Beranda » artikel » BERSATU DI DALAM AMAL, TIDAK HARUS BERSATU DI DALAM TANDZIM

BERSATU DI DALAM AMAL, TIDAK HARUS BERSATU DI DALAM TANDZIM


oleh Ummu Shofiyyah pada 25 November 2010 jam 6:31
Risalah dari insya Allah syahid ustadz Jabir/Urwah
=============
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.
أمَّا بعد؛
Kerinduanku yang amat mendalam akan rahmat Allah dengan bersatunya kaum muslimin di bawah satu bendera “لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدُ الرَّسُولُ الله” dan di bawah satu komando “Kholifah Rosyidah” dan di bawah naungan “Undang-Undang Al Qur’an dan As Sunnah”, mendorongku untuk kembali menuliskan risalah ini buat para ikhwah haroky dan kaum muslimin secara umum.
Juga karena terpanggil oleh satu kondisi dimana para aktifis muslim cenderung amalannya terseret kepada fanatik tandzim tertentu, atau pemimpin tertentu, yang justru itu menjerumuskan mereka kepada ‘ashobiyyah jama’ah dan qiyadah, hingga mengesampingkan urusan AL HAQ dan HUJJAH SYAR’IYYAH.
Maka dengan mengharap ridho dan ‘inayah dari Allah semata risalah ini saya sampaikan kepada antum sekalian. Semoga bermanfaat buat Islam dan kaum muslimin, dan semakin menjayakan Islam di atas muka bumi ini. Tidaklah saya berharap kecuali untuk kebaikan.
Ikhwah fillah …..
Dalam satu kejadian:
Suatu hari ada seorang ikhwah mujahid datang kepada seorang ikhwah haroky, ikhwah mujahid ini berkata kepada ikhwah haroky: “Akhie… dapatkah antum membantu kami?” ikhwah haroky menjawab: “Afwan ana tidak bisa membantu kecuali seizin dari atasan ana, karena kita bukanlah satu tandzim”.
Astaghfirullah ….. Maa Syaa Allah …..
Kisah lain lagi:
Ada seorang ikhwah haroki datang kepada salah satu dari keluarga ikhwah mujahid yang ditawan oleh Thoghut la’natullahi ‘alaihim. Ikhwah haroki itu berkata kepada bapak ikhwah mujahid: “Pak, si Fulan (Mujahid) sekarang sudah bukan orang jama’ah lagi. Jadi tidak perlu diurus”.
Astaghfirullahal ‘adzim ….. Na’udzu billahi min dzalik …..
Kisah lain lagi:
Seorang ikhwah mujahid bershilaturrohim kepada salah seorang ikhwah haroky. Ketika baru ketemu, seroang ikhwah haroky berkata kepada ikhwah mujahid: “Kamu mau nge-BOM mana lagi haaaaaa?” tanpa memberikan sedikitpun bantuan. Padahal ikhwah mujahid datang kepadanya dengan segenggam harapan dia bisa membantu dan memberikan pembelaan terhadapnya dan terhadap jihad dan mujahidin.
Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian serupa dengan ini.
Wal ‘iyadzu billah …… Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah …… Hasbunallahu Wani’mal Wakiil ….. Ni’mal Maula Wani’man Nashir …..
Ikhwah fillah …..
Sesungguhnya kita hidup di dunia ini hanyalah menjadi hamba yang bertugas menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Tuannya. Jika ada perintah maka kita laksanakan semampu kita, dan jika ada larangan maka kita jauhi dan kita tinggalkan.
Ada amal ibadah yang dapat kita lakukan dengan secara infirodi (indifidu), seperti sholat sunnah rowatib, infaq, shoum, dan lain sebagainya. Dan juga ada amal ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali harus dengan berjama’ah. Seperti sholat wajib lima waktu bagi laki-laki, mensholati jenazah, dls. Dan ada amal ibadah yang bisa dilaksanakan dengan sendirian dan berjama’ah, yaitu “Jihad fie sabilillah”.
Ini semua ibadah kepada Allah, dan di dalam beribadah kepada Allah kita diperintahkan secara individu untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Oleh karena itu seorang anak bisa lebih baik ibadahnya dari orang tuanya, seorang murid bisa lebih baik ibadahnya dari gurunya, seorang anggota bisa lebih baik ibadahnya dari pemimpinnya, dan seorang santri bisa lebih baik ibadahnya dari kyainya. Karena setiap orang bisa berpotensi meningkatkan potensi ibadah masing-masing. Oleh karena itu Allah berfirman:
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kalian, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui terhadap yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian mengenai apa yang Telah kalian kerjakan”. (QS. Al Taubah: 105).
Dan Allah berfirman:
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurot: 13).
Kesadaran untuk bersatu di dalam amal ibadah masih sangat jarang difahami dan dilakukan oleh kebanyakan ikhwah haroky dan kaum muslimin pada umumnya. Justru sebaliknya kebanyakan amal ibadah mereka selalu bertendensi kepada tandzim tertentu, atau organisasi tertentu, dan atau pemimpin tertentu. Jika ia hendak beramal maka ia beramal terbatas pada kelompoknya saja, jika dia hendak membantu maka ia membantu terbatas kepada teman satu kelompoknya saja, dan jika dia hendak beramal maka tergantung kepada perintah dan larangan pemimpinnya. Astaghfirullahal ‘adzim…..
Ikhwah fillah …..
Ada tiga hal yang hendaknya kita fahami dan sadari dalam beramal:
  1. Beramal sesuai AL HAQ
  2. Bergabung dalam kelompok yang HAQ
  3. Tolong menolong di atas AL HAQ
Adapun penjabarannya sebagai berikut:
1.  Beramal sesuai AL HAQ :
Yang dimaksud beramal sesuai dengan AL HAQ adalah beramal sesuai dengan tuntunan Allah dan Rosul-Nya. Mengikut petunjuk yang ada di dalam Al Qur’an dan Sunnah Shollallahu ‘alaihi wasallam. Karena kebenaran itu hanya satu, yaitu yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rosul-Nya.
Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang Allah wahyukan kepada nabi-Nya. Karena mengikuti yang diwahyukan oleh Allah kepada nabi-Nya merupakan AL HAQ.
Allah Ta’ala berfirman:
“Ikutilah apa yang Telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”. (QS. Al An’am: 106)
Kemudian firman-Nya:
“Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”. (QS. An Nahl: 123).
Beramal sesuai AL HAQ merupakan barometer kita di dalam beramal. Dan AL HAQ menjadi NUQTOTUL INTILAQ (pijakan dasar) di dalam berfikir, beramal dan bergerak.
Sayyidina Ali bin Abi Tholib rhodhiyallahu ‘anhu berkata :
أَعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفُ أَهْلَهُ
“Kenalilah kebenaran (niscaya engkau) akan mengetahui siapa pelaku kebenaran”.
Dan dalam kata-kata mutiara arab dikatakan:
اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
“Lihatlah apa yang dikatakan! Dan jangan melihat siapa yang mengatakan!”
Kadang seseorang lupa akan prinsip “MENGIKUTI AL HAQ”, apalagi jika dia telah fanatic kepada orang tertentu dan atau kelompok tertentu. Maka ada ungkapan orang jahiliyah arab dahulu:
مَا أَنَا إِلاَّ مِنْ غَزِيَّةٍ. إِنْ تُرْشَدِ الْغَزِيَّةْ أَرْشُدْ
“Tiadalah aku kecuali bagian dari sebuah kelompok. Jika kelompok itu mendapat petunjuk maka aku pun akan mendapat petunjuk”.
Ikhwah fillah …..
Marilah kita mengalahkan nafsu kita untuk mengikuti AL HAQ, dan marilah kita bawa semua kepentingan kita untuk mengamalkan AL HAQ.
Jika ada suatu amal yang HAQ, maka kita wajib mengikutinya dan kita ikut andil di dalamnya. Contoh JIHAD FIE SABILILLAH. Jika memang hari ini ada jihad dan ada orang yang mengajak berjihad, maka kewajiban kita adalah menyambut seruan itu dan ikut andil bersama-sama dalam berjihad fie sabilillah. Tanpa kita melihat kelompok apa dan siapa?
Maksud kelompok apa adalah kelompok di luar kelompok di mana kita berkumpul, dan kelompok tersebut jelas bukan kelompok buatan Thoghut laknatullah ‘alaihim. Begitu juga dengan tanpa melihat siapa, maksudnya adalah siapa saja kalau dia tsiqqoh dengan Islam, bukan pecundang yang dibuat oleh Thoghut seperti kasus Komando jihad yang dibuat oleh ALI MURTOPO, maka kita wajib bergabung dengannya di dalam amal jihad ini. Jika kita tidak mampu ikut serta 100 % dalam berjihad, maka kewajiban kita adalah turut serta membantu dari yang kita mampu, dan kita masuk di dalam mata rantai jihad ini. Diamnya kita dari urusan ini menjadikan kita terkena CAP dari Allah sebagai QO’IDUN (Orang-orang yang duduk-duduk dari Jihad), sementara QO’IDUN itu disifati oleh Allah dengan sebutan FASIQUN. Secara khusus kajian ini dibahas di dalam Risalah dan Nida’at Ke-1.
2.  Bergabung dalam kelompok AL HAQ :
Yang dimaksud bergabung di dalam kelompok AL HAQ adalah masuk dan atau bergabung ke dalam sebuah TANDZIM (jama’ah) tertentu yang manhaj dan ajarannya sesuai dengan AL HAQ. Karena berjama’ah merupakan perintah Allah dan termasuk sunnah para rosul dan salaf ash sholih.
Diantara nash-nash yang menerangkan wajibnya berjama’ah adalah:
Firman Allah Ta’ala:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (QS. Ali Imron: 103).
Syekh Ibnu Katsir rohimhahullah dalam tafsir Al Quran Al ‘Adhim-nya menyebutkan tentang maksud ayat di atas yaitu perintah untuk berpegang teguh dengan Al Quran, berjamaah serta menggalang persatuan dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai, Beliau menambahkan lagi dengan menyitir hadits dari Abi Huroiroh, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَ يَسْخَطُ لَكُمْ  ثَلاَثاً : يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ أَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لاَ تَفَرَّقُوْا وَ أَنْ تَنَـاصَحُوْا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ , وَ يَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا : قِيْل وَقَالَ , وَكَثْرَةَ السُّوأَلِ وَ إِضَاعَةَ الْمَـالِ
“Sesungguhnya Allah ridho kepada kalian akan 3 hal dan marah akan 3 hal juga. Ia ridho kepada kalian akan hal; bahwa kalian beribadah kepada-Nya saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan bercerai berai, dan agar kalian saling menasehati orang yang oleh Allah ditaqdirkan memegang urusanmu. Dan Ia marah kepada kalian akan hal; Banyak bicara tanpa tahu sumber dari yang dibicarakan, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta”. (HR Muslim) [1]
Firman Allah Ta’ala:
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. (QS. Ali Imron: 105).
Syekh Ibnu Katsir rohimahullah berkata, “Allah Ta’ala melarang ummat ini seperti umat yang terdahulu yang berpecah belah, berselisih, meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, serta tidak berani berhujjah terhadap kaum mereka.” Lalu beliau menyitir hadits iftiroq yang di dalamnya hanya ada satu golongan yang masuk jannah, yaitu Al-jamaah [2]
Sabda Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam.
إِنَّ اَهْلَ الْكتِاَبَىْ افْتَرَقُوْا فِى دِيْنِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَ إِنَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً (يَعْنِى الاَهْوَاء) كُلُّهَا فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةً وَ هِىَ الْجَمَاعَةُ
“Sesungguhnya dua Ahlul Kitab berpecah belah dalam dien mereka menjadi 72 golongan, dan sungguh ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan -yaitu ahlul ahwa’- kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah.”
(Abu Dawud, Ahmad, Hakim dll hadits dari Mu’awiyah dan Anas radliyallaahu ‘anhu)[3]
Sabda Rasululloh shallallaahu ‘alayhi wa sallam:
وَ إِنَّ بَنِى إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً , وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِىْ عَلَى ثَلاَثٌ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ اِلاَّ وَاحِدَةٌ . قَالُوْا : وَ مَنْ هِىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟  قَالَ : مَا اَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِى
“Dan sesungguhnya Bani Isroil terpecah menjadi 72 golongan, dan ummat-ku akan terpecah menjadi 73 golongan yang seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu golongan saja”. Para shahabat bertanya, “Siapakah mereka itu ya Rosulullah?” Rasulullah bersabda, “Yaitu yang aku dan para shahabatku ada pada mereka”. (HR Tirmidziy, Hakim dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash)
Apakah yang dimaksud dengan JAMA’AH itu?
Para ahli ilmu menerangkan:
Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata:
الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَ لَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ وَ ِفى طَرِيْقٍ اَخَرٍ : الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ طَاعَةَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
“Jama’ah adalah yang sesuai dengan Al Haq walaupun keadaan kamu sendirian”. Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya Jama’ah itu apa saja yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla”. [4]
Berkata Abu Syamah:
حَيْثُ جَاءَ الْاَمْرُ بِلُزُوْمِ الْجَمَاعَةَ , فَالْمُرَادُ بِهِ لُزُوْمُ الْحَقِّ وَ اِتْبَاعُهُ , وَ اِنْ كَانَ الْمُتَمَسِّكُ بِالْحَقِّ قَلِيْلاً , وَالْمُخَالِفُ لَهُ كَثِيْرًا لِأَنَّ الْحَقَّ الَّذِىْ كَانَتْ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ الاُوْلَى مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ اَصْحَابِهِ وَ لاَ يَنْظُرُ اِلَى كَثْرَةِ أَ هْلِ الْبَاطِلِ بَعْدَهُمْ
“Ketika datang perintah untuk iltizam kepada jama’ah, maka yang dimaksud dengannya adalah meng-iltizami Al-Haq dan mengikutinya, walaupun orang yang berpegang teguh padanya sedikit dan yang menyelisihi banyak jumlahnya. Karena Al-Haq adalah yang ada pada jama’ah yang pertama yaitu Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para shahabatnya, dan tidak diukur dari banyaknya ahlul bathil setelah mereka.” [5]
Dan hal ini yang dikatakan pula oleh Abdullah bin Mubarok rohimahullah, ketika ditanya tentang siapa jama’ah yang pantas dijadikan panutan, beliau menjawab, “Abu Bakar dan Umar” dan ketika dikatakan mereka telah wafat, “Lalu siapakah yang masih hidup?” Beliau menjawab, “Abu Hamzah As-Sakriy”. Beliau menunjuk Abu Hamzah As Sakry di zamannya karena beliau seorang Ahli Ilmu, zuhud dan waro’.
Berkata Ishaq bin Rohuyyah:
اِنَّ الْجَمَاعَةَ عَالِمٌ مُتَمَسِّكُ بِاَثَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ طَرِيْقَتِهِ فَمَنْ كَانَ مَعَهُ وَ تَبِعَهُ فَهُوَ الْجَمَاعَةُ
“Jama’ah adalah orang yang mengetahui dan berpegang teguh pada sunnah Nabi dan manhaj-manhajnya, maka barang siapa yang bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan mengikutinya maka ia adalah Jama’ah”. [6]
Maka jelaslah bahwa luzumul-Jama’ah (Komitmen terhadap jama’ah) dalam makna ini adalah masuk segi ‘ilmiy-nya, yaitu meng-iltizami Al-Haq, mengikuti sunnah, mengikuti apa saja yang ada pada Salafush Sholih, dari hal-hal yang dasar dan prinsip seperti masalah aqidah (i’tiqod), syariah, halal, haram, wala’, dan juga keharusan menjauhi ahlul ahwa’ dan ahlul bid’ah yang termasuk didalamnya firqoh sesat. Lawan dari jama’ah dalam pengertian ini adalah berpecah belah dalam dien. Dan orang yang menyelisihinya adalah bid’ah dan sesat walaupun ia beriltizam pada Imam dan membaiatnya. [7]
Ikhwah fillah …..
Kadang pengertian JAMA’AH difahami dan dan selewengkan maknanya sesuai kepentingan si pembawa materi JAMA’AH ini. Yaitu ia menerangkan kepada mad’u (orang yang di dakwahinya) secara dalil sar’ie yang benar, akan tetapi dibawa kepada kepentingan kelompoknya, sehingga si mad’u mamahami bahwa JAMA’AH yang paling benar adalah JAMA’AH ini, selainnya dipandang kurang benar, dan atau tidak lebih benar dari jama’ahnya. Padahal jama’ah-jama’ah yang lain juga materinya sama seperti yang didapati oleh si mad’u tersebut.
Dari kasus ini maka terjadilah fanatisme kelompok, sampai-sampai seorang mad’u ketika sudah masuk ke dalam jama’ah tersebut ia merasa takut untuk keluar dari jama’ah tersebut karena ia ditakut-takuti oleh pemimpinnya bahwa ia telah keluar dari jama’ah dan telah membuat perpecahan. Padahal mad’u ini mau berpindah kepada jama’ah yang lebih benar dari jama’ah ini.
Ikhwah fillah …..
Ini fenomena umum yang terjadi sekarang ini. Sehingga banyak leher-leher para pemuda terjerat lehernya di dalam suatu jama’ah dengan jeratan BAI’AH dan SAM’U wa THO’AH. Sampai-sampai ketika ia hendak ikut serta menunaikan satu ibadah yang hukumnya fardhu ‘ain hari ini, yaitu jihad fie sabilillah, ia harus izin dulu kepada pemimpinnya. Jika pemimpinnya mengizinkan maka ia berjihad, dan jika tidak diizinkan maka ia pun tidak berjihad. Padahal dalam kondisi jihad fardhu ‘ain para ulama sepakat bahwa seorang anak tidak wajib izin kepada orang tuanya, seorang yang hutang tidak wajib izin kepada yang dihutangi, seorang budak tidak wajib izin kepada tuannya, dan seorang istri tidak wajib izin kepada suaminya.
Maka berapa banyak para pemuda yang leher dan kakinya terjerat oleh embel-embel SAM’U wa THO’AH kepada jama’ah sehingga dia tidak ikut serta dalam amal jihad fie sabilillah ini? Sementara jama’ahnya tidak mengajaknya untuk berjihad fie sabilillah.
Ikhwah fillah …..
Jama’ah-jama’ah yang ada hari ini adalah merupakan JAMA’ATUN MINAL MUSLIMIN (jama’ah dari kalangan kaum muslimin) bukan JAMA’ATUL MUSLIMIN (KHILAFAH). Sehingga ketika seseorang keluar dari satu jama’ah berpindah kepada jama’ah lain yang lebih HAQ, maka itu tidak salah dan bahkan dibenarkan oleh syari’at. Namun jika seseorang itu keluar dari JAMA’ATUL MUSLIMIN maka ia bisa murtad dan keluar dari Islam.
Jama’ah yang ada hari ini hanyalah menjadi sarana untuk melakukan amal ibadah yang tidak bisa kita tunaikan secara individu, dan melaui berjama’ah akan meringankan beban tugas kita. Seperti tugas jihad fie sabilillah, jika kita mampu berjihad sendirian maka kita boleh berjihad dengan sendirian, namun jika kita tidak mampu maka kita berjihad secara berjama’ah. Oleh karena itu berjama’ah dapat meringankan beban jihad kita. Namun jika ternyata jama’ah tersebut justru tidak menjadikan ringan beban jihad, justru malah memberatkan dan menghalang-halangi dari berjihad, maka keluar dari jama’ah tersebut menjadi sebuah keharusan, lalu kita berpindah kepada jama’ah lain yang lebih mendekatkan kita kepada kebenaran. Kalau bisa malah bergabung dengan TANDZIM JIHAD. Yang tandzim itu benar-benar 100 % programnya untuk berjihad fie sabilillah.
Ikhwah fillah …..
Marilah kita bersatu di dalam amal sholih, bukan bersatu di dalam Tandzim. Tandzim kita boleh berbeda, tapi di dalam menunaikan amal ibadah yang sifatnya bersama maka kita boleh bersatu di dalamnya. Seperti amal jihad fie sabilillah. Kita boleh beda tandzim, namun kita bisa bersama-sama menunaikan faridhoh jihad ini di dalam satu amal. Tandzim boleh beda, tapi amal jihad bisa bersama. Kita saling tolong menolong di dalam amal jihad ini, tanpa ada batasan kelompok dan benteng tandzim.
Ikhwah fillah …..
Ada satu jargon bagus yang diserukan oleh suatu tandzim “BERJIHAD MELALUI TANDZIM YANG TERTATA RAPI/TERPIMPIN”.
Ini adalah sebuah ungkapan yang bagus, namun tidak bagusnya adalah jika ungkapan ini dimaksudkan dengan “JIKA BERJIHAD TIDAK DI DALAM TANDZIM KAMI MAKA JIHADNYA TIDAK TERTATA RAPI”, atau menyiratkan arti “BAHWA JIHAD-JIHAD YANG DILAKUKAN MUJAHIDIN (DI NEGERI INI) SEKARANG MERUPAKAN JIHAD SPORADIS YANG TIDAK TERTATA RAPI DAN TERPROGRAM DENGAN BAIK”.
Jika kenyataannya jargon ini dibawa kepada makna yang tersirat seperti ini, maka sesungguhnya ini adalah “KALIMAH YANG HAQ YANG DIBAWA KEPADA KEBATILAN”. Sebagaimana perkataan orang-orang khowarij kepada Ali bin Abi Tholib rhodhiyallahu ‘anhu:
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِلله
“Tidak ada hukum kecuali (hokum) Allah”.
Lalu Ali bin Abi Tholib rhodhiyallahu ‘anhu menjawab:
كَلِمَةُ حَقٍّ يُرَادُ بِهِ الْبَاطِلُ
“(Ini adalah) kalimah yang HAQ yang diarahkan kepada ke-BATILAN”.
3.  Tolong menolong di atas al haq :
Kisah-kisah diatas menggambarkan satu fenomena yang terjadi di kalangan para aktifis harokah bahwa sebagian meraka ada yang beramal dan tolong menolong terbatas hanya pada kelompoknya saja, atau atas dasar pemimpinnya. Jika bukan dari kelompoknya maka ia tidak mau membantu, apalagi dalam urusan jihad dan mujahidin hari ini, yang penuh dengan resiko dan tantangan.
Sebagai contoh: Jika ada ikhwah mujahid yang menjadi MATHLUB (DPO/DAFTAR PENCARIAN ORANG), ia datang ke seorang ikhwah aktifis untuk minta tolong bisa disinggahi dan berteduh serta minta perlindungan dari kejaran musuh. Lalu ikhwah aktifis ini menolaknya dengan alasan: pertama: Ikhwah mujahid ini bukan dari kelompoknya. Kedua: Ikhwah mujahid ini berjihad tidak dibawah koordinasi amirnya. Ketiga: Jika menolong ikhwah mujahid ini maka resikonya adalah dipenjara oleh Thoghut, karena dikenai pasal 13 anti terorisme, dengan dakwaan “Menyembunyikan informasi dan pelaku tindak terror”. Wal ‘iyadzu billah.
Oleh karena itu hendaknya kita mengingat firman Allah Ta’ala:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al Maidah: 2).
Allah Ta’ala berfirman:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. (Al Hujurat: 10)
Dan firmanNya dalam ayat yang lain:
“Orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan sebahagiannya adalah penolong bagi sebahagian yang lain” (At Taubah: 71)
Mizan (Timbangan) kita di dalam menolong dan mencintai adalah IMAN, bukan timbangan Kelompok, Pemimpin dan atau timbangan suatu Kepentingan.
Memang kebanyakan kita memahami bahwa tolong menolong itu selalu berefek baik secara ukuran duniawi, seperti ketika seseorang memberi bantuan maka ia akan dianggap pahlawan, dermawan, dihormati orang, dls. Namun tidak pernah terbayang dalam benak fikiran bahwa ternyata ada efek dari menolong itu akan berakibat kepada ditangkap thoghut dan dipenjara. Yaitu ketika seseorang menolong para mujahidin yang hari ini dianggap oleh para thoghut itu sebagai “TERORIS” dan “PENGACAU KEMANAN”.
Ikhwah fillah …..
Ini adalah urusan amal sholih. Ini adalah urusan ibadah. Bahwa yang paling berhak memerintah dan melarang adalah Allah Ta’ala, bukan pemimpin dan tandzim. Jika perintah dan larangan pemimpin itu benar maka harus diikuti. Namun jika perintah dan larangan pemimpin itu maksiat kepada Allah maka haram mengikutinya, bahkan tanpa disadari jika kita taat kepada pemimpin tersebut maka kita telah menjadikannya sebagai Thoghut yang diibadahi (ditaati) selain Allah.  Oleh karena itu Allah berfirman:
“Mereka (orang-orang Nashrani) telah menjadikan para Ahbar (ahli ilmu/ulama) dan para Rahib (ahli ibadah) sebagai Arbaab (tuhan-tuhan) selain Allah. Juga Al Masih putera Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan Yang Haq kecuali Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (At Taubah: 31)
Ikhwah fillah …..
Amal jihad ini membutuhkan bantuan dan pertolongan dari segenap kaum muslimin. Membutuhkan andil oleh setiap muslim, terutama para aktivis yang hidup di dalam pergerakan Islam yang bercita-cita menegakkan Dien Allah di muka bumi ini.
Memang jihad ini berat, karena begitulah sunnatullah dalam ibadah ini. Dan memang jihad ini sulit, memang itulah karakter amal ibadah ini. Namun jika bersama-sama kita saling tolong menolong dan saling membantu, maka beban yang berat akan menjadi ringan, sesuatu yang sulit ini akan menjadi mudah bi idznillah tentunya.
Peran serta kita dalam amal jihad ini sangat berarti sekali dalam perjalanan jihad hari ini. Walau pun hanya sekedar do’a yang kita panjatkan buat para mujahidin.
Jika kita mampu ikut serta dengan jiwa kita maka hendaknya kita berangkat dan bergabung dengan para mujahidin yang hari ini berjalan di atas jalan jihad ini. Jika kita belum mampu maka kita harus ikut serta di dalam jihad ini sesuai kemampuan kita.
Apa yang kita mampu? Bukankah kita bisa berjihad dengan harta dan lisan kita? Bukankah kita mempunyai sedikit harta yang bisa kita infaq-kan kepada jihad dan mujahidin? Bukankah kita mempunyai tempat tinggal yang bisa digunakan berteduh mujahidin? Bukankah kita mempunyai ilmu yang kita gunakan membela mujahidin secara hujjah syar’iyyah? Dan masih banyak lagi yang kita punya dan itu berguna buat jihad dan mujahidin.
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فَاتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ
“Bertaqwalah kalian kepada Allah semampu kalian”.
Dan Allah berfirman :
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kemampuannya”.
Oleh karena itu wahai para ikhwah fillah, tidak ada alasan lagi kita berpangku tangan dari membantu mujahidin di dalam jihad ini. Tidak ada udzur sedikit pun dari kita untuk tidak menolong mujahidin. Namun jika antum semua masih merasa berat membantu mujahidin dan antum berlepas tangan dari menolong mereka, maka Allah lah yang akan menjadi penolong mereka. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:
إِلاَّ تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ
“Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad), pasti Allah menolongnya”.
Jika antum tidak mau menolong mujaidin, maka Allah lah yang akan menjadi penolongnya. Jika antum menutup tangan dari mengeluarkan infak kepada mujahidin, maka Allah lah yang akan memberikannya rizki. Karena para mujahidin hanya berharap kepada Allah. karena mujahidin yakin dengan sabda rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam:
وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ
“Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah”. (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)
Dan dalam hadits yang lain rosulullah bersabda :
“Wahai hambaku…. Sesungguhnya kalian semua kelaparan kecuali yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri makan kalian”. (HR. Muslim)
Ikhwah fillah …..
Kerinduanku untuk bisa berjihad bersama-sama dengan antum mengalahkan kerinduanku kepada keluarga dan handai tolanku. Besar harapanku untuk kita bersama-sama dalam memikul beban jihad yang mulia ini. Kita akan menjadi satu tubuh yang satu organ dengan oragan yang lainnya saling membutuhkan dan saling berperan. Bukankah orang mukmin dengan mukmin yang lainnya ibarat satu tubuh?
Hanya kepada Allah aku mengharap, dan semoga Allah mengabulkan harapanku.
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِا اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
نَصْرٌ مِنَ اللهِ وَفَتْحٌ قَرِيْبٌ
اَلَّلهُمَّ اَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ اَلَّلهُمَّ فَاشْهَدْ
اَلَّلهُمَّ اَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ اَلَّلهُمَّ فَاشْهَدْ
اَلَّلهُمَّ اَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ اَلَّلهُمَّ فَاشْهَدْ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Bumi Allah, 1 April 2009
[1] . Tafsir Ibnu Katsir I/516-517
[2] . Ibid I : 518
[3] . di-shohih-kan Al-Baniy dalam ta’liq Syarh ‘Aqidah Thohawiyah 578
[4] . Syarh I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Al Alkay, 1 : 69-70
[5] . Ibid. No 3
nukilan dari Anshorut Tauhid Was Sunnah Wal Jihad

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengunjung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: