dan berbalik memerintahkan pasukannya menghajar pasukan kafir hingga berhasil membawa putra yang tertawan tadi.

Wahai saudaraku … Sungguh kita sangat merindukan syahid, sebaimana para generasi sebelum kitapun merindukannya.
Alloh ta’ala berfirman:

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوا فِي سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْياَءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah kamu sekali-kali mengira bahwa orang yang terbunuh Fii sabiilillah itu mati, melainkan (mereka) hidup disisi Rabb nya dengan mendapatkan rizki” (QS. Ali Imron : 169)
Alloh ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتُُ بَلْ أَحْيَآءُُ وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al Baqoroh :154)
Adakah kematian yang lebih nikmat daripada mati syahid? Bukankah Alloh ta’ala telah menjajikan pahala bagi mereka yang syahid dijalan Nya dengan pahala yang besar? Marilah kita renungkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Tirmidzi dari Miqdam bin Ma’d, bahwasannya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda;
”Alloh ta’ala menjamin tujuh hak bagi para syuhada’ ; dia diampuni sejak tetes darah pertama yang keluar dari tubuhnya, ia akan ditunjukkan tempatnya di jannah, ia akan mengenakan pakaian iman, ia akan dinikahkan dengan tuju puluh dua bidadari, ia akan terbebaskan dari adzab kubur, ia akan terbebas dari goncangan dahsyat pada hari qiamat nanti, diatas kepalanya akan disematkan mahkota kehormatan dimana satu mutiaranya adalah lebih baik daripada dunia seisinya, dan ia akan mendapatkan hak untuk memeberi syafaat kepada 70 kerabatnya.( Lihaat shohih al Jami’ no 5058)
Dalam sebuah hadist yang lain, diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Alloh ta’ala telah menyediakan seratus ketinggian derajat bagi para mujahidin, jarak antara satu derajat dengan lainnya sejauh antara langit dan bumi, jika kalian memohon, maka memohonlah Jannah firdaus yang tertinggi….” (Lihat Fathul Bârî 6/9)
Wahai saudaraku inilah jihad ibadah yang sangat agung sehingga Alloh ta’ala pun menyediakan pahala yang tinggi bagi mereka yang siap mengemban amanat ini. Inilah jihad, yang merupakan penjaga dari ajaran-ajaran Islam.
Wahai saudaraku inilah jihad, jika engkau mati, maka engkau syahid biidznillah insya Alloh, jika engkau diusir, maka itu adalah siyahah, jika engkau dipenjara, maka penjara adalah tempat kalian berkholwat dengan Alloh ta’ala.
Inilah jihad, dengannya Alloh ta’ala menjadikan ummat ini mulia, inilah jihad, dengannya Alloh ta’ala membuka pintu akhirat, Ia mendapatkan kehormatan berkumpul dengan para anbiya’, shiddiqin dan para sholihin…… inilah jihad….…

Sesungguhnya ummat ini bila mereka enggan berjihad Alloh ta’ala akan hinakan mereka. Alloh ta’ala akan menjadikan musuh berkuasa atas diri kita,.… bukankah kita ummat yang mulia??… Milik siapakah kemuliaan itu?

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَيَعْلَمُونَ

“Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Alloh, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui “. (QS. Al Munafiqun : 8).
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kalian berjual beli dengan ‘Înah, kalian mengambil ekor-ekor sapi, kalian ridho dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad, maka Alloh akan timpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abû Dâwud.
Sesungguhnya kehinaan yang di alami kaum muslimin sekali-kali tidak akan Alloh ta’ala cabut hingga kita berlepas dari kehinaan dengan berjihad.
Maka janganlah kita sekali-kali meletakkan kehinaan itu diatas pundak kita. Rasulullah bersabda shollallohu ‘alaihi wa sallam:
” Barangsiapa yang menyerahkan kehinaan dirinya – kepada musuh – dengan tanpa sebab dipaksa maka ia bukanlah dari golongan ku”. (Al Hadist)

Alloh ta’ala berfirman:

فَقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَسَى اللهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاللهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَاَشَدُّ تَنْكِيْلاً
Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Alloh menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Alloh amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya). (QS. An Nisaa’ :84)
Alloh ta’ala telah memerintahkan kita untuk berperang serta mengobarkan semangat kaum muslimin untuk berperang dengannya Alloh ta’ala akan menolak serangan orang-orang kafir kepada kita.

Alloh ta’ala berrfirman:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِن يَّكُن مِّنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِّنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَيَفْقَهُونَ

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”. (QS. Al Anfal :65)
Dalam sebuah hadist shohih yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Abu Daud dari Tsauban, bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُوشَكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرُ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُودَ ، وَفِي رِوَايَة ِلأَحْمَدَ : حُبُّكُمُ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَتُكُمُ الْقِتَالَ .

“Hampir-hampir kalian akan diperebutkan oleh ummat-ummat lain sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampannya. Ada yang bertanya, “Apakah lantaran kita sedikit kala itu?” beliau bersabda, “Bahkan kalian banyak ketika itu, namun kalian adalah buih laksana buih air, dan Alloh benar-benar akan mencabut rasa segan kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Alloh benar-benar akan melemparkan ke dalam hati kalian ‘Al-Wahn.’ Maka ada yang bertanya, “Apakah Al-Wahn itu wahai Rasululloh?” beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci mati.” (HR. Abû Dâwud) dalam riwayat Ahmad disebutkan : “Kecintaan kalian kepada dunia dan kebencian kalian kepada perang.”
Alloh ta’ala berfirman:

أَلاَتُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَّكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُم بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَوْهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ {} قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ

“Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Alloh-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Alloh akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Alloh akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah : 13-14)

Muadz bin Jabal meriwayatkan dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam: ”Ibadah yang paling tinggi nilainya adalah jihad” (lihat shohih aat Tirmidzi)
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari jalan Abu Said al Khudri: ”Dan hendaklah engkau menegakkan jihad karena jihad itu adalah wadah dan sarana bagi ummat untuk merenungi diri” (Shohih Imam Ahmad 3/82)
Dengan jihad seorang muslim akan mendapatkan posisi tertinggi di sisi Alloh ta’ala
Al Fadhli bin Ziyad berkata: ”Saya sedang mendengarkan Abu Abdullah Ahmad bin Hambal berbicara mengenai musuh, kemudian beliau menangis seraya mengatakan bahwa tiada perbuatan yang lebih baik selain memerangi mereka.
Riwayat lain menyebutkan beliau berkata: ”Pergi menghadapi musuh adalah perbuatan yang tidak ada bandingnya dan pertempuran satu lawan satu berhadap-hadapan adalah perbuatan yang paling mulia. Mereka yang berperang menghadapi musuh adalah mereka yang sungguh-sungguh melindungi dan menjaga Islam beserta kedua tanah sucinya. Perbuatan apalagi yang lebih mulia daripada itu? Mereka membebaskan rasa takut yang mencekam hati ummat dan mereka mengorbankan nyawa mereka. (lihat al Mughni 8/348-349)

Seruan

ahai Saudaraku se Islam……
Jika sudah jelas apa yang kami paparkan dari alasan-alasan kenapa kami melaksanakan jihad ini, sekarang kalian paham bahwa jihad adalah fardhu ‘ain atas setiap muslim sampai seluruh bumi kaum muslimin terbebaskan.
Wahai Saudaraku se Islam…..
Sungguh ini merupakan perkataaan yang berat, sedangkan mengamalkannya adalah wajib, oleh sebab itu laksanakanlah apa yang Alloh ta’ala wajibkan atas kalian. Sungguh nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah telah memangil kalian
Wahai para pemuda……
Kalian harus bertaubat dari sikap duduk-duduk, kalian harus bartaubat dari sikap tidak ikut berjihad, bergabunglah dengan kafilah mujahidin, berjihadlah kalian bersama mereka, atau paling tidak memperbanyak jumlah mereka.
Wahai saudaraku……
Jika kalian tidak mampu berjihad karena memang kalian termasuk orang yang memiliki udzur, maka berjihadlah dengan harta kalian, sedekahkanlah apa yang telah Alloh ta’ala titipkan pada kalian. Jika kalian tidak mempunyai harta, maka berjihadlah dengan lisan kalian. Jika dengan lesanpun kalian tidak mampu maka sungguh perut bumi lebih baik bagi kalian daripada punggungnya.
Wahai saudaraku …..
Marilah berangkat untuk membela agama kita, berangkatlah memenangkan kemuliaan Rabb kita dan menjunjung tinggi sunnah Rasul kita.
Saudaraku….marilah….hunus pedang kita, pacu kuda kita, singkirkan kehinaan dari ummat ini, jika bukan kita? lalu siapakah yang akan mengemban tanggung jawab ini? Kalau tidak sekarang, kapan lagi??…
Wahai saudaraku…
Marilah kita berkaca…kisah tanah Bukhoro yang bersimbah darah, Palestina yang dibantai dengaan keji oleh Israel, Aden yang terbakar, orang-orang yang tertindas di Kasymir, derita tanah Andalusia Spanyol, kekejaman mengerikan yang dihadapi Eriteria, luka perih Bulgaria, tragedi Sudan, daging yang terkoyak dan tercecer di sepanjang Lebanon, Somalia, Burma, Thailand, luka yang kembali menganga di Checnya, Irak, Negeri Philipina, serta wilayah-wilayah muslim yang membentang dari timur hingga barat. Bukankah dalam kisah mereka terdapat pelajaran? Akankah penderitaan mereka dan yang kita alami di negeri kita cukup hanya kita jadikan kajian ilmiyah? Kemudian kita hanya mengangkat tangan dan berdo’a laa haulaa wala quwata illa billaah tanpa ada usaha dan upaya? Akankah pengorbanan mereka tidak menjadikan kita tergerak untuk membantu dan membela mereka? Akankah kita terdiam dan terus terdiam hingga akhirnya Alloh ta’ala akan menggantikan kita dengan kaum yang mereka mencintai Alloh ta’ala dan Alloh ta’ala pun mencintai mereka??
Belum tibakah saatnya kita mengatakan jihad di wilayah kita fardhu ‘ain? Akankah kita belum memasuki fase jihad? Akankah kita melaksanakan jihad sepuluh atau duapuluh tahun mendatang dengan alasan ingin membina ummat, setelah itu kita beri mereka senjata dan konfrontasi langsung dengan mereka? Kemudian kita tidak mau berjihad sekarang, padahal musuh-musuh Alloh ta’ala telah berdiri dihadapan kita? Akankah bumi Afghonistan, Aljazair, wilayah Aceh dll kurang menjadi gambaran?
Kita memohon kepada Alloh ta’ala agar kita dijadikan ummat pilihannya untuk membela dan mempertahankan din Nya… kita memohon agar Alloh ta’ala memberikan kemenangan kepada para mujuhidin dan menghinakan musuh-musuh Alloh ta’ala.
Wahai saudaraku…
Berdirilah bersama kami… walaupun hanya sesaat…
Wahai saudaraku….
Buanglah selimut kemalasan yang menutupi tubuh kita dan marilah kita songsong kemuliaan Islam dengan jihad…
Wahai saudaraku….
Jika kalian merasa belum mampu…merasa lemah biarkanlah kami yang melaksanakan kewajiban ini.. dan hanya kepada Alloh ta’ala lah kami bersandar….maka janganlah kalian mengendorkan langkah kami…janganlah kalian suka mencari aib para mujahidin….. Sungguh diamnya kalian lebih kami sukai daripada mulut kalian banyak mencela, banyak komentar tanpa berbuat nyata…
Kepada saudaraku yang siap dan sedang menegakkan amaliah jihadiyah kami wasiatkan kepada kalian, untuk senantiasa memperbaiki niat hanya mengharap Wajah Alloh ta’ala semata, memohonlah kepada Alloh ta’ala agar diberi keistiqomahan dan kesabaran, kami wasiatkan kepada kalian sebagaimana yang telah dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
“Dan meninggalkan serta menjauhi mereka, iblis yang menggoda serta manusia yang bertabiat jahat, manusia yang menganjurkan bid’ah dan menganjurkan perubahan-perubahan dalam agama, kelompok manusia yang bergelimang dosa dan kejahatan, serta mereka yang membantu atau berhubungan dengan manusia yang melakukan hal-hal tersebut. Demikian pula dalam masalah jihad, tidak ada keuntungan yang dapat diambil jika menjalin hubungan dengan orang-orang yang mengabaikan dan meninggalkan jihad. Dalam masalah jihad ini, kita akan terkena azab jika tidak membantu mereka yang menegakkan jihad dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Para pezina, homosexual, mereka yang mengabaikan dan meninggalkan jihad, para pelaku bid’ah, peminum alkohol, dan pecandu obat – obatan serta lainnya yang terkait dengan kelompok-kelompok di atas adalah yang menjadi perusak agama ini. Mereka semua tidak akan mau diajak bekerja sama menegakkan kebenaran dan berbuat kebajikan. Jadi siapapun yang tidak bersungguh-sungguh menghindari mereka dan malah menjadikan mereka sebagai kawan, maka pada kenyataanya telah mengabaikan apa yang telah diperintahkan Islam kepadanya dan sungguh telah melakukan perbuatan tercela” (lihat Majmû‘ Fatâwâ 15/313)
Demikianlah, dan kita memohon kepada Alloh agar menjadikan kita termasuk orang yang mendengarkan perkataan kemudian mengikuti yang terbaik, serta memberi taufik kepada kita terhadap perkara yang Ia ridhoi dan sukai, serta menghilangkan kehinaan dan kenistaan ummat ini dengan kembalinya mereka kepada Jihad dan iltizam kepada syariat Rabbul ‘alamin.

Yaa Alloh limpahkanlah sholawat dan salam atas penghulu para mujahidin; Rasulullah Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat beliau serta generasi sesudah mereka yang senantiasa meniti jalan Mu….

Ikhtitam

Dengan mengucap syukur Al Hamdulillah, risalah ini selesai kami susun dengan segala keterbatasan, kami memohon para ihwan yang mempunyai waktu dan referensi yang lebih baik untuk memperbaiki beberapa kesalahan yang ada.
Hanya kepada Alloh ta’ala kami memohon agar apa yang kami lakukan termasuk amal sholeh dan kami berlindung kepada Alloh dari segala keta’ajuban dan riya’ pada diri sendiri.

Fahros

No Judul Hal

01 Muqoddimah ………………… 5
02 Alasan pertama:
Agar orang kafir tidak menguasai ummat Islam……. 11
03 Alasan kedua:
Sedikitnya orang yang siap mengemban amanat jihad….. 16
04 Alasan ketiga:
Takut ancaman api neraka…. 20
05 Alasan keempat:
Memenuhi panggilan Alloh… 23
06 Alasan kelima:
Mengikuti jejak salafush sholeh…………………………. 30
07 Alasan keenam:
Membela dan melindungi kaum muslimin……………… 41
08 Alasan ketujuh:
Mengharap syahadah dan Jannah tertinggi……………… 47
09 Alasan kedelapan:
Jihad adalah perisai kehormatan ummat…………. 51
10 Alasan kesembilan:
Menjaga kehormatan ummat dan serangan orang kafir…… 53
11 Alasan kesepuluh:
Jihad adalah bentuk ibadah tertinggi dan terbaik kepada Alloh………………………….. 57
12 Seruan…………………………… 59
13 Ihtitam…………………………… 68
14 Fahros……………………………. 69


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: