Beranda » Intermezo... » Malam pengantin…???

Malam pengantin…???


MALAM PENGANTIN

Banyak muda-mudi mengharap-harapkan tibanya malam pengantin terutama para pemudi. Umumnya mereka mengistilahkan malam pengantin dengan “malam kehidupan” artinya tahun saat diumumkannya pernikahan, diselenggarakannya resepsi pernikahan dan diperbolehkannya menyanyi serta memukul rebana.
Wal hasil wanita menunggu-nunggu pesta pernikahan sebagai momen kehormatannya dan pakaian pengantin berwarna putih dengan harapan semoga Alloh l menjadikan hidup-kehidupan kedua mempelai senantiasa bersih seputih pakaian yang dikenakan seraya berharap agar istri senantiasa mengingat-ingat malam pengantinnya kemudian hari kelak. Apabila suami menyianyiakan malam resepsi pernikahan istrinya, dikhawatirkan melukai hatinya yang berbuntut pada menyalah-nyalahkan suaminya di kemudian hari lantaran kurang meriahnya resepsi pernikahan istrinya. Makanya suami mesti memprioritaskan benar menurut kemampuan agar pesta pernikahannya diupayakan sedemikian marak dan demi memuliakan istrinya dengan resepsi pernikahan layak, tidak berlebihan dan tidak pula menyianyiakan.

Hal-hal diharamkan di malam pengantin
Tujuan walîmatu `l-´ursi (resepsi pernikahan) yang terpenting adalah pemberitahuan akad nikah, mengumpulkan handai taulan serta kawan-wan untuk bersuka-ria dan mengucapan kata selamat kepada kedua mempelai. Namun seringkali walîmatu `l-´ursi (resepsi pernikahan) disalah artikan untuk pamer, menyombongkan diri dan berlebih-lebihan. Tentu saja ini pelanggaran terhadap peraturan Alloh l :
« … وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللّهِ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ»‏
“…Barangsiapa melanggar peraturan Alloh, maka mereka itulah orang-orang yang zholim.” (Al-Baqoroh [2] : 229)
Alloh l telah mencela tindakan berlebih-lebihan sebanyak 22 ayat dalam Al-Quran dengan sangat jelas dan mendasar :
« … كُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ »‏
“ …Makanlah, minumlah dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A´rôf [7] : 31)

Bukankah membelanjakan harta secara boros dan menghambur-hamburkannya hanya dalam satu malam saja itu haram, sedangkan suami boleh jadi sangat memerlukan harta tersebut (lantaran sangat papa). Realita telah membuktikan hal itu, namun kita pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar, walaupun mereka bukan dari kalangan kita, meski di sisi lain masih ada beberapa sampel yang baik dari kalangan orang-orang yang bersahaja dalam menyelenggarakan resepsi pernikahan dan mereka berusaha meringankan beban pengantin pria, namun sampel tersebut sangat jarang.
Wahai saudaraku yang aku cintai, tidak penting kita mengomomongkan orang lain dan keburukan mereka, camkanlah sendiri seandainya anda melakukan itu toh anda sendirilah yang akan membayar hutang yang menumpuk, sedangkan orang lain yang mempengaruhi anda untuk melakukan demikian, mereka lepas tangan dari anda.

Prossesi perkawinan

Tradisi orang-orang Nasrani sudah membudaya serta merebak di kalangan kita, mereka bangga dengan tradisi itu seraya menilai prioritas yang harus ada dalam acara malam pengantin, di mana pengantin wanita mengenakan pakaian putih besar berpancung, dilengkapi pernak-pernik hiasan hingga mempelai wanita tidak bisa berjalan tanpa dibantu beberapa wanita-wanita lain, di samping itu mengenakan selendang dan dua sarung tangan sangat tipis serba putih, di tangannya memegang bunga dalam kondisi rambut kepala, kedua pundak, leher dan sebagian dada telanjang, kemudian ditempatkan pada tempat tinggi yang disaksikan banyak orang, duduk di atas sofa yang disebut bed pelaminan pengantin, kemudian pengantin pria dipertemukan dan dipersandingkan dengannya, padahal di depannya ada sejumlah wanita. Terkadang pengantin pria menciumnya tanpa rasa malu, saling bicara memadu cinta, saling bergantian meminumkan. Menurut mereka, semua itu keberhasilan prinsip dan norma yang dibuat manusia, agar perkawinan mereka mencapai kehormatan setinggi-tingginya tanpa memikirkan mafsadah serta dampak buruk yang terjadi ketika itu. Di antara mafsadahnya serta dampak buruknya adalah :
1) Kurangnya rasa malu ketika mempelai pria berdansa bersama mempelai wanita, terutama saat adegan bercumbu mesra, saling merebahkan tubuh dan ciuman, padahal itu tidak boleh dipertotonkan kepada seorangpun selain mereka berdua.
2) Berbaurnya lelaki dan perempuan, khususnya antara kerabat mempelai pria dan kerabat mempelai wanita, di antara mereka bukan mahrom mempelai pria, dengan kata lain mempelai pria melihat banyak wanita yang bukan mahromnya. Di samping itu aroma parfum wanita yang harum semerbak, pakaian ketat, pendek, anting-anting dan celah-celah pakaian yang seringkali mencapai ujung paha. Kesemua dilakukan dengan dalih bersuka-ria.
3) Tukar cincin. Pada mulanya mereka berdalih bahwa cincin diperbolehkan buat pria dan wanita, dengan kata lain dihalalkan oleh Alloh, namun perlu kita ketahui bahwa emas tidak boleh dipakai kecuali oleh wanita, sedangkan bagi pria haram hukumnya. Rosûlulloh n bersabda :

« إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِيْ، حِلٌّ لإِنَاثِهِمْ »
“Sungguh keduanya (sutera dan emas) haram buat lelaki umatku
dan halal buat wanita mereka.”

Ketika Nabi n melihat cincin emas di tangan seorang lelaki, bersabda :
« أَ يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فََيَجْعَلَهَا فِيْ يَدِهِ »
“Apakah ia sengaja menginginkan bara api neraka, hingga ia
menaruhnya di tangannya.”

4) Foto. Tahukah anda bahwa foto atau gambar adalah fitnah era moderen, di mana jarang sekali rumah terbebas dari padanya, kecuali yang dirahmati Alloh l . Umumnya gambar pada era kini digunakan sebagai sarana penghancur, sebab dijadikan sebagai nilai seni majalah, TV dan lain-lain, sampai-sampai pada pesta pernikahan dan juga sms yang diperlengkapi kamera untuk memotret wanita, pada akhirnya gambaar-gambar wanita tadi dilihat para lelaki. Sungguh orang yang merelakan istrinya atau anak putrinya diambil gambarnya berarti telah hilang rasa cemburu dan kekhawatirannya. Makanya bagi wanita yang ingin menjaga kehormatannya, keluhuran pribadinya dan reputasinya jangan sekali-kali melepaskan pakaiannya di luar rumah kecuali amat terpaksa.
5) Dansa para wanita pada acara resepsi pernikahan dan pesta : mestinya dansa dilakukan bersama suaminya, karena dansa halal buat suaminya dan haram buat lainnya. Wanita boleh-boleh saja berdansa bersama suaminya demi memuaskan kecintaannya, atau sama-sama wanita dengan memprioritaskan norma-normanya. Namun persoalannya menjadi berkembang hingga secara lancang wanita membuka aurat padahal itu haram. Mereka mengenakan pakaian trasparan baik terbuka bagian bawahnya atau atasnya atau rok mini atau ketat lagi tembus pandang. Dengan kata lain tidak ada legitimasi buat wanita untuk berdansa dengan pakaian-pakaian tersebut kecuali demi suaminya. Semakin banyak aurat terbuka semakin merangsang perhatian. Malu termasuk indikasi keimanan, sementara malu adalah nilai estetika perempuan, hilangnya rasa malu pada perempuan berarti keburukannya meski cantik rupawan. Pasalnya bila perempuan telah menjadi buruk lantaran hilangnya rasa malu, maka karakter yang disandangnya adalah angkaramurka, porno (cabul), banyak mulut dan selalu siap beraksi liar alias norak. Kami berlidung kepada Alloh dari sikap demikian .

Ashfahânî berkata : “Sebaik-baik perempuan adalah manakala menanggalkan pakaian buat suaminya, maka ketika itulah ia menanggalkan rasa malunya di hadapan suaminya dan apabila ia mengenakan pakaiannya, saat itu pula ia mengenakan malunya dihadapan suaminya”.
Di samping itu ada sebagian wanita sengaja pamer agar dilihat orang saat berdansa, pamer atraksi keindahannya dan berlenggak-lenggok serta bergoyang pinggul di tengah-tengah orang banyak, lantaran hati mereka ketika itu terpikat sesuatu yang mempesonanya. Ia lupa akan rasa syukur sebagai faktor keberkahan dirinya dan lupa berdzikir kepada Alloh l hingga ketika itu mata membidiknya. Rosûlulloh n bersabda :

« اَلْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابِقًا الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ »
“Pengaruh mata itu diakui kebenarannya, seandainya ada sesuatu melampaui takdir, maka matalah yang melampauinya.”

Rosûlulloh n bersabda :
« أَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَ قَدَرِهِ بِالنَّفْسِ »
“Kebanyakan orang yang mati sesudah qodhô´ dan qodar Alloh, lantaran jiwanya.”

Wanita Islam sama sekali tidak ingin ikut-ikutan dalam problematika yang sama sekali tidak bernilai positif selain penilaian wanita-wanita sesamanya : “Dansa Fulanah mengagumkan, atau dansa Fulanah tidak menarik”. Belum lagi kemungkinan adanya kamera-kamera yang membidik gambar, baik hasil bidikannya dipertontonkan maupun hanya disimpan, ini semua kejahatan dan kerusakan hanya Alloh saja yang tahu, sedangkan haramnya jelas dan pasti.
Maka wanita muslimah yang bijak seyogyanya menghindarkan diri dari campur tangan dalam hal-hal riskan tersebut, sebagai antasipasi merebaknya dampak buruk atau minimal tidak sembrono menyikapi itu.
Sebagai langkah preventif terhadap aksi tatapan mata, hendaklah anda menghafal doa dan dzikir ketika keluar rumah sebagaimana diajarkan Rosûlulloh n :
« مَنْ قَالَ ـ يَعْنِيْ إذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ ـ بِاسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللَّهِ ، يُقالُ لَهُ : كُفِيتَ وَوُقِيْتَ وَهُدِيْتَ، وتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطانُ»
“Barangsiapa berdoa (ketika keluar rumah) : “Bismillahi tawakkaltu ´alâ-llôhi lâ haula wa lâ quwwata illâ bi-llâhi” = “Dengan nama Alloh, aku berserah diri kepada-Nya, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Alloh”, niscaya Alloh meresponnya : “Keselamatanmu telah dijamin, kamu telah dipelihara, kamu telah diberi hidayah”, selain itu dia dihindarkan dari gangguan syetan.”

Juga sabda Rosûlulloh n :
« مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ: أعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ مَا خَلَقَ، لَم يَضُرُّهُ شَيْءٌ
حَتَى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ »
“Barangsiapa bertinggal di suatu tempat kemudian berdoa : “´Aûdzu bikalimâti-llâhit tâmmâti min syarri mâ kholaqo” = Aku berlindung dengan kalimat Alloh dari kejahatan apapun Dia diciptakan”, maka ia tidak dicelakai suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu.”
Doa malam pengantin

Ketika dua mempelai memasuki ranjang pengantin baru, maka yang harus dilakukan suami pertama-tama adalah menaruh tangannya di kening istrinya seraya memohon perlindungan kepada Alloh dari kejahatan tanpa memperdengarkan padanya.
Rosûlulloh n bersabda :
« إِذَا تَزَوَّجَ أحَدُكُمُ الْمَرْأةَ فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا ، وَ لْيُسَمِّ اللهَ وَ لْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ ، وَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ إِنيْ أسْألُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وأعُوذُ بِكَ
مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ »
“Apabila salah seorang di antara kamu hendak mensetubuhi istrinya, hendaklah menaruh tangannya pada jambul istrinya, menyebut nama Alloh, memohon berkah dan berdoa : “Allôhumma innî as´aluka min khoirihâ wa khoiri mâ jabaltahâ ´alaihi, wa a´ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ jabaltahâ ´alaihi” = “Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya serta kebaikan apa yang Engkau ciptakan dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya serta kejahatan apa yang Engkau ciptakan.”

Selain berkah wudhu, sholat dan doa. Wudhu dengan air, gerakan sholat dan waktu yang dipergunakan untuk itupun membantu terwujudnya ketenangan kedua mempelai, di samping sebagai persiapan (warming up) menjelang perbincangan antara suami-istri. Yang lebih penting lagi, apapun yang dilakukan suami akan memberikan kesan-pesan singkat kepada sang istri bahwa itulah sikap religious suaminya hingga istri bisa akur serta selaras persepsi sang suami.
Umumnya kedua mempelai merasakan lapar, tak mengapa sepasang suami-istri tersebut makan dan minum apa yang sudah disiapkan sebelum persetubuhan oleh salah seorang saudari suaminya dengan sangat terrencana, jangan lupa matikan lampu kamar, sebagai gantinya adalah cahaya lilin di dekat meja makan, sementara pada meja makan tersebut tersedia susu sebagai sunnah Nabi n, satu gelas diisi sedikit susu untuk diminum melalui mulut gelas (bukan sendok) sedikit demi sedikit hingga syaraf mengendor sepert sediakala.
Perdengarkanlah kata-kata manis nan indah kepada istrimu sebagai indikasi respon hangat, sanjungan, pujian, kasih sayang dan simpati. Janganlah hendaknya besarnya nafsu untuk memecah selaput daranya menyebabkan persetubuhan begitu cepat berlalu tanpa warming up.

BETAPA KECUPAN BAGI KEHIDUPAN
SUAMI-ISTRI

Kecupan atau ciuman memiliki peran penting bagi kesehatan emosi, kejiwaan dan jasmani seseorang. Ibu mencium anak yang dilahirkannya sejak kelahirannya, kemudian anak kecil memperoleh ciuman dari kedua orang tuanya dan kerabatnya, ciuman memiliki peran luar biasa guna menimbulkan kebahagiaan jiwa anak-anak kecil, pasalnya bisa memberikan sensasi cinta, simpati, kehangatan, keamanan dan ketentraman, selain memberikan rasa percaya diri, sebab mereka merasa dicintai dan disayangi.
Kebutuhan manusia akan kecupan tetap berlangsung sepanjang hayatnya. Kerabat dan teman-teman sejawat berpeluk antara satu sama lain dalam berbagai kesempatan, begitu juga suami-istri saling berpeluk cium sepanjang hayatnya meski sudah berusia sangat lanjut.
Tidak selalu peluk-cium antara suami-istri lantaran dorongan seksual bahkan sebagai ungkapan perasaan dan sensasi, karenanya peluk-cium merupakan media signifikan untuk saling memaafkan antara suami-istri. Peluk-cium juga media paling sempurna guna mengungkapkan rasa kagum atau terima kasih atau memberikan motifasi dan lain-lain.
Di antara penelitian terkini, dilakukan salah satu ‘Masakapai Asuransi Jiwa’ di Amerika yang melakukan penelitian intensip tentang efek ciuman bagi kehidupan seseorang, dengan kesimpulan sebagai berikut :
Sungguh ciuman atau kecupan pagi hari antara suami-istri memiliki peran penting untuk penyembuhan dan terapi yang lebih signifikan daripada khasiat buah apel. Sementara suami yang dikecup istrinya di pagi hari sebelum berangkat kerja relatif lebih kecil mengalami kecelakaan ketika mengemudikan mobilnya, karena ia lebih tenang atau lebih sanggup mengontrol sarafnya dan lebih mampu menghadapi berbagai pengaruh dan kelabilan kejiwaan. Di samping itu ia merasa tenang, lapang dan tentram pikirnya, selain merasakan puas, bahagia dan senang. Seorang dokter bernama Kuhlmann mengatakan : “Sungguh penelitian yang dilakukan terhadap beribu-ribu orang mengindikasikan bahwa kecupan pagi hari bisa melepaskan racun-racun tertentu dan senyawa kimia dari dalam tubuh yang berguna memberikan rasa rileks dan ketenangan sebagai refleksi perasaannya”.
Bukankah istri telah mengerti itu dan telah menyadari betapa peran positifnya saat memberikan ketenangan dan ketentraman pada suaminya padahal apa yang ia berikan itu juga menyenangkan dirinya sendiri. Pastikan istri memberikan kecupan-kecupannya yang hangat kepada suami agar ia juga meresponnya dengan cara yang sama. Alangkah indahnya hidup serta kehidupan manakala disertai perasaan cinta-kasih yang saling respon satu sama lain.

PENTINGNYA NALURI SEKSUAL

Naluri seksual sangat fital bagi jasmani, rohani dan juga kehidupan sosial. Keberadaan naluri seksual dalam beberapa sisi laksana air, manakala air itu berlimpah menjadi murah dan menjadi mahal saat ketiadaannya. Demikian halnya dengan seksual, kondisinya akan normal manakala terpenuhi, akan tetapi menjadi mimpi buruk yang menimbulkan halusinasi bagi umumnya orang yang kehilangan. Air yang melimpah saat dibutuhkan sebagai hal menggembirakan, namun saat tidak ada akan memperburuk kesehatan. Demikian halnya dengan terpenuhinya kebutuhan biologis seksual merupakan hal menggembirakan. Sebaliknya, jika tidak terpenuhinya aktifitas seksual, tentu akan memperburuk kesehata dan keselamatan pribadi dan komunitas, khususnya saat bergelora tanpa ada solusi yang tepat. Oleh karena itu, pola aktifitas seksual yang sukses antara suami-istri merupakan interaksi penting guna memperintim, meningkatkan kasih sayang dan meminimalisir problem antara mereka.
Survei sering membuktikan bahwa umumnya problematika suami-istri memiliki korelasi signifikan dengan gagalnya mencapai keselarasan atau tidak terpenuhinya kepuasan seks.
Umumnya penderitaan lebih banyak dialami wanita daripada pria. Lelaki bisa memuaskan dan mencurahkan nafsu seksnya dengan berbagai cara, adapun perempuan memerlukan waktu yang relatif lebih lama, pasalnya ia lebih lambat gejolaknya dan ejakulasinya daripada lelaki.
Menurut kebiasaan, keintiman dan respon antara suami-istri tidak signifikan ketika melakukan hubungan seks kecuali sesudah selang beberapa bulan. Jangka waktu itu bisa bertambah dan berkurang tergantung pengalaman (kematangan) seks mereka. Oleh karena itu, masing-masing mulai menyadari umumnya sesudah bulan madu dan gelora cinta yang disulut gairah seks mulai pudar, ketika itu pula kejiwaan menjadi tenang. Telah menjadi opini kita bahwa manakala pernikahan bertumpu pada norma din, akhlak, saling pengertian dan realistis, maka kontinyuitas guna mewujudkan keintiman, saling pengertian dan kebahagiaan akan menyertai kehidupan suami-istri.
Namun jika pernikahan terjadi lantaran tergesa-gesa, keragu-raguan, bimbang dan pertimbangan pribadi (subyektifitas), maka dampaknya lebih banyak negatifnya daripada positifnya, tidak realistis dan bahaya mengancam pasangan suami-istri lantaran tergelincir. Kalau sudah demikian, suamilah yang menanggung akibatnya lantaran menuruti egonya, tanpa kesadaran dan pertimbangan yang masak bahwa pernikahan adalah perjalanan hidup panjang bukan semata nafsu seks kebinatangan.

SEKS DAN PAHALA

Sungguh termasuk keagungan agama kita Islam adalah menghalalkan yang halal dan menjadikannya sebagai pahala. Rosûlulloh n bersabda :
« … وَ فِيْ بُِضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ»
“…dan pada kemaluan salah seorang di antara kamu ada sedekah.”

Lalu para sahabat bertanya : “Wahai Rosûlulloh : “Apakah salah seorang di antara kami mendatangi istrinya lantaran keinginan seksnya dinilai sebagai sedekah?”.
Lalu Rosûlulloh n menanggapi :
« أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا
فِيْ الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ»
“Tahukah kalian andaikan ia menaruhnya pada kemaluan haram bukankah itu dosa? Demikianlah manakala ia menaruhnya pada kemaluan yang halal,
maka baginya adalah pahala.”
Dari ´Irbâdh bin Sâriyah a berkata : “Saya mendengar Rosûlulloh n bersabda :
« إنَّ الرَّجُلَ إِذَا سَقَى امْرَأَتَهُ الْمَاءَ أُجِرَ»
“Sungguh manakala seorang lelaki menyetubuhi istrinya, niscaya ia dikaruniai pahala.”
Lalu ia berkata : “Maka saya mendatangi istriku lalu aku setubuhinya seraya aku katakan kepadanya apa yang aku dengar dari Rosûlulloh n”.
Camkanlah betapa cepat respon dan reaksi ´Irbâdh bin Sâriyah a terhadap tutur kata Nabi n, tak ada bedanya antara kita dan para sahabat Nabi, tak ada komentar bagi mereka selain respon : “Kami dengar dan kami taati”. Sedangkan kita, apakaha hendak merespon dengan kata : “Kami dengar lalu kami langgar”?. Kami berlindung kepada Alloh dari yang demikian itu.
Rosûlulloh n bersabda :
« كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيْهِ ذِكْرُ اللّهِ فَهُوَ لَهْوٌ، وَلَعِبٌ ، إلَّا أَرْبَعَةً : مُلَاعَبَةَ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ، وَتَأْدِيْبَهُ فَرَسَهُ ، وَمَشْيَ الرَّجُلِ بَيْنَ الْغَرْضَيْنِ ، وَتَعْلِيْمَ الرَّجُلِ السِّبَاحَةَ»
“Apapun yang tidak disebut nama Alloh berarti sia-sia dan permainan belaka kecuali empat perkara : lelaki bercumbu kepada istrinya, melatih kudanya,
berjalan di antara dua titik tujuan dan mengajari renang.”

HAL-HAL FATAL DI MALAM PENGANTIN

Saya tertarik kepada pesan seorang sastrawan Prancis bernama Balzac : “Janganlah anda memulai kehidupan suami-istri (berumah-tangga) dengan memaksakan seks kepada istri”. Sayang seribu kali sayang, banyak suami seolah-olah memaksa istrinya di malam pengantin. Kesalahan sikap tersebut seringkali mengurangi keharmonisan antara suami-istri di malam itu, bahkan mengurangi keharmonisan mereka dalam tempo yang lama, atau terkadang berdampak kepada kecelakaan dan penderitaan antara suami-istri, bahkan terkadang berbuntut kepada perceraian.
Kenyataan itu diungkap oleh wartawan dengan tajuk “Malam Pengantin Dan Bulan Madu Yang Pahit Getir” .
Hanya karena faktor tiada pengalaman, belenggu keawaman, kepalsuan dan angan-angan kosong, maka malam pengantin berubah menjadi mimpi buruk yang menakutkan dan menyebabkan kles di antara kehidupan suami-istri dalam tempo yang panjang.
Dalam kasus ini kehidupan suami-istri hanya berlangsung kurang dari 8 jam. Mempelai wanita tak mau akur kepada mempelai pria pada malam pengantin lantaran trauma dan ketidak tahuannya, sang suami termenung (berpikir) : “Apa geraangan di balik itu?”. Malam itu hanya dipergunakan untuk merokok setelah dirasa adanya sesuatu tidak beres yang mencabik-cabik harga diri dan kehormatan istrinya; rasanya tak ada jalan untuk menyelamatkan diri dari perceraian.
Ada lagi kisah pemudi yang masih ingusan padahal telah menikah lalu menjadi gila pada malam pengantinnya, pasalnya belum ada kematangan seksual, hingga dibikin kaget dengan adegan malam penganten sementara dirinya belum siap untuk itu hingga hilanglah keseimbangan mentalnya. Ketika dibawa ke dokter jiwa, maka keluarganya menjadi tenang dengan kesimpulan dokter jiwa yang menyatakan bahwa kasus itu biasa menimpa lebih dari 30% pemudi pada malam pengantin mereka, khususnya pada usia yang masih terlalu muda, sementara ia belum mencapai kematangan seksual. Akhirnya dokter menyarankan agar ia dijauhkan untuk sementara dari suaminya selama sebulan penuh. Secara berangsur kondisi mempelai wanita itu sehat seperti sedia kala. Setelah itu ia bisa hidup harmonis bersama suaminya dengan dikaruniai beberapa anak.
Ada lagi kisah pemudi cantik dan banyak disukai orang karena keelokan akhlaknya, ia menikah dengan suka rela, namun sama sekali buta kehidupan berumahtangga, ketika suami hendak menyetubuhinya pada malam pengantin, serta-merta menolak lantaran menilai perlakuan itu tidak senonoh (menjijikkan), namun suami tak ambil peduli dan tetap menyeruduk untuk mendapatkan haknya, sebaliknya sang istri tetap menghalaunya sekuat mungkin hingga ada organ istri yang terluka dan berakhir pada rumah sakit jiwa.
Salah kaprah acap kali dilakukan pasangan pengantin, yaitu terlalu memforsir diri saat malam pengantin. Ketika usai baru mereka merasakan amat letih hingga berdampak negatif pada kejiwaan, tutur kata dan interaksi di antara mereka berdua, hingga pengaruh tersebut amat menurunkan keharmonisan mereka bahkan memungkinkan sekali hatinya merasa sangat menderita. Di samping umumnya para pengantin wanita merasa trauma terhadap suaminya dan situasi rumah tangga barunya yang dirasa aneh, selain perasaan was-was menjelang koyaknya selaput dara. Belum lagi pengantin pria tak mau menerima, jika persoalannya hanya sakit dan pendarahan. Kondisi bisa menjadi semakin buruk sebab umumnya pengantin pria menginginkan pengantin wanita menyerahkan dirinya begitu saja tanpa alasan dan segera merespon keinginan pengantin pria tanpa tenggang waktu sedikitpun.
Wahai suami yang mulia, bersabarlah (jangan terburu nafsu), betapa makanan itu amat bermutu, namun tetap saja tak ada rasanya manakala masih mentah atau sudah dimasak tapi belum tanak. Tapi manakala dimasak di atas nyala api yang stabil, maka makanan menjadi semakin bermutu dan lezat.

Jangan lupa doa saat bersenggama

Rosûlulloh n bersabda :
« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِاسْمِ اللهِ اَللهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإنَّهُ إنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِيْ ذَلِكَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَداً»
“Sekiranya salah seorang di antara kamu hendak menyetubuhi istrinya, lalu berdoa : “Bismillâhi Allôhumma jannibnâsy –syaithôna wa jannibisy -syaithôna mâ rozaqtanâ” = “Atas nama-Mu, Ya Alloh jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari (anak) yang Engkau karuniakan”. Sungguh jika ditakdirkan menghasilkan anak, niscaya tidak dicelakai syetan selamanya.”

KAMAR TIDUR

Keberadaan ruang ini mesti diprioritaskan dalam kehidupan rumah tangga, sebab ruang tidur adalah mendekati ⅓ dari hidupnya bahkan boleh dibilang lebih dari itu.
Oleh karenanya seorang istri mesti memberi perhatian istimewa lebih dari pada yang lain dalam persoalan rumah. Ruang tidur harus dibikin sedemikiaan indah dalam hal tata ruangnya, cahaya, warna dan aroma di samping sebagai tempat yang menentramkan dan menyenangkan. Hendaklah ruang tidur memberikan nuansa yang bisa mengakhiri konflik yang terjadi, lantaran fungsinya menciptakan suasana rileks, tentram, tenang dan harmonis bagi rohani serta jasmani.
Berikut ini beberapa saran yang membantu mewujudkan ketenangan suasana ruang tidur :
1) Sekali-kali jangan mempersoalkan hal-hal negatif di ruang tidur sehingga tidak terkesan bahwa perasaan-perasaan negatif identik dengan ruang tidur. Kalau memang perlu, bisa saja dibicarakan di luar rumah atau di ruangan lain.
2) Berbicara soal bagaimana seharusnya rumah tangga dan anak hendaklah diluar kamar tidur.
3) Ajarilah anak-anak (jika punya anak) untuk tidak masuk ruang tidur orang tuanya dan mengambil sesuatu darinya tanpa seijin.
4) Ruang tidur mesti selalu bersih dan tertib.
5) Istri mesti membiasakan memakai aroma dan minyak wangi yang sedap di ruang tidur.
6) Tidak memperkenankan kerabat dan kawan masuk ruang tidur kecuali terpaksa, sebab rumah tangga adalah rahasia.
7) Jadikanlah ruang tidur sebagai tempat menyenangkan untuk media dari hati ke hati, mengutarakan uneg-uneg sejujur-jujurnya antara satu sama lain, bukan sekedar fungsi tidur dan saling memberikan kebutuhan lahiriah saja.
8) Prioritaskan saling tukar-menukar pikiran dan senyuman semberi tutur kata penuh lemah lembut yang bisa menciptakan suasana paling baik … wahai suami tercinta ….wahai istri yang elok.
9) Ada hal penting yang sering disia-siakan kebanyakan wanita dengan dalih sudah terbiasa antara suami-istri, kemudian istri tidur bersama suaami dengan pakaian yang sudah dikenakan keseharian, padahal ini berdampak sedikit demi sedikit kepada senjangnya kasih sayang dan gairah seks.

Maka sang istri seyogyanya memprioritaskan kebersihan, berhias, tampil molek dan pakai parfum sebelum masuk selimut bersama suami, di samping mengenakan pakaian yang mempesona, tidak hanya saat hendak digauli suami saja, tapi setiap hari.
Wahai istri jadilah orang yang diperlukan, jangan jadi orang yang memerlukan, sebab apapun yang diperlukan berarti digemari, sementara apapun yang ditawarkan dijauhi orang. Jika anda menjadi orang yang digemari, niscaya anda membangkitkan cinta suamimu, menatapmu dengan tatapan kagum lagi terkesima dan tidak sanggup mengelak dari kekaguman serta kecantikanmu meski ia menyembunyikan cinta-kasihnya. Biaasakan demikian, tak lama lagi ia akan bereaksi untuk mencintaimu sambil memuji ketulusanmu, pengorbananmu dan persembahanmu dalam rangka membahagiakannya, ayo teruskan.

Hai suami, pelajarilah prinsip-prinsip akurat menjelang koyaknya selaput dara

Sebaiknya suami pada malam pengantin untuk tidak terburu nafsu mengkoyakkan selaput dara, tapi yang mesti dilakukan adalah warming up sebelum koyaknya selaput dara dengan duduk romantis, penuh kelembutan, cumbu-rayu, kata-kata cinta dan canda disertai keintiman serta sensasi. Jika istri ada kekhawatiran hendaklah suami memberitahukan bahwa ia tidak terburu-buru mengkoyakkan selaput daranya hingga sang istri merasa aman dan tenang. Tak ayal bahwa kesemuanya itu punya efek signifikan bagi pengantin untuk mempersiapkan persetubuhan pertamanya, bahkan punya peran menggairahkan (mengencangkan fital) sang suami, tak ayal juga bahwa kesemuanya itu merupakan peran signifikan yang berfungsi warming up guna kesempurnaan persetubuhan ekstra intim dan simpati.

Hai istri, pelajarilah kiat menghindari rasa sakit saat koyaknya selaput dara

Tak usah anda khawatir akan rasa sakit dan pastikan rasa sakit tak terjadi, karena kekhawatiran timbulnya rasa sakit itu sendiri justru menjadi faktor utama timbulnya rasa sakit. Benar kekhawatiran akan timbulnya rasa sakit dan ketakutan menjadi faktor utama penyempitnya pada otot panggul (pelvis) dan paha sebelum persetubuhan pertama, padahal itulah pemicu penyempitan pada vagina; itulah faktornya mengapa proses persetubuhan menjadi tidak mulus serta menimbulkan gesekan kuat hingga menyebabkan rasa perih lantaran penyempitan urat-urat pada vagina berlebihan, secara otomatis menyebabkan celah vagina menjadi amat sempit.
Maka dari itu hendaklah mempelai wanita berupaya maksimal agar rileks dan menenangkan syaraf, di samping mesti mengupayakan organ-organ tubuh tetap elastis dan tidak tegang. Begitulah kunci kesuksesan persetubuhan dengan resiko sakit relatif sedikit.

Kiat benar memecah selaput dara

Kiat sukses adalah instink, artinya memecah selaput dara dengan jalan bersetubuh. Tehnisnya antara lain, mempelai pria meletakkan bantal di bawah pantat mempelai wanita. Cara ini bisa mengangkat panggul, otomatis celah vagina dalam posisi relatif tinggi sehingga memudahkan proses persetubuhan sekaligus koyaknya selaput darapun menjadi mudah.
Pasangan wanita mesti menenangkan syarafnya, tak usah mengkhawatirkan timbulnya rasa sakit, pasalnya kekhawatiran akan sesuatu, berarti merasakannya (apriori).
Hal itu tentu tidak akan terlaksana kecuali masing-masing mempelai telah mempersiapkan mental dan fisik, sementara itu tidak akan terwujud kecuali dengan cumbu-rayu, bermesra-mesraan dan saling memadu cinta-kasih hingga sampai waktunya vagina siap untuk dimasuki dengan gejala keluarnya cairan pada wanita yang berfungsi melumasi vagina, secara otomatis mengurangi gesekan yang sering menimbulkan rasa sakit.

Apakah koyaknya selaput dara mesti pada malam pertama?

Apabila pecahnya selaput dara tidak terjadi pada hari pertama, itu tak masalah baik buat mempelai pria ataupun wanita.
Koyaknya selaput dara tertunda lantaran berbagai faktor antara lain :
1) Terlalu terforsir dan letih pada malam pengantin, bahkan jauh sebelumnya sebagai dampak mempersiapkan rumah, belum lagi mempersiapkan pesta pernikahan yang menguras tenaga kedua pengantin sepanjang hari pernikahan dan jauh sebelumnya.
2) Gundah-gulana yang terjadi pada mempelai di malam pengantin, sebagai dampak rasa takut akan kegagalan saat pengalaman pertama, sedangkan perasaan gundah pada mempelai wanita sebagai dampak ketakutan akan rasa sakit yang membuatnya tertekan lagi cemas, otomatis berdampak kepada mempelai pria dan mesti menunggu untuk sementara waktu, dengan kata lain meredam gairah untuk bersetubuh.
3) Sewotnya mempelai wanita tentu saja membuat bimbangnya mempelai pria, namun dengan kasih sayang, lemah-lembut, damai dan cumbu-rayu terrencana yang bisa menarik simpati, tentu bisa mengurangi sewot. Dua atau tiga hari usai koyaknya selaput dara sebaiknya menghindari persetubuhan sampai luka pada selaput dan vagina yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh-pembuluh darah pada selaput dara sembuh seperti sedia kala.

Tapi jika kondisi mengharuskan bersetubuh tentu saja mesti ekstra hati-hati penuh kelembutan, kasih sayang dan tidak bersikap kasaar, sebab mempelai wanita saat itu merasa sedikit kesakitan. Apapun kondisinya mempelai pria seharusnya tidak egois, sabar menunggu hingga luka-lukanya sembuh. Lain halnya jika mempelai wanita memang mempersilahkan untuk melakukan kontak seksual dan melanjutkan persetubuhan, maka tak ada halangan bagi suami untuk itu, bahkan hendaklah saling merespon suka sama suka dan sensasi sama sensasi. Hendaklah mempelai wanita menyadari bahwa sensasi seksual pada malam pengantin dan hari-hari pertama bulan madu bukanlah sensasi kenikmatan yang sesungguhnya, namun akan ia rasakan sesudahnya. Memang langka tercapai kenikmatan seksual yang sempurna di hari-hari pertama mempelai, hal itu sebagai dampak ketidak tahuan, belum adanya keselarasan dan saling memahami. Akan tetapi setelah beberapa hari bahkan terkadang beberapa minggu masing-masing akan saling memahami dan mencapai keselarasan seksual sehingga mencapai kenikmatan yang sempurna, ketika itu mempelai wanita mendapatkan puncak kenikmatan seksual (orgasm), otomatis hal itu juga merangsang gairah pria.
Apapun faktor yang menghalangi koyaknya selaput dara, seharusnya kedua mempelai mengerti bahwa keduanya bukan di depan medan tempur, kemenangan militer dan tanggung jawab strategi. Sungguh masalahnya sangat sederhana, boleh jadi koyaknya selaput dara setelah terpenuhinya porsi istirahat fisik dan syaraf , pasalnya badan sudah lelah lantaran prossesi pernikahan sebelum hari pengantin, sedangkan kondisi syaraf amat terforsir, sementara kejiwaan relatif tertekan.

Maka keterlambatan koyaknya selaput dara bukan hal mencemaskan dan bukan pula indikasi kemampuan seksual suami yang diragukan.

Apa yang terjadi usai koyaknya selaput dara?

Apabila selaput dara sudah koyak secara benar dan menurut lazimnya seperti sudah saya jelaskan di atas, maka darah yang keluar tidak banyak, terkadang hanya tetesan darah saja, terkadang bertambah dan terkadang berkurang, walhasil antara pemudi yang satu dengan yang lain tidak sama.
Terkadang darah berwarna coklat lantaran bercampur dengan cairan vagina dan cairan sperma pria.
Ada beberapa selaput yang disebut dengan membran elastis, disebut demikian karena membran tersebut bisa mengembang ketika penis masuk dan tidak sobek sehingga tidak keluar darah, namun kondisi seperti ini jarang terjadi. Sebaiknya untuk memecahkan selaput dara melalui dokter wanita yang ahli penyakit kewanitaan.
Sungguh Alloh l telah menyempurnakan segala sesuatu yang diciptakan. Ia telah menjadikan vagina mengeluarkan cairan yang berfungsi sebagai pelumas ketika timbul gairah seks, sehingga sangat membantu proses persetubuhan, tanpa pelumas proses persetubuhan menjadi sulit dan menyebabkan rasa perih kecuali setalah wanita bergairah dan vagina telah siap menerima persetubuhan. Dalam kondisi darurat bisa mempergunakan pelicin buatan, namun cara ini sangat riskan infeksi.

Pintar meningkatkan gairah seks

Tak ayal bahwa persetubuhan yang sukses adalah kontak seksual yang dimulai dengan warming up dan persiapan yang sangat membantu timbulnya sekaligus mempertinggi gairah seks dan erotik, sebab sensasi cinta yang kemudian diikuti erotik seksual tidak timbul serta merta, namun didahului proses menimbulkan gairah secara bertahap hingga mencapai orgasm dengan kontak antara penis dan vagina yang umumnya diakhiri dengan melepaskan pesan cinta-kasih yang ditandai dengan lepasnya sperma pria dan sampai klimaknya gairah seks wanita.
Makanya warming up memiliki dua essensi dasar :
1) Essensi kepribadian yang erat hubungannya dengan kesadaran akan kontak dan sensasi kenikmatan yang diidam-idamkan dan akan menjadi kenyataan.
2) Essensi rasa yang erat hubungannya dengan menerima dan mentransfer sensasi nikmat yang diperoleh dari beberapa titik tubuh dan organ-organ pada alat fital (genitalia).

Essensi sensasi seksual yang terpenting adalah indra penglihatan dan peraba, di samping indra penciuman yang memiliki peran signifikan. Dalam hal ini parfum berperan signifikan, sedangkan warming up yang terpenting adalah peran lelaki, di mana lelaki punya arti penting untuk memulai rangsangan; dialah yang memulai melakukan rangsangan saat warming up, lebih-lebih ketika kontak seksual telah dimulai, sebab biasanya wanita pada awalnya sangat menjaga harga diri dan diliputi rasa malu.
Permulaan dan persiapan berpusat pada organ-organ tubuh yang sarat dengan sensasi-sensasi seksual, namun sebelum itu sebaiknya kita tak lupa mengungkapkan pesan-kesan cinta dan kasih sayang, sebab kesan serta pesan tersebut mempunyai peran aktual serta dinamis hingga rangsangan seksual tidak hanya pada peran fisik semata. Oleh karena itu sensasi-sensasi tersebut mesti dikembangkan dan dirangsang agar selaras dengan jiwa, makanya porsi kontak seksual seyogyanya dibagi merata antara sensasi rohani dan fisik. Persepsi dan pola sosial wanita manapun sangat menginginkan digauli pria melalui sensasi ruhnya sebelum fisiknya.

Titik-titik sensasi prioritas

Mulut serta dua bibir, permainan kedua telinga, leher serta kedua pundak , dua payu dara, daerah-daerah lekukan, kedua paha dan kelentit (itil = clitoris).

Karena kunci pokok merangsang wanita ada pada peraba dan juga celah-celah lain seperti penciuman, pandangan mata dan perasaan sebagai faktor penunjangnya, seharusnya sang suami memahami baik-baik substansi tersebut dan tidak masa bodoh akan efeknya terutama jika rangsangan peraba dilakukan secara lembut terhadap daerah-daerah peka rangsang kemudian memprioritaskan pada sensasi terpenting atau apa saja yang dipandang suami sebagai cepat reaksi, tentu saja hal ini sangat memerlukan pengalaman.
Guna memperoleh kesan yang lebih menukik dan terperinci pada topik ini, silahkan anda baca buku kami yang berjudul “Keharmonisan Suami Istri Ideal” .

Sentuhan emosi sebelum tubuh

Kontak seksual semata-mata sentuhan antara dua tubuh, namun jika terjadi pula sentuhan antara dua pribadi, itulah yang paling utama. Oleh karena itu sentuhan perasaan sebelum tubuh merupakan keharusan, ini penting bagi pasangan suami-istri. Termasuk kesalahan besar manakala orang mengira bahwa rasa saling mencintai akan terputus sesaat sesudah malam pengantin.
Sebenarnya terputusnya perasaan saling mencintai menghilangkan pernikahan, itu artinya, hilangnya keindahan puisi pernikahan sementara kepekaan jiwa pasangan suami-istri menjadi gersang lagi kering-kerontan lantaran cepat berubah menjadi urusan fisik semata, atau sekedar melaksanakan tanggung jawab sosial tanpa keharmonisan, dengan kata lain semata-mata ikatan yang menjerat kehidupan.
Makanya perasaan saling mencintai merupakan permulaan penting sebelum kontak seksual, bahkan seharusnya kasih sayang mesti menjadi potensi yang mendominasi hubungan suami-istri bak matahari menjadikan gemilangnya kehidupan dan memperbaharui keharmonisannya hari demi hari, di samping menyadari kesulitan dan persoalan yang memenatkan yang tak bisa dihindari.
Dengan kata lain, sungguh perasaan saling mencintai adalah punya peran amat penting dalam rangka mewujudkan keselarasan hati yang berperan signifikan menciptakan sentuhan tubuh secara sempurna.

Apakah warming up peran pria semata?

Sebagian orang menyangka bahwa permulan serta persiapan menjelang persetubuhan dengan curahan rasa cinta dan cumbu-rayu hanya diperankan lelaki saja adalah kesalahan besar yang mesti direvisi. Curahan kata cumbu-rayu dan cinta atau berasik-asyikan adalah interaksi saling aktif antara pasangan suami-istri. Makanya persiapan menjelang persetubuhan bukan hanya peran lelaki, namun juga wanita.
Apabila lelaki dengan karakter cepat merespon seks dan sebaliknya perempuan umumnya lambat, maka seharusnya reaksi dan gairah emosi lelaki hendaklah ditunda sedikit, sedangkan perempuan hendaklah mempercepat dan konsentrasi, sehingga kedua belah pihak saling selaras selama persetubuhan sampai usainya.
Tak ayal bahwa peran perempuan dalam aksi cumbu-rayu sangat besar, tidak hanya memberi rangsangan pada lelaki semata, namun juga terhadap dirinya sendiri, perannya tidak hanya terbatas pada cumbu-rayu, akan tetapi juga merespon serta menyambut rangsangan dan ekspresi kelembutan lelaki sebagai pemulanya.

Teknis dan kiat memulai

Meski seks adalah naluri, yang Alloh karuniakan kepada manusia, namun aplikasinya tentu saja memerlukan prosedur dan teknis. Proses persetubuhan dimulai seperti yang sudah kami sinyalir di depan dengan istilah kesiapan dan persiapan, yakni proses cumbu-rayu, saling mengutarakan kata cinta dan main asyik-asyikan. Sedangkan lamanya waktu yang diperlukan sangat berfareasi tergantung perbedaan kondisi masing-masing pasangan. Terkadang memakan waktu sepuluh menit dan terkadang memakan waktu sampai satu jam lamanya sesuai kesanggupan masing-masing pasangan, yang penting jangka waktu tersebut berlangsung sehingga hasrat untuk bersetubuh antara pasangan suami-istri terpenuhi secara sempurna.
Boleh dikatakan bahwa saat hasrat tersebut boleh jadi diungkapkan istri dengan permintaan saat ia menginginkan suaminya menyetubuhinya, dengan indikasi yang bisa dikenali suami yaitu mengencangnya kelentit (itil = clitoris) di samping curah cairan vagina yang membantu proses persetubuhan. Maka dengan indikasi tersebut suami mesti tanggap agar segera melakukan sentuhan antara penis dan vagina.

Kendala tiba-tiba dan solusinya

Sehubungan dengan lamanya waktu cumbu-rayu yang diperlukan terkadang alat fital pria kemudian mengendor, apapun kondisinya hal ini tidak mengindikasikan memudarnya hasrat untuk bersetubuh, tapi itu hanya kondisi sementara tak ada hubungannya dengan hasrat, hendaklah istri merangsangnya, apabila rangsangan istri berhasil ketika penis mengendor, cobalah bercumbu kepadanya hingga penisnya kembali mengencang, jika itu telah terjadi maka bersegeralah suami memasukinya.

Berahi sang istri

Selama kontak seks, seyogyanya wanita memberitahu suami tentang berahinya, sebab suami sanggup mencapai puncak dan melepas sperma secara cepat, namun ia perlu tahu keinginan istrinya guna mengontrol aksi dan emosinya sehingga bisa menunda puncak berahinya dalam rangka menunggu puncak berahi istrinya agar mencapai klimak bersama-sama. Maka bisa saja istri memmberi tahu suami agar mengurungkan sedikit atau mempercepat mencapai klimak.
Suami hendaklah menunda pelepasan sperma dengan cara mengontrol kosentrasi pikirannya untuk dialihkan pada subyek lain guna mengurangi atau menghentikan aktifitas organ fitalnya serta seksualnya.

Wahai sang istri, camkan baik-baik

Sungguh prioritas seksual yang diinginkan pria pada istrinya adalah respon positif saat melakukan hubungan seks, sebagaimana disinyalir dokter Muhammad Khots dalam bukunya berjudul “Wanita Teladan Menurut Pria” : “Telah tiba saatnya bagi istri (apapun status sosialnya) untuk yakin bahwa dirinya tidak hanya fasilitator produksi, lebih dari itu sebagai partner suami guna memberikan kenyamanan dan respon persetubuhan yang menggairahkan. Manakala wanita bisa menyembadani percaturan seksual, berarti skala kenikmatan dan keharmonisan hidup meningkat tinggi. Telah tiba masanya agar istri menyadari bahwa suaminya tidak menginginkan wanita dingin, negatif , terjebak dalam jerat tipu daya. Tapi yang diinginkan suami, adalah wanita positif, mampu merespon cinta-kasih dan memahami, bahkan mempercayai bahwa kenyamanan hidup bersama suami-istri adalah persoalan essensi yang mesti diprioritaskan dan relatif menempati posisi utama dari sekian banyak prioritas kehidupan rumah tangga.

Wahai suami yang mulia, camkan baik-baik

Yang harus Anda perhatikan bahwa ketidaktahuan akan kebutuhan seksual wanita merupakan faktor yang melumpuhkan pilar-pilar cinta-kasih dan simponi antara suami-istri. Jika masing-masing suami-istri hanya mementingkan kenikmatan diri sendiri tanpa memperhatikan yang lain, ketika itu pula terputuslah cinta dan perasaan saling menyayang. Oleh karenanya, hubungan seks harus mencapai kenikmatan bersama. Suami seyogyanya mengontrol tinggi-rendahnya persetubuhan selaras kebutuhan istri demi kokohnya pilar-pilar cinta-kasih dan simponi antara suami-istri, sementara itu wajib baginya.
Syarat utama mencapai kenikmatan bersama antara suami-istri adalah sikap fair antara satu sama lain demi kebutuhan seksual secara bersama. Suami harus tahu bahwa klimak berahi seksual perempuan tidak memiliki korelasi signifikan dengan lamanya tempo persetubuhan. Terkadang istri tidak mencapai puncak berahinya meski telah berjam-jam lamanya, sebaliknya terkadang wanita membutuhkan waktu singkat saja, cukup dengan kata-kata cinta yang menggugah emosi dan melalui beberapa sentuhan yang sarat akan simpati, cinta dan cumbu-rayu yang mempesona daerah-daerah yang peka terhadap rangsang.
Sungguh lelaki penuh simpati yang pintar melakukan interaksi melalui sentuhan fisik kepada istrinya secara lembut, itulah lelaki yang diidam-idamkan setiap wanita; itulah type yang memberi kebahagiaan istrinya. Adapun suami yang kasar tentu tidak disukai wanita meski kebanyakan lelaki potensial melakukan hubungan seksual secara jantan.
Sungguh seks di mata wanita bukan semata-mata kontak langsung antara organ-organ seksual (genitalia), dengan kata lain genitalia semata bagi wanita adalah soal sekunder. Lelaki harus mengerti bahwa perempuan menilai fisiknya sendiri laksana sungai sensasi dan simpati yang menginginkan agar disentuh dan diambil apa yang terkandung di dalamnya, meski lelaki harus tahu bahwa sungai itu tidak hanya cukup dengan sentuhan langsung antara organ-organ seksual (genitalia).
Mengambil hati istri, artinya mempergunakan setiap sensasi guna menyampaikan pesan-kesan lembut melalui fisik yang dikemas dengan kata-kata cinta-kasih, pandangan bermuatan sayang, sentuhan-sentuhan penuh makna dan suasana intim, simpati serta lembut. Makanya wanita tidak ingin disikapi laksana bejana yang diisi semau lelaki tanpa dipehatikan aspek emosi serta perasaannya.

Malu berlebihan resistant terhadap seks

Perempuan pemalu, sedangkan karakter malunya merupakan ciri khas dari sekian banyak ciri kewanitaannya. Namun ada batasan-batasan yang mesti membatasi malu tersebut. Batasan malu tersebut berakhir ketika memasuki ruang tidur. Kalaupun di ruang tidur masih juga malu, tentu malu tersebut tidak sampai membatalkan kontak seks, bahkan semakin membuat bergelora.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria lebih menyukai wanita yang melepaskan rasa malunya dan memberi kesan kepada lelaki bahwa dirinya (wanita) adalah bagian dari pria. Makanya wanita type ini bersikap fair dan transparan. Type ini memiliki sensasi serta emosi seksual terbaik, tentu saja jika yang kita bicarakan di sini bertemakan apa yang diinginkan wanita pada suaminya, pasalnya wanita tidak menyukai pria pemalu atau bersikap ragu-ragu, sebaliknya wanita menyukai pria yang berani terus terang, sehingga ia bisa membantu wanita melepaskan rasa takut bersetubuh untuk mendapatkan puncak kenikmatan serta gairah seks yang sesungguhnya.
Sudah menjadi persepsi umum bahwa melepaskan diri dari rasa malu adalah persoalan istimewa, tapi ingat bahwa tema ini terbatas pada ranjang tidur suami-istri, hingga persoalannya tidak melebar kepada paham serba boleh yang antagonis dengan petrintah-perintah dînul -Islam yang agung, yang memerintahkan wanita agar malu di depan orang bukan mahrom demi menjaga kehormatannya dan agar tidak menimbulkan perasaan cemburu di hati suaminya.

Apa yang dilakukan suami-istri usai persetubuhan

Usai persetubuhan kekuatan dan stimulus seksual mulai menurun secara bertahap, jika pasangan suami-istri benar-benar saling mencintai maka keduanya merasakan curahan semangat cinta di saat-saat menurunnya kekuatan dan stimulus seksual secara bertahap. Itulah yang kita sebut dengan puncak kenikmatan yang sesungguhnya, jadi nikmat tidak berakhir dengan terpenuhinya kebutuhan fisik, bahkan berdampak pada timbulnya kenikmatan rohani.
Oleh karena itu pasangan suami-istri yang langsung saling menjauh antara satu dari yang lain dan bersinggungan punggung usai persetubuhan berarti tidak merasakan kasih sayang, bahkan boleh jadi yang mereka rasakan justru rasa permusuhan, ini namanya bukan nikmat tetapi kejemuan.
Sebenarnya wanita yang telah mencapai puncak gairah seksnya ketentraman yang diperoleh umumnya lebih lamban daripada yang diperoleh pria. Makanya pria bisa menghentikan aktifitas untuk selanjutnya tidur, meski sikap demikian dinilai sebagai tak berdaya oleh sebagian besar wanita.

Pasangan suami-istri yang saling mencintai tak terkesan kehilangan cinta-kasih di antara mereka meski saling berpisah lantaran usainya persetubuhan, justru masing-masing merasakan kelezatan lantaran yakin masih ada peluang berpelukan dalam dada mereka, di mana saat-saat seperti ini gejolak berahi sedang mengendor dan digantikan dengan suasana lembut, riang dan simpati meski mereka ketika itu ditakdirkan berjauhan dalam arti fisik, namun dalam hati mereka berdua masih saling berdekapan rohani. Maka sebaiknya usai memuaskan seksual disusul dengan memberi kepuasan rohani dengan bertutur tentang cinta dan kehidupan. Jika suami-istri tidak bisa melakukan itu berarti telah kehilangan sesuatu yang paling berharga, bahkan kehilangan puncak kenikmatan yang hakiki, yaitu interaksi rohani dan hati.
Wahai suami yang mulia, Anda jangan berharap agar istrimu berinteraksi denganmu dan mengekpresikan cintanya, isi hatinya dan sensasinya untuk memuaskan dirimu, manakala Anda sebagai suami yang menyianyiakan atau egois atau otoriter atau arrogan atau agresip atau hanya mencintai pekerjaan.
Sebab seluruh ucapanmu, pebuatanmu dan sikapmu terhadap istrimu ketika interaksi sehari-hari sangat berpengaruh kepada kejiwaannya serta sikapnya saat berintetraksi denganmu.
Silahkan Anda menilai sendiri bagaimana jika Anda hendak bertutur kata yang lembut, senyum menawan dan menaruh rasa hormat saat berinteraksi sehari-hari dengan istrimu, buktikan sendiri bagaimana respon keindahan terhadap kehidupanmu dan saat kamu menikmati persetubuhan bersamanya.
Berpikirlah bagaimana respon istrimu saat Anda berinteraksi dengannya secara bengis, atau mencerca atau mengumpat atau menyia-nyiakan atau meremehkan, tentu ia akan bersikap negatif dan tak ada tempat baginya untuk berpihak, meski ia menampakkan seolah-olah intim dan berinteraksi denganmu, tapi itu hanya lipstik dan lantaran keinginannya menikmati kehidupan layaknya suami-istri.

 

by Diarysangteroris


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: