~|[ Wasiat Syeikh USAMAH bin LADIN sepekan sebelum kesyahidannya ]|~


Yayasan Media As-Sahab

16 Jumadi Tsaniyah 1432 H

19 Mei 2011 M

Mempersembahkan Pesan syaikh Usamah bin Ladin
rahimahullah untuk umat Islam

Tentang revolusi di negeri-negeri kaum
muslimin

Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya,
meminta pertolongan-Nya, dan meminta
ampunan-Nya. Kami berlindung kepada
Allah dari kejahatan jiwa kami dan
keburukan amal perbuatan kami.
Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak ada yang dapat
menyesatkannya dan barangsiapa
disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada
yang dapat memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang
berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba Allah
dan utusan-Nya.
Amma ba’du…
Wahai umatku, umat Islam. Kami
mengikuti bersamamu peristiwa sejarah yang besar ini. Kami menyertaimu dalam
kegembiraan, keceriaan, kebahagian,
dan suka cita. Kami gembira karena
kegembiraanmu, dan kami bersedih
karena kesedihanmu. Kami sampaikan
ucapan selamat kepadamu atas kemenangan-kemenenganmu, semoga
Allah menerima para syudaha’mu,
menyembuhkan orang-orang yang
terluka di antaramu, dan membebaskan
orang-orang yang tertawan di antaramu.
Wa ba’du… Hari-hari baru terbit dengan kemuliaan
pemeluk Islam
para penguasa di negeri-negeri Arab
bersembunyi
singgasana kekuasaan telah dilipat
hingga datang kepada kita berita harapan kabar
gembira dan panji-panji kemenangan.
Umat Islam telah lama menghadapkan
muka mereka, menunggu-nunggu
kemenangan yang berita-berita gembira
tentang kedatangannya mulai nampak
dari Timur (Afghanistan, pent). Ternyata
matahari revolusi terbit dari sebelah Barat (Tunisia lalu Mesir, pent). Revolusi
mulai memancarkan sinarnya di negeri
Tunisia, maka umat Islam
menyambutnya dengan suka cita, wajah
bangsa-bangsa muslim berseri ceria
karenanya. Adapun kerongkongan para penguasa tercekik dan bangsa Yahudi
gemetar ketakutan karena telah
dekatnya janji-janji (kemenangan Islam
atas mereka, pent). Dengan tumbangnya
sang taghut (diktator), runtuh pula makna
kehinaan, ketertundukan, ketakutan, dan kemunduran. Sebaliknya bangkitlah
makna kebebasan, kemuliaan,
keberanian, dan kesiapan untuk maju.
Maka angin perubahan bertiup kencang
demi menginginkan kemerdekaan.
Tunisia telah menjadi pelopor atas hal itu. Lalu secepat kilat, para ksatria negeri
Kinanah (Mesir, pent) mengambil bara api
(contoh, pent) dari para revolusioner
Tunisia ke lapangan At-Tahrir. Maka
terjadilah revolusi yang besar? Revolusi
apakah gerangan? Revolusi penentuan nasib bagi seluruh
Mesir dan segenap umat Islam jika
mereka berpegang teguh dengan tali
agama Allah. Revolusi ini bukanlah
revolusi makanan dan pakaian. Ia adalah
revolusi kemuliaan dan harga diri, revolusi pengorbanan, menerangi
seluruh kota dan desa sungai Nil dari
wilayah dataran rendah hingga dataran
tinggi. Maka kemuliaan putra-putra Islam
mulai terlihat. Jiwa-jiwa mereka
merindukan kejayaan nenek moyang mereka. Mereka memungut di lapangan
At-Tahrir Kairo bara api untuk
mengalahkan pemerintahan-
pemerintahan yang lalim. Mereka tegak
melawan kebatilan. Mereka angkat
tinggi-tinggi kepalan tangan mereka sebagai perlawanan terhadap kebatilan.
Mereka tiada gentar terhadap tentara
kebatilan. Mereka saling berjanji dan
mereka meneguhkan janji tersebut.
Tekad mereka telah bulat, lengan tangan
mereka saling menopang, dan revolusi pun menjanjikan kemenangan.
Kepada mereka, para revolusioner yang
merdeka, di seluruh negara…
Pegang teguhlah oleh kalian kendali
inisiatif! Waspadailah diplomasi (dengan
pemerintahan zalim nan kafir, pent)! Karena sesungguhnya tidak ada jalan
tengah antara pengikut kebenaran dan
pengikut kesesatan. Sekali-kali tidak
mungkin ada.
Ingatlah oleh kalian bahwa Allah telah
mengaruniakan kepada kalian hari-hari yang masih akan ada kelanjutannya.
Kalianlah para ksatria berkuda dan
komandannya. Di tangan kalianlah tali
kekang dan kendali urusannya. Umat
Islam ‘menabung’ kalian untuk
peristiwa yang besar ini, maka sempurnakanlah perjalanan dan
janganlah kalian gentar dengan kesulitan
yang bakal menghadang.
Perjalanan menuju tujuan telah dimulai
Orang merdeka maju ke depan dengan
tekad bulat Jika orang merdeka telah mulai
menempuh jalan
Tak kan pernah merasa lelah atau
berhenti Sekali-kali ia tidak akan berhenti
sehingga tujuan-tujuan yang
direncanakan telah tercapai dan
harapan-harapan yang dicanangkan
telah tergapai, dengan izin Allah SWT.
Revolusi kalian adalah poros mesin gilingan dan tempat penggantungan
harapan orang-orang yang tertindas dan
terluka. Kalian telah membebaskan dari
umat ini banyak penderitaan yang berat
—semoga Allah membebaskan kalian
dari berbagai penderitaan—, dan kalian telah merealisasikan banyak harapan
besar —semoga Allah SWT
merealisasikan harapan-harapan
kalian—. Jalan tegak seperti halte bagi kalian
Keputus asaan di belakang, harapan di
depan
Kemuliaan dikembalikan dengan darah,
sebagaimana ia dirampas dengan darah
Singga pemberani mati demi membela sarangnya
Siapa mengorbankan nyawanya yang
berharga demi Rabbnya
Tuk melawan kebatilan mereka,
bagaimana ia akan dicela? Wahai putra-putra umatku, umat Islam…
Di depan kalian ada perempatan jalan-
jalan yang genting dan kesempatan
sejarah yang agung lagi jaran terjadi,
untuk membangkitkan umat Islam dan
membebaskan diri dari peribadatan kepada hawa nafsu para penguasa,
undang-undang positip, dan hegemoni
Barat.
Merupakan sebuah dosa besar dan
kebodohan yang besar apabila
kesempatan yang telah ditunggu-tunggu oleh umat Islam sejak banyak dekade ini
berlalu sia-sia belaka. Maka
pergunakanlah kesempatan ini sebaik
mungkin! Hancurkanlah patung-patung
dan berhala-berhala! Tegakkanlah
keadilan dan keimanan! Dalam kesempatan ini, saya
mengingatkan orang-orang yang jujur
(tulus berjuang untuk Islam, pent) bahwa
membentuk sebuah majlis yang
memberikan pendapat dan musyawarah
kepada bangsa-bangsa muslim dalam seluruh aspek yang urgen merupakan
sebuah kewajiban syar’i. Kewajiban itu
lebih tegas lagi atas diri para aktivis
Islam yang memiliki ghirah, yang sejak
lama mereka telah memberi nasehat
urgensi mencabut pemerintahan- pemerintahan yang zalim ini sampai ke
akar-akarnya.
Para aktivis Islam tersebut memiliki
tingkat kepercayaan (dukungan) yang
luas di kalangan kaum muslimin. Maka
mereka harus memulai program ini dan mengumumkannya dengan segera, jauh
dari dominasi para penguasa diktator.
Mereka harus harus membuat ‘kamar
operasi’ (lembaga riset dan litbang,
pent) yang memantau (mengikuti)
perkembangan kejadian(peristiwa) agar bekerja melalui langkah-langkah yang
seimbang (terukur) yang mencakup
seluruh kebutuhan umat Islam. Mereka
harus mengambil manfaat dari saran-
saran para tokoh cendekiawan umat ini,
dan meminta bantuan lembaga-lembaga kajian yang profesional serta orang-
orang bijak nan ahli umat ini untuk
menyelamatkan umat ini yang tengah
berjuang dalam rangka menjatuhkan
para penguasa taghut, sedang putra-
putra umat ini menghadapi berbagai pembantaian. Mereka harus membimbing
dan mengarahkan bangsa-bangsa
muslim —yang tengah berjuang untuk
menjatuhkan penguasa dan pilar-
pilarnya— dengan langkah-langkah yang
seharusnya (tepat) untuk melindungi revolusi ini dan merealisasikan tujuan-
tujuannya
Demikian juga wajib saling membantu
dengan bangsa-bangsa yang belum
memulai revolusi, untuk menentukan hari
H dan apa yang harus dikerjakan sebelumnya. Sebab, keterlambatan akan
menyebabkan hilangnya kesempatan.
Sebaliknya, tergesa-gesa sebelum
saatnya hanya akan menambah jumlah
korban. Saya perkirakan angin
perubahan akan melanda seluruh dunia Islam, dengan izin Allah. Maka para
pemuda wajib mempersiapkan hal-hal
yang semestinya untuk menghadapi
peristiwa tersebut. Janganlah mereka
memutuskan sebuah perkara sebelum
mereka bermusyawarah dengan para ahli yang berpengalaman lagi jujur, yang
jauh dari solusi-solusi ‘titik
temu’ (saling menguntungkan dengan
taghut, pent) dan berkompromi dengan
para penguasa zalim. Dalam syair (karya
al-Mutanabbi, pent) telah disebutkan: Gagasan itu mendahului keberanian
seorang pemberani
Gagasan yang pertama, keberanian yang
kedua Wahai umatku, umat Islam…
Sejak beberapa decade yang lalu, engkau
telah menyaksikan banyak revolusi.
Masyarakat menyambutnya dengan
gembira, namun tak lama sesudah itu
justru merasakan bencana-bencananya. Jalan untuk menjaga umat ini dan
revolusinya pada hari ini dari kesesatan
dan kegelapan adalah memulai dengan
revolusi kesadaran dan meluruskan
pemahaman-pemahaman dalam seluruh
bidang kehidupan, apalagi bidang-bidang pokok. Bidang yang paling penting adalah
rukun Islam yang pertama, dan sebaik-
baik buku yang ditulis dalam hal itu
adalah kitab ‘Mafahim Yanbaghi an
Tushahhah’ (Konsep-konsep yang
seharusnya diluruskan) karya syaikh Muhammad Qutub.
Lemahnya kesadaran kebanyakan putra
umat ini yang timbul dari wawasan yang
keliru yang disebar luaskan oleh para
penguasa sejak dekade yang lama,
merupakan musibah terbesar. Musibah- musibah lain yang menimpa umat ini
hanyalah salah satu buah yang pahit dari
buah-buah musibah terbesar ini. Itulah
wawasan kerendahan, keterbudakan,
ketundukan, dan ketaatan mutlak kepada
para penguasa —-sebuah bentuk peribadatan kepada para penguasa
selain peribadatan kepada Allah—
mengalah kepada para penguasa dalam
hak-hak dunia dan agama yang paling
urgen; menjadikan nilai-nilai, prinsip-
prinsip, dan tokoh-tokoh berkisar pada poros penguasa…telah menjadikan
manusia kehilangan kemanusiaannya,
menjadikannya berlari di belakang
penguasa dan keinginan-keinginan
penguasa, tanpa sadar atau mengetahui
duduk perkaranya, sehingga ia menjadi sekedar pengekor, jika masyarakat baik
maka ia ikut-ikutan baik, jika masyarakat
buruk maka ia ikut-ikutan buruk. Ia
menjadi barang dagangan yang murah,
penguasa berbuat kepadanya semuanya
sendiri. Mereka adalah para korban kezaliman dan penindasan di negeri-
negeri kita. Para penguasa
mengeluarkan mereka agar mereka
meneriakkan (yel-yel dukungan, pent)
kepada para penguasa tersebut dan
berdiri dalam parit (kelompok pendukung) para penguasa tersebut.
Para penguasa telah berusaha untuk
membuat rakyat melepaskan hak
terpenting yang telah Allah berikan
kepada mereka. Para penguasa
meniadakan akal sehat umat ini dan meminggirkan peranannya dalam
seluruh bidang kehidupan yang penting
melalui pengerahan usaha intensif
lembaga-lembaga keagamaan negara
dan media massa negara yang
menetapkan keabsahan pemerintahan para penguasa tersebut. Mereka
‘menyihir’ mata, akal, dan keinginan
rakyat. Mereka melaris-maniskan
‘pemberhalaan’ penguasa. Mereka
membangunkan pondasi keabsahan
pemerintahan para penguasa tersebut secara dusta, atas nama agama dan
tanah air. Mereka menanamkan hal itu
dalam hati rakyat, agar rakyat
menghormati para penguasa, orang-
orang tua menganggap kesuciannya, dan
anak-anak tidak selamat darinya. Padahal anak-anak tersebut adalah
amanah di pundak kita, dan mereka
dilahirkan di atas fitrah. Para penguasa
membunuh fitrah anak-anak tanpa
perasaan dan tanpa kasih sayang. Orang
tua memasuki masa jompo di atas keadaan seperti itu dan anak-anak
tumbuh dewasa dalam suasana itu pula.
Para taghut semakin melampaui batas
dan kaum yang tertindas semakin
tertindas. Maka apalagi yang kalian
tunggu? Maka selamatkanlah diri kalian dan anak-
anak kalian! Kesempatan emas telah
muncul, terkhusus lagi setelah para
pemuda umat ini menanggung resiko-
resiko revolusi ini dan musibah-
musibahnya, peluru taghut dan siksaannya. Para pemuda itu telah
membukakan jalan dengan
pengorbanan-pengorbanan mereka.
Mereka membangun jembatan
kemerdekaan dengan darah-darah
mereka. Para pemuda yang usianya masih belia. Mereka menceraikan dunia
kehinaan dan penindasan. Mereka
meminang kemuliaan atau kuburan
(kematian). Apakah para penguasa telah
sadar bahwa rakyat telah keluar, dan
sekali-kali mereka tidak akan kembali, sehingga mereka berhasil
merealisasikan janji-janji dengan izin
Allah SWT.
Sebagai penutup pesan ini…
Sesungguhnya kezaliman besar di negeri-
negeri kita telah mencapai tarap yang demikian besar. Kita sangat terlambat
dalam mengingkari dan merubahnya.
Barangsiapa sudah memulai
(mengingkari dan merubah kezaliman
besar tersebut), hendaklah ia
menyelesaikannya, semoga Allah menolongnya. Dan barangsiapa belum
memulai, hendaklah ia menyiapkan
perbekalan untuk menghadapinya!
Renungkanlah hadits shahih bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiada seorang nabi pun yang Allah utus
pada umat sebelumku, melainkan ia
memiliki hawarriyun (para pendukung utama) dan sahabat-sahabat dari
kalangan umatnya. Mereka mengambil
sunah nabi tersebut dan mengikuti
perintahnya. Setelah mereka berlalu,
maka muncul beberapa generasi yang
mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, dan mengerjakan apa yang
tidak diserahkan kepada mereka.
Barangsiapa berjihad melawan mereka
dengan tangannya, maka ia adalah
seorang mukmin. Barangsiapa berjihad
melawan mereka dengan lisannya, maka ia adalah seorang mukmin. Dan
barangsiapa berjihad melawan mereka
dengan hatinya, maka ia adalah seorang
mukmin. Di balik itu tiada keimanan lagi
walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Beliau SAW juga bersabda:
“Pemimpin para syuhada’ adalah
Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang laki-laki yang melakukan amar ma’ruf
dan nahi munkar kepada penguasa yang
zalim, maka penguasa itu
membunuhnya.” (HR. Al-Hakim)
Saya ucapkan selamat bagi siapa yang
keluar dengan niat yang agung ini. Jika ia terbunuh, maka ia menjadi pemimpin
para syuhada’. Dan jika ia hidup, maka
ia mulia dan Berjaya. Maka
perjuangkanlah kebenaran dan janganlah
menghiraukan resikonya!
Mengatakan kebenaran kepada taghut Adalah kemuliaan dan kabar gembira
Itulah jalan kemuliaan di dunia
Dan jalan kebahagiaan di akhirat
Jika mau, silahkan mati sebagai budak
Dan jika mau, silahkan mati sebagai
orang merdeka Ya Allah, berikanlah kemenangan yang
nyata kepada orang-orang yang berjuang
untuk menegakkan agama-Mu!
Karuniakanlah kesabaran, ketepatan,
dan keyakinan kepada mereka!
Ya Allah, realisasikanlah untuk umat ini perkara yang lurus, dengannya orang-
orang yang mentaati-Mu dimuliakan dan
orang-orang yang mendurhakai-Mu
dihinakan, perbuatan yang ma’ruf
diperintahkan dan perbuatan yang
mungkar dilarang Wahai Rabb kami, berikanlah kepada
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat, dan lindungilah kami dari api
neraka!
Ya Allah, kuatkanlah orang yang lemah di
antara kami, sembuhkanlah orang yang terluka di antara kami, dan teguhkanlah
pijakan kaki kami!
Ya Allah, hancurkanlah para pemimpin
kezaliman, lokal maupun internasional,
dan menangkanlah kami atas kaum yang
kafir. Akhir doa kami adalah segala puji bagi
Allah Rabb semesta alam.

FAKTOR KEBODOHAN & Pengaruhnya Terhadap Hukum-Hukum Keyakinan (Pasal VII) Tema Kedua Tema Kedua: Penegasan Para Ulama Madzhab Malikiy Penegasan Para Ulama Madzhab Malikiy Perihal Tidak Ada Pengudzuran Dengan Sebab Kebodohan Di Dalam Masail Dhahirah


FAKTOR KEBODOHAN & Pengaruhnya Terhadap Hukum-Hukum Keyakinan (Pasal VII) Tema Kedua
Tema Kedua:

Penegasan Para Ulama Madzhab Malikiy

Penegasan Para Ulama Madzhab Malikiy Perihal Tidak Ada Pengudzuran Dengan Sebab Kebodohan Di Dalam Masail Dhahirah

(14) Al Imam Al Qarafiy Al Malikiy berkata dalam konteks pembicaraannya tentang macam-macam kebodohan, dan apa yang dianggap sebagai udzur dan apa yang tidak dianggap sebagai udzur, dimana beliau berkata: “Macam kedua adalah: kebodohan yang mana pemilik syari’at ini tidak memberikan kelapangan terhadapnya di dalam syari’at ini, dan tidak memaafkan orangnya. Sedangkan batasan bakunya adalah bahwa setiap hal yang tidak sukar menghindar darinya dan tidak sulit atas dirinya maka ia tidak dimaafkan dan taklif untuk mengerjakan tidak lenyap. Dan macam ini berlaku di dalam ushuluddien atau i’tiqadiyyat dan ushulul fiqh dan sebagian ahkam fiqhiyyah far’iyyah. Adapun ushuluddien maka kebodohan tidak dianggap di dalamnya, namun wajib mengetahui aqidah yang benar dengan belajar dan bertanya, dan barangsiapa menganut aqidah bersama kebodohan maka dia telah memikul dosa yang nyata, karena Musyarri’ (Allah) telah memberikan pengetatan yang besar di dalam ‘aqaid ushuluddien, sampai pada tingkat bahwa seseorang seandainya mengerahkan segenap kemampuannya dan bersusah payah di dalam mengenal aqidah yang benar namun upaya kerasnya ini tidak menghantarkannya kepada (kebenaran) itu, maka dia itu dosa lagi kafir menurut pendapat yang masyhur dari berbagai madzhab, dan dia tidak diudzur dengan sebab kesalahannya dalam ijtihad, karena orang itu dituntut untuk menepati kebenaran dalam aqidah, dan dalam mengenal dalil-dalil Wahdaniyyah Allah serta dalam rincian ushuluddien. Ini berbeda dengan furu’ fiqhiyyah yang mana ia bukan termasuk ushul, maka syari’at ini telah memaafkan kekeliruan di dalamnya setelah ijtihad dan pencarian, berdasarkan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر واحد”

“Bila seorang hakim berijtihad terus ia menepai kebenaran maka ia mendapat dua pahala, dan bila ia keliru maka dia mendapat satu pahala.”[1]

(15) Dan beliau rahimahullah berkata juga:

“ولذلك لم يعذره الله بالجهل في أصول الدين إجماعاً “

“Dan oleh sebab itu Allah tidak menudzurnya dengan sebab kejahilan di dalam ushuluddien berdasarkan Ijma.”[2]

(16) Dan beliau berkata di dalam apa yang telah dinukil darinya oleh Ibnu Hajar Al Haitamiy seraya mengakuinya di dalam Al I’lam saat berbicara tentang doa-doa Shufiyyah yang di dalamnya terdapat ucapan yang syirik dan kekafiran yang mengeluarkan dari agama Islam, dimana beliau berkata: “Dan ketahuilah bahwa kebodohan terhadap apa yang ditimbulkan oleh doa-doa ini adalah bukan udzur di sisi Allah ta’ala; karena sesungguhnya kaidah syar’iyyah telah menunjukan bahwa setiap kebodohan yang bisa dihindari oleh orang mukallaf adalah tidak bisa menjadi hujjah bagi orang bodoh, kemudian beliau berkata: “Ya, kebodohan yang menurut kebiasaan tidak mungkin bisa dilenyapkan oleh orang mukallaf adalah menjadi udzur, seperti seandainya seorang pria menikahi saudarinya yang dia kira wanita ajnabiyyah (lain)…. sedangkan sumber kerusakan yang masuk terhadap orang di dalam doa-doa ini adalah kebodohan, maka hati-hatilah kamu terhadap kebodohan itu dan berambisilah untuk memiliki ilmu, karena ilmu itu adalah keselamatan dan hindarilah kebodohan karena ia itu kesesatan.”[3]

(17) Ucapan Ad Dardir Al Malikiy, berkata dalam Asy Syarh Ash Shaghir:

“ولا يُعذر بجهل، أو سكر، أو تهور، أو غيظ، أو بقوله: أردت كذا، قال في الشرح: (ولا يعذر الساب بجهل)؛ لأنه لا يعذر أحد في الكفر بالجهل”

“Dan tidak diudzur dengan sebab kebodohan, atau mabuk, atau serampangan, atau kedongkolan atau dengan sebab ucapannya: Saya maksudkan begini. Berkata di dalam Asy Syarh: (Dan orang yang menghina (Rasul) tidak diudzur dengan sebab kebodohan); karena sesungguhnya tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan.”[4]

(18) Ucapan Al Qadliy ‘Iyadl Al Malikiy, beliau rahimahullah berkata:

“لا يُعذر أحد في الكفر بالجهالة، ولا بدعوى زلل اللسان، ولا بشيء مما ذكرناه، إذا كان عقله في فطرته سليمة، إلا من أكره وقلبه مطمئن بالإيمان، وبهذا أفتى الأندلسيون على من نفى الزهد عنه صلى الله عليه وسلم”

“Tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan, dan tidak pula dengan sebab klaim keterpelesetan lidah, serta tidak pula dengan sebab sesuatu dari hal-hal yang telah kami utarakan, bila akalnya masih waras, kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tentram dengan keimanan. Dan dengan inilah para ulama Andalusia telah mengeluarkan fatwa terhadap orang yang menafikan sikap zuhud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[5]

(19) Ucapan Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’iy seraya mengakui ucapan Al Qadliy ‘Iyadl yang lalu, beliau berkata dalam kitab Al I’lam setelah menukil ucapan Al Qadliy yang tidak mengudzur dengan sebab kebodohan di dalamnya: Dan apa yang beliau sebutkan itu dhahirnya sejalan dengan qawaid madzhab kami, karena patokan di dalam vonis kafir itu adalah terhadap hal-hal yang dhahir, dan tidak perlu meninjau kepada maksud dan niat, serta tidak perlu memperhatikan kepada qarinah-qarinah keadaannya. Ya, diudzur orang yang mengklaim kebodohan bila dia diudzur karena kondisinya baru masuk Islam atau jauhnya dari tempat orang-orang yang berilmu, sebagaimana hal itu diketahui dari apa yang saya ungkapkan darinya dalam Ar Raudlah, dan diudzur juga menurut pendapat yang kuat dengan klaim sabqullisan (ketidaksengajaan lidah) berkaitan dengan pengangkatan vonis bunuh darinya, walaupun tidak diudzur di dalamnya berkaitan dengan keterjadian thalaq dan pemerdekaannya, sedangkan perbedaannya adalah bahwa itu adalah hak Allah ta’ala yang mana ia itu dibangun di atas sikap memaafkan, berbeda dengan dua hal ini.”[6]

Maka lihatlah pengakuan Ibnu Hajar Al Haitamiy terhadap ucapan Al Qadliy ‘Iyadl Al Malikiy, dan ucapannya bahwa hal itu sejalan dengan madzhab kami serta pengakuannya terhadap ucapannya: “Karena tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan,” serta pengecualiannya pada keadaan-keadaan khusus yang keluar dari kaidah ini, di antaranya: orang yang baru masuk Islam atau orang yang hidup di pedalaman yang jauh dari negeri kaum muslimin atau jauh dari orang-orang yang berilmu; maka sesungguhnya dia itu diudzur dengan sebab kebodohan. Dan begitu juga orang yang terpeleset lidahnya sehingga muncul kekafiran dari ucapannya, maka pengkafiran orangnya menjadi ajang perselisihan di antara ulama, dimana Al Qadliy ‘Iyadl dan fuqaha Malikiyyah di Andalusia memvonisnya kafir, sedangkan Al Haitamiy dalam kitab Al I’lam tidak memvonisnya kafir, dan inilah yang kuat sebagaimana yang telah dijelaskan di banyak tempat dari kitab ini.

(20) Al Imam Syamsuddin Ibnu ‘Arafah Al Malikiy yang terkenal dengan nama Ad Dasukiy berkata dalam penjelasannya terhadap ktab Asy Syarhul Kabir, dalam konteks pembicaraannya tentang riddah dan penjelasannya bahwa di dalamnya tidak ada udzur dengan sebab kebodohan. Beliau rahimahullah berkata:

“قوله: أو شك في ذلك أي سواء كان ممن يُظّنُّ به العلم أو لا؛ لأن الحق أنه لا يُعذر في موجبات الكفر بالجهل، كما صرح به أبو الحسن المالكي في شرح رسالة محمد بن أبي زيد القيرواني”

“Ucapannya: atau ragu di dalamnya hal itu, yaitu baik hal tersebut muncul dari orang yang diduga memiliki ilmu ataupun tidak; karena yang benar adalah bahwa tidak diudzur dengan sebab kebodohan di dalam hal-hal yang mengkafirkan, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Abul Hasan Al Malikiy dalam Syarh Risalah Muhammad Ibni Abi Zaid Al Qairuwaniy.”[7]

(21) Al Imam Shalih Ibnu Abdis Sami’ Al Abiyy Al Malikiy berkata dalam kitab Jawahir Al Iklil Fisy Syarh Mukhtashar Khalil:

“إما لجهل، أو سكر أو تهور –أي توسع ومبالغة في كثرة كلامه، وقلة مراقبته وعدم ضبطه، فلا يعذر بالجهل، ولا بدعوى زلل اللسان”

“Baik karena kebodohan atau mabuk atau tahawwur -yaitu serampangan dan berlebihan dalam banyak bicaranya dan kurang pengawasannya serta tidak ada pengendaliannya- maka tidak diudzur dengan sebab kebodohannya dan tidak pula dengan klaim keterpelesetan lidah.”[8]

(22) Al Qarafiy Al Malikiy berkata dalam konteks pembicaraannya tentang Faktor Kebodohan: “Adapun furu bukan ushul maka pemilik syari’at ini telah memaafkan hal itu, dan barangsiapa mengerahkan segenap kemampuannya di dalam furu’ terus ternyata dia keliru maka dia mendapat satu pahala, dan barangsiapa menepati kebenaran maka dia mendapat dua pahala sebagaimana yang ada dalam hadits. Ulama berkata: Dan ushul fiqh diikutkan kepada ushuluddien. Abul Husen berkata dalam Al Mu’tamad Fi Ushulil Fiqhi: “Sesungguhnya ushul fiqhi itu khusus berkaitan dengan tiga hukum tentang fiqh, bahwa orang yang benar di dalamnya adalah satu, dan orang yang keliru di dalamnya adalah dosa, serta tidak boleh taqlid di dalamnya. Dan tiga hal yang beliau hikayatkan ini adalah sama sepenuhnya di dalam ushuluddien, sehingga nampaklah di hadapanmu perbedaan antara kaidah suatu yang mana kebodohan adalah udzur di dalamnya dengan kaidah suatu yang mana kebodohan adalah bukan udzur di dalamnya.”[9]

(23) Beliau rahimahullah berkata juga seraya membedakan antara masail yang mana mukallaf diudzur dengan sebab kebodohan di dalamnya dengan masail yang tidak diudzur di dalamnya, dimana beliau berkata:

“Dan keempatnya: Barangsiapa yang membunuh seorang muslim yang ada di barisan orang-orang kafir yang dia mengiranya orang kafir harbi, maka sesungguhnya tidak ada dosa terhadapnya dalam ketidaktahuannya terhadapnya dikarenakan kesulitan menghindar dari hal itu dalam kondisi seperti itu, dan seandainya dia membunuhnya dalam kondisi lapang tanpa melakukan pengecekan hal itu tentu dia dosa.

Dan kelimanya: Hakim memutuskan dengan landasan para saksi palsu sedang dia tidak mengetahui keadaan mereka, maka tidak ada dosa atasnya dalam hal itu karena sukarnya penghindaran dari hal itu atasnya, dan silahkan engkau qiyaskan terhadap hal itu apa yang muncul di hadapanmu dari hal yang semisal ini, sedangkan selainnya adalah dibebankan kepadanya, dan barangsiapa melakukannya bersama kebodohan maka dia telah dosa, terutama di dalam hal-hal keyakinan; karena pemilik syari’at ini telah melakukan pengetatan yang sangat di dalam ushuluddien, di mana seandainya seseorang mengerahkan segenap usahanya dan menuangkan maksimal kemampuannya dalam melenyapkan kejahilan dari dirinya perihal suatu Shifat Allah ta’ala, atau perihal sesuatu dari ushuluddien yang wajib diyakini dan kemudian kejahilan itu tidak terangkat, maka sesungguhnya dia itu dosa lagi kafir dengan meninggalkan keyakinan itu yang mana ia itu termasuk deretan iman, lagi dia dikekalkan di neraka menurut pendapat yang masyhur dari berbagai.”[10]

(24) Dan di dalam kitab Bulghatus Salik Li Aqrabil Masalik ila Madzhab Al Imam Malik milik Ahmad Ibnu Muhammad Al Malikiy di dalam konteks pembicaraannya tentang riddah:

“ولا يعذر الساب (بالجهل)؛ لأنه لا يُعذر أحد في الكفر بالجهل”

“Dan orang yang menghina Rasul tidak diudzur (dengan kebodohan); karena sesungguhnya tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan” …..hal ini diakui oleh pemilik kitab itu.[11]

Maka terbuktilah dari penegasan para ulama madzhab Malikiy bahwa di sana ada kaidah umum -menurut mereka- yang mencakup orang yang menghina (Rasul) dan yang lainnya, yaitu: (Sesungguhnya tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan), sebagaimana ia adalah ungkapan pemilik “Bulghatus Salik” dan pemilik “Asy Syarhu Ash Shaghir” dan pemilik “Jawahir Al Iklil”. Dan bila engkau mengamati ucapan Al Imam Syamsuddien Ibnu ‘Arafah “Karena yang benar adalah bahwa tidak diudzur dengan sebab kebodohan di dalam hal-hal yang mengkafirkan,” dan penukilan kaidah ini dari Al Imam Abul Hasan Al Malikiy, maka nampak jelaslah kesalahan pendapat orang yang mengklaim bahwa ulama mengecualikan orang yang menghina Nabi dan orang yang memperolok-olok ajaran dan mereka tidak mengudzur keduanya tapi mengudzur selain keduanya.

(25) Al ‘Allamah Asy Syaikh Abdul Aziz Hamd Alu Mubarak Al Ahsai, berkata:

“لا يعذر الساب بجهل، لأنه لا يعذر أحد في الكفر بالجهل ولا يعذر بتهور، وهو كثرة الكلام بدون ضبط، ولا يعذر بغيظ، ولا يقبل منه دعوة سبق اللسان، ولا دعوى سهو ولا نسيان. قلت: “ومحل هذا ما لم تقم قرينة وإلا فيعذر بذلك”

“Orang yang menghina Nabi tidak diudzur dengan sebab kebodohan, karena tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan, dan tidak diudzur dengan sebab tahawwur, yaitu banyak berbicara tanpa kendali, dan tidak diudzur juga dengan sebab kedongkolan, dan tidak diterima darinya klaim keterpelesetan lisan, juga klaim lalai dan lupa. Saya berkata: Dan posisi ini adalah selagi tidak ada qarinah, dan bila ada qarinah maka diudzur dengan sebab itu.”[12]

* * *

[1] Al Furuq 2/144 dan yang sesudahnya, dan Tahdzib Al Furuq, “Telah lalu kami katakan bahwa pada sebagian ucapan Al Qarafiy itu ada koreksi, dan bahwa yang benar adalah bahwa orang yang mengerahkan segenap kemampuannya dan menupahkan maksimal upayanya, maka bisa jadi diudzur dengan sebab kebodohannya sesuai apa yang telah ditetapkan oleh para ulama perihal status hukum orang yang memiliki kesempatan untuk belajar dan orang yang tidak memiliki kesempatan.”

[2] Syarh Tanqih Al Fushul: hal: (439)

Faidah muhimmah:

Malikiyyah menyendiri dari para ulama lain, dimana Malikiyyah ini tidak mengudzur dengan sebab kebodohan termasuk di dalam banyak permasalahan fiqh, seperti nikah, syuf’ah, hudud, lian, kaffarat, thalaq, dan yang lainnya. Silahkan dalam hal ini rujuk (Kitab Masail Laa Yu’dzaru Fiha Bil Jahli ‘Ala Madzhabil Imam Malik) Syarh Al ‘Allamah Al Amir Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Abdil Qadir As Sanbawiy ila qith’ah Bahram Ibnu Abdillah ‘An Abdil Aziz, terbitan Dar Al Gharbi Al Islamiy, Beirut, tahqiq Asy Syaikh Ibrahim Al Mukhtar Ahmad Umar Al Jibritiy Az Zaila’iy.

[3] Al ‘Ilam, hal 76 terbitan Asy Sya’bi.

[4] Asy Syarh Ash Shaghir Bab Riddah hal 347.

[5] Syarh Asy Syifa 2/438 dan Al I’lam hal 63.

[6] Al I’lam  Bi Qawathi’il Islam, hal 65 terbitan Asy Sya’bi.

[7] Hasyiyah Ad Dasukiy ‘Ala Asy Syarhil Kabir Fi Fiqhil Malikiyyah 4/302 terbitan Al Babiy Al Halabiy.

[8] Jawahir Al Iklil Fisy Syarh Mukhtashar Khalil Fil Fiqhil Malikiyyah 2/281 terbitan Isa Al Halabiy.

[9] Al Furuq milik Imam Al Qarafiy 2/150 terbitan A’lamul kitab – Beirut.

[10] Ibid, 1/150-151.

[11] Bulghatus Salik Li Aqrabil Masalik ila Madzhab Al Imam Malik 3/453 milik Asy Syiakh Al Imam Ahmad Ibnu Muhammad Al Malikiy, terbitan Al Babiy Al halabiy.

[12] Rujuk Tabyin Al Masalik Syarh Tadrib As Salik ila Aqrabil Masalik 4/484, terbitan Dar Al Gharb Al Islamiy.

Siapa Yang Memiliki Hak Mengkafirkan ?


Syaikh Ali Ibnu Khudlair Al Khudlair ditanya:

Siapa yang memiliki hak untuk mengkafirkan orang mu’ayyan? Bolehkan orang biasa mengkafirkan orang mu’ayyan yang muncul darinya kekafiran yang nyata, terutama bila dia itu sudah memahami ahkam takfir dan mawani’nya yang mu’tabar? Ataukah dikatakan kepadanya: Jangan kamu melakukan hal itu dan serahkan saja hak pengkafiran itu kepada qadliy atau mufti atau orang ‘alim yang diikuti? Kami mohon penjelasan, karena telah banyak perdebatan dalam hal ini.

Maka beliau menjawab: Jawabannya adalah sebagaimana yang telah engkau sebutkan, dimana orang biasa -yang sudah memahami ahkam takfir dan mawani’nya yang mu’tabar- itu berhak untuk mengkafirkan. Dan inilah yang pengamalannya berjalan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai zaman kita sekarang ini.

Adapun orang yang tidak mengetahui hal itu, maka dia tidak boleh melakukannya, berdasarkan hadits: “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir” maka salah seorang dari keduanya telah kembali dengan tuduhan itu.”

Takfir itu bukanlah termasuk hak khusus qadliy atau mufti atau orang alim yang diikuti, sungguh ini adalah anggapan yang salah.

Terjemahan Kitab Mukhtashar Al Fiqhil Islamiy Penulis: Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim At Tuwaijiriy


Terjemahan Kitab
Mukhtashar Al Fiqhil Islamiy

Penulis: Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim At Tuwaijiriy
Alih Bahasa: Abu Sulaiman

Penterjemah berkata: Sengaja saya terjemahkan dari Bab Nikah sampai akhir Kitab ini, karena kebutuhan yang mendesak terhadap permasalah fiqh ini, disamping bahasan awal-awal kitab sudah banyak di dalam buku-buku lain…
VI.  Bab Nikah Hal-Hal Yang Menyertainya

Dan meliputi hal-hal berikut ini :

1.   Nikah

2.   Thalaq

3.   Ruju’

4.   Khulu

5.   Illa’

6.   Dhihar

7.   Li’an

8.   Iddah

9.   Radla’n (susuan)

10. Hadlanah (pengasuhan)

11. Nafkah

(Makanan, minuman, sembelihan dan buruan)
VII.  Bab Qishash Dan Hudud

Kitab ini meliputi hal-hal berikut ini :

I.  Kitab Qishas

1.  Jinayat

2.  Macam-macam pembunuhan

    Pembunuhan Disengaja (Qatlul ’Amdi)
    Pembunuhan Seperti Disengaja (Qatlul Syibhil ‘Amdi)
    Pembunuhan Karena Kesalahan (Tidak Disengaja) (Qatlul Khatha’)

3. Qishash bukan pada jiwa

4. Diyat jiwa

5. Diyat bukan pada jiwa

II. KITAB HUDUD

1. Had Zina

2. Had Qadzaf

3. Had Khamr

4. Had Pencurian

5. Had Quththa’ ath Thariq (perampokan)

6. Had Para Pemberontak Muslim (Ahlul Baghyi).

(Ta’zir, Riddah, Sumpah dan Nadzar)
VIII. Bab Qadla (Kehakiman/Peradilan)

Bahasan ini meliputi:

1. Makna Qadla dan Hukumnya

2. Keutamaan Qadla

3. Bahaya Qadla

4. Etika-Etika Seorang Qadli (Hakim)

5. Tata Cara Memutuskan

6. Dakwaan (Tuntutan) Dan Bayyinat (Bukti-bukti)
IX. Bab Jihad Di Jalan Allah

Bab ini meliputi bahasan-bahasan berikut ini:

1. Makna Jihad, Hukumnya dan Keutamaannya

2. Macam-macam Jihad

3. Etika-Etika Jihad di Dalam Islam

4. Akad Dzimmah

5. Akad Perdamaian

6. Khilafah dan Imarah
X. Bab Dakwah kepada (Agama) Allah

Ini meliputi bahasan-bahasan berikut ini:

1. Kesempurnaan Dienul Islam

2. Hikmah Penciptaan Manusia

3. Keumuman Dienul Islam

4. Dakwah Kepada (Agama) Allah

5. Keajaiban dakwah kepada (agama) Allah.

6. Dasar-dasar pokok dari Dakwah para Nabi dan Para Rasul.

Statement Penting dari THORIQUNA @ Group Facebook


بسم الله الرحمن الرحيم

Statement Penting dari THORIQUNA @ Group Facebook

Kami akan tetap melawan walau hanya dari Facebook

Allahu subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا لَكُمْ لاَ تُقَاتِلُوْنَ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلِْدَانِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيْرًا

Dan mengapa kamu tidak mau Berperang fie Sabilillah sedangkan di sana ada orang-orang yang terdholimi dari kalangan Lelaki dan Wanita serta Anak-anak yang sampai-sampai mereka berkata : “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya dzolim ini dan jadikanlah bagi kami wali dari sisi-Mu dan jadikanlah bagi kami Penolong dari sisi-Mu

Sebagaimana telah kita saksikan bersama, hari ini kita menyaksikan Ummat Islam dibunuh, dibantai, ditembaki, dipukuli dan dihinakan serta seolah-olah menjadi hina dan terhinakan setelah sebelumnya Ummat Islam berjaya, berkuasa dan sukses berabad-abad, dari satu daulah ke daulah yang lain, dari satu khilafah ke khilafah yang lain, dan telah berhasil menguasai 2/3 dari Dunia ini dan tersebarnya Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin.

Di kala manusia membisu dan hanya bisa meratapi Kepedihan yang menyayat hati saat Pasukan Kafir Syi’ah membantai saudara-saudara kami di Suriah dan tempat lain, saat Pasukan Kafir Burma membantai saudara-saudara kami di Arakan setelah sebelumnya saudara-saudara kami pun juga dibantai dan dibunuhi di Palestina, Afghanistan, Iraq, Libya, Yaman dan negeri-negeri Kaum Muslimin lainnya, pun tak ketinggalan di dalam Negeri, betapa pilu dan nestapanya Ummat Islam dibantai dengan semena-mena di Maluku, Halmahera dan Poso, serta di daerah-daerah lain seperti Aceh, Talangsari Lampung, Tanjung Priuk, Sampit dan penembakan-penembakan yang menimpa Umat Islam dengan tanpa ada pembelaan.

Kami ini hanyalah Kelompok kecil dari Kaum Muslimin yang mencoba Bangkit dan Melawan, melawan Kebiadaban Orang-orang Kafir yang sangat begitu dengki terhadap Ummat Islam.

Namanya Kelompok kecil, tentunya yaa apa adanya. Sedangkan musuh kami adalah mereka Orang-orang Kafir yang Kaya Raya yang punya segala nya dari Kebutuhan dunia ini. Musuh kami orang-orang Kafir ini begitu licik bak Seekor Serigala, mereka pecah kami Ummat Islam dengan taktik dan strategi yang sudah lama bercokol di Negeri Indonesia yang tercinta ini, yaitu Devide at Impera. Mereka orang-orang Kafir itupun akhirnya “membeli” Para Penguasa beserta tentara-tentara yang menguasai Negeri kami ini untuk juga ikut membunuhi saudara-saudara kami Ummat Islam, baik di Negeri Sendiri maupun di Negeri Seberang.

Akhirnya kami Ummat Islam pun diadu domba dengan Para Penguasa Negeri kami sendiri. Para Penguasa kami lebih condong dan tertarik dengan Carrot and Carry dari musuh-musuh kami ketimbang membela Kehormatan Negeri sendiri, mereka lebih senang untuk memajang Cover Photo yang mirip dengan Cover Photo nya musuh-musuh kami ketimbang memikirkan pilunya Korban Kebiadaban Tobelo tahun 2000 dimana saat itu ribuan Ummat Islam dari beberapa desa dibantai, dibunuhi dan dicincang-cincang serta dicabik-cabik tubuhnya oleh Para Durjana.

Tapi kami tetaplah Kelompok Kecil yang pun tetap Melawan walaupun Musuh kami banyak, Senjatanya Canggih, menggunakan Baracuda. Kami pun akan tetap melawan walaupun kami harus dibenturkan dengan Para Penguasa di Negeri sendiri. Kami pun akan tetap melawan walaupun kami harus dihadapkan dengan Kelompok yang Besar dan Banyak, karena sesungguhnya Rabb kami telah bercerita kepada kami bahwa telah ada banyak sekali Kelompok yang Kecil itu bisa mengalahkan Kelompok yang besar dengan Idzin-Nya.

Dan Ucapan kami hanyalah :

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami Kesabaran dan tetap teguhkanlah langkah kami ini dan tolonglah kami ini dari kaum-kaum yang Kafir.

Ya, kami akan tetap Melawan, walau hanya dari Facebook.

Telah menjadi Fardhu ‘Ain bagi kami untuk bangkit melawan semua Kehajatan dan Kedzoliman ini. Telah menjadi Sebuah Kewajiban yang tidak bisa ditunda lagi bagi kami untuk Bergerak maju menyuarakan Kebenaran ini. Dan telah menjadi sebuah Kebutuhan Primer dalam hidup kami untuk memerangi musuh-musuh kami demi meninggikan Kalimat Rabb kami, kalimat Laa ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah.

Langsung dari Langit yang ke-tujuh, Rabb kami menginstruksikan kepada kami Para Hamba-hamba Nya untuk memerangi orang-orang yang memerangi kami, orang yang membunuhi saudara-saudara kami, orang yang membantai saudara-saudara kami, baik dengan tenaga kami, harta kami, jiwa kami, dan seluruh yang kami miliki.

Ya, kami akan tetap melawan, walau hanya dari Facebook.

Duhai Para Penggiat Group THORIQUNA yang dirahmati oleh Allah, inilah saatnya bagi kita mengasah kemampuan kita, mengasah mental kita, mengasah kecerdikan kita, mengasah kejujuran kita dalam membela Islam dan Kaum Muslimin, apakah akan semakin tambah bersemangat, ataukah akan melemah, ataukah bahkan akan berbalik, Sesungguhnya Amalan Jihad itu akan mengukur ini semua, sesungguhnya Kejujuran kita akan tampak di saat kita ketakutan dikejar-kejar musuh, sesungguhnya Keimanan kita akan tampak di saat kita ditempa oleh Kegoncangan dan Kegundahan. Sesunguhnya Trio KESUSAHAN, KESENGSARAAN dan KEGONCANGAN itu adalah sebuah Hal yang sangat Wajib bagi seorang Insan untuk mendapatkan Jannah, terlebih lagi Jannah Firdaus sebagai Jannah Terfavorit.

Oleh karenanya, Rabb kita telah mewanti-wanti sangat untuk senantiyasa mengamalkan 5 Hal ini di saat kita menghadapi Trio Mushibah tersebut :

1. Tsabat
Tetap maju dan Istiqomah walau halangan rintangan datang menghadang.

2. Dzikir sebanyak-banyaknya
Saat Trio Mushibah tersebut menimpa kita, gerakkanlah bibir kita senantiyasa terus menerus akan Dzikrullah dan dzikir-dzikir lain sehafalnya.

3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Selama masa-masa Ujian dan Mushibah, jaga selalu Ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya serta dihindari sangat akan maksiat kepada Nya.

4. Jangan Berselisih
Sementara ada mushibah di depan mata, singkirkan terlebih dahulu semua perselisihan yang ada dan jangan sekali-kali membuat perselisihan baru, lapangkan dada seluas-luasnya, walaupun kita harus sakit karenanya.

5. Sabar
Dan Tips terakhir yang sudah menjadi kelaziman adalah Sabar, sabar dalam menerima apapun yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi, karena Kesabaran itu adalah Indah, Shobrun Jamiel.

Tiada kata yang lebih indah untuk diucapkan, melainkan Alhamdulillah ‘alaa Kulli Haal, Segala Puji bagi Allah dalam setiap Keadaan. Karena Panglima kita Muhammad SAW telah menjabarkan kepada kita :

إِذَا أَحَبَّ اللهُ الْقَوْمَ ابْتَلاَهُمْ

Jika Allah Ta’ala mencintai sebuah Kaum, maka Ia pun akan memberikan kepada mereka Ujian dan Mushibah

والله غالب على أمره ولكن أثكر الناس لا يعلمون
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العلمين

dari saudara kalian
Darah Mengalir Syahid

Mengapa Kita Harus Berjihad? Bukankah Saat Ini Jihad Telah Menjadi Fardhuh ‘Ain?


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Mengatur semua urusan dengan perintah-Nya. Mengulur batas waktu bagi orang-orang kafir dengan makar-Nya. Yang menggilirkan hari-hari bagi manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya. Asyhadu anLaa ilaaha illaallaah wahdahu Laa syarikalahu, wa asyhadu ana Muhammadan ‘abduhu wa rusuluh. Shalawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia yang Allah tinggikan menara Islam dengan pedangnya.

Tsumma Amma ba’du.

Allah Azza Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimp­inmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.” (QS. at-Taubah [9]: 23)

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. at-Taubah [9]: 24)

* * * * *

Al-hamdu lillaahi Rabbil-’aalamiin, berkat pertolongan Allah jualah akhirnya kami dapat mengupload video dan menuliskan artikel ini kembali, dan menyampaikannya­ kepada:

* Para penjaga akidah dan pejuang syariah.

* Para pembelah Millah Ibrahim yang berjuang demi menegakkan kalimah Tauhid.

* Para pejuang yang bercita-cita menegakkan Khilafah di muka bumi.

* Para penggenggam bara yang terus bersabar atas segala ujian.

* Para pejuang yang terus bertahan dan berkorban fii sabilillah.

* Anak-anak, para wanita, dan para orangtua Muslimin.

* Para pemuda yang sabar di medan jihad ketika zaman dibelenggu oleh syahwat.

* Seluruh keluarga seiman, satu kehormatan dalam dinnul Islam, dan bumi suci kita di Palestina (Gaza) dan Syam kita yang mulia, Somalia, Chech, Rohingya, dan negeri-negeri Jihad yang terdapat kaum Muslimin lainnya, lillaahi maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh.

Kami berharap, semoga kehadiran video dan artikel ini dapat membuka mata dan hati kaum Muslimin yang telah lama tertutup oleh mendung-mendung duniawi, dan kembali kepada akidah Islam, serta menyadari bahwa setiap Muslimin itu bersaudara meskipun tanah airnya berjauhan dan masanya tidak berdekatan; yakni persaudaraan kita di dalam dinnul Islam.

Dan kami juga mohon maaf bila ada kekurangan disana-sini, sebagai manusia kami tentunya tidak lepas dari kesalahan dan kekeliruan.

Risalah sederhana yang menjelaskan sedikit tentang alasan mengapa kita harus berjihad yang dalil-dalilnya saya kutip dari beberapa buku (terutama risalah yang ditulis oleh salah seorang syuhada’ dibumi Indonesia “Mengapa saya memilih jalan ini?” Sebagai hujjah untuk saudara-saudaraku mujahidin fii sabilillah (sabarlah, semoga Allah Ta’ala menyabarkan kalian, sungguh jalan inilah jalan yang telah dilalui para salafush shalih (jalan jihad) dan sebagai bayan untuk mereka yang masih tertinggal dari jihad.

Mengapa Kita Harus Berjihad? Bukankah Saat Ini Jihad Telah Menjadi Fardhuh ‘Ain?

1. Untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Saudaraku fillah dengarkanlah firman Allah Ta’ala ini;

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kalian, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?…..” (QS. At Taubah: 38)

Inilah firman Rabb kita, Rabb yang menguasai diri kita dan alam semesta, yang memerintahkan kita untuk keluar berjihad di jalan-Nya. Tidakkah kita penuhi panggilan-Nya ini?

Lebih jauh lagi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (At Taubah: 41)

Kepada siapakah panggilan dalam ayat ini ditujukan? Tentunya kepada manusia yang beriman kepada-Nya dan beriman kepada hari Akhirat! Maka, siapapun yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari Akhirat tidak pantas meninggalkan seruan ini, kecuali bagi mereka yang berudzur syar’i.

Ya, berangkatlah untuk jihad, entah itu keadaanmu dalam lapang atau sempit, miskin atau kaya, berkendaraan atau jalan kaki, berkeluarga atau masih bujangan, bekerja atau pengangguran dalam rangka memenuhi panggilan Allah Ta’ala ini.

Tidak mampukah kita berkaca pada Abu Thalhah, di masa tuanya (+/- 80 tahun), ketika menanggapai ayat tersebut, beliau bersikeras untuk berjihad. Saat anak-anaknya melarangnya karena beliau termasuk yang diberi udzur, beliau tetap bersikukuh dalam pendiriannya. Dan ternyata Allah Ta’ala karuniakan untuknya kesyahidan di laut. Lalu bagaimana dengan kita yang masih muda dan kuat ini? Adakah yang mau mengambil pelajaran?

2. Takut Ancaman adzab-Nya yang pedih

“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan adzab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (At taubah: 39)

Ibnu Al ‘Arabiy berkata; “Siksa pedih di dunia adalah berkuasanya musuh atas diri kita dan di akhirat adalah api neraka.” (Tafsir al qurthuby 8/142).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi ancaman bagi mereka-mereka yang meninggalkan jihad tanpa udzur syar’i di dunia dan akhirat. Sungguh, siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala amatlah pedih dan kita tak akan mampu menanggungnya. Lalu mengapa tidak tunaikan kewajiban ini agar Allah ridha kepada kita dan menjauhkan kita dari adzab-Nya di dunia dan siksa neraka?

Maka hilangkanlah cinta dunia, yang menyebabkan kita takut akan mati, yang menyebabkan kita enggan untuk berjihad, Kemudian penuhilah panggilan mulia dari Rabb kita ini.

“Wahai orang-orang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan padamu…” (Al Anfal: 12)

3. Membela dan Melindungi Kaum muslimin

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi-Mu” (An Nisa: 75)

Saudaraku fillah, inilah jihad, jihad yang ditegakkan untuk melawan ketertindasan, melindungi dan membebaskan kaum muslimin dari kedzaliman musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hari ini, berapa jutakah darah kaum muslimin yang ditumpahkan oleh kuffar, thawaghit dan munaafiquun? Berapa banyak kehormatan muslimah-muslimah kita yang dinodai oleh musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Dan berapa banyak ikhwah dan sahabat kita yang masih dalam penawanan dan siksaan? Tidakkah kita melihat apa yang terjadi di Palestina, Afghanistan, Iraq, Syam, Chechnya, Bosnia, Filipina, Myanmar dan sederet tanah-tanah jihad lainnya? Bukankah mereka saudara kita?

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (al hujurat: 10)

Sungguh tubuh-tubuh kaum muslimin tercabik-cabik menjadi santapan srigala-srigala kafir. Akankah kita tetap diam? Bukankah kalian membaca sabda junjungan kita, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam;

“Hilangnya dunia masih lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” (lihat tafsir Ibnu katsir I/534)

“Jika penduduk langit dan bumi berkumpul untuk membunuh seorang muslim, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan membalikkan wajah mereka semua ke neraka jahannam” (HR. Ath Thobroni dalam Ash Shoghir)

Wahai saudara-saudaraku, apa yang telah terjadi sehingga kita menghadapi begitu banyak marabahaya? Apakah pengorbanan kita untuk Ka’bah dianggap kejahatan yang tidak dapat diampuni?

Tetap teguhlah wahai saudara-saudaraku, jangan mencari kesenangan duniawi dari manusia, jangan mencari kesenangan duniawi dari manusia, jangan mencari kesenangan duniawi dari manusia. Syurga abadi adalah tempat kembali kita jika Allah menghendaki kita beruntung.

Wahai saudara-saudaraku, kejahatan dunia semakin menjadi-jadi, dimana anak-anak disembelih seperti lembu, membunuh saudara-saudara kita, sementara para penguasa hanya sibuk melakukan kongres. Ekor-ekor Amerika itu buta, mereka tidak memiliki mata dan hati nurani. Tinta diatas kertas (kenyataan pahit yang terjadi), tidak mereka percayai dan tidak ada pengaruhnya. Mengapa mereka tidak mengerahkan kekuatan untuk melindungi anak-anak dari bahaya? Demi Allah ini adalah kehinaan besar yang disiarkan media masa. Pengkhianatan yang nyata, lalu apakah pengkhianat akan melindungi kita?

Kami bersumpah, Demi Allah !! akan kami perangi orang -orang kafir.

Telah menjadi kesepakatan para ulama jika satu orang muslimah tertawan dan diperlakukan tidak adil, maka kaum muslimin wajib membelanya dan pada waktu itu jihad menjadi fardhu ‘ain. Lalu bagaimanakah pendapat kalian dengan kondisi kita hari ini? Bukankah jihad saat ini telah menjadi fardhu ‘ain?

4. Mengikuti Jejak Shalafus shalih

Inilah para pendahulu kita, para shalaful ummah, yang mana kehidupan mereka tak pernah lepas dari aktivitas jihad fii sabilillah! Mereka tak hanya sibuk dengan kitab dan dakwah saja, tapi lihatlah Rasulullah (Panglima tertinggi ummat Islam) beliau berjihad kurang lebih 27 kali selama hidup beliau, yakni di madinah (10 tahun!)

At Thobary meriwayatkan bahwa Miqdad bin Al Aswad terlihat di tempat pertukaran uang di Emessa. Ketika itu ia menyandarkan tubuhnya yang amat gemuk ke sebuah meja. Seseorang yang melihatnya berkata padanya: “Allah Ta’ala telah mengampunimu (untuk tidak berjihad).” Mendengar ucapan tadi ia mengatakan: “Surat yang memerintahkan kita untuk berperang telah turun. Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat”

Az Zuhri mengatakan: “Said bin Al Musyayyib berangkat berjihad, padahal ia adalah seseorang yang salah satu matanya buta, maka seseorang berkata padanya: “Engkau orang yang cacat.” Namun Sa’id berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berangkat dalam keadaan ringan maupun berat, jika aku tidak mampu bertempur paling tidak aku akan menambah jumlah kalian dan dapat ditugaskan untuk menjaga perlengkapan.”

Sungguh, kepahlawan mereka dalam membela Islam tiada duanya. Apakah kita tidak ingin seperti mereka? Juga Umar Mukhtar, di mana komandan Giransiyani berkomentar:

“Dia terjun dalam 263 pertempuran menghadapi pasukan saya selama lebih dari 20 bulan. Total pertempuran yang telah dijalankannya berjumlah 1000 kali”

Begitu pula Muhammad Banna salah seorang mujahidin Afghan, beliau menceritakan bahwa pasukannya pernah menghancurkan 400 kendaraan militer Uni Sovyet. Orang-orang Russia memanggilnya “The General”. Dia telah merampas 200 pucuk Kalakov dan 200 pucuk AK47, Klasinkov, ia juga pernah mengahancurkan 150 tank musuh dalam satu kali pertempuran.

Subhanallaah… Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billaah, sungguh kepahlawanan manusia-manusia yang benar-benar mendapatkan anugerah dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga mereka bisa berbuat demikian. Memang, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menolong mereka karena mereka telah menolong agama Allah. Mereka menjual jiwa yang merupakan harta paling berharga bagi manusia dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun membelinya, sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sekali-kali tidak akan menyelisihi janji-Nya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan balasan Jannah untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh…” (At taubah: 111)

Maka, sungguh rugi dan celakalah bila manusia lebih memilih diam diri daripada berjihad dan merasa dirinya mendapat udzur padahal ia tidak mendapatkannya.

5. Jihad Adalah perisai kehormatan Ummat yang dengannya mampu menolak serangan orang-orang Kafir

Sungguh, ummat Islam adalah ummat jihadi di mana kehidupannya tidak boleh terlepas daripada Jihad. Jihad inilah perisai ummat yang akan menjaga dan melindungi kehormatannya dari tangan-tangan kuffar. Lalu bagaimana jika kita telah meninggalkannya?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika kalian berjual beli dengan ‘inah, kalian mengambil ekor-ekor sapi, kalian ridho dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian. Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud)

Sungguh kehinaan yang dialami kaum muslimin sekali-kali tidak akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala cabut hingga kita berlepas daripada kehinaan dengan berjihad.

Dan dengan jihad inilah, Allah subhanahu Wa Ta’ala akan menolak serangan orang-orang kafir. Renungkanlah firman-firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini:

“Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(nya)” (An Nisaa’: 84)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantasaan) tangan-tangamu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka serta melegakan hati orang-orang mukmin” (At Taubah: 14)

6. Jihad adalah amalan tertinggi dan merupakan wasilah agar bisa memperoleh kesyahidan di jalan-Nya

“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabilillaah.” (HR. Ahmad, riwayat dari Mu’adz bin Jabal).

Inilah jihad, inilah jihad, inilah jihad, ibadah tertinggi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak ada satu amalan pun yang akan menyamainya.

Dan sungguh saudara-saudariku fillah, sungguh kita sangat merindukan syahid, sebagaimana para generasi sebelum kita pun merindukannya.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mereka mendapat rizki.” (Ali ‘Imran: 169)

Adakah kematian yang lebih nikmat daripada mati syahid? Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan pahala bagi mereka yang syahid di jalan-Nya dengan pahala yang besar?

Marilah kita renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Tirmidzi dari Miqdad bin Ma’d, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

“Allah Ta’ala menjamin 7 hak bagi para syuhada: dia diampuni sejak tetes darah pertama yang keluar dari tubuhnya, ia akan ditunjukkan tempatnya di jannah, ia akan mengenakan pakaian iman, ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari, ia akan terbebaskan dari siksa kubur, ia akan terbebas dari goncangan dahsyat pada hari qiamat nanti, di atas kepalanya akan disematkan mahkota kehormatan dimana satu mutiaranya adalah lebih baik daripada dunia seisinya, dan ia akan mendapatkan hak untuk memberi syafa’at 70 kerabatnya.” (lihat Shohih Al Jami’, no 5058).

Saudaraku fillah, inilah jihad, jika engkau mati, maka engkau syahid biidznillah, insyaAllah, jika engkau diusir maka itu adalah siyahah, jika engkau dipenjara maka penjara adalah tempat kalian berkhalwat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Inilah jihad, inilah jihad, inilah jihad, dengannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan ummat ini mulia. Inilah jihad, inilah jihad, inilah jihad, dengannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala membuka pintu akhirat, ia mendapatkan kehormatan berkumpul dengan anbiya’, shaddiqiin dan para shalihin. Adakah dari kita yang memenuhinya?

Ketahuilah bahwa hanya bercita-cita berjihad saja ini belum cukup, ia hanya menghilangkan sifat nifak dalam diri namun jika ia belum berjihad, maka ia tetap berdosa karena jihad adalah kewajiban yang harus kita tunaikan dalam kondisi seperti ini (fardhuh ‘ain), lalu akankah kita terus diam tanpa i’dad?

Wahai saudaraku yang berada di suatu lembah, aku mengajak dan memanggil kalian berpegang teguhlah kalian dengan cahaya petunjuk (al-Qur’an dan Al-Hadits), supaya kalian menjadi tentara Allah, siapkanlah kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, dan keluarlah untuk berperanglah di jalan Allah demi ridho-Nya.

Sesungguhnya pembenaran dari cita-cita itu adalah sebuah amalan yang nyata, itu kalau kita benar-benar jujur, jujur pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jujur pada diri kita sendiri.

* * * * *

Wa akhirul da’wahna anil-hamdu lillahi Rabbil-’aalamiin. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…

Akhuna Abdulloh Al Magriby

Pesan Akhuna Izzy Imani aka Irkham Fuadi kepada ikhwan fillah


Bismillah…
Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdul­illah… Segala puji2an milik Robbul ‘izzati
Salam keselamatan bagi Rosululloh suri tauladan terbaik ummah…

Ikhwatii fillah…
Ana bersyukur pada Alloh karena Dia telah memudahkan segala urusan ini, dan menguatkan, memberi keistiqomahan ana beserta istri, mudah2an hingga sampai akhir kelak.

Ana ucapkan jazakumulloh khoiron katsiron kpd semua para ikhwah.. asatidz dan ustadzah, ummahat serta akhowat, para ikhwan ‘aseer juga member gashibu yg turut membantu mendo’akan dan mensupport kami. Subhanalloh, betapa kekuatan do’a itu sangat berpengaruh. Alloh mudahkan lisan ini, Alloh kuatkan hati ini, Alloh kokohkan jasad ini alhamdulillah…

kpd para teman-teman ikhwan semua, berkat doa dan aksi kalian mampu merontokkan mental musuh-musuh Alloh.
“jazakumulloh biahsanil jaza’ ” Alloh-lah yg akan membalas kebaikan antum dg sbaik2 pembalasan. ikhwanii fillah uhibbukum fillah… Wallohi, inilah ni’matnya ukhuwah, wala’ karena aqidah.

Kepada para media islam: VOA-islam, Annajah, Al-Mustaqbal, serta ikhwan lain yg berusaha memblow-up melalui media. Jazakumulloh khoiron katsiron atas usahanya dalam menyebarkan keterangan yg sebenarnya. Sungguh kekuatan “media publik” itu tdk dapat diremehkan. Ana saksikan sendiri mereka (anshorut thogut) ketakutan terhadap suara2 kalian di media massa.

WaBil khusus kpd Istri ana, “jazakillah khoiron katsiron habibatii” sempat mencemaskanmu tapi rupanya Alloh memberi ketegaran dan keistiqomahan padamu sehingga lapanglah dada ini.

Ikhwatii Fillah…
Muslim-Muslimah masih dibantai, ribuan ‘ulama, Ikhwan aseer di sijjin masih tertahan, Ummahat kita diusir… Subhanalloh PR masih banyak ya ikhwah… Mudah-mudahan dengan kejadian ini, kita semakin bersemangat dalam meningkatkan amal kita dalam estafet-estafet dakwah dan jihad. Sesungguhnya kemuliaan hanya milik Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang beriman dg sebenar-benar iman. Allohu Akbar!!! Allohu Akbar!!! Allohu Akbar!!!

Ana cukupkan ucapan cinta dan terima kasih ana kpd ikhwah sekalian. Semoga Alloh menyatukan hati-hati kita dgn ikatan yg kokoh. Berkasih sayang, berwala’ dgn sesama orang beriman.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (al-Maa`idah: 54-55)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.